• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
44
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

EFEKTIVITAS LKS BERBASIS MULTIPEL REPRESENTASI KIMIA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

Skripsi

Oleh

SEPTIANA DWI MULYANI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

EFEKTIVITAS LKS BERBASIS MULTIPEL REPRESENTASI KIMIA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

Oleh

SEPTIANA DWI MULYANI

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas LKS berbasis multipel representasi dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X MA Al-Fatah Natar Tahun Ajaran 2016-2017 yang berjumlah 2 kelas masing-masing kelas terdiri atas 23 siswa X MIA A dan 33 siswa X MIA B yang dijadikan sampel dan diperoleh dengan menggunakan total sampling. Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen menggunakan Non Eqiuvalent (pretest-posttest) Control Group Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keefektivan LKS berbasis multipel representasi berkriteria sedang, nilai rata-rata n-gain kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 0,48. Berdasarkan hal tersebut, LKS berbasis multipel representasi efektif besar dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit.

(3)

EFEKTIVITAS LKS BERBASIS MULTIPEL REPRESENTASI KIMIA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

Oleh

SEPTIANA DWI MULYANI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Kimia

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)
(5)
(6)
(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sidoharjo 1 pada tanggal 26 September 1993 sebagai putri pertama buah hati Bapak Mulyono Effendy dan Ibu Suprihatin.

Penulis mengawali pendidikan formalnya di SD Negeri 3 Negara Ratu tahun 2005, SMP Swadhipa 1 Natar tahun 2008, SMA Negeri 1 Natar tahun 2011.

(8)

PERSEMBAHAN

Bismiilahirahmaanirrahiim, kupersembahkan skripsi ini kepada:

Mamak dan Bapak, kedua manusia paling hebat sedunia yang selalu mendukung baik materil maupun moril serta doa terbaik yang tak akan pernah henti ditujukan untuk kesuksesan anaknya di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah selalu me-limpahkan rahmat dan keberkahan umur bagi Mamak dan Bapak.

Suamiku (Andri) dan anakku (Annisa) yang tak pernah lelah membagi cerita, cinta, canda, suka, duka, tangis, dan tawa.

(9)

MOTTO

“Hai orang-orang yang beriman,

mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”

(Q.S. Al baqarah:153)

“Jangan pernah mengejar kesuksesan,

namun kejarlah kesempurnaan karena dengan kesempurnaan maka kesuksesan akan mengikutimu”

(10)

SANWACANA

Puji syukur hanyalah untuk-Mu Allah, Rabb semesta alam, yang senantiasa men-cucurkan rahmat dan ridho-Nya sehingga penulis dapat merampungkan skripsi “Efektivitas LKS Berbasis Multipel Representasi Kimia dalam Meningkatkan

Kemampuan Berpikir Kritis Pada Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit” sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana pendidikan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah untuk qudwah, uswatun hasanah, nabiyallah, Muhammad SAW, seorang yang biasa namun luar biasa karena kebiasaannya yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi penulis.

Ucapan terima kasih pun tak lupa penulis haturkan kepada:

1. Bapak Dr. Muhammad Fuad, M.Hum selaku Dekan FKIP Unila 2. Bapak Drs. Caswita, M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.

3. Ibu Dra. Ratu Betta R, M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia serta Pembimbing I, terima kasih atas kesediaannya memberi bimbingan dan motivasi, meminjami segala fasilitas, sudi menjadi tempat berbagi.

4. Ibu Dr. Noor Fadiawati, M.Si. selaku Pembimbing Akademik, terima kasih atas kesediaannya memberi bimbingan dan motivasi, meminjami segala fasilitas, sudi menjadi tempat berbagi.

(11)

6. Bapak Drs. Sunyono, M.Si. selaku Pembahas, terima kasih atas kritik dan saran untuk perbaikan skripsi.

7. Dosen-dosen Program Studi Pendidikan Kimia dan segenap civitas akademik Jurusan Pendidikan MIPA, terima kasih atas ilmu yang telah Bapak/Ibu berikan.

8. Bapak Ihin Solihin Ayub, S.Pd.I selaku Kepala MA Al-Fatah, atas izin yang diberikan untuk melaksanakan penelitian. Terima kasih juga atas bimbingan dan masukkannya. Bapak Drs. Adbdul Rahman Saleh sebagai Guru Mitra atas waktu yang terluangkan yang diberikan kepada penulis untuk

melaksanakan penelitian dan seluruh Siswa, Guru dan staf MA Al-Fatah Natar atas kerjasama dan bantuannya selama penelitian.

9. Emak dan Bapak yang dimuliakan Allah SWT terima kasih atas restu dan doa untuk kelancaran penelitian dan keberhasilan mengenyam studi ini.

10. Rekan-rekan seperjuanganku P.KIMIA 2011, Sahabatku Subainar, Tika, Tami, Ina, Atu Eka, Ayuk Resti Semoga jalinan ukhuwah ini tetap tersimpul erat.

Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan berupa rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Akhirnya, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.

