PENDAPATAN DAN KESEJAHTERAAN RUMAHTANGGA PETANI SALAK DI DESA WONOHARJO KECAMATAN SUMBEREJO
KABUPATEN TANGGAMUS
(Skripsi)
WIJI DINDA S.
JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRACT
INCOME AND HOUSEHOLD WELFARE OF SALAK (Snake Fruits) FARMERS IN WONOHARJO VILLAGE SUMBEREJO DISTRICT
TANGGAMUS REGENCY
By
Wiji Dinda S
This research aims to analyze the income of salak (snake fruits) farming, the contribution of salak farming to revenue and welfare level of salak farmers. This research is conducted in Wonoharjo Village, Sumberejo District, Tanggamus Regency. This researchuses survey method and the sample determined by simple random sampling method. Respondents of this research are 53 farmers of salak. The data were collected on April 2018.The result of this research shows that the income of salak farming profitable, which is equal to Rp10.194.376,75 /year for land area 0,35 ha. The contribution of salak farming income to household income reach 48,53%, while the contribution of income on farm non salak is 20,18%, off farm is only 14,71% and non farm is 16,78%. Household welfare of salak farmer in Desa Wonoharjo in quite prosperous category.
ABSTRAK
PENDAPATAN DAN KESEJAHTERAAN RUMAHTANGGA PETANI SALAK DI DESA WONOHARJO KECAMATAN SUMBEREJO
KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Wiji Dinda S
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pendapatan usahatani salak, kontribusi usahatani salak terhadap pendapatan rumahtangga, dan tingkat kesejahteraan petani salak. Penelitian ini dilakukan di Desa Wonoharjo, Kecamatan Sumber Rejo, Kabupaten Tanggamus. Penelitian ini menggunakan metode survey dan penentuan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Responden dalam penelitian ini berjumlah 53 orang petani salak. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usahatani salak menguntungkan yaitu sebesar Rp10.194.376,75 tahun per luas lahan 0,35 ha. Kontribusi pendapatan usahatani salak terhadap pendapatan rumah tangga petani salak yaitu mencapai 48,53 persen, sedangkan kontibusi pendapan usahatani on farm non salak sebesar 20,18 persen, untuk off farm sebesar 14,71 persen dan non farm sebesar 18,34 persen. Petani salak di Desa Wonoharjo berada dalam kategori cukup sejahtera .
PENDAPATAN DAN KESEJAHTERAAN RUMAHTANGGA PETANI SALAK DI DESA WONOHARJO KECAMATAN SUMBEREJO
KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
WIJI DINDA S.
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN
Pada
Jurusan Agribisnis
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
vi RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Wiji Dinda S., lahir di Lampung
Timur pada tanggal 07 Juni 1994. Penulis merupakan Anak
pertama dari empat bersaudara pasangan Supriadi dan Umi
Kulsum . Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar
di SD Negeri 6 Rajabasa Lama Kecamatan Labuhan Ratu
Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2005, kemudian memutuskan untuk
melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Labuhan Ratu
Lampung Timur pada tahun 2008 serta Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1
Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2011.
Penulis diterima sebagai mahasiswa Universitas Lampung melalui jalur Ujian
Mandiri Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) pada tahun 2011. Penulis
melaksanakan kegiatan Praktik Umum (PU) di WONG COCO Desa Bumi Sari
Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan pada bulan Juli 2015. Kemudian,
penulis melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 40 hari dari
bulan Januari 2015 hingga Maret 2015 di Desa Kampung Menggala Kecamatan
Cakat Kabupaten Tulang Bawang. Penulis juga aktif mengikuti kegiatan organisasi
tingkat Fakultas Pertanian di Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian
SANWACANA
Bismillahirohmanirrohiim
Alhamdulillahirobbil’alamin. Segala puji bagi Allah SWT berkat rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pendapatan
Dan Kesejahteraan Rumahtangga Petani Salak Di Desa Wonoharjo
Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus.
Skripsi ini dapat terselesaikan berkat bantuan, arahan, bimbingan, dan dukungan
dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan
terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., sebagai Dekan Fakultas Pertanian
Universitas Lampung.
2. Dr. Teguh Endaryanto S.P. M.Si., sebagai Ketua Jurusan Agribisnis dan
Dosen Pembimbing Pertama atas ketulusan hati dan kesabaran dalam
memberikan bimbingan, arahan, nasihat, saran dan dukungan selama proses
penyelesaian skripsi.
3. Dr. Ir. Fembriarti Erry Prasmatiwi, M.P., sebagai Dosen Pembimbing Kedua
atas ketulusan hati dan kesabaran dalam memberikan bimbingan, arahan,
4. Ir. Eka Kasymir, M.Si., sebagai dosen penguji atas nasihat, saran dan arahan
yang telah diberikan untuk penyempurnaan skripsi ini.
5. Dr. Ir. Sudarma Widjaya, M.S., sebagai Dosen Pembimbing Akademik atas
arahan, bimbingan dan dukungan yang telah diberikan.
6. Keluargaku tercinta Ibunda Umi Kulsum dan Ayahanda Supriadi ketiga
saudaraku Nanda Ika Setya, Candra Rukmana I.S., dan Setia Muhammad
Rizal seluruh keluarga besarku atas semua do’a dan kasih sayang yang tulus
kepada penulis.
7. Mamah Aisyah dan Jamaludin dan semua anggota keluarga yang ada di Lampung Selatan atas dukungan dan do’a kepada penulis.
8. Dosen Jurusan Agribisnis atas semua ilmu yang telah diberikan selama penulis
menjadi mahasiswa di Universitas Lampung.
9. Karyawan-karyawati di Jurusan Agribisnis, Mbak Iin, Mbak Tunjung, Mbak
Ayi, Mas Boim dan Mas Bukhari atas semua bantuan dan kerjasama yang
telah diberikan.
10.Sahabat tercinta, Yeni, Graha, Juliantika, Aan, Ikhwan, Ayu, Fadel, Pumai,
Evi, Bram, Syafe’I, Frisca, Rafika atas kebersamaan dalam suka maupun
duka, bantuan, saran, dukungan dan saran yang telah diberikan.
11.Teman-teman seperjuangan Venny, Wigeta, Diyong, Werdhi, Vira, Lukita,
Sellynda, Antonio, Faisal Oktori, dan teman-teman Jurusan Agribisnis lainnya
yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
12.Kakanda dan Ayunda Jurusan Agribisnis 2010 dan 2009, serta Adinda Jurusan
13.Almamater tercinta dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
per satu yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak terlepas dari kesalahan dan jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu penulis meminta maaf atas segala kekurangan yang
ada. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan semoga
Allah SWT memberikan balasan terbaik atas segala bantuan yang telah diberikan.
Aamiin ya Rabbalalaamiiin.
