REPRESENTASI CITRA KELUARGA PRESIDEN JOKOWI DALAM TAYANGAN MATA NAJWA EPISODE “RAHASIA KELUARGA
JOKOWI”
SKRIPSI
Oleh : Nita Utami
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
REPRESENTASI CITRA KELUARGA PRESIDEN JOKOWI PADA TAYANGAN MATA NAJWA EPISODE “RAHASIA KELUARGA
JOKOWI”
Oleh Nita Utami
Media massa sebagai media penyampaian pesan kepada masyarakat memiliki peranan penting dalam membangun sebuah persepsi. Media massa memiliki potensi untuk membangkitkan kesadaran, mengubah sikap, pendapat atau persepsi masyarakat terhadap suatu hal. Persepsi tersebut dibentuk dari pemberitaan yang ditampilkan media massa. Kemampuan media massa dalam mengubah persepsi masyarakat menjadikan media televisi mampu mengubah citra seseorang menjadi lebih baik atau lebih buruk. Presiden Jokowi sebagai kandidat calon presiden pada pimilihan presiden 2019 lalu banyak tampil dilayar kaca bersama keluarganya. Salah satu nya mereka tampil dalam talkshow Mata Najwa. Talkshow Mata Najwa merupakan salah satu talkshow yang menjadi sumber referensi masyarakat untuk memperoleh informasi terkait isu-isu yang sedang berkembang di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana citra keluarga presiden Jokowi pada tayangan Mata Najwa. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi Hsieh & Shannon dengan pendekatan direct content analysis. Berdasarkan hasil penelitian, keluarga presiden Jokowi dikonstruksikan memiliki citra yang positif. Keluarga Jokowi cenderung sederhana dan apa adanya serta pekerja keras.
REPRESENTATION OF JOKOWI’S FAMILY IMAGE IN MATA NAJWA TALKSHOW “THE SECRETE OF JOKOWI’S FAMILY
By NITA UTAMI
Mass media as a medium for delivering messages to the public has an important role in building perception. Mass media has the potential to raise awareness, change attitudes, opinions or people's perceptions. The perception was formed from the news that was displayed by the mass media. The ability of the mass media to change people's perceptions makes television be able to change image of person for the better or worse. President Jokowi as a presidential candidate in the 2019 presidential elections has been mostly appeared on television with his family. They are appeared on the Mata Najwa talkshow. The Mata Najwa talkshow is one of the talkshows that can be source to people reference to obtain related to developing issue. The purpose of this study is to knowing the image of President Jokowi's family on the Mata Najwa show. This study was analyzed using descriptive qualitative approaches with Hsieh & Shannon qualitative content analysis with directed content analysis research methods. Based on the results of the study, president Jokowi's family was constructed to have a positive image. Jokowi's family tends to be simple and straightforward and hardworking.
Keywords : Self Image, Jokowi, Content Analysis, Mata Najwa
REPRESENTASI CITRA KELUARGA PRESIDEN JOKOWI DALAM TAYANGAN MATA NAJWA EPISODE “RAHASIA KELUARGA
JOKOWI”
Oleh : Nita Utami
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA ILMU KOMUNIKASI
Pada
Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, pada tanggal 23 Maret 1996 dengan nama lengkap Nita Utami. Penulis merupakan anak tunggal dari bapak Sutiyono dan ibu Miswati.
Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN 1 Sukosari, Kalirejo, Lampung Tengah pada tahun 2009, Sekolah Menengah Pertama diselesaikan di SMPN 1 Kalirejo, Lampung Tengah pada tahun 2012, dan Sekolah Menengah Atas diselesaikan di SMA N 1 Kalire, Lampung Tengah pada tahun 2015.
Menyia-nyiakan waktu lebih buruk dari kematian.
Karena kematian memisahkan kamu dari dunia
sementara menyia-nyiakan waktu memisahkanmu
dari Allah
“
Imam Bin Al Qayim
”
Manusia di anugrahi dua tangan satu untuk
membantu diri sendiri dan satu untuk membantu
PERSEMBAHAN
Bismillahirrahmanirrahiim Alhamdullilah, terima kasih
kepada Allah SWT telah memudahkan jalan saya sehingga
skripsi ini telah terselesaikan dengan penuh kesabaran.
Kupersembahkan Skripsi ini untuk :
Ibu dan Bapak ku tersayang, Ibu Miswati dan Bapak
Sutiyono.
Juga kepada Almamater tercinta,
Jurusan Ilmu Komunikasi
Alhamdulillahhirabbil’alamin, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah
SWT, yang telah memberikan petunjuk, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Representasi Citra Keluarga Presiden Jokowi Pada Tayangan Mata Najwaepisode “Rahasia Keluarga Jokowi”, sebagai salah satu persyaratan untuk meraih gelar strata satu (S1) di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.
Penyelesaian skripsi ini tidak semata hanya berbekal pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki. Tanpa adanya bantuan, dukungan, motivasi dan semangat dari berbagai pihak, tidak mungkin skripsi ini bisa terselesaikan. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :
1. Allah Subhanahu Wata’ala karena berkat limpahan rahmat, karunia serta
nikmat-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Dr. Syarief Makhya, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.
3. Ibu Dhanik Sulistyarini S.Sos, M.Comn&MediaSt, selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.
dan sekaligus sebagai Dosen Pembimbing penulis. Terima kasih telah meluangkan banyak waktu untuk membimbing dan memberikan penulis banyak ilmu dan pengetahuan. Terima kasih atas segala bimbingan, nasihat yang selalu ibu berikan selama berlangsungnya proses bimbingan skripsi ini. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kesehatan dan kebahagiaan kepada keluarga ibu.
5. Bapak Teguh Budi Drs. Teguh Budi Raharjo, M.Si. selaku Dosen Pembahas skripsi. Terima kasih sudah bersedia memberikan bimbingan, saran, kritik yang membangun dalam proses penyelesaian skripsi.
6. Dr. Nina Yudha Aryanti, S.Sos, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis yang selalu memberikan saran yang membangun kepada penulis selama masa perkuliah.
7. Terima Kasih kepada seluruh Dosen, Karyawan, Staff Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Dan teruntuk Mas Daman dan Mas Hanafi selaku staff Jurusan Ilmu Komunikasi, terima kasih telah membantu penulis dalam segala urusan surat menyurat dalam proses skripsi ini.
8. Teruntuk Kedua Orang Tua Ibu Miswati dan Bapak Sutiyono, terima kasih selalu mendukung dan mendoakan saya sehingga saya sampai pada titik ini. Saya menyayangi bapak ibu, semoga bapak ibu selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan oleh Allah SWT dan semoga saya mampu untuk terus memberi senyum pada bapak dan ibu.
teman-teman komunikasi angkatan 2015.
10. Terimakasih juga untuk sahabat saya sejak masa SMA sampai sekarang Majidah, Ria, dan Juju semoga tetap menjadi sahabat yang akan selalu berbagi cerita dan tawa sampai kita menua bersama.
Bandar Lampung, 25 Januari 2020 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ... 9
B. Komunikasi Massa ... 12
C. Media Massa ... 17
D. Televisi ... 19
E. Talkshow ... 21
F. Pesan... 24
G. Citra Diri ... 28
H. Konsep Representasi Citra di Media Massa ... 34
I. Teori Konstruksi Sosial Media Massa ... 37
J. Analisis Isi ... 40
K. Kerangka Pikir... 46
III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitan... 49
B. Metode Penelitian... 49
C. Fokus Penelitian ... 50
D. Unit Analisis ... 51
E. Tahapan Penelitian ... 51
F. Sumber Data ... 52
G. Teknik Pengumpulan Data ... 52
H. Teknik Analisis Data ... 53
I. Keabsahan Data ... 55
IV. GAMBARAN UMUM A. Profil Talkshow Mata Najwa ... 57
C. Biografi Keluarga Jokowi ... 60
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A Hasil Penelitian ... 68 B.Pembahasan ... 98
VI. KESIMPULAN
A. Kesimpulan ... 124 B. Saran ... 125
DAFTAR TABEL
Tabel
1. Penelitian Terdahulu ... 11 2. Penghargaan Talkshow Mata Najwa... 58 3. Tabel 3. Mata Najwa Part 1: Iriana
‘Jangan Lupa Bahagia’... 69 4. Tebel 4. Mata Najwa Part 3 : Jokowi-Iriana,
‘Saling Bongkar Rahasia’ ... 74 5. Tabel 5. Mata Najwa Part 4 :
‘Akrabnya Jokowi dan Jan Ethes’ ... 80 6. Tabel 6. Mata Najwa Part 5 : Gibran,
‘Saya Tertarik Politik’ ... 85 7. Tabel 7. Mata Najwa Part 6 :
DAFTAR GAMBAR
Gambar
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu membutuhkan informasi untuk memperoleh pengetahuan mengenai sesuatu yang sedang terjadi di sekitarnya. Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah media massa, baik cetak, elektronik maupun media baru. Media massa merupakan sebuah gerbang di mana khalayak dapat mencari dan mendapatkan informasi serta hiburan. Melalui media massa komunikator
dapat menjangkau khalayak yang luas serta dengan waktu yang cepat dan
serempak dapat diterima oleh khalayak sasaran. Media massa juga merupakan salah satu sarana yang dapat memberikan informasi mengenai pandangan tentang sifat-sifat manusia serta hubungan sosialnya.
Fungsi media massa, pers nasional memiliki fungsi sebagaimana yang
tercantum dalam UU Pers No. 40 tahun1999 pasal 3 ayat 1 yaitu “pers
nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan
kontrol sosial”.Dengan adanya fungsi tersebut, media massa memiliki potensi untuk membangkitkan kesadaran, mengubah sikap, pendapat atau persepsi masyarakat terhadap suatu hal. Persepsi tersebut dibentuk dari pemberitaan yang ditampilkan media massa (Jurdi, 2016 : 310). Sehingga sesuatu yang sebelumya dianggap benar berpotensi menjadi negatif, begitu pula sebaliknya persepsi yang sebelumnya di anggap salah oleh khalayak berpotensi menjadi positif setelah media turun tangan dalam mengubah persepsi khalayak.
Media massa bekerja untuk menyampaikan informasi pada khalayak. Informasi yang diperoleh khalayak telah menstruktur dan mengorganisasikan sebuah realitas. Kemudian realitas itu sekarang tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna yang mana gambaran tersebut biasanya disebut dengan citra (image) (Rakhmat, 2009: 223). Citra tersebut terbentuk berdasarkan informasi yang kita terima melalui pesan-pesan yang lebih ditonjolkan oleh media.
Chaplin (2016) mengatakan citra diri disebut juga sebagai gambaran diri (self image) merupakan gambaran mengenai diri individu atau jati diri seperti yang
digambarkan atau yang dibayangkan. (https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-citra-diri-atau-self-image/116786/2, diakses pada Jumat, 22
3
Berkaitan dengan penonjolan yang dilakukan media massa, Lazarsfeld dan Merton (1948) membicarakan mengenai fungsi media dalam memberikan status (status conferral). Karena namanya, gambarnya, atau kegiatannya dimuat oleh media, maka orang, organisasi, atau lembaga mendadak mendapat reputasi yang tinggi (Rakhmat, 2009 : 225).
Kemampuan media massa dalam mengubah persepsi masyarakat menjadikan media televisi mampu mengubah citra seseorang menjadi lebih baik atau lebih buruk. Baik aktris, tokoh masyarakat, organisasi, perusahaan, maupun tokoh politik seringkali menggunakan media televisi dalam membangun citra mereka dihadapan khalayak luas. Realitas yang ditampilkan media adalah realitas yang sudah diseleksi–realitas tangan kedua (second hand reality) Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditamplilkan dan mengesamping-kan tokoh-tokoh yang lain (Rakhmat, 2009 : 224). Sehingga terkadang realitas sosial yang ditampilkan oleh media televisi bukanlah realitas yang sesungguhnya.
Di Indonesia meskipun pengguna media sosial tinggi, namun televisi tetap tidak kehilangan eksistensinya. Berdasarkan hasil survei Nielsen Consumer Media View 2017, penetrasi media televisi masih memimpin dengan 98%,
(https://www.nielsen.com/id/en/press-
room/2017/TREN-BARU-DI-KALANGAN-PENGGUNA-INTERNET-DI-INDONESIA.html) diakses pada Rabu, 6 Maret 2019.
Dari survei ini juga diperoleh temuan bahwa saat ini ada beragam cara yang dilakukan untuk mengakses konten TV atau film. TV terrestrial dan TV kabel masih menjadi pilihan utama dengan perolehan 77%, namun akses konten video melalui platform digital juga cukup tinggi seperti misalnya situs streaming YouTube, Vimeo (51%), portal TV online (44%), TV Berlangganan seperti Netflix, Iflix, Hooq, dan sebagainya (28%). Hal ini membantah anggapan bahwa penonton TV tradisional sepenuhnya berpindah ke platform digital. Karena berdasarkan temuan ini, bahkan kalangan pengguna internet pun, masih cukup banyak yang lebih memilih untuk menonton TV tradisional dibandingkan mengakses konten video secara online. Hal ini menjadikan salah satu alasan mangapa televisi menjadi salah
satu media yang efektif untuk membentuk persepsi khalayak.
5
Banyak program tayangan di tawarkan media televisi baik yang menghibur maupun menginformasi. Salah satunya yaitu program acara talkshow. Talkshow atau perbincangan adalah program dialog yang dipandu oleh
seorang pembawa acara/host dengan beberapa narasumber sesuai kebutuhan redaksi/divisi current affair, yang membahas konten aktual dari sebuah berita atau membahas isu-isu hangat yang sedang berkembang (Fachruddin, 2015:153). Narasumber tersebut merupakan orang-orang yang ahli pada bidang tertentu atau pihak yang berkaitan langsung dengan suatu peristiwa. Salah satu program talkshow yang sampai saat ini masih bisa di nikmati oleh masyarakat Indonesia adalah program tayangan Mata Najwa di Trans7.
Berdasarkan Survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi oleh KPI pada 2018, program talkshow Mata Najwa (Trans7) merupakan program yang paling banyak ditonton mencapai 62% dan disusul oleh Indonesia program Lawyer Club (TvOne) sebesar 44%. Dengan indeks kualitas program talkshow Trans7 mencapai 3,32 dari standar yang ditetapkan KPI sebesar 3,00. Mata Najwa memiliki brand image yang kuat sebagai salah satu program talkshow yang menjadi referensi saat ada isu atau fenomena.
politik, namun pada satu kesempatan Mata Najwa menghadirkan satu episode khusus yang membahas keluarga Jokowi, episode tersebut hadir dengan judul
“Rahasia Keluarga Jokowi” yang tayang pada Rabu, 12 Desember 2018. (https://www.trans7.co.id/programs/mata-najwa, diakses 14 Maret 2019).
Salah satu tokoh politik sekaligus orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi seringkai menjadi perbincangan publik. Tak sedikit media, aktris ataupun youtuber yang apabila mengangkat tema bersama Jokowi akan menjadi perbincangan netizen. Youtuber Ria Ricis membuat konten video bersama keluarga Jokowi dua bulan lalu, sampai hari ini 14 Maret 2019 total viewer video tersebut mencapai 4,8 juta kali penonton. Video aktris sekaligus youtuber Boy William bersama Jokowi satu bulan lalu sudah ditonton 6,8 juta kali penonton.
Beberapa program televisi juga sempat mengangkat konten bersama keluarga Presiden Jokowi. Program talkshow Mata Najwa bersama keluarga Jokowi, sampai hari ini 13 Maret 2019 salah satu videonya di channel YouTube Najwa Shihab sudah ditonton sebanyak 2,3 juta kali. Program Ini Talkshow di NET TV juga sempat mengundang Jokowi bersama keluarganya, salah satu videonya di channel YouTube Ini Talkshow sudah ditonton sebanyak 13 juta kali penonton. Tampilnya Presiden Jokowi di media bersama keluarga tentu membuatnya terlihat semakin dekat dengan masyarakat tak terkcuali dengan anak-anak muda.
7
akan memaknainya sebagai sesuatu yang buruk. Pembangunan citra melalui media massa akan menimbulkan kesan tersendiri di masyarakat dan juga akan menjadi identitas yang melekat pada objek pencitraan tersebut. Sejauh ini, sebuah penelitian yang membahas mengenai konstruksi relaitas di media massa dikaji pada produk-produk media massa seperti film, iklan, poster dan lainnya. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui bagaimana realitas yang ditampilkan pada sebuah program tayangan talkshow.
Dari pemaparan tersebut, maka peneliti ingin mengatahui lebih dalam mengenai bagaimana citra yang ditampilkan keluarga Presiden Jokowi di media massa khususnya dalam tayangan Mata Najwa episode “Rahasia Keluarga Jokowi” berdasarkan aspek fisik, psikis dan soaial. Peneltian ini nantinya akan menggunakan metode analis isi kualitatif Hsieh & Shannon 2005, dengan pendekatan direct conten analysis. Analisis isi adalah suatu metode ilmiah untuk mempelajari dan menarik kesimpulan atas suatu fenomena dengan memanfaatkan dokumen atau teks (Eriyanto, 2015 : 15).
Hsieh & Shannon menyebutkan analisis isi kualitatif adalah metode penelitian untuk menafsirkan secara subjektif isi data berupa teks melalui proses klasifikasi sistematik berupa coding atau pengkodean dan pengidentifikasian aneka tema atau pola (Supratiknya, 2015 : 123). Hsieh & Shannon menyebut direct conten analysis atau analisis isi terarah sebagai upaya untuk
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Representasi Citra Keluarga Presiden Jokowi Pada
Tayangan Mata Najwa “Episode Rahasia Keluarga Jokowi”?.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah “Mendeskripsikan Citra Keluarga Presiden Jokowi Pada Tayangan Mata Najwa “Episode Rahasia Keluarga Jokowi”.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis, kegunaan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi pengembangan kajian bidang ilmu komunikasi dan semoga dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan representasi citra dalam media massa melalui program tayangan talkshow.
2. Secara Praktis
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu dimaksudkan untuk menambah referensi dan wawasan penulis dalam menjalankan penelitian. Penelitian terdahulu menjadi bahan referensi dan acuan dalam menyelesaikan penelitian ini. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian terdahulu sebagai perbandingan dan tolak ukur serta mempermudah peneliti untuk menyusun penelitian ini. Peneliti harus belajar dari peneliti lain, untuk menghindari duplikasi dan pengulangan penelitian atau kesalahan yang sama seperti yang dibuat oleh peneliti sebelumnya.
1. Penelitan Alvionita Choirun Nisa dan Umaimah Wahid, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Budi Luhur, Tahun 2014. Dengan judul
“Analisis Isi Kekerasan Verbal dalam Sinetron “Tukang Bubur Naik Haji The Series” di RCTI (Analisis Isi Episode 396–407). Penelitian ini membahas mengenai kata-kata kasar (kekerasan verbal) yang termuat dalam sebuah film. Hasil penelitian ini menunjukan persentase kekerasan verbal yang sekaligus berdampak pada gangguan psikis atau hilangnya rasa percaya diri pada seseorang yang mengalaminya.
2. Penelitian Emirullyta Harda Ninggar, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung, 2015.
Dengan judul “Penggambaran Citra Perempuan Dalam Serial Drama Komedi Malam Minggu Miko (Studi Pada Serial Drama Komedi Malam Minggu Miko Season 2 Di Kompas Tv)”. Hasil penelitian menunjukan
perempuan digambarkan sebagai perempuan yang cantik, modis dan berasal dari kelas sosial menengah ke atas secara fisik, namun secara psikis mengalami penyimpangan dalam bersikap dan bertingkah laku dengan lawan jenis. Sehingga citra negatif perempuan masih melekat. 3. Penelitian Lidya Joyce Sandra, Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas
11
Tabel 1. Penelitian Terdahulu
1. Peneliti Alvionita Choirun Nisa dan Umaimah Wahid, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Budi Luhur, Tahun 2014.
Judul Penelitian
Analisis Isi Kekerasan Verbal dalam Sinetron “Tukang Bubur Naik HajiThe Series” di RCTI (Analisis Isi Episode 396 –407) Metode dan
Tipe Penelitian
Pendekatan yang digunakan ialah kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analisis isi.
Hasil Penelitian
Kekerasan verbal yang paling dominan muncul dalam tayangan sinetron “TukangBubur Naik Haji The Series” di RCTIperiode 22-26 Januari 2013, yaitu kategori menghina dengan frekuensi kemunculan 278 dan persentase sebesar 74,3 %.
Perbandingan Penelitian ini menganalis kekerasan verbal yang terdapat dalam sinetron “Tukang Bubur Naik Haji The Series”. Sedangkan, peneltian penulis akan menganalisis citra keluarga Jokowi yang ditampilkan dalam tayangan Mata Najwa. Diamana penulis memiliki kesamaan dalam metode penelitian yaitu analisis isi.
2. Penelitian Emirullyta Harda Ninggar, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Lampung, 2015. Judul
Penelitian
Penggambaran Citra Perempuan Dalam Serial Drama Komedi Malam Minggu Miko (Studi Pada Serial Drama Komedi Malam Minggu Miko Season 2 Di Kompas Tv)
Metode dan Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisi iisi kualitatif.
Hasil Penelitian
Citra perempuan dalam film Malam Minggu Miko digambarkan sebagai perempuan yang mendominasi laki-laki dengan sifat-sifat yang cenderung memiliki tendensi penyimpangan kepribadian.
Perbandingan Peneltian ini membahas mengenai penggambaran citra perempuan di film. Sedangkan penulis meneliti tetang representasi citra keluarga di tayangan televisi.
3. Penelitian Lidya Joyce Sandra, Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Kristen Petra Surabaya, 2013.
Judul Penelitian
Political Branding Jokowi Selama Masa Kampaye Pemilu Gubernur Dki Jakarta 2012 Di Media Sosial Twitter.
Metode dan Tipe Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah analisis isi kualitatif Hsieh & Shannon dengan pendekatan directed content analysis melalui prosedur induksi.
Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini Jokowi tergambar sebagai sosok yang terbuka, dekat dengan masyarakat, kredibel, dan merakyat (egaliter).
Perbandingan Penelitan ini membahas mengenai political branding Jokowi untuk pemilu gubernur DKI Jakarta 2012 di media sosial. Sedangkan penulis meneliti tentang citra keluarga jokowi dalam tayangan televisi.
B. Tinjauan Komunikasi Massa
Komunikasi massa merupakan proses penyampaian informasi, ide, dan sikap kepada banyak orang dengan menggunakan mesin atau media yang disebut media massa, seperti radio, televisi, surat kabar, majalah dan film. Menurut Gebner komunikasi massa adalah produksi dan ditribusi yang berlandaskan teknologi lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat Indonesia (Romli, 2016:2).
Berdasarkan definisi diatas komunikasi massa menghasilkan suatu produk berupa pesan-pesan komunikasi. Produk tersebut disebarkan dan di-distribusikan kepada khalayak luas secara terus menerus dalam jarak waktu yang tetap, misalnya harian, mingguan, atau bulanan. Proses produksi pesan tidak dapat dilakukan perorangan, melainkan harus oleh lembaga dengan menggunakan teknologi tertentu, sehingga komunikasi massa akan banyak dilakukan oleh masyarakat industri.
1. Karakteristik Komunikasi Massa
Komunikasi massa memiliki karakteristik sebagai berikut :
a) Komunikator terlembaga. Pesan komunikasi massa merupakan produk bersama. Seorang komunikator dalam media massa bertindak atas nama lembaga dan hampir tidak memiliki kebebasan individu.
b) Komunikasi melalui media massa pada dasarnya ditujukan kepada khalayak luas, heterogen, anonim, tersebar dan tidak mengenal batas geografis dan kultural.
13
d) Penyampaian pesan berjalan secara cepat dan mampu menjangkau khalayak luas dan tidak terbatas secara geografis maupun kultural (message multiplier).
e) Penyampaian pesan melalui media massa cenderung berjalan satu arah. Umpan balik (feedback) dari khalayak tertunda.
f) Kegiatan komunikasi melalui media massa dilakukan secara terencana, terjadwal dan terorganisasi.
g) Pesan yang disampaikan melalui media massa dilakukan secara berkala. h) Isi pesan yang disampaikan mencakup berbagai aspek kehidupan ekonomi, politik, sosial budaya, dan keamanan, baik yang bersifat informatif, edukatif, maupun hiburan.
i) Media massa mengutamakan unsur isi daripada hubungan. j) Media massa menimbulkan keserempakan,
k) Kemampuan respon alat indera terbatas (Riswandi, 2009:105-108).
2. Komponen Komunikasi Massa
Agar proses penyampaian pesan komunikasi massa dapat berjalan maka diperlukan komponen-komponen komunikasi massa, yaitu :
a) Komunikator
bahwa komunikator meliputi para jurnalis, petugas perusahaan periklanan, produser siaran radio, televisi serta penyunting.
b) Pesan
Sesuai dengan karakteristik komunikasi massa bahwa pesan bersifat umum, maka pesan harus diketahui oleh setiap orang. Sevarin dan Tankard (1922) mengatakan bahwa komunikasi massa adalah sebagai keterampilan (skill), sebagai seni (art), dan sebagai ilmu (science). Tanpa dimensi seni pesan tidak mungkin menjadi surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film yang memikat perhatian khalayak yang pada akhirnya dapat mengubah sikap, pandangan, dan perilaku komunikan. c) Media
Media yang dimaksud dalam komunikasi massa adalah media massa (pers, radio, televisi, film).
d) Khalayak (Komunikan)
Khalayak yang dituju merupakan khalayak luas yang anonim dan heterogen.
e) Filter dan Regulator Komunikasi Massa
15
f) Gatekeeper (Penjaga Gawang)
Fungsi utama gatekeeper adalah menyaring pesan yang diterima sseorang. Gatekeeper mungkin memodifikasi pesan dengan berbagai alasan untuk membatasi pesan yang diterima komunikan. Editor surat kabar, majalah disebut sebagai gatekeeper (Wahyuni, 2014:10-15).
3. Fungsi Komunikasi Massa
Dalam sosiologi komunikasi terdapat lima fungsi komunikasi massa sebagai berikut :
a) Fungsi Pengawasan
Media massa adalah medium yang dapat digunakan untuk pengawasan terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya. Fungsi ini berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif.
b) Fungsi Social Learning
Fungisi social learning merupakan fungsi utama dari komunikasi massa
untuk melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada seluruh masyarakat.
c) Fungsi Penyampain Informasi
Komunikasi massa yang mengandalkan media massa yaitu menjadi proses penyampaian informasi kepada masyarakat luas. Hal ini memudahkan informasi dari sebuah institusi publik tersampaikan secara luas dalam waktu singkat.
d) Fungsi Transformasi Budaya
sebagai bagian dari budaya. Hal ini mengacu pada perubahan-perubahan seperti politik, perdagangan, hukum, militer dimana komunikasi massa memainkan peranan penting di hampir semua perkembangn.
e) Hiburan
Komunikasi massa juga digunakan sebagai media hiburan, terutama karena komunikasi massa menggunakan media massa. Jadi fungsi hiburan yang ada pada media massa merupakan bagian dari fungsi komunikasi massa. (Bungin, 2006 ; 78-81).
4. Dampak Komunikasi Massa
Sedangkan untuk dampak komunikasi massa itu sendiri adalah sebagai berikut :
a) Dampak Ekonomis, yaitu menggerakan usaha dalam berbagai sektor seperti produksi, distribusi dan konsumsi jasa media massa.
b) Dampak Sosial, yaitu berkaitan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial sebagai akibat kehadiran media massa. Misalnya di kota-kota majalah Gadis umumnya dikonsumsi oleh remaja putri, majalah Otomotif khusus utuk pecinta kendaraan.
c) Dampak Penjadwalan kegiatan, kehadiran media massa ternyata dapat mengubah jadwal kegiatan sehari-hari khalayak.
17
e) Dampak Menumbuhkan Perasaan Tertentu, kehadiran media bukan saja dapat menghilangkan perasaan tidak enak pada diri seseorang, tetapi juga dapat menumbuhkan perasaan tertentu. Misal menyukai media A namun tidak menyukai media B.
C. Media Massa
Salah satu unsur komunikasi massa yaitu medium (media) tempat di mana proses komunikasi berlangsung. Media massa merupakan sarana penyampaian komunikasi dan informasi dengan melakukan penyebaran informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara luas. Media massa juga disebut sebagai institusi yang menghubungkan seluruh unsur masyarakat satu dengan lainnya melalui produk media massa. Secara spesifik institusi media massa adalah :
1. Sebagai saluran produksi dan distribusi konten simbolis. 2. Sebagai institusi publik yang bekerja sesuai aturan yang ada. 3. Keikutsertaan baik sebagai pengirim atau penerima sukarela. 4. Menggunakan standar profesional dan birokrasi, dan
5. Media sebagai perpaduan antara kebebasan dan kekuasaan. (Tamburaka, 2012:13).
1. Jenis-jenis Media Massa
Sedangkan untuk jenis-jenis media massa dapat dibagi kedalam tiga bentuk :
b) Media elektronik. Media elektronik adalah jenis media massa yang isinya disebarluaskan melalui suara (audio) atau gambar bergerak (video) atau audiovisual seperti radio, televisi dan film.
c) Media baru (new media). Media ini disebut juga media online, media internet, atau media siber. Media yang dapat ditemukan dengan mengakses melalui internet seperti Liputan6.com, Kompas.com, Detik.com dan lain sebagainya.
2. Fungsi Media Massa
Fungsi media massa itu sendiri menurut UU Pers No 40 tahun 1999 yang terdapat dalam pasal 3 yaitu sebagai media informasi (to inform), pendidikan (to educate), dan kontrol sosial (social control). Selain fungsi-fungsi tersebut media juga dapat berfungsi-fungsi sebagai lembaga ekonomi. (https://pwi.or.id/index.php/uu-kej, diakses Kamis, 21 Maret 2019).
3. Dampak Pesan Media Massa
Dalam Riswandi (2009:158) dampak penyampaian pesan melalui media massa, umumnya hanya menyangkut aspek kognitif. Oleh karena itu, penggunaan saluran media massa biasanya hanya dititikberatkan pada upaya pembentukan kesadaran, pengetahuan dan ingatan khalayak atas sesuatu isi pesan Dampak pesan media massa Riswandi (2009:113) : a) Dampak Kognitif
19
kepercayaan yang diberikan oleh media massa. Misalnya ketika kita memperoleh informasi mengenai cara mengasuh anak, atau membuat masakan daerah tertentu.
b) Dampak Afektif
Dampak pesan media massa sampai tahap afektif bila pesan yang disebarkan media massa mengubah apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci oleh khalayak. Dampak ini berkaitan dengan perasaan, rangsangan emosional, sikap atau nilai. Misalnya kita merasa terharu ketika membaca ulasan keberhasilan tukang becak menjadi sarjana, atau merasa benci dengan aktor A karena berperan jahat.
c) Dampak Konatif/Behavioral
Dampak pesan media massa sampai pada tahap Behavioral bila pesan-pesan yang disebarkan media massa mendorong untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu. Misalnya setelah menonton tayangan televisi atau membaca berita tentang Gempa Tsunami di Aceh kemudian segera mengirimkan bantuan uang dan makanan.
D. Televisi
Penyampaian informasi melalui televisi bersifat satu arah (One Way Communication) yang artinya komunikasi tidak berhubungan langsung
dengan komunikator, karena komunikator tidak bersifat individu melainkan kolektif. Sedangkan penonton atau komunikannya bersifat heterogen dan tidak saling mengenal dan memiliki karakteristik lainnya (Romli, 2016:91). 1. Fungsi Televisi Sebagai Media Massa
Harold Lasswell menyebutkan komunikasi massa mempunyai tiga fungsi, dimana setiap fungsi tidak berdiri sendiri melainkan akan saling menunjang (Romli, 2016 : 91-93)
a) The survilance of the environment
Yang berarti media massa bertindak sebagai pengamat lingkungan yang selalu akan memberikan berbagai informasi atas hal-hal yang tidak dijangkau oleh khalayak.
b) The correlations of the society in responding to the environment
Yang berati bahawa media massa itu lebih menekankan kepada pemilihan, penilaian, panafsiran, tentang apa yang patut disampaikan pada khalayak dengan demikian media massa dapat dinilai sebagai
“gate keeper” dari arus informasi.
