I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang dan Masalah
Strategi pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis dan agroindustri pada
dasarnya menunjukkan arah bahwa pengembangan agribisnis merupakan suatu upaya
sangat penting untuk mencapai beberapa tujuan yaitu : menarik dan mendorong
munculnya industri baru di sektor pertanian, menciptakan struktur perekonomian
yang tangguh, efisien dan fleksibel, menciptakan nilai tambah, meningkatkan
penerimaan devisa, menciptakan lapangan kerja dan memperbaiki pembagian
pendapatan (Soekartawi, 2000).
Pengembangan sektor industri pengolahan (termasuk di dalamnya agroindustri)
merupakan salah satu opsi yang perlu dipertimbangkan. Pengembangan sektor
agroindustri memiliki beberapa sasaran, yaitu : (1) sebagai penggerak pembangunan
sektor pertanian dengan menciptakan pasar permintaan input untuk produk
olahannya, (2)menciptakan lapangan kerja, (3) meningkatkan nilai tambah, (4)
meningkatkan penerimaan devisa, dan (5) meningkatkan pemerataan pembagian
pendapatan. Agroindustri pangan skala UKM berperan pula dalam peningkatan
pendapatan rumah tangga petani dan pedesaan. Pendapatan petani terkait dengan
keberlanjutan perannya sebagai pemasok bahan baku industri. Peningkatan
pendapatan pengusaha agroindustri skala UKM terkait dengan keberlanjutan
produksi dan jaringan pemasaran. Peningkatan pendapatan baik individu maupun
Agroindustri merupakan industri berbasis sumber daya, agroindustri berpotensi dapat
meningkatkan cadangan devisa serta penyediaan lapangan kerja. Hal ini dinilai
strategis mengingat Indonesia merupakan satu dari sedikit negara di daerah tropis
yang memiliki keragaman hayati (biodiversity) cukup besar. Indonesia adalah salah
satu negara yang memiliki sumberdaya alam berupa lahan yang relatif cukup luas dan
subur. Indonesia memiliki iklim, suhu dan kelembaban yang cocok untuk kebutuhan
pertumbuhan tanaman pangan pokok, maka hampir seluruh tanaman pangan pokok
tersebut (biji-bijian, umbi-umbian dan kacang-kacangan asli Indonesia) dapat tumbuh
dengan relatif baik. Salah satu jenis tanaman pangan yang sangat dibutuhkan oleh
sebagian besar penduduk Indonesia adalah tanaman kedelai (Glysine max (L) Merril)
(AAK, 1989).
Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan
jagung. Kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang
memiliki arti penting dalam industri pangan dan pakan. Kedelai mampu
memperbaiki gizi masyarakat bila dimasukkan dalam pola konsumsi sehari-hari,
karena mengandung kadar protein yang tinggi, vitamin dan mineral serta sumber
lemak, baik dalam bentuk segar maupun olahan seperti: tempe, tahu, kecap, tauco,
minuman sari/susu kedelai, dan sebagainya.
Kebutuhan akan kedelai di Indonesia sekitar 2,4 juta ton/tahun. Sekitar 70 – 80
persen atau sekitar 1,6 juta ton – 1,9 juta ton/tahun diantaranya yang diolah oleh
pengrajin tahu tempe. Namun produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi
Indonesia adalah kedelai impor yang harganya berfluktatif. Volume impor kedelai
selama tahun 2002 – 2007 rata – rata mencapai 63, 94% dari total kebutuhan dalam
negeri. Dengan kata lain, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar
36,06% dari total kebutuhan (litbang deptan, 2010). Perkembangan volume impor
[image:3.612.105.424.250.572.2]kedelai disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Perkembangan impor dan ekspor kedelai di Indonesia 1970-2007
Tahun Volume Impor (ton) Volume Ekspor (ton) Neraca (ton) 1970 1972 1974 1976 1978 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2005 2006 2007 0 183 150 171.746 130.498 100.878 361 401.024 359.271 465.839 541.060 694.133 800.461 746.329 343.124 1.277.685 1.365.253 1.117.790 1.086.178 1.132.144 2.240.795 3.953 3.055 4.148 554 0 0 10 0 0 38 240 3.911 31 240 0 521 235 13 0 0 0 3.593 2.872 3.998 -171.192 -130.498 -100.878 -351 -401.024 -359.271 -465.801 -540.820 -690.222 -800.430 -746.089 -343.124 -1.277.164 -1.365.018 -.1.117.777 -1.086.178 -1.132.144 -2.240.795
Sumber : FAO, 2010.
