• No results found

Text 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
55
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

EFEKTIVITASPENDEKATAN SAINTIFIK MELALUI MODEL NHT UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR

TINGKAT TINGGI SISWAPADA MATERI LARUTAN PENYANGGA

(Skripsi)

Oleh

RISKI MIRANTIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

EFEKTIVITAS PENDEKATAN SAINTIFIK MELALUI MODEL NHT UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR

TINGKAT TINGGI SISWA PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA

Oleh

RISKI MIRANTIKA

(3)

iii disimpulkan bahwa pendekatan saintifik melalui model NHT efektif untuk

meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.

Kata kunci : larutan penyangga, keterampilan berpikir tingkat tinggi, pendekatan saintifik melalui model NHT.

(4)

EFEKTIVITAS PENDEKATAN SAINTIFIK MELALUI MODEL NHT UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR

TINGKAT TINGGI SISWA PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA

Oleh

RISKI MIRANTIKA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Kimia

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Bumi, pada tanggal 04 Oktober 1996, sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Hamidun dan Ibu Siti Fatimah. Pendidikan formal diawali di SDN 02 Aji Kagungan pada tahun 2005. Kemudian di-lanjutkan pada tahun 2010-2013 di SMPN 1 Abung Pekurun, didi-lanjutkan pada tahun 2013-2015 di SMAN 1 Abung Pekurun.

Pada tahun 2015 terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Lampung melalui jalur MANDIRI. Selama menjadi mahasiswa, terdaftar dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Lampung Utara (HML) dan Mahasiswa Pendidikan Eksakta (HIMASAKTA).

(9)

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahirobbil‘alamin, ucapan syukurku tak pernah henti

kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang telah diberikan

sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

Karya ini kupersembahkan untuk:

Ayah dan Ibu tercinta yang selalu memberikan semangat dan dukungan serta selalu

mengingingatkan arti kesabaran kepada saya selama ini dan senantiasa memanjatkan

doa-doa agar senantiasa dibrikan segala kemudahan dan kelancaran dalam segala urusan agar

tercapainya kesuksesan saya

Sahabat-sahabatku di program studi Pendidikan Kimia serta adik-adikku di program studi

pendidikan kimia yang selalu memberikan semangat

(10)

MOTTO

Bekerja keras dan bersikap baiklah. Hal luar biasa akan terjadi

(Conan O’ Brien)

(11)

SANWANCANA

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang senantiasa memberikan rahmat

dan ridho-Nya sehingga skripsi dengan judul “Efektivitas Pendekatan Saintifik

melalui Model NHT untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi

Siswa Pada Materi Larutan Penyangga” dapat terselesaikan sebagai salah satu

syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di FKIP Universitas Lampung.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd. selaku Dekan FKIP Unila.

2. Bapak Dr. Caswita, M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.

3. Ibu Dr. Ratu Beta Rudibyani, M.Si. selaku Ketua Prodi Pendidikan Kimia.

4. Ibu Dra. Nina Kadaritna, M.Si. selaku Pembimbing I, terimakasih telah

mem-berikan bimbingan, saran, dan motivasi dalam proses penyusunan skripsi ini.

5. Ibu Lisa Tania, S.Pd., M.Sc. selaku Pembimbing II, terimaksi telah

memberi-kan bimbingan, saran, dan motivasi dalam proses penyusunan skripsi ini.

6. Ibu Dr. Ratu Beta Rudibyani, M.Si. selaku Pembahas, terima kasih atas kritik

dan saran untuk perbaikan skripsi.

7. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Jurusan Pendidikan MIPA, khususnya di

Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Lampung, atas ilmu yang telah

(12)

xii

8. Bapak Teddi Amanda H, S.Pd. selaku Kepala SMA SMA Muhammadiyah 2

Bandar Lampung dan Ibu Dewi Astuti, S.Si selaku guru mitra, terimakasih

atas bantuan dan kerjasamanya selama penelitian berlangsung.

9. Ghalda Octavilani Halfa Partner Skripsiku yang selalu membantu dan

memotivasi dalam penyelesaian skripsi ini.

10. Pendidikan kimia 2015 terutama Ratu Anggita, Fitri Septi Lutfiani, Elis yang

senantiasa mendukung dan membantu terimaksi karna kalian saya mengerti

arti dari perjuangan.

Semoga Allah SWT Membalas semua kebaikan yang telah diberikan berupa

rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Penulis sangat berharap skripsi ini

dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua khususnya para pembaca.

Bandar lampung, 06 Januari 2020

Penulis,

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... .xvi

DAFTAR GAMBAR ... .xvii

I. PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Rumusan Masalah ...6

C. Tujuan Penelitian ...7

D. Manfaat Penelitian ...7

E. Ruang Lingkup Penelitian ...7

II. TINJAUAN PUSTAKA ...9

A. Efektivitas Pembelajaran ...9

B. Pendekatan Saintifik………..10

C. Model Pembelajaran NHT………13

D. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi ...15

E. Penelitian yang Mendukung ...17

F. Kerangka Pikir ...19

(14)

xiii

H. Hipotesis Penelitan...23

III. METODE PENELITIAN ...24

A. Populasi dan Sampel ...24

B. Jenis dan Sumber Data ...24

C. Variabel Penelitian ...25

D. Metode Penelitian ...25

E. Instrumen Penelitian ...26

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian...26

G. Teknik Analisis Data...29

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...34

A. Hasil Penelitian ...34

B. Pembahasan...40

V. SIMPULAN DAN SARAN ...58

A. Simpulan ...58

B. Saran ...58

DAFTAR PUSTAKA ...59

LAMPIRAN ...63

1. SilabusMata Pelajaran Kimia ...64

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ...94

3. Lembar Kerja Siswa ...123

4. Soal Pretes-Postes ...153

5. Kisi-Kisi Soal ...155

(15)

xiv

7. Lembar Aktivitas Siswa ...163

8. Lembar KeterlaksanaanPendekatanSaintifikMelalui Model NHT ...166

9. Data Pretes Kelas Eksperimen ...170

10. Data Pretes Kelas Kontrol ...172

11. Data Aktivitas siswa Kelas Eksperimen ...174

12. Data Aktivitas siswa Kelas Kontrol ...182

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Langkah Pembelajaran Pendekatan Saintifik ...11

2. Sintak Model Pembelajaran NHT ...14

3. Jenjang Ranah Kognitif ...16

4. Desain Penelitian ...25

5. Kriteria rata-rata skor n-Gain...29

6. Kriteria Tingkat Keterlaksanaan ...33

7. Hasil uji normalitas dan homogenitas data pretes keterampilan berpikir tingkat tinggi ...35

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Prosedur pelaksanaan penelitian ...28

2. Nilai rata-rata pretes dan postes keterampilan berpikir tingkat tinggi ...34

3. Rata-rata n-Gain keterampilan berpikir tingkat tinggi ...36

4. Nilai rata-rata aktivitas siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol ...38

5. Nilai rata-rata keterlaksanaan pendekatan saintifik melalui model NHT ....39

6. Rumusan masalah yang diajukan siswa pada LKS1 ...41

7. Rumusan masalah yang diajukan siswa pada LKS 2 ...46

8. Rumusan masalah yang diajukan siswa pada LKS 3 ...50

(18)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada era globalisasi saat ini perkembang ilmu pengetahuan dan teknologi

berkem-bang semakin cepat dalam semua bidang kehidupan terutama dalam bidang

pendi-dikan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak tersendiri

bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu untuk menghadapi era globalisasi perlu

meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Kualitas SDM

bukan saja akan menentukan kemajuan suatu negara tetapi juga menjadi penentu

daya saing antar bangsa. Kondisi demikian mendorong bidang pendidikan untuk

terus berbenah dan berupaya agar mampu menghasilkan SDM yang berkualitas,

maka perlu melatih siswa agar mampu mengembangkan keterampilan berpikirnya.

