PANDUAN NASIONAL KESELAMATAN PASIEN RS (PATIENT SAFETY).pdf

45 

Full text

(1)

KESELAMATAN"[3i[?,'f.]Jlt"t?Tfi+

(patient Safety)

UTAI\lAl<Af\l

KE

SE

UMATAN PAS/EN

Departemen Kesehatan R"l.

2006

(2)

IEITERI KESEHATAN IEPUBLIK INDO}IESIA

SAMBUTAN

l\tENTERT KESEHATAN REPU8L{K lNrX)NEStA Asslamu'alaikum Wamhmatullahi Wabarairetuh

Pcmbangunan keseham bernrjuan menhgkarkan den1at kesehalan indindu atau mryankat di Indonesia. Denga-l meningkatnya pengctahum masyarakar aka pelayam kesehatan yang berknalitas, malo pcmerintah dihadapku pada tanbngan antam lain adarya kebuhrhu pclayam ymg bemutu &n tcryugkau. Seperti di kaalui aduya kcluhan msyarakal tcntatrS masalah kslalrm klnjs/kelrlaian medis dalam mclalarkal pela)arun kessbalan ban)€k terjadi dan nrengglobal. Data di Indonesia sampai sad rni belm ada, tetapi keluhan-keluhaa ruyan}ar melalui media mass mengalami peningkara- ttal ir ditmDah dengan adaya FIAM, UU Pcrlindungan Konsumcn dar UU Pnrlock Kcdoktea. Akibatn]"a tutuian terhadap profcsi mupun Rumab Sakit scmkin mcoingkat tcrutam tcrhadap tindakan petaymn keschatan yang buak-hir dcngm kcaatan ata! kcmaliil.

Unt* itu baik tenaga profcsi mupu non profcsi )'ang s;ap bckcrja mclaymi psian 24 jam tcrus mcnerus, hms mcrcspon keaCaar tersebut dengan trerbagi cara png bcrkaitan dengan tugasnya rnasing-nrasing . Hal ini sangat pcnting mcngingat pelaym yang dibcrika nrc{iputi cpcft m€dis, legal clis, psikologi mupm sosial, fimnsial /t,q buda)a

Clobalisasi menycbabkan tcrjadin;a tra$fonna-si maslarakat negara mcnjadi rsy'arakat global (dunil) schingga batas antar ncgaB mcnjadi trdel jelu. Peisainga keur dibcrbagai sektor tcmasuk sehor kcsehatan al<an mcmberikan dampak posilifunnrli mcndorong pcningkatu mutu pelaym kaehatan di lndoncsia ,let^pi iuga memberika dampak ncgatif jika kita tidal siap bcrsing dimana aftan tutuptrF bcltagai fcilitas pclayaan kcschatan yang sudah ada. Kmdisi ini hanya .l"par diccgah dcngm upaya intcnsif mcningkatkan profcsionalismc dan muDu manajcmm di fuilitas kcschatan yautg a.1^ . Bckcrja scun prcfcional aka mclindungi rrEsyamjGt ais hatnya untlk modapafla pdayajm yang bcrmutu rcrta mefindungi tcnaga kc$halil itu *-ndiri dari hrntutan hullm akibat mcLliql errcr dan mal praktck. Scsuu PP 32 ft 96 tcntang Tcmga Kcschatan pada psl 2l ayat I trcrbuol sctirp tcnaga kcschatlr &lam mclakukm tugasn)a bcrkc*a.libm utuk mematuhi standar profcsi tcuga kcschara &n nrcnghormati hal puicn. Olch kacna itu saya mmyambut gmtbira den mcngucapkan sclamat kcpada Perhimpum Rumah Sakit Seluruh lndoqesia ircrsam KARS yalg ielah berbasil menlrusm nsskrh panduil )alg merupakan slah sab aqnn dalam menbcrikm pclal'anan yag professiorul. Dagan dcmikian pmdum ksclarotan pdicn Rrrmah Sakit ini akan wgat dibutubka olcb itrtitrsi pclayam dan tcmga kcschatan 1'mg mcmpuyai tanggungjawab tcrhadap hal ini. Hal ini mcnunjuklan admya kcpcdulim PERSI du KARS mcmbutu pcnyelmian masalalr kaeiratan di lndonan.

Saya bcrharap dengm admya buku Panduan Nasional Kcselamatan Pasrcn Runrah Sakit ini dapaf mcnumbuhkaa dan mcngembangkan 'rasa tanggung jawab serra komitmq pihak tcr*ait datarn melaksmlan tugtrnya, agar dcngan sdar rncncrapkan scmua kctcltrff kesclamatan dan kcsehatan pasicn guna nrerru.ludlan _ pc)ayaru kcehatan ymg professrornl, bcrmutu, anan, nyaman &l manusrawl.

Akhir kata sva mengharapkm buku pandum rni dapar bemtut bagi rumah sakil di Indocsia.

(3)

re\

(w)

\w

Kata Peftgantar

Dircktur Jerdeml Bina Pe,ayanan Medik

Di era gtobalisasi ini perkembangan ilmu dan teknologi sangatlah pesat ternrasu ilmu dan teknologi kedokteran. Peralatan . kedokteran baru banyak diketemuka demikian juga dengan obat baru. Keadaan tersebut berdampak terhadap pelayana kesehatan, dimana dimasa lalu pelayanan kesehatan sangadah sedernana, serin kurang efeKif namun lebih aman. Pada saat ini pelayanan kesehatan sangatla kompleks, lebih efektif namun apabila pemberi pelayanan ku!'ang hati-hati dap; berpotensi terFdinya kesalahan pelayanan. Data di Amerika S€rikat L diantara 20 oraqg menghadapi resiko kesalahan pelayanan di rumah sakit, diband,ngkan denga, resiko naik p€sawat terbang yang hanya 1 per 2.000.000 maka resiko rrendapatka kesalalran pelayanan di rumah sakit lebih Unggi. Di lrdonesia kasus yang paling serin terladi adalah kesalahan obat yang tidak jarang menjadi tuntufan hukum dan berakhir r pengadilan. lGrena itrr program keselamatan pasien rumah sakit (hospital patrer safety) sangadah pen0ng dan rnerupakan peningkatan dad program mutu yang selam ini dilaksanakan secara korservatif.

Buku Panduan Nasional Keselarplan Paien Rumah Sakit akan menFdi ala bantu bagi setiap rumah sakrt dalam rnelaksarnkan program keselamatan pasien rumai sakit. Isi dari buku panduan nasional keselamatan pasien rumah sakit adalah standa keselamatan pasen dan tujuh langkah penerapan keselamatan pasien rumah sakii Dalam menyusun buku panduan ini telah melibattan organisasi perumahsakitan, rumal sakit dan unit-unrt di Departemen Kesehatan yang terkatt dengan mutu pelayanar kesehatan. Standar keselamabn pasien yang ada di dalam buku panduan ini merupakar bagian dari standar pelayanan rumah sakit. Karena itu evalrrasi pemenuhan standa keselamatan pasien ini akan dilakukan rrelalui program akreditasi rumah sakrt.

Fenyempurnaan dan pengembangan Duku panduan ini akan terus drlakukar secara berkala disesuaikan dengan tuntutan program, kemajuan ilmu dan teknologi c bidang kedokteran serta perkembangan standar pelayanan rumah sakit. Dengar demikian, rumalr sakii dituntut unfuk terus mengembangkan Ciri dan meningkatkar mutu pelayanannya khususnya dalatn progrdm keselamatan pasien rtJmah sakit.

(4)

Kata

Sambubn

Ketua

Umum

Perftimpunan

Rumah

Sakit

Seluruh

Indonesia

ASSALqAMUAI.AIKUM

WR.WB.

Pertama-tama

mari kita panjatkan

puji syukur

ke hadirat

Tuhan

YME karena

atas

rcrkat

rahmat

dan ridho-Nya

telah

tersusun

buku

pedoman

nasional

tentang

keselamatan

:asien

di Rumah

Sakit.

2400 tahun yang lalu Hipocrates

telah mengeluarkan

fatwa :"Primum,

i,lon Nocere'

[First,

Do No Harm).

Fatwa

ini mengamanatkan

tentang

keselamatan

pasien

yang

harus

Jiutamakan.

Dari

fatwa

ini tersint bahwa

keselamatan

pasien

bukan

hal yang

baru

dalam

dunia pengobatan,

karena

pada hakekatnya

tindakan

keselamatan

pasien

ifu sudah

menyatu

dengan

prqses

pengobatan

ifu sendiri.

Namun,

dengan

berkembangnya

ilmu

pengetahuan

dan iehnologi

kedoheran

serta makin

kompleksnya

manajemen

Runnh

Sakit,

unsur

keselamatan

pas'ren

ini agak

terabaikan.

