• No results found

Text ABSTRAK pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2020

Share "Text ABSTRAK pdf"

Copied!
95
0
0

Loading.... (view fulltext now)

Full text

(1)

(Skripsi)

Oleh ROKHMA YENI

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

PERANAN PUSAT PELATIHAN PERTANIAN PEDESAAN SWADAYA (P4S) DALAM PEMBERDAYAAN PETANI

DI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Oleh

Rokhma Yeni

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peranan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) dalam memberdayakan petani di Kabupaten Lampung Tengah dan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan P4S dalam memberdayakan petani di Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian ini dilakukan pada empat P4S di Kabupaten Lampung Tengah yaitu P4S Mitra Tani Mandiri, P4S Sama Maju, P4S Ras Andani, dan P4S Budidaya. Responden yang diteliti berjumlah 74 orang terdiri dari 23 fasilitator dan 51 petani. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Februari hingga Maret 2018. Peranan P4S dalam memberdayakan petani dianalisis secara deskriptif dan hipotesis dianalisis dengan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan P4S dalam memberdayakan petani di Kabupaten Lampung Tengah termasuk dalam klasifikasi sedang. Faktor internal yang meliputi sifat kekosmopolitan fasilitator dan motivasi kerja fasilitator, serta faktor eksternal yang berupa sistem penghargaan tidak berhubungan nyata dengan peranan P4S dalam memberdayakan petani. Ketersediaan sarana prasarana dan jumlah petani binaan berhubungan nyata dengan peranan P4S dalam memberdayakan petani di Kabupaten Lampung Tengah.

(3)

THE ROLE OF RURAL AGRICULTURE TRAINING CENTRE (P4S) ON EMPOWERING FARMERS IN CENTRE LAMPUNG REGENCY

By

Rokhma Yeni

This research aimed to analyze the role of rural agriculture training centre (P4S) on empowering farmers and find out the factors related to the role. This research was conducted in four P4S in Centre Lampung Regency, those are Mitra Tani Mandiri, P4S Sama Maju, P4S Ras Andani, and P4S Budidaya. Respondents of this research were 74 people that consist of 23 facilitators and 51 farmers. The data were collected from February to March 2018. The role of P4S analyzed descriptively and hypothesis was analyzed using Rank Spearman correlation. The results of this research showed that the role of P4S on empowering farmers in Centre Lampung Regency is included in moderate classification. The internal factors such as work motivation, cosmopolitan character, and the external factor that is reward system don’t have significant relation to the role of P4S empowering farmers. Availability of facilities-infrastructure and the number of assisted farmers have significant relationship to the role of P4S on empowering farmers in Centre Lampung Regency.

(4)

Oleh

ROKHMA YENI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN

pada

Jurusan Agribisnis

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)

Penulis dilahirkan di Kota Bandar Lampung pada tanggal 23 Januari 1993. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Muslim dan Ibu Relawati. Penulis menempuh pendidikan dasar di SD Al Kautsar Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2005. Pendidikan tingkat pertama ditempuh di SMP Negeri 2 Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2008. Kemudian melanjutkan pendidikan tingkat atas di SMA Negeri 9 Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2011.

Pada tahun 2011, penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN). Selama menjalani pendidikan di Jurusan Agribisnis, penulis memperoleh kepercayaan menjadi asisten dosen mata kuliah Perencanaan dan Evaluasi Proyek pada semester ganjil tahun ajaran 2014/2015 dan semester genap tahun ajaran 2015/2016. Penulis melakukan Praktik Umum (PU) di PT Keong Nusantara Abadi (Wong Coco Group) pada tahun 2014 dan melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bina Bumi, Kecamatan Meraksa Aji, Kabupaten Tulang Bawang pada tahun 2015.

