• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
118
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR (LKPD) MENULIS CERITA FANTASI DENGAN MODEL PROJECT BASED LEARNING

UNTUK SISWA SMP KELAS VII

(Tesis)

Oleh

ERIKA PRATIWI

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR (LKPD) MENULIS CERITA FANTASI DENGAN MODEL PROJECT BASED LEARNING

UNTUK SISWA SMP KELAS VII

Oleh

ERIKA PRATIWI

Permasalahan dalam penelitian ini berkaitan dengan pengembangan bahan ajar (LKPD)

menulis teks cerita fantasi dengan model Project Based Learning. Tujuan penelitian

yakni menghasilkan produk bahan ajar, mendeskripsikan kelayakan bahan ajar, dan

menguji efektivitas bahan ajar berupa “LKPD Menulis Cerita Fantasi dengan Model

Project Based Learning”.

Metode penelitian menggunakan desain penelitian dan pengembangan yang

mengadaptasi tujuh dari sepuluh langkah dalam prosedur penelitian pengembangan

menurut Borg and Gall. Teknis pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan

penyebaran angket di tiga sekolah yaitu SMP Negeri 2 Bunga Mayang, SMP Negeri 3

Bunga Mayang, dan SMP PG Bunga Mayang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) berhasil dikembangkan bahan ajar berupa

“Bahan Ajar (LKPD) Menulis Cerita Fantasi dengan model Project Based Learning”,

2) kelayakan lembar kerja peserta didik secara keseluruhan dinyatakan “sangat baik”

(3)

sedang.

(4)

ABSTRACT

DEVELOPMENT OF TEACHING MATERIAL (LKPD) WRITING A FANTASY STORY WITH PROJECT BASED LEARNING MODEL FOR

SEVENTH GRADE STUDENTS OF JUNIOR HIGH SCHOOL

By

ERIKA PRATIWI

The problem of this research deals with the development of teaching material (LKPD)

writing fantasy story with Project Based Learning model. The objectives of the research

are to produce teaching material product, to describe the properness of teaching

material, and to examine the effectiveness of the teaching material in the model “LKPD

writing fantasy story with Project Based Learning”.

In this research, the researcher applied research and development design method

adapting seven of the ten steps in the research and development procedures according to

Borg and Gall. The data collections technique were observations, interview, and

questionnaire conducted in three schools namely SMP Negeri 2 Bunga Mayang, SMP

Negeri 3 Bunga Mayang, and SMP PG Bunga Mayang.

This study shows 3 points as the result 1) teaching materials in the form of “Writing

(5)

90, and 96.75, 3) student activity sheet value of N-gain of (0,74) in high category, and

(0,55), (0,65) in medium category.

(6)

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR (LKPD) MENULIS CERITA FANTASI DENGAN MODEL PROJECT BASED LEARNING

UNTUK SISWA SMP KELAS VII

Oleh

ERIKA PRATIWI

(Tesis)

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER PENDIDIKAN

pada

Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG

(7)
(8)
(9)
(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ketapang pada tanggal

28 September 1993, putri tunggal dari pasangan Bapak

Amizar (Almarhum) dan Ibu Ernawati. Penulis memulai

pendidikan di TK PG Bunga Mayang Lampung Utara

diselesaikan pada tahun 2000; SD PG Bunga Mayang

Lampung Utara diselesaikan pada tahun 2006; SMP PG Bunga Mayang Lampung

Utara diselesaikan pada tahun 2009; SMA Negeri 2 Kotabumi Lampung Utara

diselesaikan pada tahun 2012; Strata-1 (S-1) Program Studi Pendidikan Bahasa

dan Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP Universitas Lampung diselesaikan pada

tahun 2016. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Magister

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Lampung pada tahun

(11)

MOTO

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 6)

Kesuksesan bukan kunci kebahagiaan, namun kebahagianlah kunci kesuksesan. Jika Anda mencintai apa yang Anda kerjakan, Anda akan sukses.

(12)

PERSEMBAHAN

Ya Allah Ya Tuhanku, Tuhan semesta alam. Mahasuci Engkau yang telah

menurunkan Islam dan mengangkat serta meninggikan derajat wanita sama

dengan kaum laki-laki di sisi-Mu. Terima kasih Tuhan atas segala nikmat-Mu,

baik berupa perlindungan, keselamatan, keindahan, kebahagiaan, kelebihan

maupun kekuranganku, dan atas takdirku yang tertulis di Lauhul Mahfudz-Mu.

Penuh dengan kerendahan hati dan atas rasa hormat serta baktiku,

kupersembahkan tesis ini kepada orang-orang tersayang.

1. Ayahanda dan Ibundaku tercinta yakni Bapak Amizar (Almarhum) dan Ibu

Ernawati yang tak henti-hentinya mencurahkan kasih sayang, mendidik

dengan penuh cinta, dan berdoa dengan keikhlasan hati untuk keberhasilanku

menggapai cita-cita.

2. Untuk keluarga besarku yang selalu memberikan doa dan dukungan untuk

keberhasilanku.

3. Keluarga besar Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2017.

4. Almamater tercinta, Universitas Lampung, yang telah mendewasakan dan

(13)

SANWACANA

Puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wataala yang telah melimpahkan

rahmat-Nya sehingga tesis ini terselesaikan. Tesis dengan judul “Pengembangan Bahan

Ajar (LKPD) Menulis Cerita Fantasi dengan Model Project Based Learning

untuk Siswa SMP Kelas VII” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Magister Pendidikan pada Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia di Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada

pihak-pihak berikut.

1. Prof. Dr. Karomani, M.Si., selaku Rektor Universitas Lampung;

2. Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S. selaku Direktur Pascasarjana

Universitas Lampung;

3. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Lampung;

4. Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan

Bahasa dan Seni Universitas Lampung;

5. Dr. Edi Suyanto, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan

(14)

6. Dr. Iing Sunarti, M.Pd., selaku dosen pembimbing I yang telah banyak

membantu, membimbing, mengarahkan, dan memberikan saran kepada

penulis dengan penuh kesabaran selama proses penyelesaian tesis;

7. Dr. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku dosen pembimbing II yang telah

banyak membantu, membimbing, mengarahkan, dan memberikan saran

kepada penulis dengan penuh kesabaran selama proses penyelesaian tesis;

8. Dr. Farida Ariyani, M.Pd., selaku dosen pembahas I yang telah

memberikan kritik, saran, dan motivasi kepada penulis;

9. Dr. Mulyanto Widodo, M.Pd., selaku dosen pembahas II yang telah

memberikan kritik, saran, dan motivasi kepada penulis;

10. Seluruh dosen Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia yang telah mendidik dan memberikan berbagai bekal ilmu

pengetahuan yang sangat bermanfaat;

11. Nimbang Marga, S.Pd. selaku Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2

Bunga Mayang, Sumiyati, S.Pd. selaku Guru di SMP Negeri 3 Bunga

Mayang, dan Nanik Harsidah, S.Pd. selaku Guru di SMP PG Bunga

Mayang yang telah membantu penulis selama proses penelitian;

12. Teman-teman di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia angkatan 2017, terima kasih atas dukungan, persahabatan, serta

kebersamaan yang kalian berikan;

13. Seseorang yang aku cita-citakan menjadi imam dalam hidupku yang

begitu sabar memotivasi dan menemaniku dalam penyelesaian tesis;

14. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu per satu yang telah

(15)

Semoga Allah Subhanahu Wataala membalas semua budi baik pihak yang telah

membantu penulis. Penulis juga mohon maaf apabila terdapat kata yang salah,

kekurangan, dan kekhilafan dalam penulisan tesis ini. Penulis berharap semoga

tesis ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi kemajuan pendidikan,

khususnya Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Bandar Lampung, Januari 2020 Penulis,

(16)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... ii

HALAMAN JUDUL ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

SURAT PERNYATAAN ... vi

RIWAYAT HIDUP ... vii

MOTO ... viii

PERSEMBAHAN ... ix

SANWACANA ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR BAGAN ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 11

