PENGARUH LAMA PELEMBABAN DALAM LARUTAN ETANOL PADA VIABILITAS BENIH TIGA GENOTIPE SORGUM
(Sorghum bicolor [L.] Moench)
(Skripsi)
Oleh
Dona Suprihanta
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
PENGARUH LAMA PELEMBABAN DALAM LARUTAN ETANOL PADA VIABILITAS BENIH TIGA GENOTIPE SORGUM
(Sorghum bicolor [L.] Moench)
Oleh
Dona Suprihanta
Benih sorgum dari genotipe berbeda memiliki vigor yang dapat diketahui melalui
pengusangan cepat dengan larutan etanol. Benih tiga genotipe sorgum (Super 1,
Super 2, dan GH 3) dilembabkan dalam larutan etanol 16% dengan lama
pelembaban berbeda (0 jam atau tanpa pelembaban dalam larutan etanol, 16 jam,
32 jam, dan 48 jam). Perlakuan dua faktor ini diterapkan dalam Rancangan Acak
Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
lama pelembaban 32 jam dalam laruan etanol 16% dapat membedakan viabilitas
benih dari tiga genotipe sorgum. Dari ke tiga genotipe sorgum tersebut, vigor
benih berturut-turut dari tinggi ke rendah adalah genotipe Super 2, Super 1, dan
GH 3.
PENGARUH LAMA PELEMBABAN DALAM LARUTAN ETANOL PADA VIABILITAS BENIH TIGA GENOTIPE SORGUM
(Sorghum bicolor [L.] Moench)
Oleh
Dona Suprihanta
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN
Pada
Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Desa Jati Datar, Kecamatan Bandar Mataram, Kabupaten
Lampung Tengah pada 9 Oktober 1995. Penulis merupakan anak pertama dari
dua bersaudara dari pasangan Bapak Sunarso dan Ibu Watiyem.
Pendidikan formal penulis diawali dari pendidikan di SDN 3 Jati Datar pada tahun
2000, SMPN 1 Bandar Mataram pada tahun 2007, SMAN 1 Seputih Mataram
pada tahun 2011, dan pada tahun 2013 Penulis diterima di Jurusan Agroteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Bersama Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
Penulis memilih kosentrasi perkuliahan Agronomi yang merupakan bagian dari
Jurusan Agroteknologi dan Penulis memilih Ilmu Benih sebagai fokus penelitian.
Pada Juli 2016 Penulis melakukan Praktik Umum di Yayasan Bina Sarana Bhakti.
Kecamatan Cissarua, Kota Bogor. Tahun Januari 2017 Penulis melakukan Kuliah
Kerja Nyata (KKN) di Desa Purnama Tunggal, Kecamatan Way Pangubuhan,
Kabupaten Lampung Tengah.
Selama perkuliahan Penulis aktif magang penelitian di Laboratorium Ilmu benih
pada Tahun Akademik 2015/2016 dan dipercaya sebagai asisten dosen pada mata
Penulis aktif di beberapa organisasi perkuliahan, yaitu Persatuan Mahasiswa
Agroteknologi (PERMA-AGT) sebagai anggota periode 2013/2014. Penulis aktif
di UKM-F Forum Studi Islam (FOSI) Fakultas Pertanian sebagai anggota periode
2013/2014. Penulis juga aktif di UKM-U Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)
Universitas Lampung sebagai anggota periode 2013/2014, dipercaya sebagai
Wakil Ketua dan Pelatih Tetap periode 2015/2016, dan dipercaya menjadi Dewan
Dengan segala kerendahan hati dan mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT
Kupersembahkan karyaku ini untuk
ayah dan ibuku tercinta atas segala doa yang selalu dipanjatkan, kasih sayang yang tak terhingga, dukungan, dan motivasi.
Kakak, adik, keluarga, dan sahabat yang senantiasa menghibur, membantu, menyemangati, dan menolong
dalam suka maupun duka.
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka
dari biji-bijian itu mereka makan. (Qs. Yassin : 33)
i SANWACANA
Puji syukur Penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena berkat karunia-Nya dan
nikmat-nikmat-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Pengaruh LamaPelembaban dalam Larutan Etanol pada Viabilitas Benih Tiga
Genotipe Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench)”dengan sebaik-baiknya.
Penulisan skripsi ini tidak akan terlaksana tanpa adanya orang-orang di sekitar
Penulis yang telah mendukung dan membantu baik secara moriil maupun materiil
sehingga Penulis pada kesempatan ini mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung.
2. Ibu Prof. Dr. Ir. Sri Yusnaini, M.Si., selaku Ketua Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
3. Bapak Ir. Eko Pramono, M.S., selaku Pembimbing Skripsi I Penulis yang telah
memberi ilmu pengetahuan, saran, dan bimbingan, serta bantuan secara moriil
dan materiil terhadap pelaksanaan kegiatan penelitian dan penulisan skripsi.
4. Ibu Ir. Yayuk Nurmiaty, M.S., selaku Pembimbing Skripsi II Penulis yang
telah memberikan ilmu pengetahuan, saran, dan bimbingan terhadap
ii 5. Bapak Dr. Agustiansyah, S.P., M.Si., selaku Penguji Skripsi Penulis yang telah
memberikan saran, komentar, dan koreksi terhadap pelaksanaan penelitian dan
penulisan skripsi.
6. Bapak Ir. Hery Novpriansyah, M.S., selaku Dosen Pembimbing Akademik
Penulis yang telah membimbing selama masa perkuliahan.
7. Ayah, ibu, adik, keluarga besar, dan saudara Penulis yang selalu memberi
kasihsayang, cinta, do’a, dan dukungan serta semangat kepada Penulis.
8. Teman-teman, sahabat, sodara, sekaligus teman seperjuangan yang sangat luar
biasa di hati Penulis, Tri Lestari, Sugeng Hananto, Febri Arianto, Novi
Anggraini, Rully Yosita, Ni Wayan Ayung S A, Dytri Anintiyas Putri, Fatya
Alvia Hakim, Erviana Harman, Nia Fatmawati, dan Roby Juliantisa.
9. Saudara-saudara di UKM-U Persaudaraan Setia Hati Terate yang selalu
memberikan motivasi dan dorongan.
10. Beserta semua pihak yang tidak mungkin Penulis cantumkan satu per satu
yang terlibat dan membantu dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan
skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian.
Demikian skripsi ini Penulis buat, semoga dapat memberikan informasi dan dapat
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Bandar Lampung, Agustus 2017 Penulis,
iii DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... ix
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Tujuan Penelitian ... 7
1.3 Landasan Teori ... 7
1.4 Kerangka Pemikiran ... 9
1.5 Hipotesis Penelitian ... 12
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 13
2.1 Metode Pengungsangan Cepat ... 13
2.2 Tanaman Sorgum ... 15
2.2.1 Taksonomi Tanaman Sorgum ... 16
2.2.2 Anatomi Biji Sorgum ... 16
2.2.3 Genotipe Sorgum ... 17
2.3 Viabilitas Benih ... 19
2.4 Pengaruh Etanol pada Viabilitas Benih ... 22
III. BAHAN DAN METODE ... 24
iv
3.2 Alat dan Bahan ... 24
3.3 Rancangan Percobaan dan Analisis Data ... 25
3.4 Pelaksanaan Penelitian ... 25
3.4.1 Persiapan Benih ... 25
3.4.2 Persiapan Media Perkecambahan ... 26
3.4.3 Persiapan Larutan Etanol ... 26
3.4.4 Aplikasi Pelembaban Benih dalam Larutan Etanol ... 26
3.4.5 Uji Viabilitas ... 27
3.4.6 Pengukuran Nilai Daya Hantar Listrik ... 28
3.5 Variabel Pengamatan ... 29
3.5.1 Kecepatan Perkecambahan (KP) ... 30
3.5.2 Kecambah Normal Total (KNT) ... 30
3.5.3 Kecambah Abnormal (KAN) ... 31
3.5.4 Benih Mati (BM) ... 32
3.5.5 Kecambah Normal Kuat (KNK) ... 33
3.5.6 Kecambah Normal Lemah (KNL) ... 34
3.5.7 Panjang Tajuk Kecambah Normal (PTKN) ... 34
3.5.8 Panjang Akar Primer Kecambah Normal (PAPKN) ... 35
3.5.9 Daya Hantar Listrik (DHL) ... 36
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 37
4.1 Hasil Penelitian ... 37
4.1.1 Interaksi Pengaruh Lama Pelembaban dalam larutan etanol dan Geotipe pada Viabilitas Benih Sorgum ... 38
4.1.2 Pengaruh Lama Pelembaban dalam Larutan Etanol pada Viabilitas Benih Sorgum ... 44
4.1.3 Pengaruh Genotipe pada Viabilitas Benih Sorgum ... 48
4.2 Pembahasan ... 49
V. SIMPULAN DAN SARAN ... 55
5.1 Simpulan ... 55
v DAFTAR PUSTAKA ... 57 LAMPIRAN ... 62-73 Tabel 4-22 ... 63-72
vi DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Produksi, konsumsi, dan impor sorgum negara-negara di Asia
tahun 2017 ... 2
2. Deskripsi genotip Super 1 dan Super 2 ... 18
3. Rangkuman analisis ragam pada variabel pengematan pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol pada viabilitas benih tiga
genotipe sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench) ... 37
4. Uji Bartlett untuk pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol
dan genotipe pada variabel kecepatan perkecambahan ... 63
5. Analisis ragam data pengaruh lama pelembaban dalam larutan
etanol dan genotipe pada variabel kecepatan perkecambahan ... 63
6. Uji Bartlett untuk pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel kecambah normal total (transformasi
dua kali arcsin (√(x+1)/100))*180/(22/7)) ... 64
7. Analisis ragam data pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel kecambah normal total
(transformasi dua kali arcsin (√(x+1)/100))*180/(22/7)) ... 64
8. Uji Bartlett untuk pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel kecambah abnormal (transformasi dua
kali arcsin (√(x+1)/100))*180/(22/7)) ... 65
9. Analisis ragam data pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel kecambah abnormal (transformasi
dua kali arcsin (√(x+1)/100))*180/(22/7)) ... 65
10. Uji Bartlett untuk pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel benih mati (transformasi dua kali
vii 11. Analisis ragam data pengaruh lama pelembaban dalam larutan
etanol dan genotipe pada variabel benih mati (transformasi dua kali
arcsin (√(x+1)/100))*180/(22/7)) ... 66
12. Uji Bartlett untuk pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel kecambah normal kuat (transformasi
dua kali arcsin (√(x+1)/100))*180/(22/7)) ... 67
13. Analisis ragam data pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel kecambah normal kuat
(transformasi dua kali arcsin (√(x+1)/100))*180/(22/7)) ... 67
14. Uji Bartlett untuk pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel kecambah normal lemah (transformasi
ln (x+1)) ... 68
15. Analisis ragam data pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel kecambah normal lemah
(transformasi ln (x+1)) ... 68
16. Uji Bartlett untuk pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel variabel panjang tajuk kecambah
normal ... 69
17. Analisis ragam data pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel panjang tajuk kecambah
normal ... 69
18. Uji Bartlett untuk pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel variabel panjang akar primer
kecambah normal ... 70
19. Analisis ragam data pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel panjang akar primer kecambah
normal ... 70
20. Uji Bartlett untuk pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel daya hantar listrik (transformasi
log (x+1)) ... 71
21. Analisis ragam data pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada variabel daya hantar listrik
(transformasi log (x+1)) ... 71
22. Uji korelasi antar variabel pengamatan pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dalam larutan etanol dan genotipe pada
viii DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Tata alir kerangka pemikiran. ... 11
2. Anatomi biji sorgum. ... 17
3. Konsep periodisasi viabilitas benih Steinbauer-Sadjad. ... 20
4. Aplikasi pelembaban benih dalam larutan etanol. ... 27
5. Pengukuran daya hantar listrik. ... 29
6. Kecambah normal. ... 31
7. Kecambah abnormal. ... 32
8. Benih mati. ... 33
9. Kecambah normal kuat. ... 33
10. Kecambah normal lemah. ... 34
11. Panjang Tajuk Kecambah Normal. ... 35
12. Panjang akar primer kecambah normal. ... 35
13. Interaksi faktor lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe pada persen kecepatan perkecambahan. ... 40
ix 15. Interaksi faktor lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe
pada persen kecambah normal lemah (detransformasi ln (x+1)). ... 42
16. Interaksi faktor lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe
pada daya hantar listrik (transformasi log (x+1)). ... 44
17. Kecambah normal total lama pelembaban dalam larutan etanol 0 jam atau tanpa perlakuan pelembaban dalam larutan etanol, 16 jam, 32 jam, dan 48 jam mati (detransformasi dua kali arcsin
(√(x+1)/100))*180/(22/7)). ... 45
18. Kecambah normal kuat lama pelembaban dalam larutan etanol 0 jam atau tanpa perlakuan pelembaban dalam larutan etanol, 16 jam, 32 jam, dan 48 jam mati (detransformasi dua kali arcsin
(√(x+1)/100))*180/(22/7)). ... 46
19. Panjang tajuk kecambah normal lama pelembaban dalam larutan etanol 0 jam atau tanpa perlakuan pelembaban dalam larutan etanol,
16 jam, 32 jam, dan 48 jam. ... 47
20. Panjang akar primer kecambah normal lama pelembaban dalam larutan etanol 0 jam atau tanpa perlakuan pelembaban dalam larutan
etanol, 16 jam, 32 jam, dan 48 jam. ... 48
21. Panjang akar primer kecambah normal genotipe Super 1, Super 2,
dan GH 3. ... 49
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench) merupakan tanaman serealia yang
berpotensi untuk dikembangkan baik sebagai komoditas alternatif untuk pangan,
pakan, maupun industri (Sirappa, 2003). Permintaan sorgum secara agregat di
Asia sekitar 42,5% dari total permintaan dunia (Tabel 1). Permintaan sorgum
untuk pangan mencapai 73% dari total permintaan tersebut, sedangkan selebihnya
untuk pakan dan industri. Permintaan sorgum untuk pangan didominasi oleh Asia
Selatan mencapai 87% dari permintaan sorgum untuk pangan di Asia, sisanya
tersebar di Asia Tenggara dan Asia Timur. Dengan kata lain, pengembangan
sorgum di Indonesia membuka peluang dalam meningkatkan nilai ekspor berbasis
pangan (Susilowati dan Saliem, 2013).
Sorgum memiliki kandungan gizi dan kalori yang cukup tinggi. Menurut Beti
dkk. (1990), pada 100 gram biji sorgum mengandung kalori sebesar 332 kal,
protein 11 gram, lemak 3,30 gram, karbohidrat 73 gram, air 11,20%, dan serat
sebesar 2,30%. Selain itu, kandungan asam amino esensial yang tinggi yang
hampir setara dengan tanaman serealia lainnya yang berpotensi sebagai bahan
2
Tabel 1. Produksi, konsumsi, dan impor sorgum negara-negara di Asia tahun 2017 Negara Produksi (ton/tahun) Konsumsi (ton/tahun) Impor (ton/tahun)
India 4.500.000 4.600.000
-China 3.850.000 8.200.000 4.200.000
Saudi Arabia 265.000 280.000 10.000
Yaman 220.000 220.000
-Iraq 190.000 190.000
-Pakistan 130.000 180.000 50.000
Thailan 50.000 45.000
-Iran 20.000 20.000
-Taiwan 2.000 52.000 50.000
Jepang - 550.000 550.000
Israel - 20.000 20.000
Filipina - 15.000 15.000
Korea - 5.000 5.000
Sumber: United States Departement of Agriculture (USDA) (2017).
Potensi sorgum pada bidang peternakan berkaitan dengan pemanfaatan tanaman
sorgum sebagai pakan ternak. Produksi biomassa yang tinggi terutama dari jenis
sorgum manis dapat mencapai 34,5-63,4 ton/ha sehingga sangat berpotensi
sebagai pemenuhan kebutuhan pakan ternak. Tidak hanya itu, batang dan daun
sorgum memiliki rasa manis dan renyah yang disukai oleh ternak, terutama sapi
(Irawan dan Sutrisna, 2011). Pada bidang indutri, sorgum terutama biji dapat
diolah menjadi pati (starch) yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan baku
berbagai produk industri seperti bahan perekat, pengental, dan aditif pada industri
3
Potensi pengembangan tanaman sorgum di Indonesia dinilai dari karakter
tanaman sorgum yang mampu beradaptasi pada lingkungan, terutama terhadap
kondisi iklim dan tanah. Area yang berpotensi untuk pengembangan tanaman
sorgum di Indonesia sangat luas, tidak hanya daerah yang memiliki iklim baik dan
tanah yang subur, namun juga meliputi daerah beriklim kering atau daerah dengan
curah hujan rendah hingga tanah yang kurang subur. Tidak hanya itu,
kemampuan tanaman sorgum beradaptasi pada keterediaan air membuat tanaman
sorgum sangat cocok ditanam di Indonesia yang memiliki curah hujan yang
bervariasi di setiap daerah (Sirappa, 2003). Menurut Subagio dan Aqil (2014),
sorgum hanya membutuhkan air sebanyak 4.000 m3/ha setiap musim, berbeda
dengan jagung dan tebu yang masing-masing membutuhkan air sebanyak 8.000
m3/ha dan 36.000 m3/ha setiap musim.
Menurut Sirappa (2003), Area yang berpotensi untuk pengembangan sorgum di
Indonesia cukup luas, meliputi daerah beriklim kering dan tanah yang kurang
subur. Daerah-daerah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Jawa Barat : Kabupaten Garut, Ciamis, Cirebon, dan Sukabumi.
