• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
56
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

SISWA PADA MATERI SUHU DAN KALOR

(Skripsi)

Oleh

LUCIA DEWANTI MAHARANI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

Lucia Dewanti Maharani

ii

ABSTRAK

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

SISWA PADA MATERI SUHU DAN KALOR

Oleh

LUCIA DEWANTI MAHARANI

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang

menuntut siswa terlibat secara langsung dalam memecahkan permasalahan yang

disajikan. Permasalahan yang disajikan memacu kemampuan berpikir kritis siswa,

maka peneliti melakukan penelitian mengenai penerapan model pembelajaran

berbasis masalah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa

dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah, (2) mendeskripsikan

keterlaksanaan penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada kelas

eksperimen. Penelitian dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016

di SMA Xaverius Pringsewu. Sampel penelitian ini yaitu kelas X-2 sebagai kelas

eksperimen dan kelas X-3 sebagai kelas kontrol masing-masing berjumlah 36

siswa. Penelitian dilakukan menggunakan metode penelitian quasy experimental

(3)

Lucia Dewanti Maharani

iii

ini menunjukkan bahwa (1) ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa pada

pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah

dibandingkan dengan pembelajaran konvensional diperoleh nilai N-gain sebesar 0,71 (tinggi) pada kelas eksperimen dan 0,55 (sedang) pada kelas kontrol, (2)

model pembelajaran berbasis masalah terlaksana dengan rata-rata nilai sebesar

3,82 (terlaksana dengan kategori baik).

(4)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

SISWA PADA MATERI SUHU DAN KALOR

Oleh

Lucia Dewanti Maharani

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Fisika

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sukoharjo, Pringsewu pada tanggal 15 Maret 1994, sebagai

anak ke-empat dari empat bersaudara, putri dari Bapak Agus Purwanto dan Ibu

Bernadina Dwi Endrawati.

Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) Dharma Wanita Sukoharjo diselesaikan

tahun 2000, Sekolah Dasar ditempuh di SD Negeri 1 Sukoharjo 2 hingga lulus

pada tahun 2006, Sekolah Menengah Pertama di SMP Xaverius Pringsewu

diselesaikan pada tahun 2009, dan Sekolah Menengah Atas di SMA Xaverius

Pringsewu diselesaikan pada tahun 2012.

Tahun 2012 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika

Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Lampung melalui jalur SNMPTN

Tulis. Selama menjadi mahasiswa penulis tercatat sebagai pengurus Unit Kegiatan

Mahasiswa Katolik divisi Kaderisasi dan Pengembangan Diri pada tahun 2014.

Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Bandung-Jogja-Malang

pada tahun 2014. Pada tahun 2015, penulis melakukan Program Pengalaman

Lapangan (PPL) di SMP Negeri 1 Ulubelu sekaligus melaksanakan Kuliah Kerja

(9)

MOTO

“Diberkatilah orang yang megandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.”

(Yeremia 17:7)

(10)

PERSEMBAHAN

Dengan segenap rasa syukur kepada Bapa Yang Maha Kuasa,

penulis persembahkan karya sederhana ini untuk:

Kedua orang tua tercinta, Bapak Agus Purwanto dan Ibu Bernadina Dwi

Endrawati yang telah berjuang dalam hidup bersama.

Terima kasih atas curahan kasih yang tak berkesudahan, semangat juang yang kau

teladankan, serta budi pekerti yang kau tanamkan.

Saudara-saudara penulis terkasih, Ignatia Gusti Maharestu, Monica Ajeng

Mahardini, Paulina Yaning Maharsi, dan Sulaksono yang menanti keberhasilan

penulis dan terima kasih atas doa serta dukungannya.

(11)

xi

SANWACANA

Puji syukur Penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat

dan kasih-Nya skripsi ini dapat diselesaikan.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Muhammad Fuad, M.Hum, selaku Dekan FKIP Universitas

Lampung.

2. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.

3. Bapak Drs. Eko Suyanto, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika.

4. Bapak Drs. Nengah Maharta, M.Si., selaku Pembimbing Akademik dan

pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis.

5. Bapak Drs. Feriansyah Sesunan, M.Pd., selaku Pembimbing II atas

keikhlasan dan kesabarannya memberikan bimbingan, banyak masukan,

saran dan kritiknya.

6. Bapak Dr. Abdurrahman, M.Si., selaku Pembahas yang banyak memberikan

kritik dan saran yang positif dan bersifat membangun.

7. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Jurusan Pendidikan MIPA.

8. Bapak Drs. M. Suharto, selaku Kepala SMA Xaverius Pringsewu yang telah

memberikan izin bagi penulis untuk melakukan penelitian.

9. Ibu Helaria Widiati, S.Pd., selaku guru mitra atas bantuan dan kerjasamanya

(12)

xii

10. Siswa-siswi kelas X-2 dan X-3 SMA Xaverius Pringsewu, sebagai sampel

penelitian atas kerjasama dan keceriaannya.

11. Keluarga besar Mbah Winarsih dan Mbah Sapari, Bapak, Ibu, Mbak Gusti,

Mbak Yaning, Mas Laksono terimakasih atas doa, dukungan, perhatian, kasih

sayang dan nasihatnya.

12. Rekan-rekan Pendidikan Fisika 2012: Ayu, Ani, Agnes, Eko, Nova, Dinda,

Nury, Rika, Alitta, Alfath, Arin, Ririn, Ratih, Eka, Gusti, Yani, Asep, Edi,

Damanta, Rina, Wayan, Lena, Ferti, Malinda, Dian, Mia, Siska dan seluruhnya

yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas motivasi dan kebersamaan selama

ini.

13. Rekan-rekan Asrama Pondok Indah: Anggy, Etta, Susi, Jenifer, Nadia, Pupe,

Tere, Videl, Dwi, Vina, Linda, Kak Hedi, Amel dan seluruhnya atas dukungan,

motivasi dan kebersamaannya.

14. Rekan-rekan selama KKN-KT: Erma, Arum, Jeni, Uti, Ulan, Erika, Putra,

Damar, dan Muslimin atas kebersamaan yang tak terlupakan.

15. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Semoga Allah Bapa Yang Mahakuasa melimpahkan rahmat dan berkat-Nya kepada

kita semua dan berkenan membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada

penulis. Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi ini dapat berguna dan

bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, Juni 2016 Penulis

(13)

xiii DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritis ... 6

1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah ... 6

2. Model Pembelajaran Langsung ... 14

3. Kemampuan Berpikir Kritis ... 18

B. Kerangka Pemikiran ... 24

C. Anggapan Dasar ... 27

D. Hipotesis Penelitian ... 27

III. METODE PENELITIAN A. Populasi Penelitian ... 28

B. Sampel Penelitian ... 28

C. Desain Penelitian ... 28

D. Variabel Penelitian ... 29

E. Instrumen Penelitian ... 29

F. Analisis Instrumen ... 30

1. Uji Validitas ... 30

2. Uji Reliabilitas ... 31

G. Teknik Pengumpulan Data ... 32

H. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 33

1. Analisis Data ... 33

(14)

xiv IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ... 37

1. Tahapan Eksperimen ... 37

a. Kelas Eksprimen ... 37

b. Kelas Kontrol ... 39

2. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 41

3. Penyajian Data Kuantitatif... 42

a. Data Kemampuan Berpikir Kritis ... 43

b. Data Keterlaksanaan Model PBM ... 45

4. Hasil Uji Hipotesis dengan Independent Sample T Test ... 47

B. Pembahasan ... 48

1. Kemampuan Berpikir Kritis ... 48

2. Keterlaksanaan Model Pembelajaran Berbasis Masalah ... 50

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 52

B. Saran ... 52

(15)

xv

[image:15.595.116.508.245.616.2]

