• No results found

metode valuasi saham

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Share "metode valuasi saham"

Copied!
20
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

BAB BAB IIII Eksplorasi

Eksplorasi IsuIsu BisnisBisnis

2.1

2.1 PrinsipPrinsip daridari ManajemenManajemen KeuanganKeuangan PerusahaanPerusahaan

Dalam

Dalam  buku buku CorporateCorporate FinanceFinance , , AswathAswath DamodaranDamodaran menetapkanmenetapkan  bahwa bahwa setiapsetiap disiplin

disiplin ilmuilmu memilikimemiliki prinsipprinsip‐‐prinsipprinsip utama.utama. DisiplinDisiplin ilmuilmu ManajemenManajemen Keuangan

Keuangan PerusahaanPerusahaan ((CorporateCorporate FinanceFinance)) dibangundibangun atasatas tigatiga prinsipprinsip utamautama yaitu:

yaitu: prinsipprinsip investasiinvestasi ((InvestmentInvestment PrinciplePrinciple),), prinsipprinsip pendanaanpendanaan ((FinancingFinancing Principle

Principle)) dandan prinsipprinsip dividendividen ((DividendDividend PrinciplePrinciple).).

““TheThe Investment Investment  Principle:Principle: TheThe InvestmentInvestment  principle principle statesstates simplysimply thatthat  firms

 firms shouldshould investinvest inin assetasset onlyonly whenwhen theythey areare expectedexpected toto earnearn aa returnreturn  greater

 greater thanthan aa minimumminimum acceptableacceptable return.return. ThisThis minimumminimum return,return, whichwhich wewe term

term aa hurdlehurdle rate,rate, shouldshould reflectreflect whetherwhether thethe moneymoney isis raisedraised  from from debtdebt oror equity,

equity, andand whatwhat returnsreturns thosethose investinginvesting thethe moneymoney couldcould havehave mademade elsewhere

elsewhere onon similarsimilar investments.investments.

The

The Financing  Financing Principle:Principle: TheThe financing financing  principle principle posits posits thatthat thethe mixmix of of debtdebt and

and equityequity chosenchosen toto  finance finance investmentsinvestments shouldshould maximizemaximize thethe valuevalue of of  thethe investments

investments made.made. InIn thethe contextcontext of of  hurdlehurdle raterate specifiedspecified inin thethe investmentinvestment  principle,

 principle, choosingchoosing aa mixmix of of  debtdebt andand equityequity thatthat minimizeminimize thisthis hurdlehurdle raterate allows

allows thethe  firm firm toto taketake moremore newnew investmentsinvestments andand increaseincrease thethe valuevalue of of  existing

existing investments.investments.

The

The DividendDividend Principle:Principle: FirmsFirms sometimessometimes cannotcannot  find find investmentinvestment thatthat earnearn their

their minimumminimum requiredrequired returnreturn oror hurdlehurdle rate.rate. If If  thisthis shortfallshortfall  persists, persists,  firms firms have

have toto returnreturn anyany cashcash theythey generate generate toto thethe owners”owners” (2001:(2001: 4)4)

Dari

Dari ketigaketiga prinsipprinsip didi atas,atas, tujuantujuan utamautama yangyang akanakan dicapaidicapai adalahadalah memaksimalkan

memaksimalkan nilainilai perusahaanperusahaan ((FirmFirm ValueValue)) yangyang padapada akhirnyaakhirnya akanakan memberikan

(2)

2.2

2.2 KebijakanKebijakan DividenDividen (Dividend(Dividend Policy)Policy)

Berapa

Berapa  jumlah jumlah dandan kapankapan dividendividen akanakan dibayarkandibayarkan kepadakepada pemilikpemilik sahamsaham menjadi

menjadi keputusankeputusan pihakpihak manajemenmanajemen perusahaan,perusahaan, selanjutnyaselanjutnya keputusankeputusan iniini akan

akan dibawadibawa keke dalamdalam RapatRapat UmumUmum PemegangPemegang SahamSaham (RUPS)(RUPS) untukuntuk disahkan.disahkan. Kemungkinan

Kemungkinan keputusankeputusan iniini  berubah berubah akanakan tergantungtergantung padapada hasilhasil RUPSRUPS ini.ini. Performansi

Performansi daridari kinerjakinerja keuangankeuangan perusahaanperusahaan periodeperiode sebelumnyasebelumnya sertaserta pandangan

pandangan terhadapterhadap prospekprospek perusahaanperusahaan didi masamasa yangyang akanakan datangdatang menjadimenjadi pertimbangan

pertimbangan utamautama dalamdalam pengambilanpengambilan keputusankeputusan dividendividen ini.ini.