2. Jawa Tengah : Kabupaten Brebes, Demak, dan Wonogiri.
3. DI Yogyakarta : Kabupaten Bantul, Kulon Progo, dan Bantul.
4. Jawa Timur : Kabupaten Pacitan, Sampang, dan Lamongan.
5. Nusa Tenggara Timur : Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Timor Tengah
Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Alor, Flores
Timur, Sikka, Ende, Ngada, Manggarai, dan Sumba
4
Usaha pengembangan tanaman sorgum menemui banyak masalah, salah satu
masalah yang timbul adalah penyediaan benih yang bermutu. Keberadaan dan
ketersediaan benih tanaman sorgum yang bermutu merupakan salah satu kunci
keberhasilan usaha pengembangan tanaman sorgum dan sekaligus menjadi solusi
atas permasalahan tersebut. Hal-hal yang menyangkut ketersediaan benih yang
bermutu sangat komleks, salah satu hal yang paling penting adalah kerusakan dan
kemunduran benih (seed deterioration) (Justice dan Bass, 1994).
Kemunduran benih merupakan suatu proses yang merugikan yang dialami benih
sejak benih masak dan akan terus berlangsung selama benih mengalami proses
pengolahan, pengemasan, penyimpanan, dan transportasi. Proses kemunduran
benih tidak dapat dihentikan, namun dengan menerapkan ilmu dan teknologi yang
sesuai proses kemunduran benih dapat dikendalikan sehingga berlangsung dengan
lambat (Justice dan Bass, 1994).
Umur simpan benih dipengaruhi oleh sifat benih, kondisi lingkungan, dan
perlakuan manusia (Justice dan Bass, 1994). Menurut Sadjad (1993), sifat benih
mencangkup sifat genetik yang meliputi sifat-sifat yang dibawa dan diturunkan
dari induknya, sedangkan kondisi lingkungan meliputi tempat tanaman hidup
sampai pemasakan biji, dan tempat benih disimpan. Arif dkk. (2013) menyatakan
bahwa secara praktis, benih sorgum dapat disimpan pada suhu kamar (28-32oC)
atau ruang sejuk (18-22oC), bergantung pada lama penyimpanan dan kadar air
benih yang akan disimpan. Penyimpanan selama 12 bulan dapat dilakukan
dengan kadar air benih sebaiknya di bawah 12%. Selain itu, beberapa genotipe
5
memungkinkan setiap genotipe memiliki umur simpan yang berbeda. Seiring
dengan perkembangan teknologi perbenihan, daya simpan benih dapat diprediksi
dengan menggunakan metode pengusangan cepat.
Metode pengusangan cepat (MPC) merupakan metode pendugaan mutu benih.
Mutu benih yang dapat diketahui pada metode ini berkaitan dengan pendugaan
daya simpan benih (Rasyid, 2012). Pengusangan cepat dapat dilakukan dengan
memberikan etanol pada benih sehingga benih dapat mengalami kemunduran
(devigorasi) (Zanzibar, 2007). Kemunduran tersebut digambarkan seperti pada
kondisi alami di mana semakin lama benih disimpan, viabilitas benih akan
semakin menurun (Nurisma dkk., 2015) sehingga daya simpan benih dapat
diduga.
Hasil penelitian Rasyid (2012) menunjukkan bahwa pengusangan cepat dengan
uap etanol 5% selama satu jam dapat menurunkan daya tumbuh benih kedelai.
Sementara itu, hasil penelitian Purnamasari dkk. (2015) yaitu pada ringkasan
analisis ragam, hasil pengusangan cepat dengan menggunakan etanol 8% selama
24 jam menunjukkan adanya pengaruh yang nyata pada benih mati, kecambah
normal kuat, kecambah norml lemah, panjang tajuk, panjang akar primer dan
panjang kecambah normal. Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan
menunjukkan bahwa interaksi terlihat pada pengusangan cepat dengan
menggunakan etanol 8%. Hal itu terjadi karena cadangan makanan di dalam
benih sudah mulai menurun karena kandungan etanol yang masuk ke dalam benih
6
Sedangkan, pada penelitian ini menggunakan larutan etanol 16% yang
dilembabkan pada benih sorgum pada taraf waktu yang berbeda.
Larutan etanol yang diberikan pada benih dalam kosentrasi tertentu akan diserap
benih melalui proses imbibisi sehingga dapat langsung mempengaruhi
metabolisme benih. Lama benih dilembabkan dala larutan etanol akan
mempengaruhi lamanya benih berimbibisi sehingga jumlah etanol yang akan
masuk dalam benih akan berbeda pula. Perbedaan jumlah etanol yang masuk
dalam benih akan menghasilkan pengaruh yang berbeda pada metabolisme benih
sehingga akan menyebabkan perbedaan kecepatan kemunduran benih. Lama
pelembaban pada MPC merupakan lamanya benih dikenai larutan etanol yang
digunakan untuk pengusangan benih.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, perumusan masalah pada penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Apakah lama pelembaban dalam larutan etanol berpengaruh pada viabilitas
benih sorgum?
2. Apakah genotipe benih sorgum berpengaruh pada viabilitas?
3. Apakah respons viabilitas benih sorgum dipengaruhi oleh lama pelembaban
7
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai
berikut:
1. Mengetahui pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol pada viabilitas
benih sorgum.
2. Mengetahui pengaruh genotipe benih sorgum yang berbeda pada viabilitasnya.
3. Mengetahui pengaruh lama pelembaban dalam larutan etanol dan genotipe yang
berbeda pada viabilitas benih sorgum.
1.3 Landasan Teori
Kemunduran benih merupakan proses penurunan mutu secara berangsur-angsur
dan kumulatif serta tidak dapat balik akibat perubahan fisiologis yang disebabkan
oleh faktor dalam dan luar benih (Dianawati, 2014). Menurut Sadjad (1993), sifat
tanaman salah satunya dipengaruhi oleh faktor genetik, yaitu sifat yang
merupakan faktor penentu sifat yang diturunkan dari tetuanya. Sementara itu,
Justice dan Bass (1994) menyatakan bahwa sifat genetik dapat menentukan
kemunduran dan daya simpan benih.
Perkembangan teknologi menghasilkan suatu metode pendugaan daya simpan
benih tanpa harus melakukan pengujian penyimpanan. Metode tersebut yaitu
Metode Pengusangan Cepat (MPC), baik secara fisik maupun kimia. Metode
pengusangan cepat merupakan sistem pengujian viabilitas benih dalam dimensi
8
dimultiplikasi. Penurunan viabilitas benih dapat diindikasi lebih dini dengan
menggunakan uji ini (Dianawati, 2014). Pengusangan cepat dapat dilakukan
dengan memberikan etanol pada benih sehingga benih dapat mengalami
devigorasi, yaitu benih ditempatkan pada kondisi yang kurang menguntungkan
sehingga viabilitas benih akan cepat menurun (Zanzibar, 2007).
Etanol yang masuk ke dalam benih melalui proses imbibisi akan mendenaturasi
protein pada dinding sel (Purnamasari dkk., 2015) sehingga mengakibatkan
rusaknya dinding sel benih (Schmidt, 2000) . Kerusakan membran akibat
pengusangan cepat menyebabkan (1) hilangnya kontrol permeabilitas membran
ditunjukkan dengan meningkatnya nilai daya hantar listrik (DHL), (2) hilangnya
energi yang dibutuhkan pada proses biosintesis dan kecepatan respirasi
bertambah, (3) cadangan makanan di embrio menjadi habis, (4) viabilitas dan
vigor benih menurun, (5) kehilangan resistensi pada kondisi stress lingkungan,
dan (6) mempercepat proses deteriorasi benih (Addai dan Kantanka, 2006; Jain
dkk., 2006; Shiddiqui dkk., 2008; Muhammadi dkk., 2011).
Benih pada kondisi tercekam akibat etanol bisa digunakan untuk menciptakan
kondisi deteriorasi atau kemunduran yang disengaja terhadap benih (Cook dkk.,
1993). Dengan demikian, menaruh benih ke dalam etanol pada konsentrasi
tertentu dapat menjadi sebuah alat bantu seleksi yang berguna untuk menentukan
vigor benih (Rasyid, 2012).
Hasil penelitian Zanzibar (2007) menunjukkan bahwa uap etanol berpengaruh
buruk pada penurunan kualitas fisiologis pada benih akor, merbau, dan mindi.
9
uap etanol 5% selama satu jam dapat menurunkan daya tumbuh benih kedelai.
Hasil penelitian Ekowahyuni (2012) menunjukkan bahwa metode pengusangan
cepat menggunakan metanol 20% dan periode waktu 0, 2, 4, 6 dan 8 jam adalah
metode terbaik untuk pengujian vigor benih dalam kaitannya dengan daya simpan
benih benih cabai besar (Capsicum annuum L.).
Hasil penelitian Purnamasari dkk. (2015) yaitu pada ringkasan analisis ragam
hasil pengusangan cepat dengan menggunakan etanol 8% selama 24 jam
menunjukkan adanya pengaruh pada benih mati, kecambah normal kuat,
kecambah norml lemah, panjang tajuk, panjang akar primer, dan panjang
kecambah normal. Semenara itu, menurut Copeland dan McDonald (2001),
kemunduran benih dapat dicirikan dengan menurunnya daya berkecambah,
menurunnya perkecambahan di lapang, banyaknya kecambah abnormal, dan
terhambatnya pertumbuhan serta perkembangan kecambah.