Bandar Lampung, Desember 2018
Penulis,
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... vii
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan Penelitian... 8
C. Kegunaan Penelitian ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN A. Tinjauan Pustaka ... 9
1. UsahataniSalak ... 9
2. Teori Usahatani ... 12
3. Pendapatan ... 15
4. Konsep Kesejahteraan ... 22
5. Kajian Terdahulu ... 23
B. Kerangka Pemikiran ... 26
III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar ... 28
B. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Variabel ... 28
C. Lokasi, Responden dan Waktu Penelitian ... 31
D. Jenis dan Sumber Data ... 33
E. Metode Analisis Data ... 33
1. Analisis Pendapatan Usahatani Salak ... 33
2. Pendapatan Rumah Tangga ... 35
3. Kontribusi pendapatan usahatani salak ... 36
4. Analisis Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Salak ... 36
IV. Gambaran Umum Daerah Penelitin A. Keadaan umum Kabupaten Tanggamus ... 39
1. Keadaan Geografis Kabupaten Tanggamus ... 39
2. Topografi Kabupaten Tanggamus ... 40
3. Tata Guna Lahan ... 40
4. Keadaan Demografi Kabupaten Tanggamus ... 41
B. Keadaan umum Kecamatan Sumberejo ... 43
1. Keadaan Geografis Sumberejo ... 43
ii
3. Gambaran Umum Pertanian Kecamatan Sumberejo ... 45
C. Keadaan umum Desa Wonoharjo ... 46
1. Keadaan Geografis Desa Wonoharjo ... 46
2. Keadaan Demografi Desa Wonoharjo ... 47
3. Keadaan Pertanian Desa Wonoharjo ... 49
4. Keadaan Pendidikan Desa Wonoharjo ... 50
5. Sarana dan Prasarana ... 51
V. Hasil Penelitian dan Pembahasan A. Keadaan Umum Responden ... 53
1. Umur ... 53
2. Tingkat Pendidikan Petani ... 54
3. Pengalaman Berusahatani ... 55
4. Jumlah Tanggungan Keluarga Petani ... 56
5. Pekerjaan Sampingan Petani ... 57
B. Gambaran Umum Usahatani Salak Responden ... 58
1. Cara Budidaya Salak ... 58
2. Jarak Tanam Salak ... 60
3. Umur Salak ... 60
4. Jumlah Tanaman ... 61
5. Luas Lahan Responden ... 62
C. Analisi Pendapatan Usahatani Salak ... 63
1. Penggunaan Sarana Dan Biaya Produksi ... 63
2. Poduksi dan Penerimaan Usahatani Salak ... 69
3. Pendapatan Usahatani Salak ... 71
D. Pendapatan Rumah Tangga Petani ... 75
1. Pendapatan Usahatani (on farm) ... 75
2. Pendapatan Off Farm ... 76
3. Pendapatan Non Farm ... 77
4. Total Pendapatan Rumah Tangga Petani salak ... 78
E. Analisis Kesejahteraan Rumah Tangga Petani... 80
1. Pengeluaran Rumah Tangga ... 80
2. Analisis Kesejahteraan Menurut Konsep sajogyo ... 84
VI. Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan ... 87
B. Saran ... 88
DAFTAR PUSTAKA ... 89
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Total produksi salak di Provinsi Lampung tahun 2016 ... 3
2. Produksi salak di setiap kecamatan yang berada di Kabupaten Tanggamus tahun 2016 ... 4
3. Penelitian Terdahulu ... 24
4. Kriteria kesejahteraan apabila pengeluaran per kapita per tahun setara beras ... 38
5. Luas lahan pertanian menurut penggunaan di Kabupaten Tanggamus tahun 2016 ... 41
6. Sebaran penduduk Kabupaten Tanggamus menurut Kelompok umur tahun 2016 ... 42
7. Jumlah penduduk Kecamatan Sumberejo menurut jenis kelamin 2017 ... 44
8. Penggunaan lahan di Kecamatan Sumberejo tahun 2016 ... 45
9. Sebaran penduduk Desa Wonoharjo menurut pekerjaan 2016 ... 48
10. Luas lahan pertanian Desa Wonoharjo tahun 2016 ... 49
11. Jumlah penduduk Desa Wonoharjo berdasarkan tingkat Pendidikan 2016 ... 50
12. Sarana prasarana di Desa Wonoharjo 2016 ... 52
13. Sebaran responden petani salak menurut umur di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 53
14. Sebaran responden petani salak menurut tingkat pendidikan di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 54
iv 16. Sebaran petani responden berdasarkan jumlah tanggungan keluarga di Desa
Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 56
17. Sebaran petani responden berdasarkan Pekerjaan sampingan di Desa
Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 58
18. Sebaran petani responden berdasarkan jarak tanam salak di Desa
Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 60
19. Sebaran petani responden berdasarkan umur salak di Desa Wonoharjo
Kecamatan Sumberejo 2018 ... 61
20. Sebaran petani salak berdasarkan jumlah Pohon di Desa Wonoharjo
Kecamatan Sumberejo 2018 ... . 61
21. Sebaran responden petani salak berdasarkan luas lahan di Desa
Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 62
22. Rata-rata harga dan penggunaan pupuk pada usahatani salak di Desa
Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 63
23. Rata-rata penggunaan pestisida oleh petani di Desa Wonoharjo Kecamata Sumberejo 2018 ... 65
24. Rata-rata penggunaan tenaga kerja pada usahatani salak di Desa
Wonoharjo Kecamatan Sumberejp 2018 ... . 67
25. Rata-rata nilai penyusutan peralatan dalam kegiatan usahatani salak di
Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 68
26. Rata-rata Produksi dan penerimaan usahatani salak di Desa Wonoharjo
Kecamatan Sumberejo 2018 ... 70
27. Rata-rata penerimaan, biaya, dan pendapatan usahatani salak dalam satu
tahun terakhir di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 74
28. Pendapatan on farm non salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 76
29. Pendapatan Off Farm rumahtangga petani salak di Desa Wonoharjo
Kecamatan Sumberejo 2018 ... 77
30. Tabel Pendapatan non farm rumah tangga petani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo 2018 ... 77
v 32. Rata-rata pengeluaran rumah tangga petani salak per tahun di Desa
Wonoharjo Kecamatan Sumberejo tahun 2018 ... 83
33. Kriteria penilaian kesejahteraan petani Desa Wonoharjo berdasarkan Sajogyo (1997) ... 85
34. Identitas responden petani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 93
35. Biaya penyusutan usahatani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 95
36. Penggunaan pupuk untuk usahatani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 99
37. Biaya pestisida petani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 103
38. Biaya pajak petani salak di Desa WonoharjoKecamatan Sumberejo ... 105
39. Penggunaan tenaga kerja usahatani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 106
40. Penerimaan usahatani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 114
41. Total biaya usahatani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 122
42. Pendapatan usahatani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 124
43. Pendapatan dan R/C usahatani salak Tahun 2018 di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 126
44. Pendapatan on farm (non salak) rumah tangga petani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo Sumberejo ... 127
45. Pendapatan off farm rumah tangga petani Salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 135
46. Pendapatan non farm salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 137
47. Pendapatan rumah tangga petani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 139
48. Kontribusi usahatani salak terhadap pendapatan rumah tangga petani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 141
vi 50. Distribusi pengeluaran non pangan rumah tangga petani salak di Desa
Wonoharjo Kecamatan Sumberejo ... 156
51. Total pengeluaran rumah tangga petani salak di Desa Wonoharjo
vii DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka pemikiran pendapatan dan kesejahteraan petani salak di Desa
Wonoharjo Kecamatan Sumberejo………. 27
2. Peta Kabupaten Tangamus………. 40
3. Peta Kecamatan Sumberejo……….... 47
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian
sebagai sumber mata pencaharian dari mayoritas penduduknya. Salah satu
tujuan dari pembangunan pertanian adalah untuk meningkatkan pendapatan
petani. Tujuan tersebut dapat terlaksana dengan baik apabila disertai
perubahan berbagai segi kehidupan masyarakat. Dengan demikian
pembangunan juga meniadakan ketimpangan, menggurangi ketidakmerataan
dan mengurangi kemiskinan petani pada khususnya. Setiap daerah di
Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk dapat mengembangkan sektor
petanian.
Keberadaan sektor pertaian selama ini telah terbukti mampu memperbaiki
taraf hidup masyarakat, meskipun hal ini belum merata menyentuh pedesaan
secara keseluruhan. Kemampuan sektor pertanian sendiri dapat ditunjukkan
dengan aktivitas dalam meningkatkan pendapatan petani, sehinggasektor
pertanian di Indonesia harus terus dikembangkan untuk keberlangsungan
2
Hortikultura sebagai salah satu subsektor pertanian juga memiliki peranan
yang cukup berarti bagi pemenuhan gizi masyarakat Indonesia. Komoditas
hortikultura yang banyak dikembangkan di Indonesia diantaranya adalah
sayuran, buah-buahan, tanaman obat-obatan, serta tanaman hias. Penyediaan
komoditas hortikultura juga harus dilakukan dengan baik agar dapat
menghasilkan produk hortikultura yang berkualitas dan bernilai jual tinggi.
Hal ini juga perlu disertai dengan pemberian perhatian bagi petani
hortikulturakarena di Indonesia hingga saat ini masih kurang mendapatkan
perhatian dankalaupun masih bersifat sederhana.
Peluang pertumbuhan ekonomi yang berasal dari agribisnis tanaman
hortikultura diyakini sangat besar, baik bagi pasar dalam negeri maupun
ekspor. Pasar dalam negeri tumbuh sejalan dengan kesadaran
masyarakatakan pentingnya mengkonsumsi buah dan sayuran yang baik bagi
kesehatan dan perbaikan kesejahteraan masyarakat yang memerlukan produk
bunga dan tanaman hias untuk keindahan dan kesegaran lingkungan. Salah
satu produk subsektor hortikultura yang cukup potensial adalah buah-buahan.
Indonesia merupakan negara tropik yang kaya akan buah-buahan. Iklim di
Indonesia memungkinkan mudahnya berbagai jenis buah-buahan tumbuh dan
berkembang. Selain itu buah-buah telah lama dikenal masyarakat sebagai
sumber serat,vitamin dan mineral untuk memenuhi asupan gizi masyarakat.
Provinsi Lampung termasuk lima besar penghasil buah-buahan di Indonesia
dengan rata-rata produksi mencapai 1,4 juta ton pertahun. Jumlah itu
3
terhadap produksi Sumatera sebesar 26,9 persen dari rata-rata produksi
tersebut. Buah buhan yang dihasilkan oleh lampung mencapai 22 jenis di
antaranya papaya, jeruk, durian, buah naga, rambutan dan salak . (BPS, 2017)
Tanaman salak merupakan tanaman asli Indonesia yang diperkirakan berasal
dari Pulau Jawa kemudian menyebar ke seluruh Indonesia bahkan Filipina,
Malaysia, Brunei Darusalam, dan Thailand. Usaha budidaya salak telah
dikembangkan di hampir semua kabupaten di Propinsi Lampung. Namun
pengembangan terbesar dilakukan di Kabupaten Tanggamus. Adapun jenis
salak yang dibudidayakan adalah salak. Hasil produksi salak di Provinsi
[image:20.595.138.493.414.637.2]Lampung dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Total produksi salak di Provinsi Lampung tahun 2016
Kabupaten/Kota Salak (kg)
Lampung Barat 325.800,00
Tanggamus 1.726.800,00
Lampung Selatan 816.700,00 Lampung Timur 173.500,00 Lampung Tengah 114.000,00 Lampung Utara 127.500,00 Way Kanan 32.500,00 Tulang Bawang 28.600,00 Pesawaran 271.100,00 Pringsewu 300,00 Mesuji 36.900,00 Tulang Bawang Barat 4.800,00 Pesisir Barat 5.000,00 Bandar Lampung 112.700,00 Metro 1.700,00 Total 3.777.900,00
Sumber: Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Lampung, 2017
Bedasarkan Tabel 1 bahwa Kabupaten Tanggamus merupakan kabupaten
4
selanjutnya diikuti oleh Lampung Selatan dengan produksi 816.700 kilogram
dan Lampung Barat dengan produksi 325.800 kilogram. Data produksi setiap
[image:21.595.138.488.218.504.2]kecamatan yang berada di Kabupaten Tanggamus disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Produksi salak di setiap kecamatan yang berada di Kabupaten Tanggamus tahun 2016
Kecamatan Luas Lahan (pohon)
Produksi (kg)
Produktivitas kg/pohon Wonosobo 3.000,00 16.000,00 5,33 Semaka 9.840,00 98.300,00 9,99 Bandar Negeri Semuong 0,00 0,00 0,00 Kota Agung 0,00 0,00 0,00 Pematang Sawa 0,00 0,00 0,00 Kota Agung Timur 1.000,00 6.900,00 6,90 Kota Agung Barat 0,00 0,00 0,00 Pulau Panggung 8.990,00 78.000,00 8,68 Ulubelu 21.020,00 196.900,00 9,37 Air Naningan 2.400,00 19.600,00 8,17 Talang Padang 23.650,00 183.400,00 7,75
Sumberejo 86.000,00 715.400,00 8,32
Gisting 72.000,00 400.000,00 5,56 Gunung Alip 400,00 2.600,00 6,50 Bulok 1.000,00 8.100,00 8,10 ukuh Balak 300,00 1.600,00 5,33 Kelumbayan 0,00 0,00 0,00 Limau 0,00 0,00 0,00 Kelumbayan Barat 0,00 0,00 0,00 Total 228.600,00 1.726.800,00 7,55
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tanggamus 2017
Kabupaten Tanggamus Memiliki 20 Kecamatan, di antara 20 kecamatan
tersebut sebanyak 60 persen kecamatan melakukan produksi salak.
Kecamatan Sumberejo, Gisting, Talang Padang dan Ulubelu merupakan
kecamatan yang memiliki produksi paling tinggi. Besarnya produksi salak
dikecamatan Sumberejo mengindikasikan bahwa sebagian masyarakat di
5
Rata-rata produktivitas buah salak per pohon pertahun adalah 10 kilogram
(Direktorat Tanaman Buah, 2004). Produksivitas salak di Kecamatan
Sumberejo masih rendah dibandingkan dengan produktivitas menurut
Direktorat Tanaman Buah namun kecamatan ini dapat dijadikan sebagai
lokasi yang tepat untuk mengidentifikasi permasalahan usahatani buah salak.
Salah satu desa di Kecamatan Sumberejo yang mengusahakan tanaman salak
Desa Wonoharjo. Desa Wonoharjo mulai membudidayakan salak karena
petani sering mengalami kerugian akibat gagal panen tanaman sayur-sayuran
dan pendapatan yang tidak menentu dari tanaman kopi. Peralihan
komodistas dari tanaman sayur-sayuran dan usahatani kopi ke tanaman salak
diharapkan dapat memenuhi kehidupan sehari-hari.
Teknologi pembudidayaan salak di Desa Wonoharjo masih terbilang
sederhana. Karena pengetahuan petani tentang budidaya salak masih
terbilang rendah, petani banyak yang belajar sendiri tentang budidaya salak
dan ada juga pengetahuan budidaya didapat dari mengikuti kegiatan
penyuluhan. Penyuluhan biasanya disampaikan langsung dari penyuluh yang
di utus dari dinas pertanian. walaupun petani sudah mengikuti penyuluhan
tentang produksi salak kenyataannya produksi salak di Desa Wonoharjo
belum maksimal.
Menurut Ardiyanto (2008) rata-rata produksi salak yang dihasilkan petani di
Kabupaten Magelang adalah 23.921,23 kg/ha dengan pendapatan rata-rata Rp
25.715.127,00 pertahun. Semakin besar hasil produksi buah salak yang
6
merupakan salah satu penentu produksi salak, naik turunnya dipengaruhi
dengan sarana produksi yang dipakai, semakin tinggi biaya yang dikeluarkan
serta rendahnya penerimaan berakibat rendahnya pendapatan petani.
Pendapatan petani dari hasil produksi salak ternyata belum cukup memenuhi
kebutuhan rumah tangga. Hal ini dibuktikan dari banyaknya petani yang
masih berhutang kepada pedagang pengepul, untuk memenuhi pengadaan
produksi usahatani salak . Petani yang terlibat hutang menjual hasil produksi
tersebut kepada pedagang pengepul, dengan harga jual di bawah harga pasar.
Hal ini akan berakibat pada rendahnya pendapatan petani dalam memenuhi
kebutuhan rumah tangganya.
Menurut Darsan (2014) Harga merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi pendapatan usahatani. Harga yang rendah akan
mengakibatkan rendahnya penerimaan petani. Harga salak berfluktuatif
yaitu kerap terjadi kenaikan dan penurunan pada bulan Februari dan
September harga salak rendah serta bulan Maret dan Oktober harga salak
tinggi. Harga salak di tingkat petani berkisaran dari Rp 2.500,00-Rp
5.000,00/kg. Harga salak pada Desember 2017 di tingkat petani Rp
3.000,00/kg. Rendahnya harga ditingkat petani dapat mempengaruhi
pendapatan yang diperoleh petani.
Pendapatan yang diperoleh petani akan berdampak terhadap keberlangsungan
hidup petani. Semakin besar pendapatan yang diperoleh dapat dipengaruhi
kesejahteraan rumah tangga petani tersebut. Pada dasarnya akses kebutuhan
7
yang dibutuhkan sangat tergantung dari daya beli, tingkat pendapatan, harga
pangan, proses distribusi, kelembagaan tinggkat lokal, dan kondisi sosial
lainnya (Gusti, 2013).
Kesejahteraan petani tergantung pada tingkat pendapatan petani dan
keuntungan yang diperoleh. Tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga dapat
dilihat dengan melalui besarnya suatu pendapatan yang diterima untuk rumah
tangga yang bersangkutan (Badan Pusat Statistik, 2014). Tingkat
kesejahteraan merupakan suatu konsep yang digunakan untuk menyatakan
kualitas hidup individu atau suatu masyarakat di suatu wilayah pada kurun
waktu tertentu. Konsep kesejahteraan yang dimiliki bersifat relatif,
tergantung bagaimana penilaian dari masing-masing individu terhadap
kesejahteraan itu sendiri. Sejahtera bagi seseorang dengan tingkat
pendapatan tertentu belum dapat juga dikatakan sejahtera bagi orang lain
(Daniel, 2002).
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan
yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu:
1) Berapakah pendapatan usahatani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan
Sumberejo Kabupaten Tanggamus?
2) Berapakah kontribusi pendapatan usahatani salak terhadap pendapatan
rumah tangga petani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo
Kabupaten Tanggamus?
3) Bagaimana tingkat kesejahteraan petani salak di Desa Wonoharjo
8
B. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini, yaitu :
1) Mengetahui pendapatan usahatani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan
Sumberejo Kabupaten Tanggamus.
