• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
69
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

ANALISIS PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP KEJAHATAN PENYIMPANGAN UKURAN ISI BERSIH TABUNG GAS

(Studi di Wilayah Hukum Polresta Bandar Lampung)

(Skripsi)

Oleh Masnia Hakim

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

ANALISIS PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP KEJAHATAN PENYIMPANGAN UKURAN ISI BERSIH TABUNG GAS

(STUDI DI WILAYAH HUKUM POLRESTA BANDAR LAMPUNG)

Oleh

MASNIA HAKIM

Kejahatan penyimpangan ukuran isi bersih tabung gas merupakan perbuatan atau perilaku manusia yang menjadi bagian dari gejala di masyarakat yang bertentangan dengan moral kemanusiaan (immoril), yang mana menimbulkan reaksi dari masyarakat berupa penolakan serta perbuatan tersebut memiliki dampak yang merugikan masyarakat, bersifat asosial dan melanggar hokum, dimana perbuatan penyimpangan ini sengaja dilakukan untuk mengelabui atau menipu dengan memanipulasi isi bersih tabung gas sehingga menimbulkan kerugian pada diri orang lain yang bertindak selaku konsumen. Secara normatif, perbuatan ini diatur lebih spesifik dalam regulasi yang bersifat khusus yakni Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal. Permasalahan dalam skripsi ini adalah: Bagaimanakah penegakan hukum pidana terhadap kejahatan penyimpangan isi bersih tabung gas? serta apakah yang menjadi faktor-faktor penghambat dalam penegakan hukum terhadap kejahatan penyimpangan ukuran isi bersih tabung gas?

Pendekatan masalah yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Sumber data: studi kepustakaan dan studi lapangan. Analisis data: kualitatif. Narasumber: Penyidik pada Polresta Bandar Lampung, Pegawai Metrologi Dinas Perdagangan Kota Bandar Lampung, dan Dosen Bagian Hukum Pidana pada Fakultas Hukum Universitas Lampung.

(3)

Masnia Hakim Pada tahap formulasi, kejahatan jenis ini diatur pada Pasal 30 dan 31 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 Tentang Metrologi Legal. Sedangkan pada tahap pengaplikasian dan eksekusi, dilaksanakan oleh para aparat penegak hukum, yang mana dalam hal penyidikan pihak kepolisian dibantu oleh Badan Metrologi Kota Bandar Lampung. Yang menjadi faktor penghambat paling dominan dalam penegakan hukum pidana terhadap kejahatan ini adalah faktor penegak hukum, dan faktor masyarakatnya,

Saran dalam penelitian ini adalah dari tahap formulasi mengenai Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal harus lebih disosialisasikan kepada masyarakat umum, agar masyarakat mengetahui bahwa kejahatan penyimpangan ukuran isi bersih tabung gas memiliki payung hukum yang mana terdapat ketentuan pidananya. Dan diperlukan adanya revisi terhadap Undang-Undang ini berkenaan dengan sanksi pidana yang masih terbilang rendah sehingga dirasa tidak mampu membuat efek jera pada pelaku. Selain itu, diharapkan kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan kesadaran akan hukum, agar hukum dapat ditegakkan sebagaimana mestinya.

(4)

ANALISIS PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP KEJAHATAN PENYIMPANGAN UKURAN ISI BERSIH TABUNG GAS

( Studi di Wilayah Hukum Polresta Bandar Lampung)

Oleh MASNIA HAKIM

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA HUKUM

pada

Bagian Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Masnia Hakim dilahirkan di Manna, Bengkulu Selatan pada

30 Oktober 1997, sebagai anak kedua dari dua bersaudara,

buah hati dari pasangan Bapak Muhammad Yamin dan Ibu

Muharti.

Penulis menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-Kanak Pembina Liwa Lampung

Barat pada tahun 2004, Sekolah Dasar Negeri 01 Way Mengaku Liwa Lampung

Barat pada tahun 2010, Sekolah Menengah Pertama Negeri 01 Liwa Lampung

Barat pada tahun 2013, Sekolah Menengah Atas Negeri 01 Liwa Lampung Barat

yang telah diselesaikan pada tahun 2016. Penulis tercatat sebagai Mahasiswa

Fakultas Hukum Universitas Lampung melalui jalur Penelusuran Seleksi Nasional

Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun 2016.

Penulis merupakan Mahasiswa Bagian Hukum Pidana, dan selama diperkuliahan

penulis tergabung dalam organisasi kampus UKM-F Pusat Studi Bantuan Hukum

Fakultas Hukum Unila, menjabat sebagai anggota dari Bidang Kajian. Pada tahun

2019 penulis pengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode I selama 40

hari di Desa Atar Bawang, Kecamatan Batu Ketulis, Kabupaten Lampung Barat,

(9)

MOTO

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang

selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan jangan lah sekali kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk

berlaku tidak adil. Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang

kamu kerjakan”

(Q.S. Al - Maidah: 8)

Dalam kehidupan, jangan pernah menipu orang lain. Seseorang tidak akan bisa

melangkah jauh dengan menipu.

(Jack Ma)

Jangan pernah takut salah, karena salah adalah bagian dari kebenaran. Jangan

pernah takut gagal, karena gagal adalah bagian dari keberhasilan. Dan jangan

pernah takut kalah, karena sejatinya kalah merupakan bagian dari kemenangan.

(Penulis)

ALLAH SWT selalu bersama, mengiringi, dan meridhoi setiap perjalanan

orang-orang yang jujur terhadap prosesnya sendiri.

(10)

PERSEMBAHAN

Puji syukur aku panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan RidhoNya sehingga aku mampu untuk menyelesaikan karya kecilku ini yang

kupersembahkan untuk orang-orang yang aku sayangi:

Tercinta dan terkasih Ayahku Muhammad Yamin

dan Ibuku Muharti

Hidupku penuh syukur karena selalu dihiasi dan dipenuhi dengan doa-doa terhebat kalian, serta kasih sayang yang berlimpah. Aku sangat berterimakasih atas segala pengorbanan, perjuangan, doa serta seluruh motivasi hidup yang selalu

kalian berikan. Semoga Allah SWT mengizinkan aku untuk mampu membahagiakan kalian, meskipun kasih ayang kalian tak pernah bisa terbalaskan

olehku.

Mamasku tersayang Mas Agung Sughanda

Selalu memberi doa, dukungan,dan dorongan untukku dengan penuh kasih sayang, kelembutan dan kesabaran. Semoga kita berdua bisa membahagiakan

Ayah dan Ibu dengan hasil dari kringat kita sendiri.

Kakak iparku, Ida Ruwaida

Selalu memberikan semangat, doa, dan mengajarkanku arti kepedulian serta kesabaran. Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT.

Dosen Pembimbing dan Dosen Pembahasku, terimakasih untuk segala bantuan dan ilmu serta dukungannya dalam proses penulisan skripsiku ini

Serta

Almamater tercinta Fakultas Hukum Universitas Lampung

(11)

SANWACANA

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji dan syukur selalu penulis panjatkan kepada

Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Penegakan Hukum Pidana Terhadap Kejahatan Penyimpangan Ukuran Isi Bersih Tabung Gas (Studi di Wilayah Hukum Polresta Bandar Lampung)” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana di Fakultas Hukum Universitas Lampung.

Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan,

petunjuk, arahan, dan saran dari berbagai pihak. Pada kesempatan kali ini, Penulis

ingin menyampaikan rasa hormat dan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Karomani, M.Si. selaku Rektor Universitas Lampung;

2. Bapak Prof. Dr. Maroni, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Lampung, beserta staf yang telah memberikan bantuan dan

kemudahan kepada Penulis selama di perkuliahan;

3. Bapak Eko Raharjo, S.H., M.H. selaku Ketua Jurusan Bagian Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Lampung, yang telah meluangkan waktu dan

(12)

4. Bapak Dr. Heni Siswanto, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing satu yang telah

meluangkan waktu, memberikan semangat, pikiran, arahan dan motivasi kepada

Penulis dalam penulisan skripsi ini;

5. Bapak Tri Andrisman, S.H., M.Hum. selaku Dosen Pembimbing dua yang telah

meluangkan waktu, memberikan semangat, pikiran, arahan dan motivasi kepada

Penulis dalam penulisan skripsi ini;

6. Ibu Dr. Nikmah Rosidah, S.H., M.Hum. selaku Dosen Pembahas satu yang telah

memberikan nasehat, kritikan, masukan, dan saran, dalam penulisan skripsi ini;