Salah satu keterampilan berpikir yang diperlukan pada era globalisasi saat ini

ialah keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Keterampilan berpikir dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu berpikir tingkat

rendah (lower order thinking) dan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking).

Menurut (Heong dkk, 2011). Berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir yang

bisa mengaitkan informasi yang baru dengan informasi yang telah di dapatkan

(19)

2

menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang akan dipecahkan.

(Sucipto, 2017).

Secara umum capaian keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa indonesia hingga

saat ini masih sangat rendah bila dibandingkan dengan negara lain. Menurut

laporan PISA (Program for International Student Assessment) dan TIMSS

(Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan bahwa

peserta Indonesia hanya mampu mencapai tingkatan kedua dari enam tingkatan

berpikir pada soal yang dikompetisikan. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan

siswa dalam berpikir tingkat tinggi masih rendah, sehingga peringkat capaian dari

tahun ke tahun masih pada level yang rendah diantara negara lain (Sani, 2016).

Salah satu faktor yang menyebabkan keterampilan berpikirnya masih rendah

adalah kurang terlatihnya siswa dalam meyelesaikan tes atau soal-soal yang

sifat-nya menuntut analisis, evaluasi, dan kreativitas yang tinggi. Soal-soal yang

memi-liki karakteristik tersebut adalah soal-soal untuk mengukur keterampilan berpikir

tingkat tinggi (Dewi, 2016).

Keterampilan berpikir tingkat tinggi dapat dilatihkan pada siswa dalam

pembe-lajaran kimia. Kimia merupakan mata pepembe-lajaran yang harus dipelajari oleh siswa

SMA/MA. Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam

(IPA) yang berkaitan dengan sifat zat, struktur zat, perubahan zat, hukum-hukum

dan prinsip-prinsip yang menggambarkan perubahan zat serta konsep-konsep dan

teori-teori yang menjelaskan terjadinya perubahan zat. Konsep dalam ilmu kimia

(20)

3

pemahaman yang benar terhadap konsep yang mendasar serta kemampuan

intelektual yang tinggi (Effendy, 2017).

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kimia di sekolah SMA

Muhamadiyah 2 Bandar Lampung menunjukan bahwa sebagian besar siswa

masih kesulitan untuk memahami materi kimia. Seperti ketika siswa dihadapkan

pada soal yang memerlukan analisis atau penalaran siswa masih merasa kesulitan

dalam menjawab soal tersebut, hal ini menunjukan kurang terlatihnya siswa dalam

berpikir tingkat tinggi. Hal ini disebabkan karena pembelajaran di sekolah yang

masih konvensional dimana pembelajaran hanya berpusat pada guru siswa hanya

sebagai pendengar dan pencatat siswa kurang dilibatkan dalam proses

pembela-jaran. Pembelajaran dengan berdiskusi sudah dilakukan tetapi siswa masih kurang

aktif dalam mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan yang diberikan oleh

guru atau menanggapi serta menyimpulan pembelajaran yang telah di pelajari.

Untuk lebih meningkatkan aktifitas siswa saat berdiskusi kelompok maka di

diberlakukanlah model Number Head Together (NHT).

Model NHT ini digunakan digunakan karenakan model ini lebih dominan untuk

membuat siswa bekerjasama dalam kelompok dengan ciri utamanya yaitu

penomoran, siswa diberi nomor yang berbeda dan diberikan tugas yang

berbeda-beda dalam kelompok agar mendapatkan kesempatan yang sama dalam menjawab

pertanyaan pada lembar kerja siswa (LKS) sehingga semua siswa berusaha untuk

memahami setiap materi yang di ajarkan dan bertanggung jawab atas nomor

anggotanya masing-masing, siswa dituntut untuk bekerjasama dengan semua

(21)

4

model NHT ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bertukar

ide/pendapat sehinggas siswa akan memperkirakan jawaban yang paling tepat dan

mendorong siswa untuk meningkatkan aktivitas dan kerjasama mereka sehingga

keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dapat terlatih.

Model NHT pada dasarnya merupakan varian diskusi kelompok model

pembe-lajaran ini dapat mengembangkan interaksi antar siswa melalui kegiatan diskusi

(Destiningsih, 2013). Selain itu model pembelajaran kooperatif tipe NHT

mem-berikan kesempatan kepada siswa untuk saling menyumbangkan ide atau gagasan

mendorong siswa untuk mengembangkan sikap kerja sama mereka (Isjoni, 2012).

(Lukiyah, 2017) menuliskan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT

adalah: Penomoran (Numbering): guru membagi para siswa menjadi beberapa

kelompok atau tim yang beranggotakan 4 hingga 6 siswa dan member setiap

angota dalam kelompok diberi nomor yang berbeda, 2) Pengajuan Pertanyaan

(Questioning): guru mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa, 3) Berpikir

Bersama (Head Together): para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan

dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut, 4) Pemberian

Jawaban (Answering): guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap

kelompok dengan nomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban

untuk seluruh kelas.

Berdasarkan kurikulum 2013 pokok bahasan pada materi larutan penyangga

me-rupakan salah satu materi dalam pembelajaran kimia di kelas XI IPA. Dengan

kompetensi dasar (KD) 3.13 yaitu menganalisis peran larutan penyangga dalam

(22)

5

menyajikan tabel hasil percobaan untuk menentukan sifat larutan penyangga.

Untuk mencapai kompetensi dasar tersebut maka diterapkan pendekatan saintifik

melalui model NHT, dimana pendekatan saintifik ini memiliki beberapa tahapan

yang di tuangkan dalam bentuk lembar kerja siswa (LKS) dalam proses

pembela-jaran yang disebut dengan LKS berbasis saintifik.

Pendekatan saintifik (scientific approach) merupakan pendekatan yang pada dasar

gaya berpikirnya mengadopsi dari metode ilmiah. Banyak para ahli yang meyakini

bahwa melalui pendekatan ilmiah, selain dapat menjadikan siswa lebih aktif

dalam mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, juga dapat mendorong

siswa untuk melakukan penyelidikan guna menemukan fakta-fakta dari suatu

fenomena atau kejadian, artinya dalam proses pembelajaran, siswa dibelajarkan

dan dibiasakan untuk menemukan kebenaran ilmiah, bukan diajak untuk beropini

dalam melihat suatu fenomena (Anggara, 2015).

