II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Inquiri Terbimbing
Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Dalam kegiatan pembelajaran terjadi proses interaksi (hubungan timbal balik) antara guru dengan siswa. Guru memberikan materi sementara siswa tidak hanya sekedar menerima begitu saja melainkan ada interaksi diantara keduanya sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Wena (2009:76) menuliskan bahwa strategi inquiri ini dikembangkan oleh Richard Suchman untuk mengajar para peserta didik memahami proses meneliti dan menerangkan suatu
kejadian. Menurut Suchman, kesadaran peserta didik terhadap proses inquiri dapat ditingkatkan sehingga mereka dapat diajar prosedur pemecahan masalah secara ilmiah. Selain itu, kepada peserta didik juga dapat diajarkan bahwa pengetahuan bersifat sementara dan bisa berubah dengan munculnya teori-teori baru. Oleh karena itu, peserta didik harus disadarkan bahwa pendapat orang lain dapat memperkaya pengetahuan yang mereka miliki.
Trowbridge & Bybee dalam Asri (2007:21) mengemukakan “Inquiry is the process of defining and investigating problems, formulating hypotheses, designing experiments,
gathering data, and drawing conculations about problems”. Menurut mereka inquiry adalah
proses mendefinisikan dan menyelidiki masalah-masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, menemukan data, dan menggambarkan kesimpulan masalah-masalah tersebut. Lebih lanjut, dikemukakan bahwa esensi dari pengajaran inkuiri adalah menata lingkungan
atau suasana belajar yang berfokus pada siswa dengan memberikan bimbingan secukupnya dalam menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmiah.
Uraian menurut ahli di atas menjelaskan tentang prosedur inkuiri, dimana dalam menjelaskan proses pembelajaran inquiri haruslah melibatkan dengan kegiatan-kegiatan tersebut, yaitu mengajukan pertanyaan yang ilmiah, merumuskan pertanyaan yang relevan, merencanakan observasi, penyelidikan atau investigasi dengan melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan peranan materi dan proses sains, pembelajaran inkuiri sangat berpengaruh pada proses pembelajaran, karena dalam kegiatan tersebut siswa melakukan penyelidikan berdasarkan permasalahan yang diajukan guru, tetapi siswa sendiri yang menentukan
prosedur penyelidikannya. Selain itu kegiatan pembelajaran tersebut dapat mengembangkan sebuah komunitas kekeluargaan, saling bertukar informasi mengenai penyelidikan mereka masing-masing sehingga terjadinya kegiatan belajar-mengajar secara alami dan juga aktif di dalam kelas.
Idah (2007) menyebutkan :
Inkuiri terbimbing menuntut siswa untuk mengembangkan langkah kerja (prosedur) dalam memecahkan masalah yang telah diberikan oleh guru melalui LKS jenis challenge activity.
Menurut Kuhlthau (2008) ada enam karakteristik inkuiri terbimbing (guided inquiry) yaitu: 1) Siswa belajar aktif dan terefleksikan pada pengalaman
Jhon Dewey menggambarkan pembelajaran sebagai proses aktif individu, bukan sesuatu dilakukan untuk seseorang tetapi lebih kepada sesuatu itu dilakukan oleh seseorang.
sangat menekankan pembelajaran Hands on (berdasarkan pengalaman) sebagai penentang metode otoriter dan menganggap bahwa pengalaman dan inkuiri (penemuan) sangat penting dalam pembelajaran bermakna.
2) Siswa belajar berdasarkan pada apa yang mereka tahu
Pengalaman masa lalu dan pengertian sebelumnya merupakan bentuk dasar untuk membangun pengetahuan baru. Ausubel prihatin dengan individu yang belajar materi
verbal/tekstual dalam jumlah yang besar di sekolah. Menurut Ausubel faktor terpenting yang mempengaruhi pembelajaran adalah melalui apa yang mereka tahu.
3) Siswa mengembangkan rangkaian berfikir dalam proses pembelajaran melalui bimbingan Rangkaian berpikir ke arah yang lebih tinggi memerlukan proses yang mendalam yang
membawa kepada sebuah pemahaman. Proses yang mendalam memerlukan waktu dan motivasi yang dikembangkan oleh pertanyaan-pertnayaan yang otentik mengenai objek yang telah digambarkan dari pengalaman dan keingintahuan siswa.
Proses yang mendalam juga memerlukan perkembangan kemampuan intelektual yang melebihi dari penemuan dan pengumpulan fakta. Menurut Bloom, kemampuan intelektual seperti pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi membantu merangsang untuk berinkuiri yang membawa kepada pengetahauan dan pemahaman yang mendalam.
4) Perkembangan siswa terjadi secara bertahap
Siswa berkembang melalui tahap perkembangan kognitif, kapasitas, mereka untuk berpikir abstrak ditingkatkan oleh umur. Perkembangan ini merupakan proses kompleks yang meliputi kegiatan berpikir, tindakan, refleksi, menemukan, dan menghubungkan ide,
membuat hubungan, mengembangkan dan mengubah pengetahuan sebelumnya, kemampuan, serta sikap dan nilai.
Siswa belajar melalui semua pengertiannya. Mereka menggunakan seluruh kemampuan fisik, mental dan sosial untuk membangun pemahaman yang mendalam mengenai dunia dan apa yang hidup di dalamnya.
6) Siswa belajar melalui interaksi sosial dengan orang lain
Siswa hidup di lingkungan sosial di mana mereka terus menerus belajar melalui interaksi dengan orang lain di sekitar mereka. Orang tua, teman, saudara, guru, kenalan, dan orang asing merupakan bagian dari lingkungan sosial yang membentuk pembelajaran lingkungan pergaulan di mana mereka membangun pemahaman mengenai dunia dan membuat makna untuk mereka. Vigotsky berpendapat bahwa perkembangan proses hidup bergantung pada interaksi sosial dan pembelajaran sosial berperan penting untuk perkembangan kognitif.
Berdasarkan karakteristik tersebut, inkuiri terbimbing merupakan sebuah model yang berfokus pada porses berpikir yang membangun pengalaman oleh keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran. Siswa belajar dengan membangun pemahaman mereka sendiri berdasarkan pengalaman-pengalaman dan apa yang telah mereka tahu.
Gulo dalam Trianto (2010) menyatakan langkah-langkah pelaksanakan pembelajaran Inkuiri adalah sebagai berikut :
1. Mengajukan pertanyaan atau permasalahan
Kegiatan Inkuiri dimulai ketika pertanyaan atau permasalah diajukan. Untuk meyakinkan bahwa pertanyaan sudah jelas, kemudian siswa diminta untuk merumuskan hipotesis.
2. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data. Untuk memudahkan proses ini, guru menanyakan pada siswa gagasan mengenai hipotesis yang mungkin. Dari semua gagasan yang ada, dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan permasalahan yang diberikan.
3. Mengumpulkan data
4. Analisis data
Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh. Faktor penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran ‘benar’ atau ‘salah’. Setelah memperoleh kesimpulan, dari data percobaan siswa dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Bila ternyata hipotesis itu salah atau ditolak, siswa dapat menjelakan sesuai dengan proses Inkuiri yang telah dilakukannya.
5. Membuat kesimpulan
Langkah penutup dari pembelajaran Inkuiri adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang diperoleh.
Dari uraian di atas, inkuiri terbimbing dapat diartikan sebagai salah satu metode
pembelajaran berbasis inkuiri yang penyajian masalah, pertanyaan dan materi atau bahan penunjang ditentukan oleh guru. Masalah dan pertanyaan ini yang mendorong siswa
melakukan penyelidikan untuk menentukan jawabannya. Kegiatan siswa dalam pembelajaran ini adalah mengumpulkan data dari masalah yang ditentukan guru, membuat hipotesis, melakukan penyelidikan, menganalisis hasil, membuat kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil penyelidikan.