Dengan

mundnya laporan

'To En

is Human"

pada tahun 2000, dunia dikagefl<an

dengn kenyataan

bahwa

demikian

banyaknya

kasus*asus

Kejadian

Tioak

Diharapkan

yang

terjadi

di Rumah

Sakit.

Sesudah

laporan

tersebut,

keselamatan

pasien

menjadi

issue

gbbal sampai

saat

ini, bahkan

pada

tahun

2004

WHO

mencanangkan

'Globai

Alliance

For Patient

Safett' yang

mengangkat

fatwa

Hipocrates

di atas.

Sebagai

tindak

lanjut

dari terbentuknya

Komite

Keselanntan

Pasien

Rumah

Sakit

oleh

PERSI

serta

telah dicanangkannya

Gerakan

Nasional

Keselamatan

Pasien

oleh Menteri

Kesehatan,

maka

disusunlah

buku'Panduan

Nasional

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakif

ini. Mengkaji

fatwa Hipoaaies

diatas maka program

keselamalan

pasien

lidak boletr

dipandang

sebagai

beban

bagi Rumah

Sakit,

dokter

atau pembed

pelayanan

kesehatan

lainnya

melainkan

merupakan

suatu kewajiban

moral

bagi seluruh

pembed

pelayanan

kesehatan

tersebui.

Buku

panduan

ini harus

dipandang

sebagai

panduan

untuk

rnemudahkan

bagi

Rumah

Sakit serta pembed pelayanan kesehatan dalam rnelaksanakan

(5)

program-prcgramkeselamatan

pasien

secara

terpadu,

sehingga

akan

didapat<an

hasil

akhir

berupa

peningkatan

mutu

pelayanan

kesehatan

terhadap

pasien.

Buku

panduan

ini tentunya

akan

diikutioleh

panduanaanduan

lain

sebagaipenjabaran

yang

lebih

rincitentang

halialyang

harus

dilaksanakan.

Harapan

saya

selaku

ketua

umum

PERSI

agar

buku

panduan

ini dimanfaatkan

sebaik-baiknya

oleh seiuruh

Rumah

Sakit

di Indonesia

dan saya harapkan

adanya

sumbang

saran

untuk

perbaikan

lebih

lanjut.

Kepada

anggota

tim penyusun

buku

pedoman

ini saya

ucapkan

terima

kasih

dan penghargaan

yang

tnggi atas

hasll

jerih

payahnya.

Semoga

Tuhan

YME seialu

memberikan

Ridho,

bimbingan

serta perlindungan-Nya

bagi

kita

semua

dalam

rangka

pengabdian

profesi

kita

kepada

negara

dan bangsa.

Wassalam

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia

(6)

Kata Sambutan

Direktur Eksekutif Xomisi Akroditasi Rumah Sakit

Pada waktu ini upaya meningkatkan mutu pelayanan dan reningkatkan upaya keselamatan pasien di rumah sakit sudah ncruoakan sebuah gerakan universal. Berbagai negara maju bahkan telah rnengg€s€r paradigma 'qualitt' kearah paradigma baru quality - safeg '. Ini berarli bukan hanya mutu pelayanan yang harus ditingkaff,an tetapi yang lebih penting lagi adalah menjaga keselamalan pasien secara konsisten dan terus menerus.

Tujuan keselamatan pasbn di rumah sakit adalah mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesatahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak menqambil lindakan yang harusnya diambil.

Maka, prakaaa Perhirnpunan Rumah Sakit Seluruh lndonesia (PERSI) nrelakukan gerakan keselamatan pasien di Indonesia, mensosialisasikan dikalangan komunitas rumah sakit, menyusun pogram aksi dalam bentuk ' Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit', tepat sekali waklunya. Prakarsa ini patul kita hargai.

Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakil (Patient Sabty) ini hanyalah merupakan awal dari upaya menj4a keselamatan paslen di rumah sakit. Pada waktunya dikemudian hari, langkah awal ini perlu dinilai pelaksanaannya melalui penilaian terhadap aplikasi standar pelayanan keselamatan pasien.

Terima kasih.

KOMISI AKREDITASI RUMAH SAKIT

.F

Dr. H. Boedihartono, MHA ( Drektur Eksekutif )

(7)

Kata

Pengantar

Bermula

dad laporan

|OM/lnstitute

of Medicine,

Amerika

Serikat

th 2000,

TO ERR lS

HUMAN,

Building

a Safer

Heafth

System'diikuti

data WHO (World

Alliance

br Patient

Safety,

Forward

Programme,

2004)dad

berbagai

negara

yang

menyatakan

bahwa

dalam

pelayanan

pasbn

rawat

inap

di rumah

sakit

ada sekitar

3-16

% Kejadian

Tidak

Diharapkan

(K[D/Adverse

Event), maka PERS|/Perhimpunan

Rumah Sakit Seluruh lndonesia

mengambil

inisialif

rengaiak

semua

pihak

stakeholder

rumah

sakit

untuk

mempefiatikan

Keselamatan

Pasien Rumah Sakit. Inisialif PERSI ini dilaksanakan

dengan

mengembangkan

lebih

lanjut

panduan

dan standar

tentang

keselematan/keamanan

yang

sudah ada, misalnya

standar

K3 (Kesehmatan

Ke{a, Kebakaran,

dan Kewaspadaan

Bencana),

standar

Pengendalian

Infeksi

Nosokomial

dlsbnya,

yang

diintegrasikan

dalam

suatu

Sistem

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakit

yang

baru

dan komprehensif.

Gerakan

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakit d'nwali

dengn membenfuk

Komite

Keselamatan

Pasien

Rumah

SakiUKKPRS

oleh PERSI

pada Juni 2005 sebagai

hasil

Raker

PERSI

Maret

2005

di Sunabaya,

diikuti

dengan

pencanangan

Gerakan

Keselamatan

Pasien

Runnh

Sakit

oleh

Menteri

Kesehatan

Dr. Siti

Fadillah

Supari

pada

21 Agusfus

2005

dalam

Seminar

Nasional

PERSI

di Jakarta.

KKPRS

kemudian

menyusun

Panduan

Tujuh

Langkah

illenuju

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakit

dan Glosarium

KPP.S.

Sejalan

dengan

itu I(ARS (Komisi

Akreditasi

Rumah

Sakit, DepKes)

menyusun

Standar

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakil.

Kedua

upaya

ini kemudian

disinergikan

melalui

suatu

Tim terdiri

dari

unsunrn$r KKPRS-PERSI,

IGRS DepKes,

yang dengan dukungan

BD (Becton

Dickinson

& Compaey)

pada

bulan

Maet 2006

telah

berhasil

menyusun

"Buku Panduan

Nagional

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakif'. Panduan

ini berisi

Standar

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakit,

Tujuh

Langkah

Menuju

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakit,

Formulir

Laporan

lnsiden

dan Glosarium,

serta Instrumen

Penilaian

Akreditasi

RS untuk

standar

keselamatan

pasien

rumah

sakit

dari KARS.

Jumlah

standar

pelayanan

rumah

sakit

yang

diakrcditasi

dengan

demikian

menjadi

16 Standar

Pehyanan

Rumah

Sakil

dan 1 Standar

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakit.

Semoga

Buku Panduan

Nasional

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakit ini dapat

digunakan

unfuk membanfu

Rumah

Sakit menerapkan

Program

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakii.

Jakarta, Maret

2005

Tim

Penyusun

(8)

D A F T A R I S I

- Kata Sambutan Menteri Kesehatan R.l

- Kata Sambutan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik - Kata Sambutan Ketua PERSI

- Kata Sambutan Direktur Eksekutif KARS - Kata Pengantar Perryusun

BAB L Pendahuluan Latar Belakang BAB ll. Keselamatan Pasien

a. MengaPa keselamatan Pasien ? b. Pengeftian

c. Tujuan d. lsilah-istilah

BAB lll. Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit

BAB lV Tujuh Langkah Penerapan Keselamatan Pasien Rumah Sakit BAB V. Pelaksanaan Kegiatan Secara Nasional

BAB Vl. Pencatatan dan PelaPoran BAB Vll. Monitoring dan Evalttasi BAB Vlll. PenutuP

Lamprran :

- Tim Penyusun - Formulir Laporan Insiden

- Glosarium Keselamatan Pasien Rumah Sakit.

