• No results found

Text Abstrak pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text Abstrak pdf"

Copied!
12
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia merupakan provinsi dengan

kemajemukan baik suku, ras, dan agama. Kemajemukkan tersebut yang

menyebabkan persaingan di segala bidang kehidupan, termasuk didalamnya untuk

mempersiapkan sumber daya manusia penerus yang memiliki daya saing tinggi.

Upaya untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia melalui

pendidikan perlu mendapat perhatian khusus, karena pembangunan suatu bangsa

akan berhasil dengan baik jika bangsa tersebut telah berhasil membangun sumber

daya manusianya terlebih dahulu. Sumber daya manusia yang juga merupakan

generasi penerus bangsa adalah remaja.

Masa remaja merupakan masa atau periode yang penuh dengan tekanan atau stres

karena ketegangan emosi yang meningkat 1 akibat perubahan fisik dan hormon

yang ditandai oleh pertumbuhan fisik, pengembangan kepribadian, kebutuhan

untuk pencapaian kedewasaan, kemandirian, serta adaptasi antara peran dan

fungsi dalam kebudayaan dimana ia berada.2 Remaja seharusnya diberikan

pembinaan-pembinaan yang dapat membentuk suatu pribadi yang baik kelak,

1 Sarlito Wirawan Sarwono. 1989. Psikologi Remaja. Jakarta: CV Rajawali. hlm. 12. 2

(2)

tetapi yang terjadi, disaat pembinaan dilakukan terkadang ada penyimpangan yang

dilakukan remaja pada usianya.

Surat-surat kabar di Indonesia belakangan hari ini dipenuhi oleh kasus-kasus

tawuran yang sudah dianggap sebagai budaya. Tawuran pelajar adalah

perkelahian massal yang dilakukan oleh sekelompok siswa terhadap sekelompok

siswa lainnya dari sekolah yang berbeda.3 Tawuran antar pelajar seharusnya tidak

terjadi, namun semakin hari maka semakin banyak peristiwa tawuran antarpelajar

sehingga banyak pihak merasa prihatin. Tawuran selalu melibatkan puluhan dan

bahkan ratusan siswa yang saling menyerang, oleh sebab itu siapapun tidak boleh

menganggapnya sebagai persoalan kecil. Tawuran juga tidak boleh dianggap

persoalan kecil karena dampak tawuran sangatlah jelas dan bersifat merugikan,

baik kerugian secara materi ataupun non materi. Kerugian materi biasanya berupa

kerusakan pada fasilitas umum dan fasilitas pribadi (gedung sekolah, sarana jalan

raya, angkutan umum, kendaraan pribadi dll). Kerugian non-materi terlihat dari

semakin banyaknya orang yang menjadi korban tawuran, baik dari pihak pelajar

yang terlibat langsung maupun pelajar dan masyarakat yang tidak terlibat tetapi

ada di lokasi.4

Kasus tawuran terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Berdasarkan data Bina Masyarakat Kepolisian Daerah (Binmas Polda) Metro

Jaya, tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar di Jakarta dan dua tahun

berikutnya meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar. Data

3

Ridwan, Hana Karlina. 2006. Agresi pada Siswa – Siswa SLTA yang Melakukan dan Tidak Melakukan Tawuran Pelajar. Tesis yang tidak dipublikasikan. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

4 Hasbalah M. Saad. 2003. Perkelahian Pelajar, Potert Siswa SMU di DKI Jakarta.

(3)

pada tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2

anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar

serta 2 anggota Polri, lalu tahun 2000 korban meningkat dengan 37 korban tewas.5

Salah satu contoh yang terjadi pada kasus tawuran antar sekolah yang melibatkan

dua Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta Selatan. Pada Senin (24/9/2012)

Alawy Yusianto Putra, siswa kelas 10 SMA 6, tewas akibat diserang oleh

sekelompok siswa yang berasal dari SMA 70. Alawy yang saat itu berada di TKP

(Tempat Kejadian Perkara) menjadi korban penusukan tepat di bagian dada. Luka

tersebut membuat Alawi menghembuskan nafas terakhir. 6 Tidak hanya pelajar

SMA 6 dan SMA 70 saja yang melakukan tawuran. Tercatat Rabu (26/9/2012)

pukul 13.12 WIB kembali terjadi tawuran pelajar. Tawuran Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) Kartika Zeni Matraman dengan SMK Yaka Kampung Melayu

mengakibatkan jatuhnya satu orang korban dari SMA Yaka atas nama Deni

Yanuar siswa kelas 12 IPS.7

Kedua kejadian tersebut terjadi dalam bulan yang sama di wilayah hukum Jakarta

Selatan. Dua korban meninggal dunia akibat aksi tawuran yang dilakukan para

pelajar SMA ini. Saat ini, kepolisian masih melakukan penyidikan. Penyidik

Polres Metro Jakarta Selatan telah memeriksa 41 siswa untuk dimintakan

keterangannya. Saksi-saksi tersebut berasal dari pelajar yang terlibat tawuran,

5

Zulkarnaen Sander Diki. 2011. Tawuran pelajar memprihatinkan dunia pendidikan. http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/258-tawuran-pelajar-memprihatinkan-dunia-pendidikan.html. Diakses 15 November 2012.

