• No results found

Text ABSTRACT (ABSTRAK) pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRACT (ABSTRAK) pdf"

Copied!
31
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGARUH PEMBERIAN BIOFLOK TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN MAS (Cyprinus carpio)

Skripsi

Oleh RESTU ANNISA

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRACT

THE EFFECT OF BIOFLOC ON CARP LARVAE (Cyprinus carpio) SURVIVAL RATE

By

Restu Annisa

The aim of this study was to analyze the effect of biofloc on carp larvae (Cyprinus carpio) survival rate. The research was conducted on October until December 2015 in Fishery Laboratory, Aquaculture Department, Agriculture Faculty, Lampung University. The used experimental design was completely randomized design with 3 treatments and 3 replicates: A (biofloc 36 ml/day), B (biofloc 60 ml/day), C (biofloc 84 ml/day). The research used aquarium of 20 x 20 x 30 cm3. The tested animals were carp larvae day 5. The stocking density was 36 larvae per aquarium. The feeding frequency was done in 3 stages, day 1 to day 2, 12 times a day, treatment A (3 ml), B (5 ml) and C (7 ml). Day 3 to day 6, 6 times a day with the addition of biofloc, the volume becomes doubled, A (6 ml), B (10 ml), C (14 ml) and day 7 to day 20, four times a day with the addition of biofloc, the volume becomes tripled, A (9 ml), B (15 ml), C (21 ml ). The results showed that the survival rate of carp larvae were significantly different (P <0.05). The biofloc with volume 60 ml/day gives the best effect with survival rate 70%.

(3)

ABSTRAK

PENGARUH PEMBERIAN BIOFLOK TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN MAS (Cyprinus carpio)

Oleh

Restu Annisa

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pemberian bioflok terhadap tingkat kelangsungan hidup larva ikan mas (Cyprinus carpio). Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober – Desember 2015 di Laboratorium Perikanan, Program Studi Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu: A (bioflok 36 ml/hari), B (bioflok 60 ml/hari), C (bioflok 84 ml/hari). Akuarium yang digunakan berukuran 20 x 20 x 30 cm3. Hewan uji yang digunakan yaitu larva ikan mas berumur lima hari. Padat penebaran larva ikan mas pada penelitian ini yaitu 36 ekor/akuarium. Frekuensi pemberian pakan dilakukan dalam tiga tahap yaitu hari ke-1 sampai ke-2, 12 kali sehari, yaitu perlakuan A (3 ml), B (5 ml) and C (7 ml). Hari ke-3 sampai ke-6, 6 kali sehari dengan penambahan bioflok, volume menjadi dua kali lipat, A (6 ml), B (10 ml), C (14 ml) dan hari ke-7 sampai ke-20, sebanyak 4 kali sehari dengan penambahan bioflok, volume menjadi tiga kali lipat, A (9 ml), B (15 ml), C (21 ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva ikan mas berbeda nyata (P<0,05). Pemberian bioflok dengan volume 60 ml/hari memberikan pengaruh terbaik dengan tingkat kelangsungan hidup 70%.

(4)

PENGARUH PEMBERIAN BIOFLOK TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN MAS (Cyprinus carpio)

Oleh

RESTU ANNISA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PERIKANAN

Pada

Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, Lampung pada tanggal 04 Januari 1993 sebagai anak bungsu dari pasangan Bapak Momon Saputra dan Ibu Muisah.

Penulis memulai pendidikan formal dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Bumi Waras Teluk Betung Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 03 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2008, dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 03 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2011. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung pada tahun 2011 dan telah menyelesaikan studinya pada tahun 2016.

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Budidaya Perairan UNILA (HIDRILA) sebagai anggota bidang Kerohanian pada periode 2012/2013 sampai periode 2013/2014. Penulis melaksanakan Praktik Umum di Dunia Air Tawar Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur dengan judul Pembenihan Ikan Maanvis (Pterophyllum scalare) di Dunia Air Tawar Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur” pada tahun 2014. Penulis melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 40 hari di Desa Batu Patah, Kecamatan Kelumbayan Barat, Kabupaten Tanggamus pada tahun 2015.

