• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
84
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

(Tesis)

Oleh Sulistiawati

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG

(2)

ILLOCUTIONARY ACTS OFEIGHT-YEAR-OLD CHILD AND THEIR DEVELOPMENT AS TEACHING MATERIALS FOR DISCOURSE ANALYSIS SUBJECT IN HIGHER EDUCATION

By

SULISTIAWATI

This study relates to illocutionary acts of eight-year-olds and their development as teaching materials supplement for Discourse Analysis Subject in higher education. Specifically, it is directed to describe the illocutionary acts of eight-year-old child and their development as teaching materials supplement for Discourse Analysis Subject in higher education.

The method used in this study is a qualitative descriptive method. The data source in this study is the speech of an eight-year-old child named Elmira Nisa Maharatu. The data collection techniques used were proficient listening, recording, and note taking techniques. The collected data were analyzed using heuristic analysis.

(3)
(4)

TINDAK ILOKUSI ANAK USIA DELAPAN TAHUN DAN PENGEMBANGANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR MATA KULIAH ANALISIS WACANA DI PERGURUAN TINGGI

Oleh SULISTIAWATI

Permasalahan dalam penelitian ini berkaitan dengan tindak ilokusi anak usia delapan tahun dan pengembangannya sebagai suplemen bahan ajar mata kuliah Analisis Wacana di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk

mendeskripsikan tindak ilokusi anak usia delapan tahun dan pengembangannya sebagai suplemen bahan ajar mata kuliah Analisis Wacana di perguruan tinggi.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan seorang anak berusia delapan tahun bernama Elmira Nisa Maharatu. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Data yang

terkumpul dianalisis menggunakan analisis heuristik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak ilokusi pada tuturan anak usia delapan tahun adalah ilokusi asertif (menyatakan, mengeluh, dan melaporkan), ilokusi direktif (meminta, memerintah, menasihati, dan memesan), ilokusi komisif (menawarkan), dan ilokusi ekspresif (mengucapkan terima kasih). Tindak ilokusi yang mendominasi tuturan anak usia delapan tahun adalah ilokusi asertif

(5)
(6)

TINDAK ILOKUSI ANAK USIA DELAPAN TAHUN DAN PENGEMBANGANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR MATA KULIAH ANALISIS WACANA DI PERGURUAN TINGGI

Oleh Sulistiawati

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar MAGISTER PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG

(7)
(8)
(9)
(10)

Penulis dilahirkan di Bandarlampung, 19 April 1989. Penulis merupakan anak

kedua dari tujuh bersaudara, buah hati dari pasangan A. Syarfuddin M. dan

Juhariah.

Penulis memulai pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 1 Kotabaru Bandarlampung

dan diselesaikan pada tahun 2000. Selanjutnya, penulis menempuh pendidikan di

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 5 Bandarlampung dan selesai pada

tahun 2003. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan di

SMK Negeri 5 Bandarlampung pada tahun 2006.

Tahun 2007 penulis tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia dan Daerah Universitas Lampung, dan lulus pada tahun 2012. Penulis

melanjutkan pendidikan S-2 di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan

(11)

Tiada kata yang lebih indah selain mengucap syukur kepada Allah Swt., seluruh

jiwa dan raga dengan penuh rasa bangga dan cinta, penulis persembahakan buah

karya ini kepada

1. Ibunda dan Ayahanda tercinta, Juhariah dan A.Syarfuddin M., ibu dan ayah

terhebat, terima kasih telah memberikan semua yang ananda butuhkan, doa,

kasih sayang, cinta, semangat, motivasi yang tiada henti;

2. suami tercinta, Saputra Agustian, terima kasih untuk kesabaran dan kerelaan

atas jarak dan waktu yang memisahkan demi penyelesaian tesis ini;

3. buah hatiku tersayang, Syahmi Nauzan Agustian, yang senantiasa terbiasa

menanti kepulangan ibundanya demi penyelesaian tesis ini, terima kasih atas

pengertian yang luar biasa, kelak tesis ini menjadi bukti terpisahnya

(sementara) keluarga kecil kita;

4. Ibunda dan Ayahanda mertua, Samsul Bahri dan Darna Wati, yang senantiasa

mendoakan, mendukung dengan penuh cinta, terima kasih telah bersabar

menanti keberhasilan ananda;

5. Keluarga besar Abdul Djahar dan Muhyin;

(12)

Cukuplah Allah menjadi pelindung dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu).

(An-Nisa:45)

Jangan hanya berpikir tentang apa yang akan engkau katakan, pikirkan juga bagaimana caramu mengatakannya.

(13)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala, atas rahmat dan

karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang

berjudul Tindak Ilokusi Anak Usia Delapan Tahun dan Pengembangannya

Sebagai Bahan Ajar Mata Kuliah Analisis Wacana di Perguruan Tinggi. Tesis ini

disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Magister Pendidikan

pada Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas

Lampung.

Penyelesaian tesis ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai

pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Melalui kesempatan ini,

penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu

penulis. Dalam hal ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada

1. Prof. Dr. Hasriadi Mat Akin, M.P., selaku Rektor Universitas Lampung;

2. Prof. Dr. Patuan Raja, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Lampung;

3. Prof. Drs. Mustofa, M.A., Ph.D., selaku Direktur Pascasarjana Universitas

Lampung;

4. Dr. Mulyanto Widodo, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Bahasa dan Seni Fakultas

(14)

membantu, membimbing, mengarahkan, dan memberikan saran kepada

penulis dengan penuh kesabaran;

6. Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M.Pd., selaku pembimbing II yang selama ini

telah banyak membantu, membimbing, mengarahkan, dan memberikan saran

kepada penulis dengan penuh kesabaran;

7. Dr. Siti Samhati, M.Pd., selaku Pembimbing Akademik dan pembahas tesis

yang telah banyak memberikan perhatian, saran, dan masukan kepada penulis

dengan penuh kesabaran;

8. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia yang telah memberi berbagai ilmu bermanfaat sebagai bekal hidup

kepada penulis;

9. Suhaimi, S.S., selaku Ketua YayasanPendidikan d’premier9 Indonesiayang

selama ini telah banyak memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis;

10. Ayahanda (A. Syarfuddin M.) dan Ibunda (Juhariah) yang penulis cintai, yang

selalu dengan sabar memberi nasihat, mendoakan, dan memotivasi penulis

selama proses pengerjaan tesis ini;

11. Ayahanda mertua (Syamsul Bahri) dan Ibunda mertua (Darna Wati) yang

penulis sayangi, terima kasih untuk doa, dukungan, nasihat, dan kesabaran

yang luar biasa dalam menanti penyelesain tesis ini;

12. suami tercinta (Saputra Agustian) dan buah hati tersayang (Syahmi Nauzan

Agustian) yang telah bersabar mendoakan, menasihati, mendukung, dan

(15)

13. keluarga besar (Uyut Rohai, Eyang Romli, Eyang Siti, Atuk Yani, Nyai Laili,

Bunda Novi, Umi Sri, Menak Alam, Pakcik Amir, Onti Ratu, Paklek Jagad,

Ayah Dul, Abi Yudi, Maksak Indi, Makcek Edo, Yunda Arsyfa, Aden

Adskhan, dan Adek Aira), terima kasih untuk semangat, dukungan, doa, dan

nasihat yang telah diberikan kepada penulis demi menanti penyelesaian tesis

ini;

14. sahabat-sahabatku, Trio SMS (Maria Ulfa dan Sulistianah), yang tak

henti-hentinya memberikan dukungan, doa, dan motivasi kepada penulis selama

penyelesaian tesis ini;

15. Sahabat semasa SMK (Humairoh dan Sunarsih), yang yang tak henti-hentinya

memberikan dukungan, doa, dan motivasi kepada penulis selama penyelesaian

tesis ini meskipun jarak dan waktu memisahkan;

16. Sahabat-sahabat seperjuangan (Megawati dan M.Arfan) yang tak

henti-hentinya saling mendukung, mendoakan, dan memotivasi agar bisa

memperjuangkan tesis ini;

17. Adikku di kampus dan di kantor (Ana Ayu Ningtyas) yang selau membantu

penulis selama menyelesaikan tesis ini, terima kasih selalu bersedia

disibukkan dengan urusan seminar, penelitian, dan tukar pikiran;

18. teman-teman Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

(MPBSI) angkatan 2013, 2014, 2015, 2016, 2017 terima kasih atas dukungan,

(16)

20. teman-teman kerja diYayasan Pendidikan d’premier9 Indonesiayang tidak

bisa penulis sebutkan satu per satu, terima kasih sudah rajin bertanya perihal

perkembangan kuliah penulis sehingga bisa semakin memotivasi penulis;

21. Masjid Al-Wasi’iyang telah menjadi saksi bisu perjuangan penulis selama

mengerjakan tesis;

22. semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini yang

tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Akhir kata, penulis hanya dapat mengucapkan doa semoga Allah Subhanahu wa

taala selalu memberikan balasan yang lebih besar untuk Bapak, Ibu dan

rekan-rekan semua. Hanya ucapan terimakasih dan doa yang bisa penulis berikan. Kritik

dan saran selalu terbuka untuk menjadi kesempurnaan di masa yang akan datang.

