EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN ALQURUN TEACHING MODEL DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
MATEMATIS SISWA
(Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 33 Bandarlampung Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020)
(Skripsi)
Oleh
PIYA ANGGRAINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN ALQURUN TEACHING MODEL DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
MATEMATIS SISWA
(Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 33 Bandarlampung Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020)
Oleh
PIYA ANGGRAINI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran alqurun teaching model ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 33 Bandarlampung semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020 yang terdistribusi dalam 8 kelas. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIII A dan VIII H yang dipilih dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Desain penelitian ini ialah the randomized posttest-only control group design. Data penelitian diperoleh melalui tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Dengan menggunakan uji-tdengan α = 0,05 dan uji proporsi, diperoleh kesimpulan bahwa
pembelajaran alqurun teaching model tidak efektif ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN ALQURUN TEACHING MODEL DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
MATEMATIS SISWA
(Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 33 Bandarlampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2019/2020)
Oleh
PIYA ANGGRAINI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Matematika
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 25 September 1996. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan dari Bapak Cundariya dan Ibunda Winarni dan memiliki kakak perempuan bernama Kori Yantina.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 1 Rawa Laut Bandarlampung pada tahun 2008, pendidikan menengah pertama di SMP Arjuna Bandarlampung pada tahun 2011, dan pendidikan menengah atas di SMA Utama 2 Bandarlampung pada tahun 2014. Melalui jalur Penerimaan Mahasiswa Perluasan Akses Pendidikan pada tahun 2015, penulis diterima di Universitas Lampung sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Motto
“There is no life without struggle”
(Santosh Kalwar)
Persembahan
Bismillahirahmanirohim
Alhamdulillahirobbil ‘alamin
Segala puji bagiAllah Subhanahu Wata’ala, Dzat yang Maha Sempurna. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
Wa sallam
Dengan kerendahan hati, ku persembahkan karya sederhana ini sebagai tanda kasih sayangku kepada:
Papah Cundariya dan Mamah Winarni yang telah membesarkanku dan mendidikku dengan penuh kasih sayang,
terima kasih untuk setiap doa yang tidak pernah kalian umbar, pengorbanan yang selalu kalian berikan,
dan setiap harapan yang selalu kalian simpan,
sehingga anakmu ini yakin bahwa Allah Subhanahu Wata’ala selalu memberikan
yang terbaik untuk hamba-Nya.
Semoga karya ini bisa menjadi salah satu dari sekian banyak alasan untuk membuat papah dan mamah tersenyum.
Kakakku tersayang Kori Yantina, serta seluruh keluarga besar yang terus memberikan dukungan dan doanya padaku.
Seluruh keluarga besar Pendidikan Matematika Para pendidik yang telah mengajar dengan penuh kesabaran. Semua sahabat yang selalu ada dan begitu tulus menyayangiku saat bahagia
ii
SANWACANA
Alhamdulillahirobbil‘alamin, puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala
yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah atas manusia yang akhlaknya paling mulia, yang telah membawa perubahan luar biasa, menjadi uswatun hasanah, yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Skripsi yang berjudul “Efektivitas Pembelajaran Alqurun Teaching Model Ditinjau dari Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 33 Bandarlampung Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020)” disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus ikhlas kepada:
1. Kedua orang tuaku dan kakakku, serta seluruh keluarga besarku yang selalu mendoakan, memberikan motivasi, dukungan dan semangat kepadaku.
iii
memberikan semangat, motivasi serta kritik dan saran yang membangun selama penulis menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan dalam menyusun skripsi sehingga skripsi ini selesai dan menjadi lebih baik.
3. Widyastuti, S.Pd., M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing, memotivasi, serta memberikan kritik yang membangun dan saran selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.
4. Dr. Sri Hastuti Noer, M.Pd., selaku Dosen Pembahas sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Matematika yang telah memberikan masukan dan saran yang membangun sehingga skripsi ini dapat selesai dan menjadi lebih baik.
5. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Unila yang telah memberikan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 6. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung
beserta jajaran dan stafnya yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak dan Ibu dosen Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis. 8. Hi. Muhammad Yusri, S.Pd. M.M., selaku Kepala SMP Negeri 33
Bandarlampung beserta wakil, guru-guru, dan staf tata usaha yang telah memberikan kemudahan selama penelitian.
9. Gusdina Safitri, S.Pd., selaku guru mitra yang telah banyak membantu dan memberikan masukan serta semangat dalam penelitian ini.
iv
11. Sahabat-sahabatku tersayang Ria Hidayani, Indah Sriwahyuni, Suci Indah Safitri, Ambar Hanifah, Ratna Ayu Muslimah, dan Annisa Permatasari yang selalu menemani dalam keadaan senang maupun susah selama menjalani perkuliahan dari awal hingga akhir, terimakasih atas 4 tahun yang berharga yang telah dihabiskan bersama, semoga kita dapat berkumpul dan bermain lagi dilain kesempatan.
12. Teman-temanku tersayang Ditianti, Sella, Anika, Ariani, Ajeng, Devi, Irma Wati, Nurul, terimakasih atas dukungan dan semangat yang diberikan selama ini.
13. Kakak tingkatku angkatan 2014: Dwi Permatasari, Restu Hartini, serta lainnya atas bantuan dan ilmu yang telah diberikan.
14. Teman-teman seperjuangan ketika penyusunan skripsi Ria, Indah, Sella, Deta, Mba Siska, Mba Santi, serta lainnya yang tidak dapat disebutkan namanya satu-persatu, atas semua bantuannya dan kebersamaan yang telah diberikan selama ini.
15. Teman-teman KKN-KT di Desa Banjarejo Kecamatan Batang Hari Kabupaten Lampung Timur. Maila Niamas Shodiqoh, Tri Indah Lestari, Nur Muttoharoh, Zahra Qurrota Aini, Miftahul Hidayati, Ana Aprilya, Hanisaul Khoiriyah, Tito Gustowo, Eri Sandika Yunanda atas kebersamaan selama kurang lebih 45 hari yang penuh makna dan kenangan.
v
17. Seluruh guru dan siswa-siswi SMP 33 Bandar Lampung tahun pelajaran 2019/2020, terimakasih telah memberikan pengalaman yang tak terlupakan. 18. Mba Reni dan Mba Eka serta Pengurus Gedung G FKIP Pak Mariman, dan
Pak Liyanto, terima kasih atas bantuan dan perhatiannya selama ini. 19. Almamater tercinta yang telah mendewasakanku.
20. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga kebaikan, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan pada penulis mendapat balasan pahala yang setimpal dari Allah Subhanahu Wata’ala dan semoga skripsi ini bermanfaat.
