• No results found

Text COVER LUAR pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text COVER LUAR pdf"

Copied!
71
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

Pada zaman modern sekarang ini kedudukan sastra semakin meningkat dan semakin penting. Sastra tidak hanya memberikan kenikmatan dan kepuasan batin, tetapi juga sebagai sarana penyampaian pesan moral kepada masyarakat atas realitas sosial. Salah satu bentuk “susastra” sebagai penuangan ide kreatif

pengarang adalah novel. Berikut penulis coba hadirkan beberapa pengertian karya sastra dan novel yang dapat digunakan sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh dalam melaksanakan penelitian.

2.1.1 Pegertian Karya Sastra

Sastra selalu memiliki keterikatan dengan situasi dan kondisi di sekitarnya. Hal itu tersirat dalam pernyataan yang dikemukakan Wellek dan Warren (2014: 98), sebagai berikut:

Sastra adalah institusi masyarakat yang menggunakan medium bahasa. (…) Lagi pula sastra “menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan social, walaupun karya sastra juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia. Penyair adalah warga masyarakat yang memiliki status khusus. Penyair mendapatkan pengakuan dan penghargaan masyarakat dan mempunyai massa-walaupun hanya secara teoritis. Sastra sering memiliki kaitan dengan institusi social tertentu. (…) Sastra mempunyai fungsi social atau “manfaat” yang tidak sepenuhnya bersifat pribadi. (Wellek dan Warren, 2014: 98)

(2)

masyarakat, yaitu bahasa. Hal itu merupakan konsekuensi logis, sebab sastra memerlukan bahasa agar dapat tersampaikan pada masyarakat dengan baik.

Kedua, sastra mewakili “kehidupan”, yang dalam arti luas disebut sebagai sebuah

realitas sosial. Meskipun hanya rekaan pengarang, ‘kehidupan’ dalam karya sastra

dapat dikatakan sebagai sebuah tiruan (mimesis) yang disusun berdasarkan kehidupan nyata. Ketiga, pengarang adalah anggota masyarakat, implikasinya ia terikat status social tertentu serta berhubungan dengan pembaca yang mengakui dan mengapresiasi eksistensi pengarang melalui karya-karyanya.

Keempat, sastra mempunyai pertalian erat dengan institusi-institusi tertentu. Sering masyarakat menggunakan puisi dalam melakukan upacara adat, ritual tertentu, atau hanya sekadar permainan. Kelima, sastra juga berfungsi sosial atau memiliki “kegunaan” sosial.

Wellek dan Warren (1949:3) dengan tegas menyebutkan,

“Pertama-tama kita harus membedakan sastra dan studi sastra. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Sedangkan studi sastra adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan.”

(3)

Keterikatan sastra pada masyarakat dipertegas oleh Jabrohim (2003: 157), sastra bukan sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang terikat erat dengan situasi dan kondisi lingkungan tempat karya itu dilahirkan. Merupakan suatu hal yang pasti bahwa semua penyair, pengarang, atau seniman mana pun pada umumnya selalu hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Ruang dan waktu tersebut mempunyai bentuk riil dalam suatu masyarakat atau sebuah keadaan sosial yang pada saat bersamaan juga memuat berbagai macam permasalahan hidup. Di dalam masyarakat banyak elemen berinteraksi, bergumul satu sama lain.

Damono (2002: 2) menyatakan bahwa karya sastra menyajikan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri merupakan sebuah kenyataan sosial. Hal itu menjadi penjelasan mengapa karya sastra dapat dipakai pengarang untuk mencurahkan segala permasalahan kehidupan manusia di dalam masyarakat. Melalui karya sastra, pembaca dapat mengetahui dan memahami salah satu atau beberapa persoalan yang dapat ditemui dalam kehidupan. Dengan kata lain, sastra memiliki suatu fungsi, yaitu sebagai cermin dari kenyataan.

(4)

Jan van Luxemburg, dkk., (1989: 21) menyatakan bahwa sastra terikat oleh dimensi waktu dan budaya, karena sastra merupakan hasil kebudayaan. Dalam sastra terdapat penangganan bahan yang bersifat khusus, termasuk di dalamnya ialah bagaimana cara penanganan potensi bahasa bagi pengungkapan karya sastra. Seorang pengarang dapat mengolah dan mengeksploitasi potensi potensi yang terdapat pada bahasa untuk mencapai efek-efek tertentu.

Oleh karena itu, kekhususan dan keunikan pemakaian bahasa dalam karya sastra merupakan salah satu ciri khasnya. Fenomena yang khas terlihat pada cara pengolahan materi cerita. Karya sastra memiliki kebenaran cerita dan logika bercerita sendiri. Urutan penyajian cerita maupun logika bercerita dalam karya sastra juga memiliki kebenaran sendiri yang sama sekali berbeda dari kebenaran dan logika umum. Secara umum dapat dinyatakan bahwa semua teks sastra bersifat fiktif atau rekaan.

Kebenaran cerita dalam karya sastra bukanlah kebenaran faktual atau nyata, melainkan kebenaran fiksionalitas berdasarkan daya imajinasi dan kreatifitas pengarang. Tipe dan pola atau peristiwa dan karakter tokoh-tokoh serta nama tokoh barangkali dapat ditemukan dalam dunia objektif (dunia nyata). Oleh karena itu apa yang ada dalam karya sastra tertentu hanya bersifat rekaan (karangan) belaka.

(5)

tetapi mencangkup segala sesuatu yang tidak tercetak atau tertulis (lisan). Karya sastra tidak tunduk pada metode-metode tertentu pada saat seorang sastrawa menciptakan karyanya sastra tersebut, meskipun sastra tersebut mengandung unsur-unsur kesejarahan. Hal itu berbeda dengan karya sejarah di mana penulis harus mengikuti prosedur tertentu yaitu harus tertib dalam penempatan ruang dan waktu, harus konsisten dengan unsur-unsur lain seperti topografi dan kronologi serta harus berdasarkan bukti-bukti (Kuntowijoyo, 2006: 3).

Dengan demikian penulis karya sastra mempunyai kebebasan imajinatif yang agak berlebih jika dibandingkan dengan penulis sejarah. Karya sastra sebagai seni kata mengandung estetika atau keindahan yaitu berupa estetika bahasa. Estetika atau keindahan yang terdapat dalam karya seni adalah hasil usaha seniman, bukan keindahan alamiah, dan juga bukan keindahan azali dan abadi.

Salah satu unsur yang mendukung keindahan karya sastra adalah adanya penggunaan bahasa yang bersifat konotatif. Bahasa ini banyak menggunakan simbol-simbol atau lambang-lambang. Lambang dan simbol tersebut beraneka warna sesuai dengan individu senimannya dimana ia berada di suatu tempat dan pada suatu jaman. Oleh karena itulah untuk memahami karya sastra dianjurkan untuk memahami tiga macam kode, yaitu kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra (Teeuw, 1984: 334).

2.1.2 Hakikat Novel

Kata ‘novel’ berasal dari kata latin novellus yang diturunkan dari kata novies yang

(6)

Tarigan, 1994: 830) menyebutkan bahwa novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak, serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur.

Novel adalah karya fiksi yang menawarkan sebuah dunia yang imajiner dan fantastis. Dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajiner yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya (Nurgiyantoro, 1995: 4). Oleh karenanya sangat wajar jika kita menemukan novel imajinatif fantastis yang kadang berada di luar nalar manusia dan dunia yang berusaha dibangun pun tak pernah lepas dari alam pikiran pengarang dari hasil mediasi antara subjek nyata dan imajiner yang ada.

Novel dalam arti umum adalah cerita berbentuk prosa dengan ukuran yang luas. Ukuran yang luas disini dapat berarti cerita dengan plot yang kompleks, multi karakter, tema yang kompleks, suasana cerita yang beragam dan setting cerita yang beragam pula. Keberagaman inilah yang membedakan novel dengan cerpen.

Novel merupakan salah satu genre sastra di samping cerpen dan roman. Novel menyajikan cerita yang lebih panjang daripada cerpen sehingga terbagi menjadi beberapa bagian. Cerita yang terdapat dalam novel diangkat dari realitas masyarakat. Di dalam novel terdapat plot tertentu, artinya tidak sekedar menyajikan sebuah cerita, peristiwa yang ada memiliki hubungan kausalitas.

(7)

dalam sebuah novel memiliki karakter yang berbeda-beda. Pembedaan ini dapat ditandai dengan penggolongan-penggolongan berdasarkan fungsi atau peranannya. Terdapat tokoh statis dan tokoh dinamis. Tokoh statis biasanya digambarkan dengan tokoh yang berkarakter tetap, sedangkan tokoh dinamis adalah sebaliknya.

Novel dapat dipandang sebagai hasil dialog, mengangkat dan mengungkapkan kembali berbagai permasalahan hidup dan kehidupan. Hal tersebut dapat tercapai setelah melewati penghayatan yang intens, seleksi subjektif; dan diolah dengan daya imajinatif-kreatif oleh pengarang ke dalam bentuk rekaan (Nurgiyantoro, 1995: 71).

