HUBUNGAN KOMUNIKASI KELUARGA DENGAN KECENDERUNGAN PENGGUNAAN STRATEGI COPING PADA SISWA KELAS XI SMA
NEGERI 1 GADINGREJO TAHUN AJARAN 2019/2020
(Skripsi)
Oleh
DELLA AGUSTIA NINGSIH
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
ABSTRAK
HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI KELUARGA DENGAN KECENDERUNGAN PENGGUNAAN STRATEGI COPING PADA SISWA
KELAS XI SMA NEGERI 1 GADINGREJO TAHUN AJARAN 2019/2020
Oleh
Della Agustia Ningsih
Permasalahan dalam penelitian ini adalah kecenderungan penggunaan strategi
coping negatif pada siswa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan
antara komunikasi keluarga dengan kecenderungan penggunaan strategi coping
pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Gadingrejo Tahun Ajaran 2019/2020.
Penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Sampel penelitian ini berjumlah
374 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan skala komunikasi keluarga
dan strategi coping. Teknik analisis data menggunakan korelasi product moment.
Hasil penelitian diperoleh r hitung0,791 ˃ r table0,133 dengan taraf signifikansi
0,05%, artinya terdapat hubungan positive yang signifikan antara komunikasi
keluarga dan kecenderungan penggunaan strategi coping. Semakin tinggi
komunikasi keluarga konsensual maka tingkat kecenderungan penggunaan
strategi coping berfokus pada masalah semakin tinggi begitu juga sebaliknya,
semakin tinggi komunikasi keluarga laissez-faire maka kecenderungan
penggunaan strategi coping berfokus pada emosi semakin tinggi.
ABSTRACT
CORRELATION OF FAMILY COMMUNICATION WITH THE USE OF COPING STRATEGIES ON GRADE 11 STUDENTS OF SENIOR HIGH
SCHOOL 1 GADINGREJO ACADEMIC YEAR 2019/2020
By
Della Agustia Ningsih
The problem of this research is the use of negative coping strategy in students.
The aim of this research is correlation of Family Communication with the trends
of the use of straegy coping in students eleven class of Senior High School 1
Gadingrejo Academic Year 2019/2020. Descriptive Quantitative method was
applied to this research with the sample of this research was 374 students. Data
Collecting technique of this research used family communication withstrategy
coping. The data analysis technique of the research used product moment
Corelation. The results of this research were gained , so r hitung 0,791 ˃ r table
0,133 with significance level of 0,05%, meaning that thre is a significant positive
correlationof family communication with the trends of the use of strategy coping,
the higher the consensual family communication, the higher the tendency of using
coping strategy to focus on the problem, and vice versa, the higher the
laissez-faire family communication, the higher the tendency to use coping strategy to
focus on the emotions.
HUBUNGAN KOMUNIKASI KELUARGA DENGAN KECENDERUNGAN PENGGUNAAN STRATEGI COPING PADA SISWA KELAS XI SMA
NEGERI 1 GADINGREJO TAHUN AJARAN 2019/2020
Oleh :
DELLA AGUSTIA NINGSIH
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Gadingrejo tanggal 18 Agustus 1997,
Anak pertama dari pasangan bapak Yuli Yanto dan
ibu Khasiati. Penulis memiliki satu adik laki-laki yang
bernama Dwika Adiputra, satu adik perempuan yang
bernama Ananda Azkia, serta satu adik laki-laki yang
bernama Adlie Hafiz AB.
Pendidikan penulis dimulai dari taman kanak-kanak di TK PATRIA Wonodadi
yang diselesaikan pada tahun 2003. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di
SD N 4 Wonodadi yang diselesaikan pada tahun 2009. Kemudian penulis
melanjutkan pendidikan di SMP N 2 Gadingrejo yang diselesaikan pada tahun
2012 dan penulis selanjutnya melanjutkan pendidikan di SMA N 1 Gadingrejo
yang selesai pada tahun 2015. Pada tahun 2015 sampai sekarang, penulis terdaftar
sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu
Pendidikan FKIP Universitas Lampung melalui jalur SNMPTN.
Selama menjadi mahasiswa penulis pernah aktif pada beberapa organisasi yaitu
Forum Mahasiswa dan Alumni Bimbingan dan Konseling Universitas Lampung
Internal/HAKI (2017-2018), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Pendidikan
(HIMAJIP) sebagai anggota bidang Ilmu Pendidikan (2016-2017).
Pada semester enam, penulis melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di kota
Yogyakarta dan Malang.
Pada semester tujuh, penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pekon
Sumberrejo kabupaten Lampung Timur dan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL)
MOTTO
“Bagaimana kamu mencintai dirimu sendiri adalah bagaimana mengajarkan orang
lain untuk mencintaimu”
(Rupi Kaur)
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka
mengubah keadaan diri mereka sendiri”
i PERSEMBAHAN
Dengan Penuh Rasa Syukur Pada ALLAH SWT Atas Terselesaikannya Penulisan Skripsi Ini Yang Kupersembahkan Karya Kecilku Ini Untuk Yang Paling
Berharga Dari Apa Yang Ada Didunia Ini,
Bapak Ku Yuli Yanto
Yang Telah Menjadi Sosok Bapak Yang Aku Kagumi, Yang Aku Banggakan Selalu Mengingatkanku Untuk Hal-Hal Yang Baik, Bekerja Membanting Tulang
Yang Tiada Ternilai Harganya Untuk Kebahagiaanku, Yang Telah Memberikan Pelukan Disaat Aku Mulai Lelah Dan Menegurku Saat Aku Berbuat Salah Serta
Selalu Memberikan Motivasi Dan Dorongan Untuk Menggapai Cita-Citaku.
Ibu Ku Khasiati
Yang Sudah Melahirkan, Membesarkan Dan Mendidikku Dengan Penuh Kasih Sayang Dan Kesabaran, Selalu Memberikan Semangat Untuk Terus Berjuang Dalam Menggapai Cita-Cita, Yang Selalu Siap Menjadi Tempat Curhatku, Yang
Selalu Memaafkan Setiap Kesalahanku Dan Tidak Pernah Lelah Untuk Selalu Memberikan Doa Dan Nasehat.
Adik-Adik Ku
Yang Selalu Memberikan Motivasi Dalam Setiap Senyum Dan Semangat Untuk Terus Berjuang Dalam Menggapai Cita-Cita, Terima Kasih.
Keluarga Besarku
Yang Selalu Memberikan Motivasi Untuk Terus Berjuang dalam Menggapai Cita-Citaku.
Almamaterku Tercinta Universitas Lampung
ii SANWACANA
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana
Pendidikan pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu
Pendidikan, FKIP Universitas Lampung. Skripsi ini berjudul “Hubungan
Komunikasi Keluarga dengan Kecenderungan Penggunaan Strategi Coping Pada
Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Gadingrejo Tahun Ajaran 2019/2020”.
Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih
kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan Dan
Ilmu Pendidikan Universitas Lampung
2. Bapak Dr. Riswandi, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung.
3. Bapak Drs. Yusmansyah, M.Si., selaku Ketua Program Studi S1 Bimbingan
Dan Konseling Universitas Lampung.
4. Ibu Diah Utaminingsih, S.Psi., M.A., Psi., selaku dosen pembimbing I yang
telah bersedia memberikan bimbingan, saran, serta kritikan dalam proses
iii 5. Bapak Moch Johan Pratama, M.Psi., Psi., selaku dosen pembimbing II yang
telah bersedia memberikan bimbingan, saran, serta kritik dalam proses
penyelesaian skripsi ini.
6. Bapak Drs. Yusmansyah, M.Si., selaku dosen penguji yang telah banyak
memberikan masukan dan saran-saran yang membangun dalam selesainya
skripsi ini.
7. Bapak dan Ibu dosen Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Lampung
yang telah memberikan ilmu pengetahuannya kepada penulis selama kuliah.
8. Bapak dan Ibu Staf Bimbingan dan Konseling Universitas Lampung, yang
telah memberikan bantuan kepada penulis selama kuliah.