(9)

Dengan penuh rasa syukur kepada

Allah SWT yang telah mengabulkan

doa dan harapan-harapan kedua orang

tuaku, Kupersembahkan karya ini

untuk kedua orang tuaku tersayang,

kakak-kakak, dan keluargaku yang

selalu memberikan kasih sayang dan

(10)

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan maka

apabila kamu selesai (dari satu pekerjaan), lakukanlah dengan

sungguh-sungguh (pekerjaan) yang lain” –

QS. Al Insyirah:6-7

“No matter how sad or depressed today, tomorrow is a

different start” –

LJH

“However difficult life may seem, there is always something

you can do and succeed at.”

– Stephen Hawking

“The thornbush is the old obstacle in the road. It must catch

fire if you want to go further.” –

Franz Kafka

(11)

SANWACANA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pemberian Bioflok Terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup Larva Ikan mas (Cyprinus carpio)” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh Sarjana Perikanan (S.Pi.) pada Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Ibu Ir. Siti Hudaidah, M. Sc., selaku Ketua Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

2. Ibu Berta Putri, S. Si., M. Si., selaku Pembimbing I atas kesediaan meluangkan waktu dan kesabarannya memberikan bimbingan, dukungan, masukan berupa kritik dan saran selama penelitian hingga penyelesaian skripsi.

3. Ibu Henni Wijayanti Maharani, S. Pi., M.Si., selaku Pembimbing II dan sebagai Pembimbing Akademik atas kesediaan meluangkan waktu dan kesabarannya memberikan bimbingan, dukungan, masukan berupa kritik dan saran selama penelitian hingga penyelesaian skripsi.

4. Bapak Dr. Supono, S. Pi., M .Si. selaku penguji yang telah memberikan masukan berupa kritik dan saran dalam perbaikan dan penyelesaian skripsi. 5. Seluruh dosen dan staf jurusan Budidaya Perairan Universitas Lampung yang

(12)

6. Kedua orang tua tercinta, Mama (Momon Saputra) dan Ibu (Muisah), serta Kakak-kakak tersayang, A diri, Ce Tati, A Nana, Mba Lis, Ce Dadah, Ka Ferry, Ce Ea, Ce Lina, Ka Sirad, A Waung, A Wawan, Ce Maya, Ce Yayah yang selalu memberikan kasih sayang, perhatian, pengorbanan dan dukungan serta doa yang tak henti-hentinya untuk penulis.

7. Sepupu-sepupuku, Aan, Adit, Ayu, Bella, Dinda, Kiki, Osa, dan Zaza atas kasih sayang, doa dan motivasinya.

8. Sahabat seperjuangan, Garin Fatayanti dan Putri Endang yang telah berjuang bersama dan membantu dalam menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi.

9. Sahabat-sahabat terbaik, Swarna Novianti, Rizky Alfiany dan Diena Puspita Sari atas bantuan, dukungan, saran dan motivasi yang diberikan kepada penulis.

10. Sahabat-sahabat, Miranda Poetri, Nur Azizah Aziz, Anita Sofiranika dan Ade Ayu Winanda yang telah banyak memberikan dukungan, motivasi dan bantuan kepada penulis.

11. Teman-teman terbaik, Indah Wahyuningtias, Benedikta Erlinda, Mbok Martini, Warih Prastiwi, Elsa Puspita, Mbak Melisha, Utami Wijaya, Melinda Oktafiani, Anggun Savitri, Septi Malidda, Cindy Ria Nuari, Ahadiftita Hafsha, Ahmad Mustawa, Widi Indra, Tina Purnamasari, Bestania Putri, Ristiani, Sulvina, Nurhasanah, Dhanny Darmawan, Dimas Rizki, Acib Saputra, Moly Dian, Rizka Dian dan Yola Afrina atas perhatian, dukungan, semangat dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis. 12. Teman-Teman satu angkatan 2011, Senior-senior angkatan 2010, 2009 serta

adik-adik Budidaya Perairan angkatan 2012, 2013 yang tak terlupakan kebersamaannya.

(13)

ii Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari dalam skripsi ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapakan kritik dan saran yang membangun. Semoga skripsi ini dapat diterima dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Bandar Lampung, 20 April 2016

(14)

i DAFTAR ISI

Daftar isi... i

Daftar Gambar... ii

Daftar Tabel ... iii

Daftar Lampiran ... iv

I. PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penelitian... 2

1.3 Manfaat Penelitian... 2

1.4 Kerangka Pikir... 2

1.5 Hipotesis... 5

II. METODE PENELITIAN ... 6

2.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 6

2.2 Alat dan Bahan Penelitian... 6

2.3 Rancangan Percobaan ... 6

2.4 Pelaksanaan Penelitian... 7

2.4.1 Pembuatan Bioflok... 7

2.4.2 Persiapan Wadah... 7

2.4.3 Penebaran Larva... 7

2.4.4 Pemeliharaan Ikan Uji... 8

2.5 Parameter Kualitas Air... 8

2.6 Pengambilan Data ... 9

2.6.1 Kelangsungan Hidup... 9

2.7 Analisis Data ... 9

III. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 10

3.1 Kelangsungan Hidup Larva Ikan Mas ... 10

3.2 Parameter Kualitas Air Akuarium Larva Ikan Mas... 15

3.2.1 Oksigen Terlarut (DO)... 15

3.2.2 Derajat Keasaman (pH) ... 17

3.2.3 Suhu ... 18

3.2.4 Amoniak ... 19

IV. KESIMPULAN DAN SARAN... 21

4.1 Kesimpulan ... 21

(15)

ii DAFTAR GAMBAR

Gambar halaman

1. Kerangka pikir penelitian... 4

2. Data populasi larva ikan mas selama pemeliharaan... 10

3. Persentase tingkat kelangsungan hidup larva ikan mas ... 11

4. Konsentrasi oksigen terlarut (DO) selama pemeliharaan... 16

(16)

iii DAFTAR TABEL

Tabel halaman

1. Hasil pengukuran parameter kualitas air selama pemeliharaan………… 15

2. Parameter suhu pagi dan sore selama pemeliharaan………. 18

(17)

vii DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran halaman

1. Pengamatan Bioflok Hari Ke-10 dibawah Mikroskop... 22

2. Kondisi Akuarium Pemeliharaan pada Semua Perlakuan... 23

3. Proses Pemeliharaan Ikan Uji Selama Pemeliharaan... 24

4. Perhitungan Statistik Persentase Kelangsungan Hidup/Survival Rate (SR) Larva Ikan Mas (Cyprinus carpio) ... 25

5. Tata Letak Akuarium Selama Pemeliharaan... 28

6. Data Kualitas Air Selama Pemeliharaan ... 29

(18)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan mas merupakan ikan konsumsi air tawar yang tergolong dalam famili

Cyprinidae (Saanin, 1984). Ikan mas kini umum dibudidayakan, baik skala

pembesaran maupun pembenihan. Kegiatan budidaya pembenihan ikan mas,

memiliki permasalahan seperti tingginya mortalitas. Hal tersebut dapat disebabkan

karena fase larva merupakan fase kritis dimana pada fase ini, larva ikan mas

mengalami proses pergantian fase endogenous (asupan makanan berasal dari kuning

telur) menjadi fase exogenous (asupan makanan berasal dari luar) (Wang et al.,

2009).

Hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya pembenihan adalah mengetahui

tingkah laku larva, ukuran bukaan mulut, dan kualitas pakan. Kualitas pakan dapat

mengurangi tingginya mortalitas dan meningkatkan pertumbuhan (Yousefian et al.,

2013). Menurut Peteri (2006), larva ikan mas memakan plankton dan pakan alami

lain yang berukuran 150-180 µm. Larva ikan mas dapat memakan pakan buatan (300

µm) (Dabrowski & Bardega, 1984) namun pada tingkat pemberian yang tinggi

(Jeckie et al., 2012). Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kualitas air yaitu

meningkatkan kandungan amoniak akibat penumpukan pakan yang tak

termanfaatkan.