Lampiran Khusus :

- Instrumen Akreditasi Pelayanan Keselarnatan Pasien Rumah Sakil' ( Komisi Akreditasi Rumah Sakit - I(ARS' 2006 )'

1 0 1 2 3 5 o 1 1 1 5 1 0 20 L I

?2

23

z+ 28 30

(9)

BAB

I

PENDAHULUAN

1.1. latar behkang

Keselamahn (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada linn isu penting yang terkait dengan keselamatan (safety) di rumah sakit yaitu : keselannhn pasien (patient safetyl, kesolamatan pekerja atau petugas kesehalan, kesslamabn bangunan dan peralaian di rumah sairit yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan (green praductlily) yang berdampak terfradap pencemaran lingkungan dan keselamatan 'bisnis' rumah sakit yang teftait dengan kelangsungan hidup rumah sakit. Ke lima aspek keselamatan tersebut sangatlah penting untuk dilaksanakan di setiap rumah sakit. Namun harus diakui kegiatan institusi rumah sakit dapat berjalan apabila ada pasien. lGrena itu keselamatan pasien merupakan prioritas uhma unfuk dilaksanakan dan hal tersebut terkail dengan isu mufu dan citra perumahsakitan.

Harus diakui, pelayanan kesehabn pada dasamya adalah untuk menyelamakan pasien sesuai dengan yang diucapkan Hiprocrates kira-kira 2400 tahun yang lalu yaitu Primum, non nocere (First, do no harm). Namun diakui dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi pelayanan kesehatan ktususnya di rumah sakit menjadi semakin kompleks dan berpotensi terladinya Kejadian Tidak Diharapkan - KTD (Adverse event) apabila tidak dilakukan dengan hati-hati.

Di rumah sakit terdapat ratusan macam obat. ratusan tes dan prosedur, banyak alat denEan teknologinya, bermacam jenis tenaga profesi dan non profesi yang siap memberikan pelayanan pasien 24 jam terus meneius. Keberagaman dan kerutnan pelayanan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat teriadi KID.

Pada tahun 2000 lnsl/ute of Medicine di Arnerika Serikat menerbitkan laporan yang mengaget<an banyak pihak : 'IO ERR ,S HUMAN' , Building a Safe; Health System. Laporan itu mengemukakan peneli$an di rumah sakit di utah dan Colorado seila New /ork. 0i Utah dan Colorado ditemukan KTD (Adverse Event) sebesar 2,9 %, dimana 6,6 % diantaranya meninggal, Sedangkan di New York KTD adalah sebesar 3,7 % dengan angka kematian 13,6 %. Angka kemalian akibat KID pada pasien rawat inap di seluruh Amerika yang befumlah 33,6 juta per tahun berkisar 44.000 - 98.000 per tahun. Publikasi WHO pada tahun 2004, mengumpulkan angka-angka penelitian rumah sakit di bebagai l.legara : Amerika, Inggris, Denmark, dan Ausfalia, ditemukan KTD dengan rentang 3,2 - '16,6 %. Dengan data{ata tersebut, berbagai negara segena melakukan penelitian dan mengembangkan Sistem Keselamatan Pasien.

Di Indonesia data tentang KTD apalagi Kejadian Nyaris Cedera (Near miss) masih langka, namun dilain pihak terjadi peningkatan tuduhan'mal praKek'. yang belum tentu sesuai dengan pembukian akhir. Dalam rangka meningkafl<an keselamatan pasien di rumah sakit maka Perhimpunan Runah Sakit Seluruh Indonesia telah mengambil inisiatif membentuk Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS). Komite tersebut telah aktif melaksanakan langkah langkah persiapan pelaksanaan keseiamatan pasien rumah sakit dengan mengembangkan laboratorium prcgram keselamatan pasien rumah sakit.

Mengingat keselamatan pasen sudah menjadi funfutan masyarakat maka pehksanaan program keselamabn pasien rumah sakit perlu dilakukan. Karena itu diperlukan acuan yang jelas untuk mslaksanakan keselamatan pasien tenebut. Buku PaMuan Nasional Keselamatan Pasien Rumah

(10)

Sakit yang terutama berisi Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit dan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit diharapkan dapat membantu rumah sakit dalam melaksanakan kegiahnnya. Buku Panduan ini rencananya akan dilengkapi dengan Instumen Penilaian yarB akan dimasu|.kan di dalam program akreditasi rumah sakit.

1.2. Tujuan disusunnya Buku Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Saklt adalah : Tujuan Umum :

Memberikan inbrmasi dan acuan bagi pusat prcpinsi dan rumah sakit dalam melaksanakan prcgram keselamatan pasien rumah sakil

Tujuan Khusus:

',|. Terlaksananya progmm keselamatan pasien rumah sakit secara sistematis dan terarah. 2. Terlaksananya pencatatan insiden di rumah sakit dan pelaporannya.

3. Sebagai acuan penyusunan insfumen akredihsi rumah sakit.

4. Sebagai awan bagi pusat, propinsi dan kabupatenftota Calam melakukan pembinaan rumah sakit.

(11)

BA8II

KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKTT

2.1. frlengapa Keselamalan Pasien ?

Sejak awal tahun 1900 Institusi rumah sakit selalu meningkatkan mutu pada 3 (tiga) elemen yaitu struktur, proses dan outcome dengan bermacam-macam konsep dasar, program regulasi yang beruenang misalnya antara lain penerapan Standar Pelayanan Rumah Sakit, penerapan Quality Assurance, Totai Quality Managernent, Countinuos Quality lmprovemenl, Perizinan, Akeditasi, Kredensialing, Audit Medis, Indikator Klinis, Clinical Govemance, lSO, dan lain sebagainya. Harus diakui program-program tersebut telah meningkat<an mufu pelayanan rumah sakit baik pada aspek struktur, proses maupun ouput dan outcome. Namun harus diakui, pada pelayanan yang telah berkualitas tersebut masih terladi KiD yang tidak iarang berakhir dengan tuntJtan hukum. Oleh sebab itu perlu program untuk lebih memperbaiki proses pelayanan, karena KTD sebagian dapat merupakan kesalahan dalam proses pelayanan yang sebetulnya dapat dicegah melalui rencana pelayanan yang komprehensif dengan meliba{<,an pasien berdasarkan hak-nya. Prograrn tersebut yang kemudian dikenal dengan istilah keselamatan pasien (patient safety). Dengan meningkahya keselamatan pasien rumah sakit diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit dapat meningkat. Selain itu keselamatan pasien juga dapat mengurangi KTD, yang selain berdampak terhadap peningkatan biaya pelayanan juga dapat rnembawa rumah sakit ke arena blanming, menimbulkan konflik antara dokter/petugas kesehatan dan pasien, mcnimbulkan sengketa medis, funtutan dan proses hukum, tuduhan malpraktek, b/ow-up ke mass nedia yang akhimya menimbulkan opini negatif terhadap pelayanan rumah sakit, selain itu rumah sakit dan doKer bersusah payah melindungi dirinya dengan asunansi, p€ngacara dsb. Tetapi pada akhimya tidak ada pihak yang menang, bahkan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit.

2.2. Pengertian

Keselamatan pqtien (patient safety) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi : assessmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk rneminimalkan timbukrya risiko. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang dlsebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan.

2.3. Tujuan:

1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit

2. Meningkirhya akutanbilitas rumah sakii terhadap pasien dan masyarakat 3. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit.

4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak diharapkan.

2.4. lgtilah{stilah dalam Keselamatan Pasien Rumah Sakit: Lihat lampiran : Glosarium Keselamatan Pasien Rumah Sakit.

(12)

BAB III STANDAR

KESELAMATAI{ PASIEN RI'MAH SAKTT

Mengingat masalah keselamahn pasien merupakan m'asalah yang perlu ditangani segera di rumah sakil di Indonesia maka diperlukan standar keselamatan pasien rumah sakit yang merupakan acuan bagi rumah sakit di lndonesia untuk melaksanakan kegiatannya.

Standar keselamatan pasien rumah sakit yang disusun ini mengacu Stada Tlospital Patrent Safefy Sfandards" yang dikeluarkan oleh Joint C,ommision on Accrditation of Heafth Oryanizations, lllinois, USA, tahun 2002, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi perumahsakitan di Indonesia.

Standar kesetamatan pasien tersebut terdiri dari tujuh standar yaitu : 1. Hak pasien

2. Mendidik pasien dan keluarga

3. Kese{amatan pasien dan kesinambungan pelayanan

4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan kselamatan pasien

5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien 6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien

L Komunikasi merupakan kunci bagi staf unfuk mencapai keselamatan pasien

Uraian tujuh standar tersebut dialas adalah sebagai bedkut : Standar !. Hak pasien

Standar:

Pasien dan ke!uarganya mempunyai hak untuk rnendapafl<an informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan.

Kriteria :

1.1. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan.

1.2. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan 1.3. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara jelas

dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang rencrna dan hasil pelayanan, pengobatan' atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan teriadinya Keladian Tidak Diharapkan.

Standar ll. tlendidik pasien dan keluarga Standar:

Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien

(13)

Kriteda:

Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkafl<an dengan keterlibatan pasien yang merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena itr, di rumah sakit harus ada sistem dan mekanisme mendidik pasien dan keiuarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga dapat :

1). Memberikan informasi yang benal jelas, lengkap dan jujur. 2). Mengetahui kewajiban dan tanggungjawab pasien dan keluarga. 3). Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerii 4). Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.

