II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Belajar Perkembangan Kognitif Jean Piaget
Dalam belajar, kognitivisme mengakui pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa meremehkan faktor eksternal atau lingkungan. Bagi kognitivisme, belajar merupakan interaksi antara individu dan lingkungan dan hal itu terjadi terus-menerus sepanjang hayatnya. Teori ini mengenal konsep bahwa belajar ialah hasil interaksi yang terus-menerus antara individu dan lingkungan melalui proses memasukkan pengetahuan baru kedalam pengetahuan yang sudah ada(asimilasi) dan menye-suaikan diri dengan infomasi yang baru (akomodasi).
Menurut Jean Piaget dalam Bell (1994), belajar adalah:
Interaksi yang terus-menerus antara individu dan lingkungan. Artinya, pengetahuan itu suatu proses, bukannya suatu “barang”. Karena itu untuk memahami pengetahuan orang dituntut untuk mengenali dan menjelaskan berbagai cara bagaimana individu berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam proses pembelajaran Jean Piaget dalam Bell (1994), menyarankan:
B. Pembelajaran Konstruktivisme
Menurut Von Glasersfeld dalam Sardiman (2007), konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan bukanlah suatu imitasi dari kenyataan (realitas). Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan. Pengetahuan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Tetapi pengetahuan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang.
Secara sederhana konstruktivisme merupakan konstruksi dari kita yang mengetahui sesuatu. Pengetahuan itu bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan, melainkan suatu perumusan yang diciptakan orang yang sedang mempelajarinya. Bagi kaum konstruktivisme, kegiatan belajar adalah proses aktif siswa untuk menemukan sesuatu dan membagun sendiri pengetahuannya. Siswa yang membuat penalaran atas apa yang dipelajari dengan apa yang telah diketahui. Pengetahuan dan penger-tian tersebut dikonstruksi siswa bila siswa terlibat secara sosial dalam dialog dan aktif dalam percobaan. Seorang guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu proses belajar siswa berjalan dengan baik. Guru perlu menciptakan suasana yang membuat siswa antusias di dalam pembelajaran dan berperan dalam membantu siswa agar mampu mengkonstruksi pengetahuannya.
Ciri atau prinsip dalam belajar menurut Suparno dalam Trianto (2010), sebagai berikut:
1. Belajar berarti mencari makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami,
2. Konstruksi makna adalah proses yang terus menerus,
3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, tetapi merupakan pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan tetapi perkembangan itu sendiri,
4. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subjek belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya,
5. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui, subjek belajar, tujuan, motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang sedang dipelajari.
Menurut (Sagala, S. 2010) Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan kontekstual yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak dengan tiba-tiba. Pe-ngetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk
memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Landasan berfikir konstruktivisme adalah lebih menekankan pada strategi memperoleh dan mengingat pengetahuan.
C. Siklus Belajar (Learning Cycle)
Piaget dan para konstruktivis pada umumnya dalam Sudirman (2007), berpendapat bahwa:
Di dalam mengajar, seharusnya diperhatikan pengetahuan yang telah diperoleh siswa. Mengajar bukan sebagai proses memindahkan gagasan-gagasan guru kepada siswanya, melainkan sebagai proses untuk mengubah gagasan-gagasan siswa yang sudah ada yang mungkin “salah”, sehingga proses belajar-mengajar tidak monoton dan membosankan karena paradigma guru yang selalu
mengganggap bahwa dirinyalah yang paling benar. Siswa dianggap sebagai suatu wadah kosong sehingga guru hanya mengajarkan apa-apa yang ia ketahui tanpa mengukur apa-apa yang telah diketahui oleh sang anak. Guru adalah seorang yang meluruskan paradigma para muridnya yang mungkin “salah”, sehingga dengan kata lain guru adalah orang yang dianggap oleh seorang siswa sebagai tempat untuk bertukar pendapat.
Salah satu strategi mengajar untuk menerapkan model konstruktivis ialah penggu-naan siklus belajar. Dimana terdapat tiga siklus belajar yaitu: diskriptif, empiris-induktif, dan hipotesis-deduktif, yang menunjukkan suatu kontinu dari sains deskriptif ke sains eksperimental.
