• No results found

Text ABSTRACT pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRACT pdf"

Copied!
11
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Substansi dari pendidikan itu sendiri adalah suatu pembelajaran yang mampu

menunjang siswa menuju kearah suatu perubahan dalam ranah kognitif, afektif

dan psikomotor dimana terdapat grafik peningkatan dalam masing-masing

ranah tersebut atau dengan kata lain pembelajaran merupakan cara membantu

peserta didik kearah yang lebih baik. Pembelajaran yang berkualitas dapat

dilihat dari beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal

adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti motivasi,

minat, perhatian, dan aktivitas siswa. Faktor eksternal adalah faktor yang

berasal dari luar diri siswa seperti lingkungan, teman, keluarga, tenaga

pendidik, dan metode pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap siswa kelas X IPS 1

SMA Yadika Bandar Lampung telah didapatkan hasil bahwa kecenderungan

yang dialami siswa dalam pembelajaran siswa adalah pasif di mana guru jarang

melakukan tatap muka dikarenakan guru juga menjabat sebagai wakil kepala

sekolah di bidang kurikulum sehingga siswa mengeluh bahwa guru tidak bisa

(2)

ini menyebabkan kurang lengkapnya materi yang disampaikan oleh guru pada

setiap pertemuan, sehingga ketika terjadi ujian blog atau ulangan harian banyak

peserta didik yang tidak tuntas. Selain itu, dalam penerapan model

pembelajaran jarang sekali menggunakan model pembelajaran yang mampu

membangkitkan aktivitas belajar siswa, kecenderungan yang dilakukan adalah

penerapan model pembelajaran konvensional sehingga pembelajaran pun

berjalan secara monoton. Hal ini yang memicu rendahnya prestasi belajar siswa

sehingga hasil belajar yang dicapai pun rendah.

Model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi lebih aktif dalam

proses pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif. Ide penting dalam

pembelajaran kooperatif adalah membelajarkan siswa tentang ketrampilan

kerjasama dan kolaboratif. Mendukung pernyataan ini maka Eggen dan

Kauchak dalam Wardhani (2005) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif

adalah usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang

sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah

direncanakan. Oleh karena itu, pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan

serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Pembelajaran di

dalam kelas yang menggunakan pembelajaran kooperatif ini siswa diharapkan

membantu yang lain dalam berdiskusi dan berargumen dengan yang lain,

mengukur kemampuan teman sekelompok, dan menghilangkan perbedaan

pemahaman teman dalam satu kelompok.

Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah tipe two stray two stay

yang merupakan model pembelajaran yang sangat bermanfaat dalam

(3)

kurang dan hasil belajar yang rendah. Model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray merupakan teknik pembelajaran dengan struktur kelompok yang khas yang bertujuan agar siswa belajar bekerja sama, bertanggung jawab,

saling membantu memecahkan masalah dan saling mendorong untuk

berprestasi serta melatih siswa agar dapat bersosialisasi dengan baik. Model

pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray dikembangkan pertama kali oleh Spencer Kagan pada tahun 1990 dengan struktur kelompok kooperatif

seperti tipe two stay two stray ini dapat memberikan kesempatan kepada tiap kelompok untuk saling berbagi informasi dengan kelompok-kelompok lain.

Berdasarkan observasi pendahuluan dan hasil wawancara terhadap guru kelas

X IPS 1 mata pelajaran PKn SMA Yadika Bandar Lampung tahun pelajaran

2014/2015, prestasi siswa dalam proses belajar mengajar PKn di kelas X IPS 1

SMA Yadika Bandar Lampung tahun pelajaran 2014/2015 dapat digambarkan

(4)

Tabel 1.1 Prestasi Belajar Ulangan Harian Siswa Kelas X IPS 1 Semeter Genap Tahun Pelajaran 2014/2015

N O

SK KD

Tahun Pelajaran Ket.

Jum lah BT 2012/2013 2013/2014 2014/2015

T BT T BT T BT

1 4.Mengan

alisis hubung an dasar negara dengan konstitu si 4.1 Mendeskrips-ikan hubungan dasar negara dengan konstitusi 4.2 Menganalisis substansi konstitusi negara 4.3 Menganalisis kedudukan pembukaan UUD 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia

4.4 Menunjukkan sikap positif terhadap konstitusi negara

22 13 25 14 30 12 39

23 12 22 17 33 9 38

10 25 31 8 18 24 57

20 15 25 14 32 10 39

Sumber: Dokumentasi ulangan harian Kelas X IPS 1 semeter genap TA 2012-2015

Berdasarkan tabel di atas, dapat dinyatakan bahwa prestasi belajar siswa SMA

Yadika Bandar Lampung masih rendah terlihat pada kompetensi dasar

menganalisis kedudukan pembukaan UUD 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari banyak siswa yangbelum tuntas pada KD tersebut. Jumlah siswa yang belum tuntas pada KD menganalisis kedudukan

pembukaan UUD 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia berjumlah 57

siswa.

