PEMANFAATAN EKSTRAK BIOFLOK SEBAGAI ANTIBAKTERI UNTUK MENANGGULANGI INFEKSI Aeromonas hydrophilla
(SKRIPSI)
Oleh RISTIANI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PEMANFAATAN EKSTRAK BIOFLOK SEBAGAI ANTIBAKTERI UNTUK MENANGGULANGI INFEKSI Aeromonas hydrophilla
Oleh
Ristiani
Bioflok merupakan salah satu bahan alami yang terdiri dari kumpulan berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri pembentuk flok, bakteri filament, fungi, dan partikel tersuspensi lainnya. Bioflok menghasilkan senyawa PHB (polyhydroxybutyrate) yang digunakan sebagai antibakteri dalam menganggulangi penyakit bakteri Aeromonas hydrophilla yang merugikan pembudidaya ikan air tawar. Penelitian dilakukan dengan mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan (ekstrak bioflok dengan sumber bakteri yang berbeda) dan tiga ulangan. Metode yang digunakan untuk mengekstrak bioflok yaitu metode maserasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak bioflok dengan menggunakan 3 sumber bakteri dapat digunakan sebagai anti bakteri. Sumber bakteri yang menunjukkan nilai terbaik dalam menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophilla adalah biakan Bacillus sp. Uji Sensitivitas yang telah dilakukan menunjukkan bahwa panjang zona hambat ekstrak bioflok dengan inokulum Bacillus sp memiliki nilai rata-rata sebesar 12,85 mm, uji zona hambat nilai rata-rata sebesar 1,57 mm berada pada konsentrasi 250 mg/L, uji MIC dan MBC menunjukkan tanda negatif yang berarti bakteri tidak tumbuh.
ABSTRACT
UTILIZATION OF BIOFLOC EXTRACT AS ANTIBACTERIAL FOR INFECTION Aeromonas hydrophila
By
Ristiani1), Supono2)and Siti Hudaidah3)
Biofloc is one natural substance that consists of a collection of various types of microorganisms such as bacteria floc-forming, filament bacteria, fungi, and other suspended particles. Biofloc compounds produced PHB (polyhydroxybutyrate) is used as an antibacterial in tackling diseases harmful bacteria Aeromonas hydrophilla freshwater fish farmers. The study was conducted by using a completely randomized design (CRD) with four treatments (extract bioflok with different bacterial sources) and three replications. The method used to extract bioflok is maceration method. The results showed that the extract bioflok by using three sources of bacteria can be used as an anti-bacterial. The source of the bacteria that showed the best value in inhibiting the growth of bacteria A. hydrophilla is Bacillus sp. Sensitivity Test have shown that long bioflok extract inhibitory zone with an inoculum of Bacillus sp has an average value of 12.85 mm, test the inhibitory zone average value of 1.57 mm is a concentration of 250 mg / L, and the MIC test MBC showed negative sign means that the bacteria do not growt.
PEMANFAATAN EKSTRAK BIOFLOK SEBAGAI ANTIBAKTERI UNTUK MENANGGULANGI INFEKSI Aeromonas hydrophilla
Oleh RISTIANI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PERIKANAN
Pada
Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, pada tanggal 28
Maret 1991 sebagai anak bungsu dari pasangan Bapak
Subardi dan Ibu Sainem
Penulis memulai pendidikan formal dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) 03 Gedung
Air diselesaikan pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 10
Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2008, dan Sekolah Menengah Atas
Negeri (SMAN) 16 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2011. Penulis
kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di Jurusan Budidaya Perairan
Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung pada tahun 2011 dan telah
menyelesaikan studinya pada tahun 2016.
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa
Budidaya Perairan UNILA (HIDRILA) sebagai anggota bidang Pengkaderan pada
tahun 2012/2013 dan menjadi sekretaris bidang Pengkaderan 2013/2014. Penulis
melaksanakan Praktik Umum di Balai Penelitian dan Pemuliaan Ikan Subang,
Jawa Barat dengan judul “Pembenihan Ikan Mas Rajadanu (Cyprinus carpio
L) di Balai Penelitian dan Pemuliaan Ikan Sukamandi, Subang, Jawa Barat”
(KKN) selama 40 hari di Desa Duta Yoso Mulyo, Kecamatan Rawa Pitu,
Kabupaten Tulang Bawang pada tahun 2015.
Penulis pernah menjadi asisten praktikum pada mata kuliah Oceanografi pada
tahun 2012/2013, asisten praktikum Menejemen Kesehatan Ikan, Bioteknologi
Akuakultur, dan Manajemen Kualitas Air pada tahun 2014/2015. Penulis
melaksanakan penelitian akhir di Laboratorium Budidaya Perairan dan
Laboratorium Teknik Hasil Pertanian dengan judul “Pemanfaatan Ekstrak
Bioflok Sebagai Antibakteri Untuk Menanggulangi Infeksi Aeromonas
Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT ke
persembahkan karya terbaikku kepada kedua orang
tuaku (mamak dan bapak) yang senantiasa mendoakan,
menyayangi, membimbing serta mendidikku hingga
mampu meraih gelar sarjana ini
Mbakku (Yuli, Sri), kakakku (Jul, Bayu), dan
keponakanku (Ega, Reno, Deren, Elyn dan Exel)
yang selalu memberikan semangat dan memberikan
kebahagiaan setiap hari
Seseorang yang terkasih dan sahabat-sahabatku yang
selalu menemani dan memberikan semangat
SANWACANA
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya
sehingga penyusun dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pemanfaatan
Ekstrak Bioflok Sebagai Antibakteri Untuk Menanggulangi Infeksi Aeromonas
hydrophilla” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Perikanan (S.Pi) pada Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas
Lampung.
Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Allah SWT yang selalu memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga
pembuatan skripsi dapat terselesaikan dengan baik.
2. Kedua orangtua dan kakak-kakakku (Sri, Yuli, Jul, Bayu) serta seluruh
keponakanku (Ega, Reno, Evelyn, Exel) yang selalu memberikan do’a,
motivasi serta dukungan kepada penulis.
3. Ibu Ir. Siti Hudaidah, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Budidaya Perairan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung, serta Pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan serta saran dalam penulisan Skripsi kepada penulis.
4. Bapak Dr. Supono, S.Pi., M.Si., selaku dosen pembimbing I, yang telah
memberikan bimbingan serta saran dalam penulisan skripsi.
5. Bapak Ir. Suparmono, M.T.A selaku Pembimbing II yang telah memberikan
bimbingan serta saran dalam penulisan skripsi.
6. Bapak Wardiyanto, S.Pi., M.P., selaku dosen penguji yang telah memberikan
saran dan kritik untuk kesempurnaan skripsi.
7. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M. Si., selaku Dekan Fakultas
Pertanian Universitas Lampung.
9. Sahabat-sahabatku Bestania Putri, Hafsha, Glycine Astika, Anggun Savitri,
Ponco yang selalu membantu dan menyemangati hingga penelitian dan
skripsi ini dapat terselesaikan. Terimakasih untuk bantuannya dan dengan
senang hati menjadi tempat curhat untuk penulis.
10. Wisnu Bayu W yang telah memberikan semangat, perhatian serta waktu
kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi.
11. Sulvina, Tina, Restu, Anisa, Utami, Putri Endang, Garin, Septi yang telah
banyak membantu dalam penelitian.
12. Teman-teman Budidaya Perairan angkatan 2011 yang tak terlupakan
kebersamaannya. Terimakasih untuk semuanya. .
13. Keluarga besar Budidaya Perairan Unila (HIDRILA), kyai dan atu angkatan
2004-2010 serta adik tingkat angkatan 2012 (Bawel Mita, Yp, Sule, Wijay)
dan 2013 yang telah banyak membantu dalam penelitian ini..
14. Pak Yogi, Pak Wawan, Pak Nur, Kang Kus, Kang Ucup,dan semua staff
BPPI Sukamandi dan teman-teman PU (Glycine, Septi, Sultan, Putri, Ferry,
Tiwi, Iqbal) yang telah banyak memberikan ilmu dan pengalamannya selama
kegiatan PU untuk penulis.
