• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
60
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

ANALISIS KETIMPANGAN GENDER TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI LAMPUNG ANTARA SEKTOR PENDIDIKAN

DAN KETENAGAKERJAAN (SKRIPSI)

Oleh: Putri Rohma Sari

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRACT

ANALYSIS OF GENDER INEQUALITY ON ECONOMIC GROWTH IN LAMPUNG PROVINCE BETWEEN THE EDUCATION AND LABOR

SECTORS

By

Putri Rohma Sari

The purpose of this study is to analyze the factors that influence gender inequality on the level of economic growth in Lampung Province between the education and employment sectors. This study uses a model based on Levine and Renelt's (1992) economic growth model. This study uses secondary data obtained from the Badan Pusat Statistika (BPS) with the study period of 2011-2015 This study uses a panel data model with the number of individual cross (cross section) of 15 (fifteen) Regencies in Lampung Province. This research uses a model with the Fixed Effect Model (FEM) approach. The results showed that the Mean Years School, labor, Initial growth has positive and significant influence, Literacy Rate, Labor Force Participation Rate has no significant influence on economic growth in 15 (fifteen) Regencies in Lampung Province, 2011-2015 period, ceteris paribus.

(3)

ABSTRAK

ANALISIS KETIMPANGAN GENDER TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI LAMPUNG ANTARA SEKTOR PENDIDIKAN

DAN KETENAGAKERJAAN

Oleh

Putri Rohma Sari

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan gender terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung antara sektor pendidikan dan ketenagakerjaan. Penelitian ini menggunakan model berdasarkan model pertumbuhan ekonomi Levine dan Renelt (1992). Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dengan periode penelitian tahun 2011-2015 Penelitian ini menggunakan model data panel dengan jumlah lintas individu (cross section) sebesar 15 (lima belas) Kabupaten di Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan model dengan pendekatan Fixed Effect Model (FEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rata-rata Lama Sekolah, Tenaga Kerja. initial growth berpengaruh positif dan signifikan, Angka Melek Huruf, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di 15 (lima belas) Kabupaten di Provinsi Lampung, periode 2011-2015, ceterisparibus.

Kata Kunci : Angka Melek Huruf , Data Panel, Fixed Effect Model, Initial growt, Rata-rata Lama Sekolah, Tenaga Kerja, Tingkat Partisipasi

(4)

ANALISIS KETIMPANGAN GENDER TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI LAMPUNG ANTARA SEKTOR PENDIDIKAN

DAN KETENAGAKERJAAN

Oleh: Putri Rohma Sari

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA EKONOMI

Pada

Jurusan Ekonomi Pembangunan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Bandar Lampung pada tanggal 30 Mei 1996, merupakan anak bungsu dari pasangan Mukhsin Yusuf S.Pd dan Susriati, S.Pd

Penulis menempuh pendidikannya dari bangku Taman Kanak-kanak Assalam Sungkai Utara pada tahun 2000-2001, dilanjut kan ke SDN 1 Kotanegara pada tahun 2001-2007, dilanjutkan ke SMPN 3 Sungkai Utara, Lampung Utara pada tahun 2007-2010. Kemudian melanjut kan studi ke SMA Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2010-2013 jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pada tahun 2013, penulis diterima di Universitas Lampung, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Ekonomi Pembangunan

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di lembaga kemahasiswaan yang ada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis diantaranya yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa sebagai Sekertaris Bidang Hubungan Masyarakat.

Pada tahun 2014, penulis mengikuti Kuliah Kunjungan Lapangan (KKL) kebeberapa institusi yaitu Bursa Efek Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional bersama dengan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan angkatan 2013.

(9)

MOTO

“Jangan bandingkan dirimu dengan siapapun di dunia ini, kalau kau melakukannya sama saja dengan menghina dirimu sendiri”

(Bill Gates)

“Masalah akan terasa ringan dengan bersabar dan berlapang dada”

(10)

PERSEMBAHAN

Dengan segala ketulusan dan kerendahan hati, serta puji syukur kepada Allah SWT, kupersembahkan karya sederhana ini untuk :

Kedua Orang Tuaku Bapak H Mukhsin Yusuf S.Pd dan Ibu Hj. Susriati S.Pd yang telah membimbingku, memberikan kasih sayang, mendukungku dalam setiap langkahku serta yang selalu mendoakan keselamatan dan keberhasilanku dalam setiap doanya. Terima kasih juga kutunjukan untuk kakakku Oki Indra Suryatama, serta keluarga besarku yang telah memberikan dukungan dan semangat dihidupku.

Sahabat-sahabatku dari Jurusan Ekonomi Pembangunan terima kasih atas kebersamaan selama ini Fakultas Ekonomi Dan Bisnis.

Dan

(11)

SANWACANA

Puji syukur kuucapkan kepada Allah SWT, karena atas segala rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul “Analisis Ketimpangan Gender Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Provinsi Lampung Antara Sektor Pendidikan dan Ketenagakerjaan” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Di Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Kedua Orang tuaku, Bapak Mukhsin Yusuf S.Pd dan Ibu Susriati, S.Pd. serta Nenekku Salamiah yang telah membimbing, mendidik, mendoakan serta memotivasi penulis sehingga dapat menyelesaikan penelitian ini.

2. Bapak Prof. Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung.

3. Bapak Dr. Nairobi, S.E., M.Si Selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan pelajaran, motivasi dan bimbingan yang sangat berharga bagi Penulis dan selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembanguan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung.

(12)

5. Bapak Dr. Toto Gunarto, S.E., M.Si selaku Dosen Penguji yang senantiasa memberikan bimbingan, arahan, saran dan kritik serta dukungan, dan meluangkan waktunya untuk penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Bapak Moneyzar Usman, S.E., M.Si selaku Dosen Penguji yang senantiasa memberikan bimbingan, arahan, saran dan kritik serta dukungan, dan meluangkan waktunya untuk penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat selama proses perkuliahan di Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung.

8. Staf dan Pegawai Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Lampung, Bu Yati, Pak Sainudin, Pak Kasim, Mas Maaruf, Mas Rulli terima kasih telah berperan dalam proses kelancaran skripsi ini.

9. Kakakku Oki Indra Suryatama dan Elvita serta keponakanku Fiorenza Zhafira Suryatama, Tasya Ananda, Lovia Wita Ayurini, Kevin, Chantiqa, Tiara terima kasih atas doa dukungan yang telah diberikan selama ini.

10. Sahabatku “Red Lips” terutama untuk Tessa Theresia yang selalu siap membantu dalam situasi apapun, Fadila Khoiriah, Fibriyani Puspita, Fitria Waluyo, Milda Maulina terima kasih atas segala bentuk dukungan, perhatian, arahan, serta motivasi yang telah kalian berikan, kalian yang selalu ada selama ini aku sayang kalian.

(13)

12. Teman-Teman Sonice, Adys, Agung, Ahong, Desna, Desti, Dwi, Galih, Ijul, Iyan, Jamal, Lulu, Miji, Nanik, Nita, Ranau, Riko, Rona, Syuhada terima kasih atas dukungan dan perhatian yang telah diberikan selama ini

13. Sahabat SMA Ashil Nasywa, Desma Rina, Dwi Andjani, Nurika Tyasning terima kasih selalu ada dan selalu mendengar keluh kesah penulis

14. Sahabat SMP Dea Fanawa, Eliarosa, Sherly Waya, dan Tias Ayu terima kasih telah memotivasi penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.

15. Syaidina Iskandar Malik KM yang selalu mengerti dan selalu ada terimakasih atas dukungan dan perhatian serta doanya.

16. Kakak Deri Firnanda Tampi dan adik-adik Hani Nabila, Indri Meyliana, Enon Finur, Akbar Rozi, Alvin Prasetya dan Almira terima kasih atas dukungannya.

