• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
81
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

Oleh: Tomi Wahyuda

1413051079

PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(2)

ii

TERHADAP VO2MAX PADA SISWA SMA NEGERI 6 BANDAR LAMPUNG

Oleh

TOMI WAHYUDA

Masalah dalam penelitian ini adalah masih ada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung mengalami kelelahan saat pertandingan, belum diketahuinya pengaruh interval training dan cross country terhadap vo2max pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri6 Bandar Lampung.Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah ada pengaruh interval training dan cross country terhadap vo2max pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMANegeri6 Bandar Lampung.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Populasi penelitian ini adalah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung berjumlah 30 orang. Analisis data menggunakan Uji-t. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh interval training sebesar 4,199 dan cross country sebesar 2,261 terhadap vo2max dan yang paling berpengaruh terhadap vo2max adalah interval training serta adanya perbedaan interval training dan cross country terhadap vo2max.

(3)

iii

ON VO2MAX IN FUTSAL EXTRACURRICULAR AT SMA NEGERI 6 BANDAR LAMPUNG

By

TOMI WAHYUDA

The problem in this study is that there are still students who take futsal extracurricular activities at Negeni 6 Bandar Lampung High School experiencing fatigue during the competition, not yet knowing the effect of interval training and cross country on vo2max for students who take futsal extracurricular activities at Bandar Lampung SMA 6. The research objective is to determine whether there is an effect of interval training and cross country on voaxmax for students who take futsal extracurricular activities at Bandar Lampung 6 Public High School. The method used in this study is an experiment. The population of this research was 30 students who participated in futsal extracurricular activities at Bandar Lampung Senior High School 6. Data analysis using t-test. The results showed that there were 4.199 and cross country interval training influences of 2.261 to vo2max and the most influential to vo2max was interval training and the difference in interval training and cross country to vo2max.

(4)

Oleh

TOMI WAHYUDA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Jurusan Ilmu Pendidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

viii

Tomi Wahyuda lahir di Way Jepara, Lampung Timur Provinsi Lampung, pada hari Senin, 09 Januari 1995. Peneliti merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak Mastui dan Ibu Astuti.

Penulis menempuh Pendidikan formal di SD Negeri 1 Kali Balau Kencana Bandar Lampung, yang selesai pada tahun 2007. Penulis menempuh Pendidikan lanjut di SMP Negeri 24 Bandar Lampung, yang selesai pada tahun 2010. Penulis menempuh Pendidikan menengah atas di SMA Negeri 6 Bandar Lampung, yang selesai pada tahun 2013. Penulis melanjutkan Pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lampung pada tahun 2014, Penulis terdaftar sebagai mahasiswa FKIP S1-Penjaskesrek Universitas Lampung melalui jalur SBMPTN.

(9)

ix

“Setiap orang memiliki waktu yang berbeda. Selesai lebih lama dari yang lain bukan berati kau gagal. Terus lah berusaha sampai keinginan dan

(10)

x

Kedua Orangtua ku Bapak Mastui dan Ibu Astuti

(11)

xi

Puji syukur peneliti panjat kan kehadiran ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Interval Training dan Cross Country terhadap VO2max pada siswa SMA Negeri 6 Bandar Lampung”.Sebagai syarat meraih gelar sarjana pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Ucapan terimakasih yang takterhingga kepada:

Bapak Drs. Sudirman Husin, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, saran, nasihat, dan kritik serta bantuan selama proses penyelesaian skripsi ini, Bapak Lungit Wicaksono, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, saran, nasihat, kritik, dan bantuan selama proses penyelesaian skripsi ini, Bapak Drs. Herman Tarigan, M.Pd., selaku Pembahas dan penguji utama yang telah memberikan bimbingan, saran, nasihat, kritik, dan bantuan selama proses penyelesaian skripsi ini.

Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini tentunya tidak akan mungkin terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti juga menyampaikan terimakasih kepada:

(12)

xii

3. Bapak Drs. Akor Sitepu, M.Pd., selaku ketua program studi Penjaskesrek Unuversitas Lampung.

4. Bapak Ibu Dosen serta Staf Karyawan Penjaskesrek FKIP Universitas Lampung yang telah member ilmu pengetahuan dan membantu peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

5. Ibu Dra. Roslina, M.Pd., Kepala SMA Negeri 6 Bandar Lampung yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian di sekolah tersebut.

6. Bapak Drs. Bambang Margono, selaku guru olahraga yang telah membantu dan memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian. 7. Siswa SMA Negeri 6 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2017/2018 yang ikut

andil sebagai subjek dalam penelitian ini.

Akhir kata, peneliti menyadari bahwa skripsi ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan, namun peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, 05 Demenber 2018 Peneliti

(13)

xiii

Halaman

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah... 5

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Perumusan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian ... 7

G. Ruang Lingkup Penelitian... 8

H. Penjelasan Judul... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hakikat Olahraga ... 10

B. Pembinaan bakat dalam Olahraga Prestasi ... 12

C. Pembinaan Olahraga menuju Prestasi... 15

D. Belajar Motorik ... 17

E. Hakikat Belajar ... 22

F. Kebugaran Jasmani ... 26

G. Teori Latihan... 27

H. Tujuan Latiahan ... 28

I. Prinsip-prinsip Latihan... 28

J. Interval Training... 32

K. Cross Country ... 36

L. Pengertian VO2Max ... 38

M. Penelitian Relevan ... 42

N. Kerangka Pikir ... 43

O. Hipotesis Penelitian ... 44

III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 45

B. Populasi dan Sampel ... 45

(14)

xiv

E. Definisi Operasional ... 48

F. Instrumen Penelitian ... 49

G. Program Latihan... 53

H. Prosedur Penelitian ... 54

I. Teknik Analisis Data... 56

1. Uji Normalitas... 56

2. Uji Homogenitas ... 57

3. Uji Hipotesis ... 58

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 60

1. Deskripsi Data PreTest dan PostTest... 60

2. Hasil Analisis Data ... 62

3. Pengujian Hipotesis... 64

B. Pembahasan ... 66

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 70

B. Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 72

(15)

xv

Tabel Halaman

2.1 Interval Training Lambat dengan Jarak Lebih Jauh ... 34

2.2 Waktu Interval Training Lambat dengan Jarak Lebih Jauh... 35

2.3 Interval Training Cepat dengan Jarak Lebih Dekat... 35

2.4 Waktu Interval Training Cepat dengan Jarak Lebih Dekat ... 35

2.5 Pelaksanaan Cross Country ... 37

3.1 Penilaian Blepp Test... 52

3.2 Formulir Catatan Lari Multitahap (Bleep Test) ... 53

4.1 Deskripsi data hasil penelitian kelompok eksperimen ... 60

(16)

xvi

2.1 Pembinaan Prestasi ... 15

2.2 Skema Pembinaan Prestasi Olahraga... 17

2.3 Teori Belajar Behaviorisme ... 25

2.4 Stimulus Respon ... 25

2.5 Ilustrasi Pelaksanaan Interval Training ... 34

2.6 Kerangka Pikir ... 43

3.1 Desain Penelitian ... 47

3.2 Pembagian Kelompok dengan cara Ordinal Pairing... 48

3.3 Lintasan Bleep Test ... 50

4.1 Perbedaan Hasil Tes Interval Training ... 61

(17)

xvii

Lampiran Halaman

1. Surat Izin Penelitian ... 75

2. Surat Balasan Izin Penelitian ... 76

3. Surat Selesai Penelitian... 77

4. Tes awalan kelompok Interval Training... 78

5. Tes Awalan Kelompok Cross Country ... 79

6. Tes Akhir Kelompok Interval Training ... 80

7. Tes Akhir Kelompok Cross Country ... 81

8. Normalitas Data Tes Awal Kelompok Interval Training ... 82

9. Normalitas Data Tes Awal Kelompok Cross Country ... 84

10. Normalitas Data Tes Akhir Kelompok Interval Training... 86

11. Normalitas Data Tes Akhir Kelompok Cross Country... 88

12. Homogenitas Data Tes Kelompok Interval Training ... 90

13. Homogenitas Data Tes Kelompok Cross Country... 91

14. Uji Efektifitas Data Tes Kelompok Interval Training ... 92

15. Uji Efektifitas Data Tes Kelompok Cross Country ... 94

16. Uji Beda Posttest Interval Training dan Cross Country... 96

17. Nilai ambilan Oksigen Maksimal ... 98

18. Tabel Distribusi F ... 99

19. Tabel Distribusi t... 100

20. Tabel Distribusi L ... 101

21. Program Interval Training ... 102

22. Program Cross Country ... 103

(18)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Olahraga merupakan aktivitas fisik yang dilakukan untuk mendapatkan tubuh sehat dan kuat, aktivitas itu sendiri cenderung yang menyenangkan dan menghibur. Kata olahraga berasal dari bahasa Indonesia. Olahraga berarti mengolah atau menyempurnakan jasmani atau fisik. Menurut Husdarta (20011:13) olahraga merupakan kegiatan otot yang energik dan dalam kegiatan itu atlet memperagakan kemampuan gerakan atau performa. Olahraga memperlakukan seseorang sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, dari pada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.