B. Keterampilan Proses Sains
Menurut Rustaman (2009), keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual, dan sosial. Keterampilan kognitif atau intelektual dengan melakukan keterampilan proses siswa menggunakan pikirannya, keterampilan manual terlibat dalam penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau perakitan alat, keterampilan sosial dimaksudkan bahwa dengan keterampilan proses siswa berinteraksi dengan sesamanya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Cara berpikir dalam sains, fisika misalnya, adalah keterampilan-keterampilan proses.
diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru. Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
Menurut Mundilarto dalam widayanto (2009) menyebutkan bahwa proses sains diturunkan dari langkah yang dilakukan saintis ketika melakukan penelitian ilmiah, langkah-langkah tersebut dinamakan keterampilan proses. Keterampilan proses sains dapat juga diartikan sebagai kemampuan atau kecakapan untuk melaksanakan suatu tindakan dalam belajar sains sehingga menghasilkan konsep, teori, prinsip, hukum maupun fakta atau bukti.
Rohandi (2003:117) menyebutkan suatu ciri pendidikan sains adalah bahwa sains lebih dari sekedar kumpulan yang dinamakan fakta. Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan juga kumpulan proses. Aspek proses merupakan aspek sains yang kedua setelah aspek produk. Aspek produk yaitu metode memperoleh pengetahuan. Metode ini di kenal sebagai metode keilmuan.
Metode keilmuan memiliki kerangka dasar prosedur yang dapat dijabarkan dalam enam langkah: (1) Sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah; (2) Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan, (3) Penyusunan dan klasifikasi data; (4) Perumusan
hipotesis; serta (6) Tes dan pengujian kebenaran hipotesis. Pada tahap-tahap tersebut terdapat aktivitas-aktivitas di antaranya melakukan observasi, mengukur, memprediksi,
Funk dkk dalam Nur (1998) mengklasifikasikan keterampilan proses sains menjadi
keterampilan proses dasar dan keterampilan proses sains terpadu. Keterampilan proses sains terdiri dari proses berikut :
1. Pengamatan 2. Klasifikasi 3. Komunikasi
4. Pengukur sistem metriks 5. Prediksi
6. Inferensi
Nur (1998) menyebutkan tentang mengapa inferensi penting sebagai salah satu komponen keterampilan proses sains yang harus dimiliki siswa, karena kita mempunyai apresiasi yang lebih baik terhadap lingkungan apabila kita dapat menafsirkan dan memahami kejadian-kejadian dan berharap pola semacam itu akan tetap berlaku untuk waktu yang akan datang. Sebagian besar perilaku kita didasarkan pada inferensi yang kita buat. Para ilmuan menyusun hipotesis berdasarkan inferensi yang mereka buat terhadap penyelidikannya. Sebagai guru, kita selalu membuat inferensi tentang perilaku siswa-siswa kita. Belajar itu sendiri adalah sebuah inferensi yang dibuat berdasarkan perubahan-perubahan tingkah laku siswa yang dapat diobservasi.
Apabila observasi adalah pengalaman yang diperoleh melalui satu atau lebih dari indera, maka inferensi adalah penafsiran atau penjelasan terhadap hasil observasi tersebut. Inferensi merupakan sebuah pernyataan yang ditarik berdasarkan bukti serangkaian observasi. Dengan demikian, inferensi harus didasarkan pada observasi langsung.
American Association for the Advancement of Science (1970) dalam Devi (2011)
sesuatu yang diamatinya. Pola pembelajaran untuk melatih keterampilan proses inferensi, sebaiknya menggunakan teori belajar konstruktivisme, sehingga siswa belajar merumuskan sendiri inferensinya.
C. Penguasaan Konsep
Menurut Dahar (1998 : 96) , konsep adalah suatu abstraksi yang memiliki suatu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, hubungan-hubungan yang mempuyai atribut yang sama. Setiap konsep tidak berdiri sendiri melainkan berhubungan satu sama lain, oleh karena itu siswa dituntut tidak hanya menghafal konsep saja, tetapi hendaknya
memperhatikan hubungan antara satu konsep dengan konsep yang lainnya.
