IV. GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
A. Sejarah Singkat BRT Bandar Lampung
Bus Rapid Transit (BRT) Bandarlampung dikelola oleh Konsorsium PT Trans
Bandarlampung (PT TBL) yang merupakan gabungan 37 perusahaan angkutan di
Bandarlampung. Sistem transportasi Trans Bandarlampung ini menghubungkan
wilayah kota dalam jarak yang cukup jauh. Trans Bandarlampung dioperasikan
oleh swasta mutlak dan merupakan yang pertama di Indonesia.
Sejak diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat Kota Bandar Lampung oleh
Walikota Bandar Lampung Drs. H. Herman HN, MM, pada 26 September 2011,
Trans Bandar Lampung merupakan angkutan perkotaan pertama dengan konsep
BRT di Kota Bandar Lampung. Di awal pengoperasiannya, Trans Bandar
Lampung diujicobakan selama 4 hari pada 14-17 November 2011 dan secara
resmi beroperasi pada 19 Desember 2011.
Pengoperasian Trans Bandar Lampung dilakukan oleh PT. Trans Bandar
Lampung, yang merupakan konsorsium, gabungan dari 37 perusahaan angkutan di
kota Bandar Lampung. Konsorsium PT. Trans Bandar Lampung (TBL) tersebut
dipimpin oleh Tony Eka Chandra sebagai Komisaris Utama dan I Gede Jelantik
sebagai Direktur Utama. Sejarah pembentukan Trans Bandar Lampung diawali
dengan para pengusaha angkutan umum di Kota Bandar Lampung atas undangan
dan inisiatif walikota. Pertemuan tersebut digagas dengan tujuan menggugah
pengusaha angkutan di Kota Bandar Lampung untuk turut berperan aktif
membantu pembangunan kota Bandar Lampung dalam bidang angkutan umum.
Selain pembentukan Trans Bandar Lampung, hasil pertemuan tersebut berlanjut
dengan dibuatnya kesepakatan bersama dalam bentuk Memorandum of
Understanding (MoU) antara Pemerintah Kota Bandar Lampung dengan PT.
Trans Bandar Lampung untuk pengoperasian Trans Bandar Lampung pada
Desember 2011. Dalam MoU tersebut diatur kewajiban dan hak dari Pemerintah
Kota Bandar Lampung sebagai regulator maupun PT. Trans Bandar Lampung
sebagai operator. BRT Trans Bandar Lampung ini dioperasikan oleh swasta
mutlak dan merupakan yang pertama di Indonesia,” tambahnya.
Walaupun sempat ada resistensi dari supir angkutan kota (angkot) di Kota Bandar
Lampung. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar, dan biasa dihadapi oleh Bus
Rapid Transit (BRT) di kota lain. Dalam perjalanannya kemudian dapat diredam.
Angkot masih diperkenankan beroperasi di trayeknya. Salah satu strategi jangka
panjang Pemerintah Kota, melalui Dinas Perhubungan untuk pengembangan BRT
Trans Bandar Lampung kedepannya, adalah masa izin operasi trayek angkot
tersebut tidak akan diperpanjang setelah habis masa berlakunya, sehingga
nantinya yang beroperasi di dalam kota adalah Trans Bandar Lampung, dan
angkot-angkot tersebut akan difungsikan dengan sebagai pengumpan (feeder)
Trans Bandar Lampung memiliki mesin armada yaitu mitsubishi FE 83BC 110PS,
mitsubishi FE 84G 136PS dan Hino FB 130, sedangkan untuk karoseri
menggunakan Karoseri Rahayu Santosa Vania, Rahayu Sentosa Virago, Trisakti,
dan New Armada Magneto.
