EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION DITINJAU DARI KEMAMPUAN
PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA
(Studi pada Siswa Kelas VIII SMP TMI Roudlotul Qur’an Metro Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/ 2016)
(Skripsi)
Oleh
FITRI FATMAWATI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION DITINJAU DARI KEMAMPUAN
PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA
(Studi pada Kelas VIII SMP TMI Roudlotul Qur’an Metro Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/ 2016)
Oleh
FITRI FATMAWATI
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang bertujuan untuk me-ngetahui efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe group investigation tinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Desain yang
di-gunakan adalah posttest-only control design dengan populasinya adalah seluruh siswa kelas VIII SMP TMI Roudlotul Quran Metro Tahun Pelajaran 2015/ 2016.
Sampel penelitian adalah siswa kelas VIIIC dan VIIID yang ditentukan dengan teknik purposive random sampling. Data kemampuan pemecahan masalah mate-matis siswa diperoleh dari tes dengan soal berbentuk uraian. Berdasarkan hasil
penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation efektif ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa dan lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION DITINJAU DARI KEMAMPUAN
PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA
(Studi pada Siswa Kelas VIII SMP TMI Roudlotul Qur’an Metro Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/ 2016)
Oleh
Fitri Fatmawati
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
pada
Program Studi Pendidikan Matematika
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Margomulyo, Kecamatan Tumijajar, Lampung Utara pada tanggal 17 Februari 1993. Penulis merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan dari Bapak Mulyono dan Ibu Rukati.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 8 Metro Selatan pada tahun
2005, pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 5 Metro pada tahun 2008, dan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 4 Metro pada tahun 2011. Pada
tahun 2011, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung melalui jalur Penerimaan Mahasiswa
Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) undangan.
Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Kependidikan Terintegrasi (KKN-KT) di Pekon Negeri Ratu Tenumbang, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir
MOTO
Dengan usaha, berdoa dan tekat yang kuat
keberhasilan akan selalu menyertai kita,
karena usaha tak ‘kan pernah
mengkhianati hasil
i
Persembahan
Segala Puji Bagi Allah SWT, Dzat Yang Maha Sempurna Sholawat serta Salam selalu tercurah kepada Uswatun Hasanah
Rasulullah Muhammad SAW
Kupersembahkan karya kecil ini sebagai tanda cinta dan kasih sayangku kepada:
Ibuku tercinta (Rukati) dan Ayahku tercinta (Mulyono), yang telah membesarkan dan mendidik dengan penuh cinta kasih dan
pengorbanan yang tulus serta selalu mendoakan yang terbaik untuk keberhasilan dan kebahagiaanku
Kakak-kakakku tercinta Rahman Efendi dan Dwi Agustina yang telah memberikan dukungan dan semangatnya padaku
Seluruh keluarga besar yang terus memberikan do’anya , terima kasih
Para pendidik yang telah mengajar dan mendidik dengan penuh kesabaran.
Semua sahabat-sahabatku yang begitu tulus menyayangiku dengan segala kekuranganku, dari kalian aku belajar memahami arti ukhuwah. Sesungguhnya ukhwah yang tulus
merupakan mata uang yang sangat langka di zaman ini.
ii SANWACANA
Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan. Sholawat serta salam selalu tercurah pada junjungan kita yang
membawa kita dari zaman Jahiliah ke zaman yang terang benderang, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.
Skripsi yang berjudul “Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group
Investigation Ditinjau dari Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
(Studi pada Siswa Kelas VIII SMP TMI Roudlotul Quran Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/ 2016)”, disusun untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Penyusunan skripsi ini disadari sepenuhnya tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu,penulis mengucapkan terima kasih yang tulus ikhlas
kepada:
1. Ibuku (Rukati) dan Ayahku (Mulyono) tercinta yang tak pernah lelahmen-doakanku, memberiku semangat, serta kasih sayang untuk keberhasilanku.
2. Ibu Dr. Sri Hastuti Noer, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing I dan PembimbingAkademik yang telah bersedia meluangkan waktu untuk
iii memotovasi, dan semangat kepada penulis selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
3. Ibu Dra. Rini Asnawati, M. Pd., selaku Dosen Pembimbing II yang telah
bersedia meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan sumbangan pemikiran, perhatian, kritik, saran, memotovasi, dan semangat kepada penulis
selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
4. Bapak Dr. Haninda Bharata, M. Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Matematika yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, dan selaku Pembahas yang telah memberikan
masukan dan saran kepada penulis.
5. Bapak Dr. Caswita, M. Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis. 7. Ibu Dra. Irmi Hasni, selaku guru mitra yang telah banyak membantu dalam
penelitian.
8. Bapak Drs. Supardi, selaku Kepala SMP TMI Roudlotul Quran Metro beserta
Wakil, staf, dan karyawan yang telah memberikan kemudahan selama penelitian.
9. Seluruh siswa kelas VIII SMP TMI Roudlotul Quran Metro Tahun Pelajaran
iv 10. Bapak Dr. H. Muhammad Fuad, M. Hum., selaku dekan FKIP Universitas Lampung beserta staf dan jajarannya yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
11. Kakak-kakakku tercinta Rahman Efendi dan Dwi Agustina yang telah memberikan doa, semangat, dan motivasi kepadaku.
12. Teman-teman tercinta, Ayu Febriyanti, S.Pd, Desrina Hardianti, S.Pd, Istasari Syaifatunnisa, S.Pd,Muthiah Karimah, S.Pd, Dwi Agus Liani,Veni Anita Sari, Emilda Mustapa, S.Pd, dan Ni Luh Eka. D.Y yang selama ini memberiku
semangat dan selalu menemani saat suka dan duka.
13. Teman-teman karibku tersayang, seluruh angkatan 2011 Pendidikan
Matematika:Ade Irma, Agung, Agus, Ansori,Bang Aliza, Mbak Vina, Pak Ketua Uli, Ayu Anindra, Ayuf, Ayu Sekar, Ayu Tam, Ayu Tiara, Bayu, Citra, Dedes, Desi, Dewi, Mbak Dian, Didi, Dina, Emi, Emilda, Enggar, Eni, Flo,
Fuji,Gilang, Hani, Ketua Angkatan Heizlan, Ige, Ikhwanudin,Indah, Ismi, Ista, Iwan Ndut, Laili, Ipeh, Lidia, Hasbi, Elcho, Panji, Yusuf, Muthiah, Ratna, Niluh, Nourma, Pobby, Abi,Rizka, Oca, Bundo, Siska, Siti, Suci, Titi,
Veni, Venti, Winda, Wulan, Yola, Yulisa.