15. Teman-teman KKN (Wiwit, Risa, Tedy, Berry) serta orang tua angkat Ibu
Marti dan Pak Salimin yang telah menjadi keluarga selama kegiatan KKN
untuk penulis.
16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas doa dan
dukungannya.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Aamiin.
Bandar Lampung, April 2016
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Penelitian ... 3
1.3 Kerangka Pikir ... 4
1.4 Hipotesis ... 5
II. METODE PENELITIAN ... 6
2.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 6
2.2 Alat dan Bahan Penelitian ... 6
2.3 Prosedur Penelitian ... 6
2.3.1 Tahap Persiapan... 6
2.3.1.1 Sterilisasi alat dan bahan ... 6
2.3.1.2 Pembuatan Bioflok ... 7
2.3.1.3 Pembuatan Ekstrak Bioflok... 7
2.3.2 Tahap Pelaksanaan ... 8
2.3.2.1 Uji Sensitivitas ... 8
2.3.2.2 Uji Zona Hambat ... 9
2.3.2.3 Uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration) ... 9
2.3.2.4 Uji MBC (Minimum Bacterial Concentration) ... 10
2.4 Analisis Data ... 11
III. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 12
3.1 Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 12
3.1.1 Ekstraksi Senyawa Aktif ... 12
3.1.2 Uji Sensitivitas ... 12
3.1.4 Uji MIC ((Minimum Inhibitory Concentration) ... 17
3.1.5 Uji MBC (Minimum Bacterial Concentration) ... 18
IV. KESIMPULAN DAN SARAN ... 19
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Kerangka Pikir Penelitian ... 4
2. Grafik Uji Sensitivitas ... 14
3. Hasil Uji Sensitivitas terbentuknya zona bening ... 13
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Hasil Ekstraksi Bioflok ... 12
2. Uji Sensitivitas Ekstrak Bioflok Dengan Konsentrasi 100% ... 13
3. Uji Zona Hambat Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophilla ... 16
4. Hasil Uji MIC Bakteri Aeromonas hydrophilla ... 17
1 I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberhasilan budidaya ikan terkait dengan pemeliharaan lingkungan dan daya
tahan organisme budidaya terhadap serangan bakteri patogen. Bakteri Aeromonas
hydrophilla bersifat patogen pada ikan air tawar seperti ikan nila pada kondisi
kualitas air yang buruk. Bakteri A.hydrophilla memiliki kemampuan osmoregulasi
yang tinggi, mampu bertahan hidup pada perairan tawar, perairan payau dan laut
yang memiliki kadar garam tinggi dengan penyebaran melalui air, kotoran burung,
saluran pencernaan hewan darat dan hewan amfibi serta reptil (Mangunwardoyo
et al., 2010).
Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya intensif adalah penyakit ikan
yang menimbulkan kerugian ekonomi bagi para pembudidaya ikan. Salah satu
jenis penyakit yang sering dijumpai pada organisme budidaya adalah penyakit
bakterial yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophilla. A.hydrophilla
merupakan bakteri patogen penyebab penyakit “Motil Aeromonas Septicemia”
(MAS), terutama untuk spesies ikan air tawar di perairan tropis (Rahmaningsih,
2012).
Bakteri Aeromonas hydrophilla merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit
yang berbahaya pada budidaya ikan air tawar. Bakteri tersebut banyak menyerang
ikan mas yang merupakan salah satu komoditas unggulan air tawar dan dapat
menginfeksi ikan pada semua ukuran yang dapat menyebabkan kematian hingga
mencapai 80%, sehingga mengakibatkan kerugian yang sangat besar baik dalam
usaha budidaya ikan air tawar (Sanoesi, 2008).Penyakit ini dapat menyebabkan
gejala-gejala yang menimbulkan kematian ikan yang tinggi, menyerang ikan-ikan
budidaya dan dalam waktu singkat menyebar ke daerah lain (Lukistyowati dan
2 Penyakit yang disebabkan oleh bakteri umumnya bersifat oportunis artinya akan
menyerang saat ikan berada dalam kondisi stress atau terluka. Para pembudidaya
ikan air tawar menggunakan antibiotik dan bahan kimia yang dinilai ampuh
mengobati penyakit ikan. Dampak penggunaan jangka panjang dapat
menimbulkan masalah baru karena bersifat tidak ramah lingkungan serta dapat
meningkatkan resistensi penyakit ikan. Salah satu bahan kimia yang digunakan
yaitu oxytetracycline. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif lain dengan
memanfaatkan bahan alami yang aman bagi biota serta lingkungan.
Keuntungan menggunakan bahan alami dalam mengatasi masalah penyakit dalam
budidaya air tawar yaitu bahan relatif aman digunakan, harga terjangkau, tidak
bersifat resistensi, serta ramah lingkungan. Salah satu bahan alami yang dapat
dimanfaatkan adalah bahan alami yang berasal dari ekstrak bioflok. Bioflok
adalah kumpulan berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri pembentuk flok,
bakteri filamen, fungi, partikel tersuspensi, berbagai koloid dan polimer organik,
berbagai kation dan selsel mati dengan ukuran bervariasi dengan kisaran 100
-1000 μm (Azimet al., 2007; de Schryver et al., 2008).
Bioflok mampu menghasilkan PHB (polyhydroxybutyrate) yang dapat menjadi
antibakteri. Polyhydroxybutyrate merupakan polimer yang paling dominan dalam
budidaya perairan. Polyhydroxybutyrate merupakan produk polimer intraselular
yang dihasilkan oleh berbagai jenis mikroorganisme sebagai bentuk simpanan
energi dan karbon (Defoirdt et al., 2007). Berbagai manfaat yang dihasilkan dari
polyhydroxybutyrate antara lain sebagai cadangan energi bagi ikan, dapat terurai
dalam pencernaan, meningkatkan imunitas, serta mampu meningkatkan
pertumbuhanikan (De Schryver, 2010).
Berdasarkan penelitian Boon et al. (2010) pada beberapa penelitian menunjukan
bahwa PHB mampu menghambat patogen di usus dan berperan sebagai
antimikroba bagi Vibrio, E coli, dan Salmonella. Bakteri sebagai penyusun utama
bioflok mengandung peptidoglikan dan lipopolisakarida pada dinding selnya
3 mampu meningkatkan sistem pertahanan non spesifik ikan. Oleh karena itu perlu
dilakukan penelitian mengenai ekstrak bioflok yang dapat digunakan sebagai
antibakteri alami dalam menanggulangi infeksi Aeromonas hydrophilla dalam
budidaya air tawar.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
(1) Mempelajari efektifitas ekstak bioflok dapat digunakan sebagai antibakteri
untuk menanggulangi infeksi Aeromonas hydrophilla.
4 1.3 Kerangka Pemikiran
Gambar 1.Kerangka Pikir Penelitian
Bacillus sp EM4 Air Budidaya
Pembentukan Bioflok
Bioflok Kering
Bioflok Kering Diekstrak
Uji sensitivitas
Hasil
Uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration)
Uji zona hambat Bakteri Aeromonas hydrophilla
5 1.4 Hipotesis
Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
H0 ; µ0 = 0 : Diduga ekstrak bioflok tidak dapat digunakan sebagai antibakteri
untuk menanggulangi infeksi Aeromonas hydrophilla.
H1 ; µ0≠ 0 : Diduga ekstrak bioflok dapat digunakan sebagai antibakteri untuk
menanggulangi infeksi Aeromonas hydrophilla
H0 ; µ0 = 0 : Diduga tidak ada konsentrasi ekstrak bioflok yang optimal untuk
menghambat infeksi Aeromonas hydrophilla.
H1 ; µ0 ≠ 0 : Diduga ada konsentrasi ekstrak bioflok yang optimal
untuk menghambat infeksi Aeromonas hydrophilla.
6 II. METODE PENELITIAN
2.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan selama 3 bulan yaitu pada bulan Juni-Agustus 2015,
bertempat di Laboratorium Program Studi Budidaya Perairan dan Laboratorium
Teknik Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
2.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain aerator, timbangan digital,
kolam semen, autoklaf, erlenmeyer, vacum evaporator, tabung reaksi, jarum ose,
spreader, cawan petri, bunsen, mikropipette, vortex, alumunium foil, plastik tahan
panas, kertas kopi, kapas steril, masker, karet gelang, sarung tangan, kertas
cakram, saringan, blender, tisu, corong, kamera digital, alat tulis, penggaris, dan
kertas label.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah biakan bakteri Bacillus sp., probiotik
komersil, air limbah budidaya, ait tawar, molase, media TSA (Tripticase Soy
Agar), akuades, alkohol 70%, bakteri Aeromonas hydrophilla, media TSB
(Tripticase Soy Broth), media MHB (Mueller-Hilton Broth) dan etil asetat.
