PRODUKSI UBI KAYU DAN HIJAUAN LIMA VARIETAS SORGHUM YANG DITANAM TUMPANG SARI DENGAN BERBAGAI JARAK
TANAM PADA DUA LOKASI BERBEDA (Thesis)
Oleh
Eko Abadi Novrimansyah
PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER AGRONOMI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
Eko Abadi Novrimansyah
ABSTRAK
PRODUKSI UBI KAYU DAN HIJAUAN LIMA VARIETAS SORGHUM YANG DITANAM TUMPANG SARI DENGAN BERBAGAI JARAK
TANAM PADA DUA LOKASI BERBEDA
Oleh
EKO ABADI NOVRIMANSYAH
Budidaya ubi kayu di Lampung pada umumnya dilakukan dengan cara
monokultur. Akhir–akhir ini pengembangan sorghum di Lampung diarahkan melalui sistem tumpang sari dengan ubi kayu. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi produktivitas tanaman ubi kayu yang ditanam secara monokultur
dan tumpang sari pada dua lokasi yang berbeda. Penelitian telah dilakukan pada
dua lokasi berbeda (Desa Gadingrejo Kabupaten Pringsewu dan Desa Margotomo
Sulusuban Kabupaten Lampung Tengah) pada April 2015 sampai Maret 2016.
Varietas sorghum yang digunakan adalah Numbu, Telaga Bodas, Samurai 1,
Super 1 dan Super 2. Bahan stek ubi kayu yang digunakan adalah varietas
Kasetsart (UJ 5). Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun,
jumlah ubi, panjang ubi, diameter ubi, bobot ubi, dan kadar pati ubi.
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak
Eko Abadi Novrimansyah
diulang sebanyak tiga kali. Setelah didapatkan hasil analisis ragam pada lokasi
masing–masing, maka dilakukan uji F untuk homogenitas ragam yang
selanjutnya dilakukan analisis ragam gabungan acak kelompok. Pemisahan nilai
tengah dilakukan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% jika
asumsi terpenuhi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh perlakuan sistem
tanam dan jarak tanam terhadap produksi ubi kayu dan hijauan lima varietas
sorghum, tetapi perlakuan varietas memberikan pengaruh nyata terhadap produksi
hijauan lima varietas sorghum. Lokasi Gading menunjukkan rata–rata hasil yang lebih tinggi dibandingkan lokasi Sulusuban terhadap seluruh variabel pengamatan
produksi ubi kayu dan bobot kering panen lima varietas sorghum. Tidak terjadi
interaksi kombinasi perlakuan terhadap seluruh variabel pengamatan produksi ubi
kayu dan produksi hijauan lima varietas sorghum. Perlakuan sistem tanam
tumpang sari ubi kayu dengan sorghum varietas Numbu pada jarak tanam 80 cm x
20 cm memiliki hasil produksi ubi kayu dan produksi hijauan lima varietas
sorghum yang sama pada sistem tanam monokultur dengan jarak tanam 100 cm x
20 cm.
PRODUKSI UBI KAYU DAN HIJAUAN LIMA VARIETAS SORGHUM YANG DITANAM TUMPANG SARI DENGAN BERBAGAI JARAK
TANAM PADA DUA LOKASI BERBEDA
Oleh
Eko Abadi Novrimansyah
Thesis
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER SAINS
Pada
Program Studi Pascasarjana Magister Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Lampung
PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER AGRONOMI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Bandar Lampung, pada 13 November 1989 merupakan anak
pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Drs. Baron Zakaria, M.M. (alm) dan
Ibu Dra. Hj. Indati.
Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Rawa Laut
pada tahun 2001, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al–Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2004, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Natar,
Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2007, Sarjana Pertanian Program Studi
Agroteknologi/ Agronomi Universitas Lampung pada tahun 2012, dan penulis
terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi Magister Agronomi 2014.
Penulis pernah terdaftar sebagai Konsultan Pendamping Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan, dan sampai saat ini penulis bekerja
di Program Nasional Kota Tanpa Kumuh Kota Bandar Lampung Provinsi
“Semua ilmu pengetahuan di dunia ini tidak lebih
seperti setetes air di
S
amudra, jangan pernah lelah
untuk mencari ilmu pengetahuan”
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan
menjadikan padanya gunung – gunung dan
Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu
menurut ukuran” (Q.S. Al Hijr : 19)
SANWACANA
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat, hidayah, dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan Thesis ini.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Muhammad Kamal, M. Sc., sebagai Pembimbing Pertama
yang telah memberikan ide, saran, bimbingan, perhatian, pengarahan serta
motivasi selama penelitian, dan saat penulisan Thesis ini.
2. Bapak Dr. Ir. Erwin Yuliadi, M.Sc., sebagai Pembimbing Kedua yang telah
memberikan ide, saran, bimbingan, perhatian, pengarahan serta motivasi
selama penelitian, dan saat penulisan Thesis ini.
3. Bapak Dr. Ir. Kuswanta Futas Hidayat, M.P., sebagai Penguji yang telah
memberikan ide, saran, bimbingan, perhatian, pengarahan serta motivasi
selama penelitian, dan saat penulisan Thesis ini.
4. Bapak Dr. Ir. Dwi Hapsoro, M.Sc., sebagai Pembimbing Akademik yang telah
memberikan banyak perhatian, kasih sayang, pengarahan, bimbingan, saran
selama penulis menjadi mahasiswa.
5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Pertanian, khususnya Program Studi Magister
Agronomi yang telah memberikan pengetahuan, pelajaran, dan bimbingan
6. Kedua orang tua penulis Bapak Drs. Baron Zakaria, M.M.(alm), dan Ibu Dra.
Hj. Indati, adik penulis Kesumayuda Abadi Agusrimansyah dan Mutiara Indah
Abadi yang telah banyak memberikan bantuan do’a, kasih sayang, motivasi,
dan bantuan moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan
studi dengan baik.
7. Orang-orang yang sangat membantu dalam penelitian penulis, Bapak Ir.
Muhammad Syamsoel Hadi, M.Sc., Bapak Ir. Eko Pramono M.S., Dhiny
Suntya Putri, S.P., Bapak Subadi dan Bapak Untung petani di Sulusuban,
Febrina Ayu Astita, S.P., atas do’a, pengertian, persahabatan, persaudaraan,
kekeluargaan, kasih sayang, kerjasama, dan dukungan selama penulis
melakukan penelitian.
