KELIMPAHAN ARTHROPODA TANAH PADA PERTANAMAN UBIKAYU YANG DIPERLAKUKAN DENGAN PUPUK MIKRO
(Skripsi)
Oleh
RIOGA NURIQBAL TANJUNG
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
KELIMPAHAN ARTHROPODA TANAH PADA PERTANAMAN UBIKAYU YANG DIPERLAKUKAN DENGAN PUPUK MIKRO
Oleh
RIOGA NURIQBAL TANJUNG
Rioga Nuriqbal Tanjung
dilakukan dengan Uji BNT pada taraf 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sepuluh ordo arthropoda tanah ditemukan pada pertanaman ubikayu di Desa Bumi Aji, yaitu Collembola, Hymenoptera, Orthoptera, Coleoptera, Hemiptera, Diptera, Isoptera, Diplura, Araneae, dan Diplopoda. Adapun dari sepuluh ordo arthropoda tersebut, terdapat dua ordo yang dominan, yakni Collembola dan Hymenoptera. Pupuk mikro tidak berpengaruh pada kelimpahan Collembola, namun
menurunkan kelimpahan Hymenoptera (semut). Pupuk mikro tidak berpengaruh pada kelimpahan Orthoptera, Coleoptera, Hemiptera, Diptera, Isoptera, Diplura, Araneae, dan Diplopoda.
KELIMPAHAN ARTHROPODA TANAH PADA PERTANAMAN UBIKAYU YANG DIPERLAKUKAN DENGAN PUPUK MIKRO
Oleh
RIOGA NURIQBAL TANJUNG
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN
pada
Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Qurnia Mataram, Seputih Mataram, Lampung Tengah pada 18 Maret 1995. Putra pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Joan Mulyana dan Ibu Susiyati.
Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Abadi Perkasa (ILP) pada tahun 2000, SD Negeri 2 Kurnia Mataram pada tahun 2007, SMP Negeri 2 Seputih Mataram pada tahun 2010, dan di SMA Negeri 1 Seputih Mataram lulus pada tahun 2013. Penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung melalui jalur undangan (SNMPTN) dan menerima beasiswa Bidik Misi.
Kupersembahkan sebuah karya sederhana ini
untuk
kedua orangtua tercinta
Joan Mulyana dan Susiyati
serta“Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening”
SANWACANA
Puji Syukur Penulis kehadirat Allah SWT Yaa Rahmaan Yaa Rahiim, yang telah melimpahkan nikmat, anugerah, serta kekuatan lahir dan batin kepada Penulis. Dengan berbekal keyakinan, ketabahan dan kemauan yang keras, serta dukungan semesta, Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kelimpahan
Arthropoda Tanah pada Pertanaman Ubikayu yang Diperlakukan dengan Pupuk Mikro”.
Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. F.X. Susilo, M.Sc. selaku Pembimbing I atas bimbingan,
arahan, motivasi, dan ilmu yang sangat bermanfaat bagi Penulis. 2. Bapak Ir. Agus Muhammad Hariri, M.P. selaku Pembimbing II atas
bimbingan dan saran bagi Penulis.
3. Bapak Prof. Dr. Ir. Kukuh Setiawan, M.Sc. selaku Pembahas yang telah memberi kritik dan saran pada Penulis.
4. Ibu Ir. Indriyati yang selalu memberikan masukan dan motivasi rohani yang bermanfaat pada Penulis.
5. Ibu Dr. Ir. Maria Viva Rini, M.Sc. selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan dan motivasi perkuliahan kepada Penulis.
iv 7. Ibu Prof. Dr. Ir. Sri Yusnaini, M.Si. selaku Ketua Jurusan Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
8. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si. selaku Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
9. Kedua orangtua, Ayah dan Ibu tercinta Bapak Joan Mulyana dan Ibu Susiyati yang merupakan motivator terbesar penulis, yang mendoakan, membimbing dengan penuh ketabahan dan kasih sayang demi keberhasilan Penulis. 10. Kedua adik tersayang Muhammad F. Intifadhah dan Raihan A. Pamungkas. 11. Nenek tercinta, Waginem. Atas kasih sayangnya yang begitu besar kepada
Penulis.