2.3 Prosedur Penelitian
2.3.1 Tahap persiapan
2.3.1.1 Strerilisasi alat dan bahan
Sterilisasi merupakan usaha yang dilakukan untuk membebaskan alat dan bahan
dari berbagai mikroorganisme kontaminan. Sterilisasi dilakukan dengan cara
mencuci alat menggunakan air bersih,kemudian alat dan bahan dikeringkan dan
dibungkus menggunakan kertas kopi, untuk mencegah alat-alat terkena air.
7 2.3.1.2 Pembuatan Bioflok
Pembuatan bioflok menggunakan3 komposisi yang berbeda, yaitu :
(1) Perlakuan A: 150 gram pakan + 150 gram molase + 100 ml air budidaya +
300 liter air
(2) Perlakuan B : 150 gram pakan + 150 gram molase + 30 ml probiotik komersil
+ 300 liter air
(3) Perlakuan C : 150 gram pakan + 150 gram molase + 30 ml bakteri
Bacillus sp + 300 liter air
Tahap pembuatan bioflok sebagai berikut:
(1) Pakan difermentasi selama 2 hari dan dihaluskan,
(2) Kemudian pakan, molase dan sumber bakteri dicampur menjadi satu di
dalam kolam yang telah diisi air yang telah diaerasi sehari sebelumnya.
(3) Pembuatan bioflok dilakukan pada kolam semen berukuran 2 m x 2 m.
(4) Bioflok akan terbentuk setelah 3 hari yang ditandai dengan adanya
lendir-lendir di dasar kolam.
(5) Proses pembentukan bioflok berlangsung sekitar 15 hari.
(6) Setelah bioflok terbentuk, air bioflok tersebut kemudian disaring
menggunakan saringan dan dikering anginkan lalu dilanjutkan dengan
pembuatan ekstrak bioflok.
2.3.2.3 Pembuatan Ekstrak Bioflok
Pembuatan ekstrak biofok dilakukan dengan metode maserasi. Bioflok yang telah
terbentuk kemudian diambil dengan menggunakan saringan teh/santan, kemudian
dijemur sampai kering.
Tahap pembuatan ekstrak bioflok sebagai berikut:
(1) Proses ekstraksi dilakukan dengan melarutkan 18 gram tepung bioflok
yang berasal dari air limbah dengan larutan etil asetat sebanyak90 ml, 27
8 larutan etil asetat sebanyak 135 ml dan 18 gram tepung bioflok yang
berasal dari bakteri Bacillus sp dengan larutan etil asetat sebanyak 90 ml.
(2) Kemudian diinkubasi selama 2x24 jam.
(3) Setelah itu disaring dengan menggunakan kertas saring.
(4) Lalu dievaporasi menggunakan vacum evaporator selama 30 menit dan
didapatkan ekstrak bioflok dari 3 sumber isolat bakteri.
2.3.2 Tahap Pelaksanaan
2.3.2.1 Uji Sensitivitas
Uji sensitivitas bertujuan untuk mengetahui potensi antibakteri yang terkandung
dalam ekstrak bioflok dengan konsentrasi 100% yang dilarutkan menggunakan
pelarut etil asetat terhadap bakteri A. hydrohilla. Uji sensitivitas dilakukan dengan
metode difusi (Diffusion Test) menggunakan kertas cakram. Hasil uji aktivitas
antibakteri dengan metode kertas cakram ditunjukkan dengan adanya zona bening
di sekitar kertas cakram.
Tahap pelaksanaan uji sensitivitas sebagai berikut:
(1) Sebanyak 20µl isolat cair bakteri uji dengan kepadatan 107CFU/ml diinokulasi pada media TSA dan diratakan dengan spreader.
(2) Kertas cakram dengan diameter 6 mm yang telah direndam di dalam
ekstrak bioflok yang dilarutkan dengan pelarut etil asetat selama 15 menit.
(3) Kemudian diletakkan pada permukaan media TSA, lalu media TSA
diinkubasi selama 18-24 jam.
(4) Lalu dilihat zona hambat yang terbentuk dari 3 sumber bakteri.
Pengamatan Uji Sensitivitas dilakukan dengan melihat zona hambat ekstrak
bioflok dari 3 sumber isolat bakteri yang terbentuk terhadap bakteri A.
hydrophilla. Hasil uji sensitivitas yang menunjukkan diameter terbesar dari 3
9 2.3.2.2 Uji Zona Hambat
Uji zona hambat dilakukan dengan metode difusi (Diffusion Test) menggunakan
kertas cakram. Uji zona hambat dilakukan berdasarkan hasil uji sensitivitas
ekstrak bioflok yang menunjukkan potensi antibakteri.
Tahap pembuatan ekstrak bioflok sebagai berikut:
Tahap pelaksanaan uji zona hambat sebagai berikut:
(1) Sebanyak 20 µl isolat A. hydrophilla cair masing-masing dengan
kepadatan 107 CFU/ml diteteskan pada media TSA lalu diratakan dengan spreader.
(2) Kertas cakram dengan diameter 6 mm yang telah direndam dalam ekstrak
bioflok dengan konsentrasi 50,150 dan 250 mg/L selama 15 menit
kemudian diletakkan pada permukaan media TSA.
(3) Untuk kontrol positif dilakukan dengan kertas cakram berisi antibiotik
oxytetracyline sedangkan kontrol negatif menggunakan kertas cakram
netral (hanya diberi akuades).
(4) Kemudian diinkubasi selama 18-24 jam.
(5) Setelah masa inkubasi, kemudian diamati dan diukur diameter zona
hambat yang terbentuk di sekitar ketras cakram yang berasal dari sumber
isolat bakteri terbaik dan kontrol terhadap bakteri A. hydrophilla.
2.3.2.3 Uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration)
Uji MIC dilakukan berdasarkan hasil uji zona hambat. Uji MIC bertujuan untuk
mencari konsentrasi minimum bahan antibakteri yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri.
Tahap pelaksanaan uji MIC sebagai berikut:
(1) Metode penentuan MIC langkah awal yang harus dilakukan yaitu
disiapkan tabung reaksi steril dan dimasukan 4,5 ml media MBH ke dalam
masing-masing tabung reaksi.
(2) Ekstrak bioflok dengan konsentrasi 50,150, 250 mg/L dan kontrol,kontrol
10 diberi bakteri, dimasukan sebanyak 0,5 ml ke dalam masing-masing
tabung reaksi.
(3) Kemudian suspensi bakteri uji dengan kepadatan 107CFU/ml sebanyak 0,1 ml ditambahkan ke dalam masing-masing tabung reaksi dan divortek
hingga homogen.
(4) Media MHB diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam.
(5) Hasil pengamatan dibandingkan degan larutan pembanding (larutan MHB
dicampur ekstrak bioflok terbaik tanpa ditambah bakteri) sehingga dapat
diketahui adanya media yang mulai bening jernih menunjukan MIC.
Nilai-nilai MIC ditafsirkan sebagai pengenceran tertinggi dan konsentrasi
terendah (Wilson, 2005).Pengamatan Uji MIC dilakukan dengan melihat
kekeruhan media MHB yang telah diberi ekstrak bioflok terbaik.
2.3.2.4 Uji MBC (Minimum Bacterial Concentration)
Penentuan MBC dapat dilakukan setelah menginokulasi larutan dari tabung MIC
terjernih pada media.
Tahap pelaksanaan uji MBC sebagai berikut:
(1) Diambil 0,1 ml suspensi bakteri dari tabung pada perlakuan yang
menunjukan nilai MIC sampai konsentrasi terbesar 100% kemudian
ditumbuhkan dalam media TSA.
(2) Diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam.
(3) Setelah diinkubasi, dihitung jumlah koloni yang tumbuh pada media TSA.
