ISLAM VS LIBERALISME
(SUARA DAKWAH ISLAM DARI TWIN TOWER 1 KLCC)Ir. Achmad Nurhono, Msc
DAFTAR ISI
DARI PENYUSUN
SERIAL ISLAM VS LIBERALISME
KATA PENGANTAR
Serial Ke-1 Luthfi dan Rusdhie
Serial Ke-2 Kebebasan : Muslim atau Liberal
Serial Ke-3 Tiga Makna Kebebasan dalam Islam
Serial Ke-4 Kebebasan Menista atau Menista Kebebasan
Serial Ke-5 Blasphemy
Serial Ke-6 Pornografi dan Liberalisme
Serial Ke-7 Seks Bebas Demi kebebasan
Serial Ke-8 Solusi tentang Ahmadiyah di Indonesia
Serial Ke-9 HAM dan Kebebasan
Serial Ke-10 DUHAM dimata Prof. Hamka
Serial Ke-11 Kebebasan Konsep Penting Worldview Barat
Serial Ke-12 Kritik Reinterpretasi dan liberalisasi Penafsiran
Serial Ke-13 Diabolisme Intelektual
Serial Ke-14 Makna Kebebasan, Bebas dari Tuhan
Serial Ke-15 Pemikiran Liberal di Dunia Arab
Serial Ke-16 Liberalisasi Syariat Islam
Serial Ke-18 Proyek Politik Pemikiran
Serial Ke-19 Kanker Epistemologis
Serial Ke-20 Liberalisasi Syariat ala Na'im, Abu Zayd, dan Shahrur
Serial Ke-21 Upaya Meliberalkan Guru Agama
Serial Ke-22 Prof.Azyumardi : Pendidikan Islam di IAIN adalah Islam Liberal
Serial Ke-23 Novel KEMI: Cinta Kebebasan yang Tersesat
Serial Ke-24 Langkah2 Perjuangan Seorang Profesor Pendukung Kesesatan
Serial Ke-25 Darmogandul dan Kebebasan - Misi Kristen di Jawa
Serial Ke-26 Pemikiran Modern Ala Barat: Paradigma Baru Pendidikan Islam di Indonesia
Serial Ke-27 Liberalisme: Dari Ideologi Menjadi Teologi
Serial Ke-28 Liberalisasi Syariat ala Sa’id al-Asymawi dan Na’im
Serial Ke-29 Religius Humanis dan HAM dalam Islam
Serial Ke-30 Salah Paham terhadap Ibn Rusyd dan Al-Ghazali + Ibn Rusyd tidak Liberal
Serial Ke-31 Liberalisasi Pemikiran Islam : Gerakan Bersama Misionaris, Orientalis, dan Kolonialis
DARI PENYUSUN
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi Rabbi Al-Alamiin. Asy-syhadu an Laa ilaaha illallaah wa asy-syhadu anna Muhammadan Rasulullah.
Segala Puji bagi Allah tuhan semesta alam yang telah memberikan kita ni’mat yang tak akan tergantikan apapun yaitu ni’mat Iman dan Islam. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah bagi baginda yang mulia, nabi akhir zaman yang tiada nabi dan rasul setelah beliau Muhammad saw. Begitu juga teriring do’a keselamatan untuk para keluarga nabi ra, para sahabatnya ra, para tabi’ut tabiin dan para ulama-ulama rahimahullah hingga akhir zaman yang atas berkat ilmu yang mereka sampaikan kita bisa menapaki jalan kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Buku ini adalah kumpulan hasil dakwah tulisan Bapak Ir. Achmad Nurhono, Msc., seorang muslim yang berpofesi sebagai geoscientist, yang beliau kirimkan untuk teman-temannya melalui surat elektronik (email) memuat pikiran-pikiran dari tokoh-tokoh Muslim yang bergelut dalam perang pemikiran dengan para pengusung paham liberalisme, pluralisme, sekularisme, dan semacamnya.
Ditulis secara serial dan dinukil dari karya asli para tokoh ISTAC, INSIST, dan para pengusung “Worldview Islam” semisal Prof. Naquib al-Attas, Dr. Wan Mohd Nor, Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, Dr. Adian Husaini, Dr Nirwan Syafrin, dan lain lainnya.
Meski tema “Islam vs Liberalisme” yang diusung serial ini termasuk dalam kategori ilmiah yang sangat serius, penulis buku dalam hal ini telah mampu merangkum secara lebih sederhana dan menjelaskan ide-ide serta essai para tokoh-tokoh “Worldview Islam” tersebut sehingga bisa lebih dipahami oleh orang awam.
Saya sengaja dengan mohon kepada Pak Achmad agar tulisannya di“copy left”kan sehingga bisa disebarluaskan ke khalayak ramai. Akhir kata, apabila banyak ditemukan kesalahan dan ketidaktepatan penyusunan buku ini, semata-semata karena kekurangtelitian saya dalam menyusun naskah dari pak Achmad Nurhono.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.
KATA PENGANTAR
…”niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat "(QS.Al-Mujadallah, 58 : 11).
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (QS.At-Taubah, 9:122).
“Ketika kita hidup untuk kepentingan pribadi, maka hidup ini tampak sangat pendek dan kerdil. Ia bermula saat kita mulai mengerti dan akan berakhir bersama berakhirnya usia kita yang terbatas. Tapi, apabila kita hidup untuk orang lain, yakni hidup untuk memperjuangkan sebuah fikrah, maka kehidupan ini terasa panjang dan memiliki makna yang dalam. Ia bermula bersama mulainya kehidupan manusia dan membentang beberapa masa setelah kita berpisah dengan permukaan bumi (Sayyid Quthb).
Alhamdulilah wa Syukuri-LLah, hanya berkat taufiq dan hidayah-Nya, izin dan ridho-Nya, serta ‘iradah”-Nya lah, maka tulisan berseri dalam kajian “Islam versus Liberalisme” ini dapat ditulis. Selain itu berkat pengaruh bimbingan dakwah, dan tulisan-tulisan pemikiran Islam yang inspiratip dari para cendekiawan Islam Indonesia, sahabat, ustad dan sekaligus ulama pewaris Nabi Muhammad saw. , yang merupakan murid-murid terbaik Prof Dr. Naquib Al-Attas, seperti Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Adian Husaini, Dr. Syamsuddin Arif, Dr. Nirwan Syafrin, Dr. Anis Malik Toha, dll, maka tulisan berseri inipun dapat dibuat. Tidak lupa pula, pengaruh dorongan dan motivasi dari kawan-kawan IATMI-KL, eks-Unocal dimanapun mereka berada yang tidak bisa disebutkan satu-persatu namanya, adalah sungguh pendorong dan pemberi semangat spiritual kami dalam menulis artikel berseri ini. Hanya rasa syukur mendalam dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnyalah yang patut disampaikan, dengan harapan dan iringan do’a semoga semua amal perbuatan tersebut dibalas setimpal oleh Allah SWT. dan bernilai ibadah yang diberkahi dan diridhoi oleh Allah SWT,Amin.
Apakah sesungguhnya motif menulis serial Gazful Fikri “Islam versus Liberalisme” ini ?
Proyek besar yang telah lama digagas dan dirintis oleh para tokoh pemikir dan pembaharu Muslim baik di Timur Tengah mapun di belahan bumi seperti di anak benua Indo-Pakistan, di dunia Melayu, dan di-dunia Barat adalah “Membangun Kembali Peradaban Islam”. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, kegagalan dan keberhasilan yang dicapai oleh para pendahulu, kita berkewajiban untuk mengambil pelajaran dari mereka dan menyusun strategi baru bagi kelanjutan proyek tersebut.
Proyek ini semakin penting untuk dibahas kembali dan perlu terus direalisasikan secara perlahan-lahan. Sebab “stigmatisasi” masyarakat Barat terhadap Islam dan umat Islam dengan "fundamentalisme, terrorisme, ekslusifisme" dsb. yang marak akhir-akhir ini berangkat dari asumsi bahwa Islam hanyalah denominasi agama dan kepercayaan yang menghasilkan fanatisme. Akibat stigma ini umat Islam bersikap responsif dan reaktif sehingga cenderung hanyut ke dalam bahasa-bahasa peperangan psikis (psy-war) yang tidak produktif bagi dialog
peradaban. Mereka seakan melupakan fakta bahwa Islam adalah sebuah agama yang telah terbukti mampu berkembang menjadi peradaban yang bermartabat yang kaya dengan konsep dan sistem kehidupan yang teratur selama berabad-abad lamanya.
Masyarakat dunia kini memerlukan dialog dalam bahasa peradaban, bukan hanya dalam bahasa agama. Disini identitas jatidiri masing-masing peradaban perlu diperkenalkan kembali, untuk kemudian ditemukan sisi perbedaan dan persamaan agar dapat ditentukan bentuk kerjasama dan batas-batas toleransi yang dapat dan harus dipegang bersama.
Secara internal proyek pembangunan peradaban Islam merupakan jawaban komprehensif bagi berbagai persoalan yang menggelayuti kehidupan umat Islam dewasa ini. Oleh karena itu diperlukan pembahasan yang agak radikal (dari radiksnya), yaitu dengan merujuk konsep-konsep dasarnya di atas mana peradaban Islam pernah dibangun dan akan kita bangun kembali. Tantangan yang dihadapi umat Islam dewasa ini sebenarnya bukanlah hanya dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya saja, tetapi sejatinya lebih pada tantangan pemikiran. Sebab persoalan yang ditimbulkan oleh bidang-bidang eknomi, politik, sosial dan budaya ternyata bersumber dari pemikiran. Dan dari antara tantangan pemikiran yang paling serius saat ini adalah di bidang pemikiran keagamaan. Tantangan yang telah lama kita sadari adalah tantangan internal yang berupa kejumudan, fanatisme, taklid, bid’ah, khurafat dan sebagainya. Sedangkan tantangan eksternal yang sedang kita hadapi sekarang ini adalah masuknya paham liberalisme, sekulerisme, pluralisme agama, relativisme dan lain sebagainya ke dalam wacana pemikiran keagamaan.