9. Bapak Drs. Yulizar, M.M., selaku kepala sekolah SMA Negeri 1
Gadingrejo, bapak Yuzar Lutfi, S.Pd., selaku kepala kurikulum dan bapak
ibu guru Bimbingan dan Konseling, terimakasih telah berkenaan
memberikan izin dan kesediaannya membantu penulis untuk melaksanakan
penelitian.
10. Siswa-siswi SMA Negeri 1 Gadingrejo yang telah bersedia menjadi subjek
dalam mengadakan penelitian ini.
11. Kedua orang tuaku, Bapak Yuli Yanto dan Ibu Khasiati yang tiada henti
memberikan kasih sayang dan pengertian yang begitu berlimpah.
12. Keluarga besarku tercinta yang selalu menyayangi, menghibur, dan
menantikan kesuksesanku.
13. Sahabatku, Faika Lukita Nisa, Amaliyah, dan Zazila Zaqia Putri yang sudah
bersamaku dari zaman SMA sampai akhirnya kita menemukan jalan kita
iv menemaniku dalam menyelesaikan skripsi ini. Teimakasih telah menjadi
sahabat sekaligus saudariku untuk sekarang dan nanti.
14. Sultan Musiman, Sernila, Intan Dwi Saputri, Vista Ambar Wulan, Devy
Anggraeny, Firda Yunita. Terimaksih sudah menemani hari-hariku,
membantuku dalam menyelesaikan skripsi ini dan telah membuat hidupku
menjadi berwarna.
15. Teman seperjuanganku BK 2015, terimakasih atas dukungan dan bantuan
yang diberikan. Terutama BK 2015 Kelas B “Salonpas vs Nikah”.
Terimakasih atas semangat yang tiada henti selalu diberikan.
16. Keluarga KKN PPL Desa Sumberrejo, Kak Sholeh, Yori, Kak Ridho, Fajria,
Bella, Atika, Syairini, Lorena, Mba Eva. Terimakasih atas canda tawa,
keseruan, dan pengalamannya salama KKN PPL. Kak Reza Supratama
selaku Bhabinkamtibmas yang sudah banyak membantu, menemani, dan
menjaga selama KKN PPL.
17. Almamater tercinta, Universitas Lampung Semoga Allah SWT membalas
amal kebajikan semua pihak yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini. Semoga bermanfaat. Aamiin.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,
akan tetapi penulis berharap agar skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi kita semua. Aamiin
Bandar Lampung, Januari 2020 Penulis,
v DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
I. PENDAHULUAN A.Latar belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah... 5
C.Kerangka Berpikir ... 6
D.Manfaat penelitian ... 7
E. Hipotesis Penelitian ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA A.Komunikasi Keluarga ... 9
1. Pengertian Komunikasi Keluarga ... 9
2. Tipe Komunikasi Keluarga ... 11
3. Aspek-aspek Komunikasi Keluarga ... 13
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Komunikasi Keluarga ... 15
B. Strategi Coping ... 16
1. Pengertian Strategi Coping ... 16
2. Jenis Strategi Coping ... 18
3. Fungsi Strategi Coping ... 21
4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Strategi Coping ... 22
C.Hubungan antara Komunikasi Keluarga dengan Strategi Coping ... 24
D.Penelitian Relevan ... 26
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.Metode penelitian ... 29
B. Tempat dan Waktu penelitian ... 29
C.Populasi dan sampel ... 29
D.Definisi Operasional ... 30
vi
F. Teknik Pengumpulan Data ... 31
G.Instrumen Penelitian ... 33
H.Uji Validitas dan dan Uji Reliabilitas ... 37
I. Teknik Analisis Data ... 39
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.Pelaksanaan Penelitian... 42
B. Hasil Penelitian ... 43
C.Analisis Hasil Penelitian ... 59
D.Pembahasan ... 60
BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ... 66
B. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 69
vii DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Skema Dimensi Tipe Komunikasi Keluarga ... 13
2. Kriteria Bobot Nilai Pada Skala ... 32
3. Kisi-kisi Skala Komunikasi Keluarga ... 34
4. Kisi-kisi Skala Strategi Coping ... 36
5. Koefisien Reliabilitas Alpha Cronbach ... 38
6. Hasil Uji Reliabillitas ... 39
7. Gambaran umum jumlah populasi penelitian ... 43
8. Distribusi frekuensi dan persentase Komunikasi Keluarga ... 44
9. Distribusi frekuensi dan persentase strategi coping ... 46
10. Distribusi frekuensi dan persentase pendidikan orang tua Komunikasi keluarga ... 47
11. Distribusi frekuensi dan persentase pendidikan orang tua strategi coping ... 48
12. Distribusi frekuensi dan persentase pekerjaan orang tua Komunikasi keluarga ... 49
13. Distribusi frekuensi dan persentase pekerjaan orang tua strategi coping ... 50
14. Distribusi frekuensi dan persentase suku siswa komunikasi keluarga ... 51
viii DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka Berpikir ... 7
2. Diagram batang gambaran komunikasi keluarga di sekolah... 53
3. Diagram karakteristik komunikasi berdasarkan pekerjaan orang tua ... 54
4. Diagram batang komunikasi berdasarkan pekerjaan wiraswasta ... 54
5. Diagram batang komunikasi berdasarkan pekerjaan PNS ... 55
6. Diagram batang komunikasi berdasarkan pekerjaan guru ... 55
7. Diagram batang komunikasi berdasarkan pekerjaan swasta ... 56
8. Diagram batang komunikasi berdasarkan pekerjaan petani ... 56
9. Diagram batang komunikasi berdasarkan pekerjaan TNI/POLRI ... 57
10. Diagram batang komunikasi berdasarkan pekerjaan lainnya ... 57
11. Diagram batang strategi coping ... 58
12. Diagram batang strategi coping berdasarkan pekerjaan orang tua... 58
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal anak dan sangat
berperan bagi perkembangan anak, keluarga menjadi media sosialisasi
pertama dan utama bagi seorang anak untuk mengenal dan memahami
dirinya. Melalui keluarga, anak belajar menanggapi orang lain, mengenal
dirinya, dan sekaligus belajar mengelola emosinya. Kecerdasan emosional
yang dimiliki seorang anak dalam menmotivasi diri, ketahanan dalam
menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi, menunda kepuasan dan
mengatur suasana hati dapat dipupuk melalui lingkungan keluarga. Media
pembelajaran ini dapat dipengaruhi oleh komunikasi yang diterapkan dalam
keluarga, terutama bagaimana sikap orangtua dalam mendidik dan mengasuh
anaknya. Komunikasi keluarga ada untuk memberikan ketertiban dan model
bagi anggota keluarga, Anak cenderung mengidentifikasi perilaku orang tua
mereka sebelum mengidentifikasi perilaku orang lain.
Masa remaja adalah salah satu tahapan kehidupan yang paling kritis.
Karakteristik yang paling mencolok dari masa remaja adalah pencarian
kemerdekaan dan hubungan teman sebaya. Orang tua dan komunikasi
2
kemasa dewasa. Komunikasi interpersonal antara orangtua dan anak-anak,
yang disebut komunikasi keluarga, adalah dasar bagi perkembangan emosi
remaja.
Komunikasi keluarga merupakan kualitas psikologi yang positif, hal ini
terbukti bahwa pola komunikasi keluarga berkorelasi dengan berbagai
kualitas psikologi positif lainnya, seperti : Perkembangan Emosi (Setyowati
2005), Membentuk Karakter (Pusungula 2015), Pembentukan Stereotip dan
Prasangka Antaretnik (Saputra 2017), Kepercayaan Diri Pada Remaja
(Wulandari 2017), Meminimalisir Kenakalan Remaja (Rimporok 2015).
Komunikasi keluarga membantu siswa belajar cara berkomunikasi dengan
orang lain dan membantu siswa belajar bagaimana cara untuk mengatasi dan
mengendalikan situasi atau masalah yang dialami dan dipandang sebagai
hambatan, tantangan yang bersifat menyakitkan, serta ancaman yang bersifat
merugikan atau bisa disebut dengan strategi coping.
