PENGARUH DEBAT CALON PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TERHADAP PILIHAN MAHASISWA FISIP UNIVERSITAS LAMPUNG
PADA PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 2019
(Skripsi)
Oleh: Lisa Selviana
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
TERHADAP PILIHAN MAHASISWA FISIP UNIVERSITAS LAMPUNG PADA PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 2019
Oleh
LISA SELVIANA
Debat calon presiden dan wakil presiden merupakan ajang bagi capres dan cawapres untuk menyampaikan visi-misi serta program kerja jika terpilih. Visi-misi serta program kerja yang disampaikan apakah dapat mempengaruhi pemilih untuk memilih, seperti pemilih pemula yang baru pertama kali mengikuti pemilihan. Mahasiswa FISIP Universitas Lampung angkatan 2017 dan 2018 merupakan salah satu pemilih pemula yang dapat menjadikan debat calon presiden dan wakil presiden untuk pertimbangan dalam memilih. Dengan adanya debat dapat membantu mahasiswa untuk menentukan siapa presiden dan wakil presiden pilihannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh debat terhadap pilihan mahasiswa. Teori yang digunakan yaitu teori S-O-R. Responden dalam penelitian ini adalah 93 orang mahasiswa FISIP UNILA angkatan 2017 dan 2018. Tipe penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan metode eksplanatori. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh debat terhadap pilihan mahasiswa sebesar 14,6% dan dikategorikan rendah sekali. Hasil uji F diketahui bahwa F hitung=15,578 > F tabel=3,95. Jadi dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, artinya “ada pengaruh debat calon presiden dan wakil presiden terhadap pilihan mahasiswa pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2019.
ABSTRACT
THE EFFECT OF PRESIDENTIAL AND VICE PRESIDENTIAL DEBATE CANDIDATE TOWARDS SOCIAL AND POLITICS SCIENCE STUDENTS CHOICES OF LAMPUNG UNIVERSITY ON PRESIDENTIAL AND VICE
PRESIDENTIAL ELECTION 2019 BY
LISA SELVIANA
Debate of presidential and vice presidential candidates is a place for them to convey their vision and mission and also work plan if they were elected. The vision-mission and work plan wilk be seen whether it can influence voters to vote or not, especially the new voters who are participating for the first time. FISIP students of Lampung university batch 2017 and 2018 are included as the first-time voters who can watch the debates of the presidential and vice-presidential candidates as their consideration in voting. By holding a debate, it can help students to determine who is the president and vice president that would be choosen. This study aims to determine how big the influence of debate to the students' choice. The theory used is the S-O-R theory. Respondents in this study were 93 students of FISIP UNILA batch 2017 and 2018. The type of research used was quantitative with an explanatory method. The results of this study indicates the influence of debate on student choice by 14.6% and categorized as very low. F test results note that the F value= 15.578> F table = 3.95. So it can be concluded that Ho is rejected and Ha is accepted, which means "there is an influence of the debates of the presidential and vice presidential candidates on students' choice in the presidential and vice presidential elections 2019.
Oleh
L I S A S E L V I A N A
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA ILMU KOMUNIKASI
Pada
Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
JudulSkripsi :PENGARUH DEBAT CALON PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TERHADAP PILIHAN MAHASISWA
FISIP UNIVERSITAS LAMPUNG
PADA PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 2019
Nama Mahasiswa : Lisa Selviana
Nomor Pokok Mahasiswa ` : 1516031072
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
MENYETUJUI
1. Komisi Pembimbing
Bangun Suharti, S.Sos.,M.IP. NIP.19700918 199802 2 001
2. Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi
1. Tim Penguji
Ketua : Bangun Suharti, S.Sos.,M.IP. ...
Penguji Utama : Dr. Andy Corry Wardhani, M.Si. ...
2. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Dr. Syarief Makhya
NIP. 19590803 198603 1 003
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Lisa Selviana
NPM : 1516031072
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Alamat Rumah : Citerep, Desa Merak Batin, Natar, Lampung Selatan
No.HP : 082346084049
Dengan ini menyatakan, bahwa skripsi saya yang berjudul Pengaruh Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden Terhadap Pilihan Mahasiswa FISIP Universitas Lampung pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 adalah benar-benar hasil karya sendiri, bukan plagiat (milik orang lain) ataupun dibuatkan oleh orang lain.
Apabila dikemudian hari hasil penelitian/skripsi saya, ada pihak-pihak yang merasa keberatan maka saya akan bertanggungjawab sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tidak dalam tekanan pihak-pihak manapun.
Bandar Lampung, Januari 2020 Yang membuat pernyataan,
MOTTO
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada
kemudahan”
(Q.S: Asy-Syarh, ayat 5)
“Jangan Biarkan Hari Kemarin Merenggut
Banyak Hal Hari Ini”
Bismillahirrahmanirrahiim
Alhamdullilah seluruh perjuangan selama ini dapat diselesaikan.
Kupersembahakan Skripsi ini untuk: Kedua Orang Tuaku
Bapak H. Sejatar dan Ibu Hj. Rukmini
Dan seluruh keluarga besarkuUntuk Almamater Tercinta
Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
SANWACANA
Alhamdulillahhirabbil’alamin, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan petunjuk, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Debat Calon
Presiden dan Wakil Presiden Terhadap Pilihan Mahasiswa FISIP
Universitas Lampung pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019”, sebagai salah satu persyaratan untuk meraih gelar strata satu (S1) di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.
Penyelesaian skripsi ini tidak semata hanya berbekal pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki. Tanpa adanya bantuan, dukungan, motivasi dan semangat dari berbagai pihak, tidak mungkin skripsi ini bisa terselesaikan. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. Allah SWT, yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya hingga akhirnya skripsi ini telah terselesaikan dengan baik.
2. Bapak Dr. Syarief Makhya, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung
5. Ibu Bangun Suharti, S.Sos., M.IP, selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu untuk sabar membimbing, menasehati serta memberikan dukungan kepada penulis sehingga penelitian dapat terselesaikan dengan baik. Terima kasih bu, semoga ibu selalu diberikan kesehatan dan amal baik ibu senantiasa diberkahi Allah SWT.
6. Bapak Dr. Andy Corry W., M.Si, selaku Dosen Pembahas skripsi. Terima kasih sudah bersedia memberikan bimbingan, saran, kritik yang membangun dalam proses penyelesaian skripsi.
7. Bapak Dr. Ibrahim Besar,M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis yang selalu memberikan saran yang membangun kepada penulis selama masa perkuliah.
8. Terima Kasih kepada seluruh Dosen, Karyawan, Staff Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Terima kasih telah yang telah banyak membantu penulis dalam kelancaran serta kenyamanan selama proses perkuliahan.
10. Teruntuk kaka-kakak dari penulis, Rika, Wawan, Feri, Liza, Winda, Riki, terimakasih atas dukungan dan semangat yang diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi. Serta keenam keponakan penulis Daffa, Raffi, Azzam, Azka, Hafizh dan Hanum yang selalu menghibur penulis dikala mengerjakan skripsi.
11. Teruntuk sahabat penulis sedari kecil Della Dwi Andhini, terimakasih utnuk semangat serta motivasi selama ini. Untuk sahabat-sahabat penulis lainnya, Lely, Putri, Cinthya, dan Agnes, terimakasih telah menemani hari-hari penulis selama mengerjakan skripsi, support yang diberikan kepada penulis sehingga selalu semangat menegrjakan skripsi.
12. Teruntuk sahabat kuliahku Dessy Siska dan Putri Ramadhani, terima kasih telah memberikan pengalaman indah selama masa-masa perkuliahan. Terimakasih untuk semangat dan dukungan selama mengerjakan skripsi. Semoga kita sukses dimasa depan.
13. Teman-teman Ilmu Komunikasi 2015, terimakasih telah memberikan pengalaman serta cerita yang indah dimasa perkuliahan penulis.
Akhir kata, penulis berharap semoga penelitian yang sederhana ini bisa bermanfaat dan berguna untuk kita semua. Terima kasih banyak untuk segala bentuk doa dan dukungan yang kalian berikan.
BandarLampung, Januari 2020 Penulis
DAFTAR ISI:
Halaman
Daftar Isi ... i
Daftar Tabel... iv
Daftar Gambar ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Rumusan Masalah ... 8
1.3.Tujuan Penelitian ... 8
1.4.Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Penelitian Terdahulu ... 10
2.2.Komunikasi Politik ... 15
2.2.1. Fungsi Komunikasi Politik... 17
2.2.2. Tujuan Komunikasi Politik ... 18
2.2.3. Komunikator Politik... 19
2.2.4. Peran Media Massa dalam Komunikasi Politik ... 21
2.2.5. Media Komunikasi Politik ... 24
2.3.Kampanye Politik... 26
2.4.Debat Politik ... 30
2.4.1. Pengertian Debat Politik... 30
2.4.2. Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019... 32
2.5.Pemilu Presiden... 34
2.6.Teori S-O-R... 35
2.7.Kerangka Pikir ... 37
2.8.Hipotesis... 39
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1.Tipe Penelitian ... 41
3.2.Variabel Penelitian ... 42
3.3.Definisi Konsep... 43
3.4.Definisi Operasional... 45
ii
3.6.Populasi dan Sampling... 49
3.6.1. Populasi ... 49
3.6.2. Sampling... 49
3.7.Jenis Data ... 51
3.7.1. Data Primer ... 51
3.7.2. Data Sekunder ... 52
3.8.Teknik Pengumpulan Data... 52
3.9.Teknik Pemberian Skor... 53
3.10. Teknik Pengolahan Data... 54
3.11. Uji Validitas dan Reliabilitas... 55
3.11.1. Validitas ... 55
3.11.2. Reliabilitas... 56
3.12. Teknik Analisis Data ... 58
3.13. Pengujian Hipotesis ... 59
3.14. Uji Intervening... 61
BAB IVGAMBARAN UMUM 4.1.Gambaran Lokasi Penelitian ... 63
4.1.1. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung... 63
4.1.2. Visi dan Misi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ... 64
4.1.3. Gambaran Umum Mahasiswa FISIP Universitas Lampung... 64
4.2.Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019 ... 66
4.3.Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019... 67
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1.Uji Validitas ... 72
5.2.Uji Reliabilitas ... 73
5.3.Identitas Responden ... 74
5.4.Deskripsi Hasil Penelitian ... 75
5.5.Hasil Penelitian ... 76
5.5.1. Variabel X Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019 ... 76
5.5.2. Variabel Y Pilihan Mahasiswa pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019... 80
5.5.3. Variabel Intervening Kelompok/Organisasi... 84
5.6.Analisis Data ... 87
5.6.1. Uji Regresi Linear Sederhana ... 87
5.6.2. Uji Hipotesis... 89
5.7.Uji Intervening ... 91
5.8.Pembahasan Penelitian... 93
5.8.1. Pengaruh Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden Terhadap Pilihan Mahasiswa FISIP Universitas Lampung pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 ... 94
5.8.1.2.Pilihan Mahasiswa pada Pemilihan Presiden dan
Wakil Presiden 2019 (Variabel Y) ... 98
6.1.Simpulan ... 110 6.2.Saran ... 111 DAFTAR PUSTAKA
iv
DAFTAR TABEL:
Tabel Halaman
1. Data Pemilih 2019... 1
2. Data Pemilih Kota Bandar Lampung 2019 ... 5
3. Penelitian Terdahulu ... 13
4. Nomor Urut dan Nama Pasangan Capres dan Cawapres Tahun 2019... 35
5. Definisi Operasional... 47
6. Data Mahasiswa S1 angkatan 2017 & 2018 FISIP Universitas Lampung ... 49
7. Distribusi Responden Berdasarkan Jurusan ... 51
8. Jumlah Mahasiswa FISIP permaret 2019... 65
9. Hasil Uji Validitas Variabel X, Y dan Intervening ... 73
10. Hasil Uji Reliabilitas Variabel X, Y dan Intervening ... 74
11. Identitas Responden Berdasarkan Jurusan ... 75
12. Calon presiden dan wakil presiden mengetahui bagaimana sistem pemerintahan di Indonesia ... 76
13. Mahasiswa mengetahui bahwa calon presiden dan wakil presiden 2019 memiliki pengalaman dalam bidang politik ... 76
14. Calon presiden dan wakil presiden 2019 dapat meyakinkan mahasiswa melalui debat ... 77
15. Visi-misi dan argumentasi calon presiden dan wakil presiden dipercaya oleh mahasiswa... 77
16. Penampilan calon presiden dan wakil presiden 2019 dalam debat dapat meyakinkan mahasiswa ... 78
17. Gaya bicara calon presiden dan wakil presiden 2019 dalam debat menjadi pertimbangan mahasiswa untuk memilih presiden dan wakil presiden ... 79
18. Latar belakang politik calon presiden dan wakil presiden 2019 yang ditampilkan dalam debat menjadi pertimbangan mahasiswa dalam memilih presiden dan wakil presiden 2019 .. 79
19. Isi debat dapat menggambarkan program kerja calon presiden dan wakil presiden 2019 ... 80
21. Mahasiswa mengetahui visi-misi dan program kerja calon
presiden dan wakil presiden 2019 melalui debat ... 81
22. Mahasiswa memahami karakteristik calon presiden dan wakil presiden 2019 jika memimpin Indonesia setelah menonton debat ... 82
23. Mahasiswa ingin untuk mengikuti pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 setelah menonton debat... 83
24. Mahasiswa percaya pada kapabilitas calon presiden dan wakil presiden 2019 setelah menonton debat... 83
25. Mahasiswa memilih presiden dan wakil presiden 2019 berdasarkan hasil debat ... 84
26. Mahasiswa mengikuti organisasi kampus atau diskusi dengan teman kelompok ... 85
27. Mahasiswa membahas mengenai pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 dan membahas mengenai debat dalam diskusi kelompok ... 85
28. Mahasiswa mengetahui tentang calon presiden dan wakil presiden 2019 melalui kegiatan organisasi / diskusi kelompok ... 86
29. Mahasiswa menguatkan pilihan calon presiden dan wakil presiden 2019 setelah diskusi dengan teman kelompok / organisasi ... 86
30. Uji Regresi Linear Sederhana ... 87
31. Koefisien Determinasi... 87
32. Hasil Uji F ... 89
33. Hasil Uji Intervening Persamaan 1 ... 91
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019... 34
2. Teori S-O-R... 36
3. Kerangka Pikir ... 39
4. Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019 ... 66
5. Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019... 67
6. Variabel Intervening... 91
1.1. Latar Belakang
[image:20.595.136.491.495.614.2]Pemilihan presiden dan wakil presiden RI merupakan pesta demokrasi 5 tahun sekali yang diikuti oleh masyarakat Indonesia. Tahun 2019 Indonesia kembali menyelenggarakan pesta demokrasi dengan pemilihan presiden dan wakil presiden RI periode 2019-2024. Pemilihan presiden dan wakil presiden yang dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019 KPU telah menetapkan jumlah pemilih dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2019. Seperti tampak dalam tabel berikut.
Tabel 1. Data Pemilih 2019
NO PULAU JUMLAH PEMILIH
1 SUMATERA 38.879.195
2 JAWA 110.686.690
3 BALI & NUSA TENGGARA 10.189.157 4 KALIMANTAN 11.240.398
5 SULAWESI 13.421.610
6 PAPUA & MALUKU 6.353.279
TOTAL PEMILIH 190.770.329 (Sumber: www.KPU.go.id, diakses: 23 Maret 2019 pukul 19.20 WIB)
2
02 yaitu H. Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno, MBA. Setiap kandidat calon presiden dan wakil presiden tentu memiliki cara masing-masing untuk menarik perhatian masyarakat. Cara untuk menarik perhatian masyarakat antara lain melalui kampanye, seperti iklan politik, dan debat calon presiden dan wakil presiden.
Debat calon presiden dan wakil presiden merupakan salah satu cara untuk menarik perhatian masyarakat. Dalam debat tersebut, calon presiden dan wakil presiden dapat menyampaikan visi dan misinya untuk menjadi pemimpin negara. Selain untuk menyampaikan visi dan misi dari setiap kandidat, dalam debat ini masyarakat juga dapat mengetahui apa rencana-rencana yang dipersiapkan oleh masing-masing kandidat calon presiden dan wakil presiden dalam memimpin Indonesia. Setiap periode pemilihan selalu dilakukan debat terlebih dahulu, sama halnya dengan pemilihan presiden dan wakil presiden 2019. KPU telah menyusun jadwal debat calon presiden dan wakil presiden 2019, yaitu:
1. Debat I
Waktu: 17 Januari 2019
Lokasi: Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan Tema: Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme
2. Debat II
Waktu: 17 Februari 2019
Lokasi: Hotel Fairmont, Senayan
Tema: Energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, lingkungan hidup Peserta: Calon presiden
3. Debat III
Waktu: 17 Maret 2019
Lokasi: Hotel Sultan, Senayan
Tema: Pendidikan kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya Peserta: Calon wakil presiden
4. Debat IV
Waktu: 30 Maret 2019
Lokasi: Balai Sudirman, Tebet
Tema: Ideologi, pemerintahan keamanan serta hubungan internasional Peserta: Calon presiden
5. Debat V
Waktu: 13 April 2019
Lokasi: Hotel Bidakara, Pancoran
Tema: Ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, serta industri. Peserta: Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden
4
ditayangkan melalui live streaming Youtube, seperti channel Youtube Kompas TV.
Terdapat 6 segmen untuk setiap pelaksanaan debat: 1. Segmen 1: Penyampaian visi-misi
2. Segmen 2 dan 3: Pertanyaan dari tim panelis
3. Segmen 4: Debat eksploratif dengan pemantik diskusi berupa tayangan video singkat
4. Segmen 5: Capres saling bertanya 5. Segmen 6: Pernyataan penutup
(Sumber: www.cnnindonesia.com, diakses tanggal: 11 April 2019)
Bandar Lampung merupakan salah satu kota dengan pemilih pemula yang cukup banyak, yakni:
Tabel 2. Data Pemilih Pemula Kota Bandar Lampung 2019
NO KECAMATAN L P TOTAL
1 BUMI WARAS 440 401 841
2 ENGGAL 179 166 345
3 KEDAMAIAN 393 366 759
4 KEDATON 311 292 603
5 KEMILING 624 574 1198
6 LABUHAN RATU 325 294 619
7 LANGKAPURA 268 214 482
8 PANJANG 521 511 1032
9 RAJABASA 420 409 829
10 SUKABUMI 550 531 1081
11 SUKARAME 438 386 824
12 TANJUNG SENANG 431 411 842 13 TANJUNG KARANG BARAT 414 405 819 14 TANJUNG KARANG PUSAT 368 331 699 15 TANJUNG KARANG TIMUR 241 260 501 16 TELUK BETUNG BARAT 280 239 519 17 TELUK BETUNG SELATAN 295 258 553 18 TELUK BETUNG TIMUR 411 363 774 19 TELUK BETUNG UTARA 379 375 754
20 WAY HALIM 442 414 856
TOTAL 7730 7200 14930
(Sumber: Data Pra Riset, KPU Kota Bandar Lampung)
6
debat ini, generasi muda yang masih bingung untuk menentukan pilihan dapat terbantu dengan mengetahui progres dari masing-masing kandidat calon presiden dan wakil presiden. Mahasiswa yang merupakan generasi muda yang berusia 18 tahun keatas termasuk salah satu calon pemilih pemula dalam pesta demokrasi.
Mahasiswa yang cenderung lebih kritis dalam menanggapi suatu masalah, tentu sangat tertarik dengan adanya debat calon presiden dan wakil presiden. Melalui debat inilah mereka dapat mengetahui visi dan misi dari calon presiden dan wakil presiden 2019. Namun, ada juga mahasiswa yang tidak menjadikan debat calon presiden dan wakil presiden menjadi tolok ukur dalam memilih calon presiden dan wakil presiden 2019.
Mahasiswa yang tidak menjadikan debat sebagai tolok ukur dalam memilih, biasanya mendapatkan informasi mengenai calon presiden dan wakil presiden melalui kelompok / organisasi. Mahasiswa yang mengikuti kegiatan organisasi dikampus cenderung lebih sering untuk melakukan diskusi. Diskusi yang dilakukan bisa membahas berbagai macam hal. Pemilihan calon presiden dan wakil presiden bisa jadi salah satunya, kemungkinan mahasiswa akan mendapatkan pengaruh untuk memilih calon presiden dan wakil presiden dari diskusi bersama teman kelompok / organisasi.
dan wakil presiden. Pada dasarnya setiap orang memiliki pilihannya masing-masing, dengan berbagai alasan untuk memilih.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Syarif Budhirianto, debat calon presiden dan wakil presiden RI tidak memiliki pengaruh yang kuat terhadap masyarakat. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh debat calon presiden dan wakil presiden RI 2019. Alasan memilih debat pilpres karena debat merupakan hal yang baru dilakukan dalam kampanye. Debat dapat menjadi pertimbagan bagi pemilih dalam memilih calon presiden dan wakil presiden karena pemilih dapat mengetahui apa visi misi serta program kerja calon presiden dan wakil presiden secara langsung. Namun pada penelitian ini peneliti akan meneliti pengaruh debat terhadap mahasiswa. Mahasiswa dipilih karena mahasiswa cenderung lebih kritis terhadap suatu fenomena, selain itu mahasiswa merupakan pemilih pemula pada pemilihan presiden dan wakil presiden RI 2019. Pemilih pemula yang belum mengetahui bagaimana karakteristik calon presiden dan wakil presiden, seperti apa sistem pemilihan presiden dan wakil presiden.
8
Berdasarkan uraian di atas maka perlu diadakan penelitian mengenai “Pengaruh Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden Terhadap Pilihan Mahasiswa FISIP Universitas Lampung Pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019”.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Seberapa besar pengaruh debat calon presiden dan wakil presiden terhadap pilihan mahasiswa FISIP Universitas Lampung pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2019?
b. Seberapa besar pengaruh kelompok/organisasi terhadap pilihan mahasiswa FISIP Universitas Lampung pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2019?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh debat calon presiden dan wakil presiden terhadap pilihan mahasiswa FISIP Universitas Lampung pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2019.
1.4. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam bidang keilmuan, khususnya dalam Ilmu Komunikasi. Selain itu dapat memberikan manfaat terhadap pengaplikasian teori serta menjadi tambahan referensi dan sumber bacaan yang bermanfaat bagi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, khususnya mengenai Komunikasi Politik. 2. Secara Praktis
a. Penelitian ini diharapkan menjadi sumber atau bahan referensi, dalam mengetahui pengaruh debat calon presiden wakil dan wakil presiden terhadap pilihan mahasiswa Universitas Lampung pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2019.
II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang dilakukan peneliti. Yang pertama, penelitian yang dilakukan oleh Diajeng Triastari, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2011. Judul penelitian yaitu Persepsi Iklan Politik pada Pemilih Pemula (studi deskriptif kualitatif persepsi pemilih pemula terhadap iklan politik kampanye pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pada pemilu 2009 di media televisi).
digunakan yaitu kualitatif deskriptif, sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan menggunakan tipe penelitian kuantitatif ekslpanatori. Kontribusi penelitian ini terhadap penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu sebagai referensi dalam penelitian, hasil penelitian ini pemilih pemula jauh lebih yakin informasi yang berasal dari debat politik atau berita di televisi dibandingkan iklan politik, dan penelitian yang akan peneliti lakukan akan meneliti seberapa besar pengaruh debat.
Yang kedua, penelitian yang dilakukan oleh Syarif Budhirianto, Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BPPKI) Bandung tahun 2015. Judul penelitian ini yaitu Sikap Masyarakat Terhadap Debat Calon Presiden pada Pemilu 2014 di RCTI. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap kampanye debat calon presiden pada pemilu presiden 2014 yang diikuti oleh 2 kandidat pasangan calon presiden. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan menggunakan teknik survei. Hasil dari penelitian ini yaitu debat calon presiden mempunyai kaitan atau pengaruh yang cukup baik namun tidak mempengaruhi perilaku dan kesadaran untuk memilih salah satu calon presiden karena setiap individu sudah memiliki pilihan calon presiden masing-masing, namun pengaruh debat cukup tinggi dibandingkan dengan iklan politik yang hanya sekilas.
12
masyarakat terhadap kampanye debat calon presiden dan wakil presiden, sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan lebih khusus kepada mahasiswa. Kontribusi penelitian ini yaitu sebagai referensi dan dapat memberikan gambaran hasil dari penelitian yang akan peneliti lakukan.
Yang ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Yoga Swasono, mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung tahun 2017. Judul penelitian yaitu Pengaruh Alat Peraga Terhadap Partisipasi Politik di Kelurahan Sumber Rejo pada Pemilihan Kepala Daerah Bandar Lampung 2015. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh alat peraga kampanye terhadap partisipasi politik masyarakat dikelurahan Sumber Rejo pada pemilihan kepala daerah Bandar Lampung 2015. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatory research.
Tabel 3. Penelitian Terdahulu
Nama/universitas Diajeng Triastari, Universitas Sebelas Maret Surakarta
Judul/tahun
(Skripsi)
Persepsi Iklan Politik pada Pemilih Pemula (studi deskriptif kualitatif persepsi pemilih pemula terhadap iklan politik kampanye pasangan calon presiden dan calon wakil presiden 2009 di media televisi).2011
Kesimpulan Hasil dari penelitian ini yaitu iklan politik di media televisi hanya memberi pengaruh yang kecil bagi pemilih pemula, pemilih pemula jauh lebih yakin informasi yang berasal dari debat politik atau berita di televisi dibandingkan melalui iklan politik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana persepsi pemilih pemula terhadap iklan politik kampanye pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pada pemilu 2009 di media televisi.
Metode Penelitian Metode penelitian deskriptif kualitatif menggunakan teknik wawancara dan observasi.
Persamaan Penelitian
Persamaan penelitian yaitu sama-sama meneliti mengenai pemilihan presiden dan meneliti terhadap pemilih pemula
Perbedaan Penelitian Perbedaan penelitian ini yaitu pada penelitian ini tipe penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif, sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan menggunakan tipe penelitian kuantitatif ekslpanatori.
Kontribusi Penelitian
Kontribusi penelitian ini terhadap penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu sebagai referensi dalam penelitian, hasil penelitian ini pemilih pemula jauh lebih yakin informasi yang berasal dari debat politik atau berita di televisi dibandingkan iklan politik, dan penelitian yang akan peneliti lakukan akan meneliti seberapa besar pengaruh debat.
Nama/universitas Syarif Budhirianto
Judul/tahun
(Jurnal)
14
Kesimpulan Hasil dari penelitian ini yaitu debat calon presiden mempunyai kaitan atau pengaruh yang cukup baik namun tidak mempengaruhi perilaku dan kesadaran untuk memilih salah satu calon presiden karena setiap individu sudah memiliki pilihan calon presiden masing-masing, namun pengaruh debat cukup tinggi dibandingkan dengan iklan politik yang hanya sekilas. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap kampanye debat calon presiden pada pemilu presiden 2014 yang diikuti oleh 2 kandidat pasangan calon presiden.
Metode Penelitian Metode pendekatan kuantitatif dengan menggunakan teknik survei.
Persamaan Penelitian
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu sama-sama menggunakan tipe penelitian kuantitatif dan meneliti mengenai debat calon presiden.
Perbedaan Penelitian Perbedaan penelitian yaitu penelitian ini meneliti sikap masyarakat terhadap kampanye debat calon presiden dan wakil presiden, sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan lebih khusus kepada mahasiswa.
Kontribusi Penelitian
Kontribusi penelitian ini yaitu sebagai referensi dan dapat memberikan gambaran hasil dari penelitian yang akan peneliti lakukan.
Nama/universitas Yoga Swasono, mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung tahun 2017
Judul/tahun
(Skripsi)
Pengaruh Alat Peraga Terhadap Partisipasi Politik di Kelurahan Sumber Rejo pada Pemilihan Kepala Daerah Bandar Lampung 2015.
Kesimpulan Hasil dari penelitian ini yaitu alat peraga memiliki pengaruh terhadap pengetahuan politik sehingga semakin besar pengaruh alat peraga kampanye yang terjadi pada masyarakat kelurahan Sumber Rejo maka semakin tinggi pengetahuan politik yang menyebabkan partisipasi cenderung semakin besar. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh alat peraga kampanye terhadap partisipasi politik dikelurahan Sumber Rejo pada pemilihan kepala daerah Bandar Lampung 2015.
(Sumber: Hasil olahan peneliti)
Berdasarkan uraian penelitian terdahulu yang sudah dipaparkan maka perbedaan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu bahwa peneliti disini meneliti pengaruh debat calon presiden dan wakil presiden terhadap pilihan mahasiswa dengan studi mahasiswa FISIP Universitas Lampung.
2.2. Komunikasi Politik
Politik berasal dari kata Latin Politicus dan bahasa Yunani (Greece) Politicos yang memiliki makna relating to citizen (berkaitan dengan warga) atau sesuatu yang memiliki hubungan dengan kepentingan bersama (khalayak), keduanya bermula dari sebuah kata Polis yang bermakna Negara Kota (city state). (Syah Putra, 2012:37)
Dahlan (1999) komunikasi politik ialah suatu bidang atau disiplin yang menelaah perilaku dan kegiatan komunikasi yang bersifat politik, mempunyai akibat politik, atau berpengaruh terhadap perilaku politik. (Cangara, 2011:29) Persamaan
Penelitian
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu sama-sama menggunakan tipe penelitian kuantitatif dan jenis penelitian eksplanatory research.
Perbedaan Penelitian Perbedaan penelitian yaitu penelitian ini meneliti pengaruh alat peraga pada pemilihan kepala daerah Bandar Lampung 2015, sedangkan penelitian yang akan dilakukan yaitu meneliti pengaruh debat pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2019.
Kontribusi Penelitian
16
Dalam buku Introduction to Political Communication oleh McNair (2003) dinyatakan bahwa
“political communication as pure discussion about the allocation of public resources (revenues), official authority (who is given the power to make legal, legislative and executive decision), and official sanctions (what the state reward or punishes)”.
Jadi komunikasi politik menurut McNair adalah murni membicarakan tentang alokasi sumber daya publik yang memiliki nilai, apakah itu nilai kekuasaan atau nilai ekonomi, petugas yang memiliki kewenangan untuk memberi kekuasaan dan keputusan dalam pembuatan undang-undang atau aturan, apakah itu legislatif atau eksekutif, serta sanksi-sanksi, apakah itu dalam bentuk hadiah atau denda. (Cangara, 2011:30)
memiliki implikasi atau konsekuensi terhadap aktivitas politik. (Cangara, 2011:30)
2.2.1. Fungsi Komunikasi Politik
McNair (2003) komunikasi politik memiliki lima fungsi dasar, yakni:
1. Memberikan informasi kepada masyarakat apa yang terjadi disekitarnya. Untuk itu media komunikasi diharapkan memiliki fungsi pengamatan dan juga fungsi monitoring apa yang terjadi dalam masyarakat.
2. Mendidik masyarakat terhadap arti dan signifikansi fakta yang ada. Para jurnalis diharapkan melihat fakta yang ada, sehingga berusaha membuat liputan yang objektif (objective reporting) yang bisa mendidik masyarakat atas realitas fakta tersebut.
3. Menyediakan diri sebagai platform untuk menampung masalah-masalah politik sehingga bisa menjadi wacana dalam membentuk opini publik, dan mengembalikan hasil opini itu kepada masyarakat. Dengan cara demikian bisa memberi arti lain dan nilai pada usaha penegakan demokrasi.
18
5. Dalam masyarakat yang demokratis, maka media politik berfungsi sebagai saluran advokasi yang bisa membantu agar kebijakan dan program-program lembaga politik dapat disalurkan kepada media massa. (Cangara, 2011:30)
2.2.2. Tujuan Komunikasi Politik
Tujuan komunikasi politik berhubungan dengan pesan politik yang akan disampaikan, yaitu: informasi politik, pembentukan citra politik, pembentukan public opinion (pendapat umum) dan menjawab pendapat atau tuduhan lawan politik. Arifin (2003:1), terdapat tujuan -tujuan komunikasi politik, yaitu sebagai berikut:
a. Membangun Citra Politik
Salah satu tujuan komunikasi politik adalah membangun citra politik yang baik bagi khalayak. Citra politik itu terbangun atau terbentuk berdasarkan informasi yang kita terima, baik langsung maupun melalui media politik, termasuk media massa yang bekerja untuk menyampaikan pesan politik yang umum dan aktual.
b. Membentuk dan Membina Pendapat Umum
komunikasi politiknya sendiri, dan mengakui pentingnya sumber-sumber khusus; sedang saluran-saluran dan para pendengar akan berbeda menurut jenis media yang digunakan.
c. Mendorong Partisipasi Politik
Partisipasi politik sebagai tujuan komunikasi politik dimaksudkan agar individu-individu berperan serta dalam kegiatan politik (partisipasi politik). Sehingga salah satu bentuk partisipasi politik yang penting adalah ketika seseorang (khalayak) mau memberikan suaranya untuk seorang politikus maupun partai politik tertentu dalam pemilihan umum.
2.2.3. Komunikator Politik
Komunikator politik adalah mereka-mereka yang dapat memberi informasi tentang hal-hal yang mengandung makna atau bobot politik. (Cangara, 2016: 31) Dan Nimmo mengklasifikasikan komunikator utama dalam politik sebagai berikut: politisi, professional dan aktivis.
1. Politisi
20
memusatkan perhatian pada kebijakan yang luas, mengupayakan reformasi dan mendukung perubahan revolusioner. (Riswandi, 2009:6)
2. Profesional
Profesional adalah orang yang mencari nafkah denga berkomunikasi dalam aspek politik dan nonpolitik. Profesional sebagai komunikator politik mencakup jurnalis dan promotor. Jurnalis adalah orang yang bekerja dalam bidang media berita yang bertugas melaporkan berita. Sedangkan promotor adalah orang yang dibayar untuk mengajukan / mempromosikan kepentingan langganan / client tertentu. (Riswandi, 2009:6-7)
3. Aktivis
Aktivis adalah orang yang bertindak sebagai saluran organisasional dan interpersonal yang menyampaikan informasi tentang politik kepada warga negara biasa. Ada 2 jenis aktivis menurut Nimmo: Juru bicara, adalah orang yang menjelaskan perannya sama
seperti politisi.
Pemuka pendapat / opinion leader, adalah komunikator politik
Ada tiga syarat yang harus dipenuhi oleh seorang komunikator, yaitu:
1. Tingkat kepercayaan (kredibititas)
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki komunikator sehingga bisa diterima oleh masyarakat pemilih. Kredibilitas menurut Aristoteles bisa diperoleh jika seoreng komunikator memiliki ethos, pathos dan logos. Ethos ialah kekuatan yang dimiliki komunikator dari karakter pribadinya, sehingga ucapan-ucapannya dapat dipercaya. Pathos ialah kekuatan yang dimiliki seorang pembicara dalam mengendalikan emosi pendengarnya, sedangkan logos ialah kekuatan yang dimiliki komunikator melalui argumentasinya.
2. Daya tarik (attractive)
Faktor daya tarik seorang politisi sangat berpengaruh bagi para pemilih. Daya tarik pada umumnya disebabkan karena cara bicara yang sopan, murah senyum, cara berpakaian yang apik dan necis, dan postur tubuh yang gagah. (Cangara, 2016:255-256)
2.2.4. Peran Media Massa dalam Komunikasi Politik
22
(Cangara, 2011:128) Sandra Ball-Rokeach dan Melvin L DeFleur merumuskan efek komunikasi massa/media massa yaitu:
1. Efek Kognitif
Perilaku dimana individu mencapai tingkat tahu pada objek yang diperkenalkan. Akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya. Dalam efek koginitif bagaimana media massa berpengaruh dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan ketrampilan kognitifnya. Sehingga khalayak/penonton dapat menghilangkan ambiguitasnya yaitu berawal dari ketidaktahuan, tidak mengerti dan bingung menjadi jelas.
2. Efek Afektif
Tujuan dari komunikasi massa tidak hanya sekedar memberitahu kepada khalayak agar menjadi tahu tentang sesuatu melainkan ikut juga merasakan dari informasi yang diterimanya.
3. Efek Behavioral
Efek behavioral adalah efek yang menggerakkan. Efek ini yang timbul dari diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan (Rohim, 2009: 183).
Apalagi dengan arus teknologi ini, rasanya media elektronik menjadi saluran utama bagi jalan untuk mempengaruhi pandangan masyarakat khususnya dalam masa kampanye Pemilu. Hal itu salah satunya disebabkan sudah banyaknya masyarakat yang memiliki televisi maupun radio, bahkan sebagian lagi sudah mampu menggunakan internet. Oleh karena itu banyak Partai maupun calon yang akan berkompetisi di Pemilu menggunakan sarana atau saluran kampanye melalui media elektronik khususnya televisi. Maka semua masyarakat dapat melihat dan mendengar kampanye tersebut lewat media massa yang ada dan dapat menilai mana calon wakil rakyat yang pantas dipilih dan tidak,untuk mewakili rakyat.
24
2.2.5. Media Komunikasi Politik
Terdapat beberapa media komunikasi politik, yaitu:
1. Telepon
Dalam komunikasi politik, telepon digunakan sebagai media dalam melakukan kampanye kotemporer. Misalnya untuk melakukan pembicaraan pribadi terkait pengumpulan dana bagi organisasi, atau untuk melakukan pengarahan kepada pendukungnya agar mendatangi tempat kampanye. Selain itu telepon juga dapat digunakan untuk melakukan survey terkait pandangan politik dan semacamnya, misalnya dengan melakukan kuesioer ataupun polling telepon.
2. Radio
3. Televisi
Dalam bidang politik, televisi juga dapat dijadikan sebagai media kampanye; terutama dalam hal pembangunan citra kandidat. Televisi dapat meningkatkan publisitas kandidat secara signifikan, mengingat dimasa ini hampir semua keluarga memiliki minimal satu buah televisi di rumahnya. Citra kandidat dapat dibangun dengan melakukan iklan berbayar, misalnya dengan memproyeksikan visi misi serta artribut –atribut lain dari kandidat; atau secara gratis misalnya dengan mengikuti program debat pilpres, yang dibuat oleh stasiun televisi tertentu.
4. Surat Kabar
Surat kabar menjadi ruang publisitas, dimana partai – partai peserta pemilu dapat mempresentasikan atribut – atribut sang kandidat. Selain itu surat kabar juga dapat digunakan untuk menginformasikan serta mensosialisasikan agenda partainya kepada para pendukungnya.
5. Media Sosial
26
yang berisi atribut-atribut kandidat, dan kemudian menyebarluaskannya melalui sosial media.
Pembangunan citra menggunakan sosial media lebih mudah dan praktis untuk dilakukan dibanding dengan menggunakan media konvensional seperti telepon, surat kabar, radio, ataupun televisi. Harga serta jangkauannya pun lebih luas. Selain itu dapat diatur apakan postingan tersebut bersifat privat atau umum; hal ini menjadikannya efektif dan efisien. (PakarKomunikasi.com, diakses 9 Juli 2019 pukul 20.00 WIB)
2.3. Kampanye Politik
kampanye politik diatur dengan peraturan tersendiri, baik waktu, tata caranya, pengawasan dan sanksi-sanksinya jika terjadi pelanggaran oleh penyelenggara kampanye. (Arifin, 2011:154)
Menurut pasal 1 ayat 26 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang pemilihan umum DPR, DPD, DPRD yang disebut kampanye adalah kegiatan peserta pemilu untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi dan program peserta pemilu. Jadi berdasarkan pada definisi diatas arti kampanye adalah sebuah purpose to something. Kampanye adalah aktivitas komunikasi yang ditujukan ntuk memengaruhi orang lain agar ia memiliki wawasan, sikap dan perilaku sesuai dengan kehendak atau keinginan penyebar atau pemberi informasi ( Cangara, 2011:223).
Dalam kampanye terdapat beberapa unsur kampanye, yaitu:
1. Pelaku Kampanye
28
terdapat petugas lapangan atau kader, penyumbang dan simpatisan yang meramaikan secara kampanye.
2. Pesan Kampanye
Kampanye pada dasarnya adalah penyampaian pesan-pesan dari pengirim kepada khalayak. Pesan- pesan tersebut dapat disampaikan dalam berbagai bentuk mulai dari poster, spanduk, baligo, pidato, iklan, hingga selembaran. Apapun bentuknya, pesan-pesan selalu menggunakan simbol, baik verbal maupun nonverbal yang diharapkan dapat memancing respon khalayak. Tujuan kampanye hanya dapat dicapai bila khalayak memahami pesan-pesan yang ditunjukan pada mereka. Pfau dan Perrot dalam Venus (2009: 71) menasehati unruk berhati-hati ketika mengkonstruksi sebuah pesan kampanye agar tidak menjadi boomerang effect yang dapat menggagalkan pencapaian tujuan kampanye.
3. Media Kampanye
4. Khalayak Sasaran Kampanye
McQuail & Windahl (1993) dalam Venus (2009:98) mendefinisikan khalayak sasaran sebagai sejumlah besar orang yang pengetahuan, sikap dan perilakunya akan diubah melalui kegiatan kampanye. Pada masa sekarang pelaku kampanye umumnya menyadari bahwa khalayak merupakan titik tolak bagi setiap kegiatan kampanye. Pengetahuan tentang khalayak akan membimbing pelaku kampanye dalam merancang pesan apa, untuk siapa, disampaikan melalui media apa dan siapa yang cocok untuk menyampaikannya. Pemahaman tentang khalayak akan menentukan bagaimana kampanye dilaksanakan dan apa hasil yang akan dicapai.
Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) N0. 23 Tahun 2018 Tentang Kampanye Pemilihan Umum BAB IV pasal 23 kampanye dilakukan melalui metode:
a. pertemuan terbatas; b. pertemuan tatap muka;
c. penyebaran Bahan Kampanye Pemilu kepada umum;
b. pemasangan Alat Peraga Kampanye di tempat umum; a. Media Sosial;
c. iklan media cetak, media elektronik, dan media dalam jaringan;
30
e. debat Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden; dan
f. kegiatan lain yang tidak melanggar larangan Kampanye Pemilu dan ketentuan peraturan perundang-undangan
2.4. Debat Politik
2.4.1. Pengertian Debat Politik
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian debat ialah pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. (www.kbbi.web.id, diakses tanggal: 27 Maret 2019)
Debat politik merupakan proses pendewasaan politik masyarakat melalui tukar pikiran yang mengandung makna sebagai berikut:
a. Makna politis, bahwa debat politik harus dapat menjadi wahana pendidikan politik masyarakat yang mengajarkan dan membentuk sikap serta perilaku politik masyarakat semakin rasional, mau menerima perbedaan, dan berpartisipasi atas dasar kesadaran bersama untuk membangun bangsa dan negara.
menghormati dan tidak anarkis (merusak). (www.edukasippkn.com, diakses tanggal: 27 Maret 2019 pukul 20.15 WIB)
Dasar hukum pelaksanaan debat politik di masyarakat adalah sebagai berikut :
a. UUD RI Tahun 1945 (Perubahan IV)
1. Pasal 28 yang menyebutkan, “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.
2. Pasal 28E Ayat 3 yang menyebutkan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”.
b. UU Nomor 9 Tahun 1998
32
c. UU Nomor 39 Tahun 1999
Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 24 Ayat 1 yang menyebutkan, “Setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud-maksud damai”. Hal ini diperkuat dengan Pasal 25 yang berbunyi, “Setiap orang berhak untuk menyampaikan pendapat di muka umum, termasuk hak untuk mogok sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”.
2.4.2. Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019
Debat calon presiden dan wakil presiden menjadi kesempatan menjabarkan visi-misi masing-masing capres dan cawapres jika terpilih kelak. Debat capres juga bisa membukakan mata rakyat Indonesia mengenai kualitas setiap kandidat yang berlaga. Sedikitnya ada dua tujuan dilaksanakannya debat calon presiden dan wakil presiden 2019-2024.
Pertama, publik dapat melihat sejauh mana visi-misi pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin maupun nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno dalam rencananya memimpin Indonesia.
Jadwal debat calon presiden dan wakil presiden 2019: 1. Debat I
Waktu: 17 Januari 2019
Lokasi: Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan Tema: Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme
Peserta: Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden 2. Debat II
Waktu: 17 Februari 2019
Lokasi: Hotel Fairmont, Senayan
Tema: Energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, lingkungan hidup Peserta: Calon presiden
3. Debat III
Waktu: 17 Maret 2019
Lokasi: Hotel Sultan, Senayan
Tema: Pendidikan kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya Peserta: Calon wakil presiden
4. Debat IV
Waktu: 30 Maret 2019
Lokasi: Balai Sudirman, Tebet
Tema: Ideologi, pemerintahan keamanan serta hubungan internasional
34
5. Debat V
Waktu: 13 April 2019
Lokasi: Hotel Bidakara, Pancoran
Tema: Ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, serta industri.
Peserta: Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden
[image:53.595.226.470.395.539.2]Debat calon presiden dan wakil presiden dapat disaksikan oleh masyarakat Indonesia melalui televisi. Beberapa stasiun televisi nasional menayangkan debat calon presiden dan wakil presiden, seperti TransTV, Trans7, Indosiar, SCTV dan stasiun televisi lainnya.
Gambar 1. Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019
(Sumber:www.tagar.id, diakses 02 Mei 2019 pukul 19.10 WIB)
2.5. Pemilu Presiden
Umum Presiden dan Wakil Presiden, selanjutnya disebut Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, adalah pemilihan umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UU Pilpres, 2008:3).
Tabel 4. Nomor Urut dan Nama Pasangan Capres dan Cawapres Tahun 2019
Nomor
Urut Nama Calon Presiden Nama Calon Wakil Presiden
01 Ir. H. JOKO WIDODO Prof. Dr. (HC). KH. MA'RUF AMIN
02 H. PRABOWO SUBIANTO SANDIAGA SALAHUDDIN UNO, MBA.
Sumber: KPU 2019 (http://www.kpu.go.id, diakses 27 Maret 2019 pukul
20.00 WIB)
2.6. Teori S-O-R
36
Komponen dalam teori S-O-R :
a. Stimulus, yaitu berupa rangsangan yang di dalamnya mengandung pesan-pesan atau gagasan.
b. Organism, yaitu individu atau komunikan yang akan menjadi objek proses momunikasi persuasif.
c. Respons, yaitu berupa efek yang akan terjadi sebagai sebuah akibat dari adanya stimulus. ( Effendy, 2013 :254)
[image:55.595.219.434.363.440.2]Teori S-O-R secara jelas dapat dilihat dari bagan sebagai berikut:
Gambar 2. Teori S-O-R
(Sumber: www.zamri.info, diakses 02 Mei 2019 pukul 19.00 WIB)
Elvinaro Ardianto dalam bukunya “Metode Penelitian untuk Public Relations Kuantitatif dan Kualitatif” menjelaskan
Menurut Ma’rat teori S-O-R menitikberatkan pada proses pengertian yang banyak menyangkut komponen kognisi... Dalam pendekatan teori S-O-R, diutamakan cara-cara pemberian imbalan yang efektif agar komponen konasi dapat diarahkan pada sasaran yang dikehendaki. Sedangkan pemberian informasi adalah sesuatu yang penting untuk dapat mengubah komponen kognisi.(Ardianto, 2011:134)
pengertian dan penerimaannya agar aspek konasi (perubahan sikap) yang dihasilkan dapat tepat sasaran sebagai sebuah respons.
Meninjau tentang fenomena yang akan diteliti mengenai pengaruh debat calon presiden dan wakil presiden terhadap pilihan mahasiswa, peneliti tertarik untuk menggunakan teori ini sebagai dasar acuan dalam melakukan penelitian. Menurut teori S-O-R komunikan akan melakukan sebuah tindakan atau perilaku apabila terdapat stimulus. Stimulus yang diberikan kepada organism akan menghasilkan sebuah respon atau efek.
Dalam penelitian ini stimulus yang dimaksud adalah pesan dari debat calon presiden dan wakil presiden. Organism yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mahasiswa FISIP Universitas Lampung angkatan 2017 & 2018 yang menonton debat. Dan respon dalam penelitian ini yaitu pilihan mahasiswa FISIP Universitas Lampung angkatan 2017 & 2018 yang telah menonton debat dan mengikuti pemilihan presiden dan wakil presiden 2019. Apa yang disampaikan oleh pasangan calon presiden dan wakil presiden akan diolah oleh mahasiswa, sehingga memberikan pengaruh terhadap pilihan mahasiswa dalam memilih siapa presiden dan wakil presiden RI 2019.
2.7. Kerangka Pikir
38
dilibatkan dalam penelitian. Pertautan antar variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigma penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir (Sugiyono, 2010:60)
Berdasarkan penjelasan teori S-O-R, stimulus atau pesan yang disampaikan oleh calon presiden dan wakil presiden akan diolah oleh mahasiswa sebagai sebuah informasi. Informasi ini akan memberikan pengaruh bagi mahasiswa untuk memilih siapa presiden dan wakil presiden RI 2019 pilihannya. Namun, ada faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi mahasiswa untuk memilih siapa presiden dan wakil presiden RI 2019 pilihannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah organisasi/kelompok, faktor ini bisa menjadi pertimbangan lain untuk memilih. Melalui organisasi / kelompok mahasiswa mendapatkan informasi lain untuk menjadi pertimbangan dalam memilih calon presiden dan wakil presiden.
melakukan diskusi dalam kelompok / organisasi dengan tema pemilihan presiden dan wakil presiden RI 2019 dan debat calon presiden dan wakil presiden RI 2019.
Gambar 3. Kerangka Pikir
(Sumber: hasil olahan peneliti)
2.8. Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto, 2010:110).
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik (Sugiyono, 2010).
Debat calon presiden dan wakil presiden RI
2019 (Variabel X)
1. Kredibilitas 2. Daya tarik
Pilihan Mahasiswa
(Variabel Y), berdasarkan:
1. Efek kognitif 2. Efek afektif 3. Efek behavioral Intervening/antara:
40
Berdasarkan kerangka pikir yang sudah dijelaskan sebelumnya yang berdasar pada teori S-O-R, maka hipotesis dari penelitian yaitu:
H0 :”Tidak ada pengaruh debat calon presiden dan wakil presiden terhadap pilihan mahasiswa pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2019”. H1 :“Ada pengaruh debat calon presiden dan wakil presiden terhadap
3.1. Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono, metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2012: 7).
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksplanatori. Menurut Singarimbun dan Effendy penelitian eksplanatori ( explanatory research ) merupakan penelitian penjelasan yang menyoroti hubungan kausal antara variable-variabel penelitian dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. (Singarimbun dan Effendy, 1995 : 4)
42
3.2. Variabel Penelitian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) variabel adalah dapat berubah-ubah, berbeda-beda, bermacam-macam (tentang mutu, harga, dan sebagainya). (www.kbbi.web.id, diakses tanggal: 27 Maret 2019 pukul 20.15WIB)
Variabel dalam penelitian ini yaitu: 1. Variabel Bebas
Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau mempengaruhi, yaitu faktor-faktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi atau diamati. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu debat calon presiden dan wakil presiden 2019 (variabel X).
2. Variabel Terikat
Variabel terikat adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh variabel bebas, yaitu faktor yang muncul, atau tidak muncul, atau berubah sesuai dengan yang diperkenalkan oleh peneliti. Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu pilihan mahasiswa pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 (variabel Y).
3. Variabel Antara / Intervening
dillihat, diukur dan dimanipulasi. (Sarwono, 2006:56-57) Variabel antara dalam penelitian ini yaitu pengaruh kelompok / organisasi.
3.3.Definisi Konsep
Definisi konseptual merupakan batasan terhadap masalah-masalah variabel yang dijadikan pedoman dalam penelitian sehingga tujuan dan arahnya tidak menyimpang.
Definisi konsep dalam penelitian ini adalah:
1. Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden (variabel X)
44
Semantara itu, kesan dibangun untuk menunjukkan kredibilitas, komitmen, dan kepedulian paslon dalam membawa perubahan Indonesia di masa mendatang. Selain persepsi, efek lanjutan lainnya yang akan muncul dari debat ialah tindakan atau perilaku memilih. (www. uinjkt.ac.id, diakses tanggal: 02 Mei 2019)
2. Pilihan Mahasiswa pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 (variabel Y)
Pada pemilihan presiden dan wakil presiden banyak masyarakat yang ikut memilih. Salah satunya yaitu mahasiswa, mahasiswa menjadi bagian dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2019. Mahasiswa yang terdaftar sebagai pemilih dapat ikut andil dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2019.
Siapapun yang menjadi pilihan mahasiswa merupakan hak bagi mahasiswa untuk memilih. Banyak faktor yang menjadi acuan bagi mahasiswa untuk memilih siapa presiden dan wakil presiden 2019. Beberapa faktor tersebut antara lain pilihan masing-masing, faktor keluarga, faktor teman, faktor organisasi / kelompok, informasi mengenai kandidat calon presiden dan wakil presiden seperti iklan politik, kampanye dan debat politik.
3. Organisasi / kelompok (variabel intervening)
mahasiswa pada saat pemilihan. Melalui diskusi mahasiswa mwndapatkan informasi mengenai kandidat calon presiden dan wakil presiden.
3.4.Definisi Operasional
Menurut Suharsimi Arikunto (2010:161) definisi operasional variabel adalah seperangkat nilai yang berupa tanda atau konsep obyek penelitian yang dapat diukur dan diamati. Sehingga penelitian dapat diketahui hasil penelitian tersebut . Selanjutnya untuk memudahkan penelitian dan pengukuran, maka variabel dalam penelitian ini didefinisikan dalam bentuk operasional. Berikut adalah beberapa indikator pengukuran variabel dalam penelitian, yaitu:
1. Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019
Debat calon presiden dan wakil presiden pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 yang dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019. Indikator yang diukur sebagai berikut:
a. Kredibilitas sumber (komunikator politik)
- Pengetahuan mengenai sistem pemerintahan Indonesia - Pengalaman dalam bidang politik
- Dapat meyakinkan masyarakat dalam debat
- Dapat dipercaya sebagai presiden dan wakil presiden b. Daya Tarik
46
2. Pilihan Mahasiswa
Pilihan mahasiswa pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 pada tanggal 17 April 2019.
Indikator yang diukur sebagai berikut: a. Kognitif
- Mengetahui siapa calon presiden dan wakil presiden 2019
- Mengetahui visi, misi dan program kerja dari masing-masing kandidat calon presiden dan wakil presiden
- Mengetahui dan memahami karakteristik dari masing-masing kandidat calon presiden dan wakil presiden
b. Afektif
- Keinginan untuk ikut serta dalam Pemilu 2019
- Keinginan untuk memilih presiden dan wakil presiden setelah menonton debat
- Percaya pada kapabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu
c. Behavioral
- Memilih presiden dan wakil presiden pada pemilihan presiden dan wakil presiden pada tanggal 17 April 2019
3. Variabel Intervening
Indikator yang diukur sebagai berikut:
a. Mengikuti dan berdiskusi dalam kelompok / organisasi - Mengikuti kegiatan organisasi
- Melakukan diskusi dengan teman
- Mengetahui tentang pasangan calon presiden dan wakil presiden melalui diskusi dengan teman
- Menguatkan pilihan calon presiden dan wakil presiden dari diskusi dengan teman
[image:66.595.110.519.366.752.2]Secara skematis definisi operasional dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 5. Definisi Operasional
No Variabel Dimensi Indikator
1. Variabel X
Debat calon presiden dan wakil presiden 2019
a. Kredibilitas
b. Daya Tarik (syarat komunikator Cangara, 2016:255-256)
- Pengetahuan mengenai sistem pemerintahan Indonesia
- Pengalaman dalam bidang politik
- Dapat meyakinkan masyarakat dalam debat - Dapat dipercaya sebagai
presiden dan wakil presiden
- Penampilan fisik yang menarik dimata masyarakat
- Ketertarikan dari gaya bicara yang meyakinkan - Latar belakang calon
presiden dan wakil presiden
2. Variabel Y
Pilihan Mahasiswa
a. Kognitif - Mengetahui siapa calon presiden dan wakil presiden 2019
48
b. Afektif
c. Behavioral (efek media massa Rohim, 2009: 183)
presiden
- Mengetahui dan memahami karakteristik dari masing-masing kandidat calon presiden dan wakil presiden
- Keinginan untuk ikut serta dalam Pemilu 2019
- Keinginan untuk memilih presiden dan wakil presiden setelah menonton debat
- Percaya pada kapabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu
- Memilih presiden dan wakil presiden 2019
3 Variabel Intervening Organisasi/kelompok
a. Mengikuti dan berdiskusi dalam kelompok / organisasi
- Mengikuti kegiatan organisasi
- Melakukan diskusi dengan teman
- Mengetahui tentang pasangan calon presiden dan wakil presiden melalui diskusi dengan teman - Menguatkan pilihan calon
presiden dan wakil presiden dari diskusi dengan teman
(Sumber: Hasil Olahan Peneliti)
3.5.Lokasi Penelitian
3.6. Populasi dan Sampling 3.6.1. Populasi
[image:68.595.168.462.370.482.2]Menurut Sugiyono pengertian populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2011:80). Populasi merupakan jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga. Jadi, dalam penelitian ini yang termasuk dalam populasi yaitu mahasiswa S1 angkatan 2017 & 2018 FISIP Universitas Lampung
Tabel 6. Data Mahasiswa S1 angkatan 2017 & 2018 FISIP Universitas Lampung
No Jurusan/PS Jumlah Mahasiswa
1 Sosiologi 198
2 Ilmu Adm. Bisnis 209 3 Hubungan Internasional 213 4 Ilmu Pemerintahan 214 5 Ilmu Adm. Negara 220 6 Ilmu Komunikasi 238
Total 1292
Sumber: Hasil Prariset
3.6.2. Sampling
50
Dalam menentukan rancangan sampling, peneliti menggunakan metode probability sampling, yaitu peluang masing-masing responden dapat diketahui. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel berstrata proposional (proportional stratified sampling). Sampel diambil dari populasi dengan tingkat kesalahan yang dapat di tolerir sebesar 10%.
Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin:
Ket:
n: jumlah sampel N: jumlah populasi
e: batas toleransi kesalahan (error tolerance) : 10%
Jadi sampel dari penelitian ini yaitu
1292 1 1292 10%
1292 1 12,92
1292 13,92
Sampel dari penelitian ini merupakan sebagian dari mahasiswa S1 angkatan 2017 & 2018 FISIP Universitas Lampung yang memiliki karakteristik yang sesuai dengan judul penelitian.
Adapun karakteristik sampel yaitu:
1. Mahasiswa S1 FISIP Universitas Lampung angkatan 2017 dan 2018 2. Mahasiswa yang menonton Debat Calon Presiden dan Wakil
Presiden 2019
[image:70.595.137.489.482.586.2]3. Mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 pada tanggal 17 April 2019. Metode pemilihan sampel yang digunakan peneliti adalah probability sampling, dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel berstrata proposional (proportional stratified sampling) dimana sampel diambil secara proposional sebagai berikut :
Tabel 7. Distribusi Responden Berdasarkan Jurusan
No Jurusan/PS Jumlah Mahasiswa Hasil
1 Sosiologi 198 14
2 Ilmu Adm. Bisnis 209 15
3 Hubungan Internasional 213 15
4 Ilmu Pemerintahan 214 16
5 Ilmu Adm. Negara 220 16
6 Ilmu Komunikasi 238 17
Total 93
Sumber: Hasil Olahan Peneliti dan Perhitungan Berdasarkan Rumus
3.7. Jenis Data
3.7.1. Data Primer
52
wawancara secara langsung, observasi, dan jajak pendapat. Pada penelitian ini data primer didapatkan melalui penyebaran kuesioner kepada responden.
3.7.2. Data Sekunder
Data sekunder adalah hasil perhitungan yang didapatkan tidak secara langsung, melainkan mengambil dari sumber yang ada di buku, jurnal, arsip, dan lain-lain. Pada penelitian ini data sekunder didapatkan dari membaca atau mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan penelitian, membaca jurnal, makalah, catatan kuliah, internet dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian serta dapat menunjang penelitian ini.
3.8. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi lokasi penelitian sesuai dengan lingkup penelitian. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu:
a. Kuesioner
2008: 77). Dalam penelitian ini kuesioner akan diajukan kepada mahasiswa S1 FISIP Universitas Lampung angkatan 2017 & 2018. Prinsip penulisan angket menyangkut beberapa faktor, yaitu:
a. Isi dan tujuan pertanyaan, yang dimaksud disini adalah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk pengukuran atau bukan. Kalau berbentuk pengukuran, maka dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus ada skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.
b. Urutan pertanyaan, urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju hal yang sulit.
c. Panjang pertanyaan, pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi. Teknik pengukuran yang dipakai dalam penelitian ini adalah angket yang dibuat berdasarkan indikator kedua variabel.
b. Studi Pustaka
Studi pustaka merupakan studi yang dilakukan oleh peneliti yang bersumber dari sumber bacaan yang relevan dan mendukung penelitian. 3.9. Teknik Pemberian Skor
54
mengukur sikap, pendapat dan persepsi sekelompok orang mengenai suatu fenomena. Setiap pertanyaan dalam kuesioner akan diberi lima alternatif jawaban, yaitu A, B, C, D, dan E. Penentuan skor untuk masing-masing alternatif jawaban adalah :
1. Alternatif jawaban (a), diberi skor 5, menunjukan kategori sangat tinggi 2. Alternatif jawaban (b), diberi skor 4, menunjukkan kategori tinggi 3. Alternatif jawaban (c), diberi skor 3, menunjukkan kategori sedang 4. Alternatif jawaban (d), diberi skor 2, menunjukkan kategori rendah
5. Alternatif jawaban (e), diberi skor 1, menunjukkan kategori sangat rendah. (Sugiyono, 2011:121).
3.10. Teknik Pengolahan Data
Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu:
a. Pemeriksaan data (editing )
Pemeriksaan dan meneliti kembali data yang telah terkumpul adalah langkah pertama tahap pengolahan data. Langkah tersebut untuk mengetahui apakah data yang telah terkumpul tersebut baik sehingga dapat dipersiapkan untuk tahap analisis berikutnya.
b. Pembuatan Kode (coding)