• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
56
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENERAPAN PENDEKATAN MULTI REPRESENTASI TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATERI

SISTEM PENCERNAAN

(Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016)

(Skripsi)

Oleh FARHANAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ii ABSTRAK

PENERAPAN PENDEKATAN MULTI REPRESENTASI TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATERI

SISTEM PENCERNAAN

(Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Tahun Pelajaran 2015/2016)

Oleh Farhanah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan pendekatan multi representasi terhadap kemampuan kognitif siswa. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Natar untuk siswa kelas XI tahun pelajaran 2015/2016, merupakan studi eksperimen dengan desain pretes-postes equivalen. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA4sebagai kelas eksperimen dan XI IPA1sebagai kelas kontrol yang dipilih dengan teknik Purposive sampling. Data kuantitatif berupa kemampuan kognitif oleh siswa, diperoleh dari pretes dan postes yang dianalisis menggunakan Uji-t dan Uji U pada taraf kepercayaan 5% dengan bantuan SPSS versi 17. Data kualitatif berupa tanggapan siswa terhadap penerapan pendekatan multi representasi diperoleh dari angket yang dianalisis secara deskriptif.

(3)

iii

menggunakan uji Mann-Whitney U yaitu nilai probabilitas 0,004<0,05. Nilai N-gain pretes-posteshasil ujit1 (3,072)> tt(1,664)dan t2(5,077) > tt(1,682).Hasil analisis rata-rata nilai N-gain setiap indikator soal pada kelas eksperimen juga mengalami perbedaan yang signifikan pada indikator soal C1 nilai probabilitas 0,024<0,05, indikator C2 nilai probabilitas 0,013<0,05, indikator C3hasil ujit1 (5,118)> tt(1,664) dan t2 (8,236)> tt(1,663),, serta indikator C4 nilai probabilitas 0,000<0,05. Selain itu, siswa juga memberikan tanggapan positif bahwa penerapan pendekatan multi representasi memudahkan siswa dalam berinteraksi dengan teman (90,48 %). Sebagian besar siswa (88,10 %) menyatakan lebih mudah memahami materi yang dipelajari melalui pendekatan multi representasi, dan (92,86 %) siswa juga

menyatakan lebih mudah mengerjakan soal-soal setelah belajar melalui pendekatan multi representasi. Dengan demikian, penerapan pendekatan multi representasi dalam pembelajaran berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan kognitif siswa.

(4)

PENERAPAN PENDEKATAN MULTI REPRESENTASI TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATERI

SISTEM PENCERNAAN

(Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016)

Oleh

FARHANAH

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Biologi

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

vii

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Batam, Kepulauan Riau, pada 22 Juni 1994, yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak Ridhwan Jauhari dengan Ibu Isnaini Nurrochimah. Alamat penulis yaitu Jalan Sultan Jamil, Gang Kunir, Kelurahan Gedung Meneng,

Kecamatan Raja Basa, Kota Bandar Lampung. Nomor HP penulis/email: 085369557101/[email protected].

Pendidikan yang ditempuh penulis adalah SD Negeri 1 Labuhan Ratu (2000-2006), SMP Negeri 8 Bandar Lampung (2006-2009), SMA Negeri 15 Bandar Lampung (2009-2012). Pada tahun 2012, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Unila melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

(9)

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi

Maha penyayang

PERSEMBAHAN

Segala puji hanya milik Allah SWT, atas rahmat dan nikmat yang tercurah. Sholawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, semoga kita

senantiasa melaksanakan sunah-sunah beliau.

Kupersembahkan karya ini sebagai tanda bakti dan cinta kasihku kepada:

Yang tercinta Ayahandaku Ridhwan Jauhari dan ibundaku tersayang Isnaini Nurrochimah,yang telah mendidik dan membesarkanku dengan doa, kesabaran dan limpahan

cinta, kasih kalian lah yang selalu menguatkanku, mendukung segala langkahku menuju keberhasilan dan kebahagian, takkan pernah bisa terbalas, sumber inspirasiku serta selalu

menyemangati, memotifasi, memberi kepercayaan, dan mendoakan keberhasilanku

Adikku Desy Permatasari yang selalu memberikan doa, motivasi, kasih sayang dan segala bentuk dukungan yang diberikan untuk menantikan keberhasilanku.

Guru, dosen, dan sahabat-sahabatku atas ilmu, nasihat, dan arahan yang telah diberikan. Serta

(10)

MOTO

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan

orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha

mengetahui apa yang kamu kerjakan”

( Q.S. Al-Mujadillah: 11 )

“Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak

menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat

mereka menyerah”

( Thomas Alva Edison)

“Jadilah diri sendiri dan jangan menjadi orang lain, walaupun dia terlihat

lebih baik dari kita”

(11)

SANWACANA

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan nikmat-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Unila. Skripsi ini berjudul“PENERAPAN PENDEKATAN MULTI REPRESENTASI TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN (Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016)”.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peranan dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Hi. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung; 2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung; 3. Drs. Arwin Achmad, M.Si., selaku Pembimbing I sekaligus pembimbing

akademik yang telah memberikan bimbingan dan motivasi hingga skripsi ini dapat selesai;

(12)

5. Dr. Arwin Surbakti, M.Si., selaku Pembahas atas saran-saran perbaikan dan motivasi yang sangat berharga;

6. Berti Yolida, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi yang telah memberikan motivasi hingga skripsi ini dapat selesai;

7. Drs. Suwarlan, M.M.Pd., selaku Kepala SMA Negeri 1 Natar dan Dra. Jaminar serta Sandra Budianti, S.Pd., selaku guru mitra, yang telah

memberikan izin dan bantuan selama penelitian serta motivasi yang sangat berharga;

8. Seluruh dewan guru, staf, dan siswa-siswi kelas XI IPA 1 dan XI IPA 4 SMA Negeri 1 Natar atas kerjasama yang baik selama penelitian berlangsung; 9. Sahabat-sahabat seperjuangan Dwi Mustika S.T.M. dan Lia Lestari atas suka

duka yang dilewati bersama sampai saat ini;

10. Sahabat-sahabatku Apri Hertika, Elisa Fajrin, dan Dian Andarini atas semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang terjalin hingga saat ini;

11.Sahabat-sahabatku KKN Ahmad Fuady, Ayu, Anita, Wika, Nanda, Nadya, Ratih,

dan Roy, atas kekeluargaannya dan partisipasi yang baik dalam pendewasaanku.

Akhir kata, penulis mengucapkan syukur yang sebesarnya karena telah mampu menyelesaikan penyusunan skripsi ini semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua. Aamiin.

