• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
43
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

STUDI INFEKSI KOKSIDIA PADA AYAM PETELUR (Gallus gallus) STRAIN LOHMAN JANTAN DI PETERNAKAN MANDIRI KELURAHAN

SEGALAMIDER, KECAMATAN TANJUNG KARANG BARAT, KOTA BANDAR LAMPUNG

SKRIPSI

Oleh

Nadia Eka Yulian

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

STUDI INFEKSI KOKSIDIA PADA AYAM PETELUR (Gallus gallus) STRAIN LOHMAN JANTAN DI PETERNAKAN MANDIRI, KELURAHAN

SEGALAMIDER, KECAMATAN TANJUNG KARANG BARAT, KOTA BANDAR LAMPUNG

Nadia Eka Yulian

Ayam petelur (Gallus gallus) strain Lohman jantan merupakan salah satu jenis unggas yang banyak dibudidayakan. Ayam petelur strain Lohman jantan dikenal dengan sebutan ayam jantan tipe medium, karena pertumbuhan ayam jantan tipe medium berada di antara ayam petelur ringan dan broiler. Dalam melakukan pemeliharaan ayam, masih sering terdapat kendala, salah satunya disebabkan oleh parasit jenis koksidia yang menyebabkan koksidiosis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2016 di Peternakan mandiri, di Kelurahan Segalamider, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota Bandar Lampung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui parasit penyebab koksidiosis dan prevalensi serangan koksidia pada ayam strain Lohman jantan. Metode penelitian yang digunakan adalah proportionate clustered random sampling, yaitu mengambil 100 sampel feses secara acak dari setiap kandang sebanyak 25 sampel feses. Penghitungan jumlah telur parasit menggunakan uji EPG Mc. Master. Hasil penelitian ditemukan parasit penyebab koksidiosis pada ayam strain Lohman adalah

Eimeria tenella dengan nilai prevalensi serangan koksidia sebesar 20% .

Kata kunci : Koksidia, Eimeria tenella, prevalensi, ayam petelur strain Lohman

(3)

STUDI INFEKSI KOKSIDIA PADA AYAM PETELUR (Gallus gallus) STRAIN LOHMAN JANTAN DI PETERNAKAN MANDIRI KELURAHAN

SEGALAMIDER, KECAMATAN TANJUNG KARANG BARAT, KOTA BANDAR LAMPUNG

Oleh

Nadia Eka Yulian

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar

SARJANA SAINS

Pada

Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Penmgetahuan Alam

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

ii Judul Skripsi : STUDI INFEKSI KOKSIDIA PADA AYAM

PETELUR (Gallus gallus) STRAIN LOHMAN JANTAN DI PETERNAKAN MANDIRI, KELURAHAN SEGALAMIDER,

KECAMATAN TANJUNG KARANG BARAT, KOTA BANDAR LAMPUNG

Nama Mahasiswa :

Nadia Eka Yulian

NPM : 1317021051

Jurusan/ Program Studi : Biologi / S1 Biologi

Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Emantis Rosa, M.Biomed drh. Purnama Edy Santosa, M.Si

NIP. 195806151986032001 NIP. 197003241997031005

2. Ketua Jurusan Biologi FMIPA Unila

Dra. Nuning Nurcahyani, M.Sc

(5)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Dr. Emantis Rosa, M.Biomed ...

Sekretaris : drh. Purnama Edy Santosa, M.Si ...

Penguji

Bukan pembimbing : Priyambodo, M.Sc ...

2. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Prof. Warsito, DEA., Ph.D.

NIP. 19710212 199512 1 001

(6)

i

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, Provinsi

Lampung pada tanggal 24 November 1995, sebagai

anak pertama dari tiga bersaudara, dari Bapak

Jemarin dan Ibu Yuli Kirmawati. Penulis mulai

menempuh pendidikan pertamanya di Taman

Kanak-Kanak Pembina pada tahun 2000. Pada tahun

2001, penulis melanjutkan pendidikannya di

Sekolah Dasar Negeri 2 Sukabumi Bandar Lampung. Kemudian penulis

melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bandar Lampung

pada tahun 2008. Pada tahun 2010 penulis melanjutkan pendidikannya di Sekolah

Menengah Atas Negeri 9 Bandar Lampung.

Pada tahun 2013, penulis tercatat sebagai salah satu mahasiswa Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Lampung melalui

Jalur Seleksi Bersama Masuk Pergururuan Tinggi Negeri (SBMPTN) tertulis.

Selama menjadi mahasiswa di Jurusan Biologi FMIPA Unila, penulis pernah

mendapat beasiswa PPA pada tahun 2014–2016 dan pernah menjadi asisten

praktikum mata kuliah Biologi Umum Jurusan Kehutanan , asisten praktikum

Biosistematika Hewan dan Struktur Perkembangan Hewan Jurusan Biologi.

(7)

Unila sebagai Sekretaris Bidang Ekspedisi tahun kepengurusan 2014/2015 dan

menjadi Sekretaris Umum di Organisasi Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO)

FMIPA Unila pada tahun kepengurusan 2015/2016.

Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata pada bulan Januari-Maret 2016 di Desa

Penggawa V Ulu, Kabupaten Pesisir Barat. Pada bulan Juli-Agustus 2016 penulis

melaksanakan Kerja Praktik (KP) di Balai Veteriner Lampung dengan judul

(8)

ii

MOTTO

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah Bacalah, dan

Tuhanmulah yang maha mulia Yang mengajar manusia dengan pena,

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya

(QS: Al-’Alaq 1-5)

“Pengalaman Adalah Guru Terbaik dan Pengetahuan Adalah

Sebuah Kekuatan.”

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?