8. Seluruh teman penulis Magister Agronomi 14, Kresna Shifa, M.Si., Henni
Elfandari, M.Si., Budi Sulistiyawan, M.Si., Desi Maulida, M.Si., Jamaludin,
M.Si., Kusmanto, M.Si., Nyang Vania, M.Si., Ovy Efrandari, M.Si., Gregorius
Edo, S.P., Novi Safitri, S.P., Miandri Sabli, S.P., David Chandra, S.P., Luky
Adrian S.P., Nico Irvan Pradana, S.Kom., dan semua anggota Anak Sorghum
Bapak yang akan mendapat gelar S.P., yang tidak dapat penulis sebutkan
satu-persatu atas kebersamaan dan bantuannya selama ini.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka semua dan Thesis ini dapat
bermanfaat bagi seluruh pembaca. Aamiin
Bandar Lampung, April 2018
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... iii
DAFTAR GAMBAR……… v
I. PENDAHULUAN... 1
1.1. Latar Belakang dan Masalah... 1
1.2. Tujuan …………... 5
1.3. Kerangka Pemikiran... 6
1.4. Hipotesis... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA... 9
2.1. Tanaman Ubi Kayu... 9
2.2. Sistem Tumpang Sari... 11
2.3. Tanaman Sorghum... 12
2.4. Jarak Tanam... 15
III. BAHAN DAN METODE... 17
3.1. Tempat dan Waktu... 17
3.2. Bahan dan Alat... 17
3.3. Metode Penelitian... 18
3.4. Pelaksanaan Penelitian... 22
3.4.1 Perbanyakan Benih Sorghum……… 22
3.4.2 Pengolahan Tanah………. 22
3.4.3 Penanaman……… 22
3.4.4 Pemupukan……… 23
3.4.5 Pemeliharaan………. 23
3.4.6 Pemanenan………. 23
3.5. Pengamatan... 24
3.5.2 Variabel Pengamatan Tanaman Sorghum…………. 25
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 26
4.1. Hasil... 26
4.1.1. Produksi Ubi Kayu yang Ditanam Tumpang Sari dengan Berbagai Jarak Tanam Di Dua Lokasi yang Berbeda……... 26
4.1.1.1. Tinggi Tanaman……… 27
4.1.1.2. Jumlah Daun.………. 28
4.1.1.3. Jumlah Ubi………….……… 29
4.1.1.4. Diameter Sebaran Ubi………... 31
4.1.1.5. Panjang Ubi………... 32
4.1.16. Diameter Ubi………. 33
4.1.1.7. Bobot Ubi……….. 35
4.1.1.8. Kadar Pati……….. 36
4.1.2. Produksi Hijauan Lima Varietas Sorghum yang Ditanam Tumpang Sari dengan Berbagai Jarak Tanam Di Dua Lokasi yang Berbeda... 38
4.1.2.1. Tingkat Kehijauan Daun………... 38
4.1.2.2. Bobot Kering Vegetatif Maksimum…….. 40
4.1.2.3. Produksi Nira……… 41
4.1.2.4. Tingkat Kemanisan Nira Sorghum….…... 43
4.1.2.5. Bobot Kering Panen……….. 44
4.2. Pembahasan... 46
4.2.1. Produksi Ubi Kayu yang Ditanam Tumpang Sari dengan Berbagai Jarak Tanam Di Dua Lokasi yang Berbeda……... 46
4.2.2. Produksi Hijauan Lima Varietas Sorghum yang Ditanam Tumpang Sari dengan Berbagai Jarak Tanam Di Dua Lokasi yang Berbeda... 50
V. KESIMPULAN DAN SARAN... 54
5.1. Kesimpulan……… 54
5.2. Saran……….. 54
DAFTAR PUSTAKA... 55
iii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1 Kombinasi perlakuan yang diberikan untuk melihat produksi ubi kayu yang ditanam secara tumpang sari dan monokultur dengan berbagai jarak tanam pada
dua lokasi berbeda. ... 19
2 Kombinasi perlakuan yang diberikan untuk melihat produksi hijauan lima varietas sorghum yang ditanam secara tumpang sari dan monokultur dengan berbagai jarak tanam pada dua lokasi berbeda. ... 20
3 Rekapitulasi hasil analisis ragam gabungan produksi ubi kayu yang ditanam tumpang sari dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi yang berbeda. ... 26
4 Pengaruh lokasi terhadap tinggi tanaman ubi kayu. ... 27
5 Pengaruh lokasi terhadap jumlah daun tanaman ubi kayu. ... 29
6 Pengaruh lokasi terhadap jumlah ubi tanaman ubi kayu. ... 30
7 Pengaruh lokasi terhadap diameter sebaran ubi tanaman ubi kayu. ... 31
8 Pengaruh lokasi terhadap panjang ubi tanaman ubi kayu. ... 33
9 Pengaruh lokasi terhadap diameter ubi tanaman ubi kayu. ... 34
10 Pengaruh lokasi terhadap bobot ubi tanaman ubi kayu. ... 35
11 Pengaruh lokasi terhadap kadar pati tanaman ubi kayu. ... 37
iv
13 Pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap tingkat kehijauan daun lima varietas sorghum di dua lokasi
yang berbeda. ... 39 14 Pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap bobot kering
berangkasan vegetatif maksimum lima varietas sorghum
di dua lokasi yang berbeda. ... 41 15 Pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap produksi nira
lima varietas sorghum di dua lokasi yang berbeda. ... 42 16 Pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap tingkat
kemanisan nira sorghum lima varietas sorghum di dua
lokasi yang berbeda. ... 43 17 Pengaruh lokasi terhadap bobot kering panen sorghum lima
varietas sorghum. ... 45 18 Pengaruh perlakuan yang diberikan terhadap bobot kering
panen sorghum lima varietas sorghum di dua lokasi yang
berbeda. ... 45 19 Data analisis kesuburan tanah di dua lokasi penelitian. ... 62 20 Tinggi tanaman ubi kayu yang ditanam secara tumpang sari
dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi yang berbeda. ... 62 21 Analisis ragam gabungan tinggi tanaman ubi kayu ditanam
secara tumpang sari dengan berbagai jarak tanam di dua
lokasi yang berbeda. ... 63 22 Jumlah daun ubi kayu yang ditanam secara tumpang sari
dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi yang berbeda. ... 63 23 Analisis ragam gabungan jumlah daun ubi kayu ditanam
secara tumpang sari dengan berbagai jarak tanam di dua
lokasi yang berbeda. ... 64 24 Jumlah ubi tanaman ubi kayu yang ditanam secara
tumpang sari dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi
yang berbeda. ... 64 25 Analisis ragam gabungan jumlah ubi tanaman ubi kayu
ditanam secara tumpang sari dengan berbagai jarak tanam
v
26 Diameter sebaran ubi tanaman ubi kayu yang ditanam secara tumpang sari dengan berbagai jarak tanam di dua
lokasi yang berbeda. ... 65 27 Analisis ragam gabungan diameter sebaran ubi tanaman ubi
kayu ditanam secara tumpang sari dengan berbagai jarak
tanam di dua lokasi yang berbeda. ... 66 28 Panjang ubi tanaman ubi kayu yang ditanam secara tumpang
sari dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi yang berbeda. .... 66 29 Analisis ragam gabungan panjang ubi tanaman ubi kayu
ditanam secara tumpang sari dengan berbagai jarak tanam
di dua lokasi yang berbeda. ... 67 30 Diameter ubi tanaman ubi kayu yang ditanam secara tumpang
sari dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi yang berbeda. .... 67 31 Analisis ragam gabungan diameter ubi tanaman ubi kayu
ditanam secara tumpang sari dengan berbagai jarak tanam
di dua lokasi yang berbeda. ... 68 32 Bobot ubi tanaman ubi kayu yang ditanam secara
tumpang sari dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi
yang berbeda. ... 68 33 Analisis ragam gabungan bobot ubi tanaman ubi kayu
ditanam secara tumpang sari dengan berbagai jarak tanam
di dua lokasi yang berbeda. ... 69 34 Kadar pati ubi kayu yang ditanam secara tumpang sari
dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi yang berbeda. ... 69 35 Analisis ragam gabungan kadar pati tanaman ubi kayu
ditanam secara tumpang sari dengan berbagai jarak tanam
di dua lokasi yang berbeda. ... 70 36 Tingkat kehijauan daun sorghum yang ditanam secara tumpang
sari dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi yang berbeda. .... 70 37 Analisis ragam gabungan tingkat kehijauan daun sorghum
yang ditanam secara tumpangsari dengan berbagai jarak
vi
38 Bobot kering berangkasan vegetatif maksimum tanaman sorghum yang ditanam secara tumpang sari dengan berbagai
jarak tanam di dua lokasi yang berbeda. ... 72 39 Analisis ragam gabungan bobot kering berangkasan vegetatif
maksimum tanaman sorghum yang ditanam secara tumpang sari
dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi yang berbed. ... 73 40 Produksi nira sorghum yang ditanam secara tumpang sari
dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi yang berbeda. ... 74 41 Analisis ragam gabungan produksi nira sorghum yang ditanam
secara tumpang sari dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi
yang berbeda. ... 75 42 Tingkat kemanisan nira sorghum yang ditanam secara tumpang
sari dengan berbagai jarak tanam di dua lokasi yang berbeda. .... 76 43 Analisis ragam gabungan tingkat kemanisan nira sorghum yang
ditanam secara tumpang sari dengan berbagai jarak tanam di
dua lokasi yang berbeda. ... 77 44 Bobot kering berangkasan panen sorghum yang ditanam
secara tumpangsari dengan berbagai jarak tanam di dua
lokasi yang berbeda. ... 78 45 Analisis ragam gabungan bobot kering berangkasan panen
sorghum yang ditanam secara tumpang sari dengan berbagai
iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1 Rata–rata tinggi tanaman ubi kayu pada masing–
masing perlakuan di dua lokasi yang berbeda. ... 28 2 Rata–rata jumlah daun ubi kayu pada masing–masing
perlakuan di dua lokasi yang berbeda. ... 29 3 Rata–rata jumlah ubi tanaman ubi kayu pada masing–
masing perlakuan di dua lokasi yang berbeda. ... 30 4 Rata–rata diameter sebaran ubi tanaman ubi kayu
pada masing–masing perlakuan di dua lokasi yang
berbeda. ... 32 5 Rata–rata panjang ubi tanaman ubi kayu pada masing–
masing perlakuan di dua lokasi yang berbeda. ... 33 6 Rata–rata diameter ubi tanaman ubi kayu pada masing–
masing perlakuan di dua lokasi yang berbeda. ... 34 7 Rata–rata bobot ubi tanaman ubi kayu pada masing–
masing perlakuan di dua lokasi yang berbeda. ... 36 8 Rata–rata kadar pati tanaman ubi kayu pada masing–
masing perlakuan di dua lokasi yang berbeda. ... 37 9 Rata–rata bobot kering panen tanaman sorghum pada
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah
Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi yang mempunyai areal
pertanian yang luas. Salah satu komoditi yang banyak dibudidayakan di Lampung
adalah tanaman ubi kayu. Data BPS (2015) menunjukkan bahwa luas areal panen
ubi kayu di Lampung adalah 310.441 ha dengan jumlah produksi 8,29 juta ton ubi
atau produktivitas secara keseluruhan sebesar 26,70 ton/ ha.
