Text ABSTRAK (ABSTRACT) pdf
Full text
(2) PENGARUH TANAMAN LIDAH MERTUA (Sansevieria sp) SEBAGAI BIOFILTER TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI JANTUNG TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novergicus) GALUR Sprague dawley YANG DIPAPAR ASAP ROKOK. Oleh ANGGITA DWI PARAMITHA. Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA KEDOKTERAN Pada Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2020.
(3) ABSTRACT. THE EFFECT OF Sansevieria sp AS BIOFILTER ON HEART HISTOPATOLOGY OF Rattus novergicus Sprague dawley STRAINS EXPOSED BY CIGARETTE SMOKE. By Anggita Dwi Paramitha. Background: The prevalence of smokers for all age groups ranging from children, adolescents to adults in Indonesia continues to increase. The risk of health problems such as cardiovascular disorders not only occur in active smokers but also passive smokers. Various efforts to avoid cigarette smoke have been made by parties who care about health, one of them is by putting the Sansevieria sp that is able to absorb air pollution especially cigarette smoke. Methods: The study was a laboratory experimental study, using a randomized controlled design method with the Post Test Only Control Group Design pattern. The research subjects were divided into three groups, namely the control group (K1), positive control by giving cigarette smoke (K2) and treatment group by giving cigarette smoke and Sansevieria sp (K3). Each group consisted of 6 Sprague dawley male rats. The study was conducted for 3 weeks (1 week of preparation and 2 weeks of treatment). Results: The mean heart damage score in each group (K1, K2 and K3) was 0.067, 1.03, and 0.53. Kruskal-Wallis test shows p values 0,005 (p<0,05) so there were significant differences between the control group, positive control and treatment group. Conclusion: There is an effect of Sansevieria sp as a biofilter on heart histopathology of male white rats (Rattus novergicus) Sprague dawley strain exposed to cigarette smoke.. Keywords: Cigarette smoke, heart histopatology, Sansevieria sp.
(4) ABSTRAK. PENGARUH TANAMAN LIDAH MERTUA (Sansevieria sp) SEBAGAI BIOFILTER TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI JANTUNG TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novergicus) GALUR Sprague dawley YANG DIPAPAR ASAP ROKOK. Oleh Anggita Dwi Paramitha Latar belakang: Prevalensi perokok untuk semua kelompok umur mulai dari anak, remaja hingga dewasa di Indonesia terus mengalami kenaikan. Risiko terjadinya gangguan kesehatan seperti gangguan kardiovaskular tidak hanya terjadi pada perokok aktif tetapi perokok pasif juga. Berbagai usaha untuk menghindari asap rokok telah dilakukan oleh pihak-pihak yang peduli kesehatan, salah satunya dengan cara meletakkan tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) yang mampu menyerap polusi udara terkhusus asap rokok. Metode: Penelitian merupakan penelitian eksperimental laboratorik, menggunakan metode rancangan acak terkontrol dengan pola Post Test Only Control Group Design. Subjek penelitian dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok kontrol (K1), kontrol positif dengan pemberian asap rokok (K2) dan kelompok perlakuan dengan pemberian asap rokok dan tanaman lidah mertua (K3). Masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus putih jantan galur Sprague dawley. Penelitian dilakukan selama 3 minggu (1 minggu persiapan dan 2 minggu perlakuan). Hasil: Rerata skor kerusakan miokardium pada masing-masing kelompok (K1, K2 dan K3) adalah 0,067, 1,03, dan 0,53. Uji Kruskal-Wallis didapat nilai p sebesar 0,005 (p<0,05) sehingga terdapat perbedaan bermakna antar kelompok kontrol, kontrol positif dan kelompok perlakuan. Simpulan: Terdapat pengaruh tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) sebagai biofilter terhadap gambaran histopatologi jantung tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague dawley yang dipapar asap rokok.. Kata kunci: Asap rokok, histopatologi jantung, Sansevieria sp.
(5)
(6)
(7)
(8) RIWAYAT HIDUP. Penulis dilahirkan di Natar, Lampung Selatan pada tanggal 25 Mei 1997 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak H. Mulyono, M.M. dan Ibu Hj. Suryani.. Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) diselesaikan di TK Tunas Melati II Natar pada tahun 2003, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2009, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMP Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2012, Sekolah Menengah Atas (SMA) yang diselesaikan di SMAN 3 Bandar Lampung pada tahun 2015.. Tahun 2015 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung melalui jalur SBMPTN..
(9) Sebuah persembahan sederhana untuk bapak, ibu, kakak, adik, keluarga dan sahabat. Terima kasih untuk cinta, kasih sayang dan segalanya ..
(10) SANWACANA. Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Skripsi yang berjudul “Pengaruh Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria sp) Sebagai Biofilter Terhadap Gambaran Histopatologi Jantung Tikus Putih Jantan (Rattus novergicus) Galur Sprague dawley Yang Dipapar Asap Rokok” merupakan salah satu syarat untuk penulis agar bisa mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.. Selama proses penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan, saran, bimbingan, masukan serta kritikan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan segenap kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang mendalam kepada : 1. Prof. Dr. Karomani, M.Si selaku Rektor Universitas Lampung. 2. Dr. Dyah Wulan Sumekar RW, S.K.M. M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 3. dr. Rizki Hanriko, S.Ked., Sp.PA selaku Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan bimbingan, nasihat, saran dan kritik yang membangun serta motivasi selama penyusunan skripsi ini..
(11) 4. dr. Merry Indah Sari, S.Ked., M.Med.Ed selaku Pembimbing II atas semua bantuan, kritik, saran dan arahan yang membangun kepada penulis di tengah kesibukan beliau demi terselesaikannya skripsi ini dengan baik. 5. Dr. dr. Susianti, S.Ked., M.Sc selaku Penguji Utama (Pembahas) yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan ilmu dan nasihat yang membangun kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. 6. dr. Roro Rukmi Windi P., S.Ked., M.Kes., Sp.A selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan dan nasihat kepada penulis selama ini. 7. Seluruh dosen dan civitas akademika FK Unila, terimakasih atas pelajaran dan pengalaman yang telah diberikan selama perkuliahan. 8. Kepada orang tuaku, bapak Hj. Mulyono, M.M. dan ibu Hj. Suryani. Terimakasih atas segalanya, atas kasih sayang yang luar biasa yang tiada hentinya diberikan kepada penulis, yang selalu mendoakan yang terbaik untuk penulis, serta pengorbanan dan kerja kerasnya selama ini demi terwujudnya cita-cita dan masa depan yang lebih baik bagi penulis. 9. Kepada kakakku Ayu Kumala Sari dan Andika Saputra, serta adikku Tegar Yudha Wijaya dan Kemal Liandra, terimakasih atas segala kasih sayang, semangat, dukungan serta doa yang selama ini diberikan kepada penulis. Serta keluarga besar yang telah memberikan semangat dan doa kepada penulis. 10. Kepada sahabatku “7 Star’s Doctor”, Annisa Cahyani, Hendro Sihaloho, Semadela Solichin Putri, Zhafran Ramadhan Lumbantobing, Edmundo Caesario, Cindy Calista Chandra, terimakasih sudah menjadi sahabat penulis selama ini, terimakasih sudah selalu ada dan menemani disaat suka maupun duka..
(12) 11. Kepada Raisah Almira Harahap, Alinta Ayuningtyas, Devi Mutiara Jasmine, Sheira Indah Anjani, Winda Puspita Sari, terimakasih atas dukungan dan semangatnya kepada penulis selama ini. 12. Kepada teman-teman seperbimbingan dan sepenelitian Nabil abdurrahman, Ghalib Abdul Naser dan Nurul Fitri Insani, terimakasih atas waktu dan bantuannya dalam penyelesaian skripsi ini. 13. Kepada teman-teman seperjuanganku “ENDOMISIUM” FK Unila angkatan 2015 yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang telah membantu dan menyemangati serta memberikan motivasi selama proses perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini. 14. Semua yang terlibat dalam penyusunan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, penulis ucapkan terima kasih atas dukungan dan doa selama ini.. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan dalam penyusunan skripsi ini tetapi penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan pengetahuan atau informasi untuk para pembaca. Akhir kata, penulis mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Terimakasih.. Bandar Lampung, Penulis. Maret 2020. Anggita Dwi Paramitha.
(13) DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR ISI .......................................................................................................... i DAFTAR TABEL................................................................................................. iii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... iv BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang .................................................................................................1 1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................4 1.3. Tujuan Penelitian .............................................................................................4 1.4. Manfaat Penelitian ...........................................................................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rokok ...............................................................................................................6 2.2. Dampak Negatif Rokok Terhadap Jantung .....................................................11 2.3. Jantung ...........................................................................................................15 2.4. Biofilter...........................................................................................................21 2.5. Tanaman Lidah Mertua ..................................................................................26 2.6. Kerangka Teori ..............................................................................................32 2.7. Kerangka Konsep ...........................................................................................33 2.8. Hipotesis ........................................................................................................33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian ......................................................................34 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .........................................................................34 3.3 Populasi dan Sampel .......................................................................................34 3.4 Kriteria Penelitian ...........................................................................................37 3.5 Alat dan Bahan Penelitian ...............................................................................38 3.6 Prosedur Penelitian...........................................................................................39 3.7 Alur Penelitian.................................................................................................43 3.8 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional ...............................................44 3.9 Teknik Analisis Data Statistik..........................................................................45 3.10 Etika Penelitian..............................................................................................46.
(14) ii. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ...............................................................................................47 4.2 Gambaran Histopatologi Jantung... ..................................................................47 4.3 Hasil Rerata Skor Kerusakan Miokardium......................................................49 4.4 Pembahasan......................................................................................................51 4.5 Keterbatasan Penelitian....................................................................................55 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan .........................................................................................................56 5.2 Saran ................................................................................................................56 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN.
(15) DAFTAR TABEL. Tabel Halaman 1. Definisi Operasional ......................................................................................... 44 2. Hasil Skor Rerata Kerusakan Miokardium .......................................................49 3. Uji Normalitas Sampel Penelitian .....................................................................50 4. Hasil Uji Post Hoc LSD .....................................................................................51.
(16) DAFTAR GAMBAR. Gambar. Halaman. 1. Kandungan Asap Rokok ................................................................................................ 8 2. Struktur Anatomi Jantung ........................................................................................... 18 3. Potongan Longitudinal dan Transversal Otot Jantung ................................................. 19 4. Tanaman Lidah Mertua ............................................................................................... 27 5. Skematik Penangkapan Polutan oleh Daun ................................................................. 28 6. Kerangka Teori ........................................................................................................... 32 7. Kerangka Konsep ......................................................................................................... 33 8. Alur Penelitian ............................................................................................................ 43 9. Gambaran Histopatologi pada Kelompok 1 ................................................................ 48 10. Gambaran Histopatologi pada Kelompok 2 ............................................................... 48 11. Gambaran Histopatologi pada Kelompok 3 ............................................................... 49.
(17) BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2012, Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India. Prevalensi merokok di Indonesia, terutama pada laki-laki mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa sangat tinggi, berkisar 67% (Global Adult Tobacco Survey, 2013). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukan prevalensi perokok Indonesia 16 kali lebih tinggi pada laki-laki (65,8%) dibandingkan pada perempuan (4,2%). Prevalensi perokok Indonesia tertinggi yaitu pada laki-laki dewasa yang berusia 45-65 tahun dan menunjukan hampir 80% perokok Indonesia mulai merokok pertama kali ketika usianya belum mencapai 19 tahun yaitu pada kelompok umur 15-19 tahun (Kemenkes RI, 2013).. Provinsi tertinggi perokok yang merokok setiap hari yaitu provinsi Kepulauan Riau dengan (27,2%), dan provinsi Lampung berada pada posisi ke tujuh dengan (26,5%) dari 33 provinsi di Indonesia. Jika dilihat berdasarkan provinsi di Indonesia, provinsi Lampung merupakan provinsi yang proporsi.
(18) 2. usia mulai merokoknya pada rentang usia 15-19 tahun dan melebihi rata-rata nasional (Kemenkes RI, 2013).. Bahan utama yang terdapat pada rokok adalah tembakau. Tembakau mengandung kurang lebih 4000 senyawa dan setidaknya 200 di antaranya berbahaya bagi kesehatan. Sebagian besar bahan atau senyawa-senyawa tersebut sifatnya toksik bagi berbagai macam sel dalam tubuh kita (Fitria et al., 2013). Racun utama yang terdapat pada tembakau yang mampu memberikan efek pada kesehatan antara lain nikotin, tar, gas karbon monoksida dan berbagai logam berat. Asap rokok terdiri atas campuran substansi-substansi kimia dalam bentuk gas dan partikel-partikel terdispersi di dalamnya. Nikotin yang terkandung di dalam asap rokok menyebabkan jantung bekerja lebih cepat dan tekanan darah menjadi meningkat. Sedangkan karbon monoksida mengambil oksigen di dalam darah lebih banyak sehingga membuat jantung memompa darah lebih banyak (Handayani, Tarmali & Widyawati, 2013).. Komponen asap rokok seperti nikotin akan merangsang hormon adrenalin sehingga menyebabkan naiknya kerja jantung. Tar menyebabkan peningkatan terjadinya resiko kanker, sedangkan karbon monoksida menyebabkan kurangnya suplai oksigen bagi tubuh (Palyoga, Aulanni’am & Wuragil, 2012). Rendahnya distribusi oksigen ke seluruh jaringan tubuh, terutama organ-organ vital yang memiliki kebutuhan yang tinggi akan oksigen seperti jantung. Kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara.
(19) 3. suplai oksigen dengan kebutuhan oksigen sehingga akan menyebabkan kondisi iskemi, nekrosis dan kerusakan sel otot jantung. Risiko terjadinya gangguan kesehatan seperti gangguan kardiovaskular tidak hanya terjadi pada perokok aktif tetapi perokok pasif juga (Rahmawati, 2016).. Berbagai usaha untuk menghindari asap rokok telah dilakukan oleh pihakpihak yang peduli kesehatan, salah satunya dengan cara meletakkan tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) di ruangan maupun di jalanan yang mampu menyerap polusi udara terkhusus asap rokok (Aditama, 2003). Lidah mertua (Sansevieria sp) selama ini hanya digunakan untuk penghias bagian dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi yang sedikit air dan cahaya matahari. Tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) merupakan tanaman yang mampu menurunkan gas karbon monoksida terbesar dibandingkan dengan tanaman lain seperti lili paris dan sirih gading (Aditia, 2011). Tanaman sansevieria pada umur 12 bulan mampu mereduksi karbon monoksida sebesar 81,63 ppm atau 70,6% dengan kerapatan 16 helai daun dalam ruangan tertutup (Muhammadah, 2012). Sementara disisi lain, tanaman Sansevieria ini dilaporkan mampu menyerap 107 jenis polutan di daerah yang padat lalu lintas dan di dalam ruangan yang penuh asap rokok (Tahir & Sitanggang, 2008).. Berdasarkan uraian diatas peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian tentang pengaruh tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) sebagai biofilter.
(20) 4. terhadap gambaran histopatologi jantung pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sparague dawley yang diberi paparan asap rokok.. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, disusunlah rumusan masalah yaitu Apakah terdapat pengaruh biofilter tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) sebagai biofilter terhadap gambaran histopatologi jantung tikus galur Sprague dawley yang diberi paparan asap rokok ?. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) sebagai biofilter terhadap gambaran histopatologi jantung pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague dawley yang diberi paparan asap rokok.. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Mampu memperkaya ilmu pengetahuan khususnya dibidang ilmu kedokteran patologi anatomi. 1.4.2 Manfaat Praktis a. Bagi Penulis Menambah wawasan peneliti mengenai dampak rokok bagi kesehatan, dan melihat pengaruh dari tanaman lidah mertua, menerapkan keterampilan tentang penelitian..
(21) 5. b. Bagi Lembaga Kesehatan Dapat menjadi pertimbangan untuk diterapkan dalam dunia kesehatan dan dapat disosialisasikan ke masyarakat luas. c. Bagi Peneliti Berikutnya Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan atau dikembangkan lebih lanjut, serta referensi terhadap penelitian yang sejenis. d. Bagi Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi masyarakat tentang manfaat dari tanaman lidah mertua..
(22) BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Rokok Rokok adalah daun tembakau yang dicacah, lalu dibentuk silinder dengan menggunakan kertas. Panjangnya antara 70 hingga 120 mm dengan diameter sekitar 10 mm (Ambarwati et al., 2014). Rokok memiliki banyak dampak negatif baik dari segi kesehatan, sosial, psikologi dan ekonomi bagi penikmatnya (Yulianto, 2015). Kandungan zat adiktif pada rokok dapat mengakibatkan bahaya kesehatan bagi individu dan masyarakat. Pada rokok terdapat kurang lebih 4000 macam zat kimia, antara lain nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik dan dapat mengakibatkan penyakit seperti kanker, penyakit jantung dan lain-lain (Noortiningsih, 2004; Kusuma, Yuwono & Wulan, 2012).. 2.1.1 Jenis Rokok Di Indonesia terdapat dua jenis rokok yang dibedakan berdasarkan bahan bakunya, yaitu: a. Rokok putih Rokok yang dibuat tanpa menggunakan cengkeh, digulung dengan kertas sigaret dan boleh menggunakan bahan tambahan lain yang.
(23) 7. diizinkan oleh Pemerintah RI. Rokok putih dapat dibuat dengan atau tanpa menggunakan filter. Filter pada rokok putih ini bisa dengan tembakau jenis virginia iris atau tembakau jenis lainnya. b. Rokok kretek Rokok kretek merupakan rokok yang berbeda dari jenis rokok lainnya dikarenakan rokok kretek memiliki ciri khas adanya tambahan bahan baku campuran cengkeh dengan cacahan tembakau yang tidak ditemukan pada rokok jenis lain sehingga ketika rokok ini dihisap akan menghasilkan bunyi kretek. Selain itu hal terpenting yang harus diwaspadai dari rokok ini adalah kandungan bahan tar dan nikotin yang cukup tinggi sehingga menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian (Kusuma, Yuwono & Wulan, 2012).. 2.1.2 Kandungan Kimia Rokok Pada tembakau terdapat 2.500 bahan kimia yang siap dibuat menjadi rokok. Sebanyak 1.400 bahan kimia akan bereaksi dengan bahan kimia lain yang akan membentuk bahan kimia baru yang seluruhnya akan terbentuk sekitar 4.800 bahan kimia di dalam asap rokok (Tirtosastro & Murdiyati, 2010). Asap rokok dibagi menjadi 2 komponen, yaitu komponen gas (92%) dan komponen padat atau partikel (8%). Komponen gas asap rokok diantaranya adalah karbonmonoksida, karbondioksida, hidrogen sianida, amoniak, oksida, nitrogen dan senyawa hidrokarbon. Sementara komponen padat atau partikel asap rokok diantaranya adalah tar, nikotin benzantraccne, benzopiren, fenol,.
(24) 8. cadmium, indol, karbarzol dan kresol. Namun terdapat tiga kandungan rokok yang paling berbahaya yaitu tar yang merupakan zat karsinogenik, nikotin yang merupakan bahan adiktif yang menyebabkan ketergantungan terhadap rokok dan karbonmonoksida yang dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskuler (Rahmawati, 2016).. Gambar 1. Kandungan asap rokok (Lee, Taneja, & Vassallo, 2012). Pada pedoman World Health Organization (WHO) terhadap kualitas udara dinyatakan bahwa standar limit paparan pada Material Partikulat (MP) 2.5 (diameter partikel 2.5 μm atau kurang) dan Material Partikulat (MP)10 (diameter partikel 10 μm atau kurang) sebanyak 10 μg m−3 dan 25 μg m−3, dengan batas paparan dalam 24 jam sebanyak 25 μg m −3 and 50 μg m−3. Paparan selama 8 jam pada O3 yaitu 100 μg m−3. Paparan NO2 yaitu 40 μg m−3 atau 200 μg m−3 untuk 1 jam, dan paparan 24 jam terhadap SO2 yaitu 20 μg m−3 atau 500 μg m−3 untuk 10 min (Wei et al., 2017). Paparan dengan rentang dosis 99 mg/m-3 hingga 250 mg/m-3 asap rokok akan memberikan perubahan fisiologis.
(25) 9. bagi organ dengan rerata paparan selama 6-8 jam per hari (U.S. Department of Health and Human Services, 2010).. a. Nikotin Ketika rokok dibakar, nikotin masuk ke dalam sel di mulut dan hidung, serta sepanjang saluran pernafasan. Paru-paru dengan cepat menyerap nikotin dan mengedarkannya ke seluruh tubuh melalui darah dan juga membawanya ke otak yang memicu pelepasan beberapa zat misalnya dopamin serta mengaktifkan sistem syaraf pusat dan simpatik. Dampaknya adalah meningkatnya kewaspadaan, detak jantung, dan tekanan darah pada perokok (Liem, 2010). Di otak terdapat reseptor nikotin yang dikenal dengan Nicotinic Cholinergic Receptors (nicotinic acetylcholine receptors atau nAChRs). Dimana reseptor ini akan membuka bila ada invasi dari molekul tertentu sehingga memungkinkan masuknya ion natrium dan kalsium. Ketika ion natrium dan kalsium masuk maka tegangan saluran kalsium akan membuat semakin banyaknya kalsium masuk (Fitria et al., 2013). Hal ini akan menyebabkan otak melepaskan neurotransmitter seperti asetilkolin, serotonin, epinefrin, dopamin dan norepinefrin yang mana mediator kimiawi ini akan mengaktivasi sistem saraf pusat dan sistem saraf simpatis sehingga akan menyebabkan vasokonstriksi dari pembuluh darah dan berujung pada meningkatnya kerja jantung (Liem, 2010)..
(26) 10. b. Tar Tar merupakan komponen padat asap rokok yang terdiri dari banyak bahan kimia yang bersifat karsinogenik dan mengandung radikal bebas yang berhubungan dengan resiko timbulnya kanker. Pada saat rokok dihisap, tar masuk ke rongga mulut sebagai uap padat yang setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan bewarna coklat pada permukaan gigi, saluran napas dan paru-paru (Kusuma, 2017). c. Karbon Monoksida Karbon monoksida merupakan komponen yang paling berbahaya di dalam asap rokok karena dapat mengakibatkan penyakit pada sistem kardiovaskuler. Karbon monoksida akan mempengaruhi kerja hemoglobin untuk mengikat oksigen (O2). Hemoglobin memiliki kemampuan untuk berikatan dengan oksigen dalam bentuk oksihemoglobin (O2Hb). Pada saat perokok menghirup asap rokok yang mengandung karbon monoksida akan berpengaruh terhadap tubuh. Reaksi yang disebabkan antara CO dengan hemoglobin di dalam darah akan membentuk karboksihemoglobin (COHb). Hal tersebut dapat menghambat distribusi oksigen ke jaringan tubuh, maka organ yang sangat sensitif terhadap keracunan karbon monoksida adalah organ-organ dengan kebutuhan oksigen paling banyak, salah satunya adalah jantung. Kerusakan pada otot jantung akibat keracunan CO akan memperlihatkan gambaran nekrosis serat otot jantung sebagai akibat dari kondisi hipoksia (Rahmawati, 2016)..
(27) 11. 2.1.3 Dampak Negatif Rokok terhadap Jantung Asap rokok dapat memicu kerusakan jantung melalui 2 mekanisme. Mekanisme ini berujung pada terjadinya nekrosis pada jaringan otot jantung. Nekrosis dapat didefinisikan dengan baik sebagai hasil dari perubahan morfologis tersebut, yang terjadi setelah kematian sel dalam jaringan atau organ hidup dengan kehilangan sebagian atau total fungsinya.. Konsekuensi. dari. paparan merokok. yaitu nekrosis. koronarogenik dan nekrosis non-koronarogenik (Leone et al, 2008).. Nekrosis miokard merupakan perubahan paling serius yang dapat ditimbulkan oleh nikotin dan karbon monoksida.. Mekanisme. patogenetik yang menyebabkan nekrosis sel jantung, bagaimanapun, menghasilkan hipoksia karena dua faktor utama yang sering dikaitkan adalah berkurangnya aliran darah koroner sebagai konsekuensi dari perubahan pada pohon koroner, dan/atau tindakan hipoksia langsung karena bahan kimia dari asap tembakau. Oleh karena itu, mekanisme vaskular akut yang ditandai dengan oklusi trombo-aterosklerotik dapat menyebabkan kematian sel, dan hal ini di interpretasikan menjadi infark miokard tipikal, biasanya, ditentukan oleh ahli patologi, dengan gambaran nekrosis miokard seperti yang dapat diinduksi oleh disekuilibrium elektrolit, amina vasopresor dan bahan kimia merokok. Perubahan mikroskopis karena nekrosis miokard vaskuler mengikuti jalur yang jelas. Pada awalnya, fenomena nekrotik ditandai dengan lisis dan fragmentasi kardiosit yang menunjukkan perubahan fokal atau.
(28) 12. masif pada banyak nuklei jantung yang terkadang masih utuh, tetapi terdapat serabut jantung dengan hilangnya nuclei, beberapa pita kontraksi juga dapat diamati. Kemudian, infiltrat polimorfonuklear mencapai zona pusat lesi. Fase ini mendahului pembentukan jaringan granulasi ke daerah infark diikuti, akhirnya, oleh bekas luka yang kuat menyelesaikan proses penyembuhan (Leone et al., 2008).. Pada mekanisme toksik, yang paling dipengaruhi oleh nikotin, kerusakan jantung yaitu penyempitan arteri koronaria terjadi akibat peningkatan pelepasan katekolamin dan stimulasi sistem saraf simpatis, dan kemudian menjadi efek langsung pada hipoksia kronik yang disebabkan oleh karbon monoksida, yang bertanggung jawab pada beberapa jenis dari nekrosis dan kardiomiopati primer (Leone, 2016). Akibat dari hipoksia ini menyebabkan terjadinya stres oksidatif pada jaringan otot jantung/miokardium dimana terjadi inflamasi kronik (Rahmawati, 2016).. Paparan merokok sering menyebabkan gambaran perdarahan ke area infark miokard pada fokus lesi, khususnya di zona subendocardial. Kejadian ini dapat disebabkan oleh efek langsung dari karbon monoksida pada sel-sel jantung yang serupa dengan apa yang telah ditunjukkan untuk kardiomiopati eksperimental akibat merokok. Kejadian utama penebalan pembuluh koroner kecil dan kalsifikasi mempengaruhi terutama perokok dan bukan perokok yang terpapar.
(29) 13. produk. tembakau. lingkungan.. Diketahui. bahwa. peningkatan. konsentrasi kalsium intraseluler dengan fenomena kalsifikasi yang terjadi mengaktifkan beberapa rantai enzim yang dapat menyebabkan cedera sel yang berat sampai kematian sel dengan hilangnya fungsi sepenuhnya. Nikotin dan karbon monoksida, senyawa berbahaya utama asap tembakau, merusak miokardium baik oleh mekanisme fungsional maupun. organik.. Nikotin. khususnya. adalah. metabolit. yang. menstimulasi sistem simpatis fungsional dan pelepasan katekolamin yang menyebabkan serangkaian perubahan yang mempengaruhi, baik secara akut maupun kronis, tekanan darah dan detak jantung, keduanya menjadi parameter yang biasanya meningkat, kelengketan trombosit, dan metabolisme lipid. di sisi lain, efek karbon monoksida menyebabkan perubahan struktural terutama, yang dapat berkembang secara akut atau kronis sesuai dengan konsentrasi gas dalam darah (Leone et al., 2008).. Ketika nikotin dan karbon monoksida mencapai konsentrasi darah yang efektif, mekanisme koronarogenik atau non-koronarogenik dapat bekerja secara bersamaan untuk menyebabkan kerusakan miokard. Nekrosis miokard adalah langkah terakhir dari spektrum luas perubahan intraseluler yang awalnya melibatkan struktur terkait RNA seperti mitokondria,. membran. mitokondria,. dan. ribosom. hingga. menyelesaikan kematian sel miokard. Selain itu, perubahan fisiologis seperti keadaan hipoksia pada jaringan otot jantung akan menimbulkan.
(30) 14. stres oksidatif. Stres oksidatif merupakan suatu keadaan dimana tidak terjadi keseimbangan antara prooksidan dan radikal bebas yang secara umum dipicu oleh dua hal yaitu kurangnya antioksidan dan tingginya produksi radikal bebas. Stres oksidatif dapat menimbulkan kerusakan pada berbagai macam tingkatan dimulai dari sel, jaringan dan organ tubuh (Susantiningsih, 2015). Jumlah Reactive Oxygen Species (ROS) yang dihasilkan akan menentukan efek yang akan terjadi pada tubuh. Apabila jumlah ROS yang dihasilkan terlalu berlebihan dan tidak dapat diimbangi oleh kadar antioksidan maka akan memicu sel menuju pada keadaan stress oksidatif, apoptosis dan nekrosis (Widayati, 2019). ROS dapat dibentuk di jantung oleh berbagai mekanisme, termasuk pembentukan selama fosforilasi oksidatif di mitokondria sebagai produk sampingan dari metabolisme aerob seluler normal, namun pada keadaan hipoksia akan memicu terjadinya proses anaerobik, akibatnya terjadi peningkatan fosforilasi oksidatif dan pelepasan katekolamin sebagai sumber radikal bebas yang poten (Kaplan et al., 2017).. Produksi ROS yang tidak seimbang dan berlebihan dalam menanggapi rangsangan eksogen dan endogen dapat menyebabkan peroksidasi lipid, kerusakan untai DNA, dan bentuk lain dari cedera intraseluler yang merusak struktur dan fungsi seluler. Selain induksi ROS intraseluler, asap rokok mengandung sejumlah besar ROS dan bahan kimia lain yang mengurangi mekanisme anti-oksidan intraseluler. Akibatnya, peradangan, aktivasi metalloproteinase (MMP), proliferasi fibroblast.
(31) 15. jantung, dan stimulasi jalur remodeling intraseluler berkontribusi pada remodeling jantung yang diinduksi oleh asap rokok. Kardiotoksisitas langsung ditandai dengan penurunan glutathione peroksidase dan aktivitas superoksida dismutase, penurunan oksidasi asam lemak, dan peningkatan pembentukan ROS, lipotoksisitas (peningkatan peroksidasi lipid), dan disfungsi mitokondria (Kaplan et al., 2017).. Perubahan profil histologi pada jantung terlihat pada adanya edema dan hilangnya serat fiber pada miokardium (Adedayo et al., 2019). Inti sel yang mengalami nekrosis akan berbentuk padat atau kental, ukurannya mengalami penyusutan, warnanya sangat pucat dan tidak berbentuk (Rahmawati, 2016). Kerusakan histopatologi miokardium dengan menggunakan kriteria Dallas, yaitu tidak ada infiltrasi sel radang (-) dan tidak ada nekrosis (-) dengan skor 0, terdapat infiltrasi sel radang (+) dan tidak terdapat nekrosis (-) dengan skor 1, dan terdapat infiltrasi sel radang (+) dan nekrosis (+) dengan skor 2 (Baughman, 2006).. 2.2 Jantung 2.2.1 Anatomi Jantung Jantung terletak di rongga toraks di antara paru – paru yang dinamakan mediastinum. Pangkal jantung berada di bagian paling atas, di belakang sternum, dan semua pembuluh darah besar masuk dan keluar dari daerah ini. Apeks jantung yang dibentuk oleh ujung ventrikel kiri menunju ke arah anterior, inferior, dan kiri, serta berada di atas.
(32) 16. diafragma (Scanlon, 2007). Jantung memiliki panjang kira-kira 12 cm (5 in.), lebar 9 cm (3,5 in.), dan tebal 6 cm (2,5 in.), dengan massa rata – rata 250 g pada wanita dewasa dan 300 g pada pria dewasa. Dua pertiga massa jantung berada di sebelah kiri dari garis tengah tubuh (Tortora, 2012).. Batas-batas jantung: • Kanan: Vena kava superior, atrium kanan, vena kava inferior • Kiri: Ujung ventrikel kiri • Anterior: Atrium kanan, ventrikel kanan, sebagian kecil ventrikel kiri • Posterior: Atrium kiri, 4 vena pulmonalis • Inferior: Ventrikel kanan yang terletak hampir horizontal sepanjang diafragma sampai apeks jantung • Superior: Apendiks atrium kiri. Jantung mempunyai empat ruangan yaitu atrium dekstra, atrium sinistra, ventrikel dekstra, dan ventrikel sinistra. Ventrikel dekstra memiliki ketebalan 4 – 5 mm dan membentuk permukaan anterior jantung. Darah mengalir dari ventrikel dekstra melewati katup pulmonal ke arteri besar bernama trunkus pulmonal, kemudian ke paru – paru (Tortora, 2012). Atrium dekstra memiliki ketebalan sekitar 2 – 3 mm, membentuk batas kanan dari jantung dan menerima darah dari vena kava superior di bagian posterior atas, vena kava inferior, dan.
(33) 17. sinus koroner di bagian lebih bawah. Terdapat perbedaan antara dinding posterior dan anterior yaitu pada dinding posterior halus, sedangkan dinding anteriornya kasar karena adanya pectinate muscles. Antara atrium dekstra dan sinistra ada sekat tipis yaitu septum interatrial. Darah mengalir dari atrium kanan ke ventrikel dekstra melewati suatu katup yang dinamakan katup tricuspid (Tortora, 2012).. Ventrikel dekstra membentuk pemukaan anterior jantung dengan ketebalan sekitar 4 – 5 mm dan bagian dalamnya terdapat bubungan bubungan yang dibentuk oleh trabeculae carneae. Ventrikel dekstra dan ventrikel sinistra dipisahkan oleh septum interventrikular. Darah dari atrium sinistra mengalir ke ventrikel sinistra melewati katup bikuspid (mitral). Ventrikel sinistra merupakan bagian tertebal dari jantung dan memiliki ketebalan sekitar 10 – 15 mm dan membentuk apeks dari jantung. Sama dengan ventrikel dekstra, ventrikel sinistra mempunyai trabeculae carneae dan chordae tendineae yang menempel pada muskulus papilaris. Darah dari ventrikel sinistra ini akan melewati katup aorta ke ascending aorta. Sebagian darah akan mengalir ke arteri koroner dan membawa darah ke dinding jantung (Tortora, 2012)..
(34) 18. Gambar 2. Struktur anatomi jantung (Tortora, 2012). 2.2.2. Fisiologi Jantung Jantung ialah pompa tekanan dan pengisap ganda yang mampu menyesuaikan sendiri, bagian-bagian yang bekerja serentak untuk mengeluarkan darah ke semua bagian tubuh (Moore, Agur & Dalley, 2013). Meskipun semua darah melewati jantung akan tetapi otot jantung tidak mampu menyerap oksigen atau nutrient dari darah di dalam rongga- rongganya karena lapisan endokardium yang kedap air sehingga darah tidak memungkinkan untuk mengalir dari rongga jantung ke dalam miokardium. Dinding jantung juga terlalu tebal untuk difusi oksigen dan zat lain dari darah di dalam rongga ke sel jantung. Maka dari itu, otot jantung harus menerima darah melalui pembuluh darah yaitu sinus koronaria (Sherwood, 2011)..
(35) 19. 2.2.3 Histologi Jantung Jantung adalah organ berotot yang berkontraksi secara ritmik, yang memompa darah melalui sistem sirkulasi. Jantung juga berfungsi menghasilkan sebuah hormon yang disebut faktor natriuretik atrium. Dindingnya terdiri atas 3 tunika antara lain: bagian dalam atau endokardium, bagian tengah atau miokardium dan bagian luar atau perikardium. Bagian tengah jantung yang fibrosa disebut skeleton fibrosa dan berfungsi sebagai dasar katup, selain sebagai tempat asal dan insersi otot jantung (Junquiera, 2016).. Gambar 3. Potongan longitudinal dan transversal otot jantung (Eroschenko, 2010). Endokardium adalah lapis paling dalam dari jantung, dibatasi oleh epitel selapis gepeng yang merupakan lanjutan endotel berbagai pembuluh darah yang masuk atau keluar jantung. Endokardium terdiri atas tiga lapisan, lapisan paling dalam terdiri atas endotel dan jaringan ikat subendotel, berisi serat kolagen dan inti sel – sel jaringan ikat. Lapisan tengah endokardium, meskipun terdiri atas serat kolagen yang padat dan serat elastin dan beberapa sel – sel otot polos, dalam.
(36) 20. fotomikroskopik ini ditempati oleh percabangan sistem konduksi jantung yaitu serat purkinje. Lapisan ketiga dari endokardium yang tebal dan terdiri atas unsur jaringan ikat, didalamnya ada pembuluh darah, terkadang lemak dan juga sel jaringan ikat (Gartner & Hiatt, 2012).. Miokardium adalah tunika yang paling tebal dari jantung dan terdiri atas sel – sel otot jantung yang tersusun dalam lapisan yang mengelilingi bilik – bilik jantung dalam bentuk pilinan yang rumit. Sejumlah besar lapisan – lapisan ini berinsersi ke dalam skeleton fibrosa jantung. Susunan sel otot ini sangat bervariasi sehingga sediaan histologi dari sebagian kecil daerahnya, akan memperlihatkan sel – sel yang tersusun dalam berbagai arah. Epikardium dibentuk oleh epitel selapis gepeng yang ditopang oleh selapis tipis jaringan ikat. Lapisan jaringan ikat longgar subepikardium mengandung vena, saraf dan ganglia saraf. Jaringan adipose yang umumnya mengelilingi jantung, memenuhi lapisan ini (Junquiera, 2016).. Katup jantung terdiri atas jaringan ikat fibrosa padat di pusat (yang mengandung serat kolagen maupun elastin) yang dilapisi kedua sisinya oleh lapisan endotel. Dasar katup melekat pada annulus fibrosus di skeleton fibrosa. Jantung memiliki sistem khusus untuk membangkitkan stimulus ritmik yang tersebar di seluruh miokardium dimana sistem ini terdiri atas 2 nodus yang terletak di atrium, yaitu.
(37) 21. nodus. sinoatrial. dan. nodus. atrioventrikular. serta. berkas. atrioventrikular (Junquiera, 2016).. Berkas atrioventrikular dibentuk oleh sel – sel yang serupa dengan sel nodus atrioventrikular. Akan tetapi kearah distal, sel – sel ini menjadi lebih besar dari sel otot jantung biasa dan memiliki tampilan tersendiri yang disebut sel purkinje dengan masing – masing dengan inti (N) terletak di tengah yang sitoplasmanya kaya akan mitokondria dan glikogen. Sel ini membentuk sejumlah taut rekah (gap junction) satu sama lain dan dengan sel – sel otot jantung (Gartner & Hiatt, 2012).. 2.3 Biofilter Biofiltrasi menurut definisi adalah degradasi polutan secara aerobik dengan adanya media pembawa. Pekerjaan pengembangan awal pada teknologi biofiltrasi terkonsentrasi pada media organik, seperti, gambut, kompos, kulit kayu dan lain-lain. Secara umum, senyawa organik didegradasi menjadi karbon dioksida dan air, sedangkan senyawa anorganik, seperti, senyawa belerang dioksidasi untuk membentuk turunan teroksigenasi. Pembentukan senyawa asam ini dapat menyebabkan penurunan pH media filtrasi, yang pada gilirannya berdampak pada kinerja sistem. Penghapusan senyawa teroksidasi dari media merupakan pertimbangan penting dalam desain sistem biofiltrasi. Fitoremediasi dan bioremediasi, menggunakan tanaman dan.
(38) 22. mikroorganisme untuk meningkatkan kualitas lingkungan, adalah metode yang sangat efektif (Treesubsuntorn, Dolphen, & Dhurakit, 2017).. Menggunakan tanaman untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan telah dilaporkan sebagai metode biaya operasi yang efektif, ramah lingkungan dan rendah. Banyak spesies tanaman menunjukkan efisiensi penghilangan VOC yang tinggi. Pada tahun 2012, delapan tanaman hias yaitu Chamaedorea. seifrizii,. Scindapsus. aureus,. Sansevieria. trifasciata,. Philodendron domesticum, Ixoraebarbata craib, Monster acuminate, Epipremnum aureum dan D. sanderiana dipercaya untuk meremediasi gas benzena.. Jalur untuk menghilangkan VOC oleh tanaman pot sebagian besar dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu eliminasi polutan oleh bagian tanaman di atas tanah, eliminasi oleh mikroorganisme yang berada di tanah, eliminasi oleh akar, dan eleminasi oleh media yang tumbuh. Dalam literatur yang ditinjau, pemindahan oleh akar tidak dipisahkan dari pemindahan oleh media tanam dan oleh karena itu kedua jalur ini bekerja dengan cara yang sama.. Baik stomata dan kutikula merupakan jalur efektif untuk menghilangkan VOC oleh bagian-bagian tanaman di atas tanah. Studi yang dilakukan hanya pada bagian-bagian tanaman di atas tanah yang mencatat pemindahan formaldehida, benzena, dan toluena yang lebih tinggi dalam terang dibandingkan dalam kegelapan. Oleh karena itu disimpulkan bahwa senyawa.
(39) 23. ini diambil melalui stomata karena stomata terbuka dalam cahaya dan tertutup dalam kegelapan. Stomata terbuka dalam kondisi gelap karena sifat metabolisme asam crassulacean (CAM) tanaman yang tidak diatur (Sriprapat & Thiravetyan, 2013). Sebagian besar tanaman mengambil dan menggunakan CO2 selama hari di mana stomata mereka terbuka. Tanaman CAM mengambil CO2 pada malam hari dan memetabolisme di siang hari, yang berarti stomata terbuka pada malam hari dan ditutup pada siang hari. Penghapusan VOC dalam kegelapan bisa, oleh karena itu, tidak selalu dianggap berasal dari jalur non-stomatal kecuali jika dikonfirmasi bahwa stomata ditutup. Peran metabolisme fase cahaya seperti stomata disarankan tidak penting ketika diamati bahwa memindahkan tanaman dari kondisi terang ke gelap tidak memiliki efek atau menyebabkan sedikit peningkatan efisiensi penghilangan dan laju formaldehida, benzena dan n-heksana (Cruz et. al., 2014).. Setelah memasuki daun, suatu senyawa dapat mengalami degradasi, penyimpanan atau ekskresi, baik di lokasi pengambilan atau setelah translokasi ke bagian lain dari tanaman. Tumbuhan diketahui menyerap dan memetabolisme gas formaldehid. Volatilitas memasuki daun melalui stomata dan kutikula dan lebih mudah diserap oleh permukaan abaxial dan daun yang lebih muda. Setelah diserap oleh daun, umumnya memasuki siklus Calvin setelah oksidasi enzimatik dua langkah menjadi CO2. Jumlah formaldehid yang dihilangkan oleh tanaman dalam ruangan tidak meningkat secara signifikan dengan intensitas cahaya di kisaran yang umumnya ditemui di.
(40) 24. dalam rumah. Namun, terdapat perbedaan besar antara kondisi terang dan gelap. Sekitar 60% hingga 90% dari 14C-formaldehyde diperoleh dari tanaman dan berasimilasi sekitar lima kali lebih cepat dalam cahaya daripada dalam gelap. Beberapa formaldehid dikonversi menjadi S-methylmethionine dan dipindahkan di floem ke berbagai organ (Song et.al, 2010).. Degradasi ke konstituen yang tidak berbahaya adalah tujuan optimal, tetapi penyimpanan atau ekskresi akan diperlukan jika degradasi tidak dapat terjadi. Penyimpanan oleh tanaman akan menghilangkan VOC dari udara tetapi penyimpanan yang berlebihan dapat menyebabkan efek merusak pada pabrik karena polutan yang menumpuk hingga konsentrasi yang mematikan. Polutan dapat diekskresikan oleh akar dan kemudian terdegradasi oleh mikroorganisme di dalam tanah atau diadsorpsi ke partikel tanah. Serapan oleh daun dan ekskresi selanjutnya oleh akar telah diamati untuk trikloretilen dan 1,2,3-triklorobenzena dalam gandum, tomat dan jagung (Su & Liang, 2013).. Bakteri berperan untuk mendegradasi dan memanfaatkan karbon dari VOC. Mikroorganisme yang berada di tanah tanaman pot berperan penting dalam menghilangkan VOC dari udara dalam ruangan. Kultur bakteri yang berasal dari tanah tanaman yang terpapar benzena dapat menjelaskan seluruh pemindahan VOC oleh sistem tanaman/tanah. Jumlah bakteri di tanah tanaman yang terpapar benzena tidak berubah dibandingkan dengan jumlah sebelum paparan tetapi komunitas bakteri berubah. Konsistensi di seluruh.
(41) 25. ruang aeroponik tiruan, di masing-masing tanaman, dan di seluruh spesies tanaman memberikan dukungan lebih lanjut untuk fenomena ini. Sangat mungkin bahwa mikroba yang menunjukkan proliferasi setelah perawatan VOC adalah degradasi VOC. Lingkungan pertumbuhan dapat membatasi keberhasilan mikroba terkait yang disukai setelah paparan VOC. Namun demikian, kapasitas degradasi yang diketahui dari kelompok-kelompok bakteri ini dan paparan yang diharapkan dari komunitas akar tanaman yang tumbuh di dinding pada konsentrasi VOC yang lebih tinggi daripada tanaman yang ditanam di tanah mengisyaratkan bahwa paparan VOC bisa menjadi pendorong utama pergeseran komunitas bakteri pada tanaman. Proliferasi degradator VOC sebagai respons terhadap bahan kimia di udara harus memfasilitasi kemampuan biowalls untuk memurnikan udara dalam ruangan (Russell et al., 2014).. Akar dapat mengambil polutan sendiri, tetapi juga dapat meningkatkan ketersediaan. hayati. polutan. untuk. mikroorganisme.. Peningkatan. bioavailabilitas akan dicapai melalui ekskresi eksudat akar yang diperkirakan 2-4% dari karbon yang terjadi karena fotosintesis. Penyerapan oleh akar tergantung pada morfologi akar di mana kandungan lipid dan luas permukaan spesifik merupakan parameter yang signifikan. Setelah diambil oleh akar, polutan dapat mengalami proses yang sama seperti pada daun yaitu degradasi, penyimpanan atau ekskresi, baik di lokasi atau setelah translokasi. Hambatan untuk translokasi dari akar ke bagian vegetatif melalui xilem atau floem. Pentingnya akar dalam mengeluarkan VOC dari udara.
(42) 26. dalam ruangan tidak diketahui, tetapi mungkin substansial karena akar sering menempati sejumlah besar ruang dalam pot tanaman pot hias. Namun, jika mikroorganisme dengan cepat mengambil polutan yang berdifusi ke dalam tanah,. peran. akar. terutama. tidak. langsung. dalam. mendukung. mikroorganisme melalui eksudat akar karena jumlah polutan yang sangat terbatas mungkin tersedia untuk pengambilan oleh akar (Cruz et al., 2014).. 2.4 Tanaman Lidah Mertua Tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) merupakan tanaman hias yang sering diletakkan di perkantoran, hotel maupun rumah sebagai penetralisir polusi. Tanaman ini mampu memberikan udara segar pada ruangan karena sepanjang hidupnya tanaman ini terus-menerus menyerap bahan berbahaya di udara (Dewatisari & Lyndiani, 2015). Pada tahun 2000 dan 2004 tanaman lidah mertua sebagai tanaman hias telah booming di Indonesia. Hingga tahun 2008 minat masyarakat terhadap tanaman lidah mertua masih tetap tinggi (Fatmawati, 2010).. 2.3.1 Klasifikasi Menurut sistematikanya tanaman lidah mertua diklasifikasikan sebagai berikut (Tahir & Sitanggang, 2008): Kingdom. : Plantae. Subkingdom. : Tracheobionta. Superdivisio. : Spermatophyta. Divisio. : Magnoliophyta.
(43) 27. Kelas. : Liliopsida. Subkelas. : Lilidae. Ordo. : Liliales. Famili. : Agavaceae. Genus. : Sansevieria. Gambar 4. Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria). 2.3.2 Kandungan Komposisi yang terkandung dalam tanaman Lidah Mertua secara umum diantaranya adalah (255) ruscogenin, 4-0 methyl glucoronic acid, beta sitisterol, d-xylose, serat, hemiselulosa, n butyl 4 OL propylphthalate, neoruscogenin, sanseverigenin, dan pregnane glikosid. Bahan aktif pregnane glikosid berfungsi untuk mereduksi polutan menjadi asam organik, gula dan asam amino yang tidak berbahaya lagi bagi manusia melalui proses methabolic breakdown (Muhammadah, 2012).
(44) 28. 2.3.3 Manfaat Polutan udara juga dapat dikurangi melalui cara biologis, yang biasa disebut remediasi biologis atau bioremediasi. Cara ini adalah penggunaan organisme. untuk mengasimilasi, menurunkan atau. mengubah zat berbahaya menjadi yang kurang beracun atau tidak beracun. Tanaman telah digunakan untuk remediasi polutan dari udara, tanah, dan air, yang telah disebut sebagai fitoremediasi. Jalur untuk menghilangkan komponen volatil oleh tanaman pot sebagian besar dapat dibagi menjadi empat jenis yaitu eliminasi oleh bagian tanaman di atas tanah, oleh mikroorganisme yang berada di tanah, oleh akar, dan penghapusan oleh media tanam (Wei et al., 2017). Gas polutan yang mudah menguap memasuki daun melalui stomata dan kutikula dan lebih mudah diserap oleh permukaan abaxial dan daun yang lebih muda. Setelah diserap oleh daun, umumnya memasuki siklus Calvin setelah oksidasi enzimatik dua langkah menjadi CO2 (Song et al., 2010).. Gambar 5. Skematik Penangkapan Polutan oleh Daun (Wei et al., 2017).
(45) 29. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Badan Penerbangan Antariksa Amerika Serikat, lidah mertua merupakan salah satu tanaman penyerap gas beracun, misalnya karbon monoksida yang terkandung dalam asap rokok (Anonim, 2001). Selain sebagai penyerap racun dalam asap rokok, lidah mertua mampu menyerap beragam unsur polutan berbahaya di udara seperti timbal, kholoform, benzene, xylene, dan trichloroethylene. Penggunaan tanaman biofilter lain seperti cengkeh dan daun kelor mampu menurunkan risiko kerusakan sel otot jantung mencit yang diberi paparan asap rokok sebanyak 2 batang perhari selama 14 hari (Difitri, 2017).. Tanaman lidah mertua mengandung bahan aktif pregnane glikosid dalam mereduksi polutan (Adijaya, 2005). Menurut Purwanto (2006) pada bukunya mengemukakan riset yang dilakukan Wolverton Environmental Service yang menyebutkan bahwa sehelai daun Sansevieria mampu menyerap formaldehid sebanyak 0,938 μg per jam. Dengan tinggi tanaman 71.4 ± 10.6 cm/pot, dengan area daun 2860.4 ± 224.7 cm2/pot, berat tanaman segar 554.5 ± 113.3 gram/pot dapat menurunkan kadar gas yang mengandung formaldehid sebanyak 0,08 hingga 0,23 ug/m3/m2 area daun yang diberikan paparan formaldehid sebanyak 2 mL/L dalam ruang tertutup. Penelitian dilakukan pada ruangan tertutup berukuran 1 m3 (panjang 90 cm x lebar 90 cm x tinggi 123 cm) (Song et al., 2010). Selain itu, tanaman dapat mengurangin kandungan benzene sebanyak 59–337 ppm/m2/hari pada ruangan.
(46) 30. berukuran 0.216 m3, dengan laju pengurangan 43.8–205.6 mg/m2/hari dan menghilangkan kadar formaldehid dalam 7 jam 3,371–4,759 μg (Cruz et al., 2014).. 2.4 Kerangka Teori Nekrosis dapat didefinisikan dengan baik sebagai hasil dari perubahan morfologis jaringan atau organ yang terjadi setelah kematian sel dalam jaringan atau organ hidup dengan kehilangan sebagian atau total fungsinya. Nekrosis sebagai konsekuensi dari paparan merokok: nekrosis koronarogenik dan nekrosis non-koronarogenik (Leone et al., 2008).. Mekanisme. patogenetik. yang. menyebabkan. nekrosis. sel. jantung,. bagaimanapun, menghasilkan hipoksia karena dua faktor utama yang sering dikaitkan adalah berkurangnya aliran darah koroner sebagai konsekuensi dari perubahan pada pohon koroner, dan / atau tindakan hipoksia langsung akibat bahan kimia dari asap tembakau. Pada mekanisme akibat toksik. Asap rokok merupakan radikal bebas. Radikal bebas adalah senyawa oksigen reaktif yang merupakan senyawa dengan elektron yang tidak berpasangan. Senyawa atau atom tersebut berusaha mencapai keadaan stabil dengan jalan menarik elektron lain sehingga terbentuk radikal baru. Reaksi radikal bebas ini berlangsung secara. berantai. (cascade. reaction). Asap rokok juga. mengandung bermacam-macam zat yang bersifat karsinogenik dan memiliki satu kandungan yaitu Reactive Oxygen Species (ROS) yang merupakan unsur.
(47) 31. kimia yang dapat menyebabkan gangguan kardiovaskular (Leone et al., 2008).. Kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas dapat dikurangi dengan pemanfaatan biofilter tanaman lidah mertua. Tanaman lidah mertua mengandung bahan aktif pregnane glikosid yang berfungsi untuk mereduksi polutan menjadi asam organik, gula dan asam amino yang tidak berbahaya lagi bagi manusia. Tanaman Lidah Mertua mampu mengurangi pencemaran udara baik di luar maupun di dalam ruangan terutama pencemaran yang disebabkan oleh CO dari asap rokok (Tahir & Sitanggang, 2008)..
(48) 32. Asap Rokok Penempatan Sansevieria sp sebagai biofilter Proses nekrosis nonkoronarogenik. Oklusi tromboaterosklerotik. Eliminasi komponen volatil oleh bagian tanaman di atas tanah, dan mikroorganisme yang berada di tanah, oleh akar, dan penghapusan oleh media. Proses nekrosis koronarogenik. ROS. Lisis dan fragmentasi nuklei sel otot jantung. Polutan asap rokok memicu pelepasan neurotransmitter seperti asetilkolin, serotonin, epinefrin, dopamin dan norepinefrin. Arteri koronaria menyempit Hipoksia. Pembentukan granulasi dan fibrosis otot jantung. Stres pada jaringan dan sel otot jantung. Inflamasi kronik. Perubahan histopatologi miokardium. Keterangan :. = Memicu = Menghambat. Gambar 6. Kerangka Teori (Leone et al., 2008 ; Tahir & Sitanggang, 2008 ; Wei et al., 2017 ).
(49) 33. 2.5 Kerangka Konsep. Paparan asap rokok lingkungan. Variabel bebas. Perubahan Gambaran Histopatologi Jantung. Biofilter Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria sp). Variabel terikat. Gambar 7. Kerangka Konsep. 2.6 Hipotesis Hipotesis dari penelitian ini yaitu : H0 : Tidak terdapat pengaruh tanaman lidah mertua (Sanseviera sp) sebagai biofilter terhadap gambaran histopatologi jantung pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang terpapar asap rokok. Ha. :. Terdapat pengaruh tanaman lidah mertua (Sanseviera sp) sebagai. biofilter terhadap gambaran histopatologi jantung pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley yang terpapar asap rokok..
(50) BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik, yang menggunakan metode rancangan acak terkontrol dengan pola Post Test Only Control Group Design. Pengambilan data hanya dilakukan pada saat akhir penelitian dengan membandingkan hasil pada dua kelompok dengan satu kelompok kontrol setelah dilakukan intervensi.. 3.2 Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Animal house Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan Laboratorium Patologi Anatomi. Pembuatan preparat jantung hewan coba dan pemeriksaan histopatologi dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi dan Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.. 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Penelitian Subyek penelitian ini adalah tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley berumur 8-10 minggu dan memiliki berat badan 200-250 gram. Hewan diperoleh dari Palembang Tikus Centre..
(51) 35. Penelitian ini menggunakan tikus karena tikus memiliki metabolisme yang sama dengan manusia secara fisiologis, kelengkapan organorgan, kebutuhan nutrisi, dan metabolisme biokimia. Pertumbuhan yang cepat serta memiliki tingkat ketenangan yang baik sehingga memberikan kemudahan dan tahan dalam perlakuan selama penelitian.. 3.3.2 Sampel Penelitian Jumlah sampel pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus Federer sesuai dengan jenis penelitian yang dilakukan, yaitu penelitian eksperimental. Rumus Federer dalam penentuan besar sampel untuk uji eksperimental yakni: (t-1)(n˗1)≥15 Keterangan: t = Jumlah kelompok perlakuan n = Jumlah sampel tiap kelompok. Penelitian ini menggunakan 3 kelompok, maka besar sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah : t (n-1) ≥ 15 3 (n-1) ≥ 15 3n-3 ≥ 15 3n ≥ 18 n≥6.
(52) 36. Dari hasil di tas, sampel yang digunakan pada tiap kelompok sebanyak 6 ekor tikus putih. Total sampel yang digunakan sebanyak 18 ekor tikus putih. Untuk mengantisipasi drop out. maka dilakukan. penambahan sampel dengan rumus: 𝑛. N = 1−𝑓 Keterangan : N = Besar sampel koreksi 𝑛 = Besar sampel awal f = Perkiraan proporsi drop out sebesar 10%. Berdasarkan rumus diatas, maka akan diperoleh perhitungan besar sampel sebanyak : 𝑛. N = 1−𝑓 6. N = 1− 10% 6. N = 1−0,1 6. N = 0,9 N = 6,67 N = 7 (pembulatan). 3.3.3. Kelompok Perlakuan 1. Kelompok kontrol (K1) Kelompok tikus yang tidak diberi paparan asap rokok dan biofilter tanaman lidah mertua (Sansevieria sp)..
(53) 37. 2. Kelompok kontrol positif (K2) Kelompok tikus yang diberi paparan asap rokok setiap hari sebanyak 2 batang selama 14 hari. 3. Kelompok perlakuan (K3) Kelompok perlakuan yang diberi paparan asap rokok setiap hari sebanyak 2 batang selama 14 hari dan biofilter tanaman lidah mertua (Sansevieria sp).. 3.4 Kriteria Penelitian 3.4.1. Kriteria Inklusi 1. Sehat (tidak tampak rambut kusam, rontok atau botak, dan bergerak aktif). 2. Jenis kelamin jantan. 3. Memiliki berat badan 200–250 gram. 4. Berumur sekitar 8-10 minggu.. 3.4.2 Kriteria Eksklusi 1. Jenis kelamin betina 2. Terdapat penurunan berat badan lebih dari 10% saat masa adaptasi. 3. Sakit (penampakan rambut kusam, rambut rontok atau botak, aktivitas dan gerakan kurang atau tidak aktif, serta keluarnya eksudat yang tidak normal dari mata, mulut, anus serta genital). 4. Tikus mati selama masa penelitian dan pemberian perlakuan..
(54) 38. 3.5 Alat dan Bahan Penelitian 3.5.1 Alat Penelitian a. Kandang hewan percobaan b. Botol minum hewan percobaan c. Tempat makan hewan percobaan d. Timbangan e. Spuit 5 cc f. Alat bedah hewan percobaan g. Alat untuk pembuatan sedian histologis h. Mikroskop cahaya. 3.5.2 Bahan Penelitian a. Tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sparague dawley b. Aquades c. Rokok d. Tanaman lidah mertua (sansevieria sp) e. Pelet sebagai makanan hewan percobaan f. Ketamin g. Bahan yang digunakan untuk membuat preparat histologis dengan metode paraffin meliputi: larutan formalin 10% untuk fiksasi, alkohol 70%, alkohol 96%, alkohol absolut, etanol, xylol, pewarna Hematoxylin and Eosin (H&E), dan entelan..
(55) 39. 3.6 Prosedur Penelitian 3.6.1 Adaptasi Tikus Sampel tikus putih 25 ekor diperoleh dari Palembang Tikus Centre. yang dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 7 ekor tikus putih. Setelah itu, dilakukan adaptasi di Animal house Fakultas Kedokteran Universitas Lampung selama 7 hari. Suhu dan kelembapan ruangan tetap dijaga 25-28 C. Pada hari kedelapan dilakukan penimbangan dan mulai perlakuan.. 3.6.2 Pemberian Asap Rokok Pada minggu kedua mulai dilakukan percobaan. Kelompok pertama sebagai kontrol negatif. Kelompok ini hanya diberi makan dan minum. Kelompok kedua sudah diberi perlakuan dengan pengasapan rokok 2 batang dalam kandang selama 14 hari. Kelompok ketiga mendapat perlakuan pengasapan rokok 2 batang dalam kandang selama 14 hari dan juga terdapat tanaman lidah mertua sebagai biofilter di dalam kandang.. 3.6.3 Terminasi Setelah pemberian perlakuan selama 14 hari selesai, tujuh tikus jantan dari tiap kelompok dianasetesi dengan ketamine-xylazine untuk mengurangi nyeri, distres atau kecemasan sampel. Terminasi cara ini merupakan euthanasia metode fisik yang dilakukan pada tikus yang memiliki berat badan ≤250 gram, kemudian hewan coba diterminasi.
(56) 40. dan diambil jantungnya untuk dijadikan preparat histopatologi dan diperiksa. Preparat dibuat dengan pewarnaan H&E kemudian diamati dengan mikroskop cahaya.. 3.6.4 Proses pembuatan preparat histopatologi 1. Fixation Potongan organ yang telah dipotong secara representatif kemudian difiksasi dengan formalin 10% selama 3 jam, kemudian cuci dengan air mengalir sebanyak 3 sampai 5 kali. 2. Trimming Organ dikecilkan hingga berukuran kurang lebih 3mm, potongan tersebut dimasukan ke tissue casette. 3. Dehidrasi Meletakkan tissue casette pada kertas tisu untuk dikeringkan. Lalu lakukan, dehidrasi dengan 4. Clearing Sisa alkohol dibersihkan dengan xylol I dan xylol II masing masing selama 1 jam. 5. Impregnansi Dilakukan dengan menggunakan parafin selama 1 jam, didalam oven dengan suhu 65ºC. 6. Embedding a. Sisa paraffin yang ada pada pan harus dibersihkan dengan memanaskan beberapa saat di atas api dan diusap dengan kapas..
(57) 41. b. Paraffin cair disiapkan dengan memasukkan paraffin ke dalam cangkir logam dan dimasukkan dalam oven dengan suhu di atas 58ºC. c. Paraffin cair dituangkan ke dalam pan. d. Dipindahkan satu per satu dari tissue cassette ke dasar pan dengan mengatur jarak yang satu dengan yang lainnya. e. Pan dimasukkan ke dalam air. f. Paraffin yang berisi potongan jantung dilepaskan dari pan dengan dimasukkan ke dalam suhu 4-6ºC beberapa saat. g. Parafiin dipotong sesuai dengan letak jaringan yang ada dengan menggunakan skalpel atau pisau hangat. h. Lalu diletakkan pada balok kayu, diratakan pinggirnya, dan dibuat ujungnya sedikit meruncing. i. Memblok paraffin, siap dipotong dengan mikrotom. 7. Cutting Pemotongan dilakukan di ruangan dingin. Pertama lakukan pemotongan kasar lalu lanjutkan dengan pemotongan halus. Lembaran jaringan kemudian dipindahkan ke water bath dengan suhu 60o C selama bebrapa saat sampai mengembang sempurna. Lalu lembaran diambil dengan slide bersih dengan gerakan menyendok. Slide ini kemudian diletakkan di inkubator suhu 37 o C sampai jaringan melekat semua kira-kira selama 24 jam..
(58) 42. 8. Staining (pewarnaan) dengan Harris Hematoksilin&Eosin Setelah jaringan melekat sempurna pada slide, dipilih slide yang terbaik, selanjutnya dilakukan deparaffinisasi, hidrasi, pulasan inti, rehidrasi, dan penjernihan. 9. Mounting Setelah proses pewarnaa, slide ditempatkan di atas kertas tisu lalu ditetesi dengan bahan mounting yaitu entelan dan ditutup dengan deck glass, perhatikan jangan sampai terbentuk gelembung udara. 10. Pembacaan preparat Proses pembacaan dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, diperiksa di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 400x dengan bimbingan dosen pembimbing dan ahli patologi anatomi..
(59) 43. 3.7 Alur Penelitian Timbang berat badan tikus putih jantan galur Sprague dawley. Adaptasi tikus selama 7 hari. Tikus diberi perlakuan selama 14 hari. K3. K2. K1. Hanya diberi akuades. Asap rokok 2 batang/hari. Asap rokok 2 batang/hari. Penempatan Sansevieria sp. Setelah 14 hari, tikus dianestesi dan diterminasi. Lakukan laparotomi lalu jantung tikus diambil. Sampel miokardium jantung difiksasi dengan formalin 10%. Pembuatan sediaan histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomi dan Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Pengamatan sediaan histopatologi dengan mikroskop dan diinterpretasi Gambar 8. Diagram Alur Penelitian.
(60) 44. 3.8 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional 3.8.1 Identifikasi Variabel Terdapat dua variabel pada penelitian ini yaitu variabel bebas (variabel independent) dan variabel terikat (variabel dependent). Variabel bebas pada penelitian ini adalah penempatan tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) sebagai biofilter di dalam kandang tikus putih yang di papar asap rokok sebanyak 2 batang selama 14 hari (Difitri, 2017). Variabel terikat pada penelitian ini adalah perubahan gambaran histopatologi jantung tikus putih jantan.. 3.8.2 Definisi Operasional. No 1. 2. Tabel 1. Definisi Operational Variabel Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Tanaman Tanaman lidah 0: Kontrol Lidah Mertua mertua dengan luas 1: Tanpa 2 (Sansevieria tanaman area 2860 cm sp) 2: Ada tanaman yang setara dengan 5 helai daun diletakkan di kandang yang telah disiapkan khusus intervensi. Histopatologi Diamati dari Mikroskop Kerusakan jantung preparat yang cahaya histopatologi dibuat dengan miokardium pewarnaan dengan hematoxylin-eosin menggunakan dan pengamatan kriteria Dallas, dilakukan yaitu: menggunakan Skor 0 = mikroskop cahaya tidak ada pada pembesaran infiltrasi sel 100x dan 400x dari radang (-) dan 5 lapang pandang tidak ada dengan sasaran nekrosis (-) pembacaan Skor 1 = meliputi kerusakan terdapat miokardium dengan infiltrasi sel menggunkan skor radang (+) dan. Skala Kategorik. Numerik.
(61) 45. kriteria derajat kerusakan miokardium.. tidak terdapat nekrosis (-) Skor 2 = terdapat infiltrasi sel radang (+) dan nekrosis (+) (Baughman, 2006). Masing-masing lapang pandang akan diamati dan ditentukan skornya serta dijumlahkan. 3.9 Teknik Analisis Data Statistik Setelah data diperoleh dari hasil pengamatan histopatologi di bawah mikroskop maka selanjutnya data tersebut diuji dan dianalisis dengan menggunakan program analisis statistik. Selanjutnya hasil penelitian dianalisis apakah terdistribusi normal atau tidak secara statistik dengan uji normalitas. Untuk mengukur normalitas, uji yang bisa dilakukan yaitu uji Shapiro-Wilk karena pada penelitian ini jumlah sampel ≤50.. Setelah uji normalitas data, untuk mengetahui apakah dua atau lebih kelompok data memiliki varian yang sama atau tidak maka dilakukan uji Levene. Apabila didapatkan data yang terdistribusi normal dan homogen maka dilanjutkan dengan uji parametrik One Way Anova. Namun bila tidak memenuhi syarat untuk dilakukan uji parametrik, pengujian akan menggunakan uji non-parametrik yaitu Kruskal-Wallis. Hipotesis dapat dikatakan diterima ketika nilai p<0,05 atau menolak H0. Selanjutkan.
(62) 46. dilakukan analisis Post-Hoc LSD untuk melihat perbedaan antar kelompok perlakuan.. 3.10 Etika Penelitian Pada penelitian yang menggunakan hewan coba sebagai subyek penelitian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Prinsip 3R pada penelitian eksperimental yaitu replacement, reduction, dan refinement harus diterapkan. Peneliti juga diharapkan selalu memperlakukan hewan coba dalam penelitian dengan baik. Penelitian telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dengan nomor surat 93/UN26.18/PP.05.02.00/2019..
(63) 56. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 5.1 Kesimpulan Terdapat pengaruh yang bermakna pada tanaman lidah mertua (Sansevieria sp) sebagai biofilter terhadap gambaran histopatologi jantung tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague dawley yang dipapar asap rokok.. 5.2 Saran 1. Perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang kemampuan tanaman Sansevieria sp. 2. Perlu dilakukan perbandingan kemampuan tanaman Sansevieria sp dalam menyerap gas polutan baik pada ruangan tertutup maupun ruangan terbuka. 3. Dapat disosialisasikan ke masyarakat luas mengenai kegunaan lidah mertua sebagai biofilter dari asap rokok sehingga dapat diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari..
(64) DAFTAR PUSTAKA. Aditama. 2003. Manajemen administrasi rumah sakit. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Adedayo AD, Tijani AA, Musa AA, Adeniyi TD. 2019. Histological study of smoke extract of tobacco nicotiana on the heart, liver, lungs, kidney, and testes of male sprague-dawley rats. Niger Med J. 52(4): 217–222. Ambarwati, Khoirotul AU, Kurniawati F, Diah TK, Darojah S. 2014. Media leaflet, video, dan pengetahuan siswa SD tentang bahaya merokok. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 8(2): 113–120. Anonim. 2011. Mengenal sansevieria. Tersedia di http://www.duniaflora.com/ sansevieria_mengenal.php. Diakses 20 Agustus 2019. Baughman KL. 2006. Diagnosis of myocarditis death of dallas criteri. American Heart Association. 113: 593-95. Britton J, Edwards R. 2007. Tobacco smoking, harm reduction, and nicotine product regulation. Lancet. 317(9610): 441-5. Cruz MD, Christensen JH, Thomsen JD, Müller R. 2014. Can ornamental potted plants remove volatile organic compounds from indoor air ? — a review. Environ Sci Pollut Res. 0(0): 1–20. Dewatisari WF, Lyndiani M. 2015. Kemampuan kultivar sanseviera trifasciata dalam menyerap gas karbon monoksida (CO) asap rokok. Jurnal Ekosains. 7(3): 99–106. Difitri DR. 2017. Studi tentang pengaruh paparan asap rokok dengan biofilter berbahan cengkeh (syzygium aromaticum) dan daun kelor (moringa oleifera) terhadap tekanan darah dan histologi jantung mencit (mus musculus). [skripsi]. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Eroschenko VP. 2010. Difiore’s atlas of histology with functional correlations. 11th edition. Philadelphia: Wolters Kluwer..
(65) Fatmawati SN. 2010. Penggunaan pupuk NPK terhadap pertumbuhan tanaman lidah mertua (sansevieria) pada media campuran kompos dan pasir. [skripsi]. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Fitria, Triandhini RR, Mangimbulude JC, Karwur FF. 2013. Merokok dan oksidasi DNA. Sains Medika. 5(2): 113–120. Gartner LP, Hiatt JL. 2012. Color textbook of histology. 3rd edition. Philadelphia: Elseivier Saunder. Handayani DP, Tarmali A, Widyawati SA. 2013. Hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian penyakit jantung koroner pada pasien yang berkunjung ke poli penyakit dalam di RSUD Ungaran kabupaten Semarang. Jurnal Kesehatan. (38): 1–8. Jaswiah, Syarifuddin SH, Novianti I. 2016. Fitoremediasi logam kadmium pada asap rokok menggunakan tanaman lidah mertua jenis sansevieria hyacinthoides dan sansevieria trifasciata. Chimico et Natura Acto. 4(2). 88–92. Junqueira LC. 2016. Histologi dasar teks dan atlas. Edisi 14. Jakarta: EGC. Kaplan A, Abidi E, Ghali R, Booz GW, Kobeissy F, Zouein FA. 2017. Functional, cellular, and molecular remodeling of the heart under influence of oxidative cigarette tobacco smoke. Hindawi Journal. 0(0): 1– 17. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Inilah 4 bahaya merokok bagi kesehatan tubuh. Tersedia di www.depkes.co.id. Diakses 20 Agustus 2019 Kusuma ARP. 2017. Pengaruh merokok terhadap kesehatan gigi dan rongga mulut. Jurnal Majalah Ilmiah Sultan Agung. 49(124): 12-19. Kusuma DA, Yuwono SS, Wulan SN. 2012. Studi kadar nikotin dan tar sembilan merk rokok kretek filter yang beredar di wilayah kabupaten Nganjuk. 5(3): 151–155. Lee J, Taneja V, Vassallo R. 2012. Cigarette smoking and inflammation: cellular and molecular mechanisms. Journal of Dental Research. 91(2): 142–149. Leone A, Landini L, Biadi O, Balbarini A. 2008. Smoking and cardiovascular system: cellular features of the damage. Current Pharmaceutical Design. (14): 1771–1777. Leone A. 2016. Types of myocardial necrosis: the possible role of cigarette smoking. Journal of Cardiology & Current Research. 5(5): 5–8. Liem A. 2010. Pengaruh nikotin terhadap aktivitas dan fungsi otak serta hubungannya dengan gangguan psikologis pada pecandu rokok. Buletin.
(66) Psikologi. 18(2): 37–50. Muhammadah SA. 2012. Pengaruh umur dan kerapatan tanaman lidah mertua (sansevieria) terhadap kadar karbon monoksida (CO) di udara. [skripsi]. Semarang: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah. Moore KL, Agur AMR, Dalley AF. 2013. Anatomi klinis dasar. Edisi 5. Jakarta: Hipokrates. Noortiningsih. 2004. Diagnosis diabetes dengan HbA1C. www.republika.com. Diakses 20 Agustus 2019.. Tersedia. di. Nurwidayanti L, Wahyuni CU. 2013. The analysis of secondhand smoke effect at house on women toward hypertension. Jurnal Berkala Epidemiologi. 1: 244–253. Palyoga H, Aulanni’am, Wuragil DK. 2012. Pengaruh pemberian ekstrak biji anggur (vitis vinifera) terhadap ekspresi tumor nekrosis faktor alfa (TNFα) dan gambaran histopatologi jantung pada hewan model tikus putih (rattus novergicus) yang diberi paparan asap rokok. [skripsi]. Malang: Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya. Purwanto AW. 2010. Sansevieria flora cantik penyerap racun. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Rahmawati RN. 2016. Pengaruh pemberian ekstrak kulit buah manggis (garcinia mangostana) terhadap jumlah eritrosit, leukosit, hemoglobin (Hb) dan gambaran histologik jantung mencit (mus musculus) yang terpapar asap rokok. Jurnal Biologi. 5(8): 69–78. Riskesdas. 2013. Prevalensi penyakit jantung koroner, gagal jantung dan stroke pada umur ≥ 15 tahun menurut karakteristik. Tersedia dari http://www.depkes.go.id/resources/download/general/hasil%20riskesdas %202013.pdf. Diakses 20 Agustus 2019 Russell JA, Hu Y, Chau L, Pauliushchyk M, Anastopoulos I, Anandan S et al. 2014. Indoor-biofilter growth and exposure to airborne chemicals drive similar changes in plant root bacterial communities. Applied and Environmental Microbiology. 80(16): 4805–4813. Setyawan A, Surya Y. 2018. Pemanfaatan tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) untuk absorpsi tembaga (Cu) industri peleburan tembaga. Jurnal Envirotek. 9(1): 13–21. Sherwood L. 2012. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 6. Jakarta : EGC. Snell RS. 2012. Anatomi klinis dasar. Edisi 9. Jakarta: EGC. Song JS, Kim HD, Yoo EH, Kays SJ. 2010. Variation in formaldehyde removal efficiency among indoor plant species. HortScience. 45(10): 1489–1495..
(67) Sriprapat W, Boraphech P. 2014. Factors affecting xylene-contaminated air removal by the ornamental plant zamioculcas zamiifolia. Environ Sci Pollut Res. (21): 2603–2610. Susantiningsih T. 2015. Obesitas dan stres oksidatif. Juke Unila. 5 (9): 1-6. Tahir MI, Sitanggang M. 2008. Sansevieria eksklusif. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka. Talhout R, Schulz T, Florek E, Benthem J, Van, Wester P. 2011. Hazardous compounds in tobacco smoke. international journal of environmental research and Public Health. (8): 613–628. Tirtosastro S, Murdiyati AS. 2010. Kandungan kimia tembakau dan rokok. Jurnal Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri. 2(1): 33–43. Treesubsuntorn C, Thiravetyan P. 2018. Botanical biofilter for indoor toluene removal and reduction of carbon dioxide emission under low light intensity by using mixed c3 and cam plants. Journal of Cleaner Production. 0(0): 1–23. Tortora GJ, Derrickson B. 2012. Principles of anatomy & physiology. 13th edition. New Jersey: Wiley. Wei X, Lyu S, Yu Y, Wang Z, Liu H. 2017. Phylloremediation of air pollutants : exploiting the potential of plant leaves and leaf-associated microbes. Frontiers in Plant Science. 8(2): 1–23. WHO 2012. Prevalence of tobacco use. Tersedia di http://www.who.int. Diakses 20 Agustus 2019 Widayati E. 2019. Oxidasi biologi, radikal bebas, dan antioxidant. Jurnal Majalah Ilmiah Sultan Agung. 50(128): 26-32. Yao H, Rahman I. 2012. Current concepts on oxidative/carbonyl stress, inflammation and epigenetics in pathogenesis of chronic obstructive pulmonary disease. Toxicol Appl Pharmacol. 254(2): 72–85. Yulianto EA. 2015. Persepsi siswa SMK Kristen Salatiga tentang bahaya merokok bagi kesehatan. Journal of Physical Education. 4(5): 1807-13..
(68)
Figure
Related documents
The authors conducted their on-road studies on "interstate, downtown, and residential road segments" (p.. 27) Given that all five (5) digital billboards (study sites) were
In conclusion, feeding the growing rabbits by different sun lower oil enriched diets could improve growth rate, carcass traits and some meat sensory traits, due to an increase
However, only one species of rosewood, the Brazilian rosewood ( Dalbergia nigra ), is listed under Appendix I of CITES, indicating a ban on all international trade in the
DataBank MSP-2 511 Building Denver Kansas City Chicago MSP-2 will be both Carrier-Neutral & Carrier Friendly.. | All Rights
From a South African perspective, this study contributes new findings to the knowledge base regard- ing low-income racially marginalised women’s subjective experience of
Re-inspection of Building Final Per Inspection $0.00 Safety Insection (No Permit) Per Inspection $15.00 Failure to obtain inspection. approval Per Inspection
Pierina MAGNA a , Natalia JERIA a , Carlos ALVAREZ a,b , Chiara RIGOLDI c & Manuela GALLI c a Departamento de Kinesiología TELETÓN, Chile.. b Escuela de Kinesiología
environmental impacts of product maintenance have an important role in the lifecycle