(19)

Penguasaan teknik bermain futsal sangat diperlukan untuk meningkatkan keterampilan bermain futsal. Gerakan-gerakan dalam bermain futsal berlari, menendang, mendribel bola, melompat, meloncat dan menangkap bola untuk penjaga gawang (kiper). Menurut Irianto (2009:3) menyatakan bahwa teknik adalah kemampuan biomotor seorang atlet tertentu untuk meningkatkan efesiensi gerakan. Penguasaan pola gerak dominan merupakan syarat mutlak guna terbentuknya keterampilan khas dalam suatu cabanga olahraga, termasuk cabang olahraga futsal. Siswa yang tidak bisa menendang bola, maka pemain tersebut akan menemui kesulitan dalam bermain futsal, untuk itu pola gerak dominan sangat perlu dimiliki oleh siswa sebelum bermain futsal.

(20)

Menurut Irianto (2009:14) kondisi fisik dalam olahraga adalah kemampuan biomotor, kemampuan bimotor dasar memiliki lima jenis, yaitu: kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelentukan dan koordinasi, komponen kebugaran yang diperlukan atlet sesuai dengan cabang olahraga dan peranannya, fisik merupakan pondasi bangunan sebab teknik, taktik dan psikis dapat dikembangkan dengan baik apabila atlet memiliki bekal kualitas fisik yang baik.

Sebagai pemain futsal, untuk dapat bertahan sepanjang pertandingan harus memiliki unsur-unsur kondisi fisik, diantaranya kekuatan, kecepatan, kelincahan dan daya tahan yang baik. seorang atlet dapat menjaga kekuatan dan kecepatan dalam jangka waktu yang lama. Atlet futsal yang memiliki kondisi daya tahan prima akan mendukung performa atlet saat latihan atau pertandingan dalam upaya mencapai prestasi puncak. Dilihat dari kenyataan di lapangan masih ada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar lampung yang mengalami kelelahan saat bertanding. Hal ini menyebabkan hilangnya fokus dan performa yang kurang baik dalam pertandingan. Siswa cenderung mengalami kelelahan yang mempengaruhi penampilan maksimal, yang di sebabkan oleh VO2max atau Volume Oksigen Maxsimal kurang baik.

Untuk melatih fisik (endurence) terdapat berbagai metode latihan fisik yang dapat diterapkan antara lain metode kontinyu, fartlek, Cross Country, Interval Training. Berdasarkan observasi di SMA Negeri 6 Bandar Lampung yang

(21)

pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Latihan fisik belum maksimal untuk dilatihkan karena setiap latihan pelatih hanya fokus untuk melatih teknik dan taktik tanpa menggabungkan dengan latihan fisik, sehingga siswa mudah lelah karena VO2max kurang baik.

Kejuaraan futsal yang diikuti oleh futsal SMA Negeri 6 Bandar Lampung 2017/2018, di Tahun 2017 kejuraan yang diikuti ektrakurikuler futal SMA Negeri 6 Bandar Lampung, yaitu: SDB cup, Go BDL futsal tournamen, Bisnis cup, Gubernur cup, Smanda Olimpic, Sudirman 41, pocari sweet Nasional futsal tournamen (regional Lampung), haydrococo Nasional futsal (regional Lampung), dengan mendapatkan peringkat 4, di Go BDL futsal tournamen dan di tahun 2018 kejuaran yang diikuti eksterakurikuler futsal SMA Negeri 6 Bandar Lampung, yaitu: Sudirman 41, Darmajaya cup, BPK Penabur cup, xaveva cup, speacs futsal logi (regional Lampung), Alkausar cup, UBL futsal competition, Penjas cup. Dengan mendapat peringkat 3 Penabur cup, peringkat 2 alkausar cup, peringkat 3 UBL futsal competition, dan peringkat 4 Penjas cup.

(22)

Penelitian yang dilaksanakan menggunakan metode Interval Training karena lapangan futsal SMA Negeri 6 Bandar Lampung bisa digunakan untuk Interval Training metode tersebut digunakan untuk meningkatkan VO2max.

Metode yang kedua sebagai pembanding peningkatan VO2max adalah Cross Country karena lokasi di SMA Negeri 6 Bandar Lampung dekat dengan

perbukitan. Mengingat pentingnya kemampuan kondisi fisik seperti daya tahan (endurance) dalam permainan futsal, maka harus mendapat perhatian dari pelatih dan kerja sama dengan atlet yang akan di teliti, sehingga latihan fisik dapat dilakukan dengan maksimal.

B. Identifikasi Masalah

Uraian latar belakang di atas, maka masalah yang dapat diidentifikasi adalah:

1. Masih ada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung mengalami kelelahan saat pertandingan.

2. Volume oksigen maksimal (VO2max) yang dimiliki siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung belum cukup baik.

3. Belum diketahuinya pengaruh Interval Training terhadap VO2max pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung.

(23)

C. Pembatasan Masalah

Menghindari penafsiran yang salah dan tidak menyimpang dari permasalahan serta tujuan penelitian, makan peneliti membuat batasan masalah. Adapun pembatasan masalah penelitian ini adalah:

Aspek yang diteliti pada penelitian ini hanya ingin mengetahui Interval Training dan Cross Country terhadap VO2max pada siswa yang mengikuti

ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah maka dapat dirumuskan masalah, yaitu: 1. Apakah ada pengaruh Interval Training terhadap VO2max pada siswa

yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung?

2. Apakah ada pengaruh Cross Country terhadap VO2max pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung?

3. Manakah yang lebih berpengaruh antara kelompok Interval Training dan kelompok Cross Country terhadap VO2max pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang ada, maka tujuan dalam penelitian ini adalah 1. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Interval Training terhadap

(24)

2. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Cross Country terhadap VO2max padasiswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung.

3. Untuk mengetahui manakah yang lebih berpengaruh antara Interval Training dan Cross Country terhadap VO2max pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung.

F. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti

Sebagai salah satu sarana untuk menambah ilmu pengetahuan dan dapat berguna untuk latihan dalam cabang Futsal.

2. Bagi Atlet

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan VO2max serta siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung menjadi lebih baik di tingkat Propinsi dan tingkat Nasional.

3. Program Studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi gambaran dalam upaya penelitian yang lebih luas. Selain itu juga memberikan sumbangan pemikiran untuk kemajuan program studi pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi. 4. Untuk Pelatih atau Guru

(25)

G. Ruang Lingkup Penelitian

1. Tempat penelitian dilaksanakan di lapangan futsal SMA Negeri 6 Bandar Lampung dan Desa Way Gubak.

2. Objek yang diamati adalah Interval Training dan Cross Country.

3. Subjek yang diamati adalah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung.

H. Penjelasan Judul

1. Pengaruh adalah kekuatan yang ada atau yang timbul dari sesuatu, seperti orang benda yang turut membentuk watak, kepercayaan, atau perubahan seseorang. Menurut Sugiono (2015:108) untuk mencari seberapa besar pengaruh metode mengajar kostektual terhadap kecepatan pemahaman murid, maka harus harus membandingkan pemahan murit sebelum menggunakan kostektual. Maka dalam peneltian ini yang dimaksut pengaruh adalah suatu bentuk latihan yang ada pengaruh terhadap VO2max.

2. Intervaln Training adalah suatu bentuk latihan daya tahan tubuh dengan cara berlari pada jarak tertentu dan waktu tertentu. Interval Training merupakan latihan daya tahan aerobik. Menurut Harsono

(1988:156) Interval Training adalah suatu sistem latihan yang di selingi oleh inteval-interval yang berupa masa-masa istirahat. Maka dalam penelitian ini Interval Training sebagai kelompok eksperimen satu atau variabel bebas.

