• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
86
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

ANALISIS INCREMENTALISME ANGGARAN TERHADAP REVISI ANGGARAN PADA PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA

(Tesis)

Oleh

RAKHMAWATI LISTYARANI

MAGISTER ILMU AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

Analisis Incrementalisme Anggaran Terhadap Revisi Anggaran pada Pemerintah Daerah di Indonesia

Oleh :

Rakhmawati Listyarini

Rendahnya daya serap pada anggaran pemerintah daerah mencerminkan perencanaan dalam proses anggaran pemerintah daerah yang lemah dan tidak matang sehingga memicu terjadinya revisi anggaran. Karena dalam proses penyusunan anggaran masih memakai pendekatan sistem lama yaitu secara tradisional, padahal pemerintah sudah menerapkan penganggaran berbasis kinerja. Karakteristik pendekatan ini antara lain: bersifat line item dan incremental sehingga sulit melihat harmonisasi antara pendapatan dan belanja yang berorientasi pada input, dan berperspektif tahunan.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris bahwa tingkat inkrementalisme anggaran belanja operasional dan anggaran belanja modal, kemampuan keuangan daerah, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan area geografis mempengaruhi revisi anggaran belanja operasional dan revisi anggaran belanja modal pada pemerintah daerah kota/kabupaten di Indonesia.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa peraturan daerah atau peraturan walikota yang memberikan secara rinci mengenai APBD, Perubahan APBD dan Laporan Realisasi Anggaran 2012 dan 2013, serta data PDRB masing-masing daerah dilengkapi data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang diambil dari www.djpk.kemenkeu.go.id dan www.bps.go.id. Alat Analisis yang digunakan adalah program SPSS 20.

Hasil pengujian hipotesis dari persamaan regresi Tingkat incrementalisme anggaran belanja (belanja operasional dan belanja modal) mempunyai pengaruh negatif terhadap revisi anggaran belanja operasional dan revisi anggaran modal. Kemampuan keuangan di masing-masing daerah mempunyai pengaruh negatif terhadap revisi anggaran belanja operasional dan revisi anggaran belanja modal. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) akan mempengaruhi revisi anggaran belanja modal, pengaruh PDRB menunjukkan koefisien positif. Untuk Area geografis, dimana dibedakan antara pulau jawa dengan luar jawa menunjukkan adanya pengaruh terhadap revisi anggaran belanja operasional maupun revisi anggaran belanja modal.

(3)

ABSTRAK

An Analysis of Budget Incrementalism on Budget Revision of Regional Government in Indonesia

By:

Rakhmawati Listyarini

Low absorptive capacity at the local government budget reflected that planningin the budget process of local governments is weak and immature so that it triggered the need on budget revision. Because,the system used in the budgeting process was old approach which was traditional. Whereas, when the government has already implemented performance-based budgeting. Characteristics of this approach are line items and incrementalisme nature so that it is difficult to see harmonization between revenue and input-oriented expenditure, and an annual perspective

This study aims to obtain empirical evidence that the level of incrementalisme on current expenditure and capital expenditure, fiscal capacity, Gross Domestic Product (GDP) and the geographical area affect the revision of budget revenue and expenditure budget on the local government city / regency in Indonesia.

The data used in this research were secondary data from local laws or regulations of mayor that provide details on the budget, budget changes and Budget Realization Report 2012 and 2013, and the data on the GDP of each region including data from the General Directorate of Fiscal Balance (DJPK) Ministry of Finance Republic of Indonesia taken from www.djpk.kemenkeu.go.id and www.bps.go.id. The analysis tool used was SPSS 20.

Results of testing the hypothesis of the regression equation incrementalisme level of spending (operating expenditure and capital expenditure) has a negative influence on the revised operating budget and capital budget revision.Financial capability in each region has a negative effect on the operating expenditure budget revision and the revision of the capital expenditure.Gross Regional Domestic Product (GDP) will influence the revision of the capital expenditure budget, the influence of the GDP shows a positive coefficient.For geographical area, which distinguished between the islands of Java and outside Java showed their effect on the budget revision operational and capital expenditure budget revision.

.

(4)

ANALISIS INCREMENTALISME ANGGARAN TERHADAP REVISI ANGGARAN PADA PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA

Oleh

RAKHMAWATI LISTYARANI

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar

MAGISTER SAINS AKUNTANSI

Pada

Program Magister Ilmu Akuntansi

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung

MAGISTER ILMU AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Polanharjo Kabupaten Klaten pada tanggal 30 Maret 1978, sebagai anak ke

empat dari pasangan Bapak H.Anwar Sanusi, BA dan Ibu Hj.Sri Lestari, Pendidikan formal

penulis dimulai dari Taman Kanak-Kanak BA Aisyiah Di Polanharjo yang diselesaikan pada

tahun 1985. Pendidikan Sekolah Dasar (SD) di selesaikan pada tahun 1990 di MIN Polanharjo

Kabupaten Klaten, Pada tahun 1993 Penulis berhasil menyelesaikan pendidikan Sekolah

Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 1 Polanharjo Kabupaten Klaten, dan Pendidikan

Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat diselesaikan oleh Penulis pada tahun 1996 di SMAN 1

Jatinom, Kabupaten Klaten. Pada tahun 2000 Penulis telah menyesaikan Pendidikan Strata-1 di

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Pada tahun 2013 Penulis terdaftar sebagai

(9)

PERSEMBAHAN

Teriring doa dan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala Rahmat dan hidayahNya,

Kupersembahkan tesis ini dengan segala kerendahan hati untuk setiap orang yang berharga

dalam hidupku, yang mencintai dan menyayangiku dengan penuh ketulusan, atas segala

dukungan yang telah diberikan selama ini serta doa yang tiada henti- henti kepada :

1. Suamiku Didik Kurniawan Abdullah, S.E, M.M, yang terus memberikan kasih sayang,

nasehat dan semangat serta motivasi;

2. Putri-putriku Diva Qaisya Rakenditya, Devika Saaqila Rakhenditya, Dinnaya Zhafira

Rakhenditya yang selalu menjadi motivator dalam hidupku;

3. Ayah dan ibu serta keluargaku semua yang senantiasa mendoakan, memberi kasih sayang

yang berlimpah, nasehat semangat dan dukungan yang tiada henti;

4. STAIN Jurai Siwo Metro

(10)

MOTO

“Sesungguhnya bersama kesukuran itu ada kemudahan. Karena itu bila kamu

sudah selesai (dari semua urusan), kerjakan dengan sungguh-sungguh (urusan)

yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap

(Q.S/ Al Insyirah : 6-8)

Kebanggan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit

kembali setia kali jatuh.”

“ Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat

amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi

pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatan, sedang mereka sedikitpun

(11)

SANWACANA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirabbil’alamin dan Syukur ke Hadirat Allah SWT, karena atas rakhmat dan

hidayah NYA, penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “ANALISIS

INCREMENTALISME ANGGARAN TERHADAP REVISI ANGGARAN PADA PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA” .

Penyusunan tesis ini dimaksudkan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi Magister

Ilmu Akuntansi di Universitas Lampung.

Penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini Penulis mendapatkan banyak

pembelajaran, petunjuk, saran dan kritik dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan

ini Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada :

1. Bapak Prof.Dr. Satria Bangsawan, S.E, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Lampung;

2. Ibu Susi Sarumpet, Ph.D., Akt. Selaku Ketua Program Magister Ilmu Akuntansi Universitas

Lampung;

3. Bapak Dr. Einde Evana, S.E., M. Si., Akt selaku pembimbing Utama atas kesediaan

memberikan bimbingan, saran, pengarahan serta dukungan pengalaman selama proses kuliah

(12)

4. Ibu Dr. Agrianti Komalasari, S. E., M. Si., Akt selaku pembimbing pendamping atas

kesediaan memberikan bimbingan, bantuan, saran, perhatian dan waktunya selama

penyusunan tesis;

5. Ibu Dr. Rindu Rika Gamayuni, S.E., M. Si selaku Penguji Utama pada ujian tesis yang telah

memberikan masukan dan saran yang membangun pada saat seminar dan ujian;

6. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Magister Ilmu Akuntansi yang telah banyak berbagi ilmu dan

pengalaman;

7. Suamiku Didik Kurniawan Abdullah, S.E, M.M, yang telah begitu banyak mengorbankan

waktu dan terus memberikan motivasi dalam pelaksanaan kuliah maupun penyusunan tesis;

8. Putri-putriku Diva Qaisya Rakenditya, Devika Saaqila Rakhenditya, Dinnaya Zafira

Rakhenditya yang selalu menjadi motivator dalam hidupku;

9. Ayah dan ibu serta keluargaku semua yang senantiasa mendoakan, memberi kasih sayang

yang berlimpah, nasehat semangat dan dukungan yang tiada henti;

10.Keluarga MIA Angkatan 4, Mba’ Nyimas, Ayu, Mba’ Nina dan keluarga MIA lainnya yang

tidak dapat disebutkan satu persatu. Terima kasih atas kebersamaan, bantuan, semanngat,

kerjasama dan pengalaman yang tak terlupakan selama ini;

11.Mas Ayin, Mas Andri, Mas Jaya, Mas Dwi, Mbak Tina, Mbak Lenny serta semua staf dan

karyawan fakultas ekonomi dan bisnis yang selalu bersedia membantu kelancaran dan

penyusunan tesis;

12.Seluruh Pimpinan dan teman-teman di STAIN Jurai Siwo Metro yang telah memberikan

(13)

13.Terimakasih untuk Orang-orang yang telah memberikan inspirasi dan motivasi dan orang –

orang yang terlewat disebutkan tetapi memiliki arti yang sama pemting nya bagi kehidupan

saya serta semua pihak yang mendukung penyusunan tesis ini.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, namun demikian Penulis

berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

Bandarlampung , 2016

Penulis

Rakhmawati Listyarini

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ………...……. i

DAFTAR TABEL ………... iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ……… 1

1.2 Perumusan Masalah ……… 7

1.3 Tujuan Penelitian………. 8

1.4 Manfaat Penelitian ……….. 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Pustaka ……… 10

2.1.1 Anggaran ……… 10

2.1.2 Anggaran Daerah (APBD) ……… 11

2.1.3 Revisi Anggaran ……… 23

2.1.4 Laporan Keuangan ……… 28

2.1.5 Agency Teory ……… 31

2.1.6 Karakteristik Pemerintah Daerah ……….. 33

2.1.7 Tingkat incrementalisme dalam proses penyusunan anggaran ……….. 34

2.2 Penelitian sebelumnya……….… 36

2.3 Pengembangan Hipotesis ……… 38

2.3.1 Pengaruh tingkat incrementalisme Anggaran Belanja Operasional terhadap Revisi Anggaran Operasional ... 38

2.3.2 Pengaruh tingkat incrementalisme Anggaran Belanja Modal terhadap Revisi Anggaran Belanja Modal ...……… 40

2.3.3 Pengaruh Kemampuan Keuangan Pemerintah Daerah terhadap Revisi Anggaran Belanja Opearsional dan Belanja Modal …………... 42

2.3.4 Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto terhadap Revisi Anggaran Belanja Opearsional dan Belanja Modal ………. 44

(15)

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian ……… 50

3.2 Populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel ……… 50

3.3 Data dan sumber data ………. 51

3.4 Definisi Operasional Variabel ……… 51

3.4.1 Definisi dan Pengukuran Variabel Dependen ……… 52

3.4.2 Definisi dan Pengukuran Variabel Independen ………. 53

3.5 Analisis Data ……….. 55

3.5.1 Statistik Deskriptif ………. 55

3.5.2 Uji Asumsi Klasik ……….. 56

3.5.3 Uji Hipotesis ……….. 60

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif ………. 64

4.1.1 Hasil Pemilihan Sampel……….. 64

4.1.2 Sumber Data ……….. 65

4.1.3 Analisis Deskriptif ………. 66

4.1.4 Uji Asumsi Klasik ………. 69

4.1.5 Uji Hipotesis ……….. 71

4.1.6 Pembahasan ……… 74

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ……… 79

5.2 Keterbatasan ……….. 80

5.3 Saran ……… 80

5.4 Implikasi ………. 81

DAFTAR PUSTAKA

(16)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Hasil Pemilihan Sampel ……… 64

Tabel 4.2 Sumber Data ……… 65

Tabel 4.3 Statitistic deskriptif untuk variable dependen Revisi Anggaran Belanja Operasional

………... 66

Tabel 4.4 Statitistic deskriptif untuk variable dependen Revisi Anggaran Belanja Modal….. 66

Tabel 4.5 Hasil Uji Multi kolinearitas untuk variable dependen Revisi Anggaran

Belanja Operasional ...……… 70

Tabel 4.6 Hasil Uji Multi kolinearitas untuk variable dependen Revisi Anggaran

Belanja Modal ...……… 70

Tabel 4.7 Hasil uji Regresi Linier Berganda untuk persamaan regresi variable dependen

Revisi Anggaran Belanja Operasional ...………. 71

Tabel 4.8 Hasil uji Regresi Linier Berganda untuk persamaan regresi variable dependen

Revisi Anggaran Belanja Modal……… 72

(17)

BAB I

Pendahuluan

1. 1 Latar Belakang

Dalam rangka mewujudkan otonomi, desentralisasi serta partisipasi rakyat

dalam perencanaan pembangunan nasional Indonesia, pemerintah telah

melakukan langkah penyempurnaan terhadap kebijaksanaan pembangunan. Setiap

daerah diharapkan tidak hanya berorientasi pada daerahnya saja agar dapat

mewujudkan otonomi daerah yang semakin meluas. Maka dari itu diterbitkan PP

No 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Menurut

Undang-Undang No 33 tahun 2004, tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah

Pusat dan Daerah, daerah otonomi mempunyai tiga sumber pendapatan, yaitu

Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Penerimaan Lain-Lain.

Lahirnya otonomi daerah mampu mendorong demokratisasi, dalam arti memberi

ruang gerak kepada masyarakat di daerah untuk mengembangkan partisipasi,

prakarsa dan kreativitasnya dalam menata dan membangun daerah, dengan

mengacu pada persatuan dan kesatuan bangsa. Adapun aspek utama reformasi

manajemen keuangan daerah meliputi: perubahan sistem anggaran tradisional

menjadi sistem anggaran berbasis kinerja, perubahan kelembagaan pengelolaan

keuangan daerah sistem sentralisasi pada bagian keuangan sekretariat daerah

menjadi sistem desentralisasi ke masing-masing satuan kerja, perubahan sistem

(18)

2

Reformasi dalam bidang pengelolaan keuangan daerah salah satunya

didasari dengan UU No 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara yang

khususnya membahas tentang sistem penganggaran. Telah banyak perubahan

yang mendasar dalam sistem penganggaran salah satunya adalah penerapan

pendekatan yang digunakan dalam penyusunannya berupa pendekatan terpadu

(Unified Budget), Medium Term Expenditure Framework (MTEF), dan Anggaran Berbasis Kinerja.

Berdasarkan PMK No 104 Tahun 2010, Penganggaran berbasis kinerja

merupakan suatu pendekatan dalam sistem penganggaran dengan

mempertimbangkan keterkaitan antara pendanaan dengan output dan outcome,

serta efisiensi dalam pencapaian hasil keluaran tersebut. Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah (APBD) menurut Peraturan Pemerintah No 13 Tahun 2006

merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah selama masa satu tahun anggaran

sejak tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember yang berisikan rencana

keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui oleh pemerintah

daerah bersama dengan DPRD, dan ditetapkan oleh Peraturan Daerah.