Bandar Lampung, 26 September 2016 Penulis

(13)

xiii DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL . . . xv

DAFTAR GAMBAR . . . xvi

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah . . . 1

B. Rumusan Masalah . . . 5

C. Tujuan Penelitian . . . 6

D. Manfaat Penelitian . . . 6

E. Ruang Lingkup Penelitian . . . 6

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pendekatan Multi Representasi . . . 9

B. Ranah Kognitif . . . 17

C. Kerangka Pikir . . . 22

D. Hipotesis Penelitian . . . 23

III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian . . . 24

B. Populasi dan Sampel . . . 24

C. Desain Penelitian . . . 24

D. Prosedur Penelitian . . . 25

E. Jenis Data dan Teknik Analisis Data . . . 31

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian . . . 37

B. Pembahasan . . . 42

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan . . . 51

(14)

xiii

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

1. Silabus (Eksperimen dan Kontrol) . . . 55

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Eksperimen dan Kontrol) . . . 59

3. Soal Pretes dan Postes . . . 69

4. Kisi-kisi dan Jawaban Soal Pretes dan Postes . . . 74

5. Rubrik Instrumen Soal Pretes – Postes . . . 82

6. Angket Tanggapan Siswa . . . 83

7. Lembar Kerja Kelompok Eksperimen Pertemuan 1, 2 dan 3 . . . 84

8. Kunci Jawaban LKK Eksperimen Pertemuan 1, 2 dan 3. . . 94

9. Rubrik Penilaian LKK Eksperimen Pertemuan 1, 2 dan 3 . 98

10.Lembar Kerja Kelompok Kontrol Pertemuan 1,2 dan 3. . . 102

11.Kunci Jawaban LKK Kontrol Pertemuan 1, 2 dan 3. . . 112

12.Rubrik Penilaian LKK Kontrol Pertemuan 1,2 dan 3. . . 116

13.Data Hasil Penelitian . . . 120

14.

Analisis Uji Statistik Data Hasil Penelitian . . . 128

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Contoh kata kerja untuk menunjukan hasil belajar

Tertentu . . . 21

2. Angket tanggapan siswa . . . 32

3. Skor per item angket . . . 32

4. Tabulasi data hasil angket tanggapan siswa . . . 33

5. Hasil uji statistik nilai pretes, postes, dan N-gain penguasaan materi oleh siswa . . . 37

6. Hasil rata-rata nilai N-gain setiap indikator soal . . . . 39

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Taksonomi fungsi multipel representasi . . . 11

2. Model hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat . . . 23

3. Desain pretes-postes non ekiuvalen . . . 25

4. Rata-rata nilai pretes. Postes, N-gain siswa kelas eksperimen dan kontrol . . . 38

5. Rata-rata nilai N-gain setiap indikator soal . . . 40

6. Tanggapan siswa terhadap pendekatan pembelajaran multi representasi . . . 42

7. Guru memberikan motivasi kepada siwa . . . 148

8. Guru menyampaikan materi . . . 148

9. Siswa mengerjakan soal pretes . . . 149

10. Siswa dibimbing dalam memecahkan masalah dalam diskusi Kelompok . . . 149

11. Siswa berdiskusi bersama kelompoknya . . . 149

(17)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih umum. Berdasarkan kajian terhadap pendapat ini, maka pendekatan merupakan langkah awal pembentukan suatu ide dalam

memandang suatu masalah atau objek kajian (Rusman, 2011: 45). Pendekatan merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan bermakna pandangan tentang terjadinya suatu proses yang masih umum (Sutirman, 2013: 21).

(18)

2

Hasil observasi dan wawancara pada guru bidang studi biologi yang telah dilakukan di SMA Negeri 1 Natar, diperoleh hasil bahwa dari 6 lokal untuk kelas XI IPA, kemampuan kognitif siswa untuk kelas XI IPA 4 sampai XI IPA 6, memiliki hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan kelas XI IPA 1 sampai XI IPA 3, dapat dilihat dari persentase pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan nilai KKM yang ditetapkan sekolah untuk mata pelajran biologi sebesar 74, pada kelas XI IPA 4 sampai XI IPA 6 yang mencapai KKM 70%, pada kelas XI IPA 1 sampai XI IPA 3 yang mencapai KKM 90%. Hal ini dikarenakan guru masih menggunakan metode diskusi-kelompok pada materi biologi. Guru juga belum pernah menggunakan pendekatan multi representasi pada pembelajaran biologi. Kelemahan menggunakan metode diskusi yaitu siswa mendapat informasi yang terbatas, diskusi didominasi oleh siswa yang aktif berbicara, serta memerlukan waktu yang cukup panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang

direncanakan. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa maka diperlukan

strategi pembelajaran yang efektif, semakin banyak dan bervariasi strategi yang digunakan dalam menjelaskan suatu konsep atau meteri, tentu akan

menghasilkan kualitas yang baik dalam pembelajarannya.

Strategi pembelajaran yang akan digunakan erat kaitannya dengan pemilihan pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan suatu konsep atau materi tertentu. Berdasarkan hasil observasi, peneliti mencoba memberikan materi pelajaan biologi yang disajikan melalui pembelajaran berbasis multi

(19)

3

meningkatkan kegiatan belajar mengajar berjalan dengan lancar dan

kemampuan kognitif siswa. Menurut Tytler (dalam Widianingtiyas, 2015: 2) dalam pembelajaran sains, multi representasi mengacu pada pembelajaran sains yang menggambarkan suatu konsep dan proses yang sama dalam format yang berbeda, termasuk format verbal, grafik, dan format numerik.

Representasi adalah sebagai gambaran mental yang merupakan proses belajar yang dapat dipahami dari pengembangan mental yang ada dalam diri

seseorang. Proses akan terjadi pada saat berpikir dengan adanya informasi yang datang dari diri sendiri maupun dari orang lain. Informasi tersebut diolah dalam pikiran, sehingga terjadi pembentukan pengertian yang merupakan representasi internal, dan tercermin dalam wujud representasi eksternal yaitu berupa: kata-kata, gambar, grafik, tabel, model matematika, simbol, dll. Suatu pemahaman ide atau konsep matematika sangat berkaitan dengan keberadaan representasi internal, dan diwujudkan atau dikomunikasikan secara bermakna melalui representasi eksternal. Representasi merupakan komponen proses yang berkaitan dengan perkembangan kognitif siswa (Hutagaol, 2013: 1-2).

Pendekatan pembelajaran multi representasi merupakan pendekatan pembelajaran yang menyajikan informasi dalam berbagai bentuk sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami materi pembelajaran dalam bentuk representasi yang berbeda. Suatu analisis konseptual tentang pembelajaran Multiple Representations menurut Ainsworth (1999: 133) bahwa, “Multi representasi memiliki tiga fungsi utama yaitu sebagai pelengkap,

(20)

4

digunakan untuk memberikan representasi yang berisi informasi pelengkap atau membantu melengkapi proses kognitif. (2) satu representasi digunakan untuk membatasi kemungkinan kesalahan menginterprestasi dalam

menggunakan representasi yang lain. (3) multi representasi dapat digunakan untuk mendorong peserta didik membangun pemahaman terhadap situasi secara mendalam”. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini

dilakukan untuk mengetahui pengaruh kognitif siswa sains menggunakan pendekatan pembelajaran multi representasi pada materi sistem pencernaan.

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang menurut Anderson dan Karthwohl tediri dari enam aspek, yakni mengingat (C1, remember), mengerti (C2, understand), memakai (C3, apply), menganalisis (C4, analyze), menilai (C5, evaluate), dan mencipta (C6, create). Keenam aspek di atas disusun berdasarkan struktur piramidal dari aspek yang paling sederhana hingga aspek yang paling kompleks. Adapun kemampuan kognitif seseorang dibagi menjadi dua bagian, yaitu kemampuan kognitif tingkat rendah dan kemampuan kognitif tingkat tinggi. Kemampuan tingkat rendah

merupakan tiga tingkatan terendah dalam taksonomi Anderson dan Krathwohl (Widianingtyas, 2015: 2). Untuk dapat melihat kemampuan kognitif siswa dalam penelitian ini diukur dari hasil belajar kognitifnya dengan menggunakan pendekatan pembelajaran multi representasi.

(21)

5

kognitifnya. Hal ini dikarenakan multi representasi dapat membangun

pemahaman siswa dengan memberikan informasi yang lengkap dari berbagai bentuk yang disajikan. Peserta didik belajar dengan cara memahami gambar yang lengkap dengan penjelasan kalimat, membuat resume dari video yang ditonton dengan bahasa sendiri dan membuat kesimpulan sendiri berdasarkan berbagai informasi yang diterimanya.

Pendekatan multi representasi digunakan dalam pembelajaran biologi dalam menyampaikan materi atau konsep, sehingga dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya. Peneliti pada penelitian ini akan menyampaikan materi mengenai sistem pencernaan pada manusia dan hewan ruminansia. Dari uraian diatas diharapkan pendekatan multi representasi dapat meningkatkan hasil belajar (aspek kognitif) siswa. Sehubungan dengan itu maka akan dilakukan penelitian dengan judul“Penerapan Pendekatan Multi Representasi terhadap Kemampuan Kognitif Siswa pada Materi Sistem

Pencernaan (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar TP 2015/2016)”.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah berdasarkan latar belakang masalah pada penelitian ini sebagai berikut:

1. Apakah ada perbedaan nilai kognitif siswa dengan penerapan pendekatan multi representasi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar tahun pelajaran 2015/2016 pada materi sistem pencernaan ?

(22)

6

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai peneliti untuk mengetahui : 1. Perbedaan nilai kognitif siswa dengan penerapan pendekatan multi

representasi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar tahun pelajaran 2015/2016 pada materi sistem pencernaan.

2. Tanggapan siswa terhadap pendekatan multi representasi.

D. Manfaat Penelitian

Setelah diadakan penelitian ini, diharapkan bermanfaat sebagai berikut : 1. Bagi siswa, dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa.

2. Bagi guru, memberikan alternatif dalam memilih dan menerapkan pendekatan dalam pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa.

3. Bagi peneliti, menambah pengetahuan dan pengalaman sebagai calon guru dalam pembelajaran biologi dengan menggunakan pendekatan pembelajaran multi representasi.

4. Sebagai masukan bagi sekolah, dimana penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan atau evaluasi guna meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di sekolah.

E. Ruang Lingkup Penelitian

(23)

7

1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Natar tahun ajaran 2015/2016, yang terdiri dari kelas XI IPA 4 dan kelas

XI IPA 1. 2. Objek Penelitian

Pendekatan Multi Representasi dalam pembelajaran biologi pada materi pokok sistem pencernaan.

3. Multi representasi merupakan pendekatan pembelajaran yang

mempresentasi ulang konsep yang sama dalam beberapa format yang berbeda-beda. Representasi itu sendiri yaitu suatu yang dapat disimbolkan atau simbol pada suatu objek ataupun proses. Dalam biologi representasi yang akan digunakan berupa gambar dan simulasi komputer (video). 4. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil tes siswa

pada aspek kognitif mata pelajaran biologi pada materi sistem pencernaan dengan menggunakan pretest-postest dengan bentuk soal pilihan jamak (multiple choice) dengan jumlah 15 pertanyaan dan soal essay dengan jumlah 5 pertanyaan. Soal yang diberikan berdasarkan dari soal-soal ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi yang telah diujikan.

5. Tingkatan kognitif menggunakan taksonomi Bloom, tingkatan yang diujikan yaitu mengingat (C1, remember), mengerti (C2, understand), memakai (C3, apply), menganalisis (C4, analyze), menilai (C5, evaluate), dan mencipta (C6, create).

(24)

8

(25)

9

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendekatan Multi Representasi

Pendekatan pembelajaran adalah konsep dasar yang mewadahi,

menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan

cakupan teoritis tertentu (Zubaedi, 2012: 186). Pendekatan pembelajaran

dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses

pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses

pembelajaran, yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,

menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan

cakupan teoritis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat

dua jenis pendekatan, yaitu: 1) pendekatan pemeblajaran yang berorientasi

atau berpusat pada siswa (student centered approach), dan 2) pendekatan

pemeblajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered

approach) (Suryani dan Agung, 2012: 5).

Multi representasi adalah penggunaan dua atau lebih representasi untuk

menggambarkan suatu sistem atau proses nyata. Multi representasi dapat

menggambarkan aspek yang berbeda (Widianingtiyas, 2015: 2). Multi adalah

sesuatu yang lebih dari satu. Sedangkan representasi yaitu suatu keadaan

(26)

10

Menurut Someren (1997) membagi bentuk-bentuk multi representasi menjadi

4 kategori, yaitu (1) Multi Representasi dalam Penalaran Manusia, multi

representasi dapat mendukung pembentukan pemahaman seseorang akan

suatu informasi. Dimana setiap orang memiliki multi intelegensi

masing-masing sehingga membutuhkan tampilan yang berbeda-beda dari informasi

yang didapatkanya agar lebih mudah dipahami, (2) Multi Representasi dalam

Pembelajaran menurut Dufresne (dalam Widianingtiyas, Siswoyo, dan Bakri,

2015: 2-3), representasi mempunyai tiga cara (modes).

Ketiga cara tersebut adalah: (a) sebagai cara atau alat yang menguraikan

persoalan yang terjadi ketika peserta didik membuat atau menggambar sketsa

situasi fisis dan melengkapi informasi, (b) sebagai pokok persoalan ketika

peserta didik secara eksplisit diminta untuk membuat grafik atau mencari

nilai suatu besaran fisis menggunakan grafik, (c) sebagai langkah atau

prosedur formal ketika peserta didik diminta untuk menggambar diagram

benda bebas sebagai salah satu langkah awal untuk memecahkan soal, (3)

Multi Representasi dalam pengajaran, pengajar dapat menggunakan multi

representasi untuk menjelaskan konsep yang abstrak dengan mengubah

konsep tersebut ke dalam bentuk representasi visual. Sehingga peserta didik

dapat memahami makna dari konsep tersebut, dan (4) Multi Representasi

dalam Penyelesaian Masalah, keberhasilan representasi dalam mengarahkan

peserta didik untuk memahami suatu informasi dan pengetahuan memberikan

(27)

11

Multi representasi adalah alat yang sesuai untuk membantu peserta didik

mengembangkan pengetahuan ilmiah yang kompleks. Beberapa representasi

disediakan untuk konsep-konsep ilmiah bagi pendidikan. Penggunaan

representasi untuk membantu peserta didik dalam memahami konsep-konsep

ilmiah yang kompleks .Multi representasi ini memiliki tiga fungsi utama,

yaitu (1) multi representasi dapat mendukung pembelajaran, (2) multi

representasi sebagai pembatas interpretasi, (3) multi representasi dapat

pembangunan pemahaman. Ketiga fungsi tersebut dapat dibagi menjadi

bagian-bagian lebih rinci seperti pada Gambar dibawah ini.

[image:27.595.114.523.331.593.2]

Gambar 1. Taksonomi Fungsi Multipel Representasi

Fungsi Multi Representasi

Fungsi Pelengkap Membatasi

Interpresentasi

Membangun Pemahaman

Melengkapi Proses

Melengkapi

Informasi Membatasi Melalui Keakraban

Membatasi Melalui Sifat

Inheren

Abstraksi Hubungan

(28)

12

Penggunaan multi representasi untuk mendukung serta melengkapi proses

observasi. Pilihan representasi yang digunakan adalah bergantung pada sifat dari

informasi yang diwakili. Misalnya , massa direpresentasikan sebagai tampilan

numerik sederhana seperti, sedangkan kecepatan diwakili dalam grafik. Jadi ,

multi representasi memungkinkan informasi yang berbeda untuk diwakili dengan

cara yang paling sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Gilbert, Reiner, dan

Nakhleh. 2008: 191-200).

Menurut Ainsworth (dalam Irwandani, 2015: 2), ada tiga fungsi utama dari multi

representasi, yaitu sebagai pelengkap dalam proses kognitif, membantu

membatasi kemungkinan kesalahan interpretasi lain, dan membangun pemahaman

konsep dengan lebih mendalam. Selain tiga fungsi utama diatas, multi representasi

juga berfungsi untuk menggali perbedaan-perbedaan dalam suatu informasi yang

dinyatakan oleh masing-masing interpretasi. Multi representasi cenderung

digunakan untuk saling melengkapi dimana representasi tunggal tidak memadai

untuk memuat informasi yang disampaikan.

Menurut de Jong et al dalam Peserta didik bisa mendapatkan keuntungan dari

belajar dengan lebih dari satu representasi eksternal. Peserta didik cenderung

menguntungkan ketika informasi yang disajikan dalam lebih dari satu

representasi. Hal ini karena spesifik informasi terbaik dapat disampaikan dalam

representasi tertentu, beberapa representasi dapat lebih berguna dalam

menampilkan berbagai informasi, dan pemecahan masalah untuk beberapa

representasi dari domain yang sama. Dalam Ainsworth (2006) mengusulkan

(29)

13

representasi eksternal (MERs) pengetahuan (misalnya, ketika dua atau lebih

representasi eksternal secara simultan digunakan) dalam mengajar dan

belajar-dapat melayani tiga fungsi pedagogis dasar. Pertama, MERs mendukung proses

pelengkap dan informasi pelengkap. Misalnya, menyediakan grafik, tabel,

persamaan, dan gambar dari biologi fenomena berarti bahwa setiap representasi

dapat dirancang sehingga informasi tersebut disajikan dalam cara yang paling

tepat untuk kebutuhan peserta didik. Berbagai bentuk representasi membuat

kesimpulan tertentu lebih mudah-grafik memungkinkan pola persepsi untuk

dilihat, tabel menunjukkan sel-sel kosong, dan persamaan menunjukkan

kuantitatif yang tepat hubungan antara variabel Kedua, MERs membatasi

interpretasi atau salah tafsir dari fenomena oleh keakraban atau sifat yang

melekat. Misalnya, ketika belajar melibatkan MERs, sebuah representasi familiar

dapat mendukung interpretasi peserta didik dari kurang akrab representasi untuk

memahami yang terakhir (misalnya, penggunaan metafora dan analogi), atau

diagram yang menyertai deskripsi, dengan cara sifat yang melekat, visual

mendukung interpretasi peserta didik 'dari deskripsi ambigu (misalnya, tentang

lokasi fisik dari objek). Ketiga, MERs mempromosikan pembangunan yang lebih

dalam pemahaman melalui abstraksi, ekstensi, dan hubungan sebagai berikut:

1. Abstraksi (yaitu, mendeteksi dan mengekstrak bagian dari elemen yang

terkait informasi dari representasi)

2. Extension (yaitu, memperluas pengetahuan yang dipelajari dalam satu

representasi untuk newsituations dengan representasi lain atau membuat

(30)

14

3. Hubungan (yaitu, menerjemahkan antara dua atau lebih representasi yang

jarang digunakan (Treagust dan Tsui, 2013: 4-6).

Beberapa representasi eksternal (MERs) dalam biologi melibatkan tiga dimensi:

mode representasi, tingkat representasi, dan domain pengetahuan biologi.

Tingkat Representasi biologi adalah unik karena empat tingkat representasi perlu

dipertimbangkan untuk pemahaman penuh dari fenomena biologis: (1) tingkat

makroskopik di mana struktur biologis yang terlihat dengan mata telanjang; (2)

selular atau subselular (Mikroskopis) tingkat di mana struktur hanya dapat dilihat

di bawah mikroskop cahaya atau mikroskop elektron; (3) tingkat molekuler

(submicroscopic) yang melibatkan DNA, protein, dan berbagai biokimia. Dalam

lih Marbach-Ad dan Stavy (2000), misalnya biokimia dapat diidentifikasi dengan

menggunakan elektroforesis, kromatografi, sentrifus, dan alat-alat analisis

lainnya, termasuk tomografi elektron cryogenic terbaru (Dewan Riset Nasional

[NRC], 2009, p 54); dan (4) tingkat simbolik yang menyediakan mekanisme

penjelas dari fenomena diwakili oleh simbol-simbol, rumus, persamaan kimia,

jalur metabolisme, perhitungan numerik, genotipe, warisan pola, pohon

filogenetik dalam evolusi, dan sebagainya.

Pengetahuan domain Biologi Domain pengetahuan biologi-tubuh pengetahuan

yang luas dan kompleks tentang hidup dan kehidupan organisme-menggabungkan

integrasi disiplin lain, khususnya kimia, fisika, dan matematika. Hidup atau hidup

sistem dapat konseptual direpresentasikan, seperti yang disarankan oleh pemandu

guru dari Biological Sains Kurikulum Studi, dengan enam tema pemersatu:

(31)

15

2. Homeostasis: menjaga keseimbangan dinamis dalam sistem kehidupan

3. Energi, materi, dan organisasi: hubungan di sistem kehidupan

4. Continuity: reproduksi dan warisan dalam sistem kehidupan

5. Pembangunan: pertumbuhan dan diferensiasi dalam sistem kehidupan

6. Ekologi: interaksi dan saling ketergantungan dalam sistem hidup (Treagust dan

Tsui, 2013: 7-8).

Representasi adalah sebagai gambaran mental yang merupakan proses belajar

yang dapat dipahami dari pengembangan mental yang ada dalam diri seseorang.

Proses akan terjadi pada saat berpikir dengan adanya informasi yang datang dari

diri sendiri maupun dari orang lain. Informasi tersebut diolah dalam pikiran,

sehingga terjadi pembentukan pengertian yang merupakan representasi internal,

dan tercermin dalam wujud representasi eksternal yaitu berupa: kata-kata, gambar,

grafik, tabel, model matematika, simbol, dll. Representasi merupakan komponen

proses yang berkaitan dengan perkembangan kognitif siswa. Representasi internal

dari seseorang sulit untuk diamati secara langsung karena merupakan aktivitas

mental dari seseorang dalam pikirannya (minds-on). Tetapi representasi internal

seseorang itu dapat disimpulkan atau diduga berdasarkan representasi

eksternalnya dalam berbagai kondisi; misalnya dari pengungkapannya melalui

kata-kata (lisan), melalui tulisan berupa simbol, gambar, grafik, tabel ataupun

melalui alat peraga (hands-on). Dengan kata lain terjadi hubungan timbal balik

antara representasi internal dan eksternal dari seseorang ketika berhadapan dengan

(32)

16

Menurut Haveleun dan Zou (2001), representasi dapat dikategorikan ke dalam dua

kelompok, yaitu representasi internal dan eksternal. Representasi internal

didefinisikan sebagai konfigurasi kognitif individu yang diduga berasal dari

perilaku manusia yang menggambarkan beberapa aspek dari proses fisik dan

pemecahan masalah. Di sisi lain, representasi eksternal dapat digambarkan

sebagai situasi fisik yang terstuktur yang dapat dilihat dengan mewujudkan

ide-ide fisik. Norman (1994), pentingnya representasi “without external aids, memory,

thought, and reasoning are all constrained.” Ini menunjukan bahwa memori,

pikiran, dan penalaran tanpa bantuan eksternal, semuanya akan terbatas dan sulit

untuk memperoleh pengetahuan yang diperlukan. Sebuah representasi eksternal

kepada seseorang sehingga dia dapat membantu orang lain dalam pemecahan

masalah (dalam Sunyono, 2012: 16).