5), Memafuhi instruksi dan menghormati peraiuran nrmah sakit. 6). Memperliha0<an sikap menghormati dan ienggang rasa. 7). Memenuhi kewajiban finansial yang clisepakati.

Standar lll. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan Standar:

Rumah Sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan.

Kriteria:

3.1. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasien masuk, pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari rumah sakit.

3,2. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan sehingga pada seluruh tahap pelayanan bansisi antar unit pelayanan daoat berjalan baik dan lancar.

3.3. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi untuk memfasilitasi dukungan keluarga, pelayanan keperawatan, pelayanan sosral, konsultasi dan rujukan, pelayanan kesehatan primer dan tindak lanjr.( lainnya. 3.4. Terdapat komunikasi dan transfer informasi anlar profesi kesehatan sehingga

dapat tercapainya proses kmrdinasi tanpa hambatan, aman dan efehif.

Standar lV. Penggunaan metoda+netoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien

Stanciar:

Rumah sakit harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja mehlui pengumpulan data, menganalisis secara intensif Kejadian Tidak Diharapkan, dan melakukan perubahan untuk meningkattan kirreda serta kesehmahn pasien.

Krlteria :

4.1. Setiap rumah sakil harus ntelakukan proses perancangan (design) yang baik, mengacu pada visi, misi, dan tujuan nrmah sakit, kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang sehat, dan

(14)

ftkbr lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan "Tujuh Langkah Menuju Keselanuabn Pasien Rumah Sakif.

Setiap runuah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja yang antara lain terftait dengan : pelaporan insiden, akreditasi, manajemen risiko, utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.

Seliap runnh sakit harus melakukan evaluasi intensif terkait dengan semua Kejadian Txlak Diharapkan, dan secara proaktif melakukan evaluasi safu proses kasus risiko tinggi.

Seiiao rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis untuk merFnhlkan perubahan sistem yang diperlukan, agar kinerja dan keselamatan pasien terjamin.

Standar V. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien S:tandar:

1. Pinpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan pasien secara terintegrasi dahm organisasi melalui penerapan 'Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakil ".

2. Pirpinar menjamin ber'langsungnya program proaktif untuk identif,kasi risiko kesebmatan pc'ren dan program menekan atau mengurangi Kejadian Tidak Diharapkan.

3. Pinpinan merdorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan indiviiu berkaitan dengan pengambilan kepufusan tentang keselamatan pasien. 4. Pinpinan merqalokasikan sumber daya yang adekuai untuk mengukur, mengkaji, dan

rnenirgkalkan kjne{a rumah sakit serta meningka{<an keselamatan pasien.

5. Pinpinan mergukur dan mengkali efektifitas konbibusinya dalam meningkatkan kinerja runnh sakit dan keselamatan pasien.

Krihria:

5.1. Terdapat lim antrar dbiplin unfuk merBelola program keselamatan pasien. 5.2. Tersedia progmm proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program

merninimdkan insid,en, yang mencakup jenis-jenis Kejadian yang memerlukan perhatim, mulai dad 'Kejadian Nyaris Calera' (Near miss) sampai dengan 1(ejadian Tilak Diharapkan' ( Aw-erse event).

5.3. Tersedh mekanbme keria unfuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit taintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan pasien.

5.4. Tersedia prosedur'cepatbnggap" terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien yarg terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk kepeduan analisis.

5.5. Ters€dia metanisme pelaporan intemal dan ekstemal berkaitan dengan insiden termasud< penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang Analisis Akar Masalah (RCA) Xejadian Nyaris Cedera' (Near miss) dan "Kejadian Sentinel' pada saat program keselamamn pasien mulai dilaksanakan.

5.6. Tersedia mekanisnre unfuk menangani berbagai jenis insiden, misalnya menangani Xeiadhn Sentinef (Sentinel Event) atau kegiatan proaKif untuk memperkecil rbiko, terrnasuk rnekanisme untuk mendukung staf dalam kaitan dengan 'Kejadian Sentinel'.

5.7. Terdapat kohborasi dan komunikasi tebuka secara sukarela antar unit dan antar per€dda pelayanan di dalam rumah sakit dengan pendekatan antar disiplin.

4.2.

4.4.

(15)

Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibuhrhkan dalam kegiatan perbaikan kinerja rumah sakit dan perbaikan keselamatan pasien, termasuk evaluasi berkala terhadap kecukupan sumber daya tersebut.

Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektjf untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan kesolamatan pasien, termasuk rencana tindak laniut dan implementasinya.

Siandar Vl. Mendidik staf tentang keselamatan pasien Standar:

1. Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas

2. Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang beri<elanjutan untuk meningkat<an dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.

Kriteria :

6.1. Setiap rumah sakit harus memiliki program pendidikan, pelatihan dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien sesuai dengan tugasnya masing-masing.

6.2 Setiap rumah sakit harus menginteg;'asikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan in-service training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.

tj.3. Setiap rumah sai<it harus rnenyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboraijf dalam rangka melayani pasien.

standar vll. Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai keselamatan pasien Standar:

1. Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien unhk memenuhi kebutuhan informasi intemal dan ekstemal.

2. Transmisi data dan infonnasi harus teoat wakfu dan ekurat. Kdteria:

7.1. Pedu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien.

7.2. Tersedia mekanisme ideniifikasi masalah dan kendala komunikasi unh:k merevisi manajemen informasi yang ada

5.9.

(16)

BAB

N

TUJUH

TANGKAH

MENUJU

KESELAIIIATAN

PASIEN

RUIIAH

SAKT

Mengacu kepada standar keselamatan pasien pada bab lll, nnka rumah sakit harus mendesign (merancang) proses baru atau memperbeiki proses yang ada, memcnitor dan mengevtuasi kinerja nrelalui pengumpulan data, nrenganalisis secara intensif Kejadian Tidak Dihaiapkan, dan ntelakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja s€rh keselamatan pasien.

Proses perancangan tersebut harus menEacu pada visi, misi, dan fujuan runnh sai<it kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktk bisnis yang seha[ dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan ' Tuiuh Langkah Keselamatan Pasien Rumah Sakif

Berkaitan hal tersebut diatas maka perlu ada kejelasan perihal tuluh largkah keselamatan pasien rur,nah sakit tenebut.

Uraian Tujuh Langkah Menuiu Keselamatan Pasien Rumah Sakit adalah sebagai berikut : T. BANGUN KESADAMN AKAN NII.ATKESEI-AiIATAN PASIEN

Ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil. Langkah penerapan:

A. Bagi Rumah Sakit:

o Pastikan rumah sakit memiliki kebijakan yang meiabarkan apa yarg harus dilakul€n staf segera setelah terjadi insiden, bagin€na langkatFlarqkah pengumpulan fakta harus dilakukan dan dukungan apa yang hans dibeikan kepada staf, Pasien dan keluarga

r Pastikan rumah sakit memiliki kebiiakan yang menjaba4<.an F€ran dan akuntabiiitas individual bilamana ada insiden

r Tumbuhkan budaya pelaporan dan belajar dari insiden yang teriadi di rumah sakit. r Lakukan asesmen dengan menggunakan survei penilaian keselamatan pasien. B. Bagi UnifTim :

r Pastikan rekan sekerja anda merasa rnampu unfuk berbicaia mengenai kepedulian mereka dan berani melaporkan bilamana ada insiden

. Demonstrasikan kepada tim anda ukuran-ukuran yang dipakai di rumah sakit anda untuk memastikan semua laporan dibuat secara terbuka dan terjadi proses pembela.iaran serta pelaksanaan tindakan/solusi yang tepat

2. PIMPIN DAN DUKUNG STAF ANDA

Bangunlah komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang Keselanntan Pasien di rumah sakit anda.

(17)

Langkah penerapan: A. Untuk Rumah Sakil:

. Pastikan ada anggota Direksi atau Pimpinan yang bertanggung jawab atas Keselamatan Pasien

. ldentifikasi di tiap bagian rumah sakit, orang-orang yang dapat diandalkan untuk menjadi "penggerak" dalam gerakan Keselamatan Pasien

o Prioritaskan Keselamatan Pasien dala'rn agenda rapat Direksi/Pimpinan maupun rapat-rapat manajemen rumah sakit

. Masukkan Keselanatan Pasien dalam semua program latihan staf rumah sakit anda dan pastikan pelatihan ini diikuti dan diukur efektivitasnya.

B. Untuk UniUTim :

. Nominasikan "penggerak' dalam tim anda sendiri untuk memimpin Gerakan Keselamatan Pasien

o Jelaskan kepada tim anda relevansi dan pentingnya serta manfaat bagi mereka dengan menjalankan gerakan Keselamatan Pasien

" Tumbuhkan sikap kesatria yang menghargai pelaporan insiden.

3. INTEGMSIKAN AKTIVITAS PENGELOLMN RISIKO

Kembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko, serta iakukan identifikasi dan asesmen hal yang potensial bermasalah.

Langkah penerapan: A. Untuk Rumah Sakit:

o Teiaah kembali struktur dan proses yang ada dalam manajemen risiko klinis dan non klinis, serta pastikan hal tersebut mencakup dan lerintegrasi dengan Keselarnatan Pasien dan Staf

r Kembangkan indikator-indikator kineria bagi sistem pengelolaan risiko yang dapat dimonitor oleh Direksi/Pimoinan rumah sakit

. Gunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem pelaporan insiden dan asesmen risiko untuk dapat secara proaktif meningkatkan kepedutian terhadap pasien.

B. Untuk UniUTim :

o Bentuk forurn-forum dalam rumah sakit untuk mendiskusikan isu-isu Keselamatan Pasien guna memberikan umpan baiik kepada manajemen yang terkait

r Pastikan ada penilaian risiko pada individu pasien Calam proses asesmen risiko rumah sakit

. Lakukan proses asesmen risiko secara teratur, unfuk menentukan akseptabilitas setiap risiko, dan ambillah langkah-langkah

-vang tepat untuk memperkecil risiko tersebut . Pastikan peniiaian risiko tersebut disampaikan sebagai rnasukan ke proses asesmen

dan pencatatan risiko rumah sakit.

4. KEilBANGKAN SISTEM PETAPORAN

Pastikan staf Anda agar dengan mudah dapat melaporkan kejadian/ insiden, serta rumah sakit mengatur pelaporan kepada Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS).

(18)

Langkah penerapan : A. Unluk Rumah Saki! :

, Lengkapi rencana irnplementasi sistem pelaporan insiden ke dalam maupun ke luar, yang harus dilapodran ke KPPRS - PERSI.

B. Unluk UniUTim :

o Beikan semangat kepada rekan sekerja anda untuk secara aktif melaporkan setiap insiden yang terjadi dan insiden yang telah dicegah tetapi tetao terjadi juga, karena mengar$ung bahan pelajaran yang penting.

5. LIBATI(AN DAN BERKOUUNIKASI DENGAII PASIET{ Kembangkan ca'a<r,?a komunikasi yang terbuka dengan pasien. Langkah penerapan :

4.. Untuk Rumah Sakit:

r Pasbkan rumah sakit memiliki kebijakan yang secara jelas menjabarkan ctua{ara komunikasi terbuka tentang insiden dengan para pasien dan keluarganya

r Pastikan pasien dan keluarga mereka mendapat infonnasi yang benar dan jelas bilamana terjaCi insiden

. Bedkan dukungan, pelatihan dan dorongan sernangat kepada staf agar selalu terbuka kepada pasien dan keluarganya,

B. Untuk ijniUTim :

. Pastikan tinr anda menghargai dan mendukung keterlibatan pasien dan keluarganya bila telah terjadi insiden

. Prioritaskan pemberitahuan kepada pasien dan keluarga bilamana terjadi insiden, dan segera berikan kepada mereka informasi yang lelas dan benar secara tepat o Pastikan, segera setelah keladian, tim menunjukkan empati kepda pasien dan

keluarganya.

6. BEI.AJAR DAI{ EERBAGI PENGALATIAN TENTAHG KESELAI{ATAT{ PASIEN

Dorong staf anda unfuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa kejadian itu timbul.

Langkah penarapan: A. Untuk Rumah Sakit:

. Pastikan siaf yang terkait telah terlatih untuk melakukan kajian insiden secara tepat, yang dapat dQunakan untuk rnengidentifikasi penyebab

o Kembangkan kebijakan yang menjabarkan dengan jelas kriteria pelaksanaan Analisis Akar Masalah (Root Cause Analysis/RCA) atau Failure Modes and Etfucb Analysis (FMEA) atau metoda analisis lain, yang harus mencakup semua insiden yang telah terjadi dan minimurn satu kali per tahun untuk proses risiko tinggi.

(19)

B. Untuk UnitIlim :

. Diskusikan dalam tim anda pengalaman dari hasil analisis insiden

. ldentifikasi unit atau bagian lain yang mungkin terkena dampak di masa depan dan bagilah pengalaman tersebut secara lebih luas.

7. CEGAH CEDERA iIELALUI IIIPLEiIENTASI SISTEM KESELAMAIAN PASIEN

Gunakan informasi yang aoa tentang kejadian / masalah untuk melakukan perubahan pada sistem pelayanao.

Langkah penerapan: A. Untuk Rumah Sakit:

. Gunakan infomusi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem pelaporan, asesmen risiko, kajian insiden, dan audit serta analisis, untuk menenlukan solusi seternpat

. Solusi tersebut dapat men'akup penjabaran ulang sistem (struKur dan proses), penyesuaian pelatihan staf dan/atau kegiatan klinis, termasuk penggunaan instrumen yang menjamin keselamatan pasien.

. l-akukan asesmen risiko untuk setiap perubahan yang direncanakan . Sosialisasikan solusi yang dikembangkan oleh KKPRS - PERSI

r Beri umpan balik kepada staf tentang setiap tindakan yang diambil atas insiden yang dilaporkan

B. Untuk UniUTim:

" Libad<an tim anda dalam mengembangkan oerbagai cara untuk mernbuat asuhan pasien menjadi lebrh baik dan lebih aman.

r Telaah kembali perubahan-perubahan yang dibuat tim anda dan pastikan peiaksanaannya.

o Pastikan tim anda menerima umpan balik atas setiap tindak lanjut tentang insiden yang dilaporkan.

Tujuh langkah keselamatan pasien rumah sakit merupakan panduan yang komprehensif untuk menuju keselamatan pasien, sehingga tujuh iangkah tersebut secara menyeluruh harus dilaksanakan oleh setiap rumah sakit.

Dalam pelaksanaan, tujuh langkah tersebut tidak harus berurutan dan tidak harus serentak. Pilih langkah-langkah yang paling strategis dan paling mudah dilaksanakan di rumah sakit. Bila langkah-langkah ini berhasil maka kembangkan langkah-langkah yang belum dilaksanakan.

Bila tujuh langkah ini telah dilaksanakan dengan baik rumah sakit dapat menarnbah penggunaan metoda-metoda lainnya.

(20)

A.

BABV

I-ANGKAH.L.ANGKAH

KEGIATAN

Dl Rumah Sakit

1. Rumah sakit agar membentuk Tim Keselamahn Pasien Rumah Sakit dengan susunan organisasi sebagai berikd : Ketua : dokter, Anggoia : dokter, <tokter gigi, p€raflat, tenaga kefarnnsian dan tenaga kesehatan lainnya

2. Rurnah sakit agnr mengembangkan sistem inbrmrei pencahtan don pelaporan internai tentang insiden

3. Runnh sakil agar melakukan pelapran insiJen ke Komite Keselarnhn Pasien Rumah Sakit (KKPRS) s€cara rahasia

4. Rumah sakit agar memenuhi shndar keselamatan pasien rumah sakit dan menempkan tujuh langkah menuju keselanutan pasien rumah sakit.

5. Rumah sakrt pendidikan mergembangkan sbndar pelayanan medis bedasail<an hasil dari analisis akar masalah dan sebagai tempat pelatihan standar-standar yang baru dikembangkan.

Dl PropinsUKabupatenlkota

1. Melakukan advokasi progmm keselamahn pasien ke rumah sai<it - rumah sakit di wilayahnya

2. Melakukan advokasi ke pemerinhh daerah agartesedianya dukungan anggaran terkait dengan program keselamabn pasien runrah sakit

3. Melakukan pembinaan pelaksanaan program keselamabn pasien rurnah sakit.. Dl Pusat

1. Membentuk Komib Keselamahn Pasien Rumah Sakit dibawah Perhimpunan Runnh Sakit Seluruh lndonesia.

2. Menyusun panduan nasional tentang Keselanatan Pasien Rumah Sakit

3. Melakukan sosialisasi dan advokasi program keselamatan pasien ke Dinas Kesehatan PropinstlGbupatern/Kob, PERSI Dasrah dan rumah sakit pendil*an dengsn irjnring pendilikan

4. Mengembarpkan hborabrium uji ccba program keselanntan pasien.

(21)

c.

BAB VI

PENCATATAN DAN PELAPORAN

DlRumah Sakit

l.Setiap unit kerja di rumah sakil mencatat semua kejadian terkait dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Gedera, Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel) pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.

2.Setiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua keiadian terkait Cengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan dar' Kejadian Sentinel) kepada Ilm Keselamatan Pasierr Rumah Sakit pada formulir yang sudah disediakan oieh rumah sakit.

3.Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit menganalisis akar penyebab masalah semua kejadian yang dilaporkan oleh unit keda.