Bandar Lampung, 22 Januari 2020 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 10
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori ... 11
1. Efektivitas Pembelajaran ... 11
2. Kurikulum 2013 ... 13
3. Alqurun Teaching Model (ATM) ... 14
4. Model Pembelajaran Konvensional ... 17
5. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis ... 18
B. Definisi Operasional ... 22
C. Kerangka Pikir ... 23
D. Anggapan Dasar... 26
vii III. METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel ... 28
B. Desain Penelitian ... 29
C. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 30
D. Data Penelitian ... 31
E. Teknik Pengumpulan Data... 31
F. Instrumen Penelitian ... 31
G. Teknik Analisis Data... 37
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 43
1. Analisis Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa ... 43
2. Hasil Uji Hipotesis Pertama (Uji Kesamaan) ... 44
3. Hasil Uji Hipotesis Kedua (Uji Proporsi) ... 45
4. Analisis Pencapaian Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa ... 45
B. Pembahasan ... 46
V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 57
B. Saran ... 57
DAFTAR PUSTAKA ... 59
viii
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 3.1 Rata-rata Nilai UAS Matematika Semester Genap Kelas VII
SMP Negeri 33 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2018/2019 ... 28 Tabel 3.2 Desain Penelitian... 30 Tabel 3.3 Kriteria Koefisien Reabilitas... 33 Tabel 3.4 Interpretasi Nilai Daya Pembeda ... 34 Tabel 3.5 Nilai Indeks Daya Pembeda Butir Soal Instrumen Tes
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis... 35 Tabel 3.6 Kriteria Interpretasi Tingkat Kesukaran... 36 Tabel 3.7 Tingkat Kesukaran Butir Soal Instrumen Tes Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematis ... 36 Tabel 3.8 Rekapitulasi Uji Normalitas Sampel Data Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematis Siswa... 38 Tabel 4.1 Rekapitulasi Data Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa ... 43 Tabel 4.2 Pencapaian Indikator Kemampuan Pemecahan
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman A. PERANGKAT PEMBELAJARAN
A.1 Silabus Pembelajaran ATM... 66
A.2 Silabus Pembelajaran Konvensional ... 74
A.3 RPP Pembelajaran ATM ... 81
A.4 RPP Pembelajaran Konvensional ... 102
A.5 Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ... 123
B. PERANGKAT TES B.1 Kisi-Kisi Soal Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis 178 B.2 Soal Postest Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis ... 181
B.3 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis... 183
B.4 Rubrik Penilaian Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis... 184
B.5 Form Validasi Posttest ... 189
C. ANALISIS DATA C.1 Analisis Reliabilitas Hasil Uji Coba Instrumen Tes... 192
C.2 Analisis Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis ... 193
x
C.4 Uji Normalitas Data Kemampuan Awal Pemecahan
Masalah Matematis Siswa Kelas Eksperimen ... 197 C.5 Uji Normalitas Data Kemampuan Awal Pemecahan
Masalah Matematis Siswa Kelas Kontrol... 200 C.6 Uji Homogenitas Data Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol... 203 C.7 Uji Kesamaan Rata-rata Kemampuan Awal Pemecahan
Masalah Matematis Siswa ... 205 C.8 Rekapitulasi Data Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 208 C.9 Nilai Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
Kelas Eksperimen ... 210 C.10 Uji Normalitas Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Siswa Kelas Eksperimen ... 212 C.11 Uji Normalitas Data Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Kelas Kntrol ... 215 C.12 Uji Homogenitas Data Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol... 218 C.13 Uji Kesamaan Dua Rata-rata Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Siswa ... 220 C.14 Uji Proporsi Data Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Kelas Eksperimen ... 223 C.15 Pencapaian Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 225 C.16 Rekapitulasi Pencapaian Indikator Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol... 229 D. ADMINISTRASI PENELITIAN
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan yang pesat terutama di Era Globalisasi ini telah memberikan dampak positif pada semua aspek kehidupan bangsa Indonesia, termasuk juga aspek pendidikan. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peseta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan menjadi proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi.
2
oleh pengetahuan dan pemahaman terhadap pengetahuan baru. Pemahaman akan pengetahuan baru dapat diperoleh dimana saja, salah satunya melalui pembelajaran di sekolah, melalui interaksi siswa dengan sumber belajar. Pembelajaran menjadi sebuah proses untuk perubahan yang terjadi dalam proses pendidikan. Sufiani (2017: 131) mengemukakan bahwa kegiatan pembelajaran merupakan inti kegiatan dalam pendidikan yang akan melibatkan semua komponen pembelajaran dan akan menentukan tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Berdasarkan UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 20 dinyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dengan demikian melalui pembelajaran akan terjadi proses tahu, paham sesuatu ilmu, dan mengetahui bagaimana menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat ini pendidikan di Indonesia sudah menerapkan kurikulum 2013 dimana pembelajaran berpusat pada peserta didik dan dilaksanakan pada pembelajaran di semua mata pelajaran. Salah satu mata pelajaran yang penting di setiap jenjang pendidikan adalah matematika. Hal ini sejalan dengan pendapat Glenda (2009: 6) yang menyatakan matematika sebagai mata pelajaran paling penting pada kurikulum di seluruh negara, karena mempengaruhi banyak hal untuk menciptakan dan menguasai teknologi masa depan.
3
permasalahan yang dihadapi dari berbagai bidang yang dibutuhkan. Afgani (2011) mengemukakan bahwa kebermaknaan dalam belajar matematika akan muncul manakala aktivitas yang dikembangkan dalam belajar matematika memuat standar proses pembelajaran matematika, yakni pemahaman, penalaran, komunikasi, koneksi, pemecahan masalah, dan representasi.
Menurut Widjajanti (2009: 405), salah satu tujuan belajar matematika bagi siswa adalah agar mempunyai kemampuan atau keterampilan dalam memecahkan masalah atau soal-soal matematika sebagai sarana baginya untuk mengasah penalaran yang cermat, logis, kritis, analitis, dan kreatif. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang terdapat dalam Lampiran Permendikbud Nomor 58 Tahun 2014 yang menyebutkan bahwa tujuan mata pelajaran matematika adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. Sehingga salah satu tujuan mata pelajaran matematika yang harus dikuasai peserta didik yaitu kemampuan pemecahan masalah.
4
penalaran dan bukti, koneksi matematis, komunikasi matematis, dan representasi matematis. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kemampuan pemecahan masalah terutama dalam pembelajaran matematika.
Pentingnya kemampuan pemecahan masalah matematis yang telah dipaparkan, sehingga membuat siswa harus memiliki kemampuan tersebut. Namun, faktanya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di Indonesia masih kurang baik. Hal ini terlihat dari hasil survey Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2015 bahwa Indonesia memperoleh skor rata-rata 397
dan Indonesia menduduki peringkat 44 dari 49 negara. Selanjutnya berdasarkan survei dari Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2015 bahwa Indonesia berada pada peringkat ke 69 dari 76 negara dan memperoleh skor sebesar 386 poin (OECD, 2016). Aspek yang dinilai dalam PISA yaitu kemampuan komunikasi, kemampuan penalaran, dan kemampuan pemecahan masalah (PISA, 2015). Berdasarkan data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa Indonesia masih rendah.
Rendahnya kemampuan pemecahan masalah juga terjadi pada siswa kelas VII SMP Negeri 33 Bandar Lampung. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan pada kelas VII E diketahui bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari jawaban yang diberikan siswa
dalam menjawab soal berikut, “Suatu segitiga sama kaki memiliki panjang kaki sama dengan 4 kali panjang sisi lainnya. Agar keliling segitiga tersebut tidak kurang dari 36 m, berapakah panjang minimum masing-masing sisi segitiga
5
diperoleh dari pengukuran sebanyak 31 siswa tidak satupun yang bisa menjawab soal tersebut dengan benar. Didapatkan persentase jawaban siswa yaitu sebanyak 41,94% tidak menjawab dan 58,06% menjawab, siswa yang dapat menjawab tidak menuliskan penyelesaian soal dengan lengkap dan benar dan tidak menuliskan model matematika dengan benar dan lengkap, sehingga tidak dapat menafsirkan hasil yang diperoleh dengan membuat kesimpulan, hal ini dikarenakan siswa belum mampu membuat kaitan antara yang diketahui dan yang ditanyakan, serta siswa belum mampu menguraikan langkah-langkah yang akan digunakan.