(QS: Ar-Rahman 13)

“gantungkan cita-citamu setinggi langit ! Bermimpilah setinggi langit. Jika

engkau terjatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Memulai dengan penuh keyakinan, menjalankan dengan penuh keikhlasan

dan menyelesaikan dengan penuh kebahagiaan

“Man Jadda Wajada, Man Shabara Zhafira, Man Sara Ala Darbi

Washala”

(9)

Persembahan

Bismillahirrohmanirrohim

Kupersembahkan karya kecil ini dengan segala ketulusan dan

kesederhanaan sebagai tanda bakti dan kasihku

Untuk yang tercinta :

Kepada Bapak Jemarin dan Ibu Yuli Kirmawati untuk kasih sayang,

cinta, dan pengorbanan yang tak pernah berhenti mendukung dan

mendoakan untuk kesuksesan anak-anaknya.

Kepada adik tercinta Bayu Anggara Putra dan Cindy Oktavia Ramadhani

yang selalu menberikan keceriaan dan dukungan mengiringi langkahku.

Kepada Rio Riski Ananda yang tak pernah lelah memberikan waktu dan

semangatnya kepada penulis.

Bapak ibu dosen yang telah membantu dan membimbingku selama ini

Dan

(10)

SANWACANA

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karuniaNya,

shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Studi Infeksi Koksidia pada Ayam Petelur (Gallus gallus) Strain Lohman Jantan di Peternakan Mandiri Kelurahan Segalamider, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota Bandar Lampungtepat pada waktunya. Dengan selesainya skripsi ini penulis

mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya dan penghargaan yang tinggi kepada:

1. Ibu Dr. Emantis Rosa, M. Biomed., selaku Dosen Pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan, saran, dan kritik selama pembuatan skripsi ini.

2. Bapak drh. Purnama Edy Santosa, M.Si., selaku Dosen Pembimbing II yang

telah memberikan perhatian, pengertian, bimbingan, serta dukungan selama

pembuatan skripsi ini.

3. Bapak Priyambodo, M.Sc., selaku Dosen pembahas yang telah memberikan

masukan, kritik, dan sarannya agar tulisan ini menjadi lebih baik . Terima

kasih atas pengertiannya, serta nasihat yang baik kepada penulis.

4. Ibu Nismah Nukmal, Ph.D., selaku Pembimbing Akademik yang telah

memberikan saran, pengertian, nasihat, dan bimbingan selama penulis

(11)

xi

5. Bapak Prof. Warsito, S.Si., DEA., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Matematika dan

Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung.

6. Ibu Dra. Nuning Nurcahyani, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Biologi FMIPA

Universitas Lampung.

7. Bapak dan Ibu Dosen beserta karyawan yang tidak dapat penulis sebutkan

satu-persatu, terima kasih atas ilmu dan bantuan yang sudah diberikan selama penulis

melaksanakan studi di Jurusan Biologi.

8. Teman terdekat para Wanshol, Meri, Wiwit, Aas, Carina, Fadela, Annisa, Della,

Pazry, Aji, Hafiz, Agung, Alfi, dan Purwo terima kasih atas kebersamaan,

keceriaan, kesabaran, pelajaran, motivasi, dan dukungan kepada penulis selama

ini.

9. Teman-teman Biologi angkatan 2013, kakak tingkat 2011-2012 serta adik tingkat

2014-2016 yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, terimakasih atas

kebersamaan, dukungan, motivasi, dan semangat untuk penulis.

10. Keluarga besar Kelompok KKN Penggawa V Ulu Bayu Titis Nolo, Muthia Yuli

Astuti, Melati, Suhendri, dan Khoirul Anam untuk kebersamaan, pengalaman,

dan pembelajaran.

11. Keluarga besar Balai Veteriner Lampung, terima kasih atas ilmu yang diberikan,

serta kesempatan yang diberikan dalam melakukan kerja praktik dan penelitian.

(12)

xii

xii Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam penyusunan skripsi ini

dan masih dibutuhkan kritik serta saran yang membangun untuk kesempurnaan

skripsi ini akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi ini dapat berguna dan

bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, 11 April 2017

Penulis

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DEPAN ...i

ABSTRAK ... ii

HALAMAN JUDUL DALAM ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ...iv

HALAMAN PENGESAHAN...v

RIWAYAT HIDUP ...vi

MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ...ix

SANWACANA ...x

DAFTAR ISI... xiii

DAFTAR GAMBAR ...xvi

DAFTAR TABEL ... xvii

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...1

1.2 Tujuan Penelitian ...4

1.3 Manfaat Penelitian ...4

(14)

xiv

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Ayam Petelur (Gallus gallus)

Strain Lohman Jantan………...…...6

2.1.1 Klasifikasi Ayam Petelur (Gallus gallus) Strain LohmanJantan………7

2.1.2 Morfologi Ayam Petelur (Gallus gallus) Strain Lohman Jantan...8

2.2 Protozoa ...8

2.3 Koksidiosis ...10

2.4 Gejala Klinik Koksidiosis...11

2.5 Eimeria spp. ...12

2.5.1. Morfologi Eimeria spp. ...12

2.5.2. Klasifikasi Eimeria spp. . ...13

2.5.3 Siklus Hidup...14

2.5.4 Patogenesis...16

III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat...18

3.2 Alat ...18

3.3 Bahan. ...19

3.4 Metode Penelitian ...19

3.5 Prosedur Penelitian ...19

3.5.1 Pengambilan Sampel Feses. ...19

3.5.2 Pelaksanaan Penelitian. ...19

3.5.2.1 Prosedur Identifikasi Koksidia...20

3.5.2.2 Penghitungan Jumlah Koksidia Menggunakan Mc. Master ...20

3.6 Analisis Data...21

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Identifikasi Koksidia ...22

4.2 Jumlah Sampel Terinfeksi Pada Stadium oocyst per gram (OPG) dan Nilai Prevalensi Pada Feses Ayam Petelur (Gallus gallus) Strain Lohman Jantan ...27

