PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SELEDRI (Apium graveolens) TERHADAP GAMBARAN
HISTOPATOLOGI GASTER TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG
2020
METHANIL YELLOW
Skripsi
Oleh:
ABSTRACT
EFFECTS OF CELERY LEAF EXTRACT (Apium graveolens) ON GASTER HISTOPATHOLOGY OF WHITE RAT
(Rattus norvegicus) INDUCED BY METHANIL YELLOW
By
ALANDRA RIZHAQI VASTRA
Background. Celery (Apium graveolens) is herb plant that can easily found in Indonesia. Celery leaf extract has role as antiulcer in gaster damage and contains D-limonene that has antiinflamatory and antioxidant properties. It could prevent the damaging of gaster mucose that is caused by methanil yellow-free radical induced. Objective. To find out the effect of the celery leaf extract on gaster histopathology of the white mouse-induced methanil yellow.
Methods. This study is an experimental study with a post-test only control group design, using 20 white rats which were divided into 5 groups: 2 control group (positive and negative controls) and 3 treatment group. The study was conducted for 30 days by administering celery leaf extract with multilevel doses and administering 3000 mg/kgbw of methanil yellow once every day.
Results.The average of gaster histopathology score is K1=0.35; K2=1.45; P1=1.30; P2=1.35; P3=1.20. Data were tested with Kruskal-Wallis test, followed by Mann-Whitney test and there is significant mean difference between groups of K1-K2, K1-P1, K1-P2, K1-P3 but there is no significant mean difference between groups of K2-P1, K2-P2, K2-P3, P1-P2, P2-P3.
Conclusion. There is no effect of celery leaf extract on gaster histopathology of white rat-induced by methanil yellow.
ABSTRAK
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SELEDRI (Apium graveolens) TERHADAP GAMBARAN
HISTOPATOLOGI GASTER TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI
METHANIL YELLOW
Oleh
ALANDRA RIZHAQI VASTRA
Latar Belakang. Seledri (Apium graveolens) merupakan tanaman herba yang mudah ditemukan di Indonesia. Ekstrak daun seledri diketahui memiliki sifat antiulkus terhadap kerusakan gaster dan mengandung D-limonen yang memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan. Kandungan tersebut mampu mencegah kerusakan pada mukosa gaster yang diakibatkan oleh methanil yellow yang memicu pembetukan radikal bebas dan merusak epitel gaster.
Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun seledri terhadap gambaran histopatologi gaster tikus putih yang diinduksi methanil yellow.
Metode Penelitian. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain post-test control group design, menggunakan 20 ekor tikus putih yang terbagi menjadi 5 kelompok yaitu 2 kelompok kontrol (kontrol positif dan negatif) dengan 3 kelompok perlakuan. Penelitian dilakukan selama 30 hari dengan pemberian ekstrak daun seledri dengan dosis bertingkat dan pemberian methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB setiap hari sekali selama 30 hari.
Hasil penelitian. Rerata skor histopatologi gaster yang didapatkan adalah K1=0,35; K2=1,45; P1=1,30; P2=1,35; P3=1,20. Data diuji dengan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney dan didapatkan hasil yang bermakna antara K1-K2, K1-P1, K1-P2, K1-P3 serta tidak ada perbedaan yang bermakna antara K2-P1, K2-P2, K2-P3, P1-P2, P2-P3.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SELEDRI (Apium graveolens) TERHADAP GAMBARAN
HISTOPATOLOGI GASTER TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
2020
METHANIL YELLOW
Oleh:
ALANDRA RIZHAQI VASTRA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN
Pada
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Padang, Sumatera Barat pada tanggal 22 Desember 1998, merupakan anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Agung Puasatriyo dan Ibu Mardalena.
Penulis menempuh pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) di TK Al-Irsyad Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2004. Pendidikan Sekolah Dasar (SD) ditempuh di SDN 10 Tanah Lapang Kota Sawahlunto pada tahun 2004-2007, kemudian menyelesaikan pendidikan SD di SDN 08 Lawang Kidul pada tahun 2010. Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditempuh di SMPN 1 Lawang Kidul pada tahun 2013 dan Sekolah Menengah Atas (SMA) ditempuh di SMA Plus Negeri 17 Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2016.
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ’ala aali Muhammad
Kupersembahkan karyaku ini kepada Papa dan Mamaku
SANWACANA
Segala puji kepada Allah SWT penulis ucapkan atas limpahan rahmat dan karunia-Nya serta mencurahkan segala kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini berjudul “PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SELEDRI
(Apium graveolens) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI GASTER TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI METHANIL YELLOW” dan disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran di Universitas Lampung.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada: 1. Prof. Dr. Karomani, M.Si selaku rektor Universitas Lampung.
2. Dr. Dyah Wulan Sumekar RW, SKM., M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.
yang diberikan serta kesabaran dan banyak sekali ilmu yang diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
4. dr. Dwita Oktaria, S.Ked., M.Pd.Ked., selaku Pembimbing kedua yang telah membimbing, mengajari dan memberikan dukungan dengan sebaik-baiknya dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas nasihat serta kesabaran yang diberikan dalam membimbing skripsi ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
5. dr. Waluyo Rudiyanto, S.Ked., M.Kes., selaku Pembahas Utama dalam skripsi ini. Terima kasih sudah menjadi pembahas yang selalu memberikan bimbingan, memberikan ilmu dan arahan pada setiap hal yang belum saya ketahui, terima kasih atas dukungan sehingga saya dapat menjalani skripsi ini dengan lancar.
6. dr. Anggraeni Janar Wulan, S.Ked., M.Sc., selaku Pembimbing Akademik selama di FK Unila, terima kasih saya ucapkan atas bimbingan, perhatian, saran, dan nasihat yang selalu diberikan.
7. Mas Bayu Putra DJ, S.Si., dan Ibu Nuriah A.Md., yang telah banyak membantu selama proses penelitian. Terima kasih atas bimbingan, nasihat dan dukungan yang telah diberikan serta kesediaannya dalam membantu saya dan teman-teman selama penelitian.
8. Seluruh dosen FK Unila yang telah memberikan ilmu pengetahuan, dukungan serta nasihat selama penulis menempuh pendidikan dokter.
doa, perhatian dan kasih yang tulus serta saran yang berharga dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih Papa atas nasihat dan dukungan serta telah bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan dalam perkuliahan ini. Terimakasih Abang atas semangat dan motivasi yang diberikan.
10. Kepada keluarga besar, terima kasih banyak atas segala doa, dukungan, rasa percaya dan harapan yang begitu tinggi yang telah diberikan.
11.Kepada sahabat saya, Mira Yustika Susilo yang selalu membantu dan mendukung dalam segala hal selama perkuliahan dan khususnya dalam penelitian ini. Terima kasih atas waktu dan bantuan yang begitu besar untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi.
12.Kepada sahabat saya, Alif Fernanda Putra yang selalu setia menemani sejak awal perkuliahan dan membantu dalam segala hal. Terima kasih telah menjadi sahabat yang baik dan memberikan dukungan, motivasi, dan kebersamaan selama perkuliahan dan penelitian.
13.Kepada sahabat saya, Neema Putri Prameswari yang selalu menemani dan memberikan nasihat dan motivasi selama perkuliahan. Terima kasih untuk selalu menjadi teman dan menjadi pendengar yang baik serta mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi.
15.Kepada teman-teman satu tim penelitian yaitu Alif, Reza dan Ayu. Terima kasih karena telah menjadi tim terbaik dengan saling membantu dan bekerja sama untuk menyelesaikan penelitian ini.
16.Kepada rekan dalam perkuliahan, Bagas Mukti, Ian Ivantirta, Jeffrey Surya dan Arif Naufal yang telah hadir dan selalu memotivasi selama berjuang di fakultas kedokteran, terimakasih untuk selalu ada menemani kehidupan penulis sehari-hari.
17.Seluruh rekan animal house yang telah berjuang bersama merawat tikus-tikus, berbagi suka dan duka selama penelitian.
18.Seluruh rekan FK Unila angkatan 2016 Trigeminus atas kebersamaan, dukungan, semangat dan kerja samanya selama ini.
Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak keterbatasan dan masih jauh dari kesempurnaan. Namun, Penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya.