Bandarlampung, 4 Juni 2018 Penulis,

(12)

xii DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xv

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

A. Efektivitas Pembelajaran ... 6

B. Representasi Ilmu Kimia ... 6

C. Lembar Kerja Siswa (LKS) ... 9

D. Kemampuan Berpikir Kritis ... 11

E. Kerangka Pemikiran ... 14

F. Anggapan Dasar... 16

E. Hipotesis ... 16

III. METODOLOGI PENELITIAN ... 17

A. Populasi dan Sampel ... 17

B. Jenis dan Sumber Data ... 17

C. Metode dan Desain Penelitian ... 18

D. Variabel Penelitian... 18

E. Prosedur Penelitian ... 19

F. Perangkat Pembelajaran dan Instrumen Penelitian...………..20

G. Teknik Analis data Kemampuan Berpikir Kritis...………21

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 25

A. Hasil Penelitian dan Analisis Data ... 25

B. Pembahasan ... 30

V. SIMPULAN DAN SARAN ... 33

A. Simpulan ... 33

(13)

xiii DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

1. Analisis Konsep ... 38

2. Silabus ... 42

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 53

4. Kisi-Kisi Pretes-Postes ... 68

5. Soal Pretes-Postes ... 72

6. Rubrik Pretes-Postes ...75

7. Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran Menggunakan LKS Berbasis Multipel Representasi ...86

8. Lembar Observasi Aktivitas Siswa ...92

9. Lembar Observasi Kinerja Guru Kelas Eksperimen ...101

10. Hasil Validitas dan Reliabilitas...107

11. Hasil Pemeriksaan Jawaban Siswa ...109

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Unsur-Unsur Keterampilan Berpikir Kritis ... 11

2. Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Beserta Sub Indikatornya ... 12

3. Desain Penelitian ... 18

4. Data hasil validitas butir soal……….25

5. Data Hasil Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran Berlangsung ... 27

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Tiga dimensi Pemahaman Kimia...8

2. Alur Penelitian ... 20

3. Rata-Rata Nilai Pretest, Postest Kemampuan Berpikir Kritis ... 26

(16)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran kimia bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan sikap ilmiah, sehingga siswa mampu memahami konsep-konsep kimia dan penerapan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Tim Penyusun, 2006). Karakteristik dari konsep-konsep ilmu kimia yang abstrak menyebabkan kimia sulit untuk dipelajari dan membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Gani, et al., 2011)

(17)

2

dimana keterampilan ini sangat diperlukan untuk menghadapi kehidupan dan untuk berhasil dalam kehidupan.

Hasil PISA (Program For Internasional Student Assesment) pada tahun 2015 menunjukan bahwa siswa Indonesia masih tergolong rendah untuk sains, membaca dan matematika yang membutuhkan Highr Order Thinking Skill (HOTS) seperti soal yang berhubungan dalam penyelesaian masalah kehidupan nyata (OECD, 2016). Lemahnya tingkat berpikir kritis siswa seperti siswa belum bisa menganalisis argumen, mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak, membuat dan menentukan hasil pertimbangan, mengidentifikasi asumsi-asumsi, dan menentukan suatu tindakan.

Hasil wawancara dengan guru pengampu mata pelajaran kimia di MA Al-Fatah diperoleh bahwa, guru membelajarkan materi dengan latihan soal pada buku kimia yang ada, guru kurang menggunakan LKS dalam pembelajaran kimia, materi yang seharusnya dibelajarkan dengan praktikum tidak dilakukan, selain itu keterbatasan sumber bacaan dan tidak adanya akses internet di kawasan pondok, menyebabkan mereka kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang ada, akibatnya hasil belajar siswa pada materi kimia rendah. Upaya mengatasi masalah tersebut yaitu melalui pembelajaran menggunakan media pembelajaran yang dapat menunjang sumber bacaan, mencakup soal-soal, serta dapat dengan mudah dipahami, salah satunya dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS).

(18)

3

pengajaran dan menghemat waktu penyajian suatu topik. LKS merupakan salah satu sarana untuk membantu dan mempermudah dalam kegiatan belajar mengajar. Adanya LKS maka akan terbentuk interaksi yang efektif antara siswa dengan guru, sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa (Arafah dkk, 2012).

Kurikulum 2013 terdapat pada KD pada mata pelajaran kimia kelas X yaitu 3.8 menganalisis sifat larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit berdasarkan daya hantar listriknya. Larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit merupakan salah satu materi kimia kelas X SMA/MA yang sulit untuk dipahami bagi siswa yang memiliki keterbatasan sumber bacaan dan kegiatan praktikum yang tidak dilakukan oleh siswa, karena beberapa konsep materi tersebut dibangun

menggunakan penggambaran secara makroskopik, sub-mikroskopik, dan simbolik sehingga keberadaan LKS yang berbasis multipel representasi sangat diperlukan untuk membantu siswa dalam penguasaan konsep pada materi ini.

(19)

4

Berdasarkan hal tersebut, maka akan dilakukan penelitian dengan judul : “Efektivitas LKS Berbasis Multipel Representasi Dalam Meningkatkan

Kemampuan Berpikir Kritis Pada Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit.”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah LKS berbasis multipel representasi efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas LKS berbasis multipel representasi dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit.