Sistem budidaya ramah lingkungan seperti teknologi bioflok dapat diaplikasikan

sebagai pakan alternatif bagi larva ikan mas. Teknologi bioflok adalah sistem

budidaya efisien karena nutrien dapat terus diproduksi dan digunakan kembali

(Emerenciano et al., 2013) serta dapat meningkatkan kualitas air (Ekasari, 2009).

Bioflok merupakan komunitas mikroba yang terdiri atas bakteria, protozoa dan

(19)

2 2012) dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan (Azim dan Little, 2008) bagi larva ikan

mas.

Mikroorganisme dalam bioflok memiliki dua peran penting yaitu dapat menjaga

kualitas air, dengan mengubah kandungan nitrogen menjadi protein bakteri dan dapat

dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi sehingga dapat mengurangi konversi biaya

pakan (Emerenciano et al., 2013). Menurut Ju et al., (2008), bioflok yang didominasi

oleh bakteri dan mikroalga hijau memiliki kandungan protein 38 dan 42%. Bioflok

mengandung sejumlah asam amino methionine, vitamin, mineral dan enzim yang

dapat membantu proses pencernaan pakan (Rangka dan Gunarto, 2012) bagi larva

ikan mas yang organ pencernaannya masih mengalami perkembangan (Wang et al.,

2009). Pemberian bioflok sebagai pakan diharapkan dapat meningkatkan

kelangsungan hidup larva ikan mas.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian

bioflok terhadap tingkat kelangsungan hidup larva ikan mas (Cyprinus carpio).

1.3 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat dan

pembudidaya tentang pengaruh pemberian bioflok terhadap tingkat kelangsungan

hidup larva ikan mas (Cyprinus carpio).

1.4 Kerangka Pikir

Kegiatan budidaya pembenihan merupakan fase kritis dalam produksi budidaya.

Hal terpenting dalam budidaya pembenihan adalah mempersiapkan pakan yang

mudah dikonsumsi dan dicerna bagi larva serta memiliki kualitas yang baik (Kim,

1996). Pakan awal bagi larva sangat menentukan keberhasilan budidaya pembenihan

ikan mas yang membutuhkan pakan tertentu untuk pertumbuhan optimal. Pakan

(20)

3 Menurut Sedwick (1990), larva ikan golongan Cyprinidae membutuhkan protein

lebih dari 50 % untuk pertumbuhan yang optimal.

Teknologi bioflok dapat diaplikasikan sebagai pakan dalam memenuhi

kebutuhan nutrisi larva ikan mas. Prinsip teknologi bioflok yaitu dengan

menumbuhkan mikroorganisme dalam air (Emerenciano et al., 2013) dengan bantuan

bakteri aktivator. Bakteri tersebut akan berkembang pesat apabila dilakukan

penambahan sumber karbon (Rangka dan Gunarto, 2012). Sumber karbon dapat

berupa gula pasir atau molase (Samocha et al., 2007). Bioflok dapat terbentuk apabila

rasio C/N pada air > 10 : 1 (Emerenciano et al., 2012). Bakteri dalam air akan

memanfaatkan N anorganik berupa ammonia dalam air kemudian akan disentesa

menjadi protein bakteri dan sel tunggal protein yang dapat digunakan sebagai sumber

pakan (Rangka dan Gunarto, 2012) bagi larva ikan mas.

Bioflok tersusun atas protozoa, bakteria, mikroalga, zooplankton dan

mikroorganisme lainnya (Crab et al., 2009). Menurut Peteri (2006) larva ikan mas

memakan plankton dan pakan alami lain, sehingga larva ikan mas dapat

memanfaatkan bioflok sebagai pakan alami. Pemberian bioflok diharapkan dapat

meningkatkan kelangsungan hidup larva ikan mas. Berdasarkan uraian tersebut,

(21)
[image:21.612.166.471.113.537.2]

4 Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian

Kelangsungan Hidup Larva

Ikan Mas Bakteri

Sumber Nutrisi Terbentuk Bioflok Kebutuhan Nutrisi

(22)

5

1.5 Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

H0 = 0 : Pemberian bioflok tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat kelangsungan

hidup larva ikan mas

H1 ≠ 0 : Pemberian bioflok memiliki pengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup

(23)

6

II. METODE PENELITIAN

2.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2015, bertempat di

Laboratorium Budidaya Perikanan Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian

Universitas Lampung.

