PENGARUH MODEL COLLABORATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS X IIS 4
SMA NEGERI 1 KOTAGAJAH LAMPUNG TENGAH TAHUN AJARAN 2017/2018
Skripsi
Oleh:
Yoga Prima Shawalda
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGARUH MODEL COLLABORATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS X IIS 4
SMA NEGERI 1 KOTAGAJAH LAMPUNG TENGAH TAHUN AJARAN 2017/2018
Oleh :
Yoga Prima Shawalda
Indikator keberhasilan seorang guru dalam menyampaikan materi salah satunya dapat dilihat pada hasil belajar siswa. upaya yang dapat dilakukan oleh seorang guru agar materi ajar dapat tersampaikan dengan baik yaitu dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan yaitu Collaborative Learning tipe Group Investigation.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada Pengaruh Model Collaborative Learning tipe Group Investigation terhadap hasil belajar kognitif siswa pada mata pelajaran sejarah kelas X IIS 4 SMA Negeri 1 Kotagajah tahun ajaran 2017/2018 ? Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Model Collaborative Learning tipe Group Investigation terhadap hasil belajar kognitif siswa pada mata pelajaran sejarah kelas X IIS 4 SMA Negeri 1 Kotagajah tahun ajaran 2017/2018. Metode yang digunakan adalah metode Quasi Experimental design dengan teknik pengumpulan data melalui tes, observasi, dokumentasi dan kepustakaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel jenuh. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis kuantitatif.
Berdasarkan analisis data secara kuantitatif dengan uji t dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1) Ada pengaruh yang signifikan dari model Collaborative Learning tipe Group Investigation terhadap hasil belajar kognitif siswa pada mata pelajaran sejarah kelas X IIS 4 SMA Negeri 1 Kotagajah tahun ajaran 2017/2018, dengan taraf signifikansi yang diperoleh ialah thitung = 8,38≥ t table = (0,95)(60) = 2,00.
Besar taraf signifikansi dari pengaruh model Collaborative Learning tipe Group Investigation terhadap hasil belajar kognitif siswa didapat 0,66 yang jika dimasukkan dalam interpretasi korelasi termasuk kategori tinggi.
PENGARUH MODEL COLLABORATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS X IIS 4
SMA NEGERI 1 KOTAGAJAH LAMPUNG TENGAH TAHUN AJARAN 2017/2018
Oleh:
Yoga Prima Shawalda
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIDKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Peneliti merupakan anak tunggal dari Bapak Muhammad
Ponijan dan Ibu Sunarti. Peneliti dilahirkan pada tanggal 17
Juni 1993 di Gajah Timur 2, Kecamatan Kotagajah
Kabupaten Lampung Tengah. Pendidikan peneliti dimulai
dari Sekolah Dasar Negeri 2 Kotagajah dan tamat belajar
pada tahun 2005.
Peneliti melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama di SMP
Negeri 1 Seputih Raman dan selesai pada tahun 2008. Selanjutnya peneliti
melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atas yaitu SMA Negeri 1 Punggur dan
tamat belajar pada tahun 2011.
Pada tahun 2011 penulis diterima di Universitas Lampung, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, di Program
Studi Pendidikan Sejarah melalui jalur Ujian Mandiri. Pada semester VI peneliti
melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Marang Kecamatan Pesisir
Selatan dan menjalani Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 4
Pesisir Selatan.
PERSEMBAHAN
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, hidayah dan karunia-Nya. Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada Bgainda Nabi Muhammad SAW. Dengan kerendahan hati dan rasa syukur, kupersembahkan sebuah karya kecil ini sebagai tanda cinta,
hormat, dan sayangku kepada :
Untuk Ibu ku tercinta Ibu Sunarti yang telah membesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, memperjuangkan segalanya hanya untuk
kesuksesan ku dan Bapak ku M. Ponijan yang telah membimbing dan membesarkan ku. Terima kasih atas segalanya, terima kasih untuk
setiap tetesan keringat yang tidak pernah terhitung banyaknya,
Terima kasih untuk keluarga besar ku di Kotagajah dan istriku tersayang atas dukungan dan semangat yang diberikan untuk ku. Terimakasih atas doa, semangat, dan kasih sayang yang selalu diberikan.
Bapak Ibu dosen, Bapak/Ibu guru, sahabat, dan teman-teman yang telah mengukir sebuah sejarah dalam kehidupanku, serta almamater yang aku
Motto
“Jika ragu dalam melakukan sesuatu, sebaiknya tanya kepada diri sendiri, apa yang kita inginkan esok hari dari
apa yang telah kita lakukan sebelumnya”
(John Lubbock)
“
Kepuasan itu terletak pada usaha, bukan pencapaian
hasil, berusaha keras adalah kemampuan besar”
SANWACANA
Bismillahirohmanirrohim
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul
“PENGARUH MODEL COLLABORATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS X IIS 4 SMA NEGERI 1 KOTAGAJAH LAMPUNG TENGAH TAHUN AJARAN 2017/2018”
Penulisan skripsi ini sebagai syarat untuk menyelesaikan studi tingkat Sarjana
Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Lampung.
2. Bapak Dr. Sunyono, M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademik dan
Kerjasama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
3. Bapak Drs. Supriyadi, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Keuangan, Umum, dan
Kepegawaian Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
4. Ibu Dra. Riswanti Rini, M.Si., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaaan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
5. Bapak Drs. Zulkarnain, M.Si, Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
6. Bapak Drs. Syaiful. M, M.Si, Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
7. Bapak Drs. Maskun, M.H, Pembimbing I sekaligus Pembimbing
Akademik yang telah banyak membimbing dan mengarahkan serta
memberi motivasi, semangat yang sangat penulis rasakan hingga akhirnya
penulis dengan lancar menyelesaikan skirpsi ini dengan baik.
8. Bapak Drs. Syaiful. M, M.Si sebagai Pembimbing II, terimakasih atas segala masukan, dukungan, motivasi, dan saran dalam penyusunan skripsi
ini.
9. Bapak Drs. Ali Imron, M.Hum, sebagai Pembahas, terimakasih atas
dukungan, masukan dan saran dalam penyusunan skripsi ini.
10.Seluruh Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung, Bapak Drs. Ali Imron, M.Hum, bapak Drs. Wakidi,
M.Hum, Ibu Dr. Risma Sinaga, M.Hum, Bapak Drs. Tontowi , M.Si,
Bapak Muhammad Basri, S.Pd, M.Pd, Bapak Suparman Arif, S.Pd, M.Pd,
beserta para pendidik di Unila yang telah banyak memberikan ilmu serta
wawasan baru kepada penulis.
11.Bapak Kepala SMA Negeri 1 Kotagajah terimakasih telah memberikan
izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.
12.Teruntuk seluruh kawan seperjuangan angkatan 2011 kelas ganjil dan
genap. Terkhusus untuk sahabat – sahabat yang terlah mendampingi,
memberi solusi, saran, dan motivasi kepada penulis.
13.Semua pihak yang telah banyak membantu penulis yang tidak bisa
disebutkan satu persatu semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian
kepada penulis.
Sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah
diberikan, semoga menjadi ladang amal bagi kita semua aamiin.
Bandar Lampung, Desember 2018 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian,Kegunaan Penelitian, dan Ruang Lingkup Penelitian ... 6
1. Tujuan Penelitian ... 6
2. Kegunaan Penelitian ... 7
3. Ruang Lingkup Penelitian ... 7
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka ... 10
1. Konsep Pengaruh ... 10
2. Konsep Model Pembelajaran ... 11
3. Konsep Model Kolaboratif ... 13
4 Konsep Model Group Investigation (GI) ... 14
5 Konsep Hasil Belajar Siswa ... 16
B. Penelitian yang Relevan ... 18
C. Kerangkan Pikir ... 19
D. Paradigma ... 20
E. Hipotesis ... 20
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode yang Digunakan ... 24
B. Desain Penelitian ... 25
C. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 25
D. Populasi dan Sampel ... 25
1. Populasi ... 25
2. Sampel ... 26
E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 27
1. Variabel Penelitian ... 27
2. Definisi Operasional ... 27
F. Teknik Pengumpulan Data ... 28
1. Tes ... 28
2. Observasi ... 31
3. Dokumentasi ... 31
4. Kepustakaan ... 31
G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 31
H. Langkah-Langkah Pelaksanaan Pembelajaran ... 32
I. Uji Instrumen Penelitian ... 33
1. Uji Validitas Instrumen ... 33
3. Tingkat Kesukaran ... 35
4 Daya Pembeda ... 35
J. Teknik Analisis Data ... 36
1. Uji Normalitas ... 36
2. Uji Homogenitas ... 37
3. Uji Hipotesis ... 38
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 42
1. Gambar Umum Tempat Penelitian ... 42
2. Tenaga Pendidikan ... 46
B. Pelaksanaan Penelitian ... 50
C. Data Hasil Penelitian ... 54
D. Analisis Data Hasil Penelitian ... 56
E. Pembahasan ... 67
V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 70
B. Saran ... 71
DAFTAR TABEL
Halaman
A. Tabel 1. Hasil nilai ulangan tengah semester pada mata pelajaran Sejarah
Semester ganjil kelas X IIS SMA N 1 Kotagajah ... 4
B. Tabel 2. Hasil nilai ulangan tengah semester pada mata pelajaran sejarah Semester ganjil kelas X IIS 3 dan X IIS 4 ... 4
C. Tabel 3. Jumlah populasi siswa kelas X IIS 4 ... 26
D. Tabel 4. Jumlah sampel siswa Kelas X IIS 4 ... 27
E. Tabel 5. Kisi-kisi tes ... 29
F. Tabel 6. Skor pretest dan postest ... 30
G. Tabel 7. Interpretasi Koefisien Kolerasi ... 39
H. Tabel 8. Perubahan Nama SMA N 1 Kotagajah ... 42
I. Tabel 9. Keadaan Tenaga Pendidik di SMA N 1 Kotagajah ... 46
J. Tabel 10. Data Siswa SMA N 1 Kotagajah ... 49
K. Tabel 11. Data Hasil Kemampuan Awal (pretest) ... 54
L. Tabel 12. Data Hasil Kemampuan Akhir (postest) ... 55
M. Tabel 13 Daftar Distribusi Frekuensi Data ... 58
N. Tabel 14. Uji Normalitas Data pretest Hasil Belajar ... 59
O. Tabel 15. Hasil Uji Normalitas Hasil pretest ... 60
P. Tabel 16. Daftar Distribusi Frekuensi Data ... 61
Q. Tabel 17. Uji Normalitas Data pretest Hasil Belajar ... 62
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
A. Lampiran Foto Penelitian ... 75
B. Surat Izin Penelitian ... 77
C. Surat Balasan Penelitian ... 78
D. Rencana Judul Penelitian Skripsi ... 79
E. Komisi Pembimbing ... 81
F. Rekomendasi Pembahas ... 82
G. Surat Izin Perpanjangan Masa Studi ... 83
H. Silabus Pembelajaran ... 84
I. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 87
J. Validitas ... 96
K. Reabilitas ... 99
L. Tingkat Kesukaran ... 101
M. Daya Beda ... 103
N. Daftar Nilai Pretest Kelas X II 4 ... 107
O. Daftar Nilai Posttest Kelas X II 4 ... 108
P. Uji Normalitas Data Pretest Kelas Eksperimen ... 109
Q. Uji Normalitas Data Posttest Kelas Eksperimen ... 113
R. Homogenitas ... 117
S. Data Nilai Pretest dan Posttest (Uji Hipotesis) ... 119
T. Soal Test ... 120
U. Pedoman Penskoran dan Kunci Jawaban ... 124
1
I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata usaha laku seseorang
atau kelompok orang melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sedangkan
pengajaran dan atau pelatihan adalah proses, cara, perbuatan mengajar atau
melatih Depdiknas (2008: 353). Proses tersebut biasanya dikenal dengan sebutan
proses belajar-mengajar.
Pendidikan sebenarnya dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup
pribadi maupun masyarakat.
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 Pasal 3).
Sesuai dengan tujuan pendidikan menurut Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003
Pasal 3, bahwa peserta didik dapat mengembangkan segala kemampuan yang
dimilikinya seperti kemampuan kognitif, kemampuan apektif, dan kemampuan
spikomotor untuk menjadi manusia yang lebih baik . Semua kemampuan tersebut
dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran. Tujuan tersebut dapat
2
formal maupun informal. Pendidikan formal maupun informal dapat berjalan
dengan baik jika komponen-komponen di dalamnya terpenuhi seperti ketersediaan
sarana dan prasarana serta sumber daya manusia.
Untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh seseorang dalam suatu pembelajaran
maka dibutuhkan tenaga pengajar atau dikenal sebutan guru. Dalam proses
belajar-mengajar peran guru sangat penting bagi peserta didik, guru memegang
teguh dalam keberhasilan menyampaikan sebuah materi pelajaran, guru dituntut
dapat menyajikan materi dengan menarik dan bisa dicerna oleh peserta didik
dengan mudah. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru adalah membaca
karakter peserta didik dengan mengenal apa yang disukai peserta didik dan apa
yang tidak disukai oleh peserta didik. Dalam hal tersebut guru dituntut kreatif dan
inovatif dalam penyampaian materi pelajaran, guru dapat berkreasi dan
menciptakan hal-hal baru dalam proses pembelajaran. Salah satu strategi yang
dapat diterapkan oleh guru agar pencapaian tujuan pembelajaran dapat tercapai
yaitu dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat. Berdasarkan
prapenelitian yang dilakukan peneliti di SMA N 1 Kotagajah, guru masih
mendominasi dalam pembelajaran didalam kelas, kemampuan siswa tidak dapat
berkembang. Hal tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa rendah.
Keberhasilan seorang guru dalam penyampaian materi dapat dilihat dari beberapa
aspek salah satunya seperti hasil belajar kognitif siswa. Hasil belajar kognitif yang
dijadikan tolak ukur keberhasilan seorang guru dalam proses pembelajaran dapat
dilihat dari nilai yang diperoleh oleh siswa dalam kurun waktu yang telah
ditentukan. Nilai yang diperoleh oleh siswa berasal dari pengerjaan tes yang telah
3
target pencapaian sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam kegiatan
pembelajaran di dalam kelas.