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah ... 8

2. Kemampuan dan Indikator Berpikir Kritis ... 20

3. Rubrik Penilaian Berpikir Kritis ... 23

4. Interpretasi Perolehan Indeks Gain ... 35

5. Hasil Uji Validitas Soal Kemampuan Berpikir Kritis ... 41

6. Hasil Uji Reliabilitas Soal Kemampuan Berpikir Kritis ... 42

7. Perolehan Nilai dari Kelas Eksperimen ... 43

8. Perolehan Nilai dari Kelas Kontrol ... 43

9. Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen ... 44

10. Hasil Uji Normalitas Kelas Kontrol ... 44

11. Hasil Uji N-gain ... 45

12. Data Keterlaksanaan Model PBM ... 46

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Bagan Paradigma Pemikiran ... 25

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Silabus ... 56

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 59

3. Lembar Kerja Kelompok (LKK)... 72

4. Lembar Keterlaksanaan Model PBM ... 90

5. Kisi-kisi Tes Kemampuan Berpikir Kritis ... 96

6. Lembar Soal Tes Kemampuan Berpikir Kritis ... 98

7. Rubrikasi Penilaian Tes Kemampuan Berpikir Kritis... 100

8. Hasil Uji Validitas Tes Kemampuan Berpikir Kritis ... 104

9. Hasil Uji Reliabilitas Tes Kemampuan Berpikir Kritis ... 108

10. Data Hasil Uji N-gain Kelas Eksperimen ... 109

11. Data Hasil Uji N-gain Kelas Kontrol ... 111

12. Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen ... 113

13. Hasil Uji Normalitas Kelas Kontrol ... 114

14. Hasil Uji Independent Sample T Test ... 115

(18)

1

I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu bentuk usaha dalam meningkatkan kualitas

kehidupan manusia, yaitu dalam peranannya untuk memanusiakan manusia.

Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu

dengan menuntut pendidik untuk memiliki 4 kompetensi yang wajib dikuasai

guru yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.

Dalam kompetensi pedagogik guru diharapkan mampu menerapkan strategi

yang cocok guna mencapai pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif,

dan menyenangkan agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan

dalam pembelajaran.

Pembelajaran fisika merupakan rumpun Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan

tujuan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, induktif dan deduktif,

berdasarkan konsep dan prinsip fisika. Dengan demikian pembelajaran fisika

diharapkan tidak hanya menganut sistem konsep dan materi saja namun perlu

menekankan pada kemampuan khusus yang berguna untuk menghadapi

permasalahan dalam kehidupan nyata. Salah satu keterampilan berpikir yang

diperlukan peserta didik untuk dapat memecahkan masalah adalah kemampuan

berpikir tingkat tinggi atau berpikir kritis dan penting untuk dikembangkan dalam

(19)

2

Kemampuan berpikir kritis dapat menjadi penentu kemampuan siswa dalam

menjawab permasalahan pada saat mengikuti pembelajaran. Kemampuan

berpikir kritis tidak hanya berguna untuk menunjang akademik siswa, namun

berguna juga dalam menghadapi tantangan serta masalah kehidupan di masa

mendatang. Siswa perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam

kehidupan sehari-hari, dengan berpikir kritis ketika siswa dihadapkan pada

suatu masalah dalam kesehariannya, siswa dapat menentukan berbagai solusi

yang tepat. Jadi, bila nantinya siswa tidak melanjutkan pendidikannya ke

jenjang yang lebih tinggi, kemampuan berpikir kritis siswa masih membekas

dan dapat dikembangkannya sendiri serta mampu memberikan solusi atas

berbagai masalah yang dihadapi.

Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMA Xaverius Pringsewu diketahui

bahwa proses pembelajaran fisika selama ini pada kelas X guru hanya

menggunakan metode ceramah dan latihan soal. Metode ceramah diduga

menyebabkan siswa hanya diam mendengarkan penjelasan guru dan latihan

soal saja tidak mengoptimalkan pembelajaran karena siswa hanya

mengerjakan soal-soal latihan dengan rumus-rumus yang sudah tersedia pada

bahan ajar. Hal ini dilakukan guna menyingkat waktu, seiring jumlah materi

yang cukup banyak dan harus diselesaikan dalam waktu yang singkat yaitu

satu kali tatap muka setiap minggu. Dampaknya siswa menjadi kurang

terlatih untuk membiasakan diri meningkatkan kemampuan berpikir kritis

dalam merumuskan masalah, berhipotesis, menginterpretasi pernyataan,

memberikan alasan dan solusi yang tepat dari suatu masalah sehingga tidak

(20)

3

Menanggulangi permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran yang

tepat untuk mengoptimalkan proses dengan penyajian materi yang menarik, yang

lebih dominan melibatkan siswa sehingga siswa dapat lebih aktif dalam proses

pembelajaran. Model yang diperlukan lebih mengedepankan aktivitas, dimana

siswa dituntut memperoleh pengalaman secara langsung dan menemukan sendiri

ilmu pengetahuan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Salah satu pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi masalah tersebut adalah

dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning). Dengan model pembelajaran berbasis masalahsiswa lebih banyak terlibat secara langsung selama proses pembelajaran, baik mental maupun

fisik untuk memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru. Dengan

demikian, siswa akan terbiasa bersikap seperti para ilmuwan sains, dengan

ciri-ciri sikap ilmiah yaitu ingin tahu, kritis, objektif, ingin menemukan, tekun

dan terbuka. Model pembelajaran berbasis masalah diharapkan dapat

menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Selain itu, model pembelajaran

berbasis masalah dapat membelajarkan siswa untuk mengembangkan

kemandirian dan percaya diri dalam menyelesaikan permasalahan dan

pengambilan keputusan dalam konteks kehidupan nyata yang kompleks

dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri,

mengembangkan inkuiri atau mengintegrasikan pengalaman langsung mereka

dengan ilmu fisika dan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian dengan judul “Penerapan

model pembelajaran berbasis masalah untuk menumbuhkan kemampuan

(21)

4

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah model pembelajaran berbasis masalah menumbuhkan

kemampuan berpikir kritis siswa?

2. Bagaimana keterlaksanaan penerapan model pembelajaran berbasis

masalah pada kelas eksperimen?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menerapkan

model pembelajaran berbasis masalah

2. Mendeskripsikan keterlaksanaan penerapan model pembelajaran

berbasis masalah pada kelas eksperimen.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :

1. Bagi siswa memperoleh pengalaman belajar yang berbeda dalam materi

suhu dan kalor melalui model pembelajaran berbasis masalah sehingga

mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.

2. Bagi guru atau calon guru dapat menjadi model pembelajaran alternatif

dalam upaya menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa.

3. Bagi sekolah dapat memperbaiki proses dan mutu pembelajaran,

(22)

5

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah:

1. Pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang

menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan

mengintegrasikan pengetahuan baru. Masalah yang diangkat dapat

masalah pada dunia nyata (kehidupan sehari-hari) maupun dalam

simulasi (percobaan).

2. Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau

mengevaluasi informasi yang dapat diperoleh dari hasil pengamatan,

pengalaman, akal sehat atau komunitas.