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan...33

(15)

DAFTAR PUSTAKA. ...34 LAMPIRAN...38

Lampiran 1. Feses ayam petelur (Gallus gallus) Strain Lohman Jantan

Lampiran 2. Alat dan bahan dalam penelitian Lampiran 3. Cara kerja

(16)

v

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Ayam Petelur Strain LohmanJantan………...8

Gambar 2.Koksidiosis Pada Ayam………...……….11

(17)

vi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Hasil identifikasi koksidia yang ditemukan pada ayam petelur strain

Lohman jantan di Peternakan Mandiri Kelurahan Segalamider,

Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota Bandar

Lampung………...23

Tabel 2. Jumlah koksidia dan nilai prevalensi pada stadium oocyst per gram

(18)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ternak unggas mempunyai peran yang sangat penting dalam memenuhi sumber

protein dan sumber pendapatan masyarakat Indonesia. Ternak unggas dapat

dijadikan untuk penyediaan daging dan telur yang relatif murah, cepat

dihasilkan dan terjangkau untuk masa mendatang dibandingkan dengan ternak

lainnya (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2010).

Sebagai salah satu jenis ternak penghasil protein hewani yang tinggi, ayam

(Gallus gallus) sangat dinikmati dan dikenali oleh masyarakat. Beberapa strain

ayam yang dikenal di Indonesia antara lain berasal dari strain Isa Brown,

Lohman, dan Leghorn. Salah satu jenis yang banyak dibudidayakan adalah

strain Lohman jantan. Pada beberapa peternakan ayam petelur strain Lohman

yang berkelamin betina dimanfaatkan untuk diproduksi telurnya karena dapat

mengasilkan telur, sedangkan yang berkelamin jantan dimanfaatkan untuk

diproduksi dagingnya saja (Darma, 1982).

Ayam petelur strain Lohman jantan sangat mudah dalam pemeliharannya,

karena selain bibitnya yang murah dan mudah didapat, pertumbuhannya cepat,

(19)

2

adaptasi yang tinggi terhadap berbagai situasi lingkungan dan iklim yang ada

dapat dipanen dalam waktu yang singkat, yaitu selama delapan minggu,

sehingga banyak diminati oleh masyarakat (Yusdja, 2002).

Banyaknya kebutuhan konsumsi akan unggas dibuktikan dengan tingginya

angka konsumsi unggas khususnya ayam pada tahun 2004, yaitu 746.200 ton

yang diikuti dengan jumlah produksi ayam pada tahun yang sama sebesar

1.190.900 ton. Pada tahun-tahun berikutnya, tingginya tingkat konsumsi ayam

masih bisa diimbangi dengan produksi ayam. Akan tetapi, pada tahun 2008

total konsumsi ayam sebesar 1.071.000 ton dan total produksi pada tahun

tersebut masih jauh di atas konsumsi nasional, yakni sebesar 1.358.380 ton.

Sehingga pemenuhan akan unggas menjadi tidak tercukupi. Hal ini lah yang

mendasari konsumsi ayam petelur strain Lohman jantan yang dimanfaatkan

dagingnya, agar angka konsumsi masyarakat terhadap unggas dapat terpenuhi

(Sucipta dan Hatta, 2009).

Menurut Suratman (2009), sistem pemeliharaan ayam saat ini sudah

mengalami perkembangan yang lebih baik, namun dalam pemeliharaannya

banyak terdapat kendala yang menyebabkan perkembangan ayam menjadi

terhambat. Salah satu kendalanya adalah adanya berbagai jenis agen penyakit,

baik yang disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa, maupun cacing. Dampak

(20)

3

mengakibatkan kelumpuhan serta gangguan fungsi organ lainnya, bahkan

menyebabkan kematian ayam.

Salah satu penyakit akibat protozoa parasit yang menyerang ayam adalah

koksidiosis. Koksidiosis merupakan penyakit berak darah yang disebabkan

oleh protozoa yang dapat merusak saluran pencernaan pada ayam. Menurut

Gordon (1997), kematian ternak ayam pada suatu peternakan akibat koksidiosis

dapat mencapai 5–10% bahkan koksidiosis dapat menimbulkan kematian

sampai 100%, apabila terjadi infeksi berat yang ditandai dengan hilangnya

darah yang cukup banyak.

Penelitian yang dilakukan oleh Salfina et.al. (1992) mengenai prevalensi kasus

koksidiosis pada ayam buras di Kalimantan Selatan mencapai 27, 1% dengan

kisaran OPG (oocyst per gram) 40–7.200, dan ditemukan penyebab koksidiosis

yaitu Eimeria tenella (13,3%).

Informasi tentang kasus koksidiosis di Provinsi Lampung sampai saat ini belum

banyak diperoleh. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian

mengenai infeksi koksidia pada ayam petelur strain Lohman jantan. Dengan

diketahuinya infeksi koksidiosis pada ayam petelur strain Lohman jantan akan

(21)

4

1.2 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui jenis parasit penyebab koksidiosis pada ayam petelur (Gallus

gallus) strain Lohman jantan yang ada pada peternakan mandiri di

Kelurahan Segalamider, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota Bandar

Lampung.

2. Mengetahui prevalensi serangan koksidia pada ayam petelur (Gallus gallus)

strain Lohman jantan di peternakan mandiri Kelurahan Segalamider,

Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota Bandar Lampung.

1.3 Manfaat

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada

peternak mengenai infeksi koksidiosis pada ayam petelur (Gallus gallus)

strain Lohman jantan sehingga dapat dilakukan pencegahan sehingga tidak

menimbulkan kematian pada ayam.