Tingkat keberhasilan hasil belajar kognitif siswa dari nilai yang dicapai akan
berbeda dari tiap siswa, hal tersebut selain tingkat kemampuan siswa yang
beragam melainkan ditentukan pula dari kemampuan guru dalam menyampaikan
materi pembelajaran. Pada penerapan kurikulum 2006 hampir pada
pelaksanaannya masih peran guru yang mendominasi di dalam kelas sehingga
kemampuan siswa tidak bisa berkembang. Hal ini yang menjadi alasan mengapa
nilai hasil belajar siswa rendah.
Berdasarkan penelitian pendahuluan yang telah peneliti lakukan di SMA Negeri 1
Kotagajah Lampung Tengah serta keterangan yang didapat dari guru bidang studi,
peneliti mendapatkan nilai ulangan tengah semester pada mata pelajaran sejarah
siswa kelas X IIS 4 tahun pelajaran 2017/2018. Seperti yang terlihat pada tabel di
4
Tabel. 1 Hasil nilai ulangan tengah semester pada Mata Pelajaran Sejarah Semester Genap Siswa Kelas XIIS SMA Negeri 1 Kotagajah Lampung Tengah Tahun Ajaran 2017/2018
Nilai Kelas X IIS Jumlah
Siswa
Presentase Keterangan
1 2 3 4
≥ 75 15 18 8 5 46 40% T
< 70 13 15 21 19 68 60% BT
Jumlah 28 33 29 31 121 100%
Sumber: Data guru bidang studi mata pelajaran sejarah kelas X IIS
Pada penelitian kali ini, peneliti akan meneliti hasil belajar siswa kelas X IIS 3
dan kelas X IIS 4. Berikut hasil ulangan harian di kedua kelas.
Tabel. 2 Hasil nilai ulangan tengah semester pada Mata Pelajaran Sejarah Semester Genap Siswa Kelas X IIS 3 Dan kelas X IIS 4 SMA Negeri 1 Kotagajah Lampung Tengah Tahun Ajaran 2017/2018
Nilai Kelas X IIS
Jumlah Siswa
Presentase Keterangan
3 4
≥ 70 8 12 20 25% T
< 65 21 19 40 75% BT
Jumlah 29 31 60 100%
Sumber: Daftar nilai ulangan tengah semester Mata pelajaran sejarah kelas X IIS 3 dan X IIS 4.
Tabel 2 di atas, menunjukkan hasil belajar kelas X IIS siswa di kedua kelas masih
banyak yang belum tuntas. Adapun siswa yang mendapat nilai < 65, atau belum
mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal) berjumlah 53 siswa atau sekitar
75% dari jumlah keseluruhan siswa.
Adapun Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, “apabila pelajaran yang
diajarkan kurang dari 65% dikuasai oleh siswa maka presentase keberhasilan
[image:20.595.113.487.138.227.2] [image:20.595.117.507.380.488.2]5
Salah satu cara agar siswa dapat memahami materi dengan baik dan mendapatkan
hasil belajar sesuai standar KKM yaitu dengan menggunakan model pembelajaran
yang tepat. Ada beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru
untuk menunjang kegiatan pembelajaran di dalam kelas siswa untuk lebih
berperan penting dalam proses pembelajaran salah satunya yaitu model
Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning).
Strategi Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning) adalah strategi
belajar yang menuntut siswa agar dapat bertanggung jawab dan saling kerja sama
dalam sebuah kelompok diskusi dengan menyumbangkan pemikiran tiap anggota
kelompok untuk satu tujuan yang sama.
Ada beberapa tipe dalam model Pembelajaran Kolaboratif seperti Learning
Together, Teams Games Tournament, Group Ivestigation, Academy Constructive
Controversy, Jigsaw Procedure, dan sebagainya. Namun dalam penelitian
menggunakan model Pembelajaran Kolaboratif tipe Group Investigatian dengan
pendekatan saintifik (M.Hosnan, 2014:311).
“Secara umum perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik Group Investigation memiliki keunggulan yaitu, dapat dipakai untuk bertanggung jawab dan kreatifitas siswa baik secara perorangan maupun individu, memebantu terjadinya pembagian tanggung jawab ketika siswa mengikuti pembelajaran dan berorientasi menuju pembentukan manusia sosial, memberikan kesempatan berkolaborasi dengan teman sebaya dalam bentuk diskusi kelompok untuk memecahkan masalah, serta mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran yang diberikan guru sehingga dapat membangun pengetahuan siswa” (Rusman, 2012:220).
Berdasarkan latar belakang diatas, hasil belajar X IIS 4 SMA Negeri 1 Kotagajah
dengan menggunakan metode ceramah siswa tersebut menyatakan bahwa
6
dengan baik, hal tersebut mempengaruhi nilai yang diperoleh siswa. Ada siswa
yang mencapai nilai standar (KKM) dan ada juga masih dibawah standar (KKM).
Dengan menggunakan metode Group investigasion dituntut untuk kerjasama,
menghargai pendapat teman dan siswa bagaimana harus belajar agar materi ajar
dapat dikuasai. Peneliti akan melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh
Model Collaborative Learning Tipe Group Investigation Terhadap Hasil Belajar
Kognitif Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas X IIS 4 SMA Negeri 1 Kota
Gajah Lampung Tengah Tahun Ajaran 2017/2018”.
B.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini yaitu apakah ada Pengaruh Model
Collaborative Learning Tipe Group Investigation Terhadap Peningkatan Hasil
Belajar Kognitif Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas X IIS 4 SMA Negeri 1
Kotagajah Tahun Ajaran 2017/2018?
C. Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, dan Ruang Lingkup Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini yaitu
untuk mengetahui Pengaruh Model Collaborative Learning Tipe Group
Investigation terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas X IIS 4 SMA Negeri 1
7
2. Kegunaan Penelitian
1. Bagi guru, dengan penelitian ini dapat memberikan strategi baru pada guru
dalam menerapkan model pembelajaran di dalam kelas terutama untuk model
Collaborative Learning Tipe Group Investigation agar cara mengajar guru
dapat diterima dengan baik oleh siswa dan tidak lagi didominasi oleh guru saat
proses belajar-mengajar.
2. Bagi siswa, dengan penerapan model ini diharapkan agar siswa lebih mudah
mempelajari serta memahami tentang materi pelajaran khususnya pelajaran
sejarah.
3. Bagi peneliti, dengan penelitian ini akan menambah wawasan bagi peneliti
tentang cara mengajar yang baik dengan menerapkan model pembelajaran yang
sesuai agar siswa dapat menerima materi pelajaran dengan baik.
3. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah
1. Ruang Lingkup Ilmu
Ruang lingkup ilmu dalam penelitian ini adalah ilmu pendidikan
khususnya mata pelajaran sejarah.
2. Ruang Lingkup Objek
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitiannya adalah model
Collaborative Learning Tipe Group Investigation terhadap hasil belajar
kognitif siswa kelas X IIS 4 SMA Negeri 1 Kotagajah Tahun Ajaran
8
3. Ruang Lingkup Subjek
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitiannya adalah siswa kelas
X IIS 4 SMA Negeri 1 Kotagajah Lampung Tengah tahun ajaran
2017/2018.
4. Ruang Lingkup Wilayah
Wilayah yang akan menjadi tempat penelitian adalah di SMA Negeri 1
Kotagajah Lampung Tengah.
5. Ruang Lingkup Waktu
Waktu yang akan digunakan pada penelitian ini adalah pada tahun
9
REFERENSI
Depdiknas. 2003. Peraturan Menteri Nasional No. 20 Tahun 2003Tentang Undangan – Undangan Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Depdiknas”
Djamarah. 2000. Kurikulum dan Pembelajaran. Karya:Bandung. Hlm. 18
Hosnan, M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor :Ghalia Indonesia. Hlm. 311
10
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Konsep Pengaruh
“Dalam suatu peristiwa, pengaruh dapat berarti dorongan atau bujukan dan
bersifat membentuk atau merupakan suatu efek. Pengertian pengaruh ini bersifat
abstrak karena tidak ada suatu standar untuk mengukurnya sehingga dapat
diterima secara umum” (Hugiono dan Poerwantana, 1987:47).
“Pengaruh adalah pernyataan suatu hubungan yang sudah mempunyai arah. Jadi,
jika kita mengatakan variabel B dipengaruhi variabel A, kita mengatakan arah
variabel itu dari A ke B bukan dari B ke A” (Junadi, 1995:64).
“Pengaruh merupakan kekuatan yang muncul dari suatu benda atau orang dan
juga gejala dalam yang dapat memberikan perubahan terhadap apa-apa yang ada
disekelilingnya” (Surakhmad, 1982:7).
“Pengaruh dapat berarti dorongan atau bujukan dan bersifat membentuk atau
merupakan suatu efek” (Hugiono & Poerwantana, 1987:47).
Dari penjelasan tersebut, pengaruh adalah suatu gejala yang memberikan
11
2. Konsep Model Pembelajaran
Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara dilakukan seseorang dalam
mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalnya menggunakan
metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa relatif banya membutuhkan
teknik tersendiri, yang tentunya secara teknisakan berbeda dengan penggunakan
metode ceramah pada kelas yang jumlahnya siswa terbatas. Sedangkan,
pembelajaran yang efisien dimana guru dan murid saling aktif dalam melakukan
aktifitas pembelajaran untuk mencapai hasil yang obtimal, dalam hal ini guru pun
dapat berganti-ganti teknik dalam koridor metode yang sama.
Bahwasannya, “model adalah prosedur yang sistematis tentang pola belajar untuk
mencapai tujuan belajar serta sebagai pedoman bagi pengajaran dalam
merencanakan dan melaksanakan aktifitas pembelajaran” (M. Hosnan , 2014:337).
Berdasakan penjelasan model menurut M. Hosnan, bahwa model adalah suatu
teknik pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai tujuan belajar, dengan kata
lain guru dan peserta didik saling aktif dalam proses belajar mengajar, agar model
yang digunakan medapatkan hasil yang diinginkan.
“Model pembelajaran adalah kerangka konseptual/operasional, yang melukiskan
prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para
pengajar dalam merencanakan, dan melaksanakan aktivitas pembelajaran” (
12
“Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk
membentuk kurikulum (rencana pembelejaran jangka panjang), merancang
bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain”
(Joyce & Weil, 1980:1). Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya
para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk
mencapai tujuan pendidikannya. Dalam hal tersebut, model pembelajaran
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu. Sebagai contoh, model penelitian kelompok disusun oleh Herbert Thelen dan berdasarkan teori John Dewey. Model ini dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
2. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu, misalnya model berfikir induktif dirancang untuk mengembangkan proses berfikir induktif.
3. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas, misalnya model Synectic dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam pelajaran mengarang.
4. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan: (1) urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax); (2) adanya prinsip-prinsip reaksi; (3) sitem sosial; dan (4) sistem pendukung. Keempat bagian tersebut merupakan pedoman praktis bila guru akan melaksanakan suatu model pembelajaran. 5. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran. Dampak
tersebut meliputi: (1) dampak pembelajaran, yaitu hasil belajar yang dapat diukur; (2) dampak pengiring, yaitu hasil belajar jangka panjang.
6. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya (Rusman, 2012 : 136).
Berdasarkan penjelasan diatas, model pembelajaran merupakan gaya atau strategi
yang dilakukan oleh seorang guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
3. Konsep Model Kolaboratif
13
dalam collaborative learning bermacam-macam, tetapi pada dasarnya berpusat pada eksplorasi siswa atau aplikasi dari bagian materi, bukan hanya ceramah dari guru. Collaborative learning menggambarkan suatu perubahan yang signifikan dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam collaborative learning, penekanannya adalah pada diskusi siswa dan keaktifan dalam bekerja dengan materi yang telah disediakan” (M. Hosnan, 2014:308).
Menurut Nizar dalam buku Hosnan berpendapat bahwa,“Collaborative learning
adalah proses belajar kelompok yang setiap anggota menyumbangkan informasi,
pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan yang
dimilikinya untuk secara bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh
anggotanya” (M. Hosnan, 2014:309).
Menurut Kemp (dalam Hirschy, 2003) dalam buku Hosnan berpendapat, “collaborative learning itu meliputi kemampuan sosial dan kemampuan. pembelajaran pembelajaran tersebut menggabungkan tiga konsep, yaitu tanggung jawab individu (individual accountability), keuntungan kelompok (group benefit), dan pencapaian kesuksesan yang sama (equal achievement of success). tujuan dari collaborative learning adalah meningkatkan interaksi siswa dalam memahami suatu tugas”
(M. Hosnan, 2014:309).
Menurut Rocky Rockwood dalam buku Hosnan berpendapat “pembelajaran kooperatif/collaborative learning sangat sesuai untuk pendekatan penguasaan pengetahuan/keterampilan dasar. Baru ketika para siswa sudah menjadi semakin terampil, mereka siap untuk pembelajaran kolaboratif, siap untuk berdiskusi dan menilai. Pada bagian lain artikelnya tersebut, ia juga menjelaskan perbandingan antara pembelajaran kolaboratif dan kooperatif dengan terlebih dulu memahami kesamaan keduanya , yakni: (1) menggunakan kelompok; (2) memberikan tugas yang spesifik; (3) saling berbagi di antarakelompok; dan (4) membandingkan prosedur dan kesimpulan dalam kelompok pleno (seluruh kelas)” (M.Hosnan, 2014:309).
Berdasarkan pendapat para ahli, dapat dijelaskan bahwa collaborative learning
14
menyumbangkan pemikiran, ide, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan,
dan keterampilan untuk meningkatkan kelompok tersebut dan untuk memberikan
pemahaman baru terhadap anggotanya.
4. Konsep Model Group Investigation ( GI )
Secara umum perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik
Group investigasion adalah kelompok yang dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan
beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan
unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian membuat atau
menghasilkan laporan kelompok (Tukiran Taniredja dkk, 2013:74).
Model Group Investigasi dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan
berfikir mandiri, untuk aktif dalam proses pembelajaran dari awal sampai akhir
pembelajaran.
Dengan metode Group Investigasion terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian
atau enquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the
dynamic of the learning group (Udin S. Winaputra,2001:75).
Semua anggota kelompok untuk merencanakan suatu penelitian beserta
perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja
yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya serta bagaimana
perencanaan penyajiannya didepan forum kelas. Penilaian berdasarkan pada
15
Menurut Slavin dalam buku Model-Model Pembelajaran Inovatif dan Efektik menyebutkan bahwa dalam group investigation, para murid bekerja melalui enam tahapan, yaitu:
1. Mengidentifikasi topik dan mengatur murid dalam kelompok 2. Merencanakan tugas yang akan dipelajari
3. Melaksanakan investigasi 4. Menyiapkan laporan akhir 5. Mempresentasikan laporan akhir 6. Evaluasi
(Tukiran Taniredja dkk, 2013:79).