Goldmann mendefinisikan novel sebagai cerita mengenai pencarian yang tergradasi akan nilai-nilai yang otentik dalam dunia yang juga ikut tergradasi. Pencarian itu dilakukan oleh seorang tokoh utama (hero) yang problematik. Goldmann juga mengatakan bahwa novel merupakan satu bagian dari karya sastra yang bercirikan keterpecahan yang tidak terdamaikan dalam hubungan antara sang hero dengan dunia. Keterpecahan itulah yang menyebabkan dunia dan hero menjadi sama-sama terdegradasi dalam hubungannya dengan nilai-nilai yang otentik yang berupa totalitas di atas. Keterpecahan itulah yang membuat sang hero menjadi problematik (Faruk, 1994: 18).

(8)

memiliki hero yang mengemban misi-misi tertentu. Peristiwa yang terjalin pun sangat kompleks karena tidak hanya menceritakan hidup seorang tokohnya saja tetapi juga seluruh tokoh yang terlibat dalam cerita.

2.2 Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat refelektif. Penelitian ini banyak diminati karena kemampuannya untuk melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Kehidupan sosial senantiasa menjadi picu lahirnya karya sastra. Untuk itu, pada bagian ini penulis akan menyajikan beberapa pengertian sosiologi sastra dari para ahli, serta pendekatannya dalam upaya menganalisis karya sastra.

Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari katasos (Yunani) yang berarti bersama, bersatu, kawan, teman, dan logi (logos) berarti sabda, perkataan, perumpamaan. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana. Merujuk dari definisi tersebut, keduanya memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun demikian, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda bahkan bertentangan secara dianetral.

(9)

sosiologi sastra, karya sastra dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Kenyataan disini mengandung arti yang cukup luas, yakni segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. Demikianlah, pendekatan sosiologi sastra menaruh perhatian pada aspek dokumenter sastra, dengan landasan suatu pandangan bahwa sastra merupakan gambaran atau potret fenomena sosial. Pada hakikatnya, fenomena sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan. Oleh pengarang, fenomena itu diangkat kembali menjadi wacana baru dengan proses kreatif (pengamatan, analisis, interpretasi, refleksi, imajinasi, evaluasi, dan sebagainya) dalam bentuk karya sastra.

Sastra menyajikan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat dengan orang-orang, antarmanusia, antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Maka, memandang karya sastra sebagai penggambaran dunia dan kehidupan manusia, kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah “kebenaran” penggambaran, atau yang hendak digambarkan.

(10)

Pengarang merupakan anggota yang hidup dan berhubungan dengan orang- orang yang berada disekitarnya, maka dalam proses penciptaan karya sastra seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Oleh karena itu, karya sastra yang lahir ditengah-tengah masyarakat merupakan hasil pengungkapan jiwa pengarang tentang kehidupan, peristiwa, serta pengalaman hidup yang telah dihayatinya. Dengan demikian, sebuah karya sastra tidak pernah berangkat dari kekosongan sosial. Artinya karya sastra ditulis berdasarkan kehidupan sosial masyarakat tertentu dan menceritakan kebudayaan-kebudayaan yang melatarbelakanginya.

Endraswara dalam bukunya Metodologi Pengajaran Sastra, memberi pengertian bahwa sosiologi sastra adalah penelitian yang terfokus pada masalah manusia, karena sastra sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depannya, berdasarkan imajinasi, perasaan, dan intuisi (2003:79).

(11)

sosialitas, proses belajar secara kultural yang dengannya individu-individu dialokasikannya pada dan menerima peranan tertentu dalam struktur sosial itu.

2.3 Sosiologi Sastra Sebagai Pendekatan Menganalisis Karya Sastra

Menurut Ratna (2003:2) ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam rangka menemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat, antara lain :

1. Pemahaman terhadap karya sastra dengan pertimbangn aspek kemasyarakatannya.

2. Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek kemasyarakatan yang terkandung didalamnya.

3. Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatar belakangi.

4. Sosiologi sastra adalah hubungan dua arah (dialektik) anatara sastra dengan masyarakat.

5. Sosiologi sastra berusaha menemukan kualitas interdependensi antara sastra dengan masyarakat.

Wellek dan Warren (2014:111) membagi sosiologi sastra sebagai berikut :

(12)

studi ini juga dapat meluas ke lingkungan tempat tinggal dan berasal. Dalam hal ini, informasi tentang latar belakang keluarga, atau posisi ekonomi pengarang akan memiliki peran dalam pengungkapan masalah sosiologi pengarang (Wellek dan Warren, 2014:112)

2. Sosiologi karya sastra yang memasalahkan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok penelaahannya atau apa yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya. Pendekatan yang umum dilakukan sosiologi ini mempelajari sastra sebagai dokumen sosial sebagai potret kenyataan sosial. (Wellek dan Warren, 2014:122). Beranggapan dengan berdasarkan pada penelitian Thomas Warton (penyusun sejarah puisi Inggris yang pertama) bahwa sastra mempunyai kemampuan merekam ciri-ciri zamannya. Bagi Warton dan para pengikutnya sastra adalah gudang adat-istiadat, buku sumber sejarah peradaban.

3. Sosiologi sastra yang memasalahkan pembaca dan dampak sosial karya sastra, pengarang dipengaruhi dan mempengaruhi masyarakat, seni tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak orang meniru gaya hidup tokoh-tokoh dunia rekaan dan diterapkan dalam kehidupannya.

Klasifikasi Wellek dan Warren sejalan dengan klasifikasi Ian Watt (dalam Damono, 1989:3-4) yang meliputi hal-hal berikut :

1. Konteks Sosial Pengarang

(13)

mempengaruhi karya sastranya, yang terutama harus diteliti yang berkaitan dengan :

1) Bagaimana pengarang mendapat mata pencahariannya, apakah ia mendapatkan dari pengayoman masyarakat secara langsung, atau pekerjaan yang lainnya; 2) Profesionalisme dalam kepengaragannya; dan

3) Masyarakat apa yang dituju oleh pengarang.

2. Sastra Sebagai Cermin Masyarakat

Maksudnya seberapa jauh sastra dapat dianggap carmin keadaan masyarakat. Pengertian “cermin” dalam hal ini masih kabur, karena itu, banyak disalah

tafsirkan dan disalah gunakan. Yang harus diperhatikan dalam klasifikasi sastra sebagai cermin masyarakat adalah :

1) Sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ditulis, sebab banyak ciri-ciri masyarakat ditampilkan dalam karya itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis;

2) Sifat “lain dari yang lain” seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya;

3) Genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh mayarakat;

4) Sastra yang berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya mungkin saja tidak dapat dipercaya sebagai cermin masyarakat.

(14)

informasi tentang masyarakat tertentu. Dengan demikian, pandangan sosial pengarang diperhitungkan jika peneliti karya sastra sebagai cermin masyarakat.

3. Fungsi Sosial Sastra

Maksudnya seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai-nilai sosial. Dalam hubungan ini ada tiga hal yang harus diperhatikan

1) Sudut pandang ekstrim kaum Romantik yang menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi. Karena itu, sastra harus berfungsi sebagai pengbaharu dan perombak;

2) Sastra sebagai penghibur saja;

3) Sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur.

Dalam bukunya A Glossary of Literature Term. Abrams menulis bahwa dari sosiologi sastra ada tiga perhatian yang dapat dilakukan oleh kritikus atau peneliti yaitu :

1. Penulis dengan lingkungan budaya tempat ia tinggal.

2. Karya dengan kondisi sosial yang direfleksikan didalamnya. 3. Audien atau pembaca (1981:178).

Lain halnya dengan Grebsten (dalam Damono,1989) dalam bukunya mengungkapkan istilah pendekatan sosiologi kultural terhadap sastra sebagai berikut :

(15)

Setiap karya sastra adalah hasil dari pengaruh timbal-balik yang rumit dari faktor-faktor sosial dan kultural. Karya sastra itu sendiri merupakan objek kultural yang rumit. Bagimanapun karya sastra bukanlah suatu gejala yang tersendiri.

2. Gagasan yang ada dalam karya sastra sama pentingnya dengan bentuk dan teknik penulisannya, bahkan boleh dikatakan bahwa bentuk dan teknik itu ditentukan oleh gagasan tersebut. Tak ada karya sastra yang besar yang diciptakan berdasarkan gagasan sepele dan dangkal, dalam pengertian ini sastra adalah kegiatan yang sungguh-sunggug.

3. Setiap karya sastra yang bisa bertahan lama pada hakikatnya adalah suatu moral, baik dalam hubungannya dengan kebudayaan sumbernya maupun dalam hubungannya dengan orang per orang. Karya sastra bukan merupakan moral dalam arti yang sempit, yaitu yang sesuai dengan suatu kode atau tindak tanduk tertentu, melainkan dalam pengertian bahwa ia terlibat didalam kehidupan dan menampilkan tanggapan evaluatif terhadapnya. Dengan demikian sastra adalah eksprimen moral.