Secara umum Lazarus dan Folkman (1984) mendefinisikan strategi coping
sebagai suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang
ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu
maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya
yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stresful (situasi penuh
tekanan). Sumberdaya coping yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi
strategi coping yang akan dilakukan dalam menyelesaikan berbagai
permasalahan. Individu itu sendiri yang dapat menentukan dan membantu
3
dirinya sendiri dalam mengurangi berbagai masalah yang dihadapinya.
Strategi coping meliputi bagaimana individu memperlakukan suatu keadaan
atau permasalahan yang menjadi beban, mengerahkan segala upaya untuk
mengatasi permasalahan.
Menurut Lazarus dan Folkman seseorang cenderung menggunakan strategi
coping karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1) Kondisi kesehatan ,
2) Kepribadian, 3) Konsep diri, 4) Dukungan sosial, 5) Aset ekonomi. Secara
lebih lanjut Lazarus dan Folkman menjelaskan strategi coping sebagai suatu
proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara
tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun
tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang
mereka gunakan dalam menghadapi situasi stresful (situasi penuh tekanan).
Berdasarkan penjelasan Lazarus dan Folkman bahwa seseorang dapat
cenderung menggunakan strategi coping karena adanya dorongan dari
dukungan sosial, maka peneliti mengasumsikan adanya korelasi antara pola
komunikasi keluarga dengan kecenderungan penggunaan strategi coping yang
dilakukan individu, dimana kecenderungan penggunaan strategi coping
dipengaruhi karena adanya dukungan sosial, sedangkan pola komunikasi
keluarga adalah kemampuan untuk mengontrol dukungan sosial, jadi
asumsinya, jika komunikasi didalam keluarga nya bagus, maka akan dapat
mengontrol dorongan untuk menggunakan strategi coping.
Strategi coping merupakan kualitas psikologis yang negatif bagi seorang
4
penggunaan strategi coping yang tinggi berkorelasi dengan berbagai kualitas
negatif lainnya, seperti: Penyalah Gunaan Narkoba (Fauziannisa 2013),
Prestasi Akademik (Fauziah 2014), Optimisme (Ningrum 2012), Kenakalan
Remaja (Ningrum 2012), Harga Diri dan Pengungkapan Diri (Mafazi 2017).
Tingkat penggunaan strategi coping yang terjadi di kalangan remaja Lampung
dapat diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Darmalia (2016) di
SMK Swadhipa 2 Natar menunjukkan bahwa remaja Lampung memiliki
kecenderungan penggunaan strategi coping yang tinggi, dan jenis kelamin
mempengaruhi penggunaan strategi coping dalam mengatasi masalah.
Terdapat berbagai cara dalam menyelesaikan suatu masalah yaitu dengan
mengahdapi, menghindar, ataupun meminimalisir suatu masalah dan tidak
mencari jalan keluar yang bijak dengan menganggap masalah itu tidak pernah
ada. Berdasarkan hasil survey online ditemukan bahwa 15% dari siswa
SMAN 1 Gadingrejo mengakui bahwa mereka pernah menggunakan strategi
coping berfokus pada emosi dan melihat bentuk penggunaan strategi coping
berfokus pada emosi memang terjadi disekolah mereka.
Berdasarkan pengamatan fenomena yang terjadi ada beberapa siswa yang
cenderung menggunakan strategi coping berfokus pada emosi dalam
menyelesaikan masalah yang mereka alami, seperti siswa cenderung
mengedepankan emosi, lari dari masalah yang dihadapi, siswa terlalu agresif
dalam menyelesaikan masalahnya.
Demikian gambaran mengenai fenomena yang terjadi dikalangan remaja,
5
komunikasi keluarga dengan kecenderungan penggunaan strategi coping dan
mencoba untuk mendalami lebih lanjut asumsi tersebut pada siswa SMAN 1
Gadingrejo.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di SMAN 1 Gadingrejo
ditemukan beberapa perilaku siswa yang mengarah pada bentuk-bentuk
penggunaan strategi coping, berikut bentuk perilakunya :
1. Terdapat siswa yang agresif saat mengambilan keputusan untuk
menyelesaikan masalah.
2. Terdapat siswa yang bercerita kepada teman dan meminta bantuan
pendapat tentang apa yang harus dilakukannya.
3. Terdapat siswa yang merencanakan bagaimana cara untuk menyelesaikan
masalahnya.
4. Terdapat siswa yang berusaha menahan emosinya saat berada di
lingkungan sekolah.
5. Terdapat siswa yang mengedepankan emosi saat menyelesaikan masalah.
6. Terdapat siswa yang memilih menyendiri ketika memiliki masalah.
7. Terdapat siswa yang mengakui kesalahannya dan berusaha untuk
menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut.
8. Terdapat siswa yang menghindar agar tidak bertemu dengan temannya
ketika memiliki masalah dengan temannya.
6
C. Kerangka Berpikir
Berdasarkan hasil studi pendahuluan diketahui bahwa fenomena
kecenderungan penggunaan strategi coping berfokus pada emosi terjadi di
SMAN 1 Gadingrejo. Strategi coping sendiri merupakan kecenderungan
umum yang digunakan individu untuk menangani peristiwa stres dengan
cara-cara tertentu (Taylor 2009).
Lazarus dan Folkman (1984) mendefinisikan strategi coping sebagai suatu
proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara
tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun
tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang
mereka gunakan dalam menghadapi situasi stresfull (situasi penuh tekanan).
Seseorang cenderung menggunakan strategi coping karena dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu: 1) Kondisi kesehatan fisik, 2) keyakinan atau
pandangan positif, 3) Keterampilan memecahkan masalah, 4) Dukungan
sosial, 5) Aset ekonomi, 6) Pengalaman dalam menghadapi masalah, dan 7)
Faktor lingkungan.
Peneliti kemudian mengasumsikan adanya korelasi antara komunikasi
keluarga dengan kecenderungan penggunaan strategi coping yang di lakukan
seorang individu, dimana kecenderungan menggunakan strategi coping
muncul karena ada dorongan internal, sedangkan komunikasi keluarga adalah
kemampuan untuk mengontrol dorongan internal, jadi asumsinya jika
komunikasi keluarganya bagus, maka akan dapat mengontrol dorongan untuk
7
Menurut Koerner & Fitzpatrick (2002) komunikasi keluarga merupakan
formulasi dari teori umum keluarga dengan mempertimbangkan lingkungan
komunikasi secara lebih spesifik yang dihadapi oleh keluarga. Komunikasi
adalah suatu kegiatan yang pasti terjadi dalam kehidupan keluarga. Tanpa
komunikasi, sepilah kehidupan keluarga dari kegiatan berbicara, berdialog,
bertukar pikiran, dan sebagainya.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka peneliti mengkonstruk alur kerangka
[image:25.595.160.464.331.385.2]berpikir sebagai berikut:
Gambar 1. Kerangka berpikir
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut :
1. Manfaat teoritis
a. Menambah khazanah keilmuan bimbingan dan konseling khususnya
pada bidang pemahaman remaja dalam penggunaan strategi coping.
b. Berguna untuk mengembangkan ilmu pendidikan.
2. Manfaat praktis
Secara Praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa
manfaat yaitu,
a. Bagi Guru BK
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai inspirasi kepada guru dan
calon guru bimbingan dan konseling.
Kecenderungan Penggunaan Strategi
Coping (Y) Komunikasi
8
b. Bagi Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan menambah inforrmasi dan menjadi
masukan siswa untuk meningkatkan pola komunikasi keluarga.
c. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan dan
masukan untuk memperbaiki agar menjadi lebih efektif dan efisien.
E. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan alur kerangka pikir diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis
sebagai berikut:
H1 : Terdapat hubungan antara tipe komunikasi keluarga konsensual dengan
penggunaan strategi coping.
H2 : Terdapat hubungan antara tipe komunikasi keluarga pluralistik dengan
penggunaan strategi coping.
H3 : Terdapat hubungan antara tipe komunikasi keluarga protektif dengan
penggunaan strategi coping.