Pendekatan saintifik dirancang sedemikian rupa agar peserta didik dapat

meng-konstruk konsep,hukum, atau prinsip melalui beberapa tahapan yang dituangkan

dalam bentuk LKS yang dikenal dengan LKS berbasis saintifik dimana tahapan

tersebut yaitu; mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba

(experi-menting), menalar (associating), dan membentuk jejaring (networking). Dimana

pada tahap pertama yaitu mengamati siswa dilatih untuk memperhatikan (melihat,

membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau peristiwa sehingga

dapat menggali pengetahuan awal siswa. Pada tahap kedua yaitu bertanya, siswa

dilatih untuk mengajukan pertanyaan sehingga rasa ingin tahu siswa berkembang.

(23)

me-6

ngumpulkan informasi/mencoba, siswa menggali dan mengumpulkan informasi

dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Pada tahap keempat yaitu menalar,

siswa melakukan pemrosesan informasi untuk menemukan keterkaitan satu

infor-masi dengan inforinfor-masi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan inforinfor-masi dan

bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan. Tahap terakhir

yaitu mengkomunikasikan, siswa berinteraksi dengan empati, saling

menghor-mati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing.

Berdasarkan uraian di atas maka perlu untuk mengetahui efektivitas pendekatan

saintifik melalui model NHT pada materi larutan penyangga untuk meningkatkan

keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dengan cara menerapkan

langkah-lang-kah yang ada pada pendeatan saintifik tersebut di tuangkan dalam bentuk LKS

berbasis saintifik pada siswa di sekolah dan meneliti bagaimana efektivitas

pen-dekatan saintifik melalui model NHT tersebut pada keterampilan berpikir tingkat

tinggi siswa maka dari itu membuat peneliti melakukan penelitian dengan judul

“Efektivitas Pendekatan Saintifik melalui Model NHT untuk Meningkatkan

Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Pada Materi Larutan Penyangga.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana efektivitas pendekatan saintifik melalui model NHT untuk

(24)

7

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pendekatan saintifik

melalui model NHT untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi

siswa pada materi larutan penyangga.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yaitu:

1. Bagi Siswa

Penerapan pendekatan saintifik melalui model NHT diharapkan dapat

mem-berikan pengalaman baru bagi siswa dalam menyikapi masalah kimia, serta

memudahkan siswa untuk memahami materi kimia, khususnya materi larutan

penyangga.

2. Bagi Guru

Pendekatan saintifik melalui model NHT diharapkan dapat menjadi alternatif

bagi guru dalam melaksankan pembelajaran pada materi larutan penyangga

sehingga dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.

3. Bagi Sekolah

Penerapan pendekatan saintifik melalui model NHT dalam proses

pembelaja-ran di harapkan dapat meningkatkan mutu pembelajapembelaja-ran kimia di sekolah.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Adapun ruang lingkup penelitian ini sebagai berikut :

1. Efektivitas pendekatan saintifik dapat diketahui melalui perbedaan n-Gain yang

(25)

8

kinerja siswa dalam pretes dan postes yaitu dengan menggunakan skor individu

siswa (Bao, 2006).

2. Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum

2013 dengan membagi proses pembelajaran menjadi beberapa tahapan, yaitu

mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan.

3. Materi larutan penyangga yang dibahas dalam penelitian ini adalah menjelaskan

prinsip kerja, perhitungan pH, dan peran larutan penyangga dalam tubuh

makhluk hidup serta membuat larutan penyangga dengan pH tertentu.

4. Keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill / HOTS)

melibatkan analisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6) (Krathworl

(26)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Efektivitas Pembelajaran

Efektivitas menunjukkan tingkat keberhasilan pencapaian suatu tujuan.dalam

kamus bahasa Indonesia (1990), efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti

memiliki efek, pengaruh, akibat atau membawa hasil. Dari definisi mengenai

efektivitas, maka efektivitas berkaitan erat dengan pencapaian suatu tujuan

ter-tentu dengan menggunakan metode terter-tentu, tujuan dari pembelajaran sendiri

adalah ketercapaian kompetensi (Popham, 2003).

Menurut Hamalik (2002), pembelajaran dikatakan efektif jika memberikan

kesem-patan belajar sendiri dan beraktivitas seluas-luasnya kepada siswa untuk belajar.

Dengan menyediakan kesempatan belajar sendiri dan beraktivitas seluasnya

diha-rapkan siswa dapat mengembangkan potensinya dengan baik. Hal ini sependapat

dengan Sutikno (2005), yang mengemukakan sebagai berikut. Pembelajaran

efektif adalah suatu pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk dapat belajar

dengan mudah, menyenangkan, dan dapat mencapaitujuan pembelajaran sesuai

(27)

10

B. Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran yang diterapkan pada

aplikasi kurikulum 2013. Pendekatan saintifik dalam pembelajaran merupakan

asumsi ilmiah yang melandasi proses pembelajaran. Proses pembelajaran dengan

berbasis pendekatan saintifik harus dipandu dengan kaidah-kaidah ilmiah.

Pende-katan ini menonjolkan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan,

dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran

harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah

(Abidin, 2014).

Pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik memiliki beberapa

karak-teristik yaitu pembelajaran berpusat pada siswa, melibatkan keterampilan proses

sains dalam mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip, melibatkan proses

-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek,

khusus-nya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa, serta pembelajaran dapat

mengem-bangkan karakter siswa (Hosnan, 2014).

Pendekatan saintifik berkaitan erat dengan metode saintifik. Metode saintifik

(ilmiah) pada umumnya melibatkan kegiatan pengamatan atau obervasi yang

di-butuhkan untuk perumusan hipotesis atau pengumpulan data. Metode ilmiah pada

umumnya dilandasi dengan pemaparan data yang diperoleh melalui 12

pengama-tan atau percobaan. Oleh sebab itu, kegiapengama-tan percobaan dapat diganti dengan

(28)

11

Berdasarkan Permendikbud Nomor 103 tahun 2014, tentang Pembelajaran pada

Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, ada lima pengalaman belajar

deng-an pendekatdeng-an saintifk yaitu mengamati (observing), mendeng-anya (questioning),

men-coba (experimenting), menalar (associating), dan mengkomunikasikan

(communi-cating) sebagaimana tercantum dalam Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1.Langkah pembelajaran pendekatan saintifik.

Langkah Pembelajaran

Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar

Mengamati (observing)

Mengamati dengan indra (membaca, mendengar, menyimak, melihat,

menonton, dan sebagainya) dengan atau tanpa alat

Perhatian pada waktu mengamati suatu objek/ membaca suatu tulisan/ mendengar suatu

penjelasan, catatan yang dibuat tentang yang diamati, kesabaran, waktu (on task) yang digunakan untuk mengamati Menanya

(questioning)

Membuat dan mengajukan pertanyaan, tanya jawab, berdikusi tentang informasi yang belum dipahami, informasi tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai klarifikasi

Jenis, kualitas dan jumlah pertanyaan, yang diajukan peserta didik (pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, dan hipotetik Mengumpulkan informasi/menco ba(experimenting) mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi,mendemonstrasika n, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara sumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/ menam- bahi/mengembangkan

jumlah dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan, kelengkapan informasi, validitas informasi yang dikumpulkan, dan instrumen/alat yang digunakan untuk mengumpulkan data Menalar/Mengas osiasi (associating)

(29)

12

Tabel 1 (Lanjutan).

