PENGARUH WARNA OVITRAP TERHADAP PELETAKAN TELUR NYAMUK DI LABORATORIUM LAPANGAN TERPADU
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG (Skripsi)
Oleh
Propalia Utari R.SA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGARUH WARNA OVITRAP TERHADAP PELETAKAN TELUR NYAMUK DI LABORATORIUM LAPANGAN TERPADU
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Oleh
Propalia Utari R.SA
Ovitrap merupakan sebuah perangkap telur nyamuk yang terdiri dari wadah berisi air dengan kertas saring untuk tempat nyamuk meletakkan telur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh 5 macam warna ovitrap nyamuk di tiga lokasi yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret - April 2016 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan 5 warna wadah yaitu hitam, biru, hijau, merah dan kuning. Parameter yang diamati yaitu jenis dan jumlah telur nyamuk di dalam ovitrap dihitung setiap hari selama sepuluh hari. Data dianalisis dengan uji Anara unnivariate dan apabila nilai rata-rata menunjukkan berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut dengan BNT pada taraf signifikasi α = 5% kemudian dihitung nilai Indeks Ovitrap (IO) dari masing-masing lokasi. Hasil identifikasi telur pada ovitrap ditemukan telur nyamuk dari genus Aedes dan tidak ditemukannya telur nyamuk dari genus lain. Jumlah telur nyamuk berbeda nyata (α = 5%) pada setiap lokasi dan interaksi antar perlakuan yang digunakan (p ≤ 0,24). Ovitrap warna hitam lebih banyak 4,44 kali memerangkap telur dibandingkan ovitrap warna biru dan 30 kali dibandingkan warna kuning. Nilai IO dilokasi kebun karet paling tinggi (21,6%) dibandingkan lokasi bambu (0,16%) dan lokasi kebun singkong (0,56%).
PENGARUH WARNA OVITRAP TERHADAP PELETAKAN TELUR NYAMUK DI LABORATORIUM LAPANGAN TERPADU
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Oleh
Propalia Utari R.SA
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA SAINS
Pada Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 31 Juli
1994 dari pasangan Bapak Bandarsyah Hadie dan Ibu Lin
Risnawati yang merupakan anak ketiga dari dari tiga bersaudara.
Penulis mengawali pendidikan dari Taman kanak-kanak (TK)
AL - Azhar 2 pada tahun 1999, dilanjutkan dengan pendidikan
Sekolah Dasar (SD) AL - Azhar 1 Bandar Lampung pada tahun
2000. Setelah menamatkan pendidikan sekolah dasar, penulis melanjutkan pendidikan
Sekolah Menengah Pertama di SMP AL–Kautsar pada tahun 2006. Sekolah Menengah
Atas SMA Negeri 12 Bandar Lampung pada tahun 2009. Penulis terdaftar menjadi
mahasiswi jurusan Biologi FMIPA Unila di tahun 2012 melalui jalur Seleksi Nasional
Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tertulis.
Selama menjadi mahasiswa penulis pernah menjadi asisten praktikum Biologi Umum
Pertanian dan Biologi, Struktur Perkembangan Hewan, Biosistematika Tumbuhan,
Fisiologi Tumbuhan, dan Biosistematika Hewan. Selain itu penulis juga aktif di
Organisasi Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) FMIPA Unila sebagai kepala
bidang kominfo.
desa Makarti, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Pada awal tahun
2016, penulis melakukan Kerja Praktek di Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner
Regional III (BPPV Regional III)dengan judul “ Identifikasi Jenis Parasit Usus pada
Ayam (Gallus sp.) di Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner Regional III Lampung ”.
Ilmu yang didapatkan selama Kerja Praktik dilanjutkan dalam suatu penelitian dan
menyelesaikan tugas akhirnya dalam bentuk skripsi pada tanggal 14 Desember 2016
dengan judul “Pengaruh Warna Ovitrap terhadap Peletakan Telur Nyamuk di
PERSEMBAHAN
Puji syukur kepada Allah SWT, Tiada tuhan selain Allah yang selalu memberikan nikmatNya di setiap langkah dalam hidupku
hingga akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini.
Ayah dan Mama yang menjadi penyemangat hidupku, selalu memanjatkan do’a disetiap sujudnya demi keberhasilan putrinya
Almarhum abang, abang dan seluruh keluarga besarku yang selalu memberi semangat dan dukungan disetiap langkahku
untuk menyelesaikan studi
Para guru dan dosen yang telah memberikan ilmu kepadaku dengan tulus ikhlas
Sahabat-sahabatku yang selalu mendukung dan menemani disaat suka dan duka
MOTTO
Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah pelindung
yang terbaik
Q.S. Ali Imran [3] : 173
“Jika anda jatuh ribuan kali, berdirilah jutaan kali
karena anda tidak tahu seberapa dekat anda dengan
kesuksesan.”
“Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan
orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka
dengan keberhasilan saat mereka menyerah.”