Bandar Lampung, Februari 2020 Penulis,
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
1 1.2. Rumusan Masalah ... 5
1.3. Tujuan Penelitian ... 5
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
1.4.1. Manfaat Bagi Peneliti ... 5
1.4.2. Manfaat Bagi Pembaca ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1.1. Anatomi Gaster ... 6
2.1.2. Fisiologi Gaster ... 8
2.1.3. Histologi Gaster ... 10
2.1.4. Gastritis ... 14
2.2. Methanil Yellow ... 16
2.2.1. Definisi Methanil Yellow ... 16
2.2.2. Efek Methanil Yellow Terhadap Gaster ... 18
2.3. Seledri (Apium graveolens) ... 20
2.3.1. Karakteristik Seledri (Apium graveolens) ... 20
2.3.2. Efek Seledri (Apium graveolens) Terhadap Gaster ... 22
2.4. Tikus (Rattus norvegicus)... 24 2.5. Kerangka Teori ... 2.1. Gaster
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...
ii
2.6. Kerangka Konsep ...
28
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28
3.3. Penetuan Populasi dan Sampel ... ... ... ... ... ... ... 45 4.1.1. Gambaran Histopatologi Gaster ... 53 27 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... 27 2.7. Hipotesis ... 29 3.3.1. Populasi ... 29
3.3.2. Sampel Penelitian 29 3.3.3. Kelompok Perlakuan 30 3.3.4. Kriteria Inklusi ... 31
3.3.5. Kriteria Eksklusi... 32
3.4. Bahan dan Alat Penelitian ... 32
3.4.1. Bahan Penelitian... 32
3.4.2. Bahan Kimia... 32
3.4.3. Perangkat Penelitian 32 3.5. Prosedur Penelitian 34 3.5.1. Adaptasi Tikus ... 34
3.5.2. Prosedur Pemberian Akuades ... 34
3.5.3. Prosedur Pemberian Methanil Yellow ... 34
3.5.4. Prosedur Pemberian Ekstrak Seledri 35 3.5.5. Prosedur Penelitian... 36
3.5.6. Alur Penelitian ... 41
3.6. Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional Variabel ... 42
3.6.1. Identifikasi Variabel 42 3.6.2. Definisi Operasional... 43
3.7. Analisis Data ... 43
3.8. Ethical Clearence ... 44
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian ...
49 4.2. Pembahasan ...
iii
... 61 5.2. Saran ... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
61
DAFTAR TABEL
1. Data Molekul Methanil Yellow ... 17
2. Taksonomi Seledri (Apium graveolens) ... 20
3. Kandungan Ekstrak Seledri ... 23
4. Taksonomi Tikus (Rattus norvegicus) ... 24
5. Sifat Biologis Tikus (Rattus norvegicus) ... 25
6. Definisi Operasional Variabel ... 42
7. Persentase Penurunan Rerata Skor Histopatologi Gaster ... 49
8. Uji Normalitas Saphiro-Wilk ... 51
9. Hasil Analisa Kruskal-Wallis ... 52
DAFTAR GAMBAR
1. Anatomi Gaster ... 7
2. Histologi Gaster ... 13
3. Struktur Kimia Methanil Yellow ... 17
4. Kerangka Teori ... 26
5. Kerangka Konsep ... 26
6. Diagram Alur Penelitian ... 40
7. Gambaran Histopatologi Gaster Kelompok K1 Perbesaran 400x ... 46
8. Gambaran Histopatologi Gaster Kelompok K2 Perbesaran 400x ... 46
9. Gambaran Histopatologi Gaster Kelompok P1 Perbesaran 400x... 47
10. Gambaran Histopatologi Gaster Kelompok P2 Perbesaran 400x... 48
11. Gambaran Histopatologi Gaster Kelompok P3 Perbesaran 400x... 49
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Etika Penelitian
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makanan adalah salah satu kebutuhan primer manusia. Berbagai jenis makanan dijual bebas di pasaran dengan berbagai rasa, bentuk maupun rupa. Untuk meningkatkan mutu produk makanan, diperlukan penambahan bahan tambahan atau zat aditif ke dalam makanan. Zat aditif makanan merupakan senyawa atau campuran yang ditambahkan ke dalam makanan dan terlibat dalam proses pengolahan, pengemasan, atau penyimpanan dan bukan merupakan bahan utama. Zat aditif makanan dapat berupa pewarna, penyedap rasa dan aroma, pengawet, pemanis atau pengental (Winarno, 1992).
Pewarna makanan adalah suatu zat yang ditambahkan pada makanan yang dapat memberikan atau memperbaiki warna makanan (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2012). Menurut Cahyadi (2009), pewarna makanan merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam makanan yang dapat memperbaiki penampilan makanan agar menarik, menstabilkan warna, serta dapat mempertahankan warna makanan selama proses pengolahan dan penyimpanan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
2
sebagai bahan berbahaya terdapat 30 zat pewarna yang dilarang untuk digunakan sebagai bahan tambah pangan. Salah satu contoh dari zat pewarna yang penggunaannya terlarang untuk digunakan sebagai pewarna makanan adalah methanil yellow yang lazimnya digunakan sebagai pewarna tekstil (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2011). Perilaku pedagang makanan yang menggunakan methanil yellow sebagai pewarna makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu harga methanil yellow lebih murah dibandingkan pewarna makanan, mudahnya mendapatkan methanil yellow, rendahnya pengetahuan pedagang makanan mengenai bahaya methanil yellow jika dikonsumsi, serta pengawasan BPOM terhadap penjualan makanan kurang ketat dan tidak berkala (Zuraida et al., 2017).
3
kerusakan jaringan pada organ-organ yaitu usus, gaster, hepar dan ginjal. Pada gaster, kerusakan yang diakibatkan oleh paparan methanil yellow berupa gambaran degenerasi epitel gaster disertai hipersekresi mukus. Selain itu, didapatkan juga nekrosis pada sel-sel epitel kolumnar dan erosi pada kelenjar gastrika. Kerusakan gaster yang ditimbulkan oleh paparan zat toksik secara terus-menerus dapat berupa gastritis dan tukak peptik (Anjasmara et al., 2017).
Gastritis dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain bakteri, jamur, dan zat pewarna industri yang bersifat toksik bagi tubuh (Sudoyo et al., 2014; Anjasmara et al., 2017). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun 2017, gastritis menempati peringkat kedua dari 10 Penyakit Terbanyak di Provinsi Sumatera Barat dengan jumlah kasus sebanyak 285.282 atau 15,8% dari seluruh kasus (Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, 2018). Gastritis dapat diobati dengan beberapa terapi, baik dengan menggunakan obat-obatan kimia maupun pengobatan tradisional (Sudoyo et al., 2014; Poojitha et al., 2016). Salah satu tanaman herba yang kerap digunakan sebagai pengobatan tradisional terhadap gastritis adalah seledri (Al-Howiriny et al., 2010).
4
memiliki efek untuk menurunkan proses peradangan, terutama pada gangguan gaster dan ginjal. Menurut Al-Howiriny et al. (2010), seledri diketahui memiliki efek antiulkus terhadap lesi pada gaster. Seledri secara signifikan menurunkan intensitas ulserasi gaster. Seledri mengandung sekitar 60% D-limonen yang memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan (Kooti et al., 2014; Yu et al., 2017). Selain itu, daun seledri juga mengandung flavonoid yang bertindak sebagai antioksidan yang bekerja untuk menangkal radikal bebas (Kooti et al., 2014; Banjarnahor dan Artanti, 2015).
5
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah yaitu: Apakah terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun seledri (Apium graveolens) terhadap gambaran histopatologi gaster tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi methanil yellow?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun seledri (Apium graveolens) terhadap gambaran histopatologi gaster tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi methanil yellow.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Penelitian Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan peneliti dan sebagai penerapan keilmuan yang telah dipelajari selama pendidikan kedokteran dasar.