2.2.1

2.2.1 Prosedur Prosedur PembayaranPembayaran KasKas DividenDividen

Ada

Ada  beberapa beberapa tahapantahapan utamautama dalamdalam prosesproses pembayaranpembayaran dividen,dividen, mulaimulai saatsaat diumumkannya

diumumkannya keputusankeputusan pemberianpemberian dividendividen sampaisampai padapada saatsaat pembayaranpembayaran dividen

dividen kepadakepada parapara pemegangpemegang saham.saham.

• TanggalTanggal deklarasideklarasi dividendividen ((DeclarationDeclaration DateDate)) yaituyaitu tanggaltanggal dimanadimana

perusahaan

perusahaan mengumumkanmengumumkan  jumlah jumlah dividendividen yangyang akanakan dibayarkandibayarkan kepada

kepada setiapsetiap lembarlembar saham.saham.

• ExEx DividendDividend DateDate , , yaituyaitu tanggaltanggal terakhirterakhir dimanadimana pemodalpemodal ((investorinvestor)) dapatdapat

membeli

membeli sahamsaham yangyang akanakan mendapatmendapat dividendividen dalamdalam periodeperiode tersebut.tersebut.

• TanggalTanggal PendataanPendataan PemegangPemegang SahamSaham ((DateDate of of  RecordRecord),), tanggaltanggal terakhirterakhir

perusahaan

perusahaan mendatamendata pemegangpemegang sahamsaham yangyang akanakan mendapatkanmendapatkan dividen.

dividen.

• TanggalTanggal PembayaranPembayaran ((PaymentPayment DateDate),), adalahadalah tanggaltanggal dimanadimana dividendividen

dibayarkan

dibayarkan kepadakepada parapara pemegangpemegang saham.saham.

Dalam

(3)

Gambar 2.1 Proses Pembayaran Dividen

2.3 Analisa Kebijakan Dividen

Dividen adalah suatu bentuk pengembalian laba perusahaan dalam bentuk kas, diputuskan oleh manajemen perusahaan dan didistribusikan kepada para pemegang saham. Dalam terminologi lainnya, dividen merupakan porsi keuntungan yang menjadi hak pemegang saham, diberikan sebagai  bentuk  bagian kepemilikan perusahaan. Dilihat dari hak sebagai investor, dividen merupakan satu cara  bagi pemegang saham untuk mendapatkan keuntungan dari saham yang mereka miliki tanpa menghilangkan hak kepemilikannya terhadap perusahaan.

Seperti dikatakan dalam konsep Corporate Finance , semua kebijakan yang diambil oleh perusahaan  baik kebijakan investasi, pendanaan dan dividen ditujukan untuk memaksimalkan nilai perusahaan (maximizing  firm value) dan memaksimalkan kesejahteraan para pemegang saham (maximizing shareholders wealth). Dalam hal kebijakan dividen, tujuan yang ingin dicapai  bukanlah hanya untuk memberikan keuntungan perusahaan kepada pemegang saham, tetapi  juga harus memperhatikan kepentingan perusahaan untuk masa yang akan datang. Apakah kebijakan yang diambil menciptakan value  bagi perusahaan (create value) atau malah menghancurkannya (destroy value).

(4)

Untuk dapat mengukur apakah perusahaan dalam hal ini TELKOM telah menetapkan kebijakan dividen sesuai dengan konsep tersebut, diperlukan suatu analisa kebijakan dividen. Metode yang digunakan untuk menganalisa adalah dengan pendekatan arus kas (Cash Flow). Melalui metode ini dapat diidentifikasi apakah Telkom terlalu  berlebihan dalam memberikan dividen atau sebaliknya. Selanjutnya melalui analisa hubungan kebijakan dividen dengan struktur modal (capital structure) dapat dikaji alternatif pengembalian kas kepada pemegang saham seperti pembelian kembali saham perusahaan (share buyback) dan bagaimana dampaknya terhadap firm value.

Kerangka dari pendekatan metode ini dapat dijelaskan dalam model  berikut ini:

(5)

22

 Anali sa Kebi jakan Di vid en dengan Menggun akan Pendekat an Ali ran Kas

Penghitungan Free Cash Flow Perusahaan

Free Cash Flow to Equity (FCFE) = Free Cash Flow - Interest Expense + Interest Tax Shield + Increase in Debt

 Ass esment terhad ap Inves tasi atau Project Perusahaan

Beberapa metode yang dapat digunakan:

Cash Flow Return on Investment (CFROI), mengukur IRR dari project dan dibandingkan dengan Cost of Capital perusahaan.

 Acco unt ing Return dif ferent ials , menguk ur ROE peru sahaan dibandingkan denganCost of Capital  perusahaan.

Economic Value Added, mengukur ‘excess return’ yang didapat dari investasi yang dilakukan berdasarkan equity atau capital basis.

Evaluasi terhadap kebijakan dividen perusahaan Increase Payout Reduce Investment Flexibility to accumulate cash Cut Payout Invest in Project Cut Payout Reduce Investment

Bad Investments Good investments

Cash Returned < FCFE

Cash Returned > FCFE

Economic Value Added  Anali sa hub ungan an tara

kebijakan dividen (Dividend Policy ) dengan kebijakan pendanaan (Financing Policy )  Analisa hubungan antara kebijakan dividen (Dividend Policy) dengan kebijakan pendanaan (Financing Policy/ Capital Structure Policy)

Peer Company Company Comparison

 Alternative pengembalian kas (Cash Return) kepada pemegang saham untuk mengelola struktur modal perusahaan (Capital Management)

MAXIMIZING FIRM VALUE

(6)

2.3.1 Pendekatan  Arus Kas dalam Menganalisa Kebijakan Dividen

Melalui pendekatan arus kas (Cash Flow  Approach), kita dapat menganalisa  bagaimana suatu perusahaan mengembalikan kas (Cash Returning) kepada para pemegang sahamnya, apakah terlalu  berlebihan atau malah sebaliknya. Dalam  bukunya Corporate Finance , Aswath Damodaran menetapkan ada 4 (empat)

tahapan yang harus dilakukan di dalam pendekatan ini:

“A Cash Flow Approach to Analyzing Dividend Policy:

Step 1: Measuring Cash Available to be Returned to Stockholders Step 2: Assessing Project Quality

Step 3: Evaluating Dividend Policy

Step 4: Interaction between Dividend Policy and Financing Policy” (2001: 689 – 704)

Tahap 1 – Penghitungan Free Cash Flow to Equity (FCFE)

Langkah pertama yang dilakukan dalam analisa kebijakan dividen dengan menggunakan pendekatan arus kas ini adalah dengan menghitung  jumlah kas yang tersedia yang dapat dibayarkan kepada pemegang saham (FCFE). FCFE merupakan kas yang tersedia dari Arus Kas Bebas untuk Perusahaan (Free Cash Flow to  firm (FCFF)) setelah dikurangi oleh  biaya  bunga (Interest Expense) dan ditambahkan oleh keuntungan pajak akibat  bunga (Interest Tax Shield) serta peningkatan jumlah hutang (Increase in Debt).

(7)

Formulasi yang digunakan untuk mengetahui FCFE Telkom adalah sebagai  berikut:

Free Cash Flow to Firm - Interest Expense + Interest Tax Shield + Increase in Debt

= Free Cash Flow to Equity

Untuk mendapatkan FCFF, langkah pertama adalah dengan menghitung Keuntungan Operasi Bersih Setelah Pajak (Net Operating Profit  After Tax (NOPAT)) dimana merepresentasikan keuntungan perusahaan sebelum  bunga dan setelah pajak.

Formulasi untuk menghitung NOPAT adalah sebagai berikut:

NOPAT = EBIT x (1 – T) Dimana T = Besaran pajak Perusahaan

Untuk dapat mengkonversi NOPAT menjadi Arus kas Operasi (Operating Cash Flow (OCF)) maka depresiasi ditambahkan kepada NOPAT tersebut.

OCF = NOPAT + Depresiasi

Setelah OCF dikurangi oleh Belanja Modal (Capital Expenditure) perusahaan dan perubahan pada Modal Kerja (Change in Working Capital), didapatlah Free Cash Flow (FCF) dari perusahaan (FCFF)

(8)

Setelah FCFF dikurangi oleh Interest Expense serta ditambahkan dengan Interest Tax Shield dan Increase in Debt maka didapatlah FCFE yang merupakan arus kas tersedia yang dapat dibayarkan sebagai dividen.

Dari data perusahaan tahun 2001 hingga tahun 2006, perhitungan FCFE Telkom dapat disajikan dalam beberapa tabel berikut ini:

2001 2002 2003 2004 2005 2006 Telkom   1,874.20   2,078.30   3,933.80   3,715.60   3,367.80 2,200.00 Telkom Subsidiaries

Telkomsel   2,964.00   4,531.00   5,348.80   4,982.70  10,085.70 12,400.00 Dayamitra   30.20   40.60   109.50 50.40 - n/a Infomedia Nusantara   -   25.90   44.60   63.00 37.90 n/a Pramindo Ikat Nusantara   -   109.40   37.40   1.70 29.40 n/a Indonusa Telemedia   -   2.60   0.80   1.40 8.90 n/a Graha Sarana Duta   -   0.80   17.00   3.70 2.40 n/a Pro Infokom Indonesia -   -   0.60 0.60 - n/a

Metra -   -   6.10   0.90 19.30 n/a

 Ariawest -   -   0.20   0.10 1.10 n/a

Napsindo -   -   53.80   0.30 0.50 n/a

TOTAL Telkom Consolidated   4,868.40   6,788.60   9,552.60   8,820.40  13,553.00 14,600.00 Year Ended December 31.

RP. (Milyar)

Tabel 2.1 Belanja Mod al Telkom 2001 – 2006 Sumber: Telkom - Laporan Keuangan 2004, 2005 dan Info Memo 2006

(9)

26

Piutang Inventory Non Cash Current Liabilities Working Capital

2000 1,756   157   3,319 (1,720) 2001 2,641   191   7,500 (5,050) 2002 3,005   140   7,079 (4,214) 2003 3,003   154   7,688 (4,839) 2004 3,375   203   8,244 (5,072) 2005 3,731   220   11,112 (7,601) 2006 3,865   213   15,169 (11,517)

Non Cash Working Capital (Rp. Milyar)

Tabel 2.2 Modal Kerja Non Kas 2001 - 2006 Sumber: Telkom - Laporan Keuangan 2004, 2005 dan 2006

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Pinjaman penerusan - pihak yang mempunyai

hubungan istimewa  8,853.00  8,637.00  7,734.00  6,859.00  5,363.00  4,760.00 4,007.00 Wesel bayar dan hutang obligasi -   -  2,314.00  2,102.00  2,331.00 1,457.00 -Hutang Akuisisi Bisnis   -   261.00  1,619.00   747.00  3,743.00  3,128.00 3,537.00

Hutang bank   -   73.00   85.00  2,116.00  1,776.00  1,752.00 2,488.00

Hutang Jangka Panjang Yg Jatuh Tempo Dlm 1 Thn  2,043.00  2,629.00  3,482.00  3,403.00  2,401.00 5,363.00

Hutang Sewa guna Usaha - - -   -   236.00 217.00

Total Hutang  8,853.00  11,014.00  14,381.00  15,306.00  16,616.00  13,734.00 15,612.00 Hutang Baru Dikeluarkan (Hutang Baru - Hutang

Dibayar)  2,161.00   3,367.00   925.00   1,310.00  (2,882.00) 1,878.00

Data Hutang Telkom (Rp. Milyar)

Tabel 2.3 Hutang Dikel uarkanTelkom 2001 - 2006 Sumber: Telkom - Laporan Keuangan 2004, 2005 dan 2006

(10)

27

EBIT Tax Depresiasi OCF CAPEX Change in WC FCFF Interest Expense Interest Tax Shield Increase in Debt FCFE 2001   7,420 30.64%   2,870   8,016   4,868   (3,330)  6,478   1,330   407.53   2,161.00 7,716.55 2002   9,130 24.67%   3,474   10,351 6,789   836  2,727   1,583   390.60   3,367.00 4,901.22 2003   11,976 33.71%   4,779   12,717   9,553   (625)  3,790   1,383   466.27   925.00 3,798.01 2004   14,588 32.77%   6,438   16,245   8,820   (233)  7,658   1,270   416.19   1,310.00 8,114.13 2005   17,171 31.92%   7,571   19,261   13,553   (2,529)  8,237   1,177   375.67   (2,882.00) 4,554.15 2006   21,594 32.01%   9,178   23,860   14,600   (3,916)  13,176   1,286   411.63   1,878.00 14,179.67 Catatan: Dalam satuan Rp. Milyar kecuali Nilai Prosentase

FCFE TELKOM

Tabel 2.4 Perhitun gan FCFE Telkom 2001 – 2006

Tahun FCFE Rasio Pembayaran(%) Cash Dividend % Dividend to FCFE

2001   7,717 52.24%   2,125 27.5% 2002   4,901 41.52%   3,338 68.1% 2003   3,798 50.00%   3,044 80.1% 2004   8,114 46.33%   3,065 37.8% 2005   4,554 55.04%   4,400 96.6% 2006   14,180 59.97%   6,600 46.5% Rata-rata   7,211 50.8%   3,762 59.5%

TELKOM FCFE dan Dividend

(11)

Setelah melakukan perhitungan FCFE, dapat dilakukan perhitungan rasio pembayaran dividen (Dividend Payout Ratio), yang menunjukkan proporsi dividen yang direalisasikan untuk dibayarkan oleh manajemen Telkom terhadap laba perusahaan. Selanjutnya pendekatan arus kas ini akan membandingkan antara pembayaran kas (Cash Payout) oleh perusahaan kepada para pemegang saham (dividen ataupun share buyback) dengan FCFE seperti pada Tabel 2.5. Earnings Dividends youtRatio DividendPa = FCFE Buyback Share Dividends Ratio FCFE to rs Stockholde to Cash = +

Rasio dari Cash Payout terhadap FCFE menunjukkan  berapa kas yang dibayarkan untuk dibayarkan sebagai dividen ataupun untuk share buyback terhadap FCFE perusahaan.  Jika rasio tersebut melebihi 1 (satu),  berarti Telkom memberikan keuntungan kas melebihi kemampuan yang dimilikinya. Apabila lebih kecil dari 1 (satu), maka Telkom memberikan sebagian kemampuan yang dimiliki untuk dibayarkan.

Dari tabel perhitungan rasio dividen di atas, dapat dilihat  bahwa selama 6 (enam) tahun sejak tahun 2001 hingga tahun 2006, Telkom mengalokasikan rata‐rata 50.8% dari  bagian laba yang diperoleh untuk diserahkan sebagai dividen. Dari perhitungan tersebut  juga dapat dianalisa  bahwa Telkom menerapkan kebijakan rasio pembayaran yang cenderung tetap ( fixed‐ payout ratio) dalam pemberian dividen yang berada dalam kisaran angka 40% ‐ 50%an. Secara  besaran kas,  jumlah tersebut tentu akan  berubah tergantung pada laba yang diperoleh Telkom.

(12)

Rata‐rata rasio  besaran dividen terhadap FCFE dalam kurun waktu tersebut adalah sebesar 59.5%. Hal ini menunjukkan  bahwa dalam kurun waktu tersebut, secara rata‐rata pembayaran dividen Telkom kepada pemegang sahamnya masih  berada di  bawah kemampuan Telkom dalam membayar dividen (FCFE).

Dari kondisi di atas, terdapat beberapa analisa mengapa Telkom membayarkan dividennya jauh di bawah kemampuan yang dimiliki:

• Pihak manajemen Telkom  berusaha untuk mengelola sebagian kas yang

dimiliki untuk masa yang akan datang. Kondisi persaingan yang ketat dalam  bisnis telekomunikasi di Indonesia saat ini mengharuskan manajemen untuk mengantisipasi kejadian yang akan datang. Pada kondisi dimana  bisnis perusahaan sedang stagnan ataupun menurun, Telkom masih memiliki cadangan kas untuk digunakan dalam keperluan bisnis perusahaan.

• Telkom memilih untuk memegang sebagian kas yang dimiliki sebagai

antisipasi untuk pembiayaan investasi dan kebutuhan perusahaan lainnya untuk masa yang akan datang.

• Dengan menganut kebijakan  fixed‐ payout ratio dalam pembayaran

dividen, Telkom harus dapat mengantisipasi kondisi ketidakpastian perusahaan dalam pencapaian laba untuk tetap memelihara tingkat pembayaran dividen untuk masa yang akan data. Keputusan untuk memegang sebagian kas merupakan salah satu antisipasi hal tersebut.

(13)

Tahap 2 – Mengukur Performansi Proyek Investasi (Assessing Project Quality)

Alternatif lain untuk mengembalikan kas kepada pemegang saham adalah dengan menginvestasikan kembali keuntungan yang diperoleh perusahaaan. Konsekuensinya, keputusan untuk melakukan reinvestasi akan mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan. Investasi yang  baik tentu akan memberikan keuntungan terhadap perusahaan di masa yang akan datang. Hal ini secara otomatis tentu akan memberikan hal yang positif  bagi pemegang saham  baik dari sisi dividen yang akan datang ataupun porsi kepemilikan yang meningkat akibat pertumbuhan perusahaan.

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur performansi proyek investasi antara lain:

‐ Cash Flow Return on Investment (CFROI). Pendekatan ini menghitung tingkat pengembalian suku  bunga (Internal Rate of  Return (IRR)) dari investasi yang dilakukan berdasarkan arus kas yang dihasilkan serta sisa umur dari investasi. Selanjutnya IRR tersebut akan dibandingkan dengan biaya modal perusahaan (Cost of Capital).

‐  Accounting Return Differentials. Pendekatan ini membandingkan

pengembalian ekuitas akuntansi (Return on Equity (ROE)) terhadap biaya ekuitas (Cost of  Equity) serta pengembalian modal akuntansi (Return on Capital (ROC)) terhadap Cost of Capital perusahaan.

‐ Economic Value  Added (EVA). Pendekatan ini menghitung kelebihan pengembalian (excess return) dari modal yang diinvestasikan. Metode penghitungan dapat melalui dua pendekatan yaitu  berdasarkan ekuitas (equity basis) ataupun modal (capital basis).

(14)

Dari ketiga pendekatan di atas, yang akan digunakan untuk mengukur performansi proyek investasi di Telkom adalah pendekatan Economic Value  Added (EVA).

Ben McClure dalam artikel “All about EVA” di situs www.investopedia.com mengatakan EVA merupakan suatu pengukuran ataupun metrik performansi yang menghitung penciptaan nilai (value)  bagi pemegang saham. EVA membedakan dirinya dengan metode pengukuran accounting biasa seperti laba  bersih (Net Profit) ataupun keuntungan per lembar saham (Earning  per Share (EPS)). EVA menghitung  berapa keuntungan yang diperoleh setelah keuntungan operasi (Operating Profit) dikurangi oleh Cost of Capital perusahaan.

Dalam perhitungannya, EVA dapat dihitung dengan persamaan sebagai  berikut: ital) (WACC)(Cap -NOPAT EVA= Taxes Operating Cash -Taxes before Profit Operating  Adjusted NOPAT=

EVA dianggap sebagai pengukuran performansi yang lebih  baik karena  beberapa hal berikut ini:

• EVA memberikan pendekatan melalui faktor‐faktor yang mempengaruhi

proses penciptaan nilai (value creation) yaitu cash flows dan risiko.

• EVA secara jelas menjelaskan apakah dalam setiap tahunnya perusahaan

menciptakan value atau bahkan sebaliknya (destroy value).

• Manajemen perusahaan dapat meningkatkatkan nilai EVA perusahaan

dengan meningkatkan pendapatan dan laba perusahaan serta

(15)

Pengukuran performansi proyek investasi di Telkom dengan menggunakan pendekatan EVA disajikan dalam tabel perhitungan berikut ini:

Account 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Cash Operating Taxes

Income Tax Expense   2,007   2,899   3,861   4,178   5,184 7,040 Change on Deferred Taxes   114 1,265   464   (619) (536) 273 Tax Benefit from Interest Expense 407 391 466 417 375 412 Tax Benefit from Operating Lease - - 156 249 277 152 Taxes on Non-Operating Income - 647 - - - 128 Cash Operating Taxes   2,300   2,672   4,019   5,463   6,373 7,459 Income Tax Rate 30.60% 24.70% 33.70% 32.80% 31.90% 32.01% Adjusted Operating Profit

Operating Income   7,420   9,130   11,976   14,588   17,171 21,594 Implied Interest on Operating Lease - - 463 759 869 475  Adjusted Operating Profit   7,420   9,130   12,439   15,347   18,040 22,069 NOPAT   5,120   6,458   8,420   9,885   11,667 14,610 Capital

Net Operating Assets (2,243)   839   (2,228)   (2,473)   (3,208) (6,615) Net Property, Plant and Equipment   23,344   28,826   35,080   40,071   46,193 55,233 Other Assets   2,392   4,934   6,261   6,904   5,673 5,982 Present Value of Operating Leases - - 431   505   1,816 1,383 Capital   23,493   34,599   39,544   45,007   50,474 55,983

WACC 13.91% 13.96% 14.75% 14.75% 14.97% 14.84%

EVA   1,852   1,629   2,586   3,245   4,114 6,305 Perhitungan EVA Telkom (Rp. Milyar)

Tabel 2.7 Perhitung an EVA Telkom 2001 – 2006

Berdasarkan perhitungan EVA di atas, dapat disimpulkan  bahwa sejak tahun 2001 hingga tahun 2006 Telkom selalu menciptakan nilai atas investasi yang telah dilaksanakan oleh perusahaan. Terus meningkatnya Keuntungan Operasi Bersih Setelah Pajak (NOPAT) dari tahun ke tahun menjadi pendorong utama Telkom terus memperoleh peningkatan penciptaan nilai (value creation). Pendapatan operasi (Operating Income) memberikan kontribusi yang sangat  besar dalam peningkatan NOPAT ini, sehingga dapat diambil kesimpulan

(16)

 bahwa setiap tahun  binis inti Telkom terus membukukan pertumbuhan yang menciptakan value bagi perusahaan.

Tahap 3 – Evaluasi Kebijakan Dividen

Setelah kita menghitung kemampuan Telkom dalam membayar dividen dan mengukur performansi dari proyek investasinya, dapat diputuskan apakah sebaiknya Telkom melanjutkan kebijakan dividen yang diadopsi saat ini, apakah sebaiknya menambah  jumlah kas yang diberikan kepada para pemegang sahamnya atau malah menguranginya. Terdapat 4 (empat) kemungkinan skenario dalam evaluasi ini:

Gambar 2.3 Matriks Kuadran Evaluasi Kebijakan Dividen

• Perusahaan memiliki investasi yang  baik (EVA positif) dan

mengembalikan keuntungan kas kepada pemegang saham melebihi FCFE nya.

• Perusahaan memiliki investasi yang  baik (EVA positif) dan

(17)

• Perusahaan memiliki investasi yang  buruk (EVA negatif) dan

mengembalikan keuntungan kas kepada pemegang saham melebihi FCFE nya

• Perusahaan memiliki investasi yang  buruk (EVA negatif) dan

mengembalikan keuntungan kas kepada pemegang saham kurang dari FCFE nya.

Berdasarkan hasil perhitungan FCFE dan EVA, Telkom termasuk kelompok perusahaan yang memiliki investasi  bagus (EVA Positif) dan mengembalikan keuntungan kas dalam  bentuk dividen di  bawah kemampuan FCFE nya. Dari kondisi tersebut dapat diambil beberapa analisa berikut ini:

• Investasi Telkom menghasilkan hal yang positif dan memberikan

keuntungan kepada perusahaan. Keputusan perusahaan untuk tidak menggunakan seluruh kemampuan atau kapasitas FCFE nya  bagi pembayaran dividen dan menggunakannya untuk pembiayaan investasi  bagi pertumbuhan dan keuntungan perusahaan di masa yang akan

datang adalah keputusan yang tepat.

• Keputusan untuk tidak membayarkan semua kapasitas FCFE Telkom

tidak mendapatkan respon negatif dari pemegang saham karena sisa kapasitas tersebut digunakan sebagai pembiayaan investasi dan cadangan kas untuk dapat menjalankan bisnis perusahaan di masa yang akan datang.

• Kebijakan dividen yang diambil oleh Telkom tidak hanya

mempertimbangkan kesejahteraan  bagi pemegang sahamnya untuk  jangka pendek tetapi  juga memperhatikan proses penciptaan nilai

(18)

Tahap 4 – Hubungan antara Kebijakan Dividen dengan Kebijakan Pendanaan (Capital Structure)

Analisa dari kebijakan dividen akan lebih komprehensif  jika dikaitkan dengan kebijakan struktur modal perusahaan. Kondisi struktur modal Telkom dalam periode akhir Desember 2006 akan menjadi pertimbangan kebijakan dividen yang akan datang terkait dengan struktur modal perusahaan.