Semoga karya yang luar biasa ini bermanfaat bagi kita semua, amin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Bandarlampung, Desember 2018

Penulis,

(17)

Halaman

ABSTRAK ... i

HALAMAN JUDUL ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

SURAT PERNYATAAN ... vi

RIWAYAT HIDUP ... vii

PERSEMBAHAN ... viii

MOTO ... ix

SANWACANA ... x

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR SINGKATAN ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 10

1.3 Tujuan Penelitian ... 10

1.4 Manfaat Penelitian ... 10

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 11

II. LANDASAN TEORI 2.1 Pragmatik ... 12

2.2 Tindak Tutur ... 14

2.2.1 Lokusi... 15

2.2.2 Ilokusi ... 16

2.2.3 Perlokusi ... 20

2.3 Kelangsungan dan Ketidaklangsungan Tuturan ... 21

2.4 Konteks ... 28

2.5 Bahan Ajar ... 31

2.5.1 Pengertian Bahan Ajar ... 31

2.5.2 Jenis-Jenis Bahan Ajar ... 32

2.6 Analisis Wacana ... 37

2.6.1 Definisi Wacana ... 37

2.6.2 Definisi Analisis Wacana ... 38

(18)

2.7.3 Teori Kognitif ... 44

2.7.4 Periode Perkembangan Bahasa Anak ... 45

2.8 Pengembangan Bahan Ajar Tindak Ilokusi Anak pada Mata Kuliah Analisis Wacana di Perguruan Tinggi ... 50

III. METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ... 54

3.2 Sumber Data ... 54

3.3 Waktu Penelitian ... 55

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 55

3.5 Teknik Analisis Data ... 56

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 60

4.2 Pembahasan ... 62

4.2.1 Tindak Ilokusi Anak Usia Delapan Tahun ... 62

4.2.1.1 Asertif ... 62

4.2.1.2 Direktif ... 75

4.2.1.3 Komisif ... 87

4.2.1.2 Ekspresif ... 88

4.2.2 Kelangsungan dan Ketidaklangsungan Tuturan ... 89

4.2.2.1 Modus Langsung Literal ... 89

4.2.2.2 Modus Tidak Langsung Literal ... 98

4.2.2.3 Modus Langsung Tidak Literal ... 105

4.3 Pengembangan Bahan Ajar Tindak Ilokusi Anak pada Mata Kuliah Analisis Wacana di Perguruan Tinggi ... 108

4.3.1 Kesesuaian Hasil Penelitian dengan Kompetensi Dasar pada Kurikulum Mata Kuliah Analisis Wacana ... 108

4.3.2 Pemanfaatan Hasil Penelitian pada Mata Kuliah Analisis Wacana ... 110

4.3.3 Skenario Pembelajaran Kompetensi Dasar Mendeskripsikan Tindak Tutur Beserta dengan Fungsi Komunikatifnya ... 112

V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ……….... 116

5.2 Saran ……….. 117

DAFTAR PUSTAKA………. 119

(19)

S : Susi

R : Ratu

P : Papi

Z : Zahra

M : Mami

N : Nenek

U : Uni

Se : Ses

A : Abang

T : Tut

(20)

Halaman 1. Korpus Data Tindak Ilokusi dan Bentuk Verbal

(21)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial. Artinya, manusia tidak

mungkin hidup menyendiri tanpa kehadiran orang lain. Sebagai makhluk sosial,

manusia secara naluriah terdorong untuk bergaul dengan manusia lainnya.

Berkenaan dengan itu, manusia membutuhkan bahasa sebagai alat untuk

berkomunikasi. Hal ini sejalan dengan fungsi bahasa secara umum yakni sebagai

alat untuk berkomunikasi. Melalui bahasa, manusia dapat mengungkapkan

ide/gagasan, pikiran, dan perasaannya baik secara verbal (lisan dan tulisan)

maupun nonverbal (isyarat). Hal itu menunjukkan bahwa bahasa memegang

peranan yang sangat penting bagi manusia.

Pentingnya bahasa dalam kehidupan juga dirasakan oleh anak-anak. Seorang anak

belajar untuk menjadi anggota masyarakat melalui bahasa. Anak akan berupaya

keras untuk mengungkapkan pengalaman yang khas melalui kata-kata sederhana

yang diperolehnya. Bahasa yang diperoleh akan diinternalisasikannya dan

akhirnya digunakan oleh sang anak dalam berkomunikasi. Bahasa anak tentu

berbeda dengan bahasa orang dewasa, baik dari segi pilihan kata, sintaksis,

semantik, maupun struktur lainnya. Bahasa anak masih sangat sederhana dan lebih

(22)

anak- anak mempunyai kekhasan tersendiri dalam mengungkapkan keinginannya,

penolakannya, dan pendapatnya. Mereka juga mempunyai kesanggupan untuk

menyatakan apa yang terkandung dalam pikirannya dengan cara yang

mengagumkan.

Kesederhanaan dan keunikan bahasa yang dimiliki anak menjadi salah satu objek

yang menarik untuk dikaji. Banyak penelitian yang menjadikan bahasa anak

sebagai objek penelitian, tidak terkecuali dalam kajian pragmatik. Sehubungan

dengan hal ini, kajian pragmatik dibutuhkan karena pemahaman secara semantis

saja tidaklah cukup dalam berkomunikasi. Hal ini disebabkan oleh pesan yang

disampaikan oleh penutur tidak hanya tersurat, tetapi juga tersirat. Makna tersurat

suatu ujaran dapat dimengerti dengan mencari arti semantis kata-kata yang

membentuk ujaran tersebut. Sementara itu, untuk memahami makna tersirat suatu

ujaran, pengetahuan semantis saja tidaklah memadai, tetapi harus memperhatikan

konteksnya juga.

Kenyataan di atas tampak dalam aktivitas berbahasa anak-anak ketika mereka

berkomunikasi dengan mitra tuturnya. Sehubungan dengan hal tersebut, berikut

ini merupakan contoh penolakan tidak langsung yang dituturkan oleh Ratu (8

tahun) kepada kakaknya.

(1) Ses : “Dek, tolong beliin Ses mie goreng di warung wak.”

Ratu : “Dedek takut.” (sedang menonton televisi)

Ses : “Apa sih, Dek! Kamu ini kalo disuruh bilangnya takut, tapi kalo

(23)

Percakapan di atas terjadi malam hari sekitar pukul 19.30 WIB. Saat itu Ratu

sedang menonton televisi dan kakaknya menghampiri Ratu, lalu menyuruhnya

membeli mie. Tanpa menghiraukan perintah dari kakaknya, Ratu tetap fokus

dengan tontonannya dan berkata bahwa dia takut untuk pergi ke warung. Dalam

hal ini, sebenarnya bisa dikatakan bahwa Ratu tidak takut pergi ke warung, tetapi

itu hanya cara yang digunakannya untuk menolak perintah kakaknya. Hal ini bisa

dibuktikan dengan kebiasaannya dalam beberapa hal ketika dia ke luar di malam

hari atas keinginannya sendiri. Ratu sering ke warung di malam hari jika dia ingin

jajan dan tidak pernah merasa takut. Selain itu, dia juga sering ke rumah temannya

yang lebih jauh dari warung tersebut tanpa merasa takut. Jadi, bisa dikatakan

bahwa ketakutan yang dia tuturkan ketika kakaknya memerintahnya itu adalah

sebuah bentuk penolakan yang dituturkan secara tidak langsung. Dalam hal ini,

dia bisa saja menolak secara langsung dengan mengatakan tidak mau karena dia

sedang menonton televisi.

Jika kita melihat tuturan Ratu dari makna kata-kata yang membentuk ujaran

tersebut, tanpa memperhatikan konteksnya jelaslah bahwa makna yang terlihat

adalah anak tidak bersedia pergi ke warung karena takut. Akan tetapi, jika kita

bisa memahami maksud tuturan tersebut dengan memperhatikan konteksnya,

maka kita akan memahami maksud tuturan tersebut sebagai penolakan yang

dituturkan secara tidak langsung. Dalam kajian pragmatik, tuturan semacam ini

(24)

Secara singkat, pragmatik adalah ilmu yang menjelaskan tentang penggunaan

bahasa yang terjadi dalam konteks tertentu. Hal ini sebagaimana yang

dikemukakan oleh Sudaryat (2009: 121) bahwa pragmatik menelaah hubungan

tindak bahasa dengan konteks tempat, waktu, keadaan pemakaian, dan hubungan

makna dengan aneka situasi ujaran. Artinya, pragmatik berurusan dengan tindak

tutur yang terjadi dalam situasi tertentu. Dengan demikian, pragmatik mengkaji

tuturan-tuturan yang digunakan oleh seseorang.