1.4 Kerangka Pemikiran

Ayam petelur (Gallus gallus) merupakan salah satu hewan ternak yang paling

banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Ayam dapat dijadikan sebagai

pemenuhan kebutuhan protein hewani oleh masyarakat, yang memiliki harga

(22)

5

strain Lohman jantan yang sebelumnya hanya dibakar begitu saja akibat tidak

laku dijual, akan tetapi kini digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan unggas

terutama dagingnya, sehingga kini strain Lohman jantan banyak diproduksi

oleh masyarakat.

Tingginya produksi akan ayam petelur strain Lohman jantan, ternyata masih

banyak mengalami kendala yang dihadapi oleh para peternak ayam. Salah

satu kendalanya adalah penyakit akibat koksidia, yaitu koksidiosis.

Pemeliharaan kesehatan hewan unggas terutama ayam menjadi sesuatu hal

yang penting untuk mengatasi penyakit koksidiosis. Kerugian yang

(23)

6

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Ayam Petelur (Gallus gallus) Strain Lohman Jantan

Ayam petelur strain Lohman jantan dikenal dengan sebutan ayam jantan tipe

medium, karena pertumbuhan ayam jantan tipe medium berada di antara ayam

petelur ringan dan broiler. Ayam tipe medium ini dapat dimanfaatkan sebagai

ternak penghasil daging (Sumadi, 1995). Strain adalah klasifikasi ayam yang

dihasilkan oleh breeding farm yang didasarkan pada garis keturunan tertentu

melalui persilangan dari berbagai kelas, bangsa, atau varietas sehingga ayam

tersebut memiliki bentuk, sifat, dan tipe produksi tertentu sesuai dengan tujuan

ekonomis tertentu (Suprijatna et al., 2005).

Dalam usaha pembibitan, peluang untuk menghasilkan ayam betina dan ayam

jantan pada proses penetasan adalah 50%. Dengan demikian, kemungkinan

anak ayam jantan tipe medium sebagai ternak penghasil daging cukup besar.

Sehingga dilakukan produksi ayam jantan tipe medium (Riyanti, 1995).

(24)

7

2.500–5.000 per ekor (PT. Multi Breeder Adirama Indonesia, 2005). Ayam

strain Lohman jantan memiliki bobot tubuh yang cukup berat, akan tetapi

beratnya masih berada di antara berat ayam petelur ringan dan broiler. Oleh

karena itu, ayam ini disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak

kurus, tetapi juga tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat

menghasilkan daging yang banyak (Sumadi, 1995).

Ayam hasil persilangan antara galur Ross dengan galur Arbor acres

menghasilkan ayam strain Lohman jantan dengan kandungan lemak sebesar 2,6

% sedangkan betina 2,8 % (Sumadi, 1995). Pada jenis ayam jantan, kelebihan

energi digunakan untuk pertumbuhan, sedangkan pada ayam betina kelebihan

energi digunakan untuk produksi telur (Wahju, 1992).

2.1.1 Klasifikasi Ayam Petelur (Gallus gallus) Strain Lohman Jantan

Klasifikasi dari ayam petelur strain Lohman jantan adalah sebagai

berikut :

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Aves

Ordo : Galliformes

Family : Phasianidae

Genus : Gallus

(25)

8

2.1.2 Morfologi Ayam Petelur Strain Lohman Jantan

Ayam petelur strain Lohman jantan (Gambar 1. ) memiliki ciri-ciri bulu

berwarna putih, jengger berwarna merah, mata bersinar, berat dari ayam

petelur strain Lohman jantan berada diantara berat ayam petelur ringan

dan broiler, serta mempunyai kandungan lemak lebih rendah

[image:25.595.207.396.311.525.2]

dibandingkan dengan betina (Wahju, 1992).

Gambar 1. Ayam petelur strain Lohman jantan (Dokumentasi pribadi, 2016)

2.2 Protozoa

Protozoa adalah organisme satu sel dengan bagian-bagian sel yang lengkap.

(26)

9

Pada awalnya klasifikasi protozoa dibedakan menjadi tiga filum yaitu

Sarcomastigophora yang terdiri atas Amoeba dan Flagellata, Apicomplexa yang

terdiri dari Sporozoa, dan Ciliophora yang terdiri dari Cilliata. Klasifikasi ini

terus berkembang menjadi empat subfilum, yaitu Mastigophora yang terdiri

dari Flagellata, Sarcodina yang terdiri dari Amoeba, Sporozoa, dan Cilliophora

yang terdiri dari Ciliata (Brooks et al., 2004).

Adanya protozoa di dalam tubuh unggas merupakan salah satu faktor yang

dapat menentukan tingkat kesehatan dan kelayakan ayam untuk dikonsumsi.

Cara makan unggas yang merupakan pemakan segala menjadikan ayam rentan

untuk terserang parasit. Beberapa jenis protozoa yang bersifat parasitik pada

ayam adalah Histomonas meleagridis, spesies dari genus Eimeria seperti

Eimeria tenella, Eimeria maxima, Eimeria brunetti dll (Tabbu, 2002).

Menurut Assafa et.al. (2004) protozoa memiliki perubahan bentuk secara

morfologi maupun fisiologi, yaitu dari bentuk aktif yang berupa tropozoit

menjadi bentuk yang tidak aktif atau dorman (kista). Dalam bentuk kista

protozoa akan membentuk dinding yang sangat tebal. Hal ini dikarenakan

kondisi tempat hidup (habitat) protozoa berubah menjadi ekstrim, seperti

perubahan suhu, lingkungan dan pH sehingga tidak memungkinkan protozoa

hidup dalam bentuk tropozoit. Pada bentuk kista protozoa akan menjadi kuat

terhadap ancaman dan juga merupakan bentuk yang bersifat infektif ke tubuh

(27)

10

2.3 Koksidiosis

Koksidiosis merupakan penyakit usus yang disebabkan oleh protozoa parasit

dari genus Eimeria (Allen and Fetterer, 2002). Menurut Calnek (2001)

Eimeria berkembang biak di saluran pencernaan dan menyebabkan kerusakan

jaringan yang terjadi pada dinding epitel usus ayam, yang menyebabkan

keluarnya darah bersama feses.