Untuk dapat melihat potret dan posisi struktur modal Telkom akhir tahun 2006, perbandingan atau komparasi dengan perusahaan telekomunikasi lain dapat dijadikan sebagai acuan posisi struktur modal Telkom di akhir tahun 2006.

Tabel  berikut ini menggambarkan perbandingan posisi modal Telkom  berupa hutang dan ekuitas (Debt dan Equity) dengan  beberapa perusahaan telekomunikasi lainnya:

Short Name Debt to Equity Mean

Telecom NZ 249% 85% Excelcomindo 120% 85% Telstra 107% 85% Indosat 75% 85% Bharti India 57% 85% SKTelecom 32% 85% SingTel 37% 85% Telekom Malaysia 60% 85% Telkom Indonesia 56% 85% China Telecom 62% 85%

Tabel 2.8 Perbandi ngan Debt to Equity tahun 2006 Sumber: Laporan Keuangan Perusahaan Telekomunikasi

(19)

0% 50% 100% 150% 200% 250% 300%    T  e    l  e  c  o   m    N    Z    E  x  c   e    l  c  o  m    i  n    d  o    T  e    l  s    t  r  a    I  n    d  o  s   a    t    B    h  a  r    t    i    I  n    d    i  a    S    K    T  e    l  e  c  o   m    S    i  n  g    T  e    l    T  e    l  e    k  o  m    M  a    l  a  y  s    i  a    T  e    l    k  o  m    I  n    d  o  n   e   s    i  a    C    h    i  n  a    T  e    l  e  c  o   m Debt to Equity Mean

Gambar 2.4 Grafik Perbandi ngan Debt to Equit y tahun 2006

Dari perbandingan Rasio Debt to Equity Telkom dengan perusahaan telekomunikasi lainnya, dapat dilihat  bahwa rasio Debt to Equity Telkom sebesar 56% masih di  bawah rata‐rata perusahaan telekomunikasi lainnya sebesar 85%.

Melihat kondisi tersebut, dapat disimpulkan  bahwa hingga akhir tahun 2006 kondisi Telkom merupakan kondisi perusahaan dengan hutang yang relatif rendah (Underlevered Firm). Kondisi ini memberikan keleluasan  bagi Telkom untuk meningkatkan ‘leverage’ perusahaan dengan mengeluarkan hutang  baru. Kucuran dana yang  berasal dari hutang  baru dapat digunakan untuk investasi yang menguntungkan untuk masa yang akan datang, menciptakan value  bagi perusahaan dan pada akhirnya dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Terkait dengan kebijakan dividen perusahaan, Telkom dapat melanjutkan kebijakan dividen reguler yang sudah ada. Untuk dapat lebih meningkatkan nilai perusahaan dan nilai  bagi pemegang saham, Telkom dapat memberikan

(20)

keuntungan kas kepada pemegang sahamnya dengan alternatif lain pemberian keuntungan kas seperti memberikan dividen khusus (Special Dividen) atau dengan melakukan pembelian kembali saham perusahaan (Share Buyback). Kedua hal tersebut merupakan alternatif yang dapat diambil oleh Telkom dalam pengembalian keuntungan kepada pemegang saham.

References

Related documents

Building on the aforementioned research on anonymity and social presence, we postulate that if out-group members remain anonymous during computer-mediated

NS SERVICE NOT COVERED WHEN OBTAINED FROM A PROVIDER NON PAR IN MHS NETWORK NT DENY:PROVIDER NOT CONTRACTED FOR THIS SERVICE-DO NOT BILL PATIENT NV DENY:

According to the companies investigated that offer a sabbatical leave program, this benefit offers highly sought after time away from work for top performing employees at the

A graduate and former Student Body President of California State University Long Beach, Christy has served as the Day One Executive Director since 2007, sharing her hands on

region in order to ensure improvement of the heritage sites. This study demonstrated that religious tourists seem to be the largest group of visitors to the Madinah

Compositional analysis of monomeric sugars in carbohydrate fractions of 10 African angiosperms has been carried out using acid hydrolysis and high performance

With this respect, the current study aimed to investigate the prevalence of thermophilic Campylobacter species isolated from raw meat chicken samples and their genetic

Growth was pro- poor in the weak absolute and the relative sense both for income and non-income indicators, whereas we find anti-poor growth in the strong. absolute sense for income