Lampung merupakan propinsi yang perkembangan ekonominya sebagian besar
didukung oleh sektor pertanian dan sektor industri pengolahan, maka Propinsi
pengolahan berbahan baku produk pertanian yang dikenal dengan agroindustri
berbasis sumberdaya alam. Salah satu hasil industri pengolahan yang memiliki nilai
ekonomis tinggi dan mempunyai peluang untuk dikembangkan adalah agroindustri
tahu dan tempe. Produk pangan berupa tahu, tempe, dan kecap memerlukan kedelai
dalam jumlah besar. Tahu dan tempe dikonsumsi minimal tiga kali atau lebih dalam
satu minggu. Total produksi kedelai sekitar 80% adalah digunakan untuk memenuhi
kebutuhan pembuatan tahu dan tempe, sedangkan sebagian lainnya diolah untuk
kecap, susu kedelai, dan makanan ringan (litbang deptan, 2010). Tahu dan tempe
merupakan sumber protein nabati yang cukup penting bagi masyarakat Indonesia.
Komposisi zat gizi tahu dan tempe dari kedelai per 100 gram bahan yang dapat
[image:4.612.110.380.416.586.2]dimakan disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3.
Tabel 2. Komposisi zat gizi tempe per 100 gram bahan yang dapat dimakan
Zat Gizi Jumlah
Energi (kkal) Protein (gram) Lemak (gram) Hidrat arang (gram) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Besi (mg) Vit A (µg RE) Vitamin B(mg) Vitamin C (mg) Seng (mg)
149 18,3 4 12,7
129 154 10
6 0,2
0 1,5
Sumber : Indriani, Y. 2005
Tabel 2 menunjukkan bahwa tempe memiliki hampir semua kandungan gizi yang
dibutuhkan oleh masyarakat. Kandungan zat gizi dalam tempe yang yang cukup
gr dan 154 mg. Hal ini menunjukkan bahwa tempe dapat memberikan sumbangan
yang cukup besar terhadap gizi masyarakat jika dimasukkan ke dalam pola konsumsi
[image:5.612.110.380.195.365.2]sehari - hari.
Tabel 3. Komposisi zat gizi tahu per 100 gram bahan yang dapat dimakan
Zat Gizi Jumlah
Energi (kkal) Protein (gram) Lemak (gram) Hidrat arang (gram) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Besi (mg) Vit A (µg RE) Vitamin B(mg) Vitamin C (mg) Seng (mg)
68 7,8 4,6 1,6 124
63 0 0 0,1
0 1,5
Sumber : Indriani, Y. 2005
Tabel 3 menunjukkan bahwa tahu merupakan salah satu bahan makanan yang dapat
menyumbangkan zat gizi yang cukup besar bagi masyarakat. Kandungan zat gizi
yang cukup besar dalam tahu adalah kalsium yaitu sebesar 124 mg, protein sebesar
7,8 gr dan energi sebesar 68 kkal. Hal tersebut menunjukkan bahwa tahu dapat
dipilih sebagai salah satu makanan yang baik untuk dikonsumsi dalam pemenuhan
gizi masyarakat.
Propinsi Lampung merupakan salah satu propinsi potensial untuk pengembangan
klaster agroindustri di luar Jawa, terutama yang berbasis komoditas pertanian
antara lain klaster agroindustri skala UKM. Agroindustri di Propinsi Lampung yang
berkembang dalam klaster memiliki kontribusi yang besar dalam PDRB (output/nilai
tambah) dan penyerapan tenaga kerja (Affandi, 2010).
Penelitian Affandi (2009) menunjukkan bahwa Kota Metro merupakan lokasi klaster
agroindustri makanan terbesar di Propinsi Lampung berdasarkan kontribusi output
dan indeks aglomerasi. Agroindustri makanan tersebut tersebar hampir di seluruh
Kecamatan Kota Metro. Industri makanan yang berkembang adalah industri tahu dan
tempe, industri pengolahan ubi kayu dan lainnya. Penyebaran agroindustri tahu
tempe di Kota Metro dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Jumlah industri tahu dan tempe per kecamatan di Kota Metro tahun 2008
Kecamatan Jumlah Industri (Buah) Metro Pusat
Metro Utara Metro Barat Metro Timur Metro Selatan
13 15 17 14 15
Jumlah 74
Sumber : Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Metro, 2008.
Tabel 4 menunjukkan bahwa Kota Metro memiliki pengrajin tahu dan tempe
sebanyak 74 agroindustri. Kecamatan di Kota Metro yang memiliki paling banyak
pengrajin tahu dan tempe adalah Kecamatan Metro Barat dengan jumlah 17
agroindustri tahu dan tempe, sedangkan Kecamatan Metro Pusat memiliki jumlah
agroindustri tahu dan tempe yang paling rendah yaitu sebanyak 13 agroindustri.