6 Kompas. 2012. Tawuran SMA 70 dan SMA 6, Satu Pelajar Tewas.

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/24/15085538/Tawuran.SMA.70.dan.SMA.6.Satu.Pe lajar.Tewas. Diakses 15 November 2012.

7 Tempo.co. 2012. Tersangka tawuran di Manggarai

(4)

guru-guru dari kedua sekolah, pedagang dan warga yang berada di sekitar lokasi

tawuran. Gelar perkara kemungkinan akan dilaksanakan dalam waktu dekat

setelah diperoleh gambaran yang jelas. Tidak tertutup kemungkinan akan adanya

tersangka baru dalam kasus yang telah memunculkan nama FR, siswa SMA

Negeri 70 sebagai tersangka utama. Adapun langkah hukum lanjutan untuk para

pelajar yang nantinya akan dijadikan tersangka seperti dikatakan Kapolres Metro

Jakarta Selatan, Kombes Pol Wahyu Hadiningrat, akan dicermati kemungkinan

dikenakan pasal 351, 170, dan 338 dengan tetap mempertimbangkan usia pelaku

yang masih dibawah umur.8

Masa SMA yang memiliki rentan usia 15-18 tahun bisa dikatakan merupakan

masa peralihan seseorang dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa atau yang

lebih sering kita kenal dengan istilah masa remaja. Perkembangan remaja memang

tidak terlepas dari lingkungan dimana ia berada. Lingkungan yang dimaksud tidak

hanya keluarga tapi termasuk juga sekolah. Sekolah sebagai institusi yang

menyediakan pendidikan dan pengajaran. Tetapi ada beberapa yang menjadikan

sekolah sebagai sarana pengelompokkan yang akhirnya menjadi geng brutal dan

anarkis, seperti Geng Balistik dan Geng Gestapo di SMA 70.9 Perhatian sekolah

yang kurang maksimal, latar belakang ekonomi, pembinaan pemerintah yang

kurang maksimal, lingkungan sekolah dan keluarga, dan bahkan ada yang

berpendapat bahwa jam pelajaran agama dirasa masih kurang jumlahnya. Ada

juga yang berpandangan bahwa tawuran bukan disebabkan oleh satu atau dua

8

Kompas.2012. Tawuran SMA 6 vs SMA 70 menahun ada apa?

.http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/26/09494948/Tawuran.SMA.6.Vs.SMA.70.Menahu n.Ada.Apa. Diakses 14 November 2012.

9

Kompas. 2012. Ada Geng di Setiap Angkatan di SMAN 70.

(5)

faktor, melainkan dari akumulasi berbagai faktor yang saling berkaitan antara satu

dengan lainnya. Atas dasar pandangan itu, maka usaha pencegahan juga

seharusnya dilakukan dengan berbagai cara, baik oleh guru, sekolah dan juga

pihak kepolisian, tetapi sekalipun cara-cara itu sudah ditempuh, ternyata masih

terjadi peristiwa seperti itu dari waktu-ke waktu. Bahkan semakin lama,

frekuensinya semakin banyak.10 Frekuensinya yang semakin banyak itu yang

membuat timbul pertanyaan apa yang menjadi faktor penghambat dari

penanggulangannya.

Kasus tawuran diatas merupakan sebagian contoh tindak pidana yang terjadi dan

membuktikan kepada masyarakat bahwa di sekolah-sekolah khususnya di Jakarta

Selatan ada kelompok-kelompok brutal dan anarkis yang kadang bertindak sesuka

hatinya antara lain merusak fasilitas umum dengan mencorat-coret serta

melakukan aksi penganiayaan dan pengeroyokan bahkan menyebabkan hilangnya

nyawa seseorang.

Kasus tawuran yang terjadi tidak dapat dipandang sebagai kenakalan remaja,

tetapi sudah termasuk tindakan kriminal. Adanya tindak pidana yang terjadi di

dalam tawuran tentunya memerlukan penegakan hukum dari berbagai pihak yang

terkait, terutama kepolisian. Berdasarkan uraian di atas, penulis akan melakukan

penelitian dengan judul “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Pelaku Tawuran

Pelajar SMA (Studi Kasus di Wilayah Hukum Kepolisian Resor Metro Jakarta

Selatan).”