Selanjutnya, dalam kajian pragmatik disebutkan bahwa ketika seseorang

berbicara, ia tidak hanya mengucapkan sebuah ujaran saja, tetapi ia juga

melakukan tindakan dengan ujarannya tersebut. Austin dalam bukunya How To

Do Things with Words membedakan tiga jenis tindakan, yakni tindak lokusi,

ilokusi, dan perlokusi. Tindak lokusi adalah tindak bertutur yang hanya berada

pada kategori mengatakan sesuatu. Tindak ilokusi yaitu tindak tutur yang

mengandung daya untuk melakukan tindakan tertentu dalam hubungannya dengan

mengatakan sesuatu. Tindak perlokusi yakni tindak tutur yang berupa dampak

tuturan terhadap tindakan yang ditimbulkan oleh mitra tutur.

Dari ketiga jenis tindak tutur di atas, Wijana (2010) menyatakan bahwa

mengidentifikasi tindak ilokusi lebih sulit jika dibandingkan dengan tindak lokusi.

Hal ini karena dalam mengidentifikasi tindak ilokusi harus mempertimbangkan

siapa penutur dan mitra tutur, kapan dan di mana tuturan terjadi, serta saluran apa

yang digunakan. Dengan demikian, tindak ilokusi merupakan bagian penting

(25)

Kenyataan di atas tampak dalam aktivitas berbahasa anak-anak ketika mereka

berkomunikasi dengan mitra tuturnya. Sehubungan dengan hal tersebut, berikut

ini percakapan Ratu ( 8 tahun) dengan orang tua dan kakaknya dalam menyatakan

keinginannya.

(2) Ratu : “Mami, besok sekolah dedek mau pake tas ini aja (menunjuk tas selempang yang biasa dipakai mengaji)

Mami : “Ngapain pake tas itu, Dek? Kamu gak liat temen-temen sekolah

kamu pake tas ransel semua.”

Ratu : “Ya, tapi tas ransel dedek kan udah jelek semua.”

Mami : “Jelek gimana, Dek? Alangkah banyak tas kamu frozen-frozen

semua gitu,semua kamu pake, Dek.” (memanggil Susi dan

melaporkan keinginan Ratu)

Ratu : “Mami!” (merengek memaksa untuk memakai tas selempang)

(3) Susi : “Ratu, sini, Dek!”

Ratu : (datang dengan wajah cemberut)

Susi : “Kamu ngapain mau pake tas itu? Kalau sekolah itu harus pake

tas ransel, Dek. Jadi, kamu gak keberatan bawa buku-bukunya

itu. Lagian temen-temen kamu pake tas ransel semua kan?”

Ratu : “Gak kok, temen dedek ada satu orang yang pake tas selempang.”

Susi : “Dede, tas itu kan kecil, gak cukup untuk buku-buku kamu,

(26)

Susi. Kalo sekolah pakenya tas ransel, tas itu dede pake ngaji aja

ya, Sayang.” (memeluk Ratu dan terus merayunya)

Peristiwa tutur di atas terjadi malam hari ketika anak menyiapkan buku pelajaran

untuk sekolah. Anak menuturkan keinginannya untuk memakai tas selempang

yang biasa dipakainya ketika mengaji. Kemungkinan terbesar yang membuat anak

ingin memakai tas jenis tersebut karena dia melihat kakak-kakaknya memakai tas

seperti itu ketika pergi kuliah atau bekerja. Dalam hal ini, anak cenderung meniru

beberapa hal yang digunakan oleh kakak-kakaknya.

Tuturan yang dituturkan oleh anak pada percakapan di atas merupakan tindak

ilokusi, yakni tindak direktif meminta. Percakapan di atas menunjukkan bahwa

anak telah mampu menyampaikan keinginannya dengan disertai

pernyataan-pernyataan untuk meyakinkan atau mempengaruhi mitra tutur agar memahami dan

memaklumi keinginannya. Pernyataan bahwa ada temannya yang menggunakan

tas tersebut merupakan argumen dari anak agar keinginannya bisa dipahami dan

dimaklumi oleh mitra tuturnya.

Kemampuan anak dalam menyampaikan argumen atau pendapatnya pada contoh

di atas merupakan bagian dari perkembangan bahasa anak. Perkembangan bahasa

yang dialami oleh anak-anak tentu berbeda-beda. Perbedaan tersebut disebabkan

oleh banyak faktor, diantaranya faktor genetik dan lingkungan. Sehubungan

dengan hal ini, Jean Piaget, seorang sarjana Perancis yang terkenal dengan teori

perkembangan kognitifnya, berpendapat bahwa perkembangan bahasa anak sangat

(27)

Piaget (dalam Chaer, 2003: 151) menyatakan adanya beberapa tahap dalam

perkembangan kognitif anak. Tahap-tahap itu adalah tahap sensomotorik, tahap

praoperasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal. Tahap

sensomotorik terjadi pada dua tahun pertama kehidupan anak. Pada tahap ini

kecerdasan anak didasarkan pada aksi-aksi dan gerakan-gerakan serta pengamatan

tanpa bahasa. Tahap praoperasional terjadi pada usia dua sampai tujuh tahun. Pada

tahapan ini anak mulai memperoleh bahasa, yakni berupa lambang-lambang

ucapan. Tahap operasional konkret terjadi pada usia tujuh sampai sebelas tahun.

Pada tahapan ini anak telah mampu memahami kelas-kelas logis dan

hubungan-hubungan yang logis di antara benda-benda. Tahap operasional formal terjadi

setelah anak berusia sebelas tahun ke atas. Pada tahapan ini anak-anak telah

mampu berpikir berdasarkan hipotesis.

Lebih dari itu, anak-anak sejak masa prasekolah telah mempelajari hal-hal yang di

luar kosakata dan tata bahasa. Mereka sudah dapat menggunakan bahasa dalam

konteks sosial yang bermacam-macam. Mereka dapat berkata kasar kepada

teman-temannya, tetapi juga dapat berkata sopan kepada orang tuanya.

Penggunaan bahasa seperti ini harus diperoleh oleh anak karena keapikan

berbahasa tidak hanya terletak pada kepatuhan terhadap aturan gramatikal, tetapi

juga pada kepatuhan aturan pragmatik. Anak harus bisa menguasai tindak ujar

ilokusioner secara apik–bagaimana dia menyatakan sesuatu, menanyakan

sesuatu, meminta sesuatu, dst (Dardjowidjojo, 2000: 43). Dengan demikian, anak

secara alami akan mengembangkan pengetahuan yang diperlukannya dalam

situasi komunikasi agar bahasa yang dipakainya pantas, efektif, sekaligus

(28)

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis akan meneliti tindak ilokusi anak. Anak

yang akan dijadikan subjek penelitian dalam penelitian ini adalah Elmira Nisa

Maharatu (Ratu). Ratu saat ini berusia delapan tahun dan ia merupakan siswa

kelas 3 sekolah dasar. Menurut teori perkembangan kognitif Piaget, anak usia

delapan tahun tergolong ke dalam tahapan operasional konkret. Pada tahapan ini

daya pikir anak mulai berkembang ke arah konkret, rasional, dan objektif. Dalam

hal ini, anak belum dapat berpikir sesuatu yang abstrak karena jalan berpikirnya

masih terbatas pada situasi yang konkret. Anak sudah mampu berpikir secara logis

terhadap peristiwa-peristiwa yang bersifat nyata, mampu memahami percakapan

dengan orang lain, mulai mampu berargumentasi untuk memecahkan masalah.

Penulis akan meneliti aktivitas Ratu ketika berkomunikasi dengan lawan tuturnya

yakni orang tua, kakak, nenek, teman, dan anggota keluarga lainnya. Secara

khusus penelitian ini dilakukan untuk melihat bentuk tindak ilokusi anak dan

bentuk verbal anak dalam berkomunikasi. Selanjutnya, penulis akan membuat

bahan ajar berdasarkan hasil penelitian. Bahan ajar tersebut dapat digunakan pada

mata kuliah Analisis Wacana.

Analisis wacana adalah kajian bahasa yang berusaha menginterpretasi makna

sebuah ujaran atau tulisan dengan memperhatikan konteks yang melatarinya, baik

konteks linguistik maupun konteks etnografinya ( Rani, 2004:4). Adapun materi

dalam mata kuliah Analisis Wacana di antaranya adalah konsep dasar analisis

wacana, jenis-jenis wacana, relasi dalam wacana, kohesi dan koherensi dalam

wacana, konteks wacana, analisis wacana dan pragmatik, interpretasi tutur,

(29)

dengan pembelajaran mata kuliah Analisis Wacana, tindak ilokusi anak dan

bentuk verbal anak dalam penelitian ini dapat dijadikan referensi contoh-contoh

tuturan dalam materi tindak tutur, implikatur, konteks wacana, dan lain-lain.