Menurut Slavin dalam buku model-model pembelajaran inovatif dan efektif
berpendapat “pengembangan belajar Collaborative GI didasarkan atas suatu
premis bahwa proses belajar di sekolah menyangkut kawasan dalam domain sosial
dan intelektual, dan proses yang terjadi merupakan penggabungan nilai-nilai
kedua domain tersebut” (Tukiran Taniredja dkk, 2013:74).
Menurut Sharan & Sharan dalam buku model-model pembelajaran inovatif dan
efektif “Karakteristik unik Investigasi kelompok ada pada integrasi dari empat
fitur dasar yaitu integrasi, interaksi, penafsiran, dan motivasi intrinsik” (Tukiran
Taniredja dkk, 2013:75).
Berdasarkan penjelasan Konsep Model Group Investigation diatas, bahwa model
group investigation merupakan model pembelajaran yang melibatkan peserta
didik secara langsung untuk aktif dalam diskusi antara peserta didik saling tukar
informasi pemikiran peserta didik, mencari dan menyelidiki jawaban dari
permasalahan yang ada. Pembelajaran dengan model group investigation
16
5. Konsep Hasil Belajar Siswa
“Hasil belajar (achievement) merupakan realisasi atau pemekaran dari
kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil
belajar seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku yang diperlihatkan
oleh seseorang merupakan hasil belajar” (Sukmadinata, 2007:102).
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar dapat dikaitkan sebagai output dari suatu input seperti yang dikemukakan oleh A. J. Romizowski bahwa hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem pemerosesan masukan (input). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi, sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance). Menurut Benjamin S. Bloom hasil belajar yang kognitif, efektif, dan psikomotorik (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2008:14).
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tidak belajar dan tindak
mengajar. Dari sisi guru, tindakan mengajar diakhir dengan proses evaluasi hasil
belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak
proses belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 3).
“Ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kognitif, efektif dan psikomotorik” (Winkel,
1999).
Menurut Bloom dalam Dimyati, ada tiga taksonomi yang dipakai untuk mempelajari jenis perilaku dan kemampuan interaksi akibat belajar, yaitu:
a. Ranah Kognitif, terdiri dari enam jenis perilaku, yaitu: ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b. Ranah Afektif, terdiri dari lima perilaku, yaitu penerimaan, partisipasi, penilaian dan penentuan sikap, organisasi, dan pembentukan pola hidup. c. Ranah Psikomotor, terdiri dari tujuh jenis perilaku, yaitu persepsi,
kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan yang terbiasa, gerakan komplek, penyesuaian gerakan, dan kreativitas
17
Berdasarkan penjelasan di atas, sesuai dengan judul penelitian Pengaruh
Model Collaborativ Learning Tipe Group Investigation Terhadap Hasil
Belajar Kognitif Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas X IIS 4 SMA
Negeri 1 Kotagajah Lampung Tengah Tahun Ajaran 2016/2017.
Ada enam jenis perilaku pada ranah kognitif ini masuk pada taksonomi
Bloom yaitu C1 (pengetahuan), C2 (pemahaman), C3 (penerapan), C4 (analisis), C5 (sintesis), C6 (evaluasi). Untuk penjelasan lebih lanjut
pendapat Bloom tersebut yaitu sebagai berikut:
a. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode. b. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang
hal yang dipelajari.
c. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
d. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil. e. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya
kemampuan menyusun suatu program.
f. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya, kemampuan menilai hasil ulangan.
(Dimyati & Mudjiono, 1999:26-27)
Enam kemampuan pada ranah kognitif seperti yang telah dijelaskan diatas
merupakan kemampuan yang hendak dicapai pada pembelajaran dengan
model Colaborativ learning tipe Group Investigation. Sehingga setelah
penerapan model Colaborativ learning tipe Group Investigation siswa
memahami enam kemampuan pada ranah kogitif tersebut yang ditampakkan
dalam suatu perbuatan yang dapat diamati dan diukur. Perbuatan tersebut
yaitu dengan menjawab soal-soal tes yang menunjukkan adanya
18
1. Pengetahuan (knowledge): mendefinisikan, mendeskripsikan, mendaftarkan, mengidentifikasi, menjodohkan, menyebutkan, menyatakan, dan mereproduksi.
2. Pemahaman (comprehension): mempertahankan, membedakan, menduga, menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan.
3. Aplikasi: mengubah, menghitung, mendemonstrasikan, menemukan, memanipulasi, memodifikasi, mengoprasikan, meramalkan, menyiapkan, menghasilkan, menghubungkan, menunjukan, memecahkan, dan menggunakan.
4. Analisis: merinci, menyusun diagram, membedakan, mengidentifikasikan, mengilustrasikan, menyimpulkan, menunjukan, menghubungkan, memilih, memisahkan, dan membagi.
5. Sintesis: mengategorikan, mengombinasikan, mengarang, menciptakan, membuat desain, menjelaskan, memodifikasikan, mengoprasikan, menyusun, membuat rencana, mengatur kembali, merekontruksikan, menghubungkan, mereorganisasikan, merevisi, menuliskan kembali, menuliskan, menceriratakan.
6. Evaluasi: menilai, membandingkan, menyimpulkan, mempertentangkan, mengkritik, mendeskripsikan, mebedakan, menerangkan, memutuskan, menafsirkan, menghubungkan, dan membantu.
(Arikunto, 2007:137)
Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat bahwa setelah melakukan
aktifitas pembelajaran, peserta didik memperoleh sesuatu yang baru adalah hasil
belajar. Hasil belajar tersebut diperoleh setelah melakukan tes.
B. Penelitian Yang Relevan
Judul Skripsi: Pengaruh Model Pembelajaran Collaborative Tipe Group
Investigation Terhadap Minat Belajar Siswa. Nama Peneliti: Yosti Mahardika.
Program Studi: Pendidikan Akutansi. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan.
Pendidika Akutansi. Universitas Pendidikan Indonesia. Metode yang digunakan
eksperimen quasi eksperimental design. Hasil penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigation sebesar 75% berminat rendah dan 70%
19
C. Kerangka Pikir
Dalam penggunaan model pembelajaran collaborative learning, peserta didik
dapat menumbuhkembangkan kemempuan mereka secara maksimal. Dalam
model ini, keaktifan peserta didik sangatlah dituntuk dan guru hanya sebagai
fasilitator untuk membantu siswa dalam pembelajaran. Guru memberikan
pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi
menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja,
kapan saja, informasi tidak bergantung kepada guru.
Dalam pembelajaran model collaborative learning peserta didik mampu bekerja
sama dalam kelompok kecil yang heterogen, setiap anggota menyumbangkan
informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan yang
dimilikinya untuk secara bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh
anggotanya. Dengan tujuan yang sama, pembelajaran akan memperoleh hasil
yang diinginkan.