Tabel 5. Jumlah industri tahu dan tempe per kelurahan di Kecamatan Metro Barat tahun 2008
Kelurahan Jumlah Industri (Buah) Mulyojati
Mulyosari Ganjar Agung Ganjar Asri
0 5 7 5
Jumlah 17
Sumber : Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Metro, 2008
Tabel 5 menunjukkan bahwa dari keempat kelurahan di Kecamatan Metro Barat,
Kelurahan Ganjar Agung memiliki usaha industri tahu dan tempe terbanyak yaitu
sebesar 17 usaha industri tahu dan tempe.
Tahu dan tempe merupakan bahan pangan yang penting karena permintaannya tinggi
di masyarakat. Agroindustri tahu dan tempe tersebut mampu memberikan nilai
tambah terhadap komoditas kedelai, dan merupakan sumber penghasilan dan
meningkatkan pendapatan rumah tangga pada agroindustri itu sendiri. Di samping itu,
dengan adanya agroindustri tahu dan tempe dapat menyerap tenaga kerja tanpa harus
memiliki keterampilan yang khusus guna mengurangi pengangguran tenaga kerja.
Kedelai yang digunakan pada umumnya adalah kedelai import (Amerika) yang
harganya berfluktuatif , tergantung dari nilai tukar dollar terhadap rupiah, sekarang
sekitar Rp. 8.000/Kg. Selain kedelai, komponen produksi tahu dan tempe yang lain
adalah bahan bakar (minyak tanah/kayu), air dan listrik. Komponen produksi tersebut
sudah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan, sedangkan harga jual tempe
Akibatnya banyak pengusaha/pengrajin tempe (terutama yang pemula) yang
berimprovisasi pada tahapan proses pembuatan untuk menekan biaya produksi.
Improvisasi yang dilakukan para pengrajin, terutama pengrajin baru antara lain dalam
hal pemanasan. Untuk menghemat jumlah pemakaian bahan bakar, pengrajin hanya
melakukan satu kali pemanasan dari normal dua kali pemanasan serta waktu
pemanasan diperpendek. Fenomena di atas menggambarkan bahwa pengrajin tempe
pun tidak mendapat tambahan keuntungan dengan melakukan improvisasi tersebut,
karena di satu sisi mereka hanya menjaga keseimbangan produksi akibat naiknya
harga semua komponen produksi, terutama yang sangat terasa adalah harga kedelai,
sedangkan di sisi yang lain harga jual tempe kedelai di pasar tradisional sulit dinaikkan
karena karakter konsumen tahu dan tempe memang demikian.
B. Identifikasi Masalah
Pada dasarnya kriteria fisik untuk menentukan industri kecil didasarkan pada : (1)
Investasi modal untuk mesin – mesin dan peralatan kurang dari Rp 70.000.000,00. (2)
investasi pertenaga kerja Rp 635.000,00 dan (3) Pemilik usaha hanya warga negara
indonesia. Industri kecil dibagi dalam lima kelompok yang terdiri dari kelompok
pengolahan pangan, kelompok kulit/sandang, kelompok logam dan jasa angkutan,
kelompok kimia serat dan kelompok bahan bangunan umum (Bachtiar, 2003).
Pengertian agroindustri sebagai komponen dari sistem agribisnis merupakan industri
yang mengolah bahan baku dari hasil pertanian menjadi bahan setengah jadi atau
barang jadi. Oleh karena itu agroindustri mempunyai peranan yang sangat penting
pertanian. Kemajuan teknologi agroindustri dewasa ini bahkan mampu mendorong
ke arah diversifikasi produk untuk memenuhi kebutuhan manusia maupun pengguna
lainnya atau meningkatkan pangsa pasar hasil olahan.
Jumlah penduduk yang terus meningkat memerlukan adanya usaha-usaha pemenuhan
pangan demi menjaga kelangsungan hidup. Usaha-usaha pemenuhan pangan tersebut
dilakukan dengan cara pengolahan produk – produk pertanian menjadi barang
setengah jadi atau barang jadi. Pengolahan tersebut akan memberikan nilai tambah
terhadap produk yang dihasilkan sehingga aka menambah pendapatan rumah tangga
yang mengusahakan industri pengolahan tersebut.
Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar
kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50 persen dari konsumsi kedelai Indonesia
dilakukan dalam bentuk tempe, 40 persen tahu, dan 10 persen dalam bentuk produk
lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per
tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg. Harga kacang kedelai di tingkat
petani berfluktuasi Rp3.500 - Rp5.500/ Kg, sedangkan di pasaran (impor) berkisar Rp
8.000/ Kg. Kenaikan harga bahan baku kedelai sangat berdampak pada kestabilan
ekonomi dan kestabilan proses pembuatan yang dilakukan oleh para pengrajin tahu
dan tempe. Dampak secara tidak langsung bagi konsumen adalah semakin rendahnya
kualitas tahu dan tempe yang dihasilkan, yang diikuti dengan semakin rendahnya
kualitas dan kuantitas zat gizi yang diasup.