12. Pak Subadi yang telah bersedia menyediakan lahan dan tempat persinggahan dalam pelaksanaan penelitian di Desa Bumi Aji.
13. Sahabat seperjuangan Agil Ikhsandi, Abdillah Aji, Dito Aditya, Ichwan S. Nugraha, Mahmud Feriyanto, Muhammad Rizki, Sang Aji Wirojati, Yosep R. Kusuma, Warisman, yang sudah Penulis anggap sebagai keluarga kedua. 14. Kakak-kakak tingkat: Deva Aziz N.M, Eka Rani Saputri, Maya Puspita Sari,
Muhammad Pambudi Am.
15. Rekan-rekan kelas AGT D’Sekte yang memberikan atmosfer berbeda tiap saat kegiatan perkuliahan.
16. Sosok-sosok di luar perkuliahan yang telah menemani Penulis: Bayu Aji Seno, Bima Fitriandi, Ferdy Arsianto, Ichsan N. Hidayadi, I wayan Agus Sastrawan, I Wayan Bagus Satriawan, Joko Riyanto, Rino Prasetyo, Surya Kusmawan, dan Yahya Hidayat.
v Akhir kata, Penulis menyadari bahwa tak ada kesempurnaan yang absolut,
begitu juga dengan skripsi ini, akan tetapi dengan seberkas harapan semoga skripsi sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Bandar Lampung, Maret 2018 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... xii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Penelitian ... 3
1.3 Kerangka Pemikiran... 3
1.4 Hipotesis ... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Botani dan Morfologi Ubikayu ... 5
2.2 Arthropoda Tanah ... 6
III. BAHAN DAN METODE ... 10
3.1 Waktu dan Tempat ... 10
3.2 Bahan dan Alat ... 10
3.3 Metode Penelitian ... 10
3.4 Pelaksanaan Penelitian ... 12
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN ... 15
4.1 Hasil ... 15
4.2 Pembahasan... 17
V. SIMPULAN DAN SARAN ... 20
5.1 Simpulan ... 20
5.2 Saran ... 20
DAFTAR PUSTAKA ... 21
[image:14.595.102.512.244.763.2]LAMPIRAN ... 23
Tabel 5-75 ... 24
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Jenis dan kelimpahan taksa relatif arthropoda permukaan tanah yang tertangkap pitfall trap pada pertanaman ubikayu yang
diperlakukan dengan pupuk mikro ... 15 2. Kelimpahan total arthropoda tanah pada petak perlakuan A0, A1,dan
A2 ... 16 3. Kelimpahan total Collembola dan Hymenoptera pada petak perlakuan
A0, A1,dan A2 ... 16 4. Kelimpahan total Kutuputih pada petak perlakuan A0, A1,dan A2 ... 18 5. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu
perlakuan A0 (kontrol/tanpa pupuk mikro) sampel
27 November 2016 ... 24 6. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu
perlakuan A1 (pupuk mikro 20 kg/Ha) sampel
27 November 2016 ... 25 7. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu
perlakuan A2 (pupuk mikro 40 kg/Ha) sampel
27 November 2016 ... 26 8. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu
perlakuan A0 (kontrol/tanpa pupuk mikro) sampel
25 Desember 2016 ... 27 9. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu
perlakuan A1 (pupuk mikro 20 kg/Ha) sampel
25 Desember 2016 ... 28 10. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu
perlakuan A1 (pupuk mikro 20 kg/Ha) sampel
viii 11. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu
perlakuan A0 (kontrol/tanpa pupuk mikro) sampel 8 Januari 2017 ... 30
12. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu perlakuan A1 (pupuk mikro 20 kg/Ha) sampel 8 Januari 2017 ... 31
13. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu perlakuan A2 (pupuk mikro 40 kg/Ha) sampel 8 Januari 2017 ... 32
14. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu perlakuan A0 (kontrol/tanpa pupuk mikro) sampel 1 Mei 2017 ... 33
15. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu perlakuan A1 (pupuk mikro 20 kg/Ha) sampel 1 Mei 2017 ... 34
16. Hasil pengamatan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu perlakuan A2 (pupuk mikro 40 kg/Ha) sampel 1 Mei 2017 ... 35
17. Populasi Kutuputih ... 36
18. Analisis ragam Collembola sampel 27 November 2016 ... 37
19. Analisis ragam Collembola sampel 25 Desember 2016 ... 37
20. Analisis ragam Collembola sampel 8 Januari 2017 ... 37
21. Analisis ragam Collembola sampel 1 Mei 2017 ... 37
22. Analisis ragam total Collembola ... 37
23. Analisis ragam Hymenoptera sampel 27 November 2016 ... 38
24. Analisis ragam Hymenoptera sampel 25 Desember 2016 ... 38
25. Analisis ragam Hymenoptera sampel 8 Januari 2017 ... 38
26. Analisis ragam Hymenoptera sampel 1 Mei 2017 ... 38
27. Analisis ragam total Hymenoptera ... 38
28. Analisis ragam Orthoptera sampel 27 November 2016 ... 39
29. Analisis ragam Orthoptera sampel 25 Desember 2016 ... 39
30. Analisis ragam Orthoptera sampel 8 Januari 2017 ... 39
ix
32. Analisis ragam total Orthoptera ... 39
33. Analisis ragam Coleoptera sampel 27 November 2016 ... 40
34. Analisis ragam Coleoptera sampel 25 Desember 2016 ... 40
35. Analisis ragam Coleoptera sampel 8 Januari 2017 ... 40
36. Analisis ragam Coleoptera sampel 1 Mei 2017 ... 40
37. Analisis ragam total Coleoptera ... 40
38. Analisis ragam Hemiptera sampel 27 November 2016 ... 41
39. Analisis ragam Hemiptera sampel 8 Januari 2017 ... 41
40. Analisis ragam Hemiptera sampel 1 Mei 2017 ... 41
41. Analisis ragam total Hemiptera ... 41
42. Analisis ragam Diptera sampel 27 November 2016 ... 41
43. Analisis ragam Diptera sampel 25 Desember 2016 ... 42
44. Analisis ragam Diptera sampel 8 Januari 2017 ... 42
45. Analisis ragam Diptera sampel 1 Mei 2017 ... 42
46. Analisis ragam total Diptera ... 42
47. Analisis ragam Isoptera sampel 27 November 2016 ... 42
48. Analisis ragam total Isoptera ... 43
49. Analisis ragam Diplura sampel 27 November 2016 ... 43
50. Analisis ragam Diplura sampel 25 Desember 2016 ... 43
51. Analisis ragam total Diplura ... 43
52. Analisis ragam Araneae sampel 27 November 2016 ... 43
53. Analisis ragam Araneae sampel 25 Desember 2016 ... 44
54. Analisis ragam Araneae sampel 8 Januari 2017 ... 44
x
56. Analisis ragam total Araneae ... 44
57. Analisis ragam Diplopoda sampel 27 November 2016 ... 44
58. Analisis ragam Diplopoda sampel 25 Desember 2016 ... 45
59. Analisis ragam Diplopoda sampel 8 Januari 2017 ... 45
60. Analisis ragam total Diplopoda ... 45
61. Analisis ragam arthropoda sampel 27 November 2016 ... 45
62. Analisis ragam arthropoda sampel 25 Desember 2016 ... 45
63. Analisis ragam arthropoda sampel 8 Januari 2017 ... 46
64. Analisis ragam arthropoda sampel 1 Mei 2017 ... 46
65. Analisis ragam total arthropoda ... 46
66. Pengaruh perlakuan pupuk mikro pada pertanaman ubikayu terhadap Collembola ... 47
67. Pengaruh perlakuan pupuk mikro pada pertanaman ubikayu terhadap Hymenoptera ... 47
68. Pengaruh perlakuan pupuk mikro pada pertanaman ubikayu terhadap Orthoptera ... 47
69. Pengaruh perlakuan pupuk mikro pada pertanaman ubikayu terhadap Coleoptera ... 48