Eimeria menyebabkan kerusakan pada usus sehingga akan menurunkan

penggunaan pakan, lambatnya pertambahan bobot badan, serta penurunan

daya tahan tubuh dan penurunan produksi telur (Min et al., 2004 ).

Kasus infeksi koksidiosis banyak mendatangkan kerugian pada peternakan

ayam. Kerugian yang ditimbulkan meliputi kematian (mortalitas), penurunan

berat badan, pertumbuhan terhambat, nafsu makan menurun, produksi daging

turun, meningkatnya biaya pengobatan, upah tenaga kerja dan lain-lain.

Kerugian yang ditimbulkan dapat menghambat perkembangan peternakan

ayam dan menurunkan produksi protein hewani, oleh karena itu pengendalian

koksidiosis pada ayam perlu mendapat perhatian (Tabbu, 2002).

Menurut Lillehoj (1998) koksidiosis menjadi kasus penyakit yang hampir

selalu muncul pada setiap periode pemeliharaan ayam. Siklus hidup yang

pendek serta potensi reproduksi Eimeria yang tinggi di dalam suatu kelompok

(28)

11

2.4 Gejala Klinis Koksidiosis

Gejala terjadinya koksidiosis dapat terlihat tiga hari setelah infeksi. Dehidrasi

dapat terjadi pada koksidiosis sekum. Ayam terlihat lesu, tidak nafsu makan

dan saling berimpit serta muncul darah dalam tinjanya pada hari keempat

(Long and Jeffers, 1986). Munculnya darah dalam jumlah banyak (Gambar

2.) terjadi pada hari kelima atau keenam dan pada hari kedelapan atau

kesembilan ayam mengalami kematian atau berada dalam masa penyembuhan.

Kematian paling sering terjadi antara hari keempat dan hari keenam yang

datangnya dapat tak terduga karena kehilangan darah dalam jumlah banyak

[image:28.595.153.487.399.608.2]

(Soulsby, 1986).

Gambar 2. Koksidiosis pada ayam.

Keterangan : A: Pendarahan ayam akibat koksidiosis (Dokumentasi pribadi, 2016)

(29)

12

2.5 Eimeria spp.

2.5.1 Morfologi Eimeria spp.

Menurut Tampubolon (1992) Eimeria spp. memiliki morfologi yang

berbeda berdasarkan siklus hidupnya dalam beberapa stadium, yaitu :

1. Ookista

Ookista berbentuk seperti bola, oval atau elips dengan dinding

terdiri dari dua lapis yang bersifat transparan. Tahap ini

merupakan tahap resisten dari koksidia.

2. Sporokista

Sporokista dihasilkan dalam ookista berbentuk oval memanjang,

satu ujungnya lebih runcing dari yang lainnya. Tiap sporokista berisi

dua atau empat sporozoit.

3 . Sporozoit

Sporozit secara umum berbentuk seperti koma dengan ukuran

1 , 0 × 1 , 5 µm bersifat transparan dan sitoplasmanya bergranula.

4. Tropozoit

Tropozoit merupakan hasil perkembangan dari sporozoit yang akan

melakukan proses skizogoni (pembelahan).

5. Skizon

Skizon merupakan tahap perkembangan sporozoit yang mengalami

(30)

13

Menurut Levine (1978) perkembangan merozoit menyebabkan

timbulnya pendarahan pada feses, hal ini disebabkan oleh aktivitas

perkembangan merozoit pada dinding epitel usus hospes.

7 . Gametosit merupakan bentuk perkembangan dari merozoit yang

berkembang menjadi mikrogametosit dan makrogametosit.

Makrogametosit berkembang menjadi gamet betina dan ukurannya

sama dengan ookista. Mikrogametosit berkembang menjadi gamet

jantan bentuknya seperti koma, langsing, sedikit membengkok, pada

bagian anterior terdapat flagel sebagai alat geraknya

(Tampubolon, 1992).

2.5.2 Klasifikasi Eimeria spp.

Klasifikasi Eimeria spp. menurut (Soulsby, 1986) :

Kingdom : Protozoa

Phylum : Apicomplexa

Class : Sporozoa

Ordo : Eucoceidia

Family : Eimeriidae

Genus : Eimeria

Species : Eimeria tenella, Eimeria necatrix, Eimeria maxima,

Eimeria brunetti, Eimeria acervulina, Eimeria mitis,

(31)

14

2.5.3 Siklus Hidup

Siklus hidup Eimeria (Gambar 3) pada umumnya terjadi di dalam

tubuh inangnya dan sebagian kecil terjadi di luar tubuh inang dalam

bentuk ookista. Fase di dalam tubuh ayam dikenal dengan periode

[image:31.595.127.506.276.556.2]

prepaten dan berlangsung antara 5–7 hari (Sutawi, 1996).

Gambar 3. Siklus hidup Eimeria (Barta and Price, 2001).

Dalam siklus hidup Eimeria, ookista yang telah keluar bersama tinja (I)

terdiri dari satu sel, sporon. Sporon membagi menjadi empat

sporoblas, masing-masing akan menjadi sebuah sporokista dengan dua Gametogoni Merogoni

(32)

15

sporozoit di dalamnya (Levine, 1985). Periode sporulasi ini berlangsung

kurang dari satu hari (12–24 jam) (I-L) (Sutawi, 1996).