H4 : Terdapat hubungan antara tipe komunikasi keluarga laissez-faire dengan
9
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.Komunikasi Keluarga
1. Pengertian Komunikasi Keluarga
Banyak pengertian yang dikemukakan oleh para ahli mengenai
komunikasi keluarga, seperti yang dikemukakan oleh Mc Leod dan
Wackman (1973) menurutnya komunikasi interpersonal antara orang tua
dan anak-anak, yang disebut komunikasi keluarga, adalah dasar bagi
perkembangan emosi anak-anak.
Menurut Friendly (2002) Komunikasi keluarga juga dapat diartikan
sebagai kesiapan membicarakan dengan terbuka setiap hal dalam keluarga
baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, juga siap
menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga dengan pembicaraan
yang dijalani dalam kesabaran dan kejujuran serta keterbukaan. Terlihat
dengan jelas bahwa dalam keluarga pasti membicarakan hal-hal yang
terjadi pada setiap individu, komunikasi yang dijalin merupakan
komunikasi yang dapat memberikan suatu hal yang dapat diberikan
kepada setiap anggota keluarga lainnya.
Menurut Koerner & Fitzpatrick (2002) komunikasi keluarga merupakan
10
lingkungan komunikasi secara lebih spesifik yang dihadapi oleh keluarga.
Komunikasi keluarga boleh memberi pengaruh yang berbeda terhadap
tingkah laku dan psikologi remaja.
Berdasarkan uraian berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan keluarga
merupakan lingkungan pertama yang dikenal anak dan sangat berperan
bagi perkembangan anak. melalui keluarga, anak belajar menanggapi
orang lain, mengenal dirinya, dan sekaligus belajar mengelola emosinya.
Komunikasi keluarga merupakan komunikasi interpersonal yang dilakukan
oleh orang tua dan anak, komunikasi dasar bagi perkembangan emosi anak
dan orang tua dapat memberikan pengaruh yang berbeda untuk tingkah
laku dan psikologi anak. Dengan adanya komunikasi, permasalahan yang
terjadi diantara anggota keluarga dapat dibicarakan dengan mengambil
solusi terbaik.
Komunikasi didalam keluarga memiliki peran paling penting dalam
transisi sukses remaja kemasa dewasa. Komunikasi keluarga
mencerminkan bagaimana orangtua berkomunikasi dengan anak-anak
remaja. Komunikasi keluarga membantu remaja belajar cara
berkomunikasi dengan orang lain dan membantu remaja belajar bagaimana
cara untuk mengatasi dan mengendalikan situasi atau masalah yang
dialami dan dipandang sebagai hambatan, tantangan yang bersifat
11
2. Tipe Komunikasi dalam Keluarga
Tipe komunikasi ini ditentukan berdasarkan dua dimensi yaitu orientasi
percakapan dan orientasi kepatuhan. Orientasi percakapan merupakan
orientasi yang berfokus pada sejauh mana keluarga menciptakan iklim
yang mampu mendorong seluruh anggota untuk berpartisipasi dan
berinteraksi dalam membahas berbagai topik dalam keluarga. Pada
orientasi percakapan tindakan atau kegiatan yang akan direncanakan oleh
keluarga akan dibahas oleh seluruh anggota keluarga dan keputusan dibuat
bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga.Sedangkan orientasi
kepatuhan merupakan jenis komunikasi yang dirancang untuk
menghasilkan rasa hormat dan membina hubungan sosial yang harmonis
yang menyenangkan dirumah. Interaksi pada orientasi kepatuhan
menekankan pada kepatuhan terhadap orang tua, menghindari konflik dan
saling bergantung dengan anggota keluarga.
Melalui dua orientasi tersebut Koerner & Fitzpatrick (2002) membagi tipe
komunikasi keluarga menjadi 4 tipe yaitu :
a. Komunikasi keluarga konsensual
Tipe komunikasi ini memiliki orientasi akan kepatuhan dan orientasi
percakapan yang tinggi. Keluarga dengan tipe komunikasi ini mampu
mempertahankan hubungan yang harmonis dalam keluarga dan
memiliki kesepakatan untuk memiliki pola komunikasi yang terbuka
dalam keluarga. Keluarga dengan tipe komunikasi ini sangat menyukai
aktivitas mengobrol bersama akan tetapi orang tua tetap berfungsi
12
jenis ini biasanya mau mendengarkan pendapat anaknya, akan tetapi
keputusan tetap berada di tangan orang tua.
b. Komunikasi keluarga pluralistic
Tipe komunikasi ini memiliki orientasi percakapan yang tinggi namun
orientasi pada kepatuhan rendah. Keluarga dengan tipe komunikasi ini
sering melakukan banyak diskusi namun tidak banyak kesepakatan
yang terjadi. Keluarga dengan tipe komunikasi ini menyukai
percakapan yang terbuka akan tetapi keputusan dalam keluarga
ditentukan sendiri oleh anggota keluarga. Orang tua dengan tipe
komunikasi ini tidak memberikan kontrol berlebih pada anaknya, setiap
pendapat di nilai berdasarkan pada kebaikan. Pendapat yang terbaik
merupakan pendapat yang akan disepakati oleh seluruh anggota dalam
keluarga.
c. Komunikasi keluarga protektif
Tipe komunikasi ini memiliki orientasi percakapan yang rendah namun
kepatuhan yang tinggi. Keluarga dengan tipe komunikasi ini menganut
nilai ketaatan yang tinngi. Anak-anak harus menaati dan tunduk pada
orang tua mereka. Otoritas yang tinggi dalam keluarga cenderung
membuat anak-anak jenis keluarga ini mudah dipengaruhi dan dibujuk
oleh orang lain diluar keluarga dengan mudah. Orang tua dengan tipe
komunikasi ini tidak memiliki alasan penting mengapa mereka harus
13
d. Komunikasi keluarga Laissez-faire
Tipe komunikasi ini memilikin orientasi percakapan yang rendah dan
orientasi kepatuhan yang rendah. Keluarga dengan tipe komunikasi ini
menjaga privasi di antara sesama anggota keluarga sehingga frekuensi
untuk melakukan percakapan sama sekali ada dan pengambilan
keputusan dapat bebas dilakukan sendiri baik pada orang tua maupun
pada anak. Anggota keluarga dengan tipe komunikasi ini tidak terlalu
peduli dengan apa yang dikerjakan oleh anggota keluarga lainnya dan
tidak ingin membuang waktu untuk melakukan pembicaraan.
Kurangnya interaksi yang terjadi dalam keluarga, anak-anak cenderung
untuk dipengaruhi oleh kelompok-kelompok sosial diluar keluarganya.
Tabel 1. Skema Dimensi Tipe Komunikasi Keluarga
Orientasi Percakapan
Rendah Tinggi
Orientasi Keperibadian
Rendah Laisses-faire Pluralistik
Tinggi Protektif Konsensual
3. Aspek-aspek Komunikasi dalam Keluarga
Ada beberapa aspek dalam komunikasi keluarga seperti yang di
kemukakan oleh Koerner & Fitzpatrick (2002) bahwa komunikasi dalam
keluarga yang terjadi antara anak dengan orang tua terdiri atas dua aspek
14
a. Conversation orientation
Menurut Koerner & Fitzpatrick (2002) Conversation orientation
berfokus pada sejauh mana keluarga menciptakan iklim yang mampu
mendorong seluruh anggota keluarga untuk berpartisipasi dan
berinteraksi dalam membahas berbagai topik dalam keluarga. Pada
orientasi percakapan, tindakan atau kegiatan yang akan direncanakan
oleh keluarga akan dibahas oleh seluruh anggota keluarga dan
keputusan dibuat bersama-sama oleh seluruh angggota keluarga. Pada
orientasi ini, seluruh anggota keluarga bebas, spontan dan terbuka
untuk saling berinteraksi tanpa adanya batasan waktu atau topik yang
dibicarakan, menghabiskan banyak waktu untuk saling berinteraksi
membahas berbagai topik mengenai kegiatan yang dilakukan
sehari-hari, pikiran dan perasaan. Mereka saling berbagi tentang pendapat,
ide, pengalaman, perasaan satu sama lain. Segala keputusan
merupakan keputusan bersama, bukan hasil dominasi satu pihak saja.
b. Conformity orientation
Conformity orientation merupakan jenis komunikasi yang dirancang
untuk menghasilkan rasa hormat dan membina hubungan sosial yang
harmonis yang menyenangkan dirumah. orientasi kepatuhan ini
merujuk pada pembentukan suasana yang menghasilkan kepercayaan
yang homogen yang berkaitan dengan sikap nilai dan keyakinan yang
ditandai dengan keseragaman empati. Keluarga dengan pola ini
berfokus pada keharmonisan, minimnya konflik, serta saling
15
menggambarkan kepatuhan kepada orang tua, biasanya anak
mengikuti apa yang diyakini oleh orang tua mereka. Anak umumnya
menjadi tergantung pada apa yang dilakukan oleh orang tua mereka.