17. Teman-teman KKN Bumi Nabung Baru, Kak Icha, Kak Ichan, Kak Verra dan yang selalu berbagi canda dan tawa dengan penulis selama menjalankan kkn selama 40 hari.

18. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini dari awal sampai dengan skripsi ini terselesaikan.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Bandar Lampung, 16 Oktober 2018 Penulis

(14)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR LAMPIRAN ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DANHIPOTESIS A. Landasan Teori... 7

1. Definisi Pertumbuhan Ekonomi... 7

2. Konsep Gender... 12

3. Ketimpangan Gender di Bidang Pendidikan... 14

4. Ketimpangan Gender dibidang Ketenagakerjaan... 17

5. Hubungan Ketimpangan Gender dengan Pertumbuhan Ekonomi... 17

6. Kerangka Pemikiran... 21

BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian ... 24

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 24

C. Metode Pengambilan Sampel... 24

(15)

E. Definisi Operasional Variabel... 25

F. Metode Analisis ... 29

G. Alat Analisis... 30

H. TahapanAnalisis... 31

1. Metode Estimasi Regresi Data Panel ... 31

2. Langkah Penentuan Metode Regresi Data Panel ... 32

3. Uji Hipotesis ... 37

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Deskriptif ... 37

1. Gambaran Umum Provinsi Lampung ... 37

2. Kondisi Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Lampung ... 37

3. Rata-Rata Lama Sekolah... 38

4. Angka Melek Huruf ... 38

5. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja ... 38

B. Hasil Uji Regresi Data Panel ... 39

1. Analisis Statistik Deskriptif ... 39

2. Uji Kriteria Pemilihan Model Penelitian... 40

3. Estimasi Regresi Model Panel Data ... 42

4. Hasil Pengujian Hipotesis ... 44

5. Pembahasan Hasil Penelitian ... 47

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 54

B. Saran... 54

(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Deskriptif Data... 28

2. Intepretasi Berdasarkan Koefisien Determinasi... 36

3. Jumlah Penduduk Provinsi Lampung Tahun 2011 ... 39

4. Statistik Deskriptif ... 40

5. Hasil Uji Chow ... 41

6. Hasil Uji Hausman ... 42

7. Hasil Estimasi Data Panel ... 43

8. Intrepretasi Model ... 44

9. Hasil Perhitungan Uji Parsial... 44

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. IPM Menurut Provinsi di Provinsi LampungTahun2011-2015 ... L-1 2. IPM dan IPG Menurut Provinsi di Provinsi Lampung Tahun

2011-2015 ... L-2 3. Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 25 Tahun di Provinsi

Lampung Tahun 2011-2015... L-3 4. Angka Melek Huruf Penduduk 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis

Kelamin Tahun 2011-2015 ... L-4 5. Penduduk 15+ Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha dan Jenis

Kelamin di Provinsi Lampung Tahun2015... L-5 6. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Provinsi Lampung Menurut Jenis

KelaminTahun 2011-2015 ... L-6 7. IPG, IPM, dan Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Lampung Tahun

(19)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu tujuan pembangunan manusia di Indonesia yaitu mencapai kesetaraan gender untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Baron (2000:188) mengartikan bahwa kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan nasional, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Ketimpangan gender dirasa masih banyak terjadi di berbagai sektor, namun ketimpangan yang dapat dengan jelas di rasakan terjadi pada sestor pendidikan dan ketenagakerjaan.

(20)

2

pembangunan Indonesia di wilayah Sumatera, diantaranya menyangkut kemajuan ekonomi, infrastruktur publik, manajemen pariwisata, tata kelola birokrasi, dan tidak kalah pentingnya kemajuan peradaban demokrasi.

Menurut Farida (2010), dalam proses pendidikan di Indonesia secara umum, masih terdapat bias atau ketimpangan gender. Kesenjangan pada bidang pendidikan telah menjadi faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap bidang lain di Indonesia, hampir semua sektor, seperti lapangan pekerjaan, jabatan, peran di masyarakat, sampai pada masalah menyuarakan pendapat antara laki-laki dan perempuan. Penyebab ketimpangan gender adalah karena faktor kesenjangan pendidikan yang belum setara. Dengan rendahnya tingkat pendidikan penduduk yang berjenis kelamin perempuan maka, secara otomatis perempuan belum berperan secara maksimal. Perbedaan gender tidaklah menjadi sebuah masalah yang krusial seandainya perbedaan itu tidak menimbulkan ketidakadilan.

(21)

3

Menurut Setyowati (2008), kesetaraan gender akan timbul apabila perhatian/keprihatinan tentang gender tidak muncul sedangkan terjadi ketidaksetaraan bagi perempuan dalam mengakses fasilitas, kesempatan, dan sumber daya. Isu gender akan muncul jika masyarakat menyadari bahwa ketidaksetaraan adalah salah, tidak bisa diterima, dan tidak adil. Realisasi ini mungkin muncul apabila kesenjangan gender cukup besar, dan apabila perempuan sadar akan hak asasinya dan haknya akan demokrasi. Kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektif. Dengan demikian mempromosikan kesetaraan gender adalah bagian utama dari strategi pembangunan dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat (semua orang) perempuan dan laki-laki-untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Menurut The Global Gender Gap Report 2013, Indonesia berada di peringkat 88 dari 144 negara dengan skor sebesar 66, 13 dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya, Filipina (peringkat 7), Vietnam (peringkat 65) berada di atas Indonesia. Ketidaksetaraan gender seringkali membatasi pilihan yang tersedia bagi perempuan sehingga sangat membatasi kemampuan perempuan untuk berpartisipasi atau menikmati hasil dari pembangunan. Beban pada kehidupan manusia adalah beban pembangunan karena meningkatkan kualitas hidup masyarakat adalah tujuan akhir dari pembangunan (Amalia, 2017).

(22)

4

(IPM), tetapi menangkap ketidaksetaraan dalam pencapaian antara perempuan dan laki-laki.

Upaya pembangunan manusia untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat telah mengalami kemajuan. Namun, hasil pembangunan manusia tidak memberikan manfaat yang adil antara laki-laki dan perempuan dan belum cukup efektif dalam meningkatkan pencapaian pembangunan perempuan dalam bidang pendidikan, ketenagakerjaa dan ekonomi. Peningkatan pembangunan manusia di Provinsi Lampung tidak selalu meningkatkan kesetaraan gender.

Kesetaraan gender merupakan kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. dalam berperan, melakukan kontrol dan menerima manfaat pembangunan di segala bidang kehidupan. Ketimpangan gender dalam hak, sumberdaya, maupun akses politik tidak hanya merugikan perempuan secara umum tetapi juga merugikan anggota masyarakat sekaligus menghambat pembangunan. Investasi yang rendah untuk pendidikan perempuan akan mengurangi jumlah modal manusia dalam masyarakat dan menurunkan tingkat pendapatan. Rendahnya pendidikan dan keterampilan perempuan, serta terbatasnya akses terhadap sumber daya akan membatasi produktivitas, pertumbuhan ekonomi dan mengurangi efisiensi pembangunan secara keseluruhan. Maka upaya meningkatkan kesetaraan gender merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan.

(23)

5

dari kesenjangan pencapaian pendidikan, peningkatan dan kegiatan ekonomi (ketenagakerjaan) antara laki-laki dan perempuan. Menurut teori, ketimpangan gender yang tinggi maka pertumbuhan ekonomi rendah dan sebaliknya. Namun, berdasarkan data yang diperoleh dari Provinsi Lampung, kenyataaan tidak sesuai dengan lampiran teori (Tabel 1.8).

Permasalahan yang terjadi di Provinsi Lampung adalah ketimpangan gender yang tinggi tidak selalu menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang rendah dan sebaliknya.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas maka muncul beberapa pertanyaan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimana pengaruh ketimpangan gender terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung?