1.4.2 Manfaat Penelitian Bagi Pembaca
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gaster
2.1.1. Anatomi Gaster
Traktus gastroinstestinal berlanjut turun dari esofagus menuju organ yang disebut gaster. Gaster terletak pada kuadran kiri atas dari cavitas peritoneal, biasanya berada di antara tulang vertebra T7 sampai tulang vertebra L3. Ukuran gaster bervariasi pada setiap individu, namun pada orang dewasa ukuran panjang gaster berkisar antara 15 cm hingga 25 cm. Diameter dan volume gaster sangat bergantung dari seberapa banyak makanan yang berada di dalamnya. Pada kondisi kosong, gaster memiliki volume sekitar 50 mL dan volumenya akan terus bertambah ketika terisi makanan hingga pada kondisi terisi penuh gaster dapat menampung hingga 4 L. Ketika gaster tak terisi, gaster akan seolah mengecil dan mengerut ke dalam sehingga mukosa bagian dalam gaster akan berlipat membentuk lipatan-lipatan yang disebut rugae gaster. (Martini et al., 2012; Marieb dan Hoehn, 2013)
7
[image:26.595.201.480.314.542.2]superior dan medial dari pertemuan antara gaster dan esofagus. Kardia memiliki kelenjar mukus yang berlimpah yang menghasilkan sekret yang melapisi dinding dalam pertemuan antara gaster dan esofagus dan berperan melindungi esofagus dari enzim dan asam lambung. Bagian kedua yaitu fundus, meliputi bagian superior dari pertemuan antara esofagus dan gaster. Fundus bersentuhan langsung dengan bagian inferior dan posterior permukaan diafragma (Martini et al., 2012).
Gambar 1. Anatomi Gaster (Tortora dan Derrickson, 2012)
8
terbagi menjadi dua bagian yaitu antrum pilori, yang berhubungan dengan korpus gaster, dan kanal pilori yang akan menyalurkan kimus menuju duodenum, bagian proximal dari usus halus (Martini et al., 2012).
2.1.2. Fisiologi Gaster
Gaster memiliki fungsi motorik yaitu sebagai tempat penyimpanan makanan sebelum dicerna, fungsi sebagai mencampurkan makanan dengan sekresi gaster berupa asam lambung dan enzim-pencernaan dan membentuk suatu campuran setengah padat berbentuk pasta yang disebut kimus, serta fungsi pengosongan gaster pada kecepatan yang sesuai untuk menyalurkan kimus dari gaster menuju duodenum (Guyton dan Hall, 2008).
Dalam keadaan normal, ketika gaster terisi dan meregang, refleks vasovagal yang berjalan dari gaster menuju batang otak dan kemudian kembali ke gaster akan mengurangi tonus di dalam dinding otot korpus gaster sehingga dinding menonjol keluar secara progresif, sehingga gaster dapat menampung jumlah makanan hingga suatu batas saat gaster berelaksasi sempurna, yaitu 0,8-1,5 L. Tekanan dalam gaster tetap rendah hingga batas ini tercapai (Guyton dan Hall, 2008).
9
Gelombang ini mencampurkan makanan dan cairan sekresi kelenjar gaster, dan mengubahnya menjadi pasta cair yang disebut kimus. Ketika pencernaan berlangsung di gaster, gelombang peristaltik yang lebih kuat dimulai pada korpus gaster dan akan semakin intensif saat mencapai pilorus (Tortora dan Derrickson, 2012).
Ketika makanan mencapai pilorus, secara berkala gelombang peristaltik akan mendorong sekitar 3 mL kimus menuju duodenum melalui sfingter pilori, sebuah fenomena yang dikenal sebagai pengosongan gaster. Sebagian besar kimus akan terdorong kembali ke dalam korpus gaster sehingga terjadi pencampuran kembali kimus di dalam gaster. Gerakan maju dan mundur dari isi gaster berperan besar untuk pencampuran makanan di gaster. Makanan dapat tetap berada di fundus selama satu jam tanpa bercampur dengan asam lambung. Selama waktu ini, pencernaan oleh amilase terus berlanjut. Segera setelah sekeresi gaster dihasilkan, terjadi proses pembentukan kimus oleh gaster dan menonaktifkan amilase dan mengaktifkan lipase yang mulai mencerna trigliserida menjadi asam lemak dan digliserida (Tortora dan Derrickson, 2012).
10
ion kalium (K+) ke dalam sel. Pada saat yang sama, Cl- dan K+ berdifusi ke lumen melalui kanal Cl- dan K+ di membran apikal. Enzim karbonat anhidrase, yang sangat banyak dalam sel parietal, mengkatalisis pembentukan asam karbonat (H2CO3) dari air (H2O) dan karbon dioksida (CO2). Ketika asam karbonat terdisosiasi, proses ini menyediakan sumber H+ untuk pompa proton dan juga menghasilkan ion bikarbonat (HCO3-). Ion bikarbonat yang terbentuk di sitosol akan keluar dari sel parietal dan bertukar dengan Cl- melalui antiporter Cl- / HCO3- pada embol basolateral. HCO3- kemudian akan berdifusi ke kapiler darah terdekat (Tortora dan Derrickson, 2012).
2.1.3. Histologi Gaster
11
lapisan. Bagian luar luar gaster dilapisi oleh lapisan serosa atau peritoneum viseral (Eroschenko, 2008).
Secara umum, histologis gaster dibagi menjadi empat daerah yaitu kardia, fundus, korpus, dan pilorus. Namun, struktur bagian fundus dan korpus identik secara mikroskopis sehingga hanya tiga daerah yang dapat dikenali secara histologis. Mukosa dan submukosa gaster yang kosong memperlihatkan lipatan-lipatan memanjang yang dikenal sebagai rugae, yang akan mendatar bila gaster terisi makanan (Eroschenko, 2008; Mescher, 2016).
Mukosa gaster terdiri atas epitel permukaan yang berlekuk ke dalam lamina propria dengan kedalaman yang bervariasi, dan membentuk sumur-sumur gaster (foveola gastrika). Dalam foveola gastrika terdapat kelenjar tubular bercabang yang khas untuk setiap bagian gaster (kardiak, korpus dan pilorus). Lamina propria yang tervaskularisasi dan mengelilingi serta menunjang foveola dan kelenjar tersebut mengandung serabut otot polos dan sel limfoid. Suatu lapisan otot polos yang memisahkan mukosa dari submukosa di bawahnya adalah disebut mukosa muskularis (Mescher, 2016).
12
menutupi permukaan dan melapisi lekukan-lekukan tersebut adalah epitel selapis silindris, dan selnya menghasilkan lapisan mukus protektif. Glikoprotein yang disekresi sel-sel epitel mengalami hidrasi dan bercampur dengan lipid dan ion bikarbonat juga dilepaskan dari epitel tersebut untuk membentuk suatu lapisan gen hidrofobik kental dengan gradien nilai pH 1 pada permukaan lumen dan pada sel epitel memiliki nilai pH 7 (Mescher, 2016).
Asam hidroklorida, pepsin, lipase, dan empedu dalam lumen gaster harus dianggap sebagai agresor endogen yang potensial di lapisan epitel. Mukus yang melekat erat pada permukaan epitel sangat efektif untuk melindungi, sementara lapisan mukus pada permukaan lumen lebih larut dan sebagian tercerna oleh pepsin serta bercampur dengan isi lumen. Sel epitel permukaan juga membentuk lini pertahanan yang penting berkat produksi mukusnya, taut antarselnya dan pengangkut ion yang mempertahankan pH intrasel dan produksi bikarbonat. Lini pertahanan ketiga adalah jalinan sirkulasi di bawahnya yang menyediakan ion bikarbonat nutrien dan oksigen ke sel-sel mukosa, sambil menghilangkan produk metabolik beracun. Sejumlah besar vaskularisasi juga menunjang penyembuhan luka superfisial secara cepat pada mukosa (Mescher, 2016).
13
berbentuk terowongan yang terbuka ke dalam usus halus. Mukosa kedua regio tersebut mengandung kelenjar tubular yang biasanya bercabang dengan bagian sekretorik bergelung yang disebut kelenjar kardia dan kelenjar pilorus. Celah yang bermuara ke dalam kelenjar tersebut berukuran lebih panjang di pilorus. Di kedua regio tersebut, kelenjar ini menyekresikan banyak mukus dan lisozim, suatu enzim yang menyerang dinding bakteri (Mescher, 2016).
14
Gambar 2. Histologi Gaster (Mescher, 2016)
2.1.4. Gastritis
15
Gastritis merupakan suatu proses peradangan yang terjadi pada mukosa dan submukosa gaster. Proses inflamasi atau peradangan yang terjadi dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya yaitu akibat infeksi dan iritasi zat-zat iritan. Infeksi bakteri Helicobacter pylori merupakan penyebab gastritis yang paling sering terjadi pada negara berkembang. Infeksi oleh bakteri Helicobacter pylori di negara berkembang memperlihatkan prevalensi yang tinggi baik pada anak-anak atau orang dewasa. Pada awal infeksi oleh kuman Helicobacter pylori mukosa gaster akan menunjukkan respon inflamasi akut. Secara endoskopik sering tampak sebagai erosi dan tukak atau lesi hemoragik (Sudoyo et al., 2014).