(26)

merupakan salah satu lari jarak jauh yang di lakukan di alam terbuka, seperti jalan raya, pegunungan, pemukiman. Maka dalam peneliian ini Cross Country sebagai kelompok eksperimen dua atau variabel bebas.

(27)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Hakikat Olahraga

Hakikat olahraga adalah pendidikan jasmani dan olahraga yang dilaksanakan sebagai proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani. Olahraga pendidikan diselenggarakan sebagai bagian dari proses pendidikan, dilaksanakan baik pada jalur pendidikan maupun non formal, biasanya dilakukan oleh satuan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan. Adapun ruang lingkup olahraga pendidikan sesuai dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tahun 2006 sebagai berikut:

1. Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan.

2. Aktifitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh.

3. Aktifitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, senam lantai, dan lainnya.

4. Aktifitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobik.

5. Aktifitas air meliputi: permainan air, keterampilan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, renang, serta lainnya.

(28)

7. Kesehatan meliputi: penanaman budaya sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat dan lainnya.

Menurut Mutohir (2005:2) pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia yang berkualitas berdasarkan Pancasila.

Menurut Paturisi (2012:7) pendidikan jasmani dan olahraga pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktifitas fisik (jasmani) dan olahraga untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Penjasorkes memerlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk total, dari pada hanya menganggap sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.

(29)

pertumbuan dan perkembangan anak di sekolah. Selain itu juga pendidikan jasmani di diseain untuk meningkatkan kebugaran jasmani pada anak sekolah karena dengan anak yang mempunyai kebugaran jasmani yang baik maka menjadikan manusia tersebut berkulitas.

Olahraga bisa dilakukan oleh siapapun kapanpun dan dimanapun tanpa memandang jenis kelamin, suku, ras, agama, dan sebagainnya. Olahraga mempunyai peran penting dan strategis dalam dalam pembangun bangsa. Olahraga sebagai refleksi kehidupan masyarakat suatu bangsa, didalama olahraga tergambar aspirasi serta nilai-nilai leluhur suatu masyarakat yang terpantul lewat hasrat mewujudkan diri melalui prestasi olahraga.

Olahraga adalah kegiatan yang diarahkan pada tujuan mengikuti peraturan. Olahraga juga memiliki keterbatasan yang dimaksud adalah adanya aturan-aturan yang harus dipatuhi, baik itu dalam olahraga yang bersifat bermain, maupun sport. Aturan dalam olahraga yang bersifat bermain tidak terlalu ketat karena merupakan aktifitas yang bersifat sukarela dan dilakukan secara bebas. Misalnya ketika kita lari di pagi atau sore hari. Kemudian olahraga yang bersifat games sudah mulai ketat karena dibuat oleh pemain yang akan melakukan permainan untuk ditaati bersama.

B. Pembinaan Bakat Dalam Olahraga Prestasi

(30)

diprogramkan akan dapat berhasil sesuai tujuan dan mendapat prestasi yang membanggakan. Berlatih secara intensif belum cukup untuk menjamin tercapainya peningkatan prestasi hal ini karena peningkatan prestasi tercapai bila selain intensif, latihan dilaksanakan dengan bermutu dan berkualitas, upaya peningkatan prestasi olahraga ada beberapa kegiatan dasar yang dilaksanakan dalam proses pembinaan atlet untuk mencapai prestasi yang tinggi, yaitu:

1. Pemasalan

Pemasalan adalah mempolakan keterampilan dan kebugaran jasmani atlet secara multilatera (menyeluruh) dan spesialisasi (atlet yang memiliki keistimewaan dalam olahraga tertentu), yang bertujuan untuk melibatkan sebanyak-banyaknya atlet dalam olahraga prestasi, sehingga timbul motivasi dalam menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam upayanya meningkatkan prestasi olahraga.

2. Pembibitan

Pembibitan adalah upaya yang diterapkan untuk menjaring atlet berbakat dalam olahraga prestasi, yang diteliti secara terarah dan intensif melalui orang tua, guru, dan pelatih pada sutau cabang olahraga, yang bertujuan untuk menyiadakan calon atlet berbakat dalam berbagia cabang olahraga prestasi, sehingga dapat dilanjutkan dengan pembinaan yang lebih intensif lagi, dan dengan sistem yang lebih inofatif serta mampu memanfaatkan hasil riset secara ilmiah serta perangkat teknologi moderen yang ada.

3. Perestasi puncak (Golden Age)

(31)

seorang pelatih dalam melihat kemampuan seorang atlet dari latihannya maupun seleksi yang dilakukannya, sesuai dengan kemampuan dan SDM (Sumber Daya Manusia) yang diperlukan sesuai kebutuhan guna mencapai prestasi yang setinggi-tingginya. Tujuan dilakukannya pemanduan bakat adalah memperkirakan peluang seorang atlet berpeluang menyerap program latihan yang diberikan pelatih untuk memperoleh prestasi yang telah direcanangkan.

Pembinaan adalah usaha kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Pembinaan prestasi termasuk didalamnya adalah olahraga atletik, sepakbola, futsal dan sepak takraw dan cabang lain diperlukan tahap persiapan yaitu dengan adanya pemasalan, pembibitan dan pemanduan bakat pemain agar dapat dihasilkan bibit-bibit pemain yang berprestasi secara profesional.

(32)
[image:32.595.172.430.70.240.2]

Gambar 2.1 Pembinaan Prestasi (Kamiso, 1998:18)

Apabila salah satu komponen terpenting tersebut, tidak dilaksanakan dengan benar maka tidak akan dihasilkan atlet andalan yang berkualitas dan berprestasi. Oleh karena itu untuk menghasilkan atlet futsal yang berkualitas, perlu diadakannya pemasalan olahraga futsal, sehingga kemudian seorang pelatih akan mengetahui serta dapat menilai mana atlet potensial dan berbakat untuk dimasukan pada tahap pembibitan. Tahap prestasi akan berada pada tahap selanjutnya dimana pelatih telah memiliki program-program latihan untuk meningkatkan prestasi, sehingga dengan berjalanya tahapan-tahapan tersebut diharapkan dapat mampu menghasilkan atlet maupun pemain futsal yang berkualitas dan berprestasi.

C. Pembinaan Olahraga Menuju Prestasi

Olahraga prestasi adalah olahraga yang membina dan mengembangkan olahragawan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan. Selain itu dalam mengembangkan olahraga perlu dilakukan sebuah pendekatan keilmuan yang menyeluruh.

Prestasi ii

Pembibitan

(33)

Menurut Kristiyanto (2012:12) yang menyatakan bahwa dalam lingkup olahraga prestasi tujuannya adalah untuk menciptakan prestasi yang setinggi-tingginya, artinya bahwa pihak seharusnya berupaya untuk mensinergikan hal-hal dominan dalam menentukan prestasi gemilang. Model pembinaan prestasi olahraga bentuk segitiga atau sering disebut pola piramid seharusnya berporos pada proses pembinaan yang bersinambungan. Dikatakan berkesinambungan karena pola itu harus didasari cara pandang yang utuh dalam memaknai program permasalahan dan pembibitan prestasi.

Mendapatkan atlet berprestasi, disamping proses latihan yang harus dijalankan dengan baik, perlu juga dibarengi dengan menciptakan kompetisi-kompetisi agar proses latihan yang diterapkan dapat diuji dan dievaluasi melaui kompetisi tersebut. Oleh karena itu semakin sering kompetisi maka semakin besar mendapatkan atlet berprestasi.

(34)
[image:34.595.139.497.74.251.2]

Gambar 2.2. Skema Pembinaan Prestasi Olahraga (Setiono, 2006:43)

Prestasi puncak dan penampilan seorang olahragawan akan dicapai dengan melakukan latihan jangka panjang dengan waktu kurang lebih berkisar antara 8 hingga 10 tahun secara bertahap, kontinyu, meningkat dan berkesinambungan. Puncak prestasi olahragawan umumnya dicapai sekitar umur 20 tahun, dengan lama tahapan pembinaan 8 s.d. 10 tahun maka seseorang atlet harus sudah mulai dibina dan dilatih pada usia 7-18 tahun yang dapat dinamakan pembinaan pemain usia muda. Setiap tahapan ini didukung oleh program latihan yang baik, dimana perkembangannya dievaluasi secara periodik. Pembinaan usia muda dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu usia dini dengan pembagian usia dari 7-9 dan 10-12 tahun, usia remaja dengan pembagian usia dari 13-15 tahun dan 16-18 tahun, di atas 18 tahun dianggap sudah dewasa.