Tantangan eksternal umat Islam dewasa ini dirasakan semakin kompleks dan bervariasi bentuknya, namun dalam perspektip strategi “Ghazful Fikri” (Perang Pemikiran) strategi pengembangan paham liberalisme Barat dirasakan sangatlah gencar-gencarnya muncul ditahun 2000 dan 2001, khususnya ketika terjadi tragedi runtuhnya “World Trade Center” (WTC) pada 11 September 2001. Tregedi ini sejatinya merupakan “Grand Design” George W. Bush untuk menabuh genderang perlawanan terhadap radikalis Islam dengan amunisi liberalisme Barat. Setelah “amunisi” liberalisme Barat tersebut berhasil memakan korban baik fisik maupun pemikiran di negara-negara Islam, maka kemudian strategi tersebut diekspansikan ke Indonesia. Caranya sama, yakni dengan mengembangkan strategi “stigmatisasi terorisme”. Bom Bali dan banyak bom yang meledak dibanyak tempat di Indonesia adalah bukti konkritnya. Banyak bukti baik temuan pakar ahli bom yang meragukan kejadian Bom Bali. Tapi dengan cara inilah, masyarakat dunia bersama konspirasi media masa internasional Barat akan mengklaim adanya terorisme di Indonesia. Secara tidak langsung, Barat telah berhasil mengantongi ligitimasi dunia untuk melawan terorisme yang pada hakikatnya adalah melawan Islam dan umat Islam.
Dengan logika pembenaran konsep sekularisme-empirisme-rasionalisme-prakmatisme melawan “terorisme”, Barat sejatinya memiliki muatan tiga “amunisi” pada strategi Ghazful Fikri yang ampuh. Pertama, westernisasi (pembaratan), Kedua, kolonialisasi dan Ketiga, globalisasi. Ketiga hal inilah yang sekarang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh Barat. Dalam westernisasi contohnya, Barat sebagai Negara adidaya memaksakan negara-negara berkembang (development country) untuk “mengkonsumsi” nilai-nilai universalitas (universal
value) versi Barat seperti demokrasi, kapitalisme, free sex (seks bebas), gender equality (kesetaraan gender)dan lain sebagainya. Sedangkan melalui proses Globalisasi, Barat sengaja memposisikan bangsa-bangsa yang lemah untuk menerima kultur, tradisi, konsep, sistim dan nilai-nilai yang dianggap global (universal) untuk diadopsi. Dan untuk “Kolonialisasi”, kini bentuknya lebih soft (ringan), tidak lagi dengan senjata namun dengan pemikiran dan bentuk kerjasama yang intinya “menjajah”. Seks bebas, dimana agama Kristen, Islam dan agama-agama lain sangat menentangnya. Namun, Barat tidak memasukkannya menjadi nilai-nilai universal. Agak berbeda dengan nilai-nilai HAM yang sering dipaksakan di negara-negara Islam. Barat sering memaksakan ide dan gagasannya kepada dunia Islam menjadi nilai-nilai universal, tapi jarang mau memakai nilai-nilai Islam menjadi nilai universal.
Proyek pengembangan ketiga "amunisi" di atas itulah yang sedang dilakukan Barat. Dan untuk bidang pemikiran, Barat memasarkan bidang-bidang filsafat seperti rasionalisme, empirisme, dikotomi, pragmatisme, relativisme, liberalism, sekularisme, pluralisme agama dan nilai-nilai universal lainnya. Kini, di Indonesia sedang sangat gencar-gencarnya dipasarkan produk tersebut. Di Indonesia gerakan tersebut sedikit banyaknya telah mendapat pengikut. Gerakan liberalisme memang cukup marak karena disokong dana dari luar dengan jumlah yang sangat banyak. “Jadi, siapa yang tidak tergiur uang”. Banyak orang Indonesia yang dikuliahkan ke Barat dengan beragam fasilitas dan didanai untuk penerbitan buku-buku liberal dan mendistorsikan fakta di media. Malah terdapat sejumlah pemimpin ormas besar dan beberapa pejabat Negara. Peneliti dan Direktur INSISTS, Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi bersama staff ahlinya yang kebanyakan bergelar Phd. dalam bidang pemikiran Islam, mencatat lebih dari seratus orang di Indonesia yang telah menjadi liberal. Bahkan tak sedikit adalah alumni pondok pesantren.
Secara definitip, Strategi "Al-Ghazful Fikri" adalah serangan dalam pemikiran, budaya, mental, dan konsep yang dilakukan secara terus menerus dengan sistimatik, teratur serta terencana dengan baik. Hal ini dilakukan sehingga muncul perubahan kepribadian, gaya hidup dan tingkah laku pada umat Islam. Tujuan utamanya adalah untuk merusak aqidah, merusak akhlaq, menghancurkan pemikiran Islam, melarutkan kepribadian Islam, dan menjadikan Muslim keluar dari agamanya. Pelaku "Al-Ghazful Fikri" secara umum terdiri dari orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi, Musyrikin, Munafikin, Atheis, dan orang kafir. Cara-cara yang banyak dilakukan oleh mereka untuk menyerang umat Islam agar umat Islam lupa pada identitas aslinya adalah melalui propaganda, pendidikan, pengajaran, buku, media cetak, internet, website, olahraga, yayasan, lembaga-lembaga, hiburan, filem dan musik.
Strategi "Al-Ghazful Fikr" untuk merusak ajaran Islam dan umat Islam, secara umum bentuknya dapat dikelompokkan dalam 4 strategi besar (Grand Strategy), yaitu :
1. Strategi "Tasykik", yaitu strategi yang berfokus pada berbagai usaha untuk mendangkalkan aqidah Islam.
2. Strategi "Tasywih", yaitu strategi yang berfokus pada berbagai usaha untuk penodaan ajaran Islam.
3. Strategi "Tadzwib", yaitu strategi yang berfokus pada segala usaha untuk melakukan persenyawaan/asimilasi ajaran Islam yang prinsipil dengan ajaran dari luar Islam (Sekularisme, Liberalisme, Pluralisme, kapitalisme, komunisme, animisme, kebatinan, atau isme2 lainnya yang ada didunia).
4. Strategi "Tagrib", yaitu strategi yang berfokus pada segala usaha untuk menyimpangkan perilaku umat Islam menjadi berperilaku tidak Islami, yang tidak disiplin terhadap nilai-nilai Rabbani dan nilai-nilai ajaran Islam (Al-Qur'an dan As-Sunnah).
Dampak lebih jauh yang lebih parah lagi akibat keberhasilan program Ghazful Fikri ini adalah dengan munculnya fenomena kuat pada umat Islam yang cenderung tidak memiliki lagi jati dirinya sebagai pribadi Muslim, bahkan sudah semakin asing pemahamannya dengan worldview (Pandangan Hidup) Islam dan Peradaban Islam. Artinya, sekarang ini, makin banyak umat Islam yang tidak mengenali lagi peradabannya sendiri. Bahkan, sebagian pemikir dan intelektual Muslim bangga dengan peradaban dan pemikiran yang didapatkan dari Barat. Bahkan, lembaga pendidikan tinggi pun kini banyak yang menerapkan pemikiran orientalis ke dalam studi Islam. Fenomena untuk menerapkan cara berpikir posmodernisme yang mengusung doktrin liberalisme, pluralisme, relativisme, nihilisme, feminisme-gender, humanisme, dan sebagainya telah banyak diagung-agungkan. ''Padahal, peradaban Barat itu tidak jelas asal usulnya''. Artinya, tidak berasal dari satu sumber atau satu tempat kelahiran. Barat adalah peradaban yang cara berpikirnya dipengaruhi oleh filsafat Yunani, sistem hukumnya diilhami oleh Romawi, cara hidupnya didasari oleh tradisi bangsa-bangsa Eropa yang berbeda-beda, seperti Jerman, Prancis, Inggris, Celtic, dan sebagainya. Sedangkan, kepercayaannya dipengaruhi oleh agama Kristen dan Yahudi.
Kenyataan dan tantangan seperti ini, memang sungguh sangatlah memprihatinkan, memalukan bahkan membahayakan khususnya bagi usaha mengembangkan dakwah Islamiyah yang benar di Indonesia. Apalagi jika ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat kebangkitan Islam dan peradaban Islam yang cemerlang paling tidak di negeri Indonesia sendiri dan kawasan Asian. Karenanya introspeksi secara serius dan gugatan akan pertanyaan-pertanyaan kritis dan krusial patutlah diajukan kepada seluruh umat Islam Indonesia dimanapun mereka berada dimuka bumi ini. Dapatkah umat Islam Indonesia ikut berpartisipasi secara aktip-dinamis-kreatip untuk merintis dan membagun tumbuh suburnyanya peradaban Islam yang cemerlang dimasa depan dengan tradisi keilmuan Islam yang kokoh dan benar bersumberkan pada worldview(pandangan hidup/alam) Islam ber-asaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah ? Lingkungan pendukung efektip-efisien-profesional bagaimanakah yang dapat mencapai tujuan mulia tersebut, yang paling tidak mencakup kesatuan yang utuh antara komponen guru-guru yang merupakan ulama pewaris Nabi yang otoritatip dalam ilmunya, lingkungan keluargha-masyarakat-bangsa-negara mikro-makro, lokal-regional, nasional-internasional yang mendukung suburnya program kajian tradisi keilmuan Islam, kesinambungan proses belajar mengajar nilai-nilai Islam yang benar, dan murid-murid potensial calon-calon generasi pemimpin (future leader) dan penggerak utama masa depan umat Islam Indonesia ?
Karenanya sudah saatnya umat Islam Indonesia harus menelaah kembali secara serius dan bertanggung jawab dengan cara berpikir yang komprehensif tentang peradaban Islam. ''Sebab,
peradaban Islam itu adalah peradaban ilmu. Ia sangat kuat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat tinggi.
Bagaimana sesungguhnya esensi dari Peradaban Islam itu ?