Penelitian tindak tutur anak sudah pernah dilakukan dalam bentuk tesis oleh Yuniarti

(2010) dan Sutaji (2014). Dalam tesisnya yang berjudul“Kompetensi Tindak Tutur

Direktif Anak Usia Prasekolah di P2PNFI”, Yuniarti mengkaji tentang (1) realisasi

bentuk pemahaman anak usia prasekolah terhadap tindak tutur direktif, (2)

bentuk-bentuk tindak tutur direktif yang diterbitkan oleh anak usia prasekolah, (3)

perkembangan pemahaman serta penerbitan tindak tutur direktif anak usia

prasekolah dengan kesantunan. Selanjutnya, Sutaji dalam tesisnya yang berjudul

“Tindak Tutur Anak Usia Prasekolah di Lingkungan Keluarga Masyarakat Desa

Pontang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember”, mengkaji tentang bentuk/jenis,

fungsi, dan strategi tindak tutur yang digunakan oleh anak-anak di lingkungan

keluarga masyarakat Desa Pontang.

Penelitian yang dilakukan oleh Yuniarti dan Sutaji mengkaji tuturan anak usia

prasekolah (3-6 tahun). Hal ini karena anak-anak pada usia tersebut sedang berada

pada fase golden age. Berbeda dengan kedua penelitian tersebut, penulis akan

meneliti tuturan anak usia delapan tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Yuniarti

hanya meneliti tindak direktif anak di lingkungan kelompok bermain, sedangkan

penelitian ini tidak hanya meneliti tindak direktif, tetapi semua tuturan yang

mengandung tindak ilokusi. Selain itu, penelitian ini dilakukan dalam lingkungan

(30)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut.

1. Bagaimanakah tindak ilokusi anak usia delapan tahun?

2. Bagaimanakah pengembangan hasil penelitian tindak ilokusi anak usia

delapan tahun sebagai suplemen bahan ajar pada mata kuliah Analisis

Wacana?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak ilokusi anak usia delapan

tahun.

2. Mengembangkan hasil penelitian tindak ilokusi anak usia delapan tahun sebagai

suplemen bahan ajar pada mata kuliah Analisis Wacana.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis

maupun secara praktis.

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap

perkembangan ilmu bahasa, khususnya pada kajian tindak tutur. Di samping itu,

penelitian ini juga dapat memperkaya hasil penelitian yang berkaitan dengan

(31)

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Dosen dan Mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam kegiatan

pembelajaran materi tindak tutur pada mata kuliah Analisis Wacana.

b. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu peneliti lain di dalam usahanya

untuk memperkaya wawasan dan mengetahui hal-hal yang terungkap dalam

tindak ilokusi anak.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini mencakup hal-hal berikut.

1. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan Elmira Nisa Maharatu.

2. Data penelitian ini adalah tindak ilokusi Elmira Nisa Maharatu yang meliputi

ilokusi asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif.

3. Bentuk verbal pada tuturan anak berupa kelangsungan dan ketidaklangsungan

serta keliteralan dan ketidakliteralan tuturan.

(32)

II. LANDASAN TEORI

2.1 Pragmatik

Pragmatik merupakan salah satu cabang ilmu linguistik yang mengkaji

penggunaan bahasa berdasarkan situasi yang melatarinya. Istilah pragmatik

diperkenalkan oleh Charles Moris. Ia adalah seorang ahli bahasa yang membagi

ilmu tanda menjadi tiga cabang ilmu yakni, syntactics(sintaktika) ‘studi relasi formal

tanda-tanda’,semantics(semantika) ‘studi relasi tanda dengan objeknya’ dan

pragmatics(pragmatika) ‘studi tanda dengan penafsirannya’.Tokoh yang sangat

berperan penting dalam perkembangan ilmu pragmatik adalah J.L. Austin dan

John R. Searle. Austin dan Searle dikenal dengan teori tentang tindak tuturnya

yang merupakan bagian dari ilmu pragmatik. Lebih lanjut, konsep dasar pragmatik

secara luas dapat dipahami berdasarkan pemaparan dari beberapa pakar.

Parker (1986) seperti dikutip Wijana (2010: 4) mengungkapkan pendapatnya

sebagai berikut. Pragmatics is distinct from grammar, which is the study of the

internal structure of language. Pragmatics is the study of how language is used to

communicate. Artinya, pragmatik mempelajari tentang bagaimana bahasa itu

digunakan dalam komunikasi dan pragmatik merupakan cabang ilmu tentang

(33)

Menurut Yule (2006: 3) pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan

oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca).

Sebagai akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa

yang dimaksudkan orang dengan tuturan-turannya daripada dengan makna

terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri. Jadi,

pragmatik adalah studi tentang maksud penutur.

Sudaryat (2009: 121) menyatakan bahwa pragmatik menelaah hubungan tindak

bahasa dengan konteks tempat, waktu, keadaan pemakaian, dan hubungan makna

dengan aneka situasi ujaran. Senada dengan Sudaryat, Levinson (1983)

menuliskan pengertian pragmatik, yakni“Pragmatics is the study of those

relations between language and contex that are grammaticalized, or encoded the

structure of a language. Dengan demikian, dapat disimpulkan pragmatik sebagai

suatu studi tentang hubungan bahasa dengan konteks yang dikodekan oleh

struktur bahasa.

Cruse (dalam Cummings, 2007: 2) menyatakan pragmatik dapat dianggap

berurusan dengan aspek-aspek informasi melalui bahasa yang dapat muncul

secara alamiah dari dan tergantung pada makna-makna yang dikodekan secara

konvensional dengan konteks tempat penggunaan bentuk-bentuk tersebut. Sejalan

dengan pendapat tersebut, Moore (2001) seperti dikutip Rusminto (2012:66)

mengemukakan bahwa pragmatik adalah sebuah cara yang sistematis untuk

menjelaskan penggunaan bahasa yang terjadi di dalam konteks tertentu. Pragmatik

mencoba menjelaskan aspek-aspek makna dalam kaitan dengan konteks yang

tidak dapat ditemukan dalam pengertian kata atau struktur seperti yang dijelaskan

(34)

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pragmatik adalah ilmu

yang menjelaskan tentang penggunaan bahasa yang terjadi dalam konteks tertentu.

Artinya, pragmatik berurusan dengan tindak tutur yang terjadi dalam situasi

tertentu. Dengan demikian, pragmatik mengkaji tuturan-tuturan yang digunakan

oleh seseorang.

2.2 Tindak Tutur

Dalam usaha untuk mengungkapkan diri mereka, orang-orang tidak hanya

menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan struktur-struktur

gramatikal saja, tetapi mereka juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui

tuturan itu. Tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan itu disebut tindak

tutur (Yule, 2006:81-82).

Teori tentang tindak tutur (speech act) bermula pada perkuliahan yang dilakukan

oleh Austin di Universitas Harvard pada tahun 1955. Seri perkuliahan tersebut

kemudian dikumpulkan dan tahun 1962 diterbitkan dalam bentuk buku yang

berjudul How to Do Things with Words (Nadar, 2009: 11). Dalam kaitan dengan

hal ini, Austin dalam bukunya How to Do Things with Words membedakan tiga

jenis tindakan: (1) tindak lokusi, yakni tindak bertutur yang hanya berada pada

kategori mengatakan sesuatu, (2) tindak ilokusi, yakni tindak tutur yang

mengandung maksud lain dari tuturan yang disampaikan, (3) tindak perlokusi,

yakni tindak tutur yang berupa dampak tuturan terhadap tindakan yang

(35)

Pembagian ketiga jenis tindak bahasa menurut Austin tersebut didukung oleh

pendapat John R. Searle. Dalam buku Speech Act: An Essay in the Philosophy of

Language (1969: 24). Searle menyatakan bahwa dalam pembicaraan terdapat tiga

jenis tindakan yakni utterance act, proposional act, dan illocutionary act.

Pernyataan Searle kemudian dijelaskan oleh Rahardi (2005: 35) bahwa dalam

praktik bahasa terdapat tiga jenis tindak tutur yakni tindak lokusioner, ilokusioner

dan perlokusioner.

2.2.1 Lokusi

Lokusi adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat, sesuai dengan makna

yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu sendiri. Tindak lokusi dinyatakan

dengan ungkapan an act of saying something yakni berupa tuturan untuk

menyatakan sesuatu. Dalam tindak lokusi tidak mempermasalahkan maksud

tuturan yang disampaikan penutur (Rahardi, 2009: 17, 2005: 35 dan Nadar, 2009:

14). Senada dengan Rahardi, Yule (2006: 83) menyatakan bahwa tindak lokusi

merupakan tindak dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan linguistik

yang bermakna.