7. Ibu Firganefi, S.H., M.H. selaku Dosen Pembahas dua yang telah memberikan

nasehat, kritikan, masukan, dan saran, dalam penulisan skripsi ini;

8. Ibu Rohaini, S.H., M.H. Ph.D. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah

memberikan bimbingan dan motivasi selama di perkuliahan;

9. Seluruh Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah meluangkan

waktu untuk memberikan bimbingan, ilmu pengetahuan, dan juga bantuannya

kepada Penulis serta kepada staf administrasi Fakultas Hukum Universitas

Lampung;

10. Seluruh karyawan Gedung A, Ibu Aswati, Mas Ijal, Mba Tika yang selalu

menyemangati dan mengingatkan Penulis agar segera menyelesikan studi,

memberikan nasehat, masukan dan memberikan bantuan dalam penulisan skripsi

ini;

11. Narasumber dalam penulisan skripsi ini, Bapak Aipda M. Yani, S.H., M.H.

selaku penyidik pada Minreskrim Polresta Bandar Lampung, Bapak Adi Sudjipto

(13)

Lampung, dan Bapak Gunawan Sujatmiko selaku Dosen Bagian Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Lampung, yang telah sangat membantu dalam

mendapatkan data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini, terimakasih untuk

semua kebaikan dan bantuannya;

12. Teristimewa untuk kedua orang tua tercinta Ayahku Muhammad Yamin dan

Ibuku Muharti, terimakasih untuk segala doa, kasih sayang, dukungan, arahan,

motivasi, pengobanan yang telah diberikan kepadaku dengan sepenuh dan setulus

hati sejak kecil hingga sekarang. Motivasi terbesar dalam hidupku.

13. Saudara kandung semata wayangku, Mas Agung Sughanda yang tak pernah lelah

melimpahkan kasih sayang, semangat, dan doanya. Mari kita gapai puncak

tertinggi kita, menjadi manusia yang berhasil, hebat, dan suskes, untuk kita

persembahkan kepada dua malaikat hati kita, Ayah dan Ibu.

14. Teteh iparku satu-satunya yang baik hati dan paling aku sayangi, terimakasih

untuk seluruh dukungan, doa, dan dorongan semangatnya yang dengan tulus

diberikan untukku selama aku mengerjakan tugas akhirku ini.

15. Teruntuk yang tersayang selanjutnya, Cindaku, sepupuku Dhea Frimaidya,

terimakasih untuk waktu yang rela diluangkan untukku, untuk semua senda

gurau, dan khayalan khayalan terindah kita yang membuat aku bisa melupakan

sejenak akan kepenatan kuliah, terimakasih selalu setia mendengarkan keluh

kesahku.

16. Adik angkatku sekaligus sahabat terbaikku yang terimut di Fakultas Ekonomi

dan Bisnis Universitas Lampung, Rezi Izmi Filanda, terimakasih untuk seluruh

(14)

tersulitku, yang selalu bersedia direpotkan olehku, terimakasih sudah menjadi

peran pengganti keluarga intiku selama di perantauan, untuk seluruh

pengorbanan, canda tawa, suka duka yang kita ciptakan bersama mewarnai hari

perkuliahan yang melelahkan, dan terimakasih untuk berjuang keras bersama

demi cita-cita kita masing-masing;

17. Sahabat surgaku Kharen Riz Lambar Wati, terimakasih karena selalu

menuntunku dan mengingatkan aku agar setiap hal yang aku lakukan harus

dilandaskan nama Allah SWT. Termasuk ketika mengerjakan skripsi.

Terimakasih selalu memberikan pencerahan mengenai agama ketika batrai

agamaku sedang low, dan untuk segala nasihatnya;

18. Sahabat tergokilku, Vincentius C. Siregar, terimakasih sudah menemaniku sejak

di bangku SMA sampai dengan saat ini meskipun berbeda fakultas namun

pedulimu masih tetap kamu berikan, terimakasih sudah memberikan nasihat dan

masukan ketika aku merasa kesulitan mengerjakan skripsi;

19. Ciwi-ciwi bawangku tersayang, Nungky Avrita Arisanti, Daimah Khoirunnisa,

Cahaya Carla Bangsawan, terimakasih untuk segala dukungan, perhatian, dan

suka duka yang kita lalui bersama, terimakasih sudah menjadi pelipur laraku

selama 40 hari KKN di Atar Bawang hingga saat ini, aku berterimakasih kepada

Allah SWT dan pihak BPKKN Unila yang sudah mempertemukan kita hingga

menjadi keluarga yang erat kasih sayangnya. Para penganut prinsip HIDUP

NGUNYAH;

20. Squad penghuni kursi terdepan, Rika Septiana dan Ade Irma Fitriani, terimakasih

(15)

sampai saat ini, berkat kalian aku selalu semangat untuk kuliah karena selalu

berlomba-lomba duduk di barisan paling depan, dengan semboyan “jangan jadi mahasiswa tanggung’’ kalian istimewa.

21. Para sahabatku Devi Rahmawati, Ni Made Intan Saraswati, Fitri, Nanda Puspita,

Annisa Duli, Dwi Murti Ningsih, Rosmita Aprilia, Inasa El Syavira, Sheila

Adelia, Ozisa, Viona Anggia, Fatimah, Yuliansyah, Reza Alfaizi, M. Aldi

Wiratama, Ricky Siahaan, Abed Nego, Ni Wayan Artha, Ola, Senja Nirwana,

Sara Hotmalia, terimakasih telah menjadi teman seperjuangan selama menimba

ilmu di Fakultas Hukum Universitas Lampung;

22. Kakak tingkatku, kak Okta Setiawan, S.H. terimakasih sudah memberi masukan

dan memberi solusi disaat aku kehilangan arah mengenai skripsi;

23. Sahabat- sahabat Bidang Kajian PSBH FH Unilla, Adam, Lala, Mutia, Rosa,

Aufa, Zahra, Sheila, Eka, Karmila, Thomas, Fizal, terimakasih atas dukungan

yang diberikan.

24. Keluarga besar UKM-F Pusat Studi Bantuan Hukum (PSBH) Fakultas Hukum

Universitas Lampung, karena UKM-F ini menjadi salah satu wadah bagi penulis

untuk menggali, serta mengembangkan kemampuan ilmu hukum dan praktik

hukum;

25. Keluarga baruku KKN Desa Atar Bawang Lampung Barat, Pak Amir, Ibu Amir,

Abang Rio, Abang Egy, Bli Wayan, Nungky, Daimah, Carla, terimakasih untuk

40 hari yang sangat sangat mengesankan, yang memberi pengalaman tak

(16)

26. Kepada semua pihak yang terlibat, yang tidak dapat disebutkan satu persatu,

penulis mengucapkan terimakasih atas dukungan dan bantuan yang diberikan

dalam menyelesaikan skripsi ini;

27. Almamater Kebanggaanku, Universitas Lampung;

Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam

menyelesaikan skripsi ini, terimakasih atas semua bantuan, dukungan dan doa yang

telah diberikan. Semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat,

bang, dan negara, para mahasiswa, akademisi, serta pihak-pihak lainnya, terutama

bagi penulis. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan perlindungan

dan kebaikan bagi kita semua, Aamiin.

Bandar Lampung, 2020 Penulis

(17)

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup ... 7

1. Permasalahan ... 7

2. Ruang Lingkup ... 7

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian... 8

1. Tujuan Penelitian... 8

2. Kegunaan Penelitian ... 8

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ... 9

1. Kerangka Teoritis ... 9

2. Konseptual ... 14

E. Sistematika Penulisan ... 16

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Penegakan Hukum Pidana... 18

B. Pengertian Kejahatan Penyimpangan Ukuran Isi Bersih Tabung Gas ... 25

C. Pengertian Tabung Gas ... 33

D. Penyelesaian Perkara Pidana Di Luar Pengadilan... 34

III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah ... 40

(18)

C. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 42

1. Prosedur Pengumpulan Data ... 42

2. Pengolahan Data ... 42

D. Penentuan Narasumber ... 43

E. Analisis Data ... 44

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Penegakan Hukum Pidana Terhadap Kejahatan Penyimpangan Ukuran Isi Bersih Tabung Gas ... 45

B. Faktor-Faktor Penghambat Penegakan Hukum Pidana terhadap Kejahatan Kejahatan Penyimpangan Ukuran Isi Bersih Tabung Gas ... 58

V. PENUTUP A. Simpulan ... 73

B. Saran ... 74

(19)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk budaya yang mempunyai kebutuhan. Secara universal

manusia mempunyai kebutuhan yang selalu ingin terpenuhi, baik itu kebutuhan

sandang, papan, dan pangan, baik sebagai alat memperoleh dan atau

mempertahankan status sosial (taraf hidup). Kebutuhan adalah segala sesuatu

yang diperlukan manusia untuk menyempurnakan, mempertahankan,

kehidupannya, guna memperoleh kesejahteraan dan keamanan. Kebutuhan

menjadi salah satu aspek psikologis yang menggerakkan manusia selaku makhluk

hidup dalam setiap aktivitas-aktivitas yang dilakukannya sebagai dasar (alasan)

berusaha. Kebutuhan pula merupakan perwujudan budaya manusia yang

berdimensi cipta rasa dan karsa, yang mana dengan bekerja diharapkan

pemenuhan kebutuhan ini menjadi suatu hal yang legal.