B. Trayek BRT Bandar Lampung
Berawal dari armada yang hanya sejumlah 40 unit bus (murni dibeli konsorsium)
dan melayani dua koridor, yaitu: trayek Rajabasa–Sukaraja dan trayek KORPRI–
Sukaraja, Trans Bandar Lampung hingga saat ini, telah memiliki armada sebanyak
250 unit bus dan melayani tujuh koridor di seputar kota Bandar Lampung,
meliputi :
1. Koridor 1 : Rajabasa – Sukaraja
2. Koridor 2 : Korpri – Sukaraja
3. Koridor 3 : Kemiling – Sukaraja
4. Koridor 4 : Ir. Sutami – Tanjung Karang
5. Koridor 5 : Panjang – Citra Garden
6. Koridor 6 : Rajabasa – Citra Garden
7. Koridor 7 : Rajabasa – Panjang
Saat ini PT. Trans Bandar Lampung, operator Trans Bandar Lampung, berkantor
di salah satu bangunan rumah toko (ruko) terdiri dari bangunan tiga lantai yang
berlokasi di depan gerbang masuk Terminal Rajabasa. Walaupun masih sederhana
dan berstatus masih menyewa, suasana kantor tersebut pada pagi hari cukup
menggambarkan suasana kerja yang mencerminkan semangat kerja tinggi dari
pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Tentu ini adalah modal bagus bagi PT. Trans
Bandar Lampung untuk eksis ke depan. Kondisi kondusif itu diamini Heru, salah
seorang pegawai PT. Trans Bandar Lampung pada bagian supervisi ticketing yang
mengungkapkan kenyamanannya selama bekerja di PT. Trans Bandar Lampung.
[image:4.595.114.508.259.756.2]Adapun koridor dan rute BRT Bandar Lampung dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Koridor dan Rute BRT Bandar Lampung
Koridor Rute
Rajabasa - Sukaraja
Ke Sukaraja:
Rajabasa - Jl. ZA Pagar Alam - Jl. Teuku Umar - Jl. Kotaraja -
Jl. Raden Intan - Tugu Adipura - Jl. P. Diponegoro - Jl. Slt. Hasannudin - Pasar Kangkung - Jl. Ikan Duyung - Jl. Wage Rudolf Supratman - Jl. Yos Sudarso - Sukaraja.
Ke Rajabasa:
Sukaraja - Jl. Yos Sudarso - Jl. Laks. Malahayati - Gudang
Garam - Jl. Ikan Tenggiri - Jl. Pattimura - Jl. P. Diponegoro -
Tugu Adipura - Jl. Ahmad Yani - Tugu Pengantin Sai Batin - Jl.
Kartini - Jl. Teuku Umar - Jl. ZA Pagar Alam - Rajabasa. KORPRI -
Sukaraja
Ke Sukaraja:
Kompleks KORRI Sukarame - Jl. Ryacudu - Jl. Sultan Agung - Jl. Teuku Umar - Jl. Kotaraja - Jl. Raden Intan - Tugu Adipura - Jl. Ahmad Yani - Tugu Pengantin Sai Batin - Jl. Wolter
Monginsidi - Jl. Wage Rudolf Supratman - Jl. Pattimura - Jl. Slt. Hasannudin - Pasar Kangkung - Jl. Ikan Duyung - Jl. Wage Rudolf Supratman - Jl. Yos Sudarso - Sukaraja.
Ke KORPRI:
Sukaraja - Jl. Yos Sudarso - Jl. Laks. Malahayati - Gudang
Garam - Jl. Ikan Tenggiri - Jl. Wolter Monginsidi - Tugu
Pengantin Sai Batin - Jl. Kartini - Jl. Teuku Umar - Jl. Sultan
Agung - Jl. Ryacudu - Kompleks KORPRI Sukarame.
Kemiling - Sukaraja
Ke Sukaraja:
Kemiling - Jl. Imam Bonjol - Bambu Kuning - Jl. Kartini - Jl.
Kotaraja - Jl. Raden Intan - Tugu Adipura - Jl. Jend. Sudirman - Jl. Jend. Gatot Subroto - Lampu Merah Garuntang - Jl. Yos Sudarso - Sukaraja.
Ke Kemiling:
Sukaraja - Jl. Yos Sudarso - Lampu Merah Garuntang - Jl. Jend.
Gatot Subroto - Jl. Jend. Sudirman - Tugu Adipura - Jl. Jend. Ahmad Yani - Tugu Pengantin Sai Batin - Jl. Kartini - Bambu
Tanjung Karang - Ir. Sutami
Ke Ir. Sutami:
Tanjung Karang - Jl. Raden Intan - Tugu Adipura - Jl. Jend.
Sudirman - Lampu Merah Satelit - Jl. Gajah Mada - Jl. P. Antasari - Perempatan Kalibalok - Jl. Tirtayasa - Pertigaan Ir
Sutami-Tirtayasa.
