EFEKTIVITAS PEMBERIAN PAKAN ALAMI Artemia Specific Pathogen free (SPF) Vibrio sp. TERHADAP INSIDENSI VIBRIOSIS DAN
PERTUMBUHAN PADA PEMELIHARAAN POST LARVA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)
Skripsi
Oleh
MUHAMMAD TOTO WIYATANTO
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
EFEKTIVITAS PEMBERIAN PAKAN ALAMI Artemia Specific Pathogen free (SPF) Vibrio sp. TERHADAP INSIDENSI VIBRIOSIS DAN
PERTUMBUHAN PADA PEMELIHARAAN POST LARVA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)
Oleh
MUHAMMAD TOTO WIYATANTO
Penelitian ini bertujuan mengetahui mengetahui efektivitas pemberian Artemia Specific Pathogen Free (SPF) Vibrio sp. terhadap insidensi vibriosis dan pertumbuhan pada post larva udang vaname (Litopenaeus vannamei). Rancangan penelitian yang digunakan adalah dua perlakuan dan tiga ulangan, yaitu perlakuan A (Pemberian pakan udang vaname PL stadia 1-10 dengan Artemia non SPF Vibrio sp.) dan B (Pemberian pakan udang vaname PL stadia 1-10 dengan Artemia SPF Vibrio sp.). Parameter yang diamati meliputi Total Vibrio Count (TVC) pada PL udang vaname dan kualitas air pemeliharaan, pertumbuhan panjang PL udang vaname, kelangsungan hidup PL udang vaname, pH, suhu, salinitas dan oksigen terlarut (DO). Data parameter TVC, pertumbuhan panjang dan kelangsungan hidup udang vaname diuji menggunakan uji T dengan taraf signifikan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan alami Artemia SPF Vibrio sp. memberikan pengaruh terhadap efektifitas nilai insidensi vibriosis pada Post Larva udang vaname sebesar 0,30%, pertumbuhan mutlak sebesar 4,44 mm, pertumbuhan harian sebesar 0,5 mm dan tingkat kelangsungan hidup sebesar 74,4%.
ABSTRACT
THE EFFECTIVENESS OF NATURAL FEED Artemia Specific Pathogen Free (SPF) Vibrio sp. ON VIBRIOSIS INCIDENCE AND
GROWTH IN POST LARVA PACIFIC WHITE SHRIMP CULTURE (Litopenaeus vannamei)
By
MUHAMMAD TOTO WIYATANTO
This study was aimed to find out the effectivity of natural feed Vibrio-Artemia Specicifc Pathogen Free (SPF) toward vibriosis incidence and growth performance in Pacific white shrimp post larvae. The experimental design used two treatments, shrimp fed with Artemia non Vibrio-Artemia Specicifc Pathogen Free (SPF) as control (treatment A) and shrimp fed with Vibrio-Artemia Specicifc Pathogen Free (SPF) (treatment B), each with thriplicate. Total Vibrio Count (TVC) on shrimp and cultivation water media, daily growth rate and survival rate of Pacific white shrimp were evaluated after 10 days treatment. The water quality (pH, temprature, salinity and disolved oxygen) were daily measured during experiment. Data (TVC, growth rate, and SR) was analyzed by ANOVA and followed by T-test in 95% degree significant. The results showed that Artemia SPF Vibrio sp. was decrease in the vibriosis insidence of reach 5 folds (0,30%) in post larvae Pacific white shrimp culture, increase in absolute growth rate reaching 4,44 mm, daily growth rate reaching 0,5 mm and survival rate 74,4%. The study struggest in application of natural feed Vibrio-Specific Pathogen Free to control vibriosis and growth performance in Pacific white shrimp post larva cultivation.
EFEKTIVITAS PEMBERIAN PAKAN ALAMI Artemia Specific Pathogen free (SPF) Vibrio sp. TERHADAP INSIDENSI VIBRIOSIS DAN
PERTUMBUHAN PADA PEMELIHARAAN POST LARVA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)
Oleh
MUHAMMAD TOTO WIYATANTO
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERIKANAN
Pada
Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Judul Skripsi : EFEKTIVITAS PEMBERIAN PAKAN ALAMI Artemia Specific Pathogen Free (SPF) Vibrio sp. TERHADAP INSIDENSI VIBRIOSIS DAN PERTUMBUHAN PADA PEMELIHARAAN POST LARVA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)
Nama Mahasiswa : Muhammad Toto Wiyatanto No. Pokok Mahasiswa : 1514111040
Program Studi : Budidaya Perairan
Fakultas : Pertanian
MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing
Dr. Agus Setyawan, S.Pi., M.Si. NIP 198408052009121003
Berta Putri, S.Si., M.Si. NIP 198109142008122002
2. Ketua Jurusan Perikanan dan Kelautan
MENGESAHKAN
1. Tim Penguji
Ketua : Dr. Agus Setyawan, S.Pi., M.Si.
Sekretaris : Berta Putri, S.Si., M.Si.
Penguji
Bukan Pembimbing : Wardiyanto, S.Pi., M.P.
2. Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si. NIP 196110201986031002
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar
akademik (Sarjana/Ahli Madya), baik di Universitas Lampung maupun di Perguruan Tinggi lainnya.
2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri, tanpa
bantuan pihak lain, kecuali arahan Tim Pembimbing.
3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis
atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan naskah, dengan naskah disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka
saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis ini serta sanksi lainnya yang sesuai dengan norma yang berlaku di Perguruan Tinggi ini.
Bandar Lampung, Januari 2020
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada 19 Oktober 1996
sebagai anak pertama dari dua bersaudara, putra pasangan Bapak Dedeng Agus Susanto dan Ibu Khusnul Sofiah. Penulis menempuh jenjang pendidikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5
Sumberejo Bandar Lampung pada tahun 2003, kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 14 Bandar Lampung pada tahun 2009. Dan
melanjutkan Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Kota Agung, Lampung pada tahun 2012.
Penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung S-1 pada tahun 2015. Selama menjadi
mahasiswa, penulis pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Biologi Akuatik
pada tahun 2017, Ekologi Perairan pada tahun 2018, Biologi Laut pada tahun 2018, Manajemen Pakan Ikan tahun 2018 dan Ikan Hias pada tahun 2018. Selain itu, penulis juga aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Perikanan dan
Kelautan (HIMAPIK). Penulis telah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sukamarga, Abung Tinggi, Lampung Utara pada Bulan Januari-Maret 2018
PERSEMBAHAN
Atas Ridho Allah S.W.T dan dengan segala kerendahan hati
Kupersembahkan skripsiku ini kepada:
Ayahanda Dedeng Agus Susanto
Ibunda Khusnul Sofiah
Apa yang aku berikan tidak akan pernah mampu membalas kebaikan dan kasih sayang kalian, namun untuk saat ini hanya inilah yang dapat aku berikan dalam
bentuk penyelesaian kuliahku
Semoga ini bisa sedikit
Menghilangkan setumpuk rasa lelah yang mereka rasakan
ix
MOTTO
Tetap semangat dalam setiap keadaan
Selalu bersyukur terhadap nikmat
Dan ujian dari Allah SWT
(M. Toto Wiyatanto).
