• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
81
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

(Skripsi)

Oleh

SITI ALINA TAZKIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

GUNUNG TERANG KOTA BANDAR LAMPUNG OLEH

SITI ALINA TAZKIA

Penelitian bertujuan mendeskripsikan model mutu pendidikan. Metode penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data secara interaktif dan berkelanjutan. Sumber data: kepala sekolah, wakil kesiswaan, peserta didik dan wali murid. Fokus dalam penelitian ini ialah studi deskriptif model mutu pendidikan di SDIT Muhammdiyah Gunung Terang kota Bandar Lampung, dengan subfokus penelitian: (1) definisi mutu pendidikan, (2) Penerapan 8 standar nasional pendidikan, (3) cara menjamin aspek mutu pendidikan, (4) faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan mutu pendidikan. Hasil dari subfokus (1) mutu pendidikan ialah kualitas atau ukuran kemampuan sekolah dalam mengelola sekolah; hasil subfokus (2) penerapan pelaksanaan 8 standar nasional pendidikan; hasil subfokus (3) upaya sekolah menjamin aspek mutu pendidikan; hasil subfokus (4) faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan mutu yang berasal dari guru, siswa, orangtua siswa, dan sarana prasarana.

(3)

GUNUNG TERANG KOTA BANDAR LAMPUNG BY

SITI ALINA TAZKIA

This research is aimed to describe and explain the model of quality education. The method used in the research is qualitative descriptive. The data is collected by using an interactive and continuous observation, interview, and documentation. The resources of the data are the school principal, student representative, the student, and the student guardian. The focus in this study is a descriptive study of the quality model of education at SDIT Muhammadiyah Gunung Terang in Bandar Lampung, with sub focus of research: (1) definition of education quality, (2) Application of eight national education standards in SDIT Muhammadiyah Gunung Terang, (3) the method used by school in ensuring the quality of education, (4) supporting factors and inhibitors of quality implementation in SDIT Muhammadiyah Gunung Terang. The result of sub focus (1), the definition of quality education is the quality or size of the schools ability to manage the school better the results of sub focus (2) is the application of eight national education standards, (3) is the school's efforts to ensure the quality of education; the results of sub focus (4) are supporting factors and obstacles to the implementation of quality derived from teachers, students, parents, and infrastructure.

(4)

Oleh

SITI ALINA TAZKIA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

Peneliti bernama Siti Alina Tazkia adalah anak pertama dari pasangan Bapak Apip Sunjaya dan Ibu Roslina. Peneliti dilahirkan di Samoja Kecamatan Batununggal Kota Bandung, pada tanggal 16 November 1994.

Peneliti memperoleh pendidikan formal pertama kali di Taman Kanak-kanak (TK) Bhinekas Bandung, yang diselesaikan pada tahun 2001. Kemudian peneliti melanjutkan pendidikan dasar di SDN IV Babakan Tarogong Bandung, yang diselesaikan pada tahun 2007. Peneliti menyelesaikan pendidikan lanjutan di SMP Negeri 1 sepatan pada tahun 2010. Pendidikan menhengah atas peneliti selesaikan di SMA Negeri 11 Kab.Tangerang. selanjutnya pada tahun 2014 peneliti terdaftar sebagai mahasiswa S1-PGSD FKIP Universitas Lampung.

(9)

Dengan mengucap puji syukur atas kehadirat Allah SWT, skripsi ini kupersembahkan untuk orang tuaku tercinta yaitu Bapak Apip Sunjaya dan Ibu Roslina, terimakasih atas segala yang telah dilakukan demi anakmu. Terimakasih

atas cinta dan kasih sayang, yang selalu terpancarkan dalam setiap doa dan restu yang mengiringi langkah anakmu.

Terimakasih untuk Adik ku Muhammad Billal Syuhada dan seluruh keluarga besarku yang telah memberikan motivasi dan dukungan selama ini.

Terimakasih kepada Para Guru dan Dosen yang telah berjasa memberikan bimbingan dan ilmu yang sangat berharga melalui ketulusannya dan

kesabarannya.

Terimakasih untuk teman-teman seperjuangan yang telah memberikan bantuan baik secara materil maupun non-materil. Semoga kebaikan dan bantuan yang

diberikan dibalas oleh Allah SWT.

(10)

“ sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”

(Q.S Ar-Ra’d 11)

“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya”

(Q.S Al-Baqarah: 286)

“Jangan bandingkan prosesmu dengan proses oranglain, karena tak semua bunga tumbuh dan mekar bersamaan”

(11)

Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga saya mampu menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Model Mutu Pendidikan di SDIT

Muhammadiyah Gunung Terang Kota Bandar Lampung”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan di Universitas Lampung. Terimaksaih kepada Bapak Dr. Riswandi, M.Pd selaku dosen pembimbing I, Ibu Dra. Fitria Akhyar selaku dosen pembimbing II dan pembimbing akademik, serta Ibu Dra. Erni Mustakim, M.Pd selaku dosen pembahas atas kesediaannya memberikan bimbingan, motivasi, saran dan kritik selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.

Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian ini tentunya tidak akan mungkin terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan kerendahan hati yang tulus saya mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

2. Ibu Dr. Riswanti Rini, M.Si., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.

(12)

penyusunan skripsi ini.

5. Bapak Andri Setriawan, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SDIT Muhammadiyah Gunung Terang yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian di sekolah tersebut.

6. Sahabatku tercinta caca, dea, shanty, amii, dan linda yang telah menemani dan memberikan dukungan serta setia menemani peneliti.

7. Sahabat sekaligus keluarga Rizki Nicki Amalia, S.Pd, Nethy Afriana, S.Pd, Mila khanifa, S.Pd, Meriska Apsari, S.Pd dan Ridwan Riski Yuwardi, S.Pd yang selalu membantu dan memberi semangat serta setia mendengar keluh kesah peneliti. Terimakasih atas kebersamaannya selama ini.

8. New sistars ku, ayu safitri, mba isna dan mba pipit yang selalu menemaniku di kostan tercinta.

9. Teman-teman seperjuangan PGSD angkatan 2014 khususnya kelas Paralel B, yang selama ini selalu berbagi ilmu, memberi semangat, bantuan, serta kebersamaannya yang telah terjalin seperti keluarga. Semoga kita semua bisa jadi guru yang amanah.

10. Keluarga Besar Achmad Rozali yang selalu memberikan do’a, kasih sayang, semangat serta dukungan yang tiada henti.

(13)

yang sudah kalian berikan.

Bandar Lampung, 18 Oktober 2018 Peneliti

(14)

i

Halaman

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Pertanyaan Penelitian ... 7

D. Tujuan Penelitian... 9

E. Manfaat Penelitian... 9

F. Ruang Lingkup Penelitian... 10

G. Definisi Istilah ... 11

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Mutu ... 12

B. Pentingnya Mutu ... 14

C. Definisi Mutu Pendidikan ... 15

D. Karakteristik Mutu Pendidikan ... 17

E. Komponen Mutu Pendidikan ... 18

F. Penjamin Mutu Pendidikan ... 20

1. Acuan Mutu Pendidikan ... 20

2. Sistem Penjamin Mutu Pendidikan ... 21

3. Tim Penjamin Mutu Pendidikan Pada Satuan Pendidikan ... 24

4. Ukuran Keberhasilan Penjamin Mutu Pada Satuan Pendidikan... 24

G. Standar Nasional Pendidikan ... 25

1. Standar Isi ... 26

2. Standar Proses ... 27

3. Standar Kompetensi Lulusan... 31

4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan... 32

5. Standar Sarana dan Prasarana... 33

6. Standar Pengelolaan ... 33

(15)

ii III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian... 41

B. Setting Penelitian... 42

C. Subyek Penelitian ... 43

D. Sumber Data... 43

E. Teknik Pengumpulan Data ... 45

F. Instrumen Penilaian... 47

G. Teknik Analisis Data ... 49

H. Teknik Keabsahan Data ... 52

I. Prosedur Penelitian... 53

IV. Hasil dan Pembahasan Penelitian A. Hasil Penelitian ... 56

1. SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ... 56

2. Pelaksanaan Penelitian... 63

3. Paparan Data Penelitian ... 64

4. Temuan penelitian... 98

B. Pembahasan Penelitian... 116

1. Definisi Mutu Menurut SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ... 116

2. Penerapan 8 Standar Nasional Pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ... 119

3. Cara Sekolah Menjamin Mutu Pendidikan ... 131

4. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Mutu di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ... 132