SANWACANA
Dengan mengucap Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul“Pengaruh Warna Ovitrap Terhadap Peletakan Telur Nyamuk di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung”.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak,
baik secara moril maupun materil. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Ibu Nismah Nukmal, Ph.D., selaku pembimbing I yang dengan ikhlas dan selalu
sabar memberikan bimbingan, arahan, dukungan dalam melakukan penelitian
hingga menyelesaikan skripsi ini.
2. Ibu Dr. Herawati Soekardi, M.S., selaku pembimbing II yang telah memberikan
bimbingan, arahan, nasehat selama penyelesaian skripsi ini.
3. Ibu Dr. Emantis Rosa, M.Biomed., selaku pembahas yang telah memberikan
masukan, kritik, nasehat dan koreksi pada penulis dalam penyelesaian skripsi
4. Kedua orang tuaku, Bapak Bandarsyah Hadie SR, dan Ibu Lin Risnawati yang
tak pernah lelah memberikan doa, kasih sayang, pengorbanan, semangat,
bimbingan, dan kesabaran dalam hidup penulis dan dalam penyelesaian skripsi
ini.
5. Kedua Kakakku, Rully Prima, S.Kom. (Alm) dan Akhmad Arief Rizky dan
kakak iparku, Evi Dwi, S.E. yang telah memberikan motivasi, dukungan dan
semangatnya dari segala bentuk bimbingan dalam penyelesaian skripsi ini
6. Ibu Rochmah Agustrina, Ph.D., selaku Pembimbing Akademik yang selalu
memberikan dukungan, arahan, nasehat, dan berbagi ilmu pada penulis dalam
menempuh pendidikan di Jurusan Biologi.
7. Ibu Dra. Nuning Nurcahyani, M.Sc., selaku Ketua Jurusan Biologi yang telah
memberikan arahan, bimbingan, dan dukungan selama penulis menempuh
pendidikan di Jurusan Biologi.
8. Bapak Prof. Warsito, S.Si., DEA., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.
9. Bapak Ibu Dosen Jurusan Biologi FMIPA Unila terimakasih atas bimbingan dan
ilmu yang telah diberikan selama penulis melaksanakan studi di Jurusan Biologi.
10. Karyawan dan staff serta laboran di Jurusan Biologi yang telah membantu
11. Karyawan dan staff Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian
Universitas Lampung yang telah bersedia berbagi tempat dan pengetahuan pada
penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
12. Sahabat seperjuangan dalam satu bimbingan, Putri Rahayu Ningsih, yang selalu
bersedia berbagi ilmu, motivasi, semangat, dan dukungan dalam penyelesaian
skripsi ini.
.
13. Sahabat-sahabat tersayang, Wina, Dela, Bebi, Pepty, Riza, Sabrina, Sevin dan
Siti terimakasih atas kebersamaan, cinta kasih, suka duka, canda tawa, semangat.
14. Rengga Adyatmayang selalu sabar menemani dan tiada henti-hentinya mendukung
, mendoakan dan membantu setiap permasalahan yang dialami.
15. Teman–teman angkatan biologi 2012 terimakasih atas kebersamaan, cinta
kasih, keceriaan, suka duka, canda tawa selama ini.
16. Almamater tercinta Universitas Lampung.
Semoga Allah SWT membalas kasih sayang kepada semua pihak yang telah membantu
penulis. Semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita
semua.
Bandar Lampung, 14 Desember 2016
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK... i
LEMBAR PENGESAHAN... ii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
I. PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 3
C. Manfaat ... 3
D. Kerangka Pemikiran... 4
E. Hipotesis... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
1. Klasifikasi Nyamuk ... 6
2. Bioekologi Nyamuk ... 6
A. Nyamuk Aedes... 6
B. Nyamuk Anopheles... 8
C. Nyamuk Culex... 9
3. Ovitrap Nyamuk... 9
A. Bentuk Ovitrap ... 9
B. Modifikasi Ovitrap ... 10
ix
Nyamuk... ... 11
III. METODE PENELITIAN ... 13
A. Waktu dan Tempat ... 13
B. Alat dan Bahan ... 13
C. Rancangan Percobaan... 14
D. Parameter... 14
E. Cara kerja ... 14
1. Lokasi Pemasangan Ovitrap ... 14
2. Pembuatan Ovitrap Nyamuk ... 14
3. Pemasangan Ovitrap Nyamuk... 15
4. Identifikasi Telur Nyamuk ... 15
5. Analisis Data ... 16
6. Bagan Alir Penelitian ... 17
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 18
4.1 Hasil Pengamatan Morfologi dan Identifikasi Telur Nyamuk... 18
4.2 Jumlah Telur Nyamuk yang Terperangkap dengan Ovitrap pada Lima Perlakuan dan Tiga Lokasi Berbeda... 19
4.3 Fluktuasi Jumlah Telur Nyamuk yang Terperangkap Selama 10 hari 24 4.4 Indeks Ovitrap ... 27
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 28
