I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelapa sawit (Elais guineensis Jacq.) merupakan tanaman introduksi yang berasal dari Afrika Barat yang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di Indonesia. Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak kelapa sawit (CPO – crude palm oil) dan inti kelapa sawit (PKO – palm kernel oil) merupakan salah satu
primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non-migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam
perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.
Industri kelapa sawit Indonesia telah tumbuh secara signifikan dalam empat puluh tahun terakhir. Sejak tahun 2006 Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Bersama dengan Malaysia, Indonesia menguasai hampir 90% produksi minyak sawit dunia. Indonesia bukan merupakan tempat asal mula tanaman kelapa sawit, namun memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perkelapasawitan. Dimulai dengan penanaman empat tanaman kelapa sawit di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848, tanaman kelapa sawit unggul menyebar ke seluruh dunia dan menjadi tanaman komersial sejak tahun 1911
Industri minyak sawit telah menjadi salah satu industri primadona bagi Indonesia. Dengan jumlah ekspor tahunan yang saat ini mencapai lebih dari 14 juta ton CPO pertahun, maka dalam setahun ekspor CPO telah menghasilkan devisa lebih dari US$10 Milyar (rata-rata harga CPO US$750 per MT di tahun 2008).
Pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia terutama dibangun di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Irian Jaya. Pada tahun 2006, Indonesia telah mengungguli Malaysia sebagai produsen CPO terbesar di dunia. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan industri pemproses CPO dalam negeri maka dilakukan berbagai cara untuk meningkatkan produksi kelapa sawit. Salah satunya adalah menekan kompetisi tanaman kelapa sawit dengan gulma.
Dalam budidaya tanaman kelapa sawit, salah satu masalah penting yang dihadapi adalah gulma. Gulma merupakan tumbuhan yang mengganggu kepentingan manusia sehingga perlu dilakukan tindakan pengendalian. Keberadaan gulma di sekitar tanaman dapat menimbulkan kerugian yang besar walaupun berlangsung secara perlahan-lahan. Persaingan antara tanaman dan gulma yang terjadi baik di atas permukaan tanah yang berupa persaingan dalam mendapatkan cahaya
matahari, CO2 dan ruang tumbuh maupun yang terjadi di dalam tanah dalam persaingan mendapatkan air dan unsur hara dan faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan lainnya dapat menekan jumlah produksi tanaman budidaya
(Tjitrosoedirdjo et al., 1984). Oleh karena itu perlu adanya tindakan pengendalian untuk menekan perkembangannya di areal pertanaman.
pengendalian secara kimiawi. Efektivitas herbisida dalam penggunaan tenaga kerja dan biaya yang cenderung lebih ekonomis menyebabkan penggunaan herbisida dalam mengendalikan gulma di areal perkebunan sangat dominan. Selain itu keuntungan herbisida lainnya adalah mampu menekan pertumbuhan gulma tanpa mengganggu tanaman pokok (Sukman dan Yakup, 1995).
Konsumsi herbisida semakin tinggi seiring dengan semakin majunya teknologi budidaya tanaman. Maka upaya-upaya untuk mencari senyawa-senyawa kimia baru yang berpotensi untuk menjadi salah satu herbisida komersial atau
memperoleh formulasi baru dari bahan aktif yang sudah ada atau juga hanya sekedar melakukan tindakan regulasi terus dilakukan. Fluroksipir merupakan salah satu jenis herbisida yang terus dikembangkan dalam upaya mengendalikan gulma di areal perkebunan kelapa sawit.
Herbisida fluroksipir merupakan herbisida yang bersifat sistemik dan purna tumbuh yang berbentuk pekatan yang dapat diemulsikan serta efektif dalam mengendalikan gulma terutama gulma daun lebar seperti Ageratum conyzoides,
Borreria latifolia, Mikania micrantha serta jenis kacang-kacangan seperti
Pueraria javanica (Dowagro, 2007).
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, penelitian ini dilakukan untuk menjawab masalah yang dirumuskan dalam pertanyaan sebagai berikut:
2. Apakah terjadi perubahan komunitas gulma pada gawangan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan setelah aplikasi fluroksipir?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi dan perumusan masalah tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Mengetahui efektivitas herbisida fluroksipir dalam mengendalikan gulma pada gawangan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan.
2. Mengetahui perubahan komunitas gulma pada gawangan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan setelah aplikasi fluroksipir.
1.4 Landasan Teori
Kehilangan hasil akibat gulma menyebabkan perlu dilakukannya tindakan
pengendalian. Pengendalian gulma pada dasarnya adalah menekan pertumbuhan gulma agar populasinya di areal pertanaman tidak mengganggu kepentingan manusia. Salah satunya adalah pengendalian secara kimiawi yaitu dengan menggunakan herbisida.
Lahan yang luas, efisiensi tenaga kerja dan waktu, hasil yang tampak lebih cepat, dan pertimbangan ekonomis menyebabkan pengendalian dengan herbisida lebih dipilih daripada pengendalian gulma dengan cara lainnya. Menurut Sukman dan Yakup (1995), pengendalian gulma secara kimiawi memiliki keuntungan antara lain dapat mengendalikan gulma sebelum mengganggu tanaman, mencegah kerusakan perakaran tanaman, lebih efektif membunuh gulma tahunan dan semak belukar dan dapat meningkatkan hasil panen tanaman dibandingkan dengan perlakuan biasa. Selain itu cara aplikasi penting dalam penentuan derajat keberhasilan pengendalian gulma, seperti aplikasi yang mengurangi kontak dengan tanaman budidaya dan memperbanyak kontak dengan gulma sehingga herbisida tidak sampai meracuni tanaman pokok.
Pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida akan menyebabkan
perubahan komunitas gulma di lahan tesebut. Perubahan jenis gulma yang lebih besar kemungkinan disebabkan oleh adanya tekanan selektivitas yang lebih tinggi dari herbisida yang digunakan. Selain diduga karena adanya perbedaan tanggapan masing-masing jenis gulma terhadap perlakuan yang diberikan, serta masih
tersebut diakibatkan oleh pemencaran biji dari daerah sekitarnya dan tumbuh kembali bagian vegetatif yang tersisa dalam tanah (Sastroutomo, 1990).
Salah satu herbisida yang sering digunakan untuk mengendalikan gulma pada lahan sawit adalah herbisida dengan bahan aktif fluroksipir. Fluroksipir adalah herbisida pasca tumbuh yang bersifat sistemik. Herbisida sistemik yaitu herbisida yang dapat ditranslokasikan dari tempat terjadinya kontak pertama dengan organ gulma ke bagian tubuh lainnya yang menyebabkan seluruh bagian gulma tersebut akan mengalami kematian total (Sukman dan Yakup, 1995).
1.5 Kerangka Pemikiran
Gulma yang berada pada areal pertanaman dapat berdampak negatif apabila populasinya melewati ambang ekonomi. Terjadinya persaingan antara tanaman budidaya dengan gulma adalah dalam memperoleh faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan gulma berupa unsur hara, air, cahaya matahari, CO2 dan ruang tumbuh. Untuk mencegah atau menekan dampak negatif yang akan ditimbulkan oleh gulma tersebut maka diperlukan adanya tindakan pengendalian. Salah satu upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah pengendalian dengan cara kimiawi yakni dengan menggunakan herbisida.
Herbisida berbahan aktif fluroksipir merupakan herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar pada areal pertanaman kelapa sawit.
fluroksipir dalam tumbuhan berlangsung secara simplastik yaitu melalui jaringan hidup dengan pembuluh utama floem bersamaan dengan hasil fotosintesis.
Herbisida fluroksipir merupakan herbisida dalam bentuk fluroksipir-meptyl. Namun setelah diaplikasikan ke tumbuhan maka ester akan terhidrolisis menjadi
‘parent acid’ sehingga herbisida berada dalam bentuk yang aktif. Herbisida ini
akan mengganggu kerja auksin yang banyak berada pada jaringan meristem. Adanya gangguan pada jaringan meristem inilah yang menyebabkan kematian pada gulma. Gejala keracunan yang ditimbulkan biasanya terlihat adanya daun-daun yang menggulung dan kemudian mati.
1.6 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut:
1. Herbisida fluroksipir mampu mengendalikan gulma pada gawangan tanaman kelapa sawit belum menghasilkan.