(8)
(9)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirobbilalamin, segala puji bagi Allah SWT, tak ada kata yang mampu terucap selain rasa syukur atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peranan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) dalam Pemberdayaan Petani di Kabupaten Lampung Tengah”. Sholawat beriring salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan dan teladan kita, Nabi Muhammad SAW yang selalu kita nantikan syafaatnya di hari akhir kelak.

Pada kesempatan ini, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian. 2. Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si, selaku Ketua Jurusan Agribisnis.

3. Dr. Ir. Dewangga Nikmatullah, M.S., selaku Dosen Pembimbing Pertama sekaligus Dosen Pembimbing Akademik.

4. Rio Tedi Prayitno, S.P., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Kedua. 5. Dr. Ir. Kordiyana K. Rangga, M.S., selaku Dosen Pembahas/Penguji.

(10)

penyelesaian skripsi ini.

8. Teristimewa untuk kedua orangtuaku tercinta, Ayahanda Muslim, S.E dan Ibunda Relawati yang selalu sabar dan tak pernah kenal lelah untuk memberikan kasih sayang, nasihat, semangat, dan doa kepada penulis.

9. Kepada keluargaku, alm. Cucungku tercinta, adikku tersayang M. Fakhri Akbar, abangku Budi Mulyono, S.H., Uncu, Om Erick, Lita, Puang, polwanku Bela, Adek Nia, Juan, Ridho, Faza dan seluruh keluarga besarku yang selalu memberikan dukungan dan semangat untuk mencapai gelar sarjana ini.

10. Teman-teman seperjuangan Agribisnis 2011, Fadel, Novita, Galuh, Yuda, Wiji, Aan, Juliantika, Pumai, Ayu, Ema, Sonya, Evie, Frisca, Silvia, Dila, Syafei, Rafika, Deni, Sani, Didit, Graha, Kausar, Ade, Bram, Mona, dan seluruh teman lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuan, dukungan, dan kebersamaannya selama ini.

11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu hingga terselesaikannya penulisan tugas akhir ini.

Semoga Allah SWT memberikan balasan terbaik atas segala bantuan yang telah diberikan. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan, namun semoga karya kecil ini bermanfaat bagi semua pihak.

Bandar Lampung, 4 Desember 2018 Penulis,

(11)

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Tujuan Penelitian ... 7

C. Kegunaan Penelitian ... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka ... 9

1. Konsep Peranan ... 9

2. Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) ... 11

3. Pemberdayaan Petani ... 18

4. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Peranan ... 19

a. Faktor Internal ... 19

1) Tercapainya Tujuan ... 19

2) Sifat Kekosmopolitan ... 20

3) Motivasi Kerja ... 21

4) Tingkat Pendidikan ... 22

5) Ketersediaan Sarana dan Prasarana ... 23

b. Faktor Eksternal ... 24

1) Jumlah Petani Binaan ... 24

2) Sistem Penghargaan ... 25

B. Kajian Penelitian Terdahulu ... 26

C. Kerangka Pemikiran ... 28

(12)

III. METODE PENELITIAN

A. Definisi Operasional Variabel, Pengukuran dan Klasifikasi ... 34

1. Variabel Bebas (X) ... 34

2. Variabel Terikat (Y) ... 39

B. Lokasi, Waktu, dan Responden Penelitian ... 46

C. Metode Penellitian dan Pengumpulan Data ... 48

D. Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 49

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Kabupaten Lampung Tengah ... 52