4. Masyarakat dapat mendekati karya sastra dari dua arah. Pertama, sebagai sesuatu kekuatan atau faktor material, istimewa. Kedua, sebagai tradisi yakni kecenderungan spiritual kultural yang bersifat kolektif. Dengan demikian bentuk dan isi karya sastra dapat mencerminkan perkembangan sosiologi, atau menunjukkan perubahan-perubahan yang halus dalam watak kultural.

(16)

dengan cara mendikte sastrawan agar memilih tema tertentu misalnya, melainkan dengan menciptakan iklim tertentu yang bermanfaat bagi penciptaan seni besar. 6. Kritikus bertanggung jawab baik kepada sastra masa silam maupun sastra masa depan. Dari sumber sastra yang sangat luas itu kritikus harus memilih yang sesuai untuk masa kini. Perhatiannya bukanlah seperti pengumpul benda-benda kuno yang kerjanya hanya menyusun kembali, tetapi memberi penafsiran seperti yang dibutuhkan oleh masa kini. Dan karena setiap generasi membutuhkan pilihan yang berbeda-beda, tugas kritikus untuk menggali masa lalu tak ada habisnya.

Damono (1989:14) juga mengemukakan bahwa segala yang ada di dunia ini sebenarnya merupakan tiruan dari kenyataan tertinggi yang berada di dunia gagasan. Seniman hanyalah meniru apa yang ada dalam kenyataan dan hasilnya bukan suatu kenyataan.

Pandangan senada dikemukakan oleh Teeuw (1984:220) mengatakan bahwa dunia empiriris tak mewakili dunia sesungguhnya, hanya dapat mendekatinya lewat mimesis, penelaahan, dan pembayangan ataupun peniruan. Lewat mimesis, penelaahan kenyataan mengungkapkan makna, hakikat kenyataan itu. Oleh karena itu, seni yang baik harus truthful, berani dan seniman harus bersifat modest, rendah hati. Seniman harus menyadari bahwa lewat seni dia hanya dapat mendekati yang ideal.

(17)

1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, dan ketiganya adalah anggota masyarakat.

2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat. 3. Medium karya sastra baik lisan maupun tulisan dipinjam melalui kompetensi masyarakat yang dengan sendirinya telah mengandung masalah kemasyarakatan. 4. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetik, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentigan terhadap ketiga aspek tersebut.

5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa sosiologi sastra dapat meneliti melalui tiga perspektif. Pertama, perspektif teks sastra, artinya peneliti menganalisisnya sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Kedua, persepektif biologis yaitu peneliti menganalisis dari sisi pengarang. Perspektif ini akan berhubungan dengan kehidupan pengarang dan latar kehidupan sosial, budayanya. Ketiga, perspektif reseptif, yaitu peneliti menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra.

(18)

kenyataan, selain melalui refleksi, sebagai cermin, juga dengan cara refleksi sebagai jalan belok. Seniman tidak semata melukiskan keadaan sesungguhnya, tetapi mengubah sedemikian rupa kualitas kreativitasnya.

Dalam hubungan ini Teeuw (1984:18-26) mengemukakan ada empat cara yang mungkin dilalui, yaitu:

1) Afirmasi, melupakan norma yang sudah ada;

2) Restorasi, sebagai ungkapan kerinduan pada norma yang sudah usang

3) Negasi, dengan mengadakan pemberontakan terhadap norma yang sedang beralaku; dan

4) Inovasi, dengan mengadakan pembaharuan terhadap norma yang ada.

Berkenaan dengan kaitan antara sosiologi dan sastra tampaknya Swingewood (1972:15) mempunyai cara pandang bahwa suatu jagad yang merupakan tumpuan kecemasan, harapan, dan aspirasi manusia, karena disamping sebagai makhluk sosial budaya akan sangat sarat termuat dalam karya sastra. Hal inilah yang menjadi bahan kajian dalam telaah sosiologi sastra.

2.4 Hubungan Karya Sastra dengan Peristiwa Sejarah

(19)

untuk penulisan karya-karya sastranya. Oleh karena itu, dikenal adanya istilah sastra sejarah, novel sejarah atau pun puisi epik.

Peristiwa sejarah dalam hal ini mengacu pada peristiwa, tokoh, perbuatan, pikiran, dan perkataan yang pernah terjadi di masa lampau yang dipahami sebagai gejala yang memanjang dalam waktu, tetapi dalam ruang yang terbatas (Kuntowijoyo, 2006:5). Sejarah, sebagai ilmu yang bersifat diakronik, menurut Kuntowijoyo (2006:10) harus didukung oleh data yang otentik, terpercaya, dan tuntas. Dengan ruang yang terbatas, maka sejarah dapat membahas berbagai pertumbuhan dan perkembangan sejumlah masalah, antara lain sejarah politik, sejarah keluarga, sejarah intelektual, sejarah moralitas, sejarah kesenian, dan sebagainya.

A. Teeuw (1984:221) menuturkan karya sastra sejarah adalah karya tulis yang bersifat ganda, yaitu bersifat sastra dan sejarah. Dilihat dari sudut sastra, karya sastra sejarah termasuk salah satu jenis sastra. Karya sastra yang bernilai sejarah biasanya bahannya diambil dari sejarah. Demikian halnya dengan penggunaan bahasa, antara tulisan sejarah dan karya sastra berbeda. Sejarah lebih cenderung menggunakan referential simbolism dengan menunjuk secara tegas kepada objek, pikiran, kejadian, dan hubungan-hubungan. Sedangkan sastra lebih banyak pesan-pesan subjektif pengarang.

(20)

unsur-unsur tradisonal. Sebagian besar sejarawan mengatakan bahwa karya sastra merupakan alat bantu dari ilmu sejarah. Akan tetapi, tidak bias dipungkiri bahwa karya sastra mempunyai sumbangsih besar untuk sejarawan dan historiografi. Dari karya sastra bisa diambil pengetahuan dan informasi yang tidak dimiliki oleh dokumen tertulis maupun arsip yang berperspektif pemerintah.

Dengan demikian dengan karya sastra sejarah pembaca dapat menerobos ruang kosong yang tidak dimiliki arsip maupun dokumen tertulis lainnya. Sastra, baik tertulis maupun lisan, yang memberikan keterangan tentang masa lampau yang memberikan informasi pantas untuk disebut sebagai bahanbahan dokumenter bagi studi sejarah. Sebagai sumber dokumenter, sastra mempunyai kekhasan yaitu sifatnya yang naratif sehingga dapat dikategorikan sebagai accepted history, misalnya babad, hikayat, tambo, atau kronik dan annals.

Berkaitan dengan karya sastra tersebut, seni sastra dianggap sebagai jejak sejarah yang mengandung informasi tentang apa yang dianggap terjadi dan bermakna dalam skala luas dan sempit. Sastra termasuk sumber sejarah dilihat dari corak informasinya dapat digolongkan menjadi sumber naratif. Sumber naratif ialah sumber yang berisi uraian lengkap, kebanyakan adalah sumber tertulis terutama yang menyangkut masalah sosial, politik, kultural, dan agama.

(21)

kenyataan sejarah. Dalam beberapa novel (misalnya novel sejarah) pembaca akan lebih memahami sebagai wacana sejarah daripada karya sastra, artinya teks kesusastraan hanya dapat dipahami sebagai penanda langsung dari kenyataan sejarah. karya sastra mungkin berisi kenyataan dan akurasi data sejarah, namun operasi data tersebut tetap diperlakukan secara fiktif dan mengikuti hokum produksi realitas tekstual.

Relevansi antara realitas tekstual dan sejarah yang dirujuk menempatkan ideologi dalam realitas sejarah sebagai kekuatan produksi. Eagleton (1976:70) menegaskan bahwa bagian dari sejarah sudah difiksikan dan ditafsirkan sesuai dengan terminologi ideologi produksi sebagai model perantara sisipan ideology dalam karya sastra. Jadi realitas sejarah secara ideologis menjadi kekuatan kedua. Ketentuan masuknya sejarah dalam karya sastra tidak hanya sebagai kesejarahan teks, tetapi masuk secara ideologis sebagai ukuran pembuktian penentu kehadiran dan penyimpangannya. Sejarah dalam teks sastra berfungsi sebagai penanda akhir dalam kesusastraan (Eagleton, 1976:72). Hal ini terjadi karena secara ideologis sejarah menjadi struktur dominan yang menandai karakter teks dan pengaturan dari pembelokan kenyataan yang dibangun dalam karya sastra. Hal yang membedakan antara teks sastra dan penulisan sejarah yaitu objeknya.

(22)

wacana historiografi dan filsafat. Karya sastra menyerupai historiografi dalam kepadatan tekturnya dan juga beranalogi dengan wacana filsafat pada keadaan yang umum terjadi. Hanya saja kekurangan yang Nampak dalam karya sastra adalah kurangnya referensi nyata (Eagleton, 1976:78).