Upaya untuk meningkatkan nilai tambah kedelai di dalam negeri dapat dilakukan
kualitas polong maupun biji yang seragam, menarik, kuantitas dan kualitas biji untuk
bahan baku industri cukup memadai. Makanan berbahan baku skedelai seperti tahu
dan tempe kaya akan protein, bergizi tinggi dan menyehatkan. Hal ini yang harus
diinformasikan kepada masyarakat, bahwa produk olahan kedelai seperti tahu dan
tempe ini adalah salah satu alternatif makananan yang penuh gizi dengan harga
terjangkau.
Tahu dan tempe memiliki nilai ekonomis, budaya dan gizi yang cukup strategis, maka
permasalahan harga bahan baku kedelai yang semakin tidak terjangkau, akan menjadi
permasalahan jangka panjang yang cukup serius dan harus segera diatasi, karena
banyaknya personal yang terlibat dalam industri ini. Disamping itu, tahu dan tempe
dikelola secara tradisional, tanpa disadari sedang mengalami kondisi monoton pada
sisi olahan. Hal tersebut terjadi karena seluruh perajin tempe mengelola produk
secara tradisional tanpa mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, rasa tahu dan
tempe juga tidak jauh beda dengan tahu dan tempe lainnya sehingga produk ini tidak
punya nilai tawar, dengan demikian persaingan produk makanan tradisional tersebut
bukan dari sisi kualitas tetapi murni karena harga. Untuk itu produsen tahu dan
tempe harus bersaing dan kualitas tempe yang diproduksi harus memiliki nilai lebih
diantaranya rasa lebih gurih dan higienis.
Harga jual tahu dan tempe telah lama tidak mengalami peningkatan yang signifikan,
harga jual tahu dan tempe tidak sering melonjak. Produsen tahu dan tempe tidak
dapat meningkatkan harga jual tahu dan tempe karena kondisi pasar dan konsumen
yang terus melonjak. Masalah tersebut menimbulkan pertanyaan apakah pengrajin
tahu dan tempe tidak mengalami kerugian dengan harga jual yang tidak sering
meningkat. Banyak pengrajin tahu dan tempe yang tidak mengetahui bahwa tahu dan
tempe juga memiliki harga pokok produksi sebagai penentuan harga jual produk.
Dengan adanya harga pokok tersebut, maka pengrajin dapat mngetahui berapa harga
jual produk yang tidak merugikan usaha mereka, atau dengan kata lain dapat
menguntungkan. Permasalahan lainnya adalah apakah agroindustri tahu dan tempe
tersebut menguntungkan dengan harga jual yang berlaku saat ini dan memberikan
nilai tambah dalam proses pengolahannya serta mampu memberikan kontribusi
terhadap pendapatan agroindustri tahu dan tempe.
Kota Metro merupakan salah satu kota di Propinsi Lampung yang banyak
mengusahakan agroindustri berbasis komoditi kedelai yaitu industri tahu dan tempe,
dan terbentuk klaster industri pengolahan makanan. Terbentuknya klaster di Kota
Metro dapat dikarenakan kedekatan lokasi pengolahan dengan sumber bahan baku,
dan hubungan kekerabatan (terdapat orangtua dan anak yang tinggal berdekatan dan
memiliki usaha pengolahan yang sama). Kecamatan Metro Barat memiliki pengrajin
tahu dan tempe terbanyak di Kota Metro memiliki potensi dalam hal memberi nilai
tambah dan meningkatkan pendapatan. Berdasarkan pemaparan di atas dapat
diperoleh permasalahan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana nilai tambah yang diciptakan dengan adanya klaster agroindustri
pengolahan tahu dan tempe ?
2. Berapa besar pendapatan yang diperoleh klaster agroindustri pengolahan tahu dan
3. Berapa besar harga pokok produksi pada klaster agroindustri tahu dan tempe ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang akan dicapai :
1. Mengetahui nilai tambah pada klaster agroindustri pengolahan tahu dan tempe.
2. Mengetahui besarnya pendapatan klaster agroindustri pengolahan tahu dan tempe.
3. Mengetahui harga pokok produksi pada klaster agroindustri tahu dan tempe.
D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:
1. Pengrajin tahu dan tempe, sebagai masukan dalam menetapkan langkah-langkah
usaha rumah tangganya dalam meningkatkan pendapatan usahanya.