3. Kemampuan berpikir kritis meliputi 5 aspek: 1) memberikan penjelasan

dasar, 2) membangun ketrampilan dasar, 3) menyimpulkan, 4) membuat

penjelasan lebih lanjut, 5) strategi dan taktik.

4. Materi pokok dalam penelitian ini adalah suhu dan kalor.

5. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas X SMA Xaverius

Pringsewu semester genap tahun pelajaran 2015/2016 dengan materi

(23)

6

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis

1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan kegiatan

pembelajaran adalah menentukan model pembelajaran yaitu tentang

cara-cara menyajikan materi pembelajaran kepada siswa demi tercapainya

tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Pemilihan model pembelajaran oleh guru memegang peranan penting

dalam kegiatan pembelajaran, yaitu berkaitan langsung dengan

usaha-usaha guru menampilkan pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan

kondisi sehingga pencapaian tujuan pembelajaran diperoleh optimal. Oleh

karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut model yang dapat digunakan

adalah model pembelajaran berbasis masalah.

Menurut Pannen, Mustafa, dan Sekarwinahayu (2005:85) :

Model Problem Based Learning berfokus pada penyajian suatu permasalahan (nyata atau simulasi) pada siswa. Kemudian siswa diminta mencari pemecahan melalui serangkaian percobaan yang berdasarkan teori dan konsep dari suatu bidang ilmu.

Pembelajaran berbasis masalah (PBM) merupakan istilah yang diadopsi

(24)

7

Trianto (2010:92) menerangkan bahwa pengajaran berdasarkan masalah

merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir

ting-kat tinggi sehingga membantu siswa untuk memproses informasi dan

menyusun pengetahuan mereka sendiri.

Pada model pembelajaran berbasis masalah, kelompok-kelompok kecil

siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh

siswa dan guru. Dalam hal ini, pembelajaran dimulai dengan menyajikan

permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama di

antara siswa-siswa. Guru memandu siswa menguraikan rencana

pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan dan memberikan contoh

mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya

tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Selain itu, guru juga harus mampu

menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya

penyelidikan oleh siswa (Trianto, 2010: 92).

Pannen, Mustafa, dan Sekarwinahayu (2005:88) mengungkapkan lima

asumsi utama dalam PBL sebagai berikut:

a. Permasalahan sebagai pemandu. Dalam hal ini permasalahan menjadi acuan yang harus menjadi perhatian siswa. Bacaan diberikan sejalan dengan permasalahan. Siswa ditugaskan untuk membaca dengan selalu mengacu pada permasalahan. Permasalahan menjadi kerangka pikir dalam mengerjakan tugas.

b. Permasalahan sebagai kesatuan. Permasalahan diberikan kepada siswa setelah tugas-tugas dan penjelasan diberikan. Tujuannya memberikan kesempatan pada siswa untuk menerapkan pengetahuan yang sudah diperolehnya dalam pemecahan masalah.

c. Permasalahan sebagai contoh. Permasalahan merupakan salah satu contoh dan bagian dari bahan pelajaran siswa. Permasalahan digunakan untuk menggambarkan teori, konsep, atau prinsip dan dibahas dalam diskusi kelompok.

(25)

8

e. Permasalahan sebagai stimulus dalam aktivitas belajar. Fokusnya pada pengembangan keterampilan pemecahan masalah dari kasus-kasus serupa. Keterampilan tidak diajarkan oleh guru, tetapi ditemukan dan

di-kembangkan sendiri oleh siswa melalui aktivitas pemecahan masalah. Keterampilan yang dimaksudkan meliputi keterampilan fisik, keterampilan data dan menganalisis data yang berkaitan dengan permasalahan.

Dalam pembelajaran berbasis masalah terdapat lima langkah utama yang

dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah

dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Adapun

[image:25.595.145.519.331.683.2]

kelima langkah tersebut dijelaskan dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah

Tahap Tingkah Laku Guru

Tahap-1 Orientasi siswa

pada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah,

memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.

Tahap-2 Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Tahap-3 Membimbing

penyelidikan individual maupun

kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan

eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Tahap-4 Mengembangkan

dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Tahap-5 Menganalisis dan

mengevaluasi proses pemecahan

masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

(26)

9

Tan dalam Rusman (2013: 229) mengungkapkan Pembelajaran Berbasis

Masalah (PBM) merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam

PBM kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui

kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat

memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan

berpikirnya secara berkesinambugan.

Lebih lanjut Arends (2008:56) merinci langkah-langkah yang diperlukan

untuk mengimplementasikan PBL dalam pembelajaran sebagai berikut.

Tahap 1. Mengorientasikan siswa pada masalah.

Dalam hal ini pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan

pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Tahapan ini

sangat penting dalam penggunaan PBL, dimana guru harus menjelaskan

dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa dan guru sendiri. Selain

proses yang akan berlangsung, penting juga untuk menjelaskan bagaimana

guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini penting untuk

memberikan motivasi agar siswa dapat tertarik dalam pembelajaran yang

dilakukan.

Sutrisno dalam Dasna dan Sutrisno (2010: 82) menekankan empat hal

penting pada proses ini, yaitu: a) tujuan utama pengajaran ini tidak untuk

mempelajarai sejumlah informasi baru, tetapi lebih kepada belajar

bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi

mahasiswa yang mandiri, b) permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki

(27)

10

atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan seringkali

bertentangan, c) selama tahap penyelidikan (dalam pengajaran ini), guru

akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu, namun siswa

harus berusaha untuk bekerja mandiri atau dengan temannya, dan d)

selama tahap analisis dan penjelasan, siswa akan didorong untuk

menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Dalam

pembelajaran ini, tidak ada ide yang akan ditawarkan oleh guru atau teman

sekelas. Semua siswa diberi peluang untuk menyumbang kepada

penyelidikan dan menyampaikan ide-ide mereka.

Tahap 2. Mengorganisasi siswa untuk belajar.

Pemecahan suatu masalah yang membutuhkan kerjasama dan sharing

antar anggota mendorong siswa untuk belajar berkolaborasi. Oleh sebab

itu, guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk

kelompok-kelompok siswa dimana masing-masing kelompok akan

memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip

pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan

dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi

antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan

sebagai-nya. Hal penting yang dilakukan guru adalah memonitor dan

mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan

dinamika kelompok selama pembelajaran. Selanjutnya guru dan siswa

menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan,

(28)

11

Tahap 3. Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok.

Pada fase ini guru membantu siswa dalam mengumpulkan informasi dari

berbagai sumber, siswa diberi pertanyaan yang membuat mereka berpikir

tentang suatu masalah dan jenis informasi yang dibutuhkan untuk

memecahkan masalah tersebut. Siswa diajarkan untuk menjadi penyelidik

yang aktif dan dapat menggunakan metode yang sesuai untuk masalah

yang dihadapinya, siswa juga perlu diajarkan apa dan bagaimana etika

penyelidikan yang benar.

Tahap 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.

Hasil karya yang dimaksud lebih dari sekedar laporan tertulis, termasuk

hal-hal seperti rekaman video yang memperlihatkan situasi yang

bermasalah dan solusi yang diusulkan, model-model yang mencakup

representasi fisik dari situasi masalah atau solusinya, dan program

komputer serta presentasi multimedia. Selain beberapa hal tersebut, dapat

pula dilakukan dengan cara lain, newsletter misalnya, merupakan cara

yang ditawarkan untuk memamerkan hasil-hasil karya siswa dan untuk

menandai berakhirnya proyek-proyek berbasis masalah.