Jika diamati dengan seksama, teks narasi dan teks sejarah memiliki suatu persamaan. Keduanya sama-sama dikonstruksi dengan berdasarkan pada waktu lampau (past time). Hal itu lebih terlihat jika kalimat-kalimat yang menyusun kedua jenis teks tersebut ditulis dalam bahasa asing, misalnya bahasa Inggris. Kebanyakan kalimat dalam kedua jenis teks itu menggunakan pola yang dalam tata bahasa Inggris disebut sebagai past tense. Pola itu harus digunakan untuk menunjukkan pada pembaca bahwa suatu hal atau peristiwa terjadi atau bereksistensi di masa lalu.

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa meskipun teks narasi (fiksional) dan teks sejarah (faktual) bertolak belakang dalam hal sifat, keduanya mempunyai struktur yang sama. Sebagai konsekuensi logis dari persamaan tersebut, terdapat kemungkinan untuk saling tertukar dan saling berbaur karena sulitnya mengidentifikasi teks mana yang tergolong fiksional dan mana yang tergolong faktual. Walaupun memiliki kesamaan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, sejarah dan sastra mempunyai tujuan yang sama sekali berbeda, tetapi pada dasarnya saling melengkapi satu sama lain (Ratna, 2005:337).

(23)

sastra dan memposisikan sejarah dan sastra sebagai dua entitas yang saling melengkapi. Hutcheon (Ratna, 2005:337-338), mengemukakan bahwa sejarah, menurut Aristoteles, sastra sejarah tidak hanya mampu menceritakan masa lalu saja tetapi juga mampu menceritakan hal-hal yang belum terjadi karena sastra dihasilkan dengan perenungan atau kontemplasi yang menjadikannya lebih bersifat filosofis sejarah yang hanya menceritakan masa lalu tanpa perenungan. Perbedaan di atas diwariskan pada dua macam karya sastra yang berkaitan erat dengan sejarah; yaitu sastra sejarah dan novel sejarah. Keduanya berbeda menurut konsep hubungan yang terjadi di antaranya, sesuai dengan zamannya.

Kelahiran karya sastra tidak lepas dari kemampuan intersubjektivitas pengarang untuk menggali kekayaan masyarakat, memasukkannya ke dalam karya sastra, yang pada akhirnya dapat dinikmati oleh pembaca. Kemampuan pengarang dalam melukiskan pengalaman yang diperoleh dalam masyarakat dan kemampuan pembaca untuk memahami suatu karya sastra menjadi unsur penting yang menentukan kekayaan suatu karya sastra. Hubungan karya sastra dengan masyarakat, baik sebagai negasi dan inovasi, maupun afirmasi, jelas merupakan hubungan yang hakiki. Karya sastra mempunyai tugas penting baik dalam usahanya untuk menjadi pelopor pembaharuan maupun memberikan pengakuan terhadap suatu gejala kemasyarakatan.

(24)

dibandingkan dengan ilmu sosial dan humaniora membawa ciri-ciri tersendiri terhadap sastra. Penyajian secara tak langsung, dengan menggunakan bahasa metaforis konotatif, memungkinkan untuk menanamkan secara lebih intens masalah-masalah kehidupan terhadap pembaca. Artinya, ada kesejajaran antara ciri-ciri karya sastra dengan hakikat kemanusiaan. Fungsi sosial karya sastra sesuai dengan hakikatnya yaitu imajinasi dan kreativitas adalah kemampuannya dalam menampilkan dunia kehidupan yang lain yang berbeda dengan dunia kehidupan sehari-hari. Selama membaca karya sastra pembaca secara bebas menjadi raja, dewa, perampok, dan berbagai sublimasi lain.

Penggunaan karya sastra dari sebuah peristiwa sejarah diharapkan akan membuat pembelajaran sejarah semakin dinamis dengan mengajarkan sejarah dari pendekatan arus bawah masyarakat yang terpinggirkan oleh sejarah dan kekuasaan (history from bellow). Berbagai bentuk karya sastra baik novel dan yang lainnya menjadi lebih dari sekedar alat bantu karena bisa menjelaskan lebih detail dinamika yang terjadi dalam peristiwa sejarah, artinya bahwa karya sastra merupakan alat untuk berdialektika dalam sejarah dengan semangat zaman (zeit gheist) yang terkandung didalamnya.

(25)

beberapa peranan di antaranya cara pemahaman (model of comprehension), cara perhubungan (mode of communication), dan cara penciptaan (mode of creation). Objek karya sastra adalah realitas yaitu realitas yang dimaksudkan oleh pengarang itu sendiri.

Karya sastra sejarah ditulis berdasarkan bukti sejarah dan dengan sendirinya nilai kesejarahan dapat lebih dipertangungjawabkan. Tentu saja dalam karya sastra di dalamnya secara sengaja pencipta memasukkan hal-hal yang sifatnya fiktif, terutama dalam penokohan. Di samping memang terdapat tokohtokoh yang memang diakui keberadaannya dalam peristiwa sejarah, dalam karya sastra juga muncul tokoh-tokoh tambahan yang muncul dan lahir dari daya cipta pengarang. Dalam hal-hal tertentu, tidak mustahil seluruh tokoh yang muncul merupakan tokoh fiktif (misalkan namanya).

Dalam konteks ilmu sastra, hubungan antara karya sastra dengan peristiwa sejarah telah lama menjadi perhatian para ilmuwan sastra. Munculnya berbagai pendekatan dalam kajian sastra, seperti sosiologi sastra, sastra perbandingan, dan sejarah baru (new historicism), yang mencoba memahami hubungan tersebut merupakan bukti adanya upaya memahami hubungan antara karya sastra dengan peristiwa sejarah.

(26)

menyusun catatan-catatan tersebut : (1) teks atau catatan yang menjadi acuan pastilah teks yang dapat dipercaya; (2) bahasa dari karya sastra yang bersangkutan berfungsi pada waktu dan tempat tertentu; (3) penelitian terhadap sebuah karya pastilah berkaitan dengan kehidupan pengarangnya, keadaan materialnya, dan perlu juga dipertimbangkan konteks karya yang bersangkutan dalam keseluruhan karier pengarang; (4) kehadiran sebuah teks sangat mungkin diilhami, dipengaruhi, atau bahkan ada kaitannya dengan teks sebelumnya; (5) diyakini pula bahwa sebuah karya tidak lain merupakan milik zamannya; dan (6) sebuah karya yang diteliti mesti ditempatkan dalam tradisi, konvensi, dan kecenderungan yang sering kali ikut menentukan hubungan-hubungannya dengan karya-karya lain yang sejenis.

Dalam pandangan Historisme Baru, sastra dan sejarah merupakan dua teks yang saling berkaitan dan saling mengisi (Mahayana, 2005:369). Sejarah dapat menjadi inspirasi pengarang untuk membuat karya sastra, dan sastra dapat menjadi dokumenter sejarah. Di samping saling mengisi, sejarah itu sendiri terdiri atas berbagai teks yang masing-masing menyusun satu versi tentang kenyataan (Budianta, 2006:4). Mengenai hubungan antara teks sejarah dan teks sastra, Sugihastuti (2009:164) menulis, telah banyak bukti menunjukkan bahwa teks-teks sastra, dapat dipakai sebagai pelengkap studi sejarah, misalnya A History of Malaya.

(27)

sastra (Mahayana, 2005:368). Persoalannya adalah bahwa hubungan antara karya sastra dan sejarah, itu negatif atau positif, atau bagaimana? Relasi positif berarti referensial, ada referensi yang nyata pada struktur intrinsik sastra dengan realitas. Relasi negatif berarti nonreferensial (Sugihastuti, 2009:167). Sejarah sering ditafsirkan sebagai fotokopi, nostalgia masa lalu atau sebuah idealisme yang masing-masing mempunyai signifikasi, akurasi, dan kewajarannya dalam teks (Mahayana, 2005:372). Begitu pula dengan teks sastra. Dalam perspektif yang baru, karya sastra ikut membangun, mengartikulasikan dan mereproduksi konvensi, norma, dan nilai-nilai budaya melalui tindak verbal dan imajinatif kreatifnya (Budianta, 2006:4).

Wolfgang Iser (Teeuw, 1984:249) telah menegaskan “rekaan bukan merupakan lawan kenyataan, tetapi memberitahukan sesuatu mengenai kenyataan”.

Hubungan antara kenyataan dan rekaan dalam karya sastra adalah hubungan dialektik (bertetangga). Mimesis tidak mungkin tanpa kreasi tetapi kreasi tidak mungkin tanpa mimesi. Takaran dan perkaitan antara kedua-duanya dapat berbeda menurut kebudayaannya, menurut jenis sastra, jaman, pribadi pengarang dan banyak lagi.

(28)

2.5 Analisis Struktur

Pendekatan struktural adalah pendekatan yang digunakan dalam usaha memahami karya sastra dengan memperhitungkan struktur atau unsur-unsru pembentuk karya sastra sebagai jalinan yang utuh. Pendekatan struktural yang digunakan di dalam analisis bermaksud untuk membongkar dan memaparkan secermat mungkin keterjalinan dan keterkaitan semua unsur-unsur karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna yang menyeluruh (Teeuw, 1984:36).