4.Berdasarkan hasil analisis akar masalah maka llm Keselamatan Pasien Rumah Sakit merekomendasikan solusi pemecahan dan mengirimkan hasil solusi pemecahan masalah kepada Pimpinan rumah sakit

5.Pimpinan rumah sakit melaporkan insiden dan hasil solusi masalah ke Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) setiap te$adinya insiden dan setelah melakukan analisis akar masalah yang bersifat rahasia.

0i Propinsi

Dinas Kesehatan Propinsi darn PERSI Daerah rnenerima produk-produk dari Komite Keselamatan Rumah Sakit

Di Pusat

1. Komile Keselarnatan Pasien Rurnah Sakit (KKPRS) merekapifulasi laporan dari rumah sakit dan menjaga kerahasiannya.

2. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit rnelakukan anaiisis hasil analisis yang teiah dilakukan oleh rumah sakit.

3. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit nrelaLukan analisis iaporan insiden.bekeija sama dongan rumah sakil pendidikan dan rumah saht yang ditunjuk sebagai laboratorium uji coba keselanntan pasien rumah sakjt.

4. Komite Keselarnatan Pasien Rumah Sakit melakukan sosialisasi hasil analisis dan solusi masalah ke Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah, runnh sakit te*ail dan runnh sakit lainnya.

(22)

BAB VII

IIONITORII{G DAN EVALUASI

A. DlRumah Saklt

Pimpinan rumah sakit melskukan monitoring dan evaluasi pada unit keda+nit ke$a di rumah sakit, terkait dengan pelaksanaan koselamatan pasien di unit kerja

B. Dl Proplnsl

Dnas Kesehahn Propinsi dan PERSI Oaerah melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Program Keselamatan Pasien Rumah Sakit di wilayah ke{anya.

C. Dl Pusat

1. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan monitodng dan eraluasi pelaksanaan Keselamabn Pasien Rurnah Sakit di rumah sakit - rumah saht

2. Monitoring dan ewluasi dilaksanakan n{nimal satu hhun satu kali.

BAB VIII PENUTUP

Dengan sernakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan di rumah sakit malo pelaksanaan kegiatan keselamatan pasien rumah sakil sangatlah pen{ing. Melalui kegiahn Ini Ciharapkan teqadi perckanan / penurunan insiden sehingga dapat leUh meningkad<an kepercayaan masyarakat terhadap rumah.sakit di Indonesia. Program Keselannbn Pasien merupakan never ending proses, karena itu diperlukan budaya termasuk moWasi yarp cukup tinggi unfuk bersedia melaksanakan program keselamatan pasien secara berkesinambr.:rgan dan bertelanjutan.

(23)

TIM PENYUSUI{

BUKU PANOUAN NASIONAL KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT

Penganh:

1. 0R. Dr Siti Fadillah Supari, Sp JP.K (Menteri Kesehatan)

2. Dr. Faried W. Huxin, SpB(K) (Diraktur Jenderal Bina Pelayanan Medik) 3. Dr. Rafra Rosita, MPHM (Direhur Bina Pelayanan Medik Spesialislik) Pelaksana:

'1. Dr. Adib A. Yahya, ivlARS (Ketua PERSI)

2. Dr.Boedihartcno, Ml-lA (Direktur Eksekutif Komisi Akeditasi Rumah Sakit/KARS) 3. 0r. SamsiJacobalis, SpB ([4AKERSI)

4. Dr. Nico A Lurnenta, MM (KeUla Komite Keselarnahn Pasien Rumah Sakit) 5. Dr. Robby Tandiari, SpRad (I(ARS)

6. Dr. H. Mgs.Johan T. Saleh, MSc (PERSI) 7. Dr. Lwiharsih, MSc (Departemen Kesehatan) 8. Dr. A. Samhari Basvedan, MPA (BD)

9. Dr. HM. Natsir Nugroho, SpOG, MKes (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit) 10. Dr. Kusno i/artoatnodio. SpA, Mtrl (IGRS)

11. Dr. Muki Reksoprcdjo, SpOG (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit) 12. Dr. Wasisb Budiwaluyo, Ml'lA (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit) 13. DR. Dr. Sutoto,MKes (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit)

14. Dr. Marius Wdiajarta, SE (Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan) 15. Dr. lwan Duriprahasto, M.Med.Sc, PhD (PPMK UGM)

16. DR. Rokiah K, SKM, MHA (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit) 17. Dr. Rcbert inum Srrtedia (PERS0

18. DR. Dr. Herltulanto, SpF, SH (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakil) 19. Di. Grace Frelita, MM (Konrite Keselamatan Pasien Rumah Sakit) 20. Dr. Alex Papilaya, DTPH (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit ) 2'i. DR. 0r. Ingerani, S.P, St'.tvl (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit) 22. Drg. H. Edi Sumanrranto, MM (Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit ) 23. Dr. Adrmad Benyamin, MARS

24. Ora. Arnatyah (i<ARS)

25. Rasmanawalt, S.Kp (Departenen Kesehatan)

26. Dr. Endang Widyaswati, M.Kes (Departernen l'.esehatan) 27. Dr. lkka Trisia (Departemen Kesehatan)

28. Drg. Sri Sapbrini, MARS (tlepademen Kesehatan) 29. Drg. Titi Aryali, MKes (Departemen Kesehatan) 30. Drg. Luki Harbti, (Departemen Kesehatan)

(24)

RAHASIA

ffi.@

ffio*r-*,0

Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit

PERSI

TIPORAN

INSIDEN

(lncident

Report)

Laporan

ini hanya

dibuat

jika limbul

kejadian

yang

rnenyangkut

pasien.

Laporan

ini bersifat

anonirn,

tdak rnencantumkan

narna,

hanya

diperlukan

rincian

kejadian.

Segen kirimkan

laporan

inilangsung

ke Komite

Keselamatan

Pasien

Rumah

Sakit

(KKPRS)

PERSI.

1. Data

Pasien

:

Umur: ...Tahun

Jenis

Kelamin:

O Laki-laki

U Perempuan

Berat

Badan

: ...K9

2. Data

Rumah

Sakit:

Jenis

Rumah

Sakil:

OUmum CKhusus EPemerintah

OSwasta

Qlain-lain

Kapasitas

: .-...

"...tenrpat

tidur

Lokasi

Rumah

Sakit

di Propinsi

: ...

3. Jenis Kejadian

:

O Keiadian

Tidak

Dihanaplen

(Adverse

Event)

O Kejadian

'Nyaris

Cedera'(Near

miss)

D Akibat

Penggunaan

Alat

(misalnya:

alat

rusak

atau

tidak

berfungsi)

O Akibat

Pemberian

Obat

O Lainlain

'1.

Tanggaldan

l{aktu Kejadian

Tanggal:

...Waktu:

(gunakan

pola

wahu

24jam)

LAMPIMN

: FORMULIR

LAPOMN

INSIDEN

5. Kejadian

menyangkut:

E Pasien

Rawat

Inap

O Pasien

Rawat

Jalan

6. Tempat

Kejadlan

:

Unit

Kerja/Departemen

:

... Lokasi

Kejadian:

B Pasien

UGD

(25)

7. Aklbat

Kejadian

Terhadap

Pasien

:

O Kematian

O Membahayakan

Jiwa

(Lfe

Threatening)

O Perlu

Pemwatan

Di Rumah

Sakit

tr Perpaniangn

Perawatan

O TimbulCedena

O Timbul

Kecacatan

(permanent

disability)

B TimbulCacat

Lahir

fl Mernerlukan

Tindakan/lntervensi

Unfuk

Mencegah

Kecacctan

tr Lain-lain

8. Orang

Pertama

Yang

Melaporkan

Kejadian

:

O Potugas

Kesehatan

(Dokler/PerawaUPetugas

hin)

O Pasien

D Keluarga/Penunggu

Pasien

O Pengunjung

Rumah

Sakit

fl Lain-lain

9. Kronologl

Kejadian:

4 . . . .

b . . . .

c . . . . , . . . .

dst.

c . . . . , . . . , . . . .

dst.

Tindakan

Dilakukan

Oleh:

...:

Dokter/DoKer

AhlilPerawaU

Lainnva

11. Faktor-hktor

yang berpengaruh

(Aspek

sistenVstaf/pasien.

Apa

yang

ada

sebelum

timbul

kejadian?)

a , . . . .

b . . . .

c . , . . . " . . . .

dst

t2. Kemungkinan

Tindakan

Pencegahan

(Pemikiran tentang kemungkinan pencegahan yang dapat diambil) 4 . , . . . .

b . . . .

c . . . .

dst.

10

4..

b . .