D. Belajar Motorik

Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri seseorang yang diperoleh melalui pengalaman dan latihan dapat diamati melalui penampilannya. Gerak terjadi karena adanya hantaran

Konstan Berjenjang Berkelanjutan

(35)

implus oleh sel-sel saraf. Menurut Lutan (2001:8) belajar motorik adalah kapasitas seseorang yang berkaitan dengan pelaksanaan dan peragaan suatu keterampilan yang di pelajari, sehingga akan memberi dampak pada pertumbuhan dan perkembangan. Belajar motorik adalah suatu kegiatan yang berupa gerak secara sadar dilakukan seseorang.

Belajar motorik memiliki beberapa unsur sebagai berikut: 1. Belajar motorik adalah suatu proses

Belajar motorik adalah proses internal yang terjadi pada siswa karena adanya faktor eksternal (keadaan di luar diri siswa yang memberi pengaruh pada perkembangan motoriknya) dan faktor internal (karakteristik siswa: kecerdasan, tipe tubuh, kemampuan motorik, dll) itu sendiri.

2. Hasil dari belajar merupakan kemampuan merespon

Hasil akhir yang diharapkan adalah siswa dapat menguasai faktor-faktor internal dari suatu keterampilan dan dilakukan secara teratur serta tepat waktunya, kualitasnya diukur dari kinerja saat melakukan gerakan dan hasil gerakannya (responnya).

3. Kemampuan atau gerakan yang dihasilkan relatif permanen

Keterampilan motorik yang dikuasai dan dipelajari oleh siswa atau atlet dapat melekat pada diri dalam waktu yang relatif lama.

(36)

5. Perubahan dapat kearah negatif maupun positif

Atlet berlatih setiap hari pada hakikatnya ingin meningkatkan keterampilan motorik yang telah dikuasai dan mempertahankan prestasi yang telah dicapai. Tetapi hasil belajar atau latihan tidak selalu mengarah pada peningkatan secara terus menerus, karena banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan hasil latihan.

Dalam proses belajar gerak ada tiga tahapan yang harus dilalui oleh siswa untuk mencapai tingkat keterampilan yang sempurna (otomatis). Tiga tahapan belajar gerak ini harus dilakukan secara berurutan, karena tahap sebelumnya adalah prasyarat untuk tahaf berikutnya. Apabila ketiga tahapan belajar gerak ini tidak dilakukan oleh guru pada saat mengajar pendidikan jasmani, maka guru tidak boleh mengharap banyak dari apa yang selama ini mereka lakukan, khususnya untuk mencapai tujuan Pendidikan Jasmani yang ideal. Tahapan belajar gerak adalah sebagai berikut:

1) Tahap Kognitif

(37)

oleh guru dalam proses belajar gerak, maka sulit bagi guru untuk menghasilkan anak yang terampil mempraktikkan aktivitas gerak yang menjadi prasyarat tahap belajar berikutnya.

2) Tahap Asosiatif (Fiksasi)

Pada tahap ini siswa mulai mempraktikkan gerak sesuai dengan konsep-konsep yang telah mereka ketahui dan pahami sebelumnya. Tahap ini juga sering disebut sebagai tahap latihan. Pada tahap latihan ini siswa diharapkan mampu mempraktikkan apa yang hendak dikuasai dengan cara mengulang-ulang sesuai dengan karakteristik gerak yang dipelajari. Apakah gerak yang dipelajari itu gerak yang melibatkan otot kasar atau otot halus atau gerak terbuka atau gerak tertutup. Apabila siswa telah melakukan latihan keterampilan dengan benar dan baik, dan dilakukan secara berulang baik di sekolah maupun di luar sekolah, maka pada akhir tahap ini siswa diharapkan telah memiliki keterampilan yang memadai.

3) Tahap Otomatisasi

(38)

Proses belajar mengajar peserta didik harus menunjukkan kegembiraan, semangat yang besar dan percaya diri. Atas dasar tersebut, guru berperan untuk menciptakan dan mempertahankan kelangsungan proses belajar mengajar, guna tercapainya tujuan belajar yang sudah ditetapkan. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar gerak adalah seperangkat proses yang berhubungan dengan latihan dan pengalaman yang mengantarkan kearah perubahan permanen dalam prilaku terampil. Untuk mempelajari gerak maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Kesiapan belajar

Bahwa pembelajaran harus mempertimbangkan hukum kesiapan. Anak yang lebih siap akan lebih unggul dalam menerima pembelajaran.

b. Kesempatan belajar

Pemberian kesempatan yang cukup banyak bagi anak sejak usia dini untuk bergerak atau melakukan suatu aktivitas jasmani dalam mengesporasikan lingkungannya sangat penting untuk perkembangan mental yang sehat.

c. Kesempatan latihan

Anak harus diberi waktu untuk latihan sebanyak yang diperlukan untuk menguasai. Semakin banyak kesempatan berlatih, semakin banyak pengalaman gerak yang anak lakukan dan dapatkan. Meskipun demikian, kualitas latihan jauh lebih penting ketimbang kuantitasnya.

d. Model yang baik

(39)

mencontoh yang baik. Model yang ada harus merupakan replika dari gerakan-gerakan yang dilakukan dalam olahraga tersebut.

e. Bimbingan

Untuk dapat meniru suatu model dengan betul, anak membutuhkan bimbingan. Bimbingan juga membantu anak membetulkan sesuatu kesalahan sebelum kesalahan tersebut terlanjur dipelajari dengan baik sehingga sulit dibetulkan kembali.

f. Motivasi

Besar kecilnya semangat usaha seseorang tergantung pada besar kecilnya motivasi yang dimilikin. Semakin besar motivasi yang dimiliki dalam dirinya semakin mudah mempelajari setiap hal.

E. Hakikat Belajar

Belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat, sedangkan respon adalah tingkah laku yang muncul dikarenakan adanya stimulus.

(40)

eksperimen dengan sebuah puzzlebox. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Atas dasar percobaannya, Thorndike menemukan hukum-hukum belajar, yaitu:

1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)

Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Menurut Thorndike, ada beberapa kondisi yang akan muncul pada hukum kesiapan ini, diantaranya: a. Jika individu siap untuk bertindak dan mau melakukannya, maka ia akan

merasa puas.

b. Jika individu siap untuk bertindak, tetapi ia tidak mau melakukannya maka timbullah rasa ketidak puasan.

c. Jika belum ada kecenderungan bertindak, namun ia dipaksa melakukannya, maka melakukannya akan menjengkelkan.

Misalnya berdasarkan pengalaman saya selama kuliah yaitu, ketika sudah siap untuk presentasi tetapi dikarenakan dosen tidak hadir maka presentasinya ditunda. Hal ini menyebabkan adanya penurunan dalam belajar untuk mempersiapkan presentasi berikutnya. Karena seperti prinsip hukum kesiapan bahwa ketika individu siap untuk melakukan suatu tindakan tetapi tidak dilakukan maka akan menjengkelkan.

2. Hukum latihan (Law of Exercise)

(41)

hubungan S-R. Dalam hal ini, hukum latihan mengandung dua hal: a. The Law of Use: hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan

menjadi bertambah kuat, kalau ada latihan antara situasi yang menstimulasi dengan suatu respons.

b. The Law of Disuse: hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah lemah atau terlupa kalau latihan-latihan dihentikan, karena sifatnya yang melemahkan hubungan tersebut. Misalnya berdasarkan pengalaman saya selama kuliah yaitu, ketika tampil dalam presentasi. Sebelum tampil maka saya latihan untuk berbicara, awalnya di depan cermin baru kemudian di depan teman-teman sekelompok. Sehingga saya dapat melakukan presentasi dengan baik.

3. Hukum efek (Law of Effect)

Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila keadaan yang menyenangkan (satisfying state of affairs) dan cenderung diperlemah jika keadaan yang menjengkelkan (annoying state of affairs). Rumusan tingkat hukum efek adalah bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi.

