MEKANISME DASAR PENYAKIT INFEKSI
MDP - 6
Fungal Infection or mycosis
Fungal Pathogenicity
student.ccbcmd.edu/courses/bio141/.../fungi/funpath.html
Virulence factors that promote fungal colonization of
the host include the ability to:
1. contact host cells;
2. adhere to host cells and resist physical removal; 3. invade host cells;
4. compete for nutrients;
5. resist innate immune defenses such as phagocytosis and complement; and
Factors that promote fungal colonization
Faktor predisposisi yg penting a.l. jika terjadi
immunocompromized.
Kesanggupan jamur melekatkan diri ke sel host
dengan adhesin dari dinding jamur merupakan peran penting jamur jadi virulen.
Beberapa jamur menghasilkan kapsul yang dapat
menghalanginya dari kegiatan phagosit
(Cryptococcus neoformans dan Histoplasma
Factors that promote fungal colonization
contonued.
Candida albicans merangsang dihasilkannya cytokine dan cytokine
menekan produksi komplemen dari monocyte dan macrophage,
sehingga mengurangi produksi opsonin C3b dan protein komplemen lain yang bekerja untuk menggalakkan phagocytosis.
Beberapa jamur (fungi) resisten terhadap phagositosis a.l. Candida
albicans, Histoplasma capsulatum, and Coccidioides immitis.
Ada bukti bahwa bentuk yeast Candida masuk ke dalam darah dan
mengaktipkan gene yg memungkinkannya berobah menjadi budding form dan hyphal form. Sebagai tambahan jika dipagosit oleh
macrophage, maka Candida memproduksi bentuk “tubular germ tubes” yg mematikan macrophage.
Factors that promote fungal colonization :
contonued.
Cryptococcus neoformans menghalangi (inhibits)
produksi cytokinee TNF-alpha dan IL 12 dan produksi IL-10.
TNF dan IL-12 mengaktipkan macrophages, sedang IL-10
menekan aktivasi macrophage. Akibatnya macrophages
tidak aktip. Padahal aktivasi Macrophage diperlukan
untuk mematikan mikroba yang telah di phagositnya.
Faktor2 suhu tubuh, stress, dan hormon2 manusia mengaktipkan
regulasi enzyme histidine kinase dari dimorphik mold dari jamur spt
Histoplasma capsulatum, Blastomyces dermatitidis, and Coccidioides immitis, agar merobahnya menjadi bentuk mold form yang avirulent.
(yeast form adalah bentuk yg virulent). Selain itu juga merangsang yeast Candida albicans dari yeast form menjadi hyphal form yang lebih virulent lagi.
Faktor virulensi jamur merusak jaringan Host
Bila terjadi infeksi jamur, jamur menghasilkan enzyme
yg menyernag sel sel jaringan tubuh. (protease, phospholypase dan elastase). Akibatnya tubuh
menghasilkan cytokine, timbul respons inflamasi dan timbul proses phagositosis, serta terjadilah destruksi jaringan tubuh host.
Kebanyakan jamur jenis mold menghasilkan mycotoxin,
terutama jika tumbuh pada biji-bijian (kacang). Toksin ini menyebabkan berbagai efek bagi host, koordinasi otot terganggu, berat badan turun, tremor. Sebagian
mycotoxin mutagenik dan carcinogenik.
Aflatoxins, diproduksi oleh species Aspergillus dan
carcinogenik. Mycotoxin menyebabkan gejala
dermatitis, inflamasi membran mucosa, menyebabkan batuk, demam, sakit kepala dan keletihan.
Mycosis pada manusia
Infeksi jamur atau mycosis diklasifikasi atas dasar jaringan yang
diserangnya dan cara masuknya. Biasanya menyebabkan infeksi yang khronis karena pertumbuhan jamur pelahan (slowly) :
• Superficial - localised to the skin, the hair, and the nails. • Cutaneous
• Subcutaneous - infection confined to the dermis, subcutaneous tissue or adjacent structures.
• Systemic - deep infections of the internal organs.
• Opportunistic - cause infection only in the immunocompromised.
Orang yang sehat jarang diserang jamur. Akan tetapi jika daya
tahan tubuh rendah (immunocompromised host) maka timbul infeksi jamur, bisa ringan seperti candidiasis atau dermatophyt, bisa jadi infeksi oleh jamur nonpathogenik dan menyebabkan penyakit yg potensial jadi fatal.
Jamur Superfisial
Jamur superfisial bisa menyerang akar rambut
dan bagian luar sel epidermis. Terutama pada
daerah lembab seperti pada iklim tropis.
Taenia versicolor atau panau yang
menimbulkan bercak2 putih atau kecoklatan
pada kulit lengan, dada, punggung.
Penyebabnya Pityossporum orbiculare
Cutaneous mycoses
Cutaneous mycoses – menyerang lebih dalam hingga
ke epidermis, juga infeksi invasip rambut dan kuku.
Penyakit ini menyerang lapisan keratin kulit, rambut
dan kuku.
Berbeda dari superfisial mycosis, timbul respons
imun dari host, timbul perobahan patologik dari bagian kulit lebih dalam.
Jamur penyebab Dermatophytes (Microsporum,
Trichophyton, dan Epidermophyton fungi).
Penyakitnya disebut ringworm, kurap/kadas atau taenia. (Taenia cruris, T.unguium, T.barbae, T. corporis, T. capitis)
Subcutaneous mycoses
Subcutaneous mycoses – menyerang dermis,
jaringan subcutaneous, otot dan fascia.
Infeksi ini khronis dan menyebabkan trauma
kulit sehingga jamur bisa semakin masuk lebih dalam.
Infeksi ini sukar untuk diobati dan terkadang
perlu tindakan pembedahan (debridement)
Jamur penyebab : Sporotrix schenckii,
Cladosporium, Phialophora, Fonseceae, Madurella (penyebab Mycetoma)
Systemic mycoses
Systemic mycoses oleh primer diparu paru dan
menyebar ke organ organ tubuh lain secara sistemis melalui darah.
Biasanya jamur jenis ini dimorphic (tumbuh pada
suhu tubuh menghasilkan yeast dan tumbul di subu kamar membentuk mold.
Systemic mycoses yg disebabkan jamur oppertunis
pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah (immune deficiencies).
Contoh :kondisi immunocompromised pada AIDS,
penggunaan antibiotika berlebihan, immunesuprisive (obat kanker), metastatic cancer. Jamur ini
Pertumbuhan jamur :
Kebanyakan fungi tumbuh dengan baik pada suhu 25oC
(suhu kamar). Jamur yang patogen bisa hidup pada suhu tubuh (37oC) membentuk yeastlike (yeastlike phase) dan suhu kamar (25oC) tumbuh seperti mold (moldlike phase). Disebut biphasic (two phase) atau dimorphic (two form).
Jamur jamur tertentu ada yg bisa tumbuh pada suhu rendah
5oC di dalam lemari es (refrigerator). Kebanyakan jamur tumbuh subur pada keadaan asam (pH 5-6). Jadi jamur
dapat mengkontaminasi makanan yang asam (buahan asam, yogurt dan kebanyakan sayuran). Misalnya keju dan roti
yang asam menyuburkan pertumbuhan jamur.
Jamur tumbuh dalam keadaan aerob, kecuali beberapa yeast
yang tumbuh fakultatip anaerob. Biasanya keberadaan
kosentrasi gula yg tinggi merangsang pertumbuhan jamur. (Sabouraud Dextrose Agar & Potato Dextrose Agar).
REPRODUKSI JAMUR :
Aseksual spore : Asexual process
Aseksual spora yang dihasilkan pada hyphae. Setiap spora akan
berkembang menjadi hypha-hypha yang baru sehingga menjadi banyak (hyphae) yang disebut mycelium.
Asexual spore ini bisa terdapat didalam sebuah kantung (sac) yang
disebut sporangium yang dihasilkan oleh struktur yang disebut sporangiophore dan sporanya disebut sporangiospore.
Spora lain tanpa kantung disebut conidospore (conidia) yang
dihasilkan oleh struktur yang disebut conidiophore.
Sebagian bentuk reproduksi yang asexual tdak berkembang menjadi
bagian yang membentuk spore misalnya fragmentasi hypha seperti arthrospore. Sebagian membentuk budding, dan blastospore atau bud (Yeast biasanya berkembang biak dengan cara budding).
Chlamydospore (oidia) bentuk lain dari asexual spore yang
mempunyai dinding tebal, dimana chlamyospore terbentuk disepanjang hypha sedangkan oidia terbentuk diujung hypha. Misalnya pada Aspergyllus niger.
Sexual Process :
Disini terjadi fusing (penggabungan) dua sel
jamur. Dua sel jamur mendekat dan menggabung (fuse) diikuti dengan penggabungan nucleusnya sehingga
chromosome kedua jamur juga bersatu sehinga terkadang dijumpai 2 set
chromosome (diploid).
Biasanya separuh chromosome menggabung
(haploid) dan menghasilkan spora.
Penggabungan 2 paruh chromosome itu membentuk jamur baru dengan sifat dari
kedua jamur induk, sehingga kalau ada jamur yg resisten terhadap obat jamur (gungiside) yang dibawa oleh satu induk jamur akan
menghasilkan jamur anak-an yg resisten pula.
Klasifikasi Jamur :
Identifikasi jamur berdasarkan pengamatan morfologi
koloni dengan kaca pembesar atau dengan mikroskop koloni.
Struktur jamur diamati dengan mikroskop cahaya
biasa dengan pembesaran 100 atau 400 kali
Pemeriksaan sediaan langsung :
Bahan dari pasien diletakkan pada kaca objek bersih dan ditetesi dengan KOH 10-20% dan panaskan sedikit diatas nyala api (mengurangi gelembung udara) atau dengan Lactophenol cotton blue.
Kultur jamur dilakukan pada Agar Sabouraud Glucose (40
gm Glucose + 10 gm peptone + 20 gm Agar dalam 1 liter air). Konsentrasi glucose tinggi menghambat pertumbuhan bakteri.
Antibiotika (Chloramphenicol 0,005%) atau
antiseptik seperti cyclohexamine 0,04% bisa ditambah tetapi bisa menghambat jamur patogen tertentu.
1. Spora jamur :
- sporangium dan sporangiosphore - blastospore = budding
- sporangiophore bercabang/tidak - arthrospore = segmented hyphae
- columella : bulat/collapsed cylendrical atau bulat
- Conidia : - Macroconidia - chlamydospore = diujung hypha
- Microconidia membulat, dinding tebal
Macroconidia :
- ukurannya : 5 s/d 100 micron - bentuk : ujung tumpul, ujung berkait,
- Jumlah sel : multicellulair ( 2 s/d 15) membengkok, tergantung species - dinding : kasar, tebal
Microconidia :
- bentuk : bulat, bentuk lain
2. Hyphae :
- septate atau nonseptate (coenocytic) - pseudohyphae
- aerial hyphae/mycelium – vegetatip mycelium - foot sel
- stolon / runner / rhizoid
- Conidiophore bercabang atau tidak 3. Phialides bentuk botol
Struktur Jamur
Hypha (mycelium) • Hypha berseptum • Hypha nonspetum • Pseudohypha Spora : • Arthrospora • Blastospora • Chlamydospora • Sporangiospora • Basidiospora • Macroconidia • Microconidia (sporangiospora)Dimorphic Fungi dan Oppertunistik Fungi
Aspergillus fumigatus
JAMUR KONTAMINAN :
Jamur kontaminan banyak
terdapat disekitar kita dan
mengganggu kultur yang sedang
dilaksanakan.
Jamur kontaminan a.l :
1. Mucor dan Rhizopus : mempunyai
sporagium
2. Aspergillus dan Penicillium : tanpa
sporagium
MUCOR DAN RHIZOPUS :
Kedua genus ini bisa menimbulkan penyakit
Mucormycosis. Infeksi biasa pada jaringan otak,
paru-paru dan organ lain. Jika infeksi pada jaringan
otak bisa berakibat fatal.
Hyphae atau myceliumnya lebar dan tebal tidak
berseptum(coenocytic).
Infeksi pada compromized host : misalnya
pada penyakit diabetes
yang tidak terkontrol (intraorbital cellulitis,
meningoencephalitis, vascular thromosis). Juga
pada keadaan dimana daya tahan tubuh rendah,
penyakit khronis,leukemia, multiple Myeloma.
ASPERGILLUS
= Penyebab penyakit Aspergillosis (a.l.Pulmonary aspergillosis).
Beberapa species menghasilkan toksin (aflatoxin dalam
makanan) yang menghemolisa darah merah biri-biri.
= Kultur pada media Agar Sabouraud, koloni berwarna
putih seperti kapas dan lama lama warnanya menjadi
velvet dengan conidia berwarna hijau tua (A.fumigatus),
hitam (A.niger).
= Species lain : A.sydowi, A.flavus, A.glaucus. Dibawah mikroskop terlihat seperti bunga
ASPERGILLUS
Aspergillus fumigatus dapat
menyebaban Aspergillosis. Karena
infeksi oleh conidia jamur. Conidia yang
masuk tubuh membentuk hyphae dan
mycelium, terutama pada pasien yang
immunocompromise.
Aspergillus dapat menyebabkan
aspergilloma pada paru-paru dan
aspergilloma itu harus dikeluarkan
dengan bedah.
Conidia yang masuk ke telinga dapat
Aspergillus yang mengalami disseminasi,
bisa menyebab-kan penyumbatan
pembuluh darah, inflamasi pada jantung,
atau penyumbatan pembuluh darah
jantung.
Aspergillus flavus : menghasilkan aflatoxin
yang beracun. Aflatoxin dapat mencemari
makanan dan adalah carcino-genic,
khususnya pada liver (hati).
Daging yang tercemar jamur ini bisa
menghasilkan mycotoxin.
ASPERGILLUS :
= Penyebab penyakit Aspergillosis (a.l. Pulmonary aspergillosis). Beberapa species menghasilkan toksin (aflatoxin dalam makanan) yang menghemolisa darah merah biri-biri.
= Kultur pada media Agar Sabouraud, koloni berwarna putih seperti kapas dan lama lama warnanya menjadi velvet dengan conidia
berwarna hijau tua (A.fumigatus), hitam (A.niger). = Species lain : A.sydowi, A.flavus, A.glaucus.
PENICILLIUM :
= Kultur pada media Agar Sabouraud cepat tumbuh membentuk kolony berwarna putih seperti kapas dan kemudian berobah jadi hijua atau hijau kebiru-biruan, juga warna lainnya.
= Hyphae bersepeptum, phialides (bertingkat), susunan seperti jari/ sikat..
DERMATOMYCOSIS :
Dermatomycosis adalah nama untuk
penyakit jamur pada rambut, kulit
dan kuku yang disebabkan oleh
beberapa jamur seperti
Trichophyton, Epidermophyton dan
Microsporum yang disebut
dermatophytes..
Penyakit ini dikenal juga dengan
nama tinea (tinea dalam bahasa latin
berarti “worm”, karena dulu
DERMATOMYCOSIS :
= Pada rambut, kulit dan kuku disebabkan oleh jamur seperti Trichophyton, Epidermophyton dan Microsporum yang
disebut dermatophytes.