4. Faktor Komunikasi Keluarga
Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi komunikasi dalam keluarga,
yaitu:
a. Citra diri dan citra orang lain
Setiap orang mempunyai gambaran tertentu mengenai status dirinya,
kelebihan dan kekurangannya. Gambaran itulah yang menentukan apa
dan bagaimana dia berbicara. Citra orang lain juga mempengaruhi cara
dan kemampuan orang berkomunikasi.
b. Suasana psikologis
Suasana psikologis diakui mempengaruhi komunikasi, komunikasi sulit
berlangsung bila seseorang dalam keadaan sedih, bingung, marah,
merasa kecewa, merasa iri hati, diliputi prasangka, san suasana
psikologis lainnya.
c. Lingkungan fisik
Komunikasi dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja, dengan
gaya dan cara yang berbeda. Komunikasi yang berlangsung didalam
keluarga berbeda dengan yang terjadi disekolah.
d. Kepemimpinan
Dalam keluarga seorang pemimpin mempunyai peranan yang sangat
penting dan strategis. Dinamika hubungan dalam keluarga dipengaruhi
16
menentukan komunikasi bagaimana yang akan berproses dalam
kehidupan yang membentuk hubungan tersebut.
e. Etika bahasa
Pada suatu kesempatan bahasa yang dipergunakan oleh orang tua dapat
mewakili suatu objek yang dibicarakan secara tepat, tetapi dilain
kesempatan bahasa yang digunakan itu tidak mampu mewakili suatu
objek yang dibicarakan secara tepat. Maka dari itu dalam
berkomunikasi dituntut untuk menggunakan bahasa yang mudah
dimengerti antara komunikator dan komunikasi.
f. Perbedaan usia
Komunikasi dipengaruhi oleh usia, itu berarti setiap orang tidak bisa
berbicara sekehendak hati tanpa memperhatikan siapa yang diajak
bicara.
B.Strategi Coping
1. Pengertian Strategi Coping
Beberapa ahli yang mendefinisikan pengertian strategi coping, seperti
yang dikemukakan oleh Taylor (2009) menurutnya coping adalah
kecenderungan umum yang digunakan individu untuk menangani
peristiwa stres dengan cara-cara tertentu.
Secara umum Lazarus dan Folkman (1984) mendefinisikan strategi coping
sebagai suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak
yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari
sumber-17
sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stresful
(situasi penuh tekanan). Strategi coping didefinisikan sebagai suatu proses
tertentu yang disertai dengan sustu usaha dalam rangka merubah domain
kognitif atau perilaku secara konstan untuk mengatur dan mengendalikan
tuntutan dan tekanan eksternal maupun internal yang diprediksi akan dapat
membebani dan melampaui kemampuan dan ketahanan individu yang
bersangkutan.
Sependapat dengan Lazarus, Davidson (2006) menyatakan bahwa coping
adalah bagaimana orang berupaya mengatasi masalah atau menangani
emosi negatif yang ditimbulkannya.
Sedangkan Rasmun (2004) mengatakan bahwa coping adalah dimana
seseorang yang mengalami stres atau ketegangan psikologik dalam
menghadapi masalah kehidupan sehari-hari yang memerlukan kemampuan
pribadi maupun dukungan dari lingkungan, agar dapat mengurangi stres
yang dihadapinya. Dengan kata lain, coping adalah proses yang dilalui
oleh individu dalam menyelesaikan situasi stresful. Coping tersebut
merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik
fisik maupun psikologik.
Pernyataan yang berbeda diungkapkan oleh Carlson (2007), bahwa strategi
coping adalah rencana yang mudah dari suatu perbuatan yang dapat kita
ikuti, semua rencana itu dapat digunakan sebagai antisipasi ketika
18
stres yang sedang terjadi, dan efektif dalam mengurangi level stres yang
kita alami.
Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan strategi coping
merupakan kecenderungan yang digunakan oleh individu untuk
menangani stres dengan sumberdaya yang mereka gunakan. Coping
menjadi suatu upaya penyesuaian diri yang dilakukan individu untuk
mengurangi dan melindungi dirinya dari situasi yang menekan, menantang
atau mengancam pada permasalahan yang dihadapi. Baik permasalahan
yang berasal dari luar atau permasalahan yang berasal dari dalam diri
individu, yang dilakukan secara sadar untuk mengembangkan kemampuan
dirinya.
Reaksi setiap remaja berbeda dalam menghadapi stres, maka strategi
coping yang dilakukan akan berbeda pada tiap remaja. Hal ini tergantung
dari bagaimana remaja itu memandang permasalahan atau peristiwa yang
sedang mereka hadapi dan dukungan yang mereka dapatkan.
2. Jenis-jenis Strategi Coping
Ada beberapa jenis strategi coping, seperti yang dikemukakan oleh
Lazarus dan Folkman (1984) secara umum membagi strategi coping
menjadi dua macam yakni:
a. Strategi coping berfokus pada masalah.
Strategi coping berfokus pada maslah adalah suatu tindakan yang
diarahkan kepada pemecahan masalah. Individu akan cenderung
19
dihadapinya masih dapat dikontrol dan dapat diselesaikan. Yang
termasuk strategi coping berfokus pada masalah adalah:
a) Planful problem solving yaitu bereaksi dengan melakukan
usaha-usaha tertentu yang bertujuan untuk mengubah keadaan, diikuti
pendekatan analitis dalam menyelesaikan masalah.
b) Confrontative coping yaitu bereaksi untuk mengubah keadaan
yang dapat menggambarkan tingkat resiko yang harus diambil.
c) Seeking social support yaitu bereaksi dengan mencari dukungan
dari pihak luar, baik berupa informasi, bantuan nyata, maupun
dukungan emosional.
Mengatasi stres yang diarahkan pada masalah yang mendatangkan
stres (problem focused coping) bertujuan untuk menguangi tuntutan
hal, peristiwa, orang, keadaan yang mendatangkan stres atau
memperbesar sumberdaya untuk menghadapinya. Metode yang
dipergunakan adalah metode tindakan langsung.
b. Strategi coping berfokus pada emosi.
Strategi coping berfokus pada emosi adalah melakukan usaha-usaha
yang bertujuan untuk memodifikasi fungsi emosi tanpa melakukan
usaha mengubah stressor secara langsung. Perilaku coping yang
berpusat pada emosi cenderung dilakukan bila individu merasa tidak
dapat mengubah situasi yang menekan dan hanya dapat menerima
sutuasi tersebut karena sumberdaya yang dimiliki tidak mampu
mengatasi situasi tersebut. Yang termasuk strategi coping berfokus
20
a) Positive reappraisal (memberi penilaian positif) adalah bereaksi
dengan menciptakan makna positif yang bertujuan untuk
mengembangkan diri termasuk melibatkan diri dalam hal-hal yang
religius.
b) Accepting responsibility (penekanan pada tanggung jawab) yaitu
bereaksi dengan menumbuhkan kesadaran akan peran diri dalam
permasalahan yang dihadapi, dan berusaha menundukkan segala
sesuatu sebagaimana mestinya.
c) Self controlling (pengendalian diri) yaitu bereaksi dengan
melakukan regulasi baik dalam perasaan maupun tindakan.
d) Distancing (menjaga jarak) agar tidak terbelenggu oleh
permasalahan.
e) Escape avoidance (menghindarkan diri) yaitu menghindar dari
masalah yang dihadapi.