Pertanyaan ini sejatinya adalah sebuah pertanyaan yang fenomenal yang harus menguggat dan menyentak kesadaran dalam dan pemikiran Islam setiap orang yang mengaku dirinya Muslim. Pertanyaan ini tidak pernah muncul di zaman Ibn Sina, Imam al-Ghazali atau Ibn Rusyd. Kenapa? Sebab, peradaban Islam saat itu begitu kokoh dan dominan. Pertanyaan ini memang harus muncul sekarang ini karena kuatnya pengaruh arus globalisasi, liberalisasi, dan westernisasi telah menghilangkan berbagai identitas, termasuk identitas harga diri kepribadian muslim bahkan juga semakin hilangnya identitas peradaban Islam.
Tidak sedikit umat Islam yang tidak lagi mengenali peradabannya sendiri. Substansi peradaban Islam ibarat pohon (syajarah) yang akarnya tertanam kuat di bumi, dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit, dan memberi rahmat bagi alam semesta (Lihat Al-Qur’an surah Ibrahim 24-25). Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologis. Karena faktor ilmu yang bersumber dari konsep-konsep seminal dalam Alquran, peradaban pun berkembang. Dari pemahaman terhadap Al-qur’an, lahirlah tradisi intelektual Islam. Dari tradisi yang membentuk komunitas itu, lahirlah konsep-konsep keilmuan dan akhirnya disiplin keilmuan Islam. Dari ilmu, lahirlah sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya Islam. Jadi, peradaban Islam sejatinya adalah peradaban ilmu.
Lantas, bagaimana caranya dan darimana memulainya untuk membangun identitas kepribadian Muslim kharismatik dan peradaban Islam yang sudah hilang tersebut ?
Caranya, tidak lain adalah dengan melacak atau menelusuri kembali konsep-konsep kunci dalam Islam (searching for Islamic key words). Artinya, kita harus mencari dan mendefinisikan ulang konsep-konsep penting dalam Islam yang relevan dan dibutuhkan masyarakat sekarang. Selain itu, konsep-konsep Islam yang telah tercampur dengan konsep-konsep Barat itu perlu dibersihkan secara epistemologis. Ini jangan diartikan sebagai anti-Barat. Sebab, ini adalah suatu proses wajar dalam setiap peradaban. Barat sendiri ketika mentransfer ilmu pengetahuan Islam di abad pertengahan juga melakukan hal yang sama.
Dalam konteks menghadapi tantangan pemikiran Islam kontemporer, seperti proses liberalisasi pemikiran Islam dewasa ini, maka tantangan pemikiran kita ada dua. Pertama, Negasi. Kedua, Afirmasi. Negasi artinya melakukan penolakan konsep-konsep asing yang bertentangan dan merusak peradaban Islam. Ini bukan hanya sekadar menolak atau membuang, tapi juga memproses secara epistemologis bagaimana cara menghilangkan konsep-konsep itu dari alam pikiran Muslim.Maka dari itu, kajian kritis Barat dalam bentuk oksidentalisme diperlukan. Tidak salah pula jika kita belajar dari Barat sendiri bagaimana mereka mengkritik konsep-konsep yang tidak dapat diterima nalar. Seperti kritikan PP Grasse dalam L'homme Accusation yang mengkritik teori evolusi Darwin atau Oswald Spengler dalam The Decline of The West.
Afirmasi adalah melakukan identifikasi konsep-konsep penting dalam Islam. Logika sederhananya, kalau Muslim menolak konsep-konsep Barat atau asing lainnya, Muslim harus dapat memberikan alternatifnya. Sebab, umat Islam sekarang sudah merasa enjoy dengan konsep-konsep dan sistem pemikiran dan peradaban Barat. Mengkritik Barat sekarang ini seperti mengkritik saudara kita sendiri. Begitulah keadaannya.
Peradaban Islam pernah berjaya. Sejak kapan era itu dimulai? Contohnya seperti apa?
Kejayaan peradaban Islam yang sebenarnya terjadi sejak Nabi berhasil mendirikan negara Madinah. Kemudian, mencapai puncak kejayaannya ketika konsep-konsep seminal dalam Alquran ditafsirkan dan dikembangkan menjadi disiplin ilmu dengan tradisi intelektual yang begitu semarak. Itu bermula dari zaman kekhalifahan Umayyah di Damaskus dan juga di Cordoba serta dilanjutkan zaman kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Contoh kejayaan itu dapat dilihat dari bermunculannya ilmuwan-ilmuwan Muslim dalam berbagai disiplin ilmu dengan karya-karyanya yang monumental.
Seiring dengan berkembangnya ilmu itu, berkembang pula kehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan agama. Masyarakat menjadi sejahtera lahir dan batin. Dalam kehidupan publik, sejarawan mencatat bahwa ketika London gelap gulita di malam hari dan di Prancis becek di waktu hujan, di Cordoba dan Baghdad jalan-jalannya mulus dan di malam hari terang benderang. Koleksi buku seorang ulama di Baghdad mencapai 400 ribu judul, sementara isi perpustakaan raja Prancis hanya 400 judul buku.
Bagaimana caranya agar umat Islam sekarang mengembalikan kejayaan Islam itu?
Kejayaan peradaban Islam dapat dikembalikan dengan menghidupkan lagi tradisi intelektual dan keilmuan Islam yang sekarang tampak meredup. Dikatakan meredup karena karya-karya Muslim belum mencapai tingkat produktivitas dan kualitas yang tinggi dan yang dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh peradaban lain. Tradisi intelektual dan keilmuan Islam yang kuat akan menghasilkan konsep-konsep yang kuat pula. Kuat landasan teorinya dan kuat metodologinya.
Cendekiawan Muslim tidak dapat melakukan hal itu, kecuali menguasai ilmu pengetahuan Islam dan juga ilmu pengetahuan asing, baik dari Barat, Cina, maupun Jepang. Namun, penguasaan ilmu pengetahuan Islam perlu didahulukan. Karena, dengan itu, Muslim dapat melakukan proses adapsi dan bukan adopsi buta terhadap konsep-konsep dari ilmu pengetahuan asing tersebut. Jika proses itu di balik, yang terjadi bukan mengembalikan kejayaan peradaban Islam, tapi justru menjadikan peradaban Islam terpuruk di bawah hegemoni pengetahuan asing seperti saat ini. Yang lahir bukan peradaban Islam, tapi peradaban asing, seperti Barat.
Karenanya, kembali lagi ingin digaris bawahi bahwa “Peradaban Islam” adalah peradaban yang dibangun oleh ilmu pengetahuan Islam yang dihasilkan dari pandangan hidup Islam. Maka dari itu, pembangunan kembali peradaban Islam harus dimulai dari pembangunan ilmu pengetahuan Islam. Orang mungkin memprioritaskan pembangunan ekonomi dari pada ilmu,
dan hal itu tidak sepenuhnya salah, sebab ekonomi akan berperan meningkatkan taraf kehidupan. Namun, sejatinya faktor materi dan ekonomi menentukan setting kehidupan manusia, sedangkan yang mengarahkan seseorang untuk memberi respon seseorang terhadap situasi yang sedang dihadapinya adalah faktor ilmu pengetahuan. Lebih penting dari ilmu dan pemikiran yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat, adalah intelektual. Ia berfungsi sebagai individu yang bertanggung jawab terhadap ide dan pemikiran tersebut. Bahkan perubahan di masyarakat ditentukan oleh ide dan pemikiran para intelektual. Ini bukan sekedar teori tapi telah merupakan fakta yang terdapat dalam sejarah kebudayaan Barat dan Islam. Di Barat ide-ide para pemikir, seperti Descartes, Karl Marx, Emmanuel Kant, Hegel, John Dewey, Adam Smith dan sebagainya adalah pemikir-pemikir yang menjadi rujukan dan merubah pemikiran masyarakat. Demikian pula dalam sejarah peradaban Islam, pemikiran para ulama seperti Imam Syafii, Hanbali, Ibn Sina, Imam al-Ghazzali,Ibn Rusyd, Ibn Khaldun, dan lain sebagainya mempengaruhi cara berfikir masyarakat dan bahkan kehidupan mereka. Jadi membangun peradaban Islam harus dimulai dengan membangun pemikiran umat Islam, meskipun tidak berarti kita berhenti membangun bidang-bidang lain. Artinya, pembangunan ilmu pengetahuan Islam hendaknya dijadikan prioritas bagi seluruh gerakan Islam.
Sebagai proses pembelajaran untuk diambil hikmah mulia yang terpendam, maka perlu disimnak kejadian sejarah pada abad ke-9 M dizaman ke-emasan Peradaban Islam, dipintu gerbang Universitas Granada tertera slogan Universitas itu, “Dunia hanya terdiri dari empat unsur : Pengetahuan Orang Bijak, keadilan penguasa, Do’a orang Saleh dan Keberanian Kesatria”. Dunia hanya akan jaya jika dipenuhi orang-orang alim, saleh, adil dan para mujahid dakwah. Warisan ini akan sangat berguna untuk mengembangkan kejayaan peradaban Islam. Keberanian yang dilandasi ilmu, kekuatan iman dan taqwa, serta keadilan merupakan modal dasar untuk memperoleh kejayaan bagi Islam dan umat Islam (“Izzul Islam wal Muslimin wal Muslimat”).
Akhir kata, dengan semangat kekuatan iman dan taqwa, kerendahan hati dan ketulusan jiwa raga yang suci bersih, niatan beribadah semata-mata untuk meraih ridho Allah SWT., bersamaan dengan kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi akan mati-hidupnya misi, visi dan eksistensi perjuangan dakwah Islamiyah dalam tantangan gempuran sistimatik gerakan liberalisasi, sekulariasi dan pluralism agama, maka serial Ghazful Fikri berjudul “Islam versus Liberalisme” inipun disusun. Harapannya adalah bahwa tulisan-tulisan berseri ini sungguh dapat menghantarkan turunnya berkah dan rahmat Allah SWT, sehingga pada gilirannya kelak dengan izin dan ridho-Nya, suatu saat dapat membantu memperkaya, memantapkan dan mencerahkan pemikiran Islam umat dan kehidupan beragama umat Islam Indonesia pada umumnya, dan lebih khusus lagi kepada kedua anak kami tercinta yaitu ananda Fathimah Zahra Achmad Lc. Msc, dan ananda Luqman Hakim Achmad serta isteri tercinta Dra.Tjut Mutia Nurhono, beserta adik-adik saudara-saudari, sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat kami lainnya, Amin 3X, Ya Rabbal Alamin.