24

(26)

13. Riwayat

Penyakit

:

14. Catatan

Pelugas

yang bertanggung

jawab

di lokasi

pada

aaat

kejadian:

15. Catahn

Kepala

Unit Keria

(Pastikan laporan ini diisi dengan lengkap. Catat langkah apa yang telah diambil untuk mencegah teru{angnya kejadian )

16.a. Apakah kejadian inipernah terjadidi Unit Kerja yang sama? O Ya U Tidak

Apabila ya, isilah yang dibawah ini.

Unit Kerja yang sama yang pernah mengalami kejadian sama (tangkah apa yang tetah diambil untuk mencegah terulangnya kejadian)

16. b. Apakah

kejadiaa

ini pernah

teriadidi

Unit Keria

lain?

O Ya O Tidak

Apabila

ya, isilah

yang

dibawah

ini.

Unit Keda

yang lain yang pernah

mengalami

kejadian

sama

(langkah

apa

yang

tetah

diambii

untuk mencegah terulangnya kejadian)

(27)

17. Kemungkinan

Penyebab:

Obat

a, Nama

Obat

b. Dosis

c. Cara

Pemberian

d. Indikasi

e. Saat

Pemberian

...

f.Gejala

Yang

Tak Diharapkan

BerhentiSetelah

Pemberian

Obat

Diircntikan:

tr Ya Q Tidak

18. Kemungkinan

Penyebab

: Alal Kes€hatan

a. Nama Alat

b. Tipe/illodeldan

Tahun/Batch

No.

c. Nama

Pabrik

Yang

Memproduksi..

d. Yang

Mengoperasikan

Alat:

Q Petugas

Kesehatan

Q Pasien

Sendiri

fl Lainlain

e. Apakah

Alat

Masih

Tersedia

Untuk

Dievaluasi

?

Cl Ya O Tidak O Dikembalikan

Ke Pabrik

19. TanggalPengiriman

Laporan

Kejadian/lnsiden

Regort

ke KKP-RS

:

Kirirnkan

segera

laporan

inidalam

amplop

tertutup

dan lewat

POS

atau KURIR

ke alamat

:

Ketua

KKP-RS

d/a lGntor

PERSI

: Jl. Boulevard

Arha Gading

Blok

A-7 A No.28,

Kelapa

GadingrJakarta

Utara

14240.

- felp.(021)458.453.03

/ 04.

l-AMPlRAtl

: GLOSARIUM

KKP-RS

(28)

Komite

Keselamatan

Pasien

Rumah

$akit

PERSI

Glosarium

No lstilah Definisi / 1 Keselamalan Pasien Rumah

Sakit (Pafienf safefy)

Suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan oasien lebih aman. Hal ini termasuk: asesmen risiko; idenbfikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien; pelaporan dan analisis insiden; kemampuan belajar dari insirlen dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem ini mencegah teriadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibal melaksanakan suatl tindakan atau tidak

diambil.

2 Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) (Idverse eventJ

Suatu kejadian yang tidak diharapkan yang mengakibad,.an cedera pasien akibat melaksanakan suafu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit dasamya atau kondisi pasien. Cedera dapat diakibat<an oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan medis karena tidak dapat dicegah.

3 KTD yang tidak dapat dicegah ( U n p rev entab le adverse ev ent)

Suatu KTD akibat kcmplikasi yang tidak dapat dicecah denoan oenoetahuan vanq mutakhir.

t Kejadian Nyaris Cedera (KNC) (l.Jear rniss)

Suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan (conmission) atau tidak menqambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak teriadi, karena "keberunttrngan' (mis., pasien terima suatu obat konba indikasi tetapi bdak timbul reaksi obat), karena 'pencegahan' (suatu obat dgn overdosis lethal akan diberikan, tetapi staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan), atau 'peringanan" (suatu obat dgn overdosis lehal diberikan, dlketahui secara dini lalu dibenkan antidotenva).

5 Kesalahan Medis (lfedicaf errors)

Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan nndis yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibakan cedera pada pasien. Kesalahan termasuk gagal melaksanakan sepenuhnya suatu rencana atau menoqunakan rencana vano

(29)

salah untuk menc€pai tujuannya. Dapat akibat melaksanakan suafu tindakan (commrbslon) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (o.mrssion).

6 Inglden Kesehmatan Paslen (P allent Salety lncldeng

Setiap kejadian yang tidak disengaja dan tidak diharapkan. yang dapat mengakibafl€n atau bemotensi menqakibat€n cedera oada oasien. I Pelaporan lnslden Keselamalan

Paslen Rumah Sakit

Suatu sistem untuk mendokumentasikan insiden yang tidak disengaia dan tidak diharapkan, yang dapat mengakibatkan atau berpotensi mengakibat<an cedera pada pasien.

Sistem ini juga mendokumentasikan kejadian-kejadian yang tidak konsisten dengan operasional rutin rumah sakit atau asuhan

oasien-8 Anallsls Akar Maaalah (Root Cause Analysrs)

Suafu proses terstruktur untuk mengidentifikasi faKor penyebab alau faktor yang berpengaruh lerhadap terjadinya penyimpangan kinerja, termasuk KTD.

9 ilanajemen Risiko (Risk llanagement)

Dalam hubungan-nya ciengan operasional rumah sakit, istilah manajemen risiko dikaitkan kepada aktivitas perlindungan diri yang berarti mencegah ancaman yang nyata atau berpotensi nyata terhadap kerugian keuangan akibat kecelakaan, cedera atau ntaloraktik medis.

1 0 Kejadian Sentlnel Event)

Suatu KTD yang mengakibakan kematian atau cedera yang serius; biasanya dipakai untuL kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima seperti : operasi pada bagian tubuh yang salah.

Pemilihan kata "sentinel" terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi (mis. Amputasi oada kaki yang salah, dsb) sehingga pecarian hKa terhadap kejadian ini mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebiiakan dan prosedur vanq berlaku.

(30)

INSTRUMEN AKREDITASI

PELAYANAN

KESELAMATAN

PASIEN

RUMATI SAKIT

K O M I S I A K R E D I T A S I R U M A H S A K I T

( K A R S )

T A H U N 2 0 0 6

(31)

IT{STRUMEN

AKREDTTASI

PEITYANAN KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT

STANDAR.

I. HAK PASIEN

Pasien dsa keluarganya rnempunyai hak mcndapat informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kejadiao yang ti&k diharapka-rr.

Kriteria :

l l. Harus ada doller penanggung jawab pelayanan.

I .2. Dokler penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan.

1.3. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang prosedur pelayanan dan pengobatan unh:k pasien termasuk kemungkinar terjadinya kejadian iidak diharapkan.

Parameter :

S.1.P.1. Hanrs ada dolcter penanggrngjawab pelayanan dan ada rencana pelayanan. Skor :

0 : Tidak ada ketenfuan dan rencana pelayanan I : Ada ketentuan, belurn ada rencana pelayanan.

2 : Ada doL<Ier penanggung jawab, belum ada rencana pelayanan. 3 : Ada dokter penanggungjawab, ada rencana pelayanan tidak lengkap. 1 : Ada dokter penanggung jawab, ada rencana pelayanan lengkap belum

ada evaluasi.

5 : Ada dokter penanggung jawab. Ada rencana pelayanan lengJ<ap, ada evaluasi.

D.O. Yang dimaksud dengan ketentuan adalah kebijakan yang ditetapkan dengan SK Direktur. Dalam ketentuan ini dimuat kebijakan bahwa kelompok Staf Medis Fungsicnal (SMF) diberi wewenang menetapkan dokler penanggung jawab pclayanan (DPIP). Rencana pelayanan harus dimuat dalam berkas rekam medis.

Yang dimaksud dengan rcncana pelayanan lengkap adalah memuat segala aspek pelayanan 1'rng akan diberikan, termasuk rehabilitasi pasien.

C.P. : D: SK Direkfur, SOP rencana pelayanan, Berkas Rekam Medis.

o :

W : Seorane DPJP

Skor

(32)

31/46

S,1.P.2. Doller penanggung jawab wajib memberikan penjelasan secara jelas dan benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan basil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk terjadinya kejadian yang diharapkan dan tidak diharapkan. Skor : 0 : l : a -3 : 4 : J -D.O. i C . P . : D :

o :

w =

Tidak ada ketentuaa tertulis

Ada ketenhran tertulis tidak ada bukli pelaksanaan.

Ada ketentuan tertulis, ada SOP inforrned consent dan atau tidak sefuju belum terlaksana.

Ada ketentuan tertulis, ada SOP informed concent rlan atau tidak setuju belum scpenuhnya terlnksana.

Ada ketontuan tertulis, ade SOP inforrned concent dan atau tidak setuju, sudah dilaksanakan, belum ada evaluasi.

Ada ketentuan tertulis, ada SOP inforrned concent d2n atau tidak setuju, sudah dievaluasi oleh Sub Komite,/Padtia Rekam Medis.

Cukupjclas, sesuai kriteria butir 3.