1. Keadaan Geografis ... 52

2. Keadaan Iklim ... 52

3. Keadaan Penduduk ... 53

4. Gambaran Umum Pertanian ... 54

B. Gambaran Umum P4S di Kabupaten Lampung Tengah ... 55

1. P4S Mitra Tani Mandiri ... 57

a. Lokasi P4S Mitra Tani Mandiri ... 57

b. Profil P4S Mitra Tani Mandiri ... 57

c. Sumberdaya Manusia (SDM) P4S Mitra Tani Mandiri ... 59

d. Struktur Organisasi P4S Mitra Tani Mandiri ... 61

2. P4S Sama Maju ... 62

a. Lokasi P4S Sama Maju ... 62

b. Profil P4S Sama Maju ... 63

c. Sumberdaya Manusia (SDM) P4S Sama Maju ... 64

d. Struktur Organisasi P4S Sama Maju ... 65

3. P4S Ras Andani ... 67

a. Lokasi P4S Ras Andani ... 67

b. Profil P4S Ras Andani ... 67

c. Sumberdaya Manusia (SDM) P4S Ras Andani ... 68

d. Struktur Organisasi P4S Ras Andani ... 69

4. P4S Budidaya ... 70

a. Lokasi P4S Budidaya ... 70

b. Profil P4S Budidaya ... 71

c. Sumberdaya Manusia (SDM) P4S Budidaya ... 71

d. Struktur Organisasi P4S Budidaya ... 72

V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Faktor-Faktor Internal yang Berhubungan dengan Peranan P4S dalam Pemberdayaan Petani di Kabupaten Lampung Tengah 74 1. Sifat Kekosmopolitan Fasilitator (X1) ... 74

2. Motivasi Kerja Fasilitator (X2) ... 77

(13)

P4S dalam Pemberdayaan Petani di Kabupaten Lampung Tengah 82

1. Jumlah Petani Binaan (X4) ... 82

2. Sistem Penghargaan (X5) ... 84

C. Deskripsi Peranan P4S dalam Memberdayakan Petani di Kabupaten Lampung Tengah (Variabel Y) ... 86

1. Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan, serta Membentuk Sikap Positif Petani terhadap Perkembangan Teknologi... 87

2. Menyebarkan Informasi dan Membimbing Penerapan Teknologi Kepada Petani ... 89

3. Mengembangkan Model Pembelajaran melalui Percontohan Usahatani ... 92

4. Membantu Penyuluh Pertanian Menyampaikan Rekomendasi/ Anjuran, Umpan Balik Penerapan Teknologi, Permasalahan, dan Upaya Pemecahan Masalahnya ... 95

5. Meningkatkan dan mengembangkan Kepemimpinan dan Kemandirian Petani ... 99

6. Menumbuhkembangkan Jejaring Kerja dan Kerjasama ... 102

D. Pengujian Hipotesis... 108

1. Faktor Internal P4S ... 108

a) Hubungan antara Sifat Kekosmopolitan Fasilitator dengan Peranan P4S dalam Memberdayakan Petani di Kabupaten Lampung Tengah ... 109

b) Hubungan antara Motivasi Kerja Fasilitator dengan Peranan P4S dalam Memberdayakan Petani di Kabupaten Lampung Tengah ... 110

c) Hubungan antara Ketersediaan Sarana dan Prasarana dengan Peranan P4S dalam Memberdayakan Petani di Kabupaten Lampung Tengah ... 111

2. Faktor Eksternal P4S ... 112

a) Hubungan antara Jumlah Petani Binaan dengan Peranan P4S dalam Memberdayakan Petani di Kabupaten Lampung Tengah ... 113

b) Hubungan antara Sistem Penghargaan dengan Peranan P4S dalam Memberdayakan Petani di Kabupaten Lampung Tengah ... 115

VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 116

B. Saran ... 116 DAFTAR PUSTAKA

(14)