Tahap 5. Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah.

Fase terakhir PBL ini melibatkan kegiatan-kegiatan yang dimaksudkan

untuk membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikirnya

sendiri maupun keterampilan investigasi dan keterampilan intelektual yang

mereka gunakan. Selama fase ini, guru meminta siswa untuk

(29)

12

pelajaran.Tantangan utama bagi guru dalam tahap ini adalah

mengupayakan agar semua siswa aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan

penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan

penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.

Dasna dan Sutrisno (2010:77) mengemukakan beberapa alasan baiknya

menggunakan PBL dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut:

a. Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa/mahasiswa

yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan

menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui

pengetahuan yang diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada

konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika

siswa/mahasiswa berhadapan dengan situasi di mana konsep

diterapkan;

b. Dalam situasi PBL, siswa/mahasiswa mengintegrasikan pengetahuan

dan keterampilan secara stimulant dan mengaplikasikannya dalam

konteks yang relevan. Artinya, apa yang mereka lakukan sesuai dengan

keadaan nyata bukan lagi teoritis sehingga masalah-masalah dalam

aplikasi suatu konsep atau teori mereka akan temukan sekaligus selama

pembelajaran berlangsung; dan

c. PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis , menumbuhkan

inisiatif siswa/mahasiswa dalam bekerja, motivasi internal untuk

belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam

(30)

13

Suyatno (2009:58) mengungkap-kan bahwa model pembelajaran

berdasarkan masalah adalah proses pembelajaran yang titik awal

pembelajaran dimulai berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata siswa

dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan

pengalaman telah mereka miliki sebelumnya (prior knowledge) untuk

membentuk pengetahuan dan pengalaman baru.

Terdapat enam karakteristik pembelajaran berbasis masalah yang

diungkapkan Hamdayama (2014) meliputi (1) belajar dimulai dengan

suatu masalah, (2) memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan

dengan dunia nyata siswa, (3) mengorganisasi-kan pelajaran seputar

masalah, bukan seputar disiplin ilmu, (4) memberikan tanggung jawab

yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara

langsung proses belajar mereka sendiri, (5) membentuk kelompok kecil,

dan (6) menuntut siswa untuk mendemonstrasikan yang telah mereka

pelajari dalam bentuk produk atau kinerja.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas,maka dapat disimpulkan bahwa

model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran

yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan

dan mengintegrasikan pengetahuan baru. Model pembelajaran berbasis

masalah menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi

siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan

penyelesaian masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep

(31)

14

2. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)

Model pembelajaran langsung atau Direct Instruction, juga dikenal dengan istilah strategi belajar ekspositori yaitu strategi pembelajaran yang

menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang

guru kepada siswa. Sanjaya (2008:179) menjelaskan bahwa strategi

ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang

berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Pembelajaran langsung merupakan suatu model pembelajaran yang terdiri dari

penjelasan guru mengenai konsep atau keterampilan baru terhadap siswa.

Menurut Arends (2008:295) adalah suatu model pembelajaran dirancang

khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan

pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur

dengan baik, dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap

selangkah demi selangkah.

Nur Ma’rifa (2014) mengungkapkan model pembelajaran langsung (Direct

Instruction) dilandasi oleh teori belajar perilaku yang berpandangan bahwa belajar bergantung pada pengalaman termasuk pemberian umpan balik.

Satu penerapan teori perilaku dalam belajar adalah pemberian penguatan.

Umpan balik kepada siswa dalam pembelajaran merupakan penguatan

yang merupakan penerapan teori perilaku tersebut.

(32)

15

direct instruction lesson requires careful orchestration by the teacher and a learning environment that businesslike and task-oriented”. Artinya:

Pembelajaran langsung adalah model berpusat pada guru yang memiliki

lima langkah: menetapkan tujuan, penjelasan dan/atau demonstrasi,

panduan praktik, umpan balik, dan perluasan praktik. Pelajaran dalam

pembelajaran langsung memerlukan perencanaan yang hati-hati oleh guru

dan lingkungan belajar yang menyenangkan serta berorientasi tugas.

Sedangkan Hamzah (2012:12) berpendapat bahwa model pembelajaran

langsung adalah program yang paling efektif untuk mengukur pencapaian

keahlian dasar, keahlian dalam memahami suatu materi dan konsep diri

sendiri. Model pembelajaran langsung ini sangat ditentukan oleh pendidik,

artinya pendidik berperan penting dan dominan dalam proses

pembelajaran. Penyebutan ini mengacu pada gaya mengajar di mana

pendidik terlibat aktif dalam mengusung isi pelajaran kepada peserta didik

dan mengajarkannya kepada seluruh peserta didik dalam kelas. Joyce,

Weil, dan Calhoun (2009:372) mengungkapkan suatu model pembelajaran

yang terdiri dari penjelasan guru mengenai konsep atau keterampilan baru

terhadap siswa.

Nur Ma’rifa (2014) juga menjelaskan bahwa model pembelajaran

langsung memberikan kesempatan siswa belajar dengan mengamati secara

selektif, mengingat dan menirukan apa yang dimodelkan gurunya. Oleh

karena itu, hal penting yang harus diperhatikan dalam menerapkan model

pembelajaran langsung adalah menghindari menyampaikan pengetahuan

(33)

16

mengutamakan pendekatan deklaratif dengan titik berat pada proses

belajar konsep dan keterampilan motorik, sehingga menciptakan suasana

pembelajaran yang lebih terstruktur.

Faiq (2013) menyebutkan sintaks model pembelajaran langsung

(direct instruction) terdiri dari 5 langkah, sebagai berikut.

a. Menyampaikan Tujuan dan Mempersiapkan Siswa

Setiap guru wajib menyampaikan tujuan pembelajaran sebelum siswa

mengikuti kegiatan pembelajaran. Dengan penyampaian tujuan

pembelajaran yang jelas dan lugas oleh guru maka siswa akan

memiliki alasan mengapa mereka harus terlibat secara aktif dalam

kegiatan belajar. Selain menyampaikan tujuan pembelajaran, hal kedua

yang harus dilakukan guru adalah menarik perhatian siswa. Guru harus

memusatkan perhatian mereka sehingga mereka siap mengikuti

kegiatan pembelajaran.

b. Mempresentasikan dan Mendemontrasikan Pengetahuan atau

Keterampilan

Syarat yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mencapai kejelasan

presentasi atau penyajian informasi adalah menguasai teknik /

keterampilan komunikasi dengan baik dan menguasai sepenuhnya isi

materi pembelajaran yang akan disajikan. Selain kedua hal tersebut di

atas, guru juga perlu melakukan perencanaan dan persiapan bila akan

melakukan presentasi. Selanjutnya dalam mendemonstrasikan, belajar

(34)

17

waktu, tenaga, biaya, bahkan menghindarkan pembelajar dari bahaya.