Pendekatan multi representasi untuk belajar dan mengajar menjadi sesuatu yang

sangat berpotensi menghasilkan proses pembelajaran yang efektif. Melalui

representasi yang beragam, akan menciptakan suasana pembelajaran dengan peran

aktif seluruh potensi yang dimiliki mahasiswa, mengaktifkan kemampuan belajar

(learning ability) mahasiswa, baik minds-on maupun hands-on sehingga

pembelajaran IPA (fisika) lebih bermakna. Representasi membantu siswa dalam

pembentukan pengetahuan dan pemecahan masalah. Kita bisa mengatakan bahwa

menggunakan berbagai representasi dengan kualitas tinggi dalam memecahkan

satu masalah adalah satu kondisi cukup untuk keberhasilan proses belajar. Namun,

hal itu belum merupakan suatu kondisi optimal yang diperlukan. Siswa

menggunakan representasi untuk membantu mereka memahami situasi masalah

(33)

17

B. Ranah Kognitif

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan otak. Artinya, segala

upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk ke dalam ranah kognitif.

Berikut penjelasan masing-masing tingkatan ranah kognitif menurut Winkel

dan Mukhtar (dalam Sudaryono, 2012: 43-45)

1. Pengetahuan (knowledge)

Yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat atau mengenali kembali

tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus, dan sebagainya; mencakup

ingatan akan hal-hal yang meliputi fakta, kaidah, prinsip, serta metode

yang diketahui.

2. Pemahaman (comprehension)

Yaitu kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu

setelah sesuatu itu diketahui atau diingat; mencakup kemampuan untuk

menangkap makna dari arti dari bahan yang dipelajari, yang dinyatakan

dengan menguraikan isi pokok dari suatu bacaan, atau mengubah data

yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk yang lain.

3. Penerapan (application)

Yaitu kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan

ide-ide umum, metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori, dan

(34)

18

dalam aplikasi suatu rumus pada persoalan yang belum dihadapi atau

aplikasi suatu metode kerja pada pemecahan problem yang baru.

4. Analisis (analysis)

Yaitu kemampuan seseorang untuk menguraikan suatu bahan atau keadaan

menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan

diantaranya: mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke

dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya

dapat dipahami dengan baik, yang dinyatakan dengan menganalisis

bagian-bagian pokok atau komponen-komponen dasar dengan hubungan

bagian-bagian itu.

5. Sintesis (synthesis)

Yaitu kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan dari kemampuan

analisis; mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau

pola yang baru, yang dinyatakan dengan membuat suatu rencana, yang

menuntut adanya kriteria untuk menemukan poladan struktur organisasi

yang dimaksud.

6. Evaluasi (evaluation)

Yaitu merupakan jenjang berpikir yang paling tinggi dalam ranah kognitif

ini, yang merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan

terhadap suatu situasi, nilai, atau ide; mencakup kemampuan untuk

membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal dan

mempertanggungjawabkan pendapat itu berdasarkan kriteria tertentu, yang

dinyatakan dengan kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu

(35)

19

Teori belajar cognitive field menitikberatkan perhatian pada kepribadian

dan psikologi sosial, karena pada hakikatnya masing-masing individu

berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis, yang

disebut life space. Menurut teori ini, belajar itu berlangsung sebagai akibat

dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan stuktur kognitif itu

adalah hasil pertemuan dari dua kekuatan, yaitu berasal dari stuktur medan

kognitif itu sendiri dan yang lainnya berasal dari kebutuhan dan motivasi

internal individu (Djaali, 2008: 75-76).

Bloom dan Krathwohl telah memberikan banyak inspirasi kepada banyak

orang yang melahirkan taksonomi lain. Prinsip-prinsip dasar yang

digunakan oleh 2 orang ini ada 4 buah, yaitu :

a. Prinsip metodologis

Perbedaan-perbadaan yang besar telah merefleksikan kepada cara-cara

guru dalam mengajar.

b. Prinsip psikologis

Taksonomi hendaknya konsisten dengan fenomena kejiwaan yang ada

sekarang.

c. Prinsip logis

Taksonomi hendaknya dikembangkan secara logis dan konsisten.

d. Prinsip tujuan

Tindakan-tindakan tujuan tidak selaras dengan tingkatan-tingkatan

nilai-nilai. Tiap-tiap jenis tujuan pendidikan hendaknya

(36)

20

Atas dasar prinsip ini maka taksonomi disusun menjadi suatu tingkatan

yang menunjukan tingkat kesulitan. Sebagai contoh, mengingat fakta

lebih mudah daripada menarik kesimpulan. Atau menghafal, lebih

mudah daripada memberikan pertimbangan.

Ada 3 ranah domain besar, yang terletak pada tingkatan ke-2 yang

selanjutnya disebut taksonomi yaitu :

1. Ranah kognitif (cognitive domain)

2. Ranah afektif (affective domain)

3. Ranah psikomotor (psychomotor domain) (Arikunto, 2007:

116-117.

Gaya kognitif dapat dikonsepsikan sebagai sikap, pilihan atau strategi yang

secara stabil mennetukan cara-cara seseorang yang khas dalam menerima,

mengingat, berpikir, dan memecahkan masalah. Hasil belajar dalam

kognitif mempunyai hierarki/bertingkat-tingkat. Adapun tingkat-tingkat

yang dimaksud adalah :

a. Informasi non verbal

b. Informasi fakta dan pengetahuan verbal

c. Konsep dan prinsip

d. Pemecahan masalah dan kreativitas (Slameto, 2010: 139).

Dalam taksonomi taraf kompetisi terendah atau paling sederhana adalah

knowledge yang pada dasarnya dapat ditunjukkan oleh subjek dengan

menjawab aitem-aitem yang menanyakan tentang fakta-fakta umum,

(37)

21

lebih tinggi, yang biasanya diikuti pula oleh meningkatnya taraf kesukaran

aitem, menurut kemampuan yang lebih kompleks daripada taraf

kemampuan di bawahnya. Jadi, untuk dapat menunjukan kompetensi pada

taraf analysis misalnya, seseorang harus dapat memperlihatkan kompetisi

pada taraf application, comprehension, dan knowledge.

Masing-masing tingkat kompetisi dalam taksonomi kawasan kognitif

biasanya dioperasionalkan dalam bentuk kata kerja khusus agar lebih

memungkinkan para penulis soal membuat aitem yang sesuai dengan

tujuan ukur tes. Beberapa contoh kata kerja yang sesuai untuk

[image:37.595.142.488.425.706.2]

masing-masing tingkat kompetensi disajikan dalam tabel seperti di bawah ini.

Tabel 1. Contoh Kata Kerja untuk Menunjukan Hasil Belajar Tertentu

Tingkat Kompetensi Contoh Kata Kerja

Knowledge Mengenali, Mendeskripsikan, Menamakan,

Mendefinisikan, Memasangkan, Memilih.

Comprehension Mengklasifikasikan, Menjelaskan,

Mengikhtisarkan, Meramalkan, Membedakan.

Application Mendemonstrasikan, Menghitung,

Menyelesaikan, Menyesuaikan, Mengoperasikan, Menghubungkan, Menyususn.