1.4 Kerangka Pemikiran
Kemunduran benih merupakan proses merugikan yang dialami benih mulai dari
proses pemasakan benih hingga benih berada pada proses pengolahan,
pengemasan, dan penyimpanan. Kemunduran benih tidak dapat dihentikan
namun dengan penerapan ilmu dan teknologi, proses kemunduran benih dapat
dikendalikan atau diperlambat.
Kemunduran benih dan daya simpan benih berkaitan erat dengan sifat genetik
benih yang dimiliki setiap genotipe. Hal itu karena genotipe yang berbeda
10
benih. Mutu genetik baik akan lebih tahan terhadap cekaman lingkungan
dibandingkan dengan mutu genetik yang buruk sehingga kemunduran benih akan
berlangsung lebih lambat dan daya simpan benih akan lebih lama.
Seiiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, daya simpan
benih dapat diduga dengan menggunakan metode pengusangan cepat (MPC).
Metode pengusangan cepat merupakan suatu metode pendugaan daya simpan
benih. Prinsip dari metode ini adalah menempatkan benih pada kondisi
suboptimum sehingga proses kemunduran dan daya simpan benih dapat diketahui
dengan cepat tanpa memerlukan pengujian penyimpanan yang relatif lebih lama.
Metode pengusangan terdiri dari pengusangan secara kimiawi dan fisik.
Pengusangan cepat secara kimiawi dapat dilakukan dengan mengusangkan benih
dengan menggunakan larutan etanol. Pengusangan ini dilakukan dengan cara
pelembaban, penguapan, dan perendaman selama periode waktu tertentu.
Keberadaan etanol di dalam benih akan menciptakan kondisi suboptimum
terutama pada metabolisme benih.
Larutan etanol yang terimbibisi dari luar (eksogen) akan masuk ke jaringan benih
dan mempengaruhi kerja metabolisme benih melalui aktivitas enzim dan
membran sel, yang kemudian akan menyebabkan benih mengalami kemunduran
viabilitas (devigorasi). Selain lama dan cara pengusangan benih, perbedaan
genetik tiap genotipe benih sorgum akan menyebabkan perbedaan tanggapan
viabilitas viabilitas yang dihasilkan. Lama pelembaban benih dalam larutan
etanol berbeda viabilitasnya tergantung dari genotipe yang digunakan dalam
11
Penurunan viabilitas benih yang diukur berdasarkan viabilitas potensial akibat
pengusangan cepat oleh pelembaban larutan etanol ditentukan oleh variabel
kecambah normal, kecambah abnormal, dan benih mati. Selain itu, pengukuran
vigor benih, ditentukan berdasarkan variabel kecepatan berkecambah, kecambah
normal lemah, kecambah normal kuat, panjang tajuk kecambah normal, dan
panjang akar primer kecambah normal.
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, dapat dibuat bagan rangkuman kerangka
[image:30.595.111.517.327.710.2]pemikiran yang disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Tata alir kerangka pemikiran. Tiga genotipe sorgum
Super 1, Super 2, dan GH 3
Memiliki perbedaan viabilitas genetik.
Benih dilembabkan dalam larutan etanol 16% pada empat taraf waktu yang berbeda, yaitu 0, 16, 32, dan 48 jam.
Menciptakan perbedaan viabilitas.
Variabel yang diamati: Kecambah normal total
(KNT)
Kecambah abnormal (KAN)
Benih mati (BM)
Kecepatan perkecambahan (KP)
Kecambah normal kuat (KNK)
Kecambah normal lemah (KNL)
Panjang tajuk kecambah normal (PTKN)
Panjang akar primer kecambah normal (PAPKN)
Daya hantar listrik (DHL) Viabilitas benih diuji:
Uji kecepatan perkecambahan(UKP) Uji keserempakkan perkecambahan
(UKsP)
Uji daya hantar listrik (DHL)
Lama pelembaban dalam larutan etanol berbeda viabilitas berbeda. Genotipe berbeda, viabilitas berbeda. Viabilitas berbeda akibat lama
12
1.5 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan, maka dapat
dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
1. Pelembaban benih sorgum dalam larutan etanol dengan lama tertentu dapat
menurunkan viabilitas benih.
2. Genotipe benih sorgum yang berbeda menghasilkan viabilitas benih yang
berbeda.
3. Viabilitas benih sorgum dipengaruhi oleh lama pelembaban benih dalam
larutan etanol dan genotipe yang diusangkan.
13
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Metode Pengungsangan Cepat
Metode pengungsangan cepat (MPC) merupakan metode pendugaan mutu benih.
Mutu benih yang dapat diketahui pada metode ini berkaitan dengan pendugaan
daya simpan benih (Rasyid, 2012). Beberapa jenis pengusangan cepat yang dapat
dilakukan antara lain pengusangan cepat fisik dengan suhu 41oC dan RH 100%,
pengusangan cepat kimia dengan uap etanol, dan pengusangan cepat kimia
dengan perendaman dalam etanol cair (Schmidt, 2000). Namun, hasil penelitian
Terryana dkk. (2015) menunjukkan bahwa pengusangan cepat dengan alat IPB
77-1 MM dengan metode kimia lebih baik dan mudah diaplikasikan untuk
penurunan vigor benih kedelai dibandingkan dengan metode fisik.
Pengungsangan cepat dapat dilakukan dengan memberikan etanol pada benih
sehingga benih dapat mengalami devigorasi. Prinsipnya adalah benih
ditempatkan pada kondisi yang kurang menguntungkan sehingga viabilitas benih
akan cepat menurun (Zanzibar, 2007). Pengusangan cepat mengakibatkan
rusaknya dinding sel benih sehingga banyak senyawa elektrolit yang keluar dari
dalam benih dan menyebabkan nilai daya hantar listrik (DHL) air perendaman
14
Hasil penelitian Zanzibar (2007) menunjukkan bahwa uap etanol berpengaruh
buruk terhadap penurunan kualitas fisiologis. Penurunan tersebut dimulai pada
taraf pengusangan 12 kali untuk benih mindi, 15 kali pada benih merbau,
sedangkan pada benih akor meskipun hingga akhir pengusangan (21 kali) tidak
berbeda dibandingkan dengan kontrol, namun kualitasnya cenderung terus
menurun. Besarnya kehilangan kapasitas perkecambahan antar jenis juga
berbeda. Kehilangan kapasitas perkecambahan terbesar terjadi pada parameter
kecepatan tumbuh. Pada benih mindi, merbau dan akor besarnya kehilangan
tersebut berturut-turut adalah 44%, 22%, dan 17%. Ketahanan benih terhadap
kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, khususnya selama penyimpanan
(daya simpan), tertinggi pada benih akor, kemudian merbau dan mindi.
Hasil penelitian Mustika dkk. (2014) menunjukkan bahwa adanya kesesuaian
(korelasi nyata) laju penurunan viabilitas dan vigor antara penyimpanan alami
selama 8 minggu dengan pengusangan selama 60 menit, sedangkan pada asam
lemak bebas tidak adanya kesesuaian (korelasi tidak nyata) antara penyimpanan
alami selama 8 minggu (diasumsikan setelah penyimpanan selama 8 minggu
terjadi peningkatan asam lemak bebas) dengan pengusangan selama 30 menit
(Anjasmoro) dan 15 menit (Wilis). Viabilitas dan vigor dengan asam lemak bebas
berkorelasi negatif, artinya semakin tinggi asam lemak bebas maka viabilitas dan
vigor semakin rendah.
Hasil penelitian Rasyid (2012) menunjukkan bahwa pengungsangan cepat dengan
uap etanol 5% selama satu jam dapat menurunkan daya tumbuh benih kedelai.
15
penyimpanan alami diketahui bahwa pengungsangan cepat berkorelasi dan
penyimpanan alami selama 1, 3, 5, dan 7 bulan dengan sangat nyata.
Hasil penelitian Ekowahyuni dkk. (2012) menunjukkan bahwa metode
pengusangan cepat menggunakan metanol 20% dan periode waktu 0, 2, 4, 6, dan
8 jam adalah metode terbaik untuk pengujian vigor benih dalam kaitannya dengan
daya simpan benih benih cabai besar dibandingkan dengan pengungsangan cepat
dengan etanol 20%, pengungsangan cepat air panas 90oC, dan pengungsangan
cepat 40oC.
Hasil percobaan Faiza dan Suwarno (2014) yaitu perlakuan invigorasi (kontrol, air
kelapa, GA380 ppm, GA3100 ppm, kombinasi air kelapa dengan GA380 ppm,
dan kombinasi air kelapa dengan GA3100 ppm), menunjukkan bahwa pada
kondisi optimum semua perlakuan devigorasi dapat meningkatkan indeks vigor
dari 16,67% menjadi 30,67%-48% kecuali perlakuan GA3100 ppm. Perlakuan
dengan GA380 ppm dan GA3100 ppm mampu meningkatkan daya berkecambah
benih melon tingkat viabilitas rendah dari 72% menjadi 85,33% dan 88%. Pada
kondisi suboptimum semua perlakuan devigorasi tidak mampu meningkatkan
viabilitas benih melon.
2.2 Tanaman Sorgum
Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench) merupaan tanaman yang termasuk kelas
Monocotyledoneae yaitu tumbuhan biji berkeping satu dengan subkelas
Commelinidae. Sorgum dicirikan melalui bentuk tanaman ternal dengan siklus
16
tumbuhan jenis rumput-rumputan dengan karakteristik batang berbentuk silinder
dengan buku-buku yang jelas (Tjitrosoepomo, 2000) yang dikutip oleh (Iriany dan
Makkulawu, 2013).
2.2.1 Taksonomi Tanaman Sorgum
Menurut United States Departement of Agriculture (USDA) (2008), taksonomi
sorgum adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Sorghum
Spesies : Sorghum bicolor (L.) Moench
2.2.2 Anatomi Biji Sorgum
Biji sorgum (Gambar 2) ditutupi oleh glumes, dan berbentuk oval. Warna biji
bervariasi mulai dari merah, putih, kuning, hingga kecoklatan. Bagian pericarp
sorgum biasanya berwarna kuning atau merah. Bagian-bagian biji sorgum secara
umum adalah pericarp, testa, embrio, dan endosperm (Departement Agriculture,
17
Pericarp adalah lapisan terluar dari biji dan terdiri dari epicarp, hipodermis,
mesocarp, dan endocarp. Testa terletak di bawah endocarp, yaitu bagian yang
mengandung tannin yang menyebabkan rasa pahit pada sorgum. Embrio
merupakan bagian yang memiliki unit yang komplit dan mampu membentuk
tanaman baru. Sementara itu, endosperm merupakan bagian biji yang
menyediakan cadangan makanan dan nutrisi untuk perkembangan embrio
(Departement Agriculture, Forestry, and Fisheries. 2010).
S.A = Stylar area/bagian ujung, E.A = Embryonic axis/inti embrio, S = Scutellum/Sekutelum
[image:36.595.198.428.295.500.2]Sumber: Earp dkk (2004)
Gambar 2. Anatomi biji sorgum.
2.2.3 Genotipe Sorgum
Menurut Sadjad (1993) sifat tanaman dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor
18
yang diturunkan dari tetuanya. Sorgum dalam perkembangannya juga telah
memiliki banyak genotip-genotip yang secara resmi dikeluarkan pemerintah
sebagai varietas dan masing-masing genotip memiliki keunggulan. Genotipe
Super 1 dan Super 2 (Tabel 2) merupakan beberapa genotip sorgum yang unggul
[image:37.595.109.515.266.345.2]terutama di Indonesia.
Tabel 2. Deskripsi genotip Super 1 dan Super 2
Varietas Tahun Dilepas
Potensi Hasil
Umur Tinggi Panjang Bentuk
Panen Tanaman Malai Malai
(t/ha) (hari) (cm) (cm)
Super 1 2013 5,75 105-110 216,50 26,67 Ellips
Super 2 2013 6,33 115-120 229,71 26,38 Simetris
Sumber: Aqil dkk (2013a)
Menurut Widiarta dkk. (2013) varietas Super 1 merupakan hasil seleksi galur
murni varietas lokal Watar Hammu Putih asal Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Sementara itu, varietas Super 2 dikembangkan dari galur introduksi ICRISAT
(International Crops Research Institute for the Semi-Arid Tropics). Keduanya
merupakan varietas sorgum manis dengan potensi hasil tinggi dan potensial
dikembangkan secara luas untuk produksi bioetanol.
Varietas Super 1 berumur 110 hari, potensi hasil 5,7 t/ha pada kadar air 10%,
potensi produksi etanol 4.380 liter/ha, dan produksi biomas batang 38,7 t/ha,
dengan kadar gula (Brix) 13,5%. Varietas unggul ini juga tahan rebah, tahan
hama Aphis, tahan penyakit antraknose, karat daun, hawar daun, dapat ditanam
pada lahan kering beriklim kering dan beradaptasi pada lingkungan luas. Super 2
19
etanol 3.941 liter/ha, dan produksi biomas batang 39,3 t/ha, dengan kadar gula
(Brix) 12,7%. Tahan rebah, tahan hama Aphis, agak tahan penyakit antraknose,
tahan penyakit karat dan hawar daun, dapat dikembangkan pada lahan kering
beriklim kering dan beradaptasi pada lingkungan luas (Widiarta dkk., 2013).
2.3 Viabilitas Benih
Viabilitas benih merupakan daya hidup benih yang ditunjukkan oleh fenomena
pertumbuhan benih atau gejala metabolismenya. Viabilitas potensial merupakan
viabilitas benih pada kondisi optimum yang secara potensial mampu
menghasilkan tanaman normal yang berproduksi normal. Pada analisis benih,
viabilitas benih dapat diditeksi melalui beberapa pendekatan. Pendekatan yang
paling banyak digunakan adalah melalui pendekatan fisiologis yang metodenya
terbagi atas metode langsung dan tidak langsung. Metode langsung dilakukan
apabila setiap individu benih diamati sedangkan metode tidak langsung dilakukan
apabila deteksi viabilitas dilakukan pada sejumlah benih sekaligus (Sadjad, 1993).
Konsepsi Steinbauer-Sadjad (Gambar 3) menjabarkan bahwa viabilitas dimulai
sejak antesis sampai benih mati. Konsepsi ini membagi viabilitas benih menjadi
tiga periode. Periode I adalah periode benih dibangun, kemudian periode II benih
disimpan, dan periode III merupakan periode kritikal bagi benih. Hal itu karena
pada periode III benih harus mampu menunjukkan mutunya secara total di lapang
20
Gambar 3. Konsep periodisasi viabilitas benih Steinbauer-Sadjad.
Keterangan: Vp = viabilitas potensial. Vg = vigor.
D = delta atau selisih antara nilai Vp dan Vg.
Sumber: Sadjad (1993)
Viabilitas setiap jenis benih berbeda satu sama lain, bahkan antarindividu benih
pun memiliki viabilitas yang berbeda. Tingginya viabilitas setiap benih
dipengaruhi oleh beberapa hal, bahkan dimulai dari pertumbuhan tanaman induk
pun dapat mempengaruhi viabilitas suatu benih. Kekurangan air dan kekurangan
makanan pada saat pertumbuhan tanaman induk mempengruhi viabilitas benih
yang dihasilkan. Pertumbuhan induk yang baik dan mantap saat kematangan
benih menjamin tingginya viabilitas benih (Kartasapoetra, 2003).
Menurut Sadjad (1994), viabilitas erat kaitanya dengan vigor, keduanya
merupakan parameter daya hidup suatu benih. Apabila suatu lot benih
mempunyai kemampuan tumbuh pada kondisi optimum, maka lot benih tersebut
memiliki kemampuan potensial, karena pada lapang produksi tidak selalu dalam
21
suboptimum, lot benih tersebut belum tentu dapat tumbuh. Namun, apabila lot
benih tersebut dapat tumbuh, maka artinya lot benih memiliki kemempuan
tumbuh yang melebihi potensial yang dimiliki. Kemampuan yang demikian
disebut dengan vigor benih. Dengan kata lain, kemampuan hidup benih pada
kondisi yang optimum disebut viabilitas potensial (Vp), sedangkan kemampuan
hidup benih pada kondisi yang suboptimum disebut vigor (Vg).
Viabilitas benih dapat diukur dengan tolok ukur daya berkecambah (germination
capacity). Perkecambahan benih adalah muncul dan berkembangnya struktur
terpenting dari embrio benih serta kecambah tersebut menunjukkan kemampuan
untuk berkembang menjadi tanaman normal pada kondisi lingkungan yang
menguntungkan. Viabilitas benih menunjukkan daya hidup benih, aktif secara
metabolik dan memiliki enzim yang dapat mengkatalis reaksi metabolik yang
diperlukan untuk perkecambahan dan pertumbuhan kecambah (Copeland dan
McDonald, 2001).
Pengujian viabilias benih mencakup pengujian daya berkecambah dan kekuatan
tumbuh (vigor) benih. Pengujian daya berkecambah akan memberikan informasi
tentang kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi normal pada kondisi
lingkungan yang optimum. Dalam uji daya berkecambah viabilitas benih
dianalisis dalam kondisi yang serba optimum karena daya kecambah benih
menstimulasi persentase benih yang mampu tumbuh dan berproduksi normal
dalam kondisi optimum (Sadjad, 1993). Sementara itu, pengujian vigor atau
kekuatan tumbuh bertujuan untuk menduga kemampuan tanaman tumbuh dan
22
Menurut Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan (1991) yang dikutip oleh
Lesilolo dkk. (2013), nilai SNI benih bermutu yang telah ditetapkan adalah
memiliki tingkat daya kecambah mencapai 80%, tergantung jenis tanaman.
Begitu pula Rukmana dan Yuniarsih (2001) yang dikutip oleh Rini dkk. (2005)
menyatakan bahwa benih yang bermutu baik adalah benih yang memiliki daya
berkecambah lebih dari 80%. Sedangkan, menurut Sadjad (1993) kecepatan
perkecambahan pada benih bermutu harus memiliki nilai lebih besar dari 30%.