Dalam kaitannya dengan ini, Wijana dan Rohmadi (2010: 21) menyatakan bahwa

tindak lokusi adalah tindak tutur yang relatif paling mudah untuk diidentifikasikan

karena pengidentifikasiannya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan

konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur. Jadi, tindak lokusi hanya

berupa tindakan bertutur tanpa disertai maksud atau tujuan tertentu, sehingga

dalam perspektif pragmatik tindak lokusi dianggap kurang berperan dalam

(36)

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tindak lokusi adalah tuturan

yang berada pada kategori menyatakan sesuatu yang mengandung makna dan

acuan. Dalam hal ini, isi tuturan sesuai dengan kalimat yang dituturkan oleh

penutur tanpa adanya maksud dan tujuan tertentu dalam tuturan tersebut.

2.2.2 Ilokusi

Tindak ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi

tertentu di dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya. Tindak ilokusi dapat

dinyatakan dengan ungkapan an act of doing something in saying something

(Rahardi, 2009: 17 dan 2005: 35).

Sedikit berbeda dengan pernyataan Rahardi, Nadar (2009: 14) menyatakan bahwa

tindak ilokusioner adalah apa yang ingin dicapai penuturnya pada waktu

menuturkan sesuatu dan dapat merupakan tindakan menyatakan, berjanji,

meminta maaf, mengancam, meramalkan, memerintah, meminta, dan lain

sebagainya. Tindak ilokusioner dapat dikatakan sebagai tindak tutur terpenting

dalam kajian pemahaman tindak tutur.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa tindak ilokusi adalah tindak tutur yang

memiliki maksud yang ingin dicapai oleh penutur melalui tuturannya. Artinya,

tindak ilokusi lebih sulit diidentifikasi daripada tindak lokusi. Hal itu terjadi

karena tindak ilokusi berkaitan dengan siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan

di mana tindak tutur dilakukan, serta perlu disertakan juga konteks tuturan dalam

situasi tutur. Oleh karena itu, tindak ilokusi menjadi bagian yang paling penting

(37)

Berikut ini merupakan pembagian tindak ilokusi menurut Searle seperti dikutip

oleh Schiffrin (2007: 75) dan Leech (2011: 164-165).

a. Asertif (assertives)

Asertif adalah tindak tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang

diungkapkan misalnya, menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh,

mengemukakan pendapat, dan melaporkan. Berikut adalah contoh tindak asertif

mengeluh.

(4) Susi, kaki dede sakit.

Tuturan pada contoh (4) di atas terjadi saat penutur menghampiri kakak

perempuannya (Susi) di kamar. Penutur baru saja pulang dari bermain. Pada saat

itu, penutur menuturkan tuturan tersebut sambil menunjukkan kakinya yang lebam

karena terbentur sesuatu. Tuturan pada contoh di atas menunjukkan bahwa

penutur sedang mengeluhkan kakinya yang sakit. Dalam kaitannya dengan ini,

penutur terikat dengan kebenaran isi tuturan yang diungkapkannya. Dengan

demikian, tuturan tersebut merupakan tuturan asertif mengeluh.

b. Direktif (directives)

Direktif adalah ilokusi yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan

yang dilakukan oleh mitra tutur, seperti memesan, memerintah, meminta,

merekomendasikan, mengundang, dan memberi nasihat. Contoh tindak tutur direktif

dapat dilihat pada tuturan berikut.

(38)

Tuturan pada contoh (5) di atas terjadi saat penutur akan pergi mengaji. Penutur

ingin mengambil bajunya yang berada di lemari, tetapi tidak bisa mengambilnya

karena tidak terjangkau oleh tangannya. Pada saat itu, penutur menuturkan tuturan

tersebut sambil menunjuk ke arah baju yang dimaksud. Tuturan pada contoh di

atas menunjukkan bahwa penutur sedang memerintah ibunya untuk

mengambilkan baju. Artinya, tuturan tersebut bertujuan untuk menghasilkan suatu

efek berupa tindakan yang dilakukan oleh mitra tutur. Dengan demikian, tuturan

tersebut merupakan tuturan direktif memerintah.

c. Komisif (commissives)

Komisif adalah tindak ilokusi di mana penutur sedikit banyak terikat pada suatu

tindakan di masa depan, misalnya menjanjikan, menawarkan, dan berkaul. Contoh

tindak komisif dapat dilihat pada tuturan berikut.

(6) Dede kerjain PR-nya nanti malem, pulang ngaji.

Tuturan di atas terjadi saat penutur diminta untuk segera mengerjakan PR-nya.

Pada saat itu penutur sedang menonton film kartun favoritnya. Tuturan pada

contoh di atas menunjukkan bahwa penutur berjanji pada mitra tutur akan

mengerjakan PR-nya nanti malam. Artinya, tuturan tersebut sedikit banyaknya

mengikat penutur pada suatu tindakan di masa depan . Dengan demikian, tuturan

tersebut merupakan tuturan komisif menjanjikan .

d. Ekspresif (expressives)

Ekspresif adalah ilokusi yang berfungsi mengungkapkan sikap psikologis

(39)

adalah mengucapkan selamat, mengucapkan terima kasih, meminta maaf dan

memaafkan, mengecam, dan belasungkawa. Berikut ini merupakan contoh tindak

ekspresif.

(7) Terima kasih ya Susi bajunya, dede suka banget bajunya.

Tuturan di atas terjadi saat penutur dibelikan baju favoritnya oleh mitra tutur.

Penutur mengucapkan terima kasih kepada mitra tutur karena sudah membelikan

baju favoritnya. Tuturan tersebut mengungkapkan sikap psikologis penutur

terhadap keadaan yang tersirat, yakni melalui ucapan terima kasih . Dengan

demikian, tuturan tersebut termasuk dalam ilokusi ekspresif.

e. Deklaratif (declaration)

Deklaratif adalah ilokusi yang digunakan untuk memastikan kesesuaian antara isi

proposisi dan kenyataan, seperti membaptis, memecat, memberi nama,

menjatuhkan hukuman, dan mengangkat. Searle mengatakan bahwa

tindakan-tindakan ini merupakan kategori tindak ujar yang sangat khusus, karena biasanya

digunakan oleh seseorang yang dalam kerangka acuan kelembagaan diberi

wewenang untuk melakukannya. Contoh tindak deklaratif dapat dilihat pada

tuturan berikut.

(8) Hari ini kamu gak boleh main. Pulang sekolah langsung ngerjain PR,

tidur siang, bangun tidur langsung ngaji.

Tuturan pada contoh (8) terjadi ketika penutur mendapati mitra tutur yang tidak

(40)

Hal tersebut menyebabkan penutur menghukum mitra tutur untuk tidak bermain

pada hari itu. Dengan demikian, tuturan pada contoh tersebut berisi pernyataan

hukuman yang dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut merupakan ilokusi

deklaratif menjatuhkan hukuman.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, penulis akan menggunakan teori Searle

untuk mengklasifikasikan tindak tutur anak. Dalam hal ini, data yang terkumpul

akan dikelompokkan berdasarkan jenisnya, yakni asertif, direktif, komisif,

ekspresif, dan deklaratif.

2.2.3 Perlokusi

Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya

pengaruh (perlocutionary force), atau efek bagi yang mendengarkannya. Efek

atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh

penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraanya dimaksudkan untuk mempengaruhi

lawan tutur disebut dengan tindak perlokusi (Wijana dan Rohmadi, 2010:23).

Sejalan dengan Wijana dan Rohmadi, Nababan (1989: 18) menyatakan bahwa

tindak perlokusi merupakan suatu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan

itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pangucapan kalimat itu.

Dengan kata lain, tindak perlokusi adalah tindak tutur yang berupa efek atau

dampak yang ditimbulkan oleh penutur terhadap mitra tutur, sehingga mitra tutur

melakukan tindakan berdasarkan isi tuturan.

Tindak perlokusi dapat dilihat dari beberapa verba yang digunakan. Beberapa

(41)

menakut-nakuti, menyenangkan, melegalkan, mempermalukan, menarik perhatian, dan

sebagainya. Tindak perlokusi dapat menghasilkan efek atau daya ujaran terhadap

mitra tutur hasilnya rasa khawatir, rasa takut, cemas, sedih, senang, putus asa,

kecewa, takut, dan sebagainya. Tindak perlokusi juga dapat berupa pernyataan

atau tuturan-tuturan persuasi (Ibrahim, 1992: 115).

Sebagai contoh, dalam tuturan seorang anak yang berkata pada ibunya nilaiku

bagus akan berdampak pada mitra tuturnya yang dengan segera menghampiri

anak dan melihat buku yang dipegangnya. Selanjutnya, mitra tutur mungkin saja

akan memuji penutur karena memperoleh nilai bagus. Karena boleh jadi, si anak

mengatakan hal tersebut kepada ibunya dengan harapan akan diberi pujian.