Pendekatan yang bertolak dari dalam karya sastra itu disebut pendekatan objektif. Analisis struktural adalah bagian yang terpenting dalam merebut makna di dalam karya sastra itu sendiri. Penelitian struktural dipandang lebih objektif karena hanya berdasarkan sastra itu sendiri. Peneliti strukturalis biasanya mengandalkan pendekatan egosentrik yaitu pendekatan penelitian yang berpusat pada teks sastra itu sendiri. Penekanan strukturalis adalah memandang karya sastra sebagai teks mandiri. Penelitian dilakukan secara objektif yaitu menekankan aspek intrinsik karya sastra (Endraswara, 2013:25).

(29)

dalam karya sastra itu sangat tepat jika penelaahan teks sastra diawali dengan pendekatan struktural.

Strukturalisme sering digunakan oleh peneliti untuk menganalisis seluruh karya sastra dimana kita harus memperhatikan unsur-unsur yang terkandung di dalam karya sastra tersebut. Struktur yang membangun sebuah karya sastra sebagai unsur estetika dalam analisis struktur dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi, mengkaji, mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 1998:37).

Mulanya proses identifikasi terhadap plot, tokoh, penokohan, latar dan sudut pandang. Tahap selanjutnya penjelasan terhadap fungsi masing-masing unsur dalam menunjang makna keseluruhannya serta hubungan antar unsur intrinsik. Namun, penelitian ini menekankan pada dua unsur pembentuk karya sastra yang bersifat intrinsik. Unsur intrinsik tersebut adalah alur atau plot dan tokoh. Tetapi, tidak sampai pada fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik. Dipilihnya kedua unsur tersebut karena keduanya merupakan unsur isi dari sebuah karya sastra yang dapat membangun sebuah cerita yang menarik. Sehubungan dengan hal di atas, diharapkan dengan menganalisis kedua unsur tersebut dapat membantu mengungkapkan unsur pembangun cerita dalam karya sastra.

2.5.1 Strukturalisme Robert Stanton

(30)

menyeluruh (Teeuw, 1988:135). Pendekatan struktural yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan struktural model Robert Stanton. Robert Stanton (2007:97), menyatakan bahwa untuk menganalisis novel sebaiknya dilihat terlebih dahulu prinsip kepaduan sebuah novel. Kepaduan di sini berarti seluruh aspek dari karya sastra harus berkontribusi penuh pada maksud utama atau tema.

Dengan demikian, pendekatan struktural memandang karya sastra sebagai suatu kesatuan yang utuh, terdiri dari unsur-unsur yang memiliki suatu keterkaitan dan dapat membentuk suatu makna yang menyeluruh. Robert Stanton menyatakan bahwa struktur karya sastra meliputi 3 kategori, yaitu: fakta cerita, sarana cerita, dan tema.

2.5.1.1. Fakta Cerita

Karakter, alur, dan latar merupakan fakta-fakta cerita. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai catatan kejadian imajinatif dari sebuah cerita. Jika dirangkum menjadi satu, semua elemen ini dinamakan struktur faktual atau tingkatan faktual cerita. Struktur faktual bukanlah hal terpisah dari sebuah cerita. Struktur faktual merupakan salah satu aspek cerita. Struktur faktual adalah cerita yang disorot dari satu sudut pandang (Stanton, 2007:22).

1. Alur

(31)

akan berpengaruh pada keseluruhan karya. Peristiwa kausal tidak terbatas pada hal-hal yang fisik saja seperti ujaran atau tindakan, tetapi juga mencakup perubahan sikap karakter, kilasan-kilasan pandangannya, keputusan-keputusannya, dan segala yang menjadi variabel pengubah dalam dirinya (Stanton, 2007:26).

Alur merupakan tulang punggung cerita. Sebuah cerita tidak akan pernah seutuhnya dimengerti tanpa danya pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang mempertautkan alur, hubungan kausalitas, dan keberpengaruhannya. Sama halnya dengan elemen-elemen lain, alur memiliki hukum-hukum sendiri; alur hendaknya memiliki bagian awal, tengah, dan akhir yang nyata, meyakinkan dan logis, dapat menciptakan bermacam kejutan, dan memunculkan sekaligus mengakhiri ketegangan-ketegangan (Stanton, 2007:28).

Dua elemen dasar yang membangun alur adalah konflik dan klimaks. Konflik utama selalu bersifat fundamental, membenturkan sifat-sifat dan kekuatan-kekuatan tertentu. Konflik semacam inilah yang menjadi inti struktur cerita, pusat yang pada gilirannya akan tumbuh dan berkembang seiring dengan alur yang terus-menerus mengalir dan disebut klimaks. Klimaks adalah saat ketika konflik terasa sangat intens sehingga ending tidak dapat dihindari lagi. Klimaks merupakan titik yang mempertemukan kekuatan-kekuatan konflik dan menentukan bagaimana oposisi tersebut dapat terselesaikan (Stanton, 2007:32).

(32)

1. Alur lurus yaitu jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa-peristiwa pertama diikuti oleh peristiwaperistiwa yang kemudian. Secara runtut cerita dimulai dari tahap awal (penyituasian, pengenalan, pemunculan konflik), tengah (konflik meningkat, klimaks), dan akhir (penyelesaian). Jika dituliskan dalam bentuk skema, secara garis besar plot tersebut akan berwujud sebagai berikut.

A B C D E

Simbol A melambangkan tahap awal cerita, B-C-D melambangkan tahap tengah atau inti cerita, dan E merupakan tahap penyelesaian cerita.

2. Alur sorot balik yaitu jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat tidak kronologis, cerita tidak dimulai dari tahap awal melainkan mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan. Jika dituliskan dalam bentuk skema, secara garis besar plot tersebut akan berwujud sebagai berikut.

D1 A B C D2 E

Simbol D1 berupa awal cerita, A-B-C adalah peristiwa yang disorot balik, D2 (sengaja dibuat demikian untuk menegaskan pertalian kronologisnya dengan D1), dan E berupa kelanjutan langsung peristiwa cerita awal D1.

3. Alur campuran merupakan gabungan dari alur lurus dan alur sorot balik. Jika dituliskan dalam bentuk skema, secara garis besar plot tersebut akan berwujud sebagai berikut.

(33)

A-B-C berisi inti cerita, diceritakan secara runtut-progresif kronologis yang mengantari adegan D1 dan D2 yang juga lurus kronologis, dan E merupakan kelanjutan dari D2yang ditempatkan di awal dan menjadikan sebuah novel sorot balik atau flash back.

2. Karakter

Karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, kartakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita. Konteks kedua, karakter merujuk pada percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu tersebut (Stanton, 2007:33). Karakter utama yaitu karakter yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung dalam cerita. Biasanya, peristiwa-peristiwa ini menimbulkan perubahan pada diri sang karakter atau pada sikap kita terhadap karakter tersebut. Alasan seorang karakter untuk bertindak sebagaimana yang ia lakukan dinamakan motivasi (Stanton, 2007:33).

Karakter merupakan seseorang yang ada dalam sebuah cerita maupun sebuah drama. Karakter cerita menurut Abrams adalah orang-orang yang ditampilkan dalam sebuah karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (Nurgiyantoro 2002: 165).

(34)

dilakukan seorang karakter yang dianggap berpengaruh, karismatis, jenius, atau berpandangan politik yang mampu memengaruhi publik.

Penokohan sebenarnya karakter yang kita ciptakan ditentukan oleh perwatakan yang kita berikan pada karakter tersebut. Mungkin saja nama karakternya sama, tetapi ketika kita beri perwatakan yang berbeda, maka karakter tersebut akan menjadi berbeda. Pemberian watak karakter ini merupakan seni tersendiri, yaitu seni ”mencipta” manusia. Karena dengan memberikan perwatakan seperti yang

kita inginkan kita menciptakan ”manusia baru” dalam dunia yang kita ciptakan, yaitu ”dunia fiksi”.

Nurgiyantoro (2002: 176-194) membedakan karakter menjadi beberapa jenis, antara lain sebagai berikut.

1. Karakter Utama dan Karakter Tambahan

1). Karakter utama adalah karakter yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan karakter yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.

2). Karakter tambahan adalah karakter yang dalam keseluruhan cerita paling sedikit muncul, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan karakter utama baik secara langsung maupun tidak langsung.

2. Karakter Protagonis dan Karakter Antagonis

(35)

norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi kita. Karakter protagonist menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita, harapan-harapan kita.

2). Karakter Antagonis adalah karakter penyebab terjadinya koflik. Karakter Antagonis barangkali bisa disebut, beroposisi dengan karakter protagonis, secara langsung maupun tak langsung, bersifat fisik maupun batin.

3. Karakter Sederhana dan Karakter Bulat

1). Karakter Sederhana adalah karakter yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, suatu sifat-watak yang tertentu saja. Karakter sederhana adalah karakter yang stereotip, karakter yang tidak memiliki unsur kebaruan atau keunikannya sendiri. Karakter ini bersifat statis, wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak berubah sama sekali (misalnya karakter kartun, kancil, film animasi).

2). Karakter bulat adalah karakter yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian, dan jati dirinya. Karakter bulat lebih menyerupai kehidupan manusia yang sesungguhnya, karena disamping memiliki berbagai kemungkinan sikap dan tindakan, ia juga sering memberikan kejutan (Abrams, 1981:20-21).

4. Karakter Statis dan Karakter Berkembang

(36)

2). Karakter Berkembang adalah karakter cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan dan perubahan peristiwa dan plot yang dikisahkan. Ia secara aktif berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial, alam, maupun yang lain, yang kesemuanya itu akan mempengaruhi sikap, watak, dan tingkah lakunya.

5. Karakter Tipikal dan Karakter Netral

1). Karakter Tipikal adalah karakter yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih banyak ditonjolkan kualitas pekerjaan atau kebangsaannya , atau sesuatu yang lain yang lebih bersifat mewakili. Karakter tipikal merupakan penggambaran, pencerminan, atau penunjukkan terhadap orang, atau sekelompok orang yang terikat dalam sebuah lembaga atau seorang individu sebagai bagian dari suatu lembaga, yang ada didunia nyata.

2). Karakter Netral adalah karakter cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri. Ia benar-benar merupakan karakter imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.

3. Latar

(37)

Latar memiliki daya untuk memunculkan tone dan mood emosional yang melingkupi sang karakter. Tone emosional ini disebut dengan istilah atmosfer. Atmosfer bisa jadi merupakan cermin yang merefleksikan suasana jiwa sang karakter atau sebagai salah satu bagian dunia yang berada di luar diri sang karakter (Stanton, 2007: 36).

2.5.1.2 Sarana Cerita

Sarana kesastraan (literary devices) adalah teknik yang dipergunakan oleh pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna. Metode semacam ini perlu karena dengannya pembaca dapat melihat berbagai fakta melalui kacamata pengarang, memahami apa maksud fakta-fakta tersebut sehingga pengalaman pun dapat dibagi (Stanton, 2007: 46 47).

1. Judul

Judul selalu relevan terhadap karya yang diampunya sehingga keduanya membentuk satu kesatuan. Pendapat ini dapat diterima ketika judul mengacu pada sang karakter utama atau satu latar tertentu. Akan tetapi, bila judul tersebut mengacu pada satu detail yang tidak menonjol. Judul semacam ini acap menjadi petunjuk makna cerita bersangkutan (Stanton, 2007:51).

2. Sudut Pandang

(38)

kata-katanya sendiri, (2) orang pertama-sampingan, cerita dituturkan oleh satu karakter bukan utama (sampingan), (3) orang ketiga-terbatas, pengarang mengacu pada semua karakter dan memosisikannya sebagai orang ketiga tetapi hanya menggambarkan apa yang dapat dilihat, didengar, dan dipikirkan oleh satu orang karakter saja, (4) orang ketiga-tidak terbatas, pengarang mengacu pada setiap karakter dan memosisikannya sebagai orang ketiga (Stanton, 2007:53-54). Pengarang juga dapat membuat beberapa karakter melihat, mendengar, atau berpikir saat tidak ada satu karakter pun hadir.

3. Gaya dan Tone

Dalam sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter, dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan menyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan, ritme, panjang-pendek kalimat, detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya imaji dan metafora. Di samping itu, gaya juga bisa terkait dengan maksud dan tujuan sebuah cerita. Seorang pengarang mungkin tidak memilih gaya yang sesuai bagi dirinya akan tetapi gaya tersebut justru pas dengan tema cerita (Stanton, 2007:61-62).

(39)

4. Simbolisme

Simbol berwujud detail-detail konkret dan faktual dan memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan dan emosi dalam pikiran pembaca. Dalam fiksi, simbolisme dapat memunculkan tiga efek yang masing-masing bergantung pada bagaimana simbol bersangkutan digunakan. Pertama, sebuah simbol yang muncul pada satu kejadian penting dalam cerita menunjukkan makna peristiwa tersebut. Dua, satu simbol yang ditampilkan berulang- ulang mengingatkan kita akan beberapa elemen konstan dalam semesta cerita. Tiga, sebuah simbol yang muncul pada konteks yang berbeda-beda akan membantu kita menemukan tema (Stanton, 2007:64-65).

5. Ironi

Secara umum, ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya (Stanton, 2007:71). Dalam dunia fiksi, ada dua jenis ironi yang dikenal luas yaitu ironi dramatis dan tone ironis. Ironi dramatis atau ironi alur dan situasi biasanya muncul melalui kontras diametris antara penampilan dan realitas, antara maksud dan tujuan seorang karakter dengan hasilnya, atau antara harapan dengan apa yang sebenarnya terjadi Tone ironis atau ironi verbal digunakan untuk menyebut cara berekspresi yang mengungkapkan makna dengan cara berkebalikan (Stanton, 2007:72).

2.5.1.3 Tema

(40)

makna pengalaman manusia, tema menyorot dan mengacu pada aspek-aspek kehidupan sehingga nantinya akan ada nilai-nilai tertentu yang melingkupi cerita. Tema membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Bagian awal dan akhir cerita akan menjadi pas, sesuai, dan memuaskan berkat keberadaan tema. Tema merupakan elemen yang relevan dengan setiap peristiwa dan detail sebuah cerita (Stanton, 2007:37).

Tema hendaknya memenuhi beberapa kriteria: (1) selalu mempertimbangkan berbagai detail menonjol dalam sebuah cerita, (2) tidak terpengaruh oleh berbagai detail cerita yang saling berkontradiksi, (3) tidak sepenuhnya bergantung pada bukti-bukti yang tidak secara jelas diutarakan (hanya disebut secara implisit), (4) diujarkan secara jelas oleh cerita bersangkutan (Stanton, 2007:45).

2.6 Representasi

Perkembangan zaman yang semakin pesat membuat manusia semakin mudah mendapatkan sumber informasi dari segala sumber baik itu melalui media cetak, media elektronik, hingga sebuah karya sastra seperti cerpen, puisi atau novel. Media-media tersebut memiliki andil yang besar dalam membentuk dan membangun stereotip dalam pikiran masyarakat melalui bingkainya masing-masing yang merepresentasikan kehidupan sekitar masyarakat. Penyampaian yang dikemas sedemikian apik sehingga terkadang tidak menyadari bahwa sebenarnya itulah fakta yang terjadi di lingkungan sekitar.

(41)

Maksud dan tujuan digunakannya tanda pun bermacam ada yang dengan sengaja untuk mengalihkan atau memberikan isyarat atau memberikan semacam sinyal yang hanya diketahui oleh individu, kelompok ataupun masyarakat dimana mereka memiliki pengetahuan yang sama.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia representasi dimaknai sebagai perbuatan mewakili (penggambaran) terhadap suatu objek (KBBI, 1989:744). Representasi merekonstruksi serta menampilkan berbagai fakta sebuah objek sehingga eksplorasi makna dapat dilakukan dengan maksimal (Ratna, 2005: 612). Jika dikaitkan dengan bidang sastra, maka representasi dalam karya sastra lebih diartikan sebagai penggambaran karya sastra terhadap suatu fenomena sosial. Penggambaran ini tentu saja melalui pengarang sebagai kreator. Representasi dalam sastra muncul sehubungan dengan adanya pandangan atau keyakinan bahwa karya sastra sebetulnya hanyalah merupakan cermin, gambaran, bayangan, atau tiruan kenyataan. Dalam konteks ini karya sastra dipandang sebagai penggambaran yang melambangkan kenyataan (mimesis) (Teeuw, 1984:220).

(42)

dalam seni tidak semata-mata meniru kenyataan seperti pantulan gambar cermin, tetapi melibatkan renungan yang kompleks atas kenyataan alam.

Dalam pandangan Aristoteles, seni bekerja seperti sejarah, yakni menghadirkan peristiwa atau kenyataan faktual dan khusus. Di samping itu, seni juga harus mampu menunjukkan ciri-ciri general dan universalnya yang berlaku untuk zaman kapan pun (Teeuw, 1984:222). Karya sastra sebagai bagian dari seni mengambil bahan dari masyarakat, bahan yang dimaksud adalah fakta-fakta sosial. Fakta-fakta sosial yang ada dengan sendirinya dipersiapkan dan dikondisikan oleh masyarakat, eksistensinya selalu dipertimbangkan dalam antarhubungannya dengan fakta sosial yang lain, yang juga telah dikondisikan secara social.

Poses representasi yang dilakukan pengarang dalam karyanya menggunakan bahasa sebagai media. Karya sastra memiliki kelebihan dalam menggambarkan kenyataan sosial. Dengan memanfaatkan kualitas manipulatif medium bahasa, karya sastra mampu menggambarkan sesuatu yang sama dengan cara yang berbeda. Melalui bahasa, dunia sosial dikukuhkan dan sekaligus dipelihara. Melalui bahasa pula, dunia sosial yang objektif diinternalisasikan ke dalam kesadaran subjektif para warga dunia sosial.

(43)

1. to stand in for. Hal ini dapat dicontohkan dalam kasus bendera suatu negara, yang jika dikibarkan dalam suatu event olahraga, maka bendera tersebut menandakan keberadaan negara yang bersangkutan dalam event tersebut.

2. to speak or act on behalf of. Contoh kasusnya adalah Paus menjadi orang yang berbicara dan bertindak atas nama umat Katolik.

3. to re-present. Dalam arti ini, misalnya tulisan sejarah atau biografi yang dapat menghadirkan kembali kejadian-kejadian di masa lalu. (Giles dan Tim Middleton, 1999:55-57)

Dalam prakteknya, ketiga makna dari representasi ini dapat saling tumpang tindih. Oleh karena itu, untuk mendapat pemahaman lebih lanjut mengenai apa makna dari representasi dan bagaimana caranya beroperasi dalam masyarakat budaya, teori Hall akan sangat membantu.

Menurut Hall dalam bukunya Representation: Cultural Representation and Signifying Practices, “Representation connects meaning and language to culture.

. . . Representation is an essential part of the process by which meaning is produced and exchanged between members of culture.”(Hall, 2003:17)

(44)

dari sesuatu hal yang kita miliki dalam pikiran kita, membuat kita mengetahui makna dari hal tersebut.

Namun, makna tidak akan dapat dikomunikasikan tanpa bahasa. Sebagai contoh sederhana, kita mengenal konsep ‘gelas’ dan mengetahui maknanya. Kita tidak akan dapat mengomunikasikan makna dari ‘gelas’ (misalnya, benda yang digunakan orang untuk minum) jika kita tidak dapat mengungkapkannya dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh orang lain. Oleh karena itu, yang terpenting dalam sistem representasi ini pun adalah bahwa kelompok yang dapat berproduksi dan bertukar makna dengan baik adalah kelompok tertentu yang memiliki suatu latar belakang pengetahuan yang sama sehingga dapat menciptakan suatu pemahaman yang (hampir) sama.

Menurut Stuart Hall, berpikir dan merasa juga merupakan sistem representasi. Sebagai sistem representasi berarti berpikir dan merasa juga berfungsi untuk memaknai sesuatu. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan hal tersebut, diperlukan latar belakang pemahaman yang sama terhadap konsep, gambar, dan ide (cultural codes).

Dalam Theory of Representation, Stuart Hall (1997:25) memberikan tiga pendekatan untuk menjelaskan bagaimana representasi dari bahasa menghasilkan sebuah makna. Ketiga pendekatan tersebut adalah the reflective, the intentional dan the constructionis (contructionist approach). Di dalam the reflective approach, makna ditujukan untuk mengelabuhi objek yang dimaksudkan, baik itu

(45)

cermin, untuk merefleksikan maksud sebenarnya seperti keadaan yang sebenarnya di dunia. Sedangkan intentional approach merupakan pendekatan yang berkaitan erat dengan pembicara atau penulis yang menekankan pada diri sendiri mengenai pemaknaan yang unik di dunia ini melalui bahasa. Kata-kata yang dihasilkan memiliki makna sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis.

Terakhir, contructionist approach menurut Hall yaitu:

" Konstruktivis tidak menyangkal keberadaan dunia materi . Namun, bukan dunia materi yang menyampaikan makna: itu adalah sistem bahasa atau apa pun sistem yang kita gunakan untuk mewakili konsep-konsep kita. Ini adalah aktor sosial yang menggunakan sistem konseptual budaya dan sistem representasi linguistik lainnya untuk membangun makna, untuk membuat dunia yang berarti dan untuk berkomunikasi tentang dunia yang penuh makna kepada orang lain." (Hall, 2003:27)

Pemaknaan terhadap sesuatu dapat sangat berbeda dalam budaya atau kelompok masyarakat yang berlainan karena pada masing-masing budaya atau kelompok masyarakat tersebut ada cara-cara tersendiri dalam memaknai sesuatu. Kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang pemahaman yang tidak sama terhadap kode-kode budaya tertentu tidak akan dapat memahami makna yang diproduksi oleh kelompok masyarakat lain.

(46)

Misalnya, ketika kita memikirkan ‘rumah’, maka kita menggunakan kata RUMAH untuk mengkomunikasikan apa yang ingin kita ungkapkan kepada orang lain. Hal ini karena kata RUMAH merupakan kode yang telah disepakati dalam masyarakat kita untuk memaknai suatu konsep mengenai ‘rumah’ yang ada di

pikiran kita (tempat berlindung atau berkumpul dengan keluarga). Kode, dengan demikian, membangun korelasi antara sistem konseptual yang ada dalam pikiran kita dengan sistem bahasa yang kita gunakan.

Teori representasi seperti ini memakai pendekatan konstruksionis, yang berargumen bahwa makna dikonstruksi melalui bahasa. Menurut Stuart Hall dalam artikelnya, “things don’t mean: we construct meaning, using

representational systems-concepts and signs.” (Hall, 2003:25). Oleh karena itu, konsep (dalam pikiran) dan tanda (bahasa) menjadi bagian penting yang digunakan dalam proses konstruksi atau produksi makna.

(47)

2.7 Teori Pemerintahan

Negara merupakan organisasi tertinggi di antara satu kelompok atau beberapa kelompok masyarakat yang mempunyai cita-cita untuk bersatu, hidup di dalam daerah tertentu, dan mempunyai pemerintahan yang berdaulat (Mahfud, 2000:64). Mengenai tugas negara dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, negara harus memberikan perlindungan kepada penduduk dalam wilayah tertentu. Kedua, Negara mendukung atau langsung menyediakan berbagai pelayanan kehidupan masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Ketiga, negara menjadi wasit yang tidak memihak antara pihak-pihak yang berkonflik dalam masyarakat serta menyediakan suatu sistem yudisial yang menjamin keadilan dasar dalam hubungan kemasyarakatan (Pudyatmoko, 2009:1).

Tugas negara menurut faham modern sekarang ini (dalam suatu Negara Kesejahteraan atau Social Service State), adalah menyelenggarakan kepentingan umum untuk memberikan kemakmuran dan kesejahteraan yang sebesar-besarnya berdasarkan keadilan dalam suatu Negara Hukum. Dalam mencapai tujuan dari negara dan menjalankan negara, dilaksanakan oleh pemerintah. Mengenai pemerintah, terdapat dua pengertian, yaitu pemerintah dalam arti luas dan pemerintah dalam arti sempit.

(48)

1981:1). Mengenai pembagian pengertian dari pemerintah ini, juga terdapat dalam buku SF. Marbun dan Moh. Mahfud MD yang berjudul Pokok-Pokok Hukum Administrasi Negara, namun terdapat sedikit perbedaan rumusan mengenai arti pemerintah dalam arti luas maupun dalam arti sempit.

Pengertian pemerintah dalam arti sempit adalah organ/alat perlengkapan negara yang diserahi tugas pemerintahan atau melaksanakan undang-undang. Dalam pengertian ini pemerintah hanya berfungsi sebagai badan Eksekutif (Bestuur). Pemerintah dalam arti luas adalah semua badan yang menyelenggarakan semua kekuasaan di dalam negara baik kekuasaan eksekutif maupun kekuasaan legislatif dan yudikatif (Marbun, 2006:8). Dari uraian mengenai pengertian pemerintah di atas, maka dalam tulisan ini yang dimaksud pemerintah adalah pemerintah dalam arti luas.

Hal ini mengingat, bentuk pemerintahan Indonesia saat pasca kemerdekaan, tepatnya dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia saat itu masih berbentuk parlementer. Dimana seorang Mohammad Hatta bertindak sebagai kepala pemerintahan yang mengatur Negara secara absolut. Sedangkan Ir Soekarno kala itu merupakan sosok kepala Negara yang menjadi presiden sekaligus simbol Negara.

(49)

menteri. Dalam hal ini, ditangani oleh kepala departemen yang bertanggungjawab kepada perdana menteri.

2.7.1 Konsep Pemerintahan Darurat

Pemerintahan darurat berasal dari dua kata yaitu pemerintahan dan darurat. Pemerintahan adalah perbuatan, cara, hal dan urusan dalam memerintah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia darurat adalah keadaan terpaksa yang terjadi akibat peperangan ataupun bencana (Poerwadarminta, 2006 : 267).

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemerintahan darurat adalah pemerintahan yang dibentuk karena dalam keadaan terpaksa yang terjadi akibat perang.