Rendahnya prestasi belajar siswa yang terjadi dikelas ini disebabkan oleh

[image:4.595.115.573.111.429.2]
(5)

kurang merangsang aktivitas siswa seperti metode ekspositori. Proses

pembelajaran guru didominasi dengan penjelasan materi pelajaran kepada

peserta didik, memberikan contoh, latihan soal, dan diakhiri dengan pemberian

tugas rumah. Pada proses belajar mengajar, kegiatan pembelajaran didominasi

oleh guru sehingga siswa kurang berperan aktif dalam pembelajaran. Pada saat

guru menyampaikan meteri pembelajaran peserta didik hanya mendengarkan

saja, dan pengajuaan pertanyaan jarang sekali dilakukan, dilakukan jika ada

stimulus dari guru, peserta didik juga belum dibiasakan untuk mencari ilmu

dengan usaha sendiri, sehingga hal ini jauh sekali dari kondisi aktif. Hal-hal

tersebut diatas menunjukkan faktor-faktor penyebab prestasi belajar siswa

kelas X IPS 1 SMA Yadika Bandar Lampung masih rendah.

Dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No.

12 tahun 2007 yang dikutip Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga

Kependidikan (https://diknas. docs.google.com/file) disebutkan bahwa:

Secara umum kriteria keberhasilan pembelajaran adalah:

1) Keberhasilan siswa menyelesaikan serangkaian tes, baik tes formatif, tes sumatif, maupun tes ketrampilan yang mencapai tingkat keberhasilan rata-rata 60%

2) Setiap keberhasilan tersebut dihubungkan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan oleh kurilkulum, tingkat ketercapaian kompetensi dasar yang ditetapkan oleh kurikulum, tingkat ketercapaian kompetensi ini ideal 75% dan ketercapain ketrampilan 3) Vokasional atau praktik tergantung pada tingkat resiko dan tingkat

(6)

Idealnya, kriteria pencapaian kompetensi yang ditetapkan adalah minimum

75% dari nilai maksimal. Contohnya apabila nilai maksimum suatu evaluasi

pembelajaran adalah 100 maka nilai minimum yang harus diperoleh siswa

adalah 75 agar bisa dinyatakan lulus. Namun, penetapan tersebuat bisa saja

berubah tergantung kondisi sekolah seperti kemampuan siswa dan guru serta

ketersedian sarana dan prasarana. Kriteria ketuntasan minimum untuk siswa

kelas X IPS 1 SMA Yadika Bandar Lampung ditetapkan diangka 74. Jadi,

siswa yang mendapat nilai kurang dari 74 dinyatakan tidak lulus dan wajib

mengikuti remedial. Penetapan disesuaikan dengan siswa serta situasi dan

kondisi sekolah.

Kemudian berdasarkan hasil wawancara siswa dan data yang di peroleh dari

Guru PKn siswa kelas X IPS 1 SMA Yadika Bandar Lampung, didapat data

hasil nilai mid semester ganjil tahun pelajaran 2014/2015 sebagai berikut.

Tabel 1.2 Hasil Belajar Siswa kelas X IPS 1 Tahun Pelajaran 2014/2015 Kompetensi Dasar Menganalisis Kedudukan Pembukaan UUD 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia

No HASIL BELAJAR

SISWA

JUMLAH SISWA % Nilai

KKM 74

Nilai yang Tuntas Belajar ≥74 = 42,9%

L P

1 Tuntas Belajar (≥74)

6 12 18 42,9%

2 Tidak Tuntas Belajar (≤74)

10 14 24 57,1%

Jumlah 16 26 42 100%

Sumber: Hasil mid semester semester ganjil kelas X IPS 1 SMA Yadika

[image:6.595.127.525.478.668.2]
(7)

Diketahui bahwa nilai KKM mata pelajaran PKn adalah 74,00 dan yang

mendapatkan nilai PKn lebih besar atau sama dengan 74,00 hanya 42,9%. Nilai

persentase tersebut masih jauh di bawah standar ketuntasan yang ditetapkan

pihak sekolah terhadapat mata pelajaran PKn, yaitu 74,00 dengan persentase

60%. Berdasarkan data tersebut, dapat dismpulkan bahwa hasil belajar mata

pelajaran PKn siwa kelas X IPS 1 SMA Yadika Bandar Lampung masih

rendah.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, dapat dinyatakan

bahwa hasil belajar siswa kelas X IPS 1 SMA Yadika Bandar Lampung masih

rendah. Telah dijelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya

aktivitas belajar siswa yang berdampak pada hasil belajar yang rendah juga.

Salah satu faktor yang disebutkan di atas adalah guru menerapkan model dan

metode yang masih konvensional. Memilih model pembelajaran yang tepat

adalah salah satu langkah yang diambil guru untuk meningkatkan aktivitas dan

hasil belajar siswa. Selain itu dampak dari perubahan kurikulum juga

berpengaruh kepada siswa sehingga guru harus mampu melakukan inovasi

pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran, model, dan metode yang tepat

dalam pembelajaran.

Ide utama dari pembelajaran ini adalah untuk memotivasi siswa untuk

bersemangat dalam belajar dan saling membantu satu sama lain untuk

menguasai materi yang dipresentasikan oleh guru. Jika siswa ingin

kelompoknya memperoleh penghargaan kelompok, mereka diharuskan mampu

berbagi dengan kelompok lain dan mampu menerima materi dari kelompok

(8)

hal yang terbaik dan menanamkan nilai bahwa belajar itu sangat

menyenangkan, penting, dan berharga. Dengan kondisi sebagaimana yang

dimaksud di atas maka model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray

sangat cocok diterapkan. Pertimbangan lain adalah bahwa model pembelajaran

kooperatif tipe two stay two stray tidak jauh berbeda dengan pembelajaran yang seperti biasa dilakukan oleh guru.

Berdasarkan latar belakang inilah penulis tertarik untuk meneliti tentang “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stray Two

Stay Terhadap Hasil Belajar PKn Siswa Kelas X IPS 1 Semester Genap di SMA Yadika Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015.”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan Latar Belakang yang telah diuraikan, maka peneliti dapat

mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Rendahnya aktivitas siswa pada saat pembelajaran

2. Rendahnya hasil belajar siswa saat pembelajaran

3. Penggunaan model dan metode yang konvensional yang membuat

pembelajaran kurang aktif dan inovatif

4. Pembelajaran yang masih bersifat tradisional dengan guru sebagai

sumber utama pembelajaran sehingga siswa cenderung pasif

5. Rendanya tingkat kelulusan siswa, yaitu 57,1% siswa tidak lulus pada

(9)

tuntas pada KD menganalisis kedudukan pembukaan UUD 1945

Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam rentang TA 2012-2015.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka masalah di batasi pada

pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray

terhadap hasil belajar PKn siswa kelas X IPS 1 SMA Yadika Bandar

Lampung tahun pelajaran 2014/2015.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah yang ada,

maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:

“Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stray Two

Stay berpengaruh terhadap hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas X IPS 1 di SMA Yadika Bandar Lampung Tahun Pelajaran

2014/2015?”

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh penerapan

model pembelajaran kooperatif tipe two stray two stay terhadap hasil belajar PKn siswa kelas X IPS 1 SMA Yadika Bandar Lampung semester

(10)

2. Kegunaan Penelitian

a. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini berguna secara teori untuk menerapkan konsep-konsep

pendidikan khususnya pendidikan kewarganegaraan, dalam

menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe two stray two stay

untuk mencapai tujuan pembelajaran.

b. Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai masukan yang positif

bagi guru agar dalam pelaksanaan proses pembelajaran dapat berjalan

dengan baik dan lebih menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan

psikomotor sehingga dapat berpengaruh pada hasil belajar siswa

dengan model pembelajaran kooperatif tipe two stray two stay ini.

F. Ruang Lingkup Penelitian

1. Ruang Lingkup Ilmu Penelitian

Penelitian ini termasuk ruang lingkup ilmu pendidikan, dengan wilayah

kajian Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), karena bertujuan untuk

membentuk warga negara yang memiliki pengetahuan, keterampilan,

sikap dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2. Ruang Lingkup Objek Penelitian

Studi Tentang pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

(11)

3. Ruang Lingkup Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPS 1 SMA Yadika

Bandar Lampung tahun pelajaran 2014/2015.

4. Ruang Lingkup Tempat atau Wilayah Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Yadika Bandar Lampung

5. Ruang Lingkup Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan sejak dikeluarkannya surat izin penelitian

pendahuluan oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

Universitas Lampung.

Figure

Tabel 1.1 Prestasi Belajar Ulangan Harian Siswa Kelas X IPS 1 Semeter Genap Tahun Pelajaran 2014/2015
Tabel 1.2 Hasil Belajar Siswa kelas X IPS 1 Tahun Pelajaran 2014/2015 Kompetensi Dasar Menganalisis Kedudukan Pembukaan UUD

References

Related documents

In the effort of elucidating the resistance of cancer cells to nutrient starvation induced cell death, we found the TRIP-Br3 down-regulation and TRIP-Br1 up- regulation in response

Table 2 compared the birthplaces, ALT levels, virus loads, HBeAg status, frequency of genotype C, and the mutations lo- cated in the MHRs of the S gene for the 30 individuals with

In the normal rat filtered HC03- is reabsorbed in the proximal convoluted tubule at a rate rela- tively faster than the isosmotic reabsorption of water; consequently the

truncatum Therapeutic keratoplasty Clinical improvement 4 112006 ND 18/M Vegetable matter Corneal scraping Septate hyphae Colletotrichum dematium ND Therapeutic keratoplasty

Serum B12 levels were determined in 20 patients with megaloblastic anemia, 3 patients with chronic myelogenous leukemia, 4 patients with liver dis- ease, and 35 normal control

Characterization of Borrelia burgdorferi sensu lato isolated in Moscow province—a sympatric region for Ixodes ricinus and Ixodes persulcatus. Isolation of Lyme disease spirochetes

DPH has also been shown to interfere with the binding of thyroxine (T4) by plasma proteins, as measured by the in- creased uptake of I131 L-triiodothyronine (T-I131) and

CADO-ES1 and RD-ES cells were incubated in the absence (Control) or presence of 10 µM of different APLs (edelfosine, EDLF; perifosine, PERIF; miltefosine,