14. Kakak-kakak angkatanku terkasih Mbak Hesti, Mbak Andri, Mbak Lia, Mbak
Ria, Mbak Engla, Kak Umpu, Kak Imam, Kak Elvandri, Kak Adi terima kasih atas kebersamaannya.
15. Adik-adikku terkasih Titi Andara, Fitri Anita Sari, Nur Annisa, Lelly Diana,
v 16. Kakak-kakakku angkatan 2008, 2009, 2010 serta adik-adikku angkatan 2012,
2013, 2014, 2015 terima kasih atas kebersamaanya.
17. Teman-teman seperjuangan KKN di Pekon Negeri Ratu Tenumbang,
Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat dan PPL di SMP Negeri 3Pesisir Selatan (Kiki, Yulisa, Lia, Ririn, Mbak Revi, Ardan, Irvan, Mashuri,
dan Wahyu) atas kebersamaan selama kurang lebih tiga bulan yang penuh makna dan kenangan.
18. Pak Liyanto dan Pak Mariman, penjaga gedung G, terima kasih atas bantuan
dan perhatiannya selama ini.
19. Almamater Universitas Lampung tercinta yang telah mendewasakanku.
20. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Semoga dengan kebaikan, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan pahala dari Allah SWT, dan semoga skripsi ini bermanfaat. Aamiin ya Robbal ‘Alamin.
Bandarlampung, April 2016 Penulis
vi DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. Ruang Lingkup Penelitian ... 7
II. TINJAUAN PUSTAKA III. METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Penelitian... 22
B. Desain Penelitian ... 23
A. Kajian Teori ... 9
1. Efektivitas Pembelajaran ... 9
2. Pembelajaran Kooperatif ... 10
vii
C. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 24
D. Data Penelitian... 25
E. Teknik Pengumpulan Data ... 25
F. Instrumen Penelitian ... 25
1. Validitas Isi... 25
2. Reliabilitas ... 27
3. Daya Pembeda ... 28
4. Tingkat Kesukaran... 29
G. Teknik Analisis Data ... 31
3.7.1 Uji Normalitas ... 31
3.7.2 Uji Hipotesis ... 32
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian... 35
B. Pembahasan ... 39
V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 44
B. Saran ... 44
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 3.1 Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
kelas VIII SMP TMI RoudlotulQur’an... 22
Tabel 3.2 Desain Penelitian Posttest Only Control Design ... 23
Tabel 3.3 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah ... 26
Tabel 3.4 Interpretasi Nilai Reliabilitas ... 27
Tabel 3.5 Interpretasi Daya Pembeda... 29
Tabel 3.6 Interpretasi Tingkat Kesukaran ... 30
Tabel 3.7 Hasil Uji Coba Tes……….…. 30
Tabel 3.8 Hasil Uji Normalitas Data KemampuanPemecahan Masalah Matematis Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran dengan Model GI dan Pembelajaran Konvensional………. 32
Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran dengan Model PBL dan Pembelajaran Konvensional ………..…... 36
Tabel 4.2 Rekapitulasi Data Pencapaian Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran dengan Model GI dan Pembelajaran Konvensional………..…… 36
Tabel 4.3 Hasil Uji Proporsi Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran dengan Model GI ………. 37
ix DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
A. PERANGKAT PEMBELAJARAN
A.1 Silabus Pembelajaran ... 52
A.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen . ... 57
A.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol ... 83
A.4 Lembar Kerja Kelompok (LKK) ... 106
B. PERANGKAT TES B.1 Kisi-kisi Soal Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa ... 119
B.2 Soal Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa ... 121
B.3 Kunci Jawaban Soal Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa ... 122
B.4 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah... 127
B.5 Form Penilaian Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa ... 128
B.6 Surat Keterangan Validasi ... 130
C. ANALISIS DATA C.1 Hasil Nilai Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa (Kelas Uji Coba) ... 132
C.2 Uji Reliabilitas Tes Uji Coba ... 133
x Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran dengan
Model GI ... 136 C.5 Hasil Nilai Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran Konvensional ... 138 C.6 Uji Normalitas Data Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran
dengan Model GI ... 140 C.7 Uji Normalitas Data Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran
Konvensional ... 144 C.8 Uji Proporsi Data Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran
dengan Model GI ... 148 C.9 Uji Kesamaan Dua Proporsi Data Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran dengan Model GI dan Pembelajaran
Konvensional ... 150 C.10 Analisis Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Siswa Skor Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran dengan
Model GI ... 153 C.11 Analisis Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Siswa Skor Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kunci utama dalam kehidupan suatu bangsa, karena me-lalui pendidikan akan terlahir generasi-generasi yang berkualitas. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003,
mengenai pengertian pendidikan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.”
Pendidikan tidak hanya dapat mengembangkan potensi para generasi bangsa saja, tetapi harus memenuhi standar nasional pendidikan yaitu standar isi, proses,
kompetensi, lulusan, tenaga kependidikan sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Standar nasional dapat dikatakan berhasil
apabila standar tersebut telah terpenuhi. Untuk itu diperlukan usaha yang harus dilakukan oleh pihak yang terlibat seperti pemerintah, guru, siswa, orang tua dan masyarakat.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
2
penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Pembelajaran yang berkualitas
sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi
motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang
memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.
Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada
siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu baik bagi guru maupun siswa. Dengan
ada-nya tujuan pembelajaran tersebut maka semua yang terlibat dalam pembelajaran akan mengarah pada pencapaian tujuan tersebut.
Ada beberapa mata pelajaran di SMP dan SMA salah satunya adalah matematika.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam suatu pen-didikan. Matematika sebagai ilmu dasar memiliki peran penting dalam pengem-bangan ilmu pngetahuan dan teknologi. Selain sebagai alat untuk
3
secara logis, kritis, sistematis dan akurat. Kemampuan berpikir tersebut secara umum dikenal dengan kemampuan berpikir matematis.
Berdasarkan standar isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (BSNP, 2006: 140), salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah agar peserta didik
me-miliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan
solusi yang diperoleh. Dengan demikian, kemampuan pemecahan masalah mate-matis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa.
Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan salah satu bagian yang
penting dalam belajar matematika. Kemampuan pemecahan masalah perlu di-miliki siswa agar mereka dapat menggunakannya secara baik untuk belajar mate-matika. Djamarah (2005: 46) menyebutkan bahwa matematika diajarkan karena
dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yaitu dengan berpikir sistematis, logis dan kritis dalam memberikan gagasan atau ide dalam memecahkan suatu masalah. Dalam memecahkan suatu masalah matematis
terdapat empat indikator penyelesaian yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah sesuai rencana, dan melakukan pengecekan
kembali. Keempat indikator tersebut sangat penting dikembangkan karena dapat mengembangkan pola pikir siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan matematis.