Dalam penyusunan APBD perlu dilakukan perencanaan yang baik, dengan

perencanaan yang baik diharapkan penyerapan anggaran pemerintah daerah dapat

mencapai target yang direncanakan. Namun fenomena yang terjadi adalah

penyerapan anggaran pemerintah daerah yang rendah sampai bulan November dan

melonjak tajam pada bulan Desember. Dari data Kementerian Dalam Negeri yang

menggambarkan bahwa penyerapan anggaran pemerintah daerah pada tahun 2012

(19)

3

98.8 persen pada bulan Desember. Data Direktorat Jenderal Perimbangan

Keuangan Kementerian Keuangan Republik Indonesia tahun 2014 menunjukkan

adanya kecenderungan serapan anggaran yang rendah dan lambat, dimana serapan

anggaran pada triwulan ke tiga per Bulan September 2014 rata-rata masih pada

kisaran 50 %, dan akan melonjak pada bulan Desember rata-rata diatas 80 %.

Banyak hal yang menyebabkan terjadinya keterlambatan penyerapan anggaran

diantaranya adalah tidak adanya perencanaan anggaran yang baik pada saat

persiapan pelaksanaan, eksekusi anggaran sepanjang tahun maupun akhir tahun

anggaran, instansi pemerintah terlalu berhati-hati ketika melakukan pengeluaran

sehingga terkesan lambat dalam memanfaatkan waktu.

Rendahnya daya serap pada anggaran pemerintah daerah mencerminkan

perencanaan dalam proses anggaran pemerintah daerah yang lemah dan tidak

matang sehingga memicu terjadinya revisi anggaran. Karena dalam proses

penyusunan anggaran masih memakai pendekatan sistem lama yaitu secara

tradisional, padahal pemerintah sudah menerapkan penganggaran berbasis kinerja.

Karakteristik pendekatan ini antara lain: bersifat line item dan incremental sehingga sulit melihat harmonisasi antara pendapatan dan belanja yang

berorientasi pada input, dan berperspektif tahunan.

Revisi anggaran merupakan cara bagi pemerintah untuk memenuhi

beragam tujuan anggaran meliputi kontinuitas dan kontrol, perubahan dan

(20)

4

a. Perubahan rincian anggaran yang disebabkan penambahan atau pengurangan

pagu anggaran pendapatan dan belanja termasuk pergeseran rincian anggaran.

b. Perubahan atau pergeseran rincian anggaran dalam hal pagu anggaran tetap.

c. Dan/atau perubahan/ralat karena kesalahan administrasi.

Secara sederhana, revisi APBD dapat diartikan sebagai upaya pemerintah

daerah untuk menyesuaikan rencana keuangannya dengan perkembangan yang

terjadi. Perkembangan dimaksud bisa berimplikasi pada meningkatnya anggaran

penerimaan maupun pengeluaran, atau sebaliknya. Namun, bisa juga untuk

mengakomodasi pergeseran-pergeseran dalam satu SKPD.

Revisi atas setiap komponen APBD memiliki latar belakang dan alasan

berbeda. Ada perbedaan alasan untuk perubahan anggaran pendapatan dan

perubahan anggaran belanja, yang memang menjadi salah satu alasan utama

mengapa perubahan APBD dilakukan. Revisi anggaran merupakan salah satu

aktivitas yang dilakukan pemerintahdaerah dalam aktivitas perubahan rincian

anggaran belanja yang telah ditetapkan berdasarkan APBD dan telah disahkan

dalam daftar isian pelaksanaan anggaran. Anessi-Pessina et al (2012) menemukan bahwa persetujuan anggaran adalah hasil dari proses pengambilan keputusan,

namun merupakan proses yang berkesinambungan dari proses pelaksanaan

anggaran dan revisi anggaran. Akibatnya, revisi anggaran memiliki keterkaitan

dengan beberapa variabel yang mempengaruhi proses anggaran. Dalam konteks

ini ada 5 (lima) variabel yang digunakan untuk mengukur revisi anggaran.

Beberapa penelitian mengemukakan keterkaitan proses anggaran dengan

(21)

5

sebelumnya atau proses revisi anggaran. Wildavsky (1964) menjelaskan bahwa

incrementalisme sangat erat kaitannya dengan anggaran, selain itu beberapa penelitian selanjutnya seperti yang dikemukakan Boyne et al (2001) bahwa proses anggaran dikatakan inkremental apabila perbedaan dengan anggaran tahun

sebelumnya kecil dan kurangnya fokus aparat terhadap proses tersebut sehingga

inkremental dianggap sebagai penyederhanaan dari proses anggaran.

Penelitian lain yang memberikan pendapat revisi anggaran adalah Devia

(2014), yang meneliti tentang pengaruh faktor internal dan faktor eksternal

terhadap tingkat revisi anggaran pada pemerintah daerah di Indonesia. Dari hasil

penelitiannya menunjukkan bahwa derajat incrementalisme berpengaruh terhadap revisi anggaran belanja operasional.

Setiap pemerintah kota/kabupaten memiliki perbedaan karakteristik,

kebijakan, dan aktivitas anggaran yang berbeda satu sama lain. Hal ini akan

mempengaruhi aktivitas revisi anggaran baik pertengahan maupun akhir tahun. Di

dalam kerangka otonomi, kemampuan suatu daerah untuk mengatur dan mengurus

rumah tangganya sendiri tidak terlepas dari pandangan bahwa daerah harus

sanggup atau mampu untuk membiayai daerahnya sendiri. Kemampuan untuk

membiayai/mendanai daerah sendiri merupakan tantangan yang harus dihadapi

suatu daerah dalam penyelenggaraan otonomi. Dalam hal ini mendanai daerah

sendiri untuk anggaran pembelanjaan daerah, menunjukkan bahwa daerah harus

mempunyai sumber-sumber pendapatan sendiri. Sumber pendapatan daerah salah

satunya dapat diperoleh dari pajak atau retribusi, tetapi pajak atau retribusi dirasa

(22)

6

didapat dari suatu daerah melalui pendapatan asli daerah (PAD) berupa

perusahaan di daerah ataupun hasil yang didapat dari pemanfaatan sumber daya

alam yang dimiliki daerah. Sehingga diasumsikan adanya keterkaitan dengan

besar kecilnya pendapatan pajak dan retribusi serta lain-lain pendapatan asli

daerah yang sah mampu menstimulasi terjadinya revisi anggaran terkait

kebutuhan akan pembiayaan operasional dan pembiayaan proyek dan

infrastruktur.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beragam

demografik wilayah dimana masing-masing wilayah memiliki perbedaan

pendapatan bruto yang akan mempengaruhi proses anggaran maupun revisi

anggaran. Lu dan Facer (2004) melakukan survey dan menemukan adanya

keterkaitan antara proses anggaran dan struktur anggaran terhadap kepala daerah

dan lingkungan eksternal. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan

salah satu indikator untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam

suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas harga konstan.

Pada penelitian yang dilakukan Anessi-Pessina et al (2012), daerah dengan Gross Domestic Product (GDP) rendah akan cenderung melakukan revisi anggaran

dikarenakan daerah tersebut masih mengalami masalah fundamental terkait

perencanaan.

Selain itu, perlu dirumuskan terkait lokasi geografis Indonesia yang dibagi

menurut daerah Jawa dan daerah Luar Jawa. Apakah lokasi geografis tersebut

juga mempengaruhi revisi anggaran. Karena dilihat dari faktor-faktor antara lain

(23)

7

jumlah penduduknya lebih padat, dan kualitas infrastruktur yang lebih baik dan

lengkap.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka penulis tertarik

melakukan penelitian dengan judul “Analisis Incrementalisme Anggaran terhadap

Revisi Anggaran Pada Pemerintah Daerah di Indonesia”.