Tabel Halaman

1. P4S yang terdaftar di Provinsi Lampung ... 4

2. Nama dan Klasifikasi P4S di Kabupaten Lampung Tengah ... 5

3. Ringkasan Penelitian Terdahulu ... 26

4. Pengukuran variabel bebas faktor internal ... 36

5. Pengukuran variabel bebas faktor eksternal ... 39

6. Pengukuran variabel terikat peranan P4S ... 42

7. Jumlah fasilitor dan petani sampel setiap wilayah binaan P4S di Kabupaten Lampung Tengah ... 48

8. Keadaan penduduk di Kabupaten Lampung Tengah tahun 2017.... 53

9. Distribusi penggunaan lahan di Kabupaten Lampung Tengah ... 54

10. P4S di Kabupaten Lampung Tengah . ... 56

11. Data fasilitator P4S Mitra Tani Mandiri ... 61

12. Daftar kelompok tani mitra penangkar benih padi P4S Sama Maju 63 13. Pemasaran benih padi P4S Sama Maju ... 64

14. Data fasilitator P4S Sama Maju ... 65

15. Data fasilitator P4S Ras Andani ... 69

16. Data fasilitator P4S Budidaya ... 72

17. Sebaran sifat kekosmopolitan fasilitator P4S di Kabupaten Lampung Tengah ... 75

18. Sebaran motivasi kerja fasilitator P4S di Kabupaten Lampung Tengah ... 77

19. Sebaran ketersediaan sarana dan prasarana P4S di Kabupaten Lampung Tengah ... 80

20. Sebaran jumlah petani binaan P4S di Kabupaten Lampung Tengah 83 21. Sebaran sistem penghargaan P4S di Kabupaten Lampung Tengah ... 84

22. Sebaran peranan P4S dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta membentuk sikap positif petani terhadap perkembangan teknologi di Kabupaten Lampung Tengah ... 87

23. Sebaran peranan P4S dalam menyebarkan informasi dan membimbing penerapan teknologi kepada petani di Kabupaten Lampung Tengah ... 90

(15)

menyampaikan rekomendasi/anjuran, umpan balik penerapan teknologi, permasalahan, dan upaya pemecahan masalahnya

di Kabupaten Lampung Tengah ... 96 26. Sebaran peranan P4S dalam meningkatkan dan mengembangkan

kepemimpinan dan kemandirian petani di Kabupaten Lampung

Tengah ... 100 27. Sebaran peranan P4S dalam menumbungkembangkan jaringan

kerja dan kerjasama di Kabupaten Lampung Tengah ... 102 28. Rekapitulasi Peranan P4S dalam Memberdayakan Petani di

Kabupaten Lampung Tengah ... 107 29. Hasil analisis korelasi Rank Spearman antara faktor internal

dan peranan P4S dalam pemberdayaan petani di Kabupaten

Lampung Tengah ... 108 30. Hasil analisis korelasi Rank Spearman antara faktor eksternal dan

peranan P4S dalam pemberdayaan petani di Kabupaten

Lampung Tengah ... 113 31. Identitas Responden Fasilitator P4S di Kabupaten Lampung Tengah 118 32. Identitas Responden Petani P4S di Kabupaten Lampung Tengah... 119 33. Skor Variabel X (Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Peranan

P4S dalam Memberdayakan Petani di Kapubaten Lampung Tengah) 122 34. Skor Variabel Y (Peranan P4S dalam Pemberdayaan Petani di

Kabupaten Lampung Tengah) Menurut Fasilitator ... 123 35. Skor Variabel Y (Peranan P4S dalam Pemberdayaan Petani di

Kabupaten Lampung Tengah) Menurut Petani Binaan ... 124 36. Skor Variabel Y (Peranan P4S dalam Pemberdayaan Petani di

Kabupaten Lampung Tengah) menurut fasilitator dan petani binaan

masing-masing per lembaga P4S ... 126 37. Hasil MSI X (Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Peranan

P4S dalam Memberdayakan Petani di Kapubaten Lampung Tengah) 132 38. Hasil MSI Variabel Y (Peranan P4S dalam Pemberdayaan Petani di

Kabupaten Lampung Tengah) menurut fasilitator dan petani binaan

masing-masing... 134 39. Data jumlah petani binaan P4S di Kabupaten Lampung Tengah ... 146 40. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Peranan P4S

(16)

Gambar Halaman

1. Kerangka berpikir hubungan faktor internal dan faktor eksternal dengan peranan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) dalam memberdayakan petani di Kabupaten Lampung