Twin Tower I, 28th Floor, KLCC, Malaysia.
SERIAL KE-1
LUTHFI DAN RUSDHIE
Assalamu’alaikum wr wb,
Yth sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang selalu dirahmati dan diberkahi Allah SWT. Dikirimkan catatan bang Adian tempo dulu, yang terasa masih sangat relevan berkaitan dengan perkembangan yang sangat memperihatinkan akhir-akhir ini (kekerasan antar umat beragama) yang mengatasnamakan "kebebasan beragama" yang justru sejatinya menghancurkan sendi-sendi kerukuman umat beragama di Indonesia. Banyak masalah, persoalan, pesan , hikmah dan pelajaran berharga yang umat Islam harus ambil dalam perkembangan akhir-akhir ini. Ini menjadi serial pertama Islam vs Liberalisme, berjudul “Luthfi dan Rusdhie”
Semoga ada manfaat dalam mencerahkan pemahaman pemikiran Islam umat tentang "worldview Islam" yang bersumberkan tauhid, khususnya dalam pemahaman yang benar, serta bagaimana seharusnya yang benar dan beradad dalam menempatkan "kebebasan berpendapat" untuk kerukunan umat bergama di Indonesia dalam konteks perspektip pemahaman "worldview Islam".
Wassalamu' alaikum wr wb, A.Nurhono
”Luthfi dan Rusdhie”
Atas nama ”Kebebasan Beragama”, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tak ada peraturan menghakimi aliran sesat atau tidak.
"Kesalahan Lia Aminuddin persis sama dengan kesalahan Kanjeng Nabi Muhammad, meyakini suatu ajaran dan berusaha menyebarluaskannya.” (Luthfi Assyaukanie)
Pada 26 Juni 2007, Harian Media Indonesia menurunkan artikel Luthfi Assyaukani, salah satu aktivis Jaringan Islam Liberal, berjudul ”Salman Rushdie dan Citra Islam”. Melalui artikel ini, penulisnya mengecam gelombang protes kaum Muslimin atas penganugerahan gelar bangsawan Inggris untuk Salman Rushdie, pengarang novel Ayat-Ayat Setan yang sangat menyinggung perasaan kaum Muslim.
Menurut Luthfi, penulisan novel semacam Ayat-Ayat Setan adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang seharusnya tidak perlu disikapi secara emosional. ”Reaksi kaum Muslim terhadap kebebasan berekspresi tampaknya memiliki pola yang sama: mengumbar kemarahan dan kekerasan.”
Lebih jauh ia membandingkan respon kaum Muslim itu dengan sikap kaum Kristen terhadap penodaan agama. ”Apalagi jika kita membandingkan respon kaum Muslim dengan respon serupa dalam dunia Kristen atau agama-agama lain, kelihatan betul bahwa kaum Muslim tampak sangat berlebihan,” tulisnya lagi.
Luthfi mengaku tidak nyaman melihat reaksi kaum Muslim terhadap masalah kebebasan berekspresi. Dia katakan: ”Kita tidak ingin menjadi komunitas agama yang aneh sendirian di dunia ini. Agama-agama lain memiliki sikap yang jauh lebih elok dibandingkan reaksi-reaksi yang diperlihatkan kaum Muslim selama ini dalam setiap isu menyangkut kebebasan berekspresi atau kebebasan berpendapat.”
”Setiap ada kasus-kasus yang menyangkut kebebasan berekspresi yang menimpa Islam, saya selalu merasa waswas dengan reaksi yang akan muncul. Beberapa hari lalu saya benar-benar tersudut dan malu dengan pertanyaan seorang teman non-Muslim: ”Bukankah Islam agama pemaaf? Bukankah Tuhan Maha Pengasih? Kenapa setelah 20 tahun kaum Muslim masih terus saja membenci Rushdie?”
Demikian tulis Luthfi Assyaukanie.
*****
Siapakah Salman Rushdie? Nama Salman Rushdie mencuat ketika pada 26 November 1988, Viking Penguin menerbitkan novelnya berjudul The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel ini segera memicu kemarahan umat Islam yang luar biasa di seluruh dunia. Novel ini memang sungguh amat sangat biadab. Rushdie menulis tentang Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim, istri-istri Nabi (ummahatul mukminin) dan juga para sahabat Nabi dengan menggunakan kata-kata kotor yang sangat menjijikkan. Tahun 2008 lalu, saya membeli Novel ini dalam edisi bahasa Inggrisnya di sebuah toko buku di Jakarta.
Dalam novel setebal 547 halaman ini, Nabi Muhammad saw, misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai ”Mahound, most pragmatic of Prophets.” Digambarkan sebuah lokasi pelacuran bernama The Curtain, Hijab, yang dihuni pelacur-pelacur yang tidak lain adalah istri-istri Nabi Muhammad saw. Istri Nabi yang mulia, Aisyah r.a., misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai ”pelacur berusia 15 tahun.” (The fifteen-year-old whore ’Ayesha’ was the most popular with the paying public, just as her namesake was with Mahound). (hal. 381).
Banyak penulis Muslim menyatakan, tidak sanggup mengutip kata-kata kotor dan biadab yang digunakan Rushdie dalam melecehkan dan menghina Nabi Muhammad saw dan istri-istri beliau yang tidak lain adalah ummahatul mukminin. Maka, reaksi pun tidak terhindarkan. Fatwa Khomaini pada 14 Februari 1989 menyatakan: Salman Rushdie telah melecehkan Islam, Nabi Muhammad dan al-Quran. Semua pihak yang terlibat dalam publikasinya yang sadar akan isi novel tersebut, harus dihukum mati. Pada 26 Februari 1989, Rabithah Alam Islami dalam sidangnya di Mekkah, yang dipimpin oleh ulama terkemuka Arab Saudi, Abd Aziz bin Baz, mengeluarkan pernyataan, bahwa Rushdie adalah orang murtad dan harus diadili secara in absentia di satu negara Islam dengan hukum Islam.
Pertemuan Menlu Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 13-16 Maret 1989 di Riyadh juga menyebut novel Rushdie sebagai bentuk penyimpangan terhadap Kebebasan Berekspresi. Prof.
Alaeddin Kharufa, pakar syariah dari Muhammad Ibn Saud University, menulis sebuah buku khusus berjudul Hukm Islam fi Jaraim Salman Rushdie. Ia mengupas panjang lebar pandangan berbagai mazhab terhadap pelaku tindak pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw. Menurut Kharufa, jika Rushdie menolak bertobat, maka setiap Muslim wajib menangkapnya selama dia masih hidup.
Prof. Mohammad Hashim Kamali, dalam bukunya Freedom of Expression in Islam, (Selangor: Ilmiah Publishers, 1998), menggambarkan cara Rushdie menggambarkan istri-istri Rasulullah saw sebagai “simply too outrageous and far below the standards of civilised discourse.” Penghinaan Rushdie terhadap Allah dan al-Quran, tulis Hasim Kamali, “are not only blasphemous but also flippant.”
Manusia yang tindakannya begitu biadab terhadap Nabi Muhammad saw dan istri-istri beliau itulah, yang kemudian dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Inggris. Seorang yang dimata umat Islam dicap sebagai penjahat besar justru disanjung dan diberi penghargaan. Dan saat umat Islam bereaksi, membela kehormatan Nabi-nya yang mulia, umat Islam lalu dituduh reaksioner, emosional, yang dalam istilah Luthfi Assyaukani disebut: “kelihatan betul bahwa kaum Muslim tampak sangat berlebihan.”
*****
Di bulan Rabi’ulawwal 1431 Hijriah, bulan kelahiran Nabi Muhammad saw, seorang aktivis liberal membuat pernyataan yang mengherankan. Hari itu, Rabu (17/2/2010), sebagai saksi ahli pihak penggugat kasus UU Penodaan Agama, UU No. 1/PNPS/1965, Luthfi Assyaukanie membuat pernyataan:
”Setiap pemunculan agama selalu diiringi dengan ketegangan dan tuduhan yang sangat menyakitkan dan seringkali melukai rasa kemanusiaan kita. Ketika Rasulullah Muhammad SAW mengaku sebagai nabi, masyarakat Mekah tidak bisa menerimanya. Mereka menuduh nabi sebagai orang gila dan melempari beliau dengan kotoran unta. Para pengikut nabi dikejar-kejar, disiksa dan bahkan dibunuh seperti yang terjadi pada Bilal bin Rhabah sang muadzin dan keluarga Amar bin Yasar. Hal serupa juga terjadi pada Lia Aminuddin ketika dia mengaku sebagai nabi dan mengakui sebagai jibril. Orang menganggapnya telah gila dan sebagian mendesak pemerintah untuk menangkap dan memenjarakannya. Kesalahan Lia Aminuddin persis sama dengan kesalahan Kanjeng Nabi Muhammad, meyakini suatu ajaran dan berusaha menyebarluaskannya.” (Dikutip dari Risalah Sidang Mahkamah Konstitusi, www.mahkamahkonstitusi.go.id).
Di sejumlah media, saksi ahli yang juga dikenal sebagai pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) ini diberitakan mengaku, menyampaikan ungkapannya dengan sadar. Bahkan, ia mengaku sempat merevisi draf untuk MK hingga beberapa kali. Menurut dia, Islam pada awalnya adalah salah, menurut orang Quraisy. Muhammad lalu dikejar-kejar oleh kelompok mayoritas kaum Quraisy
itu. Lalu, hal yang sama terjadi sekarang pada kasus Lia Eden. Itulah pendapat Luthfi Assyaukanie, yang juga doktor bidang studi Islam, lulusan Melbourne University.