Terdapat beberapa jenis virus yang dapat menginfeksi mukosa gaster misalnya enteric rotavirus dan calicivirus. Kedua jenis virus tersebut dapat menimbulkan gastroenteritis, tetapi secara histopatologi tidak spesifik. Hanya cytomegalovirus yang dapat menimbulkan gambaran histopatologi yang yang khas infeksi cytomegalovirus pada gaster biasanya merupakan bagian dari infeksi pada banyak organ lain, terutama pada organ muda dan immunocompromised (Sudoyo et al., 2014).
16
dapat terinfeksi oleh jamur. Sama seperti infeksi akibat jamur, mukosa gaster bukan tempat yang mudah terkena infeksi parasit (Sudoyo et al., 2014). Obat anti-inflamasi nonstreroid (OAINS) merupakan penyebab gastritis yang amat penting. Gastritis akibat OAINS bervariasi sangat luas, dari hanya berupa keluhan nyeri uluhati sampai pada tukak peptik dengan komplikasi perdarahan saluran cerna bagian atas (Sudoyo et al., 2014).
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksan endoskopi dan histopatologi. Sebaiknya biopsi dilakukan secara sistematis dengan mencantumkan topografi. Gambaran endoskopi yang dapat dijumpai adalah eritema, eksudatif, flat-erosion, raised erosion, perdarahan, edematous rugae. Perubahan-perubahan histopatologi selain menggambarkan perubahan morfologi sering juga dapat menggambarkan poses yang mendasari. Perubahan-perubahan yang terjadi berupa degradasi epitel, hiperplasia foveolar, infiltrasi netrofil, inflamasi sel mononuklear, folikel limfoid, atropi, metaplasia intestinal, hiperplasia sel endokrin, kerusakan sel parietal (Sudoyo et al., 2014).
2.2. Methanil Yellow
2.2.1. Definisi Methanil Yellow
17
[image:36.595.302.386.267.385.2]dan alkohol, agak larut dalam benzene dan eter, serta sedikit larut dalam aseton (Shofa dan Ismail, 2014). Zat warna sintetis methanil yellow memiliki rumus kimia C18H14N3O3SNa dengan struktur kimia methanil yellow dapat dilihat pada Gambar 3. Data molekul methanil yellow dapat dilihat pada Tabel 1.
Gambar 3. Struktur Kimia Methanil Yellow (Pubchem, 2019)
Tabel 1. Data Molekul Methanil Yellow
Keterangan Penjelasan
Berat molekul 375,38 g/mol
Rumus molekul C18H14N3O3SNa
Nomor CAS 587-98-4
RTECS DB7329500
Merek index 14.5928
pH 1,2 - 2,3
Titik leleh >250oC
Golongan Dyes, azo
Kelarutan Larut dalam air, alkohol, sedikit larut dalam benzene, dan agak larut dalam aseton
Sinonim 3-[[4(Phenylamino)Phenyl]Azo] Benzene Sulfonic Acid Monosodium Salt; Acid Yellow 36
Sumber: (Pubchem, 2019)
[image:36.595.165.512.472.632.2]18
menyebabkan iritasi saluran cerna. Selain itu, senyawa ini dapat pula menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, demam, lemah, dan hipotensi. Dampak yang terjadi akibat penggunaan zat pewarna methanil yellow dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, dan bahaya kanker pada kandung kemih. Apabila tertelan dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, demam, dan hipotensi. Bahaya lebih lanjut yakni menyebabkan kanker pada kandung dan saluran kemih. Penyalahgunaan pewarna methanil yellow pada makanan antara lain pada produk mie, kerupuk dan jajanan lain yang berwarna kuning mencolok berpendar (Ghosh et al., 2017; Zuraida et al., 2017).
Methanil yellow dapat bersifat toksik dan mengganggu berbagai sistem fisiologis tubuh. Methanil yellow akan berbahaya bila diserap oleh usus bersama makanan yang dicerna dan masuk ke dalam aliran darah. Methanil yellow yang merupakan zat kimia bersifat toksik mengalir dalam sistem perdarahan dan mencapai berbagai organ dan mengintervensi berbagai proses metabolik seluler. Methanil yellow dapat menyebabkan stres oksidatif pada berbagai organ vital seperti jantung, hepar, gaster, dan ginjal (Sarkar dan Ghosh, 2012)
2.2.2. Efek Methanil Yellow Terhadap Gaster
19
tersebut. Methanil yellow dapat menimbulkan gastrotoksisitas, hepatotoksisitas, dan merusak usus.Methanil yellow yang dicerna oleh tubuh akan menganggu sistem antioksidan alami yang dimiliki tubuh dan memicu pembentukan radikal bebas. Methanil yellow dapat menyebabkan kerusakan jaringan melalui mekanisme stres oksidatif. Pada penelitian yang menggunakan ikan (Heteropneustes fossilis) sebagai objek penelitian didapatkan bahwa paparan methanil yellow menyebabkan kerusakan lipatan gaster, menghancurkan sel-sel epitel, hilangnya microridge dari membran plasma apikal, dan fragmentasi. Methanil yellow juga menyebabkan erosi dan degenerasi pada kelenjar gastrika (Ghosh et al., 2017).
Penelitian yang dilakukan oleh Shofa dan Ismail (2014) mengenai pengaruh pemberian methanil yellow peroral dosis bertingkat selama 30 hari terhadap gambaran histopatologi gaster mencit (Mus musculus) balb/c didapatkan hasil bahwa pemberian methanil yellow peroral dengan dosis 1050 mg/kgBB/hari, 2100 mg/kgBB/hari, dan 4200 mg/kgBB/hari memberikan perbedaan gambaran histopatologi pada gaster mencit yang bervariasi mulai dari deskuamasi epitel hingga nekrosis jaringan gaster mencit (Mus musculus).
20
dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari selama 30 hari didapatkan hasil bahwa methanil yellow dapat merusak jaringan gaster. Oleh karena sifat toksisitas dari zat pewarna sintetis methanil yellow, lapisan epitelium gastrika mengalami degenerasi dan terjadi hipersekresi mukus di atas lapisan tersebut. Nekrosis juga terjadi pada sel-sel epitel kolumnar dari gaster. Ditemukan erosi dan degenerasi pada kelenjar-kelenjar gastrika sehingga menyebabkan terbentuknya vakuola-vakuola pada tunika propria dan lapisan submukosa. Pada lapisan serosa dan muskular juga tampak terjadi kerusakan.
2.3. Seledri (Apium graveolens)
2.3.1. Karakteristik Seledri (Apium graveolens)
[image:39.595.169.502.617.714.2]Seledri (Apium graveolens) adalah tanaman yang berasal dari famili Apiaceae. Seledri dapat tumbuh di daerah Eropa hingga daerah tropis pada benua Afrika dan Asia dan tumbuh sepanjang tahun. Seledri akan tumbuh dengan baik pada lingkungan yang sejuk (Procházková et al., 2011; Yu et al., 2017). Adapun taksonomi dari tanaman seledri (Apium graveolens) dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Taksonomi Seledri (Apium graveolens)
No Kingdom Plantae
1 Divisi Spermatophytes.
2 Subdivisi Angiospermae
3 Kelas Magnolisisa
4 Ordo Apicedes
5 Famili Apiaceae
6 Genus Apium
7 Spesies Apium graveolens
21
Seledri (Apium graveolens) termasuk tanaman yang berbentuk semak-semak dan tingginya ± 50 cm. Batang seledri tidak berkayu, bersegi, beralur, beruas, bercabang, tegak, berwarna hijau pucat. Seledri (Apium graveolens) memiliki akar tunggang yang berwarna putih keruh. Daun seledri majemuk, menyirip ganjil, dengan anak daun 3-7 helai yang pangkal dan ujungnya runcing, tepi beringgit, panjangnya 2-7,5 cm, lebar 2-5 cm, pertulangan menyirip, panjang tangkainya 1-2,7 cm, berwarna hijau keputih-putihan dan hijau. Sedangkan bunganya berbentuk payung, tangkai 2 cm, delapan sampai dua belas, tangkai kelopak 2,5 cm, hijau, benang sari lima, berlepasan, berseling dengan mahkota, ujung runcing, mahkota berbagi lima, bagian pangkal berlekatan, putih. Buahnya berbentuk kerucut, panjangnya 1-1,5 mm, dan berwarna hijau kekuningan. Seluruh bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai makanan ataupun kepentingan pengobatan tradisional. Bagian yang dimanfaatkan dari seledri (Apium graveolens) antara lain bagian biji, daun, dan minyak essensial seledri (Kooti et al.,
2014; Dianat et al., 2015)
.