Ke Tanjung Karang:
Pertigaan Ir Sutami-Tirtayasa - Jl. Tritayasa - Perempatan
Kalibalok - Jl. P. Antasari - Jl. Gajah Mada - Lampu Merah
Satelit - Jl. Jend. Sudirman - Tugu Adipura - Jl. Ahmad Yani -
Tugu Pengantin Sai Batin - Jl. Kartini - Jl. Kotaraja - Tanjung
Karang.
Citra Garden - Panjang
Ke Panjang
Citra Garden - Jl. Setiabudi - Jl. Basuki Rahmat - Jl. Dr. Warsito
- Jl. Slt. Hasannudin - Jl. Yos Sudarso - Pelabuhan Panjang - Jl. Teluk Ambon - Jl. Soekarno Hatta - Simpang Baruna - Jl. Yos Sudarso - Jl. Bahari - Panjang.
Ke Citra Garden
Panjang - Jl. Bahari - Jl. Yos Sudarso - Simpang Baruna - Jl.
Soekarno Hatta - Jl. Teluk Ambon - Pelabuhan Panjang - Jl. Yos Sudarso - Jl. Laks. Malahayati - Gudang Garam - Jl. R.E.
Martadinata - Jl. Setiabudi - Citra Garden.
Citra Garden - Rajabasa
Ke Rajabasa
Citra Garden - Jl. Setiabudi - Jl. Basuki Rahmat - Jl. P. Emir. M.
Noer - Jl. Cut Nyak Dien - Jl. KH Agus Salim - Jl. Raden Imba Kesuma Ratu - Jl. Tengku Cik Ditiro - Kemling - Jl. Pramuka - Jl. ZA Pagar Alam - Rajabasa.
Ke Citra Garden
Rajabasa - Jl. ZA Pagar Alam - Jl. Pramuka - Kemiling - Jl.
Tengku Cik Ditiro - Jl. Raden Imba Kesuma Ratu - Jl. KH Agus Salim - Jl. Cut Nyak Dien - Jl. P. Emir. M. Noer - Jl. Basuki Rahmat - Jl. Dr. Warsito - Jl. Slt. Hasannudin - Jl. Laks.
Malahayati - Jl. R.E. Martadinata - Jl. Setiabudi - Citra Garden.
Rajabasa -
Panjang Menyusuri Jl. Soekarno Hatta.
Sumber: PT Trans Bandarlampung (PT TBL) Tahun 2013
Sedangkan trayek rencana BRT Bandar Lampung sebagai perluasan trayek dapat
Tabel 2. Rencana Koridor dan Rute BRT Bandar Lampung
Koridor Rute
Tanjung Karang - Bandara Radin Inten II
Ke Bandara:
Tanjung Karang - Jl. Teuku Umar - Jl. ZA Pagar Alam
- Jalan Lintas Sumatera Hajimena - Bandara. Ke Tanjung Karang:
Bandara - Jalan Lintas Sumatera Hajimena - Jl. ZA
Pagar Alam - Jl. Teuku Umar - Tanjung Karang.
Sumber: PT Trans Bandarlampung (PT TBL) Tahun 2013
C. Fasilitas Pendukung BRT Bandar Lampung
Fasilitas Pendukung BRT Bandar Lampung adalah sebagai berikut:
1. Interior Bus
Interior Bus Trans Bandar Lampung semuanya memiliki Air Conditioner,
musik, kursi berhadap-hadapan sepetti BRT pada umumnya, dan gantungan
pemegang untuk penumpang berdiri.
2. Halte
Halte BRT ini berada di jalan-jalan yang dilintasi Trans Bandar Lampung dan
direncanakan akan ada 62 halte yang dibangun, namun pembangunan halte ini
belum selesai seluruhnya. Halte ini memiliki tinggi yang sama dengan pintu
masuk yang berada di tengah-tengah bus.
3. Jalan
Jalur Khusus Trans Bandar Lampung sejatinya memiliki jalur tersendiri
seperti halnya Trans Jakarta, namun belum semua jalan-jalan protokol
memadai lebarnya untuk membuat jalur tersebut, jadi sementara jalur khusus
4. Perangkat Keselamatan
BRT ini memiliki unsur perangkat keselamatan wajib kendaraan umum seperti
pintu darurat di sisi kanan bus, martil pemecah kaca, pintu di atap bus.
(Sumber: PT Trans Bandarlampung (PT TBL) Tahun 2013)
D. Kendala-Kendala yang Dihadapi BRT Bandar Lampung
Beberapa kendala yang dihadapi oleh BRT Bandar Lampung adalah sebagai
berikut:
1. Aspek Perencanaan
Pembangunan BRT Trans Bandar Lampung ini lebih dalam perencanaan.
Pembuatan jalur (koridor) tidak didasarkan pada hasil kajian akademis, tapi lebih
kepada kekuasaan bahwa di jalur tersebut telah beroperasi moda angkutan umum
sebelumnya dan pernah memiliki demand besar sebelum kemudian demand
tersebut pindah ke sepeda motor. Akibat tidak didasarkan pada kajian tersebut,
maka sejak enam bulan beroperasi, Trans Bandar Lampung belum memiliki
jumlah penumpang yang signifikan. Load factor nya masih di bawah 30%.
Lemahnya aspek perencanaan itu juga terlihat dari minimnya prasarana. Sudah
enam bulan beroperasi, tapi sampai sekarang Trans Bandar Lampung baru
memiliki dua halte yang sudah jadi. Akibatnya, sampai sekarang penumpang
masih turun di sembarang tempat, padahal konstruksi armadanya tinggi, sehingga
naik turun tidak melalui pintu samping seperti yang terjadi pada BRT pada
umumnya, tapi melalui pintu depan samping sopir yang lebih pendek. Meskipun
menunjukkan betapa lemahnya perencanaan dalam pembangunan BRT di Kota
Bandar Lampung.
2. Aspek Pelayanan
Buruknya aspek pelayanan terkait erat dengan perencanaan yang lemah. Oleh
karena perencanaan lemah, maka masalah headway, waktu tempuh (travel time),
naik turun penumpang, dan akses ke/dari halte bus sama sekali tidak mendukung
keberadaan sistem BRT. belum dikontrol secara ketat, padahal, soal ketepatan
waktu itu merupakan salah satu daya tarik orang untuk menggunakan angkutan
umum.
3. Lemahnya Komunikasi Publik
Selain lemah dalam perencanaan dan pelayanan, pembangunan BRT Trans
Bandar Lampung juga punya kelemahan dalam mengkomunikasikan perencanaan
sehingga kemudian menimbulkan ketegangan antara masyarakat versus
konsorsium maupun konsursium versus operator existing. Hal itu tampak jelas
dari dinamika forum yang cukup tinggi. Masyarakat memprotes kebijakan
pembangunan BRT yang akhirnya menggusur DAMRI dari jalur yang sudah
dilayani selama 30 tahun. Peserta meyakini, bila DAMRI masih berjalan pada
jalur yang sama dengan BRT, maka BRT Trans Bandar Lampung tidak akan
mendapatkan penumpang. Hal itu disebabkan tarif Rp. 3.500,- untuk Trans
Bandar Lampung dinilai terlalu tinggi dibandingkan dengan tarif DAMRI yang
Keberadaan BRT Trans Bandar Lampung tidak mematikan angkutan umum yang
telah ada sebelumnya dan tetap memberikan pilihan bagi masyarakat untuk
bertransportasi sesuai dengan kemampuan ekonominya. Sebab bila dengan adanya
Trans Bandar Lampung tapi kemudian menyebabkan masyarakat kehilangan
akses transportasi akibat tarifnya yang mahal, maka itu merupakan bentuk
kegagalan mereformasi angkutan umum missal.
Pembangunan Halte Trans Bandar Lampung yang dinilai memakan trotor.
Sejumlah peserta menilai, infrastruktur halte Trans Bandar Lampung yang
berukuran 2x4 meter dan diletakkan di trotor, akan mengganggu aktivitas pejalan
kaki. Peserta dari YLKI Lampung juga menegaskan bahwa Trans Bandar
Lampung harus membenahi diri untuk memperbaiki sarana dan pepalayanannya.
Sebab bagi warga, pembangunan Trans Bandar Lampung bukan solusi mengingat
secara ekonomi lebih mahal tarifnya dari pada naik DAMRI. Salah satu tujuan
BRT adalah sebagai alternatif pengurangan kemacetan, tetapi cara tersebut tidak
harus dengan mematikan angkutan umum yang telah ada, karena penyebab
kemacetan lebih di dominasi oleh kendaraan pribadi, bukan angkutan umum. Jasa
angkutan umum yang ada tidak boleh dilupakan begitu saja. Seharusnya ada
kebijakan yang adil bagi semua moda angkutan umum.