C. Pengembangan Penelitian Model Mutu Pendidikan ... 134

V. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan ... 139

2. Saran... 142

DAFTAR PUSTAKA... 144

(16)

iii

Tabel Halaman

1. Kompetensi Lulusan SD/MI/SDLB/Paket A ... 32

2. Sumber Data dan Pengkodean ... 44

3. Kisi-kisi Observasi dan Wawancara Pada Penelitian Model Mutu Pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ... 48

4. Daftrar Pendidik dan Karyawan... 59

5. Data Peserta Didik di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ... 61

6. Keadaan Sarana dan Prasarana ... 62

7. Data Fasilitas... 62

8. Hasil Wawancara, Observasi dan Dokumentasi Definisi Mutu Pendidikan menurut SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ... 68

9. Hasil Wawancara, Observasi dan Dokumentasi Penerapan 8 Standar Nasional Pendidikan di SDIT Muhammdiyah Gunung Terang... 91

10. Hasil Wawancara, Observasi dan Dokumentasi Cara Sekolah Menjamin Mutu Pendidikan... 94

(17)

iv

Gambar Halaman

1. Sistem penjamin mutu pendidikan dasar dan menengah ... 22

2. Siklus penjamin mutu pada satuan pendidikan ... 23

3. Struktur tim penjamin mutu pendidikan pada satuan pendidikan ... 24

4. Alur Kerangka Pikir Penelitian... ... 40

5. Komponen Dalam Analisis Data... 49

6. Teknik Triangulasi Data... 53

7. Diagram Konteks Definisi Mutu Pendidikan Menurut SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ... 101

8. Diagram Konteks Penerapan 8 Standar Nasional Pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ... 112

9. Diagram Konteks Cara Sekolah Menjamin Mutu Pendidikan... 114

(18)

v

Lampiran Halaman

1. Arsip Data/Dokumen ...148

2. Struktur Kurikulum ...149

3. Muatan Kurikulum ...150

4. Kegiatan Pengembangan Diri ...156

5. Target Lulusan Sekolah...157

6. Pendidikan Kecakapan Hidup (life skill)...158

7. Struktur Organisasi ...160

8. Kisi-kisi Metode Observasi dan Wawancara Pada Penelitian Model Mutu Pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ...161

9. Denah SDIT Muhammadiyah Gunung Terang ...162

10. Kode Penelitian ...163

11. Pedoman Wawancara Dengan Kepala Sekolah ...164

12. Pedoman Wawancara Dengan Wakil Kesiswaan ...166

13. Pedoman Wawancara Dengan Wali Murid...168

14. Pedoman Wawancara Dengan Peserta Didik ...169

15. Transkip Wawancara Dengan Kepala Sekolah ...170

16. Transkip Wawancara Dengan Wakil Kesiswaan ...182

17. Transkip Wawancara Dengan Wali Murid ...190

18. Transkip Wawancara Dengan Peserta Didik...193

19. Dokumentasi Foto ...196

20. Buku Penghubung SDIT Muhammadiyah Gunung Terang...199

21. Nilai Akreditasi SDIT Muhammadiyah Gunung Terang...200

22. Nilai Akreditasi SDN 2 Gunung Terang...201

23. Nilai Akreditasi SDN 1 Gunung Terang...202

24. Surat Penelitian Pendahuluan...203

(19)

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan hak asasi setiap individu anak bangsa, hal tersebut telah diakui dalam pasal 31 ayat (1) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, sedangkan ayat (3) juga menyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dalam undang-undang. Oleh karena itu, seluruh komponen bangsa baik orangtua, masyarakat, maupun pemerintah sendiri bertanggungjawab mencerdaskan bangsa melalui pendidikan. Hal ini menjadi salah satu tujuan bangsa Indonesia yang diamanatkan oleh Pembukaaan UUD 1945 alinea 4.

(20)

kependidikan. Tenaga kependidikan mempunyai peran dalam pembentukan pengetahuan, keterampilan dan karakter peserta didik.

Oleh karena itu, tenaga kependidikan yang profesional akan melaksanakan tugasnya secara profesional, sehingga menghasilkan kualitas peserta didik yang bermutu. Melalui pendidikan, anak didik dipersiapkan menjadi manusia yang bertaqwa, beriman, berakhlaq mulia, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai makhluk pribadi maupun sebagai makhluk sosial. Menurut Fitrah (2017: 31) educational quality is our hope in fancing strict life exchange in several sectors especially in education sectors for better future. For the sake of making educational quality, this needs role of leaders in educational institutes.

(21)

Pendidikan seringkali dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan dalam proses penyelenggaraannya. Permasalahan tersebut dapat bersumber pada diri siswa, masyarakat, lingkungan maupun pada manajemen sekolah yang kurang dapat menciptakan ide-ide yang baru dalam meningkatkan mutu pendidikan. Permasalahan dunia pendidikan di Indonesia terletak di dalam mutu atau kualitas pendidikannya. Kualitas pendidikan ini menyangkut pada setiap jenjang pendidikan.

Departemen Pendidikan Nasional (2001: 1-2) terdapat empat faktor yang dapat menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu:

1. Program pembangunan pendidikan nasional menggunakan education function atau input output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Educational production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan output pendidikan. Padahal proses pendidikan sangat menentukan output pendidikannya, output merupakan indikator suatu lembaga pendidikan untuk melakukan evaluasi hasil kerja sehingga dapat dilihat apakah penggunaan metode di dalam proses adalah tepat atau harus sedikit diperbaiki dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap proses pendidikan yang dapat mengakibatkan banyak input pendidikan yang tidak termanfaatkan dengan baik;

2. Penyelenggaraan pendidikan nasional diatur dan dilakukan secara birokratis-sentralistik, hal tersebut menyebabkan sekolah kehilangan kemandirian, motivasi dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaga sekolahnya termasuk dalam hal perbaikan mutu pendidikan yang merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, keadaan tersebut sangat menimbulkan kerugian yang sangat besar pada pihak sekolah, karena telah kehilangan kesempatan untuk memajukan pendidikan melalui strategi-strategi baru yang muncul seiring dengan semakin berkembangnya pendidikan;

3. Kesadaran warga sekolah akan pentingnya mengimplementasi kebijakan masih kurang pendidikan dengan baik agar tercapainya tujuan kebijakan;

(22)

Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh keberhasilan pengelolaan, penerapan kebijakan mutu serta evaluasi mutu pendidikan di sekolah, karena mutu merupakan sesuatu yang sangat penting untuk proses tercapainya pendidikan yang lebih baik. Dengan adanya manajemen mutu pendidikan yang baik dapat berpengaruh besar terhadap sekolah tersebut.

Syafrudin (2002: 49) mengatakan bahwa di dalam upaya untuk meningkatkan mutu suatu organisasi pendidikan, sangat ditentukan oleh mutu kepemimpinan dan manajemen pendidikan yang efektif, sedangkan dukungan dari bawah hanya akan muncul secara berkelanjutan ketika pemimpinnya benar-benar memiliki kualitas kepemimpinan yang unggul dan dapat memanajemen pendidikan yang baik.