2.4 Pengaruh Etanol pada Viabilitas Benih
Etanol merupakan salah satu bahan yang dapat digunakan untuk pengusangan
cepat benih (Zanzibar, 2007). Etanol yang masuk ke dalam benih akan
menurunkan cadangan makanan yang ada di dalam benih. Penurunan cadangan
makanan tersebut diakibatkan karena etanol dapat mendenaturasi protein
membran yang ada pada benih sehigga permeabilitas benih meningkat dan benih
mengalami kemunduran (Rasyid, 2012). Menurut Copeland dan McDonald
(2001), kemunduran benih dapat dicirikan dengan menurunnya daya
berkecambah, menurunnya perkecambahan di lapang, meningkatnya jumlah
kecambah abnormal, dan terhambatnya pertumbuhan serta perkembangan
kecambah. Menurut Justice dan Bass (2002), kemunduran benih dapat terlihat
melalui gejala fisiologis dan biokimia. Gejala fisiologis ditandai dengan
perubahan warna benih, rendahnya pertumbuhan kecambah, dan meningkatnya
kecambah abnormal. Gejala biokimia ditandai dengan terjadinya perubahan
aktivitas enzim, meningkatnya laju respirasi dan sintesa, perubahan kromosom
23
Hasil penelitian Anggraeni dan Suwarno (2013) memperlihatkan bahwa semakin
lama waktu perendaman benih dalam larutan etanol 96% semakin menurun daya
berkecambahnya. Selama 180 menit perendaman benih kedelai pada varietas
Gema dan Burangrang mampu menurunkan daya berkecambahnya berturut-turut
menjadi 48% dan 53%. Pada varietas Ijen daya berkecambah menurun menjadi
55% setelah 48 jam pengusangan.
Hasil penelitian Belo dan Suwarno (2012) menunjukkan bahwa uap etanol 96%
yang dikenakan pada benih selama 4 dan 4,4 menit dapat menurunkan viabilitas
padi gogo sampai pada 60% dan 50%. Selain itu, penggunaan etanol 96% pada
pengusangan cepat lebih efektif menurukan viabilitas benih dibandingkan dengan
pengusangan fisik.
Hasil penelitian Purnamasari dkk. (2015) menunjukkan bahwa larutan etanol 8%
yang digunakan untuk pengusangan cepat selama 24 jam dapat menurunkan daya
kecambah pada benih sorgum varietas Numbu, Keller, dan Wray yang merupakan
hasil dari perlakuan jumlah tanaman per lubang tanam yang berbeda (1, 2, 3, 4,
dan 5 jumlah tanaman per lubang tanam).
Hasil penelitian (Rasyid, 2012) menunjukkan bahwa pengusangan cepat dengan
larutan etanol 5% selama 1 jam perendaman dapat memperlihatkan penurunan
daya kecambah benih kedelai hasil dari perlakuan jarak tanam dan dosis
pemupukan yang berbeda yaitu jarak tanam 40x10 cm dengan dosis 54 P2O5atau
150 kg/ha pupuk SP-36. Sedangkan daya kecambah terendah terdapat pada
kombinasi perlakuan jarak tanam 40x30 cm dengan dosis 54 P2O5atau 150 kg/ha
24
III. BAHAN DAN METODE
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman
Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada September 2016 sampai
dengan Januari 2017.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan elektrik, gelas
ukur, seed counter tipe Seedburo 801 Count-A-Pak, conductivity meter tipe WTW
Inolab series, gelas air mineral, botol air mineral, cawan petri, pipet, oven,
gunting, alat pengempa kertas, germinator tipe IPB 73 2A/2B, sprayer, kertas
label, dan alat tulis.
Bahan–bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih sorgum genotipe
Super 1, Super 2, dan GH 3 yang dipanen pada akhir bulan Juli 2016 (untuk uji
lama pelembaban dalam larutan etanol 0 jam dan 16 jam) dan akhir November
(untuk uji lama pelembaban dalam larutan etanol 32 jam dan 48 jam) dari Desa
Tulung Agung, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, aquades, kertas
25
3.3 Rancangan Percobaan dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang
perlakuannya disusun secara faktorial (4x3) dan diulang tiga kali ulangan sebagai
blok. Faktor yang pertama adalah lama pelembaban dalam larutan etanol (L), dan
faktor kedua adalah genotipe (G). Lama pelembaban dalam larutan etanol terdiri
dari empat taraf, yaitu 0 jam atau tanpa perlakuan pelembaban dalam larut etanol
(l0), 16 jam (l1), 32 jam (l2), dan 48 jam (l3). Genotipe yang digunakan yaitu
Super 1 (g1), Super 2 (g2), dan GH 3 (g3). Pada percobaan ini didapat 36 petak
percobaan yang terbagi menjadi tiga blok. Data yang telah diperoleh, diuji
homogenitas ragamnya dengan Uji Bartlett dan kemenambahannya dengan Uji
Tukey. Bila ke dua asumsi terpenuhi data dianalisis ragam dan dilakukan
pemisahan nilai tengah antarperlakuan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada
taraf 5%.
3.4 Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelian pada penelitian ini di antaranya adalah persiapan benih,
persiapan media perkecambahan, persiapan larutan etanol, aplikasi pelembaban
benih dalam larutan etanol, uji viabilitas, dan pengukuran daya hantar listrik.
3.4.1 Persiapan Benih
Benih sorgum yang telah dipanen dari lahan Desa Tulung Agung, Kecamatan
26
kadar air kurang lebih 10%. Kemudian benih sorgum dirontokkan dari malainya
dan dibersihkan sampai didapat benih bersih.
3.4.2 Persiapan Media Perkecambahan
Media perkecambahan yang digunakan adalah kertas merang untuk uji kecepatan
perkecambahan (UKP) dan kertas CD untuk uji keserempakkan perkecambahan
(UKsP). Alasan penggunaan kertas CD pada UKsP adalah untuk mengurangi
kerusakan pada kecambah saat diambil. Hal itu karena tekstur kertas CD yang
lebih lembut dari kertas merang. Media perkecambahan merupakan media kertas
lembab, yaitu kertas dibasahi dengan air kemudian dikempa dengan alat
pengempa kertas hingga kapasitas lapang kertas. Kertas yang digunakan pada
UKP dan UKsP masing-masing adalah dua lapis kertas pada satu sisi, dan dua
lapis kertas pada sisi lainnya hingga terdapat 4 lapis kertas pada tiap ujinya.
3.4.3 Persiapan Larutan Etanol
Larutan etanol yang digunakan pada penelitian ini adalah larutan etanol dengan
kosentrasi 16%. Larutan etanol 16% dibuat dengan mencampurkan 16 ml etanol
99,9% dengan 84 ml air.
3.4.4 Aplikasi Pelembaban Benih dalam Larutan Etanol
Pelembaban dalam larutan etanol pada penelitian ini adalah suatu metode
melembabkan benih pada larutan etanol sehingga benih mengalami proses
27
melainkan hanya tersedia untuk benih melakukan imbibisi. Aplikasi pelembaban
benih sorgum (Gambar 4) dilakukan dengan menempatkan benih sebanyak 150
butir pada cawan petri dan ditetesi dengan larutan etanol 16% sebanyak 6 ml dan
diratakan. Setelah itu, cawan petri ditutup dengan menggunakan plastik wrapping
dengan tujuan menghindari adanya penguapan larutan. Benih yang telah ditetesi
larutan etanol kemudian dibiarkan selama 16 jam, 32 jam, dan 48 jam sesuai
[image:46.595.112.514.296.446.2]dengan taraf lama pelembaban dalam larutan etanol yang dilakukan.
Gambar 4. Aplikasi pelembaban benih dalam larutan etanol.
Keterangan : a = cawan petri berisi benih sorgum.
b = cawan petri berisi benih ditetesi larutan etanol.
c = cawan petri berisi benih yang telah ditetesi etanol ditutup dengan plastik wrap.
3.4.5 Uji Viabilitas
Benih yang telah diberi perlakuan lama pelembaban dalam larutan etanol di uji
viabilitasnya dengan uji perkecambahan. Viabilitas benih dilakukan dengan
metode uji kertas digulung didirikan dilapisi plastik (UKDdp) (Sadjad, 1994).
28
Uji viabilitas yang dilakukan meliputi uji kecepatan perkecambahan (UKP) dan
uji keserempakkan perkecambahan (UKsP).
Uji kecepatan perkecambahan (UKP) dilakukan dengan 50 butir benih sorgum
yang dikecambahkan pada kertas merang yang dilapisi plastik dan digulung.
Kemudian gulungan diletakkan pada germinator pada suhu kamar. Pengamatan
dilakukan pada hari ke 2, 3, 4, dan 5 setelah perkecambahan. Dari UKP dapat
diukur kecepatan perkecambahan (KP), kecambah normal total (KNT), kecambah
abnormal (KAN), dan benih mati (BM).
Uji keserempakkan perkecambahan (UKsP) dilakukan dengan 50 butir benih
sorgum dikecambahkan pada kertas CD yang dilapisi plastik dan digulung.