2.2 Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium ukuran 20 x 30 x 30

cm3 sebanyak 9 buah dilengkapi instalasi aerasi, termometer, DO-meter, pH-meter,

selang sifon, Imhoff Cone, Spektrofotometer, dan alat tulis. Bahan yang digunakan

dalam penelitian ini adalah larva ikan mas (Cyprinus carpio) berumur lima hari

sebanyak 324 ekor, bioflok, bakteri aktivator (EM4), gula pasir, dan pakan ikan

(pelet).

2.3 Rancangan Penelitian

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak

Lengkap (RAL), dimana terdiri atas tiga perlakuan dengan tiga kali ulangan. Adapun

perlakuan yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. Perlakuan A pemberian bioflok sebanyak 36 ml/hari

2. Perlakuan B pemberianbioflok sebanyak 60 ml/hari

(24)

7

2.4 Pelaksanaan Penelitian

2.4.1 Pembuatan Bioflok

Pembuatan bioflok menggunakan C/N rasio 20. Tahap pertama dalam

pembuatan bioflok yaitu dengan mendiamkan pakan yaitu dengan mencampurkan

pakan 15 gram dengan 30 ml air ke dalam wadah terbuka dan didiamkan selama 2

hari. Tahap selanjutnya yaitu mempersiapkan akuarium berukuran 40 x 30 x 30 cm,

akuarium dicuci hingga bersih dan diisi air dengan volume 30 liter lalu diberi aerasi

dan didiamkan selama 24 jam sebelum dimasukkan bahan-bahan pembentuk bioflok.

Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut yang ada

dalam media pembuatan bioflok. Bahan-bahan pembentuk bioflok seperti pakan yang

telah didiamkan, gula pasir dengan komposisi 14,72 gram dan bakteri aktivator (EM4)

sebanyak 3 ml dimasukkan ke dalam akuarium. Bioflok mulai terbentuk pada hari

ke-10 dan diberikan kepada larva ikan mas. Bioflok yang telah terbentuk diamati

dibawah mikroskop dan dapat dilihat pada (Lampiran 1).

2.4.2 Persiapan Wadah

Akuarium yang digunakan berukuran 20 x 30 x 30 cm3 sebanyak 9 buah.

Akuarium dibersihkan dan diisi air dengan ketinggian air 20 cm dengan volume air

12 liter. Kemudian masing-masing akuarium diberi aerasi.

2.4.3 Penebaran Larva

Larva ikan mas (Cyprinus carpio) yang digunakan berumur lima hari. Larva

ikan mas yang digunakan berasal dari indukan yang sama dan didapatkan dari

pembudidaya di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu. Penebaran larva

dilakukan melalui proses aklimatisasi terlebih dahulu agar larva dapat beradaptasi

dengan lingkungan baru. Padat tebar larva ikan mas adalah 3 ekor/liter (36

ekor/akuarium). Hal tersebut mengacu pada penelitian Shaheen et al., (2011), yang

menggunakan jumlah padat tebar larva ikan mas sebanyak 7000 ekor larva/2047 liter

(25)

8

2.4.4 Pemeliharaan Ikan Uji

Pemeliharaan ikan uji dilakukan selama 20 hari. Prosedur pemeliharaan ikan

uji yaitu ikan uji ditebar ke dalam akuarium dengan padat tebar 36 ekor/akuarium.

Bioflok diberikan dalam tiga tahap, pada hari ke-1 sampai ke-2 dilakukan frekuensi 2

jam sekali (pukul 18.00, 20.00, 22.00, 00.00, 02.00, 04.00, 06,00, 08.00, 10.00, 12.00,

14.00, dan 16.00 WIB) dengan pemberian bioflok pada perlakuan A (3 ml), B (5 ml)

dan C (7 ml).