Menurut Wagner (2010: 742-743) A second way that educational quality may be considered is through the use of input-output models– where a number of key learner characteristics are taken into account, most particularly what a child has learned at home before arriving at school. The school provides a set of inputs that includes time, teaching methods, teacher feedback, learning materials and so forth. The outcomes of this process, in the learner, may be a set of cognitive skills learned (such as reading and writing), social attitudes and values, and more.

Sedangkan menurut Hayat dkk, (2010: 5) untuk meningkatkan mutu suatu organisasi harus ada sesuatu kesesuaian dengan yang diisyaratkan atau yang distandarkan, yaitu kesesuaian keadaan di lapangan dengan standar mutu atau kebijakan yang telah ditentukan, baik melalui inputnya, prosesnya, maupun outputnya.

(23)

dan Prasarana, Standar Penilaian Pendidikan, Standar Proses, dan Standar Pengelolaan. Dengan adanya hal tersebut masing-masing sekolah dituntut untuk mengembangkan pendidikannya berdasarkan Standar Nasional Pendidikan.

Sekolah dasar (SD) merupakan pendidikan formal tingkat dasar yang melandasi pendidikan pada jenjang selanjutnya. Dimana sekolah dasar merupakan tingkatan pendidikan yang dapat membentuk karakter awal seorang anak. Oleh sebab itu, sangat penting adanya pendidikan dasar yang berkualitas baik dari segi intelektual, emosional maupun spiritual, yang kelak dapat membentuk menjadi pribadi yang cerdas, bertanggung jawab, dapat bersaing dan agamis.

(24)

Penelitian ini mengambil obyek penelitian mengenai Model Mutu Pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang Kota Bandar Lampung. Sebagai obyek penelitian, peneliti berpedoman bahwa SDIT Muhammadiyah Gunung Terang merupakan salah satu sekolah swasta yang maju dan baru berdiri pada tahun 2006 yang berada di Bandar Lampung dengan akreditasi sekolah yang baik. SDIT Muhammadiyah Gunung Terang merupakan sekolah dasar yang memiliki banyak prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik yang dapat dilihat melalui kumpulan piala penghargaan yang tersusun dengan rapi. SDIT Muhammadiyah Gunung Terang mempunyai tujuan untuk menjadi sekolah unggulan di Bandar Lampung pada tahun 2020.

SDIT Muhammadiyah Gunung Terang disamping mengembangkan kurikulum Nasional, juga mengembangkan Kurikulum Keagaman dan Kurikulum Khas (Agama Islam dan Kemuhammadiyahan). Disisi lain kepala sekolah dalam menjalankan kepemimpinannya mampu menggerakkan para pendidik, peserta didik dan warga sekolah untuk selalu meningkatkan kemampuannya termasuk dalam menghadapi tahun ajaran baru, pendidik-pendidik SDIT Muhammadiyah Gunung Terang mengadakan kegiatan pelatihan pendidik guna meningkatkan kemampuan mengajar pendidik, sehingga tercapainya visi dan misi SDIT Muhammadiyah Gunung Terang.

(25)

standar nasional pendidikan, terdapat empat standar nasional di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang yang sudah mencapai nilai 100%. Diantaranya adalah standar isi, standar proses, standar pengelolaan dan standar penilaian. Oleh sebab itu, penelitian ini penting dilakukan untuk melihat mutu sekolah yang diterapkan berdasarkan standar mutu pendidikan serta faktor apa sajakah yang menjadi pendukung dan penghambat dalam peningkatan mutu pendidikan.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, maka fokus utama penelitian adalah model mutu pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang.

Adapun sub fokus penelitian ini adalah :

1. Definisi mutu menurut sekolah SDIT Muhammadiyah Gunung Terang 2. Penerapan 8 standar Nasional Pendidikan di SDIT Muhammadiyah

Gunung Terang

3. Cara sekolah dalam menjamin aspek-aspek mutu pendidikan

4. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan standar mutu di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

C. Pertanyaan Penelitian

(26)

1. Bagaimana definisi mutu menurut sekolah SDIT Muhammadiyah Gunung Terang?

2. Bagaimana penerapan 8 Standar Nasional Pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang?

a. Bagaimana penerapan standar isi di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang?

b. Bagaimana penerapan standar proses di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang?

c. Bagaimana penerapan standar kompetensi lulusan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang?

d. Bagaimana penerapan standar pendidik dan tenaga kependidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang?

e. Bagaimana penerapan standar sarana dan prasarana di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang?

f. Bagaimana penerapan standar pengelolaan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang?

g. Bagaimana penerapan standar pembiayaaan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang?

h. Bagaimana penerapan standar penilaian di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang?

3. Bagaimana Cara sekolah dalam menjamin aspek-aspek mutu pendidikan.?

(27)

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan serta menjelaskan:

1. Definisi mutu menurut SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

2. Penerapan 8 standar nasional pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

a. Standar isi di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang b. Standar proses di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

c. Standar kompetensi lulusan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

d. Standar pendidik dan tenaga kependidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

e. Standar sarana dan prasarana di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

f. Standar pengelolaan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang g. Standar pembiayaaan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang h. Standar penilaian di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang 3. Cara sekolah dalam menjamin aspek-aspek mutu pendidikan.

4. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan standar mutu di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

E. Manfaat Penelitian

(28)

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memberikan kejelasan yang teoritis dan pemahaman yang mendalam tentang implementasi, kendala serta upaya yang ada dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peserta didik, penelitian ini dapat membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan peserta didik

b. Bagi pendidik, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai evaluasi bagi guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran.

c. Bagi kepala sekolah, penelitian ini dapat sebagai bahan evaluasi terhadap pengembangan mutu pendidikan.

d. Bagi dinas pendidikan, juga dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk membenahi kurikulum serta kebijakan-kebijakan yang dibuat.

e. Bagi peneliti, bermanfaat untuk menambah pengalaman langsung terjun ke lapangan sehingga dapat mengaplikasikan ilmu yang sebelumnya telah diperoleh dibangku perkuliahan.

f. Bagi peneliti lain, sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

F. Ruang Lingkup Penelitian

(29)

1. Sifat penelitian : Deskriptif kualitatif.

2. Subjek penelitian : Kepala Sekolah, wakil bidang kesiswaan, peserta didik dan orangtua siswa SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

3. Objek penelitian : Mutu Pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung

4. Tempat Penelitian : SDIT Muhammdiyah Gunung Terang.

5. Waktu Penelitian : pada semester genap tahun pelajaran 2017/2018

G. Definisi Istilah 1. Mutu

Mutu merupakan derajat keunggulan suatu produk (barang atau jasa). Suatu produk yang berkualitas tidak hanya sekedar berfungsi sesuai fungsinya tetapi juga harus memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang lain.

2. Mutu Pendidikan

Mutu Pendidikan merupakan kemampuan suatu lembaga pendidikan dan satuan-satuan pendidikan dalam memanajemen, mengelola, melaksanakan dan memajukan pendidikan serta pengajaran melalui berbagai inovasi yang telah diterapkan oleh sekolah.

3. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT)

(30)

A. Definisi Mutu

Kata “Mutu” berasal dari Bahasa Inggris yaitu “quality” yang berarti kualitas. Kualitas merupakan tingkatan (degree) atau taraf atau derajat kebaikan sesuatu.