Daun seledri (Apium graveolens) mengandung saponin, flavonoida,
polifenol, protein, belerang, kalsium, besi, fosfor, vitamin A, B1, dan C
.
Ekstrak seledri memiliki kemampuan membersihkan racun dari sistem pencernaan tubuh dan dapat digunakan untuk kasus penyakit gout yang
dalam kondisinya terjadi kristalisasi asam urat
.
Akar tanaman seledri22
saluran kemih
.
Selain itu, akarnya juga cukup ampuh merawat kondisihepar yang terganggu serta hipertensi
.
Berdasarkan hasil penelitian,seledri juga mengandung psoralen, zat kimia yang menghancurkan
radikal bebas yang dapat menyebabkan kanker
.
Masyarakat pedesaantelah lama memanfaatkan seledri sebagai obat untuk menurunkan suhu tubuh ketika demam dengan cara mengoleskan tumbukan daun seledri
ke kepala anak yang terserang demam
.
Air perasan seledri yangmempunyai sifat mendinginkan dipercaya dapat mendinginkan kepala
.
Seledri juga mengandung selenium yang berefek merangsang sel saraf otak sehingga sangat baik untuk meningkatkan intelegensia, sodium yang merupakan mineral yang berguna untuk dinding gaster dan saluran usus, memperlambat proses penuaan, menjaga kelenturan dan aktivitas otot, serta kalium, sodium, dan sulfur yang sangat baik untuk diabetes (Al-Howiriny et al., 2010; Kooti et al., 2014; Dianat et al., 2015).
2.3.2. Efek Seledri (Apium graveolens) Terhadap Gaster
23
Tabel 3. Kandungan Ekstrak Seledri
Kandungan Seledri (Apium graveolens) Persentase (%)
D-Limonen 57,7
Myrcene 18,7
4-Terpineol 8,6
β-Selinene 8,1
β-pinen 2,4
β-caryophyllene 0,5
Carnone 0,3
Trans-Limonen Oxide 0,3
α - Terpinolene 0,3
α - selinen 0,2
Trans-3-butylidenephthalide 0,1
α - Muurolene 0,1
Cis-Limonen Oxide 0,1
Linalool 0,1
α - pinen 0,1
Trans-ocimene 0,1
Sumber: (Kooti et al., 2014)
Ekstrak seledri mengandung berbagai macam zat yang bermanfaat. Dalam ekstrak seledri terkandung 57.7% D-limonen yang memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan (Kooti et al., 2014). Kandungan ini dapat menjadi agen protektif terhadap kerusakan pada gaster. Mekanisme antiinflamasi oleh D-limonen yaitu dengan supresi matrixmetalloproteinase (MMP)-2 dan ekspresi gen-9. D-limonen juga
memiliki efek meningkatkan antioksidan
.
Dengan demikian, seledri(Apium graveolens) yang mengandung D-limonen memiiki indikasi
sebagai antiinflamasi dan antioksidan (Yu, Yan dan Sun, 2017)
.
Selainitu, daun seledri juga mengandung flavonoid yang cukup banyak yaitu
sebesar 202 mg per kilogram daun seledri (Kooti et al., 2014)
.
Flavonoidbertindak sebagai antioksidan yang bekerja untuk menangkal radikal
bebas
.
Flavonoid berperan sebagai antioksidan melalui kemampuannya24
Flavonoid mendonorkan satu atom hidrogen atau mentransfer elektron tunggal untuk menangkal radikal bebas (Banjarnahor dan Artanti, 2015).
2.4. Tikus (Rattus norvegicus)
[image:43.595.134.516.578.672.2]Hewan coba merupakan hewan yang dapat digunakan dalam penelitian medis maupun biomedis dan dipelihara secara intensif di laboratorium. Salah satu hewan yang sering digunakan dalam penelitian adalah tikus (Rattus norvegicus). Sebagai hewan coba, tikus putih memiliki kelebihan dibandingkan hewan coba yang lain yaitu pemeliharaan dan penanganan tikus mudah karena ukuran tubuh tikus yang relative kecil dan memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi dengan masa kehamilan yang singkat, serta memiliki karakteristik produksi dan reproduksi yang mirip dengan mamalia lain. Tikus laboratorium lebih cepat dewasa, tidak memperlihatkan perkawinan musiman dan lebih cepat berkembang biak (Malole dan Pramono, 1989). Sistematika tikus (Rattus norvegicus) berdasarkan taksonomi dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Taksonomi Tikus (Rattus norvegicus)
No Kingdom Animalia 1 Filum Chordata 2 Kelas Mamalia 3 Ordo Rodentia 4 Famili Muridae 5 Genus Rattus
6 Spesies Rattus norvegicus
Sumber: (Quesenberry dan Carpenter, 2012)
25
[image:44.595.130.522.218.413.2]dan gaster tikus sehingga tikus tidak dapat muntah yang mempermudah proses penelitian ketika memberikan perlakuan per oral pada tikus menggunakan sonde (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
Tabel 5. Sifat Biologis Tikus (Rattus norvegicus)
Kriteria Keterangan
Lama bunting 20-22 hari
Umur dewasa 40-60 hari
Umur dikawinkan 8 minggu
Berat dewasa Jantan 300-400 g
Berat dewasa betina 250-300 g
Siklus estrus 4-5 hari
Perkawinan Pada waktu estrus
Fertilitas 7-10 jam setelah kawin
Aktivitas Nokturnal (malam)
Konsumsi makanan 15-30 g/hari
Konsumsi minuman 20-45 ml/hari
Sumber: (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988)
2.5. Kerangka Teori
26
[image:45.595.136.545.445.683.2]Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, ekstrak dari daun seledri memiliki beberapa manfaat sebagai antiinflamasi dan antiulkus pada gaster karena kandungan antioksidan seperi D-limonen dan flavonoid yang dimiliki oleh ekstrak tersebut (Al-Howiriny et al., 2010; Kooti et al., 2014; Yu et al., 2017). Kandungan ini dapat menjadi agen protektif terhadap kerusakan pada gaster karena cara kerja D-Limonen yang dapat mesupresi matrixmetalloproteinase (MMP)-2 dan ekspresi gen-9 (Yu, Yan dan Sun, 2017). Kandungan flavonoid dapat bertindak sebagai antioksidan yang bekerja untuk menangkal radikal bebas melalui kemampuannya dalam menangkap reactive oxygene species (ROS) dan mendonorkan satu atom hidrogen atau mentransfer satu electron untuk menangkal radikal bebas (Banjarnahor dan Artanti, 2015).
Gambar 4. Kerangka Teori (Al-Howiriny et al., 2010; Sarkar dan Ghosh, 2012; Kooti et al., 2014; Banjarnahor dan Artanti, 2015; Ghosh et al., 2017) Paparan
Methanil Yellow
Degenerasi Epitel Gaster dan Nekrosis
Kelenjar Gastrika
Ekstrak Daun Seledri (Apium graveolens) Antiinflamasi Antiulkus Antioksidan Keterangan: Menginduksi Menghambat Variabel Penelitian : : : Stress oksidatif & menurunkan
27
[image:46.595.130.509.91.298.2]2.6. Kerangka Konsep
Gambar 5. Kerangka Konsep
2.7. Hipotesis
Berdasarkan uraian tinjauan pustaka di atas, didapatkan hipotesis sebagai berikut:
Ho: Tidak terdapat pengaruh dalam pemberian ekstrak daun seledri (Apium graveolens) terhadap gambaran histopatologi gaster tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi methanil yellow.
Ha: Terdapat pengaruh dalam pemberian ekstrak daun seledri (Apium graveolens) terhadap gambaran histopatologi gaster tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi methanil yellow.
Variabel Bebas Variabel Terikat
Ekstrak Daun Seledri (Apium graveolens)
Gambaran Histopatologi Gaster Yang Diinduksi
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan quasi-experiment post-test control group design. Desain penelitian melibatkan kelompok subjek yang diberikan perlakuan eksperimental (kelompok eksperimen). Penelitian dengan desain ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun seledri (Apium graveolens) terhadap gambaran histopatologi gaster tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi methanil yellow.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
29
perlakuan pada masing-masing kelompok sampel hingga terminasi dan mengambil sampel organ gaster pada tikus (Rattus norvegicus) untuk dilakukan penilaian histopatologi.
3.3 Penentuan Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus) jantan dengan kisaran berat 150 gram – 250 gram serta rentang usia 10 sampai 12 minggu yang diperoleh dari Palembang Tikus Center.
3.3.2 Sampel Penelitian
Penelitian menggunakan simple random sampling untuk memilih sampel dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Digunakan 5 kelompok untuk mengetahui bagaimana keadaan normal gaster, kerusakan gaster yang diinduksi methanil yellow serta pengaruh ekstrak daun seledri terhadap kerusakan gaster yang diinduksi methanil yellow. Banyaknya jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Frederer.
Keterangan:
n= besar sampel tiap kelompok t= banyak kelompok
30
Besar sampel yang dibutuhkan untuk tiap kelompok: 5(n-1) ≥ 15
5n-5 ≥ 15 5n ≥ 15 + 5
5n ≥ 20 n ≥ 4
Berdasarkan perhitungan di atas, maka dalam percobaan ini untuk tiap kelompok perlakuan digunakan sampel sebanyak 4 ekor tikus putih (Rattus norvegicus), dengan jumlah total sampel yang digunakan adalah 20 ekor tikus putih (Rattus norvegicus). Untuk mengantisipasi adanya kriteria eksklusi selama masa pemberian perlakuan maka dilakukan koreksi dengan menambahkan sampel sebesar 10% dari jumlah anggota tiap kelompok perlakuan.
Oleh karena itu, setiap kelompok perlakuan dibutuhkan cadangan sebanyak 1 ekor tikus putih. Sehingga penelitian menggunakan 25 ekor tikus putih (Rattus norvegicus). Tikus yang digunakan berumur 10-12 minggu yang dikelompokkan dengan teknik pengacakan menjadi 5 kelompok.
3.3.3 Kelompok Perlakuan
1. Kelompok kontrol negatif (K1)
Kelompok tikus yang hanya diberi akuades selama 30 hari. 10% x 4
31
2. Kelompok kontrol positif (K2)
Kelompok tikus yang hanya diinduksi dengan methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari selama 30 hari.
3. Kelompok perlakuan 1 (P1)
Kelompok tikus yang diberikan ekstrak daun seledri (Apium graveolens) dengan dosis 62,5 mg/kgBB/hari dan diinduksi methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari selama 30 hari.
4. Kelompok perlakuan 2 (P2)
Kelompok tikus yang diberikan ekstrak daun seledri (Apium graveolens) dengan dosis 125 mg/kgBB/hari dan diinduksi methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari selama 30 hari.
5. Kelompok perlakuan 3 (P3)
Kelompok tikus yang diberikan ekstrak daun seledri (Apium graveolens) dengan dosis 250 mg/kgBB/hari dan diinduksi methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari selama 30 hari.
3.3.4 Kriteria Inklusi
1. Sehat (tidak terdapat kerontokan rambut atau botak dan bergerak aktif).
2. Berjenis kelamin jantan.
32
3.3.5 Kriteria Eksklusi
1. Terdapat penurunan berat badan lebih dari 10% setelah masa adaptasi di laboratorium.
2. Mati selama masa adaptasi atau selama masa pemberian perlakuan.
3.4 Bahan dan Alat Penelitian 3.4.1 Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan adalah:
1. Methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari;
2. Ekstrak daun seledri (Apium graveolens) dengan dosis 62,5 mg/kgBB/hari, 125 mg/kgBB/hari, dan 250 mg/kgBB/hari;
3. Akuades;
4. Bahan makanan dan minuman tikus (Rattus norvegicus).
3.4.2 Bahan Kimia
Bahan yang diperlukan dalam pembuatan preparat histopatologi dengan metode paraffin, yaitu larutan formalin 10% untuk fiksasi, alkohol teknis, xilol, akuades, pewarna haematoxylin dan eosin, paraffin, dan balsam kanada.
3.4.3 Perangkat Penelitian 1. Alat Penelitian
33
b. Spuit oral 1 cc dan 3 cc. c. Minor set.
d. Kapas dan alkohol.
e. Alat pemeriksaan mikroskopis: Mikroskop, gelas objek, cairan emersi.
f. Gelas ukur. g. Sonde lambung. h. Evaporator. i. Larutan Formalin.
j. Pot urine untuk meletakkan organ gaster.
2. Alat Pembuat Preparat Histopatologi
Alat pembuat preparat histopatologi yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Object glass. b. Deck glass.
c. Embedding cassette. d. Rotarymicrotome. e. Oven.
f. Water bath. g. Platening table.
h. Autochnicom processor. i. Staining jar.
34
k. Kertas saring. l. Histoplast.
m. Paraffin dispenser.
3.5 Prosedur Penelitian
3.5.1 Adaptasi tikus putih (Rattus norvegicus)
Sebanyak 25 ekor (total sampel dan cadangan) tikus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi terbagi atas 5 kelompok diadaptasi sekurang-kurangnya 5 hari hingga 7 hari di Animal House Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan dilakukan penimbangan tikus dan penandaan
untuk menentukan perlakuan per kelompok (BPOM RI, 2014)
.
3.5.2 Prosedur Pemberian Akuades
Pemberian akuades dilakukan peroral menggunakan sonde
.
Besarpemberian akuades sebesar 1% dari berat badan (Diehl et al., 2001). Hewan uji yang diberikan memiliki berat sekitar 150-250 gram, sehingga rumus perhitungan kebutuhan akuades harian yaitu:
3.5.3 Prosedur Pemberian Methanil Yellow
Dosis methanil yellow yang digunakan sebagai penginduksi tikus putih (Rattus norvegicus) dalam penelitian ini adalah 3000 gram/kgBB/hari
Berat badan (gram) x 1% = 200 gram x 1%
35
yang diencerkan dengan menggunakan akuades sebanyak 1 cc per dosis pemberian dan diberikan secara peroral selama 30 hari masa perlakuan (Sarkar dan Ghosh, 2012; BPOM RI, 2014)
3.5.4 Prosedur Pemberian Ekstrak Seledri
Sebelum dilakukan perlakuan terhadap tikus sampel, dilakukan
persiapan untuk mendapatkan ekstrak daun seledri (Apium graveolens)
.
Untuk mendapatkan ekstrak daun seledri (Apium graveolens) pada penelitian ini digunakan metode maserasi atau perendaman. Proses ekstraksi daun seledri (Apium graveolens) menggunakan pelarut etanol 95%. Daun seledri (Apiumgraveolens) yang diekstraksi, terlebih dahulu dikeringkan selama 4 hingga 6 hari dan digiling hingga menjadi tepung
atau serbuk
.
Sebanyak 500 gram serbuk daun seledri direndam(maserasi) pada 5 liter etanol 95% selama 72 jam pada suhu ruang untuk
melarutkan komponen bioaktif pada daun seledri
.
Setelah 72 jam larutandikoleksi dan dilakukan penyaringan
.
Setelah penyaringan selesai,dilakukan evaporasi untuk menghilangkan etanol hasil maserasi maka diperoleh hasil ekstraksi kasar dan selanjutnya simpan di penangas pada suhu 5°C. Hasil berupa pasta yang telah dikeringkan dengan freeze dry
(Anggraeni et al., 2016).
masing-36
masing dosis per ekor tikus diencerkan dengan akuades sebanyak 1 cc dan perlakuan dilakukan selama 30 hari (Sarkar dan Ghosh, 2012; BPOM RI, 2014).
3.5.5 Prosedur Penelitian
a. Sebanyak 25 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok 1 sebagai kontrol negatif hanya diberi akuades 2 ml/hari. Kelompok 2 sebagai kontrol positif, diberikan methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari. Kelompok 3 sebagai perlakuan 1 diberikan ekstrak daun seledri (Apium graveolens) 62,5 mg/kgBB/hari serta methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari. Kelompok 4 sebagai perlakuan 2 diberikan ekstrak daun seledri (Apium graveolens) dengan dosis 125 mg/kgBB/hari serta methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari. Kelompok 5 sebagai perlakuan 3 diberikan ekstrak daun seledri (Apium graveolens) dengan dosis 250 mg/kgBB/hari serta methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari. Perlakuan dilakukan selama 30 hari.
37
c. Sampel organ gaster difiksasi dengan formalin 10% yang kemudian dikirim ke Laboratotium Anatomi, Patologi Anatomi, dan Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Pembuatan preaparat dikerjakan oleh staff ahli laboratorium Laboratotium Anatomi, Patologi Anatomi, dan Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.
d. Metode teknik histopatologi yaitu: 1. Fixation
a. Melakukan fiksasi spesimen berupa potongan organ gaster yang telah dipilih dengan laritan formalin 10%.
b. Melakukan pencucian spesimen dengan air mengalir. 2. Trimming
a. Mengecilkan organ ± 3 mm.
b. Memasukkan potongan organ gaster tersebut ke dalam embedding cassette.
3. Dehidrasi
a. Menuntaskan air dengan meletakkan embedding cassette pada kertas tisu.
38
4. Clearing
Membersihkan sisa alkohol menggunakan xilol I, II, III masing-masing selama 1 jam.
5. Impregnasi
Impregnasi dengan menggunakan paraffin I, II, III selama 2 jam.
6. Embedding
a. Membersihkan sisa paraffin yang ada pada pan dengan memanaskan beberapa saat di atas api dan usap dengan kapas.
b. Menyiapkan paraffin cair dengan memasukkannya ke dalam cangkir logam kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan suhu di atas 580 C.
c. Menuangkan paraffin cair ke dalam pan.
d. Memindahkan satu-persatu dari embedding cassette ke dasar pan dengan mengatur jarak satu dengan yang lainnya. e. Memasukkan pan ke dalam air.
f. Melepaskan paraffin yang berisi potongan gaster ke dalam suhu 4-60 C beberapa saat.
g. Memotong paraffin sesuai dengan letak jaringan dengan menggunakan scalpel hangat.
h. Meletakkan pada blok kayu, ratakan pinggirnya dan buat ujungnya segera meruncing.
39
7. Cutting
a. Melakukan pemotongan pada ruangan dingin. b. Sebelum memotong, dinginkan blok terlebih dahulu.
c. Melakukan pemotongan kasar, dilanjutkan dengan pemotongan halus dengan ketebalan 4-5 mikron.
d. Memilih lembaran potongan yang paling baik, apungkan pada air dan hilangkan kerutan dengan cara menekan salah satu sisi lembaran jaringan tersebut dengan ujung jarum dan sisi yang lain ditarik menggunakan kuas runcing.
e. Memindahkan lembaran jaringan ke dalam waterbath selama beberapa detik hingga mengembang sempurna.
f. Dengan gerakan menyendok ambil lembaran jaringan dengan slide bersih dan tempatkan di tangah atau pada sepertiga atas atau bawah untuk mencegah agar tidak ada gelembung udara di bawah jaringan.
g. Menempatkan slide yang berisi jaringan pada inkubator (suhu 370 C) selama 24 jam sampai jaringan melekat sempurna.
8. Staining dengan Harris Hematoxylin Eosin.
Setelah jaringan melekat sempurna, pilih slide yang terbaik dan selanjutnya secara berurutan dimasukkan ke dalam zat kimia dengan waktu sebagai berikut:
40
b. Zat kimia yang digunakan adalah alkohol absolut I, II, III masing-masing selama 5 menit.
c. Zat kimia selanjutnya adalah akuades selama 1 menit. d. Potongan organ dimasukkan dalam zat warna Harris
Hematoxylin selama 20 menit.
e. Kemudian dimasukkan ke dalam akuades selama 1 menit dengan sedikit digoyangkan.
f. Mencelupkan organ dalam asam alkohol sekitar 2-3 celupan. g. Membersihkan menggunakan akuades bertingkat
masing-masing 1 dan 15 menit.
h. Memasukkan potongan organ dalam eosin sekama 12 menit. i. Secara berurutan, memasukkan potongan organ dalam alkohol 96% selama 2 menit, alkohol 96%, alkohol absolut III dan IV masing-masing selama 3 menit.
j. Memasukkan ke dalam xilol IV dan V masing-masing 5 menit.
9. Mounting
Setelah pewarnaan selesai, letakkan slide di atas kertas tisu pada tempat yang datar, kemudian diteteskan dengan bahan mounting yaitu balsam kanada dan tutup dengan cover glass, cegah jangan sampai terbentuk gelembung udara.
10.Membaca slide dengan mikroskop
41
3.5.6 Alur Penelitian
[image:60.595.117.499.111.749.2]Timbang berat badan tikus putih jantan
Gambar 6. Diagram Alur Penelitian
Setelah 30 hari, tikus dinarkosis dengan injeksi ketamin intraperitoneal.
Pengambilan gaster tikus dengan laparotomi.
Pengiriman sampel gaster ke Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung untuk pembuatan sediaan.
.histopatologi.
Pengamatan sediaan di Laboratorium Fakultas Kedokteran.
Interpretasi hasil pengamatan. Diberi akuades 2 ml/hari. Diberi methanil yellow 3000 mg/kgBB /hari Diberi ekstrak daun seledri 62,5 mg/kgBB/hari dan methanil yellow 3000 mg/kgBB/hari Diberi ekstrak daun seledri 125 mg/kgBB/hari dan methanil yellow 3000 mg/kgBB/hari.
K1 K2 P1
Tikus diadaptasikan dalam Animal House selama 7 hari.
Tikus diberi perlakuan selama 30 hari.
K1 K2 P1 P2 P3
42
3.6 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional Variabel 3.6.1 Identifikasi Variabel
1. Variabel Bebas
a. Perlakuan kontrol negatif: pemberian akuades.
b. Perlakuan kontrol positif: Pemberian methanil yellow dengan dosis 3000mg/kgBB/hari tanpa ekstrak daun seledri (Apium graveolens). c. Perlakuan coba 1: Pemberian ekstrak daun seledri (Apium graveolens) dengan dosis 62,5 mg/kgBB/hari dan methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari.
d. Perlakuan coba 2: Pemberian ekstrak daun seledri (Apium graveolens) dengan dosis 125 mg/kgBB/hari dan methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari.
e. Perlakuan coba 3: Pemberian ekstrak daun seledri (Apium graveolens) dengan dosis 250 mg/kgBB/hari dan methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari.
43
3.6.2 Definisi Operasional
Tabel 6. Definisi Operasional Variabel
Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Ekstrak Daun Seledri
Hasil ekstraksi daun seledri (Apium graveolens) dengan metode maserasi dalam etanol 95% selama 72 jam, kemudian dievaporasi dan dikeringkan dengan freeze dry.
Alat ukur dosis
Pemberian ekstrak daun seledri dengan
dosis 62,5
mg/kgBB/hari, 125 mg/kgBB/hari dan 250 mg/kgBB/hari
Kategorik
Histopatologi gaster
Gambaran histopatologi gaster dilihat menggunakan
mikroskop cahaya dengan perbesaran 400x pada 5 lapang pandang untuk menentukan degenerasi epitel. Tingkat kerusakan untuk satu sampel gaster tikus didapat dari rerata lima lapangan pandang.
Mikroskop cahaya
Total skor degenerasi epitel gaster dihitung berdasarkan penilaian integritas mukosa gaster yang dibaca dalam 5 lapang pandang dengan perbesaran 400x dengan kriteria nilai: Skor 0: Tidak ada perubahan patologis Skor 1: Deskuamasi epitel.
Skor 2: Erosi permukaan epitel (1-10 sel epitel/lesi dan defek pada epitel mukosa).
Skor 3: Ulserasi epitel (>10 sel epitel/lesi dalam defek pada mukosa saluran cerna yang meluas melalui mukosa muskularis hingga submukosa atau lebih dalam). (Hanriko, 2018)
Numerik
Methanil yellow
Sediaan methanil yellow yang diberikan dengan campuran 1 ml akuades per pemberian
Alat Ukur Dosis
Pemberian methanil yellow dengan dosis 3000 mg/kgBB/hari
Numerik
3.7 Analisis Data
[image:62.595.138.523.139.621.2]44
Saphiro-Wilk karena jumlah sampel yang diteliti kurang dari 50. Selanjutnya, apabila data terdistribusi normal, dilakukan penentuan homogenitas variansi data dengan menggunakan uji homogenitas Levenne. Hasil kedua uji ini menetukan jenis uji yang dilakukan pada tahap analisis data selanjutnya. Data yang didapatkan dalam penelitian ini berupa data numerik dan data katagorik. Oleh karena itu, jika distribusi data normal dan homogen, maka dapat digunakan uji One-way ANOVA. Jika didapatkan hasil yang signifikan, maka dilanjutkan dengan uji Post-Hoc. Apabila data tidak terdistribusi normal dan homogen, maka digunakan uji Kruskal-Wallis sebagai uji alternatif One-way ANOVA. Jika didapatkan hasil yang signifikan, maka dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Nilai p kurang dari 0,05 dianggap signifikan.
3.8 Ethical Clearance
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh secara statistik terhadap pemberian ekstrak daun seledri (Apium graveolens) pada gambaran histopatologi gaster tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi methanil yellow. Namun, didapatkan penurunan persentase kerusakan histopatologi gaster yang diberikan ekstrak daun seledri (Apium graveloens) yang diinduksi methanil yellow.
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dari penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Peneliti lain disarankan untuk meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh pemberian ekstrak daun seledri (Apium graveolens) pada organ lain. 2. Peneliti lain disarankan untuk mengatasi variabel pengganggu dengan cara
DAFTAR PUSTAKA
Al-Howiriny T, Alsheikh A, Alqasoumi S, Al-yahya M, Eltahir K, Rafatullah S. 2010. Gastric antiulcer, antisecretory and cytoprotective properties of celery (Apium graveolens) in rats. J Pharmaceutical Biology. 48(7): 786– 93.
Adwas AA, Elsayed ASI, Azab AE. 2019. Oxidative stress and antioxidant mechanisms in human body. J Appl Biotechnol Bioeng. 6(1):43‒47. Anggraeni T, Ridwan A, Kodariah L. 2016. Ekstrak etanol seledri (Apium
graveolens) sebagai anti- atherogenik pada tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi hiperlipidemia. Prosiding Symbion of the Symposium on Biology Education. 27 Agustus 2016. Yogyakarta. Indonesia: Universitas Ahmad Dahlan.
Anjasmara PA, Romdhoni MF, Ratnaningsih M. 2017. Pengaruh pemberian rhodamin b peroral subakut terhadap perubahan ketinggian mukosa gaster tikus putih galur wistar. 13: 58–62.
Ayala A, Munoz MF, Aguelles S. 2014. Lipid peroxidation: Production, metabolism, and signalling mechanism of malondialdehyde and 4-hydroxy-2-nonenal. Oxid Med Cell Longev. 2014. 1-31.
BPOM RI. 2014. Peraturan kepala badan pengawas obat dan makanan Republik Indonesia nomor 7 tahun 2014 tentang pedoman uji toksisitas nonklinik secara in vivo.
Banjarnahor SDS, Artanti N. 2015. Antioxidant properties of flavonoids. J Medical of Indonesia. 23(4): 239.
BPOM RI. 2013. Peraturan kepala badan pengawas obat dan makanan Republik Indonesia nomor 37 tahun 2013 tentang batas maksimum penggunaan bahan tambahan pangan pewarna.
63
Dianat M, Veisi A, Ahangarpour A, Moghaddam HF. 2015. The effect of hydro-alcoholic celery (Apium graveolens) leaf extract on cardiovascular parameters and lipid profile in animal model of hypertension induced by fructose. J Avicenna Journal of Pyhtomedicine. 5(3): 203–09.
Diehl K, Hull R, Morton D, Pfister R, Rabemampianina Y, Smith D. et al. 2001. A good practice guide to the administration of substances and removal of blood, including routes and volumes. J. Appl. Toxicol. 23: 15–23
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. 2018. Profil dinas kesehatan tahun 2017. Elwan WM. 2018. Effect of long-term administration of metanil yellow on the structure of cerebellar cortex of adult male albino rat and the possible protective role of anise oil: a histological and immunohistochemical study. Egyptian Journal of Histology. 41(1): 27-38.
Enaganti S. 2006. The disease and non-drug treatment. Hospital Pharmacist. 13: 239-42.
Eroschenko VP. 2008. diFiore’s atlas of histology with functional correlations. Edisi ke-11. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Fazal SS, Singla RK. 2012. Review on the pharmacognostical & pharmacological characterization of apium review on the pharmacognostical & pharmacological characterization of Apium graveolens Linn. J Indo Global of Pharmaceutical Sciences. 2(1): 36–42.
Ghosh D, Singha PS, Firdaus SB., Ghosh S. 2017 . Methanil yellow : The toxic food colorant. J Asian Pasific of Health Sciences. 4(4): 1–3.
Guyton AC., Hall JE. 2008. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: EGC.
Hanriko R, Muhartono M., Anggraini DI, Pairul PPB. 2018. Efek protektif jahe putih besar (Zingiber officinale rosc. var. officinarum) terhadap ulkus gaster tikus putih jantan galur sprague dawley yang diinduksi piroksikam. JK Unila. 2(2): 118-23.
Kooti W, Ali-akbari S, Asadi-samani M, Ghadesy H, Asthary-larky D. 2014. A review on medicinal plant of Apium graveolens. J Advanced Herbal Medicine. 1(1): 48–59.
Malole MBM, Pramono CSU. 1989. Penggunaan hewan-hewan percobaan di laboratorium. Edisi ke-1. Bogor: Intitut Pertanian Bogor.
64
Martini FH, Nath JL, Bartholomew EF. 2012. Blood vessels and circulation, fundamentals of anatomy & physiology. Edisi ke-9. Boston: Pearson Education, Inc.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Peraturan menteri kesehatan RI nomor: 239/men.kes/per/v/85 tentang zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Peraturan menteri kesehatan RI nomor 033 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan.
Mescher AL. 2016. Histologi dasar junqueira teks & atlas. Edisi ke-12. Jakarta: EGC.
Nabavizadeh F, Vahedian M, Sahrei H, Adeli S, Salimi E. 2011. Physical and psychological stress have effects on gastric acid and pepsin secretion in rat. Journal of Stress Physiology & Biochemistry. 7(2): 164-74.
Nisa S. 2018. Gastritis (Warm-e-meda): a review with unani approach. International Journal of Advanced Science and Research International. 3(3): 43–5. Poojitha M, Swarnalatha G, Meenakshisundaram R. 2016. Review : list of
medicinal plants for gastritis review article review : list of medicinal plants for gastritis. International Journal of Current Advanced Research. 5(12): 1570–75.
Procházková D, Boušová I, Wilhelmová N. 2011. Antioxidant and prooxidant properties of flavonoids. J Fitoterapia. 82(4): 513–23.
Pubchem. 2019. Methanil yellow. [diakses 30 November 2018]. Tersedia dari https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Metanil-yellow.
Sarkar R, Ghosh AR. 2012. Methanil yellow - an azo dye induced histopathological and uktrastructural changes in albino rat (Rattus norvegicus. 7(1): 427–32. Shofa OA, Ismail A. 2014. Pengaruh pemberian methanil yellow peroral dosis bertingkat selama 30 hari terhadap gambaran histopatologi gaster mencit balb/c. J Kedoktrean Diponegoro. 3(1).
Sibuea WH, Panggabean MM, Gultom SP. 2005. Ilmu penyakit dalam. Edisi ke-2. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Siswanti RT, Soesilowati D, Budiono U, Listiana DE. 2014. Pengaruh ketorolak dan parekoksib terhadap gambaran histopatologi gaster tikus wistar. J Anestesiologi Indonesia. 6(3): 161-69.
65
Sudoyo AW, Setiyahadi B, Alwi I, Setiati S. 2014. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi VI. Jakarta: Interna Publishing.
Tortora GJ, Derrickson B. 2012. Anatomy & physiology. Edisi ke-13. New Jersey: Jhon Wiley & Sons, Inc.
Winarno FG. 1992. Kimia pangan dan gizi. Jakarta: Gramedia.
Yu L, Yan J, Sun Z. 2017. D-limonene exhibits anti - inflammatory and antioxidant properties in an ulcerative colitis rat model via regulation of inos, cox-2, PGE2 and ERK signaling pathways. Mol Med. 15: 2339–46.
Zanger UM, Schwab M. 2013. Cytochrome P450 enzymes in drug metabolism: regulation of gene expression, enzyme activities, and impact of genetic variation. Pharmacology & Therapeutics. 138: 103–41.