Penanaman ubi kayu oleh petani di Lampung masih menggunakan sistem tanam
monokultur dengan berbagai jarak tanam. Penggunan sistem tanam monokultur
tersebut dapat mengakibatkan adanya jarak di dalam antar tanaman yang masih
dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman sisipan. Oleh sebab itu diperlukan
sistem tanam tumpang sari yang dapat mengoptimalkan lahan pertanian tanaman
ubi kayu. Menurut Warsana (2009), tumpang sari adalah suatu pola budidaya
tanaman dengan menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dan waktu tanam
yang sama, tanamannya relatif berumur sama ataupun berbeda, dan diatur dalam
barisan tanaman. Pola tumpang sari memiliki banyak keuntungan antara lain
efisiensi pemanfaatan lahan, unsur hara dan sinar matahari. Keuntungan lain
2
satu tanaman yang ditumpang sari mengalami gagal panen, menciptakan stabilitas
biologis seperti menekan perkembangan hama dan penyakit, serta
mempertahankan kelestarian sumber daya lahan dalam hal kesuburan tanah. Hasil
panen yang beragam dari tanaman yang ditumpang sari tersebut dapat menjadi
pendukung dari produktifitas lahan dan menjaga kesejahteraan petani apabila
harga ubi kayu di pasaran mengalami penurunan harga.
Produksi tanaman dalam tumpang sari akan meningkat jika terdapat kecocokan
dalam memilih jenis tanaman pokok dan sisipannya (Pratama, 2014). Hal ini
disebabkan karena adanya pengaruh dari genetik tanaman dan juga lingkungan
tumbuh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tumpang sari.
Menurut Supriyanto (2009), bahwa tanaman sorghum dapat menghasilkan
bioenergi (bioetanol) dan dapat ditanam secara tumpang sari. Selanjutnya Kamal
(2011) dan Hamim dkk. (2012), menyatakan tanaman sorghum dapat ditumpang
sarikan atau disisipkan pada jarak tanam ubi kayu yang lebar. Waktu panen yang
berbeda antara tanaman sorghum dan ubi kayu tidak akan mempengaruhi secara
signifikan terhadap produksi tanaman pokok ubi kayu. Sistem tumpang sari ubi
kayu dan sorghum tetap menghasilkan produksi sorghum dalam jangka waktu 3
bulan, sehingga akan didapatkan produksi yang beragam yang mendukung
berbagai sektor seperti pangan, industri, dan peternakan yang pada akhirnya akan
meningkatkan pendapatan petani. Selain dapat ditumpang sari dengan tanaman
ubi kayu, tanaman sorghum juga dapat menjadi tanaman sisipan pada budidaya
tanaman kacang hijau (Kontur dkk., 2007) dan budidaya tanaman arbila (Koten
3
Sorghum manis (Sorghum bicolor [L.] Moench) adalah salah satu tanaman jenis
serealia selain padi dan jagung yang menjanjikan untuk pengembangan bahan
pakan, pangan, dan bioetanol. Batang sorghum terutama jenis sorghum manis
memiliki kandungan nira yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan
gula dan bioetanol. Selain itu, keseluruhan bagian tanaman sorghum adalah
biomassa yang sangat potensial untuk dijadikan bahan pakan segar bagi ternak
(Sari, 2009), sehingga dapat mendukung dalam swasembada daging karena pakan
ternak yang selalu tersedia. Keunggulan lain tanaman sorghum adalah daya
adaptasi yang baik pada berbagai lingkungan .
Sorghum manis terdiri dari banyak varietas yang memiliki daya adaptasi yang
berbeda pada berbagai jarak tanam sebagai tanaman sela pada proses tumpang
sari. Zulkarnaien dkk. (2015) melaporkan bahwa terdapat perbedaan hasil yang
nyata antara varietas Numbu dan Kawali pada pertumbuhan vegetatif dan
generatif tanaman sorghum yang diuji coba dengan berbagai jarak tanam pada
lahan kelapa sawit TBM 1. Selain itu, terdapat interaksi yang nyata terhadap
diameter batang pada 9 minggu setelah tanam. Sutrisna dkk. (2013) melaporkan
bahwa terdapat perbedaan pertumbuhan pada 5 varietas sorghum yang diujikan
pada lahan kering di Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat.
Lokasi penanaman sebagai lingkungan tumbuh akan sangat menentukan proses
pertumbuhan dan perkembangan tanaman ubi kayu pada sistem tumpang sari
dengan tanaman sorghum. Hal itu dikarenakan ubi kayu dan sorghum
menghendaki syarat tumbuh tertentu untuk dapat berproduksi secara optimal.
4
lingkungan tumbuh seperti unsur hara, ketersediaan air, pH tanah, tekstur tanah,
struktur tanah, cahaya, kelembapan, dan curah hujan. Hasil penelitian Usodri
(2016) menunjukkan bahwa lokasi mempengaruhi pertumbuhan dan produksi ubi
kayu. Beberapa varietas sorghum memiliki daya adaptasi yang baik pada lahan
marjinal dan sebagian lainnya tidak memliki ketahanan yang cukup baik pada
lahan marjinal (Sutrisna dkk., 2013). Hal–hal tersebut menunjukkan bahwa lokasi memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan produksi tanaman.
Berdasarkan data BPS (2013), lokasi Desa Gading Rejo memiliki kondisi wilayah
dengan ketinggian tempat 100 - 200 mdpl, suhu rata–rata 27,1° C, dan curah hujan 232 mm/tahun. Sedangkan pada lokasi Desa Margotomo Sulusuban
memiliki kondisi wilayah dengan ketinggian tempat 56 mdpl, suhu rata–rata 28° C, dan curah hujan 234 mm/tahun. Selain kondisi wilayah, berdasarkan hasil
analisis tanah di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Lampung,
Desa Gading Rejo memiliki pH tanah 5,45, N-total 0,1%, P-tersedia 9,01 ppm,
K-dd 0,16 ppm, dengan kandungan pasir 32,81%, debu 40,46%, dan liat 26,73%.
Sedangkan kondisi tanah di Desa Margotomo Sulusuban memiliki pH tanah 4,31,
N-total 0,07%, P-tersedia 6,45 ppm, K-dd 0,08 ppm, dengan kandungan pasir
36,66%, debu 15,67%, dan liat 47,67%. Produksi ubi kayu di Desa Gading Rejo
sebesar 798,1 ton/ tahun dengan luas wilayah panen sebesar 38 ha, sedangkan di
Desa Margotomo Sulusuban 29.299 ton/tahun.
Peranan pola tanam tumpang sari sorghum di antara tanaman ubi kayu dapat
menaikkan pendapatan petani saat harga ubi kayu mulai menurun seperti saat
5
Lampung, harga ubi kayu terus menurun yang mengakibatkan pendapatan petani
menurun. Disinilah perlu adanya pola penanaman tumpang sari agar terdapat
tanaman lain yang dapat meningkatkan pendapatan petani di saat harga ubi kayu
menurun. Hal itu dapat dilakukan dengan menanam tanaman sorghum yang dapat
dimanfaatkan sebagai pakan ternak untuk produksi hijauannya serta hasil dari nira
sorghum yang cukup menjanjikan.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka penelitian ini
dilaksanakan untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah terdapat pengaruh sistem tanam dan jarak tanam terhadap produksi ubi
kayu dan hijauan lima varietas sorghum?
2. Apakah terdapat pengaruh lokasi penanaman terhadap produksi ubi kayu dan
hijauan lima varietas sorghum?
3. Apakah terdapat pengaruh interaksi antara lokasi penanaman dengan sistem
tanam dan jarak tanam terhadap produksi ubi kayu dan produksi hijauan lima
varietas sorghum
1.2 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, penelitian ini bertujuan :
1. Mengetahui pengaruh sistem tanam dan jarak tanam terhadap produksi ubi
kayu dan hijauan lima varietas sorghum pada dua lokasi yang berbeda.
2. Mengetahui pengaruh lokasi penanaman terhadap produksi ubi kayu dan
hijauan lima varietas sorghum.
3. Mengetahui interaksi antara lokasi penanaman dengan sistem tanam dan jarak
6
1.3 Kerangka Pemikiran
Ubi kayu adalah tanaman yang menghasilkan ubi dalam kurun waktu hampir
setahun. Ubi kayu merupakan salah satu tanaman yang cocok ditanam dan
dikembangkan di Lampung. Ubi kayu banyak dikembangkan oleh petani karena
cara budidaya yang murah, mudah, relatif tidak ada organisme pengganggu
tanaman (OPT), dan relatif tahan kekeringan. Pemasaran ubi kayu di daerah
Lampung tidak sulit dan telah banyak pabrik tapioka yang berproduksi secara
optimal. Selain daunnya yang dapat dijadikan sayuran atau lalapan oleh sebagian
orang di Lampung, batangnya juga dapat dijadikan bahan stek kembali dan
umbinya yang mampu diolah menjadi bahan pangan, pakan, dan bioetanol.
Ubi kayu ditanam dengan jarak tanam yang relatif lebar, rata-rata 0,5–1 meter dan dipanen dalam waktu hampir setahun, sehingga harus menunggu cukup lama
untuk mendapatkan keuntungan. Jarak tanam yang lebar tersebut berpotensi dapat
dimanfaatkan untuk tanaman lain yang mampu menghasilkan dengan kurun waktu
yang cepat. Penyisipan tanaman sela di antara tanaman pokok disebut
intercropping atau tumpang sari. Tumpang sari adalah penanaman dua jenis
tanaman yang berbeda jenisnya yang ditanam pada waktu yang bersamaan atau
berbeda waktu tanamnya pada suatu areal lahan atau kebun yang sama. Tumpang
sari diharapkan mampu menghasilkan beberapa komoditas yang beragam sesuai
yang ditanam sehingga mampu meningkatkan keuntungan dan kesejahteraan
7
Pola tanam tumpang sari ubi kayu dengan waktu panen hampir setahun dapat
disisipkan tanaman lain yang mempunyai waktu panen yang relatif singkat dan
mampu meningkatkan keuntungan atau pendapatan petani. Jenis tanaman yang
disisipkan ke barisan tanam ubi kayu harus sesuai sehingga tanaman sisipan akan
mampu tetap tumbuh dan berkembang walaupun dengan kondisi bersaing dalam
memperebutkan unsur hara, air, ruang tumbuh, dan cahaya matahari. Salah satu
tanaman yang baik untuk tanaman sisipan pada budidaya ubi kayu adalah tanaman
sorghum.
Tanaman sorghum memiliki beberapa varietas yang mampu beradaptasi dengan
baik pada berbagai lingkungan tumbuh dan juga dapat ditanam secara tumpang
sari dengan ubi kayu karena waktu panen yang berbeda antara tanaman sorghum
dan ubi kayu.
Tanaman ubi kayu dan sorghum yang ditanam dengan sistem tumpang sari
sebaiknya dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan tujuan untuk
menghindari terjadinya persaingan dalam memperebutkan unsur hara, air, cahaya
matahari, dan ruang tumbuh, pada saat masa vegetative tanaman sorghum
sehingga pada saat tanaman ubi kayu berada dalam masa pengisian ubi, maka
tanaman sorghum diharapkan sudah dapat dipanen. Selain menghindari
persaingan antartanaman, diharapkan juga saat sorghum dipanen, maka petani
mendapat keuntungan dari harga jual sorghum dan diharapkan hasil panen ubi
kayu tidak mengalami penurunan yang signifikan atau bahkan lebih tinggi.
Penanaman dengan jarak tanam yang tepat juga akan menghasilkan pertumbuhan
8
populasi yang terlalu tinggi dapat mendorong kompetisi antartanaman dalam
memperoleh sumber daya yang berhubungan dengan proses fotosintesis tanaman
yang terpengaruh karena kurangnya cahaya yang masuk dalam kanopi tanaman
serta peningkatan kompetisi untuk nutrisi yang tersedia. Hal tersebut akan
menunjang keberhasilan proses tumpang sari ubi kayu dengan tanaman sorghum.
Selain hal–hal tersebut di atas, lokasi penanaman juga mempengaruhi
keberhasilan proses penanaman secara tumpang sari. Pada lokasi yang berbeda
akan terdapat pula perbedaan lingkungan, ketersediaan air, ketersediaan unsur
hara, struktur tanah, dan tekstur tanah.
Oleh sebab itu, perlu adanya kajian antara genetik, lingkungan, dan interaksi
antara ke duanya terhadap proses tumpang sari tanaman ubi kayu dengan
sorghum.
1.4 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dipaparkan, maka hipotesis yang
diajukan adalah :
1. Sistem tanam dan jarak tanam mempengaruhi produksi ubi kayu dan hijauan
lima varietas sorghum.
2. Lokasi penanaman mempengaruhi produksi ubi kayu dan hijauan lima varietas
sorghum.
3. Terdapat pengaruh interaksi antara lokasi penanaman dengan sistem tanam dan
9
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman Ubi kayu
Dalam sistematika (taksonomi) tanaman ubi kayu diklasifikasikan sebagai berikut
yaitu kerajaan Tumbuhan, divisi Spermatophyta, sub-divisi Angiospermae, kelas
Dicotyledonae, ordo Euphorbiales, keluarga Euphorbiaceae, genus Manihot, dan
species adalah Manihot esculenta (Suprapti, 2005).
Ubi kayu mempunyai beberapa nama daerah seperti ketela, keutila, ubi kaye,
kikim, ubi parancih, ubi singkung, batata kayu, bistungkel, huwi dangdeur, tela
pohung, tela balandha, sabrang sawi,kasubi, lame kayu, lame aju, dan kasibi
(Purwono, 2009).
Tanaman ubi kayu merupakan ubi atau akar pohon yang panjang dengan rata-rata
diameternya adalah 2-3 cm dan panjang sekitar 50-80 cm, tergantung dari jenis
atau varietas ubi kayu yang ditanam. Ubi kayu tidak memiliki periode matang
pada umbi yang jelas karena umbinya terus membesar. Akibatnya, periode panen
dapat beragam sehingga menghasilkan ubi kayu yang sifat fisik dan kimia yang
berbeda. Sifat fisik dan kimia dalam pati pada tanaman ubi kayu seperti bentuk
10
dipengaruhi oleh faktor genetik, kondisi tempat tumbuh, dan umur tanaman
(Moorthy, 2002).
Berdasarkan kandungan amilosa, tanaman ubi kayu dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu ubi kayu kenyal dan ubi kayu gembur. Ubi kayu kenyal (kadar amilosa
kurang dari 20%) yang mencirikan bila kulit ari warna coklat dan tidak terkelupas
(lengket pada kulit tebalnya) serta kulit tebalnya sulit dikupas. Ubi kayu gembur
(kadar amilosa lebih dari 20%) mencirikan fisik seperti kulit ari yang berwarna
coklat yang terkelupas dan kulit tebalnya mudah dikupas (Prabawati, dkk., 2011).
Menurut Radjit dkk.(2010), terdapat korelasi positif antara luas daun dengan hasil
ubi yang mana mengindikasikan bahwa luas daun mempunyai peranan penting
terhadap laju pertumbuhan dan hasil umbi tanaman ubi kayu.
Ubi kayu dapat dimanfaatkan pada berbagai keperluan seperti pangan, pakan
maupun bahan baku industri. Dengan demikian, pemilihan varietas ubi kayu
harus disesuaikan dengan fungsinya atau peruntukkannya. Apabila ubi kayu
dikonsumsi secara langsung untuk bahan pangan digunakan varietas ubi kayu
yang rasanya enak dan pulen dan kandungan HCN yang rendah. Berdasarkan
kandungan HCN ubi kayu dibedakan menjadi ubi kayu manis/tidak pahit, dengan
kandungan HCN < 40 mg/kg umbi segar, dan ubi kayu pahit dengan kadar HCN≥ 50 mg/kg umbi segar. Kandungan HCN yang tinggi dapat menyebabkan
keracunan bagi manusia maupun hewan, sehingga tidak dianjurkan untuk
11
2.2 Sistem Tumpang sari
Tumpang sari adalah pola penanaman antara dua jenis tanaman atau lebih di lahan
dan waktu yang bersamaan dengan tujuan utama untuk meningkatkan
produktivitas per satuan luas lahan. Apabila dua jenis tanaman yang berbeda
tumbuh secara bersamaan maka akan terjadi interaksi, sehingga masing-masing
tanaman harus memiliki ruang yang cukup untuk memaksimalkan kerjasama dan
meminimalkan kompetisi. Dengan demikian dalam sistem tumpang sari perlu
dipertimbangkan berbagai hal seperti pengaturan jarak tanam, populasi tanaman,
umur panen tiap tanaman, dan arsitektura tanaman (Suwarto dkk., 2005).
Menurunnya hasil tanaman yang dikombinasikan dalam sistem tumpang sari
karena adanya kompetisi (yakni suatu proses partisi sumberdaya lingkungan yang
dalam keadaan kurang disebabkan oleh kebutuhan yang serentak dari
individu-individu yang mengurangi pertumbuhan dan kapasitas produksinya) diantara
tanaman yang ditumpang sarikan. Untuk itu teknologi tumpang sari yang
dikembangkan harus selalu mengacu kepada minimalisasi kompetisi terhadap
berbagai faktor tumbuh, baik kompetisi antara jenis tanaman yang sama
(intra-spesific competition), kompetisi antara bagian tanaman (inter-plant competition),
dan kompetisi antara spesies tanaman yang berbeda (inter-spesific competition)
(Kadekoh, 2007).
Pengembangan budidaya tumpang sari dengan ubi kayu, khususnya di Sumatera
dan Kalimantan, adalah salah satu upaya strategis dengan alasan yaitu saat ini
areal tanaman ubi kayu di dua pulau tersebut cukup luas (sekitar 430.000 ha) dan
12
minimal dapat ditanami satu kali berbagai jenis tanaman secara tumpang sari,
serta pertanaman tumpang sari tersebut selain menghasilkan ubi kayu cukup
tinggi, juga mampu menghasilkan jenis tanaman lain yang cukup memadai,
sehingga meningkatkan keuntungan usaha tani (Harsono dan Subandi, 2013).
