• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
47
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

HUBUNGAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN KALA II LAMA PADA IBU BERSALIN DI RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK

PROVINSI LAMPUNG

Oleh

TRI LAMTIUR PAKPAHAN

(2)

HUBUNGAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN KALA II LAMAPADA IBU BERSALIN DI RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK

PROVINSI LAMPUNG

Oleh

TRI LAMTIUR PAKPAHAN

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

(3)

ABSTRACT

RELATIONSHIP BETWEEN PREMATURE RUPTURE OF MEMBRANES AND PROLONGED SECOND-STAGE LABOR IN INPARTU MOTHER AT RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK LAMPUNG

PROVINCE

By

TRI LAMTIUR PAKPAHAN

Background: Prolonged second-stage labor is one of the causes of maternal mortality and morbidity. In prolonged second-stage labor, there is no progress in decreasing the lowest part of the fetus at the second stage of labor. The incidence of premature rupture of membranes (PROM) affects the duration of labor, in which the group of PROM before inpartu has prolonged duration of labor.

Objective: To determine the relationship between PROM and prolonged second-stage labor during inpartu.

Methods: This study used an observational analytic methods with cross sectional design. Total samples of 69 patients were selected with consecutive sampling technique. The date collected from patient's medical record in obstetric room of RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung Province. The inclusion criteria for this study were women aged 18-40 years of aterm pregnancy and having PROM. Patients accompanied by path delivery abnormalities, fetal abnormalities and prolonged labor with sectio caesarea were excluded.

Results: The results showed that 37 patients (72,6%) who experienced PROM during inpartu showed prolonged second-stage labor and 8 patients (44,4%) who experienced PROM before inpartu showed prolonged second-stage labor. Based on Chi-square test, p value=0,031 (p<0,05).

Conclusion:There was relationship between premature rupture of membranes and prolonged second-stage labor in inpartu mother at RSUD Dr. H. Abdul Moeloek.

(4)

ABSTRAK

HUBUNGAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN KALA II LAMA PADA IBU BERSALIN DI RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK

PROVINSI LAMPUNG

Oleh

TRI LAMTIUR PAKPAHAN

Latar belakang: Kala II lama merupakan salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas ibu. Pada kala II lama, tidak ada kemajuan penurunan bagian terendah janin pada persalinan kala II. Kejadian ketuban pecah dini (KPD) mempengaruhi lamanya waktu persalinan, dimana kelompok KPD saat belum inpartu cenderung mengalami persalinan yang lama.

Tujuan: Mengetahui hubungan KPD dengan kejadian kala II lama pada ibu bersalin.

Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan rancangan

cross sectional. Total sampel sebanyak 69 pasien yang dipilih dengan tehnik consecutive sampling. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien di ruang kebidanan RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Kriteria inklusi penelitian ini adalah ibu usia 18-40 tahun dengan usia kehamilan aterm dan mengalami KPD. Pasien yang disertai dengan kelainan jalan lahir, kelainan janin dan partus kasep yang terkondisi sectio cesarea

dieksklusikan dari sampel penelitian.

Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 37 pasien (72,6%) yang mengalami KPD saat inpartu menunjukkan kejadian kala II lama dan sebanyak 8 pasien (44,4%) pasien yang mengalami KPD saat belum inpartu menunjukkan kejadian kala II lama. Berdasarkan uji Chi-square didapatkan nilai p=0,031 (p<0,05).

Simpulan:Terdapat hubungan ketuban pecah dini dengan kala II lama pada ibu inpartu di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek.

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Desa Adiluhur Kecamatan Panca Jaya Kab Mesuji pada tanggal 20 Maret 1994, sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, dari Bapak Sarda Pakpahan dan Ibu Suyatmi Siregar.

Pendidikan Sekolah Dasar (SD) Negri 01 Adiluhur selesai pada tahun 2006. Selanjutnya, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Immanuel Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2009, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA YP Unila Bandar Lampung, selesai pada tahun 2012.

(9)

Janganlah hendaknya kamu kuatir

tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah

dalam segala hal keinginanmu kepada

Allah dalam doa dan permohonan

dengan ucapan syukur.

( filipi 4:6)

Ai ndang tarula hamu agia aha, anggo

so mandongan Ahu

(10)

SANWACANA

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa mencurahkan segala nikmat-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Skripsi dengan judul “hubungan ketuban pecah dini dengan kejadian kala II lama pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi

Lampung.” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., selaku Rektor Universitas Lampung.

2. Dr. dr. Muhartono, S.Ked.,M. Kes., Sp. PA., selaku Dekan Fakultas Kedoketran Universitas Lampung.

3. dr. Ratna Dewi P, S.Ked., Sp. OG selaku Pembimbing Utama sekaligus Pembimbing Akademik atas kesediaannya untuk memberikan motivasi, nasihat, bimbingan, saran, dan kritik yang bermanfaat dalam proses penyelesaian skripsi ini.