Kegiatan dalam collaborative learning bermacam-macam, tetapi pada dasarnya
berpusat pada eksplorasi siswa atau aplikasi dari bagian materi, bukan hanya
ceramah dari guru. Melalui metode ini, peserta didik diajak untuk belajar mandiri
srta dilatih untuk berfikir memaksimalkan kemampuan dalam memahami materi
pelajaran, tidak hanya mendengar, menerima, dan mengingat. Dalam model
collaborative learning keaktifan, kemandirian, dan keterampilan siswa dapat
dikembangkan, sehingga pemahaman materi diharapkan dapat dikembangkan
20
D. Paradigma
Keterangan
= Pengaruh variabel X terhadap Y
E. Hipotesis
Menurut Suharsimi Arikunto Hipotesis adalah Suatu jawaban yang bersifat
sementara terhadap suatu permasalahan sampai terbukti melalui data yang
terkumpul (Suharsimi Arikunto, 2010 : 10).
Sedangkan menurut Sugiono yang dimaksud dengan hipotesis yaitu jawaban
sementara terhadap rumusan penelitian, dimana rumusan penelitian dinyatakan
dalam bentuk pertanyaan (Sugiono, 2013 : 96). Berdasarkan penjelasan tersebut
dapat disimpulkan hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang
diuji kebenarannya dalam penelitian dengan cara mengumpulkan data-data berupa
fakta dan data pendukung.
Hipotesis atau jawaban sementara yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
Hipotesis 1:
H0 : Tidak ada pengaruh dari model pembelajaran Collaborative learning tipe
group investigation terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran sejarah kelas X IIS 4 SMA Negeri 1 Kotagajah.
Model Collaborative Learning Tipe Group
Investigation (X)
21
H1 : Ada pengaruh menggunakan model pembelajaran Collaborative
learning tipe group investigation terhadap peningkatan hasil belajar siswa
22
REFERENSI
Hugiono, P.K. Poerwantana. 1987. Pengantar Ilmu Sejarah.Jakarta:Bina Aksara. Hlm. 47
Surakhmad. 1982. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung : Tarsito. Hlm. 7
Hosnan, M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor :Ghalia Indonesia. Hlm. 337
Ibid. Hlm. 337
Joyce & Weil dalam Trianto. 1980. -Model Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Hlm.1
Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Hlm. 136
Hosnan, M. Op. cit. Hlm. 308
Ibid. Hlm. 309
Ibid. Hlm.309
Ibid. Hlm. 309
Tukiran Taniredja dkk. 2013. Model – model Pembelajaran Inovatif dan Efektif. Bandung : Alfabeta. Hlm.74
Tukiran Taniredja dkk. Op. cit. Hlm. 79
Ibid. Hlm. 74
23
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Hlm. 3
Ibid. Hlm. 26
Ibid. Hlm. 27
Suharsimo Arikunto. 2007. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. Hlm. 137
Suharsimi Arikunto, 2010. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. Hlm. 10
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung Alfabeta. Hlm. 96
Sumber Lain :
Fransiska, A. 2013. Pengaruh penerapan model cooperative learning (CL) terhadap hasil belajar sejarah siswa. Srkipsi. Bandar Lampung : Universitas Lampung Press.
24
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Yang Digunakan
Dalam sebuah penelitian memerlukan suatu cara atau metode yang digunakan
untuk menjelaskan tata cara pelaksanaan dalam penelitian tersebut serta untuk
memecahkan masalah yang akan diteliti.
“Metode adalah suatu cara utama yang di gunakan untuk mencapai suatu tujuan,
isalnya untuk menguji serangkaian hipotesis dengan menggunakan tehnik serta
alat tertentu” (Suracmad, 1978:121).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Quasi Experimental
design. Pengertian dari metode Quasi Experimental design adalah
“pemilihan subjek penelitian subjek penelitian, penelitian tidak selalu dapat
melakukan pemilihan subjek secara random (individu dual random). Dalam
penetapan random (random assignment), peneliti tidak memungkinkan memilih
dan memilah subjek sesuai dengan rancangan. Akan tetapi, peneliti terpaksa harus
menerima kelas atau kelompok subjek yang telah ditentukan oleh sekolah sesuai
dengan kebijakan sekolah” (Punaji Setyosari,2010:176). Berdasarkan penjelasan
diatas, metode penelitian yang digunakan untuk memecahkan masalah guna
25
B. Desain Penelitian
Pada desainpenelitian ini menggunakan desainrancangan serial waktu (time
series). Dengan menggunakan pretest untuk menguji tingkat
pengetahuan/kestabilan sebelum mendapatkan perlakuan. Setelah diketahui
sebelum diberikan perlakuan, lalu diberikan perlakuan atau treatment.
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
“Populasi merupakan sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan
dalam satu atau beberapa hal dan yang membentuk masalah pokok dalam suatu
riset khusus” (Santoso dan Tjiptono, 2002:79).
“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek atau subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristiktertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya
diartikan sebagai orang saja, tetapi bisa juga objek dan benda-benda alam yang
lain” (Sugiyono, 2013:117).
Berdasarkan penjelasan populasi di atas, maka populasi dalam penelitian ini
adalah sekumpulan orang atau objek dalam suatu kelompok yang dijadikan
sumber pengambilan sampel. Penelitian ini menggunakan populasi dari siswa
kelas X IIS 4 di SMA Negeri 1 Kotagajah tahun ajaran 2017/2018
Tabel data populasi siswa kelas X IIS 4 SMA Negeri 1 Kotagajah Tahun Ajaran
26
Tabel 3. Jumlah Populasi Siswa Kelas X IIS 4
No Kelas Siswa Jumlah
Total Perempuan Laki-Laki
1 X IIS 4 19 12 31
Sumber : TU SMAN 1 Kotagajah
2. Sampel
“Sampel adalah sebagian anggota populasi yang diambil dengan menggunakan
teknik tertentu yang bisa disebut dengan teknik sampling” (Ridwan, 2005:11).
“Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut” (Sugiono, 2012:11). “Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut” (Sugiono, 2012:11). Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan teknik sampel jenuh. “Sampling dikatakan
jenuh (tuntas) bila seluruh populasi dijadikan sampel”(Nasution, 1996:100).
Maksudnya ialah semua populasi yang yang telah ditentukan akan dijadikan
sampel pada saat penelitian.
Berikut sampel yang telah ditentukan :
Tabel 4. Jumlah Sampel Siswa Kelas X IIS 4 Sebagai Eksperimen dan Sebagai Kelas Kontrol
No Kelas
Siswa
Jumlah Total Keterangan
Perempuan Laki-Laki
1 X IIS 4 19 12 31
Kelas
Eksperimen
[image:42.595.117.518.601.717.2]27
E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian
“Variable ialah sesuatu yang berbeda atau bervariasi, penekanan kata sesuatu
diperjelas dalam definisi kedua yaitu simbol atau konsep yang diasumsikan
sebagai seperangkat nilai-nilai” (Jonathan Sarwono, 2006:53). Dari penjelasan
variable tersebut, dapat dikatakan terdapat dua variable dari penelitian ini yaitu:
a. Variable bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi
sebab perubahan atau timbul variabel terikat (Sugiono, 2013:61). Dalam
penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah model pembelajaran
colaboratif learning tipe group investigation sebagai kelas eksperimen X IIS
4 SMA N 1 Kotagajah.
b. Variable terikat dengan dilambangkan Y merupakan variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas
(Sugiono,2013:61). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah
hasil belajar (Y).
2. Definisi Operasional Variabel
Menurut Young, dikutip oleh Koentjaraningrat dalam buku metode penelitian
“definisi operasional ialah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang
dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan atau “mengubah
konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku
atau gejala yang dapat diamati dan yang dapat diuji dan ditentukan kebenarannya
28
Merujuk dari devinisi operasional di atas, maka operasional variabel peneltian ini
adalah:
a. Model Pembelajaran Kolaboratif tipe Group Investigation
model pembelajaran ini merupakan variabel bebas. Model Pembelajaran
Kolaboratif tipe Group Investigation adalah mengajarkan siswa untuk aktif
dalam proses pembelajaran, terutama pada saat diskusi, Semua anggota
kelompok untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan
pemecahan masalah yang dihadapi.
Hasil belajar dalam penelitian menggunakan variabel terikat. Hasil belajar
mengarah kepada hasil belajar kognitif, siswa setelah diberikan perlakuan
berupa informasi/pengetahuan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk nilai
yang sebelumnya telah dilakukan tes. Kemampuan kognitif tersebut terdiri
dari enam aspek yaitu pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3),
analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6).
F. Teknik Pengumpulan Data
data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar sejarah siswa
kelas X IIS 4 SMA Negeri 1 Kotagajah, teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini yaitu:
1. Tes
“Tes adalah suatu pernyataan atau tugas atau seperangkat tugas yang
direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait/atribut pendidikan atau
29
atau ketentuan yang dianggap benar. Tes dapat diklasifikasikan menurut bentuk,
tipe dan ragamnya” (M. Basri, 2012:15).
“Kegunaantes, pengukuran, dan penilaian dalam pendidikan antara lain adalah
untuk seleksi, penempatan, diagnosa dan remedial, umpan balik, memotivasi dan
membimbing, perbaikan kurikulum dan program pendidikan serta pengembangan
ilmu” (M. Basri, 2012:15).
Tes yang digunakan berupa pilihan ganda yang diadakan pada waktu yang telah
ditentukan. Penelitian ini bertujuan diadakan tes untuk mengetahui pengaruh hasil
belajar dengan menggunakan model pembelajaran group investigation.
Berdasarkan keterkaitan konsep tes terhadap hasil belajar siswa yang telah
dijelaskan, maka dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data
dengan tes (M. Basri, 2012:17).
Tes yang digunakan berbentuk soal objektif/pilihanganda dengan merujuk pada
taksonomi bloom. Hasil belajar mengacu pada C1,C2, C3, C4, C5, dan C6.
Setelah menyusun tes, peneliti membuat tabel kisi-kisi tes pada kemampuan ranah
[image:45.595.110.504.573.751.2]kognitif sebagai beriku:
Tabel 5. kisi-kisi tes
No Sub topic
Ranah kognitif
Jumlah Butir
Soal
% C1 C2 C3 C4 C5 C6
1
Proses Masuk
Agama Dan
Kebudayaan Islam di
Indonesia
30
2
Saluran-SaluranPenyebaran
Islam di Indonesia
1 1 1 1 2 6 30
3
Kehidupan
Masyarakat
Indonesia pada Masa
Perkembangan Islam
1 2 2 3 8 40
20 100
Sumber :oleh data peneliti
Setelah penyusunan kisi-kisi, maka setiap soal butir soal diberi skor. Skor yang
[image:46.595.107.504.82.267.2]diberikan untuk setiap jenjang kemampuan kognitif terlihat pada tabel berkut:
Tabel 6. Skoran Pretes dan Postest No . Jenjang Kognitif Nomer Soal Skor Perbutir Soal Jumlah Soal Total Skor Perjenjang
1. C1 1,2 1 2 2
2. C2 3,4 2 2 4
3. C3 5,6,7 4 3 12
4. C4 8,9,10,11 5 4 20
5. C5 12,13,14,1 5,16
6 5 30
6. C6 17,18,19,2 0
8 4 32
Total 20 100
Sumber : Olah Data Peneliti
Berdasarkan tabel diatas, menggambarkan perangkat tes pilihan ganda pada
proporsi banyaknya butir soal untuk setiap pokok/sub pokok bahasan dan setiap
31
2.Observasi
“Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, yaitu suatu proses
pengamatan dan ingatan” (Sutrino Hadi, 2001:224). Untuk mendapatkan data
yang relevan dalam penelitian ini, maka penulis menggunakan teknik observasi
langsung. Penelitian ini tersebut melakukan observasi langsung di SMA Negeri 1
Kotagajah.
3. Dokumentasi
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan cara dokumentasi. Dokumentasi
adalah suatu teknik pengumpulan data dengan cara mencatat data yang sudah ada.
Dokumentasi dilakukan dengan cara pengambilan data yang sudah ada. Dalam
penelitian ini, pengambilan data dari SMA Negeri 1 Kotagajah.
4. Kepustakaan
Dalam penelitian ini, digunakan teknik untuk mendapatkan data-data yang
berhubungan dengan penulisan dalam penelitian ini, seperti: teori yang
mendukung, konsep-konsep dalam penelitian, serta data-data yang diambil dari
berbagai referensi.
G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi awal
Kegiatan yang dilakukan dalam observasi awal adalah melihat kondisi
lapangan atau tempat penelitian seperti jumlah siswa, banyak kelas, serta
32
2. menentukan populasi dan sampel penelitian.
3. Menyusun dan menetapkan materi pelajaran yang digunakan dalam
penelitian.
4. Menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
5. Menyiapkan instrumen tes penelitian.
6. Melakukan validasi instrumen.
7. Menguji coba instrumen yang telah disiapkan.
8. Mengaakan tes awal (pretest) di kelas.
9. Melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas.
10.Mengadakan test akhir (posttest) di kelas.
11.Menganalisis data.
12.Membuat kesimpulan.
H. Langkah-Langkah Pelaksanaan Pembelajaran
Langkah-langkah pada pelaksanaan pembelajaran ini adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan Pendahuluan
Kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah guru pada awal
pembelajaran memeriksa kehadiran siswa, memberikan motivasi,
menyiapkan tujuan pembelajaran dan bertanya sedikit kepada siswa
tentang pengetahuannya tentang apa saja yang telah diketahui siswa
sebelumnya.
2. Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti guru menjelaskan dengan menggunakan model
33
menuntut siswa mampu aktif berdiskusi dalam suatu kelompok. Pada
kegiatan ini guru hanya menjelaskan sedikit tentang materi yang akan
dibahas, kemudian guru membagi siswa dalam beberapa kelompok diskusi
dan masing-masing kelompok mendapatkan satu materi untuk
didiskusikan dan disajikan di depan kelas. Setiap siswa mempunyai peran
masing-masing dalam kelompok. Untuk penilaian diskusi, dilihat dari hasil
dan proses kelompok.
3. Kegiatan Akhir
Pada kegiatan akhir pembelajaran guru membimbing siswa untuk
bersama-sama menyimpulkan tentang materi yang telah dipelajari serta
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan sesuatu tentang
hal yang belum dipaham.
I. Uji Instrumen Penelitian
Pada penelitian ini, instrumen penelitian yang digunakan adalah dalam bentuk tes
berupa pilihan ganda untuk mengukur hasil belajar siswa. Untuk mendapatkan
data yang akurat, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini harus validitas
dan reliabilitas.