Keadaan darurat atau biasa dikenal dengan sebagai staat van oorlog en beleg (SOB). Yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai state of emergency adalah suatu pernyataan dari pemerintah yang bisa mengubah fungsi fungsi pemerintahan, memperingatkan warganya untuk mengubah aktfitas atau memerintahkan badan badan pemerintah atau negara untuk menggunakan rencana-rencana penanggulangan terhadap keadaan darurat yang mengancam. (Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Keadaan_darurat diakses tanggal 25 Mei 2015 Pukul 21.10 WIB)

(50)

bahaya yang mengancam, ke dalam kehidupan biasa menurut perundang-undangan dan hukum yang umum dan biasa. Dalam sebuah pemerintahan kadangkala terjadi sebuah keadaan yang tidak dapat diprediksi dan bersifat mendadak. Keadaan demikan sering menimbulkan keadaan darurat. Keadaan darurat disini berarti keadaan yang dapat menimbulkan akibat yang tidak dapat diprediksi. Ketika keadaan darurat terjadi maka pranata hukum yang ada terkadang tidak berfungsi untuk menjangkaunya. Untuk itulah dibutuhkan perangkat aturan hukum tertentu yang dapat melakukan pengaturan dalam keadaan darurat.( http://id.wikipedia.org/wiki/Keadaan_darurat diakses tanggal 25 Mei 2015 Pukul 21.10 WIB).

Menurut Jimly Asshidiqie ada delapan asas dalam pemberlakuan keadaan darurat suatu negara, yaitu:

1. Asas Proklamasi

Keadaan darurat harus diumumkan atau diproklamirkan kepada seluruh masyarakat, dan apabila keadaan darurat tersebut tidak diproklamirkan maka tindakan yang diambil tidak mendapat keaabsahan.

2. Asas Legalitas

(51)

3. Asas Komunikasi

Negara yang mengalami keadaan darurat harus mengkomunikasikan keadaan tersebut kepada seluruh warga negara.Selain itu juga harus memberitahukan kepada negara lain secara resmi.

4. Asas Kesementaraan

Dalam penetapan keadaan darurat harus ada kepastian hukum yakni jangka waktu pemberlakuan keadaan darurat.Yaitu mengenai awal pemberlakuan hingga waktu berakhirnya.

5. Asas Keistimewaan Ancaman

Krisis menimbulkan keadaan darurat harus benar benar terjadi atau minimal mengandung potensi bahaya yang siap mengancam negara.Ancaman tersebut harus bersifat istimewa karena menimbulkan ancaman terhadap kehidupan.

6. Asas Proporsional

Tindakan yang diambil harus sesuai dengan gejala yang terjadi.Jangan sampai negara mengambil tindakan yang tidak sesuai dan cenderung berlebihan.

7. Asas Intangibility

Asas ini terkait dengan Hak Asasi Manusia.Dalam keadaan darurat pemerintah tidak boleh tidak boleh membubarkan organ pendampingnya yakni legislatif dan yudikatif.

8. Asas Pengawasan

(52)

(http://id.wikipedia.org/wiki/Keadaan darurat diakses tanggal 25 Juni 2015 Pukul 21.10 WIB).

Sementara itu, substansi pengertian negara dalam keadaan darurat diterjemahkan kedalam tiga kategori yaitu:

1. Keadaan Darurat Sipil (KDS)

Keadaan ini merujuk pada suatu peristiwa yang timbul dari pergerakan sosial arus bawah ke atas,sebagai suatu gerakan yang timbul dari gejala kesenjangan sosial. 2. Keadaan Darurat Militer (KDM)

Keadaan ini merujuk pada suatu peristiwa yang berasal dari dalam internal angkatan bersenjata sendiri oleh fenomena dualisme dalam puncak pimpinan kemiliteran yang pro dan kontra.

3. Keadaan Darurat Perang (KDP)

Keadaan ini lebih merujuk pada suatu keadaan yang tergolong genting, yang harus segera ditindaklanjuti melalui suatu komando dipundak presiden selaku kepala negara dan kepala pemerintahan beserta MenHanKam dalam hal pengambilan keputusan menyatakan perang dan tindakan lainnya yang berguna untuk menyelamatkan Negara. (Amos, 2005:201).

(53)

Prawiranegara untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera adalah terjadinya perang antara Indonesia dengan Belanda yang terjadi di Yogyakarta.

2.7.2 Pelaksanaan Pemerintahan Darurat

Pelaksanaan adalah perbuatan atau usaha untuk melaksanakan (Poerwadarminta, 2006:650). Jadi pelaksanaan pemerintahan darurat adalah perbuatan atau usaha untuk melaksanakan pemerintahan yang terjadi karena dalam keadaan darurat. Menurut teori tentang asas pemberlakuan keadaan darurat yaitu asas pengawasan bahwa dalam keadaan darurat juga harus mendapat pengawasan, kontrol dan harus mematuhi prinsip hukum dan demokrasi.

Indonesia adalah negara demoksasi, demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Menurut Hans Kelsen seperti dikutip Kansil terdapat tiga cara untuk melaksanakan sistem demokrasi :

1. Yang melaksanakan kekuasaan negara demokrasi adalah wakil rakyat yang terpilih dimana rakyat yakin bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan dalam melaksanakan keputusan tersebut

2. Caranya melaksanakan kekuasaan negara demokrasi adalah senantiasa mengingat kehendak dan keinginan rakyat. Jadi dalam melaksanakan kekuasaan negara tidak bertentangan dengan kehendak dan kepentingan rakyat

(54)

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pemerintahan darurat harus sesuai dengan prinsip demokrasi. Pada penelitian ini pelaksanaan pemerintahan darurat yang dilaksanakan di Bukit Tinggi tahun 1948 – 1949 adalah harus sesuai dengan prinsip Demokrasi mengingat Syarifuddin Prawiranegara yang merupakan Ketua PDRI dipilih secara langsung oleh pejabat tinggi yang ada di Sumatera Barat. Prawiranegara dinilai sosok paling cakap diantara kandidat lain yang memiliki kematangan dalam karier politik.

2.7.3 Pemerintahan Darurat Republik Indonesia

Pemimpin republik di Jawa telah menduga kemungkinan agresi Belanda II dan telah membuat rencana menghadapi kemungkinan itu. Pada bulan November 1948, wakil presiden Hatta mengajak Mr. Syafruddin Prawiranegara yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran ke Bukittinggi. Sementara Hatta kembali ke Yogyakarta, Syafruddin tetap tinggal untuk mempersiapkan kemungkinan pembentukan sebuah pemerintahan darurat di Sumatra seandainya ibu kota Republik di Jawa jatuh ke tangan Belanda.

(55)

menolak member izin melintasi daerah mereka dan memberikan hak mendarat di Jakarta. Jadi, Soekarno dan Hatta masih berada di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember ketika belanda menyerang dan menduduki kota itu.

2.7.3.1 Masa SebelumPemerintahan Darurat Republik Indonesia

Awal mula lahirnya pemerintahan darurat republik Indonesia tidak bisa lepas dari agresi militer Belanda kedua. Sebuah serangan yang yang menjadi awal pengkhianatan Belanda atas apa yang disepakati dalam perundingan Renville, dimana Belanda dan Indonesia harus melaksanakan gencatan senjata dan menyerahkan urusan perdamaian kepada Komisi Jasa Baik atau Komisi Tiga Negara bentukan PBB.

Alih-alih menerima menyepakati dan patuh atas perjanjian yang telah dibuat, Belanda justru memilih melancarkan aksi polisionil bersandi Gagak Hitam pada 19 Desember 1948 di Yogyakarta. Syafruddin Prawiranegra yang merupakan menteri kemakmuran sedang berada di Bukitinggi, kala itu mendengar berita serangan Belanda ke Yogyakarta hanya bualan. Syafruddin pada mulanya tidak percaya bahwa pemerintahan Republik dapat hancur sedemikian cepatnya atau bahwa hampir semua anggota cabinet, termasuk Soekarno dan Hatta telah membiarkan diri mereka tertahan.

References

Related documents

Evaluation of shoulder pain aafp, pain in left side of neck shoulder and chest, rotator cuff post surgery tips, shoulder pain in swimmers pdf, can prolotherapy heal torn meniscus,

Students are encouraged to contact the Offi ce of Disabled Resources and Services and/or the Vice President of Student Aff airs or designee for the types of services available

Nevertheless, the albu- min: a-fetoprotein ratios in amniotic fluid were much higher than the same ratios in the bladder urine of fetuses of similar gestational age, indi- cating

Interestingly, the same patient carried a new missense mutation in the tumor suppressor gene SMARCA4 , frequently mutated in lung cancer and small cell ovarian carcinoma [20],

The antibodies detected in the sera of five of six patients who were refrac- tory to hog pyloric material were not absorbed by nongastric hog protein or by human gastric juice, but

We exploit a universe dataset of state school students in England with linked t est score records to document the evolution of attainment through school for different ethnic

waardecreatieverhaal kan worden gebruikt om studenten zicht te geven op de opbrengsten van het leernetwerk; en welke ondersteuning de studenten nodig hebben om het leernetwerk

Results of the study proved that the participants in the experimental group who received explicit instruction on discourse markers made more frequent use of them in their