Karplus dan Their dalam Fajaroh dan Dasna (2007), mengungkapkan bahwa: Siklus Belajar (Learning Cycle) atau dalam penulisan ini disingkat LC adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (student centered). LC merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi
sedemikian rupa sehingga pembelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. LC terdiri dari fase-fase: fase eksplorasi (exploration), fase pengenalan konsep (concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application).
Pada tahap eksplorasi, siswa diberi kesempatan untuk memanfaatkan panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui kegiatan-kegiatan seperti melakukan eksperimen, menganalisis artikel, mendisku-sikan fenomena alam, mengamati fenomena alam atau perilaku sosial, dan lain-lain. Dari kegiatan ini diharapkan timbul ketidakseimbangan dalam struktur mentalnya (cognitive disequilibrium) yang ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning) yang diawali dengan kata-kata seperti “mengapa dan bagaimana”. (Dasna, 2005, Rahayu, 2005)
Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus merupakan indikator kesiapan siswa untuk menempuh fase berikutnya, yaitu fase pengenalan konsep.
Pada fase terakhir, yakni aplikasi konsep, siswa diajak menerapkan pemahaman konsepnya melalui berbagai kegiatan-kegiatan atau melakukan percobaan lebih lanjut. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar, karena siswa mengetahui penerapan nyata dari konsep yang mereka pelajari.
Hudojo dalam Fajaroh dan Dasna (2007), mengemukakan bahwa ”LC melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi pelajar untuk secara aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial.” Lingkungan belajar yang perlu diupayakan agar LC berlangsung secara
konstruktivistik adalah:
1. tersedianya pengalaman belajar yang berkaitan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa,
2. tersedianya berbagai alternatif pengalaman belajar jika memungkinkan, terjadinya
transmisi sosial, yakni interaksi dan kerja sama individu dengan lingkungannya, 3. tersedianya media pembelajaran,
4. kaitkan konsep yang dipelajari dengan fenomena sedemikian rupa sehingga siswa terlibat secara emosional dan sosial yang menjadikan pembelajaran berlangsung menarik dan menyenangkan.
D. Model Siklus Belajar 5 Fase ( Learning Cycle 5-E )
pengembangan perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan) sampai evaluasi.
Efektifitas implementasi LC biasanya diukur melalui observasi proses dan pemberian tes. Jika ternyata hasil dan kualitas pembelajaran tersebut ternyata belum
memuaskan, maka dapat dilakukan siklus berikutnya yang pelaksanaannya harus lebih baik dibanding siklus sebelumnya dengan cara mengantisipasi kelemahan-kelemahan siklus sebelumnya, sampai hasilnya memuaskan.
LC tiga fase saat ini telah dikembangkan dan disempurnakan menjadi 5 fase Pada LC 5 Phase, ditambahkan tahap engagement sebelum exploration dan ditambahkan pula tahap evaluation pada bagian akhir siklus. Pada model ini, tahap concept introduction dan concept application masing-masing diistilahkan menjadi explaination dan elaboration. Karena itu LC 5 Phase sering dijuluki LC 5-E (Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, dan Evaluation) (Lorsbach, 2002).
Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan pada Gambar. 1 di bawah ini.
Gambar. 1 the 5 E Learning Cycle Model
( Sumber: www.coe.ilstu.edu) Fase-fase Learning Cycle 5-E :
1. Engagement (Menarik Perhatian-Mengikat)
Fase Engage merupakan fase awal untuk menggali pengetahuan awal dan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Pada fase ini guru menciptakan teka-teki yang sesuai dengan topik yang akan dipelajari siswa. Guru dapat mengajukan pertanyaan (misalnya: mengapa hal ini terjadi? bagaimana cara mengetahuinya? dll), dan jawaban siswa digunakan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang telah diketahui oleh siswa. Fase ini bertujuan mempersiapkan diri siswa agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan
keingintahuan (curiosity) siswa tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula siswa diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam fase eksplorasi.