Frekuensi pemberian bioflok pada hari ke-3 sampai ke-6 dilakukan 4 jam

sekali dengan pemberian bioflok menjadi dua kali lipat yaitu perlakuan A (6 ml), B

(10 ml), C (14 ml) dengan jadwal pemberian pakan (pukul 18.00, 22.00, 02.00, 06.00,

10.00, dan 02.00 WIB). Frekuensi pemberian bioflok pada hari ke-7 sampai ke-20

dilakukan 6 jam sekali dengan pemberian bioflok menjadi tiga kali lipat yaitu pada

perlakuan A (9 ml), B (15 ml), C (21 ml) dengan jadwal pemberian pakan (pukul

18.00, 00.00, 06.00 dan 12.00 WIB).

Pemberian bioflok dilakukan dengan cara menyifon bioflok menggunakan

selang sifon yang kemudian dimasukan ke dalam Imhoff Cone. Bioflok tersebut

diendapkan selama 10 menit, lalu diberikan pada larva ikan mas sesuai dengan

perlakuan. Pengamatan tingkat kelangsungan hidup larva ikan mas dilakukan setiap

hari. Adapun gambar kondisi masing-masing akuarium pada saat pemeliharaan dapat

dilihat pada (Lampiran 2) dan proses pemeliharaan ikan uji dapat dilihat pada

(Lampiran 3).

2.5 Parameter Kualitas Air

Parameter kualitas air yang diamati adalah suhu, pH, DO dan amoniak.

Pengukuran suhu dan pH dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi hari (pukul 06.00

WIB) dan sore hari (pukul 18.00 WIB). Pengukuran DO dilakukan dua hari sekali,

yaitu pada pagi hari (06.00 WIB). Pengukuran amoniak dilakukan sebanyak empat

kali selama pemeliharaan berlangsung, yaitu pada hari ke-1, hari ke-7, hari ke-14 dan

(26)

9 SR = 𝑁𝑜𝑁𝑡x 100 %

2.6 Pengambilan Data

2.6.1 Kelangsungan Hidup

Tingkat kelangsungan hidup dihitung dengan menggunakan rumus (Effendie,

2002) :

Keterangan :

SR : Tingkat kelangsungan hidup (%)

Nt : Jumlah larva ikan pada akhir pemeliharaan (ekor)

No : Jumlah larva ikan pada awal pemeliharaan (ekor)

2.7 Analisis Data

Variansi data penelitian berupa tingkat kelangsungan hidup larva ikan mas

(Cyprinus carpio) selama pemeliharaan diuji normalitas dan diuji homogenitas

terlebih dahulu menggunakan uji kolmogrov dan uji Levene. Data yang berdistribusi

normal dan homogen selanjutnya diuji menggunakan uji ANOVA untuk mengetahui

perbedaan setiap perlakuan. Perlakuan yang berbeda selanjutnya diuji menggunakan

uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan selang kepercayaan 95 % untuk

(27)

21 IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Pemberian bioflok dalam jumlah berbeda berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan

hidup larva ikan mas. Pemberian bioflok sebanyak 60 ml/hari menghasilkan

kelangsungan hidup sebesar 70 %.

4.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilakukan penelitian lanjutan mengenai pengaruh

pemberian bioflok pada pertumbuhan larva ikan mas sampai dengan berukuran benih

serta ketahanan larva ikan mas terhadap penyakit dengan konsentrasi bioflok lebih

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Avnimcleeh, Y. 2007. Feeding with Microbial Flocs by Tilapia in Minimal Discharge Bio-flocs Technology Ponds. Aquaculture 264,140-147.

Azim, M. E. and D. C. Little. 2008. The biofloc technology (BFT) in indoor tanks: Water quality, biofloc composition, and growth and welfare of Nile tilapia (Oreochromis niloticus). Aquaculture 283:29–35.

Bachtiar, Y. (2003). Pembesaran Ikan Mas di Kolam Air Deras. Tim Lentera. Agromedia Pustaka. Bogor. Hal. 5,6,7,8,38,39.

Cholik, F., Artati dan R. Arifudin. 1986. Pengelolaan Kualitas Air Kolam. INFIS Manual Seri nomor 26. Dirjen Perikanan. Jakarta. 52 hal.