Dengan demikian, tuturan tersebut termasuk dalam kategori tindak perlokusi

karena tuturan tersebut menimbulkan efek pada mitra tutur.

2.3 Kelangsungan dan Ketidaklangsungan Tuturan

Dalam peristiwa tutur, seorang penutur tidak selalu mengatakan secara langsung

apa yang dimaksudkannya. Ada kalanya, penutur menggunakan tindak tutur tidak

langsung untuk menyampaikan maksudnya. Penggunaan bentuk verbal langsung

dan tidak langsung dalam peristiwa tutur ini sejalan dengan pandangan bahwa

bentuk tutur yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyampaikan

maksud yang sama, sebaliknya berbagai macam maksud dapat disampaikan

dengan tuturan yang sama (Ibrahim dalam Rusminto, 2010: 41).

Dalam kaitan dengan hal tersebut, Djajasudarma (2012) mengemukakan bahwa

tindak tutur langsung adalah tindak tutur yang diungkapkan secara lugas sehingga

(42)

tindak tutur yang bermakna kontekstual dan situasional. Lebih lanjut lagi,

Rusminto (2012:83) menjelaskan bahwa kelangsungan dan ketidaklangsungan

sebuah tuturan bersangkut paut dengan dua hal pokok, yaitu masalah bentuk dan

masalah isi tuturan. Masalah bentuk tuturan berkaitan dengan bagaimana tuturan

diformulasikan dan bagaimana bentuk satuan pragmatik yang digunakan untuk

mewujudkan suatu ilokusi. Sementara itu, masalah isi berkaitan dengan maksud

yang terkandung pada ilokusi tersebut. Jika isi ilokusi mengandung maksud yang

sama dengan makna performansinya, tuturan tersebut disebut tuturan langsung.

Sebaliknya, jika maksud suatu ilokusi berbeda dengan makna performansinya,

tuturan tersebut disebut tuturan tidak langsung.

Yule (1996:95) membedakan tindak tutur langsung dan tidak langsung

berdasarkan hubungan bentuk struktural (deklaratif, interogatif, imperatif) dengan

fungsinya (pernyataan, pertanyaan, perintah/permohonan). Apabila ada hubungan

langsung antara struktur dan fungsi, maka terdapat suatu tindak tutur langsung.

Sebaliknya, apabila ada hubungan tidak langsung antara struktur dengan fungsi,

maka terdapat suatu tindak tutur tidak langsung. Dengan kata lain, bentuk

deklaratif yang digunakan untuk membuat suatu pernyataan disebut tindak tutur

langsung, sedangkan bentuk deklaratif yang digunakan untuk membuat suatu

permohonan disebut tindak tutur tidak langsung.

Sejalan dengan Yule, Wijana dan Rohmadi (2010:28) membedakan tindak tutur

langsung dan tidak langsung berdasarkan fungsi kalimatnya (berita, tanya, dan

perintah) yang kemudian oleh Wijana dan Rohmadi disebut dengan modus. Bila

(43)

kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak,

serta memohon, maka tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur langsung. Di

samping itu, untuk berbicara secara sopan, perintah dapat diutarakan dengan

kalimat berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa

diperintah. Bila hal ini yang terjadi, terbentuklah tindak tutur tidak langsung.

Contoh berikut memperjelas uraian di atas.

(9) Mami ambilin dede makan!

(10) Mami, dede laper.

Kedua contoh di atas menunjukkan bahwa contoh (9) adalah tuturan yang

berbentuk kalimat perintah yang tentu saja terlihat dengan jelas bahwa tuturan

tersebut berfungsi memerintah, maka tuturan pada contoh (9) tersebut termasuk

tindak tutur langsung. Berbeda dengan contoh (10), tuturan pada contoh (10)

berbentuk kalimat berita, tetapi apabila tuturan tersebut dituturkan oleh seorang

anak kepada ibunya ketika sang anak baru pulang sekolah, maka tuturan tersebut

tidak hanya sekadar berfungsi memberi tahu bahwa penutur lapar. Lebih dari itu,

penutur secara tidak langsung meminta untuk diambilkan makan. Dengan kata

lain, tuturan tersebut merupakan tindak tutur tidak langsung.

Berikut ini merupakan skema penggunaan modus kalimat dalam kaitannya dengan

kelangsungan tindak tutur (Wijana dan Rohmadi, 2010:30).

Modus Tindak Tutur

Langsung Tidak Langsung

Berita Memberitakan Menyuruh

Tanya Bertanya Menyuruh

(44)

-Skema di atas menunjukkan bahwa kalimat perintah tidak dapat digunakan untuk

mengutarakan tuturan secara tidak langsung.

Dengan cara yang lebih rinci, Wijana (2010) mengklasifikasikan kelangsungan

dan ketidaklangsungan tuturan atas delapan klasifikasi yang disebutnya sebagai

modus tindak tutur. Berikut ini merupakan modus tindak tutur tersebut.

a. Modus Langsung

Modus langsung adalah modus tuturan yang mencerminkan kesesuaian antara

tuturan dengan tindak yang diharapkan. Misalnya, tuturan deklaratif untuk

menginformasikan sesuatu, tuturan interogatif untuk bertanya. Berikut ini contoh

modus tuturan langsung.

(11) Si, pas remedial nanti itu pas ulang tahun dede loh.

Tuturan (11) merupakan tuturan deklaratif. Penutur memberi tahu mitra tutur

bahwa pada saat remedial di sekolahnya bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

Jika tuturan tersebut dituturkan oleh penutur dengan maksud menginformasikan

hari ulang tahunnya, maka tuturan tersebut merupakan tuturan dengan modus

langsung.

b. Modus Tidak Langsung

Modus tidak langsung adalah modus tuturan yang mencerminkan ketidaksesuaian

antara tuturan dengan tindakan yang diharapkan dengan tujuan agar tuturan

dianggap lebih sopan. Tuturan (11) bisa menjadi tuturan dengan modus tidak

langsung jika maksud penutur tidak hanya sekadar memberi tahu bahwa ia akan

(45)

ulang tahunnya agar mitra tutur memberikannya hadiah di hari ulang

tahunnya,maka tuturan tersebut merupakan tuturan dengan modus tidak langsung.

c. Modus Literal

Modus literal adalah modus tuturan yang mencerminkan kesesuaian makna literal

tuturan dengan tindakan yang diharapkan. Berikut ini contoh tuturan dengan

modus literal.

(12) Baksonya enak ya, Susi

Tuturan (12 ) bila diutarakan untuk maksud menyatakan bahwa rasa bakso itu enak

dan penutur benar-benar menikmati bakso tersebut, maka tuturan itu merupakan

tuturan dengan modus literal.

d. Modus Tidak Literal

Modus tidak literal adalah modus tuturan yang mencerminkan ketidaksamaan

makna literal tuturan dengan tindakan yang diharapkan. Berikut ini contoh tuturan

dengan modus tidak literal.

(13) Baksonya enak ya,Susi. Dede gak mau lagi, ah!

Penutur mengatakan bahwa baksonya enak, tetapi ia tidak mau memakannya lagi.

Artinya, bakso itu tidak enak. Dalam hal ini, tampak bahwa ada ketidaksamaan

makna literal yang dituturkan dengan tindakan penutur. Oleh karena itu, tuturan

merupakan tuturan dengan modus tidak literal.

e. Modus Langsung Literal

Modus langsung literal adalah modus yang mencerminkan kesamaan bentuk dan

(46)

memerintah disampaikan dengan kalimat perintah, memberitakan dengan kalimat

berita, dan menanyakan sesuatu dengan kalimat tanya. Contoh dapat ditemukan pada

tuturan berikut.

( 14) Tulisannya bagus sekali.

(15) Habiskan makanan itu!

(16) Kamu belum makan?

Tuturan di atas merupakan tuturan dengan modus langsung literal bila maksud

tuturan (14) memberitakan bahwa tulisan orang itu sangat bagus, tuturan (15)

menyuruh agar lawan tutur menghabiskan makanannya, dan tuturan (16)

menanyakan sudah makan atau belum. Maksud memberitakan diutarakan dengan

kalimat berita, maksud memerintah dengan kalimat perintah, dan maksud bertanya

dengan kalimat tanya.

f. Modus Tidak Langsung Literal

Modus tidak langsung literal adalah modus tuturan yang dituturkan dengan bentuk

yang tidak sesuai dengan tindakan yang diharapkan tetapi antara makna literal

dengan tindakan yang diharapkan terdapat kesamaan. Dalam tindak tutur ini

maksud memerintah diutarakan dengan kalimat berita atau kalimat tanya. Contoh

modus ini tampak pada tuturan berikut.

(17) Mami, dede belum makan.

(18) Sepeda dede masih di luar ya, Pi?

Tuturan di atas dalam konteks seorang anak berbicara kepada orang tuanya. Tuturan

(47)

maksud memerintah yang diungkapkan secara tidak langsung dengan kalimat berita.