Tengah ... 32 2. Bentuk struktur organisasi dan kepengelolaan P4S Mitra Tani

Mandiri ... 61 3. Bentuk struktur organisasi dan kepengelolaan P4S Sama Maju .... 66 4. Bentuk struktur organisasi dan kepengelolaan P4S Ras Andani .... 69 5. Bentuk struktur organisasi dan kepengelolaan P4S Budidaya ... 72 6. Suasana penyuluhan dan pelatihan budidaya jamur yang dilakukan

P4S Mitra Tani Mandiri ... 88 7. Kegiatan pertemuan yang dilakukan P4S Ras Andani ... 91 8. Praktek dan bimbingan lapang tentang budidaya jamur yang

dilakukan P4S Mitra Tani Mandiri ... 94 9. Sebagian proses pembenihan padi di P4S Sama Maju ... 94 10. Produk jamur P4S Mitra Tani Mandiri dan hasil olahannya berupa

sate jamur ... 97 11. Fasilitator P4S Sama Maju menanyakan keluhan ke petani binaan 98

12. Kunjungan BPP Provinsi Lampung dan PPL Kecamatan Terbanggi Besar ke P4S Budidaya ... 99

13. P4S Sama Maju sebagai penyedia benih padi ... 101

14. Siswa SMA N 1 Sendang Agung mengunjungi Ketua dan

fasilitator P4S Mitra Tani Mandiri ... 104

15. Kunjungan studi banding siswa SMK Pertanian Alam Nusantara

ke P4S Ras Andani ... 104 16. Fasilitator P4S Mitra Tani Mandiri bersama dengan petani mitra

(17)

A. Latar Belakang dan Masalah

Sektor pertanian memegang peranan dalam upaya pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian dilaksanakan dalam rangka memenuhi kebutuhan rakyat akan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, meningkatkan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, serta membantu memantapkan swasembada pangan. Peran penting sektor pertanian dalam pembangunan pertanian tidak terlepas dari peranan sumberdaya manusia. Pentingnya andil masyarakat tani yang lebih banyak bekerja dan berdomisili di daerah perdesaan menjadikan sektor pertanian mampu menjadi penopang utama sumber kehidupan dan penghidupan bagi mereka.

(18)

mampu berbuat, memahami serta mengaplikasikan dalam berbagai kegiatan pembangunan.

Pemberdayaan masyarakat tani tidak semata-mata menjadi tugas dan

tanggung jawab pemerintah saja, melainkan menjadi tanggungjawab bersama. Secara nyata pemberdayaan masyarakat tani telah dilakukan melalui kegiatan proses belajar mengajar antara sesama petani. Kegiatan ini merupakan bentuk konkrit partisipasi petani dalam mengembangkan sumberdaya manusia pertanian (Kementan, 2014).

Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi sumberdaya alam yang besar untuk dikembangkan pada sektor pertanian. Sektor pertanian meliputi beberapa bidang usaha, sektor pertanian atau subsektor tanaman pangan/palawija, hortikultura, perkebunan,

kehutanan, peternakan, perikanan, dan jasa pertanian. Berdasarkan data penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2016), sektor pertanian merupakan lapangan pekerjaan utama bagi mayoritas penduduk yang bekerja yaitu sebesar 48,25% dari 9.549.079 jiwa.

Banyaknya jumlah penduduk yang bekerja dalam sektor pertanian, maka penting adanya suatu usaha pemerintah dalam memberdayakan masyarakat tani agar mampu melakukan usaha pertanian yang memiliki daya saing dan meningkatnya nilai tambah yang dapat meningkatkan kesejahteraan

(19)

oleh pemerintah, baik dari Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) pelatihan pemerintah pusat dan juga daerah. Namun, pada kenyataannya program-program tersebut belum cukup dalam mengembangkan keterampilan

masyarakat petani dalam upaya meningkatkan daya saing dan kesejahteraan rumah tangga petani. Oleh sebab itu, beberapa kelompok masyarakat tani mengembangkan lembaga mandiri masyarakat yang dapat berperan dalam memberdayakan masyarakat petani dengan memberikan pelatihan atau permagangan dan mempercepat penyebarluasan serta penerapan teknologi tepat guna bagi petani dan masyarakat di wilayah dan lingkungan sekitarnya.

(20)
[image:20.595.136.497.111.283.2]

Tabel 1. P4S yang terdaftar di Provinsi Lampung

No Kota/Kabupaten Klasifikasi Kelas P4S Jumlah P4S Pemula Madya Utama

1 Lampung Barat 2 1 - 3

2 Tanggamus 7 - - 7

3 Pesawaran 6 - - 6

4 Lampung Selatan 3 2 - 5

5 Metro 5 2 - 7

6 Lampung Tengah 2 1 1 4

7 Lampung Timur 6 1 - 7

8 Bandar Lampung 1 1 - 2

9 Pringsewu 3 2 - 5

10 Lampung Utara 4 1 - 5

Sumber : Balai Pelatihan Pertanian Provinsi Lampung, 2017

Penentuan klasifikasi kelas yang diperoleh P4S dilakukan oleh tim klasifikasi dari Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Provinsi Lampung melalui penilaian atas pelaksanaan kegiatan usaha P4S yang telah didaftar dengan nilai

kumulatif skor penilaian berdasarkan kriteria yang harus dipenuhi antara lain sarana dan prasarana, kelembagaan, penyelenggaraan pelatihan atau

permagangan, ketenagaan, dan pengembangan usaha dan jejaring kerjasama. Kelas-kelas pada P4S terdiri dari:

1. Kelas pemula, dengan perolehan skor penilaian 31,75–63,50. 2. Kelas madya, dengan perolehan skor penilaian 63,50–81,00. 3. Kelas utama, dengan peolehan skor penilaian 81,00–95,25.

Kabupaten Lampung Tengah memiliki empat lembaga P4S yang

(21)
[image:21.595.139.522.235.477.2]

Kabupaten Lampung Tengahdengan kelas “utama”tahun 2014, diikuti dengan P4S Mitra Tani Mandiri yang memperoleh predikat kelas “madya” pada penentuan klasifikasi P4S tahun 2016. Nama dan klasifikasi kelas P4S di Kabupaten Lampung Tengah dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Nama dan Klasifikasi P4S di Kabupaten Lampung Tengah

No Nama P4S Lokasi P4S Komoditas

Unggulan

Kelas P4S 1 Mitra Tani

Mandiri

Desa V Tanjung Harapan, Kecamatan Bangun Rejo Agribisnis jamur, budidaya jagung, pembuatan pupuk organik Madya

2 Sama Maju Desa

Astomulyo, Kecamatan Punggur

Pembenihan padi Utama

3 Ras Andani Desa Onoharjo, Kecamatan Terbanggi Besar

Budidaya ikan air tawar (gurame, nila, lele)

Pemula

4 Budidaya Desa Karang

Endah Kecamatan Terbanggi Besar

Peternak, penggemukan sapi potong, padi sawah

Pemula

Sumber : Balai Pelatihan Pertanian Provinsi Lampung, 2017

(22)

meningkat, serta pengembangan berbagai usaha dan jejaring kerja yang dilakukan.

Pada umumnya, sebagian besar petani di Kabupaten Lampung Tengah hanya tamatan SD (sekolah dasar), sehingga terkadang kesulitan mengadopsi inovasi teknologi yang berguna untuk mengembangkan usahataninya (BPS Kabupaten Lampung Tengah, 2017). Selain itu, mereka hanya bertumpu pada satu kegiatan usahatani dan mengandalkannya dalam mencari pendapatan untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Rendahnya tingkat pendidikan petani tersebut menjadikan pelatihan usahatani yang ditawarkan P4S seperti budidaya jamur oleh P4S Mitra Tