BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Belajar
Belajar merupakan salah satu faktor yang sangat dominan dan berpengaruh dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Sebagian besar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Hosnan, 2014: 182). Aisyah, dkk., (2007: 9) belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukan dalam bentuk, seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek yang ada pada diri individu yang sedang belajar.
Writting dalam bukunya “Phshycology of Learning” (dalam Syah, 2007: 90) mendefinisikan belajar sebagai: any relatively permanent change in an organism’s behavioral reptoire that occurs as a result of experience. Belajar adalah perubahan
merupakan guru yang paling baik. Sedangkan Daryanto (2009: 2) mengemukakan pengertian belajar yaitu suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas peneliti menyimpulkan, bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi stimulus dan respons serta dijadikan sebagai pengalaman interaksi dengan lingkungan.
B. Aktivitas Belajar
Aktivitas dalam pembelajaran mempunyai peranan yang penting. Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran dapat menunjang prestasi belajar mereka di sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Kunandar (2010: 277), bahwa aktivitas adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perbuatan, dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang proses pembelajaran dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Sardiman (2010: 100) mengemukakan bahwa aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental, dalam kegiatan belajar kedua aktivitas itu harus selalu berkait. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar.
sedangkan psikis adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya ataupun banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran.
Lebih lanjut Paul D. Dierich (dalam Hamalik, 2011: 90) membagi kegiatan belajar menjadi 8 kelompok, sebagai berikut:
1. Kegiatan-kegiatan visual: membaca, melihat-lihat gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja, atau bermain. 2. Kegiatan-kegiatan lisan (oral): mengemukakan suatu fakta atau prinsip,
menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi.
3. Kegiatan-kegiatan mendengarkan: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan instrumen musik, mendengarkan siaran radio.
4. Kegiatan-kegiatan menulis: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat sketsa, atau rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket.
5. Kegiatan-kegitan menggambar: menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.
6. Kegiatan-kegiatan metrik: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi), menari, berkebun.
7. Kegiatan-kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan-hubungan, membuat keputusan.
8. Kegiatan-kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang, dan sebagainya.
C. Hasil Belajar
Pada saat berakhirnya suatu proses belajar, maka siswa akan memperoleh suatu hasil belajar. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Di lihat dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pangkal dan puncak proses belajar. Hasil belajar, untuk sebagian adalah berkat tindak guru, suatu pencapaian tujuan pengajaran. Pada bagian lain merupakan peningkatan kemampuan mental siswa (Dimyanti dan Mujiono, (2006: 3). Pendapat yang sedikit berbeda dikemukakan oleh Bundu (2006: 14) bahwa hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Nasution (dalam duniabaca.com: 2011), mengemukakan bahwa hasil adalah suatu perubahan pada diri individu. Perubahan yang dimaksud tidak halnya perubahan pengetahuan, tetapi juga meliputi perubahan kecakapan, sikap, pengertian, dan penghargaan diri pada individu tersebut.
Bloom, dkk., dalam Dimyati dan Mudjiono (2006: 26-30) mengkatagorikan jenis perilaku dan kemampuan internal akibat belajar ke dalam tiga ranah, diantaranya: a. Ranah kognitif, terdiri dari enam perilaku diantaranya: pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evalauasi.
b. Ranah afektif, terdiri dari lima perilaku diantaranya: penerimaan, partisipasi, penilaian dan penentuan sikap, organisasi, serta pembentukan pola hidup.
c. Ranah psikomotor, terdiri dari tujuh perilaku diantaranya: apersepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan yang terbiasa (berketerampilan), gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan, dan kreativitas.
didik yang dilakukan melalui penilaian proses dan hasil belajar yang telah dilakukan berulang-ulang. Indikator ketercapaian mengenai hasil belajar dalam penelitian ini dilihat dari 3 ranah yaitu: (1). Kognitif berupa pengetahuan, pemahaman, penerapan, dan analisi; (2). Afektif berupa sikap dan partisipasi; (3). Psikomotor berupa keterampilan serta kreativitas.
D. Pembelajaran Matematika 1. Pengertian Matematika
Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar tidak terlepas dari hakikat peserta didik dan hakikat matematika. Hakikat matematika adalah memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang dedukatif (Soedjadi dalam Heruman, 2007: 1), sedangkan matematika merupakan ilmu dasar yang menjadi tolak ukur bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Sajaka, dkk., 2006: 2). Matematika lebih menekankan dari hasil eksperimen dalam dunia rasio (penalaran), bukan menekankan dari hasil eksperimen atau hasil observasi, matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia, yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran (Russeffendi dalam Suwangsih dan Tiurlina, 2006: 3).
Menurut Johnson dan Rising dalam Murniati (2007: 46), menyatakan bahwa matematika adalah pola pikir, pola mengorganisasikan pembuktian logika; matematika itu adalah bahasa, bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol mengenai arti daripada bunyi; matematika adalah pengetahuan struktur yang terorganisasi, sifat-sifat atau teori-teori dibuat secara deduktif berdasarkan kepada unsur yang tidak didefinisikan, aksioma, sifat atau teori yang telah dibuktikan kebenarannya; matematika adalah ilmu tentang keteraturan pola atau ide, dan matematika itu adalah suatu seni, keindahan terdapat pada keterurutan dan keharmonisan.
Berdasarkan pernyataan para ahli matematika di atas peneliti berkesimpulan bahwa matematika merupakan ilmu dasar yang didapat dengan berpikir yang terbentuk dari pengalaman manusia yang kebenarannya dapat dibuktikan.
2. Tujuan Matematika
Setiap mata pelajaran yang ada di sekolah dasar memiliki tujuannya sendiri yang berpusat pada peserta didik, begitu pula halnya pada mata pelajaran matematika. Menurut Aisyah (2007: 1-4) Matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
Di dalam GBPP mata pelajaran matematika SD disebutkan bahwa tujuan yang hendak dicapai dari pembelajaran matematika adalah :
1. Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialihgunakan, melalui kegiatan matematika.
3. Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal lanjut di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).
4. Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin. (Depdikbud, 1993: 40).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa tujuan matematika adalah agar peserta didik memiliki kemampuan memahami, menggunakan penalaran, menumbuh kembangkan kemampuan berhitung dalam kehidupan sehari-hari, dan membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.
E. Model Pembelajaran
1. Pengertian Model Pembelajaran
Pada setiap proses pembelajaran seorang guru sebelumnya pasti akan mempersiapkan terlebih dahulu apa yang akan disampaikan pada siswa dengan menyusun persiapan mengajar atau rencana pembelajaran. Ketika guru melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas, pada dasarnya guru tersebut sedang mempraktekkan model pembelajaran. Model pembelajaran ini menggambarkan keseluruhan urutan atau langkah-langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran.
dikonversikan untuk sebuah bentuk yang lebih komprehensif (Mayer, W. J., dalam Trianto, 2010: 21). Arends dalam Suwarjo (2008: 97) menjelaskan bahwa model pembelajaran merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan suatu pendekatan atau rencana pengajaran yang mengacu pada pendekatan secara menyeluruh yang memuat tujuan, tahapan-tahapan kegiatan, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Ismail dalam Widyantini (2008: 4), istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur. Suatu model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yaitu rasional teoritik yang logis, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tingkah laku mengajar yang diperlukan, serta lingkungan belajar. Menurut Soekamto, dkk., dalam Trianto (2010: 22) mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah: “Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar”, dengan demikian aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Sudrajat dalam wordpress.com: 2008) mengetengahkan empat kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi soaial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Penggunaan istilah tersebut dengan strategi pembelajaran.
Aplikasi model pembelajaran biasanya tergantung pada tujuan, materi, karakteristik sekolah, lingkungan, dan kebutuhannya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu konsep pembelajaran yang diterapkan oleh guru secara sistematis untuk mengorganisasikan pengalaman belajar guna mencapai tujuan belajar yang diinginkan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu konsep pembelajaran yang diterapkan oleh guru secara sistematis untuk mengorganisasikan pengalaman belajar guna mencapai tujuan belajar yang diinginkan.
2. Macam-macam Model Pembelajaran
pembelajaran yang dapat diterapkan ada tiga model pembelajaran (Hosnan, 2014:190-191), yaitu:
a. Discovery Learning
Model pembelajaran discovery learning menggunakan beberapa langkah pembelajaran, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penilaian. Sedangkan pada kegiatan inti, yaitu pelaksanaan model pembelajaran discovery learning menggunakan pemberian stimulasi/rangsangan, pernyataan/identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, verifikasi/pembuktian dan menarik kesimpulan/generalisasi.
b. Problem Based Learning
Problem based learning adalah metode mengajar yang menggunakan
masalah yang nyata, proses dimana siswa belajar, baik ingatan maupun keterampilan berpikir kritis. Problem based learning adalah metode mengajar dengan fokus pemecahan masalah yang nyata, kerja kelompok, umpan balik, diskusi, dan laporan akhir.
c. Project Based Learning
3. Pengertian Model Discovery Learning
Penemuan (discovery) merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan kontruktivisme. Model ini menekankan pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu, melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Wilcox (dalam Hosnan, 2014: 281), dalam pembelajaran dengan penemuan, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
Model discovery (dalam bahasa Indonesia sering disebut metode penyingkapan) didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila siswa disajikan materi pembelajaran yang masih bersifat belum tuntas atau belum lengkap sehingga menuntut siswa menyingkapkan beberapa informasi yang diperlukan untuk melengkapi materi ajar tersebut (Yunus Abidin, 2014: 175).
Pembelajaran discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan, anak juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri problem yang dihadapi. Kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat (Hosnan, 2014: 282).
(Budiningsih, 2005: 43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Hosnan, 2014: 219).
Menurut Sund (dalam Roestiyah, 2008: 20) discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental tersebut antara lain ialah: mengamati, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi. Pada pembelajaran penemuan, siswa didorong untuk terutama belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Guru mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep bagi diri mereka sendiri.
4. Tujuan Model Discovery Learning
Setiap model pembelajaran mempunyai tujuan yang hendak dicapai dalam proses belajar. Bell (1978) mengemukakan beberapa tujuan spesifik dari pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
a. Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan.
b. Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola dalam situasi konkret maupun abstrak, juga siswa banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan.
c. Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
d. Pembelajaran penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.
e. Terdapat beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan-keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna.
f. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktivitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.
5. Kelebihan dan Kekurangan Model Discovery Learning
Pada suatu proses pembelajaran yang menerapkan suatu model di dalamnya pastinya terdapat suatu kelebihan dan kekurangan pada model pembelajaran yang diterapkan tersebut. Begitu pula yang terjadi pada model discovery learning, menurut para ahli penerapan pendekatan discovery learning dalam pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan (Dr. J. Richard dalam Roestiyah, 2008: 20). Kelebihan dan kekurangan tersebut meliputi:
1) Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
2) Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah (problem solving).
3) Pengetahuan yang diperoleh melalui strategi ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer.
4) Siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir.
5) Menyebabkan peserta didik mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
6) Strategi ini dapat membantu peserta didik memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. 7) Siswa akan mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks.
8) Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
9) Mendorong peserta didik berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri. 10) Mendorong peserta didik berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis
sendiri.
11) Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
13) Mendorong keterlibatan keaktifan siswa.
14) Menimbulkan rasa puas bagi siswa. Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat belajarnya meningkat. 15) Dapat meningkatkan motivasi dan melatih siswa belajar mandiri.
Menurut Marzano (dalam Hosnan, 2014: 288), selain kelebihan yang telah diuraikan di atas, masih ditemukan beberapa kelebihan dari model penemuan itu, yaitu sebagai berikut:
1) Siswa dapat berpatisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan. 2) Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry
(mencari-temukan).
3) Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses penemuan.
4) Belajar menghargai diri sendiri.
5) Memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer. 6) Pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat.
7) Hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik daripada hasil lainnya.
b. Kekurangan Model Discovery Learning
1) Guru merasa gagal mendeteksi masalah dan adanya kesalahpahaman antara guru dengan siswa.
2) Menyita banyak waktu. 3) Menyita pekerjaan guru.
4) Tidak semua siswa mampu melakukan penemuan. 5) Tidak berlaku untuk semua topik.
6. Langkah-langkah Model Discovery Learning
a. Langkah Persiapan Strategi Discovery Learning
Dalam penggunaan suatu model pembelajaran, pastinya diperlukan langkah-langkah dalam melaksanakan metode tersebut. Menurut Syah (2004: 243) dalam mengaplikasikan model discovery di proses pembelajaran, ada beberapa tahapan atau langkah-langkah yang harus dilaksanakan,yaitu sebagai berikut:
1. Menentukan tujuan pembelajaran.
2. Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya)
3. Memilih materi pelajaran yang akan dipelajari.
4. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari
6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonok sampai ke simbolik.
b. Prosedur Aplikasi Strategi Discovery Learning
Pada saat melaksanakan strategi discovery learning di kelas, ada beberapa prosedur yang harus diperhatikan oleh pendidik. Menurut Syah (2004: 244), ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum
1. Problem Statement (Identifikasi Masalah)
Setelah dilakukan stimulasi, langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah)
2. Stimulation (Pemberian Rangsangan)
Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan dan dirangsang untuk melakukan kegiatan penyelidikan guna menjawab kebingungan tersebut. Kebingungan dalam diri siswa ini sejalan dengan adanya informasi yang belum tuntas disajikan guru.
3. Data Collection (Pengumpulan Data)
Tahap ini siswa ditugaskan untuk melakukan kegiatan eksplorasi, pencarian, dan penelusuran dalam rangka mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar hipotesis yang telah diajukannya. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui aktivitas wawancara, kunjungan lapangan, dan atau kunjungan pustaka.
4. Data Processing (Pengolahan Data)
Pada tahap ini siswa mengolah data dan informasi yang telah diperolehnya baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.
5. Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.
6. Generalization (Menarik Kesimpulan)
F. Media Pembelajaran
1. Pengertian Media
Pada suatu pembelajaran, selain bahan ajar cetak guru juga perlu menguasai bahan ajar jenis lainnya, karena dalam pembelajaran guru dituntut untuk menyiapkan bahan ajar yang bervariasi, misalnya aja membuat suatu media pembelajaran.
Kata media berasal dari bahasa Latin Medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Tetapi secara lebih khusus, pengertian media dalam proses pembelajaran cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal (Arsyad, 2009: 3). Sejalan dengan pendapat tersebut, Gagne dalam Angkowo dan Kosasih (2007: 10) mengartikan media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Sementara itu Briggs dalam Sadiman (2006: 6) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran, tetapi penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien (Djamarah dan Zain, 2006: 121).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan. Selain itu media secara mendasar berpotensi memberikan peluang bagi siswa untuk mengembangkan kepribadian dan dapat merangsang pikiran, dapat membangkitkan semangat, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa.
2. Fungsi dan Manfaat Media
Pada proses pembelajaran kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting, karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan materi yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Dalam pemilihan media perlu diketahui fungsi media tersebut agar penggunaan media sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai (Djamarah dan Zain, 2006: 120).
Manfaat menggunakan media pembelajaran menurut Hernawan, dkk (2007: 12) yaitu:
1) Memungkinkan siswa berinteraksi secara langsung dengan lingkungannya,
2) Memungkinkan adanya keseragaman pengamatan atau persepsi belajar pada masing-masing siswa,
3) Membangkitkan motivasi siswa,
4) Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan,
5) Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak bagi seluruh siswa,
6) Mengatasi keterbatasan waktu dan ruang, dan 7) Mengontrol arah dan kecepatan belajar siswa.
3. Jenis-jenis Media
Pada saat pembelajaran berlangsung, banyak jenis-jenis media yang digunakan guru dalam mendukung pembelajaran di dalam kelas. Dick dan Carey dalam Sadiman (2006: 86) menyebutkan jenis-jenis media dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan, diagram, poster, kartun, dan komik. Media grafis sering disebut media dua dimensi, yaitu media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar.
2) Media tiga dimensi yaitu media dalam bentuk model padat, model penampang, model susun, model kerja, dan diorama.
4. Pengertian Media Tiga Dimensi
Salah satu jenis media pembelajaran adalah media tiga dimensi. Menurut Nafi’ M Dawam (2012: 2) media tiga dimensi yaitu media yang tampilannya dapat diamati dari arah pandang mana saja dan mempunyai panjang, lebar, dan tinggi. Seperti dikemukakan Sudjana dan Rivai (dalam Andi Prastowo, 2014: 285) media tiga dimensi adalah tiruan tiga dimensional dari beberapa objek nyata yang terlalu besar, terlalu jauh, terlalu kecil, terlalu mahal, terlalu jarang, atau terlalu ruwet untuk dibawa ke dalam kelas dan dipelajari siswa dalam wujud aslinya. Menurut Satyasa dalam www.freewebs.com mengatakan bahwa media tiga dimensi ialah sekelompok media tanpa proyeksi yang penyajiannya secara visual tiga dimensional. Kelompok media ini dapat berwujud sebagai benda asli baik hidup maupun mati, dan dapat pula berwujud sebagai tiruan yang mewakili aslinya.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa media tiga dimensi adalah sekelompok media tanpa proyeksi yang penyajiannya secara visual tiga dimensional yang yang tampilannya dapat diamati dari arah pandang mana saja dan mempunyai panjang, lebar, dan tinggi.
G. Penelitian yang Relevan
formatif dari 67,33 pada siklus I menjadi 74,39 pada siklus II, sedangkan aktivitas belajar siswa meningkat dari 2,46 pada siklus I menjadi 3,13 pada siklus II.
Penelitian juga dilakukan oleh Fatih Istiqomah (2014) mahasiswi Universitas Lampung dalam skripsinya yang berjudul “Penerapan Model Discovery Learning untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa pada Kelas IV SD Negeri 02 Tulung Balak Kabupaten Lampung Timur”, membuktikan bahwa penerapan model discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Terjadi peningkatan nilai
rata-rata motivasi siswa pada siklus I sebesar 61,58 menjadi 77,24 pada siklus ke II. Nilai rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal siklus I sebesar 62,46 meningkat menjadi 76,23 pada siklus II.
Persamaan dari kedua penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah menggunakan model yang sama yaitu model Discovery Learning dilakukan. Keduanya memiliki kesamaan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sisw, jenjang kelas, dan siklus yang dilaksanakan pun sama. Berdasarkan uraian di atas, kedua penelitian tersebut cukup relevan terhadap efektivitas penerapan model Discovery Learning dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa sekolah
dasar.
H. Kerangka Pikir
pembelajaran agar menjadi lebih baik. Adapun dalam penelitian ini peneliti membuat kerangka pikir sebagai berikut:
Gambar 2. Kerangka pikir penelitian
I. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka di atas dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan kelas yaitu “Apabila dalam pembelajaran matematika menerapkan model discovery learning dengan media tiga dimensi menggunakan langkah-langkah yang
tepat, maka akan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika pada siswa kelas IV A SD Negeri 10 Metro Pusat.”
INPUT PROSES OUTPUT
Aktivitas dan hasil belajar rendah
Pembelajaran menggunakan model discovery learning dengan
media tiga dimensi
Aktivitas dan hasil belajar meningkat