Namun kebutuhan manusia yang tidak terbatas selalu dibatasi dengan ketersediaan

sumber daya untuk memenuhinya. Keterbatasan pemenuhan kebutuhan tersebut

mengakibatkan biaya peluang bagi manusia dalam menentukan pilihan alokasi

sumber daya yang dimilikinya. Salah satu masalah keterbatasan manusia di jaman

(20)

2

merupakan sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui, kondisi tersebut

dialami oleh hampir seluruh negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Apabila dikaji lebih jauh lagi, permasalahannya bermula dari keterbatasan Sumber

Daya Alam (SDA) di dunia yaitu dengan semakin melambungnya harga minyak

dunia. Satu-satunya jalan ialah Indonesia dapat mengelola minyak bumi yang ada

di Indonesia sendiri guna mengurangi tingkat ketergantungan Indonesia terhadap

negara-negara penghasil minyak seperti Arab. Melihat hal tersebut maka

pemerintah mencairkan solusi supaya masyarakat dapat berhemat dalam

pemakaian bahan bakar untuk sehari hari di sisi lain pemerintah juga tidak tinggal

diam dengan turut menghemat atau mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan

Belanja Negara (APBN) untuk hal lain. Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan

kebijakan elpiji, konversi minyak tanah ke elpiji, yang mana jika dilakukan

penghitungan yang cermat maka masyarakat dengan biaya yang sama dapat

menggunakan elpiji yang lebih menguntungkan daripada minyak tanah.1

Pendistribusian dari minyak tanah ke elpiji terdapat pihak- pihak yang menjadi

intermediasi dari Pertamina hingga konsumen akhir. Secara sederhana pelaku

distribusi gas elpiji yang diterapkan oleh Pertamina antara lain Stasiun

Pengangkutan dan Pengisian Bulk Elpiji (SPPBE), Agen, Pangkalan dan

Pengecer. Dalam sistem distribusi tertutup tersebut (Closed Loop System) interaksi antara para pelaku distribusi tersebut ditentukan bahwa setiap agenhanya

diperbolehkan untuk mengisi elpiji di SPPBE yang ada di daerah tersebut.

1

(21)

3

Sedangkan untuk pengkalan hanya diperbolehkan untuk mengisi elpiji hanya pada

Agen yang sama dan disusul pengecer hanya diperbolehkan untuk mengisi elpiji

pada satu pangkalan. 2

Aktivitas distribusi yang dilakukan ini harus memenuhi harapan dari sudut

pandang pelanggan yaitu adanya aliran distribusi yang lancar dengan tingkat

ketersediaan produk yang terjamin (Product Availability). Tetapi dalam realitas lapangan menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan yang mengancam Product Availability dari gas elpiji. Hal ini didasari oleh adanya persaingan tidak sehat yang dilakukan oleh pelaku tingkat Agen dan pihak Stasiun Pengisian Bulk Elpiji

(SPBE ) untuk melakukan permainan pada harga jual elpiji dan isi volume gas

elpiji, dengan memasang harga yang lebih rendah dari yang telah ditetapkan

pemerintah. Perilaku dari agen ini akan memicu terjadinya persaingan tidak sehat

yang berupa perebutan pasar.3

Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antara pelaku usaha dalam

menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang

dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat

persaingan usaha.4 Dengan berbagai cara pelaku usaha memodifikasi cara

penjualan, barang (tabung gas) bahkan isi Tabung gas itu sendiri, semua itu

dilakukan untuk mencapai satu tujuan yakni untuk menguntukan diri sendiri pun

kelompok yang diajaknya bekerja sama, oleh karena itu keinginan pelaku usaha

2

Ibid, hlm.44 3Ibid. hlm.45

4

(22)

4

berdampak pada pengguna (konsumen) tabung gas elpiji.5yang mengalami

kerugian.

Namun, masyarakat selaku konsumen yang mendapatkan dampaknya berupa

kerugian lebih bersifat acuh atau bahkan tidak begitu mempunyai keberanian

untuk melaporkan keresahan mereka kepada pihak berwajib, yang dalam hal ini

adalah kepolisian, karena meraka yang berasumsi bahwa enggan untuk berurusan

dengan pihak kepolisian karena birokrasinya yang panjang.

Persaingan usaha yang tidak sehat tersebut tercipta dikarenakan setiap manusia

mempunyai sifat, watak, dan kehendak atau cara sendiri sendiri dalam memenuhi

kebutuhan hidup mereka, yang seringkali menimbulkan ketidakseimbangan

dengan masyarakat (konsumen), yang apabila ketidakseimbangan tersebut

dibiarkan, maka akan menciptakan perpecahan dalam masyarakat. Dalam

persaingan usaha yang dilakukan dengan cara yang tidak benar atau sehat

tersebut pastilah cara yang dipergunakan tidak didasari oleh atau bertentangan

dengan peraturan atau kaidah hukum yang berlaku.

Sementara itu, mengingat Indonesia adalah negara yang berdasar pada hukum

(rechstaat) sebagaimana diamanatkan pada Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka perilaku berbangsa,

bernegara dan bermasyarakat diatur oleh hukum, termasuk mengenai persaingan

usaha. Yang artinya adalah, tindakan para pelaku usaha secara tidak sehat

tersebut (kejahatan isi tabung gas) yang menimbulkan keresahan masyarakat

5

N.E Iskandar, “Penelitian Perlindungan Konsumen Terhadap Persaingan Usaha

(23)

5

terdapat regulasi yang mengaturnya, guna melindungi hak-hak mereka selaku

konsumen.

Tindakan yang menyimpang oleh pengecer terhadap ukuran isi bersih Tabung

gas ini sangatlah merugikan pihak konsumen. Hal ini bertentangan dengan

regulasi hukum diantaranya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang

Perlindungan Konsumen, dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang

Metrologi Legal. Tindakan yang menyimpang yang tersebut seringkali terjadi

karena terdapat suatu ketidakharmonisan antara negara, masyarakat dan individu.

Ketidakharmonisan tersebut merupakan pelanggaran norma dalam ranah hukum

publik yang berakibat merugikan bangsa, orang lain maupun diri sendiri serta

dalam konteks terganggunya kepentingan umum.6 Salah satu contoh perkara yang

berkenaan penyimpangan isi Tabung gas ini adalah dengan ditangkapnya

Pengecer gas di Bandar Lampung oleh pihak kepolisian setempatyang

mendapatkan laporan masyarakat pada tanggal 16 Maret 2013 silam.

Pihak kepolisian ketika melakukan pengecekan ternyata isi tabung gas elpiji dua

belas kilogram dijual hanya dengan berisikan sepuluh kilogram saja, dengan

modus mengurangi isi tabung gas ukuran dua belas kilogram ke tabung gas

berukuran dua belas kilogram pula tetapi yang belum terisi gas dalam artian gas

yang masih kosong. Kemudian dipasangkan kembali segel gas tersebut untuk

mengelabui konsumen. Dimana gas yang sudah dikurangi isinya tersebut

dijualkan kepada konsumen seharga sembilan puluh tiga ribu rupiah. Yang mana

(24)

6

dalam sehari para pengecer tersebut bisa menjual sebanyak tiga puluh tabung gas

elpiji berukuran dua belas kilogram.

Tentu hal ini sangat merugikan masyarakat selaku konsumen dan bertentangan

dengan hak konsumen dalam mendapatkan dan mengkonsumsi barang atau jasa,

yang mana ketentuannya terdapat pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999

tentang Perlindungan Konsumen, dan juga Pasal 30, Pasal 31 Undang-Undang

Nomor 2 Tahun 1981 yang pada pokoknya bahwa dilarang menjual, menawarkan

untuk dibeli, memperdagangkan, mengedarkan dengan cara apapun juga semua

barang yang tidak sesuai dengan berat bersih seharusnya yang tercantum pada

label kemasan.7

Menurut keterangan pihak kepolisian yang dalam hal ini adalah Polresta Bandar

Lampung sudah menahan para tersangka sejak hari dimana para tersangka

ditangkap. Namun yang menjadi titik kejanggalan, adalah perkara ini tidak lanjut

pada tahap pemeriksaan di Pengadilan Negeri yang berwenang ( Pengadilan

Negeri Tanjung Karang ). Sedangkan tindak pidana tersebut sangat merugikan

Konsumen. Di saat seperti inilah, penegakan hukum difungsionalisasikan.

Penegakan hukum pada hakikatnya merupakan suatu proses mewujudkan

tujuan-tujuan hukum, ide-ide hukum menjadi kenyataan.8 Yang mana tujuan-tujuan

hukum tersebut diantaranya adalah, keadilan, kepastian, dan kemanfaatan.Hukum

harus tegas. Hukum akan bertentangan dengan realita karena pelanggaran sering

7

https://m.detik.com/news/berita/d-2251297/kurangi-isi-tbung-gas-2-pengecer-di-lampung-ditangkap-polisi?nd771104blog=&771104blog=q

8

(25)

7

dilakukan tanpa dilaksanakan sanksi sebagaimana ditetapkan oleh tatanan

hukum9. Hukum di masyarakat bersifat mengatur dan memaksa untuk

mewujudkan suat ketertiban dalam masyarakat itu sendiri. Peraturan hidup

tersebut memberi petunjuk kepada manusia bagaimana harus bertingkah laku dan

bertindak di dalam masyarakat.10

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengetahui secara jelas

dari sudut hukum pidana dan mengangkatnya menjadi sebuah judul penelitian

yang dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul “Analisis Penegakan Hukum

Pidana Terhadap Kejahatan Penyimpangan Ukuran Isi Bersih Tabung Gas “

(Studi Di Wilayah Hukum Polresta Bandar Lampung)

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup 1. Permasalahan

Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagaimanakah penegakan hukum pidana terhadap kejahatan penyimpangan

ukuran isi bersih tabung gas?

b. Apakah yang menjadi faktor-faktor penghambat penegakan hukum pidana

terhadap kejahatan penyimpangan ukuran isi bersih tabung gas?

2. Ruang Lingkup

Penulisan skripsi ini meliputi ruang lingkup substansi, objek, waktu dan tempat

penelitian. Ruang lingkup substansi terkait pada hukum pidana, sementara objek

penelitian mengenai penegakan hukum pidana terhadap kejahatan penyimpangan

9

Hans Kelsen, Teori Hukum Murni Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif di Terjemahkan dari Hans Kelsen (Pure Theory of Law), Bandung, Nusamediadan Nuansa

10

(26)

8

isi tabung gas. Penelitian ini dilakukan pada Tahun 2019 dan lokasi penelitian

bertempat di wilayah hukum Polresta Bandar Lampung.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penulisan skripsi ini mempunyai tujuan

sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui penegakan hukum pidana terhadap kejahatan penyimpangan

ukuran isi bersih tabung gas.

b. Untuk mengetahui faktor penghambat penegakan hukum pidana terhadap

penyimpangan ukuran isi bersih tabung gas.

2. Kegunaan Penelitian

Kegunaanyang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Kegunaan Teoritis

Kegunaan teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemikiran

secara teoritis terhadap disiplin ilmu hukum sehingga dapat berguna

bagipengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan ilmu hukum

pidana yang berkaitan dengan Hukum Acara Pidana

b. Kegunaan Praktis

Kegunaan penulisan ini adalah untuk memberi manfaat terhadap kepentingan

penegak hukum, sehingga dapat dijadikan masukan kepada aparatur pelaksana

penegak hukum, dalam rangka melaksanakan tugas-tugas mulianya

(27)

9

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual 1. Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstraksi

dari hasil pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya bertujuan untuk

mengadakan kesimpulan terhadap dimensi sosial yang dianggap relevan untuk

penelitian.11 Setiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis.

Teori hukum dapat digunakan untuk menganalisis dan menerangkan pengertian

hukum dan konsep yuridis, yang relevan untuk menjawab permasalahan yang

muncul dalam penelitian hukum.12 Dalam penelitian harus adanya hubungan

timbal balik antara teori dengan kegiatan pengumpulan, pengelolaan, analisis, dan

konstruksi data.

Penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan tujuan diantaranya

keadilan, kepastian, dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Jadi penegakan

hukum pada hakikatnya proses dilakukannya upaya tegaknya atau berfungsinya

norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman pelaku dalam

hubungan-hubungan hukum pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

a. Teori Penegakan Hukum

Menurut Muladi dan Barda Nawawi Arif pengertian penegakan hukum,

khususnya hukum pidana atau dapat dikatakan fungsionalisasi hukum pidana

adalah sesuatu upaya untuk membuat hukum dapat berfungsi, beroperasi, dan

bekerja secara konkrit.Sistem penegakan hukum jika dilihat dari dan atau secara

11

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press Alumni, Bandung, 1986,hlm.123.

12

(28)

10

integral, yaitu berupa adanya keterkaitan yang erat dari beberapa subsistem yang

terdiri dari substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum.

Berbeda dengan Sajipto Raharjo, yang memberikan pengertian bahwa yang

dimaksudkan dengan penegakan hukum pidana adalah usaha untuk mewujudkan

ide-ide kepastian hukum, kemanfaatan sosial, dan keadilan menjadi kenyataan,

yang mana proses perwujudan ketiga ide inilah yang merupakan hakekat dari

penegakan hukum pidana.13 Penegakan hukum pidana dapat pula diartikan

sebagai penyelenggaraan hukum oleh petugas penegak hukum dan setiap orang

yang mempunyai kepentingan dan sesuai kewenangannya masing-masing menurut

aturan hukum yang berlaku, yang dengan demikian penegakan hukum pidana

merupakan suatu sistem yang menyangkut suatu penyerasian antara nilai dan

kaidah serta perilaku nyata manusia.14 Kaidah-kaidah tersebut menjadi pedoman

bagi perilaku atau tindakan yang dianggap pantas atau yang seharusnya, dimana

perilaku atau sikap tindak tersebut bertujuan untuk menciptakan, memelihara, dan

mempertahankan kedamaian.

Sistem penegakan hukum pidana adalah sistem kekuaasaan atau kewenangan

menegakkan hukum pidana yang terbagi dalam 4 (empat) subsistem dalam proses

peradilan pidana, yaitu:

1) Kekuasaan penyidikan (oleh badan atau lembaga penyidik)

2) Kekuasaan penuntutan (oleh badan atau lembaga penuntut umum) 3) Kekuasaan mengadili dan menjatuhkan putusan atau pidana (oleh

badan atau lembaga peradilan)

13Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 1986, hal.60.

14

(29)

11

4) Kekuasaan pelaksanaan putusan atau pidana (oleh badan atau aparat pelaksana)15

Keempat subsistem tersebut merupakan suatu kesatuan sistem penegakan hukum

pidana yang integral atau sering disebut dengan sistem peradilan pidana terpadu.

Pengertian istilah penanganan dan penindakan merupakan bahasa lain dari istilah

penegakan hukum pidana. Penegakan hukum pidana (PHP) dapat diartikan

sebagai:

a. Keseluruhan rangkaian kegiatan penyelenggara/pemeliharaan keseimbangan hak dan kewajiban warga masyarakat sesuai harkat dan martabat manusia serta pertanggungjawaban masing-masing sesuai dengan fungsinya secara adil dan merata dengan aturan hukum, peraturan hukum dan perundang-undangan yang merupakan perwujudan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

b. Keseluruhan kegiatan dari para aparat atau pelaksana penegak hukum ke arah tegaknya hukum, keadilan, dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia, ketertiban, ketentraman, dan kepastian hukum sesuai dengan UndangUndang Dasar 1945.16

Penegakan hukum di bidang pidana didasarkan atas ketentuan hukum pidana.

Adapun tahap-tahap dalam penegakan hukum pidana, yaitu:

1. Tahap Formulasi

Tahap penegakan hukum pidana in abstracto oleh badan pembuat undang-undang yang melakukan kegiatan memilih dengan keadaan dan situasi masa kini dan yang akan datang, kemudian merumuskannya dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang paling baik dalam arti memenuhi syarat keadilan dan daya guna. Tahap ini disebut dengan tahap kebijakan legislatif.

2. Tahap Aplikasi

Tahap penegakan hukum pidana (tahap penerapan hukum pidana) oleh aparat penegak hukum, mulai dari kepolisian sampai ke pengadilan. Dengan demikian aparat penegak hukum bertugas menegakkan serta

15

Barda Nawawi Arief, Pembaharuan Sistem Penegakan Hukum dengan Pendekatan Relegius dalam Konteks Siskumas dan Bangkumas, dalam buku Pendekatan Keilmuan dan Pendekatan Relegius dalam Rangka Optimalisasi dan Reformasi Penegakan Hukum (Pidana) di Indonesia, Universitas Diponegoro, Semarang,2011, hlm.42.

16

(30)

12

menerapkan peraturan-peraturan perundang-undangan pidana yang telah dibuat oleh lembaga pembuat undang-undang, dalam melaksanakan tugas ini aparat penegak hukum harus berpegang teguh pada nilai-nilai keadilan dan guna. Tahap ini disebut sebagai tahap yudikatif.

3. Tahap Eksekusi

Tahap penegakan pelaksanaan hukum serta secara konkret oleh aparat-aparat pelaksana pidana.Pada tahap ini aparat-aparat pelaksana pidana bertugas menegakkan peraturan perundang-undangan yang telah dibuat oleh pembuat undang-undang melalui penerapan pidana yang telah di tetapkan dalam putusan pengadilan. Dengan demikian proses pelaksanaan pemidanaan yang telah ditetapkan dalam pengadilan, aparat-aparat pelaksana pidana itu dalam pelaksanaan tugasnya harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan pidana yang telah dibuat oleh pembuat undang-undang daya guna.17

Ketiga tahap penegakan hukum pidana tersebut, dilihat sebagai suatu usaha atau

proses rasional yang sengaja direncanakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Ketiga tahap penegakan hukum pidana tersebut jelas harus merupakan jalinan

mata rantai aktivitas yang terputus yang bersumberdari nilai-nilai dan bermuara

pada pidana dan pemidanaan.18

b. Teori Penghambat Penegakan Hukum

Faktor-faktor yang mempengaruhi dan memiliki arti netral sehingga dampak

positif dan negatifnya terletak pada isi faktor tersebut, menurut Soerjono

Soekanto, faktor faktor yang mempengaruhi penegakan hukum, yaitu:

a. Faktor hukumnya sendiri

Praktek menyelenggarakan penegak hukum di lapangan seringkali terjadipenentangan antara kepastian hukum dan keadilan. Hal ini dikarenakan konsepsi keadilan merupakan suatu rumusan yang bersifat abstrak sedangkan kepastian hukum merupakan prosedur yang telah ditentukan secara normatif. Kebijakan yang tidak sepenuhnya berdasarkan hukum merupakan suatu yang dapat dibenarkan sepanjang kebijakan tidak bertentangan dengan hukum.

17Ibid, hlm.157.

18

(31)

13

b. Faktor Penegak Hukum

Salah satu kunci dari keberhasilan dalam penegakan hukum adalah mentalitas atau kepribadian dari penegak hukumnya sendiri. Dalam rangka penegakan hukum oleh setiap lembaga penegak hukum, keadilan dan kebenaran harus dinyatakan, terasa, terlihat dan diaktualisasikan.

b. Faktor Sarana atau Fasilitas yang Mendukung Penegakan Hukum Sarana dan fasilitas yang mendukung mencakup tenaga manusia yang

berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, penegakan hukum tidak dapat berjalan dengan lancar, dan penegak hukum tidak mungkin menjalankan peran semestinya.

c. Faktor Masyarakat

Masyarakat mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pelaksanaan penegakan hukum, sebab penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai keadilan dalam masyarakat. Semakin tinggi kesadaran masyarakat akan hukum makan akan semakin memungkinkan penegakan hukum yang baik.

d. Faktor Kebudayaan

Kebudayaan Indonesia merupakan dasar dari berlakunya hukum adat. Berlakunyahukum tertulis (perundang-undangan) harus mencerminkan nilai-nilai yang menjadi dasar hukum adat. Dalam penegakan hukum, semakin banyak penyesuaian antara peraturan perundang-undangan dengan kebudayaan masyarakat, maka akan semakin mudah menegakkannya.19

Proses penegakan hukum pidana tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya,

sesuai dengan koridornya serta harapan masyarakat untuk tercapainya tujuan

keadilan, kepastian dan kemanfaatan. Namun tak jarang pula terjadi intervensi,

ataupun pengaruh buruk dari pihak yang tidak mengedepankan sebuah integritas

terhadap proses penegakan hukum pidana tersebut, yang mengakibatkan

penegakan hukum itu menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga

menciptakan penegakan hukum yang tidak berkualitas karena bukan didasarkan

pada pendekatan keilmuan. Yang berakibat pada hilangnya kepercayaan

masyarakat terhadap penegakan hukum pidana di Indonesia.

(32)

14

c. Konseptual

Kerangka konseptual adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara

konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan dari arti-arti yang berkaitan

dengan istilah-istilah yang ingin atau akan diteliti.20 Agar tidak terjadi

kesalahpahaman terhadap pokok permasalahan dalam skripsi ini, maka dibawah

ini dijelaskan beberapa konsep yang dapat dijadikan pegangan dalam memahami

skripsi ini.

Adapun istilah-istilah tersebut adalah:

a. Penegakan Hukum Pidana secara umum dapat diartikan sebagai tindakan

menerapkan perangkat sarana hukumtertentu untuk memaksakan sanksi hukum

guna menjamin penataan terhadap ketentuan yang ditetapkan tersebut atau

dapat pula dirumuskan sebagai keseluruhan kegiatan dari para

aparat/pelaksana penegak hukum ke arah tegaknya hukum, keadilan, dan

perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia, ketertiban, ketenteraman

dan kepastian hukum menurut peraturan perundang-undangan dibidang hukum

pidana yang sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945.21

b. Kejahatan penyimpangan adalah perbuatan atau perilaku manusia yang

menjadi bagian dari gejala di masyarakat yang bertentangan dengan moral

kemanusiaan (immoril), yang mana menimbulkan reaksi dari masyarakat berupa penolakan serta perbuatan tersebut merugikan masyarakat, bersifat

20

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Pers, 2009,hlm.22.

21

(33)

15

asosial dan melanggar hukum serta undang-undang pidana22yang sengaja

dilakukan untuk mengelabui, menipu atau memanipulasi sehingga

menimbulkan kerugian pada diri orang lain, guna memperoleh keuntungan baik

untuk pribadi ataupun orang lain.Unsur kejahatan penyimpangan menyangkut

unsur mental dalam tindakan atau perbuatan khusus, konsekuensi atau kondisi

dan keadaan yang termasuk dalam daftar, maka dapat dipahami bahwa unsur

mental yang relevan, yaitu, niat (kesengajaan), pengetahuan (kesadaran)23.

Sementara terdapat tiga aspek yang menjadi indikator dari penyipangan, yakni

pelaku (actor) dan tindakannya (acts), norma (norms), dan reaksi sosial (social reaction).24

Kejahatan penyimpangan terbagi atas beberapa jenis, menurut kekerapannya,

menurut jumlah orang yang terlibat, dan sifatnya.25 Berdasarkan kekerapannya,

terdapat jenis penyimpangan primer, yakni penyimpangan yang bersifat

sementara (temporer). Orang yang melakukan masih dapat diterima oleh

kelompok sosialnya, karena tidak terus menerus melanggar aturan. Dan

penyimpangan sekunder yakni penyimpangan yang dilakukan secara terus

menurus oleh pelakunya, walupun telah diberikan sanksi-sanksi. Oleh sebab

itu, pelakunya secar umum dikenal sebagai orang yang berperilaku

menyimpang.

22Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, Jakarta,Raja Grafindo Perkasa,

2010, hlm.11.

23

http://referensi.elsam.or.id/wp-content/uploads/2014/10/Unsur-Unsur-Kejahatan-Pada-Statuta-Roma.

24

Dikutip dari hasil penelitian David Ward tentang Penyimpangan dan Kejahatan, 1994

(34)

16

Ditinjau dari jumlah orang yang terlibat, jenis penyimpangan ini terbagi atas,

penyimpangan individu, yakni pnyimpangan yang dilakukan sendiri atau tanpa

orang lain, artinya hanya satu individu saja yang berlawanan dengan norma

norma yang berlaku di masyarakat, sedangkan penyimpangan kelompok adalah

penyimpangan yang terjadi jika individu tersebut melakukannya secara

bersama-sama disuatu kelompok tertentu.