1. 2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Apakah tingkat incrementalisme anggaran belanja operasional berpengaruh terhadap revisi anggaran belanja operasional pada pemerintah daerah

kota/kabupaten di Indonesia?

b. Apakah tingkat incrementalisme anggaran belanja modal berpengaruh terhadap revisi anggaran belanja modal pada pemerintah daerah

kota/kabupaten di Indonesia?

c. Apakah kemampuan keuangan berpengaruh terhadap revisi anggaran belanja operasional dan revisi anggaran belanja modal pada pemerintah daerah

kota/kabupaten di Indonesia?

d. Apakah Produk Domestik Regional Bruto berpengaruh terhadap revisi anggaran belanja operasional dan revisi anggaran belanja modal pada

(24)

8

e. Apakah area geografis berpengaruh terhadap revisi anggaran belanja operasional dan revisi anggaran belanja modal pada pemerintah daerah

kota/kabupaten di Indonesia?

1. 3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai

berikut:

a. Memperoleh bukti empiris bahwa tingkat incrementalisme anggaran belanja operasional berpengaruh terhadap revisi anggaran belanja operasional pada

pemerintah daerah kota/kabupaten di Indonesia.

b. Memperoleh bukti empiris bahwa tingkat incrementalisme anggaran belanja modal berpengaruh terhadap revisi anggaran belanja modal pada pemerintah

daerah kota/kabupaten di Indonesia.

c. Memperoleh bukti empiris bahwa kemampuan keuangan berpengaruh

terhadap revisi anggaran belanja operasional dan revisi anggaran belanja

modal pada pemerintah daerah kota/kabupaten di Indonesia.

d. Memperoleh bukti empiris bahwa Produk Domestik Regional Bruto berpengaruh terhadap revisi anggaran belanja operasional dan revisi

anggaran belanja modal pada pemerintah daerah kota/kabupaten di

Indonesia.

e. Memperoleh bukti empiris bahwa area geografis berpengaruh terhadap revisi anggaran belanja operasional dan revisi anggaran belanja modal pada

(25)

9

1. 4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak

dibawah ini, yaitu:

a. Pemerintah sebagai penentu kebijakan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi wacana bagi para penentu

kebijakan mengenai fenomena yang ada terkait dengan revisi anggaran pada

pemerintah daerah kota/kabupaten, sehingga dapat memberikan masukan

agar lebih bijaksana dalam mengelola anggaran yang ada.

b. Masyarakat Pengguna Informasi

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada

masyarakat mengenai penganggaran yang ada, sehingga masyarakat dapat

mengkritisi semua kegiatan yang dilakukan pemerintah terkait dengan

penggunaan anggaran.

c. Peneliti selanjutnya

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan peneliti

yang ingin meneliti lebih lanjut mengenai anggaran dan revisi anggaran

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKAN DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Anggaran

Halim dan Damayanti (2007) menyebutkan bahwa anggaran merupakan

informasi atau pernyataan mengenai rencana atau kebijakan bidang keuangan

dari suatu organisasi atau badan usaha untuk jangka waktu tertentu

(umumnya satu tahun) berupa perkiraan penerimaan dan pengeluaran negara

yang diharapkan akan terjadi pada suatu periode tertentu.

Sedangkan anggaran sektor publik berisi rencana kegiatan yang

dipresentasikan dalam suatu bentuk perolehan pendapatan dan belanja dalam

suatu moneter (Mardiasmo, 2002). Dalam bentuk yang paling sederhana,

anggaran publik merupakan suatu dokumen yang menggambarkan kondisi

keuangan dari suatu organisasi yang meliputi informasi mengenai

pendapatan, belanja dan aktifitas. Anggaran berisi estimasi mengenai apa

yang akan dilakukan organisasi dimasa yang akan datang. Setiap anggaran

memberikan informasi mengenai apa yang hendak dilakukan dalam periode

yang akan datang.

Bastian (2010) menyebutkan terdapat tiga tujuan dari anggaran sektor

publik, yaitu:

a. Anggaran digunakan sebagai alat perencana yang menetapkan kehendak

(27)

11

welfare), dengan jalan memanfaatkan sumber daya dan dana untuk mendukung kegiatan pembangunan jangka panjang dalam bentuk

anggaran tahunan (annual budget)

b. Anggaran digunakan sebagai alat pengendalian yang efektif, yang harus

dilakukan secara melekat (built incontrol), dalam tubuh organisasi atas berlangsungnya pelaksanaan kegiatan.

c. Anggaran digunakan sebagai alat evaluasi kinerja setiap pelaksanaan

kegiatan dapat diukur dan dievaluasi secara periodik maupun insidental.

Di Indonesia, anggaran diatur dalam pasal 23 ayat (1) UUD 1945 dan

diimplementasikan dengan disusunnya UU APBN setiap tahun. Selain itu,

untuk melaksanakan UU APBN, pemerintah mengeluarkan berbagai

peraturan perundangan lainnya, seperti UU Pajak, UU Bea Masuk danCukai,

Keppres Pelaksanaan APBN, dan peraturan pelaksana lainnya. Adapun dasar

Hukum Anggaran:

 Pemerintah Pusat (APBN) : UU No. 17 Tahun 2003

 Pemerintah Daerah (APBD) : UU 17 Tahun 2003, UU 32 & 33 Tahun

2004, PP 58 Tahun 2005, PERMENDAGRI 13 Tahun 2006,

PERMENDAGRI 59 Tahun 2007, PERDA

2.1.2. Anggaran Daerah (APBD)

Pengertian APBD adalah suatu rancangan keuangan tahunan daerah

yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah tentang Anggaran Pendapatan

(28)

12

setiap tahun oleh pemerintah daerah kepada DPRD untuk dibahas dan

kemudian disahkan sebagai peraturan daerah. Atau dengan kata lain

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah merupakan rencana keuangan

tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh DPRD dan ditetapkan dengan

peraturan daerah (Nordiawan et al, 2007)

Fungsi APBD menurut Halim dan Damayanti (2007), adalah sebagai

berikut:

a. Fungsi Otorisasi

b. Fungsi Perencanaan

c. Fungsi Pengawasan

d. Fungsi Alokasi

e. Fungsi Distribusi

f. Fungsi Stabilisasi

Struktur APBD adalah sebagai berikut:

a. Pendapatan Asli Daerah

Adalah pendapatan yang diperoleh daerah berdasarkan peraturan daerah

sesuai dengan peraturan perundang-undangan untuk mengumpulkan dana

guna keperluan daerah yang bersangkutan dalam membiayai kegiatannya.

PAD terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik

daerah dan pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain

pendapatan asli daerah yang sah.

 Pajak daerah, Pungutan yang dilakukan Pemerintah Daerah berdasarkan

(29)

13

dalam dua kategori yaitu pajak daerah yang ditetapkan oleh peraturan

daerah dan pajak negara yang pengelolaannya dan penggunaannya

diserahkan kepada daerah.

 Retribusi daerah, Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai

pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan

dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang

pribadi atau badan.

 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, adalah penerimaan

yang berupa hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan

daerah yang dipisahkan, yang terdiri dari bagian laba Perusahaan Daerah

Air Minum, bagian laba lembaga keuangaan bank, bagian laba lembaga

keuangan non bank, bagian laba perusahaan milik daerah lainnya dan

bagia laba atas penyertaan modal/investasi kepada pihak ketiga.

 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah, Meliputi hasil penjualan

kekayaan daerah yang tidak dapat dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga

dan komisi, potong ataupun bentuk lain sebagai akibat penjualan dan atau

pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah.

b. Dana Perimbangan

Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN

yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah

dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Berdasarkan UU No 33 tahun

2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan

(30)

14

 Dana Bagi Hasil, adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN

yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase untuk

mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.

Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam.

 Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yang

bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan

pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai

kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.

 Dana Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK, adalah dana yang

bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah

tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang

merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

c. Lain-lain Pendapatan Yang Sah

 Hibah Tidak Mengikat. Hibah tidak mengikat diartikan bahwa pemberian

hibah tersebut ada batas akhirnya tergantung pada kemampuan keuangan

daerah dan kebutuhan atas kegiatan tersebut dalam menunjang

penyelenggaraan pemerintahan daerah. Hibah berasal dari pemerintah,

pemerintah daerah lainnya, badan/lembaga, organisasi swasta dalam

negeri, kelompok masyarakat/perorangan, dan lembaga luar negeri yang

tidak mengikat.

 Dana Darurat Dari Pemerintah, adalah dana yang berasal dari APBN yang

dialokasikan kepada Daerah yang mengalami bencana nasional, peristiwa

(31)

15

rangka penanggulangan korban atau kerusakan akibat bencana alam.

Pemerintah mengalokasikan Dana Darurat yang berasal dari APBN untuk

keperluan mendesak yang diakibatkan oleh bencana nasional dan/atau

peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi oleh Daerah dengan

menggunakan sumber APBD.

 Dana Bagi Hasil Pajak Dari Propinsi Ke Kabupaten Atau Kota.

Penganggaran dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi

kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota kepada

pemerintah desa atau pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada

pemerintah daerah lainnya pada APBD memperhitungkan rencana

pendapatan pada Tahun Anggaran 2011, sedangkan pelampauan target

Tahun Anggaran 2011 yang belum direalisasikan kepada pemerintah

daerah dan menjadi hak pemerintah kabupaten/kota atau pemerintah desa

ditampung dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2012.

 Dana Penyesuaian Dan Dana Otonomi Khusus. Dana Penyesuaian dan

Dana Otonomi Khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai

pelaksanaan otonomi khusus suatu daerah, sebagaimana ditetapkan dalam

undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi

Provinsi Papua, dan penyesuaian Otonomi Khusus bagi Provinsi yang

menerima DAU lebih kecil dari tahun anggaran sebelumnya.

 Bantuan Keuangan Dari Propinsi Atau Dari Pemerintah Daerah Lainnya.

Pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/ kota dapat

(32)

16

kepada desa yang didasarkan pada pertimbangan untuk mengatasi

kesenjangan fiskal, membantu pelaksanaan urusan pemerintahan daerah

yang tidak tersedia alokasi dananya, sesuai kemampuan keuangan

masing-masing daerah. Pemberian bantuan keuangan dapat bersifat umum dan

bersifat khusus. Bantuan keuangan yang bersifat umum digunakan untuk

mengatasi kesenjangan fiskal dengan menggunakan formula antara lain

variabel: pendapatan daerah, jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin

dan luas wilayah yang ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.

Bantuan keuangan yang bersifat khusus digunakan untuk membantu

capaian kinerja program prioritas pemerintah daerah/desa penerima

bantuan keuangan sesuai dengan urusan pemerintahan yang menjadi

kewenangan penerima bantuan. Pemanfaatan bantuan keuangan yang

bersifat khusus ditetapkan terlebih dahulu oleh pemberi bantuan.

d. Belanja Tidak Langsung

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006

Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, kelompok Belanja

Tidak Langsung terdiri dari:

 Belanja pegawai, merupakan belanja kompensasi, dalam bentuk gaji dan

tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai

negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

 Belanja bunga, digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang

(33)

17

berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan

jangka panjang.

 Belanja subsidi, digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi

kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang

dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. Belanja subsidi

dianggarkan sesuai dengan keperluan perusahaan/lembaga penerima

subsidi dalam peraturan daerah tentang APBD yang

peraturanpelaksanaannya lebih lanjut dituangkan dalam peraturan kepala

daerah.

 Belanja hibah, bersifat bantuan yang tidak mengikat/tidak secara terus

menerus dan harus digunakan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan

dalam naskah perjanjian hibah daerah.

 Bantuan sosial, digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan

dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan

untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bantuan sosial diberikan

tidak secara terus menerus/tidak berulang setiap tahun anggaran, selektif

dan memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya.

 Belanja bagi hasil, digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang

bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota atau

pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau pendapatan

pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah Iainnya sesuai

(34)

18

 Bantuan keuangan, digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan

yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota,

pemerintah desa, dan kepada pemerintah daerah Iainnya atau dari

pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah

Iainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan

keuangan. Bantuan keuangan yang bersifat umum peruntukan dan

penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah

daerah/pemerintah desa penerima bantuan. Bantuan keuangan yang

bersifat khusus peruntukan dan pengelolaannya diarahkan/ditetapkan oleh

pemerintah daerah pemberi bantuan.

 Belanja tidak terduga, merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya

tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan

bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya,

termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun

sebelumnya yang telah ditutup.

e. Belanja Langsung

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006

Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, mengenai belanja

langsung yang terdapat dalam Pasal 50, Kelompok belanja langsung dari

suatu kegiatan dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari:

 Belanja pegawai, untuk pengeluaran Honorarium atau upah dalam

(35)

19

 Belanja barang dan jasa, digunakan untuk pengeluaran

pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 bulan

dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan

pemerintahan daerah. Pembelian/pengadaan barang dan/atau pemakaian

jasa mencakup belanja barang pakai habis, bahan/material, jasa kantor,

premi asuransi, perawatan kendaraan bermotor, cetak/penggandaan, sewa

rumah/gedung/gudang/parkir, sewa sarana mobilitas, sewa alat berat, sewa

perlengkapan dan peralatan kantor, makanan dan minuman, pakaian dinas

dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari-hari tertentu,

perjalanan dinas, perjalanan dinas pindah tugas dan pemulangan pegawai.

 Belanja modal, digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam

rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang

mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan

dalam kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan

mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap

lainnya. Nilai pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap

berwujud yang dianggarkan dalam belanja modal hanya sebesar harga

beli/bangun aset. Belanja honorarium panitia pengadaan dan administrasi

pembelian/pembangunan untuk memperoleh setiap aset pada belanja

(36)

20

f. Penerimaan Pembiayaan

 Sisa lebih perhitungan anggaran TA sebelumnya (SiLPA). Sisa lebih

perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA) mencakup

pelampauan penerimaan PAD, pelampauan penerimaan dana

perimbangan, pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang

sah, pelampauan penerimaan pembiayaan, penghematan belanja,

kewajiban kepada fihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum

terselesaikan, dan sisa dana kegiatan lanjutan.

 Pencairan Dana Cadangan. Pencairan dana digunakan untuk

menganggarkan pencairan dana cadangan dari rekening dana cadangan ke

rekening kas umum daerah dalam tahun anggaran berkenaan. Jumlah yang

dianggarkan yaitu sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan dalam

peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan berkenaan.

 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, digunakan antara lain

untuk menganggarkan hasil penjualan perusahaan milik daerah/BUMD

dan penjualan aset milik pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan

pihak ketiga, atau hasil divestasi penyertaan modal pemerintah daerah.

 Penerimaan Pinjaman Daerah. Penerimaan pinjaman daerah digunakan

untuk menganggarkan penerimaan pinjaman daerah termasuk penerimaan

atas penerbitan obligasi daerah yang akan direalisasikan pada tahun

anggaran berkenaan.

 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman. Penerimaan kembali

(37)

21

kembali pinjaman yang diberikan kepada pemerintah pusat dan/atau

pemerintah daerah lainnya.

 Penerimaan Piutang Daerah, digunakan untuk menganggarkan penerimaan

yang bersumber dari pelunasan piutang fihak ketiga, seperti berupa

penerimaan piutang daerah dari pendapatan daerah, pemerintah,

pemerintah daerah lain, lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan

bank dan penerimaan piutang lainnya.

g. Pengeluaran Pembiayaan

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006

Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Pengeluaran

pembiayaan terdiri dari pembentukan dana cadangan, penerimaan modal

(investasi) pemerintah daerah, pembayaran pokok utang dan pemberian

pinjaman daerah.

 Dana Cadangan, adalah dana yang disisihkan untuk menampung

kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi

dalam satu tahun anggaran. Pemerintah daerah dapat membentuk dana

cadangan guna mendanai kegiatan yang penyediaan dananya tidak dapat

sekaligus/sepenuhnya dibebankan dalam satu tahun anggaran.

Pembentukan dana cadangan ditetapkan dengan peraturan daerah.

Peraturan daerah mencakup penetapan tujuan pembentukan dana

cadangan, program dan kegiatan yang akan dibiayai dari dana cadangan,

besaran dan rincian tahunan dana cadangan yang harus dianggarkan dan

(38)

22

anggaran pelaksanaan dana cadangan. Investasi adalah penggunaan aset

untuk memperoleh manfaat ekonomis seperti bunga, dividen, royalti,

manfaat sosial dan/atau manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan

kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

 Investasi pemerintah daerah, digunakan untuk menganggarkan kekayaan

pemerintah daerah yang diinvestasikan balk dalam jangka pendek maupun

jangka panjang. Investasi jangka pendek merupakan investasi yang dapat

segera diperjualbelikan/dicairkan, ditujukan dalam rangka manajemen kas

dan beresiko rendah serta dimiliki selama kurang dari 12 (duabelas) bulan.

Investasi jangka panjang antara lain surat berharga yang dibeli pemerintah

daerah dalam rangka mengendalikan suatu badan usaha, misalnya

pembelian surat berharga untuk menambah kepemilikan modal saham

pada suatu badan usaha, surat berharga yang dibeli pemerintah daerah

untuk tujuan menjaga hubungan balk dalam dan luar negeri, surat berharga

yang tidak dimaksudkan untuk dicairkan dalam memenuhi kebutuhan kas

jangka pendek.

 Pembayaran pokok utang, didasarkan pada jumlah yang harus dibayarkan

sesuai dengan perjanjian pinjaman dan pelaksanaannya merupakan

prioritas utama dari seluruh kewajiban pemerintah daerah yang harus

diselesaikan dalam tahun anggaran yang berkenaan. Pembayaran pokok

utang digunakan untuk menganggarkan pembayaran kewajiban atas pokok

utang yang dihitung berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek,

(39)

23

 Pinjaman Daerah, adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah

menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari

pihak lain sehingga daerah dibebani kewajiban untuk membayar kembali.

Pemberian pinjaman digunakan untuk menganggarkan pinjaman yang

diberikan kepada pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah lainnya.

Penerimaan kembali pemberian pinjaman digunakan untuk

menganggarkan posisi penerimaan kembali pinjaman yang diberikan

kepada pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah lainnya.

2.1.3. Revisi Anggaran

Revisi anggaran adalah perubahan rincian Anggaran Belanja

Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang telah ditetapkan

berdasarkan APBN/APBD. Revisi anggaran dapat dikurangi dengan cara

menggabungkan langkah-langkah resiko dan ketidakpastian dalam proses

penganggaran dan mengurangi beberapa efek samping dari revisi anggaran

setelah tahun berjalannya anggaran (Gary et al, 2004). Rebudgeting menjadi faktor umum dan signifikan dalam proses penganggaran di banyak kota

(Forrester dan Mullins, 1992).

Penyesuaian APBD dengan perkembangan dan/atau perubahan

keadaan, dibahas bersama antara DPRD dengan pemerintah daerah dalam

rangka penyusunan perkiraan perubahan atas APBD tahun anggaran yang

bersangkutan. Dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 154

(40)

24

perbaikan atau penyesuaian terhadap alokasi anggaran, maka perubahan

APBD masih dimungkinkan terutama apabila:

a. Terjadi perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi Kebijakan umum

anggaran (KUA);

b. Terjadi keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran

antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja;

c. Ditemui keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebihtahun sebelumnya

harus digunakan dalam tahun anggaran berjalan;

d. Keadaan darurat; dan

e. Keadaan luar biasa.

Selain itu, dalam keadaan darurat pemerintah daerah juga dapat

melakukan pengeluaran untuk membiayai kegiatan yang belum tersedia

anggarannya, yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan

APBD dan/atau disampaikan dalam Laporan Realisasi Anggaran tahun

berjalan yang untuk pelaksanaannya harus dituangkan dalam peraturan

daerah tentang rancangan dan perubahan APBD. Oleh karenanya, dalam

Peraturan Daerah terkait harus diperjelas posisi satuan kerja perangkat

daerah yang juga mempunyai kedudukan sebagai pengguna anggaran dan

pelaksana program.

Keadaan darurat sebagaimana dimaksud sekurang-kurangnya

memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan

(41)

25

b. Tidak diharapkan terjadi secara berulang;

c. Berada di luar kendali dan pengaruh pemerintah daerah; dan

d. Memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka

pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat.

Perubahan APBD diajukan setelah laporan realisasi anggaran semester

pertama dan hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun

anggaran, kecuali dalam keadaan luar biasa. Keadaan luar biasa adalah

keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran

dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50%.

Adapun proses Perubahan APBD adalah sebagai berikut:

a. Pemerintah daerah mengajukan rancangan peraturan daerah tentang

perubahan APBD tahun anggaran yang bersangkutan untuk mendapatkan

persetujuan DPRD sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir.

b. Persetujuan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah,

selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya tahun anggaran.

c. Proses evaluasi dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang

perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang

penjabaran perubahan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan kepala

daerah berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47, Pasal 48,

Pasal 52, dan Pasal 53 PP Nomor 58 Tahun 2005.

Revisis anggaran dapat dilaksanakan oleh masing-masing SKPD dan

(42)

26

dan/atau belanja, (2) perubahan dan/atau pergeseran anggaran pendapatan

dan/atau belanja dalam hal pagu anggaran tetap atau berkurang.

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan mengapa perubahan atas

anggaran pendapatan terjadi, di antaranya:

a. Target pendapatan dalam APBD underestimated (dianggarkan terlalu rendah). Jika sebuah angka untuk target pendapatan sudah ditetapkan

dalam APBD, maka angka itu menjadi target minimal yang harus dicapai

oleh eksekutif. Target dimaksud merupakan jumlah terendah yang

“diperintahkan” oleh DPRD kepada eksekutif untuk dicari dan menambah

penerimaan dalam kas daerah.

b. Alasan penentuan target PAD oleh SKPD dapat dipahami sebagai

praktik moral hazard yang dilakukan agency yang dalam konteks pendapatan adalah sebagai budget minimizer. Dalam penyusunan rancangan anggaran yang menganut konsep partisipatif, SKPD

mempunyai ruang untuk membuat budget slack karena memiliki keunggulan informasi tentang potensi pendapatan yang sesungguhnya

dibanding DPRD.

c. Jikadalam APBD “murni” target PAD underestimated, maka dapat “dinaikkan” dalam APBD Perubahan untuk kemudian digunakan sebagai

dasar mengalokasikan pengeluaran yang baru untuk belanja kegiatan

dalam APBD-P. Penambahan target PAD ini dapat diartikan sebagai hasil

(43)

27

(leveraging) PAD, khususnya yang terealiasai dan tercapai outcome-nya pada tahun anggaran sebelumnya.

Selain itu, ada beberapa penyebab perubahan belanja yaitu antara lain:

a. Perubahan karena adanya varian SiLPA. Perubahan harus dilakukan

apabila prediksi atas SiLPA tidak akurat, yang bersumber dari adanya

perbedaan antara SILPA 201a definitif setelah diaudit oleh BPK dengan

SiLPA 201b.

b. Perubahan karena adanya pergeseran anggaran (virement). Pergeseran anggaran dapat terjadi dalam satu SKPD, meskipun total alokasi untuk

SKPD yang bersangkutan tidak berubah.

c. Perubahan karena adanya perubahan dalam penerimaan, khususnya

pendapatan. Perubahan target atas pendapatan asli daerah (PAD) dapat

berpengaruh terhadap alokasi belanja perubahan pada tahun yang sama.

Dari perspektif agency theory, pada saat penyusunan APBD murni, eksekutif (dan mungkin juga dengan sepengetahuan dan/atau persetujuan

legislatif) target PAD ditetapkan di bawah potensi, lalu

dilakukan “adjustment” pada saat dilakukan perubahan APBD.

Anessi-Pessina, et al (2012) mengilustrasikan alasan pemerintah daerah dalam melakukan revisi anggaran. Berdasarkan pernyataan responden,

alasan terpenting karena keputusan yang dibuat oleh pemerintah pusat terkait

anggaran akan mempengaruhi pendapatan kabupaten/kota dan perubahan

agenda politik meliputi (perubahan prioritas kepentingan politik dan sebagai

(44)

28

yang diajukan responden antara lain: (1) Keputusan yang diambil pemerintah

pusat mempengaruhi bagaimana kegiatan operasi akan dilakukan; (2)

Perubahan tak terduga sosioekonomik; (3) Perlunya memberi signal dengan

dampak simbolik yang kuat; (4) Kesalahan dalam peramalan pengeluaran; (5)

Kesalahan dalam peramalan pendapatan; (6) Kebutuhan untuk mengumpulkan

consensus; dan (7) BencanaAlam.

2.1.4. Laporan Keuangan

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Komponen-komponen yang

terdapat dalam satu set laporan keuangan berbasis akrual terdiri dari laporan

pelaksanaan anggaran (budgetary reports) dan laporan finansial, yang jika diuraikan adalah sebagai berikut:

a. Laporan Realisasi Anggaran;

Laporan Realisasi Anggaran (LRA) menyediakan informasi mengenai

anggaran dan realisasi pendapatan-LRA, belanja, transfer,

surplus/defisit-LRA, dan pembiayaan dari suatu entitas pelaporan.

b. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih;

Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LP-SAL) menyajikan pos-pos

berikut, yaitu: saldo anggaran lebih awal (saldo tahun sebelumnya),

penggunaan saldo anggaran lebih, Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan

Anggaran (SILPA/SIKPA) tahun berjalan, koreksi kesalahan pembukuan

(45)

29

berjalan. Pos-pos tersebut disajikan secara komparatif dengan periode

sebelumnya.

c. Laporan Operasional;

Laporan Operasional (LO) menyediakan informasi mengenai seluruh

kegiatan operasional keuangan entitas pelaporan yang tercerminkan dalam

pendapatan-LO, beban, dan surplus/defisit operasional dari suatu entitas

pelaporan yang penyajiannya disandingkan dengan periode sebelumnya.

d. Laporan Perubahan Ekuitas;

Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan sekurang-kurangnya pos-pos

ekuitas awal atau ekuitas tahun sebelumnya, Surplus/defisit-LO pada

periode bersangkutan dan koreksi-koreksi yang langsung

menambah/mengurangi ekuitas, yang antara lain berasal dari dampak

kumulatif yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi dan

koreksi kesalahan mendasar.

e. Neraca;

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai

aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. Dalam neraca, setiap

entitas mengklasifikasikan asetnya dalam aset lancar dan nonlancar serta

mengklasifikasikan kewajibannya menjadi kewajiban jangka pendek dan

(46)

30

f. Laporan Arus Kas;

Tujuan pelaporan arus kas adalah memberikan informasi mengenai

sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama suatu periode

akuntansi serta saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan.

g. Catatan atas Laporan Keuangan.

CaLK memberikan informasi kualitatif dan mengungkapkan kebijakan

serta menjelaskan kinerja pemerintah dalam tahapan pengelolaan

keuangan negara. Selain itu, dalam CaLK memberikan penjelasan atas

segala informasi yang ada dalam laporan keuangan lainnya dengan bahasa

yang lebih mudah dicerna oleh lebih banyak pengguna laporan keuangan

pemerintah, sehingga masyarakat dapat lebih berpartisipasi dalam

menyikapi kondisi keuangan negara yang dilaporkan secara lebih

pragmatis.

Laporan pelaksanaan anggaran adalah Laporan Realisasi Anggaran

dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih, sedangkan yang termasuk

laporan finansial adalah Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas,

Neraca dan Laporan Arus Kas. Komponen-komponen laporan keuangan

tersebut disajikan oleh setiap entitas pelaporan, kecuali Laporan Arus Kas

yang hanya disajikan oleh entitas yang mempunyai fungsi perbendaharaan

umum, dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih yang hanya disajikan

oleh Bendahara Umum Negara dan entitas pelaporan yang menyusun

(47)

31

2.1.5. Agency Teory

Teori keagenan (Agency theory) merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut

berakar dari sinergi teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori

organisasi. Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja

antara pihak yang memberi wewenang (prinsipal) yaitu investor dengan

pihak yang menerima wewenang (agensi) yaitu manajer, dalam bentuk

kontrak kerja sama yang disebut ”nexus of contract”.

Implikasi penerapan teori ini dapat menimbulkan perilaku efisiensi

atau perilaku opportunistik bagi si Agen. Di organisasi publik, khususnya di

pemerintahan daerah teori keagenan ini telah dipraktekkan, termasuk

pemerintahan daerah di Indonesia. Apalagi sejak otonomi dan desentralisasi

diberikan kepada pemerintah daerah sejak tahun 1999.

Dalam proses penyusunan dan perubahan anggaran daerah, ada dua

perspektif yang dapat ditelaah dalam aplikasi teori keagenan, yaitu

hubungan antara eksekutif dengan legislatif, dan legislatif dengan pemilih

(voter) atau rakyat. Implikasi penerapan teori keagenan dapat menimbulkan hal positif dalam bentuk efisiensi, tetapi lebih banyak yang menimbulkan

hal negatif dalam bentuk perilaku opportunistik (opportunistic behaviour). Dimana pihak agensi memiliki informasi keuangan daripada pihak

prinsipal (keunggulan informasi), sedangkan dari pihak prinsipal boleh jadi

(48)

32

keagenan yang timbul di kalangan eksekutif adalah cenderung

memaksimalkan utiliti (self-interest) dalam pembuatan atau penyusunan anggaran APBD, karena memiliki keunggulan informasi (asimetri

informasi). Akibatnya eksekutif cenderung melakukan ”budgetary slack”.

Hal ini terjadi dikarenakan pihak eksekutif akan mengamankan posisinya

dalam pemerintahan di mata legislatif dan masyarakat/rakyat, bahkan boleh

jadi untuk kepentingan pilkada berikutnya. Namun demikian budgetary slack APBD lebih banyak untuk kepentingan pribadi kalangan eksekutif (self interest) ketimbang untuk kepentingan masyarakat.

Masalah keagenan yang timbul di kalangan legislatif (anggota

dewan) terjadi dari dua tinjauan perspektif, sebagai prinsipal atas eksekutif

dan sebagai agen dengan rakyat (pemilih). Masalah keagenan yang timbul

dalam perspektif prinsipal akan cenderung melakukan ”kontrak semu”

dengan pihak eksekutif karena memiliki discretionary power. Dalam proses penyusunan anggaran, pihak legislatif cenderung melakukan ”titipan”

proyek/kegiatan, hal ini terjadi untuk kepentingan pribadi secara jangka

panjang demi menjaga kesinambungan dan mengharumkan nama

politisi/anggota dewan.