Ingatlah siapa kita dan dimana tempat kita berdiri
Sebab manusia adalah makhluk sosial yang tidak
bisa hidup tanpa manusia lainnya
(M. Toto Wiyatanto)
Manusia kreatif tidak akan pernah menyalahkan perkakasnya
x SANWACANA
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah S.W.T yang telah memberikan kesehatan, kekuatan dan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan
penelitian dan penyusunan laporan penelitianyang berjudul “Efektivitas Pemberian Pakan Alami Artemia Specific Pathogen Free (SPF) Vibrio sp. Terhadap Insidensi Vibriosis dan Pertumbuhan Pada Pemeliharaan Post Larva
Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)”dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan di Universitas Lampung.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
(1) Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
(2) Ibu Ir. Siti Hudaidah, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
(3) Bapak Dr. Agus Setyawan, S.Pi., M.Si., selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran, dukungan, saran, dan motivasi sehingga proses penyelesaian skripsi berjalan dengan
(4) Ibu Berta Putri, S.Si., M.Si., selaku dosen pembimbing kedua yang telah
memberikan saran dan masukkan selama penelitian sehingga mempermudah proses penyelesaian skripsi.
(5) Bapak Wardiyanto, S.Pi., M.P., selaku dosen penguji yang telah sabar dan banyak memberikan masukan selama kegiatan dan penyusunan laporan penelitian.
(6) Bapak Limin Santoso, S.Pi., M.Si., selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan nasihat, bimbingan dan motivasi selama menjalani studi.
(7) Bapak dan Ibu dosen Jurusan Perikanan dan Kelautan yang telah memberikan ilmu dan motivasi selama menjalani studi di Jurusan Perikanan dan Kelautan. (8) Orang tuaku tersayang (Ayah dan Bunda) dan adikku Syafhina Mutiara
Ramadanthy yang selalu mendoakan dan memberi dukungan serta semangat yang tiada hentinya hingga saya bisa menyelesaikan skripsi ini.
(9) Santrika Khanza yang mendampingi selama masa perkuliahan.
(10) Teman-teman Budidaya Perairan angkatan 2015, yang tidak dapat dituliskan satu persatu.
(11) Bapak Adi, Bapak Waiso, Ika Rahayu, Ema Rahmawati dan Rizka Ramalia yang telah memfasilitasi dan berkontribusi dalam berjalan nya penelitian ini.
Bandar Lampung, Januari 2020 Penulis,
ii DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ...v
I. PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang...1
B. Tujuan Penelitian...3
C. Manfaat Penelitian...4
D. Kerangka Pikir...4
E. Hipotesis ...6
II. TINJAUAN PUSTAKA ...7
A. Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) ...7
1. Klasifikasi Udang Vaname ...7
2. Morfologi Udang Vaname ...7
3. Habitat Udang Vaname...8
4. Siklus Hidup Udang Vaname ...9
5. Kualitas Air Habitat Vaname...10
6. Manajemen Pemeliharaan Larva ...11
a. Persiapan Pemeliharaan Larva ...11
b. Kebiasaan Makan ...11
c. Manajemen Kualitas Air ...13
7. Frekuensi Pemberian Pakan Artemia sp. Stadia PL...14
B. Artemia sp...14
1. Klasifikasi Artemia sp. ...14
2. Morfologi Artemia sp. ...15
3. Siklus Hidup Artemia sp. ...15
C. Bakteri Vibrio sp. ...16
1. Klasifikasi Vibrio sp. ...16
2. Morfologi Vibrio sp. ...17
3. Vibriosis...18
III. METODOLOGI...20
A. Waktu dan Tempat...20
ii
C. Racangan Penelitian ...21
D. Prosedur Penelitian ...22
E. Pengukuran Parameter ...23
1. Penghitungan Bakteri Vibrio sp. ...23
2. Penghitungan Tingkat Insidensi Vibriosis ...27
3. Pertumbuhan Panjang Udang Vaname ...27
4. Kelangsungan Hidup...28
5. Kualitas Air...29
F. Analisis Data ...29
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...30
A. Hasil...30
1. Total Vibro Count (TVC) ...30
2. Tingkat Insidensi Vibriosis ...32
3. Pertumbuhan Panjang PL Udang Vaname...33
a. Pertumbuhan Panjang PL Udang Vaname...33
b. Laju Pertumbuhan Harian Udang Vaname ...34
4. Kelangsungan Hidup Udang Vaname...34
5. Parameter Kualitas Air...35
B. Pembahasan ...36
V. SIMPULAN DAN SARAN...41
A. Simpulan...41
B. Saran ...41
DAFTAR PUSTAKA ...42
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Dosis dan frekuensi pemberian pakan Artemia sp. stadia PL 1-10...14
2. Alat-alat yang digunakan selama penelitian ...20
3. Bahan yang digunakan selama penelitian ...21
4. Tingkat insidensi vibriosis pada PL udang vaname...32
5. Laju pertumbuhan harian selama penelitian ...34
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka pikir penelitian...6
2. Struktur tubuh udang vaname ...8
3. Siklus hidup udang vaname ...10
4. Morfologi Artemia sp. ...15
5. Morfologi bakteri Vibrio sp. ...18
6. Letak perlakuan penelitian ...22
7. TVC pada sampel udang vaname dari setiap ulangan perlakuan...30
8. TVC pada media air pemeliharaan PL udang vaname...31
9. Pertumbuhan panjang PL udang vaname stadia 1–10 ...33
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Analisis sidik ragam TVC pada sampel PL udang vaname ...48
2. Analisis sidik ragam TVC pada sampel air pemeliharaan ...50
3. Analisis sidik ragam pertumbuhan panjang PL udang vaname ...52
4. Analisis sidik ragam pertumbuhan panjang harian PL udang vaname ...54
5. Analisis sidik ragam kelangsungan hidup PL udang vaname...56
6. Tata letak perlakuan ...58
7. Persiapan wadah pemeliharaan ...58
8. Pembuatan media TBCS ...59
9. Inokulasi bakteri dari sampel udang vaname dan sampel air ...59
10. Pengukuran kualitas air ...60
11. Alat dan bahan ...61
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Udang vaname merupakan komoditas unggulan Indonesia yang diminati untuk ekspor sebagai bahan pangan yang memiliki cukup nutrisi khususnya protein untuk kebutuhan hidup manusia. Keunggulan lain dari udang vaname adalah
memiliki pertumbuhan yang relatif cepat (Amri, 2008), toleransi terhadap lingkungan yang cukup baik, mampu hidup di kolom air sehingga pemanfaatan
ruang lebih efisien (Hudi dan Shahab, 2005).
Berdasarkan data ekspor milik KKP bulan september 2018 yang menyatakan bahwa dari sisi nilai, udang menjadi komoditas unggulan ekspor Indonesia yang
menyumbang devisa sebesar USD 1,3 Milyar atau 36,96% dari total nilai ekspor. Amerika Serikat, Jepang, Belanda dan China merupakan pasar utama ekspor
udang Indonesia. Berdasarkan sisi nilai ekspor udang, keempat negara tersebut mencapai 89,34% atau sebesar USD 1,16 Milyar dari keseluruhan udang yang diekspor Indonesia (KKP, 2018).
Pengembangan budidaya udang vaname dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas melalui budidaya udang secara intensif maupun super intensif dengan padat tebar tinggi, pemberian pakan yang optimal, dan tanpa penggunaan
2 udang yang memiliki standar kualitas ekspor. Untuk menghasilkan benih udang yang memiliki standar kualitas ekspor, benih udang atau benur harus memiliki kriteria ukuran yang seragam, panjang benih > 6 mm, aktif berenang secara
menyebar dan melawan arus, tubuh berwarna bening transparan, serta bebas dari infeksi virus dan bakteri (Kordi dan Tancung, 2007).