[image:23.595.121.483.586.702.2]Terlihat pada siswa yang tidak menjawab maupun siswa yang mampu menjawab, siswa kurang memahami masalah pada soal dan kurang mampu memilih cara atau strategi yang tepat dalam menyelesaikannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Rostika & Junita (2017: 36), yang mengatakan bahwa kriteria siswa dapat dikatakan mampu menyelesaikan atau memecahkan masalah, apabila ia dapat memahami masalah yang terjadi, mampu memilih cara atau strategi yang tepat dalam menyelesaikannya, serta dapat menerapkannya dalam penyelesaian masalah tersebut. Adapun beberapa contoh jawaban siswa dapat dilihat pada Gambar 1.1 berikut.
6
Gambar 1.1 (b) Contoh jawaban siswa yang menuliskan informasi soal tetapi tidak melanjutkan ke tahap penyelesaian dengan benar dan lengkap.
Dari seluruh jawaban siswa tersebut, terlihat bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah kontekstual yang mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis karena siswa belum mampu memahami masalah, merencanakan pemecahan, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali hasil. Sehingga siswa membutuhkan kemampuan pemecahan masalah matematis yang baik untuk dapat menyelesaikan persoalan tersebut.
[image:24.595.126.499.86.285.2]7
strategi yang tepat untuk menyelesaikannya dan akan merasa kebingungan ketika dihadapkan dengan persoalan yang tidak memiliki rumus baku yang sifatnya hapalan. Hal tersebut membuat siswa tidak dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis yang dimilikinya, sehingga kemampuan pemecahan masalah matematis siswa rendah. Menurut Sofyan & Sukandar (2015: 2) rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa akan mempengaruhi kualitas belajar siswa yang berdampak pada rendahnya prestasi belajar siswa di sekolah.
Meskipun demikian, beberapa usaha guru sudah dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, yaitu dengan mengadakan belajar kelompok, namun tidak disertai dengan LKPD dan sumber belajar yang kurang memadai sehingga siswa tetap meminta penjelasan materi dari guru walaupun sudah dikondisikan untuk berdiskusi dengan kelompok dan memberikan tambahan soal latihan yang berbentuk cerita dan sebagainya. Usaha yang dilakukan guru tersebut belum menunjukkan hasil yang maksimal dan belum mampu mencapai tujuan yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang diterapkan kurang efektif.
8
yang diharapkan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Luritawaty & Nuraeni (2015: 14) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, salah satu langkah yang dapat digunakan oleh guru adalah memilih model pembelajaran yang tepat. Untuk itu sangat diperlukan efektivitas dari model pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Model pembelajaran yang diduga efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yaitu Alqurun Teaching Model (ATM). Pembelajaran melalui model ini, melibatkan siswa
secara aktif dalam bentuk kelompok dan langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang terdapat di LKPD sebagai penunjang siswa sehingga permasalahan yang dihadapi dapat benar-benar dipahami dan menyelesaikannya secara bertahap dan rinci sehingga diperoleh penyelesaian yang tepat.
9
masalah, sehingga kemampuan pemecahan masalah matematis siswa akan meningkat. ATM adalah model pembelajaran yang memiliki urutan dengan memadukan antara urutan taksonomi Bloom dan kompetensi inti kurikulum 2013 (Sutiarso, 2016). Pembelajaran ini menuntut siswa menjadi lebih aktif dan memiliki keterampilan dalam menyelesaikan permasalah dengan strategi yang tepat. Pada pembelajaran ATM cenderung terpusat pada siswa sedangkan guru hanya sebagai fasilitator sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan atau kemampuan yang dimiliki dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Penelitian dengan model pembelajaran ATM juga telah dilakukan diantaranya yaitu hasil penelitian oleh Febriansari (2017) di kelas X SMA IT Ar-Raihan Bandar Lampung yang menunjukkan bahwa pembelajaran ATM efektif ditinjau dari kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Hasil penelitian oleh Lestari (2017) di kelas VIII SMP Negeri 2 Metro, menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa setelah mengikuti pembelajaran ATM lebih baik daripada sebelum mengikuti pembelajaran ATM. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian tentang efektivitas pembelajaran Alqurun Teaching Model ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa
kelas VIII SMP Negeri 33 Bandar Lampung.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
10
Berdasarkan rumusan masalah diatas, dapat dijabarkan pertanyaan penelitian secara rinci sebagai berikut:
1. Apakah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan pembelajaran ATM lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional?
2. Apakah proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis dengan nilai minimum 70 pada kelas dengan ATM lebih dari 60%?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran dengan ATM ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP Negeri 33 Bandar Lampung.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan terhadap perkembangan pendidikan dan pembelajaran matematika, terutama terkait dengan kemampuan pemecahan masalah matematis dan pembelajaran dengan ATM. 2. Manfaat Praktis
11
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Efektivitas Pembelajaran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas adalah sesuatu yang memiliki pengaruh atau akibat yang ditimbulkan, membawa hasil dan merupakan keberhasilan dari suatu usaha atau tindakan. Menurut Sufiani (2017: 131) menyatakan bahwa efektivitas merupakan upaya melakukan hal-hal yang tepat dalam rangka pencapaian sasaran-sasaran organisasi atau dengan kata lain sebagai usaha melaksanakan semua tugas pokok, ketepatan waktu dalam pelaksanaan dan tercapainya tujuan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa efektivitas adalah usaha atau tindakan yang dilakukan secara tepat sehingga tercapainya suatu tujuan.
12
kesempatan yang luas pada siswa, tepat guna, tercipta suasana yang kondusif dan mencapai tujuan yang diharapkan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Jusmawati (2015: 7) mengemukakan efektivitas pembelajaran ini mengacu pada empat kriteria efektif belajar. Kriteria efektif belajar ini meliputi: 1) 60% dari jumlah siswa memiliki skor hasil belajar melebihi kriteria ketuntasan minimal, 2) 60% dari jumlah siswa memiliki gain minimal berada pada kategori sedang, 3) rata-rata skor aktivitas minimal berada pada kategori baik. 4) rata-rata skor respon berada pada kategori positif. Lebih lanjut menurut Wicaksono (2008) pembelajaran dikatakan efektif apabila mengacu pada ketuntasan belajar yaitu 60% dari jumlah siswa memperoleh nilai ketuntasan minimal. Dalam pelaksanaannya, penggunaan kriteria ketuntasan ini bergantung dari ketetapan setiap sekolah. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap sekolah berbeda karena potensi atau kemampuan hasil belajar setiap siswa berbeda di masing-masing sekolah.
Sugiyono (2013: 415) menjelaskan bahwa pengujian metode mengajar dapat dilakukan dengan eksperimen, yaitu membandingkan efektivitas metode mengajar lama dengan yang baru dan metode mengajar yang diuji bisa dikatakan efektif apabila nilai kelompok eksperimen setelah diajar dengan metode mengajar baru secara signifikan lebih tinggi dari nilai kelompok kontrol yang diajar dengan menggunakan metode kerja lama.
13
pembelajaran. Dalam penelitian ini, pembelajaran dikatakan efektif apabila (a) peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan pembelajaran ATM lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, (b) persentase siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis dengan nilai minimum 70 pada kelas dengan ATM lebih dari 60%.
2. Kurikulum 2013
Mulyasa (2013: 163) menyatakan bahwa kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis karakter dan kompetensi. Kurikulum 2013 tidak hanya menekankan kepada penguasaan kompetensi siswa, melainkan juga sebagai instrumen untuk mengarahkan siswa menjadi manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah, manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan warga negara yang demokratis, bertanggung jawab. Pada kurikulum 2013 terdapat Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) yang merupakan jenjang yang harus dilalui siswa untuk sampai pada kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan.
14
3. Alqurun Teachinng Model (ATM)
Sutiarso (2016) menyatakan bahwa Alqurun Teaching Model adalah model pembelajaran yang memiliki urutan dengan memadukan antara urutan taksonomi Bloom dan kompetensi inti kurikulum 2013. Alqurun Teaching Model memiliki tujuh tahap pembelajaran yaitu: Acknowledge (pengakuan), Literature (penelusuran pustaka), Quest (menyelidiki), Unite (menyatukan/mensintesis), Refine (menyaring), Use (penggunan) dan Name (menamakan). Penjelasan
masing-masing urutan kegiatan Alqurun Teaching Model menurut Sutiarso (2016: 29) yaitu:
1. Acknowledge
Acknowledge atau pengakuan adalah kegiatan pendahuluan dalam pembelajaran.
15
2. Literature
Literature atau penelusuran pustaka merupakan kegiatan inti dalam pembelajaran.
Guru menyediakan atau memfasilitasi berbagai sumber belajar dari materi yang akan dipelajari siswa seperti buku, majalah, ensklopedia, kliping, video/film, rekaman suara, internet, dan lain-lain. Tahap penelusuran literatur ini dapat dilakukan pada saat belajar atau sebelum belajar. Nazir (2003: 27) menyatakan bahwa penelusuran pustaka adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.
3. Quest
Quest atau menyelidiki/menganalisis adalah kegiatan penyelidikan siswa terhadap
beberapa objek, fakta, atau data dari materi yang dipelajari. Guru berperan memberikan bimbingan, bantuan, atau pendampingan. Penyelidikan oleh Siswa harus didasarkan pada literatur yang ditelusuri sebelumnya. Penyelidikan siswa harus dapat memilah suatu objek, fakta, atau data menjadi beberapa bagian yang lebih kecil/sederhana.
4. Unite
Unite atau menyatukan/mensintesis adalah kegiatan menggabungkan berbagai
16
5. Refine
Refine atau menyaring adalah kegiatan siswa dalam menyaring atau memilih
gabungan unsur dari hasil kegiatan unite. Kegiatan refine ini bertujuan untuk mengendapkan unsur-unsur yang penting dari hasil kegiatan unite. Hermawan (2014: 5) menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar siswa perlu menyaring informasi yang didapat kemudian hanya mengambil informasi yang dibutuhkan oleh siswa dan mengabaikan informasi yang tidak dibutuhkan oleh siswa. Pada tahap refine untuk menyempurnakan pengetahuan baru yang diperoleh siswa, diperlukan menyaring informasi yang didapat. Selanjutnya guru memberikan kesempatan siswa untuk memasukkan materi tersebut dalam pikirannya.
6. Use
Use atau penerapan adalah kegiatan mengimplementasikan pengetahuan yang
diterima siswa dari hasil kegiatan inti sebelumnya. Penggunaan dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah atau soal yang berkaitan dengan materi tersebut. 7. Name
Name atau menamakan adalah kegiatan menentukan cara baru (mengkreasikan
atau menciptakan) penyelesaian masalah/soal yang paling efektif, dan siswa memberikan nama cara barunya tersebut. Siswa yang secara konsisten bisa berpikir sampai tahap ini maka siswa telah mencapai level berpikir tinggi. Guru berperan mengarahkan dan menguji efektivitas cara baru yang dinamakan siswa.
Menurut Rahayu (2012) “siswa dikatakan mampu Create jika dapat membuat
produk baru/ penyelesaian baru dengan merombak beberapa elemen atau bagian ke dalam bentuk atau stuktur yang belum pernah diterangkan oleh guru
17
Menurut Putri (2017) terdapat kelebihan dan kekurangan pada pembelajaran ATM yaitu sebagai berikut:
1. Kelebihan pembelajaran dengan ATM yaitu: (a) siswa lebih banyak memperoleh informasi terkait konsep yang diperoleh dari kegiatan Literature (penelusuran pustaka), (b) Pada tahap Use (penggunaan), siswa
menjadi terlatih dalam menyelesaikan soal yang diberikan.
2. Terdapat beberapa kekurangan pada pembelajaran dengan ATM yaitu: (a) Pada tahap literature membutuhkan waktu yang lama agar siswa dapat memahami informasi yang mereka dapatkan dan guru tidak menjamin siswa memahami materi hanya dengan membaca literature-literature yang ada tanpa bimbingan guru, (b) Pada tahap Use juga membutuhkan waktu lama.
Tahapan kegiatan pembelajaran dengan ATM yaitu: Acknowledge (pengakuan), Literature (penelusuran pustaka), Quest (menyelidiki), Unite
(menyatukan/men-sintesis), Refine (menyaring), Use (penggunan) dan Name (menamakan) menuntut siswa menjadi lebih aktif saat proses pembelajaran dan memiliki keterampilan dalam menyelesaikan permasalahan dengan strategi yang tepat.
4. Model Pembelajaran Konvensional
18
juga masih bersifat hapalan sehingga siswa mudah bosan dan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru mudah dilupakan.
Menurut Sanjaya (2010: 17) pembelajaran konvensional merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada guru. Hamiyah dan Jauhar (2014: 168) menyatakan bahwa dalam pembelajaran yang berpusat pada guru hampir seluruh kegiatan pembelajaran dikendalikan penuh oleh guru. Guru menjelaskan semua materi pada siswa, siswa mencatat hal-hal penting, dan bertanya apabila ada materi yang belum dipahami. Dengan kata lain, pada pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai pendengar dan penerima informasi secara pasif.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) dan pembelajaran ini biasanya menggunakan perpaduan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Pembelajaran konvensional yang akan diteliti adalah pembelajaran yang menggunakan Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik, yaitu pendekatan dengan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/mengolah informasi, mengomunikasikan.
5. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
19
kesanggupan atau kecakapan seorang individu dalam menguasai suatu keahlian yang digunakan untuk mengerjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menghadapi masalah yang akan membuat kita berpikir bagaimana menyelesaikan permasalahan tersebut. Menurut Sugiyono (2015: 52) masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan. Syahruddin (2016) menyatakan bahwa masalah adalah suatu situasi atau kondisi yang disadari dan memerlukan suatu tindakan penyelesaian tetapi tidak dengan langsung ditemukan cara penyelesaiannya.
Menurut Siswono (2008: 35) pemecahan masalah adalah suatu proses atau upaya individu untuk merespon atau mengatasi halangan atau kendala ketika suatu jawaban atau metode jawaban belum tampak jelas. Saad & Ghani (2008: 120) mengatakan bahwa pemecahan masalah adalah suatu proses terencana yang harus dilakukan supaya mendapatkan penyelesaian tertentu dari sebuah masalah yang mungkin tidak didapat dengan segera.