Secara umum kemampuan pemecahan masalah matemtis siswa di Indonesia
4
oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) pada tahun 2012. PISA 2012 yang bertema School Systems to Improve Education di-ikuti oleh 34 negara anggota OECD dan 31 negara mitra termasuk Indonesia,
survei ini menilai kemampuan peserta didik di dalam memecahkan masalah, ke-mampuan bernalar, dan keke-mampuan berkomunikasi. Hasil survei PISA pada
bi-dang matematika menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 64 dari 65 negara yang disurvei dengan nilai rata-rata kemampuan matematis yaitu 375 dari nilai standar rata-rata internasional adalah 494.
Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis juga dialami siswa kelas
VIII SMP TMI Roudlotul Qur’an Metro. Hal ini didasarkan pada hasil observasi
dan wawancara dengan guru matematika SMP TMI Roudlotul Qur’an Metro yang
menyatakan bahwa ketika siswa dihadapkan dengan soal yang menuntut ke-mampuan memecahkan suatu permasalahan matematis, mereka kesulitan untuk mengerjakannya. Ini menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah
mate-matis siswaSMP TMI Roudlotul Qur’an Metromasih rendah.
Melihat pentingnya pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika maka perlu dicari model pembelajaran yang dapat meningkatkan dan menumbuh
kem-bangkan kemampuan pemecahan masalah matematis. Salah satu alternatif pem-belajaran yang dapat meningkatkan dan menumbuh kembangkan kemampuan pemecahan masalah adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran
koope-ratif adalah pembelajaran yang mengutamakan kerjasama dan menuntut siswa agar lebih berperan aktif dalam menyelesaikan masalah di kelompoknya.
5
ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok, sangat berguna dalam memberikan kesempatan berkembangnya kemampuan berkomunikasi dan pemecahan masalah.
Selain itu, melalui pembelajaran kooperatif setiap anggota dalam kelompok me-miliki rasa tanggung jawab bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
diinginkan.
Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah tipe Group Investigation. Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation merupakan suatu model pembelajaran kooperatif yang menuntut siswa untuk melakukan proses
penyeli-dikan yang dilakukan oleh siswa tersebut, dan selanjutnya siswa tersebut meng-komunikasikan hasil perolehannya, lalu dapat membandingkannya dengan
per-olehan siswa yang lain, sehingga siswa lebih aktif dalam mengembangkan sikap dan pengetahuannya tentang matematika dengan kemampuan masingmasing se-hingga akibatnya memberikan hasil belajar yang lebih bermakna pada siswa.
Dalam pembelajaran ini guru harus mengkondisikan siswa dalam suatu keadaan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksploitasi gagasan-gagasan mereka dan berusaha menyempurnakan jawaban-jawaban dari
perma-salahan yang dibahas. Model kooperatif tipe Group Investigation cocok diterap-kan di SMP/MTs karena kondisi siswa SMP/MTs yang masih dalam masa remaja
membuat mereka menyukai hal-hal baru dan lebih terbuka dengan teman sebaya dalam memecahkan permasalahan yang mereka hadapi. Oleh karena itu peneliti sangat tertarik untuk mengadakan penelitian tentang efektivitas pembelajaran
6
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, dirumuskan masalah dalam penelitian sebagai berikut: “Bagaimana efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas
VIII SMP TMI Roudlotul Qur’an Metrotahun pelajaran 2015/2016?’’
Berdasarkan rumursan masalah di atas, dapat dijabarakan pertanyaan penelitian secara rinci sebagai berikut:
1. Apakah model pembelajaran koopertaif tipe Group Investigation efektif ditinjau dari kemampuan pemecahan maslah matematis siswa?
2. Apakah model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematsi siswa?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigation ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam
7
tipe Group Invetigation (GI) diinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti, melalui hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan dan bahan kajian bagi peneliti di masa yang akan datang.
b. Bagi guru, memberikan informasi dan wawasan tentang efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Group Invetigation (GI) ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
c. Bagi sekolah, diharapkan dapat memperluas wawasan kepala sekolah untuk mempertimbangkan faktor pendukung dalam keberhasilan proses
belajar-mengajar melalui model pembelajaran yang bervariatif.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah:
1. Efektivitas pembelajaran adalah ukuran keberhasilan pembelajaran siswa untuk menerima pelajaran atau konsep tertentu, yang diwujudkan dari hasil
belajar. Hasil belajar dalam hal ini adalah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dalam penelitian ini, pembelajaran dikatakan efektif
apabila:
a. Proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah pada model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih dari atau
sama dengan 60%.
b. Proporsi siswa yang memahami kemampuan pemecahan masalah
8
Investigation lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran konven-sional.
2. Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation adalah model
pem-belajaran dalam kelompok kecil yang memberikan kesempatan kepada siswa secara kooperatif untuk mengidentifikasi topik merencanakan investigasi,
me-lakukan investigasi, membuat laporan yang selanjutnya akan dipresentasikan siswa dan siswa bersama-sama dengan guru mengevaluasi proses pembel-ajran yang telah berlangsung.
3. Kemampuan pemecahan masalah matematis dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang
mem-perhatikan proses dengan langkah-langkah pemecahan masalah matematis yang ditempuh. Untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah mate-matis digunakan langkah-langkah memahami masalah, membuat rencana
9
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Efektivitas Pembelajaran
Efektivitas merupakan suatu ukuran seberapa jauh tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti berhasil
guna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 352). Pasaribu dan Simanjuntak (Suryosubroto, 2006: 9) menyatakan bahwa efektivitas dalam pem-belajaran dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari guru mengajar dan kegiatan
belajar siswa. Mengajar disini menyangkut sejauh mana rencana kegiatan pem-belajaran terlaksana. Belajar disini menyangkut sejauh mana hasil pempem-belajaran tercapai melalui kegiatan pembelajaran.
Menurut Hamalik (2004: 171), pembelajaran yang efektif adalah pembelajran
yang memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar sendiri dengan melakukan aktivitas belajar. Dengan memberikan siswa belajar secara mandiri ini diharapkan
dapat membantu siswa dalam memahami makna pembelajaran yang sedang dipelajarinya. Berbeda dengan pendapat Uno (2007: 29), bahwa efektivitas belajaran dapat diketahui dengan melihat tingkat ketercapaian tujuan
10 pengalaman baru, dan membentuk kompetensi peserta didik, serta mengantarkan mereka ketujuan yang ingin dicapai secara optimal.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa efektivitas pembelajaran
adalah ukuran keberhsilan siswa dalam menerima pelajaran dan memahami kon-sep tertentu setelah melakukan aktivitas belajar. Keberhasilan tersebut
diwujud-kan dalam hasil belajar, apakah sesuai dengan tujuan yang diharapdiwujud-kan atau tidak. Pada penelitian ini kemampuan yang diukur hanya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sehingga kriteria masing-masing indikator yang
digunakan adalah 60% dengan kriteria ketuntasan belajar minimal sesuai dengan yang ditetapkan sekolah yaitu 70.
2. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan
sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim (Isjoni dan Ismail, 2008: 150). Menurut Lie (2008:
12) pembelajaran kooperatif adalah sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur, dimana dalam sistem ini guru bertindak sebagai fasilitator.
Selanjutnya, Sanjaya (2007: 240) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem kelompok kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai mempunyai latar
11
Artzt dan Newman (Trianto, 2011: 56) mengemukakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok
memiliki tanggung jawab yang sama dalam keberhasilan kelompoknya.
Lebih lanjut, Roger dan Jhonson (Lie, 2008 : 31) mengemukakan bahwa ada lima
unsur yang membedakan model pembelajaran kooperatif dengan model pembel-ajaran kelompok biasa, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung ja-wab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, dan (5) evaluasi
proses kelompok.
Menurut Rusman (2011: 202) pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai lima orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pembelajara koopertaif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif.
Abdurrahman (2009: 123) menyatakan bahwa ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
1) Saling ketergantungan positif yang menuntut tiap anggota kelompok saling membantu demi keberhasilan kelompok.
2) Akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan bahan pelajaran tiap anggota kelompok dan kelompok diberikan balikan tentang prestasi belajar anggota-anggota kelompoknya, sehingga mereka saling mengetahui teman
12 3) Terdiri dari anak-anak yang berkemampuan atau memiliki karakteristik
heterogen.
4) Pemimpin kelompok dipilih secara demokratis.
5) Semua anggota harus saling membantu dan saling memberi motivasi.
6) Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas, tetapi juga pada upaya mempertahankan hubungan interpersonal antaranggota kelompok.
7) Keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam kerja gotong royong,
mempercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan. 8) Pada saat pembelajaran kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan
observasi terhadap komponen-komponen belajar dan melakukan intervensi jika terjadi masalah antaranggota kelompok.
9) Guru memperhatikan proses keefektifan proses belajar kelompok.
Pada pelaksanaan kegiatan model pembelajaran kooperatif terdapat tahap-tahap
yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya. Menurut Hosnan (2014: 245), langkah-langkah yang dilaksanakan dalam model pembelajaran kooperatif
adalah sebagai berikut: 1) menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, 2) me-nyajikan informasi, 3) mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar, 4) membimbing kelompok belajar, 5) evaluasi, 6) memberikan
peng-hargaan.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif menarik siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Siswa-siswa yang
13 kuat serta harus menyadari bahwa setiap pekerjaan individu dalam kelompok mempunyai akibat langsung dalam keberhasilan kelompoknya.
3. Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation
Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) pertama kali
dirancang oleh Hebert Thellen yang disempurnakan oleh Sharan dan rekan sejawatnya di Tel Aviv University (Abidin, 2014: 258). Pembelajaran ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik mengidentifikasi topik, maupun cara
untuk mempelajarinya melalui investigasi di kelompok. Di dalam melakukan investigasi kelompok, siswa diberikan tanggung jawab terhadap pekerjaan
mereka, baik secara individu, berpasangan maupun dalam kelompok. Setiap kelompok investigasi terdiri dari 4-5 orang, dan akhirnya siswa dapat menggabungkan, mempersentasikan dan merangkum jawaban mereka.
Sharan dan Sharan (Huda, 2011: 123-124) menyatakan bahwa metode GI ini lebih menekankan pada pilihan dan kontrol siswa daripada menerapkan teknik-teknik pengajaran di ruang kelas. Dalam metode GI, siswa diberi kontrol dan pilihan
penuh untuk merencanakan apa yang ingin dipelajari dan diinvestigasi. Pertama-tama, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing
14 Aunurrahman (2010: 152), mengungkapkan beberapa kelebihan dari model investigasi kelompok GI yaitu; (1) model ini juga akan mampu menumbuhkan
kehangatan hubungan antar pribadi, (2) kepercayaan, (3) rasa hormat terhadap aturan dan kebijakan, dan (4) kemandirian dalam belajar serta hormat terhadap
harkat dan martabat orang lain. Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa model investigasi kelompok dapat dipergunakan pada seluruh areal subyek yang mencakup semua anak pada segala tingkatan usia dan peristiwa sebagai model inti
untuk semua sekolah. Selanjutnya Aunurrahman memaparkan beberapa ciri esensial GI sebagai pendekatan pembelajaran yaitu:
1. Para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil dan memiliki independensi terhadap guru.
2. Kegiatan-kegiatan siswa terfokus pada upaya menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan.
3. Kegiatan belajar siswa akan selalu mengharuskan siswa untuk mengumpulkan sejumlah data, menganalisisnya, dan mencapai beberapa kesimpulan.
4. Siswa akan menggunakan pendekatan yang beragam di dalam proses pembelajaran.
Dalam masing-masing kelompok, setiap anggota berdiskusi dan menentukan
in-formasi apa yang akan dikumpulkan, bagaimana mengolahnya, bagaimana me-nelitinya, dan bagaimana menyajikan hasil penelitiannya di depan kelas. Semua anggota harus turut andil dalam menentukan topik penelitian apa yang akan
mereka ambil. Mereka pula yang memutuskan sendiri pembagian kerjanya. Se-lama proses penelitian atau investigasi ini, mereka akan terlibat dalam aktivitas-aktivitas berpikir tingkat tinggi, seperti membuat ringkasan, sintesis, hipotesis,
15 Menurut Kagan (Huda, 2011: 160), Prosedur atau deskripsi singkat mengenai Group Investigation adalah setiap kelompok mengidentifikasi satu topik atau
subtopik tertentu untuk diteliti dan diinvestigasi. Masing-masing anggota berusaha mengumpulkan dan mengevaluasi data, lalu menyintesiskannya dalam
laporan akhir kelompok. Sedangkan fungsi akademik dan sosial dari metode ini adalah aplikasi, analisis, inferensi, sintesis, evaluasi, perencanaan, pengambilan keputusan secara kolektif.
Pada pelaksanaan kegiatan model pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation terdiri dari beberapa langkah yang berurutan. Langkah-langkah tersebut seperti yang dikemukakan oleh Slavin (2005: 218-220) diantaranya
adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi topik dan mengatur siswa ke dalam kelompok, (2) merencanakan tugas yang akan dipelajari, (3) melaksanakan investigasi, (4) menyiapkan laporan akhir, (5) mempresentasikan laporan akhir,
dan (6) evaluasi.
Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa. Sehingga kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe
Group Investigation lebih baik, karena melibatkan siswa secara maksimal dalam
16 4. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Masalah matematis merupakan suatu persoalan matematika yang dalam penyelesaiannya dibutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini sesuai
dengan yang dikemukakan oleh Yamin dan Ansari (2012: 81) bahwa masalah matematis adalah suatu persoalan yang siswa sendiri mampu menyelesaikannya
tanpa menggunakan cara atau algoritma yang rutin. Lebih lanjut menurut Wardhani (2010: 39-40), masalah matematika dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu masalah rutin dan masalah nonrutin. Masalah rutin merupakan masalah yang
pemecahannya sudah biasa dilakukan dan cara pemecahannya menggunakan be-berapa konsep dan algoritma yang sudah biasa dilakukan, sedangkan pada
ma-salah nonrutin diperlukan kreativitas cara untuk menyelesaikannya. Selanjutnya Wardhani juga menyatakan bahwa memecahkan masalah adalah proses menerap-kan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang
belum dikenal. Ciri dari soal atau tugas dalam bentuk memecahkan masalah adalah: (a) ada tantangan dalam materi penugasan, dan (b) masalah tidak dapat
diselesaikan dengan menggunakan prosedur yang sudah diketahui oleh penjawab atau pemecah masalah.
Suherman dkk (2003: 92) menyatakan bahwa suatu masalah memuat suatu situasi
yang mendorong seseorang untuk menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikannya. Jika suatu masalah diberikan kepada seorang siswa dan siswa tersebut langsung mengetahui cara
17 Sumiati dan Asra (2008:140) mengungkapkan pemecahan masalah dapat diartikan sebagai kemampuan yang menunjukkan pada proses berpikir yang terarah untuk
menghasilkan gagasan, ide, atau mengembangkan kemungkinan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya agar tercapai tujuan yang diinginkan.
Sedangkan menurut Siswanti (2012: 11) kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan usaha untuk menerjemahkan matematika yang meliputi kemampuan menerapkan ide-ide matematis pada konteks permasalahan dan
kemampuan bekerjasama untuk menyusun dan menyelesaikan permasalahan.
Suyitno (2010: 5) menyatakan bahwa suatu soal dikatakan sebagai masalah bagi siswa jika memenuhi syarat sebagai berikut:
a) siswa memiliki pengetahuan awal untuk mengerjakan soal tersebut, b) diper-kirakan siswa mampu mengerjakan soal tersebut, c) siswa belum tahu algo-ritma atau cara menyelesaikan soal tersebut, d) siswa mau dan berkehendak menyelesaikan soal tersebut.
Menurut John Dewey (Nasution, 2013:121), langkah-langkah yang harus dilaku-kan dalam memecahdilaku-kan masalah adalah sebagai berikut : 1) mengidenfikasi dan
merumuskan masalah, 2) mengemukakan hipotesis, 3) mengumpulkan data, 4) menguji hipotesis, 5) mengambil kesimpulan.
Sumarmo (2010: 16) mengungkapkan indikator kemampuan masalah matematis
terdiri dari: 1) siswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui; 2) siswa dapat merumuskan masalah matematis; 3) siswa dapat menerapkan strategi; 4) siswa dapat menjelaskan hasil dari permasalahan; 5) siswa dapat menggunakan
18 Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan ma-salah matematis adalah kemampuan yang dimiliki siswa dalam menyelesaikan
masalah matematika terkait dunia nyata yang bersifat non-rutin dan meng-aplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari, sehingga model
pem-belajaran kooperatif tipe Group Investigation akan sesuai untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
5. Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang
dilakukan oleh Beny Novandro pada tahun 2012 di SMA Negeri 8 Bandar Lampung diperoleh kesimpulan bahwa hasil belajar matematika yang me-nggunakan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigaion lebih baik
di-bandingkan hasil belajar matematika yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Selain itu, penelitian di MTsN Karangmojo Imagetan oleh Swasti
tahun 2010 menunjukan bahwa model pembelajaran Group Investigation lebih efektif untuk diterapkan dibandingkan dengan model pembelajaran Talking Stick. Selanjutnya, pada penelitan Miftahul pada tahun 2015 di SMAN 2 Gerung
disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dengan menggunakan LKS memberikan pengaruh yang lebih baik
19 B. Kerangka Pikir
Penelitian tentang efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigatioan (GI) ditinjau darai kemampuan pemecahan masalah matematis
siswa terdiri dari satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Dalam penelitian
ini yang jadi variabel bebas adalah model pembelajaran kooperatif tipe GI (X), sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa (Y).
Kemampuan pemecahan masalah merupakan komponen penting dalam
mempelajari matematika sehingga dengan sendirinya siswa mampu dan memiliki kemampuan dasar yang kemudian siswa dapat membuat strategi dalam
memecahkan masalah yang lebih efektif. Kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika, dan mengaplikasikan matematika dalam kehidupan
sehari-hari. Untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis, diperlukan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi dan
karakter siswa sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan dapat tercapai.
Salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Model
pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation merupakan model pembelajaran yang berfokus pada keaktifan siswa dalam menyelesaikan masalah. Pada model ini dilakukan suatu investigasi terhadap suatu masalah yang berkaitan dengan
inves-20 tigasi adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang, kemudian melaporkan hasil perolehannya. Dengan demikian siswa akan dibiasakan untuk
mengembang-kan rasa ingin tahunya. Hal ini membuat siswa lebih aktif berpikir dan men-cetuskan ide-ide atau gagasan, serta dapat menarik kesimpulan berdasarkan hasil
diskusinya di kelas selama proses pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif tipe GI memberikan kebebasan kepada siswa untuk menentukan topik dan permasalahan yang akan diinvestigasi. Setiap anggota dalam kelompok saling berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan
yang diberikan sehingga mereka dapat terlibat dalam aktivitas-aktivitas berpikir tingkat tinggi, seperti membuat ringkasan, hipotesis, sintesis, kesimpulan, dan
dapat mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas. dan tanpa disadari siswa juga belajar untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
Berdasarkan uraian di atas, diharapkan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation siswa dapat mengembangkan kemampuan
pemecahan masalah matematis lebih baik daripada yang mengguakan pembelajaran konvensional.
C. Anggapan Dasar
Penelitian ini bertolak dari beberapa anggapan dasar, yaitu:
21 2. Faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini dianggap tidak
memberikan kotribusi yang sama.
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation efektif ditinjau dari
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP TMI Roudlotul QuranMetro Tahun Pelajaran 2015/ 2016.
2. Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih efektif
22
III. METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP TMI Roudlotul Qur’an Metro.Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP TMI Roudlotul Qur’an Metro 2014/2015 yang terdistribusi dalam 4 kelas, yaitu VIIIA – VIIID. Dari 4 kelas
tersebut dipilih dua kelas sebagai sampel penelitian. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Random Sampling, yaitu teknik pengambilan
sampel atas dasar pertimbangan bahwa kelas yang dipilih adalah kelas yang diasuh oleh guru yang sama dan memiliki kemampuan pemecahan masalah mate-matis siswa yang setara. Kesetaraan kemampuan pemecahan masalah matemate-matis
[image:40.595.116.514.623.745.2]siswa dilihat dari nilai ulangan harian ke-1. Berikut disajikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dari ulangan harian ke-1 kelas VIII SMP TMI Roudlotul Qur’an Metro.
Tabel 3.1 Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa kelas VIII SMP TMI Roudlotul Qur’an
No. Kelas Banyak
Siswa
Persentase Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
1 VIII A 34 19,05%
2 VIII B 33 25%
3 VIII C 34 22,22%
4 VIII D 32 17,65%
Jumlah 83,92%
Rata-rata 20,98%
23
Selanjutnya mengambil 2 kelas sebagai sampel yang mewakili populasi dilihat dari persentase kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendekati rata-rata persentase kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Kemudian
menentukan satu kelas sebagai kelas eksperimen dan kelas satunya sebagai kelas kontrol. Sehingga terpilih kelas VIII-C sebagai kelas eksperimen, yaitu kelas
yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan kelas VIII-D sebagai kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
B. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah quasi experiment (eksperimen semu), karena pada penelitian ini ingin mengetahui hubungan sebab akibat antara variabel bebas dan variabel terikat. Dengan variabel bebasnya adalah model pembelajaran kooperatif tipe
Group Investigation, sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan
pe-mecahan masalah matematis siswa. Desain yang digunakan adalah posttest only
[image:41.595.112.368.564.647.2]control design sebagaimana dikemukakan oleh Fraenkel dan Wallen (1993: 248).
Tabel 3.2 Desain Penelitian Posttest Only Control Design
Kelas Perlakuan Posttest
Treatment group
X1 O
Control group X2 O
Keterangan :
O = Pemberian Posttest
X1= Perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group
Investigation
24
C. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Adapun langkah-langkah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Menghubungi pihak-pihak yang terkait di sekolah, yaitu kepala sekolah untuk meminta izin melaksanakan penelitian di sekolah tersebut.
2. Observasi untuk melihat kondisi lapangan atau tempat penelitian, seperti
banyak kelas, jumlah siswa, cara guru mengajar, dan karakteristik siswa. 3. Menentukan populasi dan sampel, yaitu memilih kelas VIII sebagai populasi.
Penentuan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Random Sampling, sehingga terpilih kelas VIIIC dan VIIID sebagai sampel.
4. Menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk kelas
eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan untuk kelas kontrol dengan menggunakan pembelajaran
konvensional.
5. Membuat instrumen penelitian berupa tes kemampuan pemecahan masalah matematis sekaligus aturan penskorannya.
6. Melakukan uji coba instrumen tes.
7. Menganalisis data hasil uji coba untuk mengetahui validitas dan reliabilitas.
8. Melakukan perbaikan instrumen.
9. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada kedua kelas. Pada kelas ekspe-rimen pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Group
Investiga-tion, sedangkan pada kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional.
10. Mengadakan post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
11. Menganalisis data.
25
D. Data Penelitian
Data dalam penelitian ini adalah data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang berupa data kuantitatif dan diperoleh melalui tes (post-test) setelah
mengikuti pembelajaran.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik tes. Tes diberikan setelah pembelajaran (posttest only) di kelas eksperimen dan kelas
kontrol.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perangkat tes kemampuan
pemecahan masalah matematis siswa dengan butir soal berbentuk uraian. Materi yang diujikan adalah pokok bahasan teorema pythagoras. Dalam penyusunan soal, terlebih dahulu membuat kisi-kisi tes yang disesuaikan dengan indikator
pemecahan masalah matematis siswa. Instrumen tes yang digunakan harus memenuhi kriteria tes yang baik, yaitu valid, reliabel, memiliki daya pembeda
yang baik, dan memiliki tingkat kesukaran sedang. Adapun pedoman penskoran tes kemampuan pemecahan masalah matematis diadopsi dari Noer (2007) dan disajikan dalam Tabel 3.3
1. Validitas Instrumen
26
kemampuan pemecahan masalah matematis dengan indikator kemampuan pemecahan masalah matematis yang telah ditentukan. Soal tes dikonsultasikan dengan guru mitra untuk menentukan valid atau tidaknya soal tes tersebut.
Setelah perangkat tes dinyatakan valid, maka perangkat tes diujicobakan. Uji coba dilakukan di luar sampel penelitian.
Tabel 3.3 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Sumber: Noer (2007) Aspek yang dinilai Reaksi terhadap soal/masalah Skor Merumuskan
masalah
- Tidak memahami masalah/tidak menjawab - Tidak memperhatikan syarat-syarat
soal/interpretasi soal kurang tepat
- Merumuskan masalah/menyusun model matematika dengan baik
0 1
2
Merencanakan strategi penyelesaian
- Tidak ada rencana strategi
- Strategi yang direncanakan kurang relevan - Merencanakan satu strategi tetapi mengarah
pada jawaban yang salah
- Merencanakan satu strategi tetapi tidak dilanjutkan
- Merencanakan beberapa strategi yang benar dan mengarah pada jawaban yang benar
0 1 2
3 4
Menerapkan strategi penyelesaian
masalah
- Tidak ada penyelesaian
- Ada penyelesaian tetapi strategi tidak jelas - Menggunakan satu strategi dan mengarah
pada jawaban yang salah
- Menerapkan satu strategi yang benar tetapi salah menghitung
- Menerapkan satu strategi dan jawaban benar 0 1 2 3 4 Menguji kebenaran
jawaban (looking back)
- Tidak ada pengujian jawaban
- Pengujian hanya pada proses atau jawaban tetapi salah
- Pengujian hanya pada proses atau jawaban yang benar
- Pengujian pada proses dan jawaban tetapi salah
- Pengujian pada proses dan jawaban benar 0 1
2 3
[image:44.595.114.510.278.693.2]27
Setelah diujicobakan, dihitung tingkat reliabilitas, daya pembeda soal, dan tingkat kesukaran.
2. Reliabilitas
Sebelum menghitung nilai reliabilitas, dilakukan ujicoba soal terlebih dahulu.
Nilai reliabilitas dapat dihitung dengan menggunakan rumus Alpha-Cronbach’s
sebagai berikut.