Pembelajar tidak perlu melakukan trial and error (coba-coba dan gagal). Agar demonstrasi keterampilan yang dilakukan guru sukses,

maka guru perlu memperhatikan 2 hal yaitu: melakukan demonstrasi

keterampilan dengan benar dan berlatih sebelum melakukan

demonstrasi.

c. Membimbing Pelatihan

Fase ketiga sintak model pembelajaran langsung (direct instruction) adalah membimbing pelatihan. Guru harus memberikan latihan

terbimbing kepada siswa. Pada fase ini siswa tidak sekedar berlatih

saja, tetapi siswa harus berlatih di bawah bimbingan guru. Tujuan

diberikan pembimbingan adalah agar latihan yang dilakukan siswa

dapat efektif.

d. Mengecek Pemahaman dan Umpan Balik

Pengecekan pemahaman dapat dilakukan guru dengan melontarkan

pertanyaan-pertanyaan. Siswa diminta menjawab berdasarkan bahasa

dan pemahaman mereka sendiri sehingga guru dapat mengetahui hasil

presentasi pengetahuan atau demonstrasi dan latihan-latihan yang telah

dilakukan.

e. Memberi Kesempatan Pelatihan Lanjutan dan Penerapan

Jenis pelatihan lanjutan dan penerapan yang sering diberikan oleh guru

adalah pelatihan mandiri dalam bentuk penugasan rumah (PR). Melalui

(35)

18

menerapkan keterampilan yang baru diperolehnya. Pelatihan lanjutan

sebenarnya juga dimaksudkan sebagai perpanjangan waktu belajar di

luar pembelajaran yang telah diberikan oleh guru di kelas.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang

berpusat pada guru (teacher centered) dimana pada proses

pembelajarannya menitikberatkan pada penguasaan konsep. Pada model

ini guru dituntut sebagai penyampai informasi berupa pengetahuan yang

bersifat prosedural maupun deklaratif.

3. Kemampuan Berpikir Kritis

Berpikir merupakan proses mental seseorang yang lebih dari sekedar

mengingat dan memahami. Mengingat pada dasarnya hanya melibatkan

usaha penyimpanan sesuatu yang telah dialami untuk suatu saat

dikeluarkan kembali atas permintaan, sedangkan memahami memerlukan

perolehan apa yang didengar dan dibaca serta melihat keterkaitan antar

aspek dalam memori. Kemampuan berpikir seseorang menyebabkan

seseorang tersebut harus bergerak hingga di luar informasi yang

didengarnya. Misalkan kemampuan berpikir seseorang untuk menemukan

solusi baru dari suatu persoalan yang dihadapi dengan memanipulasi atau

mengelola dan mentransfer informasi-informasi dalam memori kita (Peter

Reason dalam Sanjaya, 2008:230).

Sugiarto dalam Amri dan Ahmadi (2010:62) mengkategorikan proses

(36)

19

yang meliputi pemecahan masalah, pengambilan keputusan, berpikir kritis,

dan berpikir kreatif. Berpikir kritis diperlukan dalam kehidupan karena

manusia selalu dihadapkan pada permasalahan di masyarakat yang

memerlukan pemecahan. Untuk memecahkan suatu permasalahan tertentu

diperlukan data-data agar dapat dibuat keputusan yang logis, dan untuk

membuat suatu keputusan yang tepat, diperlukan kemampuan kritis yang

baik.

Sementara Krulik dalam Trianto (2010:85) menerangkan bahwa proses

berpikir kompleks meliputi berpikir dasar, berpikir kritis, dan berpikir

kreatif. Menurut kamus Webster’s dalam Amri dan Ahmadi (2010: 62)

menyatakan, kritis adalah menerapkan atau mempraktikan penilaian yang

teliti dan obyektif sehingga berpikir kritis dapat diartikan sebagai berpikir

yang membutuhkan kecermatan dalam membuat keputusan. Pengertian

yang lain diberikan oleh Suryanti, dkk dalam Amri dan Ahmadi (2010:62)

yaitu: berpikir kritis merupakan proses yang bertujuan untuk membuat

keputusan yang masuk akal mengenai apa yang kita percayai dan apa yang

kita kerjakan. Berpikir kritis merupakan salah satu tahapan berpikir tingkat

tinggi.

Pernyataan diatas didukung oleh Amri dan Ahmadi (2010:64) dalam

berpikir kritis siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang

tepat untuk menguji keandalan gagasan, pemecahan masalah, dan

mengatasi masalah serta kekurangannya. Cara berpikir ini merupakan cara

berpikir yang terarah, terencana, mengikuti alur logis sesuai dengan fakta

(37)

20

Johnson (2009) mengartikan berpikir kritis sebagai aktifitas mental yang

membantu merumuskan atau memecahkan masalah, membuat keputusan,

atau memilih keinginan untuk memahami. Kemampuan berpikir kritis

merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan,

dan berfungsi efektif dalam aspek kehidupan lainnya.

Ennis (2011) menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis mencakup

kemampuan memberikan penjelasan dasar, membangun keterampilan

dasar, menyimpulkan, membuat penjelasan lebih lanjut serta mengatur

strategi dan taktik, selanjutnya dijelaskan menjadi aspek-aspek agar lebih

[image:37.595.134.489.418.760.2]

terperinci sesuai Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Kemampuan dan Indikator Berpikir Kritis

Kemampuan Berpikir Kritis

Sub Kemampuan

Berpikir Kritis Aspek

1 2 3

1. Memberikan penjelasan dasar

1. Memfokuskan pertanyaan

a. Mengidentifikasi atau memformulasikan suatu masalah

b. Mengidentifikasi atau memformulasikan kriteria jawaban yang mungkin

c. Menjaga pikiran terhadap situasi yang sedang dihadapi 2. Menganalisis

argumen

a. Mengidentifikasi kesimpulan b. Mengidentifikasi

alasan yang dinyatakan c. Mengidentifikasi

alasan yang tidak dinyatakan

d. Mencari persamaan dan

(38)

21

1 2 3

f. perbedaan g. Mengidentifikasi

dan menangani ketidakrelevanan h. Mencari struktur

dari sebuah

pendapat/argumen i. Meringkas

3. Bertanya dan menjawab pertanyaan klarifikasi dan pertanyaan yang menantang

a. Mengapa?

b. Apa yang menjadi alasan utama? c. Apa yang kamu

maksud dengan? d. Apa yang menjadi

contoh?

e. Apa yang bukan contoh?

f. Bagaimana mengaplikasikan kasus tersebut? g. Apa yang

menjadikan perbedaannya? h. Apa faktanya? i. Apakah ini yang

kamu katakan? j. Apalagi yang akan

kamu katakan tentang itu? 2. Membangun

keterampilan dasar

4. Mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak

a. Keahlian

b. Mengurangi konflik

interest

c. Kesepakatan antar sumber

d. Reputasi e. Menggunakan

prosedur yang ada f. Mengetahui resiko g. Keterampilan

memberikan alasan h. Kebiasaan berhati-hati 5. Mengobservasi dan

mempertimbangkan hasil observasi

a. Mengurangi

praduga/menyangka b. mempersingkat

(39)

22

1 2 3

c. Laporan dilakukan oleh pengamat sendiri d. Mencatat hal-hal yang

sangat diperlukan e. Penguatan

f. Kemungkinan dalam penguatan

g. Kondisi akses yang baik

h. Kompeten dalam menggunakan teknologi

i. Kepuasan pengamat atas kredibilitas kriteria

3. Menyimpulkan 6. Mendeduksi dan mempertimbangkan deduksi

a. Kelas logika b. Mengkondisikan

logika

c. Menginterpretasikan pernyataan

7. Menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi

a. Menggeneralisasi b. Berhipotesis

8. Membuat dan mengkaji nilai-nilai hasil pertimbangan

a. Latar belakang fakta b. Konsekuensi

c. Mengaplikasikan konsep (prinsip-prinsip, hukum dan asas)

d. Mempertimbangkan alternatif

e. Menyeimbangkan, menimbang dan memutuskan 4. Membuat

penjelasan lebih lanjut

9. Mendefinisikan istilah dan

mempertimbangkan definisi

Ada 3 dimensi: a. Bentuk: sinonim,

klarifikasi, rentang, ekspresi yang sama, operasional, contoh dan noncontoh b. Strategi definisi c. Konten (isi) 10. Mengidentifikasi

asumsi

a. Alasan yang tidak dinyatakan b. Asumsi yang

(40)