A. Kesimpulan... 28
B. Saran ... 28
DAFTAR PUSTAKA ... 29
LAMPIRAN ... 33
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Kriteria Indeks Ovitrap... 16
Tabel 2. Ukuran Panjang 10 Sampel Telur Nyamuk Aedes spp. dengan
Perbesaran 40x. ... 19
Tabel 3. Jumlah Telur Nyamuk (Butir) yang Terperangkap Selama 10 Hari
pada Lima jenis warna ovitrap... ... 20
Tabel 4. Hasil Uji Anara Lima Jenis Warna pada Tiga Lokasi Berbeda Terhadap
Jumlah Telur Nyamuk di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas
Pertanian Universitas Lampung... ... 21
Tabel 5. Rata - Rata Jumlah Telur Nyamuk ( ±SD) Transformasi + 0,5 yang
Terperangkap pada 5 Warna Ovitrap... 22
Tabel 6. Jumlah Telur Nyamuk (Butir) yang Terperangkap Selama 10 Hari pada
Tiga Lokasi yang Berbeda... 23
Tabel 7. Rata - Rata Jumlah Telur Nyamuk ( ±SD) Transformasi + 0,5pada
Tiga Lokasi Berbeda di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian
UniversitasLampung... 24
xi
Tabel 9. Indeks Ovitrap... 27
Tabel 10. Jumlah Telur Nyamuk di Lokasi Kebun Karet... 34
Tabel 11. Jumlah Telur Nyamuk di Lokasi Bambu... 35
Tabel 12. Jumlah Telur Nyamuk di Lokasi Kebun Singkong... 37
Tabel 13. Hasil uji analisis univariate pengaruh lima jenis warna wadah pada tiga lokasi berbeda... 39
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Gambar Bagan Alir ... 17
Gambar 2. Telur Nyamuk Aedes spp. Perbesaran 100x... 18
Gambar 3. Fluktuasi Jumlah Telur Nyamuk ... 25
Gambar 4. Ovitrap di Lokasi Kebun Karet ... 45
Gambar 5. Ovitrap di Lokasi Kebun Singkong ... 45
Gambar 6. Ovitrap di Lokasi Kebun Bambu ... 46
Gambar 7. Warna ovitrap... 46
Gambar 8. Mikrometer ... 47
Gambar 9. Counter. ... 47
Gambar 10. Mikroskop stereo ... 48
I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Indonesia merupakan salah satu negara tropis terbesar di dunia. Penduduk Indonesia
umumnya menampung air di bejana-bejana untuk keperluan sehari-hari. Bejana
tersebut terdapat di dalam rumah atau di luar rumah. Bejana yang digunakan tempat
penampungan air dapat menimbulkan masalah, sebab tempat tersebut dapat menjadi
tempat perkembang biakan nyamuk (WHO, 2005).
Iklim tropis menyebabkan berbagai penyakit yang disebabkan oleh nyamuk, seperti
malaria, demam berdarah, filariasis (kaki gajah), dan cikungunya. Penyebab utama
munculnya penyakit tersebut karena perkembang biakan dan penyebaran nyamuk
sebagai vektor penyakit yang tidak terkendali (Depkes RI, 2002).
Terdapat lebih dari 2.500 spesies nyamuk di seluruh dunia. Menurut klasifikasinya
nyamuk dibagi dalam dua subfamili yaitu Culicinae yang terbagi menjadi 109 genus
dan Anophelinae yang terbagi menjadi 3 genus. Jenis–jenis nyamuk dari subfamili
Culicinae seperti Aedes sp., Culex sp., dan Mansonia sp., sedangkan dari subfamili
2
Sebagian spesies nyamuk dari genus Anopheles dan Culex bersifat zoofilik yang
berperan dalam penularan penyakit pada binatang dan manusia, tetapi ada juga
spesies nyamuk antropofilik yang hanya menularkan penyakit pada manusia. Satu
diantaranya adalah Ae. aegypti yang menularkan penyakit Demam Berdarah Dengue
(Samsi, 2001).
Nyamuk Ae. aegypti berkembang biak pada air-air tergenang yang bersih. Beberapa
tempat yang disukai seperti bak mandi dan barang-barang bekas yang tergenang air
hujan (Wulandari, 2001).
Telur nyamuk dapat menempel pada dinding tandon bagian dalam. Jika tandon
tersebut terisi air yang jernih seperti air hujan, maka telur akan segera menetas. Hal
tersebut mengakibatkan prevalensi penyakit demam berdarah cenderung meningkat
ketika musim hujan (Sintorini, 2007).
Salah satu metode pengendalian nyamuk tanpa insektisida yang berhasil menurunkan
densitas vektor di beberapa negara adalah penggunaan perangkap telur (ovitrap)
(Cheung & Fox, 2009).
Ovitrap adalah wadah yang dapat menampung air dengan kertas saring untuk
nyamuk meletakkan telurnya. Ovitrap terbuat dari gelas yang dicat hitam bagian
luarnya dilengkapi dengan kertas saring untuk tempat meletakkan telur nyamuk
Aedes spp. (WHO, 2005).
Modifikasi ovitrap dengan menggunakan ovitrap yang berwarna terbukti dapat
3
(2003) menggunakan berbagai macam warna dan membuktikan jumlah telur yang
terperangkap delapan kali lipat lebih banyak dibanding ovitrap standar.
Laboratorium lapang terpadu fakultas pertanian universitas lampung merupakan
salah satu sarana yang digunakan untuk penelitian para dosen dan mahasiswa.
Laboratorium lapang terpadu memiliki fasilitas yang dapat digunakan untuk
penelitian seperti kebun, bangunan, dan kolam dengan luas lahan yaitu 68,7 hektare
(Satrya, 2012).
Sampai saat ini belum dilakukan penelitian pemasangan ovitrap nyamuk di
Laboratorium lapang terpadu. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk
melihat pengaruh warna ovitrap terhadap peletakan telur nyamuk di Laboratorium
Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna ovitrap terhadap jenis dan
jumlah telur nyamuk yang terperangkap di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas
Pertanian Universitas Lampung.
C. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada
4
D. Kerangka Pemikiran
Nyamuk merupakan vektor penyakit yang menjadi masalah di dunia. Penyebaran
nyamuk sudah meluas, selain ditemukan di daerah perkotaan (urban) yang padat
penduduk juga ditemukan di daerah pedesaan. Penyakit yang disebabkan oleh
nyamuk yaitu demam berdarah dengue (DBD), kaki gajah (filariasis), malaria,
encephalitis, dan chikungunya.
Untuk mengendalikan populasi nyamuk yang ramah lingkungan maka perlu adanya
alternatif lain, salah satu metode pengendalian nyamuk tanpa insektisida yang dapat
menurunkan populasi nyamuk adalah menggunakan ovitrap.
Pada penelitian ini dilihat pengaruh warna wadah sebagai ovitrap nyamuk. Ovitrap
yang digunakan adalah gelas bekas yang berwarna hitam, merah, biru, hijau, dan
kuning. Untuk menarik nyamuk betina pada ovitrap maka perlu adanya warna dan
aroma yang mampu menarik nyamuk betina untuk meletakkan telur di dalam ovitrap.
Penggunaan ovitrap dengan media air terpolusi tanah memiliki daya tarik bagi
nyamuk betina. Ketertarikan ini disebabkan media ini mengandung senyawa organik
dan anorganik yang berpengaruh terhadap aroma.
Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok menggunakan 5
macam warna ovitrap sebagai perlakuan dengan 5 kali ulangan. Penelitian ini di
lakukan pada kebun yang berpotensi sebagai tempat perindukan nyamuk yaitu kebun
5
Hasil yang diharapkan dari penilitian ini adalah dapat mengetahui warna ovitrap
yang paling efektif dalam memerangkap telur nyamuk yang nantinya dapat
dimanfaatkan untuk mengendalikan populasi nyamuk yang lebih ramah lingkungan.
E. Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah warna ovitrap berpengaruh
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Klasifikasi Nyamuk
Menurut Sudarmaja (2007), klasifikasi nyamuk adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia
Filum : Arthrophoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Culicidae
Genus : Aedes
Anopheles
Culex
2. Bioekologi Nyamuk
A. Nyamuk Aedes
Nyamuk Aedes memiliki ukuran kecil jika dibandingkan dengan ukuran nyamuk
Culex. Ciri-ciri tubuh pada punggung terdapat corak belang hitam putih pada dada,
perut, kaki. Probosis bersisik hitam, palpi pendek dengan ujung hitam bersisik putih
7
putih pada permukaan posterior dan setengah basal, anterior dan tengah bersisik
putih memanjang. Tibia semuanya hitam. Tarsi belakang berlingkaran putih pada
segmen basal kesatu sampai keempat, dan kelima berwarna putih. Sayap berukuran
2,5 - 3,0 mm bersisik hitam (Budiyanto, 2012).
Telur Aedes spp. mempunyai dinding bergaris-garis, lonjong seperti torpedo dengan
kedua ujungnya membentuk sudut sedikit lancip, panjang ± 0,6 mm. Pada waktu di
letakkan telur berwarna putih, 15 menit kemudian menjadi abu-abu dan setelah 40
menit menjadi hitam (Dian, 2004).
Nyamuk Aedes dapat menghasilkan 50 - 300 butir telur. Untuk menghasilkan telur
nyamuk betina perlu menghisap darah. Telur dapat menetas dalam waktu 1 - 3 hari
jika diletakkan di air. Jika tidak ada air, telur dapat bertahan beberapa minggu atau
bahkan beberapa bulan. Adaptasi ini menjamin kelangsungan hidup nyamuk
meskipun kondisi cuaca yang tidak menguntungkan (Soegijanto, 2006).
Dalam kondisi temperatur optimum, siklus hidup nyamuk Aedes berkisar antara 7–9
hari, yaitu 1–2 hari stadium telur, 3 - 4 hari stadium larva, dan 2 hari stadium pupa.
Dalam kondisi temperatur yang rendah siklus hidup menjadi lebih panjang dapat
mempercepat beberapa minggu atau bulan yang menyebabkan nyamuk dapat
bertahan hidup lebih lama dan resiko penyebaran virus lebih besar (Natalie, 2006).
