• No results found

MDP - Infeksi Jamur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Share "MDP - Infeksi Jamur"

Copied!
57
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

MEKANISME DASAR PENYAKIT INFEKSI

MDP - 6

(2)

Fungal Infection or mycosis

(3)

Fungal Pathogenicity

student.ccbcmd.edu/courses/bio141/.../fungi/funpath.html

Virulence factors that promote fungal colonization of

the host include the ability to:

 1. contact host cells;

2. adhere to host cells and resist physical removal; 3. invade host cells;

4. compete for nutrients;

5. resist innate immune defenses such as phagocytosis and complement; and

(4)

Factors that promote fungal colonization

 Faktor predisposisi yg penting a.l. jika terjadi

immunocompromized.

 Kesanggupan jamur melekatkan diri ke sel host

dengan adhesin dari dinding jamur merupakan peran penting jamur jadi virulen.

 Beberapa jamur menghasilkan kapsul yang dapat

menghalanginya dari kegiatan phagosit

(Cryptococcus neoformans dan Histoplasma

(5)

Factors that promote fungal colonization

contonued.

 Candida albicans merangsang dihasilkannya cytokine dan cytokine

menekan produksi komplemen dari monocyte dan macrophage,

sehingga mengurangi produksi opsonin C3b dan protein komplemen lain yang bekerja untuk menggalakkan phagocytosis.

 Beberapa jamur (fungi) resisten terhadap phagositosis a.l. Candida

albicans, Histoplasma capsulatum, and Coccidioides immitis.

 Ada bukti bahwa bentuk yeast Candida masuk ke dalam darah dan

mengaktipkan gene yg memungkinkannya berobah menjadi budding form dan hyphal form. Sebagai tambahan jika dipagosit oleh

macrophage, maka Candida memproduksi bentuk “tubular germ tubes” yg mematikan macrophage.

(6)

Factors that promote fungal colonization :

contonued.

Cryptococcus neoformans menghalangi (inhibits)

produksi cytokinee TNF-alpha dan IL 12 dan produksi IL-10.

 TNF dan IL-12 mengaktipkan macrophages, sedang IL-10

menekan aktivasi macrophage. Akibatnya macrophages

tidak aktip. Padahal aktivasi Macrophage diperlukan

untuk mematikan mikroba yang telah di phagositnya.

 Faktor2 suhu tubuh, stress, dan hormon2 manusia mengaktipkan

regulasi enzyme histidine kinase dari dimorphik mold dari jamur spt

Histoplasma capsulatum, Blastomyces dermatitidis, and Coccidioides immitis, agar merobahnya menjadi bentuk mold form yang avirulent.

(yeast form adalah bentuk yg virulent). Selain itu juga merangsang yeast Candida albicans dari yeast form menjadi hyphal form yang lebih virulent lagi.

(7)

Faktor virulensi jamur merusak jaringan Host

 Bila terjadi infeksi jamur, jamur menghasilkan enzyme

yg menyernag sel sel jaringan tubuh. (protease, phospholypase dan elastase). Akibatnya tubuh

menghasilkan cytokine, timbul respons inflamasi dan timbul proses phagositosis, serta terjadilah destruksi jaringan tubuh host.

 Kebanyakan jamur jenis mold menghasilkan mycotoxin,

terutama jika tumbuh pada biji-bijian (kacang). Toksin ini menyebabkan berbagai efek bagi host, koordinasi otot terganggu, berat badan turun, tremor. Sebagian

mycotoxin mutagenik dan carcinogenik.

 Aflatoxins, diproduksi oleh species Aspergillus dan

carcinogenik. Mycotoxin menyebabkan gejala

dermatitis, inflamasi membran mucosa, menyebabkan batuk, demam, sakit kepala dan keletihan.

(8)

Mycosis pada manusia

 Infeksi jamur atau mycosis diklasifikasi atas dasar jaringan yang

diserangnya dan cara masuknya. Biasanya menyebabkan infeksi yang khronis karena pertumbuhan jamur pelahan (slowly) :

• Superficial - localised to the skin, the hair, and the nails. • Cutaneous

• Subcutaneous - infection confined to the dermis, subcutaneous tissue or adjacent structures.