D. Manfaat Penelitian ... 11

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 12

BAB II LANDASAN TEORI A. Bahan Ajar ... 13

1. Pengertian Bahan Ajar ... 13

2. Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar ... 14

3. Prinsip Penyusunan Bahan Ajar ... 16

4. Pengembangan Bahan Ajar ... 17

5. Jenis Bahan Ajar ... 19

B. Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) ... 24

1. Pengertian Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) ... 24

2. Fungsi Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) ... 26

3. Kriteria Kualitas Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) ... 27

4. Sistematika Penulisan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) 29

5. Langkah-langkah Menyusun LKPD ... 29

C. Keterampilan Menulis ... 32

1. Pengertian Menulis ... 32

(17)

3. Manfaat Menulis... 35

4. Tahap Menulis ... 36

5. Jenis-Jenis Teks Bahasa Indonesia Kelas VII SMP ... 38

D. Teks Cerita Fantasi ... 39

1. Pengertian Teks Cerita Fantasi... 40

2. Ciri-Ciri Cerita Fantasi ... 40

3. Struktur Cerita Fantasi ... 42

4. Unsur-Unsur Intrinsik Cerita Fantasi ... 43

5. Unsur Kebahasaan Cerita Fantasi ... 46

6. Langkah-langkah Menyusun Cerita Fantasi... 47

7. Jenis-jenis Cerita Fantasi ... 48

E. Model Pembelajaran Project Based Learning ... 49

1. Pengertian Model Pembelajaran Project Based Learning ... 49

2. Karakteristik Model Pembelajaran Project Based Learning ... 50

3. Manfaat Model Pembelajaran Project Based Learning ... 52

4. Kelebihan dan Kelemahan Project Based Learning ... 52

5. Langkah-langkah Model Pembelajaran Project Based Learning 53 6. Perbedaan Pembelajaran Problem Based Learning dengan Project Based Learning ... 55

F. Pembelajaran Menulis Cerita Fantasi dengan Project Based Learning ... 56

G. Metode Penelitian R & D (Research and Development) ... 59

1. Pengertian Penelitian R & D (Research and Development) ... 59

2. Karakteristik Penelitian R & D (Research and Development).... 61

3. Langkah-langkah R & D (Research and Development) ... 62

4. Kelebihan dan Kekurangan R & D (Research and Development 66 BAB III METODE PENELITIAN A. Model Pengembangan ... 67

B. Tempat Penelitian... 71

C. Spesifikasi Produk Pengembangan ... 71

D. Langkah Penelitian Pengembangan ... 72

E. Studi Pendahuluan ... 72

1. Perancangan dan Pengembangan Produk ... 73

2. Evaluasi Produk ... 74

F. Teknik Pengumpulan Data ... 76

G. Instrumen Penelitian ... 77

H. Teknik Analisis Data ... 88

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 91

1. Studi Pendahuluan ... 92

a. Potensi dan Masalah ... 92

b. Pengumpulan Data Pengembangan LKPD ... 100

c. Menentukan Jenis dan Bentuk Pengembangan Bahan Ajar .. 102

2. Pengembangan Produk Awal ... 103

(18)

b. Memahami Teks Cerita Fantasi Melalui Model Project Based

Learning ... 106

3. Evaluasi dan Revisi ... 107

a. Hasil Uji Ahli ... 107

b. Uji Coba Produk ... 130

4. Kelayakan Produk ... 143

5. Hasil Efektivitas ... 151

B. Pembahasan ... 153

1. Hasil Pengembangan LKPD dengan Model Project Based Learning ... 153

2. Hasil Kelayakan LKPD Menulis Teks Cerita Fantasi dengan Model Project Based Learning ... 160

3. Hasil Uji Efektivitas LKPD Menulis Teks Cerita Fantasi dengan Model Project Based Learning ... 163

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 165

B. Saran ... 167

(19)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Data Nilai Rata-Rata Siswa Kelas VII TP. 2018/2019 ... 7

Tabel 2.1 Manfaat Pembelajaran Project Based Learning ... 52

Tabel 2.2 Perbedaan PBL dengan PjBL ... 55

Tabel 3.1 Angket Wawancara Siswa Terhadap Kebutuhan LKPD ... 77

Tabel 3.2 Angket Wawancara Guru Terhadap Kebutuhan LKPD ... 79

Tabel 3.3 Instrumen Penilaian LKPD Teks Cerita Fantasi ... 80

Tabel 3.4 Instrumen Penilaian Teman Sejawat untuk Uji Coba LKPD ... 81

Tabel 3.5 Instrumen Penilaian LKPD oleh Siswa sebagai Pengguna ... 83

Tabel 3.6 Pedoman Penilaian Menulis Cerita Fantasi ... 85

Tabel 3.7 Rubrik Penilaian Menulis Cerita Fantasi ... 87

Tabel 3.8 Kategori Penilaian Teks Cerita Fantasi Siswa ... 87

Tabel 3.9 Kriteria Tingkat Kelayakan ... 89

Tabel 3.10 Kriteria Interpretasi N-gain ... 90

Tabel 4.1 Analisis Hasil Wawancara Siswa tentang Kebutuhan Bahan Ajar. 93 Tabel 4.2 Hasil Wawancara Siswa Terhadap Kebutuhan Bahan Ajar ... 97

Tabel 4.3 Kompetensi Dasar yang Dibahas pada LKPD ... 105

Tabel 4.4 Instrumen Penilaian LKPD Teks Cerita Fantasi ... 107

Tabel 4.5 Penilaian Kelayakan Ahli Materi ... 108

Tabel 4.6 Penilaian Kelayakan Bahasa Ahli Materi ... 109

Tabel 4.7 Penilaian Kelayakan Penyajian Ahli Materi ... 110

Tabel 4.8 Penilaian Kelayakan Kegrafikan Ahli Materi ... 111

Tabel 4.9 Hasil Validasi Ahli Materi ... 112

Tabel 4.10 Instrumen Penilaian LKPD Teks Cerita Fantasi ... 113

Tabel 4.11 Penilaian Kelayakan Isi Ahli Media ... 114

Tabel 4.12 Penilaian Kelayakan Bahasa Ahli Media ... 115

Tabel 4.13 Penilaian Kelayakan Penyajian Ahli Media... 116

Tabel 4.14 Penilaian Kelayakan Kegrafikan Ahli Media ... 117

Tabel 4.15 Hasil Validasi Ahli Media... 118

Tabel 4.16 Instrumen Penilaian Teman Sejawat untuk Uji Coba LKPD ... 118

Tabel 4.17 Penilaian Kelayakan Isi oleh Praktisi ... 120

Tabel 4.18 Penilaian Kelayakan Bahasa oleh Praktisi ... 121

Tabel 4.19 Penilaian Kelayakan Penyajian oleh Praktisi ... 121

Tabel 4.20 Penilaian Kelayakan Kegrafikan oleh Praktisi... 122

Tabel 4.21 Hasil Validasi Praktisi ... 123

Tabel 4.22 Saran Perbaikan LKPD Ahli Materi ... 125

(20)

Tabel 4.24 Saran Perbaikan LKPD Praktisi/Teman Sejawat ... 129

Tabel 4.25 Tingkat Kelayakan oleh Guru Bahasa Indonesia ... 131

Tabel 4.26 Hasil Uji Penggunaan LKPD pada Skala Kecil ... 138

Tabel 4.27 Hasil Penggunaan LKPD Skala Luas di SMP Negeri 2 Bunga Mayang ... 139

Tabel 4.28 Hasil Penggunaan LKPD Skala Luas di SMP Negeri Bunga Mayang ... 140

Tabel 4.29 Hasil Penggunaan LKPD Skala Luas di SMP PG Bunga Mayang ... 142

Tabel 4.30 Hasil Penilaian LKPD Uji Skala Luas Responden Siswa ... 144

Tabel 4.31 Hasil Validasi LKPD Uji Skala Luas Responden Guru ... 145

Tabel 4.32 Saran Perbaikan Guru Bahasa Indonesia ... 145

Tabel 4.33 Hasil Revisi Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Bunga Mayang ... 146

Tabel 4.34 Hasil Revisi Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 3 Bunga Mayang ... 147

Tabel 4.35 Hasil Revisi Guru Bahasa Indonesia SMP PG Bunga Mayang ... 148

Tabel 4.36 Saran Perbaikan Siswa SMP Kelas VII ... 150

Tabel 4.37 Hasil Revisi Siswa SMP Negeri 2 Bunga Mayang ... 150

Tabel 4.38 Hasil Revisi Siswa SMP Negeri 3 Bunga Mayang ... 150

Tabel 4.39 Hasil Revisi Siswa SMP PG Bunga Mayang ... 151

Tabel 4.40 Hasil Pretest, Postest, dan N-gain ... 152

(21)