(42)
[image:42.595.131.502.198.253.2]

stimulus tersbut tidak efektif dalam mempengaruhi organisme, maka tidak ada perhatian (attention) dari organisme, jika stimulus diterima oleh organisme berarti adanya komunikasi dan perhatian dari organisme, dalam hal ini stimulus efektif dan ada reaksi, seperti gambar di bawah ini:

Gambar 2.3. Teori Belajar Behaviorisme (Slavin, 2000:143)

Langkah selanjutnya adalah jika stimulus telah mendapat perhatian dari organisme, kemampuan dari melanjutkan proses berikutnya. Pada langkah berikutnya adalah organisme dapat menerima secara baik apa yang telah diolah sehingga dapat terjadi kesediaan dalam mengubah sikap. Perubahan berarti bahwa stimulus yang diberikan dapat meyakinkan organisme, dan akhirnya secara efektif dapat merubah sikap. Dalam proses menuju ke respon atau perubahan sikap terjadi penguatan + dan penguatan -, jika yang terjadi penguatan + perubahan sikap akan baik, sebaliknya jika terjadi penguatan –

yang terjadi perubahan sikap memburuk, seperti gambar di bawah ini:

Gambar 2.4 Stimulus Respon ( Effendy, 2003:255)

Penguatan +

Penguatan

(43)

F. Kebugaran Jasmani

Menurut Giriwijoyo (2012b:16) kebugaran jasmani lebih merupakan terjemahan dari physiological fitness. Secara fisiologis kemampuan fungsional jasmani terdiri dari kemampuan anaerobik dan kemampuan aerobik. Kemampuan anaerobik terdiri dari kemampuan anaerobik alaktasid

dan kemampuan aneorobik laktasid. Kemampuan anaerobik alaktasid adalah kemampuan untuk mewujutkan gerak ladak (gerak eksplosif) maksimal maupun sub-maksimal, kemampuan anaerobik laktasid adalah kemampuan untuk mewujudkan gerak ketahanan anaerobik (Daya tahan anaerobik), sedangkan kemampuan aerobik adalah kemampuan untuk mewujudkan gerak ketahan umum seperti misalnya pada lari maksimal maupun sub-maksimal dengan durasi 8 menit atau lebih.

(44)

tugas hidup sehari-hari dengan selalu masih mempunyai cadangan kemampuan (tidak lelah berlebihan) untuk melakukan kegiatan fisik ekstra serta telah pulih kembali esok harinya menjelang tugas sehari-harinya.

Menurut Giriwijoyo (2012a:71) sehat dinamis adalah kondisi sehat yang di peroleh karena melalui olahraga kesehatan secara teratur. Ada tiga komponen yang paling penting adalah:

1. Daya tahan jantung–paru (kebugaran kardio-vaskulo-respiratoir). 2. Kelentukan dan kekuatan (kebugaran skeleto-muskular).

3. Rasio lemak tubuh terhadap berat badan tanpa lemak yang tepat (kebugaran nutrisional).

Ketiga hal diatas diperlukan untuk kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang. Berolahraga secara teratur akan mempunyai jantung yang lebih besar dan lebih kuat, masa otot yang lebih banyak dan lebih kuat, jaringan lemak yang lebih sedikit, tulang-belulang yang lebih kuat dan sendi-sendi yang lebih fleksibel.

G. Teori Latihan

Melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan fisik, kata latihan akan menjadi hal yang mutlak nantinya untuk mencapai tujuan yang akan dicapai. Banyak hal yang harus dilakukan agar dalam proses latihan berjalan dengan lancar dan tidak terjadi kesalahan di dalam pelaksanaannya.

(45)

mengungkapkan bahwa latihan merupakan suatu proses perubahan kearah yang lebih baik, yaitu untuk meningkatkan kualitas fisik kemampuan fungsional peralatan tubuh dan kualitas psikis.

Menurut Harsono (1988:101) Latihan atau Training adalah proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja yang dilakukan secara berulang-ulang dengan kian hari kian menambah beban latihannya atau pekerjaannya. Latihan atlet harus memperhatikan peningkatan beban. Beban latihan harus ditingkatkan manakala sudah tiba saatnya untuk ditingkatkan. Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa latihan adalah suatu proses berlatih yang dilakukan secara sistematis, berulang-ulang yang kian hari jumlah beban latihan kian bertambah bertujuan mencapai keterampilan yang lebih baik.

H. Tujuan Latihan

Menurut Harsono (1988:100) tujuan serta sasaran utama dari latihan atau Training adalah untuk membantu atlet meningkatkan keterampilan dan

prestasinya semaksimal mungkin. Untuk mencapai latihan tersebut ada 4 aspek yang perlu diperhatikan oleh setiap guru pendidikan jasmani/ pembina/ pelatih olahraga, yaitu: a) Latihan fisik, b) Latihan teknik, c) Latihan taktik, d) Latihan mental.

I. Prinsip-prinsip Latihan

(46)

prisip-prinsip latihan. Program latihan perlu disusun dengan memperhatikan prinsip-prinsip latihan melalui pentahapan, teratur dan berkesinambungan.

Latihan harus memperhatikan prinsip-prinsip latihan sebagai berikut: a. Prinsip partisipasi aktif

Pencapaian prestasi merupakan usaha atlet itu sendiri dan kerja keras pelatih, sehingga keduanyalah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program latihan untuk menghasilkan prestasi yang tinggi. Pelatih berkewajiban untuk mendidik atlet agar memiliki sikap bertanggung jawab, disiplin dan mandiri.

b. Prinsip perkembangan multilateral

Prestasi yang tangguh perlu dipersiapkan melalui peletakan dasar bangunan prestasi yang dilaksanakan pada tahap dasar yakni perkembangan multilateral. Tahap perkembangan multilateral di letakan pada awalan program pembinaan sebelum memasuki tahap spesialisasi. c. Prinsip Individual

Setiap atlet memiliki potensi yang berbeda-beda dan berkarakter unik, setiap latihan memiliki respon yang berbeda. Untuk itu dalam penyusunan program latihan, perlu mempertimbangkan perbedaan individu berupa faktor:

1. Keturunan, pada umumnya atlet mewarisi sifat fisik, mental dan emosional orang tuanya.

(47)

3. Umur latihan, setiap atlet memiliki kebugaran dan kualitas biomotor berbeda bergantung kepada lama latihan yang telah diiikutinya.

4. Kecerdasan, perbedaan kecerdasan akan berpengaruh terhadap kesiapan atlet dalam melaksanakan dan menjawab beban latihan.

d. Prinsip overload

Untuk meningkat kemampuan atlet perlu latihan dengan beban lebih (overload), yakni beban yang cukup menantang atau benar-benar membebani pada wilayah ambang batas kemampuan atlet.

Beban tersebut akan menimbulkan respon awal tubuh berupa kelelahan bila pembebanan dihentikan maka akan terjadi proses pemulihan, selanjutnya tubuh akan beradaptasi terhadap beban tersebut berupa peningkatan kemampuan.

Beban yang terlalu ringan tidak akan meningkatkan kemampuan atlet sehingga prestasi akan tetap (plato), sebaliknya beban yang terlalu berat akan menyebabkan penurunan kemampuan atlet, prestasi menurun (involusi) dapat terjadinya over training. Pelatih perlu memahami tanda-tanda terjadi nya over training meliputi gejala psikologis, fisik motoris dan fungsional.

e. Prinsip spesifikasi

SAID: Specifi Adaptation to Inposed Demand prinsip spesifikasi menjelaskan bahwa sifat khusus beban akan menghasilkan tanggapan khusus, untuk itu program latihan hendaknya dirancang khusus sesuai dengan:

(48)

2. Peran Olahraga (penjaga gawang, smasher, picher dll) 3. Sistem energi (aneorebik, aerobik)

4. Pola gerak

5. Keterlibatan otot (otot pada organ apa saja) 6. Biomotor (kekuatan, kecepatan, daya tahan dll) f. Prinsip kembali asal (reversible)

Prinsip kembali asal (reversible) yang diartikan sebagai kemunduran kemampuan atlet yang diakibatkan ke tidak teraturan dalam menjalankan program latihan. Kemampuan atlet yang telah meningkat pada tahap latihan (training) akan menurun (detraining) apabila atlet berlatih dengan benar dan untuk mengembalikan prestasi semula diperlukan waktu yang cukup lama, latihan seharusnya dilakukan terus menerus dan berkelanjutan.

g. Prinsip variasi latihan

Untuk memperoleh adaptasi yang optimal diperlukan variasi dalam pembebanan sehingga perlu dirancang hari latihan berat, ringan, sedang. Selain itu model dan metode latihan-latihan yang monoton akan mengakibatkan kebosanan, untuk itu perlu dirancang berbagai model dan metode latihan beraneka ragam, dengan tetap mengacu pada sasaran latihan.

h. Prinsip lamanya latihan

(49)

waktunya yang pendek, latihan harus juga dilakukan sesering mungkin. Setiap latihan tesebut harus dilakukan dengan usaha yang sebaik-baiknya dan dengan kualitas atau mutu yang tinggi.

J. Interval Training

Interval Training adalah suatu bentuk latihan daya tahan tubuh dengan cara

berlari pada jarak tertentu dan waktu tertentu. Interval Training merupakan latihan daya tahan aerobik. Daya tahan aerobik dapat diartikan sebagai daya tahan seluruh tubuh yang dibutuhkan untuk bisa menyelesaikan lari jauh, renang jarak jauh. Daya tahan jenis ini membutuhkan pemakaian oksigen. Menurut Irianto (2009:57) Interval Training adalah metode latihan daya tahan yang bisa dipakai berbagai cabang olahraga, seperti berenang, bersepeda dan kebanyakan olahraga permainan. Interval Training memiliki perbandingan priode kerja dan istirahat yang tetap.

Menurut Harsono (1988:156) Interval Training adalah suatu sistem latihan yang di selingi oleh inteval-interval yang berupa masa-masa istirahat. Jadi latihan (lari)-istirahat-latihan-istirahat-latihan dan seterusnya. Interval Training memiliki ciri khas yaitu adanya istirahat yang diselingi pada

melakukan latihan. Bentuk latihan dalam interval berupa lari (interval running). Ada beberapa faktor yang harus di penuhi dalam menyusun Interval

Training, yaitu:

a. Lamanya latihan

b. Beban (intensitas) latihan

c. Ulangan (repetition) melakukan latihan

(50)

Perlu diketahui bahwa interval atau istirahat penting sekali. Istirahat harus merupakan istirahat yang aktif dan bukan istirahat yang pasif. Istirahat berupa jalan, joging atau melakukan bentuk latihan senam kelentukan. Joging secara rilax adalah cara yang baik untuk pemulihan atau recovery yang cepat dan efektif.

Istirahat disetiap rangsangan latihan memegang peranan yang menentukan. Istirahat yang terlalu panjang dan terlalu pendek dapat menghambat keefektifan suatu latihan. Interval Training akan meningkatkan ketahanan fisik dua kali lipat serta meningkatkan kekuatan dan kecepatan. Setelah tubuh semakin terbiasa dengan episode latihan intensitas tinggi ini, maka sistem kardiovaskular tubuh akan semakin cepat dan efisien. Hasilnya pun bisa berolahraga lebih lama dan lebih cepat lagi. Keunggulan lain dari latihan ini adalah tubuh akan terus membakar kalori bahkan lama setelah latihan berakhir.

Pelaksanaan

(51)
[image:51.595.179.450.89.215.2]

Gambar 2.5 Ilustrasi Pelaksanaan Interval Training Ket:

: pelaksaan interval (sprint) : masa istirahat (jalan / jogging)

Perlu diperhatikan dalam mengembangkan daya tahan adalah seseorang atau atlet harus berlatih untuk waktu yang lama, jadi dengan repetisi yang banyak. Berbagai modifikasi kemudia dikembangkan oleh parah ahli untuk meningkatan daya tahan. Menurut Harsono (1988: 158) ada dua bentuk Interval Training yaitu lambat akan tetapi dengan jarak yang lebih jauh dan

cepat akan tetapi dengan jengan jarak yang lebih dekat. Seperti tabel di bawah ini

Tabel 2.1. Interval Training Lambat Akan Tetapi Dengan Jarak Lebih Jauh

Lama latihan 60 detik- 3 menit Intensitas latihan 60%-75% max

Ulangan lari 10-20 kali

[image:51.595.170.455.650.744.2]
(52)
[image:52.595.141.500.187.293.2]

Tabel.2.2. Waktu Interval Training lambat dengan jarak lebih jauh

Waktu terbaik 800 m: 2 menit 20 detik

Repetisi Jarak Waktu Istirahat

3 800 meter 160 detik 5 menit

3 600 meter 120 detik 4 menit

5 400 meter 80 detik 3 menit

[image:52.595.159.464.395.464.2]

5 300 meter 60 detik 2 menit

Tabel 2.3 Interval Training cepat akan tetapi dengan jarak lebih dekat

Lama latihan 5-30 detik Intensitas latihan 85%-90%

Istirahat 30-90 detik

Tabel.2.4. Waktu Interval Training cepat dengan jarak yang lebih dekat

Waktu terbaik 100 m: 12 detik

Repetisi Jarak Waktu Istirahat

5 50 meter 8 detik 30 detik

5 100 meter 16 detik 90 detik

5 100 meter 16 detik 90 detik

[image:52.595.146.504.614.723.2]
(53)

Tujuan

Tujuan utama dari Interval Training adalah untuk meningkatkan kapasitas jantung dan menguatkan kekuatan dinding jantung, dengan cara tersebut stoke volume (volume darah yang di pompakan keluar oleh satu denyut jantung)

akan lebih besar. Mampu bekerja dalam waktu yang lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut.

K. Cross Country

Cross Country salah satu bentuk latihan untuk meningkatkan VO2max, Cross

Country (lintas alam) adalah salah satu nomor jarak jauh yang dilakukan

alam terbuka. Untuk meningkat daya tahan, dapat melakukan variasi latihan dengan melakukan Cross Country, yaitu berlari dari tempat yang rendah ketempat yang lebih tinggi atau dapat di lakukan di alam bebas seperti di pemukimana dan perbukitan.

Menurut Irwansyah (2006:53) lari lintas alam atau Cross Country merupakan salah satu lari jarak jauh yang di lakukan di alam terbuka, seperti jalan raya, pegunungan, pemukiman, atau hutan. Teknik lari lintas alam memiliki dasar yang sama dengan teknik lari jarak jauh. Menurut Irianto (2009: 56) latihan lari secara teratur akan membuat paru-paru bekerja lebih efektif, jumlah masuknya oksigen yang bertambah ini membantu memudahkan kerja jantung.

Cross Country adalah lari jarak jauh melintasi alam terbuka seperti pedesaan,

(54)

yang bertujuan meningkatkan daya tahan dan untuk mehilangkan kebosanan pada saat latihan. Jarak lari lintas alam yang sesuai dengan IAAF (International Ameteur Atletic Federation) dibagi sesuai dengan umur adalah 4 km untuk junior putra. Menurut Harsono (1988:156) Lintas alam dimulai dengan lari lambat-lambat kemudian divariasikan dengan sprin-sprin pendek yang intensif dan lari jarak menengah dengan kecepatan yang konstan kemudian diselingi dengan joging sprint lagi, jadi variasi tempo lari ini bisa dimain mainkan oleh atlet, tergantung dari kondisi atlet. Jika atlet merasa sudah sangat lelah boleh lari pelan-pelan, bahkan berjalan, jika merasa kuat bisa lari lagi atau sprin dan sebagainya. Oleh karena itu harus di alam terbuka yang lapang bervariasi dalam topografi dan dengan pemandangan alam yang berubah-ubah, maka hal ini tidak hanya memperlambat datangnya lelah, akan tetapi memungkinkan juga untuk lebih cepat memperkembangkan daya tahan.

Pelaksanaan

[image:54.595.139.509.638.720.2]

Pelaksaan Cross Country di lakukan di alam bebas, berlari dari tempat rendah ketempat yang lebih tinggi, untuk melakukan latihan yang berlangsung lama ini, frekuensi jantung yang di sarankan adalah 130-160 per menit dan harus di pertahankan minimal selama 30 menit. Seperti tabel di bawah ini:

Tabel 2.5 Pelaksanaan Cross Country (Brown, 1996:78)

Latihan

Jarak 3 mil

Waktu 21-30 menit

Kecepatan Bervariasi, rata-rat 7-10mil per menit

(55)

Tujuan

Tujuan dari Cross Country untuk meningkatkan daya tahan, kondisi tubuh yang mampu untuk bekerja waktu yang lama, tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah menyelesaikan perjalanan dan peningkatkan menghirup oksigen dan memungkinkan metabolisme berlangsung lebih efisien. Menghilangkan kebosanan pada saat menjalankan latihan

L. Pengertian VO2max

Menurut Suranto (2008:118) VO2max merupakan daya tangkap aerobik maksimal menggambarkan jumlah oksigen maksimum yang dikonsumsi per satuan waktu oleh seseorang selama latihan atau tes.

Menurut Sajoto (1988:43) daya tahan paru jantung atau kardiorespirasi adalah dimana jantung seseorang mampu bekerja dengan mengatasi beban berat selama suatu kerja. VO2max adalah volume maksimal O2 yang di proses oleh tubuh manusia pada saat melakuan kegiatan yang intensif. Seseorang atau atlet yang memiliki VO2max tinggi maka memiliki daya tahan yang baik. VO2max (Volume Oksigen Maksimal) adalah kemapuan olah daya aerobik

(56)

Menurut Sukadiyanto (2002:88) latihan yang baik untuk meningkatkan VO2max adalah jenis latihan cardio atau aerobic, latihan yang memacu detak

jantung, paru dan sistem otot. Latihan harus berlangsung dalam durasi yang relative lama namun dengan intensitas sedang. Dari beberapa para ahli dapat disimpulkan bahwa VO2max adalah volume maksimal O2 yang di proses oleh tubuh manusia pada saat melakuan kegiatan yang intensif. Seseorang atau atlet yang memiliki VO2max tinggi maka memiliki daya tahan yang baik. 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi VO2max

(57)

mempengaruhi perbedaan peningkatan VO2max, (f) gizi: kualitas gizi yang baik akan mempengaruhi kualitas latihan.

2. Jantung

Menurut Hermawan (2015:121) Jantung mempunyai suatu irama kontraksi (Contractile Rhythm) yang tidak bisa dipisahkan, yaitu: jika semua saraf menyediakan jantung terputus, jantung masih berlanjut untuk menghasilkan rangsang saraf yang menyebabkan kontraksi pada suatu pertunjukan secara berirama. Pada umumnya, autorhythm ini berasal suatu area khusus dari jaringan yang disebut sebagai sinoatrial node (S-A node). S-A node terletak di belakang dinding dari atrium kanan. Karena denyut jantung yang normal dimulai dari S-A node, kadang kadang dikenal sebagai perintis (pace maker) jantung.

Seperti jaringan lainnya, dalam otot jantung yang nampak lebih dekat disebut myocardium. Otot jantung serupa dengan otot rangka yang mempunyai ciri

lurik (striated) berisi myofibril dan filament protein myosin serta actin. Jantung bertindak sebagai satu serabut yang besar. Artinya, ketika satu serabut otot berkontraksi, maka semua serabut otot di dalam jantung berkontraksi pula, hanya serabut tertentu di motor unit yang kontraksi, tidak semua serabut di dalam otot. Pengaturan seperti itu dikenal sebagai suatu syncytium fungsional.

Otot jantung juga memerlukan darah untuk menyediakan oksigen dan untuk menghasilkan sampah. Suplai darah ke jantung dimaksudkan sebagai

(58)

pembulu darah koroner bagian kiri dan bagian kanan. Keduanya berasal dari batang nadi (aorta), di atas pompa aurta dan mengelilingi jantung.

3. Paru-paru

Menurut Hermawan (2014:81) Paru-paru merupakan alat pernapasan yang berfungsi sebagai alat pompa. Paru-paru manusia berjumlah dua buah, yaitu paru-paru kanan dan paru-paru kiri masing-masing paru-paru bergelambir, paru kiri tiga gelambir dan kanan dua gelambir. Setiap gelambir terdiri atas sejumlah alveolus yang berfungsi sebagai tempat pengikatan oksigen dan pelepasan karbondioksida secara difusi.

Paru-paru dibungkus oleh selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi dua, yaitu: (1) pleura viseral atau selaput dada pembungkus dan (2) pleura paniental yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah dalam. Antara ke dua pleura terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum pleura. Paru paru terletak di tengah rongga dada (kavum mediastinum).

(59)

Pernapasan Pulmoner merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida yang terjadi pada paru-paru. Penapasan melalui paru-paru atau pernapasan eksternal, oksigen diambil melaui mulut dan hidung pada waktu bernapas, masuk melalui trakhea sampai ke alvelous berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonan, alveoli memisahkan oksigen dari darah, kemudian oksigen menembus membran, selanjutnya diambil oleh sel darah merah dan dibawa ke jantung dan dari jantung dipompa ke seluruh tubuh.

M. Penelitian Relevan

Penelitian relevan dibutuhkan untuk mendukung kajian teoritis yang dikemukakan. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Rachmawan (2016) yang berjudul perbandingan pengaruh Interval Training dan Circuit Training terhadap VO2max siswa sekolah sepak bola undip”. Hasil penelitian ini

menunjukan rerata peningkatan VO2max pada kelompok Circuit Training lebih besar dibandingkan kelompok Interval Training, dan hal

ini tersebut bermakna secara statistika.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Ambarwati (2014) yang berjudul pengaruh latihan Circuit Training dan Cross Country terhadap VO2max. Hasil penelitian ini menunjukan Cross Country lebih berpengaruh dari pada Circuit Training terhadap VO2max pada siswa ekstrakurikuler taekwondo di SMA Negeri 1 Seputih Bayak Lampung Tengah.

(60)

menujukan bahwa Circuit Training lebih efektif meningkat VO2max untuk pemain sepak bola yang mempunyai IMT rendah.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Indrayana (2012) yang berjudul perbedaan pengaruh latihan Interval Training dan Fartlek terhadap daya tahan Cordiovaskuler pada atlet junior putra taekwondo wild club Medan. Hasil penelitian ini menunjukkan latihan Interval Training secara signifikan berpengaruh dalam meningkatkan daya tahan cardiovaskuler pada atlet Junior Putra Taekwondo Wild Club Medan.

N. Kerangka Pikir

Dalam permainan futsal terdapat teknik dasar passing, contro, dan menggiring bola dimana dalam cabang olah raga futsal sangat membutuhkan daya tahan saat bertanding, dalam olahraga ini dibutuhkan VO2max (daya tahan) yang baik, sehingga dapat mempengaruhi proses latihan teknik dasar permainan futsal yang ingin dicapai.

[image:60.595.135.407.516.615.2]

Desain penelitian ini yang di gunakan adalah, seperti gambar di bawah ini:

Gambar 2.6 Kerangka Pikir Keterangan:

X1 = Interval Training X2 = Cross Country Y = VO2max

X1

(61)

O. Hipotesis Penelitian

Menurut Sudjana (2005:219) hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut melakukan pengecekan. Menurut Arikunto (2006:35) hipotesis adalah dugaan sementara atau jawaban sementara yang harus diuji lagi kebenarannya melalui penelitian ilmiah.

Berdasarkan kajian teoritis yang berhubungan dengan permasalahan, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

Ho: Tidak ada pengaruh yang signifikan dari Interval Training terhadap VO2max pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung.

Ho: Tidak ada pengaruh yang signifikan dari Cross Country terhadap VO2max pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA

Negeri 6 Bandar Lampung.

Ho: Tidak ada yang lebih berpengaruh antara Interval Training dan Cross Country terhadap VO2max pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler

(62)

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Menurut Arikunto (2006:85) adapun jenis penelitian ini adalah penelitian dengan perlakuan percobaan (eksperimen), mengartikan pendekatan adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab-akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang mengganggu. Peneliti eksperimen adalah suatu penelitian yang selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat dari suatu perlakuan, penelitian ini adalah penelitian eksperimen adapun rancangan yang digunakan adalah secara acak dengan pretest dan posttest.

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

(63)

2. Sampel

Menurut Sugiyono (2013:116) “sampel adalah sebagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Sedangkan menurut

Arikunto (2006:112) “penentuan pengambilan sampel adalah sebagai berikut, apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua, sebaliknya jika subjeknya lebih dari 100 dapat diambil antara 10 - 15% atau 20 - 25%. Bardasarkan pendapat diatas penulis mengambil sampel 30 orang, karena populasinya kurang dari 100.

C. Variabel Penelitian

Variabel penelitian merupakan himpunan beberapa gejala yang berfungsi sama suatu masalah. Menurut Arikunto (2006:99) variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu: variabel bebas dan variabel terikat.

1. Variabel bebas adalah variabel yang nilai-nilainya tidak tergantung pada variabel lainnya yang berguna untuk meramalkan dan menerangkan nilai variabel yang disimbolkan dengan (X), adapun variabel bebas dalam penelitian ini yaitu Interval Training dan Cross Country.

(64)

D. Desain Penelitian

[image:64.595.132.510.258.576.2]

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pretest-posttest desaign. Desain ini terdapat pretest sebelum diberi perlakuan dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Desain tersebut dapat digambarkan, seperti gambar di bawah ini:

Gambar 3.1 Desain Penelitian Keterangan:

Pretest : Tes awal lari multitahap (Blepp Test). OP : Ordinal pairing pengelompokan. K 1 : Kelompok Interval Training. K 2 : Kelompok Cross Country.

Treatment A : Kelompok eksperimen (menggunakan Interval Training) Treatment B : Kelompok eksperimen (menggunakan Cross Country) Post test : Tes akhir lari multitahap (Bleep Test).

TREAT -MENT A K 1

POST TEST OP

PRE TEST

(65)

Pembagian kelompok eksperimen yang menggunakan Interval Training dan Cross Country didasarkan pada hasil melakukan tes awal lari multitahap

(Bleep Test) dirangking mulai dari tingkatan tertinggi sampai terendah,

kemudian subjek yang memiliki kemampuan setara dipasangkan ke dalam kelompok 1 dan 2. Ordinal pairing ini hanya dilakukan terhadap continum variabel misalnya: hasil terbaik diletakkan dikelompok satu, hasil terbaik nomer dua diletakkan di kelompok dua, dan hasil terbaik nomer tiga tetap diletakkan di kelompok dua, hasil terbaik nomer empat diletakkan di kelompok satu dan seterusnya, seperti gambar di bawah ini:

A B

1 2

4 3

5 6

[image:65.595.148.302.348.470.2]

dst 7

Gambar 3.2 Pembagian kelompok dengan cara Ordinal Pairing.

E. Definisi Operasional

Untuk menghindari kesimpangsiuran akibat kesalahan penafsiran terhadap kata atau ungkapan yang digunakan penulis, maka perlu untuk memperjelas atas beberapa istilah kata sebagai berikut:

(66)

mempermudah mempelajari teknik, dan mencapai prestasi yang maksimal.

2. Interval Training adalah salah satu bentuk latihan daya tahan aerobik untuk meningkatkan kualitas fisik para atlet, Interval Training memiliki memiliki preode kerja dan istirahat yang tetap. Cross Country yaitu salah satu bentuk latihan daya tahan aerobik, latihan yang berlari dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi dan dapat dilakukan di alam bebas.

3. VO2max merupakan Volume Oksigen Maksimal yang di proses oleh tubuh manusia pada saat melakuan kegiatan yang intensif.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan penelitian dalam mengumpulkan data agar pekerjaan lebih mudah dan hasilnya lebih baik, sehingga mudah diolah. Instrumen yang di gunakan adalah Bleep Test (tes lari multi tahap) validitas instrumen 0,96 dan memiliki reabilitas 0,83. Tujuan tes ini adalah untuk mengetahui VO2max (Volume Oksigen Maksimal).

Langkah-langkah penyusunan instrumen peneleitian yang dilakukan pada siswa yang mengikuti ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 6 Bandar Lampung, sebagai berikut:

Alat dan perlengkapan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: 1. Lintasan datar dan tidak licin dan ukuran jarak minimal 22 meter 2. Meteran

(67)

4. Speaker 5. Alat tulis

6. Kerucut sebagai pembatas 7. Stopwatch

8. Lebar lintasan 1 meter untuk setiap peserta tes

[image:67.595.124.496.351.493.2]

9. Panjang lintasan Bleep Test 20 meter yang bergaris vertikal tidak terputus sebagai batas lari setiap peserta tes dan lebar setiap lintasan 1 meter yang bergaris horizontal terputus-putus sebagai batas setiap peserta tes, gambar lintasan Blepp Test, seperti gambar di bawah ini:

Instrumen Test

Lintasan Lintasan

20 meter

Gambar 3.3 Lintasan Bleep Test

Menurut Adisapoetra (1999:22) pelaksanaan test:

1. Ukur jarak sepanjang 20 meter dan beri tanda pada kedua ujungnya dengan kerucut atau tanda lain sebagai tanda jarak.

2. Siapkan pita suara dan kaset, peserta tes melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum mengikuti tes.

3. Hidupkan pita suara, jarak antara dua sinyal “TUT” menandai suatu

(68)

dan mesin kecepatan kaset bekerja secara benar.

4. Pita kaset mengekuar sinyal suara “TUT” tunggal pada beberapa interval

yang teratur.

5. Peserta tes berusaha sampai ke ujung berlawanan bertepatan dengan saat

sinyal “TUT” yang pertama berbunyi, kemudian meneruskan berlari

dengan kecepatan sama agar dapat sampai ke ujung lintasan bertepatan

dengan terdengar nya sinyal “TUT” berikut.

6. Setelah mencapai waktu selama satu menit interval waktu diantara kedua

sinyal “TUT” akan berkurang sehingga kecepatan lari harus makin

ditinggkatkan.

7. Akhir setiap lari bolak balik (balikan) di tandai dengan sinyal “TUT”

tunggal.

8. Peserta tes harus selalu menempatkan satu kaki pada tepat di belakang tanda start atau finish.

9. Apabila peserta tes telah mencapai salah satu batas lari sebelum sinyal

“TUT” berikutnya peserta tes harus berbalik dan menunggu isyarat bunyi

“TUT” kemudian melanjutkan lari.

10. Peserta tes harus meneruskan lari selama mungkin sampai tidak mampu lagi menyesuaikan dengan kecepatan yang telah diatur dalam pita rekaman sehingga peserta tes secara sukarela harus menarik diri dari tes yang sedang dilakukan.

(69)

ujung pada saat terdengar sinyal “TUT”, peserta tes masih diberi

kesempatan untuk meneruskan dua kali lari agar dapat memperoleh kembali langkah yang diperlukan sebelum ditarik keluar.

13. Agar hasilnya cukup valid, peserta tes harus mengerahkan kerja maksimal sewaktu menjalani.

14. Setelah melakukan tes, lakukan gerakan-gerakan pendinginan dengan cara berjalan dan diikuti dengan peregangan-peregangan otot.

Petugas:

1. Pengawas star 2. Pengawas lintasan 3. Pencatatan skor

Pencatat hasil dan penilaan:

1. Catatan pada level dan shuttle terkhir, berapa yang berhasil diselesaikan peserta tes sesuai dengan irama Bleep Test.

[image:69.595.155.441.581.752.2]

2. Bleep Test juga untuk mengatur nilai prediksi VO2max

Tabel 3.1 Penilaian Bleep Test (Ismaryati, 2008:87)

NO Kategori VO2max VO2max

1. Baik Sekali ≥51,6

2. Baik 42,6–51,5

3. Sedang 33,8 - 42,5

4. Kurang 25,0–33,7

(70)
[image:70.595.127.497.145.518.2]

Tabel 3.2 Formulir Catatan Lari Multi Tahap (BleepTest)

Nama :...

Nomor Tahap Nomor Balik

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

G. Program Latihan

Figure

Gambar 2.1 Pembinaan Prestasi(Kamiso, 1998:18)
Gambar 2.2. Skema Pembinaan Prestasi Olahraga(Setiono, 2006:43)
Gambar 2.3. Teori Belajar Behaviorisme(Slavin, 2000:143)
Gambar 2.5 Ilustrasi Pelaksanaan Interval Training
+7

References

Related documents

The main difference from master-master replication is that none of the instances contains the whole amount of data, hosting a small part of it (a Shard) instead. The

You are also covered if you had a disability in the past, may develop a disability in the future or if people think you have a disability.. People who are relatives, friends

The second prediction of the second-order national election model claims that national government parties do worse compared to national first-order elections since a

2006 Review: 2006 was another good year financially for most Kentucky farmers with farm cash receipts totaling $4.1 billion, the second highest on record.. Livestock receipts

Malaysian was placed on Tier 2 Watch List for a second consecutive year in the 2011 U.S Department of State’s Trafficking in Persons Report for not fully complying

Results from our prior studies, based on analysis of ribo- somal genes from clone libraries, provided evidence that four bacterial genera ( Corynebacterium , Streptococcus

To examine whether the effect of NDRG1 on p130Cas and c-Abl phosphorylation is dependent on the regulation of c-Src activation, investigations were implemented using c-Src

Serum B12 levels were determined in 20 patients with megaloblastic anemia, 3 patients with chronic myelogenous leukemia, 4 patients with liver dis- ease, and 35 normal control