Kemudian gulungan diletakkan pada germinator pada suhu kamar. Pengamatan
dilakukan pada hari ke tiga setelah perkecambahan. Dari UKsP dapat diketahui
nilai kecambah normal kuat (KNK), dan panjang tajuk kecambah normal (PTKN),
dan panjang akar primer kecambah normal (PAPKN).
3.4.6 Pengukuran Nilai Daya Hantar Listrik
Pengukuran nilai daya hantar listrik (Gambar 5) dilakukan dengan merendam 50
butir benih ke dalam 50 ml aquades selama 24 jam. Pengukuran nilai DHL
dilakukan dengan mencelupkan alat condutivity meter tipe WTW Inolab series ke
dalam air rendaman benih. Pada pengukuran DHL diukur juga nilai konduktivitas
29
Gambar 5. Pengukuran daya hantar listrik.
Keterangan : a = gelas mineral berisi benih sorgum.
b = belas mineral berisi benih diberi aquades.
c = gelas berisi benih dan aquades diukur daya hantar listriknya. d = monitor conductivity meter menunjukkan nilai daya hantar
listrik.
3.5 Variabel Pengamatan
Berdasarkan uji viabilitas dan uji daya hantar listrik di atas, ditetapkan variabel
pengamatan sebagai berikut:
a b
30
3.5.1 Kecepatan Perkecambahan (KP)
Kecepatan perkecambahan adalah kecepatan benih untuk berkecambah secara
normal. Nilai kecepatan perkecambahan benih diperoleh dari uji kecepatan
perkecambahan (UKP). Penghitungan nilai kecepatan perkecambahan benih
dilakukan dengan menghitung pertambahan kecambah normal setiap harinya
terhitung sejak hari ke dua hingga hari ke lima setelah dikecambahkan.
Kecepatan perkecambahan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut (Copeland dan McDonald, 2001):
KP = + + + ⋯
Keterangan : KP = Kecepatan perkecambahan (%/hari).
G = Persentase benih yang berkecambah pada hari ke-n. D = Waktu yang bersesuaian dengan jumlah tersebut. n = Jumlah hari pada perhitungan akhir.
3.5.2 Kecambah Normal Total (KNT)
Kecambah normal total (Gambar 6) adalah total seluruh kecambah normal yang
diperoleh dari menambahkan kecambah normal setiap harinya dari suatu
pengujian. Nilai kecambah normal total didapatkan dari uji kecepatan
perkecambahan (UKP) dengan menambahkan kecambah normal pada setiap
harinya sejak hari ke dua hingga hari ke lima setelah dikecambahkan. Menurut
Kamil (1986) kriteria kecambah normal adalah kecambah yang mempunyai akar
primer dan akar sekunder, hipokotil panjang atau pendek, dan terdapat satu daun
primer atau satu tunas ujung yang sempurna. Persentase kecambah normal total
31
Keterangan : KNT = Kecambah Normal Total (%). KN = Kecambah Normal.
[image:50.595.221.407.221.401.2]n = Jumlah benih yang ditanam pada media perkecambahan.
Gambar 6. Kecambah normal.
3.5.3 Kecambah Abnormal (KAN)
Kecambah abnormal (Gambar 7) adalah kecambah yang mempunyai cacat sampai
tingkat tertentu sehingga tidak memenuhi persyaratan kecambah normal
(Direktorat Jendral Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2000). Nilai kecambah
abnormal diperoleh dari uji kecepatan perkecambahan (UKP) dengan menghitung
seluruh kecambah abnormal pada hari ke lima setelah dikecambahkan. Kecambah
dapat dikatakan abnormal apabila salah satu struktur esensialnya berupa plumula
32
Gambar 7. Kecambah abnormal.
3.5.4 Benih Mati (BM)
Benih mati (Gambar 8) adalah benih yang sampai pada akhir pengujian tidak lagi
keras atau segar, biasanya ditandai dengan adanya biji busuk lunak atau berjamur
dan sama sekali tidak menunjukkan adanya unsur utama dari benih yang muncul
(Direktorat Jendral Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2000). Benih mati
diperoleh dari uji kecepatan perkecambahan (UKP) dengan menghitung seluruh
benih mati pada hari ke lima setelah dikecambahkan. Benih dapat dikatakan
sebagai benih mati bila hingga hari terakhir pengujian benih tidak menunjukkan
33
Gambar 8. Benih mati.
3.5.5 Kecambah Normal Kuat (KNK)
Kecambah normal kuat (Gambar 9) adalah kecambah normal yang memiliki
pertumbuhan yang kuat, yang memiliki kecambah lebih besar daripada kecambah
normal lemah. Kecambah normal kuat diamati dari uji keserempakan
perkecambahan (UKsP). Kecambah dikatakan normal kuat bila memiliki panjang
akar primer dan panjang tajuk masing-masing lebih dari dua cm.
[image:52.595.227.411.529.696.2]34
3.5.6 Kecambah Normal Lemah (KNL)
Kecambah normal lemah (Gambar 10) adalah kecambah normal yang memiliki
pertumbuhan yang lemah, yang memiliki kecambah lebih kecil dari kecambah
normal kuat. Kecambah normal lemah diamati dari uji keserempakan
perkecambahan (UKsP). Kecambah dikatakan normal lemah bila memiliki
panjang akar primer dan panjang tajuk masing-masing lebih dari atau sama
[image:53.595.225.410.289.466.2]dengan dua cm.
Gambar 10. Kecambah normal lemah.
3.5.7 Panjang Tajuk Kecambah Normal (PTKN)
Panjang tajuk kecambah normal (Gambar 11) adalah panjang tajuk kecambah
normal yang diukur dari pangkal tajuk yang melekat pada benih hingga ke ujung
tajuk(Yousif, 2010). Pengamatan panjang tajuk kecambah normal dilakukan
dengan mengambil lima kecambah normal secara acak dari uji keserempakan
perkecambahan (UKsP) untuk kemudian diukur panjang tajuknya. Nilai panjang
35
Gambar 11. Panjang Tajuk Kecambah Normal.
3.5.8 Panjang Akar Primer Kecambah Normal (PAPKN)
Panjang akar primer (Gambar 12) adalah panjang akar utama dari kecambah
normal yang diukur dari pangkal akar yang melekat pada benih hingga ke ujung
akar primer(Yousif, 2010). Pengamatan panjang akar primer kecambah normal
dilakukan pada lima sampel kecambah normal yang sama dengan saat pengukuran
Panjang Tajuk Kecambah Normal (PTKN). Nilai panjang akar primer yang telah
diperoleh kemudian dirata-ratakan.
[image:54.595.243.421.539.713.2]36
3.5.9 Daya Hantar Listrik (DHL)
Pengukuran nilai daya hantar listrik dilakukan dengan metodeKaewnaree dkk.
(2011) yaitumerendam 50 butir benih ke dalam 50 ml aquades selama 24 jam.
Pengukuran nilai DHL dilakukan dengan mencelupkan alat condutivity meter ke
dalam air rendaman benih. Pada pengukuran DHL diukur juga nilai konduktivitas
aquades sebagai blanko. Penghitungan nilai daya hantar listrik dapat dilakukan
dengan rumus:
55
V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pelembaban yang semakin lama pada larutan etanol menyebabkan viabilitas
benih semakin rendah. Pelembaban selama 32 jam dalam larutan etanol 16%
menyebabkan viabilitas benih lebih rendah daripada tanpa pelembaban dalam
larutan etanol.
2. Viabilitas benih tiga genotipe sorgum berbeda secara berturut-turut dari
terbesar ke terkecil yaitu Super 2, Super 1, dan GH 3.
3. Viabilitas benih dipengaruhi oleh lama pelembaban dalam larutan etanol dan
genotipe. Vigor benih sorgum genotipe Super 2 lebih tinggi daripada Super 1
dan GH 3 terutama setelah lama pelembaban dalam larutan etanol 32 jam yang
ditunjukkan oleh variabel kecepatan perkecambahan, benih mati, kecambah
56
5.2 Saran
Penelitian ini menggunakan lama pelembaban dalam larutan etanol dengan jarak
16 jam antartaraf lama pelembaban, sehingga pada perlakuan 48 jam benih
mengalami penurunan viabilitas benih sampai tingkat paling rendah. Hal ini
menyebabkan perlakuan lama pelembaban dalam larutan etanol yang paling
efesien untuk menurunkan viabilitas tidak diketahui. Berdasarkan hal tersebut,
peneliti menyarankan untuk penelitian berikutnya agar mencari lama pelembaban
dalam larutan etanol yang paling efesien untuk menurunkan viabilitas dengan
57
DAFTAR PUSTAKA
Addai, I.K., and Kantanka, O.S. 2006. Evaluation of Screening Methods for Improved Storability of Soybean Seed. Journal Botany. 2: 152–155.
Anggraeni, N.D., dan Suwarno, F.C. 2013. Kemampuan Benih Kedelai (Glycine max L.) untuk Mempertahankan Viabilitasnya setelah Didera dengan Etanol. Buletin Agrohorti. 1 (4): 34–44.