Tempat istirahat yang disukai nyamuk Aedes adalah benda-benda yang tergantung di
dalam rumah seperti gordyn, kelambu dan pakaian di kamar yang gelap dan lembab
8
B. Nyamuk Anopheles
Nyamuk Anopheles merupakan salah satu vektor penyakit malaria, penyakit yang
dapat bersifat akut maupun kronik, penyakit malaria disebabkan oleh protozoa dari
genus plasmodium yang hidup pada darah. Penyakit malaria ditandai dengan demam,
anemia dan splenomegali (Samsi, 2001).
Secara umum nyamuk Anopheles aktif mencari darah pada waktu malam hari, mulai
dari senja hingga tengah malam tetapi ada pula yang mulai tengah malam hingga
menjelang pagi (Depkes, 2004).
Anopheles mengalami metamorfosis sempurna yaitu stadium telur, larva,
kepompong, dan dewasa yang berlangsung selama 7 - 14 hari. Nyamuk Anopheles
betina dewasa meletakkan 50 - 200 telur satu persatu di dalam air atau bergerombol.
Untuk menjadi larva dibutuhkan waktu selama 2 - 3 hari, atau 2 - 3 minggu pada
iklim-iklim lebih dingin (Rinidar, 2010).
Telur nyamuk Anopheles memiliki bentuk seperti perahu yang memiliki sepasang
pelampung yang terletak dibagian lateral. Di tempat perindukan, larva Anopheles
mengapung sejajar dengan permukaan air dengan bagian badan yang khas yaitu
spirakel pada bagian posterior abdomen (Effendi, 2003).
Setiap nyamuk memiliki umur yang berbeda-beda. Pada umumnya nyamuk jantan
cenderung hidup lebih pendek dari nyamuk betina. Biasanya umur nyamuk betina
kira-kira 2 minggu, namun nyamuk Anopheles dapat bertahan hidup 2 - 3 (Suharyo,
9
C. Nyamuk Culex
Kepala Culex umumnya bulat dan memiliki sepasang mata, sepasang antena,
sepasang palpi yang terdiri atas 5 segmen dan 1 probosis antena yang terdiri atas 15
segmen. Nyamuk Culex yang banyak di temukan di Indonesia yaitu jenis Culex
quinquefasciatus (Sitio, 2008).
Nyamuk Culex sp. meletakan telurnya diatas permukaan air secara bergelombolan
dan bersatu membentuk rakit sehingga mampu untuk mengapung.Nyamuk betina
mampu meletakan 100 - 400 butir telur(Sitio, 2008).
3. Ovitrap Nyamuk
A. Bentuk Ovitrap
Ovitrap merupakan sebuah perangkap telur nyamuk yang terdiri dari wadah berisi air
untuk memerangkap telur nyamuk. Terdapat dua macam ovitrap yaitu ovitrap alami,
seperti tempurung kelapa dan ovitrap buatan, seperti gelas kaca. (Djoni, 2006 &
Widiyanto, 2007).
Ovitrap standar berupa gelas plastik 350 ml, tinggi 91 mm dan diameter 75 mm.
Dicat hitam bagian luarnya dan diisi air sebanyak tiga per empat bagian dan diberi
lapisan kertas, bilah kayu, atau bambu sebagai tempat bertelur nyamuk betina agar
nyamuk tidak tenggelam kedalam air, dan telur berada di permukaan air (WHO,
10
B. Modifikasi Ovitrap
Modifikasi ovitrap dapat dilakukan terhadap fungsi, bentuk, ukuran, dan
penambahan atraktan. Modifikasi struktural dengan merubah susunan, bentuk, dan
penggantian atau penambahan atraktan. Modifikasi ovitrap menggunakan gelas
plastik sebagai bahan dasar dengan atraktan dan kain kasa penutup permukaan air
yang diletakkan permukaan air, berhasil memerangkap nyamuk lebih banyak
(Tarmali, 2006).
C. Warna Ovitrap
Dari beberapa hasil penilitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa setiap
jenis serangga memiliki preferensi yang berbeda terhadap warna. Terdapat beberapa
warna yang paling menarik serangga diantaranya warna kuning, warna biru, warna
orange dan warna putih (Huang, 2000).
4. Atraktan Nyamuk
Atraktan merupakan sesuatu yang memiliki daya tarik bagi serangga (nyamuk) baik
berupa kimia maupun fisik. Atraktan dari bahan kimia dapat berupa senyawa amonia,
asam laktat, CO2, dan asam lemak. CO2 dan asam laktat merupakan atraktan yang
sangat baik bagi nyamuk. Aroma asam lemak yang dihasilkan dari kulit normal
efektif sebagai atraktan pada jarak 7–30 meter, bahkan dapat mencapai 60 meter.
Zat atau senyawa tersebut berasal dari bahan organik atau merupakan hasil proses
metabolisme mahluk hidup. Atraktan fisika dapat berupa getaran suara dan warna,
11
perilaku, dan menurunkan pertumbuhan nyamuk secara langsung, tanpa
mempengaruhi hewan lain (Focks, 2003 dan Russel, 2004).
Penggunaan ovitrap dengan media air terpolusi tanah memiliki daya tarik bagi
nyamuk betina. Ketertarikan ini disebabkan media ini mengandung senyawa organik
dan anorganik yang berpengaruh terhadap aroma. Diduga pemilihan media terkait
dengan rangsangan aroma yang bersifat “chemical senses”. Karbondioksida, amonia
dan mikroorganisme yang diduga banyak terkandung pada media air terpolusi tanah
tersebut dapat menjadi daya tarik bagi nyamuk betina Ae. aegypti dalam memilih
media peletakan telur(Biran, 2003).
5. Faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan nyamuk
Menurut Sumunar (2007), aspek ekologi sangat berperan dalam mengatur
keseimbangan populasi makhluk hidup di alam. Aspek-aspek ekologi yang dapat
mempengaruhi kehidupan nyamuk adalah suhu, pH, kelembaban udara, hujan, dan
tumbuhan.
A. Suhu
Nyamuk merupakan hewan berdarah dingin. Proses metabolisme dan siklus
kehidupannya tergantung pada suhu lingkungan. Suhu optimum untuk perkembangan
nyamuk adalah 25 - 27°C. Nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu yang rendah
yakni < 10°C, tetapi proses metabolisme akan menurun bahkan akan berhenti, dan
12
B. pH (Derajat keasaman)
pH perairan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan telur nyamuk. pH
dipengaruhi oleh konsentrasi CO₂dan senyawa-senyawa yang bersifat asam.
Sebagian besar perairan sensitif terhadap perubahan pH dan nyamuk menyukai nilai
pH sekitar 7 - 8,5 (Leksono, 2007).
C. Kelembaban Udara
Kelembaban udara dapat mempengaruhi sistem pernapasan. Kelembaban udara yang
rendah akan menyebabkan penguapan air dalam tubuh nyamuk yang mengakibatkan
cairan tubuh nyamuk akan kering (Depkes RI, 2002).
D. Pengaruh Tumbuhan
Tumbuhan sangat mempengaruhi kehidupan dari nyamuk antara lain: sebagai
tempat meletakkan telur, tempat berlindung, tempat mecari makanan, dan sebagai
tempat hinggap (istirahat) bagi nyamuk dewasa (Depkes RI, 2002).
E. Pengaruh Hujan
Curah hujan yang tinggi dalam jangka waktu yang lama akan memperbesar
III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret - April 2016 di Laboratorium
Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung sebagai tempat peletakan
telur nyamuk, sedangkan identifikasi telur nyamuk akan dilakukan di Laboratorium
Zoologi FMIPA Universitas Lampung.
B. Alat dan Bahan
Alat - alat yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mikroskop untuk
identifikasi telur nyamuk, gelas plastik berwarna hitam, merah, biru, hijau, dan
kuning sebagai ovitrap, plastik warna, kertas saring sebagai tempat bertelur nyamuk
pada ovitrap, neraca analitik untuk menimbang berat tanah yang digunakan,
termometer untuk mengukur suhu, counter sebagai menghitung telur nyamuk,
hygrometer untuk menghitung kelembaban, karet dan kamera untuk dokumentasi.
14
C. Rancangan Percobaan
Penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok sebagai perlakuan 5
macam warna ovitrap yaitu hitam, merah, biru, hijau, dan kuning dengan atraktan
tanah di 3 lokasi yang berbeda. Ovitrap yang digunakan adalah 25 buah per
kelompok sehingga keseluruhan berjumlah 75 buah, masing - masing kelompok
ovitrap diletakkan di dekat kebun karet, kebun bambu, dan kebun singkong
kemudian diamati pada jam 09.00 WIB pagi setiap hari selama 10 hari.
D. Parameter
Parameter yang diamati dalam penilitian ini yaitu jenis dan jumlah telur nyamuk
yang terperangkap pada ovitrap.
E. Cara Kerja
1. Lokasi Pemasangan Ovitrap
Pemasangan ovitrap dilakukan pada tiga lokasi yaitu kebun karet, kebun bambu, dan
kebun singkong. Masing-masing lokasi tersebut diletakkan 25 ovitrap.
2. Pembuatan Ovitrap Nyamuk
Pembuatan ovitrap nyamuk menggunakan gelas plastik yang berukuran 240 ml.
Gelas plastik yang digunakan adalah gelas plastik berwarna hitam, merah, biru, hijau,
dan kuning yang di bungkus dengan plastik warna agar lebih memperkuat warna
15
dan di isi air sebanyak 100 ml. Kertas saring diletakkan dibagian dinding dalam
ovitrap tempat nyamuk meletakkan telur.
3. Pemasangan Ovitrap Nyamuk
Pemasangan ovitrap dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian
Universitas Lampung secara acak kelompok pada tiga lokasi yang berbeda. Pada
setiap lokasi diletakkan lima jenis ovitrap dengan lima kali pengulangan.
Selama pemasangan ovitrap, suhu, kelembaban udara, dan cuaca diukur setiap hari.
Untuk menghindari sinar matahari langsung, ovitrap diletakkan di tempat yang
terlindungi sinar matahari. Setelah dipasang akan dilakukan pengambilan telur setiap
harinya, dihitung jumlah telur nyamuk dari masing-masing ovitrap, dengan bantuan
counter dan mikroskop stereo di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
4. Identifikasi Telur Nyamuk
Pengamatan morfologi telur nyamuk dengan menggunakan stereo mikroskop dan di
identifikasi menggunakan referensi Rozendaal (1997), dokumentasi berupa foto telur
16
5. Analisis Data
Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis menggunakan uji Anara
unnivariate bila terjadi perbedaan perlakuan maka akan diuji lanjut dengan BNT
pada taraf signifikasiα = 5%. Kemudian Indeks ovitrap (IO) pada masing-masing
lokasi ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
=totaljumlah yang terpasang x 100%positif
[image:33.595.92.475.355.464.2]Menurut FEHD Hongkong (2006) kriteria indeks ovitrap dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.Kriteria Indeks Ovitrap
Bagan alir penelitian disajikan pada Gambar 1.
Indeks Ovitrap Skor Kriteria
Level 1 : IO < 5 % 1 Sangat rendah
Level 2 : 5 %≤ IO < 20 % 2 Rendah
Level 3 : 20 %≤ IO < 40 5 3 Sedang
17
Gambar 1. Bagan alir penelitian Lokasi penelitian
● Kebunkaret ●Kebun Bambu ●Kebun Singkong
Pemasangan ovitrap dilakukan di tiga lokasi berbeda. Pada setiap lokasi diletakkan lima jenis ovitrap dengan lima kali pengulangan. Dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok.
Pengamatan
Pengamatan telur nyamuk setiap hari selama 10 hari di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung
Telur nyamuk yang ditemukan di identifikasi berdasarkan Rozendaal (1997) dan dihitung jumlahnya menggunakan mikroskop stereo di Laboratorium Zoologi jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung
●Analisis Data dengan menggunakan dengan uji Anara unnivariate bila terjadi perbedaan perlakuan maka akan diuji lanjut dengan BNTpadataraf signifikasi α = 5%.
●Indeks Ovitrap (IO) ditentukan menurut kriteria (FEDH Hongkong, 2006).
Hasil Pengaruh Warna Wadah Sebagai Ovitrap Nyamuk di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas
Lampung
Warna ovitrap
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Ovitrap dengan warna hitam dan biru merupakan ovitrap yang paling disukai
nyamuk Aedes untuk bertelur. Ovitrap dengan warna kuning merupakan ovitrap
yang tidak disenangi oleh nyamuk Aedes sp. untuk tempat bertelur.
2. Telur nyamuk yang ditemukan pada ketiga lokasi yaitu kebun karet, kebun
bambu, dan kebun singkong adalah dari genus Aedes.
3. Nilai IO dilokasi kebun karet paling tinggi (2,16%) dibandingkan lokasi bambu
(0,16%) dan lokasi kebun singkong (0,56%).
B. Saran
Perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan ovitrap nyamuk
di berbagai tempat yang berbeda guna membantu menanggulangi banyaknya telur
DAFTAR PUSTAKA
Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG). 2016. Data suhu dan curah hujan di Bandar Lampung. Skripsi. Lampung: Universitas Lampung.
Biran S. 2003. Demam Dengue / Demam Berdarah Dengue di RSUP Sanglah Denpasar. Seminar Nasional Demam Berdarah Dengue. Denpasar.
Budiyanto, Arif. 2010. Karakteristik Kontainer Terhadap Keberadaan Jentik A. aegypti Di Sekolah Dasar. Jurnal Pembangunan Manusia Vol.6 No.1
Budiyanto, Arif. 2012. Studi Indeks Larva Nyamuk Aedes aegypti dan Hubungannya dengan PSP Masyarakat tentang Penyakit DBD di Kota Palembang Sumatera Selatan.
Cheung & Fok. Dengue Vector Surveillance And Control In Hongkong In 2008 And 2009. Dengue Bulletin. 2009; 33: 95-102
Depkes RI. 1992. Petunjuk Teknis Pemberantasan Nyamuk Penular Penyakit DBD, Ditjen P2M & PLP, Jakarta.
Depkes RI. 2002. Pemeriksaan Kuman Penyakit Menular. Ditjen PPM & PLP Dep. Kes. RI
Depkes RI, “Petunjuk Pemberansatan Sarang Nyamuk DBD di Perkotaan”,Depkes 2004.
Dian R. 2004. Jumlah dan Daya Tetas Telur, serta Perkembangan Pradewasa Aedes aegypti di Laboratorium. (Skripsi). Bogor: Institut Pertanian Bogor
Djoni, D. 2006.“DBD, Epidemiologi, Imunopatologi, Patogenesis, Diagnosis dan Penatalaksanaannya”,Universitas Muhammadiyah Press.
30
Harbach, 2008.”DBD, Naskah Lengkap pelatihan bagi Pelatih DokterSpesialis Anak dan Dokter Penyakit Dalam dalam Tatalaksana DBD, FK UI.