Penyimpangan berdasarkan sifatnya, terdapat penyimpangan yang bersifat

negatif dan positif. Penyimpangan yang bersifat negatif adalah penyimpangan

yang berwujud dari tindakan ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap tercela

karena tidak sesuai norma norma yang ada. Sedangkan penyimpangan yang

bersifat positif, adalah penyimpangan yang memiliki dampak positif terhadap

sistem sosial karena dianggap ideal oleh masyarakat.

c. Tabung gas adalah tabung bertekanan yang dibuat dari plat baja karbon canai

panas, digunakan untuk menyimpan LPG dengan kapasitas pengisian antara

3 kg (7,3 liter) sampai dengan 50 kg (108 liter) dan memiliki tekanan rancang

bangun minimum 18,6 kg.26

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini memuat keseluruhan yang akan disajikan dengan

memuat keseluruhan yang akan disajikan dengan tujuan mempermudah

pemahaman konteks proposal skripsi ini maka penulis menyajikan sistematika

penulisan, sebagai berikut:

26

(35)

17

I. PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari latar belakang, permasalahan, ruang lingkup , tujuan dan

kegunaan penelitian, kerangka teoritis dan konseptual, serta sistematika penulisan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini mencakup materi-materi yang mempunyai hubungan dandibutuhkan

dalam membantu, memahami, dan memperjelas permasalahan yang akan

diselidiki. Bab ini berisikan pengertian penegakan hukum, dan kejahatan

penyimpanganukuran isi bersih tabung gas.

III. METODE PENELITIAN

Bab ini menguraikan metode yang menjelaskan mengenai langkah-langkah yang

digunakan dalam pendekatan masalah, sumber dan jenis data, penentuan

narasumber, metode pengumpulan dan pengolahan data, serta metode analisis data

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini memuat hasil penelitian dan pembahasan mengenai penegakan hukum

pidana terhadap kejahatan penyimpangan ukuran isi bersih tabung gas dan

faktor-faktor penghambat penegakan hukum terhadap kejahatan penyimpangan ukuran

isi bersih tabung gas.

V. PENUTUP

Bab ini merupakan bab terakhir yang berisikan kesimpulan dari materi yang telah

didapat serta berbagai saran untuk dapat diajukan dan dipergunakan bagi

(36)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Penegakan Hukum Pidana

Penegakan Hukum Pidana merupakan keseluruhan kegiatan dari para

aparat/pelaksana penegak hukum ke arah tegaknya hukum, keadilan, dan

perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia, ketertiban, ketenteraman dan

kepastian hukum menurut peraturan perundang-undangan di bidang hukum pidana

yang sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

194527. Sementara menurut Van Hammel adalah keseluruhan dasar dan aturan

yang dianut oleh negara dalam kewajibannya untuk menegakkan hukum, yakni

dengan melarang apa yang bertentangan dengan hukum (on recht) dan mengenakan nestapa (penderitaan) kepada yang melanggar larangan tersebut.28

Satjipto Raharjo mengemukakan bahwa terdapat beberapa istilah yang sering

digunakan dalam hal penegakan hukum. Di dalam bahasa asing kita mengenal

istilah Law Enforcement, Law Application yang digunakan di Amerika, rechtstoepassing,rechtshandhaving dalam bahasa Belanda.29 Tegaknya hukum dalam arti sempit identik dengan tegaknya undang (penegakan

undang-undang). Akan tetapi dalam arti luas, tegaknya hukum itu adalah upaya untuk

27Heni Siswanto, Rekonstruksi Sistem Penegakan Hukum Pidana Menghadapi Kejahatan

Perdagangan Orang, Pusat Magister, Semarang, 2013. 28

(37)

19

menjamin tegaknya hukum dan nilai keadilan dalam masyarakat (penegakan

hukum).30

Berbicara mengenai penegakan hukum, akan selalu melibatkan manusia di

dalamnya dan dengan demikian akan melibatkan pula tingkah laku manusia.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa hukum tidak akan bisa tegak dengan

sendirinya, artinya ia tidak mampu untuk mewujudkan sendiri janji- janji dan atau

kehendak-kehendak yang tercantum pada (peraturan-peraturan)hukum itu. Janji

dan kehendak seperti itu misalnya adalah, untuk memberikan hak kepada

seseorang untuk memelihara perlindungan kepada seseorang dengan mengenakan

pidana kepada seseorang yang memenuhi persyaratan tertentu dan sebagainya.31

Penegakan hukum pidana terdiri dari dua tahap inti.

Tahap pertama, penegakan hukum pidana in abstracto merupakan tahap pembuatan/perumusan undang-undang oleh badan legislatif. Tahap ini dapat

disebut tahap formulasi/legislasi/legislatif. Penegakan Hukum Pidana in abstracto adalah pembuatan undang-undang (law making) atau perubahan undang-undang (law reform).

30

Jimly Asshiddiqie, Agenda Pembangunan Hukum Nasional di Abad Globalisasi,

Jakarta, Balai Pustaka19,1986, hlm. 93.

(38)

20

Tahap kedua, Penegakan Hukum Pidana in concreto (law enforcement). Kedua Penegakan Hukum Pidana itu dalam kerangka menunjang tercapainya tujuan, visi

dan misi pembangunan nasional.32

Penegakan hukum Pidana erat kaitannya dengan peran komponen-komponen

hukum yang ada dalam suatu Negara. Komponen keadilan tersebut diantaranya

adalah: Pertama, Lembaga Peradilan dengan segala aparatur yang ada di

dalamnya. Kedua, Aparat Kepolisian sebagai pembantu jalannya proses

penegakan hukum yang dilaksanakan lembaga peradilan. Lembaga Peradilan dan

Aparat Kepolisian berperan sangat vital dalam proses penegakan hukum.33

Sudarto memberi arti pada penegakan hukum adalah perhatian dan penggarapan

perbuatan-perbuatan melawan hukum yang sungguh-sungguh terjadi (onrecht in acta) maupun perbuatan melawan hukum yang mungkin terjadi (onrecht in potentie).

32Dalam GBHN 1999 antara lain dikemukakan, Visi Bangnas: Terwujudnya masyarakat

Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah NKRI yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin. Misinya ada 12 dan di antaranya: 1. pengamalan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat; 2. peningkatan kualitas IMTAQ kepada Tuhan YME; 3. kehidupan sosial budaya yang berkepribadian. Dalam RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) 2005–2025, disebutkan, bahwa Visi Pembangunan Nasional Tahun 2005–2025: Indonesia Yang Maju dan Mandiri, Adil dan Demokratis, serta Aman dan Bersatu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Visi ini mengarah pada pencapaian tujuan pembangunan sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Misinya: 1. Mewujudkan Indonesia Yang Maju dan Mandiri; 2. Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis; 3. Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan Bersatu, dalam Barda Nawawi Arief, Penegakan Hukum Pidana dalam Konteks Sistem Hukum Nasional (Siskumnas) dan Pembangunan Nasional (Bangnas), makalah disajikan dalam Sespim Polri, di Lembang, 26 Agustus 2008, hlm. 1.

33

(39)

21

Sedangkan menurut Soerjono Soekanto, secara konsepsional, maka inti dari arti

penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang

dijabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan sikap akhir untuk

mencipatakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.34

Penegakan Hukum Pidana berkaitan dengan nilai-nilai ketertiban dan nilai

ketentraman, nilai kepentingan umumdan nilai kepentingan pribadi, nilai

kelestarian dan nilai inovatisme yang dijabarkan dalam kaidah-kaidah hukum

yang kemudian menjadi pedoman atau patokan bagi perilaku atau sikap tindak

yang dianggap pantas yang bertujuan untuk menciptakan, memelihara, dan

mempertahankan kedamaian. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi

penegakan hukum, yaitu sebagai berikut:

a. Faktor Hukumnya Sendiri

Praktek menyelenggarakan penegak hukum di lapangan seringkali terjadi

penentangan antara kepastian hukum dan keadilan. Hal ini dikarenakan konsepsi

keadilan merupakan suatu rumusan yang bersifat abstrak sedangkan kepastian

hukum merupakan prosedur yang telah ditentukan secara normatif. Kebijakan

yang tidak sepenuhnya berdasarkan hukum merupakan suatu yang dapat

dibenarkan sepanjang kebijakan tidak bertentangan dengan hukum.

b. Faktor Penegak Hukum

Salah satu kunci dari keberhasilan dalam penegakan hukum adalah mentalitas atau

kepribadian dari penegak hukumnya sendiri. Dalam rangka penegakan hukum

(40)

22

oleh setiap lembaga penegak hukum, keadilan dan kebenaran harus dinyatakan,

terasa, terlihat dan diaktualisasikan.

c. Faktor Sarana atau Fasilitas yang Mendukung Penegakan Hukum

Sarana dan fasilitas yang mendukung mencakup tenaga manusia yang

berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai,

penegakan hukum tidak dapat berjalan dengan lancar, dan penegak hukum tidak

mungkin menjalankan peran semestinya.

d. Faktor Masyarakat

Masyarakat mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pelaksanaan penegakan

hukum, sebab penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk

mencapai kesejahteraan dalam masyarakat. Semakin tinggi kesadaran masyarakat

akan hukum makan akan semakin memungkinkan penegakan hukum yang baik.

e. Faktor Budayaan

Budaya Indonesia merupakan dasar dari berlakunya hukum adat. Berlakunya

hukum tertulis (perundang-undangan) harus mencerminkan nilai-nilai yang

menjadi dasar hukum adat. Dalam penegakan hukum, semakin banyak

penyesuaian antara peraturan perundang-undangan dengan kebudayaan

masyarakat, maka akan semakin mudah menegakkannya.

