PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR PKn SISWA
KELAS IV SD NEGERI 10 METRO PUSAT
(Skripsi)
Oleh
RINA MURNIATI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR PKn SISWA
KELAS IV SD NEGERI 10 METRO PUSAT
Oleh
RINA MURNIATI
Masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat. Hal ini terlihat dari nilai mid semester ganjil, dari 20 orang siswa kelas IVA hanya ada 1 orang siswa atau 5% siswa yang telah mencapai KKM dan ada 19 orang siswa atau 95% siswa yang belum mencapai KKM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe talking stick terhadap hasil belajar PKn siswa kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen berbentuk quasi eksperimental design dengan rancangan eksperimen non equivalent group design. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan soal pretest dan posttest, yang kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis data kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan, nilai rata pretest kelas eksperimen sebesar 36,39, dan nilai rata-rata posttest sebesar 72,78, dengan hasil ketuntasan sebesar 53,33%, nilai rata-rata-rata-rata pretest kelas kontrol sebesar 38,06, dan nilai rata-rata posttest sebesar 58,89, dengan hasil ketuntasan sebesar 26,67%. Berdasarkan hasil perhitungan uji hipotesis menggunakan program SPSS 20 diperoleh nilai sig. (2-tailed) 0,04, (0,04<0,05) sehingga Ha diterima. Dari perhitungan tersebut dapat diperoleh bahwa model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dapat mempengaruhi hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TALKING STICK TERHADAP HASIL BELAJAR PKn SISWA
KELAS IV SD NEGERI 10 METRO PUSAT
Oleh
RINA MURNIATI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN
pada
Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Peneliti bernama Rina Murniati, dilahirkan di Purwosari Kecamatan Metro Utara Kota Metro, pada tanggal 22 November 1995. Peneliti adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Samijo dan Ibu Siti Mariyani.
Pendidikan formal yang telah diselesaikan peneliti sebagai berikut. 1. SD Negeri 4 Metro Utara lulus pada tahun 2007.
2. SMP Negeri 10 Metro Pusat lulus pada tahun 2010. 3. SMA Negeri 3 Metro Utara lulus pada tahun 2013.
MOTO
“Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu.
Dan orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa
depan”.
(Mario Teguh)
“Janganlah takut melangkah, karena jarak 1000 mil dimulai dengan
langkah pertama”.
(Kata-kata Mutiara)
"Hidup adalah proses pembelajaran untuk perbaikan diri. Teruslah
belajar untuk menjadi baik, lebih baik dan terbaik".
PERSEMBAHAN
Bismillaahirrahmaanirraahiim
Kupersembahkan karya ini sebagai rasa syukur kepada Allah SWT
dan ucapan terima kasih kepada:
Ayahandaku Samijo dan Ibundaku Siti Mariyani tercinta, yang selalu
mendo’akan kebaikan dan kesuksesanku, selalu berjuang tak kenal
lelah, dan memberikan dukungan serta kasih yang tiada batas.
Adik-adikku Tersayang Wahyu Cahyono, Alm. dan Sri Hida Yati,
Kalian adalah motivasiku untuk jadi teladan yang baik.
ii SANWACANA
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, kasih sayang serta hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick terhadap Hasil Belajar PKn Siswa Kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus ditempuh untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan di Universitas Lampung.
Penyusunan skripsi ini dapat terwujud berkat adanya bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati peneliti menyampaikan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M. P., Rektor Universitas Lampung yang mengesahkan ijasah dan gelar sarjana kami, sehingga peneliti termotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Dr. Hi. Muhammad Fuad, M. Hum., Dekan FKIP Universitas Lampung yang telah memfasilitasi dan memberi kemudahan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
iii
4. Bapak Drs. Maman Surahman, M. Pd., Ketua Program Studi PGSD Jurusan
Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Lampung yang telah memberikan
motivasi.
5. Bapak Drs. Muncarno, M. Pd., Koordinator Kampus B FKIP Unila yang selalu memberikan motivasi kepada peneliti.
6. Bapak Drs. Mugiadi, M. Pd., Selaku penguji utama yang selalu memberikan motivasi, serta masukan dan saran-saran yang sangat bermanfaat bagi peneliti.
7. Bapak Drs. Rapani, M. Pd., Selaku ketua tim penguji yang telah memberikan arahan dan masukan yang berharga kepada peneliti.
8. Ibu Dra. Yulina H, M. Pd. I., Selaku sekretaris penguji yang telah memberikan arahan dan masukan yang berharga kepada peneliti dengan penuh kesabaran.
9. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Kampus B PGSD yang telah banyak memberikan masukan dan membantu kelancaran penulisan skripsi ini.
10. Ibu Sri Prihatin, S. Pd. SD., Kepala SD Negeri 10 Metro Pusat, serta dewan guru dan staf yang telah memberikan izin dan membantu peneliti selama penyusunan skripsi ini.
11. Ibu Eka Sila, S. Pd. SD., guru kelas IVA dan teman sejawat yang telah banyak memberikan bantuan dan saran kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini.
iv 13. Siswa-siswi kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat, yang telah membantu dengan berpartisipasi aktif sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.
14. Sahabat berbagi suka dan duka peneliti selama ini Nurul Suparni, Purnama Sari, Fitri Martias, Rachmawati, Ratih Septia, Retno Purwasih, Resta Ristiani, Rosa Maghfirah, Ridha Sutiarahmah, Shanti Eka Rahmawati, Wahyuni Nurtiningsih, Siti Maisyaroh, Siti Nurazizah, Siti Nurjanah, Sri Windasari, Yesi Wulan Sari, Wisnu dwi dan Tika Andriani.
15. Rekan-rekan senasib dan seperjuangan, mahasiswa S-1 PGSD angkatan 2013 terutama keluarga besar kelas C, yang kini sibuk dengan skripsinya masing-masing, terima kasih untuk empat tahun yang luar biasa, kita melewati perjuangan menempuh gelar Sarjana Pendidikan.
16. Semua pihak yang namanya tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu yang telah membantu kelancaran dalam penyusunan skripsi ini.
Akhir kata, peneliti menyadari bahwa tulisan ini tidaklah sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT, namun semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dan peningkatan mutu dunia pendidikan terutama ke SD-an.
Metro, 14 April 2017 Peneliti,
v DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah... 6
C. Pembatasan Masalah ... 7
D. Rumusan Masalah ... 7
E. Tujuan Penelitian ... 7
F. Manfaat Penelitian ... 8
G. Ruang Lingkup Penelitian... 9
II. KAJIAN PUSTAKA ... 10
A. Model Pembelajaran ... 10
1. Pengertian Model Pembelajaran... 10
2. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif ... 11
3. Tipe-tipe Model Pembelajaran Kooperatif... 12
B. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick... 13
1. Pengertian Talking Stick ... 13
2. Langkah-langkah Talking Stick ... 15
3. Kelebihan dan Kelemahan Talking Stick ... 17
C. Belajar dan Pembelajaran ... 19
1. Belajar ... 19
a. Pengertian Belajar ... 19
b. Teori Belajar ... 20
c. Hasil Belajar ... 23
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar... 25
2. Pembelajaran ... 26
D. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ... 28
vi Halaman
2. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ... 30
E. Penelitian yang Relevan... 32
F. Kerangka Pikir ... 33
G. Hipotesis Penelitian ... 34
III. METODE PENELITIAN ... 35
A. Rancangan Penelitian... 35
B. Tempat dan Waktu Penelitian... 38
1. Tempat Penelitian... 38
2. Waktu Penelitian ... 38
C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Penelitian... 38
1. Variabel Penelitian ... 38
2. Definisi Operasional Penelitian... 39
D. Populasi dan Sampel ... 40
1. Populasi Penelitian ... 40
2. Sampel Penelitian... 41
E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data... 42
1. Teknik Pengumpulan Data ... 42
a. Studi Dokumentasi ... 42
b. Teknik Tes... 42
2. Instrumen Pengumpulan Data ... 43
F. Uji Coba Instrumen Tes dan Uji Persyaratan Instrumen ... 43
1. Uji Coba Instrumen Tes ... 43
2. Uji Persyaratan Instrumen... 44
a. Validitas... 44
b. Reliabilitas... 45
G. Teknis Analisis Data ... 46
1. Teknis Analisis Data Hasil Belajar ... 47
a. Nilai Hasil Belajar secara Individual ... 47
b. Nilai Rata-rata Hasil Belajar Siswa... 47
c. Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa secara Klasikal .... 47
2. Uji Persyaratan Analisis Data ... 48
a. Uji Normalitas ... 48
b. Uji Homogenitas... 49
c. Pengujian Hipotesis ... 50
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 52
A. Deskripsi Umum Lokasi Penelitian ... 52
B. Pelaksanaan Penelitian... 54
vii Halaman
2. Uji Coba Instrumen Penelitian ... 54
a. Validitas... 54
b. Reliabilitas... 56
3. Pelaksanaan Penelitian ... 56
4. Pengambilan Data Penelitian ... 56
C. Deskripsi Data Penelitian... 57
D. Hasil Analisis Data Penelitian ... 57
E. Uji Persyaratan Analisis Data ... 62
1. Uji Normalitas ... 62
2. Uji Homogenitas ... 64
3. Pengujian Hipotesis... 65
F. Pembahasan ... 66
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 69
A. Kesimpulan ... 69
B. Saran ... 69
DAFTAR PUSTAKA ... 71
viii DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Data Ketuntasan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas IVA dan IVB pada mid
Semester Ganjil SD Negeri 10 Metro Pusat Tahun Pelajaran 2016/2017 ... 4
2. Data Jumlah Siswa Kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat Tahun Pelajaran 2016/2017... 41
3. Koefisien Reliabilitas Kuder Richardson... 46
4. Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa ... 47
5. Keadaan Jumlah Siswa SD Negeri 10 Metro Pusat Tahun Pelajaran 2016/2017... 52
6. Keadaan Tenaga Pendidik SD Negeri 10 Metro Pusat Tahun Pelajaran 2016/2017... 53
7. Keadaan Prasarana SD Negeri 10 Metro Pusat Tahun Pelajaran 2016/2017... 53
8. Hasil Analisis Validitas Butir Soal Tes Kognitif ... 55
9. Nilai Prestest Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol... 58
10. Nilai Posttest Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 59
11. Penggolongan Nilai N-Gain Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol... 60
12. Uji Normalitas Pretest Kelas Eksperimen ... 62
13. Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol ... 63
14. Uji Normalitas Posttest Kelas Eksperimen ... 63
ix DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka Konsep Variabel ... 34 2. Diagram Rancangan Penelitian ... 36 3. Diagram Batang Perbandingan Ketuntasan Pretest Kelas Eksperimen dan
Kelas Kontrol ... 58 4. Diagram Batang Perbandingan Nilai Rata-rata Pretest Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol... 58 5. Diagram Batang Perbandingan Ketuntasan Posttest Kelas Eksperimen dan
Kelas Kontrol ... 60 6. Diagram Batang Perbandingan Nilai Rata-rata Posttest Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol... 60 7. Diagram Batang Kategori Peningkatan N-Gain Siswa Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol... 61 8. Diagram Batang Perbandingan Nilai Rata-rata N-Gain Kelas Eksperimen
xi DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
Surat- surat Penelitian
1. Surat Penelitian Pendahuluan dari Fakultas... 76
2. Surat Keterangan dari Fakultas ... 77
3. Surat Izin Penelitian dari Fakultas ... 78
4. Surat Izin Penelitian dari Kepala Sekolah... 79
5. Surat Pernyataan Teman Sejawat Kelas IVA ... 80
6. Surat Pernyataan Teman Sejawat kelas IVB... 81
7. Surat Keterangan Penelitian... 82
Data Hasil mid Semester Ganjil 8. Data Dokumentasi Nilai PKn pada mid Semester Ganjil Kelas IVA dan IVB Tahun Pelajaran 2016/2017... 84
Perangkat Pembelajaran 9. Pemetaan SK dan KD Tahun Pelajaran 2016/2017 ... 86
10. Silabus Pembelajaran ... 89
11. RPP Kelas Eksperimen ... 92
12. RPP Kelas Kontrol ... 104
13. Kisi-kisi Soal Uji Instrumen ... 114
14. Soal Uji Instrumen ... 115
xii Halaman Hasil Uji Validitas, Reliabilitas, dan Data Hasil Belajar Siswa
16. Hasil Uji Validitas Soal ... 123
17. Hasil Uji Reliabilitas Soal... 125
18. Tabel Nilai-nilai r... 126
19. Kisi-kisi Penulisan Instrumen Soal Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 127
20. Soal Pretest Kelas Eksperimen ... 128
21. Soal Posttest Kelas Eksperimen... 132
22. Soal Pretest Kelas Kontrol... 136
23. Soal Posttest Kelas Kontrol ... 140
24. Kunci Jawaban Soal Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 144
25. Data Hasil Belajar Kognitif PKn Siswa Kelas Eksperimen... 145
26. Data Hasil Belajar Kognitif PKn Siswa Kelas Kontrol ... 146
Langkah-langkah Uji Normalitas, Homogenitas, dan Hipotesis dengan Program SPSS 20 27. Hasil Uji Normalitas Pretest Eksperimen... 148
28. Hasil Uji Normalitas Pretest Kontrol ... 151
29. Hasil Uji Normalitas Posttest Ekperimen ... 154
30. Hasil Uji Normalitas Posttest Kontrol ... 157
31. Hasil Uji Homogenitas Pretest Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 160
32. Hasil Uji Homogenitas Posttest Eksperimen dan Kelas Kontrol... 163
xiii Halaman Dokumentasi Pembelajaran
34. Absen Siswa Kelas Eksperimen... 170
35. Absen Siswa Kelas Kontrol ... 171
36. Dokumentasi Pembelajaran Kelas Eksperimen ... 172
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana
untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi siswa melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran, atau latihan sebagai bekal di masa yang akan datang.
Pendidikan seharusnya wajib diterima bagi setiap individu, karena dengan
adanya pendidikan, setiap individu dapat mengembangkan potensinya,
karakter dan jenjang hidupnya menjadi lebih baik. Hal ini sesuai dengan
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(Sisdiknas) pasal 3 bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Undang-undang di atas mengandung arti bahwa pendidikan dilaksanakan
dengan tujuan agar siswa dapat mengembangkan potensi dirinya untuk
kehidupan yang akan datang melalui suasana belajar dan proses pembelajaran
2
dasar, menengah, dan tinggi diberikan kepada siswa sesuai dengan tingkat
perkembangan, tujuan, dan kemampuan yang dikembangkan.
Jenjang pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang fundamental
bagi siswa untuk membuka wawasannya dan memegang peranan penting
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa yang akan
datang. Pendidikan diarahkan agar terbinanya manusia Indonesia sesuai
dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Permendiknas No. 41 Tahun
2007 dalam standar proses yang berbunyi:
Mengingat kebhinekaan budaya, keragaman latar belakang dan karakteristik siswa, serta tuntutan untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, proses pembelajaran untuk setiap mata pelajaran harus fleksibel, bervariasi, dan memenuhi standar. Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Pemerintah terus berusaha melakukan peningkatan mutu pendidikan untuk
mencapai tujuan pendidikan. Salah satu usaha yang dilakukan yaitu melalui
kurikulum pendidikan. Seiring berjalannya waktu serta perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, kurikulum mengalami beberapa kali pergantian
guna meningkatkan kualitas lulusan, adapun kurikulum yang masih berlaku di
SD Negeri 10 Metro Pusat adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). KTSP pada pendidikan sekolah dasar meliputi berbagai bidang ilmu
pengetahuan diantaranya Ilmu Agama, Sains, Sosial, PKn, Bahasa dan
3
Proses pembelajaran di sekolah dasar pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), dilakukan dalam bentuk mata pelajaran. Salah satu mata
pelajaran yang wajib di sekolah dasar adalah Pendidikan Kewarganegaraan
(PKn). Susanto (2013: 225) yang dimaksud dengan PKn adalah mata
pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan
melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa
Indonesia. Melalui pembelajaran PKn, manusia diharapkan dapat saling
mengenal dan berhubungan satu sama lain, dan berbagi pengalaman agar
meningkatkan kemampuan berkomunikasi di dalam lingkungan, serta
membentuk manusia seutuhnya, oleh karena itu pembelajaran PKn menjadi
sangat penting.
Tujuan pembelajaran PKn di sekolah dasar adalah untuk membentuk watak
atau karakteristik warga negara yang baik. PKn di sekolah dasar memberikan
pelajaran pada siswa untuk memahami dan membiasakan dirinya dalam
kehidupan di sekolah atau di luar sekolah, karena materi pendidikan
kewarganegaraan menekankan pada pengamalan dan pembiasaan dalam
kehidupan sehari-hari yang ditunjang oleh pengetahuan dan pengertian
sederhana sebagai bekal untuk mengikuti pendidikan berikutnya.
Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran PKn tersebut, diperlukan suatu
model pembelajaran. Suprijono (2013: 46) menyatakan bahwa model
pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
4
tersebut dapat diketahui bahwa pemilihan model pembelajaran sangat penting
dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi, studi dokumentasi, dan wawancara dengan guru
kelas IV di SD Negeri 10 Metro Pusat, pada tanggal 3, 7 dan 8 November
2016, diketahui dalam kegiatan pembelajaran masih banyak siswa yang
mengobrol saat pembelajaran berlangsung, kurang memperhatikan ketika
dijelaskan. Hal ini mengakibatkan siswa kurang memahami materi yang
disampaikan oleh guru. Selain itu, saat kegiatan diskusi siswa cenderung
masih merasa malu dan tidak percaya diri dalam mengemukakan pendapat
atau bertanya. Guru belum menggunakan variasi model pembelajaran secara
maksimal dalam pembelajaran, sehingga siswa menjadi lebih cepat bosan.
Kurangnya keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran akan
mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dari dokumentasi data
hasil belajar PKn siswa kelas IVA dan IVB SD Negeri 10 Metro Pusat pada
mid semester ganjil tahun pelajaran 2016/2017.
Tabel 1. Data ketuntasan hasil belajar PKn siswa kelas IVA dan IVB pada mid semester ganjil SD Negeri 10 Metro Pusat Tahun Pelajaran 2016/2017
KKM Kelas
Rata-rata kelas Jumlah siswa Jumlah siswa
(orang) Tuntas
(%)
Belum tuntas
(%)
Tuntas Belum
tuntas
71 IVA 48,7 20 1 19 5 95
IVB 50,8 17 5 12 29 71
(Sumber: Guru kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat)
Berdasarkan tabel 1 di atas, diperoleh data bahawa hasil belajar PKn siswa
[image:25.595.134.515.580.689.2]5
menunjukkan bahwa hanya 1 siswa (5%) dari jumlah keseluruhan 20 siswa
yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan,
yaitu 71. Sedangkan di kelas IVB, jumlah siswa yang telah mencapai KKM
adalah 5 siswa (29%) dari jumlah keseluruhan 17 siswa. Hal ini menunjukkan
bahwa hasil belajar PKn siswa kelas IVA lebih rendah dari pada hasil belajar
PKn siswa kelas IVB. Oleh sebab itu, peneliti memilih kelas IVA sebagai
kelas eksperimen dan kelas IVB sebagai kelas kontrol.
Sehubungan dengan permasalahan tersebut, diperlukan suatu model
pembelajaran yang mampu memotivasi siswa dan mengkondisikan siswa
untuk berpartisipasi aktif baik individu maupun kelompok atas dasar
kemampuan dan keyakinan sendiri serta dapat mengembangkan kreativitas
siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Peneliti memilih salah satu
cara dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick,
dengan model tersebut di harapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa
pada mata pelajaran PKn. Menurut Roger, dkk., (dalam Huda, 2014: 29)
menyatakan bahwa:
6
Pada hakikatnya, tujuan pembelajaran kooperatif adalah untuk membangun
kerja sama kelompok, serta menciptakan individu-individu yang memiliki
kepribadian dan rasa tanggung jawab yang besar. Salah satu tipe yang
terdapat dalam model pembelajaran kooperatif adalah tipe talking stick.
Kurniasih dan Berlin (2015: 82) menyatakan bahwa talking stick adalah
model pembelajaran yang dilakukan dengan bantuan tongkat. Tongkat
berfungsi untuk melatih dan mendorong siswa agar berani dalam
mengemukakan pendapat dan mengoptimalkan kemampuan yang
dimilikinya. Penerapan pembelajaran tipe talking stick ini lebih efektif
dilakukan dalam berkelompok heterogen dengan 4-5 siswa. Diharapkan
dengan menggunakan model ini, dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini peneliti mengangkat
judul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick terhadap
Hasil Belajar PKn Siswa Kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat diidentifikasi masalah sebagai
berikut.
1. Pada proses pembelajaran berlangsung masih banyak siswa yang
mengobrol.
2. Sebagian besar siswa kurang memperhatikan ketika sedang dijelaskan.
3. Siswa cenderung merasa malu dan tidak percaya diri dalam
mengemukakan pendapat atau bertanya dalam kegiatan diskusi.
7
5. Guru belum menggunakan model pembelajaran yang bervariasi, salah
satunya model pembelajaran kooperatif tipe talking stick.
6. Rendahnya hasil belajar PKn kelas IVA, yaitu hanya 1 orang siswa (5%)
dari jumlah keseluruhan 20 siswa yang mencapai KKM 71.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, peneliti membatasi permasalahan yang
akan diteliti, yakni model pembelajaran kooperatif tipe talking stick terhadap
rendahnya hasil belajar PKn siswa kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat pada
ranah kognitif.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, dapat dirumuskan masalah penelitian
yakni, “sejauh manakah pengaruh yang signifikan pada penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe talking stick terhadap hasil belajar PKn siswa
kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat?”.
E. Tujuan Penelitian
Untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih jelas dan terarah, perlu
ditetapkan terlebih dahulu tujuan yang hendak dicapai. Penelitian ini
bertujuan “untuk mengetahui pengaruh yang signifikan pada penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe talking stick terhadap hasil belajar PKn
8
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang diharapkan dalam kaitannya dengan penelitian ini
adalah bagi:
1. Siswa
Penerapan pembelajaran PKn dengan model pembelajaran kooperatif tipe
talking stick merupakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat
meningkatkan minat, motivasi, dan hasil belajar siswa untuk mempelajari
PKn.
2. Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi tentang
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick dan
diharapkan nantinya guru dapat mengembangkan pembelajaran dengan
pendekatan yang bervariasi dalam rangka memperbaiki kualitas
pembelajaran bagi siswanya.
3. Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif untuk
meningkatkan mutu pendidikan di SD Negeri 10 Metro Pusat.
4. Peneliti
Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan menjadi sebuah ilmu dan
pengalaman yang berharga guna menghadapi permasalahan dimasa depan
dan menjadi sarana pengembangan wawasan mengenai model
9
G. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini meliputi:
1. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen.
2. Objek penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe talking
stick dan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat.
3. Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IV SD Negeri 10 Metro
Pusat.
4. Waktu penelitian terhitung selama 6 bulan, dimulai dari bulan November
10
II. KAJIAN PUSTAKA
A. Model Pembelajaran
1. Pengertian Model Pembelajaran
Salah satu cara yang perlukan oleh guru dalam mendesain materi-materi
pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran ialah dengan menggunakan
model pembelajaran. Suprijono (2013: 46) menyatakan bahwa model
pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
Penerapan model pembelajaran yang di susun oleh guru hendaknya
disesuaikan dengan teori belajar. Joyce dan Weil (dalam Rusman, 2014:
133) menyatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana dan
pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana
pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran dan
membimbing pelajaran di kelas atau yang lain. Sedangkan Komalasari
(2010: 57) menyatakan bahwa model pembelajaran pada dasarnya,
merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir
yang disajikan secara khas oleh guru.
Model pembelajaran sangat penting digunakan dalam proses pembelajaran
11
akan memberikan kemudahan guru untuk mendorong siswa mencapai
tujuan belajarnya. Model pembelajaran yang ada di sekolah dasar sangat
beraneka ragam dan dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh
memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai
tujuan pendidikannya, penggunaan model pembelajaran yang tepat akan
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa
model pembelajaran adalah pola atau rencana pembelajaran yang
digunakan oleh guru sebagai pedoman dalam merencanakan dan
merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan prosedur untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran membantu guru
dalam mendesain materi-materi pembelajaran yang telah disusun dalam
rencana pelaksanaan pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai
secara optimal.
2. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif mendorong siswa untuk berinteraksi
secara aktif dan positif dalam kelompok. Isjoni (2016: 12) menyatakan
bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda.
Model pembelajaran kooperatif mewadahi bagaimana siswa dapat
bekerjasama dalam kelompok, tujuan kelompok adalah tujuan bersama.
12
kooperatif merupakan suatu metode intruksional dimana siswa dalam
kelompok kecil bekerjasama dan saling membantu dalam menyelesaikan
tugas akademik. Sedangkan, Sanjaya (2006: 242) menyatakan bahwa
model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan
menggunakan sistem penggelompokan/tim kecil, yaitu antara empat
sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan
akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda (heterogen).
Berdasarkan pendapat ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa model
pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang melipatkan
partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil secara kolaboratif untuk
saling berinteraksi. Siswa dapat menyelesaikan tugas kelompok, di
harapkan setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk
memahami suatu materi pembelajaran. Penerapan model pembelajaran
kooperatif ini guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi
sebagai jembatan penghubung kearah pemahaman yang lebih tinggi,
dengan catatan siswa sendiri.
3. Tipe-tipe Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe-tipe model pembelajaran kooperatif pada dasarnya sama yaitu siswa
diajarkan bekerjasama dan diajarkan agar mampu bertanggung jawab atas
tugas yang diberikan, namun pada proses pelaksanaannya saja yang
berbeda. Huda (2014: 215) menyatakan bahwa di dalam pembelajaran
kooperatif terdapat beberapa tipe yaitu think-talk-write, talking stick,
13
Tipe-tipe model pembelajaran kooperatif yang beragam dapat menjadi
pilihan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang disesuaikan
dengan tingkat perkembangan siswa, materi, serta tujuan yang hendak
dicapai. Suprijono (2013: 102) menyatakan tentang tipe atau metode
pendukung model pembelajaran kooperatif yaitu snowball drilling,
concept mapping, giving question and getting answer, talking stick,
everyone is teacher here, dan lain-lain. Sedangkan, Hanafiah (2010: 14)
menyatakan tipe-tipe model pembelajaran kooperatif yaitu group
investigation, talking stick, bertukar pasangan, snowball throwing, dan
lain-lain
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa dari
berbagai macam model pembelajaran yang bervariasi dan dapat diterapkan
dalam proses pembelajaran di kelas, maka model pembelajaran yang
digunakaan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif
tipe talking stick. Model pembelajaran ini mengajarkan agar siswa dapat
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran kooperatif dalam
menjalankan setiap tugas yang diberikan kepadanya.
B. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick
1. Pengertian Talking Stick
Talking stick sebagai salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif
dengan bantuan tongkat yang dapat dipergunakan guru sebagai salah satu
cara untuk mengaktifkan siswa. Talking stick (tongkat bicara) yang
14
orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum
(pertemuan antar suku) (Huda, 2014: 223). Kini model ini sudah
digunakan sebagai metode pembelajaran ruang kelas, model ini
mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Huda (2014:
224) menyatakan bahwa talking stick merupakan tipe pembelajaran
kelompok dengan bantuan tongkat. Kelompok yang memegang tongkat
terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah mereka
mempelajari materi.
Tipe talking stick ini merupakan tipe pembelajaran dimana semua siswa
dalam kelompok ikut memegang tongkat secara estafet. Kurniasih dan
Berlin (2015: 82) menyatakan bahwa model pembelajaran talking stick ini
dilakukan dengan bantuan tongkat. Tongkat dijadikan sebagai jatah atau
giliran untuk berpendapat atau menjawab pertanyaan dari guru setelah
siswa mempelajari materi pelajaran. Suprijono (2013: 109) menyatakan
bahwa talking stick merupakan pembelajaran yang mendorong siswa
untuk berani mengemukakan pendapat.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa
talking stick adalah model pembelajaran yang dilakukan dengan bantuan
sebuah tongkat, siswa yang memegang tongkat wajib menjawab
pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi. Model
pembelajaran tipe talking stick memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bekerjasama dalam mengemukakan pendapat dan menjawab
15
2. Langkah-langkah Talking Stick
Penerapan pembelajaran tipe talking stick, guru menggunakan sebuah
tongkat yang dipergunakan siswa sebagai alat estafet pada saat mereka
diiringi musik atau mereka bernyanyi bersama dan secara estafet memutar
tongkat itu sampai semua siswa ikut memegang tongkat tersebut. Huda
(2014: 225) menyatakan langkah-langkah pembelajaran talking stick
adalah sebagai berikut.
1. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya + 20 cm
2. Guru menyampaikan materi pokoknya yang akan dipelajari,
kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
3. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam
wacana.
4. Setelah siswa selesai membaca materi pelajaran dan
mempelajari isinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup isi bacaan.
5. Guru mengambil tongkat dan memberikannya kepada salah
satu siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
6. Guru memberikan kesimpulan.
7. Guru melakukan evaluasi/penilaian.
8. Guru menutup pembelajaran.
Langkah-langkah dalam pembelajaran talking stick menuntut siswa untuk
siap menjawab pertanyaan atau mengemukakan pendapatnya sendiri
berdasarkan tongkat yang bergulir. Hal ini menghindari adanya monopoli
kelas, semua siswa memiliki kesempatan yang sama.Kurniasih dan Berlin
(2015: 83-84) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran talking stick
16
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran pada saat itu.
2. Guru membentuk kelompok yang terdiri dari 5 orang.
3. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
4. Setelah itu, guru menyiapkan materi pokok yang akan
dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran tersebut dalam waktu yang telah ditentukan.
5. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam
buku.
6. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan
mempelajari isinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya.
7. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu
anggota kelompok, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. Tongkat bergulir dari satu siswa ke siswa lain dengan diiringi musik.
8. Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota
kelompoknya tidak bisa menjawab pertanyaan.
9. Setelah semua mendapat giliran, guru membuat kesimpulan dan
melakukan evaluasi, baik individu ataupun secara berkelompok, dan setelah itu menutup pelajaran.
Pembelajaran ini berorientasi pada terciptanya kondisi belajar melalui
permainan tongkat, sehingga pembelajaran tidak menegangkan meskipun
menuntut siswa dalam kesiapan menjawab pertanyaan atau
mengemukakan pendapat, sesuai dengan pendapat Suprijono (2013 :
109-110) menyatakan langkah-langkah pembelajaran talking stick adalah
sebagai berikut.
1. Guru menjelaskan materi pokok yang akan diberikan.
2. Siswa diberi kesempatan membaca dan mempelajari materi
pokok.
3. Guru memberikan waktu yang cukup untuk aktivitas ini.
4. Guru meminta siswa untuk menutup bukunya.
5. Guru mengambil tongkat yang telah dipersiapkan sebelumnya.
6. Guru memberikan tongkat kepada salah satu siswa.
7. Siswa yang menerima tongkat tersebut diwajibkan menjawab
17
8. Ketika tongkat bergulir dari siswa ke siswa yang lainnya,
seyogyanya diiringi musik.
9. Guru memberikan kesempatan kepada siswa melakukan
refleksi terhadap materi yang telah dipelajarinya.
10.Guru memberikan ulasan terhadap seluruh jawaban yang
diberikan siswa.
11.Guru bersama-sama siswa merumuskan kesimpulan.
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa peneliti
menggunakan langkah-langkah model pembelajaran talking stick menurut
pendapat Kurniasih dan Berlin. Langkah-langkah yang dijabarkan lebih
runtun dimulai dari kegiatan awal yaitu menjelaskan tujuan pembelajaran
hingga kegiatan akhir yaitu membuat kesimpulan.
3. Kelebihan dan Kelemahan Talking Stick
Semua tipe pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan
masing-masing, tidak ada tipe yang lebih baik dibandingkan tipe pembelajaran
yang lain, semua tergantung pada keterampilan guru dalam menggunakan
tipe tersebut yang disesuaikan pada tingkat perkembangan siswa, materi,
serta tujuan yang hendak dicapai. Huda (2014: 225) bahwa kelebihan
talking stick memberikan manfaat, karena model ini mampu menguji
kesiapan siswa, melatih keterampilan mereka dalam membaca dan
memahami materi pelajaran dengan cepat. Sedangkan, kelemahannya bagi
siswa-siswa yang secara emosional belum terlatih untuk berbicara di
hadapan guru.
Adapun kelebihan dan kelemahan pembelajaran talking stick, menurut
Kurniasih dan Berlin (2015: 83) menyatakan kelebihan dan kelemahan
18
Kelebihan talking stick yaitu:
1. Menguji kesiapan siswa dalam penguasaan materi
pembelajaran.
2. Melatih membaca dan memahami dengan cepat materi yang
telah disampaikan.
3. Agar lebih giat belajar karena siswa tidak pernah tahu tongkat
akan sampai pada gilirannya.
Kelemahan talking stick yaitu:
Jika ada siswa yang tidak memahami pelajaran, siswa akan merasa gelisah dan khawatir ketika nanti giliran tongkat berada pada tangannya.
Penggunaan pembelajaran talking stick menguji kesiapan siswa dalam
menerima pembelajaran, membuat siswa membaca dan memahami
pelajaran dengan cepat dan membuat siswa belajar lebih giat, sehingga
diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Suprijono (2013: 110)
menyatakan menyatakan bahwa kelebihan dan kelemahan talking stick
sebagai berikut.
Kelebihan dari talking stick yaitu:
1. Melatih siswa membaca dan memahami materi dengan cepat.
2. Memacu siswa lebih giat dalam belajar.
3. Siswa berani mengemukakan pendapat.
4. Model pembelajaran ini membuat siswa ceria, senang, dan
melatih mental siswa untuk siap pada kondisi dan situasi apapun.
Kelemahan dari talking stick yaitu:
1. Membuat siswa senam jantung.
2. Ketakutan akan pertanyaan yang diberikan oleh guru.
3. Tidak semua siswa siap menerima pertanyaan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti mengambil pendapat
Kurniasih dan Berlin bahwa pembelajaran kooperatif tipe talking stick
memiliki banyak kelebihan, namun memiliki kelemahan pula yaitu jika
ada siswa yang tidak memahami pelajaran, siswa akan merasa gelisah dan
19
peneliti mengatasi kelemahan tersebut dengan adanya kerja sama dalam
kelompok apabila ada siswa yang tidak bisa tidak menjawab.
C. Belajar dan Pembelajaran
1. Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan sebuah proses yang akan terus menerus dialami
oleh manusia sepanjang hidupnya. Seseorang akan mengalami
perubahan pada dirinya setelah mengalami belajar. Komalasari (2010:
2) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan
tingkah laku dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang
diperoleh dalam jangka waktu yang lama dan dengan syarat bahwa
perubahan yang terjadi tidak disebabkan oleh adanya kematangan
ataupun perubahan sementara karena sesuatu hal.
Belajar bukan hanya sekedar menghafal, melainkan suatu proses
mental yang terjadi dalam diri seseorang. Kasmadi dan Sunariah
(2014: 29) mendefinisikan bahwa belajar adalah suatu usaha yang
disengaja, bertujuan, terkedali agar orang lain belajar atau terjadi
perubahan yang relatif menetap pada diri orang lain. Suatu program
pembelajaran yang baik, haruslah memenuhi kriteria daya tarik
(appeal), daya guna (efektifitas), dan hasil guna (efisiensi). Masitoh
(2009: 3) mendefinisikan belajar adalah suatu proses atau kegiatan
yang dilakukan sehingga membuat suatu perubahan perilaku yang
20
Susanto (2013: 4) mengemukakan bahwa belajar merupakan suatu
aktivitas yang dilakukan seseorang dalam keadaan sadar untuk
memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru
sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku
yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam
bertindak. Sedangkan, Ruminiati (2007: 18) menyatakan bahwa
belajar merupakan usaha aktif seseorang untuk mengadakan
perubahan tingkah laku akibat adanya rangsangan dari luar yang
berupa pengamatan dan informasi.
Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa belajar
adalah suatu proses perubahan tingkah laku dalam diri individu yang
ditampakkan dalam bentuk perubahan tingkah laku seperti
pengetahuan, sikap, keterampilan dan daya pikir yang diperoleh dari
hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Aktivitas yang
dilakukan mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku serta
kemampuan pada dirinya yang relatif tetap dan bersifat positif.
b. Teori Belajar
Landasan terjadinya proses belajar, perlu adanya suatu teori belajar
yang mendukung suatu model, pendekatan, strategi, atau metode yang
digunakan dalam pembelajaran. Banyak sekali teori yang berkaitan
dengan belajar. Teori belajar dapat membantu guru untuk memahami
21
Huda (2014: 24-25) menjabarkan dasar-dasar teori belajar kelompok, salah satu landasan teoritis pertama tentang belajar kelompok ini berasal dari pandangan konstruktivis sosial. Pertama dari Vygotsky, mental siswa pertama kali berkembang
pada level interpersonal dimana mereka belajar
menginternalisasikan dan mentransformasikan interaksi
interpersonal mereka dengan orang lain, lalu pada level intrapersonal di mana mereka mulai memperoleh pemahaman dan keterampilan baru dari hasil interaksi ini.
Landasan teori inilah yang menjadi alasan siswa perlu diajak untuk
belajar berinteraksi bersama orang dewasa atau temannya yang lebih
mampu menyelesaikan tugas-tugas yang tidak bisa mereka selesaikan
sendiri. Teori Vygotsky dan Piaget, tetap meneguhkan pentingnya
interaksi sosial dalam memberdayakan perspektif, kognisi, cara
berpikir dan belajar siswa. Selanjutnya Ruminiati (2007: 1.4-1.10)
menjabarkan teori-teori belajar berdasarkan psokologi stimulus-respon
dan yang berdasarkan psikologi kognitif. Dari beberapa aliran
psikologi stimulus-respon yang ada, aliran yang dimuat oleh
Thorndike, Skinner, Gagne, Piaget, Bruner, dan Ausubel.
1) Teori belajar Thorndike
Teori ini beranggapan bahwa seseorang akan melakukan pekerjaan itu akan memberikan rasa menyenangkan/memuas- kan. Sebaliknya, jika hasil tersebut tidak membawa dampak menyenangkan, maka sesorang tidak melaksanakan pekerjaan tersebut.
2) Teori belajar Skinner
Teori belajar Skinner menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progressif. Ganjaran merupakan salah satu unsur yang penting dalam proses belajar, tetapi istilahnya perlu diganti dengan penguatan.
3) Teori belajar Gagne
22
4) Teori belajar Piaget
Teori ini beranggapan bahwa pikiran manusia mengalami perkembangan yang mempengaruhi proses berpikirnya, sehingga dalam melaksanakan pembelajaran guru perlu memikirkan tingkat perkembangan intelektual siswa.
5) Teori belajar Brunner
Teori ini menyatakan bahwa terdapat tiga tahap dalam belajar yaitu informasi, transformasi dan evaluasi.
6) Teori belajar Ausubel
Teori ini beranggapan bahwa belajar merupakan suatu proses dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar itu akan lebih berhasil jika materi yang dipelajari bermakna.
Teori belajar terkait dengan asumsi tentang pengetahuan, siswa, dan
proses belajar mengajar. Sani (2013: 4-35) menjelaskan teori-teori
belajar sebagai berikut.
1) Teori belajar behaviorisme
Belajar menurut kaum behavioris adalah perubahan dalam tingkah laku yang dapat diamati dari hasil hubungan timbal balik antara guru sebagai pemberi stimulus dan siswa sebagai respon tindakan stimulus yang diberikan.
2) Teori kognitivisme
Teori kognitivisme menganggap bahwa proses mental dalam mengolah informasi dengan menggunakan strategi kognitif. Dimana pengetahuan dan pengalaman tertata dalam bentuk strategi kognitif.
3) Teori konstruktivisme
Teori ini membahas kesadaran sosial dalam kegiatan sosial kemudian terjadi pemaknaan atau kontruksi pengetahuan baru serta transformasi. Siswa dapat membangun konsep dari pengalaman-pengalamannya.
4) Teori humanisme
Teori ini menyatakan bahwa keberhasilan belajar terjadi jika siswa memahami lingkungan dan dirinya sendiri.
5) Teori sibernetik
23
Berdasarkan pada teori-teori yang telah dijabarkan, teori yang
mendukung desain pembelajaran pada penelitian ini adalah teori
konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vigosky.
Landasan teori inilah yang menjadi alasan siswa perlu membangun
pengetahuan serta pengalamannya melalui belajar berinteraksi
bersama orang dewasa atau temannya yang lebih mampu
menyelesaikan tugas-tugas yang tidak bisa mereka selesaikan sendiri,
pentingnya interaksi sosial menjadikan siswa mampu membangun
pengalamannya menjadi pengetahuan yang bermakna.
c. Hasil Belajar
Hasil belajar sebagai tolak ukur keberhasilan atau kegagalan dalam
suatu proses pembelajaran. Hasil belajar merupakan kemampuan yang
dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Susanto,
2013: 5). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 104 Tahun 2014 tentang penilaian hasil belajar oleh
pendidik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah pasal 1
berbunyi:
Penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah proses pengumpulan informasi/bukti tentang capaian pembelajaran siswa dalam kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran.
Penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk
24
sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, sekaligus
sebagai umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan terprogram
dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis atau lisan,
pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa
tugas, proyek, portofolio, dan penilaian diri.
Penilaian hasil pembelajaran menggunakan standar penilaian
pendidikan dan panduan penilaian kelompok mata pelajaran. Kasmadi
dan Sunariah (2014: 43) mengemukakan bahwa variabel hasil belajar
pada tingkat umum, diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Keefektifan pembelajaran diukur dengan tingkatan
pencapaian pembelajaran. Yakni 4 aspek penting yang dapat dipakai untuk memprediksi efektifitas belajar, yaitu 1) kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari, 2) kecepatan untuk kerja, 3) tingkat alih untuk belajar, dan 4) tingkat retensi dari apa yang dipelajari.
b. Efisiensi pembelajaran diukur dengan rasio antara keefektifan
dengan jumlah waktu yang dipakai, dan jumlah biaya yang digunakan.
c. Daya tarik pembelajaran, diukur dengan mengamati
kecendungan siswa untuk senang belajar. Erat kaitannya dengan daya tarik dan kualitas pembelajaran. Oleh sebab itu, pengukuran siswa belajar dapat dikaitkan dengan proses pembelajaran itu sendiri.
d. Hasil belajar, secara normatif merupakan hasil penilaian
terhadap kegiatan pembelajaran sebagai tolak ukur tingkat keberhasilan siswa memahami pembelajaran yang dinyatakan dengan nilai berupa huruf atau angka. Akan tetapi, secara psikologi menampakan perubahan perilaku pada siswa.
Kemajuan hasil belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat
penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan.
25
perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang
menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil
dari kegiatan belajar.
Bloom (dalam Suprijono, 2013: 6) mendefinisikan hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Terdapat enam tingkatan ranah kognitif, yaitu dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintetis, dan penilaian. Pada ranah afektif, terdapat lima tingkatan yaitu menerima, menanggapi, menilai, mengelola, dan menghayati, sedangkan pada ranah psikomotor, terdapat empat tingkatan, yaitu peniruan, manipulasi, pengalamiahan, dan artikulasi.
Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa hasil
belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalaman belajarnya, sehingga mengakibatkan perubahan tingkah
laku dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomontor. Selain itu,
dengan dilakukannya evaluasi atau penilaian dapat dijadikan umpan
balik sebagai cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa.
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Pencapaian hasil belajar siswa, ada faktor-faktor yang mempengaruhi
berhasil tidaknya hasil belajar siswa. Sudjana (dalam Susanto, 2013:
15) menyatakan bahwa hasil belajar yang dicapai oleh siswa
dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dari dalam diri siswa
dan faktor yang datang dari luar siswa atau lingkungan.
Tinggi rendahnya hasil belajar seseorang dipengaruhi oleh banyak
faktor. Ruseffendi (dalam Susanto, 2013: 14) mengidentifikasi
26
yaitu kecerdasan, kesiapan anak, bakat anak, kemauan belajar, minat
anak, model penyajian materi, pribadi dan sikap guru, suasana belajar,
kompetensi guru, dan kondisi masyarakat. Wasliman (dalam Susanto,
2013: 12) secara terperinci, uraian mengenai faktor internal dan
eksternal yang mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut.
1. Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan.
2. Faktor eksternal
Faktor yang berasal dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa hasil
belajar siswa dari suatu proses yang didalamnya terlibat sejumlah
faktor yang saling mempengaruhinya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu faktor internal berupa
fisiologis, psikologis, kesehatan, dan faktor eksternal berupa
lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat).
2. Pembelajaran
Kegiatan belajar tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pembelajaran. Hal
ini karena pembelajaran merupakan proses belajar mengajar dimana di
dalamnya terjadi interaksi antara guru dan siswa. Rusman (2014: 3)
menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan
27
pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi agar
terlaksana secara efektif dan efisien. Komalasari (2010: 3) menyatakan
bahwa pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses
membelajarkan subjek didik/siswa yang direncanakan atau didesain
secara sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Masitoh (2009: 8) menyatakan bahwa di dalam pembelajaran terdapat
interaksi siswa dan guru, melibatkan unsur-unsur yang saling
mempengaruhi untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan.
Mengingat begitu pentingnya peranan hubungan antara guru dan siswa
dalam menentukan keberhasilan pembelajaran, maka guru dituntut untuk
mampu menciptakan hubungan yang positif serta menciptakan suasana
yang kondusif agar siswa bersedia terlibat sepenuhnya dalam
pembelajaran.
Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa
pembelajaran adalah suatu proses interaksi yang dilakukan secara
sengaja di dalam proses belajar antara siswa, guru, dan sumber belajar
untuk mencapai tujuan yang akan dicapai, sehingga siswa memperoleh
kemudahan dalam memperoleh informasi yang disampaikan. Hal ini
penting untuk terjadinya komunikasi timbal balik diantara komponen
28
D. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Pendidikan dapat menjadi salah satu upaya strategis pendemokrasian
bangsa Indonesia, khusunya di kalangan generasi muda pada saat ini.
Pendidikan yang dimaksud adalah model pendidikan yang berorientasi
pembangunan karakter bangsa melalui pembelajaran yang menjadikan
siswa sebagai subjek melalui cara-cara pembelajaran yang demokratis,
partispatif, kritis, kreatif, dan menantang diri siswa. Pendidikan seperti
ini sangan relevan bagi pengembangan pendidikan demokrasi, yang biasa
dikenal dengan istilah Pendidikan Kewarganegaraan (civic education).
Pendidikan kewarganegaraan dirumuskan secara luas sebagai proses
penyiapan generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung
jawabnya sebagai warga negara. Zahromi (dalam Susanto, 2013: 226)
menyatakan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan
demokrasi yang bertujuan mempersiapkan warga masyarakat berpikir
kritis dan bertindak demokratis, melalui aktivitas menanamkan kesadaran
kepada generasi baru. Sedangakan Cogan (dalam Winarno, 2013: 4)
menyatakan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah suatu mata
pelajaran dasar di sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warga
negara muda, agar kelak setelah dewasa dapat berperan aktif dalam
masyarakatnya.
Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya mencakup isi
29
dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai usia dan
lingkungannya dengan ruang lingkup norma hukum dan peraturan.
Susanto (2013: 225) menyatakan bahwa pendidikan kewarganegaraan
adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk
mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar
pada budaya bangsa Indonesia.
Pengertian pendidikan kewarganegaraan dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah adalah mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan
mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga
negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang
diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran
yang dilaksanakan di sekolah yang memiliki tujuan untuk membentuk
dan mempersiapkan warga negara yang baik dan berkarakter mampu
melaksanakan hak dan kewajibannya. Sebagai bentuk terwujud
kehidupan demokrasi yang bertakwa kepada tuhan Yang Maha Esa, yang
berlandaskan pada Pancasila dan UUD dan norma-norma yang berlaku
dimasyarakat, sehingga dapat menjadi warga negara yang dapat
30
2. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Pendidikan kewarganegaraan sangat penting dan tepat diajarkan di
sekolah dasar, untuk memberikan konsep dasar mengenai wawasan
Nusantara dan perilaku yang demokratis secara benar dan terarah.
Menyadari betapa pentingnya PKn dalam proses pembudayaan dan
pemberdayaan siswa sepanjang hayat, melalui pemberian keteladanan,
pembangunan kemauan, dan pengembangan kreativitas siswa dalam
proses pembelajaran PKn agar menjadi generasi penerus yang
berkarakter.
Penerapan PKn sangat berperan penting di zaman sekarang untuk anak
usia sekolah dasar. Susanto (2013: 233) menyatakan bahwa tujuan
pembelajaran PKn ini adalah siswa dapat memahami dan melaksanakan
hak dan kewajiban secara santun, jujur, dan demokratis secara ikhlas
sebagai warga negara terdidik dan bertanggung jawab. Sedangkan
Ruminiati (2007: 26) berpendapat bahwa tujuan PKn di SD adalah untuk
menjadikan warga negara yang baik, yaitu warga negara yang tahu, mau,
dan sadar akan hak dan kewajibannya. Dengan demikian, kelak siswa
diharapkan dapat menjadi bangsa yang terampil dan cerdas, dan bersikap
baik, serta mampu mengikuti kemajuan teknologi modern.
31
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.
Adanya mata pelajaran PKn di sekolah dasar ialah sebagai sebagai
pemberian pemahaman dan kesadaran jiwa setiap siswa dalam mengisi
kemerdekaan, dimana kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh dengan
perjuangan keras dan penuh pengorbanan harus diisi dengan upaya
membangun kemerdekaan, mempertahankan kelangsungan hidup
berbangsa dan bernegara perlu memiliki apresiasi yang memadai
terhadap makna perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang
kemerdekaan. Apresiasi ini menimbulkan rasa senang dan sayang, cinta,
keinginan untuk memelihara, melindungi serta membela negara.
PKn di sekolah dasar memberikan pelajaran kepada siswa untuk
memahami dan membiasakan dirinya dalam kehidupan di sekolah atau di
luar sekolah, karena materi pendidikan kewarganegaran menekankan
pada pengamalan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang
ditunjang oleh pengetahuan dan pengertian sederhana yang bekal untuk
mengikuti pendidikan berikutnya.
Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa
pendidikan kewarganegaraan memiliki tujuan untuk membentuk dan
mempersiapkan generasi muda yang cinta kepada bangsa dan negara.
Melatih siswa sejak dini dalam memahami serta melaksanakan hak-hak
dan kewajibannya sebagai warga negara Indonesia yang cerdas, terampil,
32
E. Penelitian yang Relevan
Berikut ini beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian
eksperimen dalam proposal ini.
1. Ni Nyoman Triadi Astuti, dkk. 2012. “Pengaruh Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Talking Stick terhadap Hasil Belajar PKn Siswa Kelas V
di Sekolah Dasar Gugus Krisna Kecamatan Negara”. Berdasarkan hasil
perhitungan uji-t, diperoleh thitung = 9,70>ttabel = 2,00. Dapat disimpulkan
bahwa, terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok siswa yang
dibelajarkan menggunakan model tipe talking stick pada hasil belajar
PKn siswa kelas V SD Tahun Pelajaran 2012/2013 di Gugus Krisna
Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana.
Persamaan penelitian di atas dengan penelitian ini terletak pada hasil
belajar pada mata pelajaran PKn serta penerapan model pembelajaran
talking stick pada siswa sekolah dasar. Namun kedua penelitian memiliki
perbedaan yaitu pada penelitian yang dilakukan Ni Nyoman Triadi Astuti
dkk., dilakukan pada tahun 2012/2013, sedangkan peneliti melakukan
pada tahun 2016/2017.
2. Deana Amoy. 2014. “Pengaruh Model Kooperatif Tipe Talking Stick
terhadap Hasil Belajar Peserta Didik dalam Pelajaran IPS Kelas V
Sekolah Dasar Negeri 23 Pontianak Barat”. Berdasarkan hasil
pengolahan data, diperoleh rata-rata pretest kelas kontrol 50,12 dan
rata-rata pretest kelas eksperimen 51,11. Sedangkan nilai rata-rata posttest
kelas kontrol 78,83 dan rata-rata posttest kelas eksperimen 83,93. Hasil
33
sebesar 2,01. Perhitungan data hasil belajar peserta didik kelas kontrol
dan kelas eksperimen dengan menggunakan effect size sebesar = 0,41
dengan kategori sedang.
Persamaan penelitian di atas dengan penelitian ini terletak pada
penerapan model pembelajaran tipe talking stick terhadap hasil belajar
pada siswa sekolah dasar. Namun kedua penelitian memiliki perbedaan
pada mata pelajaran yang diambil yaitu pada penelitian yang dilakukan
Deana Amoy bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model
pembelajaran kooperatif tipe talking stick terhadap hasil belajar peserta
didik pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V SD Negeri 23
Pontianak Barat. Sedangkan dalam penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe talking stick
terhadap hasil belajar PKn siswa kelas IV SD Negeri 10 Metro Pusat.
F. Kerangka Pikir
Kerangka pikir merupakan konsep untuk mengetahui adanya hubungan antar
variabel-variabel yang ada dalam penelitian. Sekaran (dalam Sugiyono, 2016:
91) mengemukakan bahwa kerangka pikir merupakan model konseptual
tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah
diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kerangka pikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam
penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Berdasarkan pokok
pemikiran yang telah dijelaskan, memungkinkan bahwa model pembelajaran
34
Hubungan antar variabel-variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada
[image:55.595.197.429.157.222.2]gambar diagram kerangka pikir sebagai berikut:
Gambar 1. Kerangka konsep variabel.
Keterangan:
X = Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stick
Y = Hasil Belajar PKn
= Pengaruh
Alur kerangka pikir pada gambar 1, dapat dideskripsikan bahwa model
pembelajaran kooperatif tipe talking stick yang dilakukan saat proses
pembelajaran berlangsung dapat membuat siswa lebih mudah menguasai.
Model pembelajaran kooperatif tipe talking stick juga dapat mempermudah
siswa dalam menghayati materi pelajaran dan dapat meningkatkan hasil
belajar PKn.
G. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka pikir
(Sugiyono, 2016: 96). Berdasarkan landasan teori dan kerangka pikir di atas,
maka hipotesis penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah
“Terdapat pengaruh yang signifikan pada penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe talking stick terhadap hasil belajar PKn siswa kelas IV SD
Negeri 10 Metro Pusat”.
35
III. METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Secara sederhana penelitian
eksperimen adalah penelitian yang mencari pengaruh dari suatu perlakuan
yang diberikan (Sugiyono, 2012: 23). Campbell dan Stanley (dalam Yusuf,
2014: 77) menyatakan penelitian eksperimental merupakan suatu bentuk
penelitian dimana variabel dimanipulasi sehingga dapat dipastikan pengaruh
dan efek variabel tersebut terhadap variabel lain yang diselidiki atau
diobservasi. Sanjaya (2014: 85) menyatakan bahwa penelitian eksperimen
adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui pengaruh dari
suatu tindakan atau perlakuan tertentu yang sengaja dilakukan terhadap suatu
kondisi tertentu. Objek penelitian ini adalah pengaruh model pembelajaran
kooperatif tipe talking stick (X) terhadap hasil belajar PKn (Y).
Jenis penelitian eksperimen yang digunakan peneliti merupakan penelitian
kuantitatif. Alasan peneliti menggunakan jenis penelitian ini, karena peneliti
ingin melihat sejauh manakah pengaruh penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe talking stick terhadap hasil belajar PKn siswa kelas IV dan