22 11 1 1 t i n n r dengan = ∑ (∑ ) / Keterangan : 11
r : nilai reliabilitas instrumen (tes)
n
: banyaknya butir soal (item)
2i
: jumlah varians dari tiap-tiap item tes : varians total
N : banyaknya data
∑ : jumlah semua data
∑ : jumlah kuadrat semua data
Nilai reliabiltas yang didapat dari r11 dibandingkan dengan kriteria interpretasi
[image:45.595.113.421.256.465.2]nilai reliabelitas yang berlauku. Menurut Arikunto (2006: 195) interpretasi nilai reliabilitas adalah sebagai berikut.
Tabel 3.4 Interpretasi Nilai Reliabilitas
Nilai Interpretasi 00 , 1 80 ,
0 r11 Sangat Tinggi
80 , 0 < 60 ,
0 r11 Tinggi
60 , 0 < 40 ,
0 r11 Sedang
40 , 0 < 20 ,
0 r11 Rendah
20 , 0 < 00 ,
0 r11 Sangat Rendah
2
28
Instrumen tes yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen yang memiliki kriteria reliabilitas minimal sedang. Hasil perhitungan reliabilitas tes pada uji coba di kelas IX-D diperoleh r11 = 0,61. Dari hasil tersebut, dapat
disimpulkan bahwa reliabilitas tinggi dan sesuai dengan kriteria yang digunakan yaitu ≥ 0,40 sehingga instrumen tes dapat digunakan dalam penelitian.
Perhitungan selengkapnya terdapat pada Lampiran C.2 pada halaman 133.
3. Daya Pembeda
Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dan siswa yang mempunyai kemampuan rendah.
Daya pembeda butir dapat diketahui dengan melihat besar kecilnya tingkat diskriminasi atau angka yang menunjukkan besar kecilnya daya pembeda.
Sudijono (2008: 389-390) mengungkapkan nilai daya pembeda dapat ditentukan dengan rumus berikut:
DP = JA − JBIA
Keterangan :
DP : indeks daya pembeda satu butir soal tertentu JA : rata-rata kelompok atas pada butir soal yang diolah JB : rata-rata kelompok bawah pada butir soal yang diolah IA : skor maksimum butir soal yang diolah
Menurut Sudijiono (2008: 388) hasil perhitungan indekdaya pembeda diinterpretasi berdasarkan klasifikasi yang tertera dalam tabel 3.5.
Instrumen tes yang akan digunakan memiliki nilai DP ≥ 0,30 daya pembeda baik atau sangat baik. Setelah melakukan perhitungan daya pembeda soal pada uji
29
[image:47.595.112.431.210.304.2]kriteria yang digunakan sehingga instrumen tes yang siujikan dapat digunakan dalam penelitian. Perhitungan selengkapnya terdapat pada Lampiran C.3 pada halaman 135.
Tabel 3.5 Interpretasi Nilai Daya Pembeda
4. Tingkat Kesukaran
Tingakat kesukaran soal adalah perbandingan antara banyaknya penjawab pilihan benar dengan banyaknya penjawab pilihan lain yang digunakan. Hal ini
dilakukan untuk menentukan seberapa besar derajat kesukaran yang dimiliki suatu butir soal. Menurut Sudijono (2008: 372), indeks tingkat kesukaran butir soal
dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
=
Keterangan:
TK : tingkat kesukaran suatu butir soal
JT : jumlah skor yang diperoleh siswa pada butir soal yang diperoleh
IT : jumlah skor maksimum yang dapat diperoleh siswa pada suatu butir soal.
Untuk menginterpretasi tingkat kesukaran suatu butir soal digunakan kriteria indeks kesukaran menurut Sudijono (2008: 372) tertera pada tabel 3.6.
Indeks Daya Pembeda Interpretasi Negatif≤ DP ≤ 0,09 Sangat buruk
0,10≤ DP ≤ 0,19 Buruk
0,20≤ DP ≤ 0.29 Sedang
0,30≤ DP ≤ 0,49 Baik
30
Tabel 3.6 Interpretasi Nilai Tingkat Kesukaran Indeks Tingkat Kesukaran Interpretasi
0,00≤ TK≤ 0,15 Sangat Sukar
0,16≤ TK≤ 0,30 Sukar
0,31≤ TK≤ 0,70 Sedang
0,71≤ TK≤ 0,85 Mudah
0,86≤ TK≤ 1,00 Sangat Mudah
Instrumen uji yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen yang memiliki kriteria tingkat kesukaran sedang. Hasil perhitungan tingkat kesukaran
soal pada uji coba yang telah dilakukan di kelas IX-D didapat yaitu 0,31≤ TK ≤ 0,70. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kesukaran sedang dan
sesuai dengan kriteria minimal yang digunakan, yaitu 0,31≤ TK ≤ 0,70 sehingga instrumen tes dapat digunakan dalam penelitian. Perhitungan selengkapnya ter-dapat pada Lampiran C.3 pada halaman 135.
Adapun hasil uji coba instrumen tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dapat dilihat pada Tabel 3.7.
Tabel 3.7 Hasil Uji Coba Tes
No Soal Validitas Reliabilitas Daya Pembeda Tingkat Kesukaran 1
Valid
0,61 (Reliabilitas
tinggi)
0,32 (Baik) 0,67 (Sedang)
2 0,34 (Baik) 0,69 (Sedang)
3 0,3 (Baik) 0,69 (Sedang)
4 0,36 (Baik) 0,7 (Sedang)
5 0,37 (Baik) 0,69 (Sedang)
[image:48.595.108.513.517.608.2]31
G. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari posttest dianalisis menggunakan uji statistik induktif. Sebelum melakukan analisis uji statistik perlu dilakukan uji prasyarat, yaitu uji normalitas.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas berfungsi untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji Normalitas dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan uji Chi Kuadrat (Sudjana, 2005:273) menyatakan uji Chi Kuadrat adalah sebagai berikut.
Hipotesis:
H0 : data berasal dari populasi yang berdistribusi normal
H1 : data tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Persamaan uji chi-kuadrat:
= ( )
Keterangan:
X2 = harga Chi-kuadrat Oi = frekuensi observasi
Ei = frekuensi harapan
k = banyaknya kelas interval
Kriteria uji, H0 diterima jika x2hitung < x2tabel dengan dk = k – 3 maka data
berdistribusi normal. H0ditolak jika x2hitung≥ x2tabel, maka data tidak berdistribusi
32
Uji normalitas ini dilakukan berdasarkan data kemampuan pemecahan maslah matematis siswa pada kelas yang mengikuti pembelajaran dengan model belajaran kooperatif tipe Group Investigation dan kelas yang mengikuti
pem-belajaran dengan pempem-belajaran konvensional. Perhitungan uji normalitas seleng-kapnya terdapat pada Lampiran C.6 pada halaman 140 dan C.7 pada halaman 144
hasil uji normalitas data kemampuan pemecahan maslah matematis siswa dapat disajikan pada Tabel 3.8.
Tabel 3.8 Hasil Uji Normalitas Data Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Pada Kelas yang Mengikuti Pembelajaran dengan Model GI dan Pembelajaran Konvensional
Kelas Keputusan Uji
Group Investigation 3,91 7,81 H0diterima
konvensional 3,18 7,81 H0diterima
Berdasarka Tabel 3.8 di atas, ternyata untuk kelas yang mengikuti
pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan
kelas yang mengikuti pembelajaran konvensional kurang dari . Ini berarti
pada taraf = 0,05 H0 untuk setiap kelas diterima. Dengan demikian, data
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada kelas yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation
kelas yang mengikuti pembelajaran konvensional berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
2. Uji Hipotesis
Karena data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa berasal dari
33
a. Untuk mengetahui besarnya proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih dari 60%, dilakukan uji proporsi yang
menggunakan uji proporsi satu pihak. Rumusan hipotesis berikut.
H0 : = 0,60(proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah
matematis sama dengan 60%)
H1 : > 0,6 (proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah
matematis lebih dari 60%)
Statistik yang digunakan dalam uji ini dalam Sudjana (2005:233) adalah:
= ⁄ − 0.6
0.6 ( 1 − 0.6)
Keterangan:
x : banyaknya siswa yang tuntas dengan model pembelajaran GI n : banyaknya sampel pada kelas eksperimen
Dalam pengujian ini digunakan taraf signifikan = 5%, dengan peluang
(1 − )dengan kriteria uji: tolak H0jika ≥ . , di mana .
didapat dari daftar normal baku dengan peluang (0,5 − ). Untuk
< . hipotesis H0 diterima. Ini berarti persentase siswa yang
memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis siswa lebih dari atau sama dengan 60%.
b. Untuk mengetahui besarnya proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis pada pembelajaran dengan model kooperatif
34
konvensional, dilakukan uji kesamaan dua proporsi yang menggunakan uji satu pihak dengan rumusan hipotesis berikut.
∶ = (proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan
masalah matematis menggunakan model pembelajaran GI
sama dengan siswa yang memahami konsep matematis menggunakan pemelajaran konvensional)
∶ > (proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan
masalah matematis menggunakan model pembelajaran GI lebih dari siswa yang memahami konsep matematis
me-nggunakan pemelajaran konvensional)
Statistik yang digunakan dalam uji ini adalah:
= −
( 1 ) + ( 1 )
Dengan = dan = 1 −
Keterangan:
= banyaknya siswa yang tuntas pada kelas eksperimen = banyaknya siswa yang tuntas pada kelas kontrol = banyak sampel pada kelas eksperimen
= banyak sampel pada kelas kontrol
Dengan kriteria uji: tolak H0jika ≥ , dan terima H0untuk
44
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation efektif ditinjau dari
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP TMI
Roudlotul Qur’an MetroTahun Pelajaran 2015/2016.
2. Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih efektif diban-dingkan dengan pembelajaran konvensional ditinjau dari kemampuan pe-mecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP TMI Roudlotul Qur’an
Metro Tahun Pelajaran 2015/2016.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Guru dapat menjadikan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika untuk
mem-bantu mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
45
46
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkemampuan Rendah. Jakarta: RinekaCipta.
Abidin, Yunus. 2014. Desain Sistem Pembelajaran Dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: PT. Refika Aditama.
Aini, Miftahul. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dengan Menggunakan LKS Terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Materi Pokok Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur pada Siswa Kelas XI IPA SMAN 2 Gerung Tahun Pelajaran 2015/2016. Jurnal Ilmiah. [Online]. Tersedia: indojm.com. (diakses pada tanggal 20 Januari 2016)
Anggraini, Lela dkk. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas VIII-4 SMP Negeri 27 Palembang. Jurnal Pendidikan Matematika Vol 4 No 1. Universitas Sriwijaya. [Online]. Tersedia:
http://ejournal.unsri.ac.id/index.php/jpm/article/view/309/72 (diakses pada tanggal 10 Januari 2015).
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta. Rineka Cipta.
Aunurrahman. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
BSNP. 2006. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP.
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Utama.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Fraenkel, Jack R dan Norman E Wallen. 1993. How to Design and Evaluate
Research in Education. Singapura: McGraw-Hill.
47
Huda, Miftahul.2011. Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur dan Model Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hosnan, M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21: Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013. Yogyakarta. Ghalia Indonesia.
Isjoni dan Ismail, Arif, Mohc. 2008. Model-Model Pembelajaran Mutakhir Perpaduan Indonesia-Malaysia. Yogyakara: Pustaka pelajar.
Lie, Anita. 2008. Mempraktikkan Cooperative Learning Di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Maharani, Swasti. 2010. Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation dan Talking Stick Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Aspek Psikomotorik pada Siswa Kelas VIII MTsN Karangmojo Imagetan Tahun Ajaran 2010/2011. [Online]. Tersedia: e-journal.ikippgrimadiun.ac.id. (diakses pada tanggal 20 Januari 2016)
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasution. 2013. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bumi aksara.
Noer, Sri Hastuti. 2007. Pembelajaran Open-Ended untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Kemampuan Berpikir Kreatif (Studi Eksperimen pada Siswa Salah Satu SMPN di Bandar Lampung). Bandung: Tesis SPS UPI.
Novandro, Beny. 2012. Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Ditinjau dari Hasil Belajar Matematika. [Online]. Tersedia: jurnal.fkip.unila.ac.id. (diakses pada tanggal 20 Januari 2016)
Ruseffendi. 1998. Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.
Rusman. 2011. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarat.PT RajaGrafindo Persada.
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
48
Slavin, E. Robert. 2005. Cooperatif Learning Teori, Riset dan Praktik. Nusa Media PO Box 137 Ujungberung. Bandung.
Sudijono, Anas. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Tarsito. Bandung
Suherman, E. dkk. 2003. Common Text Book : Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA FMIPA UPI.
Sumarmo. 2010. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Sumiati dan Asra. 2008. Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima
Suprijono, Agus. 2010. Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suryosubroto, B. 2006. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakrta: Rineka
Cipta.
Suyitno. 2010. Keefektifan Penerapan model Pembelajaran (online). Tersedia: http://pinggirlaras.blogspot.com/2010/06/Keefektifan Penerapan model Pembelajaran.html. (diakses pada tanggal 16 Agustus 2016)
Trianto. 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Surabaya: Predana Media.
Uno, Hamzah. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Wardhani, Sri, dkk. (2010). Pembelajaran Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Di SMP. Yogyakarta: PPPPTK.