Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia i
STANDAR PELAYANAN PROFESI
DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA
“Honesty, Courage, Modesty”
EDITOR
Prof. Dr. IDG. Sukardja, dr SpB (K) Onk Prof. Dr. Bambang Purnomo SH
Prof. Dr. Dr. med. Paul Tahalele SpB, SpBTKV Martopo Marnadi, dr SpB
Urip Murtedjo, dr SpB (K) KL. PGD Pall Med (ECU)
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia ii STANDAR PELAYANAN PROFESI
DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA
EDISI I 2002 (Revisi 2003)
EDITOR
Prof. Dr. IDG. Sukardja, dr SpB (K) Onk Prof. Dr. Bambang Purnomo SH
Prof. Dr. Dr. med. Paul Tahalele SpB, SpBTKV Martopo Marnadi, dr SpB
Urip Murtedjo, dr SpB (K) KL. PGD Pall Med (ECU)
Disusun dan Diterbitkan Oleh
PABI
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia iii KATA PENGANTAR
Persatuan Dokler Spesialis Bedah Umum Indonesia (PABI) sebagai organisasi profesi dokter bidang pembedahan secara mandiri dengan penuh tanggung jawab menyusun dan menerbitkan buku Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia bagi para anggotanya.
Standar Pelayanan Profesi ini disusun melalui kesepakatan dan kajian menyeluruh pelayanan medis bedah di Indonesia oleh para Dokter Spesialis Bedah Umum maupun para Dokter Konsultan Bedah Digestif, Bedah Anak. Bedah Onkologi, Bedah Kepala dan Leher. Bedah Toraks Kardiovaskular. Bedah Vascular, Bedah Ortopedi, Urologi, Bedah Plastik, Bedah Saraf. yang mempunyai itikat baik atas dasar kesejawatan. saling menghormati dan bekerjasama menuju masa depan penjagaan mutu serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan.
Dokter Spesialis Bedah Umum dalam melaksanakan kegiatan keahliannya dan atau kewenangannya sesuai dengan substansi yang tercantum didalam Piagam Atlantik 1942, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa 1945, Deklarasi Hak Asasi Manusia Se Dunia 1948 dan UU Kesehatan No. 23 tahun 1992, wajib hukumnya untuk mematuhi standar pelayanan profesi. Dasar kewenangan ini tertulis didalam katalog Program Studi Ilmu Bedah 1997.
Standar- pelayanan profesi ini merupakan pedoman atau acuan bagi para Dokter Spesialis Bedah Umum didalam menjalankan profesinya dengan tujuan menjaga mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat serta melindungi Dokter Spesialis Bedah Umum didalam menjalankan profesinya.
Wewenang untuk menentukan jenis pelayanan didalam suatu kegiatan profesi merupakan tanggung-jawab profesi itu sendiri, maka telah disusun standar pelayanan profesi oleh Tim Penyusun buku ini dari PABI. Pedoman atau acuan yang terdapat di dalam buku ini dapat dipakai secara Nasional, baik oleh rumah sakit pemerintah maupun swasta.
Tim penyusun menghimbau kepada seluruh dokter spesialis di lingkungan bidang pembedahan untuk saling menghormati dan menghargai kesamaan-kesamaan kompetensi. Disamping itu, menyadari atas keterbatasan kemampuan masing-masing hendaknya kita saling membutuhkan dan saling mendukung satu terhadap yang lain demi kepentingan kelancaran pelayanan kesehatan dan keselamatan penderita.
Tim penyusun sadar bahwa isi buku ini belum sempurna, belum lengkap dan masih banyak kelemahan-kelemahan yang perlu diperbaiki, sehingga akan ditinjau kembali dan disempurnakan secara berkala sesuai perkembangan ilmu dan teknologi.
10 Juli 2002 Tim penyusun.
DAFTAR ISI
Buku Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia Edisi I 2002 ini telah mengalami revisi 2003 atas saran dan bantuan serta koreksi dari : Prof. Soelarso Reksoprodjo, MD. FICS Tjakra Wibawa Manuaba, dr. SpB (K) Onk, MPH, Sunarto Reksoprawito, dr SpB(K) KL, Yoga Wijayahadi, dr. Sp.B, J. Iswanto, dr. SpB (K) Dig.
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia iv DAFTAR ISI
PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
SAMBUTAN KETUA UMUM PABI ... viii
SAMBUTAN KETUA KOLEGIUM ILMU BEDAH INDONESIA ... x
SAMBUTAN UMUM PP IKABI ... xi
SAMBUTAN KETUA UMUM PB IDI ... xii
SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT PABI TENTANG TIM PENYUSUN DAN PENASEHAT SPPDSBUI ... xiii
SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT PABI TENTANG PEMBERLAKUAN PELAKSANAAN SPPDSBUI ... xiv
PENDAHULUAN ... xv
TIM PENYUSUN ... xvi
POLA PEMBAHASAN ... xvii
SKEMA WEWENANG & TINDAKAN DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM ... xix TOPIK PEMBAHASAN :
I. BEDAH DIGESTIF ICD
1. TRAUMA TAJAM ABDOMEN S.27.8, S.32, S.35. S.36, S.37
2. TRAUMA TUMPUL ABDOMEN S.27.8, S.32, S.35. S.36, S.37
3. CEDERA LIMPA S.36.0 4. TRAUMA HEPAR S.36,1 5. KARSINOMA REKTI C. 19 –C 20 6. KARSINOMA LAMBUNG C16 7. KARSINOMA KOLON C18 8. KARSINOMA PANKREAS C25
9. RADANG GRANULOMATIK USUS K 50 – K 51
10. HERBUA INGUINALIS LATRALIS / MEDALIS K 40 – I 41
11. APENDISITIS K 35 – K 37 12. KHOLELITHIASIS K 80 13. KOLESTASIS (SURGIKAL) K 83 14. HEMOROID I 84 15. FISTULA PERIANAL K 60 16. PERITONITIS UMUM K 65
II. BEDAH ANAK
1. ATRESIA ESOFAGUS DAN MALFORMASI Q 39.0
TRAKEO ESOFAGUS
2. STENOSIS PILORIK HIPERTROFIK Q 40.0
3. ATRESIA DAN STENOSIS DUODENUM Q 41
4. ATRESIA DAN STENOSIS YEYUNO –ILEAL Q 41
5. HERNIA DIAFRAGMATIKA KONGETAL Q 79.0
6. OMFALOKEL Q 79.2
7. GASTROSKISIS Q 79.3
8. GRANULOMA / FISTULA UMBILIKALIS Q 79.5
9. HIRSCHPRUNG’S DISEASE Q 43.1
10. INTUSSUSEPSI K 56.1
11. MALFORMASI –ANUREKTAL Q 42
12. INVAGINASI USUS K 56.1
13. NECROTIZING ENTREROCOLITIS P. 77
III. BEDAH ONKOLOGI ICD
1. TUMOR JINAK TULANG D 16
1 5 9 10 12 14 15 16 17 18 19 21 22 23 24 25 28 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 43
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia v
2. TUMOR JIKA KULIT DAN
NON NEOPLASTIK KULIT D 23
3. TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK DAN TUMOR NON NEOPLASTIK JARINGAN
LUNAK D 17 & D 21
4. TUMOR JINAK GENETALIA LAKI & TUMOR NON NEOPLASMA
GENETALIA LAKI D 29 5. TERATOMA 6. KANKER PEDIATRI C 64, C79.4, C22.0 C 22.2 7. LIMFOMA MALIGNA C81 S/D C85 8. LIMFADENOPATI R59 9. KANKER TULANG C40-C41 10. KANGKER TESTIS C 62
11. KANKER RONGGA MULUT COO –C 06
12. KANKER PENIS C60
13. KANKER PAYUDARA C50
14. TUMOR JINAK PAYUDARA D24
15. DISPLASIA PAYUDARA & TUMOR
NON NEOPLASMA PAYUDARA LAINNYA N60 – N 64
16. KANKER ANUS C21
17. KANKER KULIT C43-C44
18. KANKER JARINGAN LUNAK C49
19. KANKER GINJAL C64
20. TIMOR JINAK UROLOGI &
TUMOR NON NEOPLASMA UROLOGI D30
IV. BEDAH KEPALA LEHER ICD
1. FRAKTUR MANDIBULA S02.6
2. FRAKTUR MAKSILA S02.4
3. FRAKTUR ZIGOMA S02.4
4. TRAUMA JARINGAN LUNAK WAJAH S00, S01, S07
5. FRAKTUR NASAL S02.2
6. KARSINOMA TIROID C73
7. STRUMA E04, E05, E06
8. PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING
K DAN L C77.0
9. TUMOR PAROTIS C07
10. AMELOBLASTOMA D16.5
11. HIGROMA KOLI D18.1
12. RANULA K11.6
13. TUMOR JINAK RONGGA MULUT D 10.3
14. TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK KEPALA DAN LEHER
15. KISTA BRANCHIOGENIK Q18.0
16. KANGKER RONGGA MULUT C00 – C06
17. KISTA ODONTOGENIK K09.0
18. FLEGMON DASAR MULUT K12.2
19. ABSES MAKSILOFASIAL L02.0
20. KISTA DUKTUS TIROGLOSUS Q89.2
V. BEDAH TORAKS – KARDIOVASKULAR ICD
1. PATAH TULANG IGA S22.3,4
44 47 50 53 55 57 59 61 62 64 66 69 71 73 75 77 79 81 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 105
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia vi
2. LUKA TUSUK DINDING TORAKS S21-29
3. FLAIL CHEST S22.5
4. PNUMOTORAKS S27.0
5. HEMATOTORAKS S27.1
6. TAMPONADE ANTUNG S26.0
7. EMBOLI ARTERI AKUT I74
8. DEEP CEIN THROMBOSIS (DVT) I80.2
9. PIOTORAKS (EMPIEMA TORAKS) J86.9
10. VARICES TUNGKAI I83
11. GANGREN DIABETIK E10-E14.5
12. BUERGER IS DISEASE ATAU PENYAKIT ARTERI PERIFER OKLUSI (PAPO)
13. AV SHUNT ATAU AFISTULA ARTERI
VENOSA T 14.5
VI. BEDAH UROLOGI ICD
1. RUPTUR BULI-BULI S37.2
2. RETENTIO URINAE R33
3. HIPERTROFI PROSTAT BENIGNA (BPH)
4. TUMOR TESTIS C62, D29
5. KRIPTORKHISMUS Q53
6. HIPOSPADIA Q54
7. HIDROKEL TESTIS / FUNIKULI N43.3
8. BATU SALURAN KEMIH N21.0
9. VARICOCELE SCROTUM I86.1
10. TORSIO TESTIS N44
11. PIONEPHROSIS N12.6
VII. NEDAH PLASTIK & REKONSTRUKSI ICD
1. LUKA BAKAR T20-T31
2. KELOID L73
3. KONTRAKTUR M67
4. SUMBING BIBIR (LABIOSKISIS) 036
5. CELAH LANGIT-LANGIT (PALATOSKISIS) 037
VIII. BEDAH ORTHOPEDI ICD
1. DISLOKASI BAHU S43.0 2. FRAKTUR KLAVIKULA S42.0 3. FRAKTUR HUMERUS S42.3 4. FRAKTUR CRURIS S82 5. FRAKTUR GALEAZI S52.3 6. FRAKTUR MONTEGIA S52.0
7. FRAKTUR RADIUS ULNA S52.4
8. FRAKTUR COLLES S52.5
9. PATAH TULANG TERBUKA T02
10. FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA T08
11. DISLOKASI SIKU S3.1
12. DISLOKASI PANGGUL S73.0
13. FRAKTUR FEMUR S72
14. FRAKTUR PATELA S82.0
15. RUPTUR TENDON ACHILLES S86.0
16. FRAKTUR OLEKRANON S52.0
17. FRAKTUR SIPRAKONDILER SIKU S42.4
106 108 109 110 111 112 113 115 116 117 118 119 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 133 134 135 136 137 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia vii
IX. BEDAH SARAF ICD
1. CIDERA KEPALA RINGAN S06.0
2. CIDERA KEPALA SEDANG S06.0
3. CIDERA KEPALA BERAT S06
4. FRAKTUR BASIS KRANII S02.1
5. FRAKTUR IMPRESI TULANG
TENGKORAK TERBUKA ATAU TERTUTUP S.02.0
6. HEMOTOM EPIDURAL S06.4
7. CIDERA SUMSUM TULANG BELAKANG S32
X. BEDAH TRAUMATOLOGI ICD
1. CIDERA OTAK RINGAN
(COMMOTIO CEREBRI) S06.0
2. CIDERA OTAK SEDANG
(FOCAL BRAIN INJURY) S06.3
3. CIDERA KEPALA BERAT
(LACERATION CEREBRI) S06.2
4. PERDARAHAN EPIDURAL S06.4
5. FRAKTUR IMPRESI ATAP TENGKORAK S02.00 / S02.01
6. TRAUMA JARINGAN LUNAK WAJAH S00, S01. S07
7. FRAKTUR MAKSILA S02.4
8. FRAKTUR NASAL S02.2
9. FRAKTUR ZIGOMA S02.4
10. FRAKTUR MANDIBULA S02.6
11. PATAH TULANG TERBUKA S02.1, S12.1, S22.1, S32.1,
S42.1, S52.1, S62.1, S72.1
S82.1, S92.1, TO2.1, T08.1, T10.1
12. DISLOKASI BAHU S43.0
13. FRAKTUR RADIUS ULNA S52.4
14. FRAKTUR MONTEGIA S52.0
15. FRAKTUR GALEAZI S52.3
16. FRAKTUR OLEKRANON S52.0
17. FRAKTURA SUPRAKONDILER SIKU S42.4
18. FRAKTUR HUMERUS S42.3
19. FRAKTUR KLAVIKULA S42.0
20. PATAH TULANG IGA S22.3, S22.4
21. FLAIL CHEST S.22.5
22. HEMATOTORAKS S27.1
23. PNEUMOTORAKS S27.0, K93 P25.1 A16.2
24. LUKA TUSUK DINDING TORAKS S21
25. FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA S12, S22.0, S320, T08
26. DISLOKASI PANGGUL S73.0
27. TRAUMA TAJAM ABDOMEN S27.8, S31. S35, S36, S37
28. TRAUMA TUMPUL ABDOMEN S27.8, S30, S35, S36, S37
29. LUKA BAKAR T20, T31
30. RUPTUR BULI-BULI S37.2
31. FRAKTUR PATELA S82.0
32. FRAKTUR CRURIS S82
33. RUPTUR TENDON ACHILES S86.0
DAFTAR KETERANGAN ISTILAH DA SINGKATAN
158 159 160 161 162 163 164 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 191 192 196 197 198 199 200 201
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia viii
PABI
PERSATUAN DOKTER SPESIAUS BEDAH UMUM INDONESIA Indonesian General Surgeons Society
Address: Dept. of Surgery Airtangga University Medical School / Dr. Soatomo Hospital Dr. Moestopo No. 6 - 8. Surabaya 60286. INDONESIA
Telp.: 62J1.5501327, 62.31.5028753, 62.31. 5049256 Fax. : 62.31.5024972, 62.31.5028753, 62.31. 5049256
e-mail: [email protected]
SAMBUTAN KETUA UMUM PABI
Sejarah pertumbuhan dan petkembangan organisasi profesi yang menghimpun para Dokter Ahli Bedah Indonesia di dalam satu wadah yang bernama Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (" PABI ") diadakan untuk pertama kalinya pada tahun 1954 di Jakarta dimana terpilih sebagai ketuanya adalah Prof.M. Soekarjo. Pada saat itu mereka merupakan para Ahli Bedah Umum pertama di Indonesia. Kemudian berdiri Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) yang sebetulnya merupakan kelanjutannya " PABI " pada 1967 di Semarang dengan ketuanya tetap. Setelah itu, IKABI berkembang dengan pesat dan mulai menetaskan anak~ anak organisasi seperti PABOI (1982 ), IAUI ( 1983 ), Perapi ( 1990 ) dan seterusnya (sekarang bukan anak organisasi IKABI tetapi OPPBS). Sebagai akibat perkembangan ilmu bedah umum yang semula merupakan " main stem of surgery " kemudian menjadi tergeser, demikian pula para Dokter Spesialis Bedah Umum di Indonesia. Untuk mengembalikan citra dan jatJ diri Dokter Spesialis Bedah Umum. maka berdirilah organisasi profesi Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia ( PABI) yang secara resmi diterima sebagai salah satu OPPBS di dalam organisasi IKABI melalui suatu konferensi kerja 7 April 2002 di Jakarta.
Pelayanan kasus pembedahan di Indonesia oleh Dokter Spesialis Bedah Umum sekitar 80%, oleh karena itu didaiam menjaga mutu pelayanan medis bidang pembedahan, PABI berkewajiban manerbitkan buku acuan atau standar. pelayanan profesi Dokter Spesialis Bedah Umum di Indonesia dalam rangka melindungi para anggotanya dan penderita. Buku acuan ini merupakan kelanjutan dan penyempurnaan serta melengkapi buku Standar Pelayanan Medis yang disusun oleh Ikatan Dokter Indonesia tahun 1993 dan diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Ide penerbitan buku ini mengacu pada buku General Surgery at the Distric Hospital yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO, 1988) yang berlaku sebagai suatu acuan profesi, serta didukung oleh ketentuan Deklarasi Internasional tentang human right dan social welfare dan Undang - Undang Kesehatan no. 23 tahun 1992.
Dalam menjalankan profesinya, seorang Dokter Spesialis Bedah Umum berkewajiban untuk mematuhi standar profesinya. Buku acuan ini juga sebagai implementasi Katalog Program Studi Ilmu Bedah (1997) dan sekaligus merupakan standar pelayanan berdasarkan kompetensi yang dipunyai oleh seorang Dokter Spesialis Bedah Umum yang di dapat selama pendidikan spesialisasinya. Kewenangan untuk melakukan tindakan pembedahan merupakan hak istimewa yang diberikan kepada seorang Dokter Spesialis Bedah, oleh karena itu hams dikerjakan secara bertanggung jawab berlandaskan etik dan moral serta pertama - tama jangan merugikan penderita Per Primun Non Nocera.
Buku acuan ini menjadi sangat bermakna sebagai antisipasi dibertakukannya Undang Undang Praktek Kedokteran dan berdirinya Konsil Kedokteran Indonesia yang akan mengatur dan menentukan kebijakan kegiatan profesi kedokteran Indonesia mulai sejak pendidikan
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia ix
dokter umum tampai pendidikan speSialisasi dan pelayanannya kepada masyarakat, termasuk didalamnya registrasi dan sertifikasi serta pengadilan disiplin profesi.
Harapan kami agar buku ini dapat dipakai sebagai standar profesi diseluruh tempat pelayanan kesehatan - pembedahan di Indonesia,
Surabaya, Juli 2002
Dr.Dr.med.Paul Tahalele SpB, SpBTKV Ketua Umum PABI
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia x
KOLEGIUM ILMU BEDAH INDONESIA
PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA
Sekretariat:
Bagian Bedah RS. Or. Cipro Mangunkusumo, Jl. Diponegoro No. 17. Jakarta Pusat Telp. & Fax. (021) 3905553
Rek. Bank: Ac. No. 0999010-03569 BBD Capem RSCM, Jakarta
SAMBUTAN KETUA KOLEGIUM ILMU BEDAH INDONESIA
Kolegium Ilmu Bedah Indonesia, menyambut positif terbitnya buku standar pelayanan profesi. Hal ini merupakan bukti kepedulian organisasi profesi untuk mengatur rumah tangganya sendiri antara lain memberikan acuan kewenangan pelayanan bedah pada para anggotanya, yang berarti juga melindungj para pasien.
Kewenangan pelayanan yang berdasarkan kemampuan yang didapat dan hasil menjalani pendidikan dengan kurikulum yang diakui merupakan satu hal yang mutlak. Tidak ada pihak manapun yang dapat mempersoalkan hal ini.
Adalah tugas kita bersama untuk lebih memantapkan pelaksanaan pendidikan program studi Ilmu Bedah Umum agar kemampuan yang didapat setelah selesainya pendidikan dapat dipertanggung jawabkan. Untuk mencapai maksud ini seyogyanya tidak ada pendidikan Program Studi Spesialis Bedah lainnya yang tidak membantu pelaksanaan pendidikan Program Studi Ilmu Bedah Umum merupakan tombak pelayanan bedah di negara kiia dan mencakup 70% dari spesialis Bedah di Indonesia dengan cakupan pelayanan yang luas.
Persoalan tumpang tindih pelayanan yang ada dibuku ini dengan pelayanan dari spesialis bedah lainnya harus dilihat secara positif, karena lebih banyak lagi ahli bedah yang dapat melakukan satu pelayanan tertentu yang pembelajarannya dan penilaian kemampuannya seharusnya sama. Kolegium Ilmu Bedah Indonesia akan terus berusaha meningkatkan kemampuan spesialis bedah dengan menyempurnakan kurikulum sesuai dengan pengembangan Iptekdok. Antara lain telah dilaksanakan dengan diselenggarakannya DSTC untuk para Resident dan dimulainya OSCA untuk penilaian kemampuan ketrampilan bedah dasar. Untuk masa mendatang direncanakan suatu kursus Surgical Intensive Care dan teknik - teknik dasar laparaskopi, yang kemudian dilanjutkan dengan kemampuan meiakukan Minimal Invasive Surgery bagi lulusan pendidikan program studi bedah umum. Dengan uraian diatas jelaslah bahwa sikap dan pemikiran untuk mengembangkan kemampuan satu jenis spesialis bedah dengan mengurangi kemampuan ahli bedah umum adalah merupakan kesalahan yang sangat mendasar.
Akhirnya marilah kita bersama - sama menyerap perkembangan Iptekdok, saling memahami dalam memantapkan pelaksanaah program studi masing - masing untuk menghasilkan lulusan yang leblh berkwalitas demi peningkatan pelayanan pada pasien - pasien kita.
Jakarta, 1 Juni 2002
Soerarso Hardjowasito dr SpB, SpBTKV Ketua
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xi
IKATAN DOKTER INDONESIA
PENGURUS PUSAT
PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA IKABI
Sekretariat: Bagian Bedah FKUVRSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. JL Diponegoro 71. Jakarta Pusat Telp. (021) 390 5553 Fax. (021) 390 8270
SAMBUTAN
KETUA UMUM PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA
Saya menyambut dengan gembira penerbitan Buku " Standar Profesi Bedah (DARSIDAH) untuk Ahli Bedah Umum. Hal Ini akan membawa konsekuensi dilaksanakannya profesi seorang ahli Bedah sesuai" conduct" yang berlaku, dan juga dapat dilakukan oleh ahli bedah lainnya yang mempunyai keahlian atau spesifikasi lain tetapi dalam bidang ilmu yang sama, yaitu ILMU BEDAH (SURGERY).
Adanya buku " DARSIDAH" semacam ini, yang diharapkan pada penyusunannya melalui diskusi bersama antar keahlian spesifik, akan membawa manfaat dihindarinya masalah " tumpang tindih " yang sering mensaukan kita semua dalam menjalankan profesi kita sebagai " ahli bedah atau "Dokter spesialis bedah". Karena itu adanya buku " DARSIDAH " ini diharapkan akan menyadarkan kita semua, bahwa dalam menjalankan profesi kita, tidaklah harus saling berseteru, I agar pelayanan pada penderita yang bermotto : " KEPENTTNGAN PENDERITA AKAN SAYA UTAMAKAN " dapat benar- benar berorientasi pada kepentingan penderita, bukan pada kepentingan pribadi atau kepentingan sesuatu " cabang ilmu " tertentu saja.
Tentunya akan diterbitkan pula buku " DARSIDAH " untuk bidang Ilmu Bedah yang lain, yang diharapkan pula menempuh proses penulisan buku " DARSIDAH " untuk Ahli Bedah Umum ini, agar masing - masing spesifikasi profesi Bedah dan keahlian Bedah dapat benar - benar saling] menunjang, hingga fungsi IKABI tetap dapat menjadi pemersatu para ahli Bedah dan lebih penring lagi: menjadi perekat sesama profesi bedah
Selamat bekeria sesuai dengan panduan standar profesi ini,
Ketua Umum IKABI
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xii SAMBUTAN
KETUA UMUM PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA
Assalmnu'alaikum Wr. Wb.
Pertama-tama saya selaku ketua umum PB IDI mengucapkan selamat atas keberhasilan para para sejawat yang melaksanakan pelayanan bedah umum, menyelesaikan buku Standar Pelayanan Bedah Umum
Standar Pelayanan dari satu pelayanan profesi merupakan langkah awal menuju jaminan mutu pelayanan (quality assurance) dan kualitas merupakan kunci keberhasilan pelayanan. Dalam menghadapi era globalisasi, maka mutu merupakan salah satu syarat penting untuk bisa memenangkan kompetisi global. Oleh karena itulah, kami pengurus besar IDI sangat menghargai upaya dan hasil para sejawat spesialis bedah yang melaksanakan pelayanan bedah umum.
Kami yakin dalam standar pelayanan yang disusun dalam buku ini terjadi tumpang tindih dengan sejawat bedah lain misalnya dalam bidang traumatologi, onkologi, pediatri, namun saya yakin kesejawatan yang dikembangkan dengan penuh kearifan dan saling menghargai, masalah tumpang tindih (kalau ada) dapat diselesaikan dengan baik. Masalah tumpang tindih ini juga dengan mudah kita atasi dengan perubahan paradigma yang sebelumnya (mungkin) spesialisasi ini dianggap sebagai kapling, berubah menjadi : spesialisasi harus dianggap sebagai kompetensi
Sekian dan selamat membaca dan bekerja Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Ketua Umum PB IDI
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xiii
PABI
PERSATUAN DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA Indonesian General Surgeons Society
Address: Dept. of Surgery Airtangga University Medical School / Dr. Soatomo Hospital Dr. Moestopo No. 6 - 8. Surabaya 60286. INDONESIA
Telp.: 62J1.5501327, 62.31.5028753, 62.31. 5049256 Fax. : 62.31.5024972, 62.31.5028753, 62.31. 5049256
e-mail: [email protected]
Pengurus Pusat PABI No. 001/SK/07/2001
Tentang
Tim Penyusun beserta Penasehat
Buku Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (SPPDSBUI)
Pengurus Pusat PABI Menimbang :
a. bahwa untuk meningkatkan dan menjaga mutu peiayanan kesehatan khususnya bidang pembedahan, keberadaan Standar Peiayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (SPPDSBUI) sangat diperlukan. b. Bahwa Standar Peiayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia
saat ini belum ada dan untuk mewujudkan hal tersebut dibentuk Tim Penyusun Buku Standar Peiayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia beserta Penaseharnya
Mengingat :
1. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Nasional (Lembaran Negara tahun 1992 Nomer 100, Tambahan Lembaran Negara Nomer 3495)
2. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 590/Men.Kes/SKAW1993 tentang periunya peiayanan medis pada setiap sarana peiayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan standar peiayanan yang berlaku
Memperhatikan :
1. Proklamasi berdirinya PABI tanggal 12 Juli 2000 di Surabaya
2. Hasil Rapat Nasional PABI tanggal 4 Juli 2001 di Yogyakarta yang dihadiri oleh sekMar 600 orang Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia
3. Pengesahan berdirinya PABI secara hukum di hadapan Notaris tanggal 4 Jull 2001 dl Yogyakarta.
Memutuskan Menetapkan
Pertama : Keputusan Pengurus Pusat PABI tentang Tim Penyusun Buku Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia beserta Penasehatnya. (Lihat lampiran).
Kedua : Kepada Tim Penyusun Buku SPPDSBUI diberi tugas menyusun standar pelayanan profesi yang berlaku bagi para anggotanya.
Ketiga : Apabila di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, akan diperbaiki sesuai keperluan.
Ditetapkan di : Surabaya Pada tanggal : 10 Juli 2001
Dr. Dr. Med Paul Tahalele SpB. SpBTKV Ketua Umum Sementara
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xiv
PABI
PERSATUAN DOKTER SPESIAUS BEDAH UMUM INDONESIA Indonesian General Surgeons Society
Address: Dept. of Surgery Airtangga University Medical School / Dr. Soatomo Hospital Dr. Moestopo No. 6 - 8. Surabaya 60286. INDONESIA
Telp.: 62J1.5501327, 62.31.5028753, 62.31. 5049256 Fax. : 62.31.5024972, 62.31.5028753, 62.31. 5049256
e-mail: [email protected]
Pengurus Pusat PABI
Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (SPPDSBUI)
Pengurus Pusat PABI Menimbang:
a. bahwa dalam rangka memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat penerima jasa pelayanan kesehatan terhadap pelayanan kesehatan khususnya bidanq pambedahan bermutu, dipandang periu untuk menerbitkan Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (SPPDSBUI)
b. bahwa organisasi profesi PABI turut bertanggung jawab terhadap mutti pelayanan kesehatan khususnya bidang pembedahan para anggotanya.
c. bahwa dalam rangka melaksanakan tanggung jawab tersebut diatas Pengurus Pusal PABI menyusun dan menerbitkan buku Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialii Bedah Umum Indonesia bagi para anggotanya.
Mengingat:
1. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Nasional (Lembaran Negara tahun 1992 Nomer 100, Tambahan Lembaran Negara Nomer 3495)
2. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PABI 2002.
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 595/Men.Kes/SKMI/1993 tentang periunya pelayanan medis pada setiap sarana pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan standar pelayanan yang beriaku.
Memperhatikan:
1. Hasil Konker IKABI tanggal 6-7 April 2002 di Jakarta tentang diterimanya PABI kedalam IKABI.
2. Hasil Rapat Panitia Ad Hoc IKABI bersama OPPBS tanggal 8 Juni 2002 tonlnnn rancangan perubahan AD/ART IKABI
Memutuskan Menetapkan:
Pertama : Keputusan Pengurus Pusat PABI tentang Pemberlakuan Pelaksanaan Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (SPPDSBUI) yang ditetapkan berkekuatan secara Normatif bagi para anggotanya.
Kedua : Kepada para anggota PABI yang dalam menjalankan pekerjaan
pembedahannya ntuk mengacu pada setiap prosedur yang terdapat didalam buku SPPDSBUI tersebut.
Ketiga : Apabila di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, akan diperbaiki sesuai keperluan.
Ditetapkan di : Denpasar Pada tanggal : 10 Juli 2002
Dr. Dr. Med Paul Tahalele SpB. SpBTKV Ketua Umum Sementara
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xv PENDAHULUAN
Dokter Spesialis Bedah didalam menjalankan dan mengamalkan profesinya mempunyai wewenang sesuai dengan kompetensi yang didapat selama pendidikan. Kompetensi tersebut meliputi: penguwtnni, pengetahuan dan teknologi dibidang Ilmu Bedah. kemampuan ketrampilan dan sikap-perilaku.
Pengetahuan dan teknologi yang hams dikuasai seorang Dokter Spesialis Bedah Umum telnh dicantumkan didalam Katalog Pendidikan Program Studi Ilmu Bedah tahun 1997 maupun didalnm kurikulum dan panduan pendidikan di masing-masing Pusat Pendidikan. Demikian pula kemampun ketrampilan yang harus dikuasai dengan melalui pelatihan-pelatihan kerja, telah ditentukan didalam pendidikannya. Semua ini merupakan kompetensi Dokter Spesialis Bedah Umum, yang melipull pembedahan elektif, pembedahan darurat baik trauma maupun non trauma. Dengan demikian penanganan kasus-kasus bedah dilaksanakan oleh Dokter Spesialis Bedah Umum secara holistic, konprehensip dan fnultidisiplin. Untuk melengkapi pelayanan diperlukan kompetensi dibidany Traumatologi dan "Critical Care".
Selaras dengan kemajuan dan pengembangan Pengetahuan dan Teknologi di bidang Ilmu Bedah yang demikian pesatnya, Dokter Spesialis Umum dituntut secara terus menerus dan dinaml* menguasai Pengetahuan dan Teknologi tersebut.
Agar Dokter Spesialis Bedah Umum dapat bekerja secara optimal diperlukan acuan berupA satu standar pelayanan profesi Dokter Spesialis Bedah Umum mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Melindungi penderita pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk mendapatkan pelayanan sesuai standar.
2. Melindungi Profesi dari tuntutan-tuntutan masyarakat yang tidak wajar.
3. Sebagai pedoman didalam pengawasan dan pembinaan praktek Dokter Spesialis Bedah Umum untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
4. Sebagai acuan dan pelengkap Rumah Sakit Pemerintah maupun swasta didalam menjalankan pelayanan kesehatan secara tepat
5. Sebagai pedoman sesama profesi dibidang spesialisasi bedah untuk saling menghorrr.ati dan menghargai kewenangan bidang keahlian masing-masing.
Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum diartikan sebagai pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk didalam menjalankan profesi secara baik dan benar. Didalam aplikasi pelaksanaannya akan sangat tergantung kepada situasi dan kondisi setempat, khususnyi menyesuaikan dengan fasilitas dan sumber daya manusia. Karena itu Standar Pelayanan Profesi ini dibuat dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut sehingga menghasilkan standar yang lentur dan cukup sederhana untuk memenuhi keinginan melayani masyarakat sebaik-baiknya.
Acuan ini merupakan prosedur untuk menangani kasus-kasus yang akan ditangani oleh Doktef Spesialis Bedah Umum. Telah dicantumkan batas-batas wewenang dari Dokter Spesialis Bedah Umum pada kasus-kasus tertentu yang harus dirujukatau yang dapat ditangani sendiri. Diharapkan rumah sakit pemerintah maupun swasta di seluruh Indonesia dapat menetapkan pelayanan kasus - kasus tersebut sesuai dengan buku Pedoman Standar Profesi.
Dokter spesialis bedah umum didalam profesinya, mampu bersikap dan berperilaku secara bertanggung jawab serta mentaati semua ketentuan sesuai dengan standar pelayanan profesi di dalam menjaga mutu pelayanan. Sikap tersebut diatas perlu dilandasi dengan etika dan moral yang baik terhadap penderita, sejawat, dan mitra kerja yang lain sesuai dengan lafal sumpah dokter. Standar ini akan selalu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi sehingga secara berkala akan selalu dievaluasi dan disempurnakan sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran.
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xvi TIM PENYUSUN
Anggota tim terdiri dari beberapa Kepala Bagian Bedah, Ketua-ketua maupun sekretaris Program Studi Ilmu Bedah, Konsultan-konsultan maupun Dokter Spesialis Bedah senior lain yang sangat antusias didalam PABI untuk menyusun standar profesi ini.
SusunanTim Penyusun dan Penasehat: Keputusan PP PABI No. 001/SK/07/2001
Ketua : Martopo Mamadi, dr. SpB
Sekretaris : Urip Murtedjo, dr. SpB (K) KL, PGD Pall Med (ECU) Anggota : Dr. med.Dr. Paul Tahalele, SpB, SpB TKV
Tjakra Wibawa Manuaba. dr. SpB(K) Onk, MPH Sunarto Reksoprawiro, dr. SpB(K)KL
Faried W Husain, dr. SpB(K)DIG Sutamto Wibowo, dr. SpB (K) DIG Rochmad Idjrai, dr. SpB (K) DIG Sahal Fatah, dr. SpB,SpBTKV Didik Soediarto, dr. SpB (K) Onk Soetrisno Alibasah. dr. SpB (K) DIG Poerwadi, dr. SpB (K) BA
Gatot Waluyo, dr. SpB (K) BA. Soejarsono, dr. SpB
Timbang Simanjutitak, dr. SpB Purwoko, dr. SpB
I Nengah Kuning Atmajaya.dr. SpB Dr. Abdul Hafid Bajamal, dr. SpBS INW. Steven Christian, dr. SpB (K) Onk J. Iswanto, dr. SpB (K) Dig
Suryanto, dr. SpB Budi Yuwono, dr. SpB.
Basrul Hanafi. dr. SpB (K) DIG Yan Ngantung, dr. SpB, SpBP Agung Prasmono, dr SpB, SpBTKV I Wayan Sudarsa, dr. SpB (K) Onk HN. Nazar, dr. SpB
Adjinul Bahri, dr. SpB Jimmy Panelewen, dr. SpB Purnohadi Utomo, dr. SpB Yoga Wijayahadi, dr. SpB.
Kustiyo Gunawan, dr. SpB (K)BA. Hertanto, dr. SpB
Heru Koesbianto, dr. SpB, SpBTKV. Tirta Hamijaya Rahardja, SpB. M.Noor Amrullah, dr. SpB. Purboyo, dr. SpB.
Peter Manoppo, dr. SpB Penasehat : Dr Arjono Djuned Fbesponegoro,dr.SpB (K) DIG
Prof. John Pieter, dr SpB (K) DIG
Prof. Dr. IDG. Sukardja, dr. SpB (K) Onk Prof. Adrie Manoppo, dr.SpB (K) Onk Prof. Dr. Umar Kasan, dr. SpBS Prof. Syamsuhidayat, dr. SpB (K) DIG Prof. Widjoseno Gardjito, dr. SpU. Warko Karmadihardja, dr. SpB (K) DIG. Prof. Dr. med. Puruhito, dr. SpBTKV. Prof. Kamadi Thalut, dr. SpB (K) DIG. Prof. Dr. .IGN. Riwato, dr. SpB (K) DIG. Prof. Faried Nur Mantu, dr. SpB. (K) BA Prof. Basoeki Wiryowidjoyo, dr. SpBS
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xvii POLA PEMBAHASAN
Demi keseragaman dan kemudahan didalam mempelajari isi Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum, baik oleh kalangan sendiri maupun dokter spesialis yang lain, maka tim penyusun menganggap perlu untuk memperbaiki dan menyempumakan pola pembahasan yang dilakukan oleh Tim Studi PB-IDI.
1. Nomor ICD ( International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, Tenth Revision)
2. Diagnosis
Diagnosis atau nama penyakit atau sindroma ditulis sesuai ICD yang berlaku. Yang dimaksud disini adalah diagnosis utama.
3. Kriteria diagnosis
Kriteria - kriteria yang dipakai untuk menegakkan diagnosis berupa pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang.
4. Diagnosis banding
Dicantumkan maksimum 3 (tiga) nama penyakit. 5. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan-pemeriksaan (laboratorium, radiologi, pemeriksaan khusus) yang diperlukan untuk menunjang diagnosis maupun untuk menyingkirkan diagnosis banding
6. Konsultasi
Ditujukan kepada konsultan bedah dan spesialis lain yang terkait untuk penanganan bersama dalam menegakkan diagnosis dan terapi terhadap panyakit-penyakit penyerta maupun komplikasi yang terjadi.
7. Perawatan rumah sakit
Dijelaskan periu dirawat inap atau rawat jalan, bersifat segera atau biasa. Perlu pula dijelaskan dalam kondisi yang bagaimana hal tersebut perlu dilaksanakan.
8. Terapi
Dikatagorikan kedalam tujuan, cara, macam, waktu terapi dan terapi komplikasi a. Tujuan terapi: kuratif atau paliatif
b. Cara terapi: bedah atau non bedah
c. Macam - macam terapi: terapi utama, ajuvan, tambahan, komplikasi d. Waktu terapi: darurat atau elektif
e. TeTapi komplikasi dari terapi. 9. Tempat pelayanan
Kelas rumah sakit dan fasilitas yang minimal yang bisa dipakai untuk tempat pelayanan pembedahan.
10. Penyulit
Dicantumkan komplikasi yang mungkin timbul, baik karena penyakitnya sendiri, maupun akibat tindakan atau terapi.
11. Informed consent
Dinyatakan periu atau tidak. 12. Tenaga standar
Dicantumkan tenaga yang berkompeten menangani kasus tersebut dan juga member!' kewenangan terapi yang dapat dilakukan (dokter umum, dokter spesialis bedah umum, dokte spesialis bedah Iain maupun konsuhan dokter spesialis lain)
13. Lama perawatan
a. Khusus untuk penyakit tanpa komplikasi
b. Untuk tindakan pembedahan, adalah lama perawatan pasca operasi rawat inap di Rumah Sakit.
14. Masa pemulihan
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xviii
15. Hasil
Disebutkan keadaan penderita selesai tindakan pembedahan dan perawatan di rumah sakit Dapat disebutkan kemungkinan yang paling baik sampai kemungkinan yang pasti jelek (sembuh, menyembuh, sembuh dengan follow up, sembuh dengan komplikasi cacat fisik - mental atau kecacatan sampai kemungkinan kematian)
16. Patologi
Khusus pada penderita yang dilakukan tindakan sesuai dengan indikasi. 17. Otopsi
Diperlukan pada kasus kematian tidak wajar atau tidak jelas 18. Prognosis
Disebutkan pada umumnya baik. dubouis ad bonam, dubouis ad malam, jelek. 19. Tindak Lanjut ( Follow up)
Keadaan klinis penderita setelah penderita keluar rumah sakit sampai melakukan aktifitas sehari - hari.
Sebagai pelengkap yang bersifat keharusan, dokter yang merawat harus membuat Catatan Medik (Medical Records).
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xix
WEWENANG
DOKTER SPESIALIS
BEDAH UMUM INDONESIA
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xx ICOPIM 1. Jenis Tindakan Bidang Bedah Digestif DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang
DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler 5-541 1. Laparotomi X X X 5-541 2. Torako-laparotomi (darurat) X X X
5-467 3. Penutupan ptrforail sederhana X X X
5-461 4. Pembuatan stoma (gastrostomi, Ileostomi, Kolostomi, Sigmoldostomi)
X X X
1-644 5. Rektoskopi / Anuskapi X X X
1-694 6. Laparoskopik diagnostlk.(darurat) X X X
5-454 7. Reaksi dan anastomosis usus X X X
5-505 8. Prnanggulangan trauma hepar (darurat) X X X
5-413 9. Splenektomi X X X
5-520 10. Drenase pankreatitis (darurat) X X X
5-524 11. Pankreasektomi (partial & darurat) X X X
5-460 12. Eksteriorisasi X X X 5-470 13. Appendektomi terbuka X X X 5-470 14. Appendektomilaparoikoplk X X 5-511 15. Koleslitektomi terbuka X X X 5-511 16. Kolcilitcktoml laparoskopik X X 5-442 17. Gastroenterostomi X X X 5-438 18. Gastrektomi (partial) X X X 5-454 19. Hemlkolektoml X X X 5-530 20. Herniotomi X X X 5-493 21. Hemoroidektomi X X X
5-491 22. Fistulektomi, fistulotomi (Fisura ani) X X X
5-484 23. Operasi Miles X X
5-454 24. Operasi Hartmann X X X
5-485 25, Reseksl Anterior sigmoid X X X
5-514 26. Pasang "T" tube X X
5-458 27. Rouxen Y anatomosis X X X
5-458 28. Bypass enterotomi X * X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xxi ICOPIM 2. Jenis Tindakan Bidang Bedah Anak DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang
DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler 5-541 1. Laparotomi X X X X X X X X 5-541 2. Toraks laparotomi X X X X X
5-467 3. Penutupan perforasi sederhana X X X
5-460 4. Penbuatan stoma (gastrostomi, Ileostomi, koteitomi, ligmoidoshiml)
X X X
5-537 5. Operasi hernia diafragma traumatik X X X X
5-542 6. Selioplasti X X X
5-530 7. Herniotomi X X X
5-630 8. Ligasi tinggi hidrokel X X X X
5-468 9. Operasi invaginasi laparotomi X X X
5-540 10. Operasi tumor retroperitoneal X X X X
5-496 1l. Operasi PSA RP terbatas X X
5-542 12. Operasi omfalokel X X X
5-624 13. Operasi kriptorkhlimus X X X X
5-643 14. Operasi hypospadia X X X
5-537 15. Repair Hernia diafragmatika kongenital / kel. diafragma kongenltal
X X X X
5-554 16. Operasi Willema tumor X X X
5-496 17. Anoplasti sederhana (cut back? X X
5-640 18. Circumsisi X X X X X X X X X X X
5-433 19. Operasi piloromiotomi X X X
5-413 20. Spleenektomi X X X
5-625 21, Detorsitorsi testis & orkidopeksi X X X
5-483 22. Anastomosis tarik trobos X X X
5-542 23. Operasi kelainan umbilicus X X X
5-401 24. Eksisi higroma X X X X
5-401 25. Eksisi limpangloma X X X X
5-470 26. Appendektomi X X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xxii ICOPIM 3. Jenis Tindakan Bidang Bedah Onkologi DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang
DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler
1-599 1. Biopsy Insisional/biopsy cubit X X X X
5-860 2. Ekstirpasi tumor Jinak mamma X X
5-884 3. Ekstirpasi tumor jinak kulit /Jaringan lunak lainnya
X X X X
5-261 4. Ekstirpasi tumor jinak parotis X X X
5-655 5. Salphingo oophorektomi bilateral pada kanker payudara
X X
5-861 6. Mastektomi simpleks X X
5-869 7. Mastektomi subkutaneus X X
5-863 8. Mastektomi radikal . X X
5-862 9. Modifikasl mastektomi radikal X X
5-061 10.Strumektomi X X X
5-063 11.Tiroidektomi pada Ca X X X
5-403 12.Radikal neck dissection (RND) (classical) X X X
5-262 13.Parotidektomi X X X
5-885 14.Operasi tumor jaringan lunak X X X X X
5-899 15.Eksisi luas dan rekonstruksi sederhana X X X X
5-894 16.Flap kulit / otot X „ \- X X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xxiii ICOPIM 4. Jenis Tindakan Bidang Bedah Onkologi DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang
DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler
1-599 1. Biopsy Insisional/biopsy cubit X X X X
5-860 2. Ekstirpasi tumor Jinak mamma X X
5-884 3. Ekstirpasi tumor jinak kulit /Jaringan lunak lainnya
X X X X
5-261 4. Ekstirpasi tumor jinak parotis X X X
5-655 5. Salphingo oophorektomi bilateral pada kanker payudara
X X
5-861 6. Mastektomi simpleks X X
5-869 7. Mastektomi subkutaneus X X
5-863 8. Mastektomi radikal . X X
5-862 9. Modifikasl mastektomi radikal X X
5-061 10.Strumektomi X X X
5-063 11.Tiroidektomi pada Ca X X X
5-403 12.Radikal neck dissection (RND) (classical) X X X
5-262 13.Parotidektomi X X X
5-885 14.Operasi tumor jaringan lunak X X X X X
5-899 15.Eksisi luas dan rekonstruksi sederhana X X X X
5-894 16.Flap kulit / otot X X X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xxiv ICOPIM 5. Jenis Tindakan Bidang Bedah Toraks
Kardiovaskuler
DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler 5-340 1. Torakotomi (darurat) X X
5-790 2. Fiksasi Internal Iga X X
8-740 3. Pemasangan WSD / drainase toraks X X
8-740 4, Perawatan trauma toraks konservatif X X
5-380 5. Rekonstruksi vaskular perifer (trauma) X X X
5-371 6. Perikardiosenteis terbuka (darurat) X X
5-340 7. Reseksi Iga X X
5-051 8 Simpatektomi tomkal X X
5-051 9. Simpatektomi lumbal / simpatektomi periarterial X X X
5-384 10. Stripting varises, eksisi varises, ligasi - komunikan X X X
5-392 11. Operasi A – V shunt (Brecia – Cimino) X X X
5-340 12. Opesi jendela toraka X X.
8-193 13. Perawatan verbal non bedah X X X
5-382 14, Operasi aneurisma perifer X X X
5-847 " 15. Debridement, amputasif gangren diabetik atau penyakit y.l
X X X
5-884 16. Eksisi Hemangloma X X X
5-380 17, Embolaktomi perifer darurat X . X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xxv ICOPIM 6. Jenis Tindakan Bidang Bedah Urologi DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang
DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler 5-572 1. Punksi buli-buli/sistostomi X X X 8-134 2. Kateterisasi / businasi X X X 5-554 3. Nefrektomi X X X
5-557 4. Repair urehtra, ureter, ginjal (trauma) X X X
5-622 5. Orkhidektomi X X X
5-565 6. Ureterostomi eksterna (darurat) X X X
5-578 7. Repair ruptur buli - buli X X X
5-636 8. Vasektomi X X
1-652 9. Sistoskoplk, endoskopikdiagnostik X X
5-571 10. Section alta X X X
5-611 11. Hidrokelektomi X X X ,
5-590 12. Insist Infiltrat urin X X X
5-590 13. Insist perirenal abses X X X
5-550 14. Drenase pionefrosis X X X
5-550 IS. Nefrostomi X X X
5-603 16. Prostatektomi terbuka X X
5-630 17. Ligasi tinggi Varikokel X X
5-550 18. Nefrolitokmi X X
5-551 19. Pielolitotomi X X
5-643 20. Operasi Hipospodia X X X
15-624 21. Repair Kriplorkhismus & orkhidopeksi X X X
5-562 22. Ureterolitotomi 1/3 tengah & proximal X X
5-580 23. Urethralitotomi X X X
5-580 24. Urethrostomi eksterna X X
5-566 25. Uretero-ileo shunt X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xxvi ICOPIM 7. Jenis Tindakan Bidang Bedah Plastik dan
Rekonstruksi
DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler
5-883 1. Debridement luka bakar X X X
5-217 2. Repair fraktur tulang hidung X X X
5-763 3. Repair fraktur tulang mandibula X X X
5-763 4.Repair fraktur tulang Matella X X X
5-893 S. Tandur alih kulit X X X X X X X X X X X
5-831 6. Release kontraktur X X X
5-884 7. Eksisi keloid X X X
5-894 . 8. Labioplasti X X X X
5-275 9.Palatoplasti X. X X X
5-643 10.Operasi Hipopsoel X X X X
5-894 11.Flap Kulit / otot X X X X X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xxvii ICOPIM 8. Jenis Tindakan Bidang Bedah Orthopedi DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang
DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler 8-208 1. Tindakan reposisi tertutup dan immobilisasi X X
5-795 2. Debridement fraktur terbuka gr I-II-III X X
8-330 3. Fiksasi eksternal X X
5-847 4. Amputasi ekstrimitas X X
5-840 5. Disatikulasi sendi kecil dan sedang X X 8-40 6. Pemasangan traksi (skeletal, skin, Gibson) X X
5-824 7. Tendon repair X X
5-844 8. Disartikulasi sendi besar : panggul, bahu, lutut X X 5-792 9. Reduksi Terbuka dan fiksasl Interna (ORIF): X X 8-362 Nailing : Femur, Tibia X X 5-792 Plate & Screw : remit-, Tibia, radius, ulna, Humerus
Clavicula
X X
5-792 K. Wire : Tangan dan Kakl (Cerpalla, Tharsalia Phalanx)
X X
5-792 10. Tension band wiring (tbw|: Olecranon, Patella, Ankle
X X
1-503 11. Blopsi Tulang X X
8-310 12. Perawatan CTEV konservatlf X X 5-783 13. Sekwesterektomi / guttering X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xxviii ICOPIM 9. Jenis Tindakan Bidang Bedah Orthopedi DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang
DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler 5-011 1. Boor hole X X
5-011 2. Trepanasi trauma (fraktur cranium, EDH) X X
5-020 3. Reposisi fraktur Imprest X X
5-042 4. Repair saraf perifer X X X '
5-021 S. Eksisi meningokel & mielokel (sederhana) X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xxix ICOPIM 10. Jenis Tindakan Bidang Bedah Traumatologi DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang
DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler 5-511 1. Laparotomi x . X X 5-541 1. Laparotomi X X X X X X X X 5-541 2. Torako-laparotomi X X X
5-467 3. Penutupan perforasi sederhana X X X
5-461 4. Penbuatan stoma (gastrostomi, Ileostomi, koteitomi, ligmoidoshiml)
X X X
1-644 5. Rektoskopi / anuskopi X X X
1-694 6. Laparoskopik dlagnostik X X X
5-454 7. Reseksi dan anastomosis usus X X X
5-505 8. Penanggulangan trauma hepar (darurat) X X X
5-413 9. Splenektomi X X X
5-520 10. Drenase pankreaotis (darurat) X X X
5-524 1 l. Pankreasektomi (partial & darurat) X X X
5-460 12. Eksterlorisasi . X X X
8-208 13. Tindakan reposisi tertutup dan immobilisasi X X 5-795 14. Debridement fraktur terbuka gr I-II-III X X
8-330 15. Fiksasi eksternal X X
5-847 16. Amputasi ekstremitas X X X X
5-840 17. Disartikulasi sendi kecil dan sedang X X X X
S-792 18. Reduksi terbuka dan fiksasi Interna
8-362 Nailing : lemur, tibia X X 5-792 Plate & Screw : lemur, tibia, radius, ulna,
humerus, davteula
X X
5-792 K. Wire : tangan dan kaki (carpalia, tarsalla, phalanx)
X X
5-792 19. Tenston band wiring (tbw); olecranon, patella, ankle
X X
5-844 20. Disartlkulail sendl besar: panggul, bahu, lutut X X
5-824 21. Tendon repair X X
8-40 22. Pemasangan Iraltsi { skeletal, skin, glisson ) X X
5-883 23.Tindakan pada trauma jarlngan lunak wajah X X X X
5-311 24.Trakheostoml X X X X X X X X X X X
5-763 25.Repalr fraktui mandibuta X X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia xxx ICOPIM 11. Jenis Tindakan Bidang Bedah Traumatologi DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang
DSpB DSpBO DSpU DSpBS DSpBP DSpB (K) Dig. DSpB (K) BA DSpB (K) Onk DSpB (K) BL BSpBTKV DSpB (K) Vask Bedah Umum Bedah Orthope di Bedah Urdogi Bedah Saraf Bedah Plastik Bedah Digestif Bedah Anak (khusus) Bedah Tumor Bedah kepala leher Bedah toraks kardio vaskuler Bedah vaskuler
5-763 26. Repair fraktur makslia x X X X
27,Repair fraktur zigoma X X X X
5-216 28, Repair fraktur nasal X X X
5-340 29.Torakotomi X X
5-790 30. Fiksasi internal iga X X
8-740 31 Pemasangan WSD / drainase toraks X X
8-740 32.Perawatan trauma toraks konservatif X X
5-380 33.Rekontruksi vaskular perifer X X X
5-371 34 perikardiosentesis terbuka X X
5-883 35. Debridement luka Dakar X X X
5-537 39.0perasi Hernia diafragmatika traumatik X X X X
5-011 40. Boor hole X X
5-011 41.Trepanasi trauma (Fraktur cranium, EDH) X X
5-020 42. Fraktur reposisi impresi X X
5-042 43.Repair saraf perifer X X X
5-021 44,Eksisi meningokel & mlelokel (sederhana) X X
8-134 45.Kateterisasi / businasi X X X
5-554 46.Nefrektomi X X X
5-557 47.Repair uretra, ureter, ginjal X X
5-622 48.Orkhidektomi X X X
5-565 49. Ureterostomi eksterna X X X
5-578 50. Repair ruptur buli-buli X X X
5-572 51. Sistostomi X X X
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 31
I.
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 1
1 ICD : S 27.8 ,S31, S. 35.S 36. S 37
Cedera pada toraks bagian bawah, abdomen, pinggang collumna, vertebralis - lumbalis dan pelvis.
2 Diagnosis : TRAUMA TAJAM ABDOMEN
Ruptur Diaphragma S 27.8.1
Luka Terbuka Bokong S 31.0
Luka Terbuka Abdomen, Pinggang dan Inguinal S 31.1 Luka Terbuka Penis S31.2
Luka Terbuka Skrotum dan Testis S31.3 Luka Terbuka Vagina dan Vulva S 31.4
Luka Terbuka Multipel di Abdumen, Pinggang dan Pelpis S31.7.
Ruptur Aorta Abdominalis S35.0 Ruptur V. Kava inferior S 35.1
Ruptur a. Soeliaka atau Mesenterika dan cabang – cabangnya S35.2
Ruptur V Porta atau V. Lienalis Dan Cabang – cabangnya S35.3
Ruptur VasaRenalis S35.4
Ruptur Vasa Iliaka Dan Cabang - cabangnya S 35.5 Ruptur Pembuluh Darah di Abdomen, Pinggang, dan rong Pelvis S.35.7
Ruptur Pembuluh Darah Lainnya di Abdomen, Pinggang dan Rongga Pelvis lainnyaS.35.8
Ruptur Limpa S 36.0.1
Ruptur Hepar & kandung empedu S 36.1.1 Ruptur Rankreas S 36.2.1 Ruptur lambung S 36.3.1 Ruptur Duodenum Ruptur Jejunum S 36.4.1 Ruptur Ileum Ruptur Colon S 36.5.1 Ruptur Rektum S 36.6.1
Ruptur organ intra abdomen Multiple S 36.7.1 Hematoma retroperitoneum S 36.8. 1
Ruptur Ginjal S. 37.0.1
Ruptur Ureter S. 37.1.1 Ruptur Kandung Kemih S. 37.2.1 . Ruptur Uretra S. 37.3.1 Ruptur Ovarium S. 37.4.1 Ruptur Tuba Falopi S. 37.5.1 Ruptur Uterus S. 37.6.1
Ruptur Organ Intra Pelvis Multipel S. 37.7.1 Ruptur Kelenjar Adrenal S. 37.8.1 Ruptur Kelenjar Prostat S. 37.8.1 Ruptur Vesikula Seminalis S. 37.8.1 Ruptur Vas Deferens S. 37.8.1 3 Kriteria diagnosis : Mekanisme Trauma
Trauma yarig disebabkan senjata tajam :
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 2
Trauma yang disebabkan oleh senjata api. baik yang dengan kecepatan rendah ( Low energy velocity ) pun dengan kecepatan tinggi ( High energy velocity ) Tanda klinis.
Sistim pernapasan dan hemodinamika Stabil
Tidak stabil Inspeksi:
Adanya luka atau luka - luka terbuka di regio toraks bagian bawah, regio abdomen, pinggang dan atau pelvis.
Ada atau tidak ada eviserasi organ - organ intra abdomen dan atau epiplosil.
Ada atau tidak ada distensi abdomen.
Pada luka tembak, khususnya luka tembak senjata api harus ditentukan adanya luka tembak masuk dan apakah ada luka tembak keluar.
Auskultasi:
Auskultasi regio toraks ( kiri )
Suara napas menurun, bisa terdengar bising usus Auskultasi regio abdomen:
Bising usus bisa normal, menurur. atau hilang. Palpasi:
Nyeri tekan di kuadran tertentu atau seiuruh regio Abdomen, Defans muskuler, Nyeri takan lepas. Perkusi
Perkusi regio toraks bagian bawah bisa normal atau redup atau timpani
Pekak hati bisa positif atau negatif Nyeri ketok dinding abdomen
Tes undulasi atau tes shifting dullness bisa positip, bisa negatip
Colok dubur: Bisa normal
Bisa ditemukan kelainan - kelainan :
Prostat yang melayahg, laserasi pada dinding anorektum, teraba fragmentasi tulang - tulang panggul, nyeri pada perabaan di dinding anorektum, pada sarung tangan bisa ditemukan tetesan atau noda darah, berarti positif ada cedera pada saluran cerna
4 Diagnosa banding : - 5 Pemerinsaan
penunjang
: Disesuaikan dengan fasilitas UGD / Rumah Sakit setempat Pilihan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi:
Foto toraks posisi AP,
Foto toraks dengan pemasangan pipa lambung,polos abdomen,
Foto pelvis USG
Lavase peritoneum diagnostik ( PL), IVP
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 3
Foto kontras saluran cerna bagian atas, CT scan abdomen,
Angiografi,
Indikasi USG sama dengan indikasi DPL:
Flasien trauma dengan : Penurunan tingkat kesadaran Perubahan / gangguan fungsi sensoris
Cedera pada organ - organ yang bertetangga Pemeriksaan fisik abdomen yang meragukan.
Kemungkinan dokter putus kontak dengan pasien untuk waktu yang cukup panjang.
Hasil DPL yang meragukan ( khusus untuk USG abdomen ) yaitu: Lekosit < 500/mm3, eritrosit < 100.000 / mm3
6 Konsultasi : -
7 Perawatan rumah sakit
: Rawat inap untuk tujuan observasi
8 Terapi : Tindakan resusitasi ABCD sesuai konsep ATLS kalau
kondisi pernapasan dan hemodinamika penderita tidak stabil. Terapi konservatif:
Terapi konservatif dilakukan bila tidak ada indikasi laparotoml segera, atau hasil pemeriksan penunjang tidak mengungkapkan adanya cedera organ intra abdomen yang nyata.
Terapi konservatif dengan cara observasi,, dapat dilakukan sampai 2 x 24 jam.
Terapi operatif:
Laparotomi eksplorasi dengan insisi median Indikasi laparotomi eksplorasi:
Tanda-tanda perdarahan intra peritoneal, yaitu adanya syok hipovolemi dengan distensi abdomen yang progresif. Tanda-tanda peritonitis generalisata
Pneumoperitoneum pada foto toraks
Pada foto toraks tampak gambaran hernia diafragmatika (Ruptur Diafragma)
Cairan lavase keluar melalui pipa drenase rongga pleura Pada tindakan DPL, keluar darah > 10 ml atau cairan usus Hasil DPL positip berdasarkan analisa laboratoris, yaitu: jumlah eritrosit > 100.000/mm3 cairan lavase jumlah lekosit > 500/mm cairan lavase amilase > 20IU/L cairan lavase Eviserasi atau epiplosil Luka tembak senjata api
9 Tempat Pelayanan : Minimal Rumah Sakit Was C atau Rumah sakit yang ada fasilitas pembedahan yang memadai
10 Penyulit : Perdarahan massif
Syok hipovolemik, yang bisa berakibat syok irreversibel Koagulasi intra vaskuler yang diseminasi (DIC)
Koagulopathi, Hipotermia, Asidosis. SIRS - sepsis, ARDS, Pneumonia
Pankreatitis pasca trauma, perdarahan saluran cerna, Gangguang fungsi hati.
ARF (gagal ginjal akut) Gagal multi organ
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 4
11 Informed consent : Perlu
12 Tenaga Standar : Dokter spesialis Bedah Umum
DokterSpesialis Bedah (K) Bedah Digestif 13 Lama Perawatan : Bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa berlangsung antara 10 hari - 3 bulan 14 Masa Pemulihan : Juga bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa membutuhkan waktu antara 2 minggu - 3 bulan
15 Hasil : Cedera ringan: bisa sembuh tanpa gejala sisa
Cedera berat:
Kalau tidak ada penyulit, dapat disembuhkan dengan atau tanpa kecacatan
Kalau ada penyulit, bisa sembuh dengan atau tanpa kecacatan, atau bisa meninggal dunia.
Cedera mengancam nyawa: Bila timbul penyulit
Bisa sembuh dengan atau tanpa kecacatan, atau bisa meninggal
dunia
Angka kematian bisa sampai > 70%
16 Patologi : -
17 Prognosis : Tergantung beratnya cedera
18 Otopsi : Semua pasien trauma abdomen meninggal dunia perlu otopsi
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 5
ICD : S 27.8 ,S31, S. 35.S 36. S 37
Cedera pada toraks bagian bawah, abdomen, pinggang collumna, vertebralis - lumbalis dan pelvis.
2 Diagnosis : Ruptur Diaphragma S27.8.0
Kontusi Bokong dan Panggul S 30.0
Kotusio Abdomen, Pinggang dan Inguinal S 30.1 Kontusio Perineum dan Genital S 30.2
Ekskoriasi, Laserasi superficial S 30.7 multiple di Abdomen,
Pinggang dan Panggul. Ruptur limpa S 36.0.0
Ruptur Hepar & kandung empedu S36.1.0 Ruptur Pankreas S36.2.0 Ruptur lambung S 36.3.0 Ruptur Duodenum Ruptur Jejunum Ruptur Ileum S 36.4.0 Ruptur Colon S 36.5.0 Ruptur Rectum S 36.6.0
Ruptur organ intra abdomen S 36.7.0 Multiple Hematoma retroperitoneum S 36.8.0 Ruptur Ginjal Kontusio Ginjal S 37.0.0 Hematoma retroperitoneum S 36.8.0 Ruptur Ginjal S 37.0.0 Ruptur Ureter S 37.1.0
Ruptur Kandung Kemih S 37.2.0 Ruptur Uretra S 37.3.0
Ruptur Ovarium S 37.4.0 Ruptur Tuba Falopi S 37.5.0 Ruptur Uterus S 37.6.0
Ruptur Organ Intra Pelvis Multipel S 37.7.0 Ruptur Kelenjar Adrenal S 38.2.0
Ruptur Kelenjar Prostat S 38.2.0 Ruptur Vesikula Seminalis S 38.2.0 Ruptur Vas Deferen S 38.2.0 3 Kriteria diagnosis : Mekanisme Trauma
Kecelakaan lalu lintas Jatuh dari ketinggian Kecelakaan keija Cedera olah raga
Tindakan kekerasan atau penganiayaan Cedera akibat hiburan atau wisata Tandaklinis.
Sistim pernapasan dan hemodinamika Stabil
Tidak stabil Inspeksi:
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 6
Jejas pada dinding abdomen
jejas pada dinding dada bagian bawah Abdomen tampak distensi
Jejas dapat berupa : excoriasi, hematoma, Memar kulit, lacerasi
Auskultasi:
Auskultasi regio toraks ( kiri)
Suara napas menurun, bisa terdengar bising usus Auskultasi regio abdomen:
Bising usus bisa normal, menurun atau hilang. Palpasi:
Nyeri tekan d: kuadran tertentu atau seluruh regio Abdomen, Defans muskuler, Nyeri tekan lepas. Perkusi
Perkusi regio toraks bagian bawah bisa normal atau redup atau timpani
Fekak hati bisa positif atau negatif Nyeri ketok dinding abdomen
Tes undulasi atau tes shifting dullness bisa positip, bisa negatip
Colok dubur: Bisa normal
Bisa ditemukan kelainan - kelainan :
Prostat yang melayang, laserasi pada dinding anorektum, teraba fragmentasi tulang - tulang panggul, nyeri pada perabaan di dinding anorektum, pada sarung tangan bisa ditemukan tetesan atau noda darah, berarti positif ada cedera pada saluran cerna
4 Diagnosa banding : - 5 Pemeriksaan
penunjang
: Disesuaikan dengan fasilitas UGD / Rumah Sakit setempat Pilihan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi:
Foto toraks posisi AP, Foto toraks dengan pemasangan pipa lambung,polos abdomen,
Foto pelvis USG
Lavase peritoneum diagnostik ( PL), IVP
Uretro-sistografi,
Foto kontras saluran cerna bagian atas, CT scan abdomen,
Angiografi,
Indikasi USG sama dengan indikasi DPL: Flasien trauma dengan :
Penurunan tingkat kesadaran
Perubahan / gangguan fungsi sensoris Cedera pada organ - organ yang bertetangga Pemeriksaan fisik abdomen yang meragukan.
Kemungkinan dokter putus kontak dengan pasien untuk waktu yang cukup panjang.
Hasil DPL yang meragukan ( khusus untuk USG abdomen ) yaitu: Lekosit < 500/mm3, eritrosit < 100.000 / mm3
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 7
6 Konsultasi : Bila diperlukan Konsultasi Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular
7 Perawatan rumah sakit
: Rawat inap untuk tujuan observasi
8 Terapi : Tindakan resusitasi ABCD sesuai konsep ATLS kalau
kondisi pernapasan dan hemodinamika penderita tidak stabil. Terapi konservatif:
Terapi konservatif dilakukan bila tidak ada indikasi laparotomi segera, atau hasil pemeriksan penunjang tidak mengungkapkan adanya cedera organ intra abdomen yang nyata.
Terapi konservatif dengan cara observasi dapat dilakukan sampai 2 x 24 jam.
Terapi operatif:
Laparotomi eksplorasi dengan insisi median Indikasi laparotomi eksplorasi:
Tanda-tanda perdarahan intra peritoneal, yaitu adanya syok hipovolemi dengan distensi abdomen yang progesif Tanda-tanda peritonitis generalisata
Pneumoperitoneum pada foto toraks
Pada foto toraks tampak gambaran hernia diafragmnllki (Ruptur Diafragma)
Cairan lavase keluar melalui pipa drenase rongga pleum Pada tindakan DPL, keluar darah > 10 ml atau
cairan usus >
Hasil DPL positip berdasarkan analisa laboratoris, yaitu : jumlah eritrosit > 100.000/mm3 cairan lavase
jumlah lekosit > 500/mm cairan lavase amilase >20 IU/Lcairan lavase
9 Tempat Pelayanan : Minimal Rumah Sakit Was C atau Rumah sakit yang ada fasilitas pembedahan yang memadai
10 Penyulit : Perdarahan massif
Syok hipovolemik, yang bisa berakibat syok irreversibel Koagulasi intra vaskuler yang diseminasi (DIC)
Koagulopathi, Hipotermia, Asidosis. SIRS - sepsis, ARDS, Pneumonia
Pankreatitis pasca trauma, perdarahan saluran cerna, Gangguang fungsi hati.
ARF (gagal ginjal akut) Gagal multi organ 11 Informed consent : Perlu
12 Tenaga Standar : Dokter spesialis Bedah Umum
DokterSpesialis Bedah (K) Bedah Digestif 13 Lama Perawatan : Bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa berlangsung antara 10 hari - 3 bulan 14 Masa Pemulihan : Juga bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa membutuhkan waktu antara 2 minggu - 3 bulan
15 Hasil : Cedera ringan : bisa sembuh tanpa gejala sisa
Cedera berat:
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 8
tanpa kecacatan
Kalau ada penyulit, bisa sembuh dengan atau tanpa kecacatan,
atau bisa meninggal dunia. Cedera mengancam nyawa: Bila timbul penyulit
Bisa sembuh dengan atau tanpa kecacatan, atau bisa meninggal dunia
Angka kematian bisa sampai > 70%
16 Patologi : -
17 Otopsi : Semua pasien trauma abdomen meninggal dunia perlu otopsi
klinik.
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 9
1 ICD : S 36.0
2 Diagnosis : CEDERA LIMPA
Penyebab : umumnya akibat trauma tumpul dan trauM tembus abdomen
3 Kriteria diagnosis : Klinis
Anamnesa: terdapat trauma tumpul pada perut kiri atas atau trauma dada kiri bawah dengan atau tanpa fraktur kosta, luka tusuk abdomen / totakal bawah
Nyeri pada perut kiri atas, nyeri dapat menjalar pada bahu kiri
Tanda-tanda sjok karena perdarahan
Terdapat tanda-tanda cairan bebas dalam rongga perut
4 Diagnosa banding : Trauma perut dengan cedera organ disertai perdarahan dalam perut antara lain cedera lambung, cedera ginjal kiri, cidera hepar kiri
5 Pemeriksaan penunjang
: Dilakukan DPL yang positif
Pemeriksaan USG perut atau CT Scan
6 Konsultasi : Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan 7 Perawatan rumah
sakit
: Rawat inap
8 Terapi Bedah : Dilakukan laparotomi eksplorasi sito dengan insisi pad.i (J tengah atas.
Tindakan terhadap limpa:
Cedera linier - dilakukan penjahitan secara matras. Cedera laserasi atau pedikel jika putus dilakukan pengangkatan limpa (splenektomi) disertai tandur ulang jaringan limpa kedalam
Bursa omentalis
9 Tempat Pelayanan : Minimal Rumah Sakit kelas C
atau Rumah sakit yang ada fasilitas pembedahan yang memadai
10 Penyulit : Shock, perdarahan yang profus
11 Informed consent : Perlu
12 Tenaga Standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif 13 Lama Perawatan : ± 5 – 7 hari
14 Masa Pemulihan : ± 1 - 2 minggu
15 Hasil : Sembuh tanpa cacat
16 Patologi : Tidak diperlukan
17 Otopsi : Diperlukan bila meninggal
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 10
1 ICD : S 36.0
2 Diagnosis : TRAUMA HEPAR (CEDERA HEPAR)
Penyebabnya dapat berupa trauma tembus perut/ trauma tajam, maupun trauma tumpul
3 Kriteria diagnosis : Anamnesa, terdapat trauma tembus perut atas atau trauma tumpul pada perut kanan atas atau toraks kanan bawah Nyeri pada daerah hipokondrium kanan dengan atau tanpa jejas (trauma tumpui)
Terdapat luka tembus perut (pada trauma tembus) Shock dengan tanda - tanda perdarahan dan tanda-tanda cairari bebas dalam rongga peritoneum
4 Diagnosa banding : Trauma perut dengan cedera organ disertai perdarahan, antara lain: cedera pankreas, cedera vaskuler, cedera ginjal
duodenum, dan. limpa. 5 Pemeriksaan
penunjang
: Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL) Ultrasonografi (USG) abdomen / CT Scan 6 Konsultasi : Dokter spesialis terkait, bila diperlukan 7 Perawatan rumah
sakit
: Rawat inap
8 Terapi Bedah : Segera (cito) laparotomi eksplorasi dengan insisi pada garis tengah sebelah atas.
Macam tindakan pada cedera hepar :
Cedera linier : dilakukan penjahitan secara matras dengan benang yang tebal (no 1,0 atau 2,0) yang dapat diserap
Laserasi segmental: dapat dilakukan reseksi secara wedge atau
reseksi segmental dan ditutup dengan omentum Serasi yang luas dengan perdarahan profus dilakukan pemasangan tampon (DCS) yang sulit dihentikan dan dalam 2 x 24 jam dilakukan stabilisasi kemudian dilakukan
reeksplorasi laparotomi untuk terapi definitif. DCS : Damage Control Surgery
Catatan :
Untuk mengatasi perdarahan yang hebat akibat saat
melakukan tindakan diatas, dapat dibantu dengan tindakan pringle
9 Tempat Pelayanan : Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit Iain dengan fasilitas pembedahan yang memadai
10 Penyulit : Perdarahan hebat saat pembedahan
Perdarahan kembali pasca pembedahan Sjok hipovolemik
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 11
Hematobilia
TRIAS : Hipotermia Asidosis Gangguan Koagulopati 11 Informed consent : Perlu
12 Tenaga Standar : Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif 13 Lama Perawatan : ± 5 – 7 hari
14 Masa Pemulihan : ± 1 - 2 minggu
15 Hasil : Sembuh
16 Patologi : -
17 Otopsi : Diperlukan bila meninggal