(11)

5. dr. Rodiani, M. Sc., Sp.OG selaku Penguji Utama pada Ujian Skripsi. Terima kasih atas waktu, ilmu dan saran-saran yang telah diberikan.

6. Seluruh staf pengajar dan karyawan Fakultas Kedokteran Unila atas ilmu, waktu, dan bimbingan yang telah diberikan dalam proses perkuliahan. 7. Seluruh staf TU, Administrasi dan Akademik FK Unila yang turut

membantu dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini.

8. Seluruh staf bagian rekam medis RSUD Dr H Abdul Moeloek Provinsi Lampung yang telah membantu penulis pada saat penelitian dalam menyediakan data yang diperlukan oleh penulis.

9. Terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Papa (Sarda Pakpahan), Mama (Suyatmi Siregar) dan Opung (Mei) atas doanya setiap saat, kerja kerasnya, kesabarannya, keikhlasannya, kasih sayangnya, dan atas segala sesuatu yang telah dan akan selalu diberikan kepada penulis agar tak pernah putus asa dalam meraih harapan dan cita-cita.

10. Teruntuk itokku Berlin Jekson Pakpahan, akang boruku Posma Uli Pakpahan Amd.Keb,, itokku Fades Lamganda Parulian Pakpahan, edaku Indah Puspita Sari Harianja Sp.d., akang bawaku Brigpol James Parlindungan Napitu S.H dan Kesayangan bou, ante, Senandung Nacita Pakpahan, Rafael Tristan Napitu, yang tercinta, yang tak henti-henti selalu memberikan motivasi, dorongan, semangat, dan doa bagi penulis.

(12)

12. Teruntuk sahabat tercinta dan tercucok Ika Noverina, Kharisma Mr, Vira Kambu, Ruthsuyata, dan Thasia yang selalu berbagi kebahagiaan, keceriaan dan kesedihan bersama selama perkuliahan ini.

13. Teruntuk teman yang tercinta Ketut Agustina, Tommy Ariansyah, Thea Riska, Suci Apria S, Syaiful, Jesica RH yang selalu setia, sabar, menemani, memotivasi sejak sekolah SMA hingga sekarang dan selamanya.

14. Teruntuk veteran Kadek Aryati, Hani Pratiwi, Janis Rivandi, Nikhola Risol, Putri Giani, Nahdia, Eka Endah L, Siti Zhania, Marisa Herani p, Shesy Sya’haya, terimakasih atas dukungan dan motivasinya.

15. Seluruh teman-teman Permako Medis yang telah mendukung dalam doa berjalannya skripsi dari awal sampai akhir.

16. Seluruh teman Angkatan 2012 yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu atas kebersamaan, keceriaan, kekompakan, kebahagiaan selama perkuliahan.

17. Seluruh kakak-kakak 2009, 2010, dan 2011 serta adik-adik tingkat 2013, 2014, 2015 dan 2016 yang selalu memberikan motivasi dan semangatnya dalam satu kedokteran.

18. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah memberikan bantuan dalam penulisan skripsi ini.

(13)

memberikan manfaat dan pengetahuan baru kepada setiap orang yang membacanya. Terima kasih.

Bandar Lampung, 1 November 2017 Penulis

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II.TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kala II Lama ... 6

2.1.1 Definisi ... 6

2.1.2 Etiologi ... 7

2.1.3 Diagnosis ... 8

2.1.4 Komplikasi ... 8

2.2 Ketuban Pecah Dini... 10

2.2.1 Definisi ... 10

2.2.2 Etiologi ... 10

2.2.3 Diagnosis ... 10

2.2.4 Penatalaksanaan ... 12

2.3 Hubungan Ketuban Pecah Dini dan Kala II Lama ... 17

2.4 Kerangka Teori ... 18

2.5 Kerangka Konsep ... 18

2.6 Hipotesis ... 18

BAB III.METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ... 19

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 19

3.3 Populasi dan Sampel ... 19

3.4 Kriteria Penelitian ... 20

3.5 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional ... 21

(15)

3.7 Alur Penelitian ... 23

3.8 Pengolahan dan Analisis Data ... 23

3.8.1 Pengolahan Data ... 23

3.8.2 Analisis Data ... 24

3.9 Etika Penelitian ... 25

BAB IV.HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 26

4.2 Pembahasan ... 28

BAB V.SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 33

5.2 Saran ... 33

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Definisi Operasional ... 21 2. Distribusi Ketuban Pecah Dini di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek

tahun 2016 ... 27 3. Distribusi Kala II Lama di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(18)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Angka kematian ibu merupakan salah satu indikator dalam menentukan kualitas dan aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan. Kematian ibu disebabkan oleh lima penyebab tersering yaitu perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, partus lama dan abortus (Depkes RI, 2015). Berdasarkan survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2012, AKI yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Oleh karena itu pada tahun 2012 Kementrian Kesehatan meluncurkan program Expanding Maternal dan Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan neonatal sebesar 25% (Depkes Lampung, 2015).

(19)

komplikasi persalinan yang dapat meningkatkan angka kematian dan kesakitan ibu dan janin (Netty,2013). Partus lama merupakan suatu masalah di Indonesia, khususnya didaerah pedesaan karena banyaknya persalinan yang ditolong oleh dukun tidak terlatih. Yuliasari (2016) menemukan bahwa pada tahun 2013 terdapat 172 ibu bersalin yang mengalami partus lama di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moloek Provinsi Lampung.

Kala II lama merupakan salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas ibu, meskipun menurut penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak bermakna (Goldberg, 2011). Menurut Fatoni (2011), paritas mempengaruhi terjadinya kala II lama. Nullipara memiliki faktor resiko 1,7 kali lebih besar untuk mengalami kala II lama dibandingkan dengan multipara, karena kala II lama merupakan abnormalitas fase kehamilan (abnormalities of second stages of labor) yang juga dapat menyebabkan kematian pada bayi.

Persalinan lama disebabkan karena mengejan yang salah, ketuban pecah dini, faktor janin, kelainan his dan panggul sempit (Kurniawwati,2013). Ketuban pecah dini mempengaruhi lamanya waktu persalinan, dimana kelompok yang mengalami ketuban pecah dini saat belum inpartu cenderung mengalami persalinan yang lama, sedangkan pada kelompok inpartu memiliki waktu persalinan yang cenderung sesuai (Nurhadi, 2013). Kerja hidrostatik selaput ketuban janin berperan dalam menimbulkan pendataran dan dilatasi serviks. Bila selaput ketuban pecah, maka bagian terbawah janin yang menempel ke serviks dan membentuk segmen bawah uterus memiliki fungsi yang sama sehingga akan mengakibatkan proses persalinan berlangsung lama (Cunningham, 2006).

(20)

Pada survei pendahuluan oleh peneliti di bagian kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung, ditemukan 24 kasus ketuban pecah dini dan 11 kasus kala II lama pada bulan November 2016. Selama periode tahun 2016, terdapat11 kasus kematian ibu yang berhubungan dengan ketuban pecah dini maupun kala II lama.

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian tentang hubungan ketuban pecah dini dengan kejadian kala II lama pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara ketuban pecah dini dengan kejadian kala II lama pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan ketuban pecah dini dengan kejadian kala II lama pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.

(21)

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui distribusi ketuban pecah dini pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung

2. Mengetahui kejadian kala II lama pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.

3. Mengetahui hubungan distribusi ketuban pecah dini dengan kejadian kala II lama pada ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti

1. Sebagai sarana penelitian untuk mengaplikasikan teori yang telah dipelajari selama kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan merupakan pengalaman berharga bagi peneliti dalam rangka menambah wawasan pengetahuan serta pengembangan diri khususnya dalam bidang penelitian.

2. Bagaimana penatalaksanaan yang tepat sehingga ibu yang di diagnosa dengan ketuban pecah dini tidak mengalami kejadian kala II lama.

(22)

1.4.2 Manfaat Bagi Institusi Terkait

Dapat menjadi dasar dan acuan informasi mengenai hubungan ketuban pecah dini dengan kala II lamasehingga dapat mengurangi kejadian kala II lama pada ibu bersalin, khususnya di Provinsi Lampung.

(23)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kala II Lama 2.1.1 Definisi

Partus lama adalah waktu persalinan yang memanjang karena kemajuan persalinan yang terhambat. Partus lama juga merupakan perlambatan kecepatan dilatasi serviks atau penurunan janin. Kala II lama disebut juga dengan kala II memanjang, yaitu tidak ada kemajuan penurunan bagian terendah janin pada persalinan kala II dengan batasan waktu maksimal 1 jam untuk nulipara dan ½ jam untuk multipara (Leveno, 2009).

(24)

2.1.2 Etiologi

Kala II lama dapat disebabkan oleh berbagai masalah, antara lain: a. Passage

Abnormalitas sistem reproduksi terjadi pada tumor pelvis, stenosis vagina kongenital, perineum kaku dan tumor vagina (WHO, 2002). b. Power

Faktor power adalah his, merupakan indikasi mulainya persalinan, apabila his yang timbul sifatnya lemah, pendek, dan jarang maka akan mempengaruhi turunnya kepala dan pembukaan serviks dan akan berpengaruh terhadap kala II lama (Keumalahayati, 2009). Menurut Sumarni (2012), frekuensi his mempunyai pengaruh terhadap lama kala II, semakin tinggi frekuensi his maka waktu yang dibutuhkan lamanya kala II semakin kurang.

c. Passenger

(25)

waktu yang dibutuhkan lama kala II semakin lama. Selain itu, presentasi abnormal dapat terjadi pada dahi, bahu, muka dengan dagu posterior dan kepala yang sulit lahir pada presentasi bokong. Bila pasien berada pada persalinan lanjut setelah ketuban pecah, bahu dapat terjepit kuat di bagian atas pelvis dengan satu tangan atau lengan keluar dari vagina (Prawirohardjo, 2009). Abnormalitas janin dapat terjadi bila ada kelainan pada janin seperti hidrosefalus, pertumbuhan janin lebih besar dari 4.000 gram, bahu yang lebar dan kembar siam.

2.1.3 Diagnosis Kala II Lama

Menurut American College of Obtetricians and Gynecologist, untuk menegakkan diagnosis kala II lama, wanita harus berada dalam fase kala II persalinan, dimana fase kala aktif telah selesai yang ditandai dengan pembukaan lengkap. Kala II lama (Prolonged Second Stage) diartikan sebagai memanjangnya waktu kala II dimana pada primigravida berlangsung lebih dari 2 jam dan pada multipara berlangsung lebih dari 1 jam (Leveno, 2009).

2.1.4 Komplikasi Kala II Lama

(26)

menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin.Selain itu dapat terjadi dehidrasi, syok, kegagalan fungsi organ-organ, robekan jalan lahir, ruptur uteri (Depkes RI, 2008).

Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama partus lama, terutama pada wanita dengan paritas tinggi dan pada mereka dengan riwayat bedah sesar. Robekan serta pembentukan fistula pada buli-buli, vagina, uterus dan rektum. Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke pintu atas panggul tetapi tidak maju untuk jangka waktu yang cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak di antaranya dan dinding panggul dapat mengalami tekanan berlebihan. Karena gangguan sirkulasi, maka dapat terjadi nekrosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah melahirkan dengan munculnya fistula vesikovaginal, vesikoservikal, atau rektovaginal. Umumnya nekrosis akibat penekanan ini terjadi setelah persalinan kala dua yang sangat berkepanjangan (Prawihardjo, 2009).

Menurut Myles &Santolaya (2002), kala II lama menimbulkan terjadinya morbiditas maternal yang meliputi laserasi jalan lahir, dan pendarahan postpartum sebanding dengan lama kala II berlangsung. Selain itu, prosedur tindakan bedah obstetri meningkat sesuai dengan lama dari kala II. Brown et al(2011) menemukan bahwa ibu dengan kala II lama memiliki resiko 1,4 kali terjadinya inkontinesia urine dibandingkan ibu yang tidak mengalami kala II lama dalam 3 bulan postpartum.

8

(27)

Komplikasi yang terjadi pada janin akibat kala II lama adalah gawat janin dalam rahim sampai meninggal. Selain itu, dapat terjadi kelahiran janin dalam asfiksia berat sehingga menimbulkan cacat otak menetap. Trauma persalinan merupakan akibat lain dari persalinan kala II lama yang dibantu dengan tindakan operatif per vaginam. Trauma tersebut meliputi eksoriasi kulit, sefalhematom, perdarahan subgaleal, ikterus neonatorum berat, dan nekrosis kepala yang akan diikuti alopesia di kemudian hari. Selain itu dapat terjadi patah tulang dada, lengan, kaki, kepala karena pertolongan persalinan dengan tindakan (Prawirohardjo, 2009).

2.2 Ketuban Pecah Dini 2.2.1 Definisi

Ketuban pecah dini atau disebut juga dengan premature rupture of the membranes (PROM) adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum proses persalinan. Sedangkan preterm premature rupture of the membranes (PPROM) adalah pecahnya ketuban pada pasien dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu (Cunnigham, 2001).

2.2.2 Etiologi

Ketuban pecah dini dapat disebabkan oleh karena menurunnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut.

(28)

Etiologi ketuban pecah dini antara lain adalah: a. Serviks inkompeten

Serviks inkompeten terjadi pada kanalis sevikalis yang selalu terbuka akibat kelainan pada serviks uteri, seperti akibat persalinan, kuretase, atau tindakan bedah obstetri lainnya.

b. Ketegangan uterus berlebihan

Tekanan intrauterine meningkat secara berlebihan atau over distensi uterus terjadi pada keadaan trauma, kehamilan ganda atau hidramnion.

c. Kelainan letak janin dan uterus

Letak sungsang atau letak lintang menyebabkan tidak adanya bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) sehingga terjadi halangan dalam tekanan terhadap membrane bagian bawah. d. Cephalo Pelvic Disproportion (CPD)

e. Amnionitis/ korioamnionitis

Infeksi yang menyebabkan terjadinya biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk preteolitik sel dapat mudahkan terjadinya pecah ketuban.

f. Faktor keturunan

Faktor keturunan yang berperan antara lain adalah rendahnya ion Cu dalam serum, vitamin C atau kelainan genetik.

g. Trauma

Trauma dapat terjadi setelah tindakan amniosentesis (Sualman, 2009; Devlieger, 2006).

(29)

2.2.3 Diagnosis

Diagnosis ketuban pecah dini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.

a. Anamnesis

Pasien merasakan basah pada vagina atau mengeluarkan cairan yang banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir. Cairan berbau khas dan perlu diperhatikan warnanya. Pada anamnesis juga dapat membantu menentukan usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir (HPHT). b. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan dengan pemeriksaan spekulum. Pada ketuban pecah dini, tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE). Jika tidak tampak cairan, fundus uteri ditekan dan penderita diminta batuk, mengejan atau bagian terendah digoyangkan, sehingga akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada forniks anterior. Selain pemeriksaan dengan spekulum, dapat dilakukan pemeriksaan dalam (vaginal toucher). Pada pemeriksaan dalam akan didapatkan cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. Pemeriksaan vaginal toucher (VT) perlu dipertimbangkan pada kehamilan yang kurang bulan karena saat pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora normal vagina. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen.

(30)

Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan pada kasus ketuban pecah dini yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan.

c. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium, tes lakmus, mikroskopik atau ultrasonografi (USG). Untuk menentukan ada atau tidaknya infeksi, kriteria laboratorium yang digunakan adalah adanya leukositosis maternal (leukosit >16.000/uL) dan adanya peningkatan C-reactive protein.

Pada pemeriksaaan tes lakmus, kertas lakmus merah akan berubah menjadi biru, menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). Normalnya pH air ketuban berkisar antara 7-7,5. Darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes yang positif palsu.

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering, lalu diperiksa dibawah mikroskop dan menunjukkan gambaran daun pakis.

Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Menurut Phelan, ada tiga cara pengukuran cairan ketuban, yaitu secara subyektif, semikuantitatif (pengukuran satu kantong), dan pengukuran empat kuadran. Penilaian subyektif volume cairan ketuban berdasarkan atas pengalaman subyektif pemeriksa di dalam menentukan volume tersebut berdasarkan apa yang dilihatnya pada saat pemeriksaan.

(31)

Normal jika masih ada bagian janin yang menempel pada dinding uterus, dan bagian lain cukup terisi cairan ketuban. Bila sedikit, maka sebagian besar tubuh janin akan melekat pada dinding uterus, sedangkan bila hidramnion, maka tidak ada bagian janin yang menempel pada dinding uterus (Prawirohardjo, 2009; Kusuma, 2012).

2.2.4 Penatalaksanaan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penatalaksanaan ketuban pecah dini adalah memastikan diagnosis, menentukan umur kehamilan, mengevaluasi ada tidaknya infeksi maternal ataupun infeksi janin, apakah dalam keadaan inpartu atau terdapat kegawatan janin.

2.2.4.1 Ketuban Pecah Dini dengan Kehamilan Aterm

a. Diberikan antibiotika profilaksis, ampisilin 4x500 mg selama 7 hari

b. Dilakukan pemeriksaan "admision test", bila hasilnya patologis dilakukan terminasi kehamilan

c. Observasi temperatur rektal setiap 3 jam, bila ada kecenderungan meningkat lebih atau sama dengan 37,6° C, segera dilakukan terminasi

d. Bila temperatur rektal tidak meningkat, dilakukan observasi selama 12 jam. Setelah 12 jam bila belum ada tanda-tanda inpartu dilakukan terminasi.

(32)

e. Batasi pemeriksaan dalam, dilakukan hanya berdasarkan indikasi obstetrik

f. Bila dilakukan terminasi, lakukan evaluasi Pelvic Score (PS): Bila PS lebih atau sama dengan 5, dilakukan induksi dengan oksitosin drip. Bila PS kurang dari 5, dilakukan pematangan servik dengan Misoprostol 50 ÎĽgr setiap 6 jam

per oral maksimal 4 kali pemberian.

2.2.4.1 Ketuban Pecah Dini dengan Kehamilan Preterm a. Penanganan di rawat di rumah sakit

b. Diberikan antibiotika : ampicillin 4 x 500 mg selama 7 hari c. Untuk merangsang maturasi paru diberikan

kortikosteroid (untuk usia kehamilan kurang dari 35 minggu): Deksametason 5 mg setiap 6 jam

d. Observasi di kamar bersalin

- Tirah baring selama 24 jam, selanjutnya dirawat di ruang obstetri

- Dilakukan observasi temperatur rektal tiap 3 jam, bila ada kecenderungan terjadi peningkatan temperatur rektal lebih atau sama dengan 37,6° C, segera dilakukan terminasi

e. Di ruang obstetri

- Temperatur rektal diperiksa setiap 6 jam

- Dikerjakan pemeriksaan laboratorium : leukosit dan laju endap darah (LED) setiap 3 hari

(33)

f. Tata cara perawatan konservatif : - Dilakukan sampai janin viable

- Selama perawatan konservatif, tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan dalam

- Dalam observasi selama 1 minggu, dilakukan pemeriksaan USG untuk menilai air ketuban. Bila air ketuban cukup, kehamilan diteruskan. Bila air ketuban kurang (oligohidramnion), dipertimbangkan untuk terminasi kehamilan.

- Pada perawatan konservatif, pasien dipulangkan pada hari ke-7 dengan edukasi

- Bila masih keluar air, perawatan konservatif dipertimbangkan dengan melihat pemeriksaan laboratorium. Bila terdapat leukositosis atau peningkatan LED, lakukan terminasi.

2.2.5 Komplikasi Ketuban Pecah Dini

Komplikasi pecahnya ketuban terhadap ibu dan bayi dapat meningkatkan mortalitasdan morbiditas perinatal. Komplikasi ketuban pecah dini pada bayi adalah:

a. Persalinan prematur b. hipoksia/asfiksia

c. sindrom deformitas janin d. infeksi antenatal.

(34)

Sedangkan komplikasi ketuban pecah dini pada ibu antara lain adalah: a. infeksi puerpuralis (nifas)

b. peritonitis c. septikemia.

2.3 Hubungan Ketuban Pecah Dini dan Kala II Lama

Ketuban pecah dini sangat mempengaruhi lama persalinan. Pada kala satu persalinan, selaput ketuban dan bagian terbawah janin berperan untuk membuka bagian atas vagina. Namun, setelah ketuban pecah, perubahan-perubahan dasar panggul seluruhnya dihasilkan oleh tekanan yang diberikan oleh bagian terbawah janin sehingga kerja hidrostatik selaput ketuban janin menimbulkan pendataran dan dilatasi serviks. Bila selaput ketuban sudah pecah, bagian terbawah janin yang menempel ke serviks dan membentuk segmen bawah uterus berfungsi sama, hal ini akan mengakibatkan terjadinya proses persalinan yang lama (Cunningham, 2006). Menurut Nurhadi (2013), ibu yang mengalami ketuban pecah dini saat belum inpartu cenderung mengalami persalinan yang lama,sedangkan ibu yang mengalami ketuban saat inpartu mengalami waktu persalinan yang cenderung sesuai.

(35)
[image:35.595.116.539.100.277.2]

2.4 Kerangka Teori

Gambar 1. Kerangka Teori (Modifikasi Dipta, 2010) dan (Nurul Huda, 2013)

2.5 Kerangka Konsep

Gambar 2. Kerangka Konsep

2.6. Hipotesis

Hipotesis kerja dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara ketuban pecah dini dengan kejadian kala II lama.

Ketuban Pecah Dini Kala II Lama

Variabel Independen Variabel Dependen Keterangan:

Variabel yang diteliti

18

Kala II Lama Mediko Obstetri

Paritas

Usia Kehamilan

[image:35.595.148.507.432.509.2]
(36)

19

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan metode cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara variabel dependen dan independen yang diteliti, serta pengumpulan data dilakukan sekaligus pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2010).

3.2 Tempat dan Waktu

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung pada bulan Maret tahun 2017.

3.3 Populasi dan Sampel

(37)

Moeloek Provinsi Lampung pada periode Januari-Desember tahun 2016 dengan menggunakan media rekam medic untuk mendapatkan informasi.

Sampel penelitian adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian ibu bersalin yang mengalami ketuban pecah dini. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus perhitungan sampel:

n =

n =

n = 64 orang Keterangan:

n = jumlah sampel

N = jumlah populasi (ibu bersalin yang mengalami ketuban pecah dini pada tahun 2016)

3.4 Kriteria Penelitian 3.4.1 Kriteria inklusi

a. Ibu bersalindengan usia antara 18-40 tahun b. Ibu bersalin dengan usia kehamilan aterm c. Ibu bersalin yang mengalami ketuban pecah dini

3.4.2 Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Ibu bersalin dengan kelainan jalan lahir.

b. Ibu bersalin dengan kelainan janin.

c. Ibu bersalin partus kasep yang terkondisi sectio cesarea.

18

(38)

3.5 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Identifikasi Variabel

a. Variabel independen adalah ketuban pecah dini. b. Variabel dependen adalahkala II lama.

3.5.2 Definisi Operasional

[image:38.595.164.532.342.557.2]

Adapun definisi operasional yang digunakan untuk memudahkan pelaksanaan penelitian dan agar penelitian tidak menjadi terlalu luas yaitu sebagai berikut.

Tabel 1. Definisi operasional

Variabel Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala

Ketuban pecah dini

Ketuban pecah dini

(KPD) didefinisikan

sebagai pecahnya ketuban

sebelum waktunya

melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh

sebelum waktunya

melahirkan (Sujiyatini,2009).