Levine (1985) menyatakan proses sporogoni atau sporulasi ini

tergantung dari suhu dan jenis koksidia. Sutawi (1996) menyatakan

inang akan terinfeksi ketika menelan ookista bersporulasi dalam jumlah

yang banyak. Dinding ookista akan pecah dan melepaskan sporokista,

sporozoit (A) akan terlepas dan menyebar ke dalam usus.

Sporozoit ini kemudian menembus sel epitel dinding usus dan bergerak

ke bagian dalam sel. Serangan pertama pada dinding usus dapat

berlangsung sejak hari pertama infeksi. Sporozoit ini menembus

membran mukosa usus dan tumbuh dalam bentuk tropozoit pada hari

kedua (Sutawi, 1996).

Dalam waktu 2×24 jam, merozoit (C–D) akan memecahkan sel epitel dan

memasuki sel baru dari inang dan berubah menjadi meron generasi kedua

yang akan memproduksi 200–350 merozoit generasi kedua dengan

panjang sekitar 16 µm. Merozoit generasi kedua mulai memasuki sel

epitel baru dan berkembang menjadi meron generasi ketiga yang akan

memproduksi 4–30 merozoit generasi ketiga dengan ukuran panjang

(33)

16

Meron generasi ketiga mulai melaksanakan bagian siklus hidup seksual.

Tipe merozoit generasi ketiga akan membulat membentuk gamon,

kebanyakan dari gamon itu adalah makrogamon yang akan menjadi

makrogamet setelah membesar. Beberapa di antaranya adalah

mikrogamon yang akan membelah secara skizogoni membentuk

sejumlah besar mikrogamet yang berflagela. Mikrogamet (F) akan

membuahi makrogamet (G) yang selanjutnya mengelilingi dirinya

sendiri dengan sebuah dinding dan rnenjadi ookista. Zigot (H) akan

berkembang menjadi ookista (I) akan keluar bersama feses pada hari ke

tujuh (Levine, 1985).

2.5.4 Patogenesis

Jenis Eimeria penyebab koksidiosis pada ayam yang bersifat patogen,

yaitu E. tenella, E. necatrix, E.maxima dan E. brunetti. Sedangkan jenis

Eimeria penyebab koksidiosis pada ayam yang tidak tergolong patogen,

yaitu E. acervulina, E. mitis, E. mivati, E. praecox dan E. hagani

(Tampubolon, 1992)

Patogenesis dimulai ketika ayam menelan ookista bersporulasi yang

(34)

17

merupakan faktor utama yang menyebabkan terj adinya infeksi (Smith,

1977).

Koksidiosis pada ayam umumnya menyerang dua organ, yaitu bagian

sekum (caecal coccidiosis) dan usus halus (intestinal coccidiosis)

(Tampubolon, 1992). Koksidiosis sekum disebabkan oleh E. tenella,

sedangkan koksidiosis usus halus disebabkan oleh E. necatrix, E.

hagani, E. maxima, E. acervulina, E. mivati, E. mitis dan E. pracoex,

E. brunetti menyebabkan kerusakan pada usus halus, sekum dan kloaka

(35)

18

III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2016 di peternakan mandiri di

Kelurahan Segalamider, Kecamatan Tanjung Karang Barat. Identifikasi

dilakukan di Laboratorium Parasitologi, Balai Veteriner Lampung.

3.2 Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kertas label, mikroskop, gelas

ukur untuk memperoleh volume larutan NaCl yang digunakan, beaker glass,

kamera untuk dokumentasi foto, masker, sarung tangan, alat tulis, stopwatch,

timbangan analitik untuk menimbang sampel feses yang akan digunakan, kertas

minyak sebagai wadah sampel, yang akan ditimbang, saringan 200 mesh untuk

menyaring sampel, batang pengaduk, mortar, pipet tetes, spatula, kamar hitung

(36)

19

3.3 Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah feses ayam dan larutan NaCl

jenuh.

3.4 Metode Penelitian

Pengambilan sampel dilakukan secara proportionate clustered random

sampling yaitu mengambil feses ayam secara acak dari kandang peternak

mandiri di Kelurahan Segalamider, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota

Bandar Lampung.

3.5 Prosedur Penelitian

3.5.1 Pengambilan Sampel Feses

Diambil sampel feses ayam sebanyak 100 sampel dari keseluruhan empat

kandang yang ada di peternakan mandiri. Tiap kandang diambil feses

sebanyak 25 sampel. Sampel feses yang didapat dimasukkan kedalam

(37)

20

3.5.2 Pelaksanaan Penelitian

3.5.2.1 Prosedur Identifikasi Koksidia

Identifikasi koksidia menggunakan buku panduan Conway and McKenzie

(2007), dengan menyamakan bentuk morfologi berupa ukuran dan bentuk

telur parasit koksidia yang ditemukan.

3.5.2.2 Penghitungan Jumlah Koksidia Menggunakan Mc.Master

Jumlah koksidia yang ditemukan dihitung menggunakan uji EPG (egg

per grams) Mc. Master yaitu menghitung jumlah koksidia secara

kuantitatif menggunakan kamar hitung Mc. Master yang menggunakan

NaCl jenuh sebagai pelarutnya. Prosedur dari uji EPG Mc. Master

adalah sebagai berikut :

 Sampel feses ayam ditimbang sebanyak 2 gram dengan menggunakan

timbangan analitik.

 Sampel feses yang telah ditimbang, dihancurkan dengan menggunakan

alat tumbuk (mortar) sambil ditambahkan NaCl jenuh sebanyak 58 mL

sedikit demi sedikit.

Filtrat yang dihasilkan kemudian disaring menggunakan saringan Mesh

ke dalam beaker glass sambil diratakan di atas saringan.