Menurut Sallis (2006: 51-53), kualitas dapat di definisikan melalui dua konsep. Konsep pertama kualitas memiliki sifat absolut (mutlak) dan konsep kedua adalah konsep yang bersifat relatif.

a) konsep absolut, sesuatu yang bermutu merupakan bagian dari standar yang sangat tinggi yang tidak dapat diungguli. Produk-produk yang bermutu adalah sesuatu yang dibuat dengan sempurna dan dengan biaya yang mahal. Mutu dalam pandangan ini digunakan untuk menyampaikan keunggulan status dan posisi, dan kepemilikan terhadap barang yang memiliki mutu, akan membuat pemiliknya berbeda dari orang lain yang tidak mampu memilikinya.

b) Konsep relatif, memandang mutu bukan suatu atribut produk atau layanan, tetapi sesuatu yang dianggap berasal dari produk atau layanan tersebut. Mutu dikatakan ada apabila sebuah layanan memenuhi spesifikasi yang ada. Produk atau layanan yang memiliki mutu dalam konsep relatif ini tidak harus mahal dan ekslusif

(31)

Munro dan Malcolm (1996: 1) mengemukakan bahwa mutu adalah salah satu pokok masalah yang sering dipahami dalam dunia bisnis, walaupun inti kelangsungan hidup organisasi yang paling besar. Mutu ditentukan oleh para pelanggan.

Menurut pendapat Philip Crosby dalam Lesley (1996: 336), mutu harus ditentukan sebagai kesesuaian terhadap kebutuhan-kebutuhan, bukan sebagai kebaikan juga bukan keistimewaan. Sedangkan Menurut Umaedi (2002: 7), mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas merupakan derajat keunggulan suatu produk (barang/jasa). Suatu produk yang berkualitas tidak sekedar berfungsi sesuai fungsinya tetapi juga harus memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang lain sesuai dengan harapan konsumen. Kualitas atau mutu mencerminkan baiknya atau tingginya standar atau tingginya penilaian produk dari konsumen.

(32)

berpendapat bahwa produsen perlu menentukan kriteria kualitas untuk menilai barang atau jasa sebelum dilempar kepasar.

B. Pentingnya Mutu

Kualitas adalah sesuatu yang sangat penting bagi sebuah organisasi. Kualitas bukan hanya sekedar persoalan reputasi organisasi, melainkan juga bentuk pertanggung jawaban moral produsen kepada konsumen (Barnawi dan M.Arifin)

Di era globlisasi seperti sekarang ini sangat dibutuhkan peningkatan kualitas suatu produk. Dengan meningkatnya kualitas, maka produsen telah mampu memuaskan pelanggan. Hanya kualitaslah yang mampu mempertahankan eksistensi barang atau jasa di pasar dunia

Menurut Russel dalam Barnawi (2017: 23-24), mutu dianggap sangat penting bagi organisasi karena sebagai berikut:

1. Meningkatkan reputasi perusahaan, perusahaan yang telah menghasilkan suatu produk atau jasa yang berkualitas akan mendapat predikat sebagai organisasi yang mengutamakan kualitas.

2. Peningkatan pangsa pasar, pangsa pasar suatu organisasi akan tercapai bila meminimalkan biaya, karena organisasi atau perusahaan dapat menekan harga walaupun mutu tetap menjadi kualitas yang utama.

3. Pertanggungjawaban produk, dengan semakin meningkatnya persaingan kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, maka organisasi akan dituntut untuk semakin bertanggung jawab terhadap desain, proses dan pendistribusian produk tersebut untuk memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.

4. Dampak internasional, bila suatu organisasi dapat menawarkan produk atau jasa yang berkualitas, maka selain dikenal di pasar lokal, produk atau jasa yang ditawarkan juga akan dikenal dan diterima di pasar internasional.

(33)

Berdasarkan pendapat diatas kualitas atau mutu yang baik dapat meningkatkan penjualan dan mampu bersaing dengan produk lain yang kualitasnya baik. Karena pada saat pelanggan menganggap produk tersebut berkualitas di bandingkan pesaing, maka pelanggan bersedia membayar dengan harga yang tinggi. Selain itu semakin meningkatnya persaingan kualitas, maka organisasi harus bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan

C. Definisi Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan dalam era pembangunan yang bersifat global, mutu harus mendapat perhatian utama bagi pemerintah, sebab apabila pemerintah tidak memperhatikan mutu pendidikan negaranya, maka dapat dipastikan Negara tersebut akan terpuruk dan tenggelam didalam perkembangan jaman. Menurut Depdiknas (2001: 25-26) mutu merupakan suatu terminologi yang subjektif dan relatif yang dapat diartikan sebagai beberapa cara di mana setiap definisi dapat didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Mutu pendidikan ditandai dengan kesesuaian teori dengan kondisi dan kebutuhan, daya tarik pendidikan yang besar, efektivitas program, serta efisiensi dan produktivitas kegiatan. Secara umum, mutu merupakan gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat.

(34)

menjamin mutu lulusannya, 3) bekerja lebih profesional dan 4) meningkatkan persaingan yang sehat.

Suryadi dalam Sam M.Chan (2010: 4) mengatakan bahwa mutu pendidikan merupakan kemampuan suatu lembaga pendidikan dan satuan-satuan pendidikan dalam memanajemen, mengelola, dan mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar peserta didik. Mutu seringkali ditengarai sebagai kesesuaian indikator terhadap input, proses dan output.

Soedijarto (2003: 58) berpendapat bahwa pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang menghasilkan lulusan pada berbagai jenjang yang mempunyai kemampuan, keahlian, nilai, sikap, baik kemampuan intelektual, profesional, rasional, kreatif dan memiliki rasa kemanusiaan, kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan yang bermutu merupakan pendidikan yang mampu melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan dasar untuk dapat belajar dan dapat dengan mudah mengikuti pembaharuan dan bahkan dapat menjadi pelopor didalam pembaharuan dan perubahan tersebut.

Sedangkan menurut Sallis (2006: 30), mutu pendidikan akhirnya merupakan hal yang membedakan antara kesuksesan dan kegagalan. Sehingga mutu jelas sekali merupakan masalah pokok yang akan menjamin perkembangan sekolah dalam meraih status di tengah-tengah persaingan dunia pendidikan yang sangat keras.

Sementara itu masyarakat umum sering berpendapat bahwa tolak ukur mutu yang utama adalah besarnya lulusan sekolah dengan nilai yang tinggi. Seringkali juga masyarakat berpendapat bahwa mutu selalu berkaitan dengan biaya, apabila biaya suatu sekolah tinggi, maka mutu atau kualitas pendidikan tersebut juga tinggi. Padahal biaya tinggi tidak selalu menjamin mutu sekolah tersebut baik.

(35)

mengolah, melaksanakan dan memajukan pendidikan dan pengajaran melalui berbagai inovasi yang telah diterapkan oleh sekolah.

D. Karakteristik Mutu Pendidikan

Menurut Usman (2006: 411), terdapat 13 karakteristik yang dimiliki oleh mutu pendidikan yaitu:

a. Kinerja (performa) yakni berkaitan dengan aspek fungsional sekolah b. Waktu wajar (timelines) yakni sesuai dengan waktu yang wajar

meliputi memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu

c. Handal (reliability) yakni usia pelayanan bertahan lama. Meliputi pelayanan prima yang diberikan sekolah bertahan lama dari tahun ke tahun, mutu sekolah tetap bertahan dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

d. Data tahan (durability) yakni tahan banting, misalnya meskipun krisis moneter, sekolah masih tetap bertahan

e. Indah (astetis) misalnya eksterior dan interior sekolah ditata menarik, guru membuat media-media pendidikan yang menarik. f. Hubungan manusiawi (personal interface) yakni menjunjung tinggi

nilai-nilai moral dan profesionalisme.

g. Mudah penggunaannya (easy to use) yakni sarana dan prasarana dipakai. Misalnya aturan-aturan sekolah mudah diterapkan, buku-buku perpustakaan mudah dipinjam.

h. Bentuk khusus (feature) yakni keunggulan tertentu misalnya sekolah unggul dalam hal penguasaa teknologi informasi

i. Standar tertentu (comformence to specification) yakni memenuhi standar tertentu.

j. Konsistensi (concistency) yakni konstan dan stabil, misalnya mutu sekolah tidak menurun dari dulu hingga sekarang.

k. Seragam (uniformity) sekolah melaksanakan aturan tanpa pandang bulu

l. Mampu melayani (serviceability) yakni mampu memberikan pelayanan prima.

m. Ketepatan (acurasy) yakni ketepatan dalam pelayanan misalnya sekolah mampu memberikan pelayanan sesuai dengan yang diinginkan pelanggan sekolah.