Crab, R., Y. Avnimelech, T. Defoirdt, P. Bossier, and W. Verstraete. 2009. Nitrogen Removal Techniques In Aquaculture for a Sustainable Production. Aquaculture. 270: 1-14.

Dabrowski, H., C. Grudniewski and K. Dabrowski. 1979. Artificial Diets for Common Carp: Effect of the Addition of Enzyme Extracts. Prog. Fish. Cult., 41, (4), 196-200.

Dabrowski, K., and R. Bardega. 1984. Mouth Size and Recommendation of Feed Size Preferences in Three Cyprinid Fish. Aquaculture, 40, 41-46.

Defoirdt, T., D. Halet, H. Vervaeren, N. Boon, T. Van de Wiele, P. Sorgeloos, P. Bossier, and W. Verstraete. 2007. The Bacterial Storage Compound of Poly-b-Hydrobutyrate Protects Artemia fransiseana from Pathogenic Vibrio campbellii. Environ. Microbiol. 9 (2), 445-452.

Dvimurti, N. 2013. Pengaruh Pemberian Pakan Alami Bioflok sebagai Upaya Pencegahan Infeksi Aeromonas Hydrophila pada Benih Ikan Mas Koki. Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Skripsi.

(29)

Effendi, I. Widanarni dan D. Augustine. 2003. Perkembangan Enzim Pencernaan Ikan Patin, Pangasius hypophthalmus. Jurnal Akuakultur Indonesia. Institut Pertanian Bogor, Indonesia.

Effendi. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.

Effendie. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Utama. Bogor.

Ekasari. J. 2009. Teknologi Biotlok: Teori dan Aplikasi dalam Perikanan Budidaya Sistem Intensif. Jumal Akuakultur Indonesia. Institut Pertanian Bogor.

El-Hakim A. E. E. 2009. Effect of Temperature on Hatvhing and Larval Development and Mucin Secretion in Common Carp, Cyprinus Carpio (Linnaeus, 1758). National Institute of Oceanography and Fishery, Anfoushy, Alexandria, Egypt. Global veterania. 3 (2) : 80-90.

Emerenciano M, E. L. C. Ballester, R. O. Cavalli, and W. Wasielesky. 2012. Biofloc technology application as a food source in a limited water exchange nursery system for pink shrimp Farfantepenaeus brasiliensis (Latreille, 1817). Aquac Res 43:447-457.

Emerenciano, M., G. Gaxiola and G. Cuzon. 2013. Biofloc Technology (BFT): A Review for Aquaculture Application and Animal Food Industry. FAO paper.

Flajšhans M. and G. Hulata. 2007. Common carp Cyprinus carpio. Gen Impact-Evaluation of Genetic Impact of Aquaculture Activities on Native Populations. Gen Impact Final Scientific Report. 176 p.

Hofer, R. and A. N. Uddin. 1985. Digestive Processes during the Development of Roach, Rutilus rutilus L. J. Fish Biol., 26: 683-689.

Jelkié, D., A. Opacak, Stevié, S. Ozimec, J. Jug-Dujakovié, and R. Safner. 2012. Rearing Carp Larvae (Cyprinus carpio) in Closed Recirculatory System (RAS). Original Scientific Paper. 9-17.

Ju Y. Z. Ian F., L. Conquest., W. Dominy., W. C. Kuo., and F. D. Horgen. 2008. Determination of Microbial Community Structures of Shrimp Floc Cultures by Biomarkers and Analysis of Floc Amino Acid Profiles. Aquaculture Research. 39 : 118-133.

(30)

Kelabora, D.M. 2009. Pengaruh Suhu terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Mas (Cyprinus carpio). Berkala Perikanan Terubuk. 38 (1) : 71-81.

Kim J., K. G. Massee and W.H. Hardy. 1996. Adult artemia as food for first feeding Coho salmon (Onchorhynchus kisutch). Aquaculture, 144: 217-226. Koltai, T., C. Hanez, I. Magyary, and P. Horn. 2002. Studies on the Effect of Nitrate

Selective Resin on the Water Quality and Growth Rate of Common Carp (Cyprinus carpio L.) Reared in Recirculating System. Acta Agraria Kaposvariensis. 6 : 277-283.