10

UIN Maulana Malik Ibrahim. 2012. Tawuran antar Siswa dan Evaluasi Pendidikan Secara Menyeluruh.

(6)

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka yang menjadi

permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagaimanakah penegakan hukum pidana terhadap para pelaku tawuran

pelajar Sekolah Menengah Atas (studi kasus di wilayah hukum Polres Metro

Jakarta Selatan) ?

b. Apakah faktor-faktor penghambat penegakan hukum pidana terhadap para

pelaku tawuran pelajar Sekolah Menengah Atas (studi kasus di wilayah

hukum Polres Metro Jakarta Selatan) ?

2. Ruang Lingkup

Ruang Lingkup dalam skripsi ini menggunakan kajian ilmu kriminologi yang

merupakan salah satu ilmu bantu dalam ilmu hukum pidana. Substansi skripsi ini

ialah menitikberatkan pada penegakan hukum pidana yang dilakukan kepolisian,

khususnya dalam kasus tawuran pelajar SMA. Daerah penelitian juga penulis

hanya membatasi di wilayah hukum Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan dalam

penulisan ini adalah :

a. Untuk mengetahui tentang penegakan hukum pidana terhadap para pelaku

(7)

b. Untuk mengetahui tentang faktor-faktor penghambat penegakan hukum

terhadap para pelaku tawuran pelajar Sekolah Menengah Atas.

2. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini memiliki dua kegunaan, yaitu kegunaan teoritis dan kegunaan

praktis.

a. Kegunaan Teoritis

Secara teoritis diharapkan penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi

perkembangan ilmu hukum memberikan sumbangan pikiran dan salah satu

referensi untuk penelitian lain pada umumnya serta perkembangan hukum pidana

pada khususnya mengenai penegakan hukum pidana oleh kepolisian dalam kasus

tawuran pelajar.

b. Kegunaan Praktis

Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi aparat

penegak hukum mengenai penegakan hukum pidana terhadap para pelaku tawuran

pelajar agar dapat dicari jalan keluar yang terbaik dalam mengatasi masalah

tawuran pelajar SMA ini.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstraksi

(8)

mengadakan identifikasi terhadap dimensi sosial yang dianggap relevan oleh

peneliti.11

a. Teori Penegakan Hukum

Hamis MC.Rae mengatakan bahwa penegakan hukum dilakukan dengan

pendayagunaan kemampuan berupa penegakan hukum dilakukan oleh orang yang

betul-betul ahli dibidangnya dan dalam penegakan hukum akan lebih baik jika

penegakan hukum mempunyai pengalaman praktek berkaitan dengan bidang yang

ditanganinya.12

Joseph Goldstein membedakan penegakan hukum menjadi tiga yaitu total

enforcement, full enforcement dan actual enforcement.13

1) Total enforcement adalah penegakan hukum sebagaimana yang dirumuskan

atau dituliskan oleh hukum pidana materiil atau hukum pidana substantive

atau substantive of crimes.

2) Full enforcement adalah penegakan hukum yang dilakukan secara maksimal

oleh aparat penegak hukum.

3) Actual enforcement adalah melakukan penegakan hukum yang tersisa dan

belum dilakukan oleh dua tahap tersebut diatas.

11 Soerjono Soekanto. 2005. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: Rineka Cipta. hlm. 123. 12 Ridwan HR. 2008. Hukum Administrasi Negara. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. hlm. 17. 13 Muladi. 1995. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. Semarang: Badan Penerbit Undip. hlm.

(9)

b. Teori Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum

Teori yang digunakan dalam membahas faktor-faktor yang mempengaruhi

penegakan hukum adalah teori efektivitas hukum yang dikemukakan oleh

Soerjono Soekanto mengenai penghambat penegakan hukum14, yaitu:

1) Faktor hukumnya sendiri. Terdapat beberapa asas dalam berlakunya

undang-undang yang tujuannya adalah agar undang-undang-undang-undang tersebut mempunyai

dampak positif. Artinya, agar undang-undang tersebut mencapai tujuannya

secara efektif di dalam kehidupan masyarakat.

2) Faktor penegak hukum.Penegak hukum mempunyai kedudukan (status) dan

peranan (role). Seorang yang mempunyai kedudukan tertentu lazimnya

dinamakan pemegang peranan (role occupant). Suatu hak sebenarnya

wewenang untuk berbuat atau tidak berbuat, sedangkan kewajiban adalah

beban atau tugas.

3) Faktor sarana atau fasilitas. Penegakan hukum tidak mungkin berlangsung

lancar tanpa adanya faktor sarana atau fasilitas. Sarana dan fasilitas tersebut

antara lain mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil,

organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup dan

seharusnya.

4) Faktor masyarakat. Penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan

untuk mencapai kedamaian di dalam masyarakat. Oleh karena itu, dipandang

14

(10)

dari sudut tertentu maka masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum

tersebut.

