BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memerlukan usaha dan dana yang cukup besar. Hal ini diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi kelangsungan masa depannya. Demikian halnya dengan Indonesia yang menaruh harapan besar terhadap pendidikan dalam perkembangan masa depan ini, karena dari sanalah tunas muda harapan bangsa sebagai generasi penerus dibentuk (Kusumah dan Dwitagama, 2009: 150). Sebagai pembentuk tunas bangsa yang berkualitas, dituntut seorang pendidik profesional yang memiliki berbagai strategi dalam pembelajaran yang dilakukan, agar tujuan pembelajaran dapat dengan mudah dicapai.
Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) dirumuskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, dan mandiri.
cerdas, damai, terbuka, demokratis dan membentuk manusia unggul, oleh karenanya pembaharuan pendidikan terus selalu dilakukan untuk kualitas pendidikan nasional. Salah satunya pendidikan matematika di sekolah khususnya sekolah dasar diarahkan kepada wahana pendidikan untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki peserta didik dalam bentuk pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dasar matematika.
Pembelajaran matematika hendaknya disesuaikan dengan kompetensi siswa. Materi pembelajaran matematika diajarkan secara bertahap yaitu mulai dari konsep-konsep yang sederhana, menuju konsep-konsep yang lebih sulit, selain itu pembelajaran matematika dimulai dari yang kongkrit, kesemi kongkrit, dan akhirnya kepada yang abstrak (Suwangsih, 2006: 25). Setiap konsep yang abstrak yang baru dipahami siswa perlu segera diberi penguatan agar mengendap dan bertahan lama dalam memori siswa sehingga, akan melekat pada pola pikir atau pola tindakannya (Heruman, 2007: 2).
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah khususnya pada pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Matematika merupakan salah satu dari bidang studi yang menduduki peranan penting dalam dunia pendidikan, karena dapat dilihat dari waktu jam pelajaran di sekolah lebih banyak dibandingkan mata pelajaran lainnya.
membosankan. Hal ini menyebabkan mereka takut dan malas untuk mempelajari matematika. Oleh sebab itu, bagaimana cara guru meyakinkan siswa bahwa pelajaran matematika tidak sulit seperti yang mereka bayangkan karena dengan ketidaksenangan tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar matematika.
Pentingnya pembelajaran matematika agar peserta didik memperoleh pelajaran secara kongkrit bagi kehidupannya di sekolah maupun dalam masyarakat. Oleh karena itu, peneliti mengambil pelajaran matematika sebagai mata pelajaran yang akan diteliti dalam penelitian tindakan kelas guna penyelesaian tugas akhir kuliah dan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat.
Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan dengan guru mengenai pembelajaraan matematika yang dilakukan di kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat, diperoleh keterangan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa yang dicapai masih rendah atau di bawah kriteria ketuntasan minimum (KKM) yaitu 65 yang telah ditentukan oleh guru sebanyak 4 (19%) siswa dari 21 siswa telah tuntas sedangkan 17 (81%) siswa belum tuntas.
Berikut dijelaskan data nilai ketuntasan belajar pada kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat.
Tabel 1.1 Rata-rata ketuntasan belajar matematika siswa kelas IV
Keterangan Kelas IV A Kelas IV B
Tuntas 19 % 39 %
Peneliti memutuskan mengambil kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat sebagai kelas yang akan diteliti, sebab nilai rata-rata ketuntasan belajar siswa kelas IV A lebih rendah dibandingkan dengan nilai rata-rata ketuntasan belajar siswa kelas IV B, oleh karena itu, perlunya guru melakukan penelitian untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Mengatasi hal tersebut, diperlukan model pembelajaran yang tepat, sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika pada siswa kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat. Salah satu model pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa adalah model discovery learning. Model discovery learning
adalah memahami konsep, arti, hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005: 43).
Model ini mendorong peserta didik untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan yang sudah ada dalam ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi informasi atau kemampuan yang sesuai dengan lingkungan dan zaman, tempat, dan waktu ia hidup. Peserta didik adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu, pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya (Hosnan, 2014: 282).
Peneliti berasumsi dengan mengaplikasikan metode discovery learning
secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. Penggunaan metode discovery learning, ingin merubah kondisi belajar pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. Mengubah modus Ekspositori siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus discovery siswa menemukan informasi sendiri.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merasa perlu melakukan perbaikan kualitas pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Discovery
Learning dengan Media Tiga Dimensi pada Siswa Kelas IV A SD Negeri 10 Metro
Pusat”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas perlu diidentifikasi permasalahan yang ada, yaitu sebagai berikut :
1. Kurangnya variasi metode, teknik, dan strategi pembelajaran yang digunakan guru sehingga pembelajaran tidak aktif
2. Penggunaan alat atau media yang monoton dan kurang bervariasi
3. Rendahnya aktivitas belajar siswa kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat pada pelajaran matematika
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, dalam penelitian ini dibatasi masalah yang akan diteliti, sehingga perlu pemecahan masalahnya.
Adapun permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah meningkatkan aktivitas pembelajaran matematika melalui model discovery learning dengan media tiga dimensi pada siswa kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat?
2. Apakah melalui model discovery learning dengan media tiga dimensi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika pada siswa kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat?
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini untuk :
1. Meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat pada mata pelajaran matematika melalui model discovery learning
dengan media tiga dimensi.
2. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat pada mata pelajaran matematika melalui model discovery learning
dengan media tiga dimensi.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuaan, pengalaman dan wawasan, memberikan informasi, serta bahan penerapan ilmu metode perbaikan pembelajaran, khususnya mengenai peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika melalui model discovery learning dengan media tiga dimensi pada siswa kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
Dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika melalui model pembelajaran discovery learning.
b. Bagi Guru
Sebagai bahan pertimbangan, menambah wawasan, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan guru bahwa model pembelajaran discovery learning merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan siswa, sehingga dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah.
c. Bagi Sekolah
Merupakan bahan masukan bagi sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui model pembelajaran discovery learning.
d. Bagi Peneliti