Filtrat dalam beaker glass digoyang perlahan dan kemudian dimasukkan

(38)

21

 Dihitung jumlah koksidia di bawah mikroskop, dengan pembacaan hasil

OPG (Oocyst per gram) mengikuti rumus :

Nilai OPG = 100 X

(X = Jumlah ookista yang ditemukan)

(Colville, 1991).

3.6 Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Data hasil

identifikasi yang diperoleh disajikan dalam bentuk gambar yang meliputi jenis

parasit. Data prevalensi disajikan dalam bentuk tabel yang meliputi jenis,

jumlah dan prevalensi. Untuk menghitung prevalensi digunakan rumus

menurut Soulsby (1986) sebagai berikut :

Jumlah sampel feses yang ditemukan suatu jenis

Prevalensi = × 100%

(39)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Jenis parasit penyebab koksidiosis yang ditemukan pada ayam petelur strain

Lohman jantan adalah Eimeria tenella.

2. Prevalensi serangan koksidia pada ayam petelur strain Lohman jantan akibat

infeksi Eimeria tenella sebesar 20%.

5.2 Saran

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan jenis Eimeria penyebab

koksidiosis pada feses ayam petelur Strain Lohman jantan, sehingga disarankan

kepada peternak untuk menjaga kebersihan kandang dari feses yang menumpuk,

(40)

34

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, T.N. 2009. Aspek Klinik dan Penularan pada Pengendalian Penyakit

Ternak Departemen Klini Veteriner FKH. Universitas Airlangga.

Surabaya.

Allen P.C and R.H. Fetterer . 2002. Clinical Microbiology Reviews : Recent Advances in Biology and Immunobiology of Eimeria Species and In Diagnosis and Confoll of Infection With These Coccidian Parasite of Poultry. Journal Society Microbiology. Vol.15 (1) : 58-65.

Anon. 1990. Beberapa Penyakit Penting Pada Ternak Seri Peternakan. Proyek

Pengembangan Penyuluhan Pertanian Pusat / NAEP. Departemen

Pertanian. Balai Informasi Pertanian Daerah Istimewa Aceh.

Arifin, Zainal. 2010. Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Bangsa. Remaja Rosda Karya. Bandung.

Assafa, D. E., F. Deribe, Gebreselassie, J. Ali, S. Kibru and S. Nagesh. 2004.

Medical Parasitology. Ethiophia Public Health Training Initiative. The

Carter Center, The Ethiophia Ministry of Health, and The Ethiophia Ministry of Education.

Barta, J.R and K. Price. 2001. Immunological Control Of Coccidiosis In Poultry.

Journal Immunological. Vol. 4(1) : 101-108.

Brooks, F., A. Stephen, Butel, Janet, Morse dan S. Geo. Mikrobiologi

Kedokteran Edisi I. Salemba Medika. Jakarta.

Calnek, B.W., C. W. Beard, H. J. Barnes, H. Jr. Wiyodi and W. M. Reid. 1994.

Desease of Poultry. 9th Ed. Iowa State University. Iowa.

Calnek B.W. 2001. Disease of Poultry. 10th Ed. Iowa State University Press, USA.

(41)

35

Colville, J. 1991. Diagnostic Parasitology for Veterinary Technicians. American Veterinary Publications Thormwood Drive Golete. California.

Conway, D.P and M.E. McKenzie. 2007. Poultry Coccidiosis Diagnostic and

Testing Procedures Third Edition. Blackwell Publishing. USA.

Darma, M. 1982. Tanggapan Ayam Jantan Pedaging Terhadap Mutu Ransum

pada Awal Pertumbuhan. [Karya Ilmiah]. Fakultas Peternakan. Institut

Pertanian Bogor. Bogor.

Dawid F., M. Bekele and Y. Amede. 2012. Claf Coccidiosis in Selected Dairy Fams of Dire Dawa, Eastern Ethiopia. Global Veterinaria. Vol. 9(4): 460-464.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2010. Teknik Pengolahan Daging Ayam. http:// disnakkeswan.Lampungprov.go.id/pengolahan_ayam.pdf. Diakses pada 30 Oktober 2016 Pukul 14.45 WIB.

Eraslan G, C.I. Bilal, C. Yucel, and E. Meryem. 2004. Changes In Malondialdehyde Level And Catalase Activity And Effect Of Toltrazuril On These Parameters In Chicks Infected With Eimeria

tenella. Bulletin Veterinary Pulawy. Vol. 48(2) : 251-254.

Gordon,R.F. 1997. Poultry Disease. Bailliere Tindall and Cox. London.

Hofstad, M. S., B.W. Calnek, C.F. Helmblot and W.M. Yoder. 1984. Diseases of

Poultry. 8thEd. Iowa State University Press. Ames ,Iowa, USA.

Jackson, G.J., H. Robert and S. Ira. 1970. Immunity to Parasitic Animal. Health Department. Belgia.

Jadhav B. N, L.B. Dama and S. N. Bhamre. 2012. New Species Of Genus Eimeria (Eimeria Nikamae) In Broiler Chicken (Gallus gallus domesticus) From Aurangabad (M.S.) India. Vol. 1(3). ISSN: 2319–314X (Print); 2319–

3158 (Online).

Jadhav B.N and V.N. Susheel. 2014. Study of Eimeria brunetti (Levine 1942) in Broiler Chicken from Aurangabad District of Maharashtra State India.

International Journal of Applied Science Research and Review. Vol.

1(3) : 102-106.

Jankiewicz H.A. and R.H. Schofield. 1934. The Administration Of Heated Oocyts Of Eimeria tenella As A Means Of Establishing Resistance and

Immunity to Cecal Coccidiosis. Journal American Veterinary Medical

(42)

36

Johnson, W.T. 1938. Coccidiosis of the Chicken with Special Reference to Species. Station Bulletin. Corvallis Agricultural Experiment Station, Oregon State College.