23

1 2 3

5. Strategi dan taktik

11. Memutuskan suatu tindakan

a. Mendefinisikan masalah

b. Memilih kriteria yang mungkin sebagai solusi permasalahan c. Merumuskan

alternatif-alternatif untuk solusi

d. Memutuskan hal-hal yang akan dilakukan e. Me-review

f. Memonitor implementasi 12. Berinteraksi dengan

orang lain

a. Memberi label b. Strategi logis c. Strategi retorik d. Mempresentasikan

suatu posisi, baik lisan atau tulisan

(Ennis, 2011:2-4)

Untuk mengukur kemampuan berpikir kritis perlu digunakan rubrik. Rubrik

ini dikenal dengan rubrik Facione dan Facione dengan pemberian skor dapat

[image:40.595.136.490.81.377.2]

dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Rubrik Penilaian Berpikir Kritis

Skor Holistic Critical Thinking Scoring Rubric

1 2

4 Kesesuaian semua atau hampir semua petunjuk:

Keakuratan menafsirkan bukti, pernyataan, grafik,

pertanyaan, dll. Mengidentifikasikan alasan tingkat tinggi (pendapat dan tuntutan) pro dan kontra. Pemikiran yang sepatutnya mengikuti bukti dan pendapat yang ada.

3 Sebagian besar atau banyak mengikuti:

Keakuratan menafsirkan bukti, pernyataan, grafik, pertanyaan, dll. Mengidentifikasikan alasan yang saling berhubungan (pendapat dan tuntutan) pro dan kontra.

Mengemukakan analisis dan mengevaluasi alternatif pandangan secara nyata. Gambar yang dipertanggungjawabkan,

(41)

24

1 2

2 Sebagian besar atau banyak mengikuti:

Salah mengartikan bukti, pernyataan, grafik, pertanyaan, dll. Gagal untuk mengidentifikasi kekuatan, alasan kontra yang saling berhubungan. Tidak bisa atau dengan dangkal mengevaluasi alternatif pandangan secara nyata. Gambar-gambar yang tidak dipertanggungjawabkan atau kesimpulan palsu.

1 Kesesuaian semua atau hampir semua, mengikuti: Mengemukakan keterangan tidak dari suatu bukti,

pernyataan, grafik, pertanyaan, informasi atau pandangan atau yang lainnya. Gagal untuk mengidentifikasi atau terburu-buru menolak, alasan kontra yang saling berhubungan. Tidak peduli pada bukti atau pendapat,

memelihara atau mempertahankan pandapangan berdasarkan kepentingan diri atau pengertian awal. Mempertunjukkan ketertutupan pemikiran atau bertentangan pendapat.

(Facione dan Facione, 1994)

Berdasarkan penjelasan di atas kemampuan berpikir kritis adalah proses

mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi yang dapat diperoleh

dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau komunitas. Informasi

diperoleh dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah yang

diharapkan mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah perlu dilakukan observasi

demi menjamin keterlaksanaan penerapan model tersebut.

B. Kerangka Pemikiran

Pada penelitian ini terdapat dua bentuk variabel yaitu variabel bebas dan

variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model

pembelajaran berbasis masalah (X), sedangkan variabel terikatnya adalah

kemampuan berpikir kritis (Y). Pengujian dilakukan untuk menumbuhkan

kemampuan berpikir kritis siswa dengan menerapkan model pembelajaran

berbasis masalah pada materi suhu dan kalor di SMA kelas X. Penelitian ini

[image:41.595.135.513.79.327.2]
(42)

25

eksperimen merupakan kelas yang menerapkan model pembelajaran berbasis

masalah, sedangkan kelas kontrol merupakan kelas yang menerapkan model

pembelajaran langsung (konvensional). Secara sistematis dapat digambarkan

[image:42.595.113.509.192.749.2]

pada bagan paradigma pemikiran seperti Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Bagan Paradigma Pemikiran

Pembelajaran

Proses yang memberi bekal bagi siswa untuk memperoleh

penyelesaian dari suatu permasalahan.

Model Pembelajaran

Salah satu faktor yang mempengaruhi pembelajaran untuk menghadapi kesulitan-kesulitan belajar.

Model PBM

Siswa belajar dalam kelompok, secara mandiri, dan aktif oleh karena itu siswa mampu mengembangkan ide-ide dengan kemampuan berpikirnya.

Kemampuan Berpikir Kritis

PBM merupakan inovasi yang mampu mengoptimalisasi kemampuan berpikir kritis siswa. Kelas Kontrol Menerapkan model pembelajaran langsung (konvensional) Kelas Eksperimen Menerapkan model pembelajaran berbasis masalah Sintaks PBM

1. Orientasi Masalah 2. Mengorganisasi

belajar 3. Membimbing

penyelidikan 4. Menyajikan karya 5. Analisis dan evaluasi

Sintaks DI

1. Menyampaikan tujuan 2. Presentasi dan

demonstrasi 3. Membimbing

pelatihan

4. Mengecek pemahaman 5. Pelatihan lanjutan

Pretest +Postest

N-GAIN

(43)

26

Seperti telah dibahas pada kerangka teori bahwa salah satu faktor yang

mempengaruhi pembelajaran meliputi strategi dan model pembelajaran.

Strategi dan model pembelajaran digunakan oleh seorang guru dalam

menghadapi kesulitan-kesulitan yang dialami dalam pembelajaran.

Pembelajaran memberikan bekal kepada siswa agar mampu untuk

mendapatkan pemecahan dari persoalan atau masalah yang diberikan. Salah

satu model pembelajaran yang tepat digunakan yaitu model Pembelajaran

Berbasis Masalah (PBM).

Pada proses PBM diharapkan siswa mampu untuk melaksanakan kegiatan

pembelajaran secara mandiri atas pengarahan dan bimbingan guru. Penerapan

model pembelajaran yang seperti ini menuntut siswa agar berperan aktif

dalam pembelajaran dan menemukan ide-ide mengenai penyelesaian masalah

yang diberikan guru guna menumbuhkan kemampuan berpikir kritisnya.

Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) merupakan inovasi dalam

pembelajaran karena dalam model pembelajaran ini, kemampuan berpikir

siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui kerja kelompok atau tim yang

sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan

mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan.

Pada penelitian ini akan dibandingkan kemampuan berpikir kritis siswa pada

kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah

dan kelas kontrol dengan menerapkan model pembelajaran langsung. Dari

kedua kelas akan dibandingkan nilai N-gain dari pretest dan posttest

kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan kegiatan pembelajaran dengan

(44)

27

C. Anggapan Dasar

Adapun anggapan dasar yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini adalah:

1. Seluruh siswa dalam sampel penelitian dianggap memiliki kemampuan

awal yang sama.