Pemilihan jenis tanaman sisipan yang tepat mempengaruhi pola tanam tumpang
sari. Selain memanfaatkan lahan kosong di sela-sela tanaman utama, pola
tumpang sari juga mempunyai beberapa keuntungan lain diantaranya lebih efisien
dalam penggunaan tenaga kerja, pemanfaatan lahan, penyerapan sinar matahari,
dan populasi tanaman dapat diatur sesuai dengan jarak tanam yang dikehendaki.
Keuntungan lain adalah tumpang sari mempunyai peluang produksi lebih besar
dan apabila satu jenis tanaman yang diusahakan mengalami kegagalan dapat
dipanen tanaman alternatif, dapat menekan serangan OPT, dan menstabilkan
kesuburan tanah (Sarman, 2001).
2.3 Tanaman Sorghum
Sorghum manis adalah salah satu komoditas pertanian yang sudah lama dikenal di
Indonesia. Sorghum manis (Sorghum bicolor L. Moench) mempunyai potensi
penting sebagai sumber karbohidrat bahan pangan, pakan, dan komoditi eksport
serta dapat dijadikan bioetanol. Tanaman sorghum mempunyai keistimewaan
lebih tahan terhadap cekaman lingkungan bila dibandingkan dengan tanaman
palawija lainnya pada lahan kering. Tanaman sorghum mampu tumbuh dan
beradaptasi pada daerah yang luas mulai 45°LU sampai dengan 40°LS, mulai dari
13
2004). Sorghum di dalam sistem taksonomi tumbuhan, mempunyai klasifikasi
tanaman sebagai berikut yaitu kerajaan Tumbuhan, divisi Spermatophyta,
subdivisi Angiospermae, kelas Monocotyledonae, ordo Poales, keluarga Poaceae,
genus Sorghum, dan spesiesnya bernama latin adalah Sorghum bicolor (L.)
Moench (USDA, 2008).
Tanaman sorghum merupakan salah satu bahan pangan yang berpotensi
digunakan sebagai sumber karbohidrat. Tanaman sorghum mempunyai beberapa
kandungan esensial seperti mengandung karbohidrat sebesar 80.42%, protein
10.11%, lemak 3.65%, serat 2.74%, dan abu 2.24% (Suarni, 2004). Tanaman
sorghum manis berpotensi cukup besar untuk dikembangkan sebagai sumber
pangan, pakan, bioetanol, dan untuk berbagai keperluan industri lainnya.
Tanaman sorghum termasuk tanaman pangan (biji-bijian), tetapi lebih banyak
dimanfaatkan sebagai pakan ternak (livestock fodder). Tanaman sorghum manis
sebagai bahan baku industri bersih (clean industry) karena hampir semua
komponen biomassa dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri.
Pemanfaatan sorghum manis diperoleh dari hasil-hasil utama (batang dan biji)
serta limbah (daun) dan hasil ikutannya (ampas/bagasse) (Sumantri dkk., 1996).
Menurut Kusuma dkk. (2008), tanaman sorghum adalah tanaman graminae yang
mempunyai tinggi hingga 6 meter. Bunga sorghum termasuk bunga sempurna
dimana kedua alat kelaminnya berada di dalam satu bunga. Pada daun sorghum
terdapat lapisan lilin yang ada pada lapisan epidermisnya. Adanya lapisan lilin
tersebut menyebabkan tanaman sorghum mampu bertahan pada daerah dengan
14
tanaman sorghum memiliki batang tunggal yang terdiri atas ruas-ruas, daun terdiri
atas lamina (blade leaf) dan auricle, rangkaian bunga sorghum yang nantinya
akan menjadi bulir-bulir sorghum.
Habitus tanaman sorghum yaitu tumbuh tegak lurus dan tidak bercabang,
mempunyai batang yang beruas-ruas dan berbuku-buku. Setiap ruas mempunyai
alur yang letaknya berselang-seling dan setiap buku mengeluarkan daun
berhadapan dengan alur. Pada bagian tengah batangnya terdapat sel-sel parenkim
atau seludang pembuluh yang diselubungi oleh lapisan keras (Candra, 2011).
Tanaman sorghum dapat bertunas banyak di atas leher akar.Akan tetapi ada juga
yang tidak bertunas tergantung jenis dan varietasnya. Batangnya ada yang
mengandung air dan nira dengan kadar gula yang banyak, tetapi ada juga yang
berair tapi tidak manis dengan nilai tingkat kemanisan yang lebih rendah (Nadira
dan Nurfaida, 2012).
Tanaman sorghum merupakan tanaman berkeping satu. Kemampuannya
menyerap air tanah cukup intensif karena memiliki akar serabut yang banyak.
Bunga sorghum yang berbentuk malai terdapat pada ujung batang dan memiliki
tangkai yang panjang. Umumnya bunga akan tumbuh sekitar 60-70 hari setelah
masa tanam. Malai buah sorghum ada yang berbentuk padat, setengah padat, atau
terbuka. Bagian dari malai yang dijadikan bahan baku sapu adalah cabang malai.
Malai yang berisi biji umumnya akan masak setelah tanaman sorghum berumur
90-120 hari (Rismunandar, 1986).
Selain faktor lingkungan, pertumbuhan dan produksi tanaman juga dipengaruhi
15
dapat berhasil apabila tepat dalam penerapan dan penyediaan teknologi terbaru
dengan menggunakan varietas unggul yang berkualitas. Berdasarkan hasil
penelitian (Saputro, 2015), perbedaan varietas tanaman akan mempengaruhi
produksi biomassa sorghum, tetapi tidak mempengaruhi hasil ubi kayu pada
sistem tanam tumpang sari. Varietas Keller dapat menghasilkan biomassa
sorghum tertinggi dibandingkan dengan Varietas Numbu dan Wray pada saat
berbunga ataupun saat panen.
2.4 Jarak Tanam
Jarak tanam tanaman ubi kayu yang relatif lebar yaitu mulai dari 50 × 200 cm2
sampai 100 × 200 cm2dapat dikembangkan sistem tanam tumpang sari dengan
menanam tanaman yang cepat menghasilkan dan menguntungkan untuk petani.
Penanaman dalam sistem tanam tumpang sari dilakukan sebagai salah satu upaya
untuk mengatasi terbatasnya lahan tanam untuk ditanami tanaman yang
menguntungkan dan juga sebagai usaha efisiensi dalam tersedianya ruang tanam
di antara area tanaman utama budidaya (Setiawan dkk., 2014).
Suwarto dkk. (2005) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa ubi kayu klon
Adira 1 ditanam dengan jarak tanam 100 cm x 100 cm (populasi 10 000 tanaman
ha-1). Tepat di tengah antara barisan ubi kayu ditanam jagung dengan populasi 0,
32.000, 48.000, 64.000, dan 80.000 tanaman per hektar. Jagung yang ditanam
berbeda umur panen yaitu varietas Arjuna (90–95 hari), Pioner 4 (96–100 hari) dan Cargill 9 (> 100 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ubi kayu yang
16
menghasilkan 1,7 kg/tanaman dan tumpang sari dengan jagung menghasilkan 0,86
kg ubi singkong/tanaman.
Menurut hasil penelitian Harsono dkk. (2010), ubi kayu yang ditanaman dengan
tanaman kedelai menunjukkan hasil yaitu pada jarak tanam ubi kayu 125 cm x 60
cm ditumpang sari dengan kedelai dengan waktu tanam sama dengan ubi kayu
menghasilkan ubi kayu sebesar 19,68 t/ha dan kedelai 0,92 t/ha. Sedangkan untuk
waktu tanam kedelai 2 minggu setelah tanam dengan jarak tanam 125 x 60 cm,
ubi kayu menghasilkan 28,01 t/ha ubi kayu dan 0,87 t/ha kedelai. Untuk jarak
tanam ubi kayu (80 cm x 60 cm) x 250 cm dengan ditumpang sari dengan kedelai
pada waktu tanam bersamaan menghasilkan 21,28 t/ha ubi kayu dan 0,74 t/ha
kedelai, sedangkan untuk waktu tanam 2 minggu setelah tanam ubi kayu
17
III. BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di dua lokasi yaitu Desa Gading Rejo Kabupaten
Pringsewu, dan Desa Margotomo Sulusuban, Kabupaten Lampung Tengah, dan
analisis berangkasan di Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universitas
Lampung, Bandar Lampung, dari bulan April 2015 sampai dengan Maret 2016.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih sorghum varietas
Numbu, Samurai 1, Telaga Bodas, Super 1, Super 2, bahan stek ubi kayu klon
Kasetsart, furadan 3G, pupuk Urea, pupuk KCl, dan pupuk SP-36.
Sedangkan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah traktor, cangkul,
meteran, tali rafia, koret, alat tugal, alat semprot punggung, penggaris, oven,
timbangan digital, penggiling tebu, selang, pisau pemanen sorghum, linggis,
klorofil meter SPAD 502 plus, refractometer brix, dan timbangan Bangkok Thai
18
3.3 Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak
Kelompok (RAK) gabungan dengan tiga ulangan. Kombinasi perlakuan yang
terdiri dari lokasi dan model tumpang sari dengan berbagai jarak tanam terhadap
produksi ubi kayu disajikan di Tabel 1 dan untuk produksi hijauan 5 (lima)
varietas sorghum disajikan di Tabel 2. Setelah itu, dilakukan uji F untuk
homogenitas ragam untuk selanjutnya dilakukan analisis ragam gabungan acak
kelompok pada dua loaksi penelitian. Pemisahan nilai tengah dilakukan dengan
19
Tabel 1. Kombinasi perlakuan yang diberikan untuk melihat produksi ubi kayu yang ditanam secara tumpang sari dan monokultur dengan berbagai jarak tanam pada dua lokasi berbeda.
Simbol Perlakuan Keterangan
MU1 Monokultur ubi kayu dengan jarak tanam 100 cm x 60 cm
MU2 Monokultur ubi kayu dengan jarak tanam 80 cm x 60 cm
TS1-1 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Numbu dengan jarak tanam ubi kayu 100 cm x 60 cm
TS2-1 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Numbu dengan jarak tanam ubi kayu 80 cm x 60 cm
TS1-2 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Talaga Bodas dengan jarak tanam ubi kayu 100 cm x 60 cm TS2-2 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Talaga
Bodas dengan jarak tanam ubi kayu 80 cm x 60 cm TS1-3 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Samurai 1
dengan jarak tanam ubi kayu 100 cm x 60 cm
TS2-3 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Samurai 1 dengan jarak tanam ubi kayu 80 cm x 60 cm
TS1-4 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Super 1 dengan jarak tanam ubi kayu 100 cm x 60 cm
TS2-4 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Super 1 dengan jarak tanam ubi kayu 80 cm x 60 cm
TS1-5 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Super 2 dengan jarak tanam ubi kayu 100 cm x 60 cm
20
Tabel 2. Kombinasi perlakuan yang diberikan untuk melihat produksi hijauan 5 (lima) varietas sorghum yang ditanam secara tumpang sari dan
monokultur dengan berbagai jarak tanam pada dua lokasi berbeda.
Simbol Perlakuan Keterangan
TS1-1 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Numbu dengan jarak tanam ubi kayu 100 cm x 20 cm
TS2-1 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Numbu dengan jarak tanam ubi kayu 80 cm x 20 cm
TS1-2 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Telaga Bodas dengan jarak tanam ubi kayu 100 cm x 20 cm TS2-2 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Telaga
Bodas dengan jarak tanam ubi kayu 80 cm x 20 cm TS1-3 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Samurai 1
dengan jarak tanam ubi kayu 100 cm x 20 cm
TS2-3 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Samurai 1 dengan jarak tanam ubi kayu 80 cm x 20 cm
TS1-4 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Super 1 dengan jarak tanam ubi kayu 100 cm x 20 cm
TS2-4 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Super 1 dengan jarak tanam ubi kayu 80 cm x 20 cm
TS1-5 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Super 2 dengan jarak tanam ubi kayu 100 cm x 20 cm
TS2-5 Tumpang sari ubi kayu dan sorghum Varietas Super 2 dengan jarak tanam ubi kayu 80 cm x 20 cm
MS1-1 Monokultur sorghum Varietas Numbu dengan jarak tanam 100 cm x 20 cm
MS2-1 Monokultur sorghum Varietas Numbu dengan jarak tanam 80 cm x 20 cm
MS1-2 Monokultur sorghum Varietas Talaga Bodas dengan jarak tanam 100 cm x 20 cm
MS2-2 Monokultur sorghum Varietas Talaga Bodas dengan jarak tanam 80 cm x 20 cm
MS1-3 Monokultur sorghum Varietas Samurai 1 dengan jarak tanam 100 cm x 20 cm
MS2-3 Monokultur sorghum Varietas Samurai 1 dengan jarak tanam 80 cm x 20 cm
MS1-4 Monokultur sorghum Varietas Super 1 dengan jarak tanam 100 cm x 20 cm
MS2-4 Monokultur sorghum Varietas Super 1 dengan jarak tanam 80 cm x 20 cm
MS1-5 Monokultur sorghum Varietas Super 2 dengan jarak tanam 100 cm x 20 cm
TATA LETAK PENELITIAN
TS 1 MS 2 MS 1 TS 2
4 m U
N 5 m TB SAM 1 N
TB SP 1 N SP 2
SP 1 SP 2 SP 1 TB Ulangan 1 B T
SAM 1 N TB SP 1
SP 2 SAM 1 SP 2 SAM 1
S
MS 2 TS 2 MS 1 TS 1
JumlahTanaman
SAM 1 TB N SP 1 TS 1
N SAM 1 SP 1 TB Ulangan2 Sorghum (100 cm x 20 cm) : 5 x 26 = 130
TB SP 1 SP 2 N UbiKayu (100 cm x 60 cm) : 5 x 9 = 45
SP 2 N SAM 1 SAM 1
SP 1 SP 2 TB SP 2 TS 2
Sorghum (80 cm x 20 cm) : 6 x 26 = 156
TS 2 MS 1 MS 2 TS 1 UbiKayu (80 cm x 60 cm) : 6 x 9 = 54
SAM 1 SP 2 SAM 1 SP 1
N SP 1 TB N
SP 2 TB SP 1 SAM 1 Ulangan 3 MS 1
TB N N SP 2 Sorghum (100 cm x 20 cm) : 5 x 26 = 130
SP 1 SAM 1 SP 2 TB
MS 2
MU 1 MU 2 Sorghum (80 cm x 20 cm) : 6 x 26 = 156
4 m 4 m
MU 1
5 m 5 m UbiKayu (100 cm x 60 cm) : 5 x 9 = 45
MU 2
22
3.4 Pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Perbanyakan Benih Sorghum
Perbanyakan benih lima varietas sorghum dilakukan di lapang dengan berbagai
varietas yaitu Numbu, Samurai 1, Talaga Bodas, Super 1, dan Super 2. Setelah
cukup waktu panen sesuai dengan deskripsi masing-masing varietas, maka
dilakukan pemanenan benih untuk perbanyakan, lalu dilakukan pengeringan, dan
dilakukan pemipilan benih sorghum dari malainya.
3.4.2 Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan secara mekanis dengan menggunakan traktor dan
secara manual. Pengolahan tanah dilakukan sebanyak dua kali dilanjutkan dengan
penggaruan dan perataan petak untuk membuat alur tanam dengan berbagai jarak
tanam.
3.4.3 Penanaman
Lubang tanam dibuat dengan cara ditugal dengan kedalaman 3 cm. Penanaman
benih sorghum adalah 3 benih per lubang tanam di lapangan, dan apabila sudah
tumbuh dilakukan pemotongan dua tanaman yang pertumbuhannya kurang bagus,
sehingga disisakan 1 tanaman terbaik di lapangan. Untuk tanaman ubi kayu, 1
lubang tanam ditanaman satu stek. Jarak tanam sesuai dengan perlakuan dan
23
3.4.4 Pemupukan
Pemupukan tanaman sorghum diberikan dengan dosis 200 kg/ha Urea (2 kali
pemberian), 100 kg/ha SP36, dan 100 kg/ha KCl pada waktu tujuh hari setelah
tanam dan pemupukan Urea lanjutan pada umur 4 MST. Untuk tanaman ubi kayu
digunakan dosis pemupukan 200 kg/ha Urea (2 kali pemberian), 100 kg/ha SP36,
dan 200 kg/ha KCl pada waktu tujuh hari setelah tanam dan pemupukan Urea
lanjutan pada saat 4 MST.
3.4.5 Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman tanaman, penyiangan gulma secara
manual dan herbisida, penyemprotan pestisida jika diperlukan, dan dilakukan
secara konvensional.
3.4.6 Pemanenan
Pemanenan sorghum dilakukan secara serempak pada waktu yang sama sesuai
dengan kriteria deksripsi panen varietas sorghum. Untuk ubi kayu dipanen pada
24
3.5 Pengamatan
3.5.1. Variabel Pengamatan Tanaman Ubi Kayu
1. Tinggi Tanaman : Diukur pada saat tanaman ubi kayu dipanen. Tinggi
tanaman diukur dari permukaan tanah sampai batang tertinggi.
2. Jumlah Daun: Diukur pada saat tanaman ubi kayu dipanen. Jumlah daun
dihitung pada batang tertinggi.
3. Jumlah Ubi : Diukur saat tanaman ubi kayu dipanen. Jumlah ubi dihitung
keseluruhan.
4. Diameter Sebaran Ubi : Diukur saat tanaman ubi kayu dipanen. Diameter
sebaran ubi diukur secara memutar dari ujung ubi kayu sebelah kiri sampai
ujung ubi kayu sebelah kanan.
5. Panjang Ubi : Diukur saat tanaman ubi kayu dipanen. Panjang ubi diukur dari
pangkal ubi sampai ujung ubi.
6. Diameter Ubi: Diukur saat tanaman ubi kayu dipanen. Diameter ubi diukur
pada tiga bagian ubi yaitu bagian pangkal, bagian tengah, dan bagian ujung.
Setelah itu, hasil pengukuran tiga bagian tersebut dijumlah dan dibagi tiga
untuk mendapatkan nilai rata–rata.
7. Bobot Ubi : Diukur saat tanaman ubi kayu dipanen. Bobot ubi diukur dengan
menggunakan timbangan.
8. Kadar Pati : Diukur saat tanaman ubi kayu dipanen. Kadar pati diukur
dengan menggunakan alat timbangan yang di produksi oleh perusahaan
25
3.5.2. Variabel Pengamatan Tanaman Sorghum
1. Tingkat kehijauan daun: Tingkat kehijauan daun diukur pada tanaman
sorghum dengan menggunakan kloropil meter jenis SPAD 502 Plus.
2. Bobot Kering Vegetatif Maksimum: Diamati pada saat masing-masing
varietas sorghum ditandai oleh salah satu tanaman telah berbunga atau
mencapai fase vegetatif maksimum. Lalu dilakukan pengovenan sampai
tidak terjadi lagi penurunan bobot berangkasan sorghum atau dikatakan
konstan.
3. Produksi Nira: Dilakukan pada saat tanaman sorghum di panen. Batang
sorghum digiling dan diperas dengan mesin penggilingan tebu sampai nira
keluar, kemudian diukur berapa volume nira yang dihasilkan per batanag
sorghum masing-masing varietas.
4. Tingkat Kemanisan Nira: Dilakukan dengan cara mengukur nilai brix nira
sorghum dengan menggunakan alat Refractometer Brix untuk mengetahui
tingkat kemanisan
5. Bobot Kering Panen: Diamati pada saat tanaman sorghum dipanen, kemudian
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian adalah :
1. Tidak terdapat pengaruh sistem tanam dan jarak tanam terhadap produksi ubi
kayu dan hijauan sorghum, tetapi terdapat pengaruh perbedaan varietas
terhadap produksi hijauan sorghum pada dua lokasi yang berbeda.
2. Lokasi Gading menunjukkan rata–rata hasil yang lebih tinggi daripada lokasi Sulusuban untuk seluruh variabel pengamatan produksi ubi kayu dan
bobot kering panen lima varietas sorghum.
3. Tidak terjadi pengaruh interaksi antara lokasi dengan kombinasi perlakuan
yang diberikan terhadap seluruh variabel pengamatan produksi ubi kayu dan
produksi hijauan lima varietas sorghum.
5.2. Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan adalah perlu dilakukan penelitian
lanjutan untuk mengkaji lebih menyeluruh mengenai pengaruh unsur hara mikro
dalam sistem tanam tumpang sari terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman
55
DAFTAR PUSTAKA
Abdissa. Y., Tekallign., dan L.M. Pant. 2011. Growth, bulb yield, and quality of onion (Allium cepa L.) as influenced by nitrogen and phosphorus
fertilization on vertisol. I. Growth attributes, biomass production and bulb yield. Afr. J. Agric. Res 6 (14) : 3252-8.
Almodares, A. dan A. Sepahi. 1996. Comparison among sweet sorghum cultivars, lines, and hybrids for sugar production. Annu. Plant Physiol 10: 50-55. Anggraini, Anggun. 2016. Respon Pertumbuhan, Serapan Hara, dan Hasil
Produksi Jagung Manis (Zea mays L. Saccharata Sturt), Kultivar Valentino terhadap Pemberian Biofertilizer dan Trichokompos. Skripsi. Bandar Lampung: Universitas Lampung.
Badan Pusat Statistik, 2015. Data Produksi dan Luas Areal PanenUbikayu di Lampung Tahun 2015. http://www.bps.go.id [18 September 2015]. Balitkabi. 2017. Deskripsi Varietas Unggul Ubi Kayu1978-2012.
http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/publikasi/deskripsi-varietas.html. Diakses tanggal 19 januari 2017.
Biba, M. A. 2011. Prospek Pengembangan Sorgum untuk Ketahanan Pangan dan Energi. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros. hal 257-269.
BPS Provinsi Lampung 2016. Survei hasil produksi dan produktivitas ubi kayu di provinsi Lampung. Lampung.
Buhaira, 2007. Respon kacang tanah (Arachis hypogaea L.) dan jagung (Zea mays L.) terhadap beberapa pengaturan tanam jagung pada sistem tanam
tumpangsari. Jurnal Agronomi. 11 (1) : 41-46.
56
Capriyati, R., Tohari, dan D. Kastono. 2014. Pengaruh jarak tanam dalam tumpangsari sorgum manis (Sorghum bicolor (L.) Moench) dan dua habitus wijen (Sesamum indicum (L.)) terhadap pertumbuhan dan hasil. Jurnal Vegetalika. 3 (3) : 49-62.
Ceballos, H., T. Sánchez., N. Morante., M. Fregene., D. Dufour., A.M. Smith., K. Denyer., J.C. Pérez., F. Calle., C. Mestres. 2007. Discovery of an
Amylose-free Starch mutant in cassava (Manihot esculenta Crantz). J
Agric Food Chem 55(18): 7469–7476.
CIAT (Centro Internacional de Agricultura Tropical). 2009. Project IP3,
Improved cassava for the developing world. Annual Report 2008. Apdo
Aéreo 6713. Cali. Colombia.
Dajue, L., dan S. Guangwei. 2000. Sweet sorghum a fine forage crop for the Beijing Region, China. Paper Presented in FAO e-Conference on Tropical Silage, 1 Sep–15 Dec 1999 in FAO, 2000. Vol. 161. : 123-124.
Djaenuddin, D., Marwan, H., Subagyo, H., Mulyani, A.,dan Suharta, N. 2000. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian. Departemen Pertanian. 264 hlm.
Efendi, R., M. Aqil, dan M. Pabendon. 2013. Evaluasi genotipe sorgum manis produksi biomas dan daya ratun tinggi. Jurnal Tanaman Pangan. Vol. 32 No. 2: 116-125.
Fageria, N.K., M.P.B. Filho., dan J.H.C. Dacosta. 2009. Potassiuminthe Use of Nutrients in Crop Plants. CRC Press Taylor & Francis Group, Boca Raton,London, New York. 131-163.
Fanindi, Achmad, Siti Yuhaeni Dan Wahyu H. 2005. Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench dan Sorghum sudanense (Piper) Stafp) yang Mendapatkan Kombinasi Pemupukan N, P, K dan Ca.Balai Penelitian Ternak. Bogor.
Hadisuwito, S. 2012. Membuat Pupuk Kompos Cair. Agromedia Pustaka, Jakarta. Hamim, H., R. Larasati dan M. Kamal. 2012. Analisis komponen hasil sorgum
yang ditanam tumpangsari dengan ubi kayu dan waktu tanam berbeda. Prosiding Simposium dan Seminar Bersama PERAGI-PERHORTI-PERIPIHIGI Mendukung Kedaulatan Pangan dan Energi yang Berkelanjutan. Bogor, 1-2 Mei 2012. Hal : 91 -94
Harsono, A. dan Subandi. 2013. Peluang pengembangan kedelai pada areal
pertanaman ubi kayu di lahan kering masam. Iptek Tanaman Pangan. 8 (1) : 31-38.
57
Howler, R.H. 1985. Potassium Nutrition of Cassava. Dalam: Munson (ed). Potassium in Agricultural. Am. Soc. Agron. Madison. Wisconsin. USA. Hal : 819–841.
Hunter, E.L. and I.C. Anderson. 1997. Sweet sorghum. In J. Janick (Eds.) Horticultural reviews. Vol. 21 Departement of Agronomy Iowa State University. John Willey & Sons. Inc. pp 73-104
Irwan W.,Wahyudin A., Susilawati R., dan T. Nurmala. 2004. Interaksi jarak tanam dan jenis pupuk kandang terhadap komponen hasil dan kadar tepung sorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench) pada Inseptisol di Jatinangor. Jurnal Budidaya Tanaman. 4 (1) :128-136.
Kadekoh, I. 2007. Komponen hasil dan hasil kacang tanah berbeda jarak tanamdalam system tumpangsari dengan jagung yang didefoliasi pada musimkemarau dan musim hujan. JurnalAgroland. 14 (1):11-17. Kamal, M. 2011. Kajian Sinergi Pemanfaatan Cahaya dan Nitrogen Dalam
Produksi Tanaman Pangan. Pidato ilmiah dalam rangka pengukuhan guru besar dalam bidang ilmu tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung di Bandar Lamapung tanggal 23 Februari 2011. Penerbit Universitas Lampung, Bandar Lampung. 68 hlm.
Kantur, D., Dj. Prajitno, dan P. Yudono. 2007. Kajian defoliasi sorgum pada tumpangsari dengan kacang hijau. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Pertanian. hal 57-65.
Kasno, Astanto. 2009. Populasi dan Jarak Tanam Ubi Kayu dan Aneka Tanaman Kacang dalam Pola Tumpangsari. Iptek Tanaman Pangan (4) 1 : 81–93. Kofir, A. 2010. Galery Eksotika Glonema. Penerbit Andi. Yogyakarta
Koten, B. B., R. D. Soetrisno, N. Ngadiyono, dan B. Soewignyo. 2013. Nilai nutrisi hijauan hasil tumpangsari arbila (Phaseolus lunatus) berinokulum rhizobium dengan sorgum (Sorghum bicolor) pada jarak tanam arbila dan jumlah baris sorgum berbeda. JITP. 3 (1) : 2-10.
Kusuma, J., F. N. Azis, Erifah, M. Iqbal, A. Reza, dan Sarno. 2008. Sorgum. Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto.
Moorthy, S. N. 2002. Physicochemical and functional properties of tropical tuber starches. Starch/ Stärke. 54 (1) : 559-592.
Murray, S.C., A. Sharma., W.L. Rooney., P. E. Klein., J. E. Mullet., S. E.
Mitchell., and S. Kresovich. 2008. Genetic improvement of sorghum as a biofuel feedstock: I. QTL for Stem Sugar and Grain Nonstructural
Carbohydrates. J Crop Sci. 48:2165–2179.
58
Nasreen. S., M.M. Haque., M.A. Hosain., dan A.T.M. Farid. 2007. Nutrient Uptake and Yield of Onion as Influenced by Nitrogen and Sulphur Fertilization, Bangladesh’,J. Agril. Res 32 (3) : 413-20.
Noor, Irsan. 2016. Teknik Budidaya Ubi Kayu. Buku Pintar Pertanian. http://bp4k.blitarkab.go.id/wp-content/uploads/2016/10/5-TEKNIK-BUDIDAYA-TANAMAN-UBI-KAYU-SINGKONG.pdf. Diakses tanggal 07 Maret 2017.
Nugroho, S. G., J. Lumbanranja, A. K. Mahi, Ellizarti, D. Mawardi. 1984. Studi Identifikasi Kemungkinan Degradasi Kesuburan Tanah pada Lahan Usaha Tani Ubi Kayu. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Nurhayati, H., M.Y. Nyapa., A.M. Lubis., S.G. Nugroho., M.A. Diha., Go Ban Hong danH.H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penerbit
Universitas Lampung. pp. 212-302.
Poespodarsono, S. 2010. Dasar-dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. PAU. Lembaga Sumberdaya Informasi. Institut Pertanian Bogor. 169 hal.
Prabawati, S., N. Richana, dan Suismono. 2011. Inovasi Pengolahan Singkong Meningkatkan Pendapatan dan Diversifikasi Pangan. Tabloid Sinar Tani Edisi 4-10 Mei 2011 No. 3404 Tahun XLI.
Pratama, M. S. 2014. Tumpangsari tanaman jagung dan kacang tanah terhadap pertumbuhan dan hasil jagung dengan penerapan pupuk urea. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. 94 hlm.
Prihandana, R, K. Noerwijan, P.G.A. Nuraini, D. Setyaningsih, S. Setiadi, dan R. Hendroko. 2008. Bioetanol Ubi Kayu : Bahan Bakar Masa Depan.
Agromedia. Jakarta.
Purwono, 2009. Budidaya 8 Jenis Tanaman Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta. Putri, R. 2009. Pembuatan Etanol dari Nira Sorgum dengan Proses Fermentasi.
Skripsi. Universitas Diponegoro: Jawa Tengah.
Radjit, B. S., N. Prasetiaswati, dan E. Ginting. 2010. Potensi peningkatan hasil ubikayu melalui stek sambung (Mukibat). J. Iptek Tanaman Pangan. 5 (2): 197–209.
Rahayu, Muji., Samanhudi., dan Wartoyo. 2012. Uji Adaptasi Beberapa Varietas Sorgum Manis di Lahan Kering Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Publikasi Jurnal UNS. Semarang. 14 hlm.
Rahmi, 2007. Teknologi Budidaya Gandum. Balai Penelitian Tanaman Serealia.Maros.
59
Sadjad, S. 1993. Kuantifikasi metabolisme benih. Gramedia, Jakarta.
Sallisbury, F.B. dan Ross W.C. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Alih bahasa: Lukman, DR dan Sumaryono. ITB. Bandung.
Saputro, A. D. 2015. Pengaruh Kerapatan Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) Terhadap Produksi Biomassa Sorgum, Pertumbuhan, Dan Hasil Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) Pada Sistem Tumpangsari Sorgum Dengan Ubikayu.
Sari, R. P. S. 2009. Pembuatan Etanol Dari Nira Sorgum Dengan Proses Fermentasi. Universitas Diponegoro. Semarang.
Sarman, S. 2001. Kajian tentang kompetisi tanaman dalam sistem tumpangsari di lahan kering. Jurnal Agronomi. 5 (1): 41-46.
Septiani, R. 2009. Evaluasi pertumbuhan dan hasil beberapa genotipe sorgum ratoon I. (Skripsi). Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Setiawan, D. P., A. S. Karyawati, dan H. T. Sebayang. 2014. Pengaruh pengendalian gulma pada tumpangsari ubi kayu (Manihot esculenta) dengan kacang tanah (Arachis hypogaea L.). Jurnal Produksi Tanaman. 2 (3): 239-246.
Sharifi, R.S., M. Sedhgi, dan A. Gholipouri. 2009. Effect of population density on yield and yield attributes of maize hybrids. Research Journal of Biological Sciences. 4: 375-379.
Subandi, I. M. 1990. Penelitian dan Teknologi Peningkatan Produksi Jagung Di Indonesia. Balitbantang. Departemen Pertanian. Jakarta.
Suarni, 2004. Pemanfaatan tepung sorghum untuk produk olahan. Jurnal Litbang Pertanian. 23(4) : 145-150.
Sumantri, A., Hanyokrowati, dan B. Guritno. 1996. Prospek Pengembangan Sorgum Manis untuk MenunjangPembangunan Agroindustri di Lahan Kering. Makalah dalam Lokakarya Nasional Pertanian Lahan Kering Beberapa Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu di Kawasan Timur Indonesia. Malang. 10-12 Oktober 1996.
Sumiati, E. dan Gunawan. O. S. 2007. Aplikasi pupuk hayati mikoriza untuk meningkatkan serapan unsur hara NPK serta pengaruhnya terhadap hasil dan kualitas hasil bawang merah. Jurnal Hortikultura 17 (1) : 34-42. Sundari, T. 2010. Pengenalan Varietas Unggul dan Teknik Budidaya Ubi kayu.
60
Suprapti, M. L. 2005. Pembuatan Tepung Terigu dan Pemanfaatannya. Kanisius. Yogyakarta.
Supriyanto, 2009. Pengembangan Sorgum Di lahan Kering Untuk Memenuhi Kebutuhan Pangan, Pakan, Energi dan Industri. Simposium Nasional. Bogor.
Sutrisna, N., N. Sunandar., dan A. Zubair. 2013. Uji Adaptasi Beberapa Varietas Sorgum (Sorghum bicolor L.) pada Lahan Kering di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Jurnal Lahan Suboptimal 2 (2) :137-143.
Suwandi., G.A. Sopha., dan M.P. Yufdy. 2015. Efektivitas Pengelolaan Pupuk Organik, NPK, dan Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah. Jurnal Hortikultura 25 (3) : 211-214.
Suwarto, S. Yahya, Handoko, dan M.A. Chozin.2005.Kompetisi tanaman jagung dan ubi kayu dalam sistem tumpangsari. Jurnal Buletin Agronomi. 33 (2) : 1-7.
Suwarto. 2012. Menjadikan ubi kayu sebagai sumber ketahanan pangan dan energi di Indonesia. Dalam Prosiding Simposium dan Seminar Bersama PERAGI-PERHORTI-PERIPI-HIGI Mendukung Kedaulatan Pangan dan Energi yang Berkelanjutan. p 91-94. Bogor, 1-2 Mei 2012.
Tabri, F. dan Zubachtirodin. 2014. Budidaya Tanaman Sorgum. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Sulawesi Selatan.
Tisdale, S.L., Nelson, W.L., and Beaton, J.D. 1985. Soil Fetility and Fertilizers.
4
th Ed. Macmillian Publishing Company. New York.
USDA, 2008. Classification for Kingdom Plantae Down to Species Sorghum bicolor (L.) Moench. (online).
Usodri, K.S. 2016. Induksi Pembungaan dan Efektivitas Persilangan Beberapa Klon Ubi Kayu (Manihot esculenta Crantz.) pada Dataran Tinggi Sekincau dan Dataran Rendah Natar. [Thesis]. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Warsana, 2009. Introduksi Teknologi Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah. BPTP Jawa Tengah. Tabloid Sinar Tani, 25 Februari 2009. 4 hlm.
Yuwono, M., N. Basuki., dan L. Agustin. 2006. Pertumbuhan dan Hasil Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.)) pada Macam dan Dosis Pupuk Organik yang Berbeda terhadap Pupuk Anorganik. Universitas Brawijaya. Malang. Zulkarnaen, T. Irmansyah, dan Irsal. 2015. Respons pertumbuhan dan produksi