Kasus yang umumnya terjadi pada panti benih dan tambak pembesaran udang intensif yaitu menurunnya kualitas air karena pengelolaan pemberian pakan yang kurang tepat dan sesuai dengan kebutuhan pakan udang dapat memicu terjadinya
patogenitas (Suriadnyani & Aryani, 2017). Salah satu penyebab patogenitas ketika kualitas air menurun adalah meningkatnya kepadatan bakteri dari genus Vibrio sp yang menyebabkan vibriosis sehingga kematian udang dapat mencapai 100%
pada stadia larva dan juana (Amri,2008).
Vibriosis diketahui menyerang udang mulai dari stadia larva di panti pembenihan
dan juana hingga udang dewasa yang dipelihara pada tambak pembesaran. Vibriosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari genus Vibrio sp. seperti V. harveyi, V. alginolyticus, V. parahaemolyticus dan V. penaecida
(Asplund, 2013). Jenis bakteri ini dapat berkembang cepat jika bahan organik dalam air tambak banyak dan dapat menyebabkan mortalitas hingga mencapai
85% (Kharisma & Manan, 2012).
Dalam kegiatan budidaya untuk menghasilkan PL udang yang berkualitas
diperlukan ketersediaan pakan alami yang berkualitas, karena penggunaan pakan
3 Artemia memiliki kandungan nutrisi tinggi yang merupakan sumber daya tahan
tubuh larva, ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut PL udang, dan penggunaannya yang praktis (Van Hoa et al., 2011).
Pengunaan Artemia sebagai pakan PL udang juga dapat menjadi agen pembawa bakteri Vibrio sp., hal ini dibuktikan oleh Lopez-Torres (2001) yang mengisolasi
bakteri pada media TCBS dari kista Artemia yang telah ditetaskan di laboratorium (kondisi steril) ditemukan adanya koloni bakteri Vibrio pada kisaran 106-107 CFU/mL. Vershuere et al. (2000) menyebutkan bahwa Artemia sp. bisa menjadi
agen pembawa bakteri Vibrio sp. karena bakteri Vibrio telah diindentifikasi sebagai patogen mematikan untuk Artemia sp. yang akan dimakan oleh benih
udang.
Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa sangat dibutuhkannya pakan alami berupa Artemia sp. yang bebas dari kontaminasi bakteri Vibrio sp. Oleh karena itu
penelitian ini menggunakan pakan alami Artemia Specific Pathogen Free (SPF) Vibrio sp. yang memiliki kualitas unggul bebas dari kontaminasi bakteri spesifik
Vibrio sp. serta memiliki kandungan protein berkisar sebesar 63% yang
menunjang pertumbuhan post larva udang vaname.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian Artemia SPF (Specific Pathogen Free) Vibrio sp. terhadap insidensi vibriosis dan
4 C. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai efektifitas pemberian Artemia SPF Vibrio sp. sebagai pakan alami terhadap insidensi
vibriosis dan pertumbuhan pada udang vaname (Litopenaeus vannamei).
D. Kerangka Pikir
Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu spesies budidaya
unggulan. Tercatat pada tahun 2013 nilai ekspor udang vaname di Indonesia berkontribusi sebesar 33,1 % dan meningkat sebanyak 3,87% dari nilai kontribusi
tahun 2012. Udang vaname banyak diminati untuk dibudidaya karena memiliki banyak keunggulan, diantaranya pertumbuhan relatif cepat, dapat memanfaatkan ruang secara efisien, dan toleran terhadap perubahan lingkungan.
Serangan penyakit pada budidaya udang intensif merupakan kendala utama dalam pengembangan usaha budidaya udang karena menimbulkan kematian relatif
tinggi. Berbagai macam agen penyebab penyakit diantaranya bakteri, virus dan jamur yang akan muncul apabila terjadi ketidakseimbangan antara inang, agen
patogen, dan lingkungan.
Salah satu penyakit yang mudah timbul pada budidaya udang adalah vibriosis. Vibriosis disebabkan oleh bakteri genus Vibrio seperti V. harveyi, V.
alginolyticus, V. parahaemolyticus dan V. penaecida, apabila populasi Vibrio sp.
lebih banyak dibanding populasi bakteri lainnya menyebabkan terjadinya penurunan tingkat kelulushidupan udang pada masa pembenihan hingga
5 Efek patogenitas menyebabkan terjadinya serangan bakteri Vibrio sp. yang
menyerang udang di tambak maupun panti pembenihan udang ketika kualitas air menurun, kualitas pakan kurang baik dan sistem imun udang yang menurun. Salah
satu cara pencegahan serangan bakteri Vibrio sp. dengan pemberian pakan berkualitas yang bebas kontaminasi dari bakteri serta memiliki kualitas yang
unggul untuk pertahanan dan pertumbuhan tubuh udang. salah satu pakan berkualitas yang banyak digunakan untuk stadia larva udang yaitu Artemia sp.
Hasil penelitian menunjukan bahwa bakteri Vibrio mampu berperan sebagai agen
pembawa patogen mematikan untuk Artemia sp. Selain itu Artemia dilaporkan sebagai agen pembawa bakteri Vibrio dalam budidaya udang. Beberapa kasus yang telah ditemukan adalah kematian udang karena vibriosis berasal dari sistem
pencernaan yang terinfeksi oleh bakteri Vibrio sp. sehingga kehilangan nafsu makan dan menyebabkan terganggunya sistem imunitas hingga kematian.
Pakan alami yang digunakan dalam penelitian ini adalah Artemia SPF Vibrio sp. beberapa keunggulan Artemia SPF Vibrio antaralain, bebas kontaminasi bakteri Vibrio sp., disajikan dalam bentuk pasta sehingga memudahkan dalam pemberian
pakan PL udang vaname dengan instan, dapat bertahan hidup selama 48 jam, harga yang relatif tidak berbeda jauh dari Artemia non SPF dan penggunaannya
efektif sebagai pakan alami udang vaname khususnya untuk stadia pembesaran dari stadia mysis–PL. Nauplii Artemia mengandung protein 60% sedangkan Artemia dewasa mencapai 40% berat kering. Kerangka pikir pada penelitian dapat
6 Gambar 1. Kerangka pikir penelitian
E. Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah:
Ho;µo = 0 : Pakan alami Artemia SPF Vibrio sp. tidak berpengaruh terhadap
insidensi vibriosis dan prtumbuhan pada post larva udang vaname (Litopenaeus vannamei)(α = 0,05).
H1;µo = 1 : Pakan alami Artemia SPF Vibrio sp. berpengaruh terhadap insidensi
vibriosis dan pertumbuhan post larva udang vaname (Litopenaeus vannamei)(α = 0,05)
Budidaya udang vaname intensif
Rentan terkena penyakit vibriosis
Dibutuhkan pencegahan sejak dini
Penggunaan Artemia SPF Vibrio sp.
Peningkatan SR udang vaname - Mencegah insidensi vibriosis.
- Meningkatkan pertumbuhan
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) 1. Klasifikasi Udang Vaname
Menurut Wyban et al. (1991), klasifikasi udang vaname sebagai berikut :
Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Crustacea Subkelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Subordo : Dendrobrachiata Family : Penaeidae Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei
2. Morfologi Udang Vaname
Udang vaname memiliki dua bagian tubuh, yaitu bagian kepala dan bagian badan.
Bagian kepala udang vaname disebut juga cephalothorax yang menyatu dengan bagian dada, bagian ini terdiri dari 13 ruas. Bagian badan udang vaname terdiri
8 Udang vaname banyak dibudidayakan karena memiliki berbagai keunggulan, seperti pertumbuhan cepat (3 gram/minggu), kebutuhan protein yang rendah (20-34%) dapat dibudidayakan pada salinitas rendah (0,5-4,5 ppt), dan padat
penebaran yang tinggi >150 ekor/m2, selain itu udang vaname tahan terhadap penyakit (Briggs et al., 2004). Berikut morfologi tubuh udang vaname beserta
[image:25.595.157.467.258.436.2]keterangannya dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Stuktur tubuh udang vaname (Haliman dan Adijaya, 2005)
3. Habitat Udang Vaname
Secara alami udang vaname termasuk jenis katadromus, dimana udang dewasa hidup di laut terbuka dan udang muda bermigrasi ke arah pantai. Udang vaname yang telah matang gonad, kawin dan bertelur biasanya berada pada perairan lepas
pantai sampai dengan kedalaman sekitar 70 meter pada suhu 26-28ºC dan salinitas sekitar 35 ppt. Sifat biologis udang vaname yaitu bergerak aktif pada
9 dibawah 15ºC atau di atas 33ºC selama 24 jam. Udang vaname bersifat kanibal, dimana organ sensor berfungsi untuk mencari makan (Wyban dan Sweeny, 2000).
4. Siklus Hidup Udang Vaname
Menurut Haliman dan Adijaya (2005) siklus hidup udang vaname terbagi menjadi sebagai berikut :
1. Nauplius
Stadia nauplius larva udang berukuran 0,32-0,58 mm. Stadia nauplius memiliki sistem pencernaan yang belum sempurna dan cadangan makanan masih berupa
kuning telur sehingga belum membutuhkan makanan dari luar. Pada fase ini larva mengalami enam kali pergantian bentuk dari nauplius I-VI kemudian berubah
menjadi stadia zoea dalam waktu sekitar 15-24 jam.
2. Zoea
Larva zoea berukuran 1,05-3,30 mm, pada stadia ini larva udang mengalami
molting sebanyak 3 kali yang dikenal dengan stadia zoea 1, zoea 2, dan zoea 3. Stadia zoea 1 dan zoea 2 masing-masing akan berkembang dalam waktu 2 hari, sedangkan zoea 3 akan berkembang menjadi mysis (M-1) dalam waktu 1 hari.
Pergantian kulit pada stadia ini zoea sebelum memasuki stadia berikutnya sekitar 4-5 hari.
3. Mysis
Ukuran larva pada stadia berkisar 3,50-4,80 mm, stadia mysis berlangsung selama 4-5 hari, bentuk tubuh stadia mysis mirip udang dewasa. Pergerakan stadia mysis
10 4. Post Larva
Stadia post larva memiliki bentuk tubuh seperti udang dewasa, hitungan stadia post larva berdasarkan hari. Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda
yang berambut (setae) yang berguna untuk berenang. Stadia larva hidup pada dasar perairan, dengan pakan yang dibutuhkan berupa zooplankton. Siklus hidup
[image:27.595.142.483.266.430.2]udang vaname dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Siklus hidup udang vaname (Litopenaeus vannamei) (Warsito, 2012)
5. Kualitas Air Habitat Udang Vaname
Udang vaname mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap salinitas yang luas
dengan kisaran salinitas 0 sampai 30 ppt. Udang vaname akan mati jika terpapar pada air dengan suhu di bawah 15ºC atau di atas 33ºC selama 24 jam atau lebih. Stres subletal dapat terjadi pada 15-22ºC dan 30-33ºC. Temperatur yang cocok
bagi pertumbuhan udang vaname adalah 23-30ºC. Temperatur berpengaruh pada pertumbuhan udang vaname pada spesifitas tahap dan ukuran. Udang muda dapat
11 6. Manajemen Pemeliharaan Larva Udang Vaname
a. Persiapan Pemeliharaan Larva
Pada pemeliharaan larva dilakukan persiapan bak terlebih dahulu untuk
meminimalkan timbulnya penyakit. Pencucian bak yang baik menggunakan kaporit 60% dengan dosis sebanyak 100 ppm yang dicampur dengan detergen 5
ppm kemudia dilarutkan menggunakan air tawar. Air yang digunakan untuk produksi benih harus bebas dari mikroorganisme patogen, bahan organik dan bahan kimia. Air pemeliharaan larva harus memiliki persyaratan kadar garam
antara 28-32 ppt. Aklimatisasi suhu, salinitas, pH perlu dilakukan selama 30-60 menit untuk menghindari kematian pada larva. Selain itu bak pemeliharaan larva
memerlukan penutup pada bagian atasnya agar menghindari kotoran atau benda asing masuk dan juga dapat menaikkan suhu pada bak pemeliharaan larva (Subaidah dkk., 2006).
b. Kebiasaan Makan
Faktor yang menentukan keberhasilan dalam budidaya udang yaitu ketersediaan pakan. Pertumbuhan larva udang sangat dipengaruhi oleh temperatur, larva
berkembang menjadi post larva pada temperatur 27-29ºC sekitar sepuluh hari pada kondisi optimal. Pada temperatur yang tinggi, perkembangan stadia larva
akan berlangsung cepat dan post larva dapat dicapai dalam waktu tujuh hari sejak telur menetas.
12 nutrisinya. Setelah mengalami molting, cadangan kuning telur terserap habis dan nauplius berubah menjadi stadia zoea mulai membutuhkan makanan organisme kecil yaitu fitoplankton. kemudian zoea berubah bentuk menjadi mysis setelah
mengalami 3 kali molting. Pada stadia mysis pakan yang dibutuhkan masih berupa fitoplankton, setelah mengalami 3 kali molting stadia mysis berubah menjadi post
larva (PL). Pada fase post larva bentuk tubuh udang seperti udang dewasa (Wyban and Sweeney, 1991).
Stadia post larva bentuk tubuh udang tampak jelas seperti udang dewasa. Pada
stadia ini larva sudah aktif bergerak lurus ke depan dan cenderung bersifat
karnivora. Stadia post larva dimulai dari PL 1 sampai dengan panen benur PL 10. Secara umum pakan yang dibutuhkan selama proses pemeliharaan larva udang
vaname ada dua jenis yaitu pakan alami dan pakan buatan. Berdasarkan kebiasaan makannya, larva udang stadia mysis dan post larva lebih menyukai pakan hidup
seperti zooplankton yaitu nauplius Artemia sp. Selain karena kandungan nutrisi tinggi, Artemia sp. juga mudah dicerna oleh larva udang (Mudjiman, 1989).
Menurut lavens dan Sorgeloos (1996), stadia nauplii dan zoea masih dalam tahap
perkembangan tumbuh dalam tahap perkembangan tubuh baik organ gerak, organ indera dan organ pencernaan. Pada stadia kaki renang dan kaki jalan belum
berkembang, seperti reseptor optik (mata), kemoreseptor (organ penciuman dan organ perasa), dan mekanoreseptor (gurat sisi). Jarak penglihatan yang masih pendek menjadi dasar yang tepat untuk memberikan pakan alami berupa
fitoplankton salah satunya Chaetoceros sp. Tingkah laku larva stadia nauplii, zoea dan mysis bersifat planktonik. Kemudian pertumbuhan stadia mysis menuju larva
13 diiringi dengan pertumbuhan organ gerak, organ indera dan organ pencernaan mulai sempurna pada stadia PL 4.
c. Manajemen Kualitas Air
Menurut Nurdjana et al. (1989), selama masa pemeliharaan dimungkinkan untuk tidak dilakukannya pergantian air. Monitoring kualitas air dilakukan setiap hari pada pagi, siang dan sore hari. Usaha-usaha yang harus dilakukan selama proses
ini antara lain persiapan air yang steril, pengaturan ketinggian air, sirkulasi, pengelolaan pakan yang tepat, pengaturan aerasi, pengaturan salinitas, pengaturan
temperatur dan jika terdapat sisa makanan maka perlu dilakukan penyiponan.