Masalah keagenan anggota legislatif sebagai agen, dimana posisi

legislatif sebagai pihak agen dan rakyat/pemilih sebagai pihak prinsipal.

Pihak legislatif sebagai agen akan membela kepentingan rakyat atau

(49)

33

kewenangan rakyat/pemilih terhadap legislatornya tidak memiliki kejelasan

aturan konsekuensi kontrol keputusan yang disebut ”abdication”.

Akibatnya, legislator cenderung menyusun anggaran untuk

kepentingan pribadi atau golongannya dan kondisi ini disebut oleh

Garamfalvi (1997) sebagai political corruption dalam proses penyusunan anggaran, dan sekiranya anggaran tersebut dilaksanakan akan menimbulkan

administration corruption.

Kalau kondisi di atas terjadi, maka proses penyusunan/perubahan

anggaran APBD yang semestinya akan menghasilkan outcome yang efisien

dan efektif dari alokasi sumber daya dalam anggaran akan terdistorsi karena

adanya perilaku opportunistik untuk kepentingan pribadi dan politisi.

2.1.6. Karakteristik Pemerintah Daerah

UU No. 32/2004 memberikan wewenang kepada Pemerintah Daeraah

untuk menjalankan urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi serta

mewajibkan Pemerintah Daerah untuk memberikan Laporan

Penyelenggaraan Pemerintah Daeraah (LPPD) kepada pemerintah sebagai

salah satu alat pertanggungjawaban kinerja Pemerintah Daerah.

Dalam Pasal 2 PP No. 3/2007 menyebutkan bahwa ruang lingkup

LPPD mencakup penyelenggaraan urusan desentralisasi (urusan wajib dan

pilihan), tugas pembantuan dan tugas umum pemerintahan. Dengan

(50)

34

dengan urusan yang menjadi tanggungjawabnya dan karakteristik dari

masing-masing Pemerintah Daerah tersebut.

Semakin besar ukuran Pemerintah Daerah maka semakin besar

sumber daya yang dimiliki untuk memberikan pelayanan kepada

masyarakat. Pemerintah Daerah juga memiliki Pendapatan Asli Daerah

(PAD) beragam yang salah satunya tergantung dari kekayaan daerah yang

dimilikinya. Pemerintah Daerah yang memiliki PAD tinggi seharusnya akan

lebih bebas dalam memanfaatkan kekayaan asli daerahnya untuk melakukan

pengeluaran-pengeluaran (belanja) daerah yang dapat meningkatkan

pelayanannya kepada masyarakat. Setiap Pemda juga mendapatkan Dana

Alokasi Umum (DAU) dari pemerintah pusat yang beragam disesuaikan

dengan keadaan dari masing-masing Pemerintah Daerah.

Selain dari sisi pendapatan, karakteristik Pemerintah Daerah bisa juga

dilihat dari sisi Belanja Pemerintah Daerah yang juga beragam disesuaikan

dengan besarnya pendapatan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah tersebut.

Semakin besar belanja Pemerintah Daerah seharusnya diharapkan akan

semakin meningkat pelayanan yang diberikan Pemerintah Daerah untuk

masyarakatnya.

2.1.7. Tingkat Incrementalisme dalam proses penyusunan anggaran

Anggaran tradisional merupakan pendekatan yang masih banyak

digunakan dan ada dua ciri utama dalam pendekatan ini, yaitu cara

(51)

35

struktur serta susunan anggaran yang bersifat line-item. Anggaran tradisional bersifat incrementalisme yaitu hanya menambahkan atau mengurangi jumlah rupiah pada item-item anggaran yang sudah ada sebelumnya dengan

menggunakan data tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menyesuaikan

besarnya penambahan atau pengurangan tanpa dilakukan kajian yang

mendalam (Mardiasmo, 2002). Pendekatan semacam ini tidak saja menjamin

terpenuhinya kebutuhan riil, namun juga dapat mengakibatkan kesalahan

yang terus berlanjut. Hal ini disebabkan karena ketidaktahuan apakah

pendapatan dan belanja periode sebelumnya yang dijadikan sebagai tahun

dasar penyusunan anggaran tahun ini telah didasarkan atas kebutuhan yang

wajar.

Penelitian terdahulu (Anessi-Pessina et al 2012; Wildavsky 1964) menemukan adanya pengaruh derajat incrementalisme terhadap aktivitas revisi anggaran. Menurut Anessi-Pessina et al (2012) Pendekatan inkremental yang dilakukan pada proses penyusunan anggaran tidak sepenuhnya mampu

memenuhi kebutuhan organisasi dan sebagai konsekuensinya, semakin besar

revisi anggaran yang dilakukan selama tahun fiskal. Hal ini mencerminkan

semakin banyak kebijakan ditetapkan di awal periode, semakin sedikit revisi

anggaran yang diperlukan selama tahun fiskal. Anessi-Pessina et al (2012) menyoroti derajat incrementalisme anggaran pada pos belanja operasi, pos belanja modal, dan pos pengeluaran daerah, dan menemukan signifikansi

pada keseluruhan pos tersebut. Hal tersebut mengindikasikan inkremental

(52)

36

anggaran, karena hanya berpedoman pada penyesuaian atau penambahan

pagu anggaran di tahun sebelumnya sehingga ketika pada tahun berikutnya

terdapat beberapa proyek/kegiatan/inovasi kegiatan yang belum dianggarkan

di tahun sebelumnya akan memicu terjadinya revisi anggaran. Selain itu,

Lindblom (1959) dalam penelitiannya pada negara demokrasi memaparkan

bahwa kebijakan inkremental dilakukan ketika aparat dalam kondisi tertekan

dan membutuhkan jalan pintas untuk membuat sebuah kebijakan, sehingga

memilih untuk menggunakan acuan kebijakan tahun sebelumnya dengan

sedikit modifikasi.

2.2. Penelitian Sebelumnya

Anessi-Pessina et al (2012) melakukan penelitian tentang Budgeting and Rebudgeting in Local Gonernments yang mengambil sampel di negara Italia, dengan variabel dependennya revisi anggaran, sedangkan variabel

independen terdiri atas (1) tingkat incrementalisme penganggaran awal, (2) situasi politik, (3) fitur organisasi, (4) kondisi keuangan, dan (5) kondisi

lokal sosioekonomik. Hasil dari pengujian menunjukkan hasil bahwa (1)

terdapat hubungan negatif antara tingkat incrementalisme dengan Revisi anggaran, (2) terdapat hubungan positif dan signifikan antara situasi politik

dan revisi anggaran pada saat menjelang pemilu (2) Fitur organisasi melalui

proksi Size (Staff) membuktikan adanya hubungan positif dan signifikan

terhadap revisi anggaran, (3) Kondisi keuangan membuktikan hubungan

References

Related documents

According to National Report on The Provision of Inclusive Quality Primary and Secondary Education (UNESCO, 2009) the number of hard of hearing children was 5,610 from

Their writing ability increased in second meeting and furthermore in third meeting As suggestion, English teacher can use “Discovery Channel” video as alternative Media

Our research, however, increases the number of variables taken into account to 52 and analyzes primarily the content of the centralized areas within the corporate website dedicated

Basheva the Honorary Mark of the Rector “for high achievements in the academic and scientific research activity of the Finance and Accountancy Faculty and on the occasion of the

To locate the active cumulative order, it uses the item, site, operation, line, routing, and product structure code of the cumulative order in the PO detail record, along with

As many as 90 percent of persons with occupational nonspecific low back pain are able to return to work in a relatively short period of time. As long as no “red flags” exist,

In the past, the government has had a number of on-going initiatives to address gender gap at all levels of education including management such as: appointment of qualified

GIS visualization GPS data Persistence Component Route Storage Route Analysis Real Time Tracking TCP/IP <<SQL>> TCP/IP <<SQL>> WAN TCP/IP