Pada fase eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk bekerja baik secara mandiri maupun secara berkelompok tanpa instruksi atau pengarahan secara langsung dari guru, untuk mengeksplorasi fenomena ilmiah, memanipulasi bahan, dan berusaha untuk memecahkan masalah. Pada fase ini siswa melakukan percobaan (secara il-miah), melakukan pengamatan, mengumpulkan data, sampai pada membuat ke-simpulan dari percobaan yang dilakukan. Dalam kegiatan ini guru sebaiknya ber-peran sebagai fasilitator membantu siswa agar bekerja pada lingkup permasalahan (hipotesis yang dibuat sebelumnya) dan menguji hipotesis mereka melalui
eksperimen atu observasi.
Sesuai dengan teori Piaget, pada kegiatan eksplorasi siswa diharapkan mengalami ketidaksetimbangan kognitif (disequilibrium). Siswa diharapkan bertanya kepada dirinya sendiri: “Mengapa demikian” atau “Bagaimana akibatnya bila..” dan sete-rusnya. Kegiatan eksplorasi memberi kesempatan siswa untuk menguji dugaan dan hipotesis yang telah mereka tetapkan. Mereka dapat mencoba beberapa alter-natif pemecahan, mendiskusikannya dengan teman sekelompoknya, mencatat ha-sil pengamatan dan mengemukakan ide dan mengambil keputusan memecahkan-nya (Dasna, 2005:81).
Kegiatan pada fase ini sampai pada tahap presentasi atau komunikasi hasil yang diperoleh dari percobaan atau menelaah bacaan. Dari komunikasi tersebut diha-rapkan diketahui seberapa tingkat pemahaman siswa terhadap masalah yang dipe-cahkan (Dasna, 2005:82).
3. Explaination (Menjelaskan)
anggo-ta kelompok untuk mengkritisi penjelasan konsep dari siswa yang satu dengan yang lainnya. Pada kegiatan yang berhubungan dengan percobaan, guru dapat memperdalam hubungan antar variabel atau kesimpulan yang diperoleh siswa. Hal ini diperlukan agar siswa dapat meningkatkan pemahaman konsep yang baru diperolehnya
4. Elaboration (Penerapan konsep)
Kegiatan belajar ini mengarahkan siswa menerapkan konsep-konsep yang telah dipahami dan ketrampilan yang dimiliki pada situasi baru. Guru dapat
mengarahkan siswa untuk memperoleh penjelasan alternatif dengan menggunakan data atau fakta yang mereka eksplorasi alam situasi yang baru. Guru dapat
memulai dengan mengajukan masalah baru yang memerlukan pengujian lewat ekplorasi dengan melakukan percobaan, pengamatan, pengumpulan data, analisis data sampai membuat kesimpulan. Kegiatan fase ini bertujuan untuk mening-katkan pemahaman siswa tentang apa yang telah mereka ketahui, sehingga siswa dapat melakukan akomodasi melalui hubungan antar konsep dan pemahaman siswa menjadi lebih mantap.
5. Evaluation (Evaluasi)
Kegiatan belajar pada fase evaluasi, guru ingin mengamati perubahan pada siswa sebagai akibat dari proses belajar pada fase ini guru dapat mengajukan pertanyaan terbuka yang dapat dijawab dengan menggunakan lembar observasi, fakta atau data dari penjelasan dari sebelumnya yang dapat diterima. Kegiatan pada fase evaluasi berhubungan dengan penilaian kelas yang dilakukan guru meliputi penilaian proses dan evaluasi penguasaan konsep yang diperoleh siswa.
Setelah melakukan fase-fase diatas, siswa diharapkan mampu lebih berperan aktif dalam pembelajaran, dan siswa termotivasi untuk menggali dan memperkaya wawasan lebih banyak mengenai konsep yang telah dipelajari dan mengaplikasi-kannya juga pada bidang-bidang lain selain bidang sains tentunya. Siswa juga diharapkan dapat membangun sendiri pegetahuan kognitif melalui indera untuk melihat gejala-gejala yang ada di sekitarnya dan kedudukan guru sebagai fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase tersebut mulai dari perencanaan (terutama perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan) dan evaluasi berfungsi membantu siswa
E. Siklus Belajar Empiris-Induktif (SBEI)
Siklus belajar ini membuatpara siswa menemukan dan memberikan suatu pola empiris dalam suatu konteks khusus (eksplorasi), tetapi mereka selanjutnya mengemukakan sebab-sebab yang mungkin tentang terjadinya pola itu. Hal ini membutuhkan penggunaan penalaran analogi untuk memindahkan atau mentransfer konsep-konsep yang telah dipelajari dalam konteks-konteks lain pada konteks baru ini (pengenalan konsep), lalu konsep-konsep itu dapat diperkenalkan oleh guru, siswa ataupun keduanya.