D. Manfaat Penelitian

Kegunaan atau manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1. Bagi Guru

Media pembelajaran LKS dapat menjadi salah satu alternatif media pembelajaran yang inovatif dan kreatif bagi guru.

2. Bagi Siswa

(20)

5

abstrak dan siswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis karena telah mendapatkan pengalaman belajar baru.

3. Bagi Sekolah

Penerapan LKS dalam pembelajaran menjadi alternatif untuk meningkatkan mutu pembelajaran kimia di sekolah.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah :

1. Efektivitas pembelajaran dengan LKS berbasis multipel representasi dikatakan efektif dalam meningkatkan penguasaan konsep apabila menunjukkan adanya perbedaan rata-rata n-Gain antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen diinterpretasikan dengan menggunakan kategori Hake.

2. Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis multipel representasi merupakan suatu produk yang berupa lembaran-lembaran yang di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan yang dibuat sesuai dengan langkah-langkah dalam pembelajaran dengan model SiMaYang tipe II dan bertujuan untuk membangun konsep siswa berdasarkan fenomena yang ada.

3. Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan untuk berpikir secara rasional dan reflektif berdasarkan apa yang diyakini atau yang dilakukan

(21)

6

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Efektivitas Pembelajaran

Menurut Abdurahmat (2008), efektivitas menunjukan keberhasilan dari segi tercapai atau tidaknya suatu tujuan yang telah ditetapkan. Jika hasil kegiatan mendekati keberhasilan berarti semakin tinggi efektivitasnya. Suatu kegiatan dikatakan efektif apabila kegiatan tersebut dapat mencapai tujuan yang diinginkan

Warsita (2008) berpendapat bahwa:

Efektivitas menekankan pada perbandingan antara rencana dengan tujuan yang dicapai. Oleh karena itu, efektivitas pembelajaran sering kali diukur dengan tercapainya tujuan pembelajran, atau dapat pula diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola suatu situasi.

Menurut Miarso (2004), Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menghasilkan belajar yang bermanfaat dan bertujuan, melalui pemakaian prosedur yang tepat. Usaha untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran perlu dilakukan terus menerus, berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber.

B. Representasi Ilmu Kimia

(22)

7

untuk suatu pemandangan. Studi kimia pada dasarnya melibatkan tiga jenis representasi kimia: makro, submikro dan simbolis. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami dan menafsir-kan representasi ini (terutama submikro) dan interpretasi. Antara tiga jenis representasi sehingga dapat membangun representasi mereka sendiri

Chittleborough & Treagust, 2007; Gkitzia, et al., 2011 dalam (Sunyono, 2015). Untuk membangun pengetahuan konsep kimia yang lebih mendalam, pelajaran perlu mencakup ketiga jenis representasi tersebut (Sunyono, 2015).

Menurut Haveleun & Zou dalam (Sunyono, 2010), representasi dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu representasi internal dan eksternal. Representasi internal diartikan sebagai konfigurasi kognitif individu yang diduga berasal dari perilaku yang menggambarkan beberapa aspek dari proses fisik dan pemecahan masalah, sedangkan representasi eksternal dapat digambarkan sebagai situasi fisik yang terstruktur yang dapat dilihat sebagai mewujudkan ide-ide fisik. Menurut pandangan kontruktivist, representasi internal ada di dalam kepala siswa dan representasi eksternal disituasikan oleh lingkungan siswa Meltzer dalam (Sunyono, 2015).

(23)

8

praktik ilmiah, karena para ahli menggunakan representasi sebagai cara utama berkomunikasi dan memecahkan masalah.

[image:23.595.241.385.317.429.2]

Kimia merupakan salah satu mata pelajaran peminatan IPA yang berada di antara fenomenologi dan abstraksi, makroskopik dan mikroskopik, yang berarti dalam memahami makroskopik juga memahami mikroskopik. Guna menjembatani antara fenomenologi dan abstraksi, para ahli menggunakan beberapa representasi yang kemudian dikenal sebagai representasi kimia atau chemical representation

Gambar 1. Tiga dimensi representasi kimia (Johnstone dalam Sunyono, 2010)

Pemahaman kimia bermakna memerlukan kemampuan mengaitkan tiga pilar kaji-an kimia, yaitu makroskopis, submikroskopis, dkaji-an simbolik. Kajikaji-an submikros-kopis sesungguhnya adalah esensi kimia yang membedakannya dengan kajian bidang IPA yang lain. Hakikat kimia yang merupakan ilmu pengetahuan sub-mikroskopis dan mengandung aspek visuospatial telah mendorong pembelajaran kimia yang menekankan aspek submikroskopis (Wu dalam Syamsuri, 2011)

(24)

9

(makroskopis) adalah sesuatu yang kontinu (malar). Pengamatan terhadap air dan besi yang kontinu menyebabkan siswa sangat sulit memahami bahwa sesungguh-nya air dan logam besi tersusun atas partikel-partikel (diskontinu), dan di antara partikel-partikel tersebut terdapat ruang kosong (submikroskopis).