• Systemic - deep infections of the internal organs.

• Opportunistic - cause infection only in the immunocompromised.

 Orang yang sehat jarang diserang jamur. Akan tetapi jika daya

tahan tubuh rendah (immunocompromised host) maka timbul infeksi jamur, bisa ringan seperti candidiasis atau dermatophyt, bisa jadi infeksi oleh jamur nonpathogenik dan menyebabkan penyakit yg potensial jadi fatal.

(9)

Jamur Superfisial

Jamur superfisial bisa menyerang akar rambut

dan bagian luar sel epidermis. Terutama pada

daerah lembab seperti pada iklim tropis.

Taenia versicolor atau panau yang

menimbulkan bercak2 putih atau kecoklatan

pada kulit lengan, dada, punggung.

Penyebabnya Pityossporum orbiculare

(10)

Cutaneous mycoses

Cutaneous mycoses – menyerang lebih dalam hingga

ke epidermis, juga infeksi invasip rambut dan kuku.

 Penyakit ini menyerang lapisan keratin kulit, rambut

dan kuku.

 Berbeda dari superfisial mycosis, timbul respons

imun dari host, timbul perobahan patologik dari bagian kulit lebih dalam.

 Jamur penyebab Dermatophytes (Microsporum,

Trichophyton, dan Epidermophyton fungi).

Penyakitnya disebut ringworm, kurap/kadas atau taenia. (Taenia cruris, T.unguium, T.barbae, T. corporis, T. capitis)

(11)

Subcutaneous mycoses

Subcutaneous mycoses – menyerang dermis,

jaringan subcutaneous, otot dan fascia.

 Infeksi ini khronis dan menyebabkan trauma

kulit sehingga jamur bisa semakin masuk lebih dalam.

 Infeksi ini sukar untuk diobati dan terkadang

perlu tindakan pembedahan (debridement)

 Jamur penyebab : Sporotrix schenckii,

Cladosporium, Phialophora, Fonseceae, Madurella (penyebab Mycetoma)

(12)

Systemic mycoses

Systemic mycoses oleh primer diparu paru dan

menyebar ke organ organ tubuh lain secara sistemis melalui darah.

Biasanya jamur jenis ini dimorphic (tumbuh pada

suhu tubuh menghasilkan yeast dan tumbul di subu kamar membentuk mold.

Systemic mycoses yg disebabkan jamur oppertunis

pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah (immune deficiencies).

Contoh :kondisi immunocompromised pada AIDS,

penggunaan antibiotika berlebihan, immunesuprisive (obat kanker), metastatic cancer. Jamur ini

(13)

Pertumbuhan jamur :

 Kebanyakan fungi tumbuh dengan baik pada suhu 25oC

(suhu kamar). Jamur yang patogen bisa hidup pada suhu tubuh (37oC) membentuk yeastlike (yeastlike phase) dan suhu kamar (25oC) tumbuh seperti mold (moldlike phase). Disebut biphasic (two phase) atau dimorphic (two form).

 Jamur jamur tertentu ada yg bisa tumbuh pada suhu rendah

5oC di dalam lemari es (refrigerator). Kebanyakan jamur tumbuh subur pada keadaan asam (pH 5-6). Jadi jamur

dapat mengkontaminasi makanan yang asam (buahan asam, yogurt dan kebanyakan sayuran). Misalnya keju dan roti

yang asam menyuburkan pertumbuhan jamur.

 Jamur tumbuh dalam keadaan aerob, kecuali beberapa yeast

yang tumbuh fakultatip anaerob. Biasanya keberadaan

kosentrasi gula yg tinggi merangsang pertumbuhan jamur. (Sabouraud Dextrose Agar & Potato Dextrose Agar).

(14)

REPRODUKSI JAMUR :

Aseksual spore : Asexual process

Aseksual spora yang dihasilkan pada hyphae. Setiap spora akan

berkembang menjadi hypha-hypha yang baru sehingga menjadi banyak (hyphae) yang disebut mycelium.