5) Faktor kebudayaan. Kebudayaan (sistem) hukum pada dasarnya mencakup

nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-nilai yang merupakan

konsepsi-konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik (sehingga

dianut) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari).

2. Konseptual

Kerangka konseptual adalah kerangka yang menghubungkan antar konsep-konsep

khusus yang merupakan kumpulan arti-arti yang berkaitan dengan istilah-istilah

yang ingin atau akan diteliti.15

Adapun kerangka konseptual dalam penulisan skripsi ini penulis akan

mempergunakan istilah-istilah atau pengertian-pengertian yang akan dibahas,

yaitu :

a. Penegakan hukum menurut Satjipto Rahardjo16 penegakan hukum adalah

penegakan ide-ide atau konsep-konsep yang abstrak, dan merupakan usaha

untuk mewujudkan ide-ide tersebut menjadi kenyataan.

b. Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum pidana dinyatakan

sebagai perbuatan yang dilarang.17

15 Soerjono Soekanto. 2005. Op.Cit. hlm. 132.

16

Satjipto Rahardjo. 1994. Masalah Penegakan Hukum , Suatu Tinjauan Sosiologis. Bandung: Sinar Baru. hlm. 15.

17

(11)

c. Tawuran pelajar adalah perkelahian massal yang dilakukan oleh sekelompok

siswa terhadap sekelompok siswa lainnya dari sekolah yang berbeda.18

d. Remaja adalah masa peralihan yang ditempuh oleh seseorang dari

kanak-kanak menuju ke dewasa atau perpanjangan masa kanak-kanak-kanak-kanak sebelum masa

dewasa.19

e. Kenakalan remaja adalah wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan

dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya.

Biasanya ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak

menyenangkan dari lingkungan, maupun trauma terhadap kondisi

lingkungannya, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah

diri.20

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini memuat uraian keseluruhan yang akan disajikan dengan

tujuan guna mempermudah pemahaman terhadap skripsi ini secara keseluruhan,

maka disajikan sistematis sebagai berikut:

18 Ridwan, Hana Karlina. 2006. Agresi pada Siswa – Siswa SLTA yang Melakukan dan Tidak Melakukan Tawuran Pelajar. Tesis yang tidak dipublikasikan. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

19

Darajat, Zakiyah. 1995. Remaja Harapan dan Tantangannya. Jakarta:Ruhama. hlm 102.

20 Eliasa Eva Amalia. 2012. Kenakalan Remaja : Penyebab & Solusinya.

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/Microsoft%20Word%20-%20KENAKALAN%20REMAJA_PENYEBAB%20DAN%20SOLUSI_.pdf. Diakses 15

(12)

I. PENDAHULUAN

Merupakan bab yang menguraikan latar belakang, masalah dan ruang lingkup,

tujuan dan kegunaan, kerangka teoritis dan konseptual serta sistematika

penulisan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Merupakan bab pengantar yang menguraikan pengertian penegakan hukum

pidana, pengertian remaja serta faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan

hukumnya.

III. METODE PENELITIAN

Merupakan bab yang membahas tentang metode yang digunakan dalam

penulisan skripsi ini yang meliputi pendekatan masalah, sumber dan jenis

data, pengumpulan data dan pengolahan data serta analisis data.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Merupakan penjelasan dan pembahasan yang mengemukakan hasil penelitian

mengenai penegakan hukum pidana terhadap para pelaku tawuran serta

faktor-faktor penghambat penegakan hukumnya terhadap para pelaku tawuran pelajar

Sekolah Menengah Atas di Jakarta Selatan.

V. PENUTUP

Merupakan bab terakhir yang berisikan kesimpulan dari penelitian yang telah

References

Related documents

[r]

through information technology Deepen our awareness and knowledge of Princeton’s operations through integrated data and premier analysis & reporting tools Ensure the security

взаимодействия экстремизма и нормы, выводов, полученных в результате применения социокультурного подхода, можно выделить следующие

Electromation, Inc., an Indiana corporation, manufactures elec- trical components.' Due to financial losses, the company modified certain employee benefits. After a

Considering this fact, the life prediction of treated woven JGT has been carried out under water ambience by monitoring loss in tensile strength at different intervals

Whole-cell fingerprinting by matrix-assisted laser desorption ionization–time-of-flight mass spectrometry (MALDI-TOF MS) in combination with a dedicated bioinformatic software

Agonist refractory genes (Figure 3C) are agonist inducible genes in MDMs that showed no such regulation (same logFC threshold) or less than 50% induction (fold change) by L165,041

The observed low oxygen affinity of the hemo- globin in buffered solutions leaves little doubt that the abnormal dissociation curve of the blood was caused by the properties of