C. Lembar Kerja Siswa

Media pembelajaran adalah alat bantu untuk menyampaikan pesan kepada siswa yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Melalui penggunaan media pembelajaran akan memudahkan bagi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakan dalaam pembelajaran ini adalah media berupa Lembar Kerja Siswa (LKS). Pada proses belajar mengajar, LKS digunakan sebagai sarana pembelajaran untuk menuntun siswa mendalami materi dari suatu materi pokok atau submateri pokok mata pelajaran yang telah atau sedang dijalankan.

(25)

10

Menurut Sriyono (1992), Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah :

salah satu bentuk program yang berlandaskan atas tugas yang harus disele-saikan dan berfungsi sebagai alat untuk mengalihkan pengetahuan dan kete-rampilan sehingga mampu mempercepat tumbuhnya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

Menurut Sudjana (Djamarah dan Zain, 2000) fungsi LKS adalah :

a) Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.

b) Sebagai alat bantu untuk melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih menarik perhatian siswa.

c) Untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian pengertian yang diberikan guru. d) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya

mendengarkan uraian guru tetapi lebih aktif dalam pembelajaran. e) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan pada

siswa.

f) Untuk mempertinggi mutu belajar mengajar, karena hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama, sehingga pelajaran mempunyai nilai tinggi.

Menurut Prianto dan Harnoko (1997) manfaat dan tujuan LKS antara lain: a) Mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar.

b) Membantu siswa dalam mengembangkan konsep.

c) Melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan proses belajar mengajar.

d) Membantu guru dalam menyusun pelajaran.

e) Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.

f) Membantu siswa memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar.

g) Membantu siswa untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.

(26)

11

D. Kemampuan Berpikir Kritis

Berpikir kritis dapat diartikan kemampuan yang sangat essensial untuk kehidupan, pekerjaan dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya. Costa dan Presseisen ( 1985) mengatakan bahwa berpikir kritis diartikan sebagi keterampilan berpikir yang menggunakan proses berpikir dasar, untuk menganalisis argumen dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap makna dan interpretasi, meng-embangkan pola penalaran yang kohesif dan logis, memahami asumsi yang men-dasari tiap-tiap posisi,memberikan model presentasi yang dapat dipercaya, ringkas dan meyakinkan.

[image:26.595.108.512.595.749.2]

Seorang siswa tidak akan dapat mengembangkan berpikir kritis dengan baik, tanpa ditantang untuk berlatih menggunakannya dalamkonteks berbagai bidang studi yang dipelajarinya. Berpikir kritis dalam ilmukimia tidak dapat dilakukan dengan cara mengingat dan menghafal konsep-konsep, tetapi mengintegrasikan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telahdimiliki.Terdapat enam komponen atau unsur dari berpikir kritis menurut Ennis (1989) yang disingkat menjadi FRISCO, seperti yang tertera padaTabel 2 berikut:

Tabel 1. Unsur-unsur keterampilan berpikir kritis (Ennis, 1989).

No. Unsur Keterangan

1. Focus Memfokuskan pemikiran, menggambarkan

poin-poin utama, isu, pertanyaan, ataupermasalahan. Hal-hal pokok dituangkan didalam argumen dan pada akhirnya didapatkesimpulan dari suatu isu, pertanyaan, ataupermasalahan tersebut.

2. Reasoning Ketika suatu argumen dibentuk, maka harusdisertai

(27)

12

sebelummembuat keputusan akhir.

3. Inference Ketika alasan yang telah dikemukakan benar,apakah

hal tersebut dapat diterima dan dapatmendukungkesimpulan

4. Situation Ketika proses berpikir terjadi, hal tersebutdipengaruhi

oleh situasi atau keadaan baik(keadaan lingkungan, fisik, maupun sosial).

5. Clarity Ketika mengungkapkan suatu pikiran ataupendapat,

diperlukan kejelasan untuk membuatorang lain memahami apa yang diungkapkan

6. Overview Suatu proses untuk meninjau kembali apa yangtelah

kita temukan, putuskan, pertimbangkan,pelajari, dan simpulkan.

Menurut Ennis (1989) terdapat 12 indikator keterampilan berpikir kritis (KBKr) yang dikelompokkan dalam lima kelompok keterampilan berpikir. Kelima kelompok keterampilan tersebut adalah: memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification),membangun keterampilan dasar (basic support), menyimpulkan (interfence), membuat penjelasan lebih lanjut (advance

clarification), serta strategi dan taktik (strategy and tactics).Adapun kedua belas

indikator tersebut terdapat dalam Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Indikator keterampilan berpikir kritis (Ennis,1989)

No. Kelompok Indikator Sub Indikator

1. Memberikan penjelasan sederhana Memfokuskan pertanyaan

a. Mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan

b. Mengidentifikasi atau merumuskan kriteria untuk mempertimbangkan kemungkinan jawaban

c. Menjaga kondisi berpikir

Menganalisis Argumen

a. Mengidentifikasi kesimpulan b. Mengidentifikasi

kalimat-kalimatpertanyaan

c. Mengidentifikasi kalimat-kalimatbukan bukan pertanyaan

d. Mengidentifikasi dan menanganiketidaktepatan

(28)

13

No. Kelompok Indikator Sub Indikator

Bertanya dan menjawab pertanyaan

a. Menyebutkan contoh

b. Mengapa? Apa ide utamamu? Apa yang anda maksud..? Apa yang membuat perbedaan....? 2. Membangun keterampilan dasar Mempertimbangk an apakah sumber dapat dipercaya atau tidak

a. Mempertimbangkan keahlian b. Mempertimbangkan

kemenarikankonflik

c. Mempertimbangkan kesesuaiansumber d. Mempertimbangkan reputasi

e. Mempertimbangkan

penggunaanprosedur yang tepat f. Mempertimbangkan resiko

untukreputasi

g. Kemampuan untuk memberikanalasan h. Kebiasaan berhati-hati

Mengobservasi dan

mempertimbang-kan laporan observasi

a. Melibatkan sedikit dugaan b. Menggunakan waktu yangsingkat

antara observasi danlaporan c. Melaporkan hasil observasi d. Merekam hasil observasi

e. Menggunakan bukti-bukti yang benar f. Menggunakan akses yang baikg.

Menggunakan teknologih. Mempertanggungjawaban hasil observasi

3. Menyimpulkan

Mendeduksi dan mempertimbangk an hasil deduksi

a. Siklus logika-Euler b. Mengkondisikan logika c. Menyatakan tafsiran Menginduksi dan

mempertimbang-kan hasil induksi

a. Mengemukakan hal yang umum b. Mengemukakan kesimpulan

danhipotesis

Membuat dan menentukan hasil pertimbangan

a. Membuat dan menentukan hasil pertimbangan sesuai latarbelakang fakta-fakta

b. Membuat dan menentukan hasil pertimbangan berdasarkan akibat c. Menerapkan konsep yang

dapatditerima

d. Membuat dan menentukan hasil pertimbangan keseimbangan masalah.

4.

Memberikan penjelasan lanjut

Mendefinisikanist ilah dan mem-pertimbangkan suatu definisi

a. Membuat bentukdefinisi (sinonim, klasifikasi rentang ekivalen, rasional, contoh, bukan contoh)

b. Strategi membuat definisi c. Membuat isi definisi Mengidentifikasi

asumsi-asumsi

(29)

14

No. Kelompok Indikator Sub Indikator

5. Mengatur strategi dan taktik Menentukan suatu tindakan

a. Mengungkap masalah b. Memilih kriteria untuk

mempertimbangkan solusi yangmungkin

c. Merumuskan solusi alternatif d. Menentukan tindakan sementara e. Mengulang kembalif.

f. Mengamati penerapannya

Berinteraksi dengan orang lain

a. Menggunakan argument b. Menggunakan strategi logika c. Menggunakan strategi retorika

d. Menunjukkan posisi, orasi, atau tulisan

Berpikir kritis sebagai salah satu komponen dalam proses berpikir tingkat tinggi,menggunakan dasar menganalisis argumen dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap makna dan interpretasi, untuk mengembangkan pola penalaran yang kohesif dan logis, inti berpikir kritis adalah deskripsi yang lebih rinci dari se-jumlah karakteristik yang berhubungan, yang meliputi analisis, inferensi, eks-planasi, evaluasi, pengaturan diri dan interpretasi (Liliasari, 2011). Berpikir kritis berbeda dengan berpikir biasa. Berpikir biasa tidak mempunyai standar dan sederhana, sedangkan berpikir kritis lebih kompleks dan berdasarkan standar objektif, kegunaan atau kemantapan.

E. Kerangka Pemikiran

(30)

15

mendasar karena dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep kimia yang abstrak dan menghadirkan miskonsepsi yang muncul dari pemikiran siswa itu sendiri.

Pada dimensi makroskopis dalam pembelajaran ini siswa diminta untuk melaku-kan praktikum sehingga panca indera yang dimiliki dapat dimanfaatmelaku-kan secara maksimal untuk mengamati fenomena-fenomena yang terjadi. Kemudian siswa juga dituntut untuk melatih kemampuan merepresentasi agar dapat menjelaskan fenomena yang terjadi. Dengan demikian diharapkan mempermudah siswa untuk menemukan konsep dari materi yang disampaikan karena konsep-konsep larutan elektrolit dan non elektrolit lebih banyak dijelaskan melalui persamaan

matematik.

Pembelajaran dengan menggunakan LKS representasi kimia yang demikian memberikan pengalaman belajar pada siswa sebagai proses dengan menggunakan sikap ilmiah agar mampu memiliki pemahaman representasi, sehingga dapat menemukan produk kimia, yang berupa konsep, hukum, dan teori, serta mengkaitkan dan menerapkannya pada konteks kehidupan nyata dan tidak mengarahkan siswa pada penguasaan terhadap mata pelajaran kimia yang cenderung bersifat akumulatif dan menghafal.

Apabila LKS berbasis multipel representasi seperti ini diterapkan pada pem-belajaran kimia di kelas diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan ber-pikir kritis sehingga kemampuan berber-pikir kritis siswa menggunakan LKS ini akan lebih baik dibandingkan dengan kemempuan berpikir kritis siswa yang

(31)

16

F. Anggapan Dasar

Beberapa hal yang menjadi anggapan dasar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Siswa kelas X MA Al-Fatah Tahun yang menjadi subjek penelitian mempunyai kemampuan dasar yang sama dalam berpikir kritis

2. Perbedaan kemampuan berpikir kritis materi larutan elektrolit dan non elektrolit semata-mata karena perbedaan perlakuan dalam proses pembelajaran; dan

3. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi peningkatan kemampuan berpikir kritis materi larutan elektrolit dan non elektrolit siswa kelas X MA Al-Fatah Tahun 2016-2017 diabaikan.

G. Hipotesis

Hipotesis umum dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan LKS berbasis multipel representasi pada materi larutan elektrolit dan non

(32)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X MA Al-Fatah Natar Tahun Ajaran 2016-2017 yang berjumlah 2 kelas masing-masing kelas terdiri atas 23 siswa X MIA A dan 33 siswa X MIA B. Selanjutnya dari populasi tersebut diambil sebanyak dua kelas dengan cara total sampling untuk dijadikan sampel penelitian. Satu kelas sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan LKS berbasis multipel representasi dan satu kelas lagi sebagai kelas kontrol dengan menggunakan LKS konvensional.

Peneliti mengharapkan penelitian ini berhasil untuk menguji keefektivan LKS berbasis multipel representasi pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit. Peneliti memilih teknik sampel total dalam pengambilan sampel karena

populasinya hanya terdapat 2 kelas (Sugiono, 2015).

B. Jenis dan Sumber Data

(33)

18

kemampuan berpikir kritis kimia setelah penerapan pembelajaran menggunakan LKS berbasis multipel representasi (postes).

Adapun sumber data dibagi menjadi dua kelompok yaitu seluruh siswa kelas eksperimen dan seluruh siswa kelas kontrol.

C. Metode dan Desain Penelitian

[image:33.595.114.509.375.437.2]

Metode penelitian ini adalah kuasi eksperimen menggunakan Non Eqiuvalent (pretest-posttest) Control Group Design (Creswell, 2014; Sugiono, 2015), dengan urutan kegiatan seperti yang terlihat pada tabel 3.

Tabel 3. Desain penelitian

Pretes Perlakuan Postes

Kelas eksperimen O1 X1 O2

Kelas kontrol O1 X2 O2

(Creswell, 2014) O1 adalah pemberian pretes sebelum diberikan perlakuan, O2 adalah pemberian

postes setelah diberikan perlakuan, X1 adalah perlakuan pembelajaran

meng-gunakan LKS berbasis multipel representasi, sementara X2 adalah perlakuan

pembelajaran menggunakan LKS konvensional.

D. Variabel Penelitian

(34)

19

E.Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Guna memperoleh informasi, peneliti melakukan tahap sebagai berikut: 1. Pra pendahuluan

a. Peneliti meminta izin kepada Kepala MA Al-Fatah Natar untuk melaksanakan penelitian.

b. Peneliti menentukan sampel penelitian sebanyak 2 kelas. 2. Pelaksanaan penelitian

Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari beberapa tahap, yaitu: a. Tahap persiapan

Peneliti menyusun silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan instrumen tes.

b. Tahap pelaksanaan proses pembelajaran.

1. Memberikan pretest dengan soal-soal yang sama pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

2. Melaksanakan pembelajaran pada materi larutan penyanggasesuai model pembelajaran pada masing-masing kelas.

3. Memberikan postes dengan soal-soal yang sama pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

(35)

20

[image:35.595.116.551.117.475.2]

Alur prosedur penelitian tersebut dapat digambarkan dalam bentuk bagan berikut:

Gambar 2. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

F. Perangkat Pembelajaran dan Instrumen Penelitian

1. Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Analisis konsep adopsi Rahman Aryo Hananto (2015)

b. Silabus adopsi dari Rahman Aryo Hananto (2015)

c. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) modifikasi dari Rahman Aryo Hananto (2015)

Izin Penelitian di SMA

Observasi ke Sekolah

Menentukan Sampel

Membuat Perangkat dan Instrumen Tes

Pretes Kelas Kontrol

Kelas Eksperimen

LKS Konvensional LKS Berbasis Multipel

Representasi

Kegiatan Pembelajaran

Postes

Tahap Akhir Penelitian Tabulasi & Analisis Data

Pembahasan dan Simpulan

Pra Pendahuluan

Tahap Pelaksanaan

(36)

21

d. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang digunakan berjumlah 3 LKS adopsi dari Rahman Aryo Hananto (2015).

2. Instrumen Penelitian

Instrumen adalah alat yang berfungsi untuk mempermudah pelaksanaan sesuatu. Instrumen pengumpulan data merupakan alat yang digunakan oleh pengumpul data untuk melaksanakan tugasnya mengumpulkan data (Arikunto, 2015). Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah soal pretes dan postes yang berupa soal kemampuan berpikir kritis bentuk uraian.

G.Teknik Analisis Data Kemampuan Berpikir Kritis Kimia Siswa

Tujuan analisis data yang dikumpulkan adalah untuk memberikan makna atau arti yang digunakan untuk menarik suatu kesimpulan yang berkaitan dengan masalah, tujuan, dan hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Sebelum melaksanakan penelitian, analisis data yang perludilakukan adalah sebagai berikut:

1. Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Analisis validitas dan reabilitas instrument tes digunakan untuk mengetahui kualitas instrument yang digunakan dalam penelitian. Uji coba instrumen di-lakukan untuk mengetahui dan mengukur apakah instrument yang digunakan telah memenuhi syarat dan layak digunakan sebagai pengumpul data.

(37)

22

a. Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen tes (Arikunto, 2006). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan rumus product moment dengan angka kasar yang dikemukakan oleh Pearson, dalam hal ini analisis di-lakukan dengan menggunakan SPSS 17.0.

b. Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kepercayaan instrument penelitian yang digunakan sebagai alat pengumpul data. Suatu alat evaluasi disebut reliable jika alat tersebut mampu memberikan hasil yang dapat dipercaya dan konsisten.. Uji reliabilitas dilakukan dengan meng-gunakan rumus Alpha Cronbach yang kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan derajat reliabilitas alat evaluasi menurut Guilford (Suherman, 2003), dalam hal ini analisis dilakukan dengan menggunakan SPSS 17.0. Kriteria derajat reliabilitas (r11) alat evaluasi menurut Guilford:

(38)

23

2. Analisis Data Keefektivan Pembelajaran Menggunakan LKS Berbasis Multipel Representasi

Ukuran keefektivitasan LKS berbasis multipel representasi dalam penelitian ini ditentukan dari aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, serta ketercapaian dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

a. Analisis Data Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis pada penelitian ini dapat ditunjukan melalui hasil skor siswa mengerjakan soal tes yang diberikan diawal (pretes) dan diakhir (postes) serta melalui skor n-Gain. Nilai pretes dan postes diperoleh dengan rumus sebagai berikut :

Nilai Akhir =

Perhitungan rata-rata persentase kemampuan berpikir kritis siswa dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Menghitung jumlah siswa yang mampu berpikir kritis

2. Menghitung persentase jumlah siswa yang mampu berpikir kritis dengan rumus:

Kemampuan berpikir kritis = x 100%

(39)

24

b. Perhitungan n-Gain

Nilai n-Gain merupakan perbandingan antara selisih nilai pretes dan nilai postes dengan selisih nilai maksimum dan nilai pretes. Perbedaan signifikan nilai n-Gain digunakan untuk mengetahui efektivita pembelajaran menggunakan LKS berbasis multiple representasi dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis kimia pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit.

Rumus n-Gain yang digunakan adalah sebagai berikut :

( Hake, 1999)

Kriteria n-Gain adalah sebagai berikut.

1. Pembelajaran dengan skor n-Gain “tinggi”, jika gain >0,7;

2. Pembelajaran dengan skor n-Gain “sedang”, jika gain terletak antara 0,3< gain ≤ 0,7;

(40)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A.Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dalam penelitian mengenai

efektivitas LKS berbasis multipel representasi pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit, dapat disimpulkan bahwa LKS berbasis multipel representasi efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit, ditunjukkan dengan perbedaan rata-rata n-Gain antara kelas kontrol dengan eksperimen, dengan peningkatan nilai rata-rata n-Gain pada kelas kontrol dengan eksperimen yaitu memenuhi kriteria “sedang”.

B.Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, disarankan bahwa:

(41)

34

(42)

DAFTAR PUSTAKA

.

Abdurahmat. 2008. Efektivitas Organisasi Edisi Pertama. Airlangga. Jakarta. Ainsworth. 1999. The Functions of Multiple Representations. Computers &

Education. 33, p. 131 – 152.

Arafah, S. F. dkk. 2012. Pengembangan LKS Berbasis Berpikir Kritis Pada Materi Animalia. Journal Unnes, 1 (2): 91-98.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penilaian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta. Jakarta

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Isi Mata Pelajaran Kimia SMA/MA. BSNP. Jakarta.

Bassham, g., Irwin, W., Nardone, H., & Wallace, J. M. 2007. Critical Thinking: A Student Introduction. 2nd Edition. Singapore: McGraww-Hill Company, Inc.

Cheng, M., & Gilbert, J. K. 2009. Towards a Better Utilization of Diagram in Research into the Use of Representative Levels in Chemical Education. Model and Modeling in Science Education, Multipelple Representations in Chemical education. Springer Science+Business Media B.V. p.55–73.

Creswell, J. W. 2014. Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed Method Approaches. New Delhi: Sage Publications,Inc.

Djamarah, S. B. dan Zain, A. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.

Ennis, R. H. 1989. Critical Thinking and Subject Specificity: Clarification and Needed Research. Journal Eeducation, 18 (3):4-10.

Fadiawati, N. 2011. Perkembangan Konsepsi Pembelajaran Tentang Struktur Atom Dari SMA Hingga Perguruan Tinggi. Disertasi. Bandung. SPs-UPI Bandung.

(43)

36

Gani, T., Auliah, A., & Faika, S. 2011. Penguasaan Pengetahuan Deklaratif dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia. Jurnal Pendidikan Kimia , 1 (12):1-9.

Hake, R. R. 2002. Reliatonship of Individual Student Normalized Learning Gains in Mechanis with Gender, High School Physics, and Pretest Scoreon Mathematics and Spatial Visualization. Physich Education Research Conference. Diakses pada tanggal: 12 Maret 2017.

Herawati, F. R. 2011. Pembelajaran Kimia Berbasis Multipel Representasi Di Tinjau dari Kemampuan Awal Terhadap Prestasi Belajar Laju Reaksi Siswa. Jurnal Pendidikan Kimia., 2 (2): 13-15, 2013.

Heuvelen, V. and Zou. X.L. 2001. Multiple Representations of Work-energy Processes. American Journal of Physics. 69, No 2. p 184.

Johnstone, A. H. 1982. Macro- and Micro-Chemistry, School Science Review., 227, No. 64. p. 377-379.

Johnstone, A.H. 2000. Teaching Of Chemistry – Logical or Psychological? Chemistry Education : Research and Pratice In Europe 1(1): 9-15.

Liliasari., 2007. Scientific Concepts and Generic Science Skills Relationship In The 21st Century Science Education. Seminar Proceeding of The First International Seminar of Science Education., 27 Juli 2017. Bandung. 13-18.

Marks, J. 1985. Science and The Making of The Modern World. Heinemann Educational Books. London.

Meltzer, E.D. 2005. Relation Between Students’ Problem-Solving Performance and Representational Format. American Journal of Physics.73. No.5. p.463.

Nakhleh, M.B. 2008. Learning Chemistry Using Multiple External Represen-tations. Visualization: Theory and Practice in Science Education. Gilbert et al., (eds.), p. 209 – 231.

OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). 2013. PISA 2012 Assesmentand Analytical Framework: matemathics, reading, science, problem solving, and financial literacy. (online).

(http://www.keepeek.com/Digital- AssesmentManagement/oecd/education/pisa-2012-assesment-and-analytical-framwork_9789264190511-en.). Diakses pada tanggal 2 Juli 2017.

(44)

37

Rohaeti, E., LFX, E. W., dan Padmaningrum, R. T. 2009. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Mata Pelajaran Sains Kimia untuk SMP. Jurnal Unesa, 1 (10): 1-6.

Safitri, R. A., Sunyono, & Efkar, T. 2015. Lembar Kerja Siswa Untuk Model Mental dan Penguasaan Konsep Asam Basa. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Kimia, 4 (1): 248-261.

Schafersman, S.D. 1991. Introduction to critical Thinking. Diambil tanggal 2 juni 2017, dari http://www.freeinquiry.com/critical-thinking.html

Sriyono. 1992. Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA. Rineka Cipta. Jakarta. Sudjana. 2005. Metode Statistika. Tarsito. Bandung.

Sugiono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta. Bandung.

Suherman, E. 2003. Evaluasi Pembelajaran Matematika. JICA Universitan Pendidikan Indonesia

Sunyono. 2012. Buku Model Pembelajaran Multipel Representatif Model Si Mayang. Aura Printing & Publishing. Bandar Lampung

---. 2015. Model Pembelajaran Multipel Representasi, Pembelajaran Fase dengan Lima Kegiatan: Orientasi, Eksplorasi Imajinatif, Internalisasi, dan Evaluasi. Media Akademi. Yogyakarta

Sutamiati, K., Sunyono, & Efkar, T. 2015. LKS Berbasis Multipel Representasi Menggunakan Model Si mayang Pada Materi Asam Basa. Jurnal

pendidikan dan Pembelajaran Kimia, 4 (1): 236-247.

Tasker, R. & Dalton, R. 2006. Research Into Practice: Visualization of The Molecular World Using Animations. Chem. Educ. Res. Prac. 7, 141-159. Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran: Landasan dan Aplikasinya.

Rineka. Bandung.

Figure

Gambar 1.  Tiga dimensi representasi kimia (Johnstone dalam Sunyono, 2010)
Tabel 1.  Unsur-unsur keterampilan berpikir kritis (Ennis, 1989).
Tabel 3.  Desain penelitian
Gambar 2. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

References

Related documents

Pri procjeni relativnog rizika u usporedbi sa ženama iste dobi (Tablica 1.), žene prosječnog rizika također su značajno češće dale točnu samoprocjenu relativnog

This study aims to examine the differences between experimental and control groups in terms of level of achievement, attitude, and learner autonomy after the experimental procedure

Introduction to Testing – BA, Dept of Behavioral Sciences, Ben Gurion University Test Development – MA - Dept of Behavioral Sciences,Ben Gurion University Cognitive Psychology –

Concerning the network of mobile specialists, employment takes place in the institution of public education indicated by the Budapest, county local authority. The number of

The amount of adhesive needed will depend on wood species, surface quality of wood, moisture content, type of adhesive, temperature and humidity of the air, assembly time,

To achieve this aim, the HSCA12 abolished Primary Care Trusts (PCTs), which were previously responsible for commissioning (i.e. assessing health care need, and planning and

However, frequently, and especially in the case of populist radical right parties of Western Europe, this vertical distinction cuts at both ends; apart from the élites at the

[r]