Dalam hal ini, maksud tuturan tersebut adalah penutur meminta agar lawan tutur

mengambilkan makan untuknya. Demikian pula dengan tuturan (18), penutur

menggunakan kalimat tanya untuk memerintah. Secara tidak langsung maksud

tuturan tersebut adalah penutur ingin lawan tutur memasukkan sepedanya ke dalam

rumah.

g. Modus Langsung Tidak Literal

Modus langsung tidak literal adalah modus yang diungkapkan dengan bentuk

tuturan yang sesuai dengan tindakan yang diharapkan tetapi makna literal tuturan

tidak sesuai dengan tindakan yang diharapkan. Maksud memerintah diungkapkan

dengan kalimat perintah, dan maksud menginformasikan dengan kalimat berita.

Contoh pada kalimat berikut.

(19) Tulisanmu bagus, kok.

(20) Kalau makan biar kelihatan sopan, buka saja mulutmu!

Dengan modus langsung tidak literal penutur dalam (19) memaksudkan bahwa

tulisan lawan tuturnya tidak bagus. Sementara tuturan (20) penutur menyuruh lawan

tuturnya yang mungkin dalam hal ini temannya atau adiknya untuk menutup mulut

sewaktu makan agar terlihat sopan. Kalimat tanya tidak dapat digunakan untuk

mengutarakan tindak tutur langsung tidak literal.

h. Modus Tidak Langsung Tidak Literal

Modus tidak langsung tidak literal adalah modus yang diungkapkan dengan

bentuk dan makna literal yang tidak sesuai dengan tindakan yang diharapkan.

(48)

(21) Bajumu rapi sekali.

(22) Suara nyanyianmu terlalu pelan, tidak kedengaran.

Maksud tuturan (21) adalah untuk menyuruh seorang anak merapihkan bajunya yang

tidak rapi, seorang ibu atau orang yang lebih tua dapat saja menuturkannya dengan

nada tertentu. Demikian pula dengan tuturan (22) penutur bermaksud menyuruh

seorang teman mengecilkan volume suara nyanyiannya.

Dalam penelitian ini, penulis tidak hanya sebatas meneliti jenis tindak ilokusi saja,

tetapi juga menelaah bentuk verbal yang digunakan oleh anak. Dalam kaitannya

dengan ini, penulis akan melihat bagaimana anak menyampaikan maksud dalam

kalimat yang dituturkannya, yakni dengan memperhatikan kelangsungan dan

ketidaklangsungan tuturannya.

2.4 Konteks

Dalam kajian tindak tutur, konteks sangat berperan penting untuk memahami

maksud penutur. Konteks dalam pragmatik berarti semua latar belakang

pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tuturnya. Sebuah

peristiwa tutur terjadi pada waktu, tempat, situasi, dan tujuan tertentu. Artinya,

analisis terhadap tindak tutur tidak dapat dilepaskan dari konteks yang

melatarinya.

Wijana dan Rohmadi (2010: 14) menyatakan bahwa konteks tuturan penelitian

linguistik adalah konteks dalam semua aspek fisik atau seting sosial yang relevan

(49)

semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang dipahami

bersama oleh penutur dan lawan tutur.

Sementara itu, Schiffrin ( 2007: 549-559) menyatakan bahwa dalam teori tindak

tutur konteks berhubungan dengan pengetahuan dan situasi. Hubungan konteks

dengan pengetahuan ialah tentang apakah yang dapat diasumsikan oleh penutur

dan mitra tutur untuk mengetahui sesuatu dan tentang bagaimana pengetahuan

tersebut memberikan panduan dalam penggunaan bahasa dan interpretasi terhadap

tuturan. Dalam hubungannya dengan situasi, konteks adalah susunan keadaan

sosial sebuah tuturan sebagai bagian konteks pengetahuan dengan mana tuturan

tersebut diproduksi dan diinterpretasi.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa konteks adalah segala sesuatu

yang dapat mempengaruhi makna tuturan dari seseorang yang memiliki latar

belakang pengetahuan dan sosial yang sama. Dengan demikian, konteks sangat

diperlukan dalam memahami sebuah tuturan. Hymes (1974) seperti dikutip oleh

Djajasudarma (2012: 25) dan Rahardi (2001: 29-34), menyatakan unsur-unsur

konteks mencakup berbagai komponen yang disebutnya dengan akronim

SPEAKING. Akronim ini dapat diuraikan sebagai berikut.

(1) Setting

Setting berkenaan dengan waktu dan tempat tuturan secara langsung, atau

kondisi fisik lain yang berada di sekitar tempat terjadinya peristiwa tutur. Hal

(50)

(2) Participants

Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tutur, baik

penutur maupun mitra tutur.

(3) Ends

Ends merujuk pada maksud dan tujuan yang diharapkan dari sebuah tuturan.

(4) Act sequences

Act sequences mengacu pada bentuk dan isi pesan yang disampaikan. Bentuk

ujaran ini berkenaan dengan kata-kata yang digunakan. Bagaimana

penggunaannya dan hubungan antara apa yang dikatakan dengan topik

percakapan. Bentuk amanat dapat berupa surat, esai, dan iklan.

(5) Keys

Keys ialah cara yang berkenaan dengan sesuatu yang harus dikatakan oleh

penutur (serius, santai, bersemangat). Cara-cara yang digunakan oleh

seseorang ketika bertutur dapat mempermudah dalam memahami maksud

ujaran tersebut.

(6) Instrumentalities

Instrumentalities adalah saluran yang digunakan dalam bentuk tuturan yang

dipakai, saluran yang digunakan dapat berupa jalur lisan, tertulis, atau

telepon, bahkan dapat pula melalui sandi-sandi atau kode tertentu.

(7) Norms

Norms adalah norma-norma yang digunakan dalam interaksi. Norma ini

mengacu untuk memperhalus ujaran yang akan dituturkan seseorang,

misalnya norma kesopanan, norma agama dan sebagainya. Hal ini dapat

(51)

(8) Genres

Genres adalah register khusus yang dipakai dalam peristiwa tutur. Genres ini

mengacu pada jenis bentuk penyampaian tuturan, seperti narasi, puisi,

pepatah, doa dan sebagainya.

Berkenaan dengan penelitian ini, konteks digunakan untuk melihat dan

menjelaskan sebab-sebab terjadinya tindak tutur. Seperti telah dijelaskan

sebelumnya bahwa konteks adalah segala situasi juga pengetahuan yang dapat

melingkupi suatu ujaran dan dapat menemukan maksud. Dengan demikian, dalam

suatu penelitian tindak tutur, konteks sangat berperan untuk membantu

menentukan maksud ujaran.

2.5 Bahan Ajar

2.5.1 Pengertian Bahan Ajar

Bahan ajar merupakan salah satu komponen penunjang belajar yang digunakan

dalam proses pembelajaran. Menurut Fathurrohman & Sutikno (2010: 14)

bahan/materi ajar merupakan medium untuk mencapai tujuan pengajaran yang

“dikonsumsi” oleh peserta didik. Bahan ajarmerupakan materi yang terus

berkembang secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan perkembangan

masyarakat. Menurut Prastowo (2015: 6) bahan ajar adalah segala bentuk bahan

yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar

mengajar.

Majid (2013: 174) menyatakan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan,

informasi, alat dan teks yang digunakan untuk membantu guru dalam

(52)

120) menyatakan bahwa bahan ajar adalah bagian dari sumber belajar. Bahan ajar

adalah segala bentuk bahan atau materi yang disusun secara sistematis yang

digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan kegiatan

belajar mengajar sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan

peserta didik untuk belajar.

2.5.2 Jenis-Jenis Bahan Ajar

Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi

empat kategori, yaitu bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku,

modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket.

Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk

audio. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film.

Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI

(Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajarn

interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials)

(Depdiknas, 2008: 11).

Selanjutnya, pada penelitian ini akan dibahas tentang bahan ajar cetak. Bahan ajar

cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk. Jika bahan ajar cetak tersusun

secara baik, bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan, yaitu: a) bahan

tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan bagi seorang

guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang sedang

dipelajari; b) biaya untuk pengadaannya relatif sedikit; c) bahan tertulis cepat

digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah; d) susunannya menawarkan

(53)

ringan dan dapat dibaca di mana saja; f) bahan ajar yang baik akan dapat

memotivasi pembaca untuk melakukan aktivitas, seperti menandai, mencatat,

membuat sketsa; g) bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang

bernilai besar; h) pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri. Berikut

macam-macam bahan ajar cetak menurut Depdiknas (2008: 12-15).

1. Handout

Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk

memperkaya pengetahuan peserta didik. Handout biasanya diambilkan dari

beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan

atau KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik. Saat ini

handout dapat diperoleh dengan berbagai cara, antara lain dengan cara

download dari internet, atau menyadur dari sebuah buku.