Penyakit ini dikenal juga dengan nama tinea (tinea dalam
bahasa latin berarti “worm”, karena dulu disangka karena “worm” = cacing.
Penyakit bisa menyerang beberapa tempat ditubuh dengan
nama penyakit yang berbeda beda seperti : • Tinea pedis = athlete foot
• Tinea capitis = ringworm di kepala • Tinea corporis : ringworm di tubuh
• Tinea cruris : ringworm pada selangkangan (sela paha = groin) menyebabkan gatal gatal (jock itch)
• Tinea unguium : ringworm di kuku
Microsporum
Ukurannya : 5-100 mm
Jumlah sel : 3-15 Dinding sel : tebal & kasar Macroconidia : sangat banyak
Trichophyton
Ukurannya : 3 - 8 mm Jumlah sel : 2-8
Dinding sel : tipis dan halus Makroconidia : jarang
Epidermophyton
Ukurannya : 20-50 mm Jumlah sel : 2-4
Dinding sel : tdk tebal dan halus Macroconidia : banyak
CANDIDA ALBICANS :
Biasa sebagai flora normal di mulut, kerongkongan,
usus besar, vagina dan kulit. Sebagai kontaminan dari bahan pemeriksaan yang diambil dari daerah tersebut.
Host yang daya tahan menurun, atau pemakaian AM yang
lama maka timbul infeksi compromized.
Terlihat blastospora (blastoconidia) ukuran 2,5 kali 3-14
micron (psudohyphae).
Kultur pada serum bisa memberikan pseudohyphae dan
chlamydospora (Germ tube test)
Candidiasis bisa terjadi pada vulva-vagina : vulvoviginitis
dengan tanda tanda pruritus (gatal-gatal), rasa terbakar, terdapat discharge seperti keju (cheesy discharge), vulva berwarna merah membengkak.
Cara diagnostic dengan memeriksa direct smear secret
Penggunaan antibitotika yang berlebihan dapat
memacu terjadinya candidiasis karena antibiotika
dapat meniadakan Lactobacilli didalam vagina
sehingga candida kehilangan competitorya.
Penggunaan kontraseptik IUD,
Pengobatan kortikosteroid,
Penyakit diabetes, kehamilan dan baju dalam yang
terlalu ketat yang mempertinggi suhu dan
kelembaban.
Oral candidiasis atau thrush yaitu dijumpai flek
putih pada selaput mucosa mulut dan timbl seperti
endapan susu kental didalam mulut dan bila di
Penyakit ini juga bisa pada bayi (neonatus) yang
terinfeksi sewaktu dijalan lahir.
Anak anak juga bisa terkena penyakit ini karena
perawatan yg tidak baik di klinik anak.
Candidiasis ada hubngannya juga dengan pasien
yang immunosupressed dan juga pada pasien AIDS
Candidiasis juga bisa pada saluran pencernaan
karena menggunakan antibiotika yg mematikan
mycroorganisme lain dalam perut
Pada kuku (onychia), dimana kuku menjadi keras,
Epidermophyton Mycrosporum
Trichophyton
Mucor mucedo Rhizopus oryzae
Penicillium Aspergillus sp.
Media kultur dan mikroskopis jamur
Media jamur :
• Sabouroud Agar
• Potato Dextrose Agar • Cornmeal Agar
Mikroskopis jamur :
• Struktur Jamur diperiksa secara mikroskopis dengan membuat preparat pada kaca objek
menggunakan KOH 10%, Lactophenol cotton blue. • Preparat langsung dari pasien (skraping kulit) atau
dari koloni (kultur).
Organisme Phylum (Divisi) Penyakit Transmisi penyakit
Cryptococcus neofromans Bassidiomycota Cryptococcosis Airborne cell
Candida albicans Deuteromycota Candidiasis Vaginitis Thrush, onychia Airborne Kontak seksual Skin contact Trichophyton sp. Microsporum sp. Epidermophyton sp. Ascomycota Ascomycota Deuteromycota Tnea pedis Tinea capitis Tinea corporis Kontak dengan fragmen hyphae
Histoplasma capsulatum Ascomycota Histoplasmosis Airborne
Blastomyces dermatitidis Ascomycota Blastomycosis Airborne atau luka terbuka
Coccidioides immitis Deuteromycota Coccidioidomycosis Airborne spore
Aspergillus fumigatus Ascomycota Aspergillosis Otomycosis
Airborne spore
Sporothrix schenkii Deuteromycota Sporothrixosis Spore
Penyakit Organ
(Yg terlibat)
Diagnosis Obat
Cryptococcosis Paru-paru
Spinal cord, Meningen
Pemeriksaan Cairan spinalis Amphotericin B Candidiasis Vaginitis Thrush, onychia Intestinum Vagina Kulit, mulut Pem. Urine Vaginal smear Swab kultur Nystatin Miconazole Keronazole Tnea pedis Tinea capitis Tinea corporis Kulit Kultur Pem. jaringan Undecylenic acid Griseofulvin Micnazole Itraconazole Histoplasmosis Paru-paru Berbagai organ Kultur Pem. jaringan Amphotericin B Blastomycosis Paru-paru Berbagai organ Kultur Pem. jaringan Amphotericin B
Coccidioidomycosis Paru-paru Kultur & Pem. jaringan Amphotericin B
Aspergillosis Otomycosis Paru-paru Telinga Kultur Pem. jaringan Amphotericin B Sporothricosis Kulit Pembuluhlymphe Kultur Pem. jaringan Amphotericin B Potassium iodide
Systemic & Oppertunistic mycoses
Jamur sistemik : • Histoplasma capsulatum • Coccidioides immitis • Blastomyces dermatitides Jamur Oppertunistic: • Candida albicans • Cryptococcus neoformans • Aspergillus sp • Mucor mucedo • Rhizopus oryzae • Pneumocystuc carinii • Penicillium marneffei1. Histoplasma capsulatum
Gambaran X-Ray mirip infeksi oleh Mycobact.
Tuberculosis, tetapi tuberculin tes (-)
Berbeda dengan tbc paru :
• tuberculin tes (-)
• Jamur ini bisa menyebar melalui darah ke organ organ tubuh lain.
• Gejala klinis hampir tidak dikenal, subklinis, tapi infeksi bisa berat.
Diagnose Lab. Histoplasma
Pemeriksaan biopsi atau aspirasi sumsum
tulang dijumpai oval sel di
dalam macrophage.
Kultur pada Agar Sabouroud
Terlihat hypha
tuberculate
macroconidia
Diagnose serologi Histoplasma
Antigen Histoplasma dengan
radioimmunassay
DNA probe : Histoplasma RNA.
Antibodi dengan CF tes dan
Immunodiffusion, akan tetapi cross
reaction dengan Blastomyces.
Skin tes menggynakan histoplasmin
2. Coccidioides immitis
Kultur pada Agar Sabouroud suhu 25o C menunjukkan hyphae,
spherule secara mikroskopik.
Di paru-paru jamur ini membentuk arthrospora (30 micron),
dengan dinding tebal, dipenuhi oleh endospora. Bila dinding tebal pecah maka endospora keluar dan berdeferensiasi
COCCIDIODIDERS IMMITIS
Jamur ini menghasilkan arthrospore serta
pembentukan spherule dan endospore.
C.immitis menyebabkan penyakit menyerupai
penyakit influenza, dengan batuk kering, sakit dada dan demam tinggi.
Jamur ini dipindahkan melalui debu yang
mengandung spora. Debu dari kandang hewan sapi, kambing dan binatang lainnya
menyebabkan ineksi airborne karena tertiup angina.
Spherule dapat dijumpai didalam sputum dan
dari biopsy jaringan pasien.