2. Seluruh siswa dalam sampel penelitian memiliki kemampuan berpikir

kritis yang berbeda-beda.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka teoritis dan kerangka pemikiran yang telah

diungkapkan, maka rumusan hipotesis yang diajukan pada penelitian ini

sebagai berikut:

O

H : Tidak ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa pada

pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran berbasis

masalah dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

Ha : Ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran

dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah

(45)

28

III. METODE PENELITIAN

A.Populasi Penelitian

Penelitian ini merupakan studi kuasi eksperimen dengan populasi penelitian

yaitu seluruh siswa kelas X SMA Xaverius Pringsewu pada semester genap

tahun pelajaran 2015/2016.

B.Sampel Penelitian

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-2 sebagai eksperimen dan kelas X-3 sebagai kelas kontrol di SMA Xaverius Pringsewu.

C.Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode quasy experimental dengan desain penelitian yang digunakan adalah nonequivalent control group design, yakni satu kelompok subjek diberi perlakuan tertentu (eksperimen) sementara

satu kelompok lain dijadikan sebagai kelompok kontrol. Secara umum desain

[image:45.595.194.431.660.722.2]

penelitian yang akan digunakan dapat digambarkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Desain Eksperimen Nonequivalent Control Group Design

E

O

1

X

O

2

(46)

29

Keterangan:

E : Kelas eksperimen

K : Kelas kontrol

O1 : Pretest pada kelas eksperimen O2 : Posttest pada kelas eksperimen O3 : Pretest pada kelas kontrol O4 : Posttest pada kelas kontrol X : Perlakuan/ treatment

(Sugiyono, 2010: 110)

Dalam desain ini, kelompok eksperimen adalah satu kelas terpilih yang

mendapatkan perlakuan model pembelajaran berbasis masalah. Sedangkan

kelas kontrol mendapatkan perlakuan pembelajaran dengan model

pembelajaran langsung (direct instruction).

D.Variabel Penelitian

Pada penelitian ini terdapat dua bentuk variabel yaitu variabel bebas dan variabel

terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini model pembelajaran berbasis masalah,

sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan berpikir kritis.

E.Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk memperoleh

sejumlah data penelitian. Pada sejumlah penelitian, data mempunyai

kedudukan yang sangat penting karena merupakan penggambaran variabel

(47)

30

sangat ditentukan dari benar tidaknya data yang diperoleh, sedangkan benar

tidaknya data ditentukan dari baik tidaknya instrumen pengumpul data.

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP)

RPP digunakan untuk merencanakan kegiatan pembelajaran agar

pelaksanaannya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

2. Lembar Kerja Kelompok (LKK)

LKK digunakan untuk mengarahkan siswa dalam kerja kelompok berupa

kegiatan eksperimen.

3. Lembar tes soal

Tes ini digunakan pada saat tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest) yang berbentuk soal uraian untuk mengukur kemampuan berpikir kritis.

4. Lembar keterlaksanaan model PBM

Lembar observasi yang mengukur sejauh mana keterlaksanaan model

pembelajaran berbasis masalah digunakan dalam proses pembelajaran.

F. Analisis Instrumen

Sebelum instrumen digunakan dalam sampel, instrumen harus diuji terlebih

dahulu dengan menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas dengan

menggunakan program IBM SPSS 21.

1. Uji Validitas

Agar diperoleh data yang valid, instrumen atau alat yang digunakan untuk

mengevaluasi harus valid. Instrumen yang valid menandakan bahwa alat

(48)

31

instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya

diukur (ketepatan). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas jika hasilnya

sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes

tersebut dengan kriterium.

Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program

IBM SPSS 21 dengan kriteria pengujian jika korelasi antar butir dengan

skor total lebih dari 0,3 maka instrumen tersebut dinyatakan valid, atau

sebaliknya jika korelasi antar butir dengan skor total kurang dari 0,3 maka

instrumen tersebut dinyatakan tidak valid.

Item yang mempunyai kerelasi positif dengan kriterium (skor total) serta

korelasi yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai

validitas yang tinggi pula. Biasanya syarat minimum untuk dianggap

memenuhi syarat adalah kalau r tabel = 0,3 didasarkan pendapat Masrun

dalam Sugiyono (2010: 188).

2. Uji Reliabilitas

Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali

untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.

Perhitungan untuk mencari harga reliabilitas instrumen menggunakan

program IBM SPSS 21 untuk menentukan nilai koefisien Alpha.

Menurut Triton dalam Sugiono (2010: 32), kuesioner dinyatakan reliabel

(49)

32

1. Nilai Alpha Cronbach’s 0,00 sampai dengan 0,20 berarti kurang reliabel. 2. Nilai Alpha Cronbach’s 0,21 sampai dengan 0,40 berarti agak reliabel. 3. Nilai Alpha Cronbach’s 0,41 sampai 0,60 berarti cukup reliabel. 4. Nilai Alpha Cronbach’s 0,61 sampai dengan 0,80 berarti reliabel. 5. Nila Alpha Cronbach’s 0,81 sampai dengan 1,00 berarti sangat reliabel.

Setelah instrumen valid dan reliabel, kemudian disebarkan pada sampel

yang sesungguhnya. Skor total setiap siswa diperoleh dengan menjumlah

skor setiap nomor soal.

G.Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan sebelum dan setelah kegiatan pembelajaran

dilaksanakan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data

penelitian ini sebagai berikut:

1. Pemberian pretest kepada seluruh siswa sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada awal pertemuan.

2. Pemberian posttest kepada seluruh siswa pada kedua kelas setelah pembelajaran pada akhir pertemuan.

3. Data pretest dan posttest ini dimaksudkan untuk melihat perbedaan kemampuan berpikir kritis dalam soal uraian sebelum dan sesudah pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran berbasis masalah pada kelas eksperimen dan

model pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

4. Lembar keterlaksanaan model PBM diisi oleh observer yaitu guru mata

pelajaran Fisika yang mengobservasi pelaksanaan kegiatan pembelajaran

(50)

33

H.Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

1. Analisis Data

Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, kemudian dilakuan

pengolahan data atau lebih dikenal dengan analisis data. Kegiatan yang

terpenting dalam pelaksanaan analisis data kuatitatif adalah mengolah skor

yang diperoleh menjadi nilai (Arikunto, 2013:278).

Proses mengolah skor menjadi nilai untuk kemampuan berpikir kritis siswa

sebagai berikut:

a) Skor yang diperoleh dari masing – masing siswa adalah jumlah skor dari

setiap soal.

b) Persentase pencapaian kemampuan berpikir kritis siswa diperoleh dengan

rumus :

% Pencapaian KBK =

x 100%

c) Nilai kemampuan berpikir kritis siswa adalah:

Nilai KBK siswa = % prestasi belajar siswa (dihilangkan % nya).

d) Nilai rata – rata kemampuan berpikir kritis siswa diperoleh dengan rumus :

Rata – rata KBK siswa = ∑

Sementara untuk keterlaksanaan model pembelajaran berbasis masalah,

kategori keterlaksanaan diperoleh dari rata-rata skor keterlaksanaan model

pembelajaran berbasis masalah berdasarkan observasi yang telah dilakukan

(51)

34

pre pre post

S S

S S

g

  

max

Skor 4,6 sampai 5 : terlaksana dengan baik sekali

Skor 3,6 sampai 4,59 : terlaksana dengan baik

Skor 2,6 sampai 3,59 : terlaksana dengan cukup baik

Skor 1,6 sampai 2,59 : terlaksana dengan kurang baik

Skor 0 sampai 1,59 : terlaksana dengan kurang baik sekali

2. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dalam tiga tahapan dengan menggunakan

aplikasi Microsoft Excel dan IBM SPSS 21 sebagai berikut:

a. Uji N-Gain

Uji N-gain dimaksudkan untuk melihat perbedaan nilai kemampuan berpikir

kritis yang diberikan siswa pada pembelajaran dengan model pembelajaran

berbasis masalah (kelas eksperimen) dengan model pembelajaran langsung (kelas

kontrol). N-gain atau skor gain yang ternormalisasi diperoleh dari

pengurangan skor postest dengan skor pretest dibagi dengan skor

maksimum dikurang skor pretest. Jika dituliskan dalam persamaan sebagai berikut:

Keterangan:

g = Ngain

post

S

= Skor postest

pre

S

= Skor pretest

max

(52)
[image:52.595.144.488.111.169.2]

35

Tabel . 3.1 Interpretasi Perolehan Indeks Gain

Kategori Indeks Gain Interpretasi

0,71 – 1,00 Tinggi

0,41 – 0,70 Sedang

0,01 – 0,40 Rendah

b. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah sampel penelitian

merupakan jenis data yang berdistribusi normal, diuji statistik dengan

menggunakan Kolmogrov-Smirnov. Dasar dari pengambilan keputusan uji normalitas, dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS 21 dengan

metode Kolmogorov-Smirnov berdasarkan pada besaran probabilitas atau nilai signifikasi. Data dikatakan memenuhi asumsi normalitas atau

terdistribusi normal jika pada Kolmogorov-Smirnov nilai sig. > 0.05 sebaliknya data yang tidak terdistribusi normal memiliki nilai sig.< 0.05.

Data yang diuji kenormalitasannya adalah skor N-gain data kemampuan berpikir kritis siswa.

c. Uji T Untuk Dua Sampel Bebas (Independent Sample T Test)

Uji ini dilakukan untuk membandingkan dua sampel yang berbeda (bebas).

Independent Sample T Test digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata antara dua kelompok sampel yang tidak berhubungan.

Adapun hipotesis yang akan diuji adalah:

O

H : Tidak ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran

dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dibandingkan

(53)

36               2 1 2 1 2 2 2 2 1 1 _____ 2 ____ 1 1 1 2 ) 1 ( ) 1 ( n n n n s n s n X X t

Ha : Ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran dengan

menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dibandingkan dengan

pembelajaran konvensional.

Rumus perhitungan Independent Sample T Test adalah sebagai berikut :

Dimana t adalah t hitung. Kemudian t tabel dicari pada tabel distribusi t

dengan  = 5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n-2.

Setelah diperoleh besar

t

hitung dan ttabel maka dilakukan pengujian dengan

kriteria pengujian sebagai berikut :

O

H diterima jika -ttabel

t

hitungttabel

O

H ditolak jika -

t

hitung < -ttabel atau

t

hitung > ttabel

Berdasarkan nilai signifikansi atau nilai probabilitas:

Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05 maka HO diterima.

Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05 maka HO ditolak.

(54)

57

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

1. Model pembelajaran berbasis masalah mampu menumbuhkan

kemampuan berpikir kritis siswa terbukti pada kelas eksperimen diperoleh

skor N-gain 0,71 dengan kategori tinggi sementara pada kelas kontrol skor N-gain 0,55 dengan kategori sedang.

2. Model pembelajaran berbasis masalah terlaksana dengan baik dimana

nilai keterlaksanaan model pembelajaran berbasis masalah sebesar 3,82

dengan kategori terlaksana dengan baik.

B. Saran

Berdasarkan simpulan, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:

1. Guru dapat menerapkan model pembelajaran berbasis masalah untuk

menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa.

2. Menerapkan model pembelajaran berbasis masalah, guru harus

melakukan pengelolaan kelas yang baik sehingga kelas dapat terkendali

dan situasinya kondusif.

3. Peneliti lain yang berminat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai

penerapan model pembelajaran berbasis masalah untuk menumbuhkan

kemampuan berpikir kritis dapat mengadakan penelitian pada

(55)

53

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Friska. 2016. Upaya Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kemampuan Kognitif Siswa Kelas X SMAN 1 Ngemplak dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi Suhu dan Kalor. Tesis. Solo: Universitas Sebelas Maret.

Amri, dan Ahmadi. 2010. Konstruksi Pengembangan Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Arends, Richard I. 2008. Learning to Teach, Edisi 7. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dasna, dan Sutrisno. 2010. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based

Learning). Malang: Universitas Negeri Malang.

Ennis, Robert H. 2011. The Nature of Critical Thinking:An Outline of Critical Thinking Dispositions and Abilities. Diunduh 1 November 2015 dari http://faculty.education.illinois.edu/rhennis/documents/TheNatureofCritica lThinking_51711_000.pdf .

Facione, Peter. A., & Facione, Noreen. C. 1994. Holistic Critical Thinking Scoring Rubric. Diunduh 25 Desember 2009 dari http://www.free-inquiry.com/critical-thinking.html.

Faiq, Muhammad. 2013. Sintaks Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction). [On line] tersedia:

http://penelitiantindakankelas.blogspot.co.id/2013/04/sintaks-model-pembelajaran-langsung.html. Diakses pada tanggal 28 Maret 2016.

Hamdayama, Jumanta. 2014. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter. Bogor: Ghalia Indonesia.

Hamzah. 2012. Model Pembelajaran, Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

(56)

54

Joyce, Marsha Weil dan Emily Calhoun. 2009. Models of Teaching,Edisi 8. USA: Pearson Education.

Ma’rifa, Nur. 2014. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction). [On line] tersedia: http://nurmarifa8.blogspot.co.id/2014/12/pembelajaran-langsung-direct-instruction.html. Diakses tanggal 8 Februari 2016.

Pannen, Mustofa dan Sekarwinahyu. 2005. Konstruktivisme dalam Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI-UT.

Priyatno. 2010. Teknik Mudah dan Cepat Melakukan Analisis Data Penelitian dengan SPSS. Yogyakarta: Gava Media.

Rusman. 2013. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Press.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suyatno. 2009. Mejelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

Figure

Tabel
Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah
Tabel 2.2 Kemampuan dan Indikator Berpikir Kritis
Tabel 2.3 Rubrik Penilaian Berpikir Kritis
+5

References

Related documents

integrin subunits, as well as of Trop-2 (bottom) expression by IB using protein lysates from non-metastatic (left) and metastatic (right) prostate tumors collected from TRAMP

While delivering economic growth, creating jobs and supporting EU companies, especially small and medium-sized enterprises (SMEs), the EU trade policy must also

This section will present the set of algorithms that will be used to estimate the location of the mobile nodes. 4 shows that in a fi rst step, raw location estimates are

b By Public Policy and Management or similar (e.g. Aston, Birmingham) No traditional Universities offer Higher National Diploma programmes.. Part Ð Time First Degree; and

This feature stresses the importance of public intervention in a delicate issue such as health and focuses on one of the strenght point of MISS: public finance box and the

Card ID Operating System Platform provider Privacy Arrangement Security Arrangement Number of Applications Application Cost Type of platform 1 RIM (BlackBerry)

In the face of increased liability, such an actor may be induced to take more care and as a result the level of accidents (suicide rate) will go down. The Dux court held that

Pearson correlation coefficients were computed for the relationship between the nurses' mean of the overall satisfaction and the mean of the nurses' rating of the registered