Suhu air sangat mempengaruhi laju metabolisme dan pertumbuhan udang vaname.
Suhu optimal untuk pertumbuhan larva udang vaname yaitu 29-32ºC di luar kisaran tersebut udang akan mengalami stres dan terhambatnya pertumbuhan (Subaidah dkk., 2006). Udang vaname memiliki tingkat toleransi salinitas yang
cukup tinggi, tetapi salinitas terbaik pada fase larva berkisar antara 29-32 ppt. Untuk kisaran pH yang optimal bagi pertumbuhan larva udang vaname antara
7,8-8,4 dengan pH optimum sebesar 8 (Elovaara, 2001). Oksigen sangat
mempengaruhi proses pertumbuhan udang yang berhubungan langsung pada kegiatan metabolisme. Oksigen terlarut akan mempercepat reaksi kimiawi dari
bahan-bahan toksik yang membahayakan organisme perairan. Kadar oksigen terlarut dalam air kurang dari 1,2 mg/L dapat mematikan larva udang. Kadar
14 7. Frekuensi Pemberian Pakan Artemia sp. Stadia PL Udang Vaname
Frekuensi pemberian pakan pada stadia post larva mengacu pada Alday-Sanz (2010), menyebutkan bahwa frekuensi pemberian pakan Artemia sp. pada PL
1-PL 10 diberikan sebanyak 4x sehari. Frekuensi pemberian pakan Artemia sp. dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Dosis dan frekuensi pemberian pakan Artemia sp untuk stadia udang PL 1-10
Stadia PL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Artemia sp. 30 40 50 57 64 70 76 76 76 76
Frekuensi
pemberian pakan
4x 4x 4x 4x 4x 4x 4x 4x 4x 4x
B. Artemia sp.
1. Klasifikasi Artemia sp.
Menurut Lineaeus (Linnaeus,1758) klasifikasi Artemia sp. adalah sebagai berikut:
15 2. Morfologi Artemia sp.
Zooplankton Artemia sp. adalah udang renik yang tergolong udang primitif. Zooplankton ini hidup secara planktonic di perairan berkadar garam tinggi yaitu
antara 5-35 ppt. Zooplankton ini dikenal dengan nama brine shrimp yang merupakan pakan alami bagi udang dan ikan. Artemia sp. termasuk ke dalam
filum Arthopoda yang banyak ditemukan di danau air asin, perairan tawar hingga jenuh garam (Rostini, 2007). Artemia dewasa memiliki panjang 8-10 mm, dengan tangkai mata pada kedua sisi bagian kepala, dan antenna sebagai sensori (Pitoyo,
[image:32.595.137.487.340.521.2]2004). Morfologi Artemia sp. dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Morfologi Artemia sp. (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995)
3. Siklus Hidup Artemia sp.
Reproduksi pada Artemia terdiri dari dua tipe, yaitu partenogenesis dan biseksual. Artemia dewasa hanya akan memproduksi kista ketika keadaan lingkungan
memburuk, seperti kadar garam yang lebih dari 30 ppt dan kandungan oksigen
16 menetas pada salinitas 15-35 ppt dalam waktu 24-36 jam. Larva Artemia yang baru menetas disebut nauplii. Siklus hidup nauplii Artemia mengalami 15 kali perubahan bentuk, yang disebut dengan instar. Fase larva pertama (instar I)
berukuran 400-500 mikron dan berwarna coklat-orange, dan pada fase ini nauplii masih memiliki yolk salk sebagai makanannya. Setelah 8 jam instar I akan
berganti kulit menjadi instar II, pada fase ini nauplii membutuhkan asupan nutrisi dari luar karena sudah memiliki sistem pencernaan yang baik. Larva akan terus berkembang dan berubah bentuk sampai 15 kali pergantian kulit sampai ke fase
Artemia dewasa (Pitoyo, 2004).
C. Bakteri Vibrio sp. 1. Klasifikasi Vibrio sp.
Bakteri Vibrio merupakan jenis bakteri Gram negatif yang bersifat fakultatif anaerob, yang artinya dapat bertahan hidup baik dengan atau tanpa oksigen.
Berikut adalah klasifikasi Vibrio sp. menurut Garrity (2005) :
Kingdom : Eubacteria Divisi : Bacteri
Class : Schiomycetes Ordo : Eubacteriales
17 2. Morfologi Vibrio sp.
Bakteri Vibrio sp. memiliki bentuk tubuh lurus atau melengkung yang membentuk spora batang dengan lebar 0,5-0,8 µm dan panjang berkisar 1,4-2,6 µm. Bakteri
Vibrio tumbuh pada media dengan kisaran pH yang cukup tinggi yaitu 4-9 dengan
suhu 20-30⁰C (PHE, 2015). Pada media agar darah, bakteri Vibrio akan
menghasilkan koloni berwarna keabu-abuan dan berbentuk melingkar dengan diameter 2-3 mm. Sedangkan pada media TCBS akan memunculkan warna koloni kuning atau hijau. Semua jenis anggota Vibrio adalah motil (bergerak) dan
mempunyai kutub flagella dengan sarung pelindung (Baumann dan Schubert, 1984).
Bakteri Vibrio pada udang tidak selalu menyebabkan kematian, berbagai penyebab banyak menyebabkan bakteri Vibrio menjadi patogen pada udang. Tingkat kepadatan larva serta kondisi hidup larva yang kurang baik menyebabkan
Vibrio berubah menjadi patogen. Vibrio yang menjadi carrier pada larva udang
akan tetap ada walaupun telah dilakukan proses pencucian. Vibrio yang banyak ditemukan pada ikan dan udang yaitu : Vibrio alginolyticus, V. damsel, V.
charcariae, V. anguilarun, V. ordalli, V. cholera, V. salmonicida, V. vulnificus, V.
parahaemolyticus, V. harveyi, V. pelagia, V. splendid, dan V. fischeri (Fahri,
18 Gambar 5. Morfologi Bakteri Vibrio sp. (Akhyar, 2010)
3. Vibriosis
Menurut Akhyar (2010) udang yang terserang vibriosis umumnya memiliki gejala
klinis yaitu, tubuh terlihat lemah, tubuh berwarna merah gelap atau pucat, serta antena dan kaki renang berwarna merah. Bakteri ini menginfeksi dan
menimbulkan penyakit pada saat kondisi udang lemah dan faktor lingkungan yang ekstrim. Berdasarkan hasil penelitian Utami et al. (2016) menunjukkan gejala klinis udang vaname yang terinfeksi bakteri V. harveyi menunjukkan adanya
perubahan warna pada kaki renang, telson dan uropod udang menjadi kemerahan, serta terjadi melanisasi pada segmen tubuh udang. Gejala lainnya terjadi
perubahan tingkah laku berupa respon udang terhadap pakan menurun, udang berenang miring, udang terlihat pasif, dan berenang mendekati gelembung udara.
Sarjito et al. (2016) menambahkan, gejala klinis pada udang yang terserang
bakteri Vibrio terdapat melanosis pada tubuh, terdapat bercak putih, telson serta ekor berwarna merah, penyakit pada karapas (Shell Disease), penyakit merah (Red
Disease), sindrom melepasnya karapas, dan penyakit usus putih (White Gut
Disease) serta perubahan warna pada hepatopankreas yang semula berwarna hijau
19 Vibriosis dapat menyebar dengan cepat pada budidaya intensif dan mampu
menyebabkan mortalitas hingga 85% (Aguirre-Guzman et al., 2001). Berdasarkan penelitian Mariyono et al. (2002), konsentrasi minimal bakteri Vibrio sp. yang
bersifat patogen bagi larva udang yaitu 104sel/mL pada media air pemeliharaan dengan menyebabkan kematian sebesar 94% dalam waktu 24 jam. Nilai LD50
Vibrio sp. pada udang vaname sebesar 3,0 x 105CFU/mL (Liu et al., 2004). Vibriosis berdampak terhadap penurunan hasil produksi budidaya perikanan yang menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi pada pembudidaya (Paillard et
al., 2004).
Selain menyerang udang budidaya, bakteri Vibrio sp. dilaporkan juga dapat
menyerang Artemia sehingga Artemia menjadi vektor dalam perkembangan penyakit vibriosis yang menyebabkan tingkat mortalitas yang tinggi (Gomez-Gil et al., 1994). Pada budidaya Artemia, beberapa patogen yang termasuk dalam
III. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2019 di Unit Pembenihan Udang Benur Anugerah Bahari, Desa Way Muli, Lampung Selatan, Provinsi Lampung
[image:37.595.116.504.404.749.2]B. Alat dan Bahan 1. Alat
Tabel 2. Alat- alat yang digunakan selama penelitian
Nama Alat Ukuran/Jumlah Keterangan
Wadah plastik 25 L/6 unit Wadah pemeliharaan
Selang aerasi -
-Blower 1 unit Suplai oksigen
Batu aerasi 6 buah
-Lampu 5 watt Sumber cahaya saat
pemeliharaan Autoklaf Mikropipet Botol film Colony counter Handtally counter Pipet tetes Alumunium foil Mikroskop Cawan petri Tabung reaksi Inkubator Jarum ose Bunsen
Laminar air flow Erlenmeyer Hot plate stirrer Mikromixer
-1 buah 100 cc/6 buah -1 unit 10 unit 1 pack 1 unit 18 unit 6 unit 1 unit 2 unit 1 unit -1 unit 1 unit
Sterilisasi alat dan bahan Untuk mengambil sampel Wadah sampel
Untuk menghitung jumlah bakteri
-21
Nama alat Ukuran/jumlah Keterangan
[image:38.595.160.464.275.405.2]DO meter Blue tip Timbangan digital Waterbath Suhu meter pH meter Refraktofometer 1 unit -1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit Mengukur DO -Menimbang bahan -Mengukur suhu Mengukur pH Mengukur salinitas 2. Bahan
Tabel 3. Bahan-bahan yang digunakan selama penelitian
Nama Bahan Udang vaname
Air laut steril
Artemia non SPF Vibrio sp. Artemia SPF Vibrio sp. Aquades
Alkohol 70% TCBS NaCl KCl
C. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan 2 perlakuan dan 3 kali ulangan. Analisa data untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan Artemia SPF Vibrio sp. terhadap insidensi
Vibriosis dan pertumbuhan PL udang vaname menggunakan uji T (T-test paired two samples). Berikut adalah rancangan penelitian yang dilakukan :
- Perlakuan A : Pemberian pakan udang vaname PL stadia mysis 1- PL 10 dengan
Artemia non SPF Vibrio sp.
- Perlakuan B : Pemberian pakan udang vaname PL stadia mysis 1- PL 10 dengan
22 - Skema tata letak perlakuan adalah sebagai berikut :
Gambar 6. Letak perlakuan penelitian
D. Prosedur Penelitian
Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah pertumbuhan post larva udang vaname dan penghitungan bakteri Vibrio sp. pada sampel post larva udang
vaname.
1. Persiapan Wadah
Peralatan yang disiapkan pada pemeliharaan stadia PL udang vaname yaitu: 1. Wadah yang digunakan pada pemeliharaan stadia PL udang vaname berupa
toples plastik dengan volume 25 L sebanyak 6 unit. 2. Wadah dicuci dan dikeringkan sebelum digunakan.
3. Wadah diisi dengan air laut sebanyak 15 L dan dilengkapi dengan sistem aerasi.
2.Pelaksanaan
Pelaksanaan pemeliharaan post larva udang vaname, dilakukan sebagai berikut:
1. Disiapkan wadah pemeliharaan berbahan plastik dengan volume 25 L yang telah dicuci bersih.
2. Diisi wadah pemeliharaan dengan air laut sebanyak 15 L dan dilengkapi
dengan aerator.
3. Dimasukkan post larva udang vaname pada tiap akuarium dengan padat tebar
100 ekor/L.
A1 B3 B1
23 4. Post larva udang vaname diberi pakan sesuai dengan perlakuan yang diberikan
yaitu Artemia SPF Vibrio sp. dan Artemia non SPF Vibrio sp.
5. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 4 kali yaitu pukul 09.00, 15.00, 21.00,
03.00.
6. Pemberian pakan Artemia dilakukan dengan dosis 15-76 individu/ larva/ hari (Alday-Sanz, 2010) sesuai dengan stadia PL.
7. Pengukuran kualitas air meliputi DO, suhu, pH, dan salinitas dilakukan setiap 1 kali sehari selama 10 hari.
8. Pemeliharaan udang vaname dilakukan selama 14 hari dari stadia mysis 1 sampai dengan stadia PL 10.
E. Pengukuran Parameter
Parameter yang diamati pada pemeliharaan PL udang vaname yaitu sebagai berikut :
1. Penghitungan Bakteri Vibrio sp.
Sampel uji yang digunakan untuk penghitungan bakteri Vibrio sp. berupa sampel air pemeliharaan dan sampel PL dari masing-masing wadah pemeliharaan.
Penghitungan bakteri Vibrio sp. dilakukan secara periodik setiap 3 hari sekali dimulai dari PL 1-PL 10.
a. Sterilisasi Alat dan Bahan
Peralatan seperti erlenmeyer, beaker gelas, cawan petri dan tabung reaksi disterilisasi dengan autoklaf 121ºC selama 15 menit, ose bulat dan ose lurus
24 b. Pengambilan Sampel
Sampel yang diuji diambil dari sampel air dan sampel udang uji dari setiap perlakuan, sampel diuji secara periodik seriap 3 hari sekali selama pemeliharaan
post larva udang vaname. Sampel air uji diambil menggunakan botol sampel berukuran 150 mL kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah diberi label kode Lab. Pengambilan sampel air dilakukan di pagi hari, dengan cara
memasukkan botol ke dalam dasar wadah dengan keadaan tegak dan diangkat ke permukaan secara perlahan. Pengambilan sampel pada udang, diambil sebanyak
15 ekor/perlakuan/pengulangan dengan menggunakan wadah plastik bervolume 120 mL.
c. Pembuatan Media
Media yang digunakan dalam inokulasi sampel air menggunakan media selektif. Media selektif yang digunakan adalah Thiosulfate Citrate Bile Salt (TCBS).
1) Pembuatan Media TCBS
- Ditimbang media TCBS sebanyak 45 gr
- Kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan dilarutkan dengan 1000 mL
aquades steril
- Dipanaskan media TCBS diatas hot plate stirrer dan diaduk dengan magnetic
stirrer hingga mendidih dan homogen
- Setelah itu dikeluarkan magnetic stirrer dari erlenmeyer, selanjutnya erlenmeyer ditutup dengan aluminium foil, kemudian dimasukkan media
25 d. Preparasi Sampel Udang Vaname
1. Disiapkan udang vaname dengan stadia post larva sebanyak 15 ekor, baki, alat bedah dan tabung sentrifus.
2. Diambil sampel dari seluruh tubuh udang untuk dihomogenkan dengan menggunakan mortar.
3. Selanjutnya, sampel yang telah dihomogenkan dimasukkan ke dalam larutan
akuades sebanyak 10 mL ke dalam tabung sentrifus untuk mendapatkan pengenceran 101.
4. Kemudian sampel diencerkan kembali dengan cara diambil sebanyak 1 mL dari pengenceran 10-1menggunakan mikropipet lalu dimasukkan ke dalam larutan akuades 9 mL yang telah disiapkan untuk dilakukan pengenceran 10-2.
e. Inokulasi Bakteri dari Sampel Udang Vaname
1. Diambil 200 µl sampel udang yang telah diencerkan menggunakan mikropipet,
kemudian diinokulasi pada permukaan media TCBS dan diratakan menggunakan disposable spreader.
2. Dilakukan inokulasi secara duplo untuk setiap pengenceran.
26 f. Inokulasi Bakteri Dari Sampel Air
Inokulasi sampel air dilakukan dengan metode pour plate dengan beberapa tahapan yaitu:
1. Sampel air diencerkan pada larutan akuades sebanyak 9 mL dengan pengenceran 10-1dan 10-2.
2. Dari setiap pengenceran diambil sebanyak 200 µl kemudian dimasukkan
kedalam cawan petri steril. Setiap pengenceran dilakukan secara duplo. 3. Ditambahkan 12-15 mL media TCBS agar yang telah didinginkan dalam
waterbath pada suhu 45⁰C kedalam masing-masing cawan petri yang sudah berisi sampel air. Dilakukan pemutaran cawan kedepan belakang dan ke kiri kanan supaya tercampur rata.
4. Setelah agar memadat , selanjutnya diinkubasi dalam inkubator selama 24-48 jam dalam posisi terbalik.
g. Perhitungan Bakteri
Perhitungan bakteri dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Setelah diinkubasi selama 18-24 jam, cawan petri diletakkan diatas colony
counter dan jumlah bakteri yang muncul dihitung dengan menggunakan alat
colony counter.
2. Kemudian hasil perhitungan angka lempeng total koloni dicatat dan
dimasukkan kedalam rumus. Jumlah bakteri yang tumbuh dinyatakan dalam satuan CFU/mL (Colony-Forming Unit/ml).
N= ∑
27 Keterangan:
N : Jumlah total koloni bakteri
∑C : Jumlah koloni pada semua cawan yang dihitung
n1 : Jumlah cawan pada pengenceran pertama yang dihitung n2 : Jumlah cawan pada pengenceran kedua yang dihitung
d :pengenceran pertama yang dihitung
2. Perhitungan Tingkat Insidensi Vibriosis
Analisis data tingkat serangan vibriosis pada PL udang vaname dihitung berdasarkan nilai insidensi serangan menurut cara Fernando et al. (1972) :
Insidensi = 100%
Keterangan:
N : Jumlah PL yang terinfeksi
n : Jumlah PL yang diamati
3. Pertumbuhan Panjang Udang Vaname a. Pertumbuhan Panjang Mutlak
Pertumbuhan panjang udang vaname selama penelitian diukur satu kali dalam penelitian selama 10 hari disajikan dalam bentuk grafif. Rumus pertumbuhan
panjang mutlak adalah sebagai berikut (Efendi, 1997) : L = Lt–L0
Keterangan :
L = Panjang Mutlak (mm) Lt =Panjang udang akhir (mm)
28 b. Laju Pertumbuhan Panjang Harian
laju pertumbuhan panjang harian dihitung berdasarkan data pertumbuhan panjang udang vaname yang diukur setiap 1x sehari selama 10 hari penelitian. Rumus laju
pertumbuhan panjang harian adalah sebagai berikut (Suryawardani, 2000) :
dL =( )
Keterangan:
dL : Pertumbuhan panjang harian (mm/d)
Lt : Panjang individu akhir penelitian Lo : Panjang individu awal penelitian t : Periode pengamatan (hari)
4. Kelangsungan Hidup
Kelangsungan hidup udang vaname merupakan perbandingan jumlah benur yang
hidup dengan total post larva udang vaname yang ditebar pada awal
pemeliharaan, (Effendie, 1997). Persamaan yang digunakan untuk menghitung kelangsungan hidup adalah :
Keterangan:
SR : Kelangsungan hidup (Survival Rate) (%)
Nt : Jumlah post larva udang vaname yang hidup di akhir penelitian (ekor) No : Jumlah total post larva udang vaname awal penebaran (ekor)
29 5. Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diukur adalah suhu, pH, salinitas, dan DO.
Pengukuran dilakukan pada setiap unit percobaan dengan frekuensi setiap 1 kali
sehari selama pemeliharaan.
F. Analisis Data
Analisis data pertama yaitu dengan melakukan uji normalitas terhadap Total Vibrio Count (TVC) pada sampel PL udang vaname dan sampel air pemeliharaan,
pertumbuhan panjang PL udang vaname dan nilai kelangsungan hidup PL udang vaname setelah itu dilakukan uji homogenitas dan normalitas, jika data
menunjukkan homogenitas dan normalitas (>0,05) selanjutnya dilakukan uji
hipotesis menggunakan program SPSS Independent Samples Test (Uji T) dengan taraf signifikan 95%. Untuk data pengukuran kualitas air akan dianalisis secara
V. SIMPULAN DAN SARAN
A Simpulan
Pemberian pakan alami Artemia SPF Vibrio sp. memberikan pengaruh terhadap efektifitas nilai insidensi vibriosis pada Post Larva udang vaname (Litopenaeus vannamei) sebesar 0,30% dan nilai pertumbuhan panjang mutlak sebesar 4,44
mm.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, sebaiknya pemberian pakan alami Artemia SPF Vibrio sp. dilakukan dalam skala yang besar dalam unit hatchery
untuk megahasilkan benur udang dengan kualitas yang baik dengan keunggulan
DAFTAR PUSTAKA
Alday-Sanz, V. (2010). The Shrimp Book : Theory and Practice of Penaeid Aquaculture. Nottingham University Press.
Aguirre-Guzman, G., Vazquez-Juarez, R., Ascencio, P. (2001). Differences in the Susceptibility of American White Shrimp Larval Substages (Litopenaeus vannamei) to Four Vibrio Species. Jurnal Invert Pathol, (78), 215-219. .
Akhyar. (2010). Uji Daya Hambat dan Analisis KLT Bioautografi Ekstrak Akar dan Buah Bakau (Rhizophora stylosa Griff.) Terhadap Vibrio harveyi. Skripsi. Fakultas Farmasi UNHAS. Makassar.
Amri, K., & Kanna, I. (2008). Budidaya Udang Vaname Secara Intensif, Semi Intensif, dan Tradisional. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 163 hal.
Asplund, M. E. (2013). Ecological Aspects of Marine Vibrio Bacteria-Exploring Relationships to Other Organisms and A Changing Environment. Thesis. University of Gothenburg. 48 hal.
Bauman, P., & Schubert L.R.H.W. (1984). Family II Vibrionacea Veron 1965, 5245. Bergey's Manual of Systematic Bacteriology, 516-550.
Briggs, M., Funge-Smith, S., Subasinghe, R., & Phillips, M. (2004). Introductions and Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris In Asia and the Pacific. RAP publication, (10), 92.
Brock, J. A., & Main, K. L. (1994). Guide to the Common Problems and Diseases of cultured Penaeus vannamei. Oceanic Institute.