(36)

kerjasama serta komitmen yang jelas. Sehingga dari komitmen inilah muncul pembaruan-pembaruan yang akhirnya memunculkan perubahan-perubahan walaupun akan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

E. Komponen Mutu Pendidikan

Dalam konteks pendidikan komponen mutu mencakup input, proses dan output pendidikan, menurut Umaedi (2002: 7) komponen mutu pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Input pendidikan adalah segala seusatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Didalam pendidikan yang bermutu terdapat berbagai input yang terlibat, sumberdaya manusia (kepala sekolah, guru karyawan dan siswa), bahan ajar, metodologi (cara mengajar guru), sarana sekolah, dukungan administrasi serta lingkungan belajar yang kondusif.

Input pendidikan terdiri dari beberapa komponen yaitu: a. Memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas b. Sumberdaya tersedia dan siap

c. Staf yang kompeten dan berdediksi tinggi d. Memilik prestasi dan harapan yang tinggi e. Fokus pada pelanggan

f. Input manajemen

(37)

dan penyerasian serta pemaduan input sekolah (guru, siswa, kurikulum, biaya, peralatan, dsb) dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan.

Sekolah yg efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut:

a. Proses pembelajaran yang efektivitasnya tinggi b. Kepemimpinan sekolah yang kuat

c. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib d. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif e. Sekolah memiliki budaya mutu

f. Sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis g. Sekolah memiliki kewenangan (kemandirian

h. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat i. Sekolah memiliki keterbukaan manajemen

j. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah

k. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan l. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan

m. Memiliki komunikasi yang baik n. Sekolah memiliki akuntabilitas

o. Sekolah memiliki kemampuan menjaga sustainabilitas

3. Output pendidikan adalah kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur kualitasnya, efektivitasnya, produktifitasna, efesiensinya, inovasi, kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerja. Output sekolah dikatakan berkualitas jika prestasi sekolah, khususnya prestasi belajar siswa menunjukan pencapaian yang tinggi pada prestasi akademik maupun non akademik.

(38)

dengan yang diisyaratkan atau di standarkan oleh standar mutu pendidikan.

F. Penjamin Mutu Pendidikan

Penjamin mutu merupakan suatu konsep yang ada dalam manajemen mutu. Menurut Tenner dan De Toro dalam Ali (2007: 348), manajemen mutu merupakan satu cara dalam mengelola suatu organisasi yang bersifat komprehensif dan berintegrasi yang diarahkan dalam rangka, 1) memenuhi pelanggan secara konsisten dan 2) mencapai peningkatan secara terus menerus dalam setiap aspek aktivitas organisasi.

Kemudian istilah penjamin mutu masuk kedalam dunia pendidikan. Isitilah ini masuk kedalam dunia pendidikan terkait dengan tuntutan masyarakat tentang akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan. Landasan Sistem penjamin mutu pendidikan adalah UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 ayat 21 yang menyebutkan bahwa evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.

1. Acuan Mutu Pendidikan

(39)

Pendidikan (BSNP). SNP adalah standar minimal yang ditetapkan pemerintah dalam bidang pendidikan yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan dan semua pemangku kepentingan dalam mengelola dan menyelenggarakan pendidikan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 Standar Nasional Pendidikan terdiri atas:

a. Standar Kompetensi Lulusan b. Standar Isi

c. Standar Proses d. Standar Penilaian

e. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan f. Standar Pengelolaan

g. Standar Sarana dan Prasarana h. Standar Pembiayaan

2. Sistem Penjamin Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah

Sistem Penjamin Mutu Pendidikan (SPMP) merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari sistem peningkatan mutu. SPMP bertujuan agar setiap warga negara mendapatkan pendidikan dan pelayanan yang bermutu sesuai dengan yang dijanjikan oleh penyelenggara.

Menurut Barnawi dan M.Arifin (2017: 28), aplikasi standar dalam sistem pendidikan mencakup dua kegiatan besar. Pertama, peningkatan mutu yang dilandasi dengan target mutu yang sekolah harapkan. Kedua, mengukur mutu pencapaian kinerja untuk mengetahui tingkat pemenuhan standar berdasarkan target program yang telah ditetapkan. Apabila sistem ini dijalankan dengan baik, lembaga pendidikan akan terbiasa dengan budaya peningkatan mutu.

(40)
[image:40.595.118.546.182.418.2]

(SPME) adalah sistem penjaminan mutu yang dijalankan oleh pemerintah, pemerintah daerah, badan akreditasi dan badan standar. Sistem ini diatur dalam peraturan Mendikbud No 28 tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah dan dijelaskan pada Pedoman Umum Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah.

Gambar 1. Sistem Penjamin Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber: Muhamad (2017: 10)

Menurut Mariana,dkk. (2013: 5), Secara umum dapat dikemukakan, sistem penjaminan mutu pendidikan dikembangkan untuk tujuan sebagai berikut.

1) Sebagai acuan dalam memetakan mutu pengelolaan pendidikan pada tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kota, sekolah dan pembelajaran.

2) Proses dan produk SPMP dapat meyakinkan bahwa pendidikan dan pembelajaran diupayakan secara terus-menerus memuaskan bagi peserta didik, orangtua siswa dan masyarakat. Sumber daya pendidikan sekolah dan para pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan.

(41)
[image:41.595.167.519.81.270.2]

Gambar 2. Siklus Penjaminan Mutu Pada Satuan Pendidikan Sumber: Muhamad (2017: 12)

Menurut Muhammad (2017: 12), Berdasarkan siklus diatas, terdapat beberapa langkah penjaminan mutu yang terdiri dari:

a. Penetapan standar

Sesuai dengan Undang-Undang No.20 Tahun 2003, SNP adalah kriteria minimal dalam menyelenggarakan pendidikan. Satuan pendidikan dapat menetapkan standar diatas SNP apabila penyelenggaraan pendidikan telah memenuhi seluruh kriteria dalam SNP.

b. Pemetaan Mutu

Memetakan mutu pendidikan pada satuan pendidikan berdasarkan standar mutu yang telah ditetapkan melalui kegiatan evaluasi diri yang mengahasilkan peta mutu (capaian standar), masalah yang dihadapi dan rekomendasi.

c. Penyusunan Rencana Pemenuhan

membuat perencanaan pemenuhan mutu berdasarkan hasil pemetaan mutu, dokumen kebijakan pendidikan pada level nasional, daerah dan satuan pendidikan serta rencana strategis pengembangan satuan pendidikan. Hasil perencanaan dituangkan dalam dokumen perencanaan satuan pendidikan serta rencana aksi kegiatan;

d. Pelaksanaan Pemenuhan Mutu

melaksanakan pemenuhan mutu dalam pengelolaan satuan pendidikan dan kegiatan proses pembelajaran sesuai hasil perencanaan sehingga standar dapat tercapai;

e. Evaluasi/Audit Mutu

(42)

disusun untuk menjamin kepastian terjadinya peningkatan mutu yang berkelanjutan.

3. Tim Penjamin Mutu Pendidikan Pada Satuan Pendidikan

[image:42.595.165.522.357.514.2]

Sistem penjamin mutu internal dapat berjalan dengan baik di satuan pendidikan jika terdapat unsur penjaminan mutu di dalam manajemenya. Unsur penjamin mutu tersebut dapat dalam bentuk Tim Penjamin Mutu pendidikan Sekolah (TPMPS) yang merupakan tim independen diluar manajemen sekolah yang minimal berisi perwakilan pimpinan satuan pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikanlainnya serta komite disatuan pendidikan tersebut.