Penyakit dapat sembuh sendiri atau dapat
Coccidioides immitis
Kultur sangat menular jika terhirup (hati2). Skin tes dilakukan pada tersangka infeksi
dengan exstrak jamur tsb (coccidioidin /
spherulin), terjadi indurasi ditempat suntikan 5mm setelah 48 jam suntikan pada pasien
dengan infeksi 2 – 4 minggu hingga bertahun2.
Tes serologi : IgM dan IgG presipitin pada
infeksi 2 – 4 minggu
CF antibodi titer rendah, tapi resing titer bila
Blastomyces dermatitidis
Infeksi ini jarang dijumpai
Jamur ini bisa dijumpai di tanah.
Dimorphic fungi, hidup pada suhu kamar
membentuk mold dan pada suhu tubuh membentuk yeast like cell bulat dengan dinding reflactive dan broad base bud.
Infeksi terbanyak melalui airborne, terhirup kedalam
pari-paru.
Infeksi mild – asymptomatis
Desiminasi membentuk infeksi granulomatous pada
Blastomyces dermatitidis
Pemeriksaan Laboratorium :
• Speismen biopsi jaringan
• Dijumpai yeastcell dinding tebal dengan bud dinding tebal pada pemeriksaan mikroscopis. • Hypha dengan conidia dengan pear shape bisa
diperoleh dari kultur
Skin tes tidak spesifik.
Hypha dengan conidia dengan pear shape bisa diperoleh dari kultur
Dijumpai yeastcell dinding tebal dengan bud dinding tebal
4. CRYPTOCOCCUS NEOFORMANS
Menyebabkan penyakit yang berbahaya pada manusia yaitu
Cryptococcosis, yang mengenai paru-paru dan selaput meningen (selaput meningen otak dan sumsum tulang belakang) dan
menyebabkan 25% kematian oleh penyakit jamur ini.
Jamur ini terdapat pada tanah (soil di daerah pinggiran kota dan
pada kotoran merpati dan burung lain. Menyebabkan penyakit
disebabkan airborn, debu mengandung jamur tersebut dan terhirup kedalam saluran pernapasan. Filter AC disangka bisa merupakan infeksi airborn Cryptococcus neoformans.
Sel jamur ini mempunyai diameter 5-6 micron yang dibungkus oleh
kapsul gelatin yang resisten terhadap phagositosis.
Sel sel jamur ini memaski kantung udara paru-paru dan memasuki
saluran darah sehingga mencapai selaput otak (meningens).
Walaupun demikian gejala penyakit jarang dijumpai tetapi kalau
sudah mencapai selaput otak bisa terjadi sakit kepala, kaku kuduk dan paralysis (kelumpuhan).
Diagnose :
Dengan melihat yeast sel dalam
sputum atau di dalam cairan serebrospinalis.
Penyakit Cryptococcosis, yang tidak
diobati bisa berakibat fatal
Obat antifungal seperti Amphotericin
B intravenous bisa berhasil pada kasus yang berat. Akan tetapi obat ini sangat toksik (kerusakan ginjal, anemia).
Penyakit ini semakin berat bila daya
tahan tubuh orang tersebut merendah misalnya pada AIDS dank arena itu menyebabkan kematian pasien
SPOROTHRIX SCHENKII :
Jamur ini menyebabkan penyakit sporothricosis, yang
menmbulkan pengerasan pengerasan pada kulit (knot) dimana jamur itu masuk, misalnya tertusuk duri
bunga ros, karena itu disebut rose thorn disease.
Penyakit oleh jamur ini yang mengalami diseminasi,
walau jarang, timbul pembengkakan pembengkakan (edema) akibat dari tersumbatnya pembuluh darah
pada jaringan. Pernah terjadi cutaneous sporothricosis pada pekerja lading di Pennsylvabia (1988).
Cutaneus sporothricosis bisa diobati dengan
potassium iodide, tetapi penyakit systemic diobati dengan Amphotericin B,.