Dengan bimbingan guru para siswa menganalisis data yang dikumpulkan selama fase eksplorasi untuk melihat apakah sebab-sebab yang dihipotesis ajek dengan data dan fenomena lain yang dikenal (aplikasi konsep). Dengan kata lain pengamatan dilakukan secara deskriptif, tetapi bentuk siklus ini menghendaki lebih jauh yaitu mengemukakan sebab dan menguji sebab itu. Oleh karena itu siklus belajar ini diberi nama empiris-induktif. (Dahar,1996:165).
Menurut (Muhammadzen 2008), bahwa sumber pengetahuan antara lain dimulai dari suatu pengalaman empiris menuju induktif. Pengalaman empiris didasarkan pada pengamatan gejala, peristiwa atau fakta-fakta di lapangan yang dianalisis sehingga didapatkan suatu kesimpulan. Menurut (Lawson 2005), di dalam SBEI, siswa tidak hanya menggambarkan apa yang diamati, tetapi berusaha untuk membuktikan hipotesis untuk menjelaskan apa yang diamati. Di dalam SBEI, melibatkan keterampilan proses dasar dan menyeluruh (mengidentifikasi variabel, membuat tabel dan grafik, mendeskripsikan hubungan antar variabel, membuat hipotesis, melakukan analisis dan penyelidikan, mendefinisikan operasional variabel, merancang penyelidikan, bereksperimen).
melalui kegiatan observasi lapangan atau praktikum. Guru memberikan pengalaman belajar dan membimbing siswa dan siswa sendiri yang berperan aktif.
Untuk mengemas dan menyusun pembelajaran yang menggunakan model
Learning cycle tipe Empiris-Induktifini urutannya harus mencerminkan suatu alur yang dimulai dengan konsep-konsep dan hubungan-hubungan yang sederhana, namun akan diperoleh suatu hasil yang bermakna. Berdasarkan langkah-langkah kegiatan pembelajarannya, ternyata tipe ini mempunyai ciri khas, yaitu pada fase eksplorasi dimulai dengan sebuah pertanyaan sebab akibat atau pertanyaan deskriptif, misalnya: “Faktor apa saja yang mempengaruhi?” dan diikuti dengan
mengungkapkan penyebab yang dapat dihipotesis. Lawson, (1988) dalam Damayanti (2006:24).
Keterampilan guru menggunakan model ini sangat tergantung pada pemahaman, pengetahuan dan keterampilan guru akan susunan dan keterpautan komponen-komponen kegiatan pembelajaran juga pandangan guru itu sendiri tentang materi yang akan diberikan. Disamping itu penggunaan bahasa yang berorientasi pada interaksi sosial baik antar siswa maupun antara siswa dengan guru harus benar-benar diperhatikan. Ini dilakukan mengingat siswa tidak dapat mengkonstruksi penge-tahuannya secara optimal tanpa berkomunikasi dengan yang lainnya.
beranjak dari isu-isu sains yang relevan dengan lingkungan siswa, menampilkan fenomena yang kongkrit, memberi kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dengan orang lain dalam mengemukakan pemahamannya tentang fenomena yang mereka alami serta senantiasa diikuti dengan kegiatan yang menuntut dilakukannya eksplorasi baru oleh siswa. Model pembelajaran Learning cycle ini memberikan suatu format yang adaptable bagi beragam konteks pembelajaran mulai dari jenjang pendidikan dasar, menengah sampai perguruan tinggi yang intinya selalu
memberikan pengalaman kongkrit bagi siswa dengan sasaran utama pemahaman konsep.