Pengatasan stress yang diarahkan pada pengendalian emosi (emotional
focused coping) bertujuan untuk menguasai, mengatur, dan mengarahkan
tanggapan emosi terhadap situasi stress. Pengendalian emosi ini dapat
dilakukan lewat perilaku negatif seperti menenggak minuman keras atau
obat penenang, atau dengan perilaku positif seperti olah raga, berpaling
kepada orang lain untuk meminta bantuan pertolongan. Cara lain yang
dipergunakan dalam penanganan stres lewat pengendalian emosi adalah
21
3. Fungsi Strategi Coping
Lazarus dan Folkman (1984) menyatakan, coping yang efektif akan
membantu seseorang untuk mentoleransi dan menerima situasi menekan,
serta tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya. Lazarus dan
Folkman (1984) mengatakan bahwa strategi coping yang berpusat pada
emosi (emotional focused coping) berfungsi untuk meregulasi respon
emosional terhadap masalah. Strategi coping ini sebagian besar terdiri dari
proses-proses kognitif yang ditujukan pada pengukuran tekanan emosional
dan strategi yang termasuk di dalamnya adalah:
a. Penghindaran atau pembuatan jarak.
b. Perhatian yang selektif.
c. Memberikan penilaian yang positif pada kejadian yang negatif.
Sedangkan strategi coping yang berpusat pada masalah (problem focused
coping) berfungsi untuk mengatur dan merubah masalah penyebab stress.
Strategi yang termasuk di dalamnya adalah:
a. Mengidentifikasi masalah
b. Mengumpulkan alternatif pemecahan masalah
c. Mempertimbangkan nilai dan keuntungan alternatif tersebut
d. Memilih alternatif terbaik
e. Mengambil tindakan
Taylor (1995) mengungkapkan bahwa coping berfungsi untuk
22
positif, mengurangi tekanan lingkungan atau menyesuaikan diri terhadap
kejadian yang negatif, dan tetap menjaga interaksi dengan orang lain.
4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Strategi Coping
Banyak faktor yang mempengaruhi strategi coping seperti yang
dikemukakan oleh Taylor, Lazarus dan Folkman. Taylor (2009)
menyebutkan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi individu
dalam melakukan strategi coping. Kedua faktor tersebut terbagi ke dalam
faktor internal dan faktor elsternal. Faktor internal adalah faktor yang
berasal dalam diri individu, seperti karakteristik, sifat kepribadian, dan
metode coping yang digunakan. Sedangkan faktor eksternal yang berasal
dari luar diri individu, seperti waktu, uang, pendidikan, kualitas hidup,
dukungan keluarga, dan sosial serta tidak adanya stressor lain.
Lazarus dan Folkman (1984) juga berpendapat seseorang cenderung
menggunakan strategi coping karena dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu:
a. Kondisi Kesehatan
Sehat didefinisikan sebagai status kenyamanan menyeluruh dari
jasmani, mental, dan sosial, dan bukan hanya tidak adanya penyakit
atau kecacatan. Kesehatan mental diartikan sebagai kemampuan
berfikir jernih dan baik, dan kesehatan sosial memiliki kemampuan
untuk berbuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain.
Kesehatan jasmani dalah dimensi sehat yang nyata dan memiliki
23
seseorang dapat melakukan coping dengan baik agar berbagai
permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan.
b. Kepribadian
Kepribadian adalah perilaku yang dapat diamati dan mempunyai
ciri-ciri biologi, sosiologi, dan moral yang khas baginya yang dapat
membedakannya dari kepribadian yang lain.
c. Konsep Diri
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian
seseorang yang diketahui dalam berhubungan dengan orang lain.
Konsep diri dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman
berhubungan dengan orang lain.
d. Dukungan Sosial
Dukungan sosial adalah adanya keterlibatan orang lain dalam
menyelesaikan masalah. Individu melakukan tindakan kooperatif dan
mencari dukungan dari orang lain, karena sumberdaya sosial
menyediakan dukungan emosional, bantuan nyata dan bantuan
informasi.
e. Aset Ekonomi
Keluarga yang memiliki aset ekonomi akan mudah dalam melakukan
coping untuk penyelesaian masalah yang sedang dihadapi. Namun
demikian, tidak berimplikasi terhadap bagaimana keluarga tersebut
24
C. Hubungan Antara Komunikasi Keluarga Dengan Strategi Coping
Strategi coping yang dipilih siswa dalam menghadapi masalahnya dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah dukungan keluarga
yang disampaikan melalui komunikasi keluarga. Komunikasi keluarga sangat
diperlukan oleh siswa sebagai sumber dukungan dalam melakukan strategi
coping dalam menghadapi masalahnya. Komunikasi didalam keluarga
memiliki peran paling penting dalam transisi sukses remaja kemasa dewasa.
Komunikasi keluarga mencerminkan bagaimana orangtua berkomunikasi
dengan anak-anak. Komunikasi keluarga membantu remaja belajar cara
berkomunikasi dengan orang lain dan membantu remaja belajar bagaimana
cara untuk mengatasi dan mengendalikan situasi atau masalah yang dialami
dan dipandang sebagai hambatan, tantangan yang bersifat menyakitkan, serta
ancaman yang bersifat merugikan.
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal anak dan sangat
berperan bagi perkembangan anak. melalui keluarga, anak belajar
menanggapi orang lain, mengenal dirinya, dan sekaligus belajar mengelola
emosinya. Keluarga menciptakan berbagai realitas melalui komunikasi, hal
ini terkait dengan hubungan yang hangat dan mendukung ditandai dengan
adanya sikap saling menghormati dan perhatian dengan satu sama lain.
Menurut Koerner & Fitzpatrick (2002) komunikasi keluarga merupakan
formulasi dari teori umum keluarga dengan mempertimbangkan lingkungan
komunikasi secara lebih spesifik yang dihadapi oleh keluarga. Komunikasi
25
psikologi remaja. Komunikasi dikatakan efektif apabila kedua belah pihak
saling dekat, saling menyukai, dan komunikasi diantara keduanya merupakan
hal yang menyenangkan.
Komunikasi dalam keluarga sebagai salah satu bentuk interaksi antara orang
tua dengan anak yang memiliki implikasi terhadap proses perkembangan
emosi anak. Melalui keluarga, anak belajar menanggapi orang lain, mengenal
dirinya, dan sekaligus dapat mengelola emosinya. Pengelolaan emosi sangat
bergantung dari pola komunikasi yang diterapkan dalam keluarga, terutama
sikap dan cara orang tua dalam menyampaikan sesuatu atau cara
berkomunikasi dengan anak.
Pengelolaan emosi harus dipupuk dan diperkuat dalam diri anak karena emosi
sangat erat dengan kecerdasan-kecerdasan lainnya, seperti kecerdasan sosial,
moral, interpersonal, dan spritual. Keseluruhan proses tersebut sangat
tergantung pada penerapan pola komunikasi dalam keluarga. Komunikasi
dalam keluarga tercermin dari cara orangtua membangun komunikasi dengan
anak.
Emosi adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi
masalah yang sedang dihadapi, kemampuan seorang anak dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapinya dapat dilihat dari pengalamannya
yang diperolah anak didalam keluarganya. Saat proses komunikasi didalam
keluarga berjalan dengan baik maka anak dapat mengatur emosinya dan dapat
26
sedang dihadapinya. Orangtua baiknya lebih bisa meningkatkan intensitas
komunikasi dengan anaknya.
Siswa dapat cenderung menggunakan strategi coping karena adanya dorongan
dari dukungan sosial, maka dapat diasumsikan adanya korelasi antara
komunikasi keluarga dengan kecenderungan penggunaan strategi coping yang
dilakukan siswa, dimana kecenderungan penggunaan strategi coping
dipengaruhi oleh adanya dukungan sosial, sedangkan komunikasi keluarga
adalah kemampuan untuk mengontrol dukungan sosial, jadi asumsinya jika
komunikasi didalam keluarga siswa bagus, maka akandapat mengontrol
dorongan untuk menggunakan strategi coping yang berfokus pada masalah.