2. Bagaimana pengaruh ketimpangan gender di bidang pendidikan terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung?

3. Bagaimana pengaruh ketimpangan gender di bidang ketenagakerjaan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung?

C. Tujuan Penelitian

(24)

6

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh ketimpangan gender di bidang pendidikan terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh ketimpangan gender di bidang ketenagakerjaan terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini:

1. Sebagai pemenuhan syarat kelulusan bagi penulis untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi.

2. Sebagai bahan refrensi untuk penelitian selanjutnya yang serupa.

(25)

II. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Definisi Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Todaro (2006), mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai suatu proses yang mantap dimana kapasitas produksi dari suatu perekonomian meningkat sepanjang waktu untuk menghasilkan tingkat pendapatan nasional yang semakin besar.

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan kondisi perekonomian suatu Negara yang berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Menurut Levine dan Renelt (1992), sebagai penentu pertumbuhan ekonomi, sebuah penelitian harus menggunakan variabel kontrol yang mana variabel kontrol adalah variabel yang telah diakui secara luas sebagai penentu pertumbuhan ekonomi. Variabel kontrol terdiri antara lain initial level of GDP, pertumbuhan jumlah penduduk, rasio investasi terhadap GDP dan kualitas sumber daya manusia dan yang lainnya.

(26)

8

semakin besar pula akses untuk investasi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah tersebut (Jin, 2000).

Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Teori dibangun berdasarkan pengalaman empiris, sehingga teori dapat dijadikan sebagai dasar untuk memprediksi dan membuat suatu kebijakan Tiga komponen pertumbuhan ekonomi yang mempunyai arti penting bagi setiap masyarakat adalah (Todaro dan Smith, 2006).

Secara sederhana pertumbuhan ekonomi dapat dihitung dengan cara membandingkan perhitungan nasional pada periode tertentu dengan periode sebelumnya, misalnya dengan membandingkan GDP tahun tertentu dengan tahun sebelumnya, sehingga dapat diketahui beberapa pertumbuhannya. Perhitungan pertumbuhan ekonomi dapat dihitung dengan nilai PDB, yaitu PDB dengan harga konstan, karena pengaruh perubahan harga atau inflasi dihilangkan.

Berikut rumus perhitungan pertumbuhan ekonomi:

= X 100%

Keterangan :

Gt = Pertumbuhan ekonomi periode t (triwulan atau tahunan). PDB(t)= Produk domestic bruto periode t (berdasarkan harga konstan). PDB (t-1) = Produk domestic bruto periode sebelumnya.

1.1. Teori Pertumbuhan Adam Smith

(27)

9

proses pertumbuhan ekonomi terdiri dari dua aspek utama yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan ekonomi.

a. Pertumbuhan Output

Terdapat tiga unsur pokok dalam sistem produksi yaitu :

1. Tersedianya sumber daya alam yang menjadi batas maksimum bagi pertumbuhan suatu perekonomian. Apabila sumber daya alam yang tersedia belum dimanfaatkan secara maksimal, maka jumlah penduduk dan persediaan barang modal yang tersedia akan ikut berperan dalam pertumbuhan output. Namun, jika semua sumber daya alam tersebut telah digunakan secara maksimal, maka pertumbuhan ouput tersebut akan terhenti.

2. Sumber daya manusia (jumlah penduduk) dalam proses pertumbuhan output akan beradaptasi dengan kebutuhan akan tenaga kerja dari suatu masyarakat. 3. Persediaan barang modal termasuk dalam unsur produksi sebagai penentuan

tingkat output dan berperan dalam proses pertumbuhan output. Persediaan barang modal berpengaruh terhadap tingkat output total. Persediaan barang modal berpengaruh terhadap tingkat output total dapat secara langsung, sedangkan stok modal berpengaruh terhadap tingkat output total secara tidak langsung.

b. Total Pertumbuhan Penduduk

(28)

10

dibandingkan dengan standar upah subsisten, maka jumlah penduduk akan menurun.

Adam Smith berpendapat bahwa tingkat upah yang tinggi dan meningkat apabila cepatnya pertumbuhan akan permintaan tenaga kerja daripada penawaran tenaga kerja. Namun persediaan barang modal dan tingkat output masyarakat sebagai penentu permintaan akan tenaga kerja. Jadi dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan persediaan barang modal dan laju pertumbuhan output menentukan laju pertumbuhan permintaan akan tenaga kerja.

1.2. Teori W. W. Rostow

Dalam buku The Stages of Economic, A Non Comunist Manifesto, Rostow menggunakan pendekatan sejarah dalam menjabarkan bagaimana proses perkembangan atau pertumbuhan ekonomi yang terjadi di masyarakat. Menurut Rostow, proses pertumbuhan ekonomi di masyarakat berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu:

Tahap 1. Perekonomian Tradisional

Perekonomian pada masyarakat tradisional cenderung bersifat subsisten. Pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi masih sangat terbatas. Dalam perekonomian semacam ini sektor pertanian memegang penting. Kemampuan penguasaan sumberdaya yang ada sangat dipengaruhi oleh hubungan darah dan keluarga.

Tahap II. Prakondisi Tinggal Landas

(29)

11

pertanian yang masih memegang peranan penting dalam perekonomian. Pada tahap ini, perekonomian mulai bergerak dinamis, industri-industri bermunculan, perkembangan teknologi yang pesat, dan lembaga keuangan resmi sebagai penggerak dana masyarakat mulai bermunculan, serta terjadi investasi besar- besaran terutama pada industri manufaktur.

Tahap III. Tinggal Landas

Tinggal landas merupakan tahap yang menentukan dalam keseluruhan proses pembangunan bagi kehidupan masyarakat. Tahap ini memiliki waktu yang cukup pendek. Dalam tahap ini akan terjadi suatu revolusi industri yang berhubungan erat dengan revolusi metode produksi.

Tahap IV. Tahap Menuju Kedewasaan

Tahap ini ditandai dengan penerapan secara efektif teknologi modern terhadap sumberdaya yang dimiliki. Tahapan ini merupakan tahapan jangka panjang di mana produksi dilakukan secara swadaya. Tahapan ini juga ditandai dengan munculnya beberapa sektor penting yang baru. Pada saat negara berada pada tahap kedewasaan teknologi, terdapat tiga perubahan penting yang terjadi: (1) Tenaga kerja berubah dari tidak terdidik menjadi terdidik; (2) Perubahan watak pengusaha dari pekerja keras dan kasar berubah menjadi manager efisien yang halus dan sopan; (3) Masyarakat jenuh terhadap industrialisasi dan menginginkan perubahan lebih jauh.

(30)

12

menuju ke pendekatan permintaan (demand side) dalam sistem produksi yang dianut. Sementara itu terjadi pula pergeseran perilaku ekonomi yang semula lebih banyak menitikberatkan pada sisi produksi, kini beralih ke sisi konsumsi.

1.3. Teori Pertumbuhan Neo Klasik (Solow-Swan)

Menurut teori ini, pertumbuhan ekonomi tergantung kepada pertambahan penyediaan faktor-faktor produksi (penduduk, tenaga kerja, dan akumulasi modal). tingkat kemajuan teknologi. Teori neoklasik berpendapat bahwa rasio modal output bisa berubah. untuk menciptakan sejumlah output tertentu, bisa digunakan jumlah modal yang berbeda dengan bantuan tenaga kerja yang jumlahnya berbeda, sesuai dengan yang dibutuhkan (Arsyad, 1997). Teori pertumbuhan neoklasik menghitung pertumbuhan output sebagai fungsi pertumbuhan input, terutama modal dan tenaga kerja. Faktor modal dan tenaga kerja dapat dikombinasikan dalam berbagai model kombinasi, sehingga dapat dituliskan dalam rumus sebagai berikut

= ( , , , )

Keterangan: g = growth f = fungsi k = Capital TK = Tenaga Kerja t = Teknologi

2. Konsep Gender

(31)

13

luas masyarakat di berbagai forum, baik yang bersifat akademis maupun non-akademis ataupun dalam diskursus pembuatan kebijakan (law making process).

