KENDALA GURU GEOGRAFI DALAM MENGAJAR MATERI MITIGASI BENCANA ALAM KELAS XI DI SLB A BINA INSANI
BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2018/2019
(Skripsi)
Oleh
ANNISA PUTRI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRACT
THE GEOGRAPHYTEACHER’S OBSTACLES INTEACHING NATURAL DISASTER MITIGATION THEORY AT THE SECOND
GRADE OF SLB A BINA INSANI BANDAR LAMPUNG ACADEMIC YEAR 2018/2019
By: Annisa Putri
The objective of this research was to explore the geography teacher’s obstacles in teaching natural disaster mitigation in SLB A Bina Insani Bandar Lampung. This research aims (1) to describe the teacher’s obstacles in delivering the subject matter, (2) to describe the teacher’s obstacles in applying the learning methods, (3) to describe the teacher’s obstacles in applyingthe learning media at the second grade of SLB A Bina Insani Bandar Lampung.
The research method used in this research is descriptive research methods and the data analysis techniques used in this study is descriptive data analysis techniques. The data collection techniques in this research were observation, in-depth interviews, and documentation.
The results showed that geography teacher had various obstacles, i.e., (1) difficult to describe submaterial, difficult to find the right vocabulary to explain submaterial, lack of available time, lack of mastering Braille, (2) visually impaired students often feel bored, poor management, applying the same learning methods, difficult to find the right learning methods based on the characteristics of visually impaired students, (3) the book used is not a book that is specifically for visually impaired students, the time required is relatively long, the different motor abilities of students who are visually impaired, sometimes visually impaired students become unfocused when learning.
ABSTRAK
KENDALA GURU GEOGRAFI DALAM MENGAJAR MATERI MITIGASI BENCANA ALAM KELAS XI DI SLB A BINA INSANI
BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2018/2019
Oleh: Annisa Putri
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah berbagai kendala yang dialami guru geografi dalam mengajar mitigasi bencana alam di SLB A Bina Insani Bandar Lampung. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kendala guru dalam menyampaikan materi pelajaran, (2) mendeskripsikan kendala guru dalam menerapkan metode pembelajaran, (3) mendeskripsikan kendala guru dalam mengaplikasikan media pembelajaran di kelas XI SLB A Bina Insani Bandar Lampung.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru geografi mengalami berbagai kendala, meliputi (1) sulit mendeskripsikan submateri, sulit menemukan kosakata yang tepat untuk menjelaskan submateri, kurangnya waktu yang tersedia, kurang menguasai huruf Braille, (2) peserta didik tunanetra seringkali merasa bosan, pengelolaan yang kurang baik, menerapkan metode pembelajaran yang sama, sulit menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik tunanetra, (3) buku yang digunakan bukanlah buku yang dikhususkan untuk peserta didik tunanetra, waktu yang dibutuhkan relatif lama, kemampuan motorik peserta didik tunanetra yang berbeda-beda, peserta didik tunanetra terkadang menjadi tidak fokus saat belajar.
KENDALA GURU GEOGRAFI DALAM MENGAJAR MATERI MITIGASI BENCANA ALAM KELAS XI DI SLB A BINA INSANI BANDAR LAMPUNG
TAHUN AJARAN 2018/2019
Oleh Annisa Putri
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
pada
Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
KENDALA GURU GEOGRAFI DALAM MENGAJAR MATERI MITIGASI BENCANA ALAM KELAS XI DI SLB A BINA INSANI BANDAR LAMPUNG
TAHUN AJARAN 2018/2019
Oleh Annisa Putri
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
pada
Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis menempuh pendidikan formal di TK Kasih Ibu Bandar Lampung pada tahun 2002 dan melanjutkan pendidikannya di SD Negeri 2 Way Dadi pada tahun
2003. Setelah lulus dari pendidikan sekolah dasar pada tahun 2009, penulis melanjutkannya di SMP Negeri 21 Bandar Lampung dan lulus pada tahun 2012. Kemudian, penulis menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di MAN 1
Bandar Lampung pada tahun 2015.
Penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Lampung pada Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan yang diterima melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi
Negeri (SBMPTN) pada tahun 2015. Penulis telah melaksanakan program Kuliah
Kerja Nyata (KKN) di Desa Banarjoyo, Batanghari, Lampung Timur. Penulis juga
telah melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 1 Batanghari. Program tersebut dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus tahun 2018. yang bernama Zainal Muttaqin dan Amri Yahya. Penulis juga memiliki seorang
adik laki-laki bernama Ahmad Fathoni.
Penulis bernama Annisa Putri, dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 11 November 1996 sebagai anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Bapak Syafruddin
MOTTO
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(Qs. Al-Mujaadilah: 11)
“Don’t let your dreams be dreams” (Jack Johnson)
“You’re what you believe. So, stay motivated!” (Maudy Ayunda)
“Tidak tahu akan berkarir atau berumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi, karena ia akan menjadi ibu.
Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.” (Dian Sastrowardoyo)
“Beauty only gets attention, but personality captures the heart.” (Marilyn Monroe)
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahirrabbil’alaamiin...
Puji syukur kepada Allah SWT karena rahmat dan karunia-Nya skripsi ini telah terselesaikan
dengan baik. Dengan rasa bangga dan bahagia kupersembahkan sebuah karya ini sebagai
rasa syukur dan terimakasih kepada:
Kedua orang tuaku tercinta
dan
SANWACANA
Bismillahirahmanirahim...
Alhamdulilah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang
berjudul “Kendala Guru Geografi Dalam Mengajar Materi Mitigasi Bencana Alam Kelas XI Di SLB A Bina Insani Bandar Lampung Tahun Ajaran 2018/2019”.Skripsi
ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Yarmaidi Bachtiar, M.Si. selaku Pembimbing I sekaligus Pembimbing Akademik, Ibu Annisa Salsabilla, S.Pd., M.Si. selaku Pembimbing II, dan Bapak Dr. Sugeng Widodo, M.Pd.selaku Penguji Utama, yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan,
pengarahan, dan motivasi kepada penulis demi terselesaikannya skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
2. Bapak Drs. Tedi Rusman, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung atas izin dan pelayanan administrasi yang telah diberikan.
3. Bapak Dr. Sugeng Widodo, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung atas izin dan pelayanan administrasi yang telah diberikan.
4. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung yang telah mendidik dan memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.
5. Seluruh Staff Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan urusan administrasi.
6. Ibu Ance Setia Andayani, MM.Pd., selaku Kepala SLB A Bina Insani Bandar Lampung yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.
7. Ibu Winanda Efriana, S.Pd., selaku guru geografi di SLB A Bina Insani Bandar Lampung yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membantu dan bekerja sama pada saat penelitian.
8. Kedua orang tuaku, Bapak Syafruddin dan Ibu Daryani, yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan, kasih sayang, serta pengorbanan, terima kasih atas keikhlasan dan kesabaran kalian. Semoga gelar Sarjana Pendidikan yang akhirnya berhasil aku raih bisa menjadi salah satu kebahagiaan dan kebanggaan untuk kalian. 9. Kakak-kakakku, A’ Kikin, Ambi, Mba Widya, dan adikku, Toni, terima kasih
10. Teman-teman seperjuangan Pendidikan Geografi Angkatan 2015 atas kebersamaan dalam menuntut ilmu hingga hampir stres menyusun skripsi. Semoga silaturahmi kita terus terjaga.
11. Caca dan Arif, terima kasih untuk tidak lulus cepat. Hal ini membuat aku merasa masih memiliki teman di kampus yang terasa semakin sepi. Terima kasih juga karena selalu hadir dan membantuku saat seminar dan kompre.
12. Aulia dan Intan, sahabat tujuh tahunku, sahabat malasku, dan sahabat yang selalu membantuku meskipun kita berbeda program studi, terima kasih karena kita bisa stres bersama dan saling memberi dukungan dalam menyusun ini (kata yang tidak lulus sensor).
13. Keluarga Mikroba-ku, 45 hari tinggal bersama kalian sangat menyenangkan dan terkadang ingin hal itu terulang, tetapi tentunya dengan tidak ada tanggung jawab seperti sebelumnya. Terima kasih untuk tetap saling memberi dukungan dan doa meskipun kita sudah sangat jarang bertemu.
14. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai.
Bandar Lampung, 31 Januari 2020 Penulis,
i DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Masalah ... 6
C. Rumusan Masalah... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian... 8
E. Ruang Lingkup Penelitian... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka... 10
1. Geografi ... 10
2. Guru Geografi ... 11
3. Kendala Guru ... 12
4. Tunanetra ... 13
5. Sekolah Luar Biasa Tunanetra (SLB-A)... 22
6. Materi Pelajaran ... 24
7. Metode Pembelajaran... 24
9. Mitigasi Bencana Alam... 29
B. Penelitian Relevan ... 32
C. Kerangka Pikir ... 34
III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 36
B. Subjek dan Objek Penelitian... 36
C. Variabel Penelitian... 37
D. Definisi Operasional Variabel ... 37
1. Kendala Guru dalam Pembelajaran ... 37
2. Materi Pelajaran ... 37
3. Metode Pembelajaran... 37
4. Media Pembelajaran... 38
E. Sumber Data Penelitian ... 38
1. Sumber Data Primer... 38
ii
F. Teknik Pengumpulan Data ... 39
1. Observasi... 39
2. Wawancara Mendalam (In-depth Interview) ... 39
3. Dokumentasi ... 40
G. Teknik Analisis Data ... 40
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian... 41
1. Lokasi Penelitian... 41
2. Sejarah Singkat SLB A Bina Insani Bandar Lampung ... 43
3. Profil Sekolah... 45
4. Visi, Misi, dan Tujuan SLB A Bina Insani Bandar Lampung ... 46
5. Struktur Organisasi Sekolah ... 47
6. Kondisi SLB A Bina Insani Bandar Lampung ... 48
B. Pelaksanaan Penelitian... 52
C. Hasil dan Pembahasan Penelitian ... 52
1. Identitas Narasumber ... 52
2. Kondisi Peserta Didik Tunanetra di Kelas XI SLB A Bina Insani Bandar Lampung... 53
3. Kendala Guru Geografi dalam Menyampaikan Materi Mitigasi Bencana Alam... 54
4. Kendala Guru Geografi dalam Menerapkan Metode Pembelajaran pada Materi Mitigasi Bencana Alam ... 64
5. Kendala Guru Geografi dalam Mengaplikasikan Media Pembelajaran pada Materi Mitigasi Bencana Alam ... 70
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 78
B. Saran ... 79
iii
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Jumlah Kejadian Bencana Alam dan Korban Jiwa Tahun 2010-2019 .. 2 Tabel 2. Kondisi Ruang dan Gedung SLB A Bina Insani Bandar Lampung ... 48 Tabel 3. Keadaan Guru SLB A Bina Insani Bandar Lampung ... 50 Tabel 4. Keadaan Peserta Didik SLB A Bina Insani Bandar Lampung... 51 Tabel 5. Kondisi Peserta Didik Tunanetra Kelas XI di SLB A Bina Insani
Bandar Lampung... 53 Tabel 6. Kendala Guru Geografi dalam Menyampaikan Materi Mitigasi
Bencana Alam ... 55 Tabel 7. Kendala Guru Geografi dalam Menerapkan Metode Pembelajaran
pada Materi Mitigasi Bencana Alam ... 65 Tabel 8. Kendala Guru Geografi dalam Mengaplikasikan Media Pembelajaran
iv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Huruf Braille ... 22
Gambar 2. Bagan Kerangka Pikir ... 35
Gambar 3. Peta Lokasi SLB A Bina Insani Bandar Lampung... 42
Gambar 4. Denah Ruang dan Gedung SLB A Bina Insani Bandar Lampung ... 49
Gambar 5. Penggunaan Laptop oleh Peserta Didik Tunanetra ... 56
Gambar 6. Penggunaan Reglet oleh Peserta Didik Tunanetra ... 61
Gambar 7. Simulasi Gempa Bumi ... 67
Gambar 8. Pengaplikasian Peta Taktual oleh Peserta Didik Tunanetra... 73
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang rawan mengalami bencana, seperti gunung meletus, gempa bumi, tsunami, banjir, angin topan, dan tanah longsor. Berbagai bencana tersebut terjadi karena berbagai sebab, diantaranya ialah wilayah
Indonesia terletak di antara tiga lempeng tektonik dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Ketiga lempeng tersebut
berpotensi menimbulkan gempa bumi apabila lempeng-lempeng tersebut saling bertumbukan.
Selain itu, Indonesia juga berada di Pacific Ring Of Fire (Cincin Api Pasifik), yaitu jalur rangkaian gunung api paling aktif di dunia yang membentang
sepanjang lempeng pasifik. Aktivitas gunung berapi menyebabkan terjadinya gempa vulkanik, sedangkan pergeseran lempeng benua menyebabkan gempa
tektonik. Bila pusat gempa terjadi di lautan, maka akan terjadi tsunami. Iklim di Indonesia juga menyebabkan angin musim yang kadang-kadang bisa terjadi angin topan, sedangkan curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan banjir dan tanah
longsor. Berbagai bencana tersebut terus terjadi dan banyak menelan korban jiwa. Berikut data mengenai Jumlah Kejadian Bencana Alam dan Korban Jiwa pada
2
Tabel 1. Jumlah Kejadian Bencana Alam dan Korban Jiwa Tahun 2010-2019
Tahun Jumlah Kejadian
Korban (Jiwa)
Meninggal dan Hilang Luka-Luka Menderita dan Mengungsi
2010 1.947 1.853 35.730 1.649.504
2011 1.622 428 692 475.529
2012 1.781 314 1.198 940.389
2013 1.666 511 3.410 3.892.373
2014 1.963 601 2.104 2.778.092
2015 1.694 276 370 1.215.816
2016 2.308 569 2.675 3.161.231
2017 2.868 360 1.042 3.674.168
2018 3.405 3.874 21.171 563.135
2019 1.432 373 1.398 652.322
Jumlah 20.686 9.159 69.790 19.002.559
Sumber: Data Informasi Bencana Indonesia, 2019.
Berdasarkan tabel 1 di atas, jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia selama
10 tahun terakhir sangat banyak dan mengalami fluktuasi, begitu juga dengan jumlah korban. Hal ini berarti tidak ada angka pasti mengenai jumlah bencana
yang akan terjadi setiap tahunnya karena bencana alam sulit diprediksi waktu terjadinya.
Dengan adanya kejadian bencana alam yang banyak terjadi, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi sebelum, pada saat, dan
setelah bencana terjadi. Hal tersebut membuktikan bahwa ada komitmen dan itikad yang perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), seperti
STKIP, IKIP, dan FKIP. Hal ini juga seiring dengan strategi nasional pengarusutamaan pengurangan resiko bencana ke dalam sistem pendidikan yang
3
terhadap bencana melalui sistem desentralisasi pendidikan yang mampu mendukung pengurangan risiko bencana melalui upaya pengurangan kerentanan dan peningkatan kapasitas di sektor pendidikan. Penerapan pengarusutamaan
tersebut di atas memprioritaskan integrasi materi mitigasi bencana dalam berbagai aktivitas pembelajaran di sekolah. Materi mitigasi bencana merupakan salah satu
materi yang termasuk ke dalam mata pelajaran geografi.
Hal yang belum termuat secara eksplisit dalam surat edaran Mendiknas Nomor 70a/MPN/SE/2010 adalah strategi untuk kelompok rentan yang ada di sekolah. Kelompok rentan yang dimaksud adalah ibu hamil, orang lanjut usia, serta anak
berkebutuhan khusus. Keberadaan anak berkebutuhan khusus banyak ditemukan di sekolah khusus dan sekolah inklusi. Anak tunanetra merupakan salah satu jenis
anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan dalam hal penglihatan.
Sekolah khusus untuk peserta didik tunanetra adalah Sekolah Luar Biasa (A). Di Provinsi Lampung, hanya terdapat 1 sekolah khusus tersebut, yakni SLB A Bina Insani Bandar Lampung yang terletak di Jalan Purnawirawan Gang Cemara
Nomor 17 A, Kelurahan Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Sekolah ini terdiri dari SDLB, SMPLB, dan
SMALB. Dengan kondisi peserta didik tunanetra yang lebih mengandalkan indera pendengaran dan perabaan, dalam mengikuti pembelajaran, tentu saja hal ini akan menghambat pembelajaran sehingga akan lebih sulit bagi mereka untuk
mempelajari materi mitigasi bencana alam.
4
kemudahan dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan, dan bakatnya. Guru juga sebagai sumber belajar bagi peserta didik yang dituntut untuk dapat memahami seluruh materi pelajaran sehingga dapat menyampaikannya dengan
baik agar peserta didik dapat dengan mudah memahaminya. Guru juga diminta agar lebih kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran yang akan diberikan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan guru, yaitu dengan menggunakan media pembelajaran.
Maka dari itu, media pembelajaran diharapkan dapat memudahkan peserta didik memahami materi pelajaran. Media pembelajaran pada era modernisasi saat ini
dapat disajikan dengan lebih menarik dan menyenangkan. Media pembelajaran yang digunakan oleh guru juga hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan peserta
didik. Untuk peserta didik tunanetra sebaiknya guru menggunakan media pembelajaran yang dapat diraba dan didengar oleh mereka sehingga materi pelajaran dapat lebih mudah dipahami.
Selain penyampaian materi pelajaran dan media pembelajaran yang diaplikasikan
oleh guru, metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru juga merupakan bagian penting. Seorang guru harus mampu menggunakan metode pembelajaran
yang sesuai dengan keadaan peserta didik sehingga peserta didik dapat menerima materi pelajaran dengan baik. Selain itu, menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi juga dapat dilakukan oleh guru. Hal ini akan membuat pembelajaran
menjadi lebih menyenangkan dan menarik bagi peserta didik. Jadi, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru sangat menentukan keberhasilan belajar
5
Pada pelaksanaannya, tidak dapat dimungkiri bahwa guru sering mengalami berbagai kendala dalam pembelajaran, baik kendala yang disebabkan oleh faktor manusiawi, institusional, maupun instruksional. Kendala-kendala yang dialami
oleh guru pendidikan umum tentu berbeda dengan kendala yang dialami oleh guru pendidikan khusus. Guru pendidikan khusus harus memiliki pengetahuan tentang
anak-anak berkebutuhan khusus, kesabaran, serta kesehatan fisik dan mental yang baik. Hal tersebut diperlukan agar guru dapat memahami karakteristik anak-anak berkebutuhan khusus sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan baik.
Untuk mata pelajaran geografi, peserta didik diajar oleh seorang guru lulusan
geografi, tetapi guru tersebut belum pernah mengikuti kuliah kompetensi tambahan selama 2 semester untuk memperkuat kompetensi mendidik Anak
Berkebutuhan Khusus (ABK). Hal tersebut berpengaruh terhadap kemampuan guru geografi dalam memahami huruf Braille yang digunakan oleh peserta didik. Hal ini sejalan dengan pernyataan Mudjito selaku Direktur Pembinaan Pendidikan
Khusus dan Layanan Khusus (PPK-LK), yakni calon guru yang berasal dari program studi lain asal memenuhi kualifikasi D4/S1 harus mengikuti kuliah kompetensi tambahan selama 2 semester untuk memperkuat kompetensi mendidik
anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) dan pemerintah akan membantu untuk biaya pendidikannya sebab guru yang berlatar pendidikan luar biasa jumlahnya
terbatas.
Hasil pengamatan lainnya, yaitu dalam penyampaian materi Mitigasi Bencana Alam, guru geografi sering mengalami kendala dalam mendeskripsikannya
6
oleh mereka. Padahal dalam pembelajaran beliau lebih sering menggunakan metode pembelajaran ceramah dan tanya jawab. Metode pembelajaran tersebut juga diketahui cenderung membuat peserta didik tunanetra merasa bosan.
Selanjutnya, dalam pengaplikasian media pembelajaran, seperti peta taktual, guru geografi sering mengalami kendala terkait dengan kemampuan motorik
peserta didik tunanetra yang berbeda-beda dan sulit untuk mencari atau membuat media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik tunanetra yang lebih mengandalkan indera pendengaran dan indera peraba.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Kendala Guru Geografi Dalam Mengajar Materi
Mitigasi Bencana Alam Kelas XI Di SLB A Bina Insani Bandar Lampung Tahun
Ajaran 2018/2019”.
B. Fokus Masalah
Fokus masalah pada penelitian ini adalah kendala-kendala yang ditemukan baik dalam keadaan sadar atau kendala yang muncul tanpa disadari guru geografi saat
pembelajaran di kelas pada materi mitigasi bencana alam. Kendala tersebut terkait dengan penyampaian materi pelajaran, penerapan metode pembelajaran, dan
pengaplikasian media pembelajaran. Materi mitigasi bencana alam yang akan dipelajari oleh peserta didik tunanetra mencakup jenis dan karakteristik bencana alam, siklus penanggulangan bencana, persebaran wilayah rawan bencana alam di
Indonesia, lembaga-lembaga yang berperan dalam penanggulangan bencana alam, penanggulangan bencana alam melalui edukasi, kearifan lokal, dan pemanfaatan
7
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:
1. Apa saja kendala guru geografi dalam menyampaikan materi mitigasi bencana alam kelas XI di SLB A Bina Insani Bandar Lampung Tahun Ajaran
2018/2019?
2. Apa saja kendala guru geografi dalam menerapkan metode pembelajaran materi mitigasi bencana alam kelas XI di SLB A Bina Insani Bandar Lampung
Tahun Ajaran 2018/2019?
3. Apa saja kendala guru geografi dalam mengaplikasikan media pembelajaran
materi mitigasi bencana alam kelas XI di SLB A Bina Insani Bandar Lampung Tahun Ajaran 2018/2019?
C. Tujuan Penelitian
Sebuah penelitian harus memiliki tujuan yang jelas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu:
1. Mendeskripsikan kendala guru geografi dalam menyampaikan materi mitigasi bencana alam kelas XI di SLB A Bina Insani Bandar Lampung Tahun Ajaran
2018/2019.
2. Mendeskripsikan kendala guru geografi dalam menerapkan metode pembelajaran materi mitigasi bencana alam kelas XI di SLB A Bina Insani
Bandar Lampung Tahun Ajaran 2018/2019.
3. Mendeskripsikan kendala guru geografi dalam mengaplikasikan media
8
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, antara lain:
1. Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan pada
Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung.
2. Memberikan informasi mengenai kendala guru geografi dalam mengajar materi mitigasi bencana alam untuk peserta didik tunanetra.
3. Sebagai proses pembelajaran bagi peneliti dan menerapkan ilmu yang selama
ini didapat di bangku kuliah.
4. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk melakukan
penelitian sejenis dan lebih lanjut dalam bidang yang sama.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Agar dapat berjalan dengan baik dan terarah, maka perlu adanya batasan-batasan yang harus ditentukan. Adapun ruang lingkup penelitian ini, yaitu:
1. Ruang Lingkup Subjek Penelitian
Ruang lingkup subjek dalam penelitian ini adalah guru geografi kelas XI di SLB A Bina Insani Bandar Lampung.
2. Ruang Lingkup Objek Penelitian
Ruang lingkup objek dalam penelitian ini adalah kendala guru geografi dalam mengajar materi mitigasi bencana alam di kelas XI.
3. Ruang Lingkup Tempat Penelitian
Ruang lingkup tempat penelitian ini, yaitu SLB A Bina Insani Bandar Lampung.
4. Ruang Lingkup Waktu Penelitian
9
5. Ruang Lingkup Ilmu Penelitian
Ruang lingkup ilmu pada penelitian ini, yaitu Pendidikan Geografi. Pendidikan Geografi adalah suatu disiplin ilmu yang dilandasi oleh ranah pendidikan dan
geografi (Reinfried, 2011). Tujuan pendidikan geografi adalah mengembangkan geographical knowledge, skills, dan attitudes and values (The
10
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka 1. Geografi
Geografi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu geo(s) yang artinya bumi dan graphein yang artinya menggambarkan, mendeskripsikan, ataupun mencitrakan. Secara harfiah, geografi berarti ilmu yang menggambarkan tentang bumi. Menurut Seminar dan Lokakarya Ikatan Geograf Indonesia (SEMILOKA IGI) tahun 1989, geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dalam sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan.
11
2. Guru Geografi
Guru geografi adalah mereka yang memiliki latar belakang pendidikan berasal dari lembaga pendidikan yang secara yuridis formal memiliki kewenangan menghasilkan tenaga kependidikan, secara khusus pada mata pelajaran geografi. Mereka secara kualifikasi memiliki tugas menjadi tenaga pengajar pada jenjang pendidikan tertentu dan bertanggung jawab atas pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, mereka memiliki kompetensi yang komprehensif, yakni dalam penguasaan bidang studi (Hadikusna, 2013).
Secara umum, kompetensi yang dimiliki oleh guru geografi sama dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru lainnya, namun terdapat beberapa kompetensi khusus. Daldjoeni (1991:115) mengemukakan lima kemampuan yang harus dimiliki oleh guru geografi sehingga dapat dibedakan dengan guru lainnya. Kelima kompetensi tersebut merupakan syarat untuk menjadi guru geografi yang ideal, yaitu:
1. Mempunyai perhatian yang cukup banyak kepada permasalahan kemanusiaan
2. Mempunyai kemampuan untuk menemukan sendiri faktor-faktor lokatif, pola-pola regional dan relasi keruangan yang terkandung oleh, ataupun tersembunyi di belakang gejala sosial.
3. Mampu dan menyenangi kegiatan observasi secara mandiri di lapangan. 4. Memiliki kemampuan mensintesakan data yang berasal dari berbagai
sumber.
5. Mampu membedakan serta memisahkan kausalitas yang sungguh, dari hal-hal yang sifatnya kebetulan belaka.
12
3. Kendala Guru
Setiap profesi pasti memiliki kendala, termasuk guru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kendala merupakan halangan; rintangan; gendala, sedangkan guru adalah orang yang memfasilitasi proses peralihan ilmu pengetahuan dari sumber belajar ke peserta didik (Chotimah, 2008:12). Jadi, kendala guru adalah halangan atau rintangan yang dialami oleh seseorang yang berprofesi sebagai guru. Dalam hal ini kendala yang akan dikaji adalah kendala yang terjadi dalam pembelajaran. Kendala dalam pembelajaran adalah beberapa hambatan yang menghambat jalannya pembelajaran yang dilihat dari faktor metode, faktor manusiawi (guru dan peserta didik), faktor intitusional (ruang kelas), dan intruksional (kurangnya alat peraga) (Hamalik, 2006:16).
Hamalik (2011:57) juga menjelaskan bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur manusiawi (siswa, guru, dan tenaga lainnya), material (buku-buku, papan tulis dan kapur, fotografi, slide dan film, audio, dan video), fasiltas dan perlengkapan (ruang kelas, perlengkapan, audiovisual, komputer), prosedur (jadwal dan penyampaian informasi praktik, belajar, ujian). Selanjutnya, Dimyati dan Mudjiono (2002:157), menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru dan membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
13
metode, faktor manusiawi, faktor intitusional, dan intruksional. Kendala yang dimaksud dalam penelitian ini ialah kendala yang terkait dengan penyampaian materi pelajaran, penerapan metode pembelajaran, dan pengaplikasian media pembelajaran. Kendala-kendala tersebut tidak bersifat permanen, melainkan dapat diatasi bahkan dapat dicegah. Dalam hal ini, guru memegang peranan penting sebab guru merupakan faktor utama agar suatu pembelajaran sebisa mungkin tidak ada kendala yang terjadi.
4. Tunanetra
4.1 Pengertian Tunanetra
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tunanetra artinya tidak dapat melihat; buta. Salah satu kriteria yang dapat digunakan sebagai dasar pengklasifikasian anak tunanetra di Indonesia adalah hasil musyawarah ketunanetraan di Solo tahun 1968. Seseorang dikatakan tunanetra jika ia memiliki visus sentralis 6/60 atau lebih kecil dari itu dan setelah dikoreksi secara maksimal penglihatannya tidak memungkinkan lagi mempergunakan fasilitas pendidikan dan pengajaran yang biasa digunakan oleh anak normal atau orang awas, seperti kacamata, lup, dan sebagainya (Efendi, 2006:31).
14
Pendapat di atas memberi pemahaman bahwa perlu adanya penyesuaian terhadap seseorang yang mengalami keterbatasan melihat atau tunanetra yang memiliki kekhasan dan cara tersendiri untuk mencapai tahapan yang sama dalam perkembangannya. Berdasarkan definisi tersebut dapat ditegaskan bahwa anak tunanetra merupakan anak yang mengalami keterbatasan penglihatan secara keseluruhan (the blind) atau secara sebagian (low vision) yang menghambat dalam memperoleh informasi secara visual sehingga dapat mempengaruhi proses pembelajaran dan prestasi belajar.
4.2 Faktor-Faktor Penyebab Ketunanetraan
Ketunanetraan dapat disebabkan oleh beberapa hal. Pradopo (1977:3) mengemukakan bahwa terdapat dua faktor pokok yang menyebabkan seseorang menderita tunanetra, yaitu:
a. Faktor Endogen, ialah faktor yang erat hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan. Masalah keturunan, misalnya hasil perkawinan bersaudara, antar sesama tunanetra, atau seseorang yang mempunyai orang tua atau nenek moyang menderita tunanetra. Anak tunanetra yang lahir sebagai akibat proses pertumbuhan dalam kandungan dapat disebabkan oleh gangguan yang diderita sang ibu waktu hamil atau karena unsur-unsur penyakit yang bersifat menahun (misalnya TBC) sehingga merusak sel-sel darah tertentu selama pertumbuhan janin dalam kandungan.
b. Faktor Eksogen, ialah faktor yang disebabkan oleh penyakit atau kecelakaan, seperti:
15
kiri-kanan dan selaput bening kelihatan kering) dan stadium keratomalacia (selaput bening menjadi lunak, keruh, dan hancur).
2. Trakoma, yakni penyakit dengan gejala bintil-bintil pada selaput putih, kemudian perubahan pada selaput bening dan pada stadium akhir selaput putih menjadi keras, sakit, dan luka.
3. Katarak, yaitu penyakit di mana lensa mata menjadi keruh hingga membuat penglihatan menjadi tidak jelas. Katarak kebanyakan disebabkan oleh proses penuaan, namun terkadang ada pula anak-anak yang terlahir dengan katarak. Selain itu, katarak juga lebih berisiko terjadi akibat cedera mata, peradangan, dan pada penyakit tertentu, misalnya diabetes.
4. Glukoma, yakni penyakit akibat peningkatan tekanan di dalam bola mata, yang menyebabkan kerusakan saraf mata dan akan memburuk seiring berjalannya waktu. Glaukoma cenderung diturunkan dalam keluarga dan mungkin baru akan muncul ketika seseorang sudah bertambah tua.
5. Kecelakaan yang dialami penderita, baik secara langsung maupun tidak langsung mengenai bola mata, misalnya kecelakaan karena kemasukan kotoran benda keras, benda tajam, atau cairan yang berbahaya, dan sebagainya.
4.3 Klasifikasi Tunanetra
Orang yang menderita tunanetra telah diklasifikasikan menurut beberapa sudut pandang. Menurut Pradopo (1977:12), tunanetra diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
16
a. Penderita tunanetra sebelum dan sejak lahir, yakni mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan.
b. Penderita tunanetra sesudah lahir atau pada usia kecil, yang sudah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan. c. Penderita tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja, kesan-kesan pengalaman visual meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap proses perkembangan pribadi.
d. Penderita tunanetra pada usia dewasa, yang dengan segala kesadaran masih mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.
e. Penderita tunanetra dalam usia lanjut, yang sebagian besar sudah sulit
mengikuti latihan-latihan menyesuaikan diri.
2. Ditinjau berdasarkan kemampuan daya lihat, yakni sebagai berikut.
a. Penderita tunanetra ringan (defective vision/low vision), yakni penderita yang mempunyai kelainan atau kekurangan daya penglihatan, seperti para penderita rabun, juling, miopia ringan. Penderita ini masih dapat mengikuti program pendidikan biasa di sekolah umum atau masih mampu melakukan pekerjaan yang membutuhkan penglihatan dengan baik.
b. Penderita tunanetra setengah berat (partially sighted), yakni penderita yang kehilangan sebagian daya penglihatannya. Hanya dengan menggunakan kacamata pembesar penderita masih bisa mengikuti program pendidikan biasa atau masih mampu membaca tulisan-tulisan yang berhuruf tebal.
17
4.4 Karakteristik Ketunanetraan
Hilangnya fungsi penglihatan menimbulkan keterbatasan tunanetra untuk mengenali benda maupun orang lain yang berada disekitarnya. Seorang tunanetra akan selalu menunggu aksi dari benda atau orang lain sebelum melakukan reaksi (Hidayat dan Suwandi, 2013:18). Jadi, mereka akan bergerak dan merespon apabila ada stimulus terlebih dahulu yang datang padanya. Dengan demikian, kemampuan inisiatif untuk melakukan kegiatan cenderung rendah bahkan tidak ada. Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan seorang tunanetra kehilangan kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sosial.
Ketunanetraan seringkali menimbulkan rasa ketidakberdayaan karena terbatasnya kemampuan tunanetra dalam berorientasi terhadap lingkungan sekitarnya sehingga mereka akan menjadi mudah putus asa, mudah tersinggung, mudah curiga, tidak percaya diri, dan ketergantungan yang berlebihan terhadap orang lain sebab secara langsung atau tidak langsung, bantuan yang berlebihan untuk tunanetra dapat merugikan tunanetra itu sendiri karena aktivitasnya menjadi terbatas. Selain itu, jika tunanetra diajak bercakap-cakap, jika lawan bicara tidak menyebutkan namanya barangkali mereka tidak akan tahu, apakah pembicaraan itu diarahkan kepadanya atau kepada orang lain (Efendi, 2006:51). Oleh karena itu, dalam pembelajaran guru harus mampu menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik peserta didik tunanetra.
4.5 Penyesuaian Diri Anak Tunanetra
18
menjadi sarana alternatif yang digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut Cruickshank (dalam Efendi, 2006:38) indera pendengaran sebagai transmisi dalam berinteraksi dengan lingkungan bagi anak tunanetra dapat membantu memberikan petunjuk tentang jarak atau arah objek dengan mengenal suaranya, namun ia tidak dapat mengenal wujud konkret tentang objek yang dikenalnya.
Perabaan sebagai sarana alternatif lainnya setelah pendengaran barangkali dapat membantu bagi anak tunanetra untuk memperoleh pengalaman kinestetik. Melalui perabaan, anak-anak tunanetra dapat langsung melakukan kontak dengan objek yang ada disekitarnya. Urgensi perabaan bagi anak tunanetra dapat memberikan gambaran secara konkret mengenai ukuran, posisi, temperature, berat dan bentuk, dan berguna sebagai pengganti mata dalam kegiatan membaca tulisan yang menggunakan huruf Braille.
Walaupun pendengaran dan perabaan telah memberikan sumbangan yang berarti sebagai subtitusi hilangnya penglihatan, tetapi keduanya memiliki keterbatasan. Karakteristik suara dibatasi oleh waktu dan bersifat terporal. Oleh karena itu, agar tidak kehilangan momen-momen penting dari suara yang ditangkap lewat indera pendengarannya, anak tunanetra perlu menyimak secara saksama setiap momen suara yang ditangkapnya. Kesulitan lain yang dihadapi oleh anak tunanetra dalam menyimak suara, yaitu jika pada saat yang sama terjadi distorsi dengan suara lain, atau berbeda dengan mental map yang tumbuh dalam diri anak tunanetra.
19
jangkauan. Berkenaan dengan jarak benda yang bisa diraba anak tunanetra, jangkauan letaknya hanya sebatas apa yang ada didepannya. Jika benda itu ukurannya sangat besar atau jika letak benda itu berjauhan dengan anak, tampaknya ia akan mengalami kesulitan untuk menggapainya. Akibat ketidaklengkapan pengenalan anak tunanetra terhadap benda atau objek yang ada disekitarnya, perkembangan fungsi kognitif anak tunanetra akan terhambat.
Menurut Moerdiani (dalam Efendi, 2006:41) pengenalan terhadap benda yang dapat dijangkau anak tunanetra melalui perabaan dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu yang pertama, persepsi sintetik yaitu objek yang diamati secara keseluruhan, baik diraba dengan satu tangan atau dua tangan, untuk selanjutnya diuraikan bagian-bagian tersebut. Kedua, persepsi analitik yaitu persepsi perabaaan pada objek yang tidak tercakup satu atau dua tangan karena objeknya terlalu besar sehingga prosesnya perlu menelusuri bagian dari objeknya satu per satu. Objek atau situasi yang diobservasi dapat dilakukan dalam bentuk nyatanya atau dalam sebuah model. Jika objeknya terlalu besar atau terlalu kecil untuk dijangkau, perlu dicarikan model yang setidaknya hampir serupa.
20
bermanfaat untuk mengetahui lokasi suatu objek atau memperoleh informasi sifat dari objek. Indera pengecap untuk mengenali sifat-sifat dari benda atau objek yang memerlukan kontak langsung, misalnya rasa manis pada gula, rasa asin pada garam, rasa pahit pada jamu, dan lain-lainnya. Indera perasa bermanfaat untuk memperoleh informasi tentang udara, benda, besar angin, sengatan matahari, tekanan udara, dan lain-lainnya.
4.6 Kemampuan Bahasa dan Bicara Anak Tunanetra
Anak yang sejak lahir mengalami tunanetra berat akan kesulitan untuk belajar bahasa sebab sebagian besar proses pembelajaran bahasa dan bicara pada anak melalui imitasi dan penglihatan yang diobservasi dari lingkungannya. Atas dasar itulah, perkembangan bahasa anak yang mengalami ketunanetraan sejak lahir, konsep perbendaharaan kata yang dimiliki lebih lambat dibandingkan dengan anak normal. Cruickshank (dalam Efendi, 2006:47) menyebut kemampuan bahasa anak tunanetra sebagai unverbal reality sebab anak tunanetra hanya mengenal nama-nama tanpa mempunyai pengalaman untuk memahami hakikat secara langsung objeknya, interpretasinya hanya menurut gagasannya, dan cenderung verbalistik. Maka, anak tunanetra memerlukan program khusus untuk mempelajari konsep-konsep sederhana, seperti yang diajarkan pada anak normal.
21
sebab fungsional, penyebabnya adalah regresi, egois, gembira yang berlebihan, rendah diri, dan kompensasi yang berlebihan. Bentuk-bentuk gangguan bahasa dan bicara yang seringkali terjadi pada anak tunanetra meliputi kesalahan ucap, pelat, dan gagap. Frekuensi terbesar gangguan bicara pada anak tunanetra disebabkan rusaknya organ bicara.
Perbedaan kemampuan bicara antara anak normal dan anak tunanetra dalam berbagai referensi menurut Brieland (dalam Efendi, 2006:48) diketahui sebagai berikut.
1. Anak tunanetra menggunakan sedikit gerakan bibir dalam mengartikulasikan suara.
2. Anak tunanetra memiliki sedikit variasi vokal. 3. Modulasi suara kurang bagus.
4. Penggunaan gerakan tubuh dan mimik kurang efektif.
5. Anak tunanetra mempunyai kecenderungan bicara keras dan lambat.
4.7 Kemampuan Membaca Anak Tunanetra
22
dibandingkan dengan tangan kiri, serta membaca huruf Braille dengan diam lebih cepat dibandingkan dengan oral.
[image:39.595.231.396.351.522.2]Kepekaan jari-jari tangan sebagai pengganti mata dituntut untuk memiliki sensitivitas yang tinggi. Oleh karena itu, kondisi jari-jari tangan di samping dijaga dari hal-hal yang dapat mengganggu sensitivitasnya, juga dibantu dengan latihan yang intensif untuk meningkatkan kepekaan hasil rabaan terhadap titik-titik timbul yang menjadi formasi huruf Braille. Bentuk dan formasi huruf Braille yang dikonstruksi dari kumpulan titik-titik timbul, baik yang dicetak dengan reglet atau mesin ketik Braille dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1. Huruf Braille (Effendi, 2006:34)
5. Sekolah Luar Biasa Tunanetra (SLB A)
23
5.1 Fasilitas
Fasilitas yang digunakan untuk membantu pembelajaran bagi peserta didik tunanetra, yaitu:
1. Alat bantu menulis huruf Braille, seperti Reglette, Pen, dan mesin ketik Braille.
2. Alat bantu membaca huruf Braille, seperti Papan huruf dan Optacon.
3. Alat bantu berhitung, seperti Cubaritma, Abacus/Sempoa, Speech Calculator.
4. Alat bantu yang bersifat audio, seperti tape-recorder.
5.2 Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran di sekolah yang diharapkan dapat tercapai bagi peserta didik tunanetra, yaitu:
1. Menjadikan peserta didik tunanetra lebih terampil dalam membuat sesuatu. 2. Menjadikan peserta didik tunanetra lebih mandiri dalam menghadapi suatu
permasalahan.
3. Menjadikan peserta didik tunanetra lebih dapat bersosialisasi terhadap lingkungan disekitarnya.
5.3 Manajemen Kelas
24
Dengan jenis yang berbeda, berbeda pula fasilitas, tujuan pembelajaran, dan manajemen kelas yang dimiliki. Hal tersebut dilakukan berdasarkan penyesuaian terhadap karakteristik anak berkebutuhan khusus. SLB yang menjadi lokasi dalam penelitian ini adalah SLB A Bina Insani Bandar Lampung.
6. Materi Pelajaran
Materi pelajaran merupakan salah satu komponen dalam bahan ajar. Menurut Ruhimat (2011:152), materi pelajaran pada dasarnya adalah “isi” dari kurikulum, yaitu berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topik/subtopik dan rinciannya. Dalam penyampaiannya, guru sering mengalami kendala. Devis dalam Roestiyah (2012:79) menyatakan kendala-kendala tersebut sebagai berikut:
a. Guru kurang menguasai materi.
b. Materi yang disajikan tidak relevan dengan tujuan. c. Konsekuen dari materi pelajaran tidak berstruktur. d. Materi yang diberikan sangat luas.
e. Konsekuen materi tidak sistematis dan tidak logis.
f. Guru kurang mampu dalam menyesuaikan penyajian bahan dengan waktu yang tersedia.
g. Guru kurang terampil dalam mengorganisasikan materi pelajaran. h. Guru kurang mampu mengembangkan materi pelajaran yang diberikan. i. Guru kurang mempertimbangkan urutan tingkat kesukaran dari materi yang
diberikan.
Berdasarkan penjelasan di atas, materi pelajaran ialah rincian yang terdapat dalam mata pelajaran. Dalam menyampaikan materi pelajaran, guru seringkali mengalami kendala seperti yang telah disebutkan di atas. Dalam penelitian ini, materi pelajaran yang diteliti adalah materi mitigasi bencana alam yang diajarkan oleh guru geografi di SLB A Bina Insani Bandar Lampung.
7. Metode Pembelajaran
25
pembelajaran. Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya pengajaran (Sudjana, 2005:76). Terdapat banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan. Akan tetapi, setiap metode pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Ada metode yang cocok diterapkan pada suatu materi pelajaran tertentu tetapi tidak cocok bila diterapkan pada materi pelajaran lain. Oleh karena itu, untuk menerapkan suatu metode pembelajaran haruslah dipikirkan atau dipilih secara sesuai sehingga memperoleh metode pembelajaran yang tepat.
Ketepatan menggunakan metode pembelajaran bergantung pada kesesuaiannya terhadap beberapa faktor. Sumiati dan Asra (2008:92) mengungkapkan bahwa terdapat 8 faktor yang memengaruhi kesesuaian metode pembelajaran, yaitu:
a. Kesesuaian metode pembelajaran dengan tujuan pembelajaran. b. Kesesuaian metode pembelajaran dengan materi pelajaran. c. Kesesuaian metode pembelajaran dengan kemampuan guru. d. Kesesuaian metode pembelajaran dengan kondisi peserta didik.
e. Kesesuaian metode pembelajaran dengan sumber dan fasilitas tersedia. f. Kesesuaian metode pembelajaran dengan situasi kondisi pembelajaran. g. Kesesuaian metode pembelajaran dengan waktu yang tersedia.
h. Kesesuaian metode pembelajaran dengan tempat belajar.
Jenis metode pembelajaran sangatlah bervariatif. Metode pembelajaran yang digunakan di sekolah umum dengan sekolah luar biasa pun berbeda. Bahkan, metode pembelajaran untuk setiap jenis tuna pun berbeda. Berikut beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk peserta didik tunanetra:
26
b. Metode Tanya Jawab, metode pembelajaran ini dapat diterapkan kepada peserta didik tunanetra karena metode pembelajaran ini merupakan tambahan dari metode ceramah yang menggunakan indera pendengaran. Metode pembelajaran ini juga sangat baik digunakan untuk mengetahui pemahaman peserta didik tunanetra mengenai materi pelajaran.
c. Metode Diskusi, metode pembelajaran ini dapat diterapkan kepada peserta didik tunanetra karena mereka dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan diskusi itu karena dalam metode diskusi kemampuan daya pikir peserta didik untuk memecahkan suatu persoalan lebih diutamakan dan metode pembelajaran ini bisa diikuti tanpa menggunakan indera penglihatan.
d. Metode Sorogan, metode pembelajaran ini dapat diterapkan kepada peserta didik tunanetra karena adanya bimbingan langsung dari guru kepada anak didik dan seorang guru dapat mengetahui langsung sejauh mana kemampuan anak didiknya dalam memahami suatu materi pelajaran.
e. Metode Bandongan, metode pembelajaran ini dapat diterapkan kepada peserta didik tunanetra karena guru memberikan penjelasan materi kepada anak didik tidak secara perorangan. Metode pembelajaran ini merupakan kebalikan dari metode sorogan. Tunanetra dapat mengikuti metode pembelajaran ini karena dapat diikuti dengan tanpa menggunakan indera penglihatan.
27
g. Metode Simulasi, metode pembelajaran ini dapat diterapkan kepada peserta didik tunanetra karena membuat suatu peniruan terhadap sesuatu yang nyata, terhadap keadaan sekelilingnya (state of affaris) atau proses.
Guru diharapkan mampu peka terhadap lingkungan serta kreatif dalam memilih dan menggabungkan metode pembelajaran sehingga mampu menciptakan metode pembelajaran yang tepat pada situasi tertentu. Menggabungkan atau membuat metode pembelajaran lebih bervariasi tidaklah mudah, tetapi hal tersebut mampu membuat situasi saat pembelajaran berlangsung lebih efektif dan dapat mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran yang bervariasi akan membuat peserta didik menjadi tidak jenuh dan dapat membuat peserta didik percaya diri melalui keaktifannya di kelas sehingga dapat meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik. Akan tetapi, terdapat beberapa kendala terkait dengan metode pembelajaran. Devis dalam Roestiyah (2012:81) menyatakan kendala tersebut sebagai berikut:
a. Guru kurang menguasai beberapa sistem penyajian materi pelajaran yang menarik dan efektif.
b. Pemilihan metode kurang relevan dengan tujuan dan materi pelajaran. c. Kurang terampil dalam menggunakan metode pembelajaran.
d. Kurang bervariasi dalam menggunakan metode pembelajaran. e. Cara menyajikan kurang membangkitkan motivasi.
f. Sangat terikat pada satu metode pembelajaran saja.
28
8. Media Pembelajaran
Media sangat dibutuhkan untuk mempermudah penyaluran informasi yang diberikan oleh guru kepada peserta didik dalam pembelajaran. Media merupakan kata jamak dari “medium”, yang berarti perantara atau pengantar. Media
pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran. Media pembelajaran dapat memudahkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Aqib (2013:50) menyatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada si pembelajar (peserta didik).
Fungsi media pembelajaran menurut Sumiati dan Asra (2008:162) sebagai berikut: a. Menjelaskan materi pelajaran atau objek yang abstrak (tidak nyata)
menjadi konkret (nyata).
b. Memberi pengalaman yang nyata dan langsung karena peserta didik dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan tempat mereka belajar. c. Mempelajari materi pelajaran secara berulang-ulang.
d. Memungkinkan adanya persamaan pendapat dan persepsi yang benar terhadap suatu materi pelajaran atau objek.
e. Menarik perhatian peserta didik.
f. Membantu peserta didik belajar secara individual, kelompok atau klasikal (memusatkan perhatian peserta didik pada suatu materi pelajaran yang disampaikan melalui media pembelajaran).
g. Mengatasi keterbatasan ruang. h. Mengatasi keterbatasan waktu. i. Mengatasi keterbatasan indera.
j. Mempermudah dan mempercepat guru menyajikan materi pelajaran dalam proses pembelajaran sehingga mempermudah peserta didik untuk mengerti dan memahami.
29
a. Guru tidak menggunakan media yang tepat. b. Keberadaan media yang kurang.
c. Guru tidak memanfaatkan media yang sudah tersedia.
Penggunaan media pembelajaran haruslah disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Misalnya, peserta didik tunanetra yang menggunakan pendengaran dan perabaan sebagai sarana alternatif untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Jadi, akan lebih baik jika media pembelajaran tersebut dapat diraba dan didengar secara langsung oleh peserta didik tunanetra, seperti peta taktual, atlas taktual, globe taktual, laptop, smartphone, dan tape recorder.
9. Mitigasi Bencana Alam
Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, baik bencana alam, bencana ulah manusia, maupun gabungan dari keduanya dalam suatu negara atau masyarakat (Pasal 1 ayat 6 PP Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana). Bencana alam merupakan serangkaian peristiwa bencana yang disebabkan oleh faktor alam, yaitu berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, kebakaran hutan, tanah longsor, dan lain-lain.
30
kegempaan tinggi. Oleh karena itu, pengetahuan tentang mitigasi bencana alam sangat penting untuk dipelajari.
Pemerintah telah berupaya menjadikan mitigasi bencana alam sebagai materi pelajaran di sekolah. Hal tersebut secara eksplisit tertuang dalam surat edaran Mendiknas Nomor 70a/MPN/SE/2010 yang mempunyai visi mewujudkan budaya aman dan siaga terhadap bencana melalui sistem desentralisasi pendidikan yang mampu mendukung pengurangan risiko bencana melalui upaya pengurangan kerentanan dan peningkatan kapasitas di sektor pendidikan. Namun, dalam pelaksanaannya, ditemukan berbagai kendala, antara lain:
1. Kebanyakan guru tidak memiliki cukup pengetahuan dan pemahaman tentang manajemen PRB (Pengurangan Resiko Bencana).
2. Kurangnya silabus dan materi pengajaran pada integrasi PRB (Pengurangan Resiko Bencana) ke dalam kurikulum sekolah yang dapat diakses oleh guru. 3. Kondisi fisik sekolah, sarana, dan prasarana umumnya tidak memenuhi
persyaratan lingkungan dan tidak tahan gempa.
4. Belum ada peraturan dan/atau kebijakan tentang integrasi pengurangan resiko bencana ke dalam kurikulum sekolah.
5. Minimnya sumber daya (manusia, infrastruktur, dan alokasi anggaran) yang tersedia untuk pendidikan PRB (Pengurangan Resiko Bencana).
31
a. Sosialisasi untuk memberi pemahaman warga sekolah mengenai pengetahuan dan sikap terhadap bencana.
b. Menyediakan kebijakan atau program sekolah yang berkaitan dengan kesiapsiagaan menghadapi bencana di sekolah, termasuk pengaturan berbagai sarana dan prasarana yang aman untuk warga sekolah.
c. Membuat rencana aksi sekolah untuk menghadapi bencana, termasuk pembuatan jalur evakuasi.
d. Pelatihan komunitas sekolah dalam prosedur keadaan darurat bencana (simulasi dan peringatan dini).
Anak-anak merupakan kelompok rentan apabila ada bencana yang terjadi dan di antara mereka terdapat kelompok yang paling rentan, yaitu anak dengan kebutuhan khusus. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) mempunyai hak yang sama dengan anak lainnya untuk mengetahui tentang bagaimana cara melindungi dan menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Beberapa dari mereka memiliki hambatan mobilitas untuk melakukan perlindungan bahkan penyelamatan diri secara mandiri, seperti tunanetra. Oleh karena itu, diperlukan adanya informasi bagaimana prosedur atau rencana penyelamatan bagi ABK yang memerlukan bantuan orang lain di sekitar mereka (misal: guru, teman, staf sekolah).
32
B. Penelitian Relevan
Penelitian yang mengambil pokok permasalahan hampir sama dengan penelitian ini dirujuk guna kesempurnaan dan kelengkapan adalah sebagai berikut:
1. Riri Rahayu, Irda Murni, Elsa Efrina (2011) dengan judul “Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Bagi Anak Tunanetra Low Vision (Deskriptif Kualitatif di SMAN 3 Padang)”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian sebagai berikut:
a. Pembelajaran yang dilaksanakan belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan dan kemampuan anak tunanetra low vision. Namun proses belajar mengajar, penggunaan media belajar dan penilaian hasil belajar yang dilakukan, guru telah berusaha untuk menyesuaikannya dengan keadaan fisik yang dimiliki oleh anak.
2. Intan Putri (2019) dengan judul “Kendala Guru Geografi Dalam Memberikan
Materi Mitigasi Bencana Alam Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun Pelajaran 2017-2018”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian sebagai berikut:
33
(LKS), dan juga guru masih bingung memberikan contoh pada siswa bagaimana Mitigasi Bencana Alam yang cocok dilakukan di daerah sekitar. Ketiga Tidak pernah mengikuti pelatihan tentang Mitigasi Bencana Alam membuat guru merasa sulit menghidupkan situasi belajar yang menarik dan dapat dipahami bukan hanya diketahui siswa.
b. Kendala guru Geografi di SMA Negeri 1 Tumijajar dalam mengaplikasikan metode pembelajaran materi Mitigasi Bencana Alam tahun pelajaran 2017-2018 adalah pertama dalam pelaksanaan pebelajaran materi Mitigasi Bencana Alam guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan. Kedua guru beralasan tidak efektifnya menggunakan metode lain karena siswa susah untuk diajak bekerja sama apabila guru menerapkan metode pembelajaran bervariasi.
c. Kendala guru Geografi di SMA Negeri 1 Tumijajar dalam mengaplikasikan media pembelajaran materi Mitigasi Bencana Alam tahun pelajaran 2017-2018 adalah pertama guru tidak menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi oleh karenanya media pembelajaran pun kurang berperan dalam pembelajaran. Kedua, kurangnya pemahaman guru saat menggunakan proyektor sebagai media untuk menampilkan gambar atau video pada layar.
3. Risti Fiyana (2011) dengan judul “Analisis Proses Pembelajaran Matematika Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tunanetra Kelas X Inklusi SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta”. Hasil penelitian sebagai berikut:
34
b. Sudah adanya ruangan inklusi yang memfasilitasi kebutuhan media pembelajaran untuk siswa ABK tunanetra.
c. Penempatan kelas untuk ABK tunanetra dilakukan dengan model kelas reguler (inklusi penuh) yang berarti ABK tunanetra bersama anak lain (normal) belajar bersama sepanjang hari di kelas reguler dengan kurikulum yang sama.
d. Paradigma standarisasi pendidikan menyebabkan pembelajaran matematika di SMA Muhammadiyah 4 dilaksanakan seperti sekolah regular, yakni ABK tunanetra masih mengikuti kurikulum umum yang diikuti oleh siswa lainnya. e. Proses belajar mengajar di kelas yang masih bertumpu pada pola
pembelajaran kelas regular mengakibatkan ABK tunanetra sulit mengimbangi kecepatan belajar kelas.
C. Kerangka Pikir
Materi mitigasi bencana alam diperlukan dalam pembelajaran geografi khususnya bagi peserta didik tunanetra. Hal ini dikarenakan letak geologis Indonesia yang terletak di antara tiga lempeng tektonik dunia sehingga menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang rawan mengalami bencana. Oleh karena itu, materi mitigasi bencana alam sangat penting untuk dipelajari di sekolah.
35
dalam mengikuti pembelajaran. Objek yang dipelajari dalam materi mitigasi bencana alam dapat dibuat benda tiruannya agar peserta didik tunanetra dapat meraba objek tersebut atau guru geografi dapat menggunakan media pembelajaran berbasis audio. Selain itu, guru juga harus menggunakan metode pembelajaran yang tepat. Untuk materi mitigasi bencana alam, akan lebih baik jika peserta didik tunanetra dapat terlibat langsung dan melakukan hal-hal yang seolah-olah sedang terjadi.
[image:52.595.112.520.446.638.2]Berdasarkan uraian di atas, dalam pelaksanaannya, guru sering mengalami kendala terkait dengan penyampaian materi pelajaran, pengaplikasian media pembelajaran, dan penerapan metode pembelajaran. Hal itu pula yang dialami oleh guru geografi di SLB A Bina Insani Bandar Lampung. Berdasarkan kondisi tersebut, penulis membuat kerangka pikir sebagai berikut.
Gambar 2. Bagan Kerangka Pikir Kendala Guru
Geografi Dalam Mengajar Materi Mitigasi Bencana Alam Untuk Peserta
Didik Tunanetra
Penyampaian Materi Mitigasi Bencana Alam Oleh Guru Geografi
Penerapan Metode Pembelajaran Materi Mitigasi Bencana Alam Oleh
Guru Geografi
Pengaplikasian Media Pembelajaran Materi Mitigasi Bencana Alam Oleh
36
III. METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Ali (1985:84) menyatakan bahwa metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk memecahkan masalah atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang, dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan, klasifikasi dan analisis atau pengolahan data, membuat kesimpulan laporan dengan tujuan utama untuk membuat penggambaran tentang suatu keadaan secara objektif dalam suatu deskriptif situasi.
Metode penelitian deskriptif dalam penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kendala guru geografi dalam mengajar materi mitigasi bencana alam di SLB A Bina Insani Bandar Lampung. Kendala yang dimaksud adalah kendala yang berkaitan dengan penyampaian materi pelajaran, penerapan metode pembelajaran, dan pengaplikasian media pembelajaran.
B. Subjek dan Objek Penelitian
37
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah kendala guru geografi. Kendala yang dimaksud ialah kendala yang dialami ketika mengajar materi mitigasi bencana alam kelas XI di SLB A Bina Insani Bandar Lampung Tahun Ajaran 2018/2019 dengan indikator penyampaian materi mitigasi bencana alam, penerapan metode pembelajaran, dan pengaplikasian media pembelajaran.
D. Definisi Operasional Variabel 1. Kendala Guru dalam Pembelajaran
Kendala guru adalah halangan atau rintangan yang dialami oleh seseorang yang berprofesi sebagai guru yang terkait dengan pembelajaran. Kendala yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kendala yang dialami oleh guru geografi yang terkait dengan penyampaian materi pelajaran, penerapan metode pembelajaran, dan pengaplikasian media pembelajaran.
2. Materi Pelajaran
Materi pelajaran adalah mata pelajaran dengan topik atau subtopik dan rinciannya yang hendak dipelajari dan dikuasai siswa melalui pembelajaran agar menjadi kompeten. Pada penelitian ini, indikator terkait dengan materi pelajaran, yakni guru dikatakan baik dalam penyampaian materi mitigasi bencana alam apabila guru dapat mendeskripsikan materi pelajaran tersebut dengan jelas sehingga peserta didik tunanetra dapat memahami dan membayangkan materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru.
3. Metode Pembelajaran
38
mengadakan hubungan dengan peserta didik untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Pada penelitian ini, indikator terkait dengan metode pembelajaran, yakni guru dikatakan baik dalam menerapkan metode pembelajaran apabila guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi mitigasi bencana alam dan sesuai dengan karakteristik peserta didik tunanetra. Dalam penerapannya, guru juga dapat menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi.
4. Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah paduan antara bahan dan alat atau perpaduan antara software dan hardware yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan
merangsang terjadinya proes belajar pada peserta didik. Pada penelitian ini, indikator terkait dengan media pembelajaran, yakni guru dikatakan baik dalam mengaplikasikan media pembelajaran apabila guru dapat menggunakan atau membuat media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik yang lebih mengutamakan indera pendengaran dan indera peraba.
E. Sumber Data Penelitian 1. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung dari subjek penelitian. Sumber data primer akan didapatkan dari hasil wawancara mendalam dengan guru geografi kelas XI di SLB A Bina Insani Bandar Lampung Tahun Ajaran 2018/2019.
2. Sumber Data Sekunder
39
dari subjek penelitian. Sumber data sekunder akan didapatkan dari referensi milik guru selain buku cetak atau buku pegangan guru yang menunjang dalam memberikan materi mitigasi bencana alam, bentuk penugasan yang dikerjakan oleh siswa, dan perangkat pembelajaran yang dapat memberikan keterangan mengenai materi mitigasi bencana alam.
F. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek penelitian di tempat kejadian atau tempat berlangsungnya peristiwa sehingga observer berada bersama objek penelitian yang diteliti (Tika, 2005:44). Teknik observasi pada penelitian ini dilakukan dalam rangka mengumpulkan data primer dengan cara mengadakan pengamatan langsung di lapangan untuk mendapatkan data tentang kendala yang dialami guru geografi dalam mengajar materi mitigasi bencana alam untuk kelas XI di SLB A Bina Insani Bandar Lampung.
2. Wawancara Mendalam (In-depth Interview)
40
pernyataan narasumber tentang kendala yang dialaminya dalam mengajar materi mitigasi bencana alam untuk kelas XI di SLB A Bina Insani Bandar Lampung Tahun Ajaran 2018/2019.
3. Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah teknik yang digunakan untuk mendapatkan data atau catatan yang telah berlalu dari sebuah peristiwa yang berupa catatan, laporan, tabel, dan informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Dengan adanya dokumentasi diharapkan dapat memberikan petunjuk atau keadaan mengenai objek yang diteliti.
G. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan lain-lain, sehingga mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (Sugiyono, 2013:34). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif, yakni tanpa menggunakan rumus statistik.
78
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian yang telah dianalisis, maka dapat disimpulkan bahwa kendala guru geografi dalam pembelajaran materi mitigasi bencana alam di SLB A Bina Insani Bandar Lampung, meliputi:
1. Guru geografi mengalami kendala yang disebabkan oleh faktor manusiawi (guru dan peserta didik), yakni kurangnya kemampuan guru geografi dalam menemukan kosakata yang tepat untuk mendeskripsikan submateri yang sedang dipelajari, kurang memahami huruf Braille, kurangnya waktu yang tersedia, serta kurangnya kemampuan peserta didik tunanetra dalam mengikuti pembelajaran. 2. Guru geografi mengalami kendala yang disebabkan oleh faktor metode, yakni
pengelolaan yang kurang baik sebab beliau mengalami kesulitan dalam menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik tunanetra sehingga kerap menggunakan metode pembelajaran yang sama, akibatnya peserta didik tunanetra cenderung merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran.
79
B. Saran
Setelah melakukan penelitian mengenai kendala guru geografi dalam mengajar materi mitigasi bencana alam di SLB A Bina Insani Bandar Lampung, peneliti memberikan saran pada pihak-pihak terkait berdasarkan permasalahan yang terjadi, antara lain:
1. Bagi Guru
a) Guru geografi harus lebih mampu mengatur waktu yang tersedia dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru geografi juga seharusnya mempelajari huruf Braille yang digunakan oleh peserta didik tunanetra agar dapat menguasainya, serta lebih banyak mencari referensi terkait dengan materi mitigasi bencana alam untuk menambah kosakata yang dimiliki guru geografi. Bahkan, bila memungkinkan, guru geografi dapat mengikuti kuliah kompetensi tambahan selama 2 semester untuk memperkuat kompetensi mendidik anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).
b) Guru geografi hendaknya sering mencari referensi seperti di internet tentang video pembelajaran agar dapat mencari dan menemukan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai untuk diterapkan kepada peserta didik tunanetra.
80
2. Bagi Sekolah
a) Sekolah seharusnya lebih memperhatikan kendala-kendala yang dialami oleh guru dan memperbaiki atau bahkan mengganti media pembelajaran yang kurang sesuai untuk peserta didik tunanetra.