Arif, R., Koes, F., dan Nur, A. 2013. Pengelolaan Benih Sorgum. Sorgum; Inovasi, Teknologi, dan Pengembangan. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Jakarta:15 hlm.
Aqil, M., Talanca., A.H., Zubachtirodin, dan Nur, A. 2013a. Highlight Balai Penelitian Tanaman Serealia 2012. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 43 hlm.
Aqil, M., Zubachtirodin, dan Rapar, C. 2013b. Deskripsi varietas unggul jagung, sorgum, dan gandum, Edisi 2013. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros.
Belo, S.M., dan Suwarno, F.C. 2012. Penurunan Viabilitas Benih Padi (Oryza sativa L.) melalui Beberapa Metode Pengusangan Cepat. Jurnal Agronomi Indonesia. 40 (1): 29–35.
Beti, Y.A., Ispandi, A., dan Sudaryono. 1990. Sorgum: Monografi No. 5. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Malang. 25 hlm.
Cook, M., Kole, S.N., and Gupta, K. 2003. Bhiochemical Changes in Safflower (Cartamus tinctorius) Seed Under Accelerated ageing. Seed Science and Technology. 10: 47–54.
Copeland, L.O. and McDonald, M.B. 2001. Principles of Seed Science and Technology. Kluwer Academic Publisher. London. 321 p.
58
Dianawati, M. 2014. Warna dan Lama Pengusangan Cepat Terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Kacang Panjang dan Kacang Tunggak. Jurnal Agros. 16 (1): 124–132.
Direktorat Jendral Tanaman Pangan dan Hortikultura. 2000. Pedoman Umum Analisa Mutu Benih. Direktorat Bina Perbenihan. 100 hlm.
Earp, C.F., McDonough, C.M, and Rooney, L.W. 2004. Microscopy of Pericarp Development In The Caryopsis of Sorghum bicolor (L.) Moench. Journal Cereal Sci. 39: 21–27.
Ekowahyuni, L.P., Sutjahjo, S.H., dan Sujiprihati, S. 2012. Metode Pengusangan Cepat untuk Pengujian Vigor Daya Simpan Benih Cabai (Capsicum annum L.). Jurnal Agromi Indonesia. 40 (2): 132–138.
Faiza, N., dan Suwarno, C. 2014. Viabilitas Benih Melon (Cucumis melo L.) pada Kondisi Optimum dan Sub-Optimum Setelah Diberi Perlakuan Invigorasi. Buletin Agrohorti. 2 (1): 59–65.
Ilyas, A., dan Djufry, F. 2013. Analisis Korelasi dan Regresi Dinamika Populasi Hama dan Musuh Alami pada Beberapa Varietas Unggul Padi Setelah Penerapan PHT di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Informatika Pertanian. 22 (1). 29–36.
Irawan, B. dan N. Sutrisna. 2011. Prospek pengembangan sorgum di jawa barat mendukung diversifikasi pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi. 29 (2): 99–133.
Iriany, R.N., dan Makkulawu, A.T. 2013. Asal Usul dan Taksonomi Tanaman Sorgum. Sorgum; Inovasi, Teknologi, dan Pengembangan. Balai
Penelitian Tanaman Serealia. Jakarta. 12 hlm.
Jain, N., Koopar, R., and Saxena, S. 2006. Effect Accelerated Ageing on Seed of Radish (Raphanus sativus L.). Asian Journal Plant Sci. 5: 461-464.
Justice, O.L., dan L.N. Bass. 2002. Prinsip dan Praktik Penyimpanan Benih. Diterjemahkan Rennie Roesli. Jakarta. Raja Grafindo. 446 hlm.
Jyoti and Malik, C.P. 2013. Seed Deterioration: A Review. International Journal of Life Sciences Biotechnology and Pharma Research. 2 (3): 374–385.
Kaewnaree, P., Vichitphan, S., Klanrit, P., Siri, B., and Vichitphan, K. 2011. Effect of Accelerated Aging Process on Seed Quality and Biochemical Changes in Sweet Papper (Capsicum annum Linn.) Seeds. Biotechnology. 10 (2): 175–182.
59
Kartasapoetra. A.G. 2003. Teknologi Benih. Pengelolaan Benih Dan Tuntunan Praktikum. Rineka cipta. Jakarta. 188 hlm.
Lesilolo, M.K., Riry, J., dan Matatula, E.A. 2013. Pengujian Viabilitas dan Vigor Benih Beberapa Jenis Tanaman. Journal Agrologia. 2 (1): 1–9.
Mohammadi, H., Soltani, A., Sadeghipour, H.R., dan Zeinali, E. 2011. Effect of Seed Aging on Subsequent Seed Reserve Utilization and Seedling Growth in Soybean. International Journal of Plant Production. 5 (1): 65–70.
Mustika, S., Suhartanto, M.R, dan Qadir, A. 2014. Kemunduran Benih Kedelai Akibat Pengusangan Cepat Menggunakan Alat IPB 77-1 MM dan Penyimpanan Alami. Buletin Agrohorti. 2 (1): 1–10.
Nurisma, I., Agustiansyah, and Kamal, M. 2015. Pengaruh Jenis Kemasan dan Suhu Ruang Simpan terhadap Viabilitas Benih Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench). Jurnal Penelitian Pertanian Terapan. 15 (3): 183–190.
Pian, Z.A. 1981. Pengaruh Uap Etil Alkohol terhadap Viabilitas Benih Jagung (Zea mays L.) dan Pemanfaatannya untuk Menduga Daya Simpan. Disertasi Fakultas Pasca Sarjana IPB. Bogor. 10 hlm.
Purba, M. 2006. Kimia untuk SMA kelas X. Erlangga. Jakarta. 292 hlm.
Purnamasari, L., Pramono. E, dan Kamal. M. 2015. Pengaruh Jumlah Tanaman Per Lubang Terhadap Vigor Benih Tiga Varietas Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench) dengan Metode Pengusangan Cepat (MPC). Jurnal Penelitian Pertanian Terapan. 15 (2). 107–114.
Rasyid, H. 2012. Model Pendugaan Daya Simpan Benih Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) Biji Besar Dengan Pengusangan Cepat Sebagai Teknologi Penentu Mutu Benih. Jurnal Gamma. 7 (2): 34–52.
Rini. D.S., dan Mustikoweni., dan Surtiningsih. 2005. Respons Perkecambahan Benih Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench) terhadap Perlakuan
Osmoconditioning dalam Mengatasi Cekaman Salinitas. Berita Biologi. 7 (6):307–313.
Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Grasindo. Jakarta. 144 hlm.
Sadjad, S. 1994. Kuantifikasi Metabolisme Benih. Grasindo. Jakarta. 160 hlm.
60
Serna-Saldivar, S.O., and Rooney, L.W. 1995. Structure and chemistry of sorghum and millets. In: Dendy, D.A.V., (Ed.), Sorghum and Millets, Chemistry and Technology, American Association of Cereal Chemists. St Paul, MN, pp. 69–144 p.
Shiddiqui, S.U., Ali, A.M, dan Chaudhary. 2008. Germination Behavior of Wheat (Triticum aestivum) Varieties To Artificial Ageing Under Varying Temperature and Humidity. Pak. Journal Bot. 40: 1121–1127.
Sirappa, M.P. 2003. Prospek Pengembangan Sorgum di Indonesia sebagai Komoditas Alternatif untuk Pangan, Pakan, dan Industri. Jurnal Litbang Pertanian. 22 (4): 133–140.
Subagio, H dan Aqil, M. 2014. Perakitan varietas unggul sorgum untuk pangan, pakan, dan bioteknologi. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Sulawesi Selatan. 9 (1): 12 hlm
Susilowati, S.H., dan Saliem, H.P. 2013. Perdagangan Sorgum di Pasar Dunia dan Asia serta Prospek Pengembangannya di Indonesia. Sorgum; Inovasi, Teknologi, dan Pengembangan. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Jakarta. 17 hlm.
Talanca, A.H., dan Andayani, N.N. 2013. Perkembangan Perakitan Varietas Sorgum di Indonesia. Sorgum; Inovasi, Teknologi, dan Pengembangan. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Jakarta. 13 hlm.
United States Departement of Agriculture (USDA). 2008. Classification for Kingdom Plantae Down to Species Sorghum bicolor (L.) Moench (online).
https://www.plants.usda.gov/java/ClassificationServlet?source=profile&s ymbol=SOBI2&display=31. Diakses pada 20 November 2016. Pukul 16:00 WIB.
United States Departement of Agriculture (USDA). 2017. Agriculture, Sorghum. http://www.indexmundi.com/agriculture/?commodity=sorghum&graph=i mports. Diakses pada 12 Agustus 2017. Pukul 20:00 WIB.
Widiarta, I.N., Kariyasa, I.K., Hermanto., Sunihardi., Kusnandar., Muchtar, dan Radianto, H. 2013. Laporan Tahunan 2013. Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 56 hlm.
61
Zanzibar, M. 2007. Pengaruh Perlakuan Pengusangan Dengan Uap Etanol Terhadap Penurunan Kualitas Fisiologi Benih Akor (Acacia