 Asexual spore ini bisa terdapat didalam sebuah kantung (sac) yang

disebut sporangium yang dihasilkan oleh struktur yang disebut sporangiophore dan sporanya disebut sporangiospore.

 Spora lain tanpa kantung disebut conidospore (conidia) yang

dihasilkan oleh struktur yang disebut conidiophore.

 Sebagian bentuk reproduksi yang asexual tdak berkembang menjadi

bagian yang membentuk spore misalnya fragmentasi hypha seperti arthrospore. Sebagian membentuk budding, dan blastospore atau bud (Yeast biasanya berkembang biak dengan cara budding).

Chlamydospore (oidia) bentuk lain dari asexual spore yang

mempunyai dinding tebal, dimana chlamyospore terbentuk disepanjang hypha sedangkan oidia terbentuk diujung hypha. Misalnya pada Aspergyllus niger.

(15)

Sexual Process :

 Disini terjadi fusing (penggabungan) dua sel

jamur. Dua sel jamur mendekat dan menggabung (fuse) diikuti dengan penggabungan nucleusnya sehingga

chromosome kedua jamur juga bersatu sehinga terkadang dijumpai 2 set

chromosome (diploid).

 Biasanya separuh chromosome menggabung

(haploid) dan menghasilkan spora.

Penggabungan 2 paruh chromosome itu membentuk jamur baru dengan sifat dari

kedua jamur induk, sehingga kalau ada jamur yg resisten terhadap obat jamur (gungiside) yang dibawa oleh satu induk jamur akan

menghasilkan jamur anak-an yg resisten pula.

(16)

Klasifikasi Jamur :

 Identifikasi jamur berdasarkan pengamatan morfologi

koloni dengan kaca pembesar atau dengan mikroskop koloni.

Struktur jamur diamati dengan mikroskop cahaya

biasa dengan pembesaran 100 atau 400 kali

 Pemeriksaan sediaan langsung :

Bahan dari pasien diletakkan pada kaca objek bersih dan ditetesi dengan KOH 10-20% dan panaskan sedikit diatas nyala api (mengurangi gelembung udara) atau dengan Lactophenol cotton blue.

 Kultur jamur dilakukan pada Agar Sabouraud Glucose (40

gm Glucose + 10 gm peptone + 20 gm Agar dalam 1 liter air). Konsentrasi glucose tinggi menghambat pertumbuhan bakteri.

 Antibiotika (Chloramphenicol 0,005%) atau

antiseptik seperti cyclohexamine 0,04% bisa ditambah tetapi bisa menghambat jamur patogen tertentu.

(17)

1. Spora jamur :

- sporangium dan sporangiosphore - blastospore = budding

- sporangiophore bercabang/tidak - arthrospore = segmented hyphae

- columella : bulat/collapsed cylendrical atau bulat

- Conidia : - Macroconidia - chlamydospore = diujung hypha

- Microconidia membulat, dinding tebal

Macroconidia :

- ukurannya : 5 s/d 100 micron - bentuk : ujung tumpul, ujung berkait,

- Jumlah sel : multicellulair ( 2 s/d 15) membengkok, tergantung species - dinding : kasar, tebal

Microconidia :

- bentuk : bulat, bentuk lain

2. Hyphae :

- septate atau nonseptate (coenocytic) - pseudohyphae

- aerial hyphae/mycelium – vegetatip mycelium - foot sel

- stolon / runner / rhizoid

- Conidiophore bercabang atau tidak 3. Phialides bentuk botol

(18)

Struktur Jamur

Hypha (mycelium) • Hypha berseptum • Hypha nonspetum • Pseudohypha  Spora : • Arthrospora • Blastospora • Chlamydospora • Sporangiospora • Basidiospora • Macroconidia • Microconidia (sporangiospora)

(19)
(20)

Dimorphic Fungi dan Oppertunistik Fungi

Aspergillus fumigatus

(21)

JAMUR KONTAMINAN :

Jamur kontaminan banyak

terdapat disekitar kita dan

mengganggu kultur yang sedang

dilaksanakan.

Jamur kontaminan a.l :

1. Mucor dan Rhizopus : mempunyai

sporagium

2. Aspergillus dan Penicillium : tanpa

sporagium

(22)

MUCOR DAN RHIZOPUS :

Kedua genus ini bisa menimbulkan penyakit

Mucormycosis. Infeksi biasa pada jaringan otak,

paru-paru dan organ lain. Jika infeksi pada jaringan

otak bisa berakibat fatal.

Hyphae atau myceliumnya lebar dan tebal tidak

berseptum(coenocytic).

Infeksi pada compromized host : misalnya

pada penyakit diabetes

yang tidak terkontrol (intraorbital cellulitis,

meningoencephalitis, vascular thromosis). Juga

pada keadaan dimana daya tahan tubuh rendah,

penyakit khronis,leukemia, multiple Myeloma.

(23)
(24)
(25)

ASPERGILLUS

= Penyebab penyakit Aspergillosis (a.l.Pulmonary aspergillosis).

Beberapa species menghasilkan toksin (aflatoxin dalam

makanan) yang menghemolisa darah merah biri-biri.

= Kultur pada media Agar Sabouraud, koloni berwarna

putih seperti kapas dan lama lama warnanya menjadi

velvet dengan conidia berwarna hijau tua (A.fumigatus),

hitam (A.niger).

= Species lain : A.sydowi, A.flavus, A.glaucus. Dibawah mikroskop terlihat seperti bunga

(26)

ASPERGILLUS

Aspergillus fumigatus dapat

menyebaban Aspergillosis. Karena

infeksi oleh conidia jamur. Conidia yang

masuk tubuh membentuk hyphae dan

mycelium, terutama pada pasien yang

immunocompromise.

Aspergillus dapat menyebabkan

aspergilloma pada paru-paru dan

aspergilloma itu harus dikeluarkan

dengan bedah.

Conidia yang masuk ke telinga dapat

(27)

Aspergillus yang mengalami disseminasi,

bisa menyebab-kan penyumbatan

pembuluh darah, inflamasi pada jantung,

atau penyumbatan pembuluh darah

jantung.

Aspergillus flavus : menghasilkan aflatoxin

yang beracun. Aflatoxin dapat mencemari

makanan dan adalah carcino-genic,

khususnya pada liver (hati).

Daging yang tercemar jamur ini bisa

menghasilkan mycotoxin.

(28)

ASPERGILLUS :

= Penyebab penyakit Aspergillosis (a.l. Pulmonary aspergillosis). Beberapa species menghasilkan toksin (aflatoxin dalam makanan) yang menghemolisa darah merah biri-biri.

= Kultur pada media Agar Sabouraud, koloni berwarna putih seperti kapas dan lama lama warnanya menjadi velvet dengan conidia

berwarna hijau tua (A.fumigatus), hitam (A.niger). = Species lain : A.sydowi, A.flavus, A.glaucus.

(29)

PENICILLIUM :

= Kultur pada media Agar Sabouraud cepat tumbuh membentuk kolony berwarna putih seperti kapas dan kemudian berobah jadi hijua atau hijau kebiru-biruan, juga warna lainnya.

= Hyphae bersepeptum, phialides (bertingkat), susunan seperti jari/ sikat..

(30)

DERMATOMYCOSIS :

Dermatomycosis adalah nama untuk

penyakit jamur pada rambut, kulit

dan kuku yang disebabkan oleh

beberapa jamur seperti

Trichophyton, Epidermophyton dan

Microsporum yang disebut

dermatophytes..

Penyakit ini dikenal juga dengan

nama tinea (tinea dalam bahasa latin

berarti “worm”, karena dulu

(31)

DERMATOMYCOSIS :

= Pada rambut, kulit dan kuku disebabkan oleh jamur seperti Trichophyton, Epidermophyton dan Microsporum yang

disebut dermatophytes.

 Penyakit ini dikenal juga dengan nama tinea (tinea dalam

bahasa latin berarti “worm”, karena dulu disangka karena “worm” = cacing.

 Penyakit bisa menyerang beberapa tempat ditubuh dengan

nama penyakit yang berbeda beda seperti : • Tinea pedis = athlete foot

• Tinea capitis = ringworm di kepala • Tinea corporis : ringworm di tubuh

• Tinea cruris : ringworm pada selangkangan (sela paha = groin) menyebabkan gatal gatal (jock itch)

• Tinea unguium : ringworm di kuku

(32)

Microsporum

Ukurannya : 5-100 mm

Jumlah sel : 3-15 Dinding sel : tebal & kasar Macroconidia : sangat banyak

Trichophyton

Ukurannya : 3 - 8 mm Jumlah sel : 2-8

Dinding sel : tipis dan halus Makroconidia : jarang

Epidermophyton

Ukurannya : 20-50 mm Jumlah sel : 2-4

Dinding sel : tdk tebal dan halus Macroconidia : banyak

(33)

CANDIDA ALBICANS :

 Biasa sebagai flora normal di mulut, kerongkongan,

usus besar, vagina dan kulit. Sebagai kontaminan dari bahan pemeriksaan yang diambil dari daerah tersebut.

 Host yang daya tahan menurun, atau pemakaian AM yang

lama maka timbul infeksi compromized.

 Terlihat blastospora (blastoconidia) ukuran 2,5 kali 3-14

micron (psudohyphae).

 Kultur pada serum bisa memberikan pseudohyphae dan

chlamydospora (Germ tube test)

 Candidiasis bisa terjadi pada vulva-vagina : vulvoviginitis

dengan tanda tanda pruritus (gatal-gatal), rasa terbakar, terdapat discharge seperti keju (cheesy discharge), vulva berwarna merah membengkak.

 Cara diagnostic dengan memeriksa direct smear secret

(34)

Penggunaan antibitotika yang berlebihan dapat

memacu terjadinya candidiasis karena antibiotika

dapat meniadakan Lactobacilli didalam vagina

sehingga candida kehilangan competitorya.

Penggunaan kontraseptik IUD,

Pengobatan kortikosteroid,

Penyakit diabetes, kehamilan dan baju dalam yang

terlalu ketat yang mempertinggi suhu dan

kelembaban.

Oral candidiasis atau thrush yaitu dijumpai flek

putih pada selaput mucosa mulut dan timbl seperti

endapan susu kental didalam mulut dan bila di

(35)

Penyakit ini juga bisa pada bayi (neonatus) yang

terinfeksi sewaktu dijalan lahir.

Anak anak juga bisa terkena penyakit ini karena

perawatan yg tidak baik di klinik anak.

Candidiasis ada hubngannya juga dengan pasien

yang immunosupressed dan juga pada pasien AIDS

Candidiasis juga bisa pada saluran pencernaan

karena menggunakan antibiotika yg mematikan

mycroorganisme lain dalam perut

Pada kuku (onychia), dimana kuku menjadi keras,

(36)

Epidermophyton Mycrosporum

Trichophyton

Mucor mucedo Rhizopus oryzae

Penicillium Aspergillus sp.

(37)

Media kultur dan mikroskopis jamur

 Media jamur :

• Sabouroud Agar

• Potato Dextrose Agar • Cornmeal Agar

 Mikroskopis jamur :

• Struktur Jamur diperiksa secara mikroskopis dengan membuat preparat pada kaca objek

menggunakan KOH 10%, Lactophenol cotton blue. • Preparat langsung dari pasien (skraping kulit) atau

dari koloni (kultur).