Analysis Menemukan perbedaan, Memisahkan,

Membuat diagram, Membuat estimasi, Mengambil kesimpulan, Menyusun urutan.

Syntesis Menggabungkan, Menciptakan,

Merumuskan Merancang, Membuat komposisi, Menyusun kembali, Merevisi.

Evaluation Menimbang, Mengkritik, Membandingkan,

Memberi alasan, Menyimpulkan, Memberi dukungan.

(38)

22

C. Kerangka Pikir

Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan hasil belajar

kognitif siswa yaitu dengan pemilihan strategi dalam pembelajaran. Salah

satu pilihan strategi yang dapat digunakan yaitu penerapan pendekatan multi

representasi. Multi representasi merupakan pendekatan yang

mempresentasikan ulang konsep yang sama dalam beberapa format yang

berbeda-beda. Multi representasi kiranya dapat membantu siswa dalam

mempelajari dan membangun suatu konsep dan mengatasi masalah,

membantu dalam memecahkan masalah, serta membantu untuk menyikapi

masalah. Bentuk representasi yang dapat di berikan dalam pelajaran biologi

yaitu berupa gambar dan simulasi komputer (video).

Tampilan berbagai representasi dalam penanaman suatu konsep akan dapat

lebih membantu siswa memahami suatu konsep yang dipelajari. Hal ini

terkait dengan setiap siswa memiliki kemampuan spesifik yang lebih

menonjol dibanding kemampuan lainnya. Misalnya ada siswa yang lebih

menonjol pada kemampuan verbalnya dibanding kemampuan lainnya, tetapi

ada juga yang sebaliknya. Jika sajian konsep hanya ditekankan pada satu

representasi saja, maka akan menguntungkan sebagian siswa dan tidak

menguntungkan bagi yang lainnya. Pada aspek kognitif menggunakan

taksonomi Bloom, adapun tingkatan-tingkatan pada taksonomi Blomm yaitu,

mengingat (C1, remember), mengerti (C2, understand), memakai (C3, apply),

menganalisis (C4, analyze), menilai (C5, evaluate), dan mencipta (C6,

(39)

23

pencernaan diharapkan siswa mampu memahami konsep atau materi secara

keseluruhan dan mendalam, sehingga dapat meningkatkan kemampuan

kognitif siswa. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendekatan multi

represntasi (variabel X), dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah

kemampuan kognitif siswa (variabel Y).

Keterangan :

[image:39.595.154.377.251.297.2]

X : Variabel bebas, yaitu pendekatan multi representasi. Y : Variabel terikat, yaitu kemampuan kognitif siswa.

Gambar 2. Model hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas maka dirumuskan suatu

hipotesis dalam penelitian ini, yaitu :

1. H0 : Tidak ada perbedaan nilai kognitif siswa dengan penerapan

pendekatan multi representasi pada siswa kelas XI IPA SMA

Negeri 1 Natar tahun pelajaran 2015/2016 pada materi sistem

pencernaan.

2. H1 : Ada Perbedaan nilai kognitif siswa dengan penerapan pendekatan

multi representasi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar

tahun pelajaran 2015/2016 pada materi sistem pencernaan.

(40)

24

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret semester genap tahun pelajaran

2015/2016 di SMA Negeri 1 Natar.

B. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA semester genap di

SMA Negeri 1 Natar tahun pelajaran 2015/2016. Pengambilan sampel

dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Sampel tersebut adalah kelas

XI IPA 1 yang berjumlah 42 orang sebagai kelas kontrol dan kelas XI IPA 4

yang berjumlah 42 orang sebagai kelas ekperimen.

C. Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pretest-postest

non-equivalen. Kelas eksperimen XI IPA 4 diberi perlakuan menggunakan

pendekatan multi representasi, sedangkan kelas kontrol XI IPA 1

menggunakan metode diskusi. Hasil pretest-postest pada kedua kelas subjek

(41)

25

Keterangan :

I : kelas eksperimen (kelas XI IPA 4) II : kelas kontrol (kelas XI IPA 1)

X : perlakuan di kelas ekperimen dengan pendekatan multi representasi

C : perlakuan di kelas kontrol dengan metode diskusi O1 : pretest

[image:41.595.134.462.86.280.2]

O2 : postest Sumber: Riyanto, (2001: 43)

Gambar 3. Desain pretest-postest non ekuivalen

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan

penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut, sebagai berikut:

1. Prapenelitian

Kegiatan yang dilakukan pada penelitian adalah :

a. Membuat surat izin observasi ke sekolah.

b. Mengadakan observasi ke sekolah tempat diadakannya penelitian,

untuk mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang akan

diteliti.

c. Menetapkan sempel penelitian untuk kelas eksperimen menggunakan

pendekatan multi representasi dengan gambar dan video, serta kelas

kontrol menggunakan metode diskusi.

d. Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari Silabus, Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Kelompok

(42)

26

e. Membuat instrumen penelitian yaitu soal pretest-postest berupa soal

pilihan jamak (multiple choice) dengan jumlah 15 pertanyaan dan soal

essay dengan jumlah 5 pertanyaan. Soal yang diberikan berdasarkan

dari soal-soal ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi yang

telah diujikan.

f. Mengelompokkan siswa secara heterogen pada kelas eksperimen dan

kontrol berdasarkan nilai akademik siswa, nilai diperoleh dari

dokumentasi pada guru kelas. Setiap kelompok terdiri dari 6 siswa,

yang terdiri dari 2 siswa dengan nilai akademik tinggi, 2 siswa dengan

nilai akademik sedang, dan 2 siswa dengan nilai akademik rendah.

g. Melakukan pembelajaran dengan pendekatan multi representasi pada

kelas eksperiman menggunakan materi lain agar siswa terbiasa dengan

pendekatan tersebut.

h. Pembuatan angket tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang telah

dilakukan (menggunakan pendekatan multi representasi).

2. Pelaksanaan Penelitian

Mengadakan kegiatan penelitian dengan menggunakan pendekatan multi

representasi untuk kelas eksperimen dan menggunakan metode diskusi

untuk kelas kontrol.

A. Kelas eksperimen (Pendekatan Multi Representasi)

1) Pendahuluan

a. Guru memberikan pretest (pertemuan 1) berupa soal pilihan

jamak mengenai materi pokok sistem pencernaan.

(43)

27

- Pertemuan 1 : Guru menggali pengetahuan awal siswa

dengan memberikan menanyakan materi

yang sudah dipelajari dan terkait dengan

materi yang akan dipelajari, dengan

pertanyaan” apakah makanan yang kita

makan setiap harinya sama?”

- Pertemuan 2 : Guru menggali pengetahuan awal siswa

dengan menanyakan materi yang sudah

dipelajari dan terkait dengan materi yang

akan dipelajari, dengan pertanyaan “apakah

sebelum berangkat sekolah kalian sarapan?

Apa yang kamu makan?”

- Pertemuan 3 : Guru mengawali pengetahuan awal siswa

dengan bertanya, “apakah makanan kita

makan akan langsung di keluarkan?”

c. Guru memberikan motivasi mengenai zat gizi apa saja yang

diperlukan oleh tubuh, dan cara menghindari penyakit yang

dapat terjadi pada sistem pencernaan.

2) Kegiatan Inti

a. Guru membagi siswa menjadi 7 kelompok, setiap kelompok

terdiri dari 6 siswa.

b. Siswa mengamati gambar dan video yang ditayangkan

(44)

28

c. Siswa mendiskusikan bersama kelompoknya untuk menjawab

masalah yang ada di Lembar Kerja Kelompok (LKK).

d. Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi.

e. Guru memberikan kesempaan kepada siswa untuk bertanya

megenai materi yang telah dipresentasikan.

f. Guru memberikan penguatan dengan menjelaskan materi yang

belum dipahami oleh siswa.