Gambar 3. Struktur Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Pada Satuan Pendidikan.

Sumber: Muhamad (2017: 16)

4. Ukuran Keberhasilan Penjaminan Mutu Pada Satuan Pendidikan Menurut Muhammad (2017: 16) Ukuran keberhasilan penjaminan mutu oleh satuan pendidikan tediri dari indikator keluaran (output), hasil (outcome) dan dampak.

a. Indikator keluaran (output)

 Satuan pendidikan mampu menjalankan seluruh siklus penjaminan mutu

(43)

b. Indikator hasil (outcome)

 Proses pembelajaran berjalan sesuai standar

 Pengelolaan satuan pendidikan c. Indikator dampak

 Budaya mutu di satuan pendidikan terbangun

 Mutu hasil belajar meningkat.

Menurut Muhammad (2017: 17) Keberhasilan pelaksanaan penjaminan mutu di satuan pendidikan dipengaruhi oleh:

a. Komitmen manajemen dan kepemimpinan b. Perbaikan yang berkelanjutan

c. Berorientasi pada kepuasan pengguna layanan secara menyeluruh

d. Keterlibatan aktif pendidik dan tenaga kependidikan e. Pelatihan

f. Komunikasi g. Kerjasama

G. Standar Nasional Pendidikan

(44)

Standar nasional pendidikan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 telah mengalami perubahan untuk menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat, lokal, nasional dan global. Lingkup standar nasional pendidikan meliputi delapan komponen standar, yaitu standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan. Standar nasional pendidikan tersebut dikembangkan lebih lanjut pada tahun 2013 dengan mengubah standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses dan standar penilaian. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 telah mengalami dua kali perubahan. Perubahan pertama pada tahun 2013 melalui Peraturan Pemerintah nomor 32 dan perubahan kedua pada tahun 2015 dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13.

Menurut Badan Standarisasi Nasional Penidikan (BSNP) bahwa Standar Nasional Pendidikan yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2015, yaitu:

1. Standar Isi

(45)

2. Standar Proses

Standar proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Di dalam standar proses terdapat beberapa langkah untuk dapat mencapai standar kompetensi lulusan yaitu dengan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan evaluasi pembelajaran yang digunakan untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam mengangkap ilmu yang di dapat. Kriteria minimal proses pembelajaran di dalam satuan pendidikan dasar dan menengah. Standar proses ini berlaku untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah pada jalur formal, baik sistem paket maupun kredit semester. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai dan diawasi keberlangsungannya agar terlaksana secara efektif dan efisien. Di dalam standar proses belajar mengajar terdapat beberapa hal yang perlu sangat diperhatikan, hal tersebut adalah sebagai berikut:

a) Perencanaan Proses Pembelajaran

(46)

dan RPP mengacu pada standar isi dan disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan.

(47)

b) Pelaksanaan proses pembelajaran.

Perencanaan proses pembelajaran diterapkan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Pelaksanaan proses pembelajaran harus memperhatikan jumlah maksimal peserta didik per kelas dan beban mengajar maksimal per pendidik, rasio maksimal buku teks buku teks pelajaran setiap peserta didik, dan rasio maksimal jumlah peserta didik setiap pendidik.

(48)

c) Penilaian Hasil Pembelajaran (Evaluasi)

Penilaian hasil pembelajaran ini dilakukan guru untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik dengan melakukan tes tertulis maupun tidak tertulis, melalui pengamatan kerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya (tugas, pekerjaan rumah dan proyek/produk) yang kemudian disusunlah laporan kemajuan hasil belajar guna memperbaiki proses pembelajaran.

d) Pengawasan Proses Pembelajaran

Sistem pengawasan internal dilakukan oleh kepala sekolah, pengawas, dinas pendidikan dan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan. Pengawasan dilakukan dalam rangka peningkatan mutu. Pengawasan yang dilakukan kepala sekolah dan pengawas berbentuk supervisi akademik dan supervisi manajerial. Sedangkan pengawasan yang dilakukan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan diwujudkan dalam bentuk Evaluasi Diri Sekolah.

(49)

pemberian contoh, diskusi, konsultasi atau pelatihan. Setelah kegiatan, supervisi dan evaluasi proses pembelajaran dibuat laporan untuk kepentingan tindak lanjut pengembangan profesionalitas pendidik secara berkelanjutan.

Guru yang menunjukkan kinerja yang memenui atau melampaui standar ditindaklanjuti dengan penguatan dan penghargaan. Sedangkan guru yang belum memenuhi standar ditindaklanjuti dengan pemberian kesempatan untuk mengikuti program pengembangan keprofesionalan berkelanjutan.

3. Standar Kompetensi Lulusan

Menurut Mulyasa (2006: 90) Standar kompetensi lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

(50)
[image:50.595.176.514.94.357.2]

Tabel 1. Kompetensi Lulusan SD/MI/SDLB/Paket A

No Dimensi Kualifikasi Kemampuan

1 Sikap Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara sosial dan alam dilingkungan rumah, sekolah dan tempat

bermain.

2 Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual dan konseptual berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait fenomena dan kejadian .

3 Keterampilan Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan apa yang ditugaskan kepadanya.

Sumber: Barnawi (2017: 46)

4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

(51)

Sementara itu, tenaga kependidikan meliputi pengawas sekolah, kepala sekolah, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, tenaga administrasi, teknisi, psikologi, pekerja sosial, terapis, pengelola kelompok belajar, pamong belajar dan tenaga kebersihan

5. Standar Sarana dan Prasarana

Standar sarana dan prasarana adalah kriteria mengenai ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi.

6. Standar Pengelolaan

Menurut Barnawi (2017: 71) standar pengelolaan adalah kriteria perencanaan pendidikan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkatan satuan pendidikan, pengelolaan pendidikan di tingkat kabupaten/kota provinsi dan pada tingkatan nasional. Tujuan dari standar pengelolaan ini adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.

7. Standar Pembiayaan

(52)

pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi dan biaya personal.

Biaya investasi satuan pendidikan meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia dan modal kerja tetap. Biaya personal meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Biaya operasi meliputi gaji pendidik dan tenaga kependidikan, bahan atau peralatan pendidikan habis pakai dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur transportasi dan pajak.

8. Standar Penilaian Pendidikan

Menurut Daryanto (2014: 111) penilaian adalah rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga dapat menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

(53)

Penilaian sikap juga termasuk kedalam standar penilaian, Rusijono (2008: 12) sikap terdiri atas tiga komponen , yakni: afektif, kognitif, dan psikomotorik. Afektif adalah perasaan yang dimiliki seseorang atau penilaiannya terhadap suatu objek. Kognitif merupakan aspek yang berkaitan dengan nalar atau proses berfikir. Adapun psikomotorik adalah kecenderungan untuk berperilaku dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik seseorang.

H. Penelitian Yang Relevan

Berikut merupakan beberapa penelitian yang memiliki relevansi dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, yaitu:

(54)

pendidik, manajer, administrator, supervisor, leader dan motivator sangat baik sehingga kepala sekolah bisa menjadi contoh dalam menjalankan tugasnya.

2. Mursidi (2010) Semarang, “Pengelolaan Komite Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di Sd Islam Al Azhar 29 Semarang” . Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengelolaan yang dijalankan komite sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan sudah cukup baik. Karena dalam prosesnya telah melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi. Pengelolaan komite sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan dilaksanakan dengan mengoptimalkan empat peran komite sekolah, yakni: komite sekolah bertindak sebagai pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelak sanaan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan; pendukung baik berupa finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan; pengontrol dalam rangka transparasi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan; dan mediator antara masyarakat dengan satuan pendidikan.

3. Azhari (2014) Yogyakarta, “kebijakan Mutu Pendidikan SD Negeri Lempuyangwangi dan SD Muhammadiyah Gendeng Yogyakarta”.

(55)

mengajar, dan pendanaan sekolah. Faktor pendukung kebijakan di SD Negeri Lempuyangwangi adalah SDM, fasilitas lengkap, dan partisipasi orangtua besar, sedangkan di SD Muhamadiyah Gendeng adalah kepemimpinan kepala sekolah, partisipasi orangtua besar dan hubungan baik dengan masyarakat. Faktor penghambat kebijakan di SD Negeri Lempuyangwangi adalah soal pendanaan dan kepemimpinan yang perlu ditingkatkan, sedangkan di SD Muhamadiyah Gendeng adalah soal pendanaan dan fasilitas belum lengkap.

(56)

(AIK), menerapkan model pembelajaran yang lebih variasi, dan penanaman karakter pada peserta didik yang dimulai dengan program pembiasaan.

5. Afifah (2017) Surakarta, “Kinerja Sekolah Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan di SDN Sampangan”. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam penyusunan kinerja sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan harus mempersiapkan: input, output, outcomes, manfaat dan dampak. Dalam pelaksanaan kinerja sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan harus melakukan: akuntabilitas kinerja, evaluasi kinerja, dan akuntabilitas keuangan. Hambatan pelaksanaan dalam kinerja sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan yaitu bagi guru senior belum semuanya menguasai IT, serta partisipasi orangtua dari peserta didik masih kurang.

(57)

pendidikan di sekolah dasar. Selain memiliki persamaan, penelitian ini juga memiliki beberapa perbedaan dengan penelitian yang diambil peneliti yaitu pada penelitian relevan hanya membahas salah satu dari standar nasional pendidikan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan, sedangkan penelitian yang diambil oleh peneliti membahas 8 standar nasional pendidikan.

I. Kerangka Pikir

(58)
[image:58.595.91.518.90.589.2]

Gambar 4. Alur kerangka pikir penelitian

Sistem Penjaminan Mutu

Mutu

Acuan Mutu Pendidikan

Mutu Pendidikan System Penjamin Mutu Pendidikan Dasar Menengah

Tim Penjamin Mutu Pendidikan

Ukuran Keberhasilan Penjaminan Mutu

Standar Isi

Standar Proses

Standar Kompetensi Lulusan

Standar Penilaian

Standar Pengelolaan

Standar Pendidik dan tenaga kependidikan

Standar Pembiayaan

(59)

A. Jenis Penelitian

Penelitian yang berjudul “Model MutuPendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang” ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.

Moleong (2010: 6) mengatakan bahwa penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif merupakan penelitian untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subyek secara utuh dan keseluruhan dalam bentuk kata-kata dan bahasa yang baku dan mudah dipahami yang berusaha menggambarkan dan menginterprestasikan objek yang sedang berlangsung.

Penelitian ini dibuat untuk melihat penerapan mutu pendidikan yang sesuai dengan Standar Mutu Pendidikan, seperti Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pembiayaan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Penilaian Pendidikan, Standar Proses, dan Standar Pengelolaan.

Sedangkan Sugiyono (2011: 15) menyatakan “metode kualitatif adalah

metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah. Dimana peneliti sebagai instrumen kunci.”

(60)

Penggunaan metode penelitian kualitatif dalam penelitian ini diharapkan mendapat data yang lebih lengkap dan mendalam sehingga tujuan penelitian dapat tercapai.

Penelitian kualitatif deskriptif yaitu penyajian data yang berupa kata-kata atau bahasa, gambar-gambar dan tentang proses yang sedang berlangsung akibat suatu kejadian yang telah berlangsung maupun yang sedang berlangsung.

B. Setting Penelitian

1. Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang. Alasan peneliti melakukan penelitian di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang karena sekolah tersebut sudah mendapatkan akreditasi A dengan nilai 98. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui penerapan standar mutu pendidikan di SD IT Muhammadiyah Gunung Terang. Peneliti merasa tertarik dengan mutu pendidikan yang ada di SD IT Muhammadiyah Gunung Terang yang dapat menghasilkan siswa lulusan yang terampil dan kompeten.

2. Waktu Penelitian

(61)

C. Subyek Penelitian

Pada subyek penelitian ini terdapat data tentang variabel yang akan diteliti dan diamati oleh peneliti, sedangkan untuk pemilihan informan merupakan pemilihan sumber informasi yang dianggap sesuai dengan kerangka kerja penelitian ini. Informan didapatkan melalui key informan (tokoh kunci), peneliti menetapkan subyek didalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil bidang kesiswaan, satu peserta didik dan satu wali peserta didik.

D. Sumber Data

Menurut Sutopo (2006: 56-57) sumber data adalah tempat data diperoleh dengan menggunakan metode tertentu baik berupa manusia, artefak ataupun dokumen-dokumen. Menurut Moleong (2010: 112) pencatatan sumber data melalui wawancara atau pengamatan merupakan hasil gabungan dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya. Jadi pada penelitian kualitatif, kegiatan-kegiatan ini dilakukan secara tersadar, terarah dan senantiasa bertujuan memperoleh suatu informasi yang diperlukan. Berbagai sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Data Primer

(62)

wali murid berkaitan dengan Mutu pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang.

2. Data sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh bukan secara langsung dari sumbernya. Data sekunder yang akan digunakan dalam penelitian meliputi dokumen-dokumen dan arsip seperti: dokumen profil sekolah, visi dan misi sekolah, dokumen terkait mutu pendidikan, daftar pendidik dan tenaga kependidikan, dokumen sarana dan prasarana SD IT Muhammadiyah Gunung Terang.

[image:62.595.161.517.469.683.2]

Sumber-sumber data tersebut akan diberikan pengkodean untuk mempermudah penyajian data. Tabel pengkodean dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 2. Sumber Data dan Pengkodean Teknik

Pengumpulan

Data

Kode Sumber Data

Jumlah Sumber Data Kode Wawancara W Kepala sekolah Wakil bidang kurikulum

Murid Wali murid 1 1 1 1 KS WK M WM Observasi O Kepala sekolah Guru murid 1 1 1 KS G M

Dokumentasi D Tata Usaha 1 TU

(63)

E. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2011: 309) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Selanjutnya jika dilihat dari cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Berikut ini akan dijelaskan teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti sebagai berikut:

1. Teknik observasi

Menurut Sugiyono (2011: 310) menjelaskan bahwa:

observsi adalah dasar semua ilmu pengetahuan, observsi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlihat dalam aktivitas dan makna kejadian dilihat dan perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan.

Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.

(64)

untuk dapat menjawab pertanyaan agar mudah dalam membantu memahami perilaku manusia, dan untuk evaluasi pengukuran terhadap permasalahan tertentu untuk melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut. Oleh sebab itu Observasi dalam penelitian ini menggunakan observasi langsung nonpartisipatori, atau dengan pengamatan langsung tanpa melibatkan diri secara langsung pada kegiatan di lokasi penelitian. Pengamatan dilakukan secara tersembunyi (covert) atau secara pasif.

2. Teknik Wawancara

Menurut Sugiyono (2011: 317-321) wawancara adalah:

pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam satu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti akan melaksanakan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Wawancara dilakukan pada beberapa informan seperti kepala sekolah, wakil kesiswaan, peserta didik. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terstruktur, karena peneliti menggunakan pedoman wawancara yang disusun secara sistematis dan lengkap untuk mengumpulkan data yang dicari. Peneliti menggunakan beberapa alat untuk wawancara berupa buku catatan, alat perekam dan kamera agar wawancara terekam dengan baik dan sesuai dengan kisi-kisi wawancara.