Konsep gender tidak merujuk kepada jenis kelamin tertentu (laki-laki atau perempuan).

Berbeda dengan jenis kelamin, gender merupakan konsep yang dipergunakan untuk menggambarkan peran dan relasi sosial laki-laki dan perempuan. Gender merumuskan peran apa yang seharusnya melekat pada laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Konsep inilah yang kemudian membentuk identitas gender atas laki-laki dan perempuan yang diperkenalkan, dipertahankan, dan disosialisasikan melalui perangkat-perangkat sosial dan norma hukum yang tertulis maupun tidak tertulis dalam masyarakat.

Menurut Eitzen, ada 2 penyebab munculnya ketimpangan gender, yaitu (Mulyono, 2006) :

a. Pandangan Teori Materialis

Teori materialis menjelaskan ketimpangan gender sebagai sebuah outcome tentang bagaimana perempuan dan laki-laki diikat terhadap kepada ekonomi masyarakat. Maksudnya adalah perempuan dihargai dengan upah yang lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan perempuan : (1) kalah kuat secara fisik dibanding laki-laki, dan (2) perempuan secara fisik memiliki tugas-tugas sosial yang lebih banyak dibanding laki-laki. Teori ini menekankan kontrol dan distribusi sumber daya yang bernilai sebagai fakta yang krusial dalam menghasilkan stratifikasi.

b. Pembedaan antara pekerjaan domestik dan public

(32)

14

jawabnya pada pekerjaan domestik membuatnya terbatas untuk mengakses sumber daya yang bernilai tinggi.

3. Ketimpangan Gender di Bidang Pendidikan

Kesenjangan pada bidang pendidikan telah menjadi faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap bidang lain di Indonesia, hampir semua sektor, seperti lapangan pekerjaan, jabatan, peran di masyarakat, sampai pada masalah menyuarakan pendapat antara laki-laki dan perempuan. Penyebab ketimpangan gender adalah karena faktor kesenjangan pendidikan yang belum setara. Dengan rendahnya tingkat pendidikan penduduk yang berjenis kelamin perempuan maka, secara otomatis perempuan belum berperan secara maksimal.. Perbedaan gender tidaklah menjadi sebuah masalah yang krusial seandainya perbedaan itu tidak menimbulkan ketidakadilan. Namun justru sebaliknya, melahirkan ketidakadilan terhadap kaum perempuan, kekerasan dan sebagainya. Melalui pendidikan , diharapkan dunia yang tanpa kekerasan dan tanpa penindasan terhadap kaum perempuan ini dapat terwujud, karena pendidikan adalah proses memanusiakan manusia dalam arti seluas-luasnya.

Ketimpangan gender di bidang pendidikan dapat diartikan sebagai suatu kesenjangan antara kondisi gender sebagaimana yang dicita-citakan (kondisi normatif) dengan kondisi gender sebagaimana adanya (kondisi objektif) di bidang pendidikan (Menteri Negara Peranan Wanita, 1998).

(33)

15

alat untuk mentransformasikan nilai-nilai yang diharapkan berguna dalam kehidupan bermasyarakat. Negara menjamin bahwa setiap warga negara (perempuan dan laki-laki) mempunyai kesamaan hak dan kewajiban yang sama untuk memperoleh pendidikan. Untuk menyukseskan pembangunan, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi.Untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, diperlukan pendidikan yang tinggi pula. Mengikutsertakan laki-laki dan perempuan dalam pembangunan, berarti memanfaatkan sumber daya insani yang potensial dalam pembangunan dan merupakan tindakan yang efisien dan efektif. Apalagi didukung dengan kualitas sumber daya manusia yang tinggi di bawah latar belakang pendidikan yang tinggi pula. Sumber daya manusia yang berkualitas rendah akan merupakan beban bagi pembangunan.

Dikemukakan oleh Bemmelen (2003), ketimpangan gender di bidang pendidikan dapat dilihat dari indikator kuantitatif: (1) angka buta huruf, (2) angka partisipasi sekolah, (3) pilihan bidang studi. Bentuk ketimpangan gender di bidang pendidikan. Dikemukakan oleh Bemmelen (2003), ketimpangan gender di bidang pendidikan dapat dilihat dari beberapa indikator kuantitatif yaitu Angka Melek Huruf, Rata-Rata Lama Sekolah, dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja.

3.1. Angka buta huruf

(34)

16

3.2. Angka partisipasi sekolah

Ada tiga alasan pokok yang menyebabkan ketimpangan gender yaitu

a. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal maka semakin terbatas pula jumlah sekolah.

b. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin tinggi pula biaya yang diperlukan.

c. Investasi pendidikan formal bagi perempuan kerap kali tidak banyak dirasakan oleh orang tua, karena anak perempuan setelah menikah akan menjadi anggota keluarga suaminya

3.3. Pilihan bidang studi

Kaum laki-laki lebih dominan dalam memilih jurusan dan mempelajari keterampilan pada bidang kejuruan teknologi dan industri seolah-olah secara khusus kaum laki-laki dipersiapkan untuk menjadi pemain utama dalam dunia produksi. Sementara itu, perempuan lebih dipersiapkan untuk melaksanakan peran pembantu, misalnya ketatausahaan dan teknologi kerumah-tanggaan.

Faktor-faktor penentu ketimpangan gender di bidang pendidikan Faktor-faktor penentu ketimpangan gender di bidang pendidikan meliputi:

1) Masalah lama, dilihat dari latar belakang sejarah, sejak dulu dari masa ke masa atau dari generasi ke generasi, perempuan selalu lebih sulit mendapatkan akses ke dalam pendidikan formal.

(35)

17

anak perempuan di dalam memberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan formal.

4. Ketimpangan Gender dibidang Ketenagakerjaan

Khotimah (2009) menyatakan bahwa struktur angkatan kerja perempuan memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Dengan demikian, sebagian besar perempuan masih berkiprah di sektor informal atau pekerjaan yang tidak memerlukan kualitas pengetahuan dan keterampilan canggih atau spesifik. Pekerjaan perempuan di sektor informal biasanya kurang memberikan jaminan perlindungan secara hukum dan jaminan kesejahteraan yang memadai, di samping kondisi kerja yang memprihatinkan serta pendapatan yang rendah.

5. Hubungan Ketimpangan Gender dengan Pertumbuhan Ekonomi Hubungan ketimpangan gender dengan pertumbuhan ekonomi telah banyak menjadi objek penelitian di berbagai negara. Laporan World Bank (2005), menyatakan bhawa biaya disparitas gender tinggi, karna disparitas gender tidak hanya mengurangi kesejahteraan perempuan, tetapi juga mengurangi kesejahteraan laki-laki dan anak-anak dan menghalangi pembangunan ekonomi. Rendahnya tingkat pendidikan akan menyebabkan human capital menjadi rendah pula.

Seguino (2008), menyatakan beberapa argumentasi yang menjelaskan ketimpangan gender dapat berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi antara lain:

(36)

18

perempuan yang pada akhirnya akan mengurangi tingkat pengembalian investasi sektor pendidikan.

2. Adanya eksternalitas dari pendidikan kaum wanita bagi penurunan tingkat fertilitas dan mendorong pendidikan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Penurunan fertilitas memberikan eksternalitas positif bagi penurunan angka beban ketergantungan dalam angkatan kerja.

3. Pemerataan kesempatan dalam sektor pendidikan dan pekerjaan bagi setiap gender memberikan dampak positif bagi kemampuan bersaing suatu negara dalam perdagangan internasional.

Penelitian Terdahulu

Adanya penelitian terdahulu yang telah dilakukan sebelumnya berkaitan dengan penelitian ini. Penelitian-penelitian tersebut membahas hanya sebagian dari variabel yang digunakan oleh penulis. Dan dapat digunakan sebagai bahan refrensi peneliti untuk membandingkan beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan judul penelitian. Berikut beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul penelitian:

(37)

19

ketimpangan gender yang diwakili proksi GII tidak sekuat proksi dari indeks pembangunan gender lain.

2. Penelitian dari Simanjuntak (2008), tentang Analisis Pengaruh Ketidaksetaraan Gender terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Tahun 1985, 1995, dan 2005. Penulis menggunakan variabel PDRB per kapita, investasi, populasi, education inequality, labor inequality. Analisis yang digunakan adalah Regresi data panel dengan Generalized Least Square (GLS). . Hasil yang di peroleh dari penelitian ini adalah Pertumbuhan investasi di setiap Provinsi di Indonesia untuk tahun 1985, 1995, dan 2005 mempunyai pengaruh yang positif namun tidak signifikan terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi. Tingkat pertumbuhan populasi di setiap propinsi di Indonesia untuk tahun 1985, 1995, dan 2005 mempunyai pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketidaksetaraan gender dalam bidang pendidikan dan bidang ketenagakerjaan untuk tahun 1985, 1995, dan 2005 memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di masing-masing propinsi di Indonesia.

(38)

20

Ketimpangan dalam ketenagakerjaan menunjukkan kualitas penjelas yang paling tinggi dan ketimpangan dalam kesehatan tidak mendapatkan hasil yang signifikan. Model yang diterapkan tidak mampu untuk menunjukkan hasil statistik yang berkualitas. Dimungkinkan bahwa variabel eksogen yang mempengaruhi pertumbuhantidak dimasukkan ke dalam persamaan.

4. Penelitian dari Harahap (2014), tentang Analisis Pengaruh Ketimpangan Gender Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Tengah. Dalam penelitiannya penulis menggunakan variabel indeks pembangunan manusia, indeks pembangunan gender, gender inequality index, pertumbuhan ekonomi, rasio angka harapan hidup laki-laki dan perempuan, rasio lama rata-rata sekolah laki-laki dan perempuan, rasio tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki dan perempuan. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian adalah statistik deskriptif dan regresi data panel. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah Ketimpangan gender yang terjadi tidak sesuai dengan teori yang ada di sebutkan bahwa ketimangan gender yang kecil akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di suatu daerah, akan tetapi keadaan yang terjadi adalah ketimpangan gender tidak selalu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi saja, ada juga daerah yang ketimpangan gender yang besar namun pertumbuhan ekonominya juga besar, semua itu di lihat dari tingkat pendidikan, kesehatan, ketenaga kerjaan antara laki-laki dan perempuan.

(39)

21

variabel Population growth rate, Average of exports plus imports as share of GDP Labor force growth rate, Level of fertility Under five mortality rate, Life expectancy measured in years, Number of year of schooling for the male population, Number of year of schooling for the population, Absolute growth in male years of schooling, Absolute growth in total years of schooling.

Alat analisis yang digunakan adalah Analisis cross section dan regresi data panel. Hasil yang diperoleh Ketimpangan gender dalam pendidikan juga menurunkan pertumbuhan ekonomi di tahun 1990-an. Penemuan dari penelitian sebelumnya menggunakan data sampai tahun 1990 sebagian besar dikonfirmasi melalui analisis yang diperluas ini. Ketimpangan gender dalam pendidikan di Timur Tengah dan Afrika Utara dan Asia Selatan terus mengganggu pertumbuhan di wilayah tersebut, tetapi dengan mengurangi jumlah. Hal ini disebabkan oleh tingkat ketimpangan gender dalam pendidikan menurun tajam dalam 2 dekade. Analisis panel menunjukkan bahwa ketidaksetaraan dalam ketenagakerjaan memiliki dampak negatif yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi

6. Kerangka Pemikiran

(40)

22

Ketimpangan gender di Provinsi Lampung diukur melalu perbandingan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG).

Pengaruh ketimpangan gender dari pendidikan, dan ketenagakerjaan terhadap pertumbuhan ekonomi menggunakan variabel-variabel dari dua pendekatan tersebut. Variabel-variabel diperoleh dari indikator–indikator dua pendekatan ketimpangan gender yang dianggap layak dan mewakili pengaruh ketimpangan gender terhadap pertumbuhan ekonomi.

Variabel pendidikan yang selama ini digunakan adalah angka partisipasi sekolah atau angka buta huruf. Dalam penelitiannya, Klasen dan Lamanna (2008), menggunakan rasio rata-rata lama sekolah perempuan dan laki-laki serta angka melek huruf perempuan dan laki-laki. Sehingga dalam penelitian ini, rasio rata-rata lama sekolah perempuan dan laki-laki digunakan sebagai variabel yang mewakili ketimpangan gender dari sisi pendidikan.

Tingkat partisipasi angkatan kerja dalam angkatan kerja digunakan sebagai proxy ketenagakerjaan. Walaupun tingkat partisipasi angkatan kerja sebanding dengan jumlah tenaga kerja, hal ini dapat dihindari dengan model panel fixed effects yang digunakan dalam penelitian Klasen dan Lamanna. Sehingga pada penelitian yang akan dilakukan, variabel yang digunakan adalah rasio Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan dan laki-laki sebagai variabel ketimpangan gender dari sisi ketenagakerjaan.

(41)

23

[image:41.595.110.529.336.512.2]

diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Upaya pembangunan tersebut ditujukan untuk seluruh penduduk tanpa membedakan jenis kelamin, suku, dan agama. Namun, pada pelaksanaan upaya tersebut masih mengabaikan permasalahan kesetaraan dan keadilan gender terdapat kesenjangan antara peran laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan penerima hasil pembangunan. Peran kaum perempuan dalam pelaksanaan program pembangunan masih belum dimanfaaatkan secara optimal. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya kualitas sumber daya perempuan baik dalam bidang pendidikan dan tenaga kerja.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Hipotesis Penelitian

1. Variabel angka melek huruf perempuan dan laki-laki diduga berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung

2. Rata-rata lama sekolah perempuan dan laki-laki diduga berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Propinsi Lampung.

3. Variabel rasio tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan dan laki-laki diduga berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Propinsi Lampung.

1. Rasio AMH Perempuan dan Laki-laki

2. Rasio MYS Perempuan dan Laki-laki (RMYS)

1. Rasio TPAK Perempuan dan Laki-laki (RTPAK)

(42)

III. METODE PENELITIAN

A. Variabel Penelitian

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk melihat pengaruh ketimpangan gender terhadap pertumbuhan ekonomi. Dalam penelitian ini pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung merupakan variabel dependen, variabel independennya terdiri dari angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, serta ketimpangan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) masyarakat di Provinsi Lampung.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di 15 Kabupaten/Kota dan kurun waktu (time-series) dari Tahun 2011 hingga 2015 kmenggunakan waktu dan data terbaru.

C. Metode Pengambilan Sampel

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan metode kepustakaan (library search), yaitu penelitian yang dilakukan dengan bahan-bahan kepustakaan berupa tulisan - tulisan ilmiah dan laporan-laporan penelitian ilmiah yang memiliki hubungan dengan topik yang diteliti.