3) Penutup

a. Guru bersama siswa mengulas materi yang telah dipelajari.

b. Guru bersama siswa menarik kesimpulan dari setiap

pertemuan.

c. Guru mengadakan postest (pertemuan 3).

d. Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dibahas

pada pertemuan selanjutnya.

e. Guru memberikan penghargaan (misalnya pujian atau

bentuk penghargaan lain yang relevan) kepada kelompok

yang berkinerja baik, dengan kriterian dari hasil kognitif LKK

dan keaktifan anggota kelompok.

B. Kelas Kontrol (Pendekatan Konvensional)

1) Pendahuluan

a. Guru memberikan pretest (pertemuan 1) berupa soal pilihan

jamak mengenai materi pokok sistem pencernaan.

(45)

29

- Pertemuan 1 : Guru menggali pengetahuan awal siswa

dengan menanyakan materi yang sudah

dipelajari dan terkait dengan materi yang

akan dipelajari, dengan pertanyaan” apakah

makanan yang kita makan setiap harinya

sama?”

- Pertemuan 2 : Guru mengawali pengetahuan siswa

dengan menanyakan materi yang sudah

dipelajari dan terkait dengan materi yang

dipelajari, dengan pertanyaan “apakah

sebelum berangkat sekolah kalian sarapan?

Apa yang kamu makan?”

- Pertemuan 3 : Guru mengawali pengetahuan awal siswa

dengan meminta siswa membaca buku teks

dan mengumpulkan informasi tentang sistem

pencernaan makanan pada hewan vertebrata

dan menyusunnya menjadi tabel

perbandingan.

c. Guru memberikan motivasi mengenai zat gizi apa saja yang

diperlukan oleh tubuh, dan cara menghindari penyakit yang dapat

terjadi pada sistem pencernaan.

2) Kegiatan Inti

a. Guru membagi siswa menjadi 7 kelompok, setiap kelompok

(46)

30

b. Siswa membaca buku teks, kemudian menyusun tabel

perbandingan sistem pencernaan pada hewan ruminansia.

c. Siswa mendiskusikan bersama kelompoknya untuk menjawab

masalah yang ada di Lembar Kerja Kelompok (LKK).

d. Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi.

e. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya

mengenai materi yang telah dipresentasikan.

f. Guru memberikan penguatan dengan menjelaskan materi yang

belum dipahami oleh siswa.

3) Penutup

a. Guru bersama siswa mengulas materi yang telah dipelajari.

b. Guru bersama siswa menarik kesimpulan dari setiap

pertemuan.

c. Guru mengadakan postest pada akhir pertemuan.

d. Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dibahas

pada pertemuan selanjutnya.

e. Guru memberikan penghargaan (misalnya pujian atau

bentuk penghargaan lain yang relevan) kepada kelompok

yang berkinerja baik, dengan kriteria dari hasil kognitif LKK

(47)

31

E. Jenis Data dan Teknik Analisis Data

1. Jenis Data

a. Data Kuantitatif

Data kuantitatif, yaitu berupa data hasil belajar yang di peroleh dari

nilai pretest dan postest pada materi pokok sistem pencernaan,

kemudian dihitung selisih antara nilai pretest dengan postest (skor

N-gain), lalu dianalisis secara statistik menggunakan uji t atau uji .

Data hasil belajar berupa pretest dan postest. Nilai pretest diambil

satu kali pada awal pembelajaran, baik kelas ekperimen maupun kelas

kontrol, sedangkan nilai postest diambil satu kali di akhir

pembelajaran, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol dengan

bentuk dan jumlah soal yang sama. Teknik penskoran nilai pretest dan

postest yaitu :

Keterangan :

S : nilai yang diharapkan (dicari)

R : jumlah skor dari item atau soal yang di jawab benar

N : jumlah skor maksimum dari tes tersebut (Purwanto, 2008: 112).

b. Data Kualitatif

Data kualitatif berupa hasil angket tanggapan siswa terhadap pembelajaran

yang telah dilakukan (menggunakan pendekatan multi representasi). Data

angket tanggapan siswa dimaksudkan untuk mengetahui pendapat siswa

tentang pembelajaran yang menggunakan pendekatan multi representasi

setelah proses pembelajaran. Angket tanggapan siswa diberikan saat

(48)

32

(dalam Riduwan, 2010: 43), skala pengukuran dengan tipe ini akan

mendapatkan jawaban yang tegas. Dalam skala Guttman hanya ada dua

interval yaitu, setuju dan tidak setuju. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi

satu untuk jawaban setuju dan terendah nol untuk jawaban tidak setuju.

Pengolahan data angket sebagai berikut;

Tabel 2. Angket Tanggapan Siswa

No Pernyataan-pernyataan S TS

1. Saya senang mempelajari materi pokok sistem pencernaan yang diberikan oleh guru

2 Saya lebih mudah mempelajari materi pokok sistem pencernaan yang diberikan oleh guru

3 Saya lebih mudah mengerjakan soal-soal setelah mempelajari materi pokok sistem pencernaan yang diberikan oleh guru

4 Saya merasa sulit berinteraksi dengan teman ketika proses pembelajaran berlangsung

5 Saya merasa sulit mengerjakan soal-soal di LKK melalui pembelajaran yang diberikan oleh guru

Keterangan :

S = Setuju, TS = Tidak Setuju

Pengolahan data angket tanggapan siswa sebagai berikut:

[image:48.595.188.446.579.722.2]

1) Menetapkan skor angket tanggapan siswa

Tabel 3. Skor per item angket

Pernyataan

Skor per item angket

1 0

Pernyataan positif S TS

Pernyataan negatif TS S

dst. ... ...

Keterangan : S = setuju; TS = tidak setuju

(49)

33

2). Melakukan tabulasi data temuan pada angket berdasarkan klasifikasi

yang dibuat, bertujuan untuk memberikan gambaran frekuensi dan

[image:49.595.169.513.211.365.2]

kecenderungan dari setiap jawaban berdasarkan pernyataan angket.

Tabel 4. Tabulasi Data Hasil Anggket Tanggapan Siswa

No pertanyaan

Pilihan jawaban

Nomor Responden Siswa

Persentase frekuensi

1 2 3 4 5 6 dst

1 S

TS

2 S

TS

Dst S

TS

Keterangan, S= Setuju, TS= Tidak Setuju

2. Teknik Analisis Data

Data penelitian berupa nilai pretest, postest, dan skor N-gain. Untuk

mendapatkan skor N-gain menggunakan formula Hake (dalam Loranz,

2008: 2) yaitu :

Nilai pretest, posttest, dan skor N-gain pada kelas kontrol dan eksperimen

(50)

34

a. Uji prasyarat

1) Uji Normalitas Data

Uji normalitas data dapat dilakukan dengan cara uji Lilliefors.

Pengujian normalitas lebih cepat dapat dikerjakan dengan komputer

(SPSS versi 17).

Rumusan hipotesis

H0 =data berdistribusi normal

H1= data tidak berdistribusi normal

Kriteria pengujian

Untuk mencari Ltabel digunakan rumus (n= 42)

L tabel eksperimen =

L tabel kontrol =

Terima Ho jika Lhitung < Ltabel atau p-value > 0,05

tolak Ho untuk harga yang lainnya (Uyanto, 2009: 46).