20
terutama dalam pelajaran matematika. Kadir (2010) mengemukakan bahwa dalam pemecahan masalah matematika terbentuk juga kemampuan matematika lainnya seperti penalaran dan bukti, koneksi matematis, komunikasi matematis, dan representasi matematis.
Menurut Polya (1985) menyatakan bahwa proses yang dapat dilakukan pada tiap langkah pemecahan masalah melalui beberapa pertanyaan berikut:
1. Langkah memahami masalah (understanding the problem), yaitu: (a) Apa yang diketahui atau apa yang ditanyakan?, (b) Data apa yang diberikan?, (c) Bagaimana kondisi soal? Mungkinkah kondisi dinyatakan dalam bentuk persamaan atau hubungan lainnya? Apakah kondisi yang diberikan cukup untuk mencari yang ditanyakan? Apakah kondisi itu tidak cukup atau kondisi itu berlebihan atau kondisi itu saling bertentangan?, (d) Buatlah gambar dan tulisan notasi yang sesuai!,
21
(e) Andaikan soal baru belum dapat diselesaikan, coba pikirkan soal serupa dan selesaikan!.
3. Melaksanakan rencana (carrying out the plan), yaitu: (a) Bagaimana melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa tiap langkahnya, memeriksa bahwa tiap langkah sudah benar?, (b) Bagaimana membuktikan bahwa langkah yang dipilih sudah benar?,
4. Memeriksa kembali proses dan hasil (looking break), yaitu: (a) Bagaimana cara memeriksa hasil kebenaran yang diperoleh?, (b) Dapatkah diperiksa sanggahannya? Dapatkah dicari hasil itu dengan cara yang lain?, (c) Dapatkah Anda melihatnya dengan sekilas? Dapatkah hasil atau cara itu digunakan untuk soal-soal lainnya?.
Indikator dari tahap pemecahan masalah menurut Polya (1985) yaitu:
1. Indikator memahami masalah, meliputi: (a) mengetahui apa saja yang diketahui dan ditanyakan pada masalah dan (b) menjelaskan masalah sesuai dengan kalimat sendiri.
2. Indikator merencanakan pemecahan, meliputi: (a) menyederhanakan masalah, (b) mampu membuat eksperimen dan simulasi, (c) mampu mencari sub-tujuan (hal-hal yang perlu dicari sebelum menyelesaikan masalah), (d) mengurutkan informasi.
3. Indikator melaksanakan rencana, meliputi: (a) mengartikan masalah yang diberikan dalam bentuk kalimat matematika, dan (b) melaksanakan strategi selama proses dan penghitungan berlangsung.
22
solusinya logis, (c) bertanya kepada diri sendiri apakah pertanyaan sudah terjawab.
Sumarmo (2010: 25) mengemukakan indikator pemecahan masalah meliputi: (1) mengidentifikasi kecukupan data untuk pemecahan masalah, (2) membuat model matematik dari suatu situasi atau masalah sehari-hari dan menyelesaikannya, (3) memilih dan menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika dan atau di luar matematika, (4) menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal, serta memeriksa kebenaran hasil atau jawaban, dan (5) menerapkan matematika secara bermakna.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam menerapkan ide-ide matematis pada situasi yang disadari dan memerlukan suatu tindakan penyelesaian. Kemampuan pemecahan masalah matematis sangat diperlukan siswa dalam proses pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini, kemampuan pemecahan masalah matematis yang akan diteliti adalah memahami masalah (understanding the problem), merencanakan pemecahan (devising a plan), melaksanakan rencana
(carrying out the plan) dan memeriksa kembali hasil (looking back).
B. Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini sebagai berikut:
23
2. ATM adalah model pembelajaran yang memiliki urutan dengan memadukan antara urutan taksonomi Bloom dan kompetensi inti kurikulum 2013 dengan tujuh tahap pembelajaran yaitu: Acknowledge (pengakuan), Literature (penelusuran pustaka), Quest (menyelidiki), Unite (menyatukan/mensintesis), Refine (menyaring), Use (penggunan) dan Name (menamakan).
3. Pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah pembelajaran menggunakan Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik yang telah digunakan di sekolah yang diteliti, yaitu pendekatan dengan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/mengolah informasi, mengomunikasikan.
4. kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam menerapkan ide-ide matematis pada situasi yang disadari dan memerlukan suatu tindakan penyelesaian
C. Kerangka Pikir
Penelitian tentang efektivitas model pembelajaran dengan ATM ditinjau dari Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis ini adalah penelitian yang terdiri dari satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah model pembelajaran ATM dan model pembelajaran konvensional, sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
24
Acknowladge (pengakuan) berupa pengakuan atas kebesaran Allah yang telah memberikan ilmu, nikmat dan memotivasi siswa agar selalu berpikir positif dengan selalu berusaha, berdoa dan selalu rajin belajar yang merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT atas ilmu yang telah diberikan. Kemudian, pengakuan terhadap kemampuan awal siswa dengan memberikan apersepsi sebagai pengantar untuk siswa dalam menerima pengetahuan baru dan memberikan penghargaan atau reward kepada siswa. Sehingga motivasi belajar siswa dapat meningkat. Pengakuan atas kebesaran Allah dilakukan dengan berdoa sebelum mengerjakan LKPD dan pengakuan terhadap kemampuan awal siswa diberikan berupa apersepsi yang terdapat di LKPD dan penghargaan atau reward bagi kelompok yang menyelesaikan LKPD dengan benar dan tepat waktu.
Tahap kedua yaitu Literature (penelusuran pustaka) merupakan kegiatan inti dalam pembelajaran, Pada tahap ini siswa diberikan kesempatan membaca sumber yang telah disediakan yaitu yang terdapat di LKPD maupun dari sumber-sumber lain sebagai penunjang. Siswa dibentuk kelompok untuk melakukan penelusuran pustaka mengenai materi yang akan dipelajari melalui sumber belajar yang disediakan oleh guru maupun sumber yang diperoleh siswa. Sehingga pada tahap ini, memudahkan siswa memperoleh pengetahuan agar dapat memahami masalah yang dihadapi.
25
untuk menggunakan pengetahuan yang diperoleh sehingga menemukan strategi yang tepat untuk memecahkan permasalahan tersebut. Pada tahap ini penting bagi siswa untuk memahami masalah agar dapat merencanakan penyelesaian masalah sesuai dengan objek, fakta, atau data yang diperoleh. Guru berkeliling untuk memantau dan membantu siswa yang mengalami kesulitan.
Tahap keempat dan tahap kelima yaitu Unite (menyatukan/mensintesis) dan Refine (menyaring). Setelah menyelidiki kemudian dilanjutkan dengan kegiatan
menyatukan objek, fakta, atau data yang diperoleh untuk menyelesaikan masalah di LKPD. Setelah siswa menyatukan, dilanjutkan dengan tahap refine (menyaring). Kegiatan refine ini bertujuan untuk mengendapkan unsur-unsur yang penting dari hasil kegiatan quest dan unite. Peran guru memberikan bimbingan, bantuan atau pendamping. Pada tahap ini penting bagi siswa untuk memahami masalah agar dapat merencanakan penyelesaian masalah sesuai dengan objek, fakta, atau data yang diperoleh. Sehingga pada tahap ini, indikator memahami masalah dan merencanakan penyelesaian masalah akan meningkat.