Hukum atau undang-undang merupakan suatu sarana untuk mencapai

kesejahteraan spiritual dan materiil bagi masyarakat maupun pribadi, melalui

pelestarian maupun pembaruan. Artinya, supaya pembuat undang-undang tidak

sewenang-wenang, atau supaya undang-undang itu bisa ditegakkan atau bisa

(41)

23

1) Keterbukaan di dalam proses pembuatan

2) Pemberian hak kepada warga masyarakat untuk mengajukan usulan-usulan

tertentu,melalui cara-cara:

2.1. Penguasa setempat mengundang mereka yang berminat untuk

menghadirisuatu pembicaraan mengenai peraturan tertentu.

2.2. Suatu departemen tertentu, mengundang organisasi-organisasi tertentu

untuk memberikan masukan bagi suatu rancangan undang-undang yang

sedang disusun.

3) Acara dengar pendapat di Dewan Perwakilan Rakyat.

4) Pembentukan kelompok-kelompok penasihat yang terdiri dari tokoh - tokoh

masyarakat atau para ahli.

5) Petugas yang menegakkan atau yang menerapkan

Petugas yang menegakkan hukum mempunyai tugas dan peranan yang penting

dalam penegakan suatu hukum. Petugas yang menegakkan hukum itu adalah:

a. Polisi atau Kepolisian Republik Indonesia

b. Jaksa

c. Hakim35

6) Fasilitas yang diharapkan akan dapat mendukung pelaksanaan kaidah hukum.

7) Warga Masyarakat

Tingkat pendidikan, pandangan dan pemahaman sosial, ekonomi dan budaya

masyarakat pedesaan akan berbeda dengan pemahaman sosial, ekonomi dan

(42)

24

budaya masyarakat perkotaan. Oleh karena itu, faktor warga masyarakat juga akan

mempengaruhi penegakan hukum karena secara umum warga masyarakat:

1) Tidak mengetahui atau tidak menyadari, apabila hak-hak merekadilanggar atau terganggu.

2) Tidak mengetahui akan adanya upaya-upaya hukum untuk melindungi kepentingan-kepentingannya.

3) Tidak berdaya untuk memanfaatkan upaya-upaya hukum karena faktor-faktorkeuangan, psikis, sosial atau politik.

4) Tidak mempunyai pengalaman menjadi anggota organisasi yang dapat memperjuangkan kepentingan-kepentingannya.

5) Mempunyai pengalaman-pengalaman yang kurang baik di dalam proses interaksi dengan berbagai unsur kalangan hukum formal.36

Gangguan terhadap penegakan hukum mungkin terjadi, apabila ada

ketidakserasian antara nilai-nilai, kaidah-kaidah dan pola prilaku, yang

mengganggu kedamaian kehidupan bermasyarakat. Dalam proses penegakan

hukum pidana tidak jarang mendapat pengaruh buruk dari pihak tertentu yang

tidak mempertahankan sebuah nilai integritas, yang mengakibatkan penegakan

hukum itu menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga menciptakan

penegakan hukum yang tidak berkualitas karena bukan didasarkan pada

pendekatan keilmuan. Hal yang demikian berdampak pada berkurangnya

kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum di Indonesia.

Menurut Barda Nawawi Arief bahwa apabila penegakan hukum pidana

benar-benar akan ditingkatkan kualitasnya dan meraih kembali kepercayaan dan

penghargaan tinggi dari masyarakat, maka salah satu upaya yang mendasar ialah:

Meningkatkan kualitas keilmuan dalam proses pembuatan dan penegakannya dikatakan sangat mendasar, karena (1) kualitas keilmuan, tidak hanya dimaksudkan semata-mata untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan ilmu hukum itu sendiri, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas nilai dan produk dari proses

36

(43)

25

penegakan hukum (in abstracto maupun in concreto). (2) hukum dibuat dengan ilmu, maka penggunaannya (penerapan/penegakannya) juga harus dengan ilmu, yaitu ilmu hukum; bukan dengan ilmu uang suap atau ilmu dan sarana lainnya.37

Pendekatan keilmuan (hukum) dapat diartikan sebagai suatu metode/cara

mendekati atau memahami sesuatu (objek/fenomena) berdasar logika

berpikir/konstruksi pikir, konsep/kerangka/dasar pemikiran (wawasan/pandangan/

orientasi) tertentu38

Menurut Barda Nawawi Arief pendekatan keilmuan (hukum pidana) yang perlu

dioptimalkan/dikembangkan dalam Penegakan Hukum Pidana di Indonesia

melalui tiga pendekatan keilmuan secara integral, yaitu: (1) pendekatan

juridis-ilmiah-religius; (2) pendekatan juridis-kontekstual; dan (3) pendekatan juridis

berwawasan global/komparatif, terutama dari sistem keluarga hukum traditional

dan religious law system terhadap aspek substansi nilai/ide-dasar ketiga bidang substansi hukum pidana (hukum pidana materiel, hukum pidana formal, dan

hukum pelaksanaan pidana).39

B. Pengertian Kejahatan Penyimpangan Ukuran Isi Bersih Tabung gas

Kejahatan adalah setiap perbuatan manusia yang bertentangan dengan moral

kemanusiaan (immoril), merugikan masyarakat, bersifat asosial dan melanggar

37

Barda Nawawi Arief, Optimalisasi Kinerja Aparat Hukum Dalam Penegakan Hukum Indonesia Melalui Pemanfaatan Pendekatan Keilmuan, Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Strategi Peningkatan Kinerja Kejaksaan RI, di Gedung Program Pasca Sarjana UNDIP, 29 Nopember 2008, hlm. 4

38Barda Nawawi Arief, Pendekatan Keilmuan dan Pendekatan Religius dalam Rangka

Optimalisasi dan Reformasi Penegakan Hukum (Pidana) di Indonesia, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2011, hlm. 1.

39

(44)

26

hukum serta undang-undang pidana. Beberapa pakar hukum mendefinikan

kejahatan sebagai berikut:

a. Wirjono Projo, kejahatan merupakan pelanggaran dari norma-norma sebagai

unsur pokok kesatu dari hukum pidana.

b. Paul Mudigdo Moeliono, kejahatan merupakan perbuatan manusia, yang

merupakan pelanggaran norma, yang dirasakan merugikan, menjengkelkan,

sehingga tidak boleh diabiarkan.

c. Richard Quinney, tindak kejahatan merupakan perilaku manusia yang

diciptakan oleh para pelaku yang berwenang dalam masyarakat yang

terorganisasi secara politik, atau kualifikasi atas perilaku yang melanggar

hukum dirumuskan oleh warga atau masyarakat yang mempunyai kekuasaan.40

Pengertian Kejahatan dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu :

a) Pengertian Kejahatan dari sudut pandang yuridis, Kejahatan adalah suatu

perbatan yang tingkah lakunya bertentangan dengan kaidah-kaidah dalam UU.

b) Pengertian Kejahatan dari sudut pandang Sosiologis, Kejahatan adalah

perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si penderita juga merugikan

masyarakat, yaitu berupa hilangnya keseimbangan, ketentraman dan ketertiban.

Kejahatan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan merupakan peristiwa

sehari-hari. Seorang Filsuf bernama Cicero mengatakan Ubi Societas, Ibi Ius, Ibi Crime yang artinya ada masyarakat, ada hukum dan ada kejahatan. Masyarakat saling menilai, berkomunikasi dan menjalin interaksi, sehingga tidak jarang

menimbulkan konflik atau perikatan. Satu kelompok akan menganggap kelompok

40Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, 2010. Kriminologi, Raja Grafindo Perkasa,

(45)

27

lainnya memiliki perilaku yang menyimpang apabila perilaku kelompok lain

tersebut tidak sesuai dengan perilaku kelompoknya. Perilaku menyimpang ini

seringkali dianggap sebagai perilaku yang jahat. Batasan kejahatan dari sudut

pandang masyarakat adalah setiap perbuatan yang melanggar kaidah-kaidah yang

hidup di dalam masyarakat.41

Terdapat dua faktor yang menyebabkan manusia melakukan kejahatan, yaitu

sebagai berikut:

1) Faktor pembawaan yang berkembang dengan sendirinya. Artinya

bahwa sejak awal melakukan perbuatan pidana.

2) Faktor lingkungan yaitu lingkungan eksternal(sosial) yang berpengaruh

pada perkembangan psikologi. Karena dorongan lingkungan sekitar,

sehingga seseorang melakukan perbuatan pidana.42

Menurut Bonger, bakat merupakan hal konstan atau tetap, dan lingkungan adalah

faktor variabelnya dan karena itu juga dapat disebutkan sebagai penyebabnya.

Serta Bonger mengatakan bahwa terdapat hubungan langsung antara keadaan

ekonomi dengan kriminalitas yang memunculkan banyak masalah sosial di

masyarakat.sebagai dampaknya banyak orang yang kemudian mengembangkan

pola tingkah laku menyimpang dari norma norma umum, dengan jalan atau cara

semaunya sendiri demi mendapatkan keuntungan untuk diri sendiri dan

kepentingan pribadi yang kemudian mengganggu dan merugikan pihak lain.43

41

A.S. Alam, 2010. Pengantar Kriminologi, Pustaka Refleksi, Makassar, hal.2.

42Moeljatno, 2000, Asas-Asas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, hal.36 43

(46)

28

Beralih mengenai penyimpangan, antara kejahatan dan penyimpangan memiliki

pengertian atau makna yang tidak jauh berbeda. Di dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia penyimpangan atau perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah

laku, perubahan atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan

dengan norma norma dan aturan hukum yang berlaku di dalam masyarakat.44

Selain pengertian berdasarkan KBBI, terdapat beberapa ahli yang mendefinisikan

arti dari perilaku menyimpangan atau penyimpangan, diantaranya adalah:

a. Menurut Mappier, penyimpangan merupakan tingkah laku yang bermasalah.

Tingkah laku bermasalah jika hal ini terjadi pada remaja. Maksudnya, tingkah

laku ini dalam batas ciri ciri pertumbuhan dan perkembangan sebagai akibat

dari adanya perubahan secara fisik dan psikis.

b. Menurut Hordert, penyimpangan adalah setiap tindakan yang melanggar

keinginan-keinginan bersama sehingga dianggap menodai kepibadian-

kepribadian kelompok yang pada akhirnya si pelaku dikenai sanksi. Dimana

keinginan yang dimaksudkan di sini adalah norma yang berlaku.

c. Menuut Lawang, penyimpangan merupakan seluruh tindakan yang

menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan atau masyarakat

dan menimbulkan usaha dari mereka ang berwenang dalam sistem ini untuk

memperbaiki perilaku menyimpang.

d. Menurut Zanden, penyimpangan merupakan perilaku yang oleh sejumlah

besar orang dianggap sebagai hal tercela dan diluar batas toleransi.

4444

(47)

29

e. Menurut Backer, perilaku atau tindakan yang menyimpang bukanlah kualitas

yang dilakukan orang, melainkan konsekuensi dari adanya suatu peraturan dan

penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap pelaku tindakan

tersebut.

Dari beberapa pengertian menurut para ahli di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa perilaku menyimpang atau penyimpangan merupakan tindakan yang

dilakukan secara tidak sesuai dengan kaidah-kaidah atau norma yang berlaku di

dalam lingkungan masyarakat. Yang mana tindakan ini tidak bisa diterima oleh

masyarakat sekitar.

Dalam kehidupan bermasyarakat seluruh tindakan manusia dibatasi oleh aturan

untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh

masyarakat itu sendiri. Namun ditengah kehidupan bermasyarakat dewasa ini

sering kali kita temukan tindakan tindakan individu atau bahkan kelompok dalam

masyarakat tertentu yang bertentangan dengan norma hukum bahkan tidk segan

segan untuk melanggar aturan hukum. Perilaku menyimpang atau penyimpangan

yang dilakukan oleh seseorang juga dapat difaktori oleh krisis akhlak yang

menimpa seseorang tersebut, hal ini terlihat pada sikap mereka yang dengan

mudahnya merampas hak orang lain, main hakim sendiri, melanggar peraturan

tanpa merasa bersalah, dan sebagainya.

Terdapat beberapa teori yang menjelaskan mengenai perilaku menyimpang atau

penyimpangan, yaitu sebagai berikut:

1. Teori Anomie

(48)

30

sistem norma, hilangnya kewibawaan hukum dan diorganisasi hubungan antar manusia, atau suatu gejala ketidakseimbangan psikologis yang dapat melahirkan perilaku menyimpang dalam berbagai manifestasi. Perubahan sosial dalam masyarakatlah yang menimbulkan berbagai dampak perubahan perilaku dalam masyarakat, bergantung kesiapan masyarakat menghadapi perubahan perubahan tersebut., jika siap akan perubahan-perubahan kebudayaan yang terjadi, maka akan membawa kemajuan besar bagi masyarakat. Sebaliknya, jika tidak siap akan perubahan-perubahan yang terjadi maka, akan terjadi ketidakharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Teori Sosialisasi

Edwin H. Sutherland yang menamakan teorinya dengan sebutan differential association, menurut teori ini penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpang, terutama dari subkultur, atau terdapat diantara teman-teman sebaya yang menyimpang. Perilaku menyimpang adalah hasil dari proses belajar atau yang dipelajari, ini berarti bahwa penyimpangan bukan diwariskan atau diturunkan, bukan juga hasil dari intelegensi yang rendah atau karena kerusakan otak. Perilaku menyimpang dipelajari seseorang dalam interaksinya dengan orang lain secara intens. Seorang menjadi pelaku penyimpangan karena ia dianggap lebih menguntungkan untuk melanggar norma dari pada tidak. Terbentuknya asosiasi diferensial itu bervariasi bergantung dari frekuensi, durasi prioritas, dan intensitas

3. Teori Labeling (pemberian cap atau teori reaksi masyarakat)

Labeling ini dapat berupa pemberian julukan, cap, etiket, yang karena adanya label tersebut maka sang pelaku mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang penyimpang dan mengulangi lagi penyimpangan tersebut menjasi suatu kebiasaan atau gaya hidup bagi pelakunya. Schrag menyimpulkan asumsi dasar teori labling sebagai berikut:

a. Tidak adanya suatu perbuatan yang terjadi dengan sendirinya bersifat kriminal

b. Rumusan atau batas tentang kejahatan atau penjahat dipaksakan sesuai dengan kepentingan mereka yang memiliki kekuasaan. c. Seorang menjadi penjahat bukan karena melanggar

undang-undang, malinkan karena ia ditetapkan demikian oleh sang penguasa.

d. Sehubungan dengan kenyataan bahwa setiap orang dapat berbuat baik dan tidak baik, tidak berarti bahwa mereka dapat dikelompokkan menjadi dua bagian:kelompok kriminal dan nonkriminal.

References

Related documents

X = the sum of the student’s individual score N = the number of student. It was the first cycle in this classroom action research. The writer who acted as the teacher entered

Go Bucket List Travel™ Page 3 This reference guide may not include all possible European river cruises but is representative of the many cruises active in this market by the

"(2) A taxpayer, other than a small taxpayer, must adopt the same cost-flow method of assigning costs for calculating the value of closing stock valued at cost as

I also discuss about the properties of the CIV emission line, with particular emphasis on the blueshifted component and the mass outflow rate and kinetic power of the associated

Three pieces of data were obtained from ULAKBIM and from the e-journal publishers to test the validity of Urquhart’s Law: (1) Interlibrary use data consisting of more than 150,000

Shadow Assistant Minister

After we have locked up our excess coins, we will continue to play the slot unless we encounter a period of eight consecutive losing plays or lose a betting sequence following

I am proud to support the MBA Social Entrepreneurship programme, which enables students to travel to Uganda and to work with the Busoga Trust to improve water and