3. Teknik Dokumentasi

(65)

majalah, notulen, agenda dan sebagainya. Sedangkan menurut Sugiyono (2011: 330) dokumentasi adalah pengumpulan data oleh peneliti dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya dari seseorang. Tujuan dokumentasi yaitu untuk mendapatkan data yang sah.

Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengumpulan data dengan cara dokumentasi merupakan suatu hal dilakukan oleh peneliti guna mengumpulkan data dari berbagai hal mengenai data yang akan diteliti.

F. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti merupakan yang utama dimana peneliti sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data dan pelopor hasil penelitian. Sugiyono (2011: 305-306) mengatakan bahwa peneliti merupakan human instrumen, dimana peneliti merupakan kunci dari penelitian itu sendiri.

Adapun alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Pedoman Wawancara: sebagai pedoman untuk melakukan wawancara dengan narasumber mengenai model mutu pendidikan

2. Lembar Observasi: untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai model mutu pendidikan

(66)
[image:66.595.138.532.103.721.2]

Tabel 3. Kisi-kisi Metode Observasi dan Wawancara Pada Penelitian Model Mutu Pendidikan di SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

No

Sub Fokus

Penelitian Isi Teknik

Sumber Jumlah Pertanyaan

K S W K W M M K S W K W M M

1 Definisi Mutu Menurut SDIT Muhammadiyah Gunung Terang

- Definisi Mutu - Karakteristik Mutu Pendidikan Wawancara     1 2 1 2

2 Penerapan 8 Standar Nasional Pendidikan

- Standar Isi - Standar Proses - Standar

kompetensi Lulusan - Standar

Pendidik dan Tenaga Kependidikan - Standar sarana

dan prasarana - Standar pengelolaaan - Standar pembiayaan - Standar penilaian Wawancara                  - - - - - -3 4 2 5 2 2 3 5 3 4 2 5 2 2 3 5 -2 2 1 1 -2 -3 -3 -5

-- Cara pendidik mengajar - Metode yang

digunakan - Aktivitas

peserta didik - Kondisi ruang

kelas - Fasilitas

pendukung pembelajaran - Proses interaksi

antar warga sekolah Observasi -     -   - - 

3 Cara sekolah dalam menjamin aspek mutu pendidikan

Cara sekolah menjamin aspek-aspek mutu pendidikan di SDIT

Muhammadiyah Gunung Terang

Wawancara   1 1

(67)

G. Teknik Analisi Data

Menurut Sugiyono (2011: 337) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus hingga tuntas, sampai datanya jenuh.

[image:67.595.150.487.500.621.2]

Teknik analisis data didalam penelitian ini adalah menggunakan model analisis kualitatif deskriptif secara interaktif dan berkelanjutan. Teknik analisis data dalam model ini merupakan proses pengorganisasian dan proses pengurutan data ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian sehingga dapat ditemukannya tema penelitian. Pada proses pencapaian tema, penelitian ini melalui beberapa langkah yang perlu dilakukan meliputi reduksi data (data reduction) yaitu data yang diperoleh di lapangan yang ditulis dalam bentuk uraian atau laporan yang terperinci. Kemudian laporan ini direduksi ulang, dirangkum, yang kemudian dipilah-pilah beberapa hal pokok yang di fokuskan kepada hal-hal yang penting. Langkah-langkah analisis model interaktif dijelaskan sebagai berikut:

Gambar 5. Komponen dalam analisis data Sumber: Sugiyono (2011: 338)

Pengumpulan Data Penyajian Data

(68)

1. Pengumpulan Data (data collection)

Teknik pengumpulan data yaitu berupa data yang diperoleh di lapangan, yang dicatat maupun direkam dalam bentuk deskriptif naratif berupa uraian data yang diperoleh di SD IT Muhammadiyah Gunung Terang. Dari catatan-catatan deskriptif tersebut, kemudian dibuatlah catatan refleksi yaitu catatan yang berisi komentar, pendapat ataupun penafsiran peneliti atas apa yang ditemui di lapangan.

2. Reduksi Data (data reduction)

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan atau pemfokusan perhatian kepada penyederhanaan, pengabstrakan mengenai data-data atau hal pokok yang terfokus pada hal-hal yang sesuai dengan tema dan muncul dari data catatan lapangan. Reduksi data ini dilakukan terus-menerus selama penelitian tersebut dilaksanakan. Pada reduksi data ini merupakan wujud analisis untuk menajamkan, mengklasifikasi, memfokuskan dan membuang data-data yang tidak berkaitan dengan judul penelitian. Kemudian dibuatlah ringkasan, penelusuran tema yaitu dengan membuat catatan-catatan kecil yang dianggap penting dan berkaitan dengan judul penelitian.

3. Penyajian Data (data display)

(69)

Pendidikan, kendala dalam penerapan standar mutu pendidikan dan upaya sekolah dalam menghadapi kendala tersebut.

4. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (conclusion and verification) Setelah dilakukan reduksi data dan penyajian data, langkah berikutnya adalah melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan dan verifikasi ini merupakan upaya untuk mencari makna dari komponen-komponen data yang disajikan dengan mencermati pola-pola keteraturan, penjelasan konfigurasi dan hubungan sebab-akibat. Pada kesimpulan awal ini masih bersifat sementara, dimana akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang ditemukan pada tahap awal telah didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali mengambil data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

(70)

langkah verifikasi, peneliti hendaknya masih tetap mampu disamping untuk menuju ke arah kesimpulan yang sifatnya terbuka, peneliti juga dapat menerima masukan data dari peneliti lain. Verifikasi dan penarikan kesimpulan ini diuraikan secara detail mengenai gambar suatu permasalahan yang ada di lapangan serta solusi konkrit yang diberikan.

H. Teknik Keabsahan Data

Data hasil penelitian akan lebih baik di cek kembali kebenarannya. Menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan yang didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Menurut Moleong (2010: 174) keempat kriteria tersebut adalah:

1. Derajat kepercayaan (credibility) 2. Keteralihan (transferability) 3. Kebergantungan (dependability) 4. Kepastian (confirmability)

Keempat pengujian diatas yang paling utama adalah uji kredibilitas data, pengujian kredibilitas data menggunakan teknik triangulasi.

Figure

Gambar 1. Sistem Penjamin Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah
Gambar 2. Siklus Penjaminan Mutu Pada Satuan PendidikanSumber: Muhamad (2017: 12)
Gambar 3. Struktur Tim Penjaminan Mutu Pendidikan PadaSatuan Pendidikan.
Tabel 1. Kompetensi Lulusan SD/MI/SDLB/Paket A
+6

References

Related documents

It would handle Guest details, Reservation details, Room service details, staff management details and room types.. Keywords — Desin, Hotel Reservation, Implementation,

Two actors are relevant to apply the mapping rules: the first actor is responsible to provide his expertise in the SimModel data model, whereas the second actor knows

This is the first study to systematically examine the number and quality of local reviews of the care of women who died during or after pregnancy in the UK and Ireland.. It shows

Randomized phase III trial comparing retroperitoneal lymph node dissection with one course of bleomycin and etoposide plus cisplatin chemotherapy in the adjuvant treatment of

monium content of renal venous blood and an in- crease in blood potassium concentration. The pH of arterial and of renal venous blood decreased. A similar study done with patient

Among patients with a single recur- rence, relapse due to the original infecting strain was more prevalent than reinfection and the interval between episodes was shorter than

of these patients after doses of 4 to 44 /Ag cell wall Immune response to cell wall vaccine in pa- nitrogen, given in three or four injections at tients with previous

In order to validate the relevance of our findings in human disease, and to test whether CSF-1 depletion could potentially be used for the prevention or treatment of