D. Penelitian Relevan
1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Rohmanita(2015)
dalam penelitiannya yang berjudul “ Hubungan Pola Komunikasi Keluarga
terhadap Strategi Coping Stress Remaja di SMP Negeri 1 Pakis”. Dalam
penelitian ini mengambil metode penelitian pendekatan cross
sectional.pengambilan sampel dilakukan dengan stratified random
sampling, dimana sampel diambil secara acak dari populasi. Instrumen
pengumpulan data adalah lembar kuesioner. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa 61.7% responden melakukan pola komunikasi
keluarga fungsional sebanyak 62.9% responden mampu melakukan
strategi coping stress adaptif. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan
antara pola komunikasi keluarga terhadap strategi coping stress remaja.
Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar saat melakukan intervensi
27
pengkajian terhadap masalah psikologis remaja tetapi juga mengkaji pola
komunikasi yang dilakukan dalam keluarga.
2. Berdasarkan penelitian yang dilalukan sebelumnya oleh Setyowati (2005)
dalam penelitiannya yang berjudul “ Pola Komunikasi Keluarga dan
Perkembangan Emosi Anak (Studi Kasus Penerapan Pola Komunikasi
Keluarga dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Emosi Anak pada
Keluarga Jawa)”. Dalam penelitian ini mengambil metode penelitian
kualitatif deskriptif dengan interpretasi mendalam terhadap teman-teman
lapangan berdasarkan fakta yang ada mengenai informasi perkembangan
emosi anak yang dihasilkan dari penerapan pola komunikasi keluarga.
Bentuk penelitiannya adalah studi kasus tunggal karena sasaran yang
diambil mempunyai karakteristik yang sama yaitu keluarga Jawa. Teknik
yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu teknik wawancara
mendalam (in-depth interview) dan observasi langsung berberan pasif.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif
yang terdiri dari tiga komponen pokok yaitu reduksi data, sajian data, dan
penarikan kesimpulan. Validitas data dilakukan dengan teknik trigulasi,
yaitu teknik pemeriksaan, keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu
yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data tersebut. dalam penelitian ini, yang digunakan
adalah teknik trigulasi sumber atau data, metode, dan teori. Hasil
penelitian mengungkapkan bahwa pemahaman dan kesadaran keluarga
mengenai pentingnya komunikasi keluarga dan pengaruhnya terhadap
28
masih banyaknya keluarga yang tidak menganggap penting, bahkan tidak
memiliki pemahaman yang benar tentang hubungan kedua hal tersebut.
Pada kenyataannya, banyak keluarga yang lebih mengutamakan
kemampuan kognitif anak dari pada kemampuan emosionalnya, dan
banyak keluarga tidak memiliki batasan serta komitmen yang jelas
mengenai komunikasi keluarga dan perkembangan emosi anak, sehingga
komunikasi keluarga sering hanya dipahami sebagai rutinitas, bukan
29
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif korelasional,
karena hasil data dari skala yang diperlukan untuk mengungkap masalah
dalam bentuk skor angka data kuantitatif yang selanjutnya diolah dan diuji
dengan teknik analisis statistika.
B. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Gadingrejo, waktu penelitian
dilaksanakansaat semester genap yaitu tanggal 1 Agustus 2019.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi menurutArikunto (2010) adalah keseluruhan subyek
penelitian.Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
siswakelas XI SMA Negeri 1 Gadingrejo yang berjumlah 374 siswa
dengan 11 kelas.
2. Sampel penelitian adalah sebagian populasi yang diambil sebagai sumber
data dan dapat mewakili seluruh populasi. Arikunto (2010) mengatakan
bahwa “sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi
yang diteliti)”. Sampel yang diambil dalam penelitian ini semua populasi
30
D. Definisi Operasional Variabel 1. Komunikasi Keluarga
Komunikasi keluarga merupakan komunikasi interpersonal yang
dilakukan oleh orang tua dan anak, komunikasi dasar bagi perkembangan
emosi anak dan orang tua dapat memberikan pengaruh yang berbeda
untuk tingkah laku dan psikologi anak. Dalam komunikasi keluarga ini
ada empat tipe komunikasi yaitu:
a. Komunikasi keluarga konsensual
Keluarga dalam tipe ini mampu mempertahankan hubungan yang
harmonis, sangat menyukai aktivitas mengobrol bersama.
b. Komunikasi keluarga pluralistik
Keluarga dalam tipe ini sering melakukan diskusi tetapi untuk
keputusan ditentukan sendiri oleh anggota keluarganya.
c. Komunikasi keluarga protektif
Dalam keluarga tipe ini anak-anak harus menaati dan tunduk pada
orang tua mereka.
d. Komunikasi keluarga Laissez-faire
Keluarga didalam tipe komunikasi ini cenderung tidak melakukan
percakapan sama sekali, sehingga untuk pengambilaan keputusan
bebas dilakukan dan di tentukan sendiri.
2. Strategi Coping
Strategi coping merupakan kecenderungan yang digunakan oleh individu
untuk menangani stress dengan sumberdaya dan cara-cara tertentu yang
31
Strategi coping ini dibagi menjadi dua jenis, meliputi :
1. Strategi coping berfokus pada maslah adalah suatu tindakan yang
diarahkan kepada pemecahan masalah.
2. Strategi coping berfokus pada emosi adalah melakukan usaha-usaha
yang bertujuan untuk memodifikasi fungsi emosi tanpa melakukan
usaha mengubah stressor secara langsung.
E. Variabel Penelitian dan Reancana Pengukuran Variabel 1. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah komunikasi keluarga (x),
kecenderungan penggunaan strategi coping (y). Dalam penelitian ini hanya
ingin mengetahui hubungan komunikasi keluarga terhadap kecenderungan
penggunaan strategi coping. Variabel penyerta : Jenis kelamin, pendidikan
orang tua, pekerjaan, dan suku siswa.
2. Rencana Pengukuran Variabel
Untuk mengukur variabel dalam penelitian ini adalah dengan skala ordinal
dengan menggunakan pertanyaan kuesioner, misalnya adalah sangat tidak
setuju diberi kode 1 sebaliknya yang bermakna sangat setuju diberi kode 5
Skala 1-5 menunjukkan hirarki pendapat persetujuan dan penilaian dari
responden terhadap pernyataan.
F. Teknik Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian selalu terjadi proses pengumpulan data untuk
memperoleh data yang jelas. Menurut Arikunto (2002), metode pengumpulan
data ialah “cara memperoleh data.” Peneliti akan menggunakan beberapa
32
uraian tersebut maka dalam pengumulan data pada penelitian ini penulis
menggunakan dua skala. Skala merupakan teknik pengumpulan data yang
digunakan untuk memperoleh data. Skala ini menilai sikap atau tingkah laku
yang diinginkan oleh para peneliti dengan cara mengajukan beberapa
pernyataan kepada responden (Sukardi, 2003).
Menurut Azwar (2012), salah satu format responden yang sering digunakan
dalam skala psikologi adalah format lima pilihan yang merupakan jawaban
terhadap aitem yang berbentuk pernyataan. Penelitian ini, menggunakan lima
alternative jawaban itu sangat sesuai, sesuai, ragu-ragu, tidak sesuai, sangat
tidak sesuai. Dengan memiliki masing-masing skor yang berbeda, apabil
pernyataan positif (favorable) maka jawaban sangat sesuai (SS) skornya 5,
sesuai (S) skornya 4, ragu-ragu (R) skornya 3, tidak sesuai (TS) skornya 2,
dan sangat tidak sesuai (STS) skornya 1. Sebaliknya apabila pernyataan
negarif (unfavorable) jawaban sangat tidak sesuai (STS) skornya 5, tidak
sesuai (TS) skornya 4, ragu-ragu (R) skornya 3, sesuai (S) skornya 2, sangat
[image:50.595.135.482.566.719.2]sesuai (SS) skornya.
Tabel 2. Kriteria bobot nilai pada skala psikologi
No. Pernyataan Sangat
Sesuai (SS) Sesuai (S) Ragu-ragu (R) Tidak Sesuai (TS) Sangat Tidak Sesuai (STS)
1. Pernyataan favorable
5 4 3 2 1
2. Pernyataan unfavorable
33
G. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua veriabel yang hendak diungkap yaitu
komunikasi keluarga dan strategi coping. Alat pengumpul data yang di
gunakan adalah :
1. Skala Komunikasi Keluarga
Menurut Koerner & Fitzpatrick (2002) komunikasi keluarga merupakan
formulasi dari teori umum keluarga dengan mempertimbangkan
lingkungan komunikasi secara lebih spesifik yang dihadapi oleh
keluarga. Komunikasi keluarga boleh memberi pengaruh yang berbeda
terhadap tingkah laku dan psikologi remaja.
Tipe komunikasi keluarga ditentukan berdasarkan dua dimensi yaitu
orientasi percakapan dan orientasi kepatuhan. Koerner & Fitzpatrick
(2002) membagi tipe komunikasi keluarga menjadi 4 tipe yaitu :
1. Komunikasi keluarga konsensual
Tipe komunikasi ini memiliki orientasi akan kepatuhan dan orientasi
percakapan yang tinggi.
2. Komunikasi keluarga pluralistic
Tipe komunikasi ini memiliki orientasi percakapan yang tinggi
namun orientasi pada kepatuhan rendah.
3. Komunikasi keluarga protektif
Tipe komunikasi ini memiliki orientasi percakapan yang rendah
34
4. Komunikasi keluarga Laissez-faire
Tipe komunikasi ini memilikin orientasi percakapan yang rendah
dan orientasi kepatuhan yang rendah.
Tabel 3.Kisi-kisi Skala Komunikasi Keluarga
Aspek Indikator Sebaran
Item
Total Item
Protektif a. Pembatasan dalam
mengemukakan pendapat
b. Tidak menghargai perbedaan
pendapat
c. Melampiaskan kemarahannya
kepada keluarga
1, 2 , 3, 4, 5, 6, 23, 24
8
Consensual a. Menghargai pendapat
anak-anak, tetapi tetap menentukan keputusan akhir
b. Tertarik pada cerita dan
pendapat anak-anak
c. Anak memahami setiap
keinginan orangtua
d. Menganggap diskusi sangat
penting dalam menyelesaikan masalah
7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 22, 25, 26, 40
16
Laissez-faire a. Jarang berkomunikasi dengan
keluarga
b. Perhatian kurang saat anak-anak atau orangtua sedang berbicara
19, 20, 21, 27, 28, 29, 30, 31
8
Pluralistic a. Menerima sikap dan pendapat
anak-anak
b. Menghargai ketika anak-anak berbicara
c. Tidak menyalahkan pendapat
anak-anak nya
32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39
8
2. Skala Strategi Coping
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur strategi coping dalam
penelitian ini adalah skala strategi coping dari penelitian Utaminingsih
(2002) yang berjudul “Hubungan antara Dukungan Sosial dan Optimisme
35
Remaja” yang disusun berdasarkan karakteristik strategi coping yang
dikemukakan oleh Lazarus dan Folkman (1984).
Lazarus dan Folkman (1984) mendefinisikan strategi coping sebagai
suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada
antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu
maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber
daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi stresful (situasi
penuh tekanan).Skala strategi coping yang disusun berdasarkan
aspek-aspek pola strategi coping yang dikembangkan oleh Taylor dari Folkman
dan Lazarus menjadi 8 macam indikator strategi coping, yaitu :
a. Problem focused coping, yang terdiri dari 3 macam yaitu:
1. Konfrontasi: individu berpegang teguh pada pendiriannya dan
mempertahankan apa yang diinginkannya, mengubah situasi
secara agresif dan adanya keberanian mengambil resiko.
2. Mencari dukungan sosial: individu berusaha untuk mendapatkan
bantuan dari orang lain.
3. Merencanakan perencanaan permasalahan: individu memikirkan
membuat dan menyusun rencana pemecahan masalah agar dapat
terselesaikan.
b. Emotional focused coping, yang terdiri dari 5 macam yaitu:
1. Kontrol diri: menjaga keseimbangan dan menahan emosi dalam
dirinya.
2. Membuat jarak: menjauhkan diri dari teman-teman dan
36
3. Penilaian kembali secara positif: dapat menerima masalah yang
sedang terjadi dengan berpikir secara positif dalam mengatasi
masalah.
4. Menerima tanggung jawab: menerima tugas dalam keadaan
apapun saat menghadapi masalah dan bisa menanggung segala
sesuatunya.
5. Lari atau penghindaran: menjauh dan menghindar dari
permasalahan yang dialaminya.
Tabel 4. Kisi-kisi Skala Strategi Coping
Aspek Indikator Sebaran Item
Total Item
Konfrontasi a. Individu pendiriannya berpegang teguh pada b. Mempertahankan apa yang diinginkannya c. Adanya keberanian mengambil resiko
10, 12, 20, 32, 35, 40
6
Mencari
dukungan sosial
a. Individu berusaha untuk mendapatkan
bantuan dari orang lain 6, 16, 24, 14,
26, 30, 36, 44
8
Merencanakan perencanaan permasalahan
a. Individu memikirkan dan menyusun rencana pemecahan masalah
4, 8, 13, 18, 22, 34, 42, 46, 48
9
Kontrol diri
a. Individu menjaga keseimbangan dan menahan emosi dalam dirinya
5, 9, 11, 23, 25, 37, 47
7
Membuat jarak
a. Individu menjauhkan diri dari
teman-teman dan lingkungan sekitar 19, 29 2
Penilaian kembali secara positif
a. Individu dapat menerima masalah dengan berpikir pnositif dalam mengatasi masalah
3, 7, 15, 17, 21, 27, 31, 33, 38, 39, 43, 45, 50
13
Menerima tanggung jawab
a. Individu menerima tugas dalam keadaan apapun saat menghadapi masalah dan bisa menanggung segala sesuatunya
2, 28 2
Lari atau penghindaran
a. Individu menjauh dan menghindar dari
37
H. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas 1. Uji Validitas
Menurut Arikunto (2002) Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan
tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen
dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat
mengungka data dari variabel yang diteliti secara tepat.
Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas konstruk.
Menurut Azwar (2012) validitas konstruk merupakan uji validitas yang
digunakan untuk membuktikan apakah hasil pengukuran dari setiap item
berkorelasi dengan kontrak teoritis yang mendasari skala tersebut.
Uji validitas dilakukan menggunakan korelasi product moment dengan
mengikutsertakan 100 siswa dalam uji coba (try out). Adapun perhitungan
dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS 23.0
Kaidah Keputusan : Jika rhit> rtabel = valid
rhit< rtabel = tidak valid
Kriteria pengujian untuk uji ini adalah apabila r hitung > r tabel, maka
valid dan apabila r hitung < r tabel, maka tidak valid.
Dari hasil uji coba (try out)dapat di tarik kesimpulan bahwa pada skala
komunikasi keluarga terdapat 6 item instrumen yang tidak valid yaitu
pernyataan nomor 6, 9, 18, 19, 23, dan 38 dimana nilai rhitung<rtabel = 0,195.
Sehingga item yang tidak valid akan digugurkan dan tidak diikutsertaka
pada penelitian selanjutnya. Item yang valid berjumlah 34 item dan pada
38
pernyataan nomor 10, 21, 22, 24, dan 39. Item yang valid berjumlah 45
item,
2. Uji Reliabilitas
Setelah uji validitas maka penguji kemudian melakukan uji realiabilitas
terhadap masing-masing instrumen variabel X dan variabel Y
menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan menggunakan bantuan
program SPSS 23.0
Menurut Arikunto (2002) reliabilitas adalah intrumen yang cukup dapat
dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena intrumen
tersebut sudah baik.
Kriteria koefisien reliabilitas Alpha Cronbach dapat dikategorikan seperti
[image:56.595.142.455.466.615.2]pada tabel di bawah ini :
Tabel. 5 koefisien Reliabilitas Alpha Cronbach
Kriteria Koefisien
Sangat reliabel >0.90
Reliabel 0.70-0.90
Cukup reliabel 0.40-0.70
Kurang reliabel 0.20-0.40
Tidak reliabel <0.20
Hasil uji realibilitas setelah dikonsultasikan dengan daftar interprestasi