Levine, N.D. 1978. Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

__________.1985. Veterinary Protozoology. Iowa State University Press. Ames.

Lillehoj, H.S. 1998. Role of T Lymphocyte and Cytokines in Coccidiosis.

Journal International Parasitology. Vol. 28(2) : 1071-1081.

Long, P.L and. T.K. Jeffers. 1986. Control of Coccidiosis. Journal Parasitology. Vol. 2(9) : 236-239.

Min W, Lillehoj H.S. and R.A. Dalloul. 2004. Application of Biotechnological Tools for Coccidian Vaccine Development. Journal Veterinary. Vol. 5(2) : 279-288

Nikam S.V., B.N. Jadhav and S.N. Bhamre. 2012. Study Of Genus Eimeria {Eimeria Mitis, Tyzzer 1929} In Broiler Chicken (Gallus gallus) From Aurangabad (M.S.) India. Vol. 1(1). ISSN: 2319–314X (Print); 2319–

3158 (Online).

Pattilesono dan Sangle. 2011. Efek Frekuensi Penaburan Zeolit Pada Alas Litter

Terhadap Kualitas Lingkungan Kandang Ayam Pedaging. Fakultas

Peternakan Dan Perikan Ilmu Kelautan. Universitas Manokwari. Papua.

PT. Multi Breeder Adirama Indonesia. 2005. Standar Performan Produksi Strain

Lohman. Multi Breeder Adirama Indonesia. Lampung.

Riyanti. 1995. Pengaruh Berbagai Imbangan Energi Protein Ransum Terhadap Performan Ayam Petelur Jantan Tipe Medium. Prosiding Seminar

Nasional Sains dan Tekhnologi Peternakan. Balai Penelitian Ternak.

Ciawi. Bogor.

Salfina, A. Hamdan dan Tarmudji.1992. Koksidiosis Pada Ayam Buras di Kalimantan Selatan. Penyakit Hewan. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. Vol. 24 (43) : 23-26.

Sarwono B. 2003. Beternak Ayam. Penebar Swadaya. Jakarta.

Setyawati, S.J.A dan E. Yuwono. 2006. Upaya Peningkatan Kekebalan Broiler Terhadap Penyakit Koksidoisis Melalui Infeksi Simultan Ookista. Jurnal

(43)

37

Smith, T. W. 1997. Protozoan Diseases. Poultry Science Home Page College of Agriculture & Life Sciences Mississipi State University.

http://www.msstate.edu/dept/poultry/disproto.htrn. Diakses pada 29

November 2016 Pukul 14.30 WIB.

Soulsby, E.J.L. 1974. Parasitic Zoonoses Clinical and Experimental Studies Academic Press. London.

____________. 1986. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated

Animals. 7 rd Ed. The English Language Book Society and Bailliere

Tindal. London.

Sucipta dan Hatta. 2009. Wawasan Peternak Unggas. http://www.

wartaekonomi.co.id. Diakses pada 05 November 2016 Pukul 16.45 WIB.

Sumadi. 1995. Pengaruh Pembuatan Jumlah Pakan dan Jenis Kelamin Terhadap Performans Dua Galur Ayam Broiler. [Tesis]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Suprijatna, E., R. Kartasudjana dan U. Atmarsono. 2005. Ilmu Dasar Ternak

Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suratman. 2009. Prevalensi Koksidiosis Pada Ayam di Kota Denpasar.

hhtp://www.bulletinveteriner.com/prevalensi/koksidiosis/

/pada/ayam/Denpasar. Diakses pada 30 Oktober 2016 Pukul 17.45 WIB.

Sutawi. 1996. Koksidiosis Sebuah Tinjauan pada Produksi Unggas Modern. Majalah Informasi dan Koperasi. Swadaya Peternakan

Indonesia No. III (Mei-Juni). pp: 17-1.

Tabbu C.R. 2002. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume 2. Kanisius. Yogyakarta.

Tampubolon, M. 1992. Petunjuk Laboratorium Protozoologi. IPB Press. Bogor.

Vertommen, M. H. and B. Koitwenhoven. 1993. Factor Which Contribute to Contracting Coccidiosis. World Poultry. Special Issue on Coccidiosis. Vol. 9.

Wahju, J. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan Ke-3. Gadjah Mada University

Press. Yogyakarta.

Figure

Gambar 1. Ayam petelur strain Lohman jantan(Dokumentasi pribadi, 2016)
Gambar 2. Koksidiosis pada ayam.Keterangan :   A: Pendarahan ayam akibat koksidiosis(Dokumentasi pribadi, 2016)
Gambar 3. Siklus hidup Eimeria (Barta and Price, 2001).

References

Related documents

The following chart shows two party preferred voting indications since February 2018 published by the Australian newspaper.. December 2020 Quarter

As schools are transitioning from punitive punishment to a more restorative approach to discipline, this program provides a new way of incorporating a more holistic approach

Based on innovative educational theory, and the review of relevant research at home and abroad, referring to Zhang’s studies, who classifies innovation culture into material

Capital Markets Union Package (CMU) Pan European Framework for Covered Bonds (CMU Package) (tbc) European System of Financial Supervision (ESFS) Funding and Governance Review

Sister Moyer was an educator for many years and currently works for the Sisters Villa Maria Campus doing scheduling and bookkeeping for the schools and apartment complexes

This subdivision facilitates the recognition at the second level of the classification system, which is constituted by two networks that have to distinguish between an

Consequently, there is a need for the development of a simple yet all-inclusive school audit tool that would aid in scoring various relevant items from traffic safety (school site

To address instances in which employers intentionally misclassify employees as “independent contractors” to lower the amount of the workers’ compensation insurance premium,