2) Mengetahui kontribusi pendapatan usahatani salak terhadap pendapatan
rumah tangga petani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo
Kabupaten Tanggamus.
3) Mengetahui tingkat kesejahteraan petani salak di Desa Wonoharjo
Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus.
C. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan berguna bagi:
1) Pemerintah Kabupaten Tanggamus dalam mengembangkan usahatani
salak.
2) Petani dapat menambah pengetahuan dan informasi sebagai masukan
dalam rangka memajukan usahatani salak.
3) Peneliti lain, sebagai sarana pertimbangan tambahan pengetahuan dan
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
A. Tinjauan Pustaka
1. Usahatani Salak
Salak (Salacca edulis Reinw) merupakan tanaman buah asli dari
Indonesia. Buah ini tumbuh subur di daerah tropis. Ternyata tidak hanya
di Indonesia, salak juga dapat tumbuh dan menyebar di Malaysia,
Filipina, Brunei, dan Thailand (Widyastuti, 1996).
Tanaman salak termasuk dalam keluarga Palmae yang diduga dari Pulau Jawa. Klasifikasi tanaman salak menurut Cahyono (2016) adalah
sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angospermae Klas : Monocotyledoneae Ordo : Principes
Familia : Palmae Genus : Salacca
10
Tanaman salak dapat tumbuh hampir di seluruh daerah di Indonesia.
Akan tetapi, untuk dapat tumbuh dengan produktif tanaman ini
membutuhkan lingkungan yang ideal. Ketinggian tempat yang
diinginkan berkisar antara 1 m s.d. 400 m di atas permukaan laut
dengan curah hujan rata-rata 200 s.d. 400 mm/bulan. Suhu udara harian
daerah antara 20oC s.d. 30oC dan terkena sinar matahari antara 50% s.d.
70% menjadi tempat yang baik untuk pertumbuhannya. Jenis tanah yang
ideal adalah tanah yang gembur, mengandung bahan organik, air tanah
yang dangkal, dan mampu menyimpan air tetapi tidak mudah tergenang
(Widyastuti, 1996).
Budidaya salak yang efektif, akan berimbas kepada hasil panen yang
yang jauh lebih berkualitas dan juga lebih banyak. Dalam
mengefektifkan budidaya salak ini, ada beberapa faktor yang perlu anda
perhatikan, diantaranya adalah:
a. Pemilihan Bibit
Pemilihan bibit yang tepat akan mempengaruhi hasil salak yang
didapatkan. Bibit bisa diperoleh dengan memakai biji yang sudah
disemai. Namun cara ini akan seringkali membuat hasil panen tanaman
salak yang baru berbeda dengan induknya. Pemilihan bibit yang tepat
adalah dengan cara vegetatif, sebab anda akan bisa mendapatkan kualitas
buah salak sama dengan indukan yang anda pilih. Cara vegetatif ini bisa
11
dengan cara cangkok atau okulasi. Dengan memilih induk yang unggul,
maka anda pun akan mendapatkan anakan yang unggul pula.
b. Pengolahan Tanah
Ada dua hal penting dalam pengolahan tanah ini, yaitu pembuatan kanal
untuk alur penanaman bibit salak serta pengaturan jarak tanam. Jarak
antar salah yang ideal adalah sekitar 2 x 2 meter. Akan teteapi, jika anda
menggunakan sistem polikultur maka jaraknya bisa diperkecil yaitu 1,5 x
1,5 meter. Ketika penentuan jarak tanam sudah selesai, maka galilah
lubang dengan kedalaman 50 cm dengan luasan 50 x 50 cm. Biarkan
dulu lubang itu sekitar 3 minggu sebelum mulai ditanami bibit, agar
lubang tersebut terkena paparan sinar matahari. Kemudian setelah itu,
dapat memberinya pupuk kompos atau urea, dan setelah selang 1 minggu
barulah anda tanam bibit salak pada lubang tersebut.
c. Penanaman
Menaman salak pondoh lebih baik disesuaikan dengan musim yang tepat,
yaitu pada bulan November, dan salak bisa berbuah pada sekitar bulan
Desember hingga Februari. Anda juga harus memperhatikan jumlah dari
setiap bibit yang ada di dalam lubang. Saat menanam bibit tersebut, anda
juga harus menimbunnya dengan tanah yang sudah mengandung pupuk
dan jangan lupa disiram.
d. Pemeliharaan
Dalam pemeliharaan ini, perlu dilakukan sebuah penyulaman, yaitu
12
memeperhatikan bibit yang mana saja yang akan tumbuh dengan baik
dan juga menghasilkan buah. Apabila anda melihat bibit yang tidak baik
dalam pertumbuhannya, maka anda bisa segera menyulamnya agar hasil
panen anda bisa lebih maksimal. Selain itu, pemupukan juga haruslah
teratur, serta penyiangan gulma dan juga pemberantasan hama tanaman
perlu benar-benar diperhatikan.
2. Teori Usahatani
Usahatani didefinisikan sebagai organisasi dari alam, tenaga kerja, dan
modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Organisasi
ini dalam ketatalaksanaannya berdiri sendiri dan sengaja dilaksanakan
oleh seorang atau sekumpulan orang, segolongan sosial, baik yang terikat
genologis, politis, maupun teritorial sebagai pengelolanya (Hernanto,
1991).
Soeharjo dan Patong (1973), menjelaskan bahwa usahatani adalah proses
pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu alam, tenaga kerja, modal,
dan pengelolaan yang diusahakan oleh perorangan ataupun sekumpulan
orang-orang untuk menghasilkan output yang dapat memenuhi kebutuhan
keluarga ataupun orang lain disamping bermotif mencari keuntungan.
Hernanto (1991) menyatakan bahwa unsur-unsur pokok yang ada dalam
usahatani yang penting untuk diperhatikan adalah lahan, tenaga kerja,
modal, dan pengelolaan (manajemen). Unsur tersebut juga dikenal
dengan istilah faktor-faktor produksi. Unsur-unsur usahatani tersebut
13
penting. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usahatani
digolongkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal adalah faktor yang ada pada usahatani itu sendiri, seperti
petani pengelola, lahan usahatani, tenaga kerja, modal, tingkat teknologi,
kemampuan petani mengalokasikan penerimaan keluarga, dan jumlah
keluarga. Faktor eksternal adalah faktor-faktor di luar usahatani, seperti
tersedianya sarana transportasi dan komunikasi, aspek-aspek yang
menyangkut pemasaran hasil dan bahan usahatani (harga hasil, harga
saprodi, dan lain-lain), fasilitas kredit, dan sarana penyuluhan bagi
petani. Adapun empat unsur yang termasuk ke dalam faktor-faktor
produksi tersebut adalah:
a. Lahan
Lahan merupakan faktor produksi yang relatif langka dibanding
dengan faktor produksi lainnya dan distribusi penguasaannya di
masyarakat pun tidak merata. Adapun lahan itu sendiri memiliki
beberapa sifat, antara lain: luas relatif tetap atau dianggap tetap, tidak
dapat dipindah-pindahkan, dan dapat dipindahtangankan.
Berdasarkan hal tersebut maka lahan kemudian dianggap sebagai
salah satu faktor produksi usahatani meskipun di bagian lain dapat
juga berfungsi sebagai faktor atau unsur pokok dari modal usahatani
(Hernanto, 1991).
b. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan faktor produksi kedua selain lahan, modal,
14
dalam usahatani yaitu manusia, ternak, dan mekanik. Tenaga kerja
manusia dapat diperoleh dari dalam keluarga itu sendiri atau dari luar
keluarga. Tenaga kerja manusia dibedakan atas tenaga kerja pria,
wanita, dan anak-anak. Tenaga kerja manusia dapat mengerjakan
semua jenis pekerjaan usahatani berdasarkan tingkat kemampuannya.
Tenaga kerja ternak digunakan untuk pengolahan tanah dan untuk
pengangkutan. Tenaga kerja mekanik bersifat substitusi pengganti
ternak dan atau manusia. Jika kekurangan tenaga kerja, petani dapat
memperkerjakan tenaga kerja dari luar keluarga dengan memberi
balas jasa berupa upah.
c. Modal
Modal adalah barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor
produksi lain yang digunakan untuk menghasilkan barang-barang
baru, yaitu produk pertanian. Diantara empat faktor produksi yang
terdapat dalam usahatani, modal merupakan salah satu faktor yang
memiliki pengaruh besar terhadap kegiatan usahatani, terutama modal
operasional. Hal ini disebabkan oleh modal operasional terkait
langsung dengan aktivitas yang terjadi dalam kegiatan usahatani.