D. Jenis dan Sumber Data

(43)

25

Menurut Hasan (2002), data sekunder merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. Data sekunder yang digunakan penulis dalam penelitian ini merupakan data panel yaitu gabungan dari data deret lintang (cross-section) sebanyak 15 Kabupaten/Kota dan kurun waktu (time-series) dari tahun 2011 hingga 2015. Penulis memilih tahun 2011 hingga 2015 dikarenakan terdapat fluktuasi ketimpangan gender dan penurunan pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut. Adapun sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung

E. Definisi Operasional Variabel

Dalam definisi operasional variabel-variabel menjelaskan seluruh variabel yang digunakan. Variabel penelitian adalah suatu atribut atau nilai dari orang, obyek, kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Untuk menimbulkan keterikatan dalam penelitian, dibutuhkan suatu alat ukur yang biasa dikenal dengan isitilah variabel. Variabel inilah yang saling memengaruhi satu dengan lainnya. Berikut ini adalah penjelasan lebih rinci mengenai masing-masing variabel opersional:

Variabel Dependen (Y)

1. Pertumbuhan Ekonomi

(44)

26

satuan dari pertumbuhan ekonomi ini adalah persen. Berikut ini adalah rumus untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi Sukirno (2007) :

PDRB =PDRBt − PDRBt − 1PDRBt − 1 x 100%

Keterangan:

PDRB = Laju pertumbuhan ekonomi PDRBt = PDRB pada tahun t

PDRBt-1 = PDRB pada tahun sebelumnya

Variabel Independen (X)

1. Ketimpangan Gender Rata-rata Lama Sekolah( )

Rata-rata Lama Sekolah (RLS)/ Mean Years School (MYS) didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Merupakan rasio perhitungan dari rata lama sekolah perempuan di bagi rata-rata lama sekolah laki-laki dan dikalikan seratus persen, satuan dalam persen. Variabel ini menggambarkan ketimpangan gender dalam pendidikan. Rasio pendidikan tersebut dihitung dari perbandingan rata-rata lama sekolah antara perempuan dan laki-laki dengan menggunakan satuan persentase.

MYS = ∑ Lama sekolah penduduk ke − i

Dengan :

P = Jumlah Penduduk Berusia 15 Tahun ke atas

2. Ketimpangan Gender Angka Melek Huruf( )

(45)

27

informasi, menambah pengetahuan dan ketrampilan, memudahkan komunikasi, serta mempromosikan pemahaman yang lebih baik sehingga penduduk tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup diri, keluarga, maupun negaranya di berbagai bidang kehidupan;

- Dapat digunakan sebagai tolok ukur target perencanaan dan evaluasi program pemberantasan buta huruf;

- Digunakan untuk mengevaluasi program pemberantasan buta huruf;

- Digunakan untuk mengevaluasi program pemberantasan kemiskinan, program pembangunan di bidang kesehatan dan program pembangunan manusia lainnya;

Digunakan untuk mengidentifikasi jenis media informasi dan komunikasi yang dapat diakses masyarakat.

AMH 15+ = x 100 %

a = Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang dapat membaca & menulis b = Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas

3. Ketimpangan Gender Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja( )

(46)

28

kerja terhadap penduduk usia kerja antara perempuan dan laki-laki. Satuan yang digunakan adalah persentase.

TPAK = Jumlah Penduduk 15 tahun keatas x 100Jumlah Angkatan Kerja

4. Tenaga Kerja( )

Tenaga kerja terdiri dari orang-orang berusia 15 tahun lebih yang memasok tenaga kerja untuk produksi barang dan jasa selama periode tertentu. Data tenaga kerja berasal dari BPS Satuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah persen (%) dengan rumusan :

× 100%

Sehingga diperoleh hasil satuan dalam bentuk persen (%).

5. Initial Growth (X6)

[image:46.595.114.528.559.748.2]

Initial Growth merupakan data pertumbuhan ekonomi yang diambil dari satu tahun sebelum penelitian. Satuan yang digunakan adalah %. Data diperoleh dari BPS untuk Provinsi Lampung tahun 2011-2015.

Tabel 3.1 Deskriptif Data

Nama Variabel Simbol Satuan

Pengukuran

Sumber Data

Pertumbuhan Ekonomi (Y) G Persen BPS

Ketimpangan Gender Angka

Melek Huruf( ) KA Persen BPS

Ketimpangan Gender Rata-rata

Lama Sekolah( ) KR Persen BPS

Ketimpangan Gender Tingkat

Partisipasi Angkatan Kerja( ) KT Persen

BPS

Tenaga Kerja( ) TK Persen BPS

(47)

29

F. Metode Analisis

Instrumen analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode data panel (panel data),

1. Regresi Data Panel

Menurut Wibisono (2005) data panel adalah kombinasi dari data time series dan cross section. Data time series adalah merupakan data yang disusun berdasarkan urutan waktu, seperti data harian, bulanan, kuartal atau tahunan. Sedangkan data cross section merupakan data yang dikumpulkan pada waktu yang sama dari beberapa daerah, perusahaan atau perorangan. Penggabungan kedua jenis data dapat dilihat bahwa variabel terikat pertumbuhan ekonomi tediri dari beberapa unit perusahaan (cross section), namun dalam berbagai periode waktu (time series). Data yang seperti inilah yang disebut dengan data panel. Dalam analisis

model data panel dikenal tiga pendekatan yang terdiri dari Efek Sederhana/Umum (common effect), Efek Tetap (fixed effect), dan Efek Acak (random effect). Data panel memiliki beberapa kelebihan dibandingkan menggunakan data runtut waktu (time series) atau lintas individu (cross section)

Menurut Baltagi (2005), penggunaan data panel memiliki beberapa keunggulan antara lain:

1. Mengendalikan heterogenitas individu. Data panel menunjukkan bahwa individu, perusahaan, propinsi atau negara adalah heterogen. Penelitian runtut waktu dan kerat silang tidak mengontrol heterogenitas tersebut sehingga beresiko untuk memperoleh hasil yang bias.

(48)

30

3. Data panel lebih mampu mempelajari perubahan dinamis dibandingkan dengan observasi cross-section yang berulang-ulang.

4. Data panel lebih baik dalam mendeteksi dan mengukur efek yang secara sederhana tidak dapat dideteksi oleh data time-series dan cross section

5. Model data panel memungkinkan untuk membangun dan menguji model perilaku yang lebih rumit daripada data time-series dan cross-section.

G. Alat Analisis

Analisis pengaruh ketimpangan gender terhadap pertumbuhan ekonomi menggunakan metode regresi data panel.

Berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, Levine dan Renelt (1992), menjelaskan bahwa population growth menentukan tingkat kemakmuran ekonomi. Selanjutnya human capital atau kualitas sumber daya manusia terkait secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga modal manusia merupakan salah satu faktor penting dalam proses pertumbuhan ekonomi. Dengan modal manusia yang berkualitas kinerja ekonomi diyakini juga akan lebih baik. Kualitas modal manusia ini akan didekati dengan menggunakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) karena IPM menunjukan kualitas manusia dari beberapa aspek yaitu aspek pendidikan, kesehatan dan aspek ekonomi (kemampuan daya beli).

Model pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh Levine dan Renelt (1992), dengan model persamaan sebagai berikut:

( = + + + … … … )

Keterangan :

Y = Pertumbuhan Ekonomi,

(49)

31

A = variabel yang harus dimasukan dalam fungsi pertumbuhan = Error term

β012= Koefisien regresi dari masing-masing variabel yang mempengaruhi Berdasarkan pertimbangan diatas maka dalam penelitian ini persamaan model yang digunakan adalah :

= + + + + + + + ε

G = Pertumbuhan Ekonomi (Growth) Provinsi Lampung KA = Ketimpangan Gender Angka Melek Huruf

KR = Ketimpangan Gender Rata-rata Lama Sekolah

KT = Ketimpangan Gender Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja DM = Variabel Dummy

TK = Tenaga Kerja

= Pertumbuhan ekonomi per kapita tahun sebelumnya = Konstanta

− = Koefisien

i = 1,2,..n, menunjukan jumlah lintas individu (cross section) t = 1,2,..n, menunjukan runtun waktu (time series)

ε = Residual (error term)

H. Tahapan Analisis

1. Metode Estimasi Regresi Data Panel

Estimasi menggunakan data panel umumnya menggunakan salah satu dari tiga metode perhitungan, yaitu metode Common Effect (CEM), metode Fixed Effect (FEM), dan metode Random Effect (REM). Ketiga metode tersebut sangat berbeda satu sama lain. (Gujarati dan Porter, 2009)

a. Metode Common Effect

(50)

32

b. Fixed Effect Model

Model yang mengasumsikan adanya perbedaan intersep di dalam persamaan dikenal dengan model regresi Fixed Effect. Teknik model Fixed Effect adalah teknik mengestimasi data panel menggunakan variabel dummy untuk menangkap adanya perbedaan intersep (Greene, 2000) Pengertian Fixed Effect ini didasarkan adanya perbedaan intersep, namun intersepnya sama antar waktu. Model estimasi ini seringkali disebut dengan teknik Least Squares Dummy Variables (LSDV).

c. Random Effect Model

Dalam menjelaskan random effect, parameter-parameter yang berbeda antar daerah maupun antar waktu dimasukkan ke dalam error (Greene, 2000). Pendekatan yang dipakai dalam random effect mengasumsikan setiap perusahaan mempunyai perbedaan intersep, yang mana intersep tersebut adalah variabel random atau stokastik. Model ini sangat berguna jika individu (entitas) yang diambil sebagai sampel adalah dipilih secara random dan merupakan wakil populasi. Teknik ini juga memperhitungkan bahwa error mungkin berkorelasi sepanjangcross section dan time series.

2. Langkah Penentuan Metode Regresi Data Panel

(51)

33

a. Uji Chow

Uji Chow test digunakan untuk mengetahui apakah teknik regresi data panel dengan fixed effect lebih baik daripada model regresi data panel common effect (Greene, 2000). Adapun langkahnya dengan melihat koefisien determinasi (R2) dan nilai DW-statistics. Nilai yang tinggi dari kedua pengujian tersebut akan mengindikasikan pemilihan model terbaik, apakah menggunakan metode Common Effect atau Fixed Effect. Adapun hipotesis dari pengujian restricted F-Test yaitu:

H0: Model Common Effect (restricted) . . . menerima H0 Ha: Model Fixed Effect (unrestricted) . . . menolak H0

b. Uji Hausman

Uji Hausman digunakan untuk membandingkan apakah fixed effect model atau random effect model yang lebih sesuai. Ho dari uji Hausman yaitu random effect dan sedangkan Hi yaitu fixed effect. Statistik uji Hausman mengikuti distribusi Chi Square dengan degree of freedom sebanyak jumlah variabel bebas dari model. Jika nilai statistik Hausman lebih besar daripada nilai kritisnya maka model yang tepat adalah model fixed effect dan sebaliknya (Greene, 2000).

3. Uji Hipotesis

(52)

34

diuji. Ada dua jenis uji hipotesis terhadap koefisien regresi yang dapat dilakukan, yaitu:

a. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t )

Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Uji t dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan nilai t tabel (Gujarati, 2003). Hipotesis uji t sebagai berikut:

Pengujian ini berdasarkan pada nilai yang bernilai positif dan negatif. Kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut:

H0ditolak dan Haditerima, jika t-hitung > t-tabel ; t-hitung < t-tabel H0diterima dan Haditolak, jika t-hitung < t-tabel ; t-hitung> t-tabel

Dalam penelitian ini, uji-t adalah sebagai berikut:

1. H0 : β1 = 0, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel ketimpangan gender angka harapan hidup perempuan dan laki-laki terhadap variabel pertumbuhan ekonomi

Ha: β1≠ 0, terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel ketimpangan gender angka harapan hidup perempuan dan laki-laki terhadap variabel pertumbuhan ekonomi.

2. H0 : β2 = 0, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variable ketimpangan gender rata- rata lama sekolah perempuan dan laki-laki terhadap variabel pertumbuhan ekonomi

(53)

35

3. H0 : β3 = 0, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel ketimpangan gender tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan dan laki-laki terhadap variabel pertumbuhan ekonomi

Ha: β3≠ 0, terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel ketimpangan gender tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan dan laki laki terhadap variabel pertumbuhan ekonomi.

Dengan tingkat signifikan 5%, jika nilai t hitung < t tabel maka H0 diterima dan nilai t hitung > t tabel H0ditolak.

Jika nilai t-hitung > nilai t-tabel maka 0 ditolak atau menerima H a artinya

variable bebas berpengaruh signifikan terhadap variable terikat

Jika nilai t-hitung nilai < nilai t-tabek maka o diterima atau menolak a Artinya

variable bebas tidak berpengaruh terhadap variable terikat

b. Uji F (Simultan)

Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen secara bersama-sama (simultan) dapat berpengaruh terhadap variabel dependen (Gujarati, 2003). Perumusan hipotesisnya adalah:

- H0: β1, β2, β3, β4= 0

Artinya seluruh variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

- Ha: β1, β2, β3, β4≠0

Artinya seluruh variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Kriteria pengujiannya adalah :

(54)

36

jika F-hitung < F-tabel.

c. Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determiniasi menunjukkan variasi dari variabel dependen mampu dijelaskan oleh variasi dari variabel independennya. Nilai R2 mempunyai rentang nilai 0 sampai dengan 1, dan jika nilainya mendekati 1 maka semakin baik.

[image:54.595.141.515.365.486.2]

Semakin besar koefisien determinasi menunjukkan bahwa semakin besar pula variasi variabel bebas dalam membentuk variabel terikat. Berikut pedoman dalam memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi:

Tabel 4. Interpretasi Berdasarkan Koefisien Determinasi (R2)

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0.001–0.200 Sangat Lemah

0.201–0.400 Lemah

0.401–0.600 Cukup Kuat

0.601–0.800 Kuat

0.801–1.000 Sangat Kuat

(55)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Rata-rata lama sekolah berpengaruh signifikan terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi di 15 (lima belas) Kabupaten di Provinsi Lampung periode 2011-2015.

2. Angka Melek Huruf berpengaruh tidak signifikan terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi di 15 (lima belas) Kabupaten di Provinsi Lampung periode 2011-2015.

3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi di 15 (lima belas) Kabupaten di Provinsi Lampung periode 2011-2015.

4. Tingkat Tenaga Kerja berpengaruh signifikan terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi di 15 (lima belas) Kabupaten di Provinsi Lampung periode 2011-2015.

5. Initial Growth berpengaruh signifikan terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi di 15 (lima belas) Kabupaten di Provinsi Lampung periode 2011-2015.

B. Saran

(56)

55

1. Untuk menyelesaikan permasalahan gender secara lebih efektif, kegiatan-kegiatan sosialisasi atau pelatihan gender maupun bentuk-bentuk kegiatan-kegiatan lainnya dikalangan aparat dan masyarakat perlu melibatkan kedua belah pihak, perempuan dan laki-laki secara bersama-sama. Dengan meningkatkan kesetaraan dan keadilan gender diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kearah yang lebih baik

2. Bagi daerah yang masih jauh dari kesetaraan gender, baik dibidang pendidikan dan ketenagakerjaan, agar lebih peduli dan melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang masih bias gender dari pemerintah daerah yang merupakan wujud adanya kesadaran, kepekaan dan respon yang kuat dalam mendukung kesetaraan dan keadilan gender.