Kordi, M. G. H. K dan A. B. Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Lingga, P. 1985. Ikan Mas dalam Kolam Air Deras. Penebar Swadaya. Jakarta. 63 hal.

Mara, D. 2004. Domestic waste water treatment in developing countries. Earthscan. UK. 293p.

McIntosh, R. P. 2001. Changing Paradigms in Shrimp Farming: Estabisment of Heterotrophic Bacterial Communities. Global Aquaculture Alliance.

Oktafiani, M. 2015. Tepung Bioflok sebagai Agen Imunostimulan pada Sistem Pertahanan Non Spesifik Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus). Skripsi. Budidaya Perairan, Universitas Lampung.

Peteri, A. 2006. Inland Water Resources and Aquacultures Service (FIRI). Cultured Aquatic Species Information Programme–Cyrpinus carpio. Cultured Aquatic Species Fact sheets. FAO–Rome.

Rangka, N. A. dan Gunarto. 2012. Pengaruh Penumbuhan Bioflok Pada Budidaya Udang Vaname Pola Intensif di Tambak. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 4 (2) : 141-149.

Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta. Jakarta.

Sakkaravarthi, K. 2015. Determination of Effective Microbial Community for Biofloc Shrimp Culture System. International Journal of Fisheries and Aquatic Studies. Marine Biology, Annamalai University, India.

(31)

Sedwick S. D. 1990. Trout farming handbook, 5 ed. Fishing News Book. Pp. 101-113.

Shaheen T., I. Javed, K. Manawar, and A. Tanveer Akhtar. 2011. Induced Spawning and Larval Rearing of Cyprinus carpio on Three Different Feeds. Fish Seed Hatchery, Satyana Road, Pakistan. Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences. 11 : 469-472.

Stroband, H. W. J. and K. R. Dabrowski. 1984. Morphological and Physiological Aspects of the Digestive System and Feeding in Fresh-water Fish Larvae., pp: 355-376. In, M. Fontain (Ed.) La Nutrition des Poisons, CNERNA, Paris. Supono. 2014. Manajemen Kualitas Air untuk Budidaya Perairan (Buku Ajar).

Bandar Lampung. Universitas Lampung. 109 hal.

Verstraete, W., P. De Schryver, T. Deroirdt, and R. Crab. 2008. Added Value of Microbial Life in Flocs. Presented in World Aquaculture Society Meeting, San Antonio, Texas, USA.

Wang Y. Hu., W. Wang and L. Cao. 2009. Effects on growth and survival of loach (Misgurnus anguilli caudatus) larvae when co-fed on live and micro particle diets. Aquaculture Research. 40: 385-394.

Figure

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian

References

Related documents

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Konservatisme, Likuiditas dan Investment Opportunity Set terhadap Kualitas Laba pada Perusahaan Manufaktur

Hasil ini menunjukkan bahwa setiap terjadi peningkatan 1 unit skor sikap akan mening- katkan skor niat sebesar 0.27.Nilai koefisien jalur tidak terstandarisasi (b)

Camus calls this freedom “rebellion.” Camus thinks of this freedom as rebellion because it is an acceptance of the absurdity of life’s conditions, while aggressively attempting

The Special Masters in these proceedings, having considered all the available scientific evidence, concluded in the first three test cases that there was no merit in the

Hypotheses 10a-b: Within individuals, negative affect mediates the moderating effects of family task crafting on the relationships between (a) family task overload and (b) family time

Morphology changes were observed in hESCs post-siRNA treatment, with (A) OCT4 knockdown (pluripotency factor) and (B-D) with the epigenetically-defined biomarkers GLIS2, HMGA1

no-change life insurers, for year after rating change, 1994-2003 combined data, response variable = change in log policy count, autoregressive error structure within insurers..

It also presents the four business activities of the Group: Sport (slow motion disk recorders), Broadcast Solutions, Radio Management Systems and Digital Cinema Servers..