Adapun yang dimaksud dengan modal operasional adalah modal
dalam bentuk tunai yang dapat ditukarkan dengan barang modal lain
seperti sarana produksi dan tenaga kerja, bahkan untuk membiayai
pengelolaan (manajemen).
15
Pengelolaan atau manajemen usahatani adalah kemampuan petani
menentukan, mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktor-faktor
produksinya sebaik mungkin serta mampu memberikan produksi
pertanian sebagaimana yang diharapkan. Ukuran dari keberhasilan
pengelolaan itu adalah produktivitas dari setiap faktor maupun
produktivitas dari usahanya(Hernanto, 1991).
3. Pendapatan
Menurut Gustiyana (2004) pendapatan dapat dibedakan atas dua jenis,
yaitu pendapatan usahatani dan pendapatan rumah tangga. Pendapatan
usahatani merupakan pendapatan yang diperoleh dari selisih anatara
pendapatan kotor (output) dan biaya produksi (input) yang dihitung dalam perbulan, pertahun atau per musim tanam. Sedangkan, pendapatan
rumah tangga adalah pendapatan yang diperoleh dari hasil kegiatan
usahatani maupun diluar usaha tani. Pendapatan di luar usahatani
merupakan pendapatan yang diperoleh dari kegaitan seperti berdagang,
buruh, dll.
a. Pendapatan Usahatani
Hernanto (1994) menyatakan bahwa analisis pendapatan terhadap
usahatani penting dalam kaitannya dengan tujuan yang hendak dicapai
oleh setiap usahatani dengan berbagai pertimbangan dan motivasinya.
Analisis pendapatan pada dasarnya memerlukan dua keterangan
pokok, yaitu: keadaan penerimaan, dan keadaan pengeluaran (biaya
16
Penerimaan dalam usahatani merupakan perkalian antara produksi
fisik dengan harga jual atau harga produksi. Penerimaan tunai
usahatani didefinisikan sebagainilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani. Pengeluaran usahatani didefinisikan sebagai jumlah
uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi
usahatani. Penerimaan tunai usahatani tidak mencakup pinjaman uang untuk keperluan usahatani. Demikian pula pengeluaran tunai
usahatani tidak mencakup bunga pinjaman pokok. Penerimaan tunai dan pengeluaran tunai usahatani tidak mencakup yang berbentuk benda. Jadi, nilai produk usahataniyang dikonsumsi tidak dihitung
sebagai penerimaan tunai usahatani dan nilai kerja yang dibayar dengan benda tidak dihitung sebagai pengeluaran tunai usahatani (Soekartawi, 1986).
Selisih antara penerimaan tunai usahatani dengan pengeluaran tunai
usahatani disebut pendapatan, dan merupakan ukuran kemampuan
usahatani untuk menghasilkan uang tunai. Untuk menganalisis
pendapatan diperlukan dua keterangan pokok keadaan pengeluaran
dan penerimaan dalam jangka waktu tertentu. Tujuan analisis
pendapatan adalah untuk mengggambarkan tingkat keberhasilan suatu
kegiatan usaha dan keadaan yang akan datang melalui perencanaan
yang dibuat (Soekartawi, 1995).
Biaya adalah sejumlah nilai uang yang dikeluarkan oleh produsen atau
17
Menurut Hernanto (1994) biaya produksi dalam usahatani dapat
dibedakan menjadi :
1) Berdasarkan jumlah output yang dihasilkan, terdiri dari :
a) Biaya tetap, yaitu biaya yang besar kecilnya tidak tergantung
pada besar kecilnya produksi, misalnya : pajak tanah, sewa
tanah, penyusutan alat- alat bangunan pertanian, dan bunga
pinjaman.
b) Biaya variabel, yaitu biaya yang berhubungan langsung dengan
jumlah produksi, misalnya: pengeluaran untuk benih, pupuk,
obat-obatan, dan biaya tenaga kerja.
2) Berdasarkan cara pembayaran langsung dikeluarkan dan yang
diperhitungkan(tidak langsung dibayarkan), terdiri dari :
a) Biaya tunai, yaitu biaya tetap dan biaya variabel yang dibayar
tunai. Biaya tetap, misalnya pajak tanah dan bunga pinjaman,
sedangkan biaya variabel, misalnya pengeluaran untuk benih,
pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja. Biaya tunai berguna untuk
melihat pengalokasian modal yang dimilikioleh petani.
b) Biaya tidak tunai (diperhitungkan), yaitu biaya penyusutan
alat-alat pertanian, sewa lahan milik sendiri (biaya tetap), dan tenaga
kerja dalam keluarga (biaya variable). Biaya tidak tunai
bermanfaat untuk mengetahui bagaimana manajemen suatu
usahatani
18
antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Secara
matematis penerimaan usahatani dapat dirumuskan sebagai:
TR = Y . Py ,………....(1)
Keterangan :
TR : Total penerimaan
Y : Produksi yang diperoleh pada usahatani Py : Harga produksi
Pendapatan atau keuntungan usahatani adalah selisih antara
penerimaan dengan semua biaya produksi, yang dirumuskan
sebagai:
π = TR – TC = Y. Py – (Xi .Pxi ) ,………..……...…...…....(2)
Keterangan:
π : Keuntungan (pendapatan) TR : Total penerimaan
TC : Total biaya Y : Produksi
Py : Harga satuan produksi (Rp/Kg) Xi : Faktor produksi (i= 1, 2, 3, ….. n) Pxi : Harga faktor produksi ke i (Rp)
Usahatani dikatakan menguntungkan apabila nilai R/C lebih besar
dari satu. Sebaliknya, suatu usahatani dikatakan belum
menguntungkan apabila nilai R/C kurang dari satu. Nisbah antara
penerimaan dibagi biaya (R/C) secara matematis dapat ditulis
sebagai:
19
Keterangan :
R/C : Nisbah antara penerimaan dan biaya PT : Penerimaan total
BT : Biaya total
Kriteria pengambilan keputusan adalah :
(1) Jika R/C <1 , maka usahatani yang dilakukan tidak
menguntungkan.
(2) Jika R/C >1 , maka usahatani yang dilakukan menguntungkan.
(3) Jika R/C = 1 , maka usahatani yang dilakukan berada pada titik
impas
b. Pendapatan Rumah Tangga
Pendapatan rumah tangga merupakan tolak ukur yang penting untuk
melihat kesejahteraan petani, karena tingkat kesejahteraan petani
tergantung pada tingkat pendapatan petani. Besarnya pendapatan
petani akan mempengaruhi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
yaitu pangan, sandang, papan dan lapangan pekerjaan. Mengetahui
suatu tingkat hidup suatu rumah tangga, tingkat pendapatan
merupakan indikator yang penting. Umumnya pendapatan rumah
tangga di pedesaan tidak berasal dari satu sumber saja, akan tetapi
20
Sajogyo (2002) menyatakan bahwa pendapatan rumah tangga terbagi
manjadi dua sektor yaitu, pendapatan yang bersumber dari pertanian
dan pendapatan yang bersumber dari non pertanian. Sumber
pendapatan yang berasal dari pertanian seperti pendapatan dari
usahatani, buruhtani, ternak dan menyewakan lahan. Sedangkan,
pendapatan yang bersumber dari non pertanian seperti pendapatan
dari hasil berdagang, pegawai, buruh non pertanian, jasa dan industri
rumah tangga.
Pendapatan rumah tangga merupakan pendapatan atau penghasilan
dari seluruh anggota rumah tangga yang disumbangkan untuk
memenuhi kebutuhan keluarga atau anggota rumah tangga.
Seseorang akan berubah pendapatannya dari waktu ke waktu.
Pendapatan seseorang akan berubah sesuai dengan kemampuan dan
besarnya pengeluaran untuk di mengkonsumsi suatu barang
(Sukirno, 2005).
Menurut Hastuti dan Rahim (2008) pendapatan rumah tangga
merupakan pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usahatani,
pendapatan dari hasil kegiatan non usahatani dan pendapatan dari
luar pertanian. Pendapatan rumah tangga dapat dirumuskan sebagai
berikut:
21
Keterangan:
Ytot = Total pendapatan rumah tangga
Yonfarm = Pendapatan usahatani
Yofffarm = Pendapatan dari sektor pertanian di luar usaha tani
Ynonfarm = Pendapatan luar pertanian
4. Konsep Kesejahteraan
Pengeluaran rumah tangga merupakan salah satu indikator yang dapat
memberikan gambaran keadaan kesejahteraan penduduk.