Dalam keyakinan kaum Muslim, Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir. Beliau seorang yang pintar, jujur, amanah, dan menyampaikan risalah Allah SWT kepada semua manusia. Beliau adalah uswah hasanah, suri tauladan yang baik. Beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. KaumMuslimin sangat mencintai Nabi Muhammad saw. Selama 24 jam, ratusan juga kaum Muslim di seluruh dunia tidak berhenti berdoa untuk Sang Nabi yang sangat mulia ini. Bahkan, tidak sedikit kaum Muslim rela mati demi kehormatan Sang Nabi.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menulis sebuah kitab khusus berjudul ”Ash-Sharimul Maslul ’Ala Syatimir Rasul”. (Pedang Yang Terhunus untuk Penghujat Nabi). Kitab ini merekam pendapat semua mazhab tentang kedudukan orang yang melecehkan Nabi Muhammad saw. Sahabat-sahabat Nabi saw bersedia menjadi perisai bagi Sang Nabi demi melindunginya dari serangan panah kaum kafir di medan Perang Uhud. Shalawat untuk Sang Nabi, kekasih dan utusan Allah, menjadi rukun keabsahan shalat setiap Muslim.
Logikanya, menghina presiden atau raja saja ada sanksi hukumnya. Presiden SBY sempat marah karena diserupakan dengan kerbau oleh para demonstran. Sebab, SBY bukan kerbau, dan tidak patut disamakan dengan kerbau. Meskipun ada sejumlah persamaan antara SBY dengan kerbau. SBY memiliki dua mata. Kerbau juga bermata dua. SBY mulutnya satu. Kerbau juga bermulut satu. Tapi, menyamakan SBY dengan kerbau adalah tindakan yang sangat tidak patut. Presiden SBY juga tidak terima dikatakan punya istri lagi dan sempat membawa kasus itu ke pengadilan. Jika menghina Presiden saja ada sanksi hukumnya, bagaimana dengan penghinaan kepada utusan Allah, Tuhan yang mencipta alam semesta? Utusan Presiden saja harus dihormati; apalagi utusan Allah. Jika ada yang mengaku-aku sebagai utusan Presiden, padahal dia berbohong, maka patutlah ia diberi sanksi hukum. Bagaimana dengan orang yang mengaku sebagai utusan Allah, padahal dia adalah penipu?!
Bagi orang Muslim, persoalan mendasar semacam ini sudah jelas sejak awal. Seorang disebut Muslim karena dia membaca dan meyakini syahadat: bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika orang tidak mengakui Muhammad saw sebagai Nabi, maka jelas dia bukan Muslim. Tentulah, mengimani Sang Nabi itu ada konsekuensinya. Kaum Yahudi dan Nasrani menolak mengakui kenabian Muhammad saw, setelah datang bukti-bukti yang jelas pada mereka. Sebab, mengakui kenabian Muhammad saw memiliki konsekuensi yang berat bagi mereka.
Sebagian masyarakat Madinah ketika itu ada juga yang berpura-pura beriman, tetapi mereka sangat membenci Nabi Muhammad saw. Bahkan, mereka tak henti-hentinya mencerca, menfitnah, dan berusaha mencelakai Nabi Muhammad saw. Manusia-manusia yang mengaku Islam tetapi hatinya sangat membenci Islam itulah yang disebut kaum munafik, yang ciri-cirinya banyak disebutkan dalam al-Quran. Manusia pasti masuk dalam salah satu dari tiga kategori ini: Mukmin, kafir, dan munafik. (QS al-Baqarah: 2-20). Tentu, kita berharap, masuk kategori
Mukmin, yang yakin akan kenabian Muhammad saw, mencintai beliau, menghormati beliau, dan berusaha sekuat tenaga kita menjadikan beliau sebagai suri tauladan kita sehari-hari. Dalam perspektif inilah, wajar jika ada yang terbengong-bengong ketika menyimak pidato seorang yang mengaku Islam, tetapi berani menista Nabi Muhammad saw, menyamakan derajat Nabi yang mulia dengan Lia Eden. Padahal, untuk Sang Nabi saw, setiap saat umat Islam dan para Malaikat pun membacakan shalawat untuknya. Hinaan dan cercaan itu dilakukan atas nama ”Kebebasan Beragama”.
Tahun 2007, Lia Eden mengaku sebagai Malaikat Jibril dan mengancam akan mencabut nyawa Ketua Mahkamah Agung RI, Prof. Bagir Manan. Dalam sebuah suratnya bertanggal 25 November 2007, Lia Eden, menulis: “Atas nama Tuhan Yang Maha Kuat. Aku Malaikat Jibril adalah hakim Allah di Mahkamah Agungnya... Akulah Malaikat Jibril sendiri yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan kewenangan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku.”
Tahun 2003, Lia Eden masih mengaku ”berkasih-kasihan dengan Melaikat Jibril”. Dalam bukunya, Ruhul Kudus (2003), sub judul ‘’Seks di sorga’’, diceritakan kisah pacaran dan perkawinan antara Jibril dengan Lia Eden: ‘’Lia kini telah mengubah namanya atas seizin Tuhannya, yaitu Lia Eden. Berkah atas namanya yang baru itu. Karena dialah simbol kebahagiaan surga Eden. Berkasih-kasihan dengan Malaikat Jibril secara nyata di hadapan semua orang. Semua orang akan melihat wajahnya yang merona karena rayuanku padanya. Aku membuatkannya lagu cinta dan puisi yang menawan. Surga suami istri pun dinikmatinya.’’ Manusia seperti Lia Eden inilah yang dikatakan telah melakukan kesalahan sama dengan yang dilakukan Nabi Muhammad saw. Bagaimana mungkin orang yang mengaku Islam bisa berkata seperti itu? Lia Eden adalah pembohong. Sedangkan Nabi Muhammad tidak pernah berbohong sepanjang hidupnya. Lia ditolak oleh umat Islam. Nabi Muhammad saw ditolak oleh kaum kafir. Nabi Muhammad saw adalah Nabi sejati. Beliau tidak salah. Lia Eden adalah Nabi palsu. Dia jelas-jelas salah. Bukan hanya itu, Lia Eden telah bersikap tidak beradab, karena mengaku mendapatkan wahyu dari Jibril dan bahkan akhirnya mengaku sebagai Malaikat Jibril.
Kini, atas nama ”Kebebasan Beragama”, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tidak ada lagi peraturan yang menghakimi satu aliran sesat atau tidak. Bahkan, Lia Eden disetarakan kedudukannya dengan Nabi Muhammad saw. Padahal, Nabi Muhammad saw adalah Nabi sejati. Menurut kaum pemuja paham Kebebasan, keyakinan keagamaan seseorang harus dilindungi, karena itu masuk dalam arena ”forum internum”. Yang boleh dibatasi oleh negara hanyalah ”forum externum”. Selama tidak mengganggu ketertiban umum, misalnya, maka hak untuk mengekspresikan keyakinan keagamaan seseorang harus dilindungi. Keyakinan dan hak kaum Ahmadiyah untuk mengekspresikan dan menyebarkan ajaran agamanya harus dilindungi, sebab mereka juga manusia yang punya hak yang sama dengan kaum beragama lainnya.
Di sinilah letak absurditas dan tidak masuk akalnya logika kaum pemuja paham Kebebasan ini. Mereka hendak memaksakan agar semua orang Muslim bersikap ”netral agama” dalam melihat
segala sesuatu. Ketika melihat soal agama, meskipun secara formal mengaku Muslim, golongan ini melepaskan dirinya dari ke-islaman-nya sendiri. Dia berpikir dan bersikap netral. Dia tidak mau menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Semuanya dianggap sama. Tidak ada istilah mukmin, kafir, muslim, sesat, dan sebagainya. Bagi mereka, semuanya sama. Yang penting agama. Maka, tidak aneh, jika mereka akan sampai pada kesimpulan, bahwa kedudukan Nabi Muhammad saw disamakan dengan Lia Eden, Mirza Ghulam Ahmad, Mosadeg, dan nabi-nabi palsu lainnya.
Bagi kelompok semacam ini, yang terpenting adalah ”Kebebasan”, bukan Kebenaran. Tentu saja, paham ini sangat merusak. Jika seorang kena paham semacam ini, bubarlah Islamic worldview atau pandangan-alam Islam-nya. Pandangan alam, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah ”Islamic vision on truth and reality”. Seorang Muslim pasti memiliki pandangan-alam yang berbeda dengan orang kafir. Bagi seorang Muslim, Muhammad saw adalah seorang Nabi yang ma’shum. Maka, wahyu yang disampaikan oleh Allah kepada beliau (al-Quran) adalah benar. Bagi kaum Yahudi, Muhammad saw bukanlah Nabi, tetapi pembohong, karena mengaku menerima wahyu yang ditulisnya dari sumber kitab-kitab Yahudi. Karena itulah, Dr. Abraham Geiger, seorang tokoh Yahudi Liberal, menulis buku ”What did Muhammad Borrow from Judaism”.
Kaum Nasrani pasti juga tidak mengakui Muhammad saw sebagai Nabi dan al-Quran sebagai wahyu. Sebab, jika mereka mengakui itu, sama saja dengan menyatakan, bahwa agama mereka adalah salah. Karena al-Quranlah, satu-satunya Kitab yang secara sangat terperinci menjelaskan kekeliruan paham keagamaan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya al-Quranlah satu-satunya Kitab Suci yang menegaskan posisi Nabi Isa a.s. sebagai Nabi dan Rasul Allah, bukan sebagai Tuhan, anak Tuhan, atau salah satu dari Tiga oknum dalam Trinitas.
Karena itu, dalam perspektif Islamic worldview ini, kita sering dibingungkan dengan posisi kaum Pemuja Kebebasan, dimanakah sebenarnya posisi mereka? Islam bukan; Kristen bukan, Yahudi bukan; Hindu Budha juga bukan! Lalu dimana posisi mereka? Posisi mereka adalah netral agama. Posisi tidak beragama. Artinya, meskipun mereka mengaku beragama, tetapi mereka tidak mau menggunakan ajaran agamanya sebagai dasar untuk memandang atau menilai realitas kehidupan. Agama adalah urusan privat antara dirinya dengan Tuhan. Agama adalah laksana baju. Kapan saja bisa ditukar atau diganti. Ketika masuk Istana atau ruang sidang parlemen, agama harus ditaruh di luar ruangan. Jangan dibawa-bawa. Ketika mengajar filsafat, agama jangan dibawa-bawa. Sebab, filsafat adalah berfikir bebas, sebebas-bebasnya di luar batas agama. Ketika membahas masalah kebebasan, agama juga harus disingkirkan. Paham seperti inilah yang dipuja-puja dan dibanggakan, yang katanya melahirkan manusia hebat dan bermartabat.
Dalam perspektif Islam, paham netral agama jelas keliru.
Syahdan, suatu malam, saat hujan turun dengan derasnya dan petir sambar menyambar, datang sebuah mimpi aneh. Mimpi ini benar-benar mimpi. Saya belum pernah bermimpi seperti ini. Tampak dalam mimpi saya, seorang anak kecil berlarian di pematang sawah di pelosok kampung daerah ujung Bekasi. Kulitnya dipenuhi dengan kudis dan kurap. Ingusnya hampir tak berhenti meleleh. Lidahnya sering menjulur-julur. Tampak ia kehausan dan kelaparan. Pakaiannya lusuh. “Bisa bantu saya, Mas. Saya Kemi,” katanya, saat saya lewat dihadapannya. Saya ulurkan tangan memberi uang sekedarnya. Belum sempat dia mengucapkan terimakasih, saya terbangun! Tangis anak saya memotong mimpi. Pada hari lain, mimpi itu datang lagi. ”Masih ingat saya Mas,” sapa seorang pemuda. Tentu saja saya terkejut. Saya pandangi wajah anak muda itu. Pemuda di hadapan saya ini seorang ”perlente”. Jasnya keren. Jamnya berkilau keemasan. Mukanya ”klimis”. Rambut keritingnya tersisir rapi. Wajahnya beberapa kali saya lihat di media massa. ”Saya Kemi, Mas! Yang dulu Mas kasih bantuan. Terimakasih Mas, atas bantuannya,” ujarnya memperkenalkan.
” Lho, kamu?” saya nyaris tak percaya. ”Kamu yang sekarang jadi penghujat Nabi Muhammad!?” masih dengan nada tak percaya. ”Memangnya kenapa Mas? Sekarang kan zaman kebebasan. Saya kan kerja untuk LSM Kebebasan! Ini untuk kerja saja Mas. Itung-itung nebus masa kecil yang sengsara!” katanya, seperti tanpa beban.
”Kan kamu pernah ngaji di pesantren!” saya masih keheranan. Saya tatap wajah anak muda itu dalam-dalam. Ia agak salah tingkah.
”Ya, itu kan dulu! Sekarang zaman sudah beda Mas, yang penting uang; hidup enak. Saya dulu miskin, disepelekan orang. Sekarang saya bisa berbangga dan membantu orang tua. Saya tidak miskin lagi. Kalau pulang kampung, banyak yang bisa saya bantu,” ujar Kemi lagi.
”Tapi, kan kamu jual iman, namanya. Apa kamu tidak takut pada Allah. Tidak kasihan sama orang tua kamu, yang mengharapkan agar kamu jadi anak shaleh?”
”Ah Mas ini, kayak tidak tahu saja! Orangtua saya juga tidak tahu aktivitas dan pemikiran saya yang sebenarnya.”
”Kamu keterlaluan, bertobatlah sebelum terlambat!”
”Bagaimana caranya bertobat Mas. Apa Mas mau ganti penghasilan saya yang puluhan juta rupiah sebulan? Saya sudah terlanjur Mas. Mungkin, ini sudah menjadi jalan hidup saya. Mungkin sudah takdir saya begini.”
”Masih ada kesempatan untuk bertobat! Kamu diperalat oleh hawa nafsu, oleh setan. Kamu menyangka memperjuangkan kebebasan, padahal itu kebebasan ala iblis! Itu bukan kebebasan dalam ajaran Islam. Masak orang yang melecehkan Islam dan mengaku Nabi kamu belain. Kasihan kamu dan orang tua kamu. Kamu disekolahkan agama jauh-jauh ke luar negeri, tetapi
hasilnya malah kamu jadi begini. Kamu jadi perusak agama. Sadar nggak sih kamu dengan apa yang kamu lakukan!”
”Terus terang Mas, kadangkala saya juga sempat terlintas pikiran seperti itu. Ingin juga ke pesantren kembali, berjuang bersama dengan para kyai saya dulu. Tetapi, pikiran seperti itu segera saya tepis, karena tidak realistis. Saya harus berperan seperti ini! Ini tuntutan Mas!” ”Tuntutan dari siapa?” saya mendesak Kemi untuk mengaku.
”Tidak bisa saya sebutkan, Mas! Pokoknya saya harus menyampaikan, bahwa Islam itu sudah usang. Islam harus dikecilkan. Islam tidak boleh tampil. Apalagi sampai diterapkan di tengah masyarakat dan tataran kenegaraan. Ini sangat berbahaya. Saya juga harus mengatakan bahwa Liberalisme dan Sekularisme itulah yang cocok bagi umat Islam dan bagi bangsa Indonesia, agar negara ini menjadi negara yang maju dan hebat seperti Amerika,” Kemi mulai terbuka.
”Sepertinya, kamu tidak yakin dengan pikiranmu sendiri,” saya memancing agar Kemi mau mengungkap lebih jauh lagi.
”Semula saya memang tidak yakin. Semula saya menjadi begini hanya karena pergaulan saja. Tapi, lama-lama saya merasakan sulit sekali keluar dari pemahaman seperti ini. Apalagi kebutuhan saya sudah dicukupi semua. Doakan saja Mas, siapa tahu, suatu ketika saya bisa berubah. Tapi, entahlah, apa bisa atau tidak,” ujarnya lirih, sambil menghela nafas.
”Tapi, kenapa kamu sampai berani menghina Nabi Muhammad?” ”Begini Mas cerita sebenarnya...”
Belum sempat Kemi meneruskan kata-katanya, seorang wanita bule tiba-tiba muncul dan membentaknya: ”Kemi!” Aneh, Kemi langsung diam. Tampak dia hanya menunduk. Termangu, sambil menggosok-gosok tangan kanannya ke celana. Lalu, dia berujar pelan, sambil sesekali menengok ke arah saya:
“Sorry, Mam! Saya baru saja menyatakan pada Mas ini, bahwa sebenarnya Nabi Muhammad itu pelanggar HAM. Dia sebenarnya hanya ngaku-ngaku saja menjadi Nabi. Sama seperti Mirza Ghulam Ahmad dan Lia Eden. Kalau Muhammad boleh menyiarkan agamanya, mengapa Ghulam Ahmad dan Lia Eden tidak boleh? Umat Islam bisanya hanya marah saja. Umat Islam tidak menghargai Kebebasan Beragama. Umat Islam bisanya mengumbar emosi. Tidak santun. Saya kadang kala malu jadi orang Islam. Tidak seperti orang-orang Kristen dan Yahudi dan agama-agama lain, yang lebih ramah dan sabar dalam menghadapi kasus penodaan agama. Ya kan, Mas!? Saya kan tadi ngomong seperti itu!”
Saya bengong dan nyaris tak percaya dengan apa yang saya lihat. Kemi, pemuda kampung yang dulu kudisan, miskin, sekarang jadi pemuda ”keren”, pintar, disanjung sampai manca negara sebagai pejuang Kebebasan Beragama. Bahkan, ada yang menjadikannya sebagai idola. Saya
mencoba merenungkan, sedalam-dalamnya. Benarkah hanya karena masalah uang, dia jadi begini? Atau, ada masalah lain? Ah, peduli setan soal motif tindakan Kemi. Juga, apakah yang disampaikan Kemi itu bisa dipercaya atau tidak, itu tidaklah terlalu penting.
Saya pun mencoba merenung-renung, siapa wanita bule yang dipanggil ”Mam” dan begitu ditakuti Kemi. Wanita setengah baya itu matanya tajam mengawasi gerak-gerik dan ucapan Kemi. Pakaiannya menampakkan dia seorang terpelajar. Wajahnya lumayan cantik, untuk ukuran rata-rata orang bule.
Tak tahan dengan segala keanehan dan kejengkelan di hadapan saya, tiba-tiba saya berteriak sekeras-kerasnya: ”Kemiiii...., kamu pen...!”
”Mas, mas...bangun....bangun....! Saya tersadar. Bangun. Lama saya duduk termangu; merenungkan mimpi ini. Benarkah ini hanya mimpi? Alhamdulillah, ini benar-benar mimpi. Segera saya baca doa bangun tidur:
(Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit Alhamdulillahilladzi ahyanaa ba’da maa amatanaa wa-ilaihin nusyuur).
SERIAL KE-2
KEBEBASAN: MUSLIM ATAU LIBERAL
Assalamu'alaikum wr wb,
Yth. Sahabat-sahabat Muslimin dan Muslimat yang Insya Allah selalu dirahmati dan diberkahi Allah SWT. dimanapun itu berada dimuka bumi ini
Atas izin Allah SWT, Alhamdulilah, dapat kembali lagi dikirimkan tulisan serial ke 2,"Kebebasan : Muslim atau Liberal", dari paket kajian berseri "Islam versus Liberalisme".
Semoga bermanfaat dalam ikut membangun tumbuhnya worldview pemikiran Islam yang kokoh bersumberkan Al-Quran dan As-Sunnah, dalam menyongsong tumbuh suburnya bangunan peradaban Islam yang agung di-Indonesia dimasa mendatang,
Amin 3X, Ya Rabbal Alamin. Wassalamu' alaikum wr wb, A.Nurhono
Kebebasan: Muslim atau Liberal
“Amerika Serikat adalah contoh negara sekular yang baik dan mempunyai kedudukan yang khusus di dunia dengan menawarkan kesempatan dan harapan bagi umat manusia untuk mengembangkan agama-agama,”
Begitulah pernyataan seorang pegiat paham kebebasan beragama di Indonesia dalam pengantar buku berjudul Membela Kebebasan Beragama: Percakapan tentang Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme, (Jakarta: LSAF dan Paramadina, 2010). Lebih jauh, aktivis yang juga pendiri Nurcholish Madjid Society ini, menyebutkan: ”Jadi, contoh di Amerika Serikat sekularisme menghasilkan suatu perkembangan agama yang pesat sekali.”
Buku yang mempromosikan kebebasan beragama di Indonesia ini merekam pembicaraan puluhan tokoh tentang paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Beberapa diantara mereka – seperti Abdurrahman Wahid, M. Dawam Rahardjo, Musdah Mulia – tercatat sebagai penggugat UU No. 1/PNPS/1965 ke Mahkamah Konstitusi. Sejumlah pemikir di sini juga secara terbuka mendukung paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme untuk dikembangkan di Indonesia.
Bagi mereka, ketiga paham itu wajib dikembangkan di Indonesia dan menjadi prasyarat mutlak tegaknya demokrasi di Indonesia. “Demokrasi tidak akan mampu berdiri tegak tanpa disangga dengan sekularisme, termasuk pluralisme dan liberalisme. Bahkan khusus sekularisme – yaitu pemisahan secara relatif agama dan negara – adalah salah satu faktor terpenting dalam membangun demokrasi dan civil society yang kuat,” tulis si aktivis liberal tersebut. Katanya lagi, “Liberalismelah yang dapat menjaga dan mempertahankan kesehatan dan keseimbangan
agama, karena berpikir liberal, rasional dan kritis merupakan sesuatu yang tidak dapat dinafikan bagi cita-cita dan kemajuan.”
Menurut dia, kebebasan beragama itu hanya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik jika ide sekularisme, liberalisme, dan pluralisme itu berkembang dengan baik juga di Indonesia. Kalau sekularismenya itu berjalan dengan buruk, misalnya negara terlalu ikut campur dalam urusan agama dan ikut terlibat dalam menilai suatu agama itu sesat atau menyimpang, dan atau melakukan suatu kasus diskriminasi agama, pada saat itulah sebenarnya negara tidak melindungi kebebasan beragama warga negaranya. “Karena itu negara harusnya netral agama,” seru aktivis liberal, penulis Ensiklopedi Nurcholish Madjid ini.
Dalam pandangan kaum penganut “sipilis” (sekularisme, pluralism dan liberalism, red), negara netral agama adalah negara yang tidak memihak atau melebihkan satu agama atas agama lain. Negara juga tidak boleh memihak satu aliran agama tertentu. Dalam kamus negara sekular, tidak dikenal istilah mukmin, kafir, sesat, halal atau haram, mayoritas atau minoritas. Semua warga negara dipandang sama, apapun paham dan aliran agamanya.
Karena ketakjuban dan keimanan yang sangat kuat terhadap trilogi sekularisme, pluralisme, liberalisme – yang kini populer di kalangan kaum Muslim dengan istilah “sipilis” -- maka sang aktivis liberal ini lalu menyuarakan kebenciannya terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pada 2005 menfatwakan paham “sipilis” sebagai “barang haram”. Kata sang aktivis liberal: “Fatwa MUI ini tampak eksklusif, tidak pluralis, bahkan cenderung diskriminatif.”
Menurutnya, salah satu yang memicu masalah kebebasan beragama di Indonesia yang kuat belakangan ini adalah adanya fatwa MUI tentang pengharaman sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. “Sampai hari ini ide sekularisme, liberalisme dan pluralisme telah menjadi suatu ide yang “menakutkan” bagi sebagian kalangan masyarakat Indonesia – terutama pasca keluarnya fatwa MUI,” kata pegiat paham “sipilis” ini.
*****
Alkisah, pada 25 November 2007, Lia Eden, pendiri agama Salamullah, mengirimkan surat kepada Ketua Mahkamah Agung Prof. Bagir Manan. Surat itu berkop: ”GOD’S KINGDOM: TAHTA SUCI KERAJAAN TUHAN, EDEN”. Lia murka kepada Mahkamah Agung RI yang menetapkan pengukuhan penahanan terhadap Muhammad Abdul Rahman. Dengan menggunakan nama “Jibril Ruhul Kudus” Lia membubuhkan tanda tangannya: “LE2”. Ia menulis dalam surat yang juga ditembuskan ke sejumlah Ormas Islam: “Atas nama Tuhan Yang Maha Kuat. Aku Malaikat Jibril adalah hakim Allah di Mahkamah Agungnya... Akulah Malaikat Jibril sendiri yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan kewenangan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku.”
Mungkin, hanya di Indonesia saja “Malaikat Jibril” punya tanda tangan dan berprofesi mencabut nyawa manusia. Dalam suratnya tahun 2007 tersebut, Lia sudah secara tegas menyatakan sebagai “Malaikat Jibril”. Tahun 2003, ia masih mengaku ”berkasih-kasihan dengan Melaikat Jibril”. Dalam bukunya, Ruhul Kudus (2003), sub judul ‘’Seks di sorga’’, diceritakan kisah pacaran dan perkawinan antara Jibril dengan Lia Eden: ‘’Lia kini telah mengubah namanya atas seizin Tuhannya, yaitu Lia Eden. Berkah atas namanya yang baru itu. Karena
dialah simbol kebahagiaan surga Eden. Berkasih-kasihan dengan Malaikat Jibril secara nyata di hadapan semua orang. Semua orang akan melihat wajahnya yang merona karena rayuanku padanya. Aku membuatkannya lagu cinta dan puisi yang menawan. Surga suami istri pun dinikmatinya.’’
Orang Muslim yang masih normal – tidak mengidap paham ”sipilis” -- tentu akan menyatakan bahwa paham seperti itu sesat dan tidak baik untuk dikembangkan di tengah masyarakat. Paham ini adalah satu bentuk kemunkaran. Kata Nabi Muhammad saw: ”Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemunkaran, maka ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubah dengan lisan. Jika tidak mampu, dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman.”
Dalam pandangan Islam, kesesatan yang disebarluaskan adalah satu bentuk kemunkaran. Maka, ulama wajib bertindak tegas. Ketika MUI ditanya, apakah aliran seperti Lia Eden ini sesat, maka MUI dengan tegas menyatakan, bahwa ajaran Salamullah yang dibikin Lia Eden adalah ajaran sesat. Tapi, gara-gara menjalankan tugas kenabian, mengeluarkan fatwa sesat terhadap kelompok Lia Eden, Ahmadiyah, dan sejenisnya, MUI dihujani cacian. Ada yang bilang, MUI tolol. Sebuah jurnal keagamaan yang terbit di Semarang menurunkan laporan utama: ”Majelis Ulama Indonesia Bukan Wakil Tuhan.” Ada praktisi hukum angkat bicara di sini, ”MUI bisa dijerat KUHP Provokator.” Sejumlah kelompok juga datang ke Komnas HAM menuntut pembubaran MUI.
Bagi kaum liberal, tidak ada kamus “sesat” atau “benar”, yang penting kebebasan! Padahal, setiap hari seorang Muslim diwajibkan berdoa agar ditunjukkan jalan yang lurus dan dijauhkan dari jalan orang yang sesat dan dimurkai Allah. Jadi, memang ada jalan yang benar dan ada jalan yang sesat. Tidak mungkin semuanya benar atau semuanya sesat. Juga, tidak mungkin, semuanya pemikiran dan tindakan dibolehkan.
Tahun 2007, seorang tokoh Ahmadiyah di Indonesia menerbitkan buku dengan judul ”Syarif Ahmad Saitama Lubis, Dari Ahmadiyah untuk Bangsa” (2007). Dijelaskannya kepercayaan kaum Ahmadi, yaitu: ”Imam Mahdi dan Isa yang Dijanjikan adalah seorang nabi yang merupakan seorang nabi pengikut atau nabi ikutan dengan ketaatannya kepada YM. Rasulullah Saw. yang akan datang dan akan merubah masa kegelapan ini menjadi masa yang terang benderang.” Dan apabila Imam Mahdi itu sudah datang, maka diperintahkanlah umat Islam untuk menjumpainya, walaupun harus merangkak di atas gunung salju.” (hal. 69).
Pada tahun 1989, Yayasan Wisma Damai – sebuah penerbit buku Ahmadiyah – menerjemahkan buku berjudul Da’watul Amir: Surat Kepada Kebenaran, karya Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, khalifah Khalifah Masih II/Imam Jemaat Ahmadiyah (1914-1965). Buku ini aslinya dalam bahasa Urdu. Tahun 1961, terbit edisi Inggrisnya dengan judul ”Invitation to Ahmadiyyat”.
Buku ini menegaskan: ”Kami dengan bersungguh-sungguh mengatakan bahwa orang tidak dapat menjumpai Allah Ta’ala di luar Ahmadiyah.” (hal. 377). Umat Islam dipaksa untuk beriman bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi dan Masih al-Mau’ud. Lalu, umat Islam diberi ultimatum: ”Jadi, sesudah Masih Mau’ud turun, orang yang tidak beriman kepada beliau akan
berada di luar pengayoman Allah Taala. Barangsiapa yang menjadi penghalang di jalan Masih Mau’ud a.s, ia sebenarnya musuh Islam dan ia tidak menginginkan adanya Islam.” (hal. 374). Sementara itu, bagi umat Islam, posisi kenabian Muhammad saw sebagai Nabi terakhir adalah ajaran final. Sepeninggal beliau saw, sudah tidak ada lagi Nabi, meskipun banyak sekali yang mengaku sebagai nabi. Dalam kaputusan tahun 1937, Majelis Tarjih Muhammadiyah mengutip hadits Rasulullah saw, “Di antara umatku akan ada pendusta-pendusta, semua mengaku dirinya nabi, padahal aku ini penutup sekalian nabi.” (HR Ibn Mardawaihi, dari Tsauban).
Tentu, bagi penganut paham “sipilis” tidak ada bedanya antara mukmin dan kafir. Tidak ada beda antara tauhid dan syirik. Bagi mereka, agama bukan hal penting. Yang penting adalah kebebasan! Negara diminta bersikap netral, tidak memihak antara iman dan kufur. Umat Islam juga diminta menghormati paham-paham yang menyimpang dari ajaran Islam. Semua dianggap sama, sederajat. Yang penting tidak mengganggu orang lain secara fisik. Bagi mereka, iman tidak penting, sebab agama apa pun dianggap sama saja; sebagai jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan – siapa pun dan apa pun Tuhannya.