Langkah Pembelajaran

Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar

mengenai keterkaitan informasi dari 13 Tabel 1 (Lanjutan) (1) (2) (3) Menalar/Mengasosiasi (associating) bentuk membuat kategori, mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan

fakta/konsep, interpretasi argumentasi dan

kesimpulanmengenai keterkaitan lebih dari dua fakta/konsep/teori, menyintesis dan argumentasi serta kesimpulan keterkaitan antarberbagai jenis fakta/konsep/teori/ pendapat; mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi, dan

kesimpulan yang

menunjukkan hubungan fakta/konsep/teori dari dua sumber atau lebih yang tidak bertentangan; mengembangkan

interpretasi, struktur baru, argumentasi dan kesimpulan dari konsep/teori/penda-pat yang berbeda dari berbagai jenis sumber

Mengomunikasikan (communicating)

Menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis; dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan

Menyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multi media dan lain-lain

(Tim Penyusun, 2014)

Sesuai kurikulum 2013, pendekatan yang sesuai dengan prinsip optimalisasi

potensi yang tersedia yaitu pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah.

Pendeka-tan saintifik atau sains dalam arti luas adalah pelajaran dan penerjemahan

pengala-man pengala-manusia tentang dunia fisik dengan cara teratur dan sistematik, mencakup

[image:29.595.112.514.106.574.2]
(30)

13

pada fakta dan konsep saja tetapi juga aplikasi pengetahuan dan prosesnya yang

mengacu pada cara berpikir manusia. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian

emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan

peserta didik. Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran

seba-gaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah,

menyaji-kan, menyimpulmenyaji-kan, dan mencipta (Kemdikbud, 2013).

C. Model (Numbered Heads Together) NHT

Model NHTadalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang

menekankan pada struktur-struktur khusus yang di rancang untuk memengaruhi

pola interaksi siswa. Oleh sebab itu, cara ini dapat menjamin keterlibatan total

semua siswa dan cara ini merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan

sikap tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok serta siswa dapat

meng-optimalkan pemahaman materi dan dapat membuahkan hasil belajar yang lebih

baik. Menurut La iru dan La Ode Safiun Arihi (dalam Hamdayama, Jumanta

,2014).

Pendapat seperti di atas juga di dukung oleh para ahli yang lain seperti (Muslimin,

2000) yang mengemukakan bahwa model NHT adalah salah satu tipe dari

pembe-lajaran kooperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap

siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar untuk tiap

kelompok sama tetapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa,

tiap siswa dengan nomor yang sama mendapat tugas yang sama kemudian bekerja

(31)

14

tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor

perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri hadiah.

(Kagan,2004) menuliskan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe NHT

adalah:(Numbering): guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau

tim yang beranggotakan 4 hingga 6 siswa dan memberi nomor sehingga tiap siswa

dalam tim memiliki nomor berbeda, Pengajuan pertanyaan (Questioning): guru

mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa, Berpikir bersama (Head

Together): para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan

bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut, Pemberian Jawaban (Answering):

guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor sama

mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas. Sintak model

[image:31.595.113.506.469.687.2]

NHT dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Sintaks Model PembelajaranNHT.

Fase Kegiatan Guru dan Peserta Didik 1 Penomoran Guru membagi peserta didik kedalam kelompok

4-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5.

2 Pengajukan pertanyaan Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada peserta didik. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya.

3 Berpikir bersama Peserta didik menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.

4 Menjawab Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian peserta didik yang nomornya sesuai

mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

(32)

15

D. Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi

Menurut ( Rofiah dkk, 2013) Higher Order Thinking skills (HOTS) merupakan

proses berpikir tidak sekedar menghapal dan menyampaikan kembali informasi

yang diketahui kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan kemampuan

meng-hubungkan, memanipulasi dan mentransformasi pengetahuan serta pengalaman

yang sudah dimiliki untuk berpikir secara kritis dan kreatif dalam upaya

menentu-kan keputusan dan memecahmenentu-kan masalah pada situasi baru.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi meliputi ranah menganalisis, mengevaluasi,

dan mengkreasi. Adapun indikator dalam penelitian ini adalah menganalisis,

mengevaluasi, dan mengkreasi. Adapun indikator kemampuan berpikir tingkat

tinggi yang digunakan dalam penelitian ini adalah a) Menganalisis Deskrip serta

memberikan langkah penyelesaian dengan tepat, b)Mengevaluasi Deskriptor atau

pun mendukung suatu gagasan dan memberikan alasan yang mampu memperkuat

jawaban yang diperoleh b) Mengkreasi Deskriptor: Mampu merancang suatu cara

untuk menyelesaikan masalah atau memadukan informasi menjadi strategi yang

tepat.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan aspek penting dalam pengajaran

dan pembelajaran. Kemampuan berpikir sesorang dapat mempengaruhi

kemam-puan pembelajaran, kecepatan dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu

da-lam proses pembelajaran sebaiknya memperhatikan kemampuan berpikir siswa.

Siswa yang dilatih untuk berpikir menunjukkan dampak positif pada

(33)

16

Berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir yang bisa mengaitkan informasi

yang baru dengan informasi yang telah didapatkan kemudian dihubungkan

infor-masi tersebut untuk dapat menyelesaikan atau menemukan suatu penyelesaian dari

suatu keadaan yang akan dipecahkan. (Slamet, 2011) Higer Order Thingking Skil

merupakan “Didalamnya termasuk berpikir kritis, logis, reflektif, metakognisi dan

kreatif. Semua keterampilan tersebut aktif ketika seseorang berhadapan dengan

masalah yang tidak biasa, ketidakpastian, pertanyaan dan pilihankemampuan

berpikir tingkat tinggi meliputi menganalisis (C4), menilai (C5) dan mencipta

(C6). Pengelompokan tingkat berpikir dalam ranah kognitif tersebut berdasarkan

klasifikasi tingkat berpikir pada“Revisi Taksonomi Bloom (A Revision of Bloom's

Taxonomy)”.

Adapun definisi untuk masing-masing tingkat tersebut menurut (Anderson

&Kratwohl ,2010) adalah sebagai berikut : Analyze (menganalisis), aspek analisis

melibatkan proses memecah materi menjadi bagian-bagian kecil dan menentukan

hubungan antara bagian dan struktur keseluruhannya. Kategori proses

mengana-lisis ini meliputi proses-proses kognitif membedakan, mengorganisasi, dan

mengatribusikan.

Anderson dan Krathwol merumuskan jenjang ranah kognitif yang merupakan

[image:33.595.111.510.663.724.2]

revisi dari taksonomi Bloom seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Jenjang Ranah Kognitif.

RanahKognitif Berpikir Uraian Rincian C 1 Mengingat Memunculkan

pengetahuan jangka panjang

(34)

17

Tabel 2. (Lanjutan).

RanahKognitif Berpikir Uraian Rincian C2 Mengerti Membentuk arti dari

pembelajaran (isi) : lisan,tulisan, grafis, dan gambar

1. Memahami 2. Membuat contoh 3. Mengelompokan

C 3 Menerapkan Melaksanakan atau menggunakan prosedur dalam situasi tertentu 1.Melaksanakan 2.Mengembangkan

C 4 Menganalisis Menjabarkan komponen atau struktur dengan membedakan dari bentuk dan fungsi tujuan dan seterusnya

1. Membedakan 2.Menyusunkembali 3. Menandai

C 5 Mengevaluasi Menyusun pertimbangan berdasarkan kriteria persyaratan khusus

1. Mengecek 2. Mengkritik

C 6 Mencipta Menyusun suatu hal baru, memodifikasi suatu model lama menjadi sesuatu yang berbeda 1.Menghasilkan 2.Merencanakan 3. Membentuk

E. Penelitian yang Mendukung

Penelitian yang relevan yang dilakukan oleh beberapa ahli sebagai berikut :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Kusumawardani (2013) yaitu Penerapan Metode

Number Head Together (NHT) Dilengkapi Lingkaran Buffer Untuk

Mening-katkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Larutan Penyangga

[image:34.595.114.506.109.504.2]
(35)

18

penelitian menunjukkan bahwa penerapan model NHT dapat meningkatkan

motivasi dan prestasi belajar siswa pada materi pokok larutan penyangga.

2. Penelitian yang dilakukan oleh (Mare, 2015) yaitu Analisis Keterlaksanaan

Model NHT dan Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Pada

Materi Larutan Penyangga Siswa KelasXI MIA 2 SMAN 1 Muaro Jambi. Hasil

penelitian menunjukkan keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe

NHT berjalan dengan baik dan terdapat pengaruh.

3. Penelitian yang dilakukan oleh (Nurhayati, 2016). Pengaruh Model

Pembelaja-ran NHT Terhadap Hasil Belajar Matematika Kelas 2 SDN Cangkir Driyorejo

Gresik. Hasil penelitian menunjukan model pembelajaranNHT berpengaruh

sangat positif terhadap hasil belajar operasi hitung campuran pada kelas 2. Hal

ini sebagaimana ditunjukkan oleh hasil analisis uji t, bahwa thitung (2,802) > tabel

(1,672), dimana model pembelajaran Kooperatif NHT (Number Head

Together) tersebut, mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar

operasi hitung campuran pada kelas 2 SDN Cangkir. Hal tersebut terlihat dari

rata-rata nilai postest kelas eksperimen yang diterapkan model pembelajaran

NHT memiliki rata-rata skor sebesar 69,67, sedangkan kelas kontrol hanya

memiliki rata-rata sebesar 59,42.

4. Penelitian yang dilakukan oleh (Ariyanti, 2014) yang berjudul Pengembangan

Lembar Kerja Siswa berbasis pendekatan saintifik pada Materi Laju Reaksi.

Hasilnya LKS berbasis pendekatan saintifik pada pokok konsep laju reaksi

memiliki karakteristik di antanya yaitu membuat siswa aktif dalam

pembelaja-ran sehingga mampu menemukan sendiri konsep laju reaksi, LKS mengacu

(36)

19

mandiri, berpikir kritis dan kreatif, LKS dirancang berupa kegiatan-kegiatan

yang harus dilakukan siswa, memiliki komponen-komponen seperti kata

pengantar, pendahuluan, daftar isi, cover dan daftar pustaka, memiliki lima

pengalaman belajar berbasis pendekatan saintifik yaitu mengamati, menanya,

mengumpulkan informasi, menalar, dan mengkomunikasikan, LKS disertai

gambar-gambar serta fenomena yang mendukung siswa dalam pembelajaran

berdasarkan fakta, bahasa yang digunakan sederhana dan komunikatif, dan

disertai petunjuk penggunaan LKS.

5. Penelitian yang dilakukan oleh (Wardani, 2017) yang berjudul Efektivitas

Pendekatan Saintifik Dalam Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan

Sikap Ilmiah Pada Materi Pemisahan Campuran. Hasil penelitian menunjukan

rata-rata n-Gain menunjukan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah kelas

eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol sehingga dapat disimpulkan

pendekatan saintifik efektif dalam meningkatkan keterampilan proses sains dan

sikap ilmiah pada materi pemisahan campuran.

F. Kerangka Pikir

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) meliputi konsep-konsep yang kompleks serta

fenomena-fenomena yang abstrak dan tidak teramati. Salah satu cabang dari IPA

adalah ilmu kimia. Dalam proses pembelajaran kimia kebanyakan peserta didik

masih mengalami kesulitan dalam mengemukakan pendapat seperti saat guru

meminta siswa merumuskan masalah, mengajukan dugaan dan menarik suatu

kesimpulan dari materi yang dipelajarinya. Kesulitan ini disebabkan siswa kurang

(37)

20

tinggi siswa kurang terlatih. Berdasarkan hasil observasi di SMA 2

Muhamma-diyah Bandar Lampung dalam pembelajaran kimia telah di terapkan pembelajaran

dengan berdiskusi secara kelompok untuk meningkatkan aktivitas siswa, namun

siswa masih cenderung kurang aktif maka diterapkanlah model NHT.

Model NHT pada dasarnya merupakan varian diskusi kelompok model

pembe-lajaran ini dapat mengembangkan interaksi antar siswa melalui kegiatan diskusi

(Destiningsih, 2013). Kagan (dalam Nurhadi 2004) menuliskan langkah-langkah

pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah 1) penomoran (numbering)guru

mem-bagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 4

hingga 6 siswa dan memberi nomor sehingga tiap siswa dalam tim memiliki 2)

pengajuan pertanyaan (questioning)guru mengajukan suatu pertanyaan kepada

para siswa, 3) berpikir Bersama (head together)para siswa berpikir bersama untuk

menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawabantersebut,

4) pemberian jawaban (answering): guru menyebut satu nomor dan para siswa

dari tiap kelompok dengan nomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan

jawaban untuk seluruh kelas.

Dalam pembelajaran kimia model NHT diterapkan untuk lebih meningkatkan

aktivitas siswa dalam berdiskusi dengan kelompok sehingga siswa mampu

beker-jasama mengerjakan LKS berbasis saintifik dimana dalam LKS ini terdapat

lang-kah-langkah pembelajaran yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan data,

me-ngasosiasi dan mengkomunikasikan yang merupakan langkah-langkah

(38)

21

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang sistematik

dengan lima langkah pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran menggunakan

pendekatan saintifik adalah mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,

me-ngaosiasi, dan mengkomunikasikan. Pada proses pembelajaran siswa dibuat 4-6

kelompok secara heterogen berdasarkan kemampuan kognitifnya siswa di tuntut

untk lebih aktif dalam proses pembelajan dan mampu bekerjasama berdiskusi

dengan kelompok untuk mengerjakan LKS berbasis saintifik sehingga siswa yang

memiliki kemampuan kognitif yang rendah dan kemampuan kognitif yang tinggi

dapat bekerjasama dan berdiskusi sehingga mampu meningkatkan keterampilan

berpikir tingkat tinggi.

Langkah awal pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik adalah

menga-mati, siswa diberi fenomena seperti wacana mengenai pH darah dalam tubuh yang

tidak mengalami perubahan walaupun ada banyak jenis makanan yang kita

kon-sumsi. Pada tahap ini, siswa akan terpacu berpikir mengapa hal demikian dapat

terjadi yang kemudian selanjutnya siswa akan menanya, siswa akan menemukan

hal-hal yang kurang dipahami siswa dapat mengemukakan pertanyaan pada tahap

ini.

Tahap selanjutnya adalah tahap mengumpulkan data, siswa melakukan

pengum-pulan data dengan memperhatikan fenomena atau objek lebih teliti atau data yang

terdapat di LKS. Setalah mengumpulkan informasi, siswa melakukan pemrosesan

data. Pada tahap menalar atau mengasosiasi siswa mengaitan informasi dengan

in-formasi yang lainnya. Siswa mengambilkan berbagai kesimpulan dari keterkaitan

(39)

22

yang telah dikumpulkan tadi. Siswa berdiskusi dengan kelompoknya untuk

men-jawab pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada LKS.

Tahap selanjutnya adalah tahap mengkomunikasikan, siswa dari perwakilan

ke-lompok mempresentasikan hasil jawaban diskusi pada setiap pertemuan di depan

kelas. Siswa dari perwakilan kelompok lain menanggapi hasil dari diskusi

kelom-pok yang mempresentasikan. Selanjutnya siswa menyimpulkan hasil

pembe-lajaran.

Berdasarkan uraian dan langkah-langkah diatas, pembelajaran menggunakan

pen-dekatan saintifik melalui model NHT diharapkan dapat meningkatkan

keteram-pilan berpikir tingkat tinggi siwa di SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung.

F. Anggapan Dasar

Anggapan dasar dari penilitian ini adalah:

1. Tingkat kedalaman dan keluasan materi yang dibelajarkan sama.

2. Perbedaan n-Gain keterampilan berpikir tingkat tinggi kelas XI MIPA SMA

Muhammadiyah 2 Bandar Lampung tahun pelajaran 2019/2020 larutan

penya-ngga semata-mata terjadi karena perbedaan perlakuan dalam proses

pembela-jaran yang diberikan dikelas eksperimen dan kelas kontrol.

3. Faktor-faktor lain diluar perlakuan yang mempengaruhi peningkata

(40)

23

G. Hipotesis Penelitan

Hipotesis dalam penelitian ini ialah pembelajaran dengan pendekatan saintifik

melalui model NHT efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat

(41)

III.METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

Populasi pada penelitian ini ialah seluruh siswa kelas XI MIPA SMA

Muham-madiyah 2 Bandar Lampung tahun pelajaran 2018/2019 yang berjumlah empat

kelas, teknik pengambilan sampel yaitu dengan teknik purposive sampling.

Purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang didasarkan

pada pengetahuan atau informasi populasi sebelumnya dimana peneliti

ber-asumsi bahwa ahli yang mengetahui keadaan sampel dan populasi dapat

meng-gunakan pengetahuan mereka untuk menentukan apakah sampel yang diambil

itu representatif atau tidak (Fraenkel dkk, 2012). Guru mata pelajaran

mem-berikan informasi tentang karakteristik siswa di masing-masing kelas XI yang

memiliki kemampuan akademik sama, sehingga diperoleh kelas XI MIPA 2

sebagai kelas eksperimen dan XI MIPA 1 sebagai kelas kontrol.

B. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data utama dan data

(42)

25

eksperimen dan kelas kontrol. Data pendukung berupa data aktivitas siswa dan

data keterlaksanaan pendekatan saintifik. Sumber data penelitian ini ialah

selu-ruh siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.

C. Variabel Penelitian

Penelitian ini terdiri dari beberapa variabel. Variabel bebas dalam penelitian ini

adalah pembelajaran pendekatan saintifik melalui model NHT dan

pembela-jaran konvensional. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keterampilan

berpikir tingkat tinggi siswa dan variabel kontrol dalam penelitian ini adalah

materi larutan penyangga.

D. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode quasi experiment dengan pretes and

post-test control group design Menurut (Creswell,1997) desain penelitian ini terdiri

dari dua kelas sampel yang diberikan pretes dan postes di awal dan di akhir

pembelajaran. Kelas eksperimen diberikan perlakuan yang berbeda dengan

[image:42.612.115.498.582.635.2]

kelas kontrol. Desain penelitian dapat dilhat pada Tabel 4.

Tabel 4. Desain penelitian.

Kelas Pretes Perlakuan Postes

Eksperimen T0 X T1

Kontrol T0 - T1

(Sugiono,2012).

Keterangan:

(43)

26

T0 : Hasil preteskelas eksperimen dan kelas kontrol

T1 : Hasil postes kelas eksperimen dan kelas kontrol

Diperoleh dari selisih antara nilai tes postest dengan pretest.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yangdigunakan adalah silabus, Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran(RPP), LKS materi larutan penyangga dengan menggunakan

pen-dekatan saintifik sejumlah 4 LKS, soal pretesdan postes berjumlah 4 soal essay,

lembar aktivitas siswa dan lembar keterlaksanaan pendekatan saintifik.

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Tahap pra penelitian

Pada tahap ini, meminta izin melakukan penelitian kepada pihak sekolah SMA

Muhammadiyah 2 Bandar Lampung. Mengadakan observasi ke sekolah tempat

penelitian untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik siswa, jadwal dan

sarana prasarana yang ada di sekolah yang dapat digunakan sebagai sarana

pendukung pelaksanaan penelitian. Menentukan dua kelas sebagai kelas

sampel, dimana satu kelas kontrol dan satunya kelas eksperimen. Kemudian

menyusun perangkat pembelajaran yang akan digunakan selama proses

(44)

27

2. Penelitian

a. Tahap persiapan

Menyiapkan dan menyusun instrumen yang mendukukung proses penelitian di

antaranya yaitu; silabus, RPP, LKPD kimia yang menggunakan pendekatan

saintifik pada materi larutan penyangga, bahan ajar, kisi-kisi soalpretes dan

postes, soal pretes, dan soal postes yang berupa soal uraian yang digunakan

sebagai data kuantitatif untuk mewakili pemahaman konseptual siswa, rubrikasi

pretes dan postes, lembar penilaian afektif dan lembar penilaian aktivitas.

b. Tahap pelaksanaan penelitian

Adapun prosedur pelaksanaan penelitian adalah (1) melakukan pretes dengan

jenis dan jumlah soal yang sama pada kelas eksperimen dan kelas kontrol; (2)

melakukan quasi experiment antara kelas kontrol dan kelas eksperimen; (3)

melaksanakan kegiatan pembelajaran pada materi larutan penyangga sesuai

dengan pembelajaran yang telah ditetapkan di masing-masing kelas,

pembela-jaran menggunakan pendekatan saintifik melalui model NHT diterapkan di

kelas eksperimen dan kelas control diberikan pembelajaran dengan metode

konvensional; (4) melakukan postes dengan jenis dan jumlah soal yag sama

pada kelas eksperimen dan kelas kontrol;(5) melakukan analisis data untuk

memperoleh suatu kesimpulan. Adapun langkah-langkah dalam penelitian ini

(45)

28

[image:45.612.114.498.93.661.2]

Secara umum, alur penelitian dapat di lihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Alur penelitian. Penelitian