Pengeluaranterdiri atas dua kelompok, yaitu pengeluaran untuk
makanan dan bukan makanan. Tingkat kebutuhan (permintaan/demand) terhadap kedua kelompok tersebut pada dasarnya berbeda-beda. Dalam
kondisi pendapatan terbatas, kebutuhan makanan didahulukan, sehingga
pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah akan terlihat bahwa
sebagian besar pendapatannya digunakan untuk membeli makanan.
Pergeseran pola pengeluaran terjadi karena elastisitas permintaan
terhadap makanan pada umumnya relatif lebih rendah dibanding
elastisitas permintaanterhadap barang bukan makanan. Umumnya,
tingkat kehidupan ekonomi masyarakat petani dapat dilihat dari pola
pengeluaran keluarga yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu pengeluaran untuk kebutuhan pangan dan non pangan.
Pengeluaran masyarakat tersebut dibedakan satu sama lain. Perbedaan
tersebut berdasarkan golongan tingkat pendapatan, jumlah anggota
keluarga, dan status sosial. Pengeluaran keluarga petani pada dasarnya
adalah pengeluaran produktif dan konsumtif (yang sebagian besar untuk
22
Perhitungan pengeluaran rumah tangga berdasarkan kriteria Sajogyo
(1997) dibagi menjadi pegeluaran pangan dan non pangan dilakukan
dengan cara menghitung kebutuhan harian, mingguan, dan bulanan.
Total pengeluaran rumah tangga dapat diformulasikan sebagai :
Ct =Cp¡+Cnp¡……….
(5)
Keterangan :
Ct = Total pengeluran rumah tangga ¡ = 1, 2, 3, ……., n
n = Pengeluaran lainnya, selain pengeluaran pangan dan non pangan
Cp¡ = Pengeluaran untuk pangan,dengan rumus :
Cp = Cp1+Cp2+Cp3+Cp4+Cp5+….+Cpn, ……….
(6)
Cp1 = Pengeluaran untuk padi-padian
Cp2 = Pengeluaran untuk minyak dan lemak
Cp3 = Pengeluaran untuk pangan hewani
Cp4 = Pengeluaran untuk sayur-sayuran
Cp5 = Pengeluaran untuk buah-buahan
Cpn = Pengeluaran lainnya
Cnp¡ = Pengeluaran untuk nonpangan, dengan rumus :
Cnp = Cnp1+Cnp2+Cnp3+Cnp4+Cnp5+….+Cnpn
………..(7)
Cnp1 = Pengeluaran untuk bahan bakar
Cnp2 = Pengeluaran untuk aneka barang/jasa
Cnp3 = Pengeluaran untuk pendidikan
Cnp4 = Pengeluaran untuk kesehatan
Cnp5 = Pengeluaran untuk listrik
23
5. Kajian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang menganalisis mengenai
analisi pendapatan dan kesejahteraan dan ada peneliti lain memiliki
analisis yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu belum
terdapat penelitian sejenis pada lokasi penelitian dan belum ada
penelitian yang melakukan analisis pendapatan usahatani dari
komoditas salak. Tujuannya untuk mengkaji pendapatan dan
kesejahteraan petani salak yang dilakukan menguntungkan. Berikut ini
adalah informasi penelitian tentang pendapatan dan kesejahteraan yang
24
Tebel 3. Penelitian Teradahulu
No Judul Penelitian/Tahun Tujuan Metode analisis
Hasil
1 Analisi Usahatani Salak Nglumut di Kabupaten Magelang(Ardiyanto,2008)
1. Mengetahui pendapatan petani salak Nglumut di Kabupaten Magelang 2. Mengetahui keuntungan
petani salak Nglumut di Kabupaten Magelang
Kuantitatif dan kualitatif
Rata produksi salak nglumut yang dihasilkan petani adalah 23.992,41 kg/ha. Penerimaan rata-rata petani salak adalah Rp 67.126.528,00 ha/tahun. Pendapatan Rp 39.715.861,00 ha/tahun. Dan mempunyai t-hitung sebesar 6.758. artinya pendapatan usaha tani Rata produksi salak pondoh yang dihasilkan petani adalah 23.291,43 kg/ha. Penerimaan rata-rata petani salak adalah Rp 54.062.103,00 ha/tahun. Pendapatan Rp 25.437.127,00 ha/tahun. Dan mempunyai t-hitung sebesar 6.758. artinya pendapatan usaha tani salak pondoh lebih kecil dibandingkan pendapatan salak nglumut.
2 Faktor-faktorn yang
mempengaruruhi pendapatan usahatani salak di Desa Wedi Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro (Darsan, 2014)
1. Mengetahui variable jumlah produksi, luas lahan, dan harga secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
pendapatan petani salak
Deskriptif kuantitatif
menunjukkan variabel jumlah produksi (X1), luas lahan (X2), dan harga (X) secara bersama-samaberpengaruh signifikant terhadap pendapatan usahatani salak Desa Wedi.
3 Analisis Pendapatan Dan Tingkat Kesejahteraan Petani Pisang Ambon (Musa Paradisiaca) Di Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran (Suyanto,2014)
1. Menganalisis tingkat pendapatan rumah tangga petani pisang 2. analisis kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif
25
Tabel 3. Lanjutan
4 Tingkat Kesejahteraan Petani Salak Di Desa Tinjoman Lama Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru Kota
Padangsidempua (Pasaribu,2015)
1. Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan petani salak
Analisis kuantitatif
Tingkat Kesejahteraan seluruh petani
salak berada pada katergori Keluarga Sejahtera I yaitu, keluarga yang telah dapat kebutuhan dasarnya.
5 Analisis Pendapatan Usaha Tani Salak Bali (Sallacca Edulis Reinw)
Di Desa Batu Nindan Kecamatan Basarang (Neni, 2013)
Analisis biaya dan pendapatan petani salak
Analisis Deskriptif Kualitatif
Biaya total rata-rata Usaha Tani Salak Bali yang dijalankan oleh petani di Desa Batu
Nindan adalah sebesar Rp.3.989.006,- dengan penerimaan rata-rata sebesar Rp.3.822.567,- dan pendapatan rata-rata sebesar Rp.3.400.324,-.
6 Pendapatan Rumah Tangga Petani Kakao di Desa Pesawaran Indah Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran (Gusti , 2013)
1. Analisi Pendapatan rumah tangga dan besarnya kontribusi pendapatan usahatani kakao dan non kakao terahadap pendapatan rumah tangga petani di Desa Pesawaran Indah Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran 2. Kuantitatif dan kualitatif
Pendapatan petani kakao di Desa Pesawaran Indah Kecamatan Padang Cermin Kabupaten
Pesawaransebesar Rp 18.790.360,70, 76% pendapatan diperoleh dari kegiatan usahatani dan 23% kegiatan non usahatani dan 0,87 non kakao. distribusi
26
B. Kerangka Pemikiran Penelitian
Setiap manusia berusaha agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari-hari, sehingga bisa mencapai tingkat kesejahteraan tertentu. Upaya yang
dilakukan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya bebeda-beda
sesuai dengan kondisi lingkungan sekitarnya, salah satunya di bidang
pertanian. Pertanian salak pondoh di Desa Wonoharjo Kecamatan
Sumberejo kabupaten tanggamus mempengaruhi aktivitas ekonomi dan
serapan tenaga kerja. Pertanian salak sebagai mata pencarian utama.
Petani di Desa Wonoharjo juga mempunyai mata pencarian lain di luar
bertani salak seperti pedagang, peternak, PNS dan lainnya. Pendapatan
sebagai petani salak dan pendapatan di luar petani salak pondoh secara
bersama-sama akan memberiakan kontribusi terahadap pendapatan total
rumah tangga. Usahatani salak diharapkan dapat menghasilkan dan
memberikan kontribusi pendapatan yang tinggi, sehingga usaha ini dapat
memenuhi kebutuhan rumah tangga khusunya bagi rumah tangga petani
salak dan pada akhirnya dapat diketahui seberapa besar pengaruh
pendapatan dari petani salak pondoh terhadap tingkat kesejahteraan rumah
tangga petani.
Total pendapatan yang meningkat diharapkan dapat meningkatkan
kesejahteraan rumah tangga petani. Dalam penelitian ini tingkat
kesejahteraan rumah tangga petani menggunakan indikator Sajogyo .
Tingkat kesejahteraan tersebut terdiri atas , rumah tangga dalam kategori
27
Gambar 1. Kerangka pemikiran pendapatan dan kesejahteraan petani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo.
Petani Salak
Usahatani Salak (On Farm)
Usahatani Selain Salak
(On Farm)
Off farm
Pendapatan Usahatani Salak
(On Fram)
Pendapatan Dari Sektor Pertanian
Di Luar Usahatani (Off Fram)
Total Pendapatan Rumah Tangga
Petani
Kontribusi pendapatan usahatani salak terhadap pendapatan rumah tangga petani
salak Indikator Kesejahteraan: Sajogyo (1997) Produksi Harga Penerimaan Biaya Produksi Tingkat Kesejahteraan Pendapatan
Usahatani di Luar Salak (On Fram)
III. METODE PENELITIAN
A. Metode Dasar
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Metode
survei adalah metode yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan
dengan pengamatan langsung dalam populasi besar atau kecil dengan
menggunakan kuisoner yang berisi daftar pertanyaan untuk mengumpulkan
data (Sugiarto, 2005). Pengambilan sampel petani salak diambil dari populasi
petani salak yang ada di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo Kabupaten
Tanggamus.
B. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Variabel
Petani adalah individu atau kelompok orang yang melakukan usaha guna
memenuhi kebutuhan sebagian atau secara keseluruhan hidupnya dalam
bidang pertanian. Petani salak adalah individu atau sekelompok orang yang
melakukan usahatani salak guna memenuh kebutuhan hidupnya
Usahatani salak adalah kegiatan terencana pemeliharaan sumberdaya hayati
(salak) yang dilakukan pada suatu areal lahan untuk diambil manfaat atau
hasil panennya
Luas lahan adalah luas tempat yang digunakan petani untuk melakukan
29
Jumlah pupuk adalah banyaknya pupuk Urea, NPK, dan pupuk kandang yang
digunakan oleh petani pada proses produksi dalam satu tahun. Jumlah pupuk
diukur dalam satuan kilogram (kg).
Jumlah tenaga kerja adalah banyaknya tenaga kerja yang digunakan dalam
proses produksi selama satu tahun terakhir. Penggunaan tenaga kerja diukur
dalam satuan hari orang kerja (HOK). Hari orang kerja dapat dihitung dengan
tingkat upah per hari (Rp/hari).
Jumlah bibit adalah banyaknya bibit yang digunakan petani pada proses
produksi dalam satu tahun terakhir, diukur dalam satuan batang.
Jumlah obat-obatan adalah banyaknya bahan kimia yang digunakan untuk
memberantas gulma serta hama dan penyakit tanaman dalam satu tahun
terakhir, diukur dalam satuan rupiah (Rp).
Pendapatan usahatani salak adalah penerimaan yang diperoleh petani salak
setelah dikurangi biaya produksi. Pendapatan usahatani diukur dalam satuan
rupiah per tahun (Rp/th).
Pendapatan rumah tangga adalah hasil penjumlahan dari pendapatan
usahatani dan non usahatai diukur dalam satuan rupiah per tahun (Rp/th)
Harga produksi salak adalah harga yang diperoleh petani atas penjualan per
unit hasil produksi salak (Rp/kg).
Penerimaan adalah sejumlah uang yang diterima oleh petani salak yang
30
Biaya produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan
usahatani salak, yang terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan
(Rp/th).
Biaya tunai adalah biaya yang langsung dikeluarkan dalam proses produksi
seperti, biaya pupuk dan obat-obatan, biaya pajak, biaya tenaga kerja luar
keluarga, biaya pembelian peralatan (Rp/th).
Biaya diperhitungkan adalah biaya yang tidak dikeluarkan secara tunai dalam
kegiatan usahatani salak, namun dimasukkan dalam komponen biaya, seperti
biaya tenaga kerja dalam keluarga (Rp/th).
Kontribusi adalah Besarnya sumbangan yang diberikan dari hasil kegiatan
usahatani salak terhadap pendapatan keluarga dinyatakan dalam bentuk
persen (%).
Tingkat kesejahteraan adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan
seseorang baik sosial material maupun spiritual yang disertai dengan rasa
keselamatan, kesusilaan dan ketentraman lahir dan batin sehingga dapat
memenuhi kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosialnya.
Off farm adalah usaha yang masih berkaitan di bidang pertanian di luar
usahatani yang dilakukan oleh anggota keluarga untuk menambah pendapatan
keluarga, misalnya buruh tani,penggarap lahan sewaan dan lain- lain.
Pendapatan usahatani non salak adalah seluruh pendapatan rumah tangga
31
yang dikeluarkan selama proses produksi, yang diukur dalam satuan rupiah
per tahun (Rp/th).
Usaha non pertanian (non farm) adalah usaha diluar sektor pertanian yang dilakukan untuk menambah pendapatan keluarga, biasanya dilakukan anggota
keluarga yang berusia kerja, misalnya berdagang, buruh, PNS, dll.
Pendapatan usaha non pertanian (non farm) adalah seluruh pendapatan keluarga petani yang berasal dari usaha non pertanian setelah dikurangi
dengan pengeluaran tunai yang diukur dalam satuan rupiah per tahun (Rp/th).
C. Lokasi Penelitian, Responden, dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian mengenai analisis pendapatan dan kesejahteraan rumah
tangga petani salak dilaksanakan di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo
Kabupaten Tanggamus. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja
(purposive), dengan pertimbangan bahwa di kecamatan tersebut merupakan wilayah sentra produksi salak di Kabupaten Tanggamus dengan produksi
salak pada tahun 2016 sebesar 715.400 Kg dengan luas lahan 86.000 pohon.
Hasil prasurvai menjelaskan bahwa desa Wonoharjo merupakan sentra
produksi salak di Kecamatan Sumberejo sehingga dipilih desa Wonoharjo
sebagai lokasi penelitian. Populasi petani salak di Desa Wonoharjo adalah
167 petani. Kemudian dari jumlah populasi petani salak di tentukan jumlah
sampel merujuk pada sugiarto, dkk (2005) sebagai berikut:
n = 𝑁𝑍
2 𝑆
𝑁𝑑2+𝑍2𝑆2
2
32
Keterangan:
n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi
S2 = Varian sampel (5% = 0,05)
Z = Tingkat kepercayaan (95% = 1,96) d = Derajat penyimpangan (5% = 0,05)
Berdasarkan persamaan di atas, maka jumlah sampel yang diambil adalah:
n = 166(1,96)
2 (0,05)
166 (0,05)2+(1,96)2(0,05)
= 52,52
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas, maka
diperoleh jumlah responden sebagai sampel sebanyak 53 petani salak Desa
Wonoharjo. Responden petani dipilih secara acak sederhana (Simple Random Sampling). Teknik ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa populasi dianggap homogen dalam hal: (1) semua petani tiap tanaman memiliki teknik budidaya yang sama, (2) semua petani bermaksud menjual produknya, dan (3)
semua petani mencari keuntungan dalam menjual produknya (Umar, 2002).
Pemilihan 53 petani salak yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini
dipilih dengan menggunakan undian. Cara ini dilakukan dengan memberi
nomor pada seluruh anggota populasi, lalu diambil secara acak
nomor-nomor tersebut sesuai dengan jumlah sampel yang dibutuhkan tanpa adanya
pengembalian nomor jika sudah diambil (Umar, 2002). Waktu penelitian
33
D. Jenis dan Sumber Data
Penelitian direncanakan dengan menggunakan metode survei, yaitu
penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder.
Data primer dikumpulkan dengan teknik wawancara langsung kepada petani
salak dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah
dipersiapkan terlebih dahulu. Data sekunder diperoleh dari berbagai
kepustakaan dan instansi-instansi pemerintah yang terkait dalam penelitian
ini.
E. Metode Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan analisis
deskriptif kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui
besarnya pendapatan rumah tangga petani salak, sedangkan analisis
deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan objek penelitian pada
saat sekarang yaitu tingkat kesejahteraan rumah tangga petani salak di Desa
Wonoharjo Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus.
1. Analisis Pendapatan Usahatani Salak
Analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat pendapatan
petani. Pendapatan usahatani salak dalam penelitian ini adalah nilai
yang diperoleh dariproduk total dikalikan dengan harga jualnya di
34
Rumus umum persamaan pendapatan adalah :
n
Y.Py
Xi.Pxi………(9)
i1
Keterangan: = Pendapatan usahatani salak (Rp)
Y = Jumlah produksi salak(kg)
Py = harga persatuan produksi salak(Rp/kg)
Xi = Faktor produksi usahatani salak (i =1,2,3,….n)
Pxi = Harga faktor produksi ke i (Rp)
Untuk melihat penerimaan usahatani salak per satuan biaya yang
dikeluarkan digunakan indikator Revenue Cost Ratio (R/C). R/C
merupakan perbandingan antara penerimaan total usahatani dengan biaya
total yang dikeluarkan selama proses produksi berlangsung. R/C
menunjukkan berapa besar penerimaan yangakan diperoleh dari setiap
rupiah yang dikeluarkan dalam produksi. Dengan kata lain, analisis rasio
penerimaan atas biaya produksi dapat digunakan untuk mengukur tingkat
keuntungan kegiatan usahatani. Artinya, dari angka rasio penerimaan
atas biaya tersebut dapat diketahui apakah suatu usahatani
menguntungkan atau tidak. Nilai nisbah penerimaan dan biaya dapat
diperoleh dari rumus :
R/C = 𝑇𝑅𝑇𝐶
………(10)
Keterangan:
35
Pengambilan keputusan adalah :
a) Jika R/C > 1, maka usahatani yang dilakukan menguntungkan,
karena penerimaan lebih besar dari biaya total.
b) Jika R/C <1, maka usahatani yang dilakukan tidak menguntungkan,
karena penerimaan lebih kecil dari pada biaya total.
c) Jika R/C = 1, maka usahatani yang dilakukan tidak menguntungkan
dan tidak juga merugi (impas), karena penerimaan total sama dengan
biaya total.
2. Pendapatan Rumah Tangga
Setelah mengetahui pendapatan usahatani, maka selanjutnya
menganalisis pendapatan rumah tangga. Pendapatan rumah tangga
petani diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan keluarga yang
berasal dari on farm, off farm, dan non farm. Pendapatan diperoleh dengan menghitung selisih antara total penerimaan yang diterima dari
hasil usaha dengan biaya produksi yang dikeluarkan dalam satu tahun.
Berdasarkan perhitungan tersebut maka akan diperoleh rata-rata
pendapatan rumah tangga petani dalam satu tahun. Untuk mengetahui
pendapatan rumah tangga petani digunakan rumus Hastuti dan Rahim
(2008).
Prt = Ponfarmsalak+Ponfarmnonsalak+Pofffarm+Pnonfarm...(11) Keterangan:
Prt = Pendapatan Rumah Tangga petani salak pertahun Ponfarmsalak = Pendapatan dari usahatani salak
Ponfarmnonsalak = Pendapatan dari luar usahatani salak
36
3. Kontribusi pendapatan usahatani salak
Menghitung besarnya kontribusi pendapatan dari usahatani salak yang
diperoleh terhadap pendapatan total rumah tangga petani salak
digunakan rumus sebagai berikut (Diniyati dan Budiman, 2015):
K = 𝑋𝑖
𝑌 x 100……….(12)
Keterangan :
K = Kontribusi usaha tani salak terhadap pendapatan petani salak (%)
Xi = Pendapatan usahatani salak(Rp/tahun) Y = Pendapatan keluarga petani salak (Rp/tahun)
4. Analisis Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Salak
a. Analisis Tingkat Kesejahteraan
Analisis tingkat kesejahteraan diukur melalui pendekatan pengeluran
rumah tangga dan diklasifikasikan dengan pendekatan berdasarkan
teori Sajogyo (1997).
1) Definisi dan Perhitungan Pengeluaran Rumah Tangga
Perhitungan pengeluaran rumah tangga berdasarkan kriteria
Sajogyo (1997) dibagi menjadi pegeluaran pangan dan non
pangan dilakukan dengan cara menghitung kebutuhan harian,
mingguan, dan bulanan. Total pengeluaran rumah tangga dapat
diformulasikan sebagai :
37
Keterangan :
Ct = Total pengeluran rumah tangga ¡ = 1, 2, 3, ……., n
n = Pengeluaran lainnya, selain pengeluaran pangan dan non pangan
Cp¡ = Pengeluaran untuk pangan,dengan rumus :
Cp = Cp1+Cp2+Cp3+Cp4+Cp5+….+Cpn, ………
(14)
Cp1 = Pengeluaran untuk padi-padian
Cp2 = Pengeluaran untuk minyak dan lemak
Cp3 = Pengeluaran untuk pangan hewani
Cp4 = Pengeluaran untuk sayur-sayuran
Cp5 = Pengeluaran untuk buah-buahan
Cpn = Pengeluaran lainnya
Cnp¡ = Pengeluaran untuk nonpangan, dengan rumus :
Cnp = Cnp1+Cnp2+Cnp3+Cnp4+Cnp5+….+Cnpn
………..(15)
Cnp1 = Pengeluaran untuk bahan bakar
Cnp2 = Pengeluaran untuk aneka barang/jasa
Cnp3 = Pengeluaran untuk pendidikan
Cnp4 = Pengeluaran untuk kesehatan
Cnp5 = Pengeluaran untuk listrik
Cnpn = Pengeluaranl ainnya
2) Pendekatan Berdasarkan Teori Sajogyo
Pengeluaran rumah tangga per kapita per tahun adalah total
pengeluaran rumah tangga usahatani salak, baik pengeluaran
untuk pangan maupun nonpangan dalam sebulan, yang
dikonversi ke tahun dan dibagi dengan jumlah tanggungan
rumah tangga. Pengeluaran ini kemudian dikonversi ke dalam
38
melihat tingkat kemiskinan (Sayogyo, 1997). Secara matematis
tingkat pendapatan per kapita per tahun tiap keluarga dan tingkat
pendapatan per kapita per tahun tiap keluarga setara beras dapat
dirumuskan sebagai:
Pengeluaran/kapita/th(Rp)= ∑Anggota keluargaPengeluaran(Rp) ………...,
(16)
Pengeluaran/kapita/setaraberas(kg)=
Pengeluaran/kapita/th(Rp)
Harga beras ………..(17)
Perhitungan kemiskinan menurut Sayogyo (1997) didasarkan
pada besarnya pengeluaran per kapita per tahun yang diukur
dengan harga beras setempat. Kriteria perhitungan tersebut
[image:55.595.196.490.514.613.2]adalah apabila pengeluaran per kapita per tahun setara beras
Tabel 4. Kriteria kesejahteraan apabila pengeluaran per kapita per tahun setara beras
Kriteria Jumlah Pengeluaran Beras (Kg)
Paling Miskin 180
Miskin sekali 181 –240
Miskin 241 – 320
Nyaris miskin 321 – 480
Cukup 481 – 960
Hidup layak >960
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Pendapatan usahatani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo
Kabupaten Tanggamus menguntungkan sebesar Rp 10.194.376,75per tahun
atau Rp 849.531,33 per bulan per luas lahan 0,35 ha.
2. Kontribusi pendapatan usahatani salak terhadap pendapatan rumah tangga
yakni mencapai 48,53% sedangkan kontribusi pendapatan on farm non salak sebesar 20,18%, untuk off farm sebesar 14,71% dan juga non farm sebesar 16,78%.
3. Petani salak di Desa Wonoharjo Kecamatan Sumberejo Kabupaten
88
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan untuk mengembangkan
usahatani salak di Desa Wonoharjo, maka perlu disarankan kepada:
1. Pemerintah sebaiknya membantu petani dalam hal, meningkatkan
pengetahuan tentang aturan penggunaan pupuk melalui penyuluhan.
2. Petani sebaiknya mengurangi kosumsi rokok, lebih baik di alihkan ke
DAFTAR PUSTAKA
Ardiyanto. 2008. Strategi Pengembangan Salak Nglumut Di Kabupaten Magelang. Jurnal Agro Ekonomi. Volume15. No 2. https://jurnal. ugm.ac.id/jae/article/view/18284/11664 [ 1 November 2018]
Badan Pusat Statistik. 2010 Indikator Kesejahteraan. Jakarta
Badan Pusat Statistik. 2014. Sumberejo Dalam Angka. BPS Kabupaten Tanggamus
Biro Pusat Statistik. 2014. Sensus Pertanian 2013. Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2017. Produksi Salak Setiap Kecamatatan Di Kabupaten Tanggamus. BPS Kabupaten Tanggamus. Kabupaten tanggamus.
Cahyono, Bambang. 2016. Panen Untung Dari Budidaya Salak Intensif. Andi. Yogyakarta.
Daniel, M. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.
Darsan.2014. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Tani Salak Di Desa Wedi Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro. Fakultas
Pertanian. Universitas Bojonegoro
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung. 2016. Produksi Salak Per Kecamatan. Dinas Tanaman Pangan Provinsi Lampung Diniyati, D. dan Budiman A. 2015. Kontribusi Pendapatan Hasil Hutan Bukan
Kayu Pada Usaha Hutan Rakyat Pola Agroforestri di Kabupaten Tasikmalaya. Fakultas Kehutanan. Universitas Gajah Mada
Direktorat Tanaman Buah. 2004. Standar Prosedur Operasional (SPO) Salak Pondoh Kabupaten Sleman. Jakarta.
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung. 2016. Produksi salak pondoh per-kabupaten dan kota. Dinas Tanaman Pangan Provinsi