DAFTAR BAGAN

(22)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Surat Izin Penelitian

2. Angket Validasi Ahli Materi 3. Angket Validasi Ahli Media 4. Angket Validasi Guru/Praktisi 5. Hasil Angket Validator

6. Hasil Angket Tanggapan Siswa pada Ujicoba Kelas Besar 7. Hasil Menulis Cerita Fantasi oleh Siswa

8. Hasil Penilaian LKPD oleh Guru Bahasa Indonesia 9. Hasil Uji Efektivitas Bahan Ajar

(23)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan

akan diperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam pembentuk kepribadian, baik

melalui bimbingan dan pengarahan dari orang tua maupun guru. Jalur pendidikan

yang bisa ditempuh di sekolah adalah jalur pendidikan formal. Pendidikan formal

adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas

pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang di dalamnya terjadi proses

pembelajaran antara guru dan peserta didik. Pembelajaran adalah proses untuk

seseorang belajar, sehingga terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu. Di

dalam proses pembelajaran seseorang memiliki rasa ingin tahu dan mencari tahu

tentang maksud dari apa yang diajarkan. Menurut Sutikno (2013:31)

pembelajaran yaitu segala upaya yang dilakukan oleh guru (pendidik) agar terjadi

proses belajar pada diri peserta didik. Secara implisit, di dalam pembelajaran,

terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk

mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pembelajaran lebih menekankan

(24)

mengorganisasikan materi pelajaran, menyampaikan materi pelajaran, dan

mengelola pembelajaran.

Supaya pendidikan tidak tertinggal perlu adanya penyesuaian-penyesuaian

terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor pengajaran di sekolah. Oleh karena

itu, dunia pendidikan menyikapi secara positif pemanfaatan dan pengembangan

bahan ajar untuk penunjang pembelajaran. Bahan ajar merupakan salah satu unsur

pembelajaran yang tidak dapat diabaikan manfaatnya untuk menunjang kegiatan

belajar mengajar (Depdiknas, 2008: 6).

Bahan ajar digunakan sebagai pedoman dalam proses pembelajaran. Dengan

bahan ajar, program pembelajaran dapat dilaksanakan secara lebih teratur karena

guru sebagai pelaksana pendidikan akan memperoleh materi yang jelas. Majid

(2013: 174) mengungkapkan bahan ajar adalah segala bentuk bahan, informasi,

alat, dan teks yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan

kegiatan belajar mengajar. Depdiknas (2008: 6) menyebutkan bahwa bahan ajar

merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau

instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Salah satu bahan ajar cetak yakni lembar kegiatan peserta didik atau LKPD.

Lembar kegiatan peserta didik merupakan suatu bahan ajar cetak yang berupa

lembar-lembar kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk

pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan peserta didik yang

(25)

LKPD memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut.

1) Siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing.

2) Siswa dapat mengulang materi dalam cetakan.

3) Perpaduan teks dan gambar dalam halaman cetak dapat menambah daya tarik

serta memperlancar pemahaman informasi yang disajikan.

4) Siswa dapat aktif menjawab pertanyaan dan latihan yang disusun.

5) Materi di dalam LKPD dapat diproduksi dengan ekonomis dan didistribusikan

dengan mudah (Arsyad, 2009: 38-39).

LKPD sebagai bahan ajar dalam pembelajaran memudahkan guru dalam

menyampaikan pelajaran pada siswa siswinya. Dengan adanya LKPD juga dapat

membantu guru dalam penyampaian pembelajaran, khususnya guru menjadi tidak

banyak bicara, tanpa menjelaskan panjang lebar, guru menyampaikan pembuka,

inti, dan penutup, maka pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan benar.

Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru adalah model

pembelajaran project based learning. Model pembelajaran project based learning

adalah model dengan aktivitas jangka panjang yang melibatkan siswa dalam

merancang, membuat, dan menampilkan produk untuk mengatasi permasalahan

dunia nyata (Sani, 2018 : 172). Model pembelajaran project based learning

merupakan salah satu model yang sangat baik dalam mengembangkan

keterampilan berpikir, keterampilan mengambil keputusan, kemampuan

berkreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan sekaligus dipandang

efektif untuk mengembangkan rasa percaya diri dan manajemen diri para siswa

(26)

Salah satu mata pelajaran yang akan dicapai di dalam Kurikulum 2013 adalah

Bahasa Indonesia yang diatur oleh Permendikbud nomor 24 tahun 2016 tentang

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar pelajaran pada Kurikulum 2013 pada

pendidikan dasar dan menengah. Pelajaran Bahasa Indonesia di dalam

Kurikulum 2013 secara umum bertujuan agar peserta didik mampu menyimak,

berbicara, membaca, dan menulis.

Keterampilan menulis merupakan bentuk manifestasi kemampuan dan

keterampilan berbahasa yang paling akhir dikuasai oleh pembelajar bahasa

setelah keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, dan keterampilan

membaca (Iskandarwassid dan Suhendar, 2008: 248). Pada dasarnya

keterampilan menulis tidak hanya berupa melahirkan pikiran atau perasaan

saja, tetapi juga merupakan pengungkapan ide, pengetahuan, ilmu, dan

pengalaman hidup seseorang dalam bahasa tulis. Oleh karena itu, menulis

bukanlah merupakan kegiatan yang sederhana dan tidak perlu dipelajari, tetapi

justru dikuasai (Saddhono dan Slamet, 2014: 151).

Dalam Kurikulum 2013 untuk pembelajaran keterampilan menulis pada siswa

SMP Kelas VII terdapat lima jenis teks, yaitu: (1) teks deskripsi, (2) teks cerita

fantasi, (3) teks prosedur, (4) teks laporan hasil observasi, dan (5) teks fabel

(Harsiati, 2016).

Teks cerita fantasi dibelajarkan pada siswa kelas VII semester ganjil sesuai

dengan KD 3.4 Menelaah struktur dan kebahasaan cerita fantasi yang dibaca dan

didengar dan 4.4 Menyajikan gagasan kreatif dalam bentuk cerita fantasi secara

(27)

cerita fantasi merupakan sebuah karya tulis yang dibangun menggunakan alur

cerita yang normal, namun memiliki sifat imajinatif dan khayalan semata

(Dimyati, 2017: 14).

Teks cerita fantasi merupakan salah satu genre cerita yang sangat penting untuk

melatih kreativitas. Cerita fantasi merupakan cerita khayalan yang berisi

perkembangan kejadian atau peristiwa (Harsiati, 2016: 44). Teks cerita fantasi

adalah teks yang berisi struktur yang terdiri atas orientasi, komplikasi, dan

resolusi dan penggunaan bahasa dalam teks tersebut (Dalman, 2012: 146). Alasan

memilih cerita fantasi disesuaikan dengan karakteristik siswa SMP Kelas VII pada

usia 10─14 tahun yaitu keinginan menjelajah dan berkhayal mencari kepuasan.

Khayalan ini tidak selamanya bersifat negatif, justru dapat menjadi sesuatu yang

konstruktif, misalnya dengan munculnya ide cemerlang yang dituangkan ke dalam

sebuah tulisan (Arajoo T.V., 1986).

Di era seperti sekarang ini, guru mempunyai tugas untuk mendorong,

membimbing, dan memberi fasilitas peserta didik untuk mencapai tujuan dalam

pembelajaran. Permendikbud Nomor 103 konsep pembelajaran pada Kurikulum

2013 menyebutkan pembelajaran merupakan suatu proses pengembangan potensi

dan pembangunan karakter setiap peserta didik, sebagai hasil dari sinergi antara

pendidikan yang berlangsung di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Proses

tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan

potensi sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan yang

(28)

berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. Pengembangan potensi

peserta didik tersebut tidak terlepas dari bahan ajar.

Pembelajaran yang efektif dan efisien tidak terjadi dengan sendirinya namun

dirancang oleh guru melalui pengelolaan pembelajaran dan pemanfaatan sumber

daya pembelajaran dalam menciptakan suasana yang kondusif untuk mencapai

tujuan. Hal ini tertuang dalam undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional yang selanjutnya dijabarkan dalam Peraturan

Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa

proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakannya secara interaktif,

inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif

serta memberikan ruang yang cukup bagi kreativitas, dan kemandirian sesuai

dengan minat, bakat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Dengan

demikian, perencanaan pembelajaran yang mempersiapkan bahan ajar dan model

yang tepat, serta peranan guru dalam proses pembelajaran yang mampu

memotivasi siswa menjadi hal yang penting untuk dikelola.

Berdasarkan wawancara dengan guru di tiga sekolah menunjukkan bahwa

kemampuan menulis teks cerita fantasi masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari

nilai rata-rata siswa tahun pelajaran 2018/1019 dengan rata-rata di bawah kriteria

ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 75. Berikut tabel nilai rata-rata siswa

mata pelajaran Bahasa Indonesia semester ganjil pada tiga sekolah di Bunga

(29)
[image:29.595.114.514.127.229.2]

Tabel 1.1 Data Nilai Rata-Rata Siswa Kelas VII Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2018/2019

No Nama Sekolah Kelas Jumlah

Siswa

Nilai Rata-Rata

1 SMP Negeri 2 Bunga Mayang VII 30 68,8 2 SMP Negeri 3 Bunga Mayang VII 30 58,5

3 SMP PG Bunga Mayang VII 38 68,2

Rata-Rata 65,1

KKM=75 <75

Selain itu dapat dilihat pula dari hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan

peneliti terhadap tiga guru SMP, yaitu guru di SMP Negeri 2 Bunga Mayang,

guru di SMP Negeri 3 Bunga Mayang, dan guru di SMP PG Bunga Mayang,

Bapak Nimbang Marga, S.Pd mengatakan bahwa dibutuhkan bahan ajar yang

membuat siswa tertarik untuk menulis cerita fantasi selain buku paket.

Adapun menurut guru SMP Negeri 3 Bunga Mayang, Ibu Sumiyati, S.Pd

rendahnya kualitas pembelajaran karena kurangnya bahan ajar yang menunjang

pembelajaran dan belum diterapkannya model pembelajaran yang menarik bagi

siswa. Guru belum menggunakan bahan ajar berupa LKPD dan belum

menggunakan model pembelajaran Project Based Learning. Berdasarkan hasil

penelitian, faktor yang berasal dari siswa yaitu siswa kurang siap mengikuti

pembelajaran menulis cerita fantasi. Dalam proses pembelajaran menulis cerita

fantasi, siswa belum dapat menulis cerita fantasi dengan struktur dan penggunaan

bahasa yang baik dan benar.

Masalah-masalah yang muncul dalam pembelajaran menulis teks cerita fantasi

membutuhkan penerapan bahan ajar dan model pembelajaran yang tepat oleh guru

(30)

Bahasa Indonesia dituntut untuk mampu menciptakan pembelajaran yang

interaktif dan menarik. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan

menggunakan LKPD dan model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk

berpikir kritis. Model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses

pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran project based learning. Model

pembelajaran project based learning digunakan pada LKPD dalam materi

pembelajaran menulis teks cerita fantasi.

Penelitian sejenis yang pernah dilakukan dengan model pembelajaran berbasis

Model Project Based Learning yaitu pertama oleh Sundyana (2017) dengan judul

“Peningkatan Kemampuan Menulis Melalui Model Project Based Learning pada

Peserta Didik Kelas VII D SMP Negeri 1 Tumijajar Tahun Pelajaran

2015/2016”. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut bahwa kemampuan

menulis dengan model Project Based Learning mengalami peningkatan dari

prasiklus, siklus I, siklus II, dan siklus III. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis

proyek sangat tepat diterapkan untuk mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya

kompetensi menulis.

Kedua, oleh Susanti (2016) dengan judul “Peningkatan Kemampuan Menulis

Puisi Melalui Model Project Based Learning pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri

16 Pesawaran Tahun Pelajaran 2015/2016”. Hasil yang diperoleh dari penelitian

tersebut bahwa aktivitas pembelajaran menulis puisi meningkat karena

diterapkannya Project Based Learning.

Ketiga, oleh Laila (2018) dengan judul “Pengembangan Media Buku Permainan

(31)

Berbasis Psychowriting Kelas VII SMP Negeri 1 Cerme, Gresik” . Penelitian ini

menghasilkan produk berupa media pembelajaran. Media Buperlafa digunakan

untuk membantu peserta didik belajar materi cerita fantasi khususnya

pembelajaran menulis.

Keempat, oleh Suwandi (2017) dalam Jurnal Internasional dengan judul

“Internalization of Values of Ecological Literacy through Fantasy Based

Indonesia Laguage Learning on Junior High School Students in Surakarta”.

Jurnal ini menjelaskan tentang penelitian tindakan kelas yang terdiri atas siklus I,

siklus II, dan siklus III. Pada beberapa siklus tersebut ditemukan siswa

memperoleh banyak pemahaman dan mampu menginternalisasi nilai-nilai melalui

deskripsi konflik dan resolusi dalam cerita fantasi.

Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, tentu ada perbedaan dengan penelitian

yang akan dilakukan oleh peneliti. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya

sebagai berikut.

1) Penelitian Sundyana bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis

secara umum, sedangkan penelitian ini memfokuskan pada kegiatan menulis

cerita fantasi.

2) Penelitian Susanti bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi,

sedangkan penelitian ini memfokuskan pada kegiatan menulis cerita fantasi.

3) Penelitian Laila bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran

Buperlafa, sedangkan penelitian ini menghasilkan produk berupa LKPD.

4) Penelitian Suwandi yakni penelitian tersebut bertujuan untuk meningkatkan

(32)

melalui cerita fantasi, sedangkan penelitian ini bertujuan untuk

mengembangkan produk menulis cerita fantasi dengan model Project Based

Learning.

Penelitian ini dikembangkan untuk membantu guru mengajarkan kepada siswa

dalam membangun pengetahuan dan keterampilan menulis cerita fantasi. Dengan

melihat kenyataan di atas, peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian

mengenai pengembangan model Project Based Learning terhadap kemampuan

menulis cerita fantasi pada siswa kelas VII, dengan judul penelitian

“Pengembangan Bahan Ajar (LKPD) Menulis Cerita Fantasi dengan Model

Project Based Learning untuk Siswa SMP Kelas VII”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut, rumusan

masalah penelitian ini adalah

1. Bagaimanakah pengembangan produk berupa bahan ajar “LKPD Menulis

Cerita Fantasi dengan model Project Based Learning untuk siswa SMP

kelas VII”?

2. Bagaimanakah kelayakan bahan ajar “LKPD Menulis Cerita Fantasi

dengan model Project Based Learning untuk siswa SMP kelas VII”?

3. Bagaimanakah efektivitas bahan ajar “LKPD Menulis Cerita Fantasi

(33)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian sebagai berikut.

1. Menghasilkan produk LKPD Menulis Cerita Fantasi dengan model Project

Based Learning untuk siswa SMP kelas VII.

2. Mendeskripsikan kelayakan LKPD Menulis Cerita Fantasi dengan model

Project Based Learning untuk siswa SMP kelas VII.

3. Menguji efektifitas LKPD Menulis Cerita Fantasi dengan model Project

Based Learning untuk siswa SMP kelas VII.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoretis maupun

secara praktis. Adapun manfaat tersebut sebagai berikut.

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian pengembangan ini dapat digunakan sebagai bahan referensi

pembelajaran menulis cerita fantasi dengan Pengembangan LKPD model

Project Based Learning pada pembelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMP

kelas VII.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian pengembangan ini dibedakan menjadi tiga,

yaitu bagi siswa, bagi guru, dan bagi sekolah. Secara terinci diuraikan sebagai

berikut.

a. Manfaat bagi siswa, hasil penelitian pengembangan ini dapat menjadi

rujukan untuk siswa saat menulis cerita fantasi dengan model Project

(34)

b. Manfaat bagi guru, hasil penelitian pengembangan ini dapat digunakan

sebagai alternatif atau bahan rujukan untuk pembelajaran menulis,

khususnya menulis cerita fantasi dan memberikan informasi tentang

bagaimana menulis cerita fantasi melalui model Project Based Learning.

c. Manfaat bagi sekolah, sebagai masukan dalam memberikan pembinaan

dan pengembangan pengajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian pengembangan ini adalah sebagai berikut.

1. Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Bunga

Mayang, SMP Negeri 3 Bunga Mayang, dan SMP PG Bunga Mayang tahun

pelajaran 2018/2019.

2. Objek penelitian ini adalah pengembangan LKPD dalam pembelajaran cerita

fantasi dengan menggunakan model Project Based Learning pada siswa kelas

VII SMP.

3. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Bunga Mayang, SMP

Negeri 3 Bunga Mayang, dan SMP PG Bunga Mayang.

4. Waktu penelitian ini adalah tahun pelajaran 2018/2019.

5. KD yang digunakan untuk menulis teks cerita fantasi ini adalah 3.4 Menelaah

struktur dan kebahasaan cerita fantasi yang dibaca dan didengar dan 4.4

Menyajikan gagasan kreatif dalam bentuk cerita fantasi secara lisan dan tulis

(35)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Bahan Ajar

Pengembangan bahan ajar (LKPD) menulis cerita fantasi dengan model Project

Based Learning merupakan suatu penelitian pengembangan bahan ajar. Sebelum

melakukan kegiatan pengembangan tersebut terlebih dahulu diperlukan pemahaman

hakikat bahan ajar. Berikut ini diuraikan selengkapnya tentang bahan ajar dari

beberapa ahli.

1. Pengertian Bahan Ajar

Bahan ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru atau instruktur

untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Bahan ajar adalah

segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam

melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan ajar yang dimaksud berupa

bahan tertulis maupun tidak tertulis. Bahan ajar adalah seperangkat materi yang

disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta

lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar (Daryanto dan

(36)

Oleh sebab itu, bahan ajar menjadi bagian yang penting dalam proses belajar

mengajar yang menempati kedudukan yang menentukan keberhasilan belajar

mengajar yang berkaitan dengan ketercapaian tujuan pembelajaran serta menentukan

kegiatan- kegiatan belajar mengajar (Hamalik, 2002: 139). Selanjutnya, menurut

Sanjaya (2008: 141) bahan ajar adalah segala sesuatu yang menjadi isi kurikulum

yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar dalam rangka

pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan pendidikan

tertentu.

Bahan ajar atau materi ajar pembelajaran (Instructional materials) secara garis besar

terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam

rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci,

jenis-jenis materi pembelajaran terdiri atas pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, dan

prosedur), keterampilan, dan sikap (Depdiknas, 2006: 3). Berdasarkan beberapa

pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa bahan ajar adalah sumber belajar

yang sangat dibutuhkan oleh siswa maupun guru untuk menunjang proses

pembelajaran agar berjalan secara maksimal.

2. Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar

Bahan ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru dalam

implementasi pembelajaran. Dalam implementasi pembelajaran bahan ajar memiliki

(37)

a. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan

mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan

karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik.

b. Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping

makalah-makalah teks yang terkadang sulit diperoleh.

c. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh apabila seorang guru mengembangkan

bahan ajar sendiri, yakni sebagai berikut.

a. Diperoleh bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan sesuai dengan

kebutuhan belajar siswa, tidak lagi bergantung pada makalah teks yang terkadang

sulit untuk diperoleh.

b. Bahan ajar menjadi lebih kaya karena dikembangkan dengan menggunakan

berbagai referensi.

c. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan

ajar.

d. Bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara

guru dengan siswa karena siswa akan merasa lebih percaya kepada gurunya.

e. Menambah angka kredit DUPAK (Daftar Ulasan Pengusulan Angka Kredit) jika

(38)

Adapun manfaat bagi peserta didik, yakni sebagai berikut.

a. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik;

b. Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan

terhadap kehadiran guru;

c. Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari sikap kompetensi yang harus

dikuasainya (Daryanto dan Dwicahyono, 2014: 171-172).

3. Prinsip Penyusunan Bahan Ajar

Depdiknas (2006: 11) mengungkapkan “pengembangan bahan ajar hendaknya

memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran berikut. (1) mulai dari yang mudah

untuk memahami yang sulit, dari yang konkret untuk memahami yang abstrak; (2)

pengulangan memperkuat pemahaman; (3) umpan balik positif memberikan

penguatan terhadap pemahaman siswa; (4) motivasi yang tinggi merupakan salah satu

faktor penentu keberhasilan belajar; (5) mencapai tujuan; dan (6) mengetahui hasil

yang dicapai”.

Selain prinsip di atas, Prastowo (2013: 317) menjelaskan “ada beberapa prinsip yang

perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran.

Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi Prinsip-prinsip relevansi, konsistensi,

dan kecukupan. Ketiga penerapan prinsip-prinsip tersebut dipaparkan sebagai berikut.

1. Prinsip relevansi, artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau

ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian SK dan KD. Cara termudah

(39)

dikuasai siswa. Dengan prinsip dasar ini, guru akan mengetahui apakah materi

yang hendak diajarkan tersebut materi fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap

atau aspek psikomotorik sehingga pada gilirannya guru terhindar dari kesalahan

pemilihan jenis materi yang tidak relevan dengan pencapaian SK dan KD.

2. Prinsip konsistensi, artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai

siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi

empat macam.

3. Prinsip kecukupan, artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai

dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak

boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan

kurang membantu mencapai SK dan KD. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan

membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.

Dari penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa dalam penyusunan bahan

ajar, hal utama yang perlu diperhatikan adalah kurikulum. Setiap penyusunan bahan

ajar, hendaknya disesuaikan dengan kurikulum yang sedang berlaku dan dalam

penyusunan bahan ajar harus memperhatikan prinsip-prinsip dari bahan ajar itu

sendiri, sehingga nantinya bahan ajar dapat digunakan secara maksimal.

4. Pengembangan Bahan Ajar

Pengembangan bahan ajar yang akan dilakukan mempertimbangkan beberapa

(40)

(3) penentuan jenis bahan ajar. Analisis KI-KD dilakukan untuk menentukan

kompetensi-kompetensi mana yang memerlukan bahan ajar (Abidin, 2014: 270).

Selanjutnya, bahan ajar paling tidak mencakup beberapa hal sebagai berikut.

1. Petunjuk belajar.

2. Kompetensi yang akan dicapai.

3. Informasi pendukung.

4. Latihan-latihan.

5. Petunjuk kerja berupa lembar kerja.

6. Evaluasi (Majid, 2013: 174).

Bahan ajar merupakan bahan atau materi pembelajaran yang disusun secara sistematis

yang digunakan guru dan siswa dalam KBM (Daryanto dan Dwicahyono, 2014: 176).

Tujuan bahan tersebut sebagai berikut.

1. Menimbulkan minat baca.

2. Ditulis dan dirancang untuk siswa.

3. Menjelaskan tujuan intruksional.

4. Disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel.

5. Struktur berdasarkan kebutuhan siswa dan kompetensi akhir yang akan dicapai.

6. Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih.

7. Mengakomodasi kesulitan siswa.

8. Memberikan rangkuman.

9. Gaya penulisan komunikatif dan semi formal.

(41)

11. Dikemas untuk proses intruksional.

12. Mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari siswa.

13. Menjelaskan cara mempelajari bahan ajar.

5. Jenis Bahan Ajar

Menurut Daryanto dan Dwicahyono (2014: 173), bahan ajar memiliki beberapa jenis

di dalam pembelajaran. Adapun jenis-jenis bahan ajar tersebut adalah sebagai berikut.

1. Bahan ajar pandang (visual) terdiri atas bahan cetak (printed) antara lain handout,

buku, modul, lembar kerja peserta didik, brosur, leaflet, wallchart, foto atau

gambar. Noncetak (non printed) antara lain model atau maket.

2. Bahan ajar dengar (audio) antara lain kaset, radio, dan compact disc audio.

3. Bahan ajar pandang dan dengar (audio visual) antara lain video compact disk, dan

film.

4. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) antara lain CAI

(Computer Assisterd Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajaran

interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).

Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi

empat kategori sebagai berikut.

1. Bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja

siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket.

2. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, dan compact disk audio.

(42)

4. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI

(Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajarn

interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials)

(Majid, 2013: 174).