Analisis Data

Pembahasan

Kesimpulan Analisisdata

Mempersiapkan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian

Pretes

Postes

Kelas Kontrol

Pembelajaran konvensional Kelas Eksperimen

Pembelajaran dengan pendekatan

saintifik melalui Model NHT

Meminta izin penelitian ke sekolah

Observasi

(46)

29

G. Teknik Analisis Data

1. Analisis data

Data penelitian kuantitatif berupa nilai pretes, postes dan skor n-Gain.

a). Perhitungan persentase skor siswa

Skor pretes dan postes pada penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

Persentase (%) skor = jumlah skor jawaban yang diperoleh

skor maksimal x 100%

b). Perhitungan n-Gain siswa

Peningkatan keterampilan berpikir tingkat tinggi ditunjukkan oleh skor yang

diperoleh siswa dalam tes, dapat dihitung skor n-Gain menggunakan rumus:

n-Gain = Skor Postes -Skor Pretes 100- Skor Pretes

c). Perhitungan rata-rata n-Gain siswa

Melakukan perhitungan rata-rata n-Gain baik kelas kontrol maupun kelas

eksperimen. Rumus rata-rata n-Gain sebagai berikut :

Rata-rata n-Gain = jumlah n- Gain seluruh siswa jumlah seluruh siswa

[image:46.612.112.499.578.689.2]

Kriteria rata-rata skor n-Gain dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Kriteria rata-rata skor n-Gain.

Kriteria Skor n-Gain

pembelajaran dengan n-Gain

tinggi

n-Gain > 0,7

pembelajaran dengan n-Gain

sedang

n-gain terletak antara 0,3 <n-Gain ≤ 0,7

pembelajaran dengan n-Gain

rendah

n-Gain ≤ 0,3

(47)

30

2. Uji kesamaan dua rata-rata

Uji ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam

keterampi-lan berpikir tingkat tinggi di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Uji ini

dila-kukan dengan uji independent samples t-test menggunakan program SPSS 22,

dimana terima H0 jika nilai sig.(2-tailed) yang diperoleh > 0,05 dan terima H1

jika nilai sig.(2-tailed) yang diperoleh < 0,05. Hipotesisnya :

H0 : µ1x= µ2x : Rata-rata nilai pretes keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa

keterampilan berpikir tingkat tinggisiswadi kelas kontrol pada

materi larutan penyangga.

H1 : µ1x≠ µ2x : Rata-rata nilai pretes keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa

di kelas eksperimen tidak sama dengan rata-rata nilai pretes

keteram-pilan berpikir tingkat tinggi siswa kelas kontrol pada

materi larutan penyangga.

Keterangan:

µ1: Rata-rata nilai pretes (x) pada kelas eksperimen

µ2: Rata-rata nilai pretes (x) padakelaskontrol

x : keterampilan berpikir tingkat tinggi

3. Uji perbedaan dua rata-rata

Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah rata-rata n-Gain berpikir tingkat

tinggi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda secara signifikan.

Untuk data sampel yang berasal dari populasi berdistribusi normal, maka uji

(48)

31

atau uji-t. Uji ini dilakukan dengan uji independent sample t-test menggunakan

program SPSS 22, dimana Kriteria uji terima H0 jika nilai sig (2-tailed) > 0,05

dan terima H1 jika nilai sig (2-tailed) < 0,05 (Sudjana,2005). Rumusan

hipote-sisnya :

H0 : µ1x= µ2x : Rata-rata n-Gain keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa di

kelas eksperimen sama dengan nilai rata-rata n-Gain

keteram-pilan berpi-kir tingkat tinggi siswa di kelas kontrol pada materi

larutan penyangga.

H1 : µ1x≠ µ2x : Rata-rata n-Gain keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa di

kelas eksperimen tidak sama dengan nilai rata-rata n-Gain

keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa di kelas kontrol pada

materi larutan penyangga.

Keterangan:

µ1: Rata-rata n-Gain (x) pada kelas eksperimen

µ2: Rata-rata n-Gain (x) padakelaskontrol

x :keterampilanberpikir tingkat tinggi

4. Uji prasyarat analisis

a). Uji normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dua kelompok sampel

be-rasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak (Arikunto, 2006). Uji

(49)

32

22. Data dikatakan memenuhi asumsi normalitas jika pada Kolmogorov-Smirnov

nilai sig.> 0.05.

b). Uji homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui bahwa sampel penelitian berasal

dari populasi yang memiliki varians homogen atau tidak. Uji yang digunakan

ialah uji Levene Statistic test dengan program SPSS 22. Kriteria uji yang

di-gunakan ialah terima H0 jika sig > 0,05 dan begitu pula sebaliknya. Hipotesis

yang digunakan dalam uji homogenitas adalah sebagai berikut :

H0 : σ12 = σ22 (kedua kelompok yang diteliti memiliki varians yang homogen)

H1 : σ12 ≠ σ22 (kedua kelompok yang diteliti memiliki varians tidak homogen)

Keterangan :

σ12 = varians skor kelas eksperimen

σ22 = varians skor kelas control

5. Analisis data aktivitas siswa dan keterlaksanaan pendekatan saintifik melalui model NHT

Data aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan data

keterlak-sanaan LKS berbasis saintifik diambil melalui observasi. Data tersebut

diana-lisis menggunakan indeks aktivitas siswa dan keterlaksanaan LKS berbasis

saintifik. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :

a. Menghitung jumlah skor yang diberikan oleh observer untuk setiap aspek

(50)

33

%Ji = ∑ x 100%

Keterangan :

%Ji = Persentase dari skor ideal untuk setiap aspek pengamatan pada pertemuan ke-i.

∑Ji = Jumlah skor setiap aspek pengamatan yang diberikan oleh observer pada pertemuan ke-i.

N= Skor maksimal (skor ideal).

[image:50.612.129.372.334.433.2]

b. Menafsirkan data dengan tafsiran harga persentase disajikan pada Tabel 5.

Tabel 6. KriteriaTingkat Keterlaksanaan.

Persentase Kriteria 80,1%-100,0% Sangattinggi

60,1%-80,0% Tinggi 40,1%-60,0% Sedang 20,1%-40,0% Rendah

0,0%-20,0% Sangatrendah

(51)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

1. Rata-rata n-Gain berpikir tingkat tinggi dengan pendekatan saintifik melalui model NHT lebih tinggi dari rata-rata n-Gain berpikir tingkat tinggi dengan pembelajaran konvensional pada materi larutan penyangga.

2. Pendekatan saintifik melalui model NHT efektif dalam meningkatkan

keterampilan berpikir tingat tinggi siswa pada materi larutan penyangga.

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, disarankan bahwa:

1. Bagi calon peneliti lain yang akan melakukan penelitian dengan pendekatan

saintifik melalui model NHT perlu mengelola waktu dan pengkondisian kelas

dengan baik agar pembelajaran lebih terarah.

2. Pendekatan saintifik melalui model NHT dapat dipakai sebagai alternatif bagi

guru dalam membelajarkan materi pokok larutan penyangga dan materi kimia

lainnya.

3. Pendekatan saintifik melalui model NHT dapat dipakai dalam proses

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, L.W. &Krathwohl, D.R.2010.Kerangka Landasan untukPembelajaran,

Pengajaran dan Asesmen Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom.Yogyakarta

:Kencanaa Prenada Media Group

Anderson, L. W., Karthwohl, D. R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives.