(38)

Organisme Phylum (Divisi) Penyakit Transmisi penyakit

Cryptococcus neofromans Bassidiomycota Cryptococcosis Airborne cell

Candida albicans Deuteromycota Candidiasis Vaginitis Thrush, onychia Airborne Kontak seksual Skin contact Trichophyton sp. Microsporum sp. Epidermophyton sp. Ascomycota Ascomycota Deuteromycota Tnea pedis Tinea capitis Tinea corporis Kontak dengan fragmen hyphae

Histoplasma capsulatum Ascomycota Histoplasmosis Airborne

Blastomyces dermatitidis Ascomycota Blastomycosis Airborne atau luka terbuka

Coccidioides immitis Deuteromycota Coccidioidomycosis Airborne spore

Aspergillus fumigatus Ascomycota Aspergillosis Otomycosis

Airborne spore

Sporothrix schenkii Deuteromycota Sporothrixosis Spore

(39)

Penyakit Organ

(Yg terlibat)

Diagnosis Obat

Cryptococcosis Paru-paru

Spinal cord, Meningen

Pemeriksaan Cairan spinalis Amphotericin B Candidiasis Vaginitis Thrush, onychia Intestinum Vagina Kulit, mulut Pem. Urine Vaginal smear Swab kultur Nystatin Miconazole Keronazole Tnea pedis Tinea capitis Tinea corporis Kulit Kultur Pem. jaringan Undecylenic acid Griseofulvin Micnazole Itraconazole Histoplasmosis Paru-paru Berbagai organ Kultur Pem. jaringan Amphotericin B Blastomycosis Paru-paru Berbagai organ Kultur Pem. jaringan Amphotericin B

Coccidioidomycosis Paru-paru Kultur & Pem. jaringan Amphotericin B

Aspergillosis Otomycosis Paru-paru Telinga Kultur Pem. jaringan Amphotericin B Sporothricosis Kulit Pembuluhlymphe Kultur Pem. jaringan Amphotericin B Potassium iodide

(40)

Systemic & Oppertunistic mycoses

 Jamur sistemik : • Histoplasma capsulatum • Coccidioides immitis • Blastomyces dermatitides  Jamur Oppertunistic: • Candida albicans • Cryptococcus neoformans • Aspergillus sp • Mucor mucedo • Rhizopus oryzae • Pneumocystuc carinii • Penicillium marneffei

(41)

1. Histoplasma capsulatum

 Gambaran X-Ray mirip infeksi oleh Mycobact.

Tuberculosis, tetapi tuberculin tes (-)

 Berbeda dengan tbc paru :

• tuberculin tes (-)

• Jamur ini bisa menyebar melalui darah ke organ organ tubuh lain.

• Gejala klinis hampir tidak dikenal, subklinis, tapi infeksi bisa berat.

(42)

Diagnose Lab. Histoplasma

Pemeriksaan biopsi atau aspirasi sumsum

tulang dijumpai oval sel di

dalam macrophage.

(43)

Kultur pada Agar Sabouroud

Terlihat hypha

tuberculate

macroconidia

(44)

Diagnose serologi Histoplasma

Antigen Histoplasma dengan

radioimmunassay

DNA probe : Histoplasma RNA.

Antibodi dengan CF tes dan

Immunodiffusion, akan tetapi cross

reaction dengan Blastomyces.

Skin tes menggynakan histoplasmin

(45)

2. Coccidioides immitis

 Kultur pada Agar Sabouroud suhu 25o C menunjukkan hyphae,

spherule secara mikroskopik.

 Di paru-paru jamur ini membentuk arthrospora (30 micron),

dengan dinding tebal, dipenuhi oleh endospora. Bila dinding tebal pecah maka endospora keluar dan berdeferensiasi

(46)
(47)

COCCIDIODIDERS IMMITIS

 Jamur ini menghasilkan arthrospore serta

pembentukan spherule dan endospore.

 C.immitis menyebabkan penyakit menyerupai

penyakit influenza, dengan batuk kering, sakit dada dan demam tinggi.

 Jamur ini dipindahkan melalui debu yang

mengandung spora. Debu dari kandang hewan sapi, kambing dan binatang lainnya

menyebabkan ineksi airborne karena tertiup angina.

 Spherule dapat dijumpai didalam sputum dan

dari biopsy jaringan pasien.

 Penyakit dapat sembuh sendiri atau dapat

(48)

Coccidioides immitis

 Kultur sangat menular jika terhirup (hati2).  Skin tes dilakukan pada tersangka infeksi

dengan exstrak jamur tsb (coccidioidin /

spherulin), terjadi indurasi ditempat suntikan 5mm setelah 48 jam suntikan pada pasien

dengan infeksi 2 – 4 minggu hingga bertahun2.