Harijanto, P. N. 2000. Malaria Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis dan Penanganan. Jakarta : EGC. p. 1-12, 39-43
Food and Environmental Hygiene Department (FEHD). 2006. Suspected Tampering of Ovitraps and Mosquito Control Work. LC Paner. No. CB(2) 3153/05 06 (01). Hongkong.
Huang, K.C. 2000. The population fluctuation and Trapping of Thrips palm in Waxgord. Agric Improvenmt station, 25: 35-41
Kramadibrata, H. Ibkar. 1996. Ekologi Hewan. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Leksono, A.S. 2007. Ekologi Pendekatan Deskriptif dan Kuantitatif. Bayu media Publishing. Malang.
Natalie T.W. 2006. Pengaruh Konsentrasi Air Sabun terhadap Daya Tetas Telur A.aegypti. Laporan Penelitian. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
Polson KA, dkk. 2002. The Use of Ovitrap Baiter with Hay Infusion as a Surveillance Tool for Aedes aegypti Mosquitoes in Cambodia. Dengue Bulletin Vol 26: 178– 184.
Rozendaal J.A. Vector Control. Methods for Use by Individual and Communities. Geneva: World Health Organization. 1997.p 7–177.
Rozilawati H, Zairi J, Adanan CR. 2007. Seasonal abundance of A. albopictus in selected urban and sub urban areas in Penang. Malaysia Tropical Biomedicine 24
Russel R.C. The Relative Attractiveness of Carbondioxide and Octenol in CDC–and EVS - type Light Traps for Sampling the Mosquitoes Aedes aegypti (L.) and Aedes polynesiensis Marks, and Culex quinquefasciatus (Say) in Moora, French
Polynesia. Journal of Vector Ecology 2004 29(2): 309 -314
Santos S.R.A, Melo-Santos MAV, Regis L dan Albuquerque CMR. Field Evaluation of Ovitrap with Grass Infusion and Bacillus thuringiensis varisraelensis to Determine Oviposition Rate of Aedes aegypti. Dengue Bulletin 2003 Vol 27: 156 –162
31
Satrya, D. 2012. Perancangan Lanskap Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Service M.W. 1996. Medical Entomology for Students. Edisi Pertama. Toronto: Chapman & Hall
Sitio, A. 2008. Hubungan Perilaku Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Kebiasaan Keluarga dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan. Universitas Diponegoro Semarang.
Sintorini M.M. 2007. Peran Lingkungan pada Kasus Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue. International Seminar on Mosquito and Mosquito-borne Disease Control Through Ecological Approach. Yogyakarta
Soegijanto, S. 2004.“Demam Berdarah Dengue, Tinjauan dan Temuan Barudi Era 2003”, Airlangga University Press.
Sudarmaja I.M. 2007. A Study on Fauna of Aedes at Graha Kerti and Kerta Petasikan Hamlets, Village of Sidakarya, Denpasar. International Seminar on Mosquito and Mosquito-borne Disease Control Through Ecological Approach. Yogyakarta.
Sudarmaja I.M. 2008. Pengaruh Air Sabun dan Detergen terhadap Daya Tetas Telur A.aegypti. Medicina 39 (1): 56-58 Troyo A, Calderon-Arguedas O, Fuller DO, Solano ME, Advendano A, Arheart KL, Chade DD, Beier JC. 2008. Seasonal Profiles of Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) Larva habitats in an urban area of Costa Rica with a History of Mosquito Control. J VectorEcology; 33(1), 76-88.
Sumunar. 2007. Determination Mount The Regional Susceptance to Propagation of Mosquito of A. aegypti and A. albopictus by Remote Sensing and Geographical Information System. International Seminar on Mosquito and Mosquito borne Disease Control Through Ecological Approaches Departement of Parasitology, Faculty of Medicine Gadjah Mada University.
Suroso T. 1983. Tinjauan Keadaan dan Dasar-dasar Dalam Pemberantasan Demam Berdarah di Indonesia, Sub, Dit, Arbovirus Dit, P2B2 Direktorat P3M, Jakarta
Tarmali A. 2006. Penggunaan Perangkap Telur Pembunuhan Diri guna Mengendalikan Populasi Vektor Demam Berdarah Dengue di Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Dati II Sleman. Tesis. Tidak dipublikasikan.Yogyakarta: Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada.
32
WHO. 2005. Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
WHO. 2005. Tropical Disease Research, Making health research work for poor people, PROGRESS 2003 - 2004, Seventeenth Programme Report.
Widya H.C & Suharyo. 2006. Dinamika Aedes aegypti Sebagai Vektor Penyakit. KEMAS 2 (1): 38 - 48
Widiyanto, T. 2007. Kajian Manajemen Lingkungan Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kota Purwokerto Jawa Tengah. Universitas Diponegoro Semarang.
Wulandari T.K.2001. Vektor Demam Berdarah dan Penanggulangannya, Mutiara Medica, 1 (1), 27-30
Yotopranoto S, Rosmanida S, Sulaiman.1998. Dinamika Populasi Vektor pada Lokasi dengan Kasus Demam Berdarah Dengue yang Tinggi di Kotamadya