2) Uji Kesamaan Dua Varians

Uji kesamaan dua varians digunakan untuk menguji apakah kedua

data tersebut homogen yaitu dengan membandingkan dua

variansnya. Selanjutnya dilanjutkan dengan uji kesamaan dua varian

dengan menggunakan program SPSS versi 17.

a) Rumusan Hipotesis

H0 = kedua data mempunyai varians yang sama

(51)

35

b) Kriteria Pengujian

Jika Fhitung Ftabel maka H0 diterima

Ftabel = F1/2 (dk varians terbesar -1, dk varians terkecil -1)

(Susanti, 2014: 238-239).

3) Uji t

Uji t digunakan untuk pengujian hipotesis, untuk mengetahui adanya

perbedaan nilai rata-rata antara dua sample, yaitu nilai pretest-postest

kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Hipotesis :

H0 = rata-rata N-gain score kedua sampel sama

H1 = rata-rata N-gain score kedua sampel tidak sama

Kriteria Pengujian :

Jika –ttabel thitung + ttabel, maka H0 diterima (Usman, Husaini, dan

Akbar, 2006: 124).

4) Uji Mann-Whitney U

Apabila data yang didapatkan tidak berdistribusi normal, maka untuk

pengujian hipotesis dilakukan dengan uji Mann-Whitney U

1. Hipotesis

H0 = rata-rata nilai kedua sampel berbeda tidak signifikan

(52)

36

2. Kriteria Pengujian

Dalam pengujian hipotesis, kriteria untuk menolak atau tidak

menolak H0 berdasarkan P-value adalah sebagai berikut:

Jika Zh < Zα=0,05, maka Ho diterima (p>0,05)

(53)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan

sebagai berikut:

1. Terdapat perbedaan nilai kognitif siswa dengan penerapan pendekatan multi

representasi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar tahun pelajaran

2015/2016 pada materi sistem pencernaan.

2. Siswa memberikan tanggapan positif terhadap pendekatan multi

representasi.

B. Saran

Untuk kepentingan penelitian, maka penulis menyarankan sebagai berikut:

1. Siswa diarahkan dalam mengerjakan soal pretes dan postes agar tidak

terjadi kesalahan dalam menafsirkan pertanyaan yang terdapat pada soal.

2. Guru hendaknya memberikan penghargaan berupa hadiah kepada

kelompok yang dapat menyelesaikan LKK benar dan tepat waktu,

sehingga siswa akan termotivasi untuk mengerjakan LKK dengan serius

dan bekerja sama dengan baik.

3. Peneliti lain yang akan menerapkan pendektan multi representasi

(54)

52

gambar dan video yang akan ditampilkan dengan memperhatikan

(55)

54

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman. 2011. Implementasi Pembelajaran Berbasis Multi Reprsentasi untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Fisika Kuantum. Jurnal Cakrawala Pendidikan. 16 hal.

Arikunto. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi. Bumi Aksara. Jakarta. 306 hal.

Azwar, S. 2007. Tes Prestasi Fungi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 193 hal.

Badri, S. 2012. Metode Statistika untuk Penelitian Kuantitatif. Penerbit Ombak. Yogyakarta.

Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta. 132 hal.

Gilbert. JK, Reiner. M, dan Nakhleh. M. 2008. Visualization: Theory and Practice in Science Education. Springer. US. 326 hal.

Hutagaol, K. 2013. Multi Representasi dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal Pendidikan Matematika. 7 hal.

Irwandani. 2015. Multi Representasi Sebagai Alternatif Pembelajaran dalam Fisika. Jurnal Pendidikan Fisika. 10 hal.

Loranz, D. 2008. Gain Score. Google

http://www.tmcc.edu./vp/acstu/assesment/downloads/documents/reports/ar chives/discipline/0708/SLOAPHYSDisiciplineRep0708.pdf. (6 Nonember 2015: 13.47)

Purwanto, N. M. 2008. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Remaja Rosdakarya. Bandung. 165 hal.

(56)

54

Rahayu, S.P. 2010. Deskripsi Sikap Siswa Terhadap Lingkungan Melalui Pendekatan Pengungkapan Nilai (Values Clarification Approach) Pada Kelas VII MTs Guppi Natar. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 134 hal.

Riduwan. 2010. Dasar-dasar Statistika. Alfabeta. Bandung. 273 hal.

Riyanto, Y. 2001. Metodologi Penelitian Pendidikan. SCI. Surabaya. 121 hal.

Rusman., Kuniawan., dan Riyana. 2011. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi Mengembangkan Profesionalitas Guru. Rajawali Pers. Jakarta. 152 hal.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta. 195 hal.

Sudaryono. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pembelajaran. Graha Ilmu. Yogyakarta. 234 hal.

Sunyono. 2012. Buku Model Pembelajaran Berbasis Multi Representasi (Model SiMaYang). Anugrah Utama Raharja. Bandar Lampung. 126 hal.

Suryani, N dan L. Agung. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Penerbit Ombak. Yogyakarta. 205 hal.

Susanti, M.N.I. 2014. Statistika Deskriptif & Induktif. Graha Ilmu. Yogyakarta. 272 hal.

Sutirman, 2013. Media dan model-model pembelajaran inovatif. Graha Ilmu. Yogyakarta. 90 hal.

Treagust, D. F & Tsui, C-Y. (Eds.). (2013). Multiple representations in biological education. Springer. 389 hlm.

Usman, H dan Akbar. 2006. Pengantar Statistika Edisi Kedua. Bumi Aksara. Jakarta. 363 hal.

Uyanto, S. 2009. Pedoman Analisis Data dengan SPSS Edisi 3. Graha Ilmu. Yogyakarta. 366 hal.

Widianingtiyas., Siswoyo, dan Bakri. 2015. Pengaruh Pendekatan Multi

Representasi dalam Pembelajaran Fisika Terhadap Kemampuan Kognitif Siswa SMA. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Fisika-JPPPF. 8 hal.

Figure

Gambar 1. Taksonomi Fungsi Multipel Representasi
Tabel 1. Contoh Kata Kerja untuk Menunjukan Hasil Belajar Tertentu
Gambar 2. Model hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat
Gambar 3. Desain pretest-postest non ekuivalen
+3

References

Related documents

The SOP templates provided on this website are developed based on a format following the National Academy of Science (NAS) Laboratory Chemical Safety Summary Sheets (LCSS). As such

Pri procjeni relativnog rizika u usporedbi sa ženama iste dobi (Tablica 1.), žene prosječnog rizika također su značajno češće dale točnu samoprocjenu relativnog

Introduction to Testing – BA, Dept of Behavioral Sciences, Ben Gurion University Test Development – MA - Dept of Behavioral Sciences,Ben Gurion University Cognitive Psychology –

The findings of this research aided in the construction of a matrix useful for researchers and practitioners since it demonstrates the perceptions of tourists on the use of robots

Figure 5.20 Methods of spectral estimation using Gerbe spectral total-gamma data 301 Figure 5.21 Time-series analysis of spectral gamma ray and sandstone turbidite intensity

Access provided by Cambridge University on 01/10/17. For personal use only... research on racial disparity. Because of severe racial disparities in incarceration, any negative

, obtained using the non-parametric (model free) method. The treatment effect curve is obtained by subtracting the growth rate in the control group from the average inhibition

We have demonstrated that methotrexate uptake in neuroblastoma cells is mediated principally by the reduced folate carrier (RFC; SLC19A1 ), that SLC19A1 and MYCN expression