Addison Wesley Longman, New York.

Arikunto, S. 2006. MetodePenelitianKualitatif. BumiAksara, Jakarta.

Abidin, Y. 2014. Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013.Refika Aditama. Bandung

Ariyanti, M., Kadaritna, N., &Sofya, E. (2014).Pengembangan Lembar Kerja Siswa berbasis pendekatan saintifik pada Materi Laju Reaksi. Jurnal Pendidikan dan

Pembelajaran Kimia, 3(3).

Anggara, P. N., Kadaritna, N., & Sofya, E. (2015). Efektivitas Pendekatan Saintifik Dalam Meningkatkan Kemampuan Merencanakan Pada Materi Hidrolisis Garam. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Kimia, 4(2), 631-643.

Bao, L. 2006. Theoretical Comparisons of Average Normalized Gain Calculations.

Bloom, B. S., Engelhart, M. D., Furst, E. J., Hill, W. H., &Krathwohl, D. R.1956.

Taxonomy of Educational Objectives: Handbook I: Cognitive Domain. David

McKay, New York.

Creswell, J.W. 1997. Research De sign Qualitative and quantitative Approaches.

London: Sage Publications.

Dewi, N., danRiandi. 2016. Analisis Kemampuan Berpikir Kompleks Siswa Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Mind Mapping.EDUSAINS.

Destiningsih, Nuryani. 2013. Efektivitas Model PembelajaranKooperatifTipe

(53)

60

Matematika Siswa ditinjau dari Keterampilan Sosial Siswa pada 161 Kelas X SMK di Kabupaten Wonogiri Tahun Ajaran 2012/2013.Surakarta: Universitas SebelasMaret.

Effendy, 2017.Molekul, StrukturdanSifat-Sifatnya. Indonesian Academic Publishing, Malang.

Fraenkel, J. R., Wallen, N. E. & Hyun, H. H. (2012). How To Design and Evaluate Research In Education Eighth Edition. New York: The McGraw-Hill

Companies.

Heong, Y. M. 2011. The Level of Marzano Higher OrderThinking Skills Among Technical Education Students. International Journal of Social and Humanity , Vol. 1,No. 2, July 2011, 121-125.

Hake, R.R. 1998. Interactive engagement v.s traditional methods: six- thousand student survey of mechanics test data for introductory physics courses.

American Journal of Physics.Vol. 66.No.1.

Hamalik, O. 2002.Kurikulumdan Pembelajaran.Jakarta: PT BumiAksara.

Hosnan, M. 2014. Pendekatan Scientific dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21.Ghalia. Jakarta.

Hamdayama, Jumanta. 2014. Model danMetodePembelajaran Kreatif dan

Berkarakter. Bogor :Ghalia Indonesia

Isjoni.2012. Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasiantar Peserta Didik.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kemdikbud.(2013). KonsepPendekatan Saintifik.Modul Diklat dalam Rangka

Implementasi Kurikulum 2013.HLM 1-22.

Kemendikbud. (2014). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 Tahun

2014 SD Kelas V. Jakarta: Kemendikbud

Kusumawardani, A., Utami, B., &Sukardjo, J. S. (2015).Penerapan Metode Numbered Heads Together (NHT) Dilengkapi Lingkaran Buffer Untuk Meningkatkan Motivasi Dan PrestasiBelajar Siswa Pada Materi Larutan Penyangga Kelas XI IPA 4 Sman 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal Pendidikan Kimia, 4(4), 207-216.

(54)

61

(Penelitian Tindakan Kelas) pada Siswa Kelas VI SDN Randuagung 05. Jurnal

PTK dan Pendidikan, 3(1).

Mare, E. S., &Asrial, H. Analisis Keterlaksanaan Model Pembelajaan Kooperatif Tipe Number Heads Together dan Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Pada Materi Larutan Penyangga Siswa Kelas XI SMA.

Nurhayati, P. (2016). Pengaruh Model Pembelajaran NHT Terhadap Hasil Belajar Matematika Kelas Ii SDN Cangkir, Driyorejo-Gresik. Jurnal Penelitian

Pendidikan Guru SekolahDasar, 3(2).

Patta Bundu. 2006. Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Ilmiah dalam

Pembelajaran Sains SD. Jakarta:Depdikbud.

Popham, W. J. 2003. Teknik Mengajar SecaraSistematis (Terjemahan). Jakarta: Rineka Cipta.

Rofiah.(2013). Penyususn instrument tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi FisikaPadaSiswa SMP.JurnalPendidikanFisika Vol.1 No.2 halaman 17 ISSN: 23.38-0691.

Sani, R. A. 2016. Penilaian Autentik. BumiAksara, Jakarta.

Sutikno, M. S. 2005. MenggagasPembelajaran Efektif dan Bermakna.Mataram: NTP Press.

Sani, A. R. 2014. Pembelajaran Saintifik untuk Kurikulum 2013.Bumi Aksara. Jakarta.

Sucipto, S. (2017). Pengembangan Ketrampilan Berpikir Tingkat Tinggi dengan Menggunakan Strategi Metakognitif Model Pembelajaran Problem Based Learning. Jurnal Pendidikan (Teori Dan Praktik), 2(1), 77-85.

Sudjana. 2005. MetodeStatistika. Tarsito, Bandung.

Sugiyono,2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta, Bandung.

Sunyono.2012. Buku Model Pembelajaran Berbasis Multipel Representasi (Model

SiMaYang).Anugrah Utama Raharja, Bandar Lampung.

Trianto.2009. Mendesaian PembelajaranKontekstual (Contextual TeachingLearning)

(55)

62

Wardani,Y.R.(2017). Efektivitas Pendekatan Saintifik Dalam Meningkatkan

Keterampilan Proses Sains dan Sikap Ilmiah Pada Materi Pemisahan Campuran

Figure

Tabel 1 (Lanjutan).
Tabel 2. Sintaks Model PembelajaranNHT.
Tabel 3. Jenjang Ranah Kognitif.
Tabel 2. (Lanjutan).
+5

References

Related documents

Other Wastes:  Autoclave Wastes  Biohazard Wastes  Sharps  Broken Glass  Special Wastes  Drain Disposal  General refuse Clearly label all wastes!... Autoclave

• ask your school to verify your education directly to the New York State Education Department on Form 2 (New York State programs completed prior to 4/1/98 or other approved

[r]

Pada pelaksanaan siklus I dengan tema “Petunjuk lalu lintas” menggunakan model pembe- lajaran Role Playing, hasil nilai kemampuan berbicara siswa dengan nilai rata-rata 66,88

In this study, we used high-throughput sequencing to investigate the sequence specificity of mC oxidation by Tet1 protein.. The library was subjected to Tet-reactive- specific

This work shows, that variability-aware interpretation can speedup software product- line testing in comparison to brute-force analysis by applying the principles of variability-

These skills are both explicitly and implicitly exhibited in their learning strategies (Miller &amp; Miller, 2000; Weinstein &amp; Mayer, 1986).Therefore, an integrated and

Little evidence that consumer remedies have created a significant change in consumer behaviour. • PCA Banking (only