26
telah dibuat. Selanjutnya siswa mempresentasikan hasil diskusinya dan menyampaikan jawabannya terkait kesimpulan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Melalui tahap ini, indikator melaksanakan penyelesaian masalah dan memeriksa kembali hasil dapat berkembang.
Berdasarkan uraian di atas, melalui tujuh tahap kegiatan dalam ATM dapat membantu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis karena setiap tahapannya mengandung indikator yang terdapat dalam kemampuan pemecahan masalah matematis. Dapat disimpulkan bahwa ATM diduga efektif ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
D. Anggapan Dasar
Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Seluruh siswa kelas VIII semester ganjil SMP Negeri 33 Bandar Lampung Tahun pelajaran 2019/2020 memperoleh materi yang sama dan sesuai dengan Kurikulum 2013.
2. Faktor lain yang mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa selain pembelajaran dengan ATM tidak diperhatikan.
E. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan pertanyaan dalam rumusan masalah yang diuraikan sebelumnya, maka hipotesis dari penelitian ini adalah:
1. Hipotesis Umum
27
2. Hipotesis Kerja
a. Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan pembelajaran ATM lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional
28
III. METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel
[image:46.595.109.512.538.692.2]Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2019/2020 di SMP Negeri 33 Bandarlampung, dengan populasi seluruh siswa kelas VIII yang terdiri dari 8 kelas (Kelas VIII A sampai VIII H). Seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 33 Bandarlampung memiliki rata-rata kemampuan matematika yang relatif sama. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai Ujian Akhir Semester (UAS) Genap Tahun Pelajaran 2018/2019 saat populasi masih di kelas VII dan tidak ada rolling kelas. Disajikan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Rata-rata nilai UAS Matematika Semester Genap Kelas VII SMP Negeri 33 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2018/2019
Kelas Rata-rata nilai UAS
VII A 49,66
VII B 48,45
VII C 47,65
VII D 46,43
VII E 46,06
VII F 45,71
VII G 43,51
VII H 45,62
Nilai rata-rata 46,64
29
Sampel dipilih sebanyak dua kelas dengan satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas lagi sebagai kelas kontrol. Penentuan sampel penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling yaitu mengambil dua kelas sebagai sampel secara acak dari beberapa kelompok tertentu, mengingat tidak ada kelas unggulan pada kelas VIII di SMP Negeri 33 Bandarlampung. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara pengundian, terpilih kelas VIII A sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII B sebagai kelas kontrol.
B. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang terdiri dari satu variabel bebas yaitu penerapan model pembelajaran yang terdiri dari dua model pembelajaran yaitu pembelajaran ATM dan pembelajaran konvensional. Penelitian ini juga terdiri dari satu variabel terikat yaitu kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu the randomized posttest-only control group design. Penggunaan desain penelitian tersebut karena karakteristik
30
Tabel 3.2 Desain Penelitian
Kelompok Pembelajaran Posttest
Kelas eksperimen X O2
Kelas kontrol C O2
Keterangan:
X : Perlakuan dengan pembelajaran ATM.
C : Perlakuan dengan pembelajaran konvensional. O2 : posttest kemampuan pemecahan masalah matematis.
C. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Tahapan-tahapan yang dilaksanakan dalam penelitian ini antara lain: 1. Tahap perencanaan
a. Melakukan observasi untuk melihat karakteristik populasi. b. Menentukan sampel penelitian.
c. Menyusun perangkat dan instrumen tes yang digunakan dalam penelitian. d. Membuat instrumen penelitian.
e. Melakukan validasi instrumen dan uji coba instrumen. f. Melakukan perbaikan instrumen tes.
2. Tahap pelaksanaan
a. Melaksanakan pembelajaran dengan ATM pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah disusun.
31
3. Tahap pengolahan data
a. Mengumpulkan data kuantitatif.
b. Mengolah dan menganalisis data penelitian. c. Menyusun laporan hasil penelitian.
D. Data Penelitian
Data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh dari skor tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sesudah mengikuti pembelajaran dengan ATM di kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional di kelas kontrol.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik tes. Tes diberikan sesudah dilakukan pembelajaran di kelas eksperimen dan kelas kontrol.
F. Instrumen Penelitian
32
Untuk mendapatkan data yang akurat, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria tes yang baik. Instrumen tes yang baik harus memenuhi kriteria valid, reliabel dengan kriteria tinggi atau sangat tinggi, daya pembeda dengan interpretasi cukup, baik atau sangat baik, serta tingkat kesukaran dengan interpretasi mudah, sedang, atau sukar sehingga dapat mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Oleh karena itu, dilakukan uji validitas dan reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran.
a. Validitas Isi
33
b. Reliabilitas
Perhitungan reliabilitas instrumen pada penelitian ini didasarkan pada pendapat Arikunto (2011: 109) yang menyatakan bahwa untuk menghitung koefisien reliabilitas( ) dapat menggunakan rumus alpha, yaitu:
11= − 1 1 −∑
2 2
keterangan:
11 : koefisien reliabilitas tes
n : banyaknya butir soal
: jumlah varians skor tiap-tiap item
2 : varians total skor
[image:51.595.115.506.491.587.2]Koefisien reliabilitas butir soal diinterpretasikan dalam Arikunto (2011: 195) disajikan pada Tabel 3.3 berikut:
Tabel 3.3 Kriteria Koefisien Reliabilitas
Koefisien reliabilitas (r11) Kriteria
0,00≤r11≤0,20 Sangat Rendah
0,21≤r11≤0,40 Rendah
0,41≤ r11≤0,60 Sedang
0,61≤r11≤0,80 Tinggi
0,81≤r11≤ 1,00 Sangat Tinggi
34
c. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dengan siswa yang mempunyai kemampuan rendah. Untuk menghitung daya pembeda, terlebih dahulu diurutkan dari siswa yang memperoleh nilai tertinggi sampai siswa yang memperoleh nilai terendah. Subjek pada penelitian ini sebanyak 29 siswa, sehingga tidak bisa dibagi menjadi dua sama besar yaitu 50% kelompok atas dan 50% kelompok bawah. Oleh karena itu, diambil 27% siswa yang memperoleh nilai tertinggi (disebut kelompok atas) dan 27% siswa yang memperoleh nilai terendah (disebut kelompok bawah). Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi (DP) menurut Arikunto (2009) adalah sebagai berikut.
=
−
Keterangan:
JA : Rata-rata kelompok atas pada butir soal yang diolah
JB : Rata-rata kelompok bawah pada butir soal yang diolah
IA : Nilai maksimum butir soal
Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasikan daya pembeda menurut Arikunto (2009) dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4 Interpretasi Nilai Daya Pembeda
Indeks Diskriminasi Interpretasi
−1,00≤DP≤ 0,09 Sangat Buruk
0,10≤DP≤ 0,19 Buruk
0,20≤DP≤ 0,29 Cukup
0,30≤DP≤ 0,49 Baik
35
[image:53.595.105.515.223.291.2]Berdasarkan hasil perhitungan uji coba instrumen, diperoleh nilai indeks daya pembeda butir soal instrumen tes dapat dilihat pada Tabel 3.5.
Tabel 3.5 Nilai Indeks Daya Pembeda Butir Soal Instrumen Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
No. Soal 1 2 3 4 5
DP 0,72 0,61 0,57 0,57 0,34
Ket. Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik
Interpretasi soal nomor 1 sampai 4 sangat baik, dan soal nomor 5 baik. Perhitungan selengkapnya mengenai interpretasi daya pembeda butir soal instrumen dapat dilihat pada Lampiran C.2 halaman 193.
d. Tingkat kesukaran
Tingkat kesukaran yang diperoleh untuk menentukan derajat kesukaran suatu butir soal. Suatu tes dikatakan baik jika memiliki derajat kesukaran sedang, yaitu tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Seperti yang dikemukakan Sudijono (2008: 372) untuk menghitung tingkat kesukaran suatu butir soal digunakan rumus:
=
Keterangan:
JT : Jumlah skor yang diperoleh semua siswa pada butir soal yang diperoleh
I
T : Jumlah skor maksimum yang dapat diperoleh semua siswa pada suatu36
[image:54.595.113.513.236.322.2]Hasil perhitungan tingkat kesukaran butir soal diinterpretasi berdasarkan kriteria indeks tingkat kesukaran yang dijelaskan Sudijono (2008: 372) seperti pada Tabel 3.6.
Tabel 3.6 Kriteria Interpretasi Tingkat Kesukaran
Nilai Interpretasi
0,00≤TK≤0,15 Sangat Sukar
0,16≤TK≤0,30 Sukar
0,31≤TK≤0,70 Sedang
0,71≤TK≤0,85 Mudah
0,86≤TK≤ 1,00 Sangat Mudah
Berdasarkan hasil perhitungan uji coba instrumen, diperoleh tingkat kesukaran butir soal instrumen tes dapat dilihat pada Tabel 3.7.
Tabel 3.7 Tingkat Kesukaran Butir Soal Instrumen Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
No. Soal 1 2 3 4 5
Tingkat Kesukaran 0,59 0,28 0,27 0,42 0,22
Interpretasi Sedang Sukar sukar sedang sukar
Perhitungan selengkapnya mengenai interpretasi tingkat kesukaran butir soal instrumen dapat dilihat pada Lampiran C.2 halaman 193.
[image:54.595.112.513.460.527.2]37
E. Teknik Analisis Data
Setelah kedua sampel diberi perlakuan yang berbeda, data yang diperoleh dari hasil posttest dianalisis pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Analisis ini bertujuan untuk menguji kebenaran dari suatu hipotesis. Data dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui efektivitas pembelajaran alqurun teaching model ditinjaui dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terhadap data yang telah didapat, dilakukan uji prasyarat terhadap data kuantitatif kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengujian prasyarat ini bertujuan untuk mengetahui apakah data sampel berasal dari data populasi yang berdistribusi normal dan kedua sampel data memiliki varians yang sama.
1. Uji Normalitas
Uji ini berfungsi untuk mengetahui apakah kedua kelompok sampel dengan data siswa yang mengikuti pembelajaran ATM dan data siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak. Uji ini menggunakan rumus chi-kuadrat (Sudjana, 2005: 273) sebagai berikut:
Hipotesis :
Ho : data berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : data tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal
38
Keterangan :
: frekuensi pengamatan : frekuensi yang diharapkan : banyaknya pengamatan
[image:56.595.112.511.367.433.2]Kriteriapengujian dengan taraf signifikan: α = 0,05 yaitu terima H0jika < dengan = ( )( ). Rekapitulasi perhitungan uji normalitas terhadap data kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, disajikan pada Tabel 3.8.
Tabel 3.8 Rekapitulasi Uji Normalitas Sampel Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
Kelas Keputusan Uji
Eksperimen 3,0008 7,81 H0diterima
Kontrol 5,6869 7,81 H0diterima
Berdasarkan hasil uji normalitas, diketahui bahwa keputusan uji untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol ialah hipotesis H0 diterima. Maka disimpulkan sampel data berasal dari populasi yang berdistribusi normal, sehingga pengujian hipotesis penelitian menggunakan uji parametrik. Hasil perhitungan selengkapnya mengenai uji normalitas kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Lampiran C.10 halaman 212 dan C.11 halaman 215.
2. Uji Homogenitas
39
homogen atau tidak. Untuk menguji homogenitas masing-masing data dilakukan dengan uji kesamaan dua varians dengan hipotesis sebagai berikut.
H0: 22 2
1
(kedua kelompok data memiliki varians yang sama)
H1: 22 2
1
(kedua kelompok data memiliki varians yang tidak sama)
Persamaan Uji:
terkecil Varians
terbesar Varians
F
Kriteria pengujian adalah: Tolak H0 jika Fhitung> Ftabel dimana distribusi F yang
digunakan mempunyai dk pembilang = n1 – 1 dan dk penyebut = n2 – 1, dan
terima H0selainnya. (Sudjana, 2005: 250).
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai Fhitung = 1,2533 dan dengan taraf signifikan α = 0,05 nilaiFtabel=2,07. Karena Fhitung <Ftabe, maka H0diterima. Hal ini berarti kedua sampel data memiliki varians yang sama. Hasil perhitungan selengkapnya mengenai uji homogenitas kedua kelas dapat dilihat pada lampiran C.12 halaman 218.
3. Uji Hipotesis
a. Uji Hipotesis Pertama (Uji Kesamaan)
40
dari populasi yang berdistribusi normal dan kedua sampel data memiliki varians yang sama. Selanjutnya melakukan uji kesamaan dua rata-rata menggunakan statistik uji-t.
Hipotesis Uji:
Uji kesamaan dua rata-rata yang digunakan adalah uji pihak kanan dengan rumusan hipotesis statistik sebagai berikut:
Ho: μ1= μ2, (rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan pembelajaran ATM sama dengan rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan pembelajaran konvensional) H1: μ1> μ2, (rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan
pembelajaran ATM lebih dari rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan pembelajaran konvensional)
Statistika Uji
Statistik yang digunakan untuk uji kesamaan dua rata-rata (uji-t) menurut Sudjana (2005: 243) menggunakan rumus:
; dengan
Keterangan:
̅ : rata-rata skor kemampuan kelas yang mengikuti pembelajaran ATM
̅ : rata-rata skor kemampuan kelas yang mengikuti pembelajaran konvensional : banyaknya subyek kelas eksperimen
: banyaknya subyek kelas pembanding : varians yang mengikuti kelas eksperimen
41
: varians yang mengikuti kelas pembanding : varians gabungan
Kriteria pengujiannya adalah H0diterima jika diperoleh thitung< ttabeldimana ttabel=
( )( ). Untuk harga t lainnya H0ditolak.
b. Uji Hipotesis Kedua (Uji Proporsi)
Uji proporsi dilakukan untuk menguji hipotesis bahwa proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis dengan nilai minimum 70 lebih dari 60%. Setelah dilakukan uji prasyarat, diketahui bahwa sampel data berdistribusi normal, maka dilakukan uji-z.
Pada penelitian ini, interpretasi kategori kemampuan pemecahan masalah matematis siswa ditentukan dengan menggunakan nilai posttest kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran ATM adalah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan SMP Negeri 33 Bandar Lampung untuk kelas VIII sebesar 70. Oleh karena itu siswa dinyatakan tuntas belajar jika nilai siswa mencapai minimal KKM 70 pada posttest kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hipotesis untuk uji
proporsi yang digunakan menurut Sudjana (2005) adalah sebagai berikut. Hipotesis Uji:
H0: = 0,6 (Proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah
matematis dengan nilai minimum 70 sama dengan 60%)
H1: > 0,6 (Proporsi siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah
42
Statistik Uji:
= − 0,6
0,6(1 − 0,6)/
Keterangan:
x : Proporsi siswa yang memiliki indeks peningkatan dengan kriteria sedang dan tinggi pada kelas dengan pembelajaran ATM
n : Jumlah sampel
Dalam pengujian ini digunakan taraf signifikan α = 0,05, dengan kriteria uji: tolak
55
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mengikuti pembelajaran ATM lebih tinggi daripada kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional, tetapi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan nilai minimum 70 pada kelas dengan pembelajaran ATM tidak lebih dari 60% jumlah siswa, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran ATM tidak efektif ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP Negeri 33 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2019/2020.
B. Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dan simpulan dalam penelitian ini, saran-saran yang dapat disampaikan yaitu:
58
59
DAFTAR PUSTAKA
Afgani D., Jarnawi. 2011. Materi Pokok Analisis Kurikulum Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka. 473 hlm.
Al-Tabany, Trianto Ibnu Badar. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Surabaya: Prenadamedia Grup. 312 hlm.
Amalia, Rifki. 2017. Efektivitas Pembelajaran Alqurun Teaching Model ditinjau dari Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 5, No. 6, [Online], Tersedia: http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/MTK/article/view/13171/pdf_30. Diakses pada 14 September 2019
Anthony, Glenda & Walshaw, Margaret. 2009. Effective Pedagogy in Mathematics. Geneva: IBE publication unit. 31 hlm.
Arikunto, Suharsimi. 2011. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara. 308 hlm
Depdiknas. 2003. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Fadillah, Syarifah. 2009. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Dalam Pembelajaran Matematika. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta. [Online], Tersedia: http://eprints.uny.ac.id. Diakses pada 9 Januari 2019.
Fatmawati, F. & Murtafiah. 2018. Deskripsi Kemampuan Pemecahan Masalah Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri 1 Majene. Jurnal Saintifik, Volume 4 Nomor 1. [Online], Tersedia: https://media.neliti.com. Diakses pada 13 Januari 2019.
Febriansari, Awit. 2017. Efektivitas Pembelajaran Alqurun Teaching Model (ATM) ditinjau dari Kemampuan Pemahaman Konsep Pertidaksamaan. Skripsi. Universitas Lampung. [Online], Tersedia: http://digilib.unila.ac.id. Diakses pada 14 Januari 2019.
60
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia. 344 hlm. Hake, Richard R. 1998. Analyzing Change/Gain Scores. (Online). Tersedia:
http://www.physics.indiana.edu/~sdi/ajpv3i.pdf . [30 Oktober 2018].
Hamiyah, Nur dan Muhammad Jauhar. 2014. Strategi Belajar Mengajar di Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka. 293 hlm.
Hamzah, Ali. 2014. Evaluasi Pembelajaran Matematika. Jakarta: Rajawali Press. 400 hlm.
Hermawan, Deddy Indra. 2015. Teknik Permainan Edukatif Untuk Meningkatkan Konsentrasi Belajar Siswa Kelas VI SD Negeri 02 Tugu Jumantono Tahun Pelajaran2014/2015. Thesis FKIP UNS Oktober 2015. [Online]. Tersedia: https://eprints.uns.ac.id/20576/. Diakses pada 17 Desember 2018.
Jusmawati. 2015. Efektivitas Penerapan Model Berbasis Masalah Setting Kooperatif dengan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Matematika di Kelas X SMA Negeri 11 Makasar. [Online]. Tersedia: http://ojs.unm.ac.id/JDM/article/view/1314. Diakses pada 08 Januari 2019. Kadir. 2010. Penerapan Pembelajaran Kontekstual Berbasis Potensi Pesisir
sebagai upaya Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika, Komunikasi Matematika, dan Keterampilan Sosial Siswa SMP. Disertasi. Universitas Pendidikan Indonesia. [Online], Tersedia: http://repository.upi.edu/8422/. Diakses pada 10 Januari 2019.
KBBI. 2018. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). [Online]. Tesedia di: http://kbbi.web.id/. Diakses 20 Desember 2018.
Kemendikbud. 2014. Permendikbud 58 tahun 2014 tentang kurikulum 2013 sekolah menengah pertama (SMP)/ madrasah tsanawiyah (MTs). Kementrian pendidikan dan kebudayaan, Jakarta.
Kurniawati, Siska. 2015. Efektivitas Model Discovery Learning Ditinjau dari Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis dan Kemampuan Awal Matematis Siswa. [Online], http://digilib.Unila.ac.id/, diakses 11 Januari 2019.
Lestari, Annisa Vibra. 2017. Efektivitas Pembelajaran Alqurun Teaching Model ditinjau dari Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa. Skripsi. Universitas Lampung. [Online], Tersedia: http://digilib.unila.ac.id. Diakses pada 14 Januari 2019.
https://media.neliti.com/media/publications/-61
226675-model-advance-organizer-dalam-pembelajar-67bec84c.pdf Diakses pada 10 Januari 2019.
Marzuki. 2012. Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Komunikasi Matematika antara Siswa yang diberi Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Pembelajaran Langsung. Tesis. Universitas Negeri Medan. [Online], Tersedia: http://digilib.unimed.ac.id. Diakses pada 9 Januari 2019 Mawaddah, Siti & Anisah, Hana. 2015. Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa pada Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Model Pembelajaran Generatif (Generative Learning) di SMP. Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 3 Nomor 2, Hal. 166-175. [Online], Tersedia: https://ppjp.ulm.ac.id. Diakses pada 10 September 2019.
Mulyasa. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. 231 hlm.
Nazir, M. 2003. Metode penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia. Cet.ke-5. 544 hlm. Nurmansyah, Wahib. 2019. Efektivitas Alqurun Teaching Model ditinjau dari
Pemahaman Konsep Matematis Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 7, No. 2, [Online], Tersedia: http://jurnal.fkip.unila.ac.id/in-dex.php/MTK/article/view/17832/pdf Diakses pada 17 September 2019 Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). 2016. PISA
2015 Result in focus. [online]. Tersedia: di http://www.oecd.org. (26 Januari 2019).
Polya, George. 1985. How to Solve I A New Aspect of Mathematical Method (2nd ed). Princeton, New Jersey: Princeton University Press. 253 hlm.
Putri, Ariesta Yanada. 2017. Efektivitas Pembelajaran Alqurun Teaching Model ditinjau dari Kemampuan Pemahaman Konsep Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel. Skripsi. Universitas Lampung. [Online], Tersedia: http://digilib.unila.ac.id. Diakses pada 10 Januari 2019. Raehana, Sitti. 2013. Pengaruh Regulasi Diri, Motivasi Berprestasi, Iklim
Keluarga, dan Efikasi Diri terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas X SMK Negeri di Kota Makassar. Tesis. Universitas Negeri Makassar. [Online], Tersedia: http://eprints.unm.ac.id. Diakses pada 14 Januari 2019.
Rahayu, Septri. 2012. Keefektifan Antara Media Animasi Flash Dengan Powerpoint Dalam Pembelajaran Biologi Kelas Vii Di Smp Negeri 1 Semarang Tahun Ajaran 2012/2013. Indonesian Journal of Curriculum and Educational Technology Studies. Tersedia Online: http://journal. unnes.ac.id/ sju/ index.php/jktp. Diakses pada 16 Januari 2019.
Rini, Ambar Pristia. 2018. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Al’qurun