3. Pemerintah sebaiknya mengadakan pelatihan-pelatihan kepada calon angkatan kerja, khususnya angkatan kerja informal di 15 (lima belas) kabupaten di provinsi Lampung. Sehingga para angkatan kerja informal ini memiliki kemampuan yang memadai untuk menggunakan sarana dan prasarana yang dapat menunjang peningkatan produktifitas, dan pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

(57)

56

(58)

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Alfi. 2017.“Pengaruh Pendidikan, Pengangguran, dan Ketimpangan Gender terhadap Kemiskinan di Sumatra Utara”Skripsi Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam Al Ulum Terpadu Medan.

Baron, (Alih bahasa Ratna Juwita). 2000. Psikologi Sosial. Bandung: Khazanah Intelektual.

Barro, Robert J., Dan Long Wha Lee., 1996. International Measurs Of Schooling Years And Schooling Quality,“American Economic Review”, Vol. 86. Bemmelen, Sita Van. 2003. Konsep Gender dan Isu Gender di Bidang

Pendidikan.Semiloka Gender untuk Para Guru/Pendidik Kabupaten/Kota se Bali.

Badan Pusat Statistika, 2015“Indeks Pembangunan Gender”

http://www.lampung.bps.go.id/ diakses tanggal 16 Desember 2017. __________________, 2015 “Lampung Dalam Angka”

http://www.lampung.bps.go.id/ diakses tanggal 16 Desember 2017.

__________________, 2015 “Seri Analisis Pembangunan Wilayah Provinsi Lampung”http://www.lampung.bps.go.id/ diakses tanggal 16 Desember 2017. Dollar D, Gatti R. 1999. “Gender Inequality, Income and Growth: Are Good

Times Good for Women?” Mimeograph, World Bank, Washington,

Echols, Hassan (1983). “Kamus Inggris Indonesia”Jakarta : Gramedia. Erma, Aktaria, (2002). “Ketimpangan Gender dalam Pertumbuhan Ekonomi”

Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Farida, 2010. “Ketimpangan Gender dibidang Pendidikan”dalam

http://farida223.blogspot.co.id/2010/10/ketimpangan-gender-di-bidang-pendidikan_21.html diakses tanggal 15 Desember 2017.

(59)

Global Gender Gap, 2016. “Global Gender Gap Index 2016” dalam

http://reports.weforum.org/global-gender-gap-report-2016/rankings/ di download tangga 16 Desember 2017.

Gujarati, Damodar. 2003. Ekonometrika Dasar. Jakarta : Erlangga.

Ichsanti. “5 Teori Pertumbuhan Ekonomi (Klasik, Neo Klasik, Adam smith, Schumpeter) dalam http://www.akuntansilengkap.com/ekonomi/teori-pertumbuhan-ekonomi/ diakses tanggal 17 Desember 2017

Jin, 2000. “Openness And Growth. An Interpretation Of Empirical From East Asian Countries, Journal Of International Trade And Economic

Development 9:1 5-17

Kartika, 2014. “Hubungan Kesetaraan Gender dengan Teknologi dan Informasi (Manajemen Sumber Daya)”dalam

http://ichasarsono.blogspot.co.id/2014/01/hubungan-kesetaraan-gender-dengan.html diakses 14 desember 2017

Kemenpppa, 2017. “Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan”dalam https://www.kemenpppa.go.id/index php/page/read/31/1439/mencapai-kesetaraan-gender-dan-membe rdayakan-kaum-perempuan diakses tanggal 15 Desember 2017. Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 2015.

“Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2015” dalam

https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/24/1014/pembangunan-manusia-berbasis-gender-tahun-2015 diakses tanggal 16 Desember 2017. Khotimah, Khusnul. 2009.“Diskriminasi Gender Terhadap Perempuan Dalam

Sektor Pekerjaan”Journal Studi Gender dan Anak

Klasen, Stephen dan Fransesca Lamanna. 2008. The Impact of ender Inequality in Education and Employment on Economic Growth in Developing Countries: Updates and Extensions. “ Feminist Econimics”, Vol. 15.

Kompasiana, 2014. “Lampung Sebagai Kawasan Ekonomi Strategis”dalam https://www.kompasiana.com/sahabat.erwin/lampung-sebagai-kawasan-ekonomi-strategis_54f9873ba333116d788b46fd diakses tanggal 16 Desember 2017.

Levine, R. 1997.“Finance Development and Economic Growth : Views and Agenda”Journal of Economic Literatur.

(60)

Mansour Fakih,1996“Analisis Gender dan Transformasi Sosial” Jakarta : Pustaka Pelajar.

Menteri Negara Peranan Wanita. 1998. Jender dan Permasalahannya. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Jakarta.

Pritchett, Lant. 2000.Where Has All The Education Gone?. “Working Paper No.1581, Policy Research Department”. World Bank And Kennedy School Of Goverment

Priyadi, U., Astuti. 2003.“Ekonomi Pembangunan Tingkat Kesetaraan Gender” Jurnal Pembangunan Vol. 8 No.1

Rahmawati, (2004).“Persepsi Remaja tentang Konsep Maskulin dan Feminim Dilihat dari Beberapa Latar Belakangnya”Skripsi pada Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Rahmi, (2014) tentang Analisis Pengaruh Ketimpangan Gender Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Tengah. Skripsi. Universitas Diponegoro.

Retno, 2008. “Kesetaraan Gender Dan Pemberdayaan Perempuan Dalam Masyarakat Teknologi Informasi Dan Komunikasi ( Gender & Tik )”

Samosir, O.B., Toersilaningsih, R. 2004 .“Hubungan Kesetaraan Gender, Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi”

Saputra, Bayu. 6 Juli 2017. “Duduki Peringkat 27, Lampung Jeblok Masalah Pendidikan Tribun Lampung”dalam http://lampung.tribunnews.

com/2017/07/06/duduki-peringkat-27-lampung-jeblok-masalah-pendidikan diakses tanggal 16 Desember 2017

Seguino, S. 2008.“Micro-Macro Linkages Between Gender, Development and Growth : Implications for the carribbeam Region”

__________2008. “Gender wage Inequality and Economic Growth : Is There Really a Puzzle?”

Setyowati, Retno. 2008. “Kesetaraan Gender Dan Pemberdayaan Perempuan Dalam Masyarakat Teknologi Informasi Dan Komunikasi (Gender & TIK)”

Suryadi, 2004. Kesetaraan Gender dalam Bidang Pendidikan. Cet. I. Bandung: Genesindo

Todaro,2006. “Pembangunan Ekonomi Didunia Ke Tiga”edisi 4, Jakarta: Erlangga

Todaro, M.P dan Smith S.C. 2006.“Pembangunan Ekonomi”, Jakarta: Erlangga World Bank, 2005. Pembangunan Berperspektif Gender. Jakarta: Dian Rakyat World Health Organization (WHO). 2012. What Do We Mean By Sex And Gender

Figure

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Tabel 3.1 Deskriptif Data
Tabel 4. Interpretasi Berdasarkan Koefisien Determinasi (R2)

References

Related documents

Similarly, the South African language in education policy (1997) advocates the development and promotion of additive bilingualism through the home language of

Clay Midkiff, Soil Scientist, discussed the project area soils and also stated that archaeological sites are not likely to be found, a view shared by Staff Archaeologist,

Mouse SteelSeries Ikari Laser Sudden Attack 60.00. Mouse SteelSeries Ikari Laser

Collectively, our observations suggest a possible molecular mechanistic model (Figure 4.7-A-D). A constitutive estrogen stimulation in breast cancer cells enhances stronger

Discrimination, 1965, the International Covenant on Civil and Political Rights, 1966, the International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights, 1966, the Convention on

(Two comments are omitted because of space.) This first assignment has the student define an instructional goal that will structure their learning for the remainder of the

According to National Report on The Provision of Inclusive Quality Primary and Secondary Education (UNESCO, 2009) the number of hard of hearing children was 5,610 from

The exact scope of courts-martial jurisdiction over law of war matters under the UCMJ was not initially made clear to Congress. During committee hearings on the