Piaget dalam Dimyati dan Madjiono (2002 : 13) menyatakan bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.
Belajar pengetahuan meliputi tiga fase, fase-fase itu adalah fase eksplorasi, pe-ngenalan konsep, dan aplikasi konsep. Dalam fase pengenalan konsep, siswa mengenal konsep yang ada hubungannya dengan gejala. Dalam fase aplikasi konsep, siswa menggunakan konsep untuk meneliti gejala lebih lanjut.
Posner dalam Suparno (1997 : 50) menyatakan bahwa dalam proses belajar terdapat dua tahap perubahan konsep yaitu tahap asimilasi dan akomodasi. Pada tahap asimilasi, siswa menggunakan konsep-konsep yang telah mereka miliki untuk berhadapan dengan fenomena yang baru. Pada tahap akomodasi, siswa mengubah konsepnya yang tidak cocok lagi dengan fenomena baru yang mereka hadapi.
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa tahapan dari model pembelajaran inkuiri terbimbing dimulai dari tahap pertama yaitu siswa dihadapkan pada permasalahan dimana dari permasalahan tersebut, siswa diminta untuk memberikan jawaban yang bersifat sementara. Tahap kedua yaitu siswa mencari dan mengumpulkan data
mengenai masalah yang diajukan guru dari berbagai sumber. Tahap ketiga yaitu siswa menguji dan membuktikan hipotesisnya dengan melakukan percobaan atau jika tidak melakukan percobaan, siswa mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang permasalahan yang dihadapi siswa. Setelah itu, siswa menganalisa hasil pengamatannya. Tahap keempat, siswa membuat laporan kegiatan eksperimennya serta membuat kesimpulan dari hasil pengamatannya dan berdasarkan informasi-informasi yang telah diperoleh. Tahap kelima, Siswa mempresentasikan hasil pengamatannya. Guru berperan dalam memberikan komentar terhadap jalannya diskusi dan memberikan penguatan serta meluruskan hal-hal yang kurang tepat. Dan tahapan terakhir yaitu, siswa diberikan penghargaan oleh guru kepada masing-masing kelompok yang telah memberikan presentasinya kemudian memberikan tugas individu mengenai materi yang telah dipelajari tadi. Dalam proses menemukan konsep tersebut, siswa melakukan aktivitas-aktivitas di antaranya melakukan obsevasi, mengukur, memprediksi, mengklasifikasi, membandingkan, menyimpulkan, merumuskan hipotesis, melakukan eksperimen, menganalisis data, membuat laporan penelitian, dan
mengkomunikasikan hasil penelitian, menerapkan konsep dan melakukan metode ilmiah, dengan demikian siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
Pada akhirnya, berdasarkan uraian dan langkah-langkah di atas, diharapkan model
pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan keterampilan inferensi dan penguasaan konsep siswa.
Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah:
1. Siswa kelas X7 dan X8 semester genap MA Negeri 1 tahun pelajaran 2011-2012 yang
menjadi sampel penelitian mempunyai kemampuan dasar yang sama dalam hal keterampilan inferensi dan penguasaan konsep hidrokarbon.
2. Faktor - faktor lain yang dapat mempengaruhi peningkatan keterampilan inferensi dan penguasaan konsep hidrokarbon siswa kelas X MA Negeri 1 Bandar Lampung pada kedua kelas diabaikan.
F. Hipotesis Umum
Adapun hipotesis umum dalam penelitian ini adalah :
a. Model pembelajaran inquiri terbimbing pada materi pokok hidrokarbon lebih efektif
dalam meningkatkan keterampilan inferensi dibandingkan pembelajaran konvensional. b. Model pembelajaran inquiri terbimbing pada materi pokok hidrokarbon lebih efektif