Dharmadi dan Ismail, A. (1993). Tinjauan Beberapa Faktor Penyebab Kegagalan Usaha Budidaya Udang di Tambak. Dalam Prosiding Seminar Sehari Hasil Penelitian.
Effendie, M. I. (1997). Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta, 163.
43 Evan, Y. (2009). Uji Ketahanan Beberapa Strain Larva Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii De Man) Terhadap Bakteri Vibrio harveyi. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Fahri, M. (2008). BakteriI Pathogen pada Budidaya Perikanan Vibrio alginolyticus. Program Pasca Sarjana Budidaya Perikanan Universitas Brawijaya.
Garrity, G. M. (2005). Systematic Bacteriology. The Proteobacteria, Part C: The Alpha-, Beta-, Delta-, and Epsilonproteobacteria, Bergey’s Manual Trust, Department of Microbiology and Molecular Genetics,, 2.
Gomez-Gil, B., Grobois, J. R. Jarero, and Vega, M. D. H. (1994). Chemical Disinfection of Artemia nauplii. Jurnal World Aquaculture Society, (25), 574-593.
Gomez-Gil, B., Thompson, F. L., Thompson, C. C., Garcia-Gasca, A., Roque, A., & Swings, J. (2004). Vibrio hispanicus sp. nov., Isolated from Artemia sp. and Sea Water in Spain. International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology, 54(1), 261-265.
Haliman, R. W., & Adijaya, D. (2005). Udang Vannamei. Penebar Swadaya. Jakarta. 75 hal.
Hudi, L., & Shahab, A. (2005). Optimasi Produktivitas Budidaya Udang Vaname
Litopenaeus vannamei dengan Menggunakan Metode Respon Surface dan
Non Linier Programming. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh
Nopember, (1), 28.
Kharisma, A., & Manan, A. (2019). Kelimpahan Bakteri Vibrio sp. Pada Air Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Sebagai Deteksi Dini Serangan Penyakit Vibriosis. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 4(2), 128-134.
Kementrian Kelautan dan Perikanan. (2018). Statistik Volume Produksi Udang. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kementrian Kelautan dan Perikanan.
Lavens, P., & Sorgeloos, P. (1996). Manual on the Production and Use of Live
Food for Aquaculture. Food and Agriculture Organization (FAO), 361,
1-6.
Linnaeus, C. (1758). Systema Naturae per Regna tria Naturae, secundum Classes, Ordines, Genera, Species, cum Characteribus, Differentiis Synonymis, Locis, (ed. 10) (1),1-824.
44 Polymerase Chain Reaction and 16S rDNA Sequencing. Disease of Aquatic Organisms, (61), 169-174.
López-Torres, M. A., & Lizárraga-Partida, M. L. (2001). Bacteria Isolated On TCBS Media Associated with Hatched Artemia Cysts of Commercial Brands. Aquaculture, 194 (1-2), 11-20.
Manik, R., & Mintardjo, K. (1983). Kolam Indukan. Dalam Pedoman Pembenihan Udang Penaeid. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian. Jakarta, 78.
Mariyono, Wahyudi, A dan Sutomo. (2002). Teknik Penanggulangan Penyakit Udang Menyala Melalui Pengendalian Bakteri di Laboratorium. Buletin Teknik Pertanian, 7 (1).
Mudjiman, A. (1989). Udang Renik Air Asin Artemia salina. Penerbit Bhatara. Jakarta. 149 hal.
Nurdjana, M. L., Djunaidah, S., & Sumartono, B. (1989). Paket Teknologi Pembenihan Udang Skala Rumah Tangga. Direktur Jenderal Perikanan. Jakarta.
Paillard, C., Le Roux, F., & Borrego, J. J. (2004). Bacterial Disease in Marine Bivalves, a Review of Recent Studies: Trends and Evolution. Aquat. Living Resour, (17), 477-498.
Pitoyo, (2004). Artemia salina (kegunaan, Biologi dan Kulturnya). INFIS Manual Seri No.12. Direktorat Jendral Perikanan dan International Development Research Centre.
Public Health of England [PHE]. (2015). Uk Standars for Microbiology Investigation Identification of Vibrio and Aeromonas Spesies.
Rostini, A. W. (2007). Budidaya Makanan Alami. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. 48 hal.
Sarjito, S., Apriliani, M., Afriani, D., & Haditomo, A. C. (2016). Agensia Penyebab Vibriosis Pada Udang Vaname (Litopenaus vanamei) yang Dibudidayakan Secara Intensif Di Kendal. Jurnal Kelautan Tropis, 18(3), 189-196.
Sikong, M. (1982). Beberapa Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Produksi Biomassa Udang Windu (Panaeus monodon). Disertasi. IPB. Bogor. Subaidah, S., Susetyo P., Mizab A., & Tabah I. (2006). Pembenihan Udang
45
Suriadnyani, N. N., & Aryani, N. L. T. (2017). Kultur Massal Diatom Sebagai Sediaan Pakan Alami Pada Pembenihan Udang Windu (Penaeus
monodon). Buletin Teknik Litkayasa Akuakultur, 6(1), 35-38.
Suryawardani, F. (2000). Pengaruh Konsentrasi Sub Lethal Phosmidon Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila. Skripsi. IPB. Bogor.
Taslihan, A., Ani W., Retna H., Astuti, S.M. (2004). Pengendalian Penyakit Pada Budidaya Ikan Air Payau, Direktorat Jenderal Perikanan Balai Besar Budidaya Air Payau Jepara.
Tizol, R., Jaime, B., Laira, R., Pérez, L., Machado, R. & Silveira, R. (2004). Introduction in Cuba of L. vannamei. Quarantine I. Paper below Fishery Research Center (CIP).
Umbas, A. P. (2002). Pengaruh Dosis Pengkayaan 0, 6, 7, 8, 9, 10 mL/ 400 mL dan Waktu Dedah Terhadap Kinerja Pertumbuhan Artemia. Skripsi. Program Studi Budidaya Perairan. Institut Pertanian Bogor. 54 hlm.
Utami, W., Sarjito, & Desrina. (2016). Pengaruh Salinitas Terhadap Efek Infeksi Vibrio harveyii pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei). Journal of Aquaculture Management and Technology, 5(1), 82-90.
Utomo, B. B. S. (2004). Penanganan dan Pengolahan Artemia. Makalah Temu Koordinasi Pengembangan Budidaya Artemia di Indonesia, Cisarua -Bogor.
Verschuere, L., Heang, H., Criel, G., Sorgeloos, P., & Verstraete, W. (2000). Selected Bacterial Strains Protect Artemia spp. from the Pathogenic Effects of Vibrio proteolyticus CW8T2. Appl. Environ. Microbiol, 66(3), 1139-1146.
Wang, J. K. (2003). Conseptual Design of a Microalgae Based Recirculating Oyster and Shrimp System. Aquaculture Engineering 28(1-2), 37-46.
Warsito., Suciyati S. W., & Isworo D. (2012). Desain dan Analisis Pengukuran Viskositas dengan Metode Bola Jatuh Berbasis Sensor Optocoupler dan Sistem Akuisisinya pada Komputer. Jurnal Natur Indonesia, 14(3), 230-235.
Watanabe T. (1988). Fish Nutrition and Mariculture. JICA. The General Aquaculture Course. Dept of Agriculture Bioscience. Tokyo University of Fisheries. JICA. 233 hal.
46
sp. Lokal. Journal of Aquaculture Management and Technology, 1(1), 236-248.
Wyban, J. A., & Sweeney, J. N. (1991). Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. Hawai. USA. 158 hal.