21
2. Kelebihan dan Kekuragan Televisi
Bagaikan dua sisi mata uang, media televisi juga mempunyai kekuatan dan kelemahan. Media ini menjadi menjadi sebuah media yang mengena di hati masyarakat dan masih menjadi media dengan penonton terbanyak. Hampir seluruh rumah di Indonesia sekarang sudah mempunyai televisi. Kelebihan televisi antara lain jangkauan sangat luas, penayangan seketika, gabungan gambar, suara, dan warna, serta efek demonstrasi, penentuan waktu penayangan mudah, pengontrolan mudah. Sedangkan kelemahan televisi adalah cepet lewat serta berfrekuensi tinggi, relatif mahal, tidak ada segmentasi, pesan harus pendek, produk materi lama dan mahal (Romli, 2016 : 94)
E. Talkshow
Jenis program televisi dibedakan berdasarkan format teknis dan berdasarkan isi. Format teknis merupakan format umum yang menjadi acuan terhadap bentuk program televisi seperti talkshow, dokumenter, film, kuis, musik, instruksi, dan sebagainya. Berdasarkan isi perogram televisi berbentuk berita dapat dibedakan antara lain program hiburan, drama, olahraga, dan agama. Sedangkan program berita secara garis besar dikategorikan ke dalam hard news (peristiwa penting) dan soft news (berita ringan) (Romli, 2016 : 95).
Talkshow istilah yang digunakan di Amerika, di Inggis disebut chat show.
Talkshow adalah program televisi atau radio yang menampilkan seseorang
1. Jenis-jenis Format Talkshow
Terdapat tiga jenis format program talkshow dalam Fachruddin (2015:153-154), yaitu talkshow news, talkshow entertainment, dan talkshow sponsorship.
a) Talksshow news adalah program dialog yang dipandu oleh seorang
pembawa acara/moderator/host dengan beberapa narasumber sesuai dengan kebutuhan redaksi yang membahas konten aktual berkaitan dengan hardnews dari program berita mengenai isu hangat yang sedang di perbincangkan. Sebgai contoh program “Apa Kabar Indonesia” TV
One.
b) Talkshow entertainment adalah program dialog yang dipandu oleh host
yang sudah memiliki ketenaran (dominasi artis) dengan beberapa narasumber sesuai konsep produser atau tim kreatif. Konten yang dibahas berupa isu-isu hangat dan menarik untuk diperbincangkan.
Sebagai contoh program “Mata Najwa”, “Kick Andy”, “Indonesin Lawyers Club”.
c) Talkshow sponsorship adalah program dialog yang dipandu pembawa
23
2. Host Talkshow
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pembawa acara talkshow agar dapat membawakan program dengan baik :
a) Pembawa acara/host menguasai topik yang dibicarakan.
Hali ini sangat penting mengingat dalam program ini editor tidak dapat mengeksploitasi kretivitas visual dengan kecanggihan editing.
b) Host program talkshow harus memiliki jam terbang tinggi.
Pembawa acara harus memiliki keterampilan yang bisa menjiwai isu hangat yang sedang terjadi. Ia haruslah seorang wartawan yang memiliki jam terbang tinggi.
c) Host talkshow sebaiknya mempunyai pengalaman sebagai reporter, menguasai permasalahan secara umum, tajam dalam menggali informasi, penguasaan bahasa sopan, lugas namun tetap tegas dan teratur (Fachruddin, 2015 : 161).
3. Aspek Program Acara Talkshow
Program acara talkshow sendiri merupakan bagian dari produk jurnalistik yang hadir dalam media televisi dengan memanfaatkan fungsi audio visual yang dimiliki oleh media televisi. Terdapat tiga aspek yang dimiliki oleh acara talkshow sebagai produk jurnalistik (Adib, 2015:31) yaitu :
a) Pembawa acara (host)
yang santai, bersahabat, dan komunikatif mampu mengajak penonton untuk lebih antusias mengikuti tayangan tersebut.
b) Narasumber
Salah satu kelebihan televisi adalah khalayak dapat mendengar narasumber yang menuturkan kesaksiannya tentang suatu kejadian secara langsung. Hal ini tidak dapat ditemukan di media cetak. Dengan penampilan audio visual, penonton dapat melihat secara langsung bagaimana narasumber menjawab setiap pertanyaan. Penonton dapat mendengar jawaban-jawaban narasumber secara langsung dan melihat bagaimana narasumber meyampaikan jawaban tersebut. Baik dari sisi ekspresi, gestur maupun penampilan narasumber.
c) Bahasa
Dalam dunia jurnalistik, terdapat perbedaan dalam menggunakan bahasa. Bahasa formal ditekankan pada media cetak seperti koran dan majalah, sedangkan bahasa informal sering dipakai dalam jurnalistik televisi. Bahasa formal merupakan bahasa tulis yang kaku dan tidak menimbulkan intimacy, kecuali dalam penulisan khas seperti feature. Sementara itu, bahasa informal merupakan bahasa tutur yang memungkinkan terjadinya kontak antara komunikator dalam hal ini pembawa acara dengan narasumber atau juga audience.
F. Pesan
25
simbol, tanda-tanda atau kombinasi dari semuanya dan berfungsi sebagai stimulus yang akan direspons oleh penerima (Liliweri, 2011: 40). Apabila pesan berupa tanda, maka dapat membedakan tanda yang alami artinya tanda yang diberikan oleh lingkungan fisik, tanda yang sudah dikenal secara universal. Contoh, petir merupakan tanda hujan akan turun, asap merupakan tanda bahwa ada api.
Menurut Liliweri sekurang-kurangnya terdapat dua hal utama yang
terkandung di dalam “makna” pesan, yaitu :
1. Content meaning, yaitu makna literal yang suatu pesan yang sering kali ditampilkan secara verbal. Biasanya makna ini mudah dimengerti karena pesan selalu diucapkan atau ditulis dengan menggunakan bahasa yang sama di antara pengirim dan penerima.
2. Relationship meaning, yaitu makna pesan yang harus dipahami secara emosional (konotasi). Biasanya pesan yang dikirimkan atau diterima hanya bisa dipahami oleh para pihak yang sudah memiliki relasi tertentu.
1. Jenis-jenis Pesan
Pesan dapat dibagi menjadi dua yaitu pesan verbal dan pesan non verbal a) Pesan Verbal
Sekurang-kurangnya terdapat lima fungsi dasar dari bahasa menurut Liliweri (2011:339-400) :
1. Bahasa deskriptif, fungsi bahasa ini juga sering disebut sebagai fungsi informative karena melalui bahasa, manusia dapat menggambarkan pikiran dan perasaanya melalui ungkapan kata-kata dan kalimat kepada orang lain. Pada umumnya bahasa deskriptif ini menampilkan pesan-pesan berupa data dan fakta sebagaimana apa adanya kepada pihak lain.
2. Bahasa ekspresif, fungsi ekpresif dari bahasa ini terlihat ketika seseorang menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan perbuatan dengan mengungkapkan kata-kata verbal ditambah dengan visual dan vokal. Tekanan utama dalam bahasa ekspresif adalah cara penyampaian pesannya yang berbasis emosi. 3. Bahasa langsung, bahasa langsung yaitu bahasa yang dapat
diucapkan dan ditulis secara langsung dari sumber kepada penerima. Pada umumnya pesan berisi perintah atau anjuran dari pengirim kepada penerima untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
4. Bahasa seremonial, yaitu bahasa yang terstruktur berdasarkan tata aturan dan etika komunikasi yang berlaku. Aspeknya terletak pada aktivitas mengkomunikasikan pesan secara terprogram, dengan tujuan dan fungsi tertentu, dengan struktur sesuai etika.
27
langsung dengan mengarahkan penerima dengan ungkapan kata-kata yang hanya dimengerti dalam konteks penerima.
b) Pesan Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah semua aspek komunikasi selain kata-kata itu sendiri. Bahasa nonverbal dapat berupa bahasa tubuh, bahasa isyarat, ekspresi wajah dan kontak mata. (Andhita sari, 2017:45).
Terdapat sembilan bentuk perilaku nonverbal dan bagaimana cara menggunakannya untuk berkomunikasi.
1. Kinetik. Perilaku melalui posisi tubuh dan gerakan tubuh termasuk wajah, postur dan sikap tubuh dapat mengisyaratkan apakah memiliki sikap terbuka saat interaksi dengan orang lain.
2. Haptik. Perilaku melalui sentuhan fisik. Misalnya sentuhan tangan, sentuhan di punggung, mengelus-ngelus dan lain sebagainya.
3. Penampilan fisik. Penilaian tinggi yang diberikan orang lain atas diri kita karena penampilan. Misalnya kulit putih, rambut kriting, bibir tipis dan lain sebagainya.
4. Artefak. Komunikasi non verbal melalui yang diungkapkan melalui penampilan seperti pakaian, tubuh, kosmetik yang digunakan. Misalnya seorang dokter menggunakan seragam putih.
6. Faktor lingkungan. Diungkapkan dalam bentuk memeberi respon yang mempengaruhi bagaimana kita merasa dan bertindak. Misalnya merspon karena adanya bau, suara, pencahayaan dan lainnya.
7. Kronemis. Penggunaan waktu dalam komunikasi non verbal meliputi durasi yang di anggap cocok bagi suatu aktivitas, banyaknya aktovitas dalam jangka waktu tertenu, serta ketepatan waktu. Misalnya telat datang ke kantor atau saat kuliah.
8. Parabahasa. Diungkapkan dalam bentuk bukan kata-kata. Komunikasi ini meliputi suara bergumam, terengah-engah dan lainnya.
9. Keheningan. Komunikasi ini dapat mengkomunikasikan pesan yang sangat kuat. Misalnya, keheningan mengindikasikan kondisi canggung, atau hening mengindikasikan kenyamanan saat sendirian.
G. Citra Diri
Burn (1993) citra diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri sebagai makhluk yang berfisik. Sehingga citra diri sering
dikaitkan dengan karakteristik-karakteristik fisik termasuk di dalamnya
penampilan seseorang secara umum, ukuran tubuh, cara berpakaian, model
rambut dan pemakaian kosmetik. Sedangkan Maltz (1994) menyatakan citra
diri merupakan konsep yang dimiliki individu atas pilihannya sebagai
individu sendiri. Ini merupakan produk dari pengalaman masa lalu,
kesuksesan dan kegagalan, penghinaan dan reaksi orang lain terhadap dirinya.
29
1. Aspek Pembentuk Citra
Brown (1998) mengungkapkan bahwa ada tiga aspek dalam pengetahuan akan diri sendiri yaitu :
a. Dunia fisik (physical world)
Realitas fisik dapat memberikan suatu arti yang mana kita dapat belajar mengenai diri kita sendiri. Sumber pengetahuan dari dunia fisikal memberikan pengetahuan diri sendiri. Akan tetapi pengetahuan dari dunia fisik terbatas pada atribut yang bisa diukur dengan yang mudah terlihat dan bersifat subjektif dan kurang bermakna jika tidak dibandingkan dengan individu lainnya.
Jika dikaitkan dengan konsep pesan nonverbal maka ciri fisik yang melekat pada objek dapat dilihat melalui pesan artifaktual. Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan (tubuh, pakaian, dan kosmetik).
b. Dunia sosial (social world)
Dunia sosial sebagai sumber masukan untuk mencapai pemahaman akan citra diri yang diperoleh dari masukan lingkungan sosial individu. Proses pencapaian pemahaman diri melalui lingkungan sosial tersebut ada dua macam, yiatu:
- Penilaian yang tercerminkan. Pengetahuan akan diri individu tercapai dengan cara melihat tanggapan orang lain terhadap perilaku individu. Misalnya jika individu sering melakukan lelucon dan individu lain tertawa, hal itu dapat menjadi sumber pengetahuan bahwa dirinya lucu.
c. Dunia dalam/psikologis (inner/psychologycal world)
Sumber pemahaman ini berupa penilaian dari dalam diri individu, ada tiga hal yang dapat mempengaruhi pencapaian pemahaman akan citra diri individu, yaitu :
- Instrospeksi (introspection). Introspeksi dilakukan agar individu melihat kepada dirinya untuk mencari hal-hal yang menunjang dirinya. Misalnya seseorang yang merasa dirinya pandai, bila berintrospeksi akan melihat berbagai kejadian dalam hidupnya, bagaimana dirinya menyelesaikan masalah, menjawab pertanyaan, dan sebagainya.
- Proses mempersepsi diri (self perception process). Proses ini memiliki kesamaan dengan intropeksi, bedanya adalah bahwa proses mempersepsi diri dilakukan dengan mengingat kembali dan menyimpulkan seperti apa dirinya setelah mengingat-ingat ada tidaknya atribut yang dicarinya di dalam kejadian-kejadian di hidupnya. Sedangkan introspeksi dilakukan sebaliknya.
31
individu. Mengetahui alasan orang lain melakukan suatu perbuatan yang berhubungan dengan dirinya dapat membantu individu tersebut mengetahui bagaimana gambaran diri yang sebenarnya.
2. Citra Positif dan Citra Negatif
Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert (1976) dalam Rakhmat (2009: 105) ada lima tanda orang yang memiliki konsep diri negatif atau citra diri negatif :
1. Peka pada kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang akan membuatnya mudah marah. Baginya kritik hanya akan menjatuhkan harga dirinya. Mereka juga menghindari dialog yang terbuka.
2. Responsif terhadap pujian. Meskipun mungkin ia berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya saat dipuji.
3. Hiperkritis. Bersamaan dengan sikap senangnya menerima pujian mereka pun bersikap hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela, dan meremehkan apa pun dan siapa pun. Mereka tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pujian terhadap orang lain.
4. Merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan karena itulah ia berinteraksi dengan orang lain sebagai musuh sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia tidak akan menyalahkan dirinya dan menganggap dirinya sebagai korban. 5. Pesimis. Bersikap pesimis terhadap kompetisi, seperti enggan bersaing
Sebaliknya orang yang memiliki konsep diri positif atau citra diri positif ditandai lima hal :
1. Yakin akan kemampuannya mengatasi masalah. 2. Merasa setara dengan orang lain.
3. Menerima pujian tanpa rasa malu.
4. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat. 5. Mampu memperbaiki diri karena sanggup mengungkapkan
aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya
Sedangkan menurut D.E Hamachek terdapat sebelas karakter orang yang mempunyai konsep diri atau citra diri positif :
1. Meyakini betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya. Namun ia juga berani mengubah prinsip jika pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukan ia salah.
2. Mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah bersalah berlebihan. Menyesal tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.
3. Tidak membuang waktu untu mencemaskan apa yang akan terjadi hari esok, apa yang terjadi waktu lalu, dan apa yang terjadi waktu sekarang. 4. Mampu dan yakin mengatasi persoalan.
5. Merasa sama dengan orang lain.
6. Sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain.
33
8. Cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.
9. Sanggup mengaku pada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan sampai kepuasan.
10. Mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan, seperti pekerjaan, permainan, persahabatan.
11. Peka pada kebutuhan orang lain, dan terutama ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.
James K. Van Fleet 1997 dalam Efendi (2016:24-25) mengindenti-fikasikan citra diri yang positif dan negatif, yaitu :
a) Citra Diri Positif :
1. Memiliki rasa percaya diri yang kuat.
2. Berorientasi pada ambisi yang kuat dan mampu menentukan sasaran hidup.
3. Terorganisir dengan baik dan efisien (memiliki tujuan dari hari kehari).
4. Bersikap mampu.
5. Memiliki kepribadian yang menyenangkan. 6. Mempu mengendalikan diri
b) Citra Diri Negatif 1. Merasa rendah diri.
2. Kurang memiliki dorongan dan semangat hidup 3. Menunda waktu.
5. Pemalu dan menyendiri (karena mendapat kritik dari orang, hinaan, dan ejekan).
6. Hanya memiliki kepuasan sendiri.
H. Konsep Representasi Citra di Media Massa
Media massa memiliki andil besar dalam membangun sebuah image di masyarakat melalui tayangan-tayangan yang merepresentasikan kehidupan sebenarnya. Representasi menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah perbuatan mewakili, keadaan diwakili, apa yang mewaili, perwakilan. Eriyanto mengatakan secara istilah representasi itu sendiri merujuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan. Representasi ini penting dalam dua hal. Pertama, apakah seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut dalam teks ditampilkan sebagaimana mestinya. Kedua, bagaimana reresentasi tersebut ditampilkan (Badara, 2014:56).