Karakteristik model Pembelajaran Empiris induktif (Yasin, 2007): a. Fase eksplorasi (siswa mendapatkan fakta-fakta)
Tujuan dari tahap ini adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan awalnya, menghubungkan pengetahuan baru dan menjelaskan fenomena yang mereka alami, sehingga siswa menemukan pengalaman konkrit, melakukan ketrampilan ilmiah dan menemukan konsep-konsep penting. Dalam fase ini, mereka sering kali mengekplorasi fenomena baru dengan tuntunan minimal. Fenoma baru ini harus memunculkan
pertanyaan-pertanyaan dan rasa ingin tahu siswa atau kekomplekkan yang tidak dapat dipecahkan dengan konsepsi mereka yang ada atau pola-pola berpikir yang sudah biasa, seperti bagaimana besi dapat berkarat atau mengapa buah apel yang telah dikupas dan dibiarkan selama beberapa menit diudara terbuka akan
bagi siswa untuk menyuarakan gagasan-gagasan yang tidak tepat yang dapat memunculkan debat dan analisis alasan-alasan untuk gagasan mereka,
berdasarkan fakta-fakta yang dihasilkan dari observasi lapangan reaksi redoks dan praktikum reaksi redoks.
b. Fase pengenalan konsep
Pada tahap ini siswa mengkomunikasikan dan mendiskusikan fakta-fakta yang diperoleh di lapangan dan praktikum, dan pembangunan konsep yang
berdasarkan fakta-fakta dari observasi lapangan dan praktikum di bawah arahan dan bimbingan guru.
Fase pengenalan konsep dimulai dengan memperkenalkan suatu konsep yang ada hubungannya dengan fenomena yang diselidiki, dan didiskusikan dalam konteks apa yang telah diamati selama fase eksplorasi, kemudian dikenalkan secara konseptual. Perhatian siswa diarahkan pada aspek-aspek tertentu dari pengalaman eksplorasi. Kemudian konsep-konsep dikenalkan secara formal dan langsung.
c. Fase aplikasi konsep (Siswa dapat mengaplikasikan konsep baru dalam kehidupan sehari-hari).
Siklus belajar empiris induktif berfokus pada peristiwa alam, hubungan atau prinsip yang melibatkan beberapa konsep. Siswa dituntut untuk menjelaskan fenomena seperti mengekspresikan beberapa miskonsepsi dan memberikan kesempatan untuk dialog dan diskusi. Model pembelajaran empiris induktif ini merupakan salah satu siklus pembelajaran yang terdiri dari tiga fase, yaitu 1) fase eksplorasi, 2) fase perkenalan istilah, dan 3) fase aplikasi konsep.
(Anton E. Lawson, 1996), menjelaskan ketiga fase tersebut sebagai berikut: Fase eksplorasi, para siswa belajar melalui tindakan-tindakan dan reaksi-reaksi mereka sendiri dalam situasi baru dalam hal ini yaitu saat siswa melakukan obsevasi lapangan sel accu dan percobaan sel volta. Dalam fase ini, mereka sering kali mengekplorasi fenomena baru dengan tuntunan minimal. Fenoma baru ini harus memunculkan pertanyaan-pertanyaan atau kekomplekkan yang tidak dapat dipecahkan dengan konsepsi mereka yang ada atau pola-pola berpikir yang sudah biasa, seperti bagaimana sel accu dapat menyimpan dan menghasilkan arus listrik. Dengan kata lain, eksplorasi memberikan kesempatan bagi siswa untuk menyuarakan gagasan-gagasan yang tidak tepat yang dapat memunculkan debat dan analisis
alasan-alasan untuk gagasan mereka, berdasarkan fakta-fakta yang dihasilkan dari observasi lapangan sel volta dan praktikum sel volta.
Fase perkenalan istilah, secara normal dimulai dengan pengenalan istilah baru, seperti distribusi normal, yang digunakan untuk menamakan pola yang ditemukan selama eksplorasi. Istilah-istilah mungkin dikenalkan oleh guru, textbook, film, melihat langsung ke lapangan atau media lainnya, istilah-istilah baru itu diantaranya seperti sel volta, potensial elektroda, dan jembatan garam. Langkah ini selalu
mengikuti eksplorasi dan berhubungan secara langsung dengan pola yang ditemukan selama aktifitas eksplorasi. Siswa harus didorong untuk mengidentifikasikan
sebanyak mungkin pola baru sebelum dijelaskan kepada teman sekelas, tetapi mengharapkan siswa untuk menemukan semua pola komplek sain modern adalah tidak realistis karena wawasan pengetahuan siswa yang terbatas. Pada pelaksanaan-nya siswa mengkomunikasikan dan mendiskusikan fakta-fakta yang didapat
selama sesuai definisinya. Pada fase inilah siswa dapat menerapkan konsep sel volta dalam kehidupan sehari-hari yang konsepnya itu didapatkan pada saat observasi lapangan dan percobaan sel volta serta pada saat siswa mengkomunikasikan serta mendiskusikan dibawah arahan dan bimbingan guru.
Keunggulan dan kelemahan model pembelajaran SBEI adalah sebagai berikut : a. Keunggulan model pembelajaran empiris-induktif
1. Bagi siswa yaitu :
a). pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga proses belajarnya lebih terkondisi.
b). siswa bisa mengeksplorasi pengetahuan atau konsep-konsep yang mereka temukan selama praktikum.
c). siswa lebih berani mengungkapkan pendapat, ide, atau gagasan baik kesesama siswa atau langsung kegurunya.
d).pemahaman konsep siswa akan lebih baik dengan cara melakukan percobaan, sehingga siswa bisa mengkonstruksi konsep sendiri. e). siswa mendapat pengalaman belajar
f) .membiasakan siswa untuk menulis data, mengolah data, membaca data dan melaporkannya.
2. Bagi guru yaitu :
a). guru berfungsi sebagai fasilitator dalam proses pembelajarannya. b). untuk mengenalkan konsep yang baru, guru hanya mengarahkan saja
berdasarkan konsep yang sudah di eksplorasi oleh siswa.
c). memudahkan pengkonstruksian suatu konsep sehingga terjadi suatu proses asimilasi pada siswanya berdasarkan hasil praktikum.
d).selama proses pembelajaran terjadi dialog interaktif antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan guru sehingga semua siswa terlibat langsung dan aktif.
b. Kelemahan proses belajar empiris-induktif: 1. Bagi siswa yaitu :
a). memerlukan waktu yang lama untuk menemukan atau mempelajari sutau konsep baru jika siswa belum terbiasa melakukan praktikum. b). siswa belum terbiasa untuk mengeksplorasi konsep yang didapatkan
selama melaksanakan praktikum.
c). siswa belum terbiasa mengambil suatu kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dari praktikum
a). diperlukan membuat petunjuk (LKS) yang jelas sehingga memudahkan siswa untuk mendapatkan data yang dinginkan untuk memplajari konsep yang dipelajari.
b). diperlukan kesabaran untuk mendengarkan pendapat, ide serta gagasan dari siswa pada saat mengeksplorasi konsep yang diperoleh selama melaksanakan praktikum, sehingga siswa merasa dihargai dan penting selama proses belajar berlangsung.
c). guru perlu mengarahkan siswanya dalam hal pengkonstruksian konsep yang baru.
(Ahmad Yasin, 2007)
F. Penguasaan Konsep
Tidak semua fenomena alam dapat dipahami dengan bahasa sehari-hari, karena itu diperlukan bahasa khusus yang disebut konsep. Jadi belajar sains memerlukan ke-mampuan untuk membangun konsep agar bisa ditelaah lebih lanjut. Dalam pe-lajaran kimia banyak sekali konsep yang harus ditanamkan pada siswa. Hal ini sangat penting sebab bila gagal dalam memahami dan menguasai konsep kimia maka dikatakan gagal dalam belajar ilmu kimia. Konsep kimia adalah gagasan mengenai materi, sebuah atau dua kata konsep kimia akan mempunyai arti yang sama dengan gagasan kimia itu seluruhnya (Vosen, 1992).
sintesis, dan evaluasi. Penguasaan merupakan kemampuan menyerap arti dari materi suatu bahan yang dipelajari, penguasaan bukan hanya sekedar mengingat mengenai apa yang telah dipelajari, tetapi menguasai lebih dari itu yakni melibatkan berbagai proses kegiatan mental sehingga lebih bersifat dinamis. Penguasaan konsep akan mempengaruhi ketercapaian hasil belajar siswa. Suatu proses dikatakan berhasil apabila hasil belajar yang didapatkan meningkat atau mengalami perubahan setelah siswa melakukan aktivitas belajar, pendapat ini di-dukung oleh (Djamarah dan Zain, 1996) yang mengatakan bahwa belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berak-hirnya melakukan aktivitas belajar. Proses belajar seseorang sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah pembelajaran yang digunakan guru dalam kelas.
Dalam belajar dituntut juga adanya suatu aktivitas yang harus dilakukan siswa sebagai usaha untuk meningkatkan penguasaan materi. Penguasaan terhadap suatu konsep tidak mungkin baik jika siswa tidak melakukan belajar karena siswa tidak akan tahu banyak tentang materi pelajaran. Guru sebagai pengajar harus memiliki kemampuan untuk menciptakan kondisi yang kondusif agara siswa dapat
menemukan dan memahami konsep yang diajarkan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Toulmin dalam Suparno (1997) yang menyatakan bahwa:
G. Lembar Kerja Siswa (LKS)
LKS merupakan alat bantu untuk menyampaikan pesan kepada siswa yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Melalui media pembelajaran berupa LKS ini akan memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dan mengefektifkan waktu, serta akan menimbulkan interaksi antara guru dengan siswa dalam proses pembelajaran. Menurut (Sriyono 1992), Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah : salah satu bentuk program yang berlandaskan atas tugas yang harus diselesaikan dan berfungsi sebagai alat untuk mengalihkan pengetahuan dan keterampilan sehingga mampu mempercepat tumbuhnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Menurut Sudjana dalam Djamarah dan Zain (2000), fungsi LKS adalah :
a) Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. b) Sebagai alat bantu untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih
menarik perhatian siswa.
c) Untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian pengertian yang diberikan guru.
d) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi lebih aktif dalam pembelajaran.
e) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan pada siswa. f) Untuk mempertinggi mutu belajar mengajar, karena hasil belajar yang dicapai
siswa akan tahan lama, sehingga pelajaran mempunyai nilai tinggi. Menurut (Prianto dan Harnoko, 1997), manfaat dan tujuan LKS antara lain:
a) Mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar. b) Membantu siswa dalam mengembangkan konsep.
c) Melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan proses belajar mengajar.
d) Membantu guru dalam menyusun pelajaran.
e) Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. f) Membantu siswa memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari melalui
kegiatan belajar.
Pada proses pembelajaran, LKS menuntut siswa untuk mampu mengemukakan pendapat dan mampu mengambil keputusan. Melalui LKS siswa dituntut untuk mampu mengemukakan pendapat dan mampu mengambil kesimpulan. Dalam hal ini LKS digunakan untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. LKS yang digunakan untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pem-belajaran adalalah berupa LKS eksperimen dan LKS noneksperimen.
a. LKS eksperimen
LKS eksperimen merupakan media pembelajaran yang tersusun secara kronologis agar dapat membantu siswa dalam memperoleh konsep pengetahuan yang
dibangun melalui pengalaman belajar mereka sendiri yang berisi tujuan percobaan, alat percobaan, bahan percobaan, langkah kerja, pernyataan, hasil pengamatan, dan soal-soal hingga kesimpulan akhir dari eksperimen yang
dilakukan pada materi pokok yang bersangkutan.
b. LKS noneksperimen
H. Kerangka Pemikiran
Penguasaan konsep yang dicapai oleh siswa ada kaitannya dengan kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan oleh seorang guru. Pelaksanaan pembelajaran akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Tujuan pembelajaran ini adalah untuk menentukan perbedaan penguasaan konsep reaksi reduksi-oksidasi antara model pembelajaran LC 5-E dengan model pembelajaran SBEI dari siswa SMAN 7 Bandar Lampung.
Sebagai variabel bebasnya adalah model pembelajaran (X) dan variabel terikatnya adalah penguasaan konsep kimia siswa (Y). Semua data diambil dari dua kelas yang berbeda, satu kelas sebagai eksperimen 1 dan satu kelas sebagai eksperimen 2. Pada kelas eksperimen 1 diberi perlakuan dengan menggunakan pembelajaran LC 5-E, sedangkan pada kelas eksperimen 2 diberi perlakuan dengan menggunakan pembelajaran SBEI. Model pembelajaran LC 5-E dan SBEI masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan yang berbeda.
diberikan evaluasi penilaian kelas yang dilakukan guru sehingga guru dapat mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan.
Sedangkan kelemahannya, pada proses pembelajaran LC 5-E sering di dominasi oleh pimpinan kelompok, efektifitas pembelajaran LC 5-E akan rendah apabila guru kurang menguasai materi, kurang menguasai langkah-langkah pembelajaran dan kurang menguasai siswa. Pembelajaran LC 5-E juga menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran. Selain itu guru dituntut harus menyiapkan teknik pengelolaan kelas, mengatur kerja kelompok yang lebih terencana dan terorganisasi. Sehingga model pembelajaran LC 5-E
memerlukan waktu yang cukup lama dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan melaksanakan pembelajaran.
Keunggulan pembelajaran Empiris-induktif yaitu memiliki waktu eksplorasi yang lebih lama sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan berbagai fakta di lapangan melalui observasi atau dengan praktikum, sehingga terjadi pengkonstruksian konsep baru di bawah arahan guru, dan dengan konsep baru
tersebut siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
dengan siswa, dan antara siswa dengan guru sehingga semua siswa terlibat langsung dan aktif.
Adapun kelemahan pembeljaran SBEI yaitu, memerlukan waktu yang lama untuk menemukan atau mempelajari sutau konsep baru jika siswa belum terbiasa
melakukan praktikum. Apabila siswa belum terbiasa untuk mengeksplorasi konsep yang didapatkan selama melaksanakan praktikum, belum terbiasa mengambil suatu kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dari praktikum, dan belum terbiasa melakukan praktikum. Maka diperlukan kesabaran guru untuk mendengarkan pendapat, ide serta gagasan dari siswa pada saat mengeksplorasi konsep yang diperoleh selama melaksanakan praktikum,agar siswa merasa dihargai dan penting selama proses belajar berlangsung. Sehingga proses pembelajaran ini memerlukan waktu yang lama untuk menemukan atau mempelajari suatu konsep baru. Guru juga diharuskan membuat petunjuk (LKS) yang jelas sehingga memudahkan siswa untuk mendapatkan data yang dinginkan untuk memplajari konsep yang dipelajari, juga guru perlu mengarahkan siswanya dalam hal pengkonstruksian konsep yang baru.
Berdasarkan karakteristik kedua model pembelajaran tersebut, digarapkan penguasaan konsep reaksi reduksi-oksidasi dari siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC5-E akan lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan empiris-induktif. Karena model pembelajaran LC 5-E adalah pengembangan fase-fase LC dari 3 fase menjadi 5 fase. Fase engagement dalam LC 5-E termasuk dalam proses asimilasi, sedangkan fase evaluation masih merupakan proses
aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial.
Implementasi LC 5-E dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivis yaitu:
1. Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa. 2. Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi
baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu.
3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah. (Hudojo, 2001)
Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi merupakan proses pe-merolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini lebih cenderung bahwa model pembelajaran learning cycle 5 phase akan memberikan penguasaan konsep kimia yang lebih tinggi dibandingkan dengan model pembelajaran SBEI.
Hubungan tersebut dapat digambarkan dengan diagram sebagai berikut:
X1 Y1
Y1 > Y2
[image:25.612.135.376.488.555.2]X2 Y2
Gambar 1. Model teoritis antara variabel bebas dan variabel terikat
Keterangan:
X1 = Pembelajaran learning cycle 5 phase
X2 = Pembelajaran Siklus Belajar Empiris Induktif
Y2 = Penguasaan konsep siswa yang menggunakan pembalajaran siklus belajar empiris-induktif pada materi reaksi redoks
I. Anggapan Dasar
Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah:
1. Siswa kelas X4 dan X5 semester genap SMA Negeri 7 Bandar Lampung tahun pelajaran 2011-2012 yang menjadi sampel penelitian mempunyai kemampuan dasar yang sama dalam penguasaan konsep kimia.
2. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi penguasaan konsep reaksi reduksi-oksidasi siswa kelas X semester genap SMA Negeri 7 Bandar Lampung pelajaran 2011-2012 diabaikan.
3. Perbedaan rata-rata penguasaan konsep reaksi redoks semata-mata karena perbedaan perlakuan dalam proses pembelajaran.
J. Hipotesis Umum