Bahan ajar cetak yang tersusun dengan baik mendatangkan beberapa keuntungan

sebagai berikut.

1. bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi sehingga memudahkan bagi

seorang guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang sedang

dipelajari;

2. biaya untuk pengadaannya relatif sedikit;

3. bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah

susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu;

4. bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca di mana saja

5. bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan aktivitas,

seperti menandai, mencatat, dan membuat sketsa;

6. bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar;

7. pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri (Majid, 2013: 175).

Majid (2013: 175) mengemukakan bahwa jenis bahan ajar cetak, antara lain sebagai

berikut.

a. Handout

Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk

(43)

beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan atau KD

dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik. Saat ini handout dapat

diperoleh dengan berbagai cara, antara lain dengan cara download dari internet,

atau menyadur dari sebuah buku.

b. Buku

Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran dari

pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara, misalnya

hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil

imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi. Buku adalah sejumlah lembaran

kertas baik cetakan maupun kosong yang dijilid dan diberi kulit. Buku sebagai

bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu ilmu pengetahuan hasil analisis

terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis. Buku yang baik adalah buku yang ditulis

dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, disajikan secara

menarik dilengkapi dengan gambar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga

menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisannya.

c. Modul

Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat

belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi

paling tidak tentang, 1) petunjuk belajar (petunjuk siswa atau guru); 2) kompetensi

yang akan dicapai; 3) konten atau isi materi; 4) informasi pendukung; 5) latihan-

latihan; 6) petunjuk kegiatan; 7) evaluasi; 8) balikan terhadap hasil evaluasi. Sebuah

(44)

Pembelajaran dengan modul memungkinkan seorang peserta didik yang memiliki

kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menyelesaikan satu atau lebih KD

dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Dengan demikian maka modul harus

menggambarkan KD yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan

menggunakan bahasa yang baik, menarik, dan dilengkapi dengan ilustrasi.

d. Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) adalah lembaran-lembaran yang berisi

tugas dan harus dikerjakan oleh peserta didik. Tugas yang diperintahkan dalam

lembar kegiatan harus jelas KD yang akan dicapainya. Tugas-tugas sebuah lembar

kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak

dilengkapi dengan buku lain atau referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya.

Keuntungan adanya lembar kegiatan bagi guru, yakni memudahkan guru dalam

melaksanakan pembelajaran, sedangkan bagi siswa akan belajar secara mandiri dan

belajar memahami dan menjalankan suatu tugas tertulis. Dalam menyiapkannya guru

harus cermat dan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, karena

sebuah lembar kerja harus memenuhi paling tidak kriteria yang berkaitan dengan

tercapai/ tidaknya sebuah KD dikuasai oleh peserta didik.

e. Brosur

Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun

secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan

(45)

lengkap tentang perusahaan atau organisasi. Dengan demikian, brosur dapat

dimanfaatkan sebagai bahan ajar, selama sajian brosur diturunkan dari KD yang harus

dikuasai oleh siswa. Mungkin saja brosur dapat menjadi bahan ajar yang menarik

karena bentuknya yang menarik dan praktis. Agar lembaran brosur tidak terlalu

banyak sebaiknya brosur didesain hanya memuat satu KD saja. Ilustrasi dalam sebuah

brosur akan menambah menarik minat peserta didik untuk menggunakannya.

f. Leaflet

Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat, tetapi tidak

dimatikan atau dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat

dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat

serta mudah dipahami. Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi yang

dapat menggiring peserta didik untuk menguasai satu atau lebih KD.

g. Wallchart

Wallchart adalah bahan cetak, biasanya berupa bagan siklus atau proses atau

grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu. Agar wallchart terlihat lebih

menarik bagi siswa maupun guru, maka wallchart didesain dengan menggunakan

tata warna dan pengaturan proporsi yang baik. Wallchart biasanya masuk dalam

kategori alat bantu melaksanakan pembelajaran, namun dalam hal ini wallchart

didesain sebagai bahan ajar. Wallchart harus memenuhi kriteria sebagai bahan ajar

yakni memiliki kejelasan tentang KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh

(46)

Sebagai contoh wallchart tentang siklus binatang antara lain ular, tikus, dan

lingkungannya.

h. Foto atau Gambar

Foto atau gambar sebagai bahan ajar tentu saja diperlukan satu rancangan yang

baik agar setelah selesai melihat sebuah atau serangkaian foto/gambar siswa dapat

melakukan sesuatu yang pada akhirnya menguasai satu atau lebih KD. Melalui

membaca yang dapat diingat hanya 10%, dari mendengar yang diingat 20%, dan

dari melihat yang diingat 30%. Foto atau gambar yang didesain secara baik dapat

memberikan pemahaman yang lebih baik. Bahan ajar ini dalam menggunakannya

harus dibantu dengan bahan tertulis. Bahan tertulis dapat berupa petunjuk cara

menggunakannya dan atau bahan tes.

B. Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Penelitian pengembangan ini akan menghasilkan produk bahan ajar berupa Lembar

Kegiatan Peserta Didik (LKPD) menulis cerita fantasi dengan model pembelajaran

Project Based Learning. Berikut ini diuraikan selengkapnya mengenai Lembar

Kegiatan Peserta Didik (LKPD).

1. Pengertian Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) merupakan sebuah perangkat

pembelajaran yang berperan penting dalam pembelajaran. LKPD yaitu berupa

(47)

LKPD merupakan suatu bahan ajar cetak yang berupa lembaran-lembaran

yang berisi materi, ringkasan dan petunjuk yang harus dilaksanakan oleh

peserta didik. Dalam hal ini tugas- tugas tersebut sudah disesuaikan dengan

kompetensi dasar yang harus dicapai.

“Worksheet is a kind of printed instructional material that is prepared and frequently used by teachers in order to help students to gain knowledge, skills, and value by providing helpful comment about the course objectives and enabling students to engage in active learning and learning-by-doing in out of the school (Kaymakci, 2012: 57).”

“Lembar kegiatan adalah sejenis bahan ajar cetak yang disiapkan dan sering digunakan oleh guru untuk membantu siswa mendapatkan pengetahuan,

keterampilan, dan nilai dengan memberikan komentar bermanfaat tentang tujuan khusus dan memungkinkan siswa untuk terlibat dalam pembelajaran aktif dan pembelajaran dapat dilakukan di keluar sekolah (Kaymakci, 2012: 57).”

Jadi, berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa LKPD merupakan sebuah

kumpulan lembaran-lembaran kertas yang berisi materi, tugas-tugas yang harus

dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, serta langkah-langkah yang harus dilakukan

dalam pembelajaran. Tugas-tugas yang diberikan dalam LKPD harus jelas dan sesuai

dengan materi yang diajarkan sehingga kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran

yang akan dicapai dapat tercapai dengan baik.

Menurut Prastowo (2012: 205) dalam menyiapkan LKPD, ada beberapa syarat yang

mesti dipenuhi oleh pendidik. Pendidik harus cermat, serta memiliki pengetahuan dan

keterampilan yang memadai untuk bisa membuat LKPD yang bagus. Sebuah LKPD

harus memenuhi kriteria yang berkaitan dengan tercapai atau tidaknya sebuah

(48)

2. Fungsi Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Berdasarkan pengertian di atas Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) memiliki

beberapa fungsi. Menurut Prastowo (2012: 205), LKPD memiliki empat fungsi

sebagai berikut.

1. Sebagai bahan ajar yang meminimalkan peran pendidik, namun lebih

mengaktifkan peserta didik.

2. Sebagai bahan ajar yang mempermudah untuk memahami materi yang diberikan.

3. Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih, serta

4. Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik.

Selain sebagai media pembelajaran, LKPD juga mempunyai fungsi lain sebagai

berikut.

1. Sebagai alternatif bagi guru untuk mengarahkan pengajaran atau memperkenalkan

suatu kegiatan tertentu sebagai kegiatan pembelajaran.

2. Dapat digunakan untuk mempercepat proses pengajaran dan menghemat waktu

penyampaian topik.

3. Dapat untuk mengetahui seberapa jauh materi yang telah dikuasai oleh peserta

didik.

4. Dapat mengoptimalkan alat bantu pengajaran yang terbatas.

5. Membantu peserta didik dapat lebih aktif dalam proses belajar mengajar.

6. Dapat membantu meningkatkan minat peserta didik jika Lembar Kegiatan Peserta

Didik (LKPD) disusun secara rapi, sistematis mudah dipahami oleh peserta didik

(49)

7. Dapat menumbuhkan kepercayaan diri peserta didik dan meningkatkan motivasi

belajar dan rasa ingin tahu.

8. Dapat mempermudah penyelesaian tugas perorangan, kelompok, atau klasikal

karena peserta didik dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan kelompok.

9. Dapat melatih peserta didik menggunakan waktu seefektif mungkin.

10. Dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah.

3. Kriteria Kualitas Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Dalam sebuah pembelajaran Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) memiliki

peranan yang sangat penting, karena LKPD merupakan pedoman pendidik dalam

melakukan kegiatan pembejaran dan pemberian tugas-tugas kepada peserta didik.

Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) yang disusun harus memenuhi syarat-syarat

berikut ini, yakni syarat didatik, syarat konstruksi, dan syarat teknik. (Darmodjo dan

Kaligis dalam Rohaeti 2008: 3).

a. Syarat-Syarat Didaktik

Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) yang berkualitas harus memenuhi

syarat-syarat didaktik sebagai berikut.

a. Mengajak peserta didik aktif dalam proses pembelajaran.

b. Memberi penekanan pada proses untuk menemukan konsep.

c. Memiliki variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan peserta didik.

d. Dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral, dan

(50)

e. Pengalaman belajar ditentukan oleh tujuan pengembangan pribadi.

b. Syarat-syarat Konstruksi

LKPD yang berkualitas harus memenuhi syarat-syarat konstruksi sebagai berikut.

a. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan anak.

b. Menggunakan struktur kalimat yang jelas.

c. Syarat-syarat Teknik

1) Gunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf Latin atau Romawi.

2) Gunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik, bukan huruf biasa yang diberi

garis bawah.

3) Gunakan kalimat pendek, tidak boleh lebih dari satu kata dalam satu baris.

4) Gunakan bingkai untuk menentukan kalimat perintah dan jawaban peserta didik.

5) Usahakan agar besarnya huruf dan gambar sesuai.

d. Gambar

Gambar yang baik dalam Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) adalah gambar

yang dapat menyampaikan isi dari materi pelajaran yang disampaikan atau sedang

dipelajari. Agar peserta didik lebih memahami materi yang disampaikan.

e. Penampilan

Penampilan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) harus menarik karena anak akan

melihat LKPD dan lebih tertarik pada sampulnya. Maka LKPD dibuat semenarik

(51)

4. Sistematika Penulisan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Menurut Prastowo (2012: 210) sistematika penulisan LKPD adalah sebagai berikut.

1) Judul kegiatan, tema, sub tema, kelas, dan semester berisi topik kegiatan sesuai

dengan Kompetensi Dasar (KD) dan identitas kelas. Untuk LKPD dengan

pendekatan inkuiri maka judul dapat berupa rumusan masalah.

2) Tujuan pembelajaran sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD).

3) Alat dan bahan, jika kegiatan belajar memerlukan alat dan bahan, maka

dituliskan alat dan bahan yang diperlukan.

4) Prosedur kerja, berisi petunjuk kerja untuk peserta didik yang berfungsi

mempermudah peserta didik melakukan kegiatan belajar.

5) Tabel data, berisi tabel di mana peserta didik dapat mencatat hasil pengamatan

atau pengukuran. Untuk kegiatan yang tidak memerlukan data bisa diganti

dengan tabel/kotak kosong yang dapat digunakan peserta didik untuk menulis,

menggambar atau berhitung.

6) Bahan diskusi, berisi pertanyaan-pertanyaan yang menuntun peserta didik

melakukan analisis data dan melakukan konseptualisasi.

5. Langkah-langkah Menyusun Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) merupakan hal penting yang menunjang

pembelajaran. Oleh sebab itu, penyusunan LKPD harus dilakukan secara baik dan

LKPD yang disusun harus inovatif dan kreatif. Penyusunan LKPD harus

(52)

Prastowo (2012: 212) langkah-langkah dalam menyusun LKPD adalah sebagai

berikut.

1) Melakukan analisis kurikulum

Analisis kurikulum merupakan langkah pertama dalam penyusunan LKPD.

Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan materi-materi mana yang

memerlukan bahan ajar LKPD. Materi yang digunakan ditentukan dengan cara

melakukan analisis terhadap materi pokok, pengalaman belajar, serta materi yang

diajarkan.

2) Menyusun peta kebutuhan LKPD

Peta kebutuhan LKPD sangat diperlukan untuk mengetahui jumlah LKPD yang

harus ditulis serta melihat sekuensi atau urutan LKPD-nya. Menyusun peta

kebutuhan diambil dari hasil analisis kurikulum dan kebutuhan yang diperlukan

dalam pembelajaran sesuai dengan hasil analisis. Hal-hal yang biasa dianalisis

untuk menyusun peta kebutuhan di antaranya, KI, KD, indikator pencapaian, dan

LKPD yang sudah digunakan.

3) Menentukan judul LKPD

Judul ditentukan dengan melihat hasil analisis standar kompetensi dan kompetensi

dasar, materi-materi pokok, atau dari pengalaman belajar yang terdapat dalam

kurikulum. Satu kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi sebuah judul

LKPD. Jika kompetensi dasar tersebut tidak terlalu besar.

4) Penulisan LKPD

Penulisan LKPD memiliki langkah-langkah yang harus diperhatikan. Berikut

(53)

a. Merumuskan kompetensi dasar

Untuk merumuskan kompetensi dasar dapat dilakukan dengan melihat pada

kurikulum yang berlaku. Kompetensi dasar merupakan turunan dari standar

kompetensi. Untuk mencapai kompetensi dasar peserta didik harus mencapai

indikator-indikator yang merupakan turunan dari kompetensi dasar.

b. Menentukan alat penilaian

LKPD yang baik harus memiliki alat penilaian untuk menilai semua yang

sudah dilakukan. Penilaian dilakukan terhadap proses kerja dan hasil kerja

peserta didik. Alat penilaian dapat berupa soal pilihan ganda dan soal essai.

Penilaian yang dilakukan didasarkan pada kompetensi peserta didik, maka alat

penilaian yang cocok adalah menggunakan pendekatan Penilaian Acuan

Patokan (PAP). Dengan demikian demikian pendidik dapat melakukan

penilaian melalui proses dan hasilnya.

c. Menyusun materi

Sebuah LKPD di dalamnya terdapat materi pelajaran yang akan dipelajari.

Materi dalam LKPD harus sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.

Ketika menyusun materi untuk LKPD ada beberapa hal yang harus

diperhatikan. Materi LKPD dapat berupa informasi pendukung, gambaran

umum mengenai ruang lingkup materi yang akan dipelajari. Materi dalam

LKPD dapat diambil dari berbagai sumber seperti, buku, majalah, jurnal,

internet, dan sebagainya. Tugas-tugas yang diberikan dalam LKPD harus

tuliskan secara jelas guna mengurangi hal-hal yang seharusnya dapat

(54)

d. Memperhatikan struktur LKPD

Langkah ini merupakan langkah terakhir yang dilakukan dalam penyusunan

LKPD. Kita terlebih dahulu harus memahami segala sesuatu yang akan kita

gunakan dalam penyusunan LKPD, terutama bagian dasar dalam penyusunan

LKPD sebelum melakukan penyusunan LKPD. Komponen penyusun LKPD

harus sesuai apabila salah satu komponen penyusun LKPD tidak sesuai maka

LKPD tidak akan terbentuk.

C. Keterampilan Menulis

Keterampilan menulis sebagai salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang

mempunyai peranan penting di dalam kehidupan manusia. Dengan menulis,

seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan

tujuannya. Berikut ini diuraikan selengkapnya mengenai keterampilan menulis.

1. Pengertian Menulis

Keterampilan menulis merupakan satu dari empat keterampilan berbahasa yaitu

keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan menulis

merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk ber-komunikasi

secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain (Tarigan, 1994: 3).

Selain itu menulis merupakan suatu kegiatan menuangkan pikiran, gagasan, dan

perasaan seseorang yang diungkapkan dalam bahasa tulis (Rosidi, 2009: 2).

(55)

tersebut bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang terdiri dari

kegiatan menuangkan pikiran, gagasan, dan perasaan yang diungkapkan dalam

bahasa tulis sehingga tulisan tersebut dapat digunakan sebagai sarana komunikasi

tidak langsung.

Menulis bukanlah suatu keterampilan yang mudah karena untuk dapat menulis

dengan baik dan benar memerlukan latihan intensif. Kegiatan menulis sangat penting

dalam pendidikan karena dapat membantu siswa berlatih berpikir, mengungkapkan

gagasan, dan menecahkan masalah. Menulis adalah salah satu bentuk berpikir, yang

juga merupakan alat untuk membuat orang lain (pembaca) berpikir (Rosidi, 2009: 3).

Rosidi berusaha mengemukakan pentingnya menulis untuk melatih daya nalar

seseorang dan melaui menulis banyak sekali manfaat yang diperoleh yaitu di

antaranya dapat melatih pemikiran seseorang menjadi lebih kritis, menjadi sarana

untuk berkreatifitas menciptakan tulisan-tulisan yang bermanfaat dalam bentuk

karangan, artikel, cerpen, dan lain-lain.

2. Tujuan Menulis

Komunikasi dapat terjadi melalui tulisan, karena tulisan bisa dikatakan sebagai media

penghubung maksud dan tujuan antara si penulis dengan si pembaca. Seperti yang

dikatakan oleh Hartig dalam Tarigan (2008: 25) bahwa ada beberapa tujuan menulis

(56)

1. Tujuan Penugasan (Assignment Purpose)

Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis

menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri. Misalnya, siswa

menulis rangkuman buku atau sekretaris membuat laporan.

2. Tujuan Altruistik (Altruistik purpose)

Penulis bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan

para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan

dan penalarannya dan ingin membuat hidup para pembaca lebih menyenangkan

dengan karyanya.

3. Tujuan Persuasif (Persuasive Purpose)

Tulisan ini bertujuan untuk meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan yang

diutarakan.

4. Tujuan Informasional (Informasional Purpose)

Tulisan ini bertujuan untuk memberi informasi atau keterangan atau penerangan

kepada para pembaca.

5. Tujuan Pernyataan Diri (Self-Ekspressive Purpose)

Tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan diri sang pengarang kepada

pembaca.

6. Tujuan Kreatif (Creative Purpose)

Tujuan penulisan ini berhubungan dengan tujuan pernyataan diri. Namun,

keinginan penulis di sini lebih cenderung kepada keinginan untuk mencapai

(57)

7. Tujuan Pemecahan Masalah (Problem-Solving Purpose)

Dalam tulisan ini, penulis ingin memecahkan masalah yang dihadapi. Penulis

menjelaskan secara detil tentang pikiran-pikiran, ide-ide, dan gagasannya sendiri

agar dimengerti oleh pembaca.

3. Manfaat Menulis

Tarigan (2008: 16) mengemukakan ada empat manfaat dari menulis sebagai berikut.

1. Menulis menyenangkan dalam hal penjelajahan diri pribadi. Kegiatan menulis

dapat menjadi hal yang sangat menyenangkan karena dengan menulis, seseorang

mampu menjelajahi potensi dirinya.

2. Menulis membuat kita sadar akan kehidupan. Dalam kegiatan menulis, kepekaan

dan keterbukaan pikiran akan lingkungan sekitar dapat membuat seseorang

menyadari makna kehidupan sebenarnya.

3. Menulis membantu kita memahami diri kita lebih baik. Salah satu dari tujuan

menulis adalah untuk pernyataan diri. Dengan menulis, seseorang mampu

menyelami kepribadiannya sendiri dan secara tidak langsung, seorang penulis

dapat memahami kepribadiannya sendiri.

4. Menulis membantu memecahkan masalah. Salah satu tujuan dari menulis itu

adalah untuk memecah masalah. Tidak semua masalah dapat terselesaikan

dengan cara berbicara atau berdebat. Menulis bisa menjadi satu alternatif untuk

(58)

Pada dasarnya ketika seseorang menulis, orang tersebut menciptakan sebuah karya

yang mengungkapkan pikiran dan perasaannya tentang sesuatu yang ia alami sendiri

dan tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Ketika seseorang menuangkan idenya ke

dalam berbagai bentuk tulisan seperti cerpen, karangan, dan lainnya, pada prinsipnya

ia sedang mengalami proses kreativitas.

4. Tahap Menulis

Menulis dapat diartikan sebagai suatu kebiasaan untuk menyatakan gagasan atau

pendapat secara tertulis, ini berarti menulis adalah suatu aktivitas yang membutuhkan

proses dalam pengerjaannya. Dalman (2012: 15) menyatakan bahwa proses menulis

ada 3 tahap sebagai berikut.

1. Tahap Prapenulisan (Persiapan)

Tahap ini merupakan tahap pertama, tahap prapenulisan, atau tahap persiapan

adalah ketika pembelajar menyiapkan diri, mengumpulkan informasi,

merumuskan masalah, menetukan fokus, mengolah informasi, menarik tafsiran

dan inferensi terhadap realitas yang dihadapinya, berdiskusi, membaca,

mengamati, dan lain-lain yang memperkaya kognitifnya yang akan diproses

selanjutnya. Pada tahap prapenulisan ini terdapat aktivitas memilih topik,

menetapkan tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan, dan informasi yang

diperlukan, serta mengorganisasikan ide atau gagasan dalam bentuk karangka

(59)

2. Tahap Penulisan

Pada tahap penulisan, kita mengembangkan butir demi butir ide yang terdapat

dalam kerangka karangan, dengan memanfaatkan bahan atau informasi yang

telah kita pilih dan kita kumpulkan.Seperti yang kita ketahui, struktur karangan

terdiri atas bagian awal, isi, dan akhir. Awal paragraf berfungsi untuk

memperkenalkan dan sekaligus menggiring pembaca terhadap pokok tulisan kita,

bagian ini sangat menentukan. Karena itu, upayakan awal karangan semenarik

mungkin.Isi karangan menyajikan bahasan topik atai ide utama karangan, berikut

hal-hal yang menjelaskan atau mendukung ide tersebut, seperti contoh, ilustrasi,

informasi, bukti, atau alasan. Akhir karangan berfungsi untuk mengembalikan

pembaca pada ide-ide inti dan penekanan ide-ide penting. Bagian ini berisi

simpulan, dan ditambah rekomendasi atau saran bila diperlukan.

3. Tahap Pascapenulisan

Tahap ini merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram yang kita

hasilkan. Kegiatanya terdiri atas penyuntingan dan perbaikan (revisi). Kegiatan

penyuntingan dan perbaikan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai

berikut.

a. Membaca keseluruhan karangan.

b. Menandai hal yang perlu diperbaiki atau memberi catatan bila ada

hal-hal yang harus diganti, ditambahkan, disempurnakan.

Figure

Tabel 1.1 Data Nilai Rata-Rata Siswa Kelas VII Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2018/2019
Tabel 2.1 Manfaat Pembelajaran Project Based Learning
Tabel 2.2 Perbedaan PBL dengan PjBL
Tabel. 3.1 Angket Wawancara Siswa Terhadap Kebutuhan LKPD
+7

References

Related documents

Topics include data modeling; storage system design of disk arrays, network attached storage, clusters and data centers: relational databases and the use of madlib techniques for

Two actors are relevant to apply the mapping rules: the first actor is responsible to provide his expertise in the SimModel data model, whereas the second actor knows

 Purpose – Obtain national picture of long distance travel of persons. living in

Wilson, have argued that the acceptance of Battered Woman Syndrome evidence shows a decline in the importance of personal responsibility in American society.&#34;

Nuttall’s Cottontail, Sylvilagus nuttallii nuttallii (Bach man), is a species of shrub-steppe habitats of the North american great Basin ecosystems that extend from southern

This study focuses on the implementation of Project Based Learning (PjBL) in writing greeting card to enhance students’ writing ability and creativity.. It is based on the

Videoconferencing in small groups can be used for a variety of class activities, particularly discussion and peer feedback activities. Tools such as CMA can enable teachers of

hippocampal volume, FC changes and episodic memory capabilities needs to be further investigated to clarify the mechanisms that underlie alterations in these cognitive domains