Rekam medik 1. Inpartu: sudah dalam keadaan persalinan 2. Belum inpartu : belum dalam keadaan persalinan Nominal

Kala II lama

Waktu yang dibutuhkan ibu setelah pembukaan lengkap

sampai keluarnya bayi

berdasarkan diagnosa dokter sesuai yang tertera dalam rekam medik (Dipta, 2010).

Rekam medik

1. Lama: >2 jam untuk nullipara dan 1 jam untuk multipara 2. Normal

Nominal

3.6Prosedur Penelitian

3.6.1 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi persalinan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.

(39)

3.6.2 Jenis Data

Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer. 3.6.3 Prosedur Penelitian

a. Pada tahap persiapan, peneliti menyusun proposal penelitian lalu setelah disetujui peneliti mengurus perizinan penelitian baik ke instansi pendidikan maupun ke lokasi penelitian yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Setelah mendapatkan surat izin penelitian, peneliti melakukan koordinasi dan mengajukan surat izin ke bagian rekam medik rumah sakit untuk melakukan penelitian.

b. Peneliti mencari rekam medik pasien sesuai kriteria sampel sebagai responden, lalu peneliti mengambil data pasien.

c. Setelah data hasil pengukuran diperoleh, peneliti melakukan input data ke dalam program statistik dan melakukan analisis data baik univariat maupun bivariat.

(40)

3.7. Alur Penelitian

[image:40.595.204.451.168.430.2]

Alur penelitian ini akan dilaksanakan sebagai berikut:

Gambar 3.Alur Penelitian

3.8. Pengolahan dan Analisis Data 3.8.1. Pengolahan Data

Data yang diperoleh dari proses pengumpulan data akan diubah dalam bentuk tabel-tabel. Tahap-tahap pengolahan data adalah sebagai berikut:

a. Editing, untuk meneliti kembali formulir data dan untuk memeriksa kembali data yang terkumpul apakah sudah lengkap, terbaca dengan jelas, tidak meragukan, terdapat kesalahan atau tidak dan sebagainya.

Penyusunan Hasil Penelitian

Persetujuan Ethical Clearance dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran UNILA

Izin dengan RSUD Dr H. Abdul Moeloek)

Pencarian Subyek Penelitian

Rekam Medik

Pengumpulan Data

Analisis Data

(41)

b. Coding, untuk menerjemahkan data yang dikumpulkan selama penelitian kedalam simbol yang cocok untuk keperluan analisis. c. Data entry, memasukkan data kedalam komputer.

d. Verifikasi, melakukan pemeriksaan secara visual terhadap data yang telah dimasukkan ke komputer.

e. Output komputer, hasil analis yang telah dilakukan komputer kemudian dicetak

3.8.2.Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan software SPSS versi 23 dan akan dilakukan 2 macam analisis data, yaitu analisis univariat dan bivariat.

a. Analisis Data Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing variabel, baik bebas, dan variabel terikat.Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan perhitungan statistik sederhana yaitu statistik deskriptif.

b. Analisa Bivariat

Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel ketuban pecah dini dan variabel kala IIlama menggunakan uji Chi-Square.

- Jika p<0,05 berarti terdapat hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat

(42)

- Jika p>0,05 berarti tidak terdapat hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat

3.9 Etika Penelitian

Penelitian ini telah diajukan ke Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

(43)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Terdapat hubungan ketuban pecah dini dengan kala II lama pada ibu inpartu di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.

2. Kejadian ketuban pecah dini pada saat inpartu di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung adalah sebesar 73,9 %.

3. Kejadian kala II lama pada belum inpartu di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung adalah sebesar 44,4 %.

4. Kejadian kala II lama pada ibu ketuban pecah dini di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung adalah sebesar 65,2 %.

5.2 Saran

(44)

2. Bagi masyarakat khususnya ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya secara teratur sehingga tidak terjadi komplikasi maupun penyulit dalam persalinan.

3. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai acuan mengenai teori yang berhubungandengan persalina kala II lama dan ketuban pecah dini. 4. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian

inidengan menggali faktor lain yang berhubungan dengan kejadian ketubanpecah dini dan kala II lama pada ibu bersalin sehinggahasilnya dapat dijadikan sebagaimasukan dalam upaya penurunan mortalitas dan morbiditas yang diakibatkan oleh kala II lama.

(45)

DAFTAR PUSTAKA

Aisah S, Oktarina A. 2012. Perbedaan kejadian ketuban pecah dini antara primipara dan multipara. J Midpro

Depkes RI. 2008. Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam di Rumah Sakit. Jakarta: Bakti Husada.

Brown SJ, Gartland D, Donath S, MacArthurc C. 2011. Effects of prolonged second stage, method of birth, timing of cesarean section and other obstetric risk factors on postnatal urinary incontinence: an australian nulliparous cohort study. Intern J Obstet Gynaec. 118(8):991-1000.

Chapman V. 2006. Asuhan Kebidanan Persalinan & Kelahiran. Jakarta: EGC Cunningham GF. 2006. Obstetri William. Edisi 21. Jakarta: EGC.

Dahlan, MS. 2012. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014.

Devlieger R, Millar LK, Bryant G, Lewi L, Deprest J. 2006. Fetal membrane healing after spontaneous and iatrogenic membrane rupture: a review of current evidence. Americ J of Obs and Gynec. 195. 1512-20.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2014.

Dipta TP. 2010. Karakteristik ibu bersalin dengan partus tak maju rawat inap di rs santa elisabeth medan. [Skripsi]. Universitas Sumatera Utara.

Fatoni AA. 2011. Hubungan usia ibu, paritas dan berat lahir terhadap kala II lama di rumah sakit adji darmo lebak. [Skripsi]. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Huda N. 2013. Faktor – faktor yang mempengaruhi ketuban pecah dini di RS PKU Muhammadiyah Surakarta. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(46)

Kiranmaie S. 2016. Assessing the fetal outcome in premature rupture of membranes. Journal of dental and medical sciences; 15(5) : 55-58.

Kusuma J. 2012. Ketuban pecah dini dan peranan amniopatch dalam penatalaksanaan ketuban pecah dini preterm. Bali: Obstetri dan Ginekologi Universitas Udayana.

Leveno KJ, Cunnigham FG, Gant NF, et al. 2009. Obstetri Williams: Panduan Ringkas. Jakarta: EGC.

Manuaba. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC.

Milad M. M. Gahwagi, Musa O. Busarira, Mona Atia. 2015. Premature Rupture of Membranes Characteristics, Determinants, and Outcome of in Benghazi, Libya. Vol (5) hl: 494-504. Libya.

Myles, Thomas D, Santolaya, Joaquin. 2003. Maternal and neonatal outcomes in patients with a prolonged second stage of labor. J Obstet Gynecol Amer.102(1): 52-8.

Ness A, Golberg J, Berghella, Vicenzo. 2005. Abnormalities of the first and second stages of labor. J Obstet Gynecol Clin. 32: 201-20.

Notoatmodjo S. 2010. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 153-4.

Notoatmodjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Nurhadi M. 2013. Hubungan ketuban pecah dini dengan lama persalinan pada

ibu inpartu di rsud dr. r. koesma tuban. [Skripsi]. Stikes NU Tuban.

OlvaM. 2001. Faktor-faktor yang berhubungan dengan lama persalinan di rsuunit swadana daerah kabupaten subang jawa barat tahun 2001

Oxorn H. 2003. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan Human of Labor and Birth. Jakarta: Yayasan Essentia Medica.

Prawirohardjo S. 2009. Ilmu Kebidanan. Edisi 4. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.

Profil Kesehatan Indonesia 2014. 2015. Kementrian Kesehatan RI

Sarumpaet S. 2001. Komplikasi persalinan dan analisis upaya penanggulangan di propinsi sumatera utara. Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap Dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat. Medan: FKM USU.

(47)

Sumarni, Masni, Hadju V. 2012. Determinant factor of delivery duration of second period and the inpact on placenta release for primigravida.

WHO. 2002. Modul Persalinan Kasep. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran. Yuliasari D. 2016. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian partus lama

Figure

Gambar 2. Kerangka Konsep
Tabel 1. Definisi operasional Variabel Definisi
Gambar 3.Alur Penelitian

References

Related documents

The president Vladimir Putin signed the law in 20 th of July and it was to step in force the same year 20 th of November (Ria Novosti 2012a). Because foreign agency does not

Previous Internet use; age of onset for Internet use; frequency of Internet use; daily time spent online; devices used for Internet use; setting for Internet use; reasons for

For this, we have developed a novel approach for detecting missing bug- fixes in code clones by combining clone evolution analysis with information gathered from the version

To achieve these objectives, a number of programmes are put in place, covering the protection of athletes’ health, equality between men and women, ensuring that athletes from

Deficiency of IgG myeloma proteins for the pep- sin site occurred in all M-components of the Ge or Ne H-chain subgroup; universal deficiency was not a feature of the Vi myelomas

The inhibition of the vagal-induced AV block by potassium and the failure of the cation to af- fect either sinus arrhythmia or the heart rate in- dicate a dissociation between

The results of the present study indicate that 1) Na+ is necessary for the active transport of AIB and its stimulation by insulin, 2) sugar trans- port and its insulin stimulation

McMurrey and co-workers (7) meas- ured total exchangeable chloride, potassium, and sodium (Cle, Ke, and Nae), red cell mass, plasma volume, and TBW in a group of ten healthy men..