1. Uji Validitas Instrumen
“Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan
dan kecermatan suatu instrumen pengukuran (tes) dalam melakukan fungsi
ukurnya” (Saifuddin Azwar, 1996:173). Dalam menguji tingkat validitas
34
Keterangan :
rpbis = Kopefisien korelasi point biserial
Mp = Skor rata-rata hitung untuk butir yang dijawab benar
Mt = Skor rata-rata dari skor total
Sdt = Standar deviasi skor total
p = Proporsi siswa yang menjawab betul pada butir yang diuji validitas
q = Proporsi siswa yang menjawab salah pada butir yang diuji validitas
(Saifuddin Azwar, 1996:173)
Uji validitas yang dilakukan dalam penelitian ini dengan menggunakan rpbi syaitu
korelasi point biserial. Semakin tinggi koefisien korelasi yang dimiliki semakin
valid butir instrument tersebut.Dengan kata lain, jika koefisien korelasi sudah
lebih besar dari 0,3 maka butir instrumen yang di uji validitasnya sudah
dikategorikan valid.
2. Uji Reliabilitas
“ reliabilitas adalah suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang
tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian
reliabilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes. Atau seandainya
hasilnya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti”
(Suharsimi Arikunto, 2008:86).
Keterangan: r₁₁ = reliabilitas yang dicari
₁₁ (
( )) (
35
n = banyaknya item
= jumlah varians skor tiap-tiap item
= varians total
(Suharsimi Arikunto, 2008:109).
3. Tingkat Kesukaran
Di dalam istilah evaluasi, indeks kesukaran ini diberi simbol P (p besar),
singkatan dari kata “proporsi”. Dengan demikian maka soal dengan P = 0,70 lebih
mudah jika dibandingkan dengan P = 0,20. sebaliknya soal dengan P = 0,30 lebih
sukar daripada soal dengan P = 0,80.
Rumus mencari P adalah :
P =
Keterangan :
P : indeks kesukaran
B : banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS : jumlah seluruh siswa peserta tes
(Suharsimi Arikunto, 2008:208).
4. Daya Pembeda
“Daya pembeda soal, adalah kemampuan sesuatu soal untk membedakan antara
siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh
(berkemampuan rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda
disebut indeks diskriminasi, disingkat D (d besar). Seperti halnya indek kesukaran
indeks diskriminasi (daya pembeda) ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00”
36
Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah :
D =
–
= PA – PBKeterangan :
D : indeks diskriminasi J : jumlah peserta tes
JA : banyaknya peserta kelompok atas
JB : banyaknya peserta kelompok bawah
BA : banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan
benar
BB : banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu
dengan benar
PA : proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar (ingat, P
sebagai indeks kesukaran)
PB : proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
(Suharsimi Arikunto, 2008:214).
J. Teknik Analisis Data
Tujuan analisis data adalah untuk memberikan makna atau arti yang digunakan
untuk menarik suatu kesimpulan dari masalah yang ada. Teknik analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik penelitian kuantitatif. Data yang
dianalisis merupakan nilai siswa yang diperoleh setelah adanya tes.
1. Uji Normalitas
Untuk menguji normalitas terhadap data yang diperoleh maka dilakukan uji
normalitas dengan menggunakan uji Chi-Kuadrat menurut Sudjana (2005:
273).
Hipotesis :
H0 : kedua kelompok data berasal dari populasi yang berdistribusi normal
37
a) Taraf Signifikansi
Taraf signifikansi yang digunakan
b) Statistik Uji
k i i i iE
E
O
x
1 2 2 keterangan: iO
= frekuensi harapani
E
= frekuensi yang diharapkan k = banyaknya pengamatanc) Keputusan Uji
Tolak H0 jika ( )( ) dengan taraf = taraf nyata untuk pengujian.
Dalam hal lainnya H0 diterima.
2. Uji Homogenitas
H0 : = ( data penelitian mempunyai varians yang homogen)
H1 : ≠ ( data penelitian mempunyai varians yang tidak homogen)
Taraf nyata : 0.05
Statistik uji
Fhitung :
Perhitungan
Varians terbesar
Varians terkecil
Fhitung :
Kriteria uji
Terima H0 jika Fhitung< Fα (( )
38
3. Uji Hipotesis
Pada penelitian ini, analisis data yang penulis gunakan untuk mengetahui adanya
pengaruh signifikan model Colaborativ Learning tipe Group Investigation
terhadap hasil belajar sejarah yaitu uji-t. Menurut Siregar, dalam penerapan uji-t
ada beberapa persyaratan yang harus terpenuhi. Dari beberapa persyaratan uji-t,
diketahui bahwa data peneliti telah memenuhi persyaratan tersebut. Persyaratan
dalam uji-t meliputi:
1. Bila permasalahan lebih dari satu variabel, maka variabel terikat
(dependent) datanya harus bersifat interval atau rasio. Sedangkan
untuk variabel bebas (independent) datanya harus berbentuk nominal
atau ordinal.
2. Untuk menggunakan uji-t, data diasumsikan berdistribusi normal.
3. Data berjenis probability sampling (setiap unsur kesempatan yang
sama untuk dipilih menjadi sampel dari suatu populasi).
(Siregar, 2013: 194)
Rumus uji-t yang digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh yaitu:
Keterangan:
s = Simangan baku
d = Jumlah selisi antara retest dan osttest n = Jumlah Sampel
(Sudjana, 2009:239) √
(∑
39
Menentukan thitung :
√
Keterangan :
d : Jumlah selisih antara retest dan osttest SD : Standar deviasi
N : Samel
Setelah diketahui t hitung maka dibandingakan dengan t tabel. Jika t hitung yang
diperoleh lebih dari (>) t tabel, hal tersebut menunjukan adanya pengaruh.
Selanjutnya untuk mengetahui besarnya taraf signifkansi pengaruh Colaborativ
Learning tipe Group Investigation terhadap hasil belajar sejarah dengan
menghitung koefisien korelasi yaitu dengan menggunakan rumus korelasi (rhitung) :
rhitung =
´ √( )( )
Keterangan:
r = Koefisien korelasi pearson
∑xy = Jumlah hasil dari X dan Y setelah dikalikan ∑x2
= Jumlah kuadrat dari skor X ∑y2
= Jumlah kuadrat dari skor Y (Arikunto, 2013:87)
[image:55.595.112.456.580.676.2]Untuk mengetahui interpretasi besarnya pengaruh terlihat pada tabel berikut:
Tabel 7. Interpretasi Koefisien Korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,800 – 0,100 Sangat tinggi
0,600 – 0,800 Tinggi
0,400 – 0,600 Cukup
0,200 – 0,400 Rendah
40
REFERENSI
Suracmad. 1978. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung : Tarsito. Hlm. 121
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta. Hlm. 117
Ridwan, 2005. Belajar dan Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan, dan Penelitian. Bandung : Alfabeta. Hlm. 11
Sugiyono. Op. cit. Hlm. 11
S. Nasution. 1996. Metode Risearch (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara. Hlm. 100
Jonathan Sarwono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta : Graha Ilmu. Hlm. 53
Ibid. Hlm. 67
Muhammad Basri. 2012. Perancangan Pembelajaran. Hlm. 15
Ibid. Hlm. 15
Ibid. Hlm. 17
Saifuddin Azwar. 1996. Fungsi Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta. Hlm. 173
Suharsimi Arikunto, 2008. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hlm.86
Ibid. Hlm. 109
41
Ibid. Hlm. 211
Ibid. Hlm. 214
Sudjana. 2005. Metode statistika. Bandung : Tarsito. Hlm. 273
Ibid. Hlm. 250