*****
“The idea of God negates our freedom,” pekik seorang filosof terkenal Jean Paul Sartre. Dengan pengalaman sejarahnya yang kelam saat berinteraksi dengan agama (Kristen), peradaban Barat kemudian memutuskan untuk menolak campur tangan agama dalam kehidupan. Agama diletakkan sebagai soal privat semata. Meskipun, sebenarnya, prinsip ini pun juga tidak mutlak. Di Inggris, Raja Inggris tetap menjabat sebagai Kepala Gereja Anglikan. Di Swiss, umat Islam ditolak untuk membangun menara masjid. Wacana pelarangan cadar di sejumlah negara Eropa juga mencuat. Padahal, kata mereka, ini urusan privat, dan tidak boleh dicampuri negara.
Paham “Kebebasan” (liberty/freedom) secara resmi digulirkan oleh kelompok Free Mason yang mulai berdiri di Inggris tahun 1717. Kelompok ini kemudian berkembang pesat di AS mulai tahun 1733 dan berhasil menggulirkan revolusi tahun 1776. Patung liberty menjadi simbol kebebasan. Prinsip freedom dijunjung tinggi. Tahun 1789, gerakan kebebasan berhasil menggerakkan Revolusi Perancis juga dengan mengusung jargon “liberty, egality, fraternity”. Pada awal abad ke-20, gerakan kebebasan ini menyerbu Turki Utsmani.
Karena trauma terhadap dominasi agama dalam kehidupan, orang-orang Barat, meskipun beragama Kristen, enggan menjadikan hukum-hukum agama sebagai pedoman hidup mereka. Para pengagum dan penjiplak konsep kebebasan ala Barat ini, kemudian ingin menerapkan begitu saja konsep itu ke dalam kehidupan kaum Muslim. Padahal, konsep kebebasan antara Barat dan Islam sangatlah berbeda. Islam memiliki konsep ”ikhtiyar” yakni, memilih yang baik. Umat Islam tidak bebas memilih yang jahat. Sebab, tujuan hidup seorang Muslim adalah menjadi orang yang taqwa kepada Allah. (lihat wawancara dengan Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud).
Sedangkan Barat tidak punya batasan yang pasti untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Semua diserahkan kepada spekulasi akal dan dinamika sosial. Perbedaan yang mendasar ini akan terus menyebabkan terjadinya ”clash of worldview” (benturan pandangan alam) dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dua konsep “kebebasan” yang kontradiktif ini tidak bisa dipertemukan. Sebab, tempat berpijaknya sudah berbeda. Maka seorang harus menentukan, ia memilih konsep yang mana. Ia memilih Islam atau liberal.
Kaum Muslim yang masih memegang teguh aqidahnya, pasti akan marah membaca novel The Stanic Verses-nya Salman Rushdie. Novel ini sungguh biadab; menggambarkan sebuah komplek pelacuran di zaman jahiliyah yang dihuni para pelacur yang diberi nama istri-istri Nabi Muhammad saw. Bagi Islam, ini penghinaan. Bagi kaum liberal, itu kebebasan berekspresi. Bagi Islam, pemretelan ayat-ayat al-Quran dalam Tadzkirah-nya kaum Ahmadiyah, adalah penghinaan, tapi bagi kaum liberal, itu kebebasan beragama. Berbagai ucapan Mirza Ghulam Ahmad juga bisa dikategorikan sebagai penghinaan dan penodaan terhadap Islam. Sebaliknya, bagi kaum liberal, Ahmadiyah adalah bagian dari ”kebebasan beragama dan berkeyakinan.” Bagi Islam, beraksi porno dalam dunia seni adalah tercela dan dosa. Bagi kaum liberal, itu bagian dari seni dan kebebasan berekspresi, yang harus bebas dari campur tangan agama. Jadi, pilihlah: Menjadi Muslim atau Liberal!
SERIAL KE-3
TIGA MAKNA KEBEBASAN DALAM ISLAM
Assalamu’ alaikum wr wb,
Alhamdulilah sahabat-sahabat Muslimin dan muslimat, mulai menyadari atau bahkan ada yang mulai bertanya-tanya akan bahaya gerakan Liberalisme, Plularisme dan Sekularisme di Indonesia.
Salah satu gerakan yang paling sistimatis di Indonesia membendung bahaya gerakan sistimatis dan paling ilmiah di Indonesia ,paling tidak adalah apa yang sudah dilakukan oleh murid-murid Prof.Dr.Al-Attas dengan mendirikan INSISTS, yang di Jakarta mereka selalu mengadakan diskusi sabtuan setiap minggunya.
Bagi yang baru sadar atau sudah merasakan bahaya gerakan ini, bahkan perlulah usaha sistimatis untuk membendung gerakan ini, maka saran yang sangat kuat kami, pertama adalah kumpulkan amunisi konsep-konsep Islam yang tangguh dan sistimatis,ilmiah dan sangat kokoh, maka cobalah download atau copy dan bahkan buatkan file-file khusus, masuklah ke website dibawah ini , jangan sampai tidak meng copy bagian makalah-makalah tokoh INSISTS ya, Insya Allah akan sangat bermanfaat dan tercerahkan :
http://www.insistnet.com
Dari sana, mulailah kmdn menyusun langkah dakwah yang sistimatis, dimulai dari diri kita, keluarga, kantor dan kawan-kawan dan seterusnya, begitu terus berkembang semakin luas dan semakin luas. Yang harus menjadi catatan serius adalah bangunlah jaringan dakwah yang menumbuhkan kecintaan yang dalam terhadap bangunan perdaban Islam berdasarkan Islmaisasi ilmu bersumberkan worldview Islam berdasarkan Tauhid yang merujuk pada Al-Quran dan As-Sunnah.
Bagi yang rajin mengumpulkan tulisan-tulisan kami sejak 3-4 tahun terkahir, bisa diforwardkan pada kawan-kawan yang baru saja tercerahkan. Sebagai catatan ringan melengkapi hal ini, bacalah tulisan serial ke-3 : Islam Versus Liberalisme : berjudul “ Tiga Makna Kebebasan dalam Islam :” dan Bagaimana dakwah dapat menbangun “Knowledge Society” : Selamat membaca semoga semakin mantap dan semakin tercerahkan utk ikut berjuangan membendung gerakan dakwah Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme di Indonesia.
Salam perjuangan dakwah Islamiah dari KL, Wassalamu’ alaikum wr wb,
Tiga Makna Kebebasan dalam Islam
Oleh: Dr. Syamsuddin Arif
(Peneliti INSISTS/Dosen Universitas Islam Internasional Malaysia)
Akhir-akhir ini kebebasan menjadi lafaz sakti yang senantiasa kita dengar, sekabur apapun maknanya. Istilah kebebasan dan kemerdekaan umumnya dipahami sebagai padanan kata freedom dan liberty. Artinya keadaan dimana seseorang bebas dari dan untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Yang disebut pertama adalah kebebasan negatif, dimana segala bentuk pengaturan dan pembatasan berupa suruhan, larangan ataupun ajaran, dianggap berlawanan dengan kebebasan; manakala yang kedua (‘bebas untuk’) dinamakan kebebasan positif, dimana seseorang boleh menentukan sendiri apa yang ia kerjakan. Demikian menurut Isaiah Berlin dalam Two Concepts of Liberty (1958).
Bagi seorang Muslim, kebebasan mengandung tiga makna sekaligus. Pertama, kebebasan identik dengan ‘fitrah’ yaitu tabiat dan kodrat asal manusia sebelum diubah, dicemari, dan dirusak oleh sistem kehidupan disekelilingnya. Seperti kata Nabi saw: ‘kullu mawludin yuladu‘ala l-fitrah’. Setiap orang terlahir sebagai mahluk dan hamba Allah yang suci bersih dari noda kufur, syirik dan sebagainya. Namun orang-orang disekelilingnya kemudian mengubah statusnya tersebut menjadi ingkar dan angkuh kepada Allah.
Maka orang yang bebas ialah orang yang hidup selaras dengan fitrahnya, karena pada dasarnya ruh setiap manusia telah bersaksi bahwa Allah itu Tuhannya. Sebaliknya, orang yang menyalahi fitrah dirinya sebagai abdi Allah sesungguhnya tidak bebas, karena ia hidup dalam penjara nafsu dan belenggu syaitan.
Ahli tafsir abad keempat Hijriah, ar-Raghib al-Ishfahani, dalam kitabnya menerangkan dua arti ‘bebas’ (hurr): Pertama, bebas dari ikatan hukum; kedua, bebas dari sifat-sifat buruk seperti rakus harta sehingga diperbudak olehnya.
Pengertian kedua inilah yang disinyalir Nabi saw dalam sebuah hadis sahih:
‘Celakalah si hamba uang’ (ta‘isa ‘abdu d-dinar’) (Lihat: Mufradat Alfazh al-Qur’an, hlm. 224). Makna kedua dari kebebasan adalah daya kemampuan (istitha‘ah) dan kehendak (masyi’ah) atau keinginan (iradah) yang Allah berikan kepada kita untuk memilih jalan hidup masing-masing. Apakah jalan yang lurus (as-shirath al-mustaqim) ataukah jalan yang lekuk.
Apakah jalan yang terjal mendaki ataukah jalan yang mulus menurun. Apakah jalan para nabi dan orang-orang sholeh, ataukah jalan syaitan dan orang-orang sesat. ‘Siapa yang mau beriman, dipersilakan. Siapa yang mau ingkar, pun dipersilakan’ (fa-man sya’a fal-yu’min, waman sya’a fal-yakfur), firman Allah dalam al-Qur ’an (18:29).
Kebebasan disini melambangkan kehendak, kemauan dan keinginan diri sendiri. Bebasnya manusia berarti terpulang kepadanya mau senang di dunia ataukah di akhirat (lihat al-Qur ’an 17:18-19 dan 42:20). Terserah padanya apakah mau tunduk atau durhaka kepada Allah. Apakah mau menghamba kepada sang Khaliq atau mengabdi kepada makhluk. Sudah barang tentu, kebebasan ini bukan tanpa