70. Pengaruh perlakuan pupuk mikro pada pertanaman ubikayu terhadap Hemiptera ... 48
71. Pengaruh perlakuan pupuk mikro pada pertanaman ubikayu terhadap Diptera ... 48
72. Pengaruh perlakuan pupuk mikro pada pertanaman ubikayu terhadap Isoptera ... 49
73. Pengaruh perlakuan pupuk mikro pada pertanaman ubikayu terhadap Diplura ... 49
xi 75. Pengaruh perlakuan pupuk mikro pada pertanaman ubikayu
terhadap Diplopoda ... 50 76. Pengaruh perlakuan pupuk mikro pada pertanaman ubikayu
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Perlakuan pupuk mikro pada petak percobaan pertanaman ubikayu .. 11
2. Titik pemasangan pitfall trap per petak . ... 12
3. Pitfall trap . ... 13
4. Collembola ... 51
5. Hymenoptera . ... 51
6. Orthoptera ... 52
7. Coleoptera ... 52
8. Hemiptera ... 53
9. Diptera ... 53
10. Isoptera ... 53
11. Diplura ... 54
12. Araneae ... 54
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ubikayu (Manihot esculenta) merupakan tanaman pangan yang berasal dari wilayah Amerika tropis, tepatnya negara Brasil. Pada abad ke-18, tanaman ini mulai masuk ke wilayah Indonesia. Pada tahun 1852, plasma nutfah ubikayu didatangkan dari Suriname untuk dikoleksikan di Kebun Raya Bogor. Penyebaran tanaman ubikayu meluas ke seluruh wilayah Indonesia. Ubikayu saat ini telah diproduksi sebagai komoditas agroindustri, seperti produk tepung tapioka, industri fermentasi, dan berbagai industri makanan (Rukmana, 1997).
Indonesia menjadi salah satu dari 30 negara produsen ubikayu dengan nilai produktivitas yang relatif tinggi di dunia. Negara dengan nilai produktivitas tertinggi yaitu India serta diikuti oleh Laos, Kamboja, dan Malawi. Indonesia menduduki peringkat kelima dengan produktivitas senilai 233,55 Ku/Ha. Jumlah produksi ubikayu di Indonesia adalah sebesar 23.436.384 ton dan merupakan peringkat ketiga setelah Nigeria dan Thailand (FAO, 2014).
2
(3.571.594 ton), Jawa Timur (3.161.573 ton), Jawa Barat (2.000.224), dan Sumatera Utara (1.619.495 ton) (Badan Pusat Statistik, 2015).
Permintaan terhadap ubikayu di Indonesia meningkat setiap tahunnya, seiring dengan berkembangnya industri rumah tangga yang mengelolah ubi kayu.
Ketersediaan bahan baku ubikayu memiliki peran penting dalam mempertahankan usaha industri rumah tangga sebagai mata pencaharian bagi sebagian besar
masyarakat Indonesia (Simbolon, 2013).
Unsur hara yang cukup dan seimbang sangat diperlukan tanaman. Hara mikro (Fe, Mn, Mo, B, Cu, Zn, dan Cl) dibutuhkan dalam jumlah yang lebih sedikit dari hara makro, tapi keberadaannya sangat penting misalnya dalam reaksi-reaksi
metabolisme tanaman, terutama kaitannya dengan aktivitas enzim. Untuk
menjamin pertumbuhan dan produksi yang maksimal maka status hara makro dan mikro harus tersedia dan seimbang bagi tanaman.
Keadaan tanah yang baik juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan berbagai jenis mikroorganisme dan arthropoda tanah (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004). Arthropoda tanah merupakan salah satu organisme penghuni tanah yang berperan penting dalam perbaikan sifat tanah. Arthropoda tanah meluruhkan limbah tanaman dan menggabungkannya pada lapisan tanah bagian atas serta membentuk kemantapan agregat tanah (Barnes et al., 1997).