2. Buku

Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan buah pikiran

dari pengarangnya. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai cara,

misalnya hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman,

otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi. Buku

adalah sejumlah lembaran kertas baik cetakan maupun kosong yang dijilid

dan diberi kulit. Buku sebagai bahan ajar merupakan buku yang berisi suatu

ilmu pengetahuan hasil analisis terhadap kurikulum dalam bentuk tertulis.

Buku yang baik adalah buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang

baik dan mudah dimengerti, disajikan secara menarik dilengkapi dengan

gambar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga menggambarkan

(54)

3. Modul

Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik

dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga

modul berisi paling tidak tentang (1) petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru),

(2) kompetensi yang akan dicapai, (3) konten atau isi materi, (4) informasi

pendukung, (5) latihan- latihan, (6) petunjuk kerja, dapat berupa Lembar

Kerja (LK), (7) evaluasi, (8) balikan terhadap hasil evaluasi. Sebuah modul

akan bermakna kalau peserta didik dapat dengan mudah menggunakannya.

Pembelajaran dengan modul memungkinkan seorang peserta didik yang

memiliki kecepatan tinggi dalam belajar akan lebih cepat menyelesaikan

satu atau lebih KD dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Dengan

demikian maka modul harus menggambarkan KD yang akan dicapai oleh

peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahasa yang baik, menarik,

dilengkapi dengan ilustrasi.

4. Lembar Kegiatan Siswa

Lembar Kegiatan Siswa (student worksheet) adalah lembaran-lembaran

berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan

biasanya berupa petunjuk dan langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu

tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas

KD yang akan dicapainya. Tugas-tugas sebuah lembar kegiatan tidak akan

dapat dikerjakan oleh peserta didik secara baik apabila tidak dilengkapi

(55)

Keuntungan adanya lembar kegiatan bagi guru, yakni memudahkan guru

dalam melaksanakan pembelajaran, sedangkan bagi siswa akan belajar

secara mandiri dan belajar memahami dan menjalankan suatu tugas tertulis.

Dalam menyiapkannya guru harus cermat dan memiliki pengetahuan dan

keterampilan yang memadai, karena sebuah lembar kerja harus memenuhi

paling tidak kriteria yang berkaitan dengan tercapai/ tidaknya sebuah KD

dikuasai oleh peserta didik.

5. Brosur

Brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang

disusun secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa

halaman dan dilipat tanpa dijilid atau selebaran cetakan yang berisi

keterangan singkat tetapi lengkap tentang perusahaan atau organisasi.

Dengan demikian, brosur dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar selama

sajian brosur diturunkan dari KD yang harus dikuasai oleh siswa. Mungkin

saja brosur dapat menjadi bahan ajar yang menarik karena bentuknya yang

menarik dan praktis. Agar lembaran brosur tidak terlalu banyak, maka

brosur didesain hanya memuat satu KD saja. Ilustrasi dalam sebuah brosur

akan menambah menarik minat peserta didik untuk menggunakannya.

6. Leaflet

Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak

dimatikan/dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara

cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang

(56)

harus memuat materi yang dapat menggiring peserta didik untuk menguasai

satu atau lebih KD.

7. Wallchart

Wallchart adalah bahan cetak, biasanya berupa bagan siklus atau proses atau

grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu. Agar wallchart terlihat

lebih menarik bagi siswa maupun guru, maka wallchart didesain dengan

menggunakan tata warna dan pengaturan proporsi yang baik. Wallchart

biasanya masuk dalam kategori alat bantu melaksanakan pembelajaran,

namun dalam hal ini wallchart didesain sebagai bahan ajar. Hal ini, karena

didesain sebagai bahan ajar, maka wallchart harus memenuhi kriteria

sebagai bahan ajar antara lain bahwa memiliki kejelasan tentang KD dan

materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik, diajarkan untuk berapa

lama, dan bagaimana cara menggunakannya. Sebagai contoh wallchart

tentang siklus makhluk hidup binatang antara ular, tikus, dan

lingkungannya.

8. Foto atau Gambar

Foto atau gambar sebagai bahan ajar tentu saja diperlukan satu rancangan

yang baik agar setelah selesai melihat sebuah atau serangkaian foto/gambar

siswa dapat melakukan sesuatu yang pada akhirnya menguasai satu atau

lebih KD. Melalui membaca yang dapat diingat hanya 10%, dari mendengar

yang diingat 20%, dan dari melihat yang diingat 30%. Foto atau gambar

yang didesain secara baik dapat memberikan pemahaman yang lebih baik.

(57)

Bahan tertulis dapat berupa petunjuk cara menggunakannya dan atau bahan

tes.

2.6 Analisis Wacana 2.6.1 Definisi Wacana

Wacana adalah tataran bahasa yang lebih luas dari kalimat (rentetan

kalimat-paragraf) (Djajasudarma, 2012:1). Wacana membuat rentetan kalimat yang

berhubungan, menghubungkan proporsi yang satu dengan proporsi lainnya,

membentuk satu kesatuan informasi. Proporsi adalah konfigurasi makna yang

menjelaskan isi komunikasi (dari pembicaraan) atau isi konsep yang masih kasar

yang akan melahirkan statement (pernyataan kalimat).

Wacana dikatakan sebagai salah satu istilah umum dalam contoh pemakaian

bahasa, yakni bahasa yang dihasilkan oleh tindak komunikasi. Jika tata bahasa

mengacu pada kaidah-kaidah pemakaian bahasa, yakni pada bentuk unit-unit

gramatikal, seperti frasa, klausa, dan kalimat, maka wacana mengacu pada

unit-unit bahasa yang lebih besar, seperti paragraf-paragraf, percakapan-percakapan,

dan wawancara-wawancara (Richards, dkk. dalam Djajasudarma, 2012: 3).

Wacana dalam hal ini dianggap sebagai hasil tindakan komunikasi (pemakaian

bahasa) dan menunjukkan unit-unit bahasa yang lebih besar dari gramatika.

Di pihak lain, Samsuri dalam Rusminto (2012:3) menyatakan bahwa wacana

merupakan rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, baik

lisan maupun tulisan. Apa pun bentuknya, wacana mengasumsikan adanya

(58)

adalah pembicara, sedangkan pesapa adalah pembaca. Wacana mempelajari

bahasa dalam pemakaian, jadi kajian wacana bersifat pragmatik.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Rusminto (2012:5) mengemukakan bahwa

wacana adalah satuan bahasa tertinggi dan terlengkap yang berada di atas tataran

kalimat yang digunakan dalam kegiatan komunikasi. Dengan demikian, kajian

terhadap wacana tidak dapat dilepaskan dari konteks yang melatarbelakangi

kegiatan komunikasi yang sedang berlangsung. Hal ini berarti bahwa kajian

terhadap wacana merupakan kajian bahasa yang bersifat pragmatik.

2.6.2 Definisi Analisis Wacana

Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti dan menganalisis bahasa

yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan (Stubbs

dalam Rusminto, 2012: 5). Penggunaan bahasa secara alamiah tersebut

dimaksudkan sebagai penggunaan bahasa yang terjadi dalam peristiwa

komunikasi sehari-hari secara nyata. Dalam uraian selanjutnya, Stubbs juga

mengemukakan bahwa analisis wacana menekankan kajian pada penggunaan

bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antarpenutur yang terjadi

di masyarakat pemakai bahasa.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Wahab (dalam Rusminto, 2012: 6)

menemukakan bahwa analisis wacana adalah analisis bahasa dalam penggunaan

yang sebenarnya. Oleh karena itu, analisis wacana tidak dapat dibatasi hanya pada

deskripsi bentuk-bentuk linguistik yang terpisah dari tujuan dan fungsi bahasa

Figure

Gambar 3.1 Bagan Analisis Heuristik

References

Related documents

 On the wooden side, El Toro at Six Flags Great Adventure leads the poll currently, with many of the same favorites from the Golden Ticket poll also taking top spots.. T Express

They explain market behavior and its prices by examining a number of factors involved in supply and demand, but do not explicitly pose time series models for the data.. ∗

in the marine deposit of level III (Praia da Aguda).. depósitos do nível II e permite inferir a maior anti- guidade do nível marinho I, que será necessaria- mente anterior ao

Aplikasi pengolahan citra digital dapat diketahui bobot sapi menggunakan canny edge detection dengan menggunakan variabel lingkar dada pada obyek sapi.

UltraTech believes that there is strong business case for sustainable development in the cement industry and has, thus voluntarily joined the Cement Sustainability Initiative

-Able to provide a highly customizable service to their customers -Focus development on application design instead of infrastructure, database and security model design..

The quotes above reveal that all lecturers participating in the interviews, whether they reported Advanced or Intermediate proficiency in English, acknowledged that the policy of

Besides that, direct questions gave the impact on the students’ psychological aspect in which the students felt free to give their opinion related to the instruction