Mufid mengatakan representasi biasanya dipahami sebagai gambaran sesuatu yang akurat atau realita yang terdistorsi. Representasi adalah suatu cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan. Konsep lama ini dasarkan pada premis bahwa ada sebuah gap representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan. Stuart Hall menyebut
“representasi sebagai konstruktif”. Representasi tidak hadir sampai setelah
35
Representasi adalah konstruktif dari sebuah kejadian dan dari bagian objek itu sendiri (Mufid, 2015:272-273).
Menurut Stuart Hall dalam (Adib, 2015:26), ada dua proses representasi, yakni :
1. Representasi mental, yaitu konsep tentang sesuatu yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual), representasi mental masih merupakan sesuatu yang abstrak.
2. Bahasa, yang berperan penting dalam konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada di kepala kita harus diterjemahkan dalam bahasa yang lazim, supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide tentang sesuatu dengan tanda dari simbol-simbol tertentu. Media sebagai pembentuk teks banyak menciptakan bentuk-bentuk representasi pada isinya. Representasi dalam media menunjukkan bagaimana seseorang atau kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam sebuah informasi.
Media massa, khususnya media televisi memang begitu dekat dengan konsep representasi. Televisi mampu membangun sebuah konstruksi melalui representasi. McQuail meyakini media sebagai cermin yang merefleksikan realitas sosial, sehingga apa yang kita saksikan di media merupakan gambaran yang sebenarnya atas realitas. Realitas sosial dihadirkan kembali oleh media lewat proses representasi dengan mengolah kembali realitas tersebut sehingga hadir dengan kemasan yang baru menjadi realitas media. Dalam hal ini termasuk konstruksi gambaran terhadap kelompok-kelompok tertentu. Seperti penggambaran akan sosok politisi, artis, organisasai atau perusahaan dengan kemampuan dan kapabilitas yang dimilikinya (Adib, 2015:28).
Realitas yang ditampilkan media adalah realitas yang sudah diseleksi sebelumnya, realitas tangan kedua (second hand reality). Untuk melihat bagaimana sebuah citra di tampilkan di media televisi, televisi biasanya memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan cenderung mengesampingkan tokoh lain. Kita sebagai pembaca cenderung memperoleh informasi semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media. Sehingga, kita membentuk citra mengenai lingkungan sosial kita berdasarkan relitas kedua yang ditampilkan oleh media massa (Rakhmat, 2009:224). Citra merupakan sebuah peta dalam diri kita tentang dunia. Citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus selalu sesuai dengan realitas. Citra adalah dunia menurut persepsi kita. Walter Lipman (1965) menyebutnya dengan
37
Sehingga dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa citra terbentuk berdasarkan informasi yang kita terima. Media massa bekerja untuk menyampaikan informasi untuk khalayak, informasi itu dapat membentuk, mempertahankan atau meredefinisikan citra. Menurut Mc Luhan media massa adalah perpanjangan alat indra kita. Karena dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang, atau tempat yang tidak kita alami secara langsung. Dunia terlalu luas untuk kita masuki semuanya. Media massa hadir menyampaikan informasi tentang lingkungan sosial dan politik. Dan televisi menjadi jendela kecil untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang jauh dari jangkauan alat indera kita (Rakhmat, 2009:224).
I. Teori Konstruksi Sosial Media Massa
Media massa televisi memiliki pengaruh yang cukup besar untuk menanamkan
pengaruh di benak masyarkat. Media masa televisi dengan kemampuan
menampilkan secara audio-visual mampu mengajak khalayak secara lebih.
Media berfungsi sebagai sarana informasi, persuasi, menghibur dan alat kontrol
sosial. Kekuatan inilah yang menjadikan media mampu membentuk opini
publik, mengarahkan opini publik, mempengaruhi perilaku baik secara sadar
maupun tidak sadar, mendefinisikan realitas, maupun memberi status dan
legitimasi.
Teori konstruksi sosial adalah sebuah teori yang menekankan pada pemahaman
mengenai dunia sebagai hasil konstruksi yang dilakukan secara bersama yang
membentuk dasar bagi asumsi-asumsi bersama tentang realitas yang dikenal
realitas sosial sebagai konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu, yang
merupakan manusia bebas. Individu menjadi penentu dalam dunia sosial yang
dikonstruksi berdasarkan kehendaknya. Dalam proses sosial, manusia
dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia
sosialnya, (https://dkv.binus.ac.id/2015/05/18/teori-konstruksi-realitas-sosial/ diakses 14 Januari 2020).
Istilah konstruksi atas realitas sosial (Social Construction Of Reality) menjadi
terkenal sejak diperkenalkan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann melalui
buku “The Social Construction of Reality, a Treatise in the Sociological of Knowledge” di tahun 1966. Ia menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu
realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif (Bungin, 2010: 13).
Ritzer 1992 berpandangan bahwa manusia adalah aktor yang kreatif dari
realitas sosialnya. Artinya, tindakan manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh
norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai dan sebagainya, yang semuanya
itu tercakup dalam fakta sosial yaitu tindakan yang tergambarkan struktur dan
pranata sosial. Dalam pandangan konstruktivisme, Dayat 1999 menyebut
realitas merupakan konstruksi sosial yang diciptakan individu. Namun
demikian, kebenaran suatu realitas sosial bersifat nisbi, yang berlaku sesuai
konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial (Bungin, 2010 : 11).
39
simultan melalui tiga proses sosial yaitu ekternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi. Tiga proses ini terjadi di antara individu satu dengan individu lainnya dalam masyarakat. Pada kenyataannya konstruksi sosial atas realitas berlangsung lamban, membutuhkan waktu lama dan pada tahun 1960-an dimana media belum menjadi sebuah fenomena yang menarik dibicarakan. Dengan demikian, teori konstruksi sosial atas realitas Peter L. Berger dan Luckmann tidak memasukan media sebagai variabel yang berpengaruh pada konstruksi sosial atas relitas (Bungin, 2010 : 193-194).
Bungin menuliskan bahwa substansi teori konstruksi sosial media massa adalah pada sirkulasi informasi yang cepat dan luas sehingga konstruksi sosial berlangsung dengan sangat cepat dan sebarannya merata. Realitas yang terkonstruksi itu juga membentuk opini massa, massa cenderung apriori dan opini massa cenderung sinis (Fachruddin, 2016 ; 302).
Bahasa merupakan alat utama sebagai penggambaran tentang sebuah realitas. Hakikat bahasa adalah sebuah sistem tanda yang dapat digunakan untuk memperjelas makna citra yang dikonstruksikan melalu media. Bahasa merupakan alat simbolis untuk mensignifikasi dimana logika ditambahkan secara mendasar kepada dunia sosial yang diobyektivasi (Bungin, 2010:17).
J. Analisis Isi
Analisis isi adalah metode ilmiah untuk mempelajari dan menarik kesimpulan
atas suatu fenomena dengan memanfaatkan dokumen (teks). Analisis isi
menurut Krippendorff adalah suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi yang dapat direplikasi (ditiru) dan sahih datanya dengan memperhatikan konteksnya (Eriyanto, 2015:15). Dalam penelitian komunikasi, analisis isi mempelajari isi media (surat kabar, radio, film dan televisi).
Menurut Hsieh & Shannon (2005) menyebutkan analisis isi kualitatif atau bisa disebut juga AIK adalah metode pnelitian untuk menafsirkan secara subjektif isi data berupa teks melalui proses klasifikasi sistematik berupa coding atau pengkodean dan pengidentifikasian aneka tema atau pola. Analisis isi kualitatif (aik) memanfaatkan sifat atau ciri bahasa sebagai bentuk komunikasi. Tujuannya adalah mengungkapkan isi atau makna dari sebuah teks menurut atau sesuai konteksnya. Dapat dikatakan analisis isi kualitatif adalah metode untuk menganalisis pesan-pesan komunikasi baik yang bersifat tertulis, lisan, atau visual. Elo & Kyangas (2008) menyebutnya sebagai metode untuk menganalisis dokumen (Supratiknya, 2015 : 123).
41
mengungkapkan komunikasi yang bersifat ekplisit maupun implisit (Supratiknya, 2015 : 123-124 ).
Sebagai sebuah proses penelitian, AIK mencakup tiga tahapan besar, yaitu : pengumpulan data, organisasi data, analisis data. Pengumpuan data bisa dilakukan antara lain observasi atau wawancara, termasuk focus group discussion (FGD). Dalam organisasi data, rekaman wawancara atau observasi
perlu ditranskripkan, data berupa teks atau gambar perlu di fotokopi atau dipindai secara optis, serta catatan lapangan perlu diketik. Selanjutnya seluruh data perlu ditata dan disusun mengikuti sistematika tertentu. Setelah data diorganisasikan dengan baik maka analisisi data siap dilakukan (Supratiknya, 2015 : 127).
1. Konsep penting dalam AIK
Konsep-konsep ini sekaligus merupakan unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam melakukan AIK. Konsep-konsep yang dimaksud adalah sebagai berikut (Graneheim & Lundman, 2004)
a. Isi manifes & isi laten
Isi manifes adalah unsur-unsur teks yang tampak atau gamblang sedangkan isi laten adalah makna sesungguhnya yang ingin di ungkapkan oleh teks yang hanya bisa ditangkap dengan menafsirkan. b. Satuan analisis
c. Satuan makna
Satuan makna adalah kata-kata, kalimat, paragraf yang mengandung aspek saling berkaitan satu sama lain melalui isi dan konteksnya.
d. Meringkas Teks
Terdiri dari reduksi atau pemotongan, distilasi atau penyaringan, dan kondensasi atau pemadatan.
e. Abstraksi
Abstraksi dalah proses menemukan intisari sebuah teks dalam proses kondensasi.
f. Kawasan isi
Kawasan isi (content area) adalah bagian-bagian teks yang mengungkapkan isu spesifik tertentu yang bersifat gamblang yang bisa diidentifikasi untuk di interpretasi.
g. Kode
Kode adalah label atau nama untuk sebuah satuan makna. Kode berguna sebagai sarana alat untuk berfikir. Memberi kode atau nama pada satuan makna akan mempermudah penafsiran.
h. Kategori
43
i. Tema
Tema adalah benang merah makna tersembunyi yang menghubungkan aneka satuan makna, kode, atau kategori pada taraf interpretasi. Tema mendeskripsikan aspek tertentu dari struktur pengalaman orang terhadap suatu fenomena.
2. Pendekatan analisis isi kualitatif
Secara umum menurut (Elo & Kyngas, 2008) terdapat dua pendekatan AIK, yaitu pendekatan induktif dan pendekatan deduktif. Hsieh & Shannon 2005 menyebut pendekatan induktif sebagai pendekatan konvensional, sedangkan pendekatan deduktif sebagai direct content analysis atau analisis terarah (Supratiknya, 2015 : 126).
a. Pendekatan Induktif : Analisis Isi Konvensional
Pendekatan induktif atau analisis isi konvensional bertujuan mendeskripsikan sebuah fenomena bertolak dari fakta-fakta spesifik yang terdapat dalam data. Pendekatan ini cocok dipilih jika belum ada atau hanya tersedia sedikit teori atau hasil-hasil penelitian sehingga belum tersedia pengetahuan yang cukup utuh tentang fenomena yang diteliti.
dan kemudian menggabungkan atau menyusunnya menjadi satuan lebih besar berupa rumusan umum (Supratiknya, 2015 : 126-127)
Dalam analisis isi induktif atau konvensional, proses analisis data yaitu dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini :
1. Memilih dan menentukan satuan analisis. Satuan analisis paling sesuai adalah data keseluruhan hasil wawancara atau observasi terhadap fenomena yang sudah ditranskrip.
2. Membaca keseluruhan data secara berulangkali agar memperoleh kesan tentang data secara keseluruhan.
3. Melakukan open coding atau pengkodean dengan menciptakan aneka kode secara terbuka berdasarkan apa yang muncul dari data. 4. Memilih aneka kode yang berhasil ditemukan ke dalam sejumlah
kategori berdasarkan hubungan kesamaan isi atau makna dari masing-masing kode. Dengan kata lain, daftar kode yang ditemukan sebelumnya kini dikelompokan kembali dibawah judul baru yang lebih luas.
5. Mengidentifikasikan dan menemukan hubungan antar kategori pada tingakat yang lebih tinggi dan merumuskannya kedalam tema. 6. Membuat interpretasi atau merumuskan makna dari keseluruhan
temuan yang diperoleh.
b. Pendekatan Deduktif : Analisis Isi Terarah
45
menguji kembali kategori-kateori, konsep-konsep, model-model, atau hipotesis-hipotesis yang sudah pernah diperoleh dalam sebuah konteks baru. Mirip dengan pendapat tersebut, Hsieh & Shannon 2005 menyatakan bahwa analisis terarah bertujuan untuk memvalidasi (mengakaji ulang) sebuah kerangka teoritis atau bahkan sebuah teori (Supratiknya, 2015 : 129:130)
Hsieh & Shannon 2005 menyebutkan disini teori atau hasil penelitian sejenis dipakai untuk membantu merumuskan pertanyaan penelitian atau membantu menentukan skema awal pengkodean atau sekema awal hubungan antar kode (Supratiknya, 2015 ; 130). Pelaksanaan analisis isi terarah berbasis penerapan kategori secara deduktif ini akan mencakup langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menyusun sebuah matriks kategorisasi.
2. Melakukan coding atau pengkodean. Teknik pengkodean analisis terarah dapat dilakukan menggunakan dua strategi. Strategi pertama, mencakup (1) membaca seluruh transkrip yang merupakan
kode-kode yang sudah ditentukan dalam matriks kode-kode. Data yang tidak termasuk ke dalam salah satu kode di analisis apakah data masuk ke subkategori yang sudah ditentukan atau kategori baru.
K. Kerangka Pikir
Media massa memiliki peranan penting dalam pembentukan citra seseorang, perusahaan atau organisasi tertentu. Media massa mampu merepresentasikan citra melalui produk-produk media itu sendiri. Media televisi sebagai media audio visual mempu memberi efek yang lebih bagi khalayak dibanding media-media lainnya. Melalui televisi penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikasi dan informasi. Informasi yang disampaikan televisi lebih mudah dimengerti karena jelas terdengar secara audio dan terlihat secara visual.
Televisi memiliki juga berperan sebagai media pembentuk citra. Pembentukan citra dilakukan melalui produk – produk televisi seperti film, iklan, berita, infotainment dan produk televisi lainnya. Citra seseorang maupun perusahaan juga bisa diketahui melalui program acara talkshow. Talkshow adalah program televisi yang mengusung tema perbincangan antara
host dengan narasumber untuk membahas topik-topik tertentu atau topik
47
Dalam penelitian ini, perangkat audio visual yang dimiliki televisi memiliki peranan penting dalam proses representasi itu sendiri. Elemen representasi pada acara talkshow Mata Najwa terdiri dari tanda verbal dan nonverbal. Tanda verbal atau bahasa verbal adalah bahasa tutur yang diucapkan oleh pembawa acara atau host maupun narasumber berupa dialog. Dialog ini merupakan point utama yang akan lebih menjelaskan mengenai representasi citra keluarga Jokowi. Dialog ini lah yang menjadi sarana peneliti untuk mengkaji aspek sosial dengan sub kajian kepribadian atau karakter dari masing-masing anggota keluarga Jokowi. Dalam aspek sosial peneliti mengkaji aspek jokowi sebagai kepala presiden (politisi) dan sebagai orang biasa (orisinilitas) begitu pula dengan anggota keluarga, sebagai anggota keluarga dari presiden dan sebagai orang biasa.
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian Sumber : olahan peneliti 2019 Analisis Isi Hsieh & Shannon 2015
Aspek fisik
Penampilan 1. Cara
berpakaian 2. Gaya rambut 3. Bentuk tubuh
Aspek sosial
Dialog yang dibangun antara host dan narasumber Tayangan Mata Najwa
Episode “Rahasia Keluarga
Jokowi
Citra Keluarga Jokowi Aspek Psikis