Nilai MBC ditentukan dari konsentrasi terendah ekstrak yang menunjukan tidak
adanya pertumbuhan koloni pada cawan petri. Pengamatan uji MBC dilakukan
dengan melihat konsentrasi terendah ekstrak yang menunjukan tidak adanya
11 2.4 Analisis Data
Data uji Sensitivitas dan uji Zona Hambat penelitian ini dianalisis
menggunakanan alisis ragam (ANOVA) dengan selang kepercayaan 95%.Apabila
22
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
(1) Ekstrak bioflok dengan berbagai sumber bakteri dapat digunakan sebagai
antibakteri untuk menanggulangi infeksi Aeromonas hydrophilla.
(2) Konsentrasi optimal ekstrak bioflok dengan sumber biakan Bacillus
sp memiliki nilai terbaik untuk menanggulagi infeksi
Aeromonas hydrophilla yaitu 250 mg/L.
4.2 Saran
(1) Perlu dilakukan uji toksisitas untuk mengetahui ada tidaknya sifat toksik pada
zat uji yang diujikan pada Artemia salina, uji Inhibition time course untuk
melihat waktu ekstrak bioflok dapat menghambat bakteri, dan uji fitokimia
untuk mengetahui kandungan bahan alami yang terdapat pada bioflok
dieksplorasi potensinya lebih jauh.
(2) Perlu dilakukan perbaikan pada proses pengeringan bahan dan metode
DAFTAR PUSTAKA
Boon, N.,T. Defoirdt, W. de Windt. Van De Wiele, dan W. Verstraete, 2010. Hydroxybuturate and Polyhydroxybutirate as Components of Animal Feed or Feed Additives. Patent Aplication Publication. April : 1-4.
De Schryver P, Sinha AK, Kunwarr PS, Baruah K, Verstraete W, Boon N, De Boeck G, Bossier P. 2010. Poly-beta-hydroxybutyrate (PHB) increases growth performance and intestinal bacterial range-wighted richness in juvenile European sea bass, Dicentrarchus labrax. Appl. Microbio. Biotecnol 86: 1535–1541.
De Schryver, P., R. Crab, T, Defoirdt, N, Boon, dan W. Versrate. 2008. The Basics of Bioflocs Technology : The Added Value for Aquaculture. Aquaculture. 227 : 125-137.
Defoirdt, T., Halet, Hvervaeren, N. Boon, T. Van de Wiele, P. Sorgeloos, P. Bossier, dan W. Verstraete. 2007. The Bacterial Storage Compound of Poly-β-Hydroxybutyrate Protects Artemia fransiseana from Pathogenic Vibrio campbellii. Environ Microbial. 9 (2) : 445-452.
Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan.Terjemahan K. Padmawinata. Edisi II. Bandung: ITB Press. Halaman 152.
Lukistyowati, I dan Kurniasih. 2011. Kelangsungan Hidup Ikan Mas (Cyprinus carpio L) yang diberi Pakan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) dan di Infeksi Aeromonas hydrophila. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 16,1 (2011) : 144-160.
Mangunwardoyo, W., R. Ismayasari., E. Riani. 2010. Uji Patogenisitas dan Virulensi Aeromonas hydrophila Stanier pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus Lin.) melalui Postulat Koch. J. Ris. Akuakultur Vol. 5 Tahun 2010: 245-255.
Rahmaningsih, S. 2012. Penagruh Ekstrak Sidawayah dengan Konsentrasi yang Berbeda untuk Mengatasi Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophyla pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan.
Sanoesi, E. 2008. Penggunaan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya Linn) terhadap Jumlah Sel Makrofag pada Ikan Mas (Cyprinus carpio L) yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila. Jurnal Penelitian Perikanan, Vol 11, No. 2, Desember 2008.
Sari, D.K. 2008. Penapisan Antibakteri dan Inhibitor Toposomerase I dari Xylocarpus granatum. Tesis. ITB. Bogor.
Suada, I Ketut. 2012. Keragman Aktivitas Antifungi Biota Laut Terhadap Fusarium oxysporum f.sp. vanillae Penyebab Busuk Batang Vanili. Jurnal Bumi Lestari, Vol. 12 (1): 66-70.