• No results found

Text 1 ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text 1 ABSTRAK pdf"

Copied!
60
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

KOORDINASI ANTARLEMBAGA TERHADAP PELAYANAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Disusun Oleh : Donny P. Manullang

1312011107

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRACT

Interagency Coordination Against Motor Vehicle Tax Services in Bandar Lampung

By

Donny P. Manullang

In 2016 there were one million more than three million vehicle owners in Lampung who did not pay vehicle taxes or in arrears to pay PKB. Such a large amount causes the government to lose a huge potential revenue. Many people complained about the difficulties in handling their vehicle tax. This is certainly a note of mutual acceptance and correction. Considering that public services at Bandar Lampung Lampung are carried out by three agencies, the author would like to see the extent of the effectiveness of coordination between the three institutions and their expertise with increasing public services in motor vehicle tax payments.

This research uses a normative juridical approach and an empirical approach. Research informants came from the Bandar Lampung Samsat and taxpayers. Data collection was carried out with literature and field studies, then the data were analyzed descriptively qualitatively.

The results of this study indicate: (1) Coordination in PKB services in Bandar Lampung Lampung is done well, because there is already a Standard Operating Procedure for Public Service Procedures for the Joint Office of the Samsat Province of Lampung and in accordance with Presidential Regulation of the Republic of Indonesia Number 5 of 2015 Concerning the Manunggal One Administration System Motor Vehicle Roofs. (2) Supporting factors experienced by each party is the level of their understanding in implementing the related rules and soups. In addition, the absence of sectoral egos of each party is the main key to success in coordinating. Meanwhile, the inhibiting factor in coordination is the location of the service building which is still separate and not fully integrated.

(3)

ABSTRAK

Koordinasi Antarlembaga Terhadap Pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor Di Bandar Lampung

Oleh

Donny P. Manullang

Pada tahun 2016 terdapat satu juta lebih dari tiga juta pemilik kendaraan di Lampung tidak membayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Jumlah sebesar itu, menyebabkan pemerintah kehilangan pemasukan yang potensinya sangat besar. Banyak masyarakat mengeluhkan karena kesulitan mengurus pajak kendaraan mereka. Hal tersebut tentunya menjadi catatan yang sikapi dan koreksi bersama. Mengingat pelayanan publik di samsat Bandar Lampung dilakukan oleh tiga instansi maka penulis ingin melihat sejauh mana efektifitas koordinasi diantara tiga lembaga tersebut dan kaitannya dengan peningkatan pelayanan publik dalam pembayaran pajak kendaraan bermotor.

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan pendekatan empiris. Informan penelitian berasal dari pihak Samsat Bandar Lampung dan wajib pajak. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan studi lapangan, selanjutnya data dianalisis secara deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Koordinasi dalam pelayanan PKB di Samsat Bandar Lampung dilakukan dengan baik, mengacu pada Standar Operasional Prosedur Pelayanan Publik Kantor Bersama Samsat Provinsi Lampung dan sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap Kendaraan Bermotor. (2) Faktor pendukung yang dialami masing-masing pihak adalah tingkat pemahaman mereka dalam melaksanakan aturan dan sop terkait. Selain itu, tidak adanya ego sektoral masing-masing pihak menjadi kunci keberhasilan yang utama dalam melakukan koordinasi. Sedangkan, faktor penghambat dalam koordinasi adalah letak gedung pelayanan yang masih terpisah dan belum terintegrasi sepenuhnya.

(4)

KOORDINASI ANTARLEMBAGA TERHADAP PELAYANAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DI BANDAR LAMPUNG

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

2020 Skripsi

Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA HUKUM

Pada

Bagian Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung

Oleh

(5)

Judul Skripsi : KOORDINASI ANTARLEMBAGA TERHADAP PELAYANAN PAJAK

KENDARAAN BERMOTOR DI BANDAR LAMPUNG

Nama Mahasiswa :

Donny Pandapotan Manullang

No. Pokok Mahasiswa : 1312011107

Bagian : Hukum Administrasi Negara

Fakultas : Hukum

MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Yuswanto, S.H., M.Hum Marlia Eka Putri, S.H., M.H.

NIP 19620514 198703 1 003 NIP 19840321 200604 2 001

2. Ketua Bagian Hukum Administrasi Negara

Syamsir Syamsu, S.H., M.H.

(6)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua : Prof. Dr. Yuswanto, S.H., M.Hum. ...

Sekretaris/Anggota : Marlia Eka Putri, S.H., M.H. ...

Penguji Utama : Nurmayani, S.H., M.H. ...

2. Dekan Fakultas Hukum

Prof. Dr. Maroni, S.H., M.H.

NIP 19600310 198703 1 002

(7)

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Donny Pandapotan Manullang

NPM : 1312011107

Jurusan : Hukum Administrasi Negara

Fakultas : Hukum

Dengan ini menyatakan bahwan skripsi yang berjudul “KOORDINASI ANTARLEMBAGA TERHADAP PELAYANAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DI BANDAR LAMPUNG” adalah benar benar hasil karya saya

sendiri dan bukan hasil plagiat sebagaimana telah di atur dalam pasal 27 Peraturan Akademik Universitas Lampung dengan Surat Keputusan Rektor Nomor 3187/H26/DT/2010.

Bandar Lampung, 27 Februari 2020

Donny P. Manullang

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Donny P. Manullang, anak ke empat

dari lima bersaudara, pasangan K. Manullang dan N.

Simamora yang lahir di Desa Bedilan, Kecamatan

Belitang, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan.

pada tanggal 02 Agustus 1995.

Penulis telah menempuh pendidikannya di SD Xaverius

01 Gumawang pada tahun 2001-2007, SMP Negeri 01 Belitang pada tahun

2007-2010, SMA Negeri 01 Belitang pada tahun 2012. Penulis terdaftar sebagai

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung pada tahun 2013 melalui jalur

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN).

Selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universita Lampung, Penulis

berorganisasi di UKM-F MAHUSA UNILA. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja

Nyata (KKN) selama 40 hari di Desa Negara Ratu, Kecamatan Batanghari Nuban,

(9)

vii

MOTO

Hal tersulit dipahami di dunia ini adalah pajak”

(Albert Einsten)

"I don’t regret anything. I did everything absolutely correctly" (Saya tidak menyesali apapun. Saya melakukan semuanya dengan benar)

(Vladimir Putin)

Tumagon mate nangpe so marbon, apala mangolu hape gabe hatoban

(Lebih baik mati walaupun tidak tanpa membawa apa apa, daripada hidup tetapi menjadi budak)

(10)

viii

PERSEMBAHAN

Atas Berkat TUHAN dan dengan segala kerendahan hati

kupersembahkan skripsiku ini kepada:

Kedua orangtuaku tercinta Bapak K. Manullang dan Ibu N. Simamora,

Yang selama ini telah berkorban, mencurahkan kasih sayang dan segenap

(11)

SANWACANA

Puji Tuhan, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha

Esa, Tuhan semesta alam yang maha kuasa atas bumi, langit dan seluruh isinya,

dan apa yang ada diantara keduanya, serta hakim yang maha adil di surga kelak.

Sebab, hanya dengan kehendak dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan

penulisan skripsi yang berjudul “KOORDINASI ANTARLEMBAGA TERHADAP PELAYANAN PAJAK KENDARAAAN BERMOTOR DI BANDAR LAMPUNG” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Lampung di bawah bimbingan

dari dosen pembimbing serta atas bantuan dari berbagai pihak lain. Segala puji

dan syukur saya panjatkan kepada Allah Bapa di Surga atas berkat dan limpahan

karunia yang diberikan.

Penyelesaian penelitian ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan saran dari

berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Bapak Prof Dr. Maroni., S.H.,M.Hum Dekan Fakultas Hukum Universitas

Lampung;

2. Bapak Syamsir Syamsu, S.H., M.Hum., Ketua Bagian Hukum Administrasi

(12)

3. Bapak Prof. Dr. Yuswanto, S.H, M.Hum., Pembimbing I atas kesabaran dan

kesediaan meluangkan waktu disela-sela kesibukannya, mencurahkan segenap

pemikirannya, memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses

penyelesaian skripsi ini;

4. Ibu Marlia Eka Putri, S.H., M.H., Pembimbing II yang telah bersedia untuk

meluangkan waktunya, mencurahkan segenap pemikirannya, memberikan

bimbingan baik secara akademik maupun secara praktik. Terimakasih atas

saran, dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini;

5. Ibu Nurmayani, S.H.,M.H., Pembahas I yang telah memberikan kritik, saran,

dan masukan yang sangat membangun terhadap skripsi ini;

6. Ibu Eka Deviani, S.H.,M.H., Pembahas II yang telah memberikan kritik,

saran, serta masukan yang membangun terhadap skripsi ini;

7. Bapak Ade Arif Firmansyah, S.H.,M.H., Pembimbing Akademik, yang telah

membantu penulis serta memberikan semangat, motivasi dan dorongan untuk

menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Lampung;

8. Keluarga Besar UKM-F MAHUSA UNILA tempat saya berproses, terbentur

dan terbentuk sedari awal saya masuk di Fakultas Hukum ini, Bapak Rinaldy

Amrullah.,S.H.,M.H., Bang Hafiez Kahfie Sandjaya, Bang Ivan, Bang Eki,

Bang Gibran, Bang Kimung, Bang Kasau, Bang erik, Bang Mosez, Bang

Alvin, Bang Rohman Bang Yuli, Bang Fungky, Bang Zai, Bang Edi, Bang

Ridho, Mba Diah, Kevin Parangs, Andika Tavos, Rangge. Untuk angkatan

Pusar Bumi (2013) Iqbal, Dzaky, Sasmi, Robi, Renhak, Ayak, Tami terima

kasih der selalu menjadi partner dalam keadaan apapun selama kurang lebih 6

(13)

sebutan satu persatu. Terima kasih untuk kebersamaan, pengalaman, ilmu dan

“cerita” yang berharga dan yang tidak saya temukan dalam perkuliahan dan

hanya saya temukan di MAHUSA UNILA;

9. Sahabat-sahabatku Ucok, Lae Yogi, Zikri Kobra, Fabrian, Emon Rajabasa,

Eric, Aziz Adun, Raja Girasang, Pandu, Enjang, Wahid, Musa, Awi, Jeprianto

Semoga persahabatan kita tidak habis di makan waktu;

Semoga TUHAN YME memberikan balasan atas jasa dan budi baik yang telah

diberikan kepada penulis. Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih

jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang

sederhana ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya, khususnya bagi penulis

dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan.

Bandar Lampung, 27 Februari 2020 Penulis,

(14)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ...

1.1Latar Belakang ... 1

1.2Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian ... 6

1.2.2 Permasalahan ... 6

1.2.3 Ruang Lingkup ... 6

1.4Tujuan Penelitian ... 7

1.5Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 2.1 Pelayanan Publik ... 9

2.2 Pajak ... 12

2.2.1 Pengertian ... 12

2.2.2 Fungsi Pajak ... 14

2.2.3 Jenis Pajak ... 15

2.2.4 Prinsip dan Sistem Pemungutan Pajak ... 22

2.3 Pajak Kendaraan Bermotor ... 25

2.3.1 Subjek Pajak ... 27

2.3.2 Objek ... 27

2.3.3 Tarif ... 28

2.3.4 Tata Cara Pemungutan... 30

2.4 Samsat ... 31

BAB III METODE PENELITIAN ... 3.1 Pendekatan Masalah ... 37

3.2 Data dan Sumber Data ... 37

3.3 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 38

3.4 Analisis Data ... 40

BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 4.1 Koordinasi Antara Bapenda, Polri Dan Jasa Raharja Dalam Melakukan Pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor Di Bandar Lampung ... 41

4.1.1 Koordinasi antara Bapenda, Polri dan Jasa Raharja ... 41

4.1.2 Samsat Bandar Lampung ... 49

(15)

BAB V PENUTUP ...

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pajak dapat diartikan sebagai sumber dana dari sebuah negara untuk

mengatasi berbagai masalah-masalah seperti masalah sosial, peningkatan

kesejahteraan, kemakmuran serta menjadi kontrak sosial antara pemerintah

dengan warga negaranya. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak

suatu negara adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan

meningkatkan pendapatan masyarakat yang tentunya akan berpengaruh

langsung terhadap kemampuan masyarakat secara finansial untuk membayar

pajak. Faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak suatu negara diantaranya

adalah tingkat kepatuhan wajib pajak masyarakat di negara tersebut. Apabila

masyarakat semakin sadar dan patuh akan peraturan perpajakan maka tentunya

akan berimbas kepada peningkatan pendapatan pajak dalam negeri. Semakin

besar jumlah pajak yang diterima akan semakin menguntungkan bagi negara.1

Yang harus dirubah dalam pemikiran masyarakat ada beberpa hal, salah

satunya prasangka buruk masyarakat. Prasangka buruk masyarakat terhadap

petugas pajak harus dirubah menjadi prasangka yang baik, untuk merubah hal

tersebut tentu harus menciptakan pelayanan yang memuaskan dan berkualitas.

1 Amanda R. Siswanto Putri dan I Ketut Jati, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

(17)

2

Masyarakat akan membayar pajak dari penghasilan yang diterimanya apabila

mereka merasakan pelayanan publik sebanding dengan pembayaran pajaknya,

adanya perlakuan yang adil dari pemerintah serta proses perpajakan yang jelas

dari pemerintah.2

Pelayanan publik yang profesional masih menjadi sebuah isu yang

kerapmuncul dipermukaan, ini artinya pelayanan publik tidak hanya terfokus

pada efektivitas maupun efisiensi, tetapi pelayanan publik yang tidak

memihak pada satu kelompok. Profesionalisme pelayanan publik harus

mengedepankan kepentingan masyarakat dari kepentingan individu maupun

kelompok. Perubahan perilaku budaya dari perilaku seorang penguasa menjadi

perilaku pelayan, atau dari perilaku berkuasa menjadi perilaku melayani. Hal

ini menjadi tujuan dari reformasi pelayanan publik untuk menerapkan Clean

Government dan Good Governance. Sistem Administrasi Manunggal Satu

Atap (SAMSAT) sebagai organisasi yang selalu berhadapan dengan publik.

Sudah seharusnya organisasi publik melayani dengan sebaik-baiknya dan

mencapai kepuasan masyarakatnya.3

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2015

Tentang Penyelenggaraan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap

Kendaraan Bermotor (Perpres SAMSAT) mengatur beberapa instansi yang

terlibat dalam kegiatan SAMSAT diantaranya: Badan Pendapatan Daerah

2 Randi Ilhamsyah, Maria G Wi Endang dan Rizky Yudhi Dewantara, Pengaruh Pemahaman Dan Pengetahuan Wajib Pajak Tentang Peraturan Perpajakan, Kesadaran Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan, Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor (Studi Samsat Kota Malang), Jurnal mahasiswa perpajakan, hlm 2.

3

Gede Angga Wardana, Evaluasi Sistem PelayananSistem Administrasi Manunggal Satu

Atap (SAMSAT)Corner, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, di akses dari https://media.neliti.

(18)

3

(BAPENDA), Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan Jasa Raharja.

SAMSAT sendiri memiliki kegiatan dalam penyelenggaraan Registrasi dan

Identifikasi Kendaraan Bermotor, pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor,

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, dan pembayaran Sumbangan Wajib

Dana Kecelakaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan secara terintegrasi dan

terkoordinasi dalam Kantor Bersama Samsat. Sehingga, dalam menjalankan

kegiatannya tersebut diperlukan adanya koordinasi yang baik diantara

instansi-instansi yang terlibat hal ini bertujuan untuk mendorong hasil yang

baik pula dalam penyelenggaraan kegiatan SAMSAT.

Berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun

2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Pajak Kendaraan

Bermototor (PKB) adalah merupakan jenis pajak provinsi. Peranan PKB

apabila dilakukan secara optimal dalam kegiatan pemungutannya maka akan

medorong sumber pendapatan daerah yang penting guna membiayai

pelaksanaan pemerintahan daerah. Dalam Pasal 15 Ayat (4) Perpres SAMSAT

meyebutkan "Penetapan besaran biaya yang tercantum dalam (Surat

Ketetapan Kewajiban Pembayaran) SKKP dilakukan oleh petugas Polri,

petugas Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang melaksanakan

pemungutan pajak provinsi, dan petugas Badan Usaha”. SKKP adalah Surat

Ketetapan Kewajiban Pembayaran yaitu surat yang digunakan untuk

permohonan pendaftaran dan pendataan Registrasi dan Identifikasi Kendaraan

Bermotor (Regident) untuk mendapat STNK dan TNKB sebagai dasar

(19)

4

Kendaraan Bermotor (BBN-KB), dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan

Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ).

Bahwa pemerintahan daerah akan menikmati tingkat otonomi yang

diinginkan, yaitu kebebasan untuk bertindak jika dapat mencari sendiri uang

yang diperlukan untuk membiayai pengeluaran. Pemerintah daerah yang

mempunyai pendapatan asli daerahnya lebih besar memungkinkan mereka

untuk melaksanakan tanggung jawab yang lebih besar pula. Apabila

pendapatan asli daerahnya cukup stabil dan penyesuaian-penyesuaian tarif

merupakan kewenangan pemerintah daerah, maka pendapatan tersebut akan

lebih dapat diharapkan hasilnya daripada bantuan pusat. Dengan demikian,

terbuka kemungkinan pemerintah daerah untuk membuat rencana kegiatan

yang lebih efektif.4 Hal tesebut dapat dilakukan dengan melakukan

optimalisasi Pelayanan PKB di SAMSAT guna mendorong pendapatan daerah

melalui pajak.

Dapat dilihat secara jelas bahwa dalam Perpres di atas mensyaratkan adanya

koordinasi terhadap instansi Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA), POLRI

dan Jasa Raharja dalam Penetapan besaran biaya terhadap PKB. Sehingga,

dapat diketahui adanya koordinasi menjadi hal yang penting bagi para instansi

tersebut selain untuk menciptakan pelayanan publik yang baik juga

mendorong pendapatan daerah yang optimal dalam hal penyelenggaraan

kegiatan PKB di SAMSAT.

4Yuswanto, Hukum Desentralisasi Keuangan, jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012, hlm

(20)

5

Saat meresmikan layanan Kantor Samsat Dua Pintu di Bandar Lampung pada

27 Juni 2016, Gubernur Lampung M Ridho Ficardo mengatakan, terdapat satu

juta lebih dari tiga juta pemilik kendaraan di Lampung tidak membayar pajak

kendaraan alias menunggak membayar PKB. Jumlah sebesar itu,

menyebabkan pemerintah kehilangan pemasukan yang potensinya sangat

besar. Apalagi kendaraan bermotor di Lampung berkisar tiga juta unit

sehingga peluang penerimaan dari sektor pajak kendaraan yang sangat

signifikan. Menurut beliau, pajak sebagai darah pembangunan sehingga bila

banyak yang menunggak pajak akan menghambat pembangunan di daerah.

Untuk itu, gubernur berharap pajak terserap dan peningkatan pengawasan dan

pengelolaan yang baik. Beliau mengaku belum mengetahui penyebab

banyaknya penunggak pajak kendaraan. Namun, beliau menerima keluhan

dari masyarakat hal itu karena kesulitan mengurus pajak kendaraan. Ke depan,

gubernur berharap pengurusan pajak dipermudah dan dikelola sesingkat

mungkin sehingga memudahkan masyarakat membayar pajak kendaraan.5

Berdasarkan uraian singkat di atas Peneliti tertarik untuk meneliti dan

menganalisis mengenai Koordinasi antara BAPENDA, POLRI dan Jasa

Raharja di SAMSAT dalam raangka Pelayanan PKB kemudian

mengangkatnya melalui penulisan skripsi dengan judul: “KOORDINASI

ANTARLEMBAGA TERHADAP PELAYANAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DI BANDAR LAMPUNG”.

5Republika diakses dari https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/08/

(21)

6

1.2 Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian 1.2.1 Permasalahan

Identifikasi masalah dalam penelitian ini bertujuan untuk memfokuskan dan

membatasi uraian penelitian pada hal-hal yang berhubungan dengan masalah

yang diteliti Berdasarkan latar belakang diatas, maka terdapat beberapa

permasalahan yang dapat dirumuskan antara lain :

a. Bagaimana koordinasi antara BAPENDA, POLRI dan Jasa Raharja dalam

melakukan pelayanan pajak kendaraan bermotor di Bandar Lampung?

b. Apa sajakah yang menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat

dalam pelaksanaan koordinasi antar lembaga di Bandar Lampung?

1.2.2 Ruang Lingkup

1. Bidang Ilmu

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah Hukum Pajak yang merupakan

rumpun dari Hukum Administrasi Negara, khususnya yang berkaitan

dengan koordinasi antar lembaga terhadap pelayanan pajak kendaraan

bermotor pada sistem admisnistrasi satu atap (SAMSAT) di Kota Bandar

Lampung

2. Substansi Penelitian

a. Objek Penelitian

Objek Penelitian dalam skripsi ini adalah mengenai pelayanan pajak

kendaraan bermotor pada sistem admisnistrasi satu atap (SAMSAT) di

Kota Bandar Lampung.

(22)

7

Penelitian dalam skripsi ini dilakukan atas pemungutan pajak

kendaraan bermotor di Kota Bandar Lampung Tahun 2019.

c. Tempat peelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan pada SAMSAT di Kota Bandar

Lampung.

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk koordinasi antar BAPENDA, POLRI dan Jasa Raharja dalam

melakukan pelayanan pajak kendaraan bermotor di SAMSAT Bandar

Lampung.

b. Untuk hal apa saja yang menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan

koordinasi terhadap pelayanan pajak bermotor di kota Bandar Lampung.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat, memberikan sumbangan

pemikiran di bidang ilmu hukum pada umumnya khususnya dalam bidang

Hukum Administrasi Negara

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi lebih

lanjut bagi para peneliti lain yang akan melakukan penelitian dengan tema

atau masalah yang sama

(23)

8

Penelitian ini diharapkan dijadikan bahan referensi bagi Pemerintah Kota

Bandar Lampung dalam membuat peraturan-peraturan daerah yang berkaitan

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pelayanan Publik

Pelayanan berasal dari kata layan atau melayani. Menurut Kamus Umum

Bahasa Indonesia, layan atau melayani berarti “Menyuguhkan”,

menyediakan keperluan orang. Jadi pelayanan adalah hal, cara atau hasil

pekerjaan melayani.6

Tugas pelayanan publik menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya.

Hingga saat ini belum ada pembagian terhadap tugas pelayanan publik

yang di bagikan kepada pihak swasta atau di luar susunan pemerintahan.

Monopoli pemerintah terhadap penyelenggaraan pelayanan publik bukan

tidak mungkin menjadi salah satu faktor rendahnya kinerja yang

berdampak kepada rendahnya hasil yang menjadi keluarannya.7

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan

Publik dalam Pasal 1, disebutkan bahwa:

1) Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam

rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan

perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas

6 Ibid.,

7Tyas Dian Anggraeni, Menciptakan Sistem Pelayanan Publik Yang Baik: Strategi Reformasi Birokrasi Dalam Pemberantasan Korupsi, Jurnal Rechts Vinding Volume 3 Nomor 3,

(25)

10

barang, jasa, dan/ atau pelayanan administratif yang disediakan

oleh penyelenggara pelayanan publik.

2) Sedangkan penyelenggara pelayanan publik yang selanjutnya

disebut Penyelenggara adalah setiap institusi penyelenggara

negara, korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan

undang-undang untuk kegiatan pelayanan publik, dan badan hukum

lain yang dibentuk berdasarkan undang-undang untuk kegiatan

pelayanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk

semata-mata untuk kegiatan publik.

Adapun ruang lingkup pelayanan publik, sebagaimana diatur dalam

Pasal 5,

1) Ruang lingkup pelayanan publik meliputi pelayanan barang

publik dan jasa publik serta pelayanan administratif yang diatur

dalam peraturan perundang-undangan.

2) Ruang lingkup sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1)

meliputi pendidikan, pengajaran, pekerjaan dan usaha, tempat

tinggal, komunikasi dan informasi, lingkungan hidup,

kesehatan, jaminan sosial, energi, perbankan, perhubungan,

sumber daya alam, pariwisata, dan sektor strategis lainnya.

3) Pelayanan publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi

a. pengadaan dan penyaluran barang publik yang dilakukan oleh instansi pemerintah yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan/ atau anggaran pendapatan dan belanja daerah; b. pengadaan dan penyaluran barang publik yang dilakukan

(26)

11

c. pengadaan dan penyaluran barang publik yang pembiayaannya tidak bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara atau anggaran pendapatan dan belanja daerah atau badan usaha yang modal pendiriannya sebagian atau seluruhnya bersumber dari kekayaan negara dan/atau kekayaan daerah yang dipisahkan, tetapi ketersediaannya menjadi misi negara yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

4) Pelayanan atas jasa publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

meliputi :

a. penyediaan jasa publik oleh instansi pemerintah yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan/ atau anggaran pendapatan dan belanja daerah;

b. penyediaan jasa publik oleh suatu badan usaha yang modal pendiriannya sebagian atau seluruhnya bersumber dari kekayaan negara dan/atau kekayaan negara daerah yang dipisahkan;dan

c. penyediaan jasa publik yang pembiayaannya tidak bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara atau anggaran pendapatan dan belanja daerah atau badan usaha yang modal pendirian sebagian atau seluruhnya bersumber dari kekayaan negara dan/ atau kekayaan daerah yang dipisahkan, tetapi ketersediaannya menjadi misi negara yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan

Berdasarkan apa yang telah diatur dalam Undang-Undang Pelayanan

Publik lebih mengarah kepada pelayanan umum dan langsung melayani

atau berhadapan langsung dengan masyarakat.8

(27)

12

2.2 Pajak

2.1.2 Pengertian

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang

(yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal

(kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk

membayar pengeluaran umum. Dapat dipaksakan berarti bila utang pajak

tidak dibayar maka utang itu dapat ditagih dengan menggunakan

kekerasan, seperti surat paksa dan sita, dan juga penyanderaan.9

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang

pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang,

dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk

keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.10Filosofi

pajak adalah filosofi keadilan. Dia mengandalkan adanya redistribusi

kesejahteraan ketika sumber daya ekonomi disebar dan disesap oleh

khalayak ramai. Kemiskinan tandas dan mimpi kesejahteraan pun bisa

didekap erat.11

Banyak para ahli dalam bidang perpajakan yang memberikan pengertian

yang berbeda-beda mengenai pajak, walaupun demikian pengertian

tersebut mempunyai makna atau tujuan yang sama.12Menurut Prof. DR

9Yuswanto, Nurmayani, Marlia Eka Putri dan Eka Deviani. Hukum Pajak. PKKPUU FH

Unila. Bandar Lampung.2013. hlm 3

10Pajak diakses dari https://www.pajak.go.id/id/istilah-umum-perpajakan pada tanggal 8

Desember 2019

11Trisni Suryani dan Tarsis Tarmudji, Pajak di Indonesia, 2012, Yogyakarta, Graha Ilmu,

hlm, 2.

(28)

13

Rachmad Soemitro, SH, Pajak adalah iuran rakyat kepada Kas Negara

(peralihan kekayaan dari sektor partikelir ke sektor Pemerintah)

berdasarkan Undang-Undang (dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat

jasa tirnbal balik (tegan prestatie) yang langsung dapat ditunjuk dan yang

digunakan untuk pembiayaan pengeluaran umum. DR Soeparrnan

Soernaharni Jaya berpendapat bahwa pajak adalah iuran wajib berupa uang

atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma

hukurn, guna menutupi biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif

dalarn mencapai kesejahteraan umum. Prof. Sindian Isa Djayadiningrat

juga berpendapat pengettian pajak ialah sebagai suatu kewajiban

menyerahkan sebagian dari pada kekayaan kepada Negara disebabkan

suatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan

tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan - peraturan

yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa

balik dari Negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan umum

Pajak ibarat oase di padang pasir yang tandus. Krisis ekonomi

berkepanjangan yang dihadapi oleh Indonesia tak pelak membutuhkan

dana yang besar. Dana tersebut bisa berasal dari berbagai sektor seperti

sektor migas dan sektor nonmigas serta dari sektor pajak. Berbeda dengan

beberapa periode yang lalu dimana sumber penerimaan APBN terbesar

berasal dari sektor migas, beberapa tahun belakangan sumber utama

(29)

14

bisa dipungkiri, penerimaan dari sektor pajak beberapa tahun terakhir

mencapai sekitar 80% dari seluruh penerimaan negara.13

2.2.2 Fungsi Pajak

Selain berfungsi sebagai sumber dana (budgetair) pajak juga dapat

berfungsi untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan tertentu

(reguleren), Fungsi Redistribusi serta Fungsi Demokrasi.14

1. Fungsi Penerimaan (Budgetair) Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran-pengeluaran pemerintah. Dalam APBN Pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri.

2. Fungsi Mengatur (Reguleren) Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang sosial dan ekonomi, misalnya PPnBM untuk minuman keras dan barang-barang mewah lainnya.

3. Fungsi Redistribusi pendapatan yaitu penerimaan negara dari pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran umum dan pembangunan nasional sehingga dapat membuka kesempatan kerja dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

4. Fungsi Demokrasi, Pajak dalam fungsi demokrasi merupakan wujud sistem gotong royong. Fungsi ini dikaitkan dengan tingkat pelayanan pemerintah kepada masyarakat pembayar pajak.

Kesadaran wajib pajak atas fungsi perpajakan sebagai pembiayaan negara

sangat diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Masyarakat

harus sadar akan keberadaannya sebagai warga negara yang selalu

menjunjung tinggi Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar hukum

penyelenggaraan negara. Penelitian yang dilakukan oleh Manik Asri

menemukan bahwa kesadaran wajib pajak berpengaruh positif pada

(30)

15

kepatuhan pelaporan wajib pajak. Jika kesadaran wajib pajak meningkat,

maka kepatuhan wajib pajak akan meningkat.15

Membayar pajak merupakan suatu kewajiban bagi warga negara dalam

rangka ikut membiayai pembangunan guna mewujudkan kesejahteraan

bersama. Bagi warga negara yang telah mempunyai tingkat kesadaran

hukum yang tinggi dalam arti telah berperilaku sesuai dengan hukum atau

mengerti fungsi pajak, mengerti dampak pajak baik terhadap masyarakat

maupun individu, akan dengan suka rela dan disiplin membayar pajak

tanpa adanya paksaan. Tetapi orang yang demikian tidak banyak, motif

orang taat terhadap aturan pajak atau mau membayar pajak adalah salah

satunya yaitu takut dihukum. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

Muliary dan Ery menunjukkan persepsi tentang sanksi perpajakan yang

berpengaruh positif terhadap kepatuhan pelaporan Wajib Pajak orang

pribadi. Hal ini berarti jika persepsi Wajib Pajak terhadap sanksi yang

akan dikenakan kepada dirinya semakin berat maka akan berpengaruh

terhadap peningkatan kepatuhan Wajib Pajak.16

2.2.3 Jenis Pajak

a. Pajak Penghasilan

Pajak pendapatan atau yang lebih dikenal dengan (PPh) merupakan pajak

yang dikenakan kepada perseorangan atau individu atas penghasilan yang

15Ni Ketut Muliari, Pengaruh Persepsi Tentang Sanksi Perpajakan Dan Kesadaran Wajib Pajak Pada Kepatuhan Pelaporan Wajib Pajak Orang Pribadi Di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur, Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis 2011, hlm 3.

16Arabella Oentari Fuadi dan Yenni Mangoting, Pengaruh Kualitas Pelayanan Petugas Pajak, Sanksi Perpajakan dan Biaya Kepatuhan Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM,

(31)

16

diterimanya. Menurut pajak penghasilan pasal 25, pajak penghasilan

adalah pajak yang di bebankan untuk individu, perusahaan atau badan

hukum atas penghasilan yang di peroleh.

Pada awalnya pajak penghasilan hanya diterapkan pada perusahaan

perkebunan yang berada di Indonesia. Pajak tersebut di namakan dengan

pajak perseroan atau PPs. Kemudian, akhirnya di tetapkan pajak yang di

kenakan untuk individu atau karyawan yang bekerja pada perusahaan.

Pajak ini ditujukan pada orang Indonesia ataupun orang yang bukan

berasal dari Indonesia namun memiliki pendapatan di Indonesia. Oleh

karena itu kini setiap majikan atau kepala perusahaan harus memotong gaji

pengawai mereka untuk membayar pajak atas gaji yang diterimanya.

b. Pajak Pertambahan Nilai

Dari sekian banyak jenis pajak, mungkin pajak pertambahan nilai atau PPn

merupakan salah satu pajak yang banyak diketahui karena sering tertulis di

tagihan pembayaran ketika berbelanja. Pada dasarnya PPn merupakan

pajak atas transaksi jual beli yang di lakukan oleh individu atau badan.

Untuk tarif pajak pertambahan nilai sendiri adalah 10%, namun untuk

ekspor barang kena pajak berwujud, ekspor barang kena pajak tidak

berwujud, dan ekspor jasa kena pajak maka besar tarifnya 0%.

c. Pajak Atas Penjualan Barang Mewah

PPnBM adalah kependekan dari pajak atas penjualan barang mewah yang

(32)

17

untuk mengimpor atau menghasilkan barang tersebut. Barang-barang yang

kena pajak PPnBM misalnya barang yang bukan kebutuhan pokok, barang

yang di konsumsi oleh masyarakat tertentu saja, barang yang dikonsumsi

oleh masyarakat berpenghasilan tinggi dan barang yang menunjukkan

suatu kelas sosial.

d. Bea Materai

Bea materai merupakan pajak yang dikenakan atas dokumen. Dokumen di

sini merupakan dokumen bersifat perdata dan dokumen untuk pengadilan.

Nilai bea cukai tergantung pada dokumen dan penggunaan dokumen, ada

dua jenis nilainya yaitu 3 ribu dan 6 ribu rupiah. Bea materai tidak

memerlukan nomor identitas objek dan wajib pajak. Pembayarannya lebih

dulu dari pada saat terutang dan waktu pembayarannya dilakukan secara

isidentil atau tidak terikat waktu.

e. Pajak Bumi dan Bangunan

Pajak bumi dan bangunan atau PBB merupakan pajak yang dikenakan atas

kepemilikan dan pemanfaatan tanah atau bangunan. Seluruh hasil

penerimaan PBB di berikan kepada pemerintah daerah provinsi atau

kabupaten. Keadaan dari subjek pajak tidak ikut menentukan besaran dari

pajak. Objek dari pajak bumi dan bangunan di bedakan menjadi dua. Yaitu

objek pajak standar dengan luas tanah kurang dari 10.000 meter persegi.

Sedangkan objek pajak non standart adalah bangunan yang memiliki luas

tanah lebih dari 10.000 meter persegi.17

17 Disitu diakses dari

(33)

18

f. Pajak Kendaraan Bermotor

Adapun Pajak Kendaraan Bermotor termasuk ke dalam jenis pajak

provinsi yang merupakan bagian dari Pajak Daerah. Lebih lanjut, Pajak

Kendaraan Bermotor sebagaimana yang didefinisikan dalam Pasal 1 angka

12 dan 13 Undang –undang Republik Indonesia No28 tahun 2009 adalah

pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. Dalam

pelaksanaan pemungutannya dilakukan di kantor bersama samsat. Kantor

Bersama SAMSAT ini melibatkan tiga instansi pemerintah, yaitu: Badan

Pendapatan Daerah, Kepolisian Daerah Republik Indonesia, dan PT.

(Persero) Asuransi Kerugian Jasa Raharja.18

7. Pajak Daerah

a. Kewenangan Pajak Daerah

Pasal 23A UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan

bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan

Negara diatur dengan Undang-undang (UU). Pelaksanaan amanat Pasal

23A UUD dimuat di dalam Pasal 285 UU 23 tahun 2104 tentang

Pemerintahan Daerah jo Pasal 5 ayat 2 UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang

Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan

Daerah menyatakan bahwa sumber pendapatan Daerah terdiri dari:

18Bapenda Jabar diakses dari https://bapenda.jabarprov.go.id/pajak-kendaraan-bermotor/

(34)

19

Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan lain-lain

pendapatan. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang

diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai

denganperaturan perundang-undangan,yaitu hasil pajak daerah, retribusi

daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan serta lainlain

PAD yang sah. Jelas tersurat bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi

daerah, maka daerah diberi keleluasaan untuk menggali potensi yang

dimilikinya dan salah satu potensi tersebut adalah pajak daerah, atau

dengan kata lain pajak daerah adalah salah satu sumber pemasukan daerah

dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.19

Penyelenggaraan pemerintahan yang baik dalam suatu negara merupakan

suatu kebutuhan yang tidak terelakkan. Pemerintah wajib menerapkan

kaidah-kaidah yang baik dalam menjalankan operasional pemerintahan,

termasuk di dalamnya kaidah-kaidah di bidang pengelolaan keuangan

negara yang diwujudkan dalam bentuk penerapan prinsip good governance

dan juga asas-asas pemerintahan yang baik (the principle of good

administration).20

b. Pengertian Pajak Daerah

Lapangan pajak daerah hanya terbatas pada lapangan pajak yang belum

dipungut oleh Negara (pusat). Misalnya pajak atas penghasilan tidak boleh

19 Kadar Pamuji, Kebijakan Pengelolaan Pajak Daerah Dalam Kerangka Penyelenggaraan Otonomi Daerah (Analisa Terhadap Implementasi Wewenang Pengelolaan

Pajak Daerah Oleh Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah), Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, hlm 431.

20Yuswanto, Nurmayani, Ati Yuniati, Marlia Eka Putri, Eka Deviani dan Satria Prayoga.

(35)

20

dipungut lagi oleh daerah karena telah dipungut oleh pemerintah pusat.

Sebaliknya Negara juga tidak diperkenankan untuk memungut pajak yang

telah dipungut oleh daerah. Selain itu terdapat ketentuan bahwa pajak dari

daerah yang lebih rendah tingkatannya tidak boleh memasuki lapangan

pajak dari daerah yang lebih tinggi tingkatannya.21Pembaharuan landasan

hukum pemungutan Pajak Daerah dimulai dengan dibentuknya

Undang-undang No 18 tahun 1997 yang kemudian diubah denganUndang-Undang-undang

No 34.Tahun 2000 dan diubah lagi dengan Undang-undang No 28 tahun

2009 tentang Pajak Daerah Dan Retrebusi Daerah. Aturan pelaksana dari

Undang-undang tersebut yakni Peraturan Pemerintah No 65 tahun 2001

tentang Pajak Daerah. Mencermati pengaturan tentang Pajak Daerah baik

dalam undang-undang maupun dalam peraturan pemerintah, maka harus

dikatakan bahwa daerah diberikan kewenangan yang luas untuk menggali

potensi daerah khususnya berkaitan dengan pajak daerah dan retrebusi

daerah, sehingga memungkinkan daerah untuk merubah atau menambah

jenis-jenis pajak daerah yang sudah ada, namun tetap harus berpedoman

pada rambu-rambu yang diatur oleh kedua aturan tersebut. Pengertian

pajak daerah berdasarkan pasal 1 ayat (10) Undang-undang No.28 Tahun

2009:“ pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terhutang

oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan

undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan

digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran

rakyat.

21Darwin, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Mitra Wacana Media, 2010, Jakarta,

(36)

21

Dari pengertian pajak diatas dapat disimpulkan bahwa pajak daerah

merupakan pajak yang ditetapkan oleh pemerintah daerah dengan

peraturan daerah (PERDA) yang melaksanakan pemungutanya oleh

pemerintah daerah dan hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran

pemerintah daerah dalam melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan

dan pembangunan daerah. Pemerintah daerah di Indonesia terbagi atas 2

yaitu pemerintah Provinsi danpemerintah Kabupaten/Kota yang diberi

wewenang untuk melaksanakan otonomi daerah, maka pajak daerahpun

terbagi menjadi dua, pajak Provinsi dan pajak Kabupaten/Kota.

Berdasarkan pengertian pajak daerah itu maka dapat dikemukakan tentang

unsur-unsur dari pajak daerah yaitu:

1) Pajak daerah merupakan iuran wajib.

2) Subjek pajak daerah ialah orang pribadi atau badan.

3) Dipungut berdasarkan peraturan perundang-undangan oleh pemerintahan daerah dalam bentuk PERDA.

4) Dapat dipaksakan keberlakuannya tampa ada kontraprestasi yang langsung dapat ditunjuk.

5) Hasilnya digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

Berdasarkan dari unsur-unsur pajak daerah diatas, maka dapat dikatakan

bahwa pajak daerah itu merupakan pajak yang secara khusus dipergunakan

untuk daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota, dipungut oleh

pemerintah daerah melalui dinas pendapatan daerah, diatur dalam bentuk

peraturan daerah (PERDA).

Dari pengertian pajak maka dapat diambil kesimpulan tentang ciri-ciri yang melekat pada pajak adalah:

(37)

22

2) Pembayaran pajak harus masuk kepada kas Negara, yaitu pemerintah pusat atau kas pemerintah daerah.

3) Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontraprestasi individu oleh pemerintah.

4) Pajak dipungut karena adanya suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang menurut peraturan perundang-undangan pajak terhadap yang dikenakan pajak.

5) Pajak memiliki sifat yang dipaksakan.

Menurut Kristiadi, pajak daerah secara teori hendaknya memenuhi

beberapa persyaratan, antara lain :

1) Tidak bertentangan dengan kebijakan pemerintah pusat 2) Sederhana dan tidak banyak jenisnya

3) Biaya administrasinya mudah

4) Tidak mencampuru sistem perpajakan pusat

5) Kurang dipengaruhi oleh “business cycle” tapi dapat berkembang

dengan meningkatkan kemakmuran.

6) Beban pajak relatif seimbang dan “tax base” yang sama diterapkan

secara nasional.22

2.2.4 Prinsip dan Sistem Pemungutan Pajak a. Prinsip Pemungutan Pajak

Supaya pemungutan pajak benar-benar efektif, terdapat lima prinsip yang

harus dijalankan dalam pelaksanaan pemungutan pajak.23

1) Prinsip Keadilan (Equity)

Keadilan dalam pemungutan pajak artinya pajak dikenakan secara

umum dan sesuai dengan kemampuan wajib pajak atau sebanding

dengan tingkat penghasilannya.

22 Badan Pengakajian Ekonomi, Keuangan, Dan Kerjasama Internasional Departemen

Keuangan RI, 2005, Evaluasi Pelaksanaan UU No 34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah Dan

Retrebusi Daerah, Jakarta, hal 25

23Berpendidikan diakses dari

(38)

23

2) Prinsip Kepastian (Certainty)

Pemungutan pajak harus dilakukan dengan tegas, jelas, dan ada

kepastian hukum. Hal ini dimaksudkan agar mudah dimengerti oleh

wajib pajak dan memudahkan administrasi.

3) Prinsip Kecocokan/Kelayakan (Convience)

Pajak yang dipungut hendaknya tidak memberatkan wajib pajak.

Artinya pemerintah harus memerhatikan layak atau tidaknya seseorang

dikenakan pajak sehingga orang yang dikenai pajak akan senang hati

membayar pajak.

4) Prinsip Ekonomi (Economy)

Pada saat menetapkan dan memungut pajak harus mempertimbangkan

biaya pemungutan pajak. Jangan sampai biaya pemungutannya lebih

tinggi dari pajak yang dikenakan.

b. Sistem Pemungutan Pajak

Secara umum pemungutan pajak berlaku empat cara, yaitu:

1. Official Assessment System

Official Assessment System adalah sistem pemungutan pajak yang

memberikan wewenang kepada fiskus dalam menentukan besarnya

utang pajak Wajib Pajak.

2. Semi Self Assessment System

Semi Self Assessment System adalah sistem pemungutan pajak yang

memberikan wewenang kedua belah pihak, yaitu fiskus dan Wajib

(39)

24

pelaksanaan sistem ini mekanismenya dengan beranggapan bahwa

akhir tahun Wajib Pajak menaksir sendiri besarnya utang pajak. Utang

pajak yang telah ditaksir akan ia bayarkan pada akhir tahun yang

sesungguhnya ditetapkan oleh fiskus.

3. Full Self Assesment System

Full Self Assessment System adalah sistem pemungutan pajak yang

memberikan wewenang kepada Wajib Pajak untuk menghitung dan

melaporkan sendiri pajak yang harus ia bayar.

4. With Holding System

With Holding System adalah sistem pemungutan pajak yang

memberikan wewenang kepada pihak ketiga dan bukan Wajib Pajak

maupun fiskus. Karena karakterisktik setiap jenis pajak daerah tidak

sama, self assessment system tidak dapat diberlakukan untuk semua

jenis pajak daerah. Di Indonesia, sistem pemungutan Pajak Kendaraan

Bermotor menganut Official Assesment System, dimana fiskus

memiliki wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang.24

Sistem pemungutan pajak suatau negara akan sangat berpengaruh terhadap

optimalisasi pemasukan dana dari masyarakat ke kas negara. Indonesia

menganut sistem self assesment yang mengharuskan wajib pajak untuk

menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri kewajiban pajaknya.

Seperti diterangkan terdahulu peran fiskus pada sistem ini adalah

pengawasan, uakni jika ditemukan adanya perhitungan maupun

(40)

25

fiskus akan mengadakan tindakan pemeriksaan, dimana hal ini dibenarkan

oleh Undang-Undang Perpajakan khususnya yang termaktub pada Pasal 12

ayat (1) Undang-undang KUP yang menyebutkan “Apabila direktur

jendral pajak mendapati bukti jumlah pajak yang terutang menurut Surat

Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak benar, Direktur

Jendral Pajak menetapkan jumlah pajak yang terutang”.25

2.3 Pajak Kendaraan Bermotor

Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah pajak atas kepemilikan atau

penguasaan kendaraan bermotor, yaitu kendaraan beroda dua atau lebih

beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan

digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang

berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi

tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat

besar yang bergerak.26

Wajib Pajak Adalah orang pribadi atau badan yang memiliki kendaraan

bermotor, jika wajib pajak merupakan badan maka kewajiban

perpajakannya diwakili oleh pengurus atau kuasa hukum badan tersebut.

Dengan demikian, pada PKB subjek pajak sama dengan wajib pajak, yaitu

orang pribadi atau badan yang memiliki atau menguasai kendaraan

bermotor.27

25 Dwikora Harjo, Perpajakan Indonesia, Jakarta, Mitra Wacana Media, 2013, Hlm 28. 26

Muhammad Muchtar dkk, Analisis Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap

Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Barito Utara ,Jurnal Ilmu Ekonomi Vol 1 Jilid 3/Tahun

2017, hlm. 390.

(41)

26

Undang-undang No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi

Daerah, Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan

dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. Objek Pajak Kendaraan

Bermotor, yang menjadi objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah

kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. Dikecualikan

sebagai objek pajak PKB adalah kepemilikan dan/atau penguasaan

kendaraan bermotor oleh.

1) Kereta api;Kendaraan Bermotor yang semata-semata digunakan untuk keperluan pertahanan dan keamanan Negara;

2) Kendaraan Bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan, konsultan, perwakilan negara asing dengan rasa timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari Pemerintah; dan

3) Objek Pajak lainnya yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.Subjek Pajak Kendaraan Bermotor. Menurut pasal 4 Undang-undang Nomor 28 Tahun2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, yang menjadi subjek Pajak Kendaraan Bermotor adalah Orang Pribadi atau Badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor

Dasar Pengenaan, Tarif, dan Cara Perhitungan PKBNJKB ditetapkan

berdasarkan harga pasaran umum pada minggu pertama bulandesember

tahun pajak sebelumnya. Dalam hal harga pasaran umum suatu kendaraan

bermotor tidak diketahui, NJKB dapat ditentukan berdasarkan sebagian

atau seluruh faktor-faktor berikutini:

a) Harga kendaraan bermotor dengan isi silinder dan atau satuan tenaga yang sama;

b) Penggunaan kendaraan bermotor untuk umum ataupun pribadi; c) Harga kendaraan bermotor dengan merek yang sama;

d) Harga kendaraan bermotor dengan tahun pembuatan yang sama; e) Harga kendaraan bermotor dengan pembuat kendaraan bermotor; f) Harga kendaraan bermotor dengan kendaraaan bermotor yang sejenis;

dan.

(42)

27

Besarnya tarif PKB berdasarkan Undang-undang nomor 28 Tahun 2009

Pasal 6 ayat 1 ditetapkan sebagaimana di bawah ini:28

a) Untuk kepemilikan kendaraan bermotor pertama paling rendah sebesar sebesar 1% (satu persen) dan paling tinggi sebesar 2% (dua persen); b) Untuk kepemilikan kendaraan bermotor kedua dan seterusnya tarif

dapat ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2% dan paling tinggi sebesar 10%.c. Pajak progresif untuk kepemilikan kedua dan setersunya tersebut dibedakan menjadi kendaraan roda yang kurang dari 4 (empat) kendaraan roda 4 atau lebih. Kepemilikan kendaraan bermotor didasarkan atas nama dan atau alamat yang sama.

2.3.1 Subjek Pajak

Subjek Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang

memiliki dan/atau menguasai Kendaraan Bermotor. Wajib Pajak

Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang memiliki

Kendaraan Bermotor. Dalam hal Wajib Pajak Badan, kewajiban

perpajakannya diwakili oleh pengurus atau kuasa badan tersebut.

2.3.2 Objek Pajak

Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan/atau

penguasaan Kendaraan Bermotor. Termasuk dalam pengertian Kendaraan

Bermotor adalah kendaraan bermotor beroda beserta gandengannya, yang

dioperasikan di semua jenis jalan darat dan kendaraan bermotor yang

dioperasikan di air dengan ukuran isi kotor GT 5 (lima Gross Tonnage)

sampai dengan GT 7 (tujuh Gross Tonnage).

Dikecualikan dari pengertian Kendaraan Bermotor adalah:

(43)

28

1) Kereta api;

2) Kendaraan Bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan

pertahanan dan keamanan negara;

3) Kendaraan Bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan,

konsulat, perwakilan negara asing dengan asas timbal balik dan

lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas pembebasan

pajak dari Pemerintah; dan Objek pajak lainnya yang ditetapkan dalam

Peraturan Daerah.

2.3.3 Tarif

Pasal 5 Undang-Undang nomor 28 tahun 2009 hanya mengatur bahwa

penetapan batas bawah dan batas atas tarif pajak kendaraan bermotor

pribadi, sedangkan kepastian penetapan tarif pajak kendaraan bermotor

diatur berdasarkan peraturan daerah pada masing-masing provinsi.

Pasal 6 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009tentang Pajak Daerah

dan Retribusi Daerah diketahui bahwa:

1) Tarif Pajak Kendaraan Bermotor pribadi ditetapkan sebagai berikut:a. untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor pertama paling rendah sebesar 1% (satu persen) dan paling tinggi sebesar 2% (dua persen); 21b. untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor kedua dan seterusnya tarif dapat ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2% (dua persen) dan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).

2) Kepemilikan Kendaraan Bermotor didasarkan atas nama dan/atau alamat yang sama.

(44)

29

4) Tarif Pajak Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar ditetapkan paling rendah sebesar 0,1% (nol koma satu persen) dan paling tinggi sebesar 0,2% (nol koma dua persen).

5) Tarif Pajak Kendaraan Bermotor ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Pasal 7 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah

dan Retribusi Daerah diketahui bahwa:

1) Besaran pokok Pajak Kendaraan Bermotor yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6ayat (5) dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (9).

2) Pajak Kendaraan Bermotor yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat Kendaraan Bermotor terdaftar.

3) Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dilakukan bersamaan dengan penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor.

4) Pemungutan pajak tahun berikutnya dilakukan di kas daerah atau bank yang ditunjuk oleh Kepala Daerah.

Pasal 17 ayat (1) Peraturan Gubernur Lampung Nomor 28 Tahun 2016

Tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor Dan

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2016 Tarif Dasar Pengenaan

Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) ditetapkan sebagai berikut:

a) untuk Kendaraan Bermotor Angkutan Umum Orang sebesar 1% (Satu persen) dikalikan 300/0 (tiga puluh persen) dikalikan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor;

b) untuk Kendaraan Bermotor Angkutan Umum Barang sebesar 1% (satu persen) dikalikan 50% (lima puluh persen) dikalikan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor;

c) untuk Kendaraan Bermotor Bukan Umum sebesar 1,5% (Satu koma lima persen) dikalikan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor;

d) untuk Kendaraan Bermotor Ambulans, Pemadam Kebakaran, Sosial Keagamaan, Lembaga Sosial dan Keagamaan, Pemerintah, Instansi Pemerintah sebesar 0,5% (nol koma lima persen) dikalikan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor;

(45)

30

2.3.4 Tata cara Pemungutan

Pajak merupakan cara yang digunakan dalam menentukan jumlah pajak

seseorang yang akan dibayar kepada negara. Pemungutan pajak menurut

Irianto29adalah sebagai berikut:

“Pelaksanaan yurisdiksi pajak (tax jurisdiction – kewenangan dalam

bidang perpajakan) sebagai atribut kedaulatan Indonesia untuk mengatur

orang dan objek yang berada dalam wilayah kekuasaannya”.

Yurisdiksi pajak meliputi 3 hal, yaitu:

1) Regulasi (menyusun Undang-Undang).

2) Penerimaan (meminta, secara legal dan faktual, sebagian dari penghasilan dan/atau kekayaan masyarakat untuk keperluan negara). 3) Administrasi (melaksanakan, mengelola, mengadministrasikan dan

penegakan hukum).

Syarat-syarat pemungutan pajak, yaitu:

1. Pemungutan pajak harus adil.

2. Pemungutan pajak harus berdasarkan Undang-Undang.

3. Pemungutan pajak tidak mengganggu perekonomian.

4. Pemungutan pajak harus efisien.

5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana.

Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dilakukan bersamaan dengan

penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor. Pajak Kendaraan

Bermotor dikenakan untuk Masa Pajak 12 (dua belas) bulan berturut-turut

terhitung mulai saat pendaftaran Kendaraan Bermotor. Pajak Kendaraan

(46)

31

Bermotor tidak dapat diangsur. Sistem pemungutan pajak tersebut diukur

dengan indikator sebagai berikut:

1. Memperoleh informasi yang tepat dalam pembayaran Pajak

Kendaraan Bermotor (PKB).

2. Sistem pemungutan pajak yang digunakan.

3. Pemungutan pajak yang efisien.

4. Pelaksanaan pemungutan pajak sesuai dengan ketentuannya.

5. Sistem pemungutan pajak yang sederhana.

Menurut Undang-Undang nomor 28 tahun 2009 pasal 1 ayat 5 dasar

pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor adalah hasil perkalian dari 2 (dua)

unsur pokok:

1. Nilai Jual Kendaraan Bermotor; dan

2. bobot yang mencerminkan secara relatif tingkat kerusakan jalan

dan/atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan Kendaraan

Bermotor.30

2.4 SAMSAT

2.4.1 Pelayanan Kantor Bersama samsat

Pelayanan Kantor Bersama Samsat Pengertian pelayanan ini dapat dilihat

dari 3 (tiga) sudut pandang yakni pengertian umum, pengertian menurut

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan

30

Indah Chairun Nisa, 2017,Pengaruh Sistem Pemungutan Pajak, Pelayanan Fiskus

Danefektifitas Sistem Perpajakan Terhadap Kepatuhanwajib Pajakdenganlayanan Drive Thrusebagai Variabel Moderating(Studi Pada Kantor Samsat Gowa),Fakultas Ekonomi Dan

(47)

32

Undang Nomor 43 Tahun 1999 dan pengertian menurut

Undang-Undang Perpajakan:

1. Pengertian Umum,

Kata pelayanan secara terrninologi berarti kata kerja yang mengandung

arti suatu kegiatan dimana seseorang atau kelompok orang yang selain

siap melakukan pekerjaan memberikan tenaga dan pikirannya untuk

membantu orang di bidang tertentu.

2. Pengertian menurut Undang-undang,

Dalam Undang-Undang No 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah

dengan undang-undang no 43 tahun 1999 tentang pokok-pokok

kepegawaian ditetapkan bahwa bentuk pelayanan yang diberikan oleh

Pegawai Negeri Sipil kepada masyarakat tidak diatur secara jelas.

Dalam Undang - Undang ini disebutkan bahwa Pegawai Negeri Sipil

bukanlah hanya aparatur negara, tetapi juga abdi negara dan abdi

masyarakat yang hidup di tengah-tengah masyarakat dan bekerja untuk

kepentingan masyarakat dan untuk mencapai tujuan nasional

diperlukan adanya Pegawai Negeri Sipil yang penuh kesetiaan dan

ketaatan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Kualitas pelayanan perpajakan perlu dikaji melalui beberapa konsep

pelayanan, yang dalam hal ini penulis mencoba mengemukakan secara

singkat konsep-konsep yang khusus menelaah mengenai pelayanan.

Banyak sekali konsep yang cukup realistik yang dapat diterapkan dalam

(48)

33

Hukum terbentuknya Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap

(SAMSAT) adalah seperti yang disebutkan di bawah ini sebagai berikut:

1. Instruksi Bersama Menteri Pertahanan Keamanan. Menteri Dalam

Negeri dan Menteri Keuangan Nomor INS/03/M/X/1999, Nomor

29 Tahun 1999 dan Nomor 6/IMK.014/1999.

2. Surat Keputusan Bersama Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah dan

Direktur Utama PT. Jasa Raharja (Persero) Nomor

Skep/06/X/1999, Nomor 973-1228 dan Nomor SKEP/02/X/1999.

Aparat pelaksanaan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap

(SAMSAT) terdiri dari unsur Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah,

UPTD Dinas Pendapatan Daerah dan PT. Jasa Raharja (Persero) Cabang.

Penanggung jawab kegiatan adalah sebagai berikut:

a. Unit Pelayanan : Petugas Dispenda dan Polri

b. Unit Administrasi : Petugas Dispenda, Polri dan Jasa Raharja c. Unit Pembayaran : Petugas Dispenda (Bendaha Penerima) d. Unit Pencetakan : Petugas Dispenda dan Polri

e. Unit Penyerahan : Petugas Polri

f. Unit Arsip : Petugas Polri dan Dispenda

g. Unit Informasi : Petugas Polri dan Dispenda Koordinator SAMSAT, dijabat oleh :

a. Samsat Ibu Kota Provinsi : Regident Ditlantas Polda

b. Samsat Daerah Kabupaten atau Kota : Lantas Fungsi Regindent31

2.4.2 Badan Pendapatan Daerah Provinsi

Badan Pendapatan Daerah Provinsi Lampung mempunyai tugas

menyelenggarakan sebagian urusan pemerintah provinsi di bidang

31 Aris Munandar Hardiansyah, 2015, Koordinasi Dalam Pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor Pada Sistem Administrasi Satu Atap Kota Palembang 1 Di Palembang, palembang,

(49)

34

pendapatan berdasarkan asas otonomi yang menjadi kewenangan, tugas

dekonsentrasi dan pembantuan serta tugas lain sesuai dengan kebijakan

yang ditetapkan oleh Gubernur berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Badan Pendapatan Daerah Provinsi Lampung mempunyai fungsi sebagai

berikut :

a. Perumusan kebijakan, pengaturan, perencanaan, dan penetapan

standar/pedoman;

b. Pembinaan, Pengendalian, Pengawasan, dan Koordinasi dan

c. Pelayanan administratif.

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi tersebut maka Badan Pendapatan

Daerah Provinsi Lampung adalah merupakan unsur Pemerintah Provinsi

yang antara lain diberi kewenangan sebagai pengelola pungutan

Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan sekaligus sebagai Koordinator di

bidang Pendapatan Daerah.

Susunan organisasi Badan Pendapatan Daerah Provinsi Lampung, terdiri dari :

a. Kepala Dinas;

b. Sekretariat;

c. Bidang Pajak;

d. Bidang Non Pajak;

e. Bidang Pengendalian;

(50)

35

g. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD); dan

h. Kelompok Jabatan Fungsional.32

2.4.3 Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI)

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2015

Tentang Penyelenggaraan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap

Kendaraan Bermotor Polri adalah adalah Kepolisian Nasional yang

merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan peran memelihara

keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta

memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada

masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. Selain

itu, juga disebutkan dalam dalam Pasal 13:

“(1) Untuk kelancaran penyelenggaraan Samsat, prosedur pelayanan Samsat dilaksanakan secara terpadu.

(2) Prosedur pelayanan Samsat secara terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahapan : a. pendaftaran; b. penerbitan SKKP; c. penerimaan pembayaran; d. pencetakan dan pengesahan; e. penghimpunan dan penggabungan serta penyerahan; dan f. pengarsipan. (3) Prosedur pelayanan Samsat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui Loket yang terdiri atas : a. loket pendaftaran dan penetapan; dan b. loket pembayaran dan pengesahan serta penyerahan”

Selanjutnya Berdasarkan Pasal 14 ditentukan bahwa: “(1) Pelayanan

pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) huruf a melalui tahapan : a. pemberian formulir SPRKB kepada pemilik Ranmor; b. penerimaan pendaftaran Regident Ranmor; c. penelitian, verifikasi kelengkapan dan keabsahan dokumen persyaratan Regident Ranmor; dan d. pendataan Regident Ranmor. (2) Pelayanan pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh petugas Polri yang ditunjuk.”

32 Bapenda Provinsi Lampung, Tupoksi, diakses dari

(51)

36

2.4.4 PT. Jasa Raharja (Persero) Cabang Lampung

Adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara(BUMN) dibawah

pembinaan Kementrian Keuangan Republik Indonesia. PT. Jasa Raharja

(Persero) Cabang Lampung di dalam melaksanakan tugas dan tanggung

jawabnya, senantiasa harus selalu menyesuaikan dengan perkembangan

serta, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi karena teknologi selain

berdampak positif khususnya, di bidang lalu lintas juga memberikan

dampak negatif berupa masih tingginya angka korban kecelakaan lalu

lintas. PT.Jasa Raharja (Persero) Cabang Lampung adalah yang paling

bertanggung jawab atas asuransi santunan kecelakaan di jalan raya.

Santunan tersebut berasal dari iuran dan sumbangan wajib

pemilik/pengusaha angkutan jalan dan penumpang angkutan umum, oleh

karenanya dilakukan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak, dalam

upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar iuran dan

sumbangan wajib,guna memenuhi tuntutan santunan Jasa Raharja terhadap

korban/ahli waris korban kecelakaan lalu lintas di jalan raya.33

(52)

BAB III

METODE PENELITIAN

Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan

yuridis empiris. Yuridis empiris adalah pendekatan kepustakaan yang

berpedoman pada peraturan-peraturan, buku-buku atau literature-literatur

hukum serta bahan-bahan yang mempunyai hubungan permasalahan dan

pembahasan dalam penulisan skripsi ini dan pengambilan data langsung

pada objek penelitian34 yang berkaitan dengan koordinas antar lembaga

terhadap pelayanan pajak kendaraan bermotor pada sistem administrasi

satu atap (samsat) di kota bandar lampung

Data yang digunakan untuk memecahkan permasalahan dalam penelitian

ini adalah data primer dan data sekunder. Kegiatan-kegiatan pengumpulan

data primer dan data sekunder dilakukan dengan mengikuti tahap-tahap

sebagai berikut:

Data Primer yang digunakan berasal dari lokasi penelitian, yang terkait

dengan koordinasi antar lembaga terhadap pelayanan pajak kendaraan

34Ronny Hanitijo Soemitro, 2001, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Jakarta:

Ghalia Indonesia, , hlm. 10.

3.1 Pendekatan Masalah

3.2 Data dan Sumber Data

References

Related documents

Explanatory Case Study: Transitions of Highly Mobile Students Explanatory Case Study: Transitions of Highly Mobile Students From Military Families to Public Non-Military

We also consider how increased price volatility affects the optimal capital accumulation policy and its value and state in terms of the net appreciation rate of the unit price of

Currently* numerous* mobile* apps* are* available* to* promote* the* business* activities* to* the* consumers.* These* mobile* apps* are* developed* to* reach*

Of the 323 Bactec blood culture sets evaluated, the same 55 (17%) blood cultures positive for carbapenem-resistant bacteria by culture were also positive by the validated qPCR

David Eyton speech to Trinidad & Tobago Energy Conference Page | 3 Starting then with the global context: energy demand has grown by more than 50% over.. the past two decades,

We combine the static premium with the dynamic premium and built a pricing model based on the Generalized Linear Models (GLM), then compare it with other automobile insurance

My focus here is to draw upon the literature in critical library studies to survey the changing trends in information access and literacy, as well as reflect on my own work in

• Will displace Morphine, Methadone from the receptor, thus if given to someone maintained on Methadone or using opiates, it can cause significant withdrawal. •