 Tes serologi : IgM dan IgG presipitin pada

infeksi 2 – 4 minggu

 CF antibodi titer rendah, tapi resing titer bila

(49)

Blastomyces dermatitidis

 Infeksi ini jarang dijumpai

 Jamur ini bisa dijumpai di tanah.

 Dimorphic fungi, hidup pada suhu kamar

membentuk mold dan pada suhu tubuh membentuk yeast like cell bulat dengan dinding reflactive dan broad base bud.

 Infeksi terbanyak melalui airborne, terhirup kedalam

pari-paru.

 Infeksi mild – asymptomatis

 Desiminasi membentuk infeksi granulomatous pada

(50)

Blastomyces dermatitidis

Pemeriksaan Laboratorium :

• Speismen biopsi jaringan

• Dijumpai yeastcell dinding tebal dengan bud dinding tebal pada pemeriksaan mikroscopis. • Hypha dengan conidia dengan pear shape bisa

diperoleh dari kultur

Skin tes tidak spesifik.

(51)
(52)

Hypha dengan conidia dengan pear shape bisa diperoleh dari kultur

Dijumpai yeastcell dinding tebal dengan bud dinding tebal

(53)

4. CRYPTOCOCCUS NEOFORMANS

 Menyebabkan penyakit yang berbahaya pada manusia yaitu

Cryptococcosis, yang mengenai paru-paru dan selaput meningen (selaput meningen otak dan sumsum tulang belakang) dan

menyebabkan 25% kematian oleh penyakit jamur ini.

 Jamur ini terdapat pada tanah (soil di daerah pinggiran kota dan

pada kotoran merpati dan burung lain. Menyebabkan penyakit

disebabkan airborn, debu mengandung jamur tersebut dan terhirup kedalam saluran pernapasan. Filter AC disangka bisa merupakan infeksi airborn Cryptococcus neoformans.

 Sel jamur ini mempunyai diameter 5-6 micron yang dibungkus oleh

kapsul gelatin yang resisten terhadap phagositosis.

 Sel sel jamur ini memaski kantung udara paru-paru dan memasuki

saluran darah sehingga mencapai selaput otak (meningens).

 Walaupun demikian gejala penyakit jarang dijumpai tetapi kalau

sudah mencapai selaput otak bisa terjadi sakit kepala, kaku kuduk dan paralysis (kelumpuhan).

(54)

Diagnose :

 Dengan melihat yeast sel dalam

sputum atau di dalam cairan serebrospinalis.

 Penyakit Cryptococcosis, yang tidak

diobati bisa berakibat fatal

 Obat antifungal seperti Amphotericin

B intravenous bisa berhasil pada kasus yang berat. Akan tetapi obat ini sangat toksik (kerusakan ginjal, anemia).

 Penyakit ini semakin berat bila daya

tahan tubuh orang tersebut merendah misalnya pada AIDS dank arena itu menyebabkan kematian pasien

(55)

SPOROTHRIX SCHENKII :

 Jamur ini menyebabkan penyakit sporothricosis, yang

menmbulkan pengerasan pengerasan pada kulit (knot) dimana jamur itu masuk, misalnya tertusuk duri

bunga ros, karena itu disebut rose thorn disease.

 Penyakit oleh jamur ini yang mengalami diseminasi,

walau jarang, timbul pembengkakan pembengkakan (edema) akibat dari tersumbatnya pembuluh darah

pada jaringan. Pernah terjadi cutaneous sporothricosis pada pekerja lading di Pennsylvabia (1988).

 Cutaneus sporothricosis bisa diobati dengan

potassium iodide, tetapi penyakit systemic diobati dengan Amphotericin B,.

(56)
(57)

MDP – 8

30 – 11 – 2009

&

MDP - 10

4-11-2009 Jam 10 – 11 = RK 3.05 Jam 11 – 12 = AULA

References

Related documents