3 1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu yang diperlakukan dengan pupuk mikro.
1.3 Kerangka Pemikiran
Tanah berfungsi sebagai tempat hidup, pertahanan, dan penyedia makanan bagi beberapa arthropoda tanah. Selain itu, tanah menjadi media tumbuh tanaman dan memberikan ruang hidup bagi aktivitas organisme yang ada. Keadaan vegetasi pada lingkungan pertanaman memberikan pengaruh tersendiri bagi organisme tertentu.
4 1.4 Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah kelimpahan arthropoda tanah pada pertanaman ubikayu yang diberi pupuk mikro berbeda dengan
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Botani dan Morfologi Ubikayu
Ubikayu merupakan tanaman pangan yang banyak dibubidayakan di beberapa negara dengan iklim tropis. Klasifikasi ilmiah tanaman ubikayu yaitu:
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Malpighiales Famili : Euphorbiaceae Subfamili : Crotonoideae Bangsa : Manihoteae Genus : Manihot
Spesies : Manihot esculenta Crantz (Allem, 2002).
Ubikayu merupakan salah satu sumber karbohidrat yang berasal dari umbi. Habitus tanaman ini merupakan tanaman perdu. Ubikayu merupakan tanaman yang berasal dari negara Brasil, penyebarannya hampir ke seluruh dunia dan berkembang di negara–negara tropis yang terkenal dengan wilayah pertaniannya (Purwono dan Purnamawati, 2009).
6
Tanaman ubikayu memiliki jenis bunga yang berumah satu dan proses penyerbukannya bersifat silang. Hasil dari penyerbukan bunganya akan
menghasilkan buah yang bentuknya agak bulat dan di dalamnya berisi 3 butir biji. Pada dataran rendah tanaman ubikayu jarang berbuah. Umbi yang terbentuk merupakan akar yang berubah bentuk dan fungsinya sebagai tempat
penyimpanan cadangan makanan. Bentuk umbi biasanya bulat memanjang, daging umbi berwarna putih gelap atau kuning gelap dan mengandung zat pati (Dominguez, 1983).
Pemanfaatan ubikayu selain digunakan sebagai bahan pangan, dapat juga diolah sebagai bahan lain. Kulit batang ubikayu dapat dijadikan bahan pakan ternak. Umbi ubikayu dapat diolah menjadi tepung tapioka serta bahan-bahan kimia industri seperti glukosa, fruktosa, etanol, dekstrin, asam sitrat, dan sorbitol. Daun ubikayu selain dapat dijadikan pakan ternak, juga dapat menjadi olahan makanan dan obat tradisional (Zuraida, 2010).
2.2 Arthropoda Tanah
7
Arthropoda merupakan filum terbesar dari kerajaan animalia. Arthropoda berasal dari bahasa Yunani (Arthros: sendi/ruas, podos: kaki/tungkai). Arthropoda memiliki ciri-ciri yakni tubuh bersegmen, mempunyai jenis kerangka tubuh berupa eksoskeleton, dan hidup pada habitat terestrial maupun akuatik (Oemarjati dan Wisnuwardhana, 1990).
Filum arthropoda terbagi menjadi lima subfilum utama yakni Trilobitomorpha, Chelicerata, Myriapoda, Crustasea, Hexapoda. Dari kelima subfilum tersebut, satu diantaranya yakni Trilobitomorpha telah dianggap punah. Beberapa kelas dari ketiga subfilum tersebut, memiliki peranan penting di bidang pertanian, yaitu kelas Diplopoda, Chilopoda, Arachnida, dan Insecta (Borror et al, 1992).
Serangga (Insecta) merupakan kelompok hewan yang dominan di muka bumi yang jumlahnya melebihi semua hewan yang ada dan praktis ditemukan di mana-mana. Serangga di bidang pertanian beberapa di antaranya berperan sebagai hama dan yang lain bersifat predator, parasitoid, penyerbuk maupun detritivora (Borror et al, 1992).
8
Chilopoda merupakan kelas hewan terestrial dengan anggotanya yang memiliki sifat karnivora dan predator hewan lain. Memiliki bentuk tubuh yang pipih dorsoventral dengan segmentasi yang sangat jelas dan dilengkapi sepasang kaki yang terletak lateral. Pada segmen tubuh pertama terdapat gigi beracun
(Brotowidjoyo, 1990). Chilopoda dapat ditemukan di berbagai tempat, tetapi biasanya terdapat pada tempat yang terlindung seperti tanah ataupun di bawah kulit kayu yang membusuk (Borror et al., 1992).
Arachnida merupakan kelompok hewan yang memiliki bagian tubuh terdiri dari sefalothoraks (kepala dan dada bersatu) dan abdomen (perut). Pada umumnya merupakan hewan terestrial namun beberapa diantaranya ada yang hidup akuatik. Arachnida memiliki empat pasang tungkai sebagai alat untuk berjalan. Anggota kelas arachnida merupakan predator serangga dengan menjebak mangsanya menggunakan jaring-jaring yang sangat lengket dan menyuntikkan cairan racun ketubuhnya (Brotowidjoyo, 1990).
Menurut Tugel et al. (2000), berdasarkan fungsinya, arthropoda tanah dikelompokkan sebagai peluruh limbah, predator, herbivor, dan pemakan mikroorganisme.
1. Peluruh limbah
9
2. Predator
Beberapa arthropoda tanah merupakan predator. Kelompok ini memakan beberapa tipe mangsa yang berbeda atau hanya berburu satu tipe mangsa. Kelompok ini meliputi kelabang, laba-laba, kumbangtanah, kalajengking, dan semut.
3. Herbivor
Beberapa arthropoda seperti larva Lepidoptera dan belalang merupakan herbivor yang dapat menjadi hama tanaman. Jumlah kelompok ini cukup besar dan
menyebabkan kerusakan pada tanaman.
4. Pemakan mikroorganisme
III. BAHAN DAN METODE
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan pada pertanaman ubikayu di Desa Bumi Aji, Kecamatan Anak Tuha, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung.
Sampling arthropoda tanah dilaksanakan pada bulan November 2016 – Mei 2017. Identifikasi arthropoda tanah dilakukan di Laboratorium Hama Tanaman
Universitas Lampung.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah air, deterjen cair, dan alkohol 70%. Alat yang digunakan yaitu ember kecil, sekop kecil, plastik mika, bambu, golok, palu, spidol permanen, plastik 0,5 kg, karet gelang, kertas label, ember besar, kuas, tissue gulung, buku catatan, pena, mikroskop, botol spesimen dan kamera.
3.3 Metode Penelitian
11
ditanam yakni klon UJ-3 dengan jarak tanam 80 x 60 cm. Pemupukan pada tanaman ubikayu diberikan dua kali secara bertahap. Pemupukan pertama
dilakukan saat ubikayu berumur 1 bulan setelah tanam dengan pupuk dasar berupa urea 100 kg/Ha, SP36 100 kg/Ha, dan KCl 100 kg/Ha. Pemupukan kedua
dilakukan saat ubikayu berumur 3 bulan setelah tanam dengan penambahan pupuk urea 100 kg/Ha, dan KCl 100 kg/Ha.
[image:31.595.193.405.513.614.2]Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini yakni nested design. Dalam penelitian ini, penambahan pupuk mikro dilakukan pada pertanaman ubikayu dengan 3 perlakuan pupuk mikro (A0, A1, dan A2) (Gambar 1) dan masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Pupuk mikro diberikan bersamaan saat pemberian pupuk dasar (urea 100kg/Ha, SP36 100kg/Ha, dan KCl 100 kg/Ha) saat ubikayu berumur 1 bulan setelah tanam.Pengambilan sampel arthropoda tanah dilakukan pada saat ubi kayu berusia 7 bulan dari sejak tanam. Pengambilan sampel arthropoda tanah dilakukan dengan pitfall trap.
Gambar 1. Perlakuan pupuk mikro pada petak percobaan pertanaman ubikayu Keterangan : A0 : Perlakuan 0 ( kontrol/tanpa pupuk mikro)
A1 : Perlakuan I (pupuk mikro 20 kg/Ha) A2 : Perlakuan II (pupuk mikro 40 kg/Ha) B1 : Blok 1
12 3.4 Pelaksanaan Penelitian
Pada setiap petak, pemasangan pitfall dilakukan pada tiga titik sampel (P1, P2, dan P3) yang tersebar pada posisi diagonal petak. Penentuan diagonal petak dihitung dengan menggunakan rumus Pythagoras (a2+ b2= c2). Diketahui nilai a = 23 m, dan nilai b = 30m sehingga didapatkan nilai diagonal petak (c) sebesar 37,8 m.
Penentuan tiga titik pitfall trap dilakukan dengan cara sistematis. Titik pitfall trap pertama (P1) ditentukan dengan menghitung nilai tengah dari diagonal petak (c) yaitu 37,8/2 sehingga titik P1 dipasang pada jarak 18,9 dari titik α atau titik β. Titik pitfall trap kedua (P2) ditentukan dengan menghitung nilai tengah dari titik α dan titik pitfall trap pertama (P1) yaitu 18,9/2 sehingga titik P2 dipasang pada
jarak 9,45 dari titik α atau titik P1. Titik pitfall trap ketiga (P3) ditentukan dengan menghitung nilai tengah dari titik β dan titik pitfall trap pertama (P1) yaitu 18,9/2 sehingga titik P2 dipasang pada jarak 9,45 dari titik β atau titik P1.
[image:32.595.235.435.568.699.2]Titik pemasangan pitfall trap per petak tersaji pada Gambar 2.
13
Pitfall trap yang digunakan berupa ember kecil berdiameter dalam atas 13,5 cm, diameter dalam bawah 10,5 cm dan tinggi 12 cm. Setiap pitfall diisi dengan larutan detergen (1%) sebanyak 100 ml. Komposisi yang digunakan untuk membuat larutan tersebut yakni 10 ml detergen/1 liter air. Penggunaan detergen berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan air sehingga sampel
[image:33.595.133.511.362.551.2]arthropoda dapat tenggelam dan tidak naik ke permukaan ember perangkap. Untuk melindungi pitfall dari hujan, diberikan atap pelindung yang terbuat dari plastik mika berbentuk persegi yang disangga oleh 4 tiang bambu. Bentuk pitfall trap dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Pitfall trap
Arthropoda tangkapan yang diperoleh dari masing-masing pitfall pada setiap petak lahan pengamatan selanjutnya dipanen. Pemanenan hasil tangkapan arthropoda terbagi menjadi dua sesi yakni pemanenan Collembola dan nir-Collembola. Pemanenan Collembola dilakukan dengan cara mengambil Collembola yang terapung di permukaan larutan pitfall menggunakan kuas kecil
Atap plastik mika
Tiang bambu 30 cm
Ember Plastik
14
dan dimasukkan kedalam botol spesimen yang berisi alkohol 70%. Setelah pemanenan Collembola tuntas, selanjutnya dilakukan pemanenan arthropoda nir-Collembola yakni dengan cara, membersihkan terlebih dahulu sisi dalam pitfall yang terkena kotoran menggunakan tissue lalu menuangkan larutan detergen yang berisi hasil tangkapan ke dalam plastik 0,5 kg dan diikat menggunakan karet gelang. Pembungkusan dilakukan dengan dua rangkap plastik. Hasil tangkapan kemudian dibawa ke laboratorium. Di laboratorium, hasil tangkapan (nir-Collembola) disaring dan dipilah menggunakan kuas untuk selanjutnya dipindahkan ke dalam botol spesimen yang berisi alkohol 70%.
Hasil tangkapan arthropoda yang diperoleh kemudian dilakukan identifikasi menggunakan mikroskop. Identifikasi arthropoda tanah dilakukan berdasarkan ciri-ciri morfologinya. Spesimen diklasifikasikan sampai tingkat ordo
menggunakan Borror et al. (1992).
Spesimen yang telah teridentifikasi sampai tingkat ordo kemudian didatakan per taksa dan kemudian dihitung persentase kelimpahan taksa relatif (KTR). Perhitungan KTR dilakukan dengan cara jumlah individu tiap taksa dibagi total individu dari seluruh taksa dikalikan 100.
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Sepuluh ordo arthropoda tanah ditemukan pada pertanaman ubikayu di Desa Bumi Aji, yaitu Collembola, Hymenoptera, Orthoptera, Coleoptera, Hemiptera, Diptera, Isoptera, Diplura, Araneae, dan Diplopoda. Adapun dari sepuluh ordo arthropoda tersebut, terdapat dua ordo yang dominan, yakni Collembola dan Hymenoptera. Pupuk mikro tidak berpengaruh pada kelimpahan Collembola, namun menurunkan kelimpahan Hymenoptera (semut). Penurunan kelimpahan semut pada plot-plot yang dipupuk mikro diduga merupakan pengaruh tidak langsung melalui perbaikan kondisi tanaman ubikayu dan penurunan kelimpahan kutuputih ubikayu pada plot-plot tersebut. Pupuk mikro tidak berpengaruh pada kelimpahan Orthoptera, Coleoptera, Hemiptera, Diptera, Isoptera, Diplura, Araneae, dan Diplopoda.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Allem, A.C. 2002. The Origins and Taxonomy of Cassava. pp. 1-16 in Hillocks, R.J.,J.M. Thresh, A.C. Bellotti. Cassava: Biology, Production and
Utilization. CABI Publishing, New York. 343 pp.
Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi Tanaman Pangan 2015. CV. Tapasuma Ratu Agung, Jakarta. 155 hlm.
Barnes, B.V., J.H. Burk, R.D. Shirley dan H.S. Stephen. 1997. Forest Ecology. 4th Edition. John Wiley and Sons Inc, New York. 774 pp.
Borror, D.J., C.A. Triplehorn, dan N.F. Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi ke-6. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 1083 hlm. Brotowidjoyo, M.D. 1990. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta. 349 hlm.
Dominguez, C.E. 1983. Morphology of the Cassava Plant. Centro Internacional De Agricultura Tropical, Colombia. 44 pp.
FAO. 2014. Food and Agricultural Commodities Production. http://www.fao.org/ faostat/en/#data/QC. Diakses pada 21 Desember 2016.
Greenslade, P., L. Deharveng, A. Bedos, dan Y.R. Suhardjono. 2000. Handbook to Collembola of Indonesia. Advisor Willem N. Ellis. Museum Zoologicum Bogoriense, Bogor. 312 pp.
Leiwakabessy, F.M. dan A. Sutandi. 2004. Pupuk dan Pemupukan. Departemen Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor. 208 hlm. Lentner, M. dan T. Bishop. 1986. Experimental Design and Analysis. Valley
Book Company, Blacksburg. 565 pp.
Odum, E.P. 1971. Fundamentals of Ecology. Third Edition. Saunders Company, Philadelphia and London. 574 pp.
22
Purwono dan H. Purnamawati. 2009. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Penebar Swadaya, Depok. 140 hlm.
Rukmana, R. 1997. Ubi Kayu: Budi Daya dan Pasca Panen. Kanisius, Yogyakarta. 84 hlm.
Simbolon, F. 2013. Strategi Peningkatan Permintaan Ubikayu. Jurnal on Social Economic of Agriculture and Agribusiness 2(7):166-181.
Tugel, A.J., A.M. Lewandowski, dan D. Happe von Arb. 2000. Soil Biology Primer. IA: Soil and Water Conservation Society, Ankeny. 48 hlm.
Williams, D.J. 2004. Mealybugs of southern Asia. The Natural History Museum, London. 896 pp.