SK Direl:tur, SOP Pelal'a1ina Pasien, Berkas Rekam Medis. DPJP

sr.or:

[-l

(33)

32146 SI'AI\DAR. 2. MENDIDIK PASIEN DAN KELUARGA

Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.

Kriteria:

Keselamatan dalam pemberian pelayanan keschatan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien yang menrpakan partner dalam proses pelayanan. Karena ihr, di rumah sakit harus ada keeiatanhekanisme mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggurgjawab pasien dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dapat :

2.1. Membcrikan infonnasi yang benar, jelas, lengk^p dan jujur. 2.2. Mengetahui kewajiban dan tanggrrng jawab pasien dan keluarga. 2.3. Mengajukan pertanyaar-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti 2.4. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.

2-5. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan rumah sakit. 2.6- Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa. 2.7. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati. Parameter :

S.2.P.1. Ditctapkan kebijakan bahwa Dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) wajib mcmberi pendidikan kepada pasien tentang kewajibannya terhadap rumah sakit.

Skor :

0 : Tidak ada kebijakan

I = Ada kebiiakan tidak ternrlis dan sudah dilaksanakan

2 : Ada kebijakan tidak tertulis lengkap akan tetapi belum dilaksanakan. 3 : Ada kebijakan terhrlis lengkap akan tetapi belum dilaksanakan. 4 : Ada kebijakan tertulis lengkap, sudah dilaksanakan.

5 : Ada kebijakan tertulis iengkap, sudah dilaksanakan disertai evaluasi terhad pclaksanaen kebijakal dan tindak lanjutnya

D.O. : Yang dimaksud dengan kebijakan tertulis adalah jika ditet4kan dengan keputus direknr rumah sakit.

Yang dimaksud dengan kebijakan lengkap adalab jika kebijakan memurt : l. Keharusan DPJP memberikan pendidikan kepada pasien tenta:rg kewajibannyr 2. Rurnah sakit menyediakan pendidikan kepada pasien tentang kewajibanraya. 3. Hal-hal yang menjadi kewajiban pasien adalah svperti disebut pada kriter

standar ini.

4. Pcndidikan kepada pasien/keluarganya diberikan dalam benhrk penjelas secara'lisan dan kemudian SPJP mencatat dalarn berkas rekam medis bahwa r sudah memberikan penjelasan.

Yaog dimaksud dengan evahrasi adalah pemeriksaan berkas rekam medis seca acak tentang pelaksanaan pendidikan kepada pasien.

(34)

33/46

C.P. : D :

o :

w :

SK Direktur, SOP., berkas reknm medis. Pengawas ruang rawat inap

sr<or:l-l

(35)

STANDAR. 3. KESELAMATAN PELAYANAN

PASIEN

34/16

D.{N

KESINAMBUNGAI\

Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan.

Kriteria :

3.1. Terdapat'nya koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasieo masuk, assessmenvpemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari mrnah sakit.

3-2. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan sehingga pada seluruh tahap pelayanan transisi antar unit pelayanan dapat berjalan baik dan lancar.

3.3. Terdapatnya koordinasi pelayaoan yang mencakup peningkatan komrurikasi rmtuk memfasilitasi dulnmgan keluarga, pelayanan keperawatan, pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan, pelayaran kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya. 3.4. Terdapatnya komunikasi dan transfer inlbrmasi antar profesi kesehatan sehingga

dapat tercapainya proses koordinasi yang tanpa hambatan. aman dan efeklif. Parrmeter :

S.3.P.1. Ditetapkan koordinasi pelayanan dan hansfer infonnasi antar profesi kesehatan unhrk mendukung program Keselamatm Pasien Rumah Sakit (KPRS).

Skor : 0 = l : a L -3 = + -5 =

Tidak ada koordinasi pelayanan dan transfer infcrmasi.

Tidak ada kocrdinasi; ada transfer informasi terbatas di unit ke4a tertentu. Ada koordinasi akan tetapi tidak ada hansfsr informasi.

Acla koordinasi dan transfer informasi di unit kerja tertentu-Ada koordinasi dan transfer informasi di semua unit kef a.

Ada koordinasi dan transfer infonnasi di semua unit kerja disertai adanya evaluasi terhadap pelaksanenn koordinasi d"n transfer informasi.

(36)

D.O.

35/46

Yang dimaksud dengan KPRS adalah suatu sistem dimana nrmah sakit membuat asuhan pasien lebib arnan. Hal ini termasuk : assessment risiko, identitas dan pengelolaan hal yang berh'lbuagan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insidera kernampuan belajar dari insiden da" tindak ianjutoya sena irnplementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem ini mencegah te{adinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat rnelaksanakan suatu tindakan atau lidak mengambil tindakan yang sehansnya diambil.

Yang dimaksud dengan "transfer infonrrasi" adalah komunilasi rcrtulis memuat proses pelayanan pasien yang dilahrkan anlar p€nanggrmg jawab pelayanaa dan &fa1 plsfesi kesehatan.

Yang dimaksud dengaa 'koordinasf' adalah pengaturatr tentarig bagairnana hubungan fungsional antar penanggung jawab pelayanan diatur dalarn kaitannya dengan pelaksanaan program keselarnatan pasien. Terrnasuk dalam pengaturan "koordinasi" ini adalah fungsi dan tanggung jawab profesi [gsshatan agar terjadi kesinarnbungan pelayanan untuk mendukung program keselamatan pasien. Pengahrran "koordinasi" hanrs ditetapkao dalarn bentuk juklak atau SOP yang ditetapkan tertulis oleh direkhr rumah sakit.

Yang dimaksud dengan "evaluasi" adelah identifikasi rnasalah atau kelernahan pelaksaoaan koordinasi dilinghmgan unit kerja atau diiingkungan nrnah sakit.

C.P. : D: SK Direktur tentaog koordinasi, bentuk transfer inforrnasi, Juklal/SOP.

o :

w :

(37)

36t46 STANDAR. 4. PENGGUNAAN METODA-METODA PENINGKATAN

KINERJA UNTUK MELAKUKAN EVALUASI DAI\ PROGRAM PEI\IINGKATAN KESELAMATAI{ PASIEN. Rumah sakit harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif kejadian yang tidak diharapkan, d"n melakukan upaya pembahan unhrk meningkatkan kinerja serta keselarnatan pasien.

Kriterir:

4.1. Setiap rumah sakit harus melalarkan prcses peftrncangan (design) yang bailq mengacu pada visi, pisl rlan tujuan rumah sakit, kebutuhan pasien, petugas pelayanan kese.hatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang sehat, dan fahor-fallor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan'Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rrunah Sakit ".

4.2. Setiap rumah sakit harus

'nelakukan pengumpulan data kinerja yang antara lain terkait dengan : pelaporan insiden, alreditasi, manajemen risiko, utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.

4.3. Setiap mmah sakit harus melalcr.rkan evaluasi intensif terkait dengan semua kebijakan yang tidak diharapkan, dao secala proaktif melakukan evaluasi satu proses kasus risiko tinggi.

4.4. Setiap nrmah sakit harus mengguoakan semua data dal informasi hasil analisis rmhrk menentukan perubahan sistem yang diperlukan, agar kinerja dan keselarnatan pasicn terjamin.

Parameter:

S.4.P.1. Diterapkan metoda dan tata laksana agar rumah sakit marnpu melakukan evaluasi, analisis, dan tindak laajut dari kejadian yang diharapkan pada pa-sien.

Skor : 0 = l = . , : 3 =

Tidak ada metoda dan tata laksana.

Ada metoda tetapi tid"k ada tata laksarra aan behutr dilaksanakan. Ada metoda dan tata laksana tetapi belrrm dilaksanakan.

Ada metoda dan tata laksana dan sudah dilaksanakan di unit keqia tertentu.

Ada metoda dan tata laksana den sudeh dilaksatakan di semua u:rit kerja t€rtentu.

Ada metoda dqn latz laksana dan suCah dilaksanakan disertai dengan adanya evaluxi analisis dan tindak lanjut.

Yang dimaksud dengan "metoda" adalah cara'merancaog monitoring dan analisis data kejadiar lidak diharapl:an dari pasien. Dalam metoda ini terrnasuk memonitor dan menganalisis paling sedikit I (satu) proses peiayanan risiko tinggi yang potensiai terjadi dalam tahun mendatang, dilienal dengan A Failure Modes Effects and Analysis (FMEA).

Yang dimaksud dengan "tata laksana" adalah pengorgani565ixa pengrunpulan, pengolahan, analisis, pelaporan data yang terkait dengan kcjadian tidak diharapkan (KTD).

5 D.O.

(38)

37/46

c.P. : D: Keraneka acuan dari metode, keputusao tentaDg pengumpulan/pengolahaa data, hasil analisis.

o :

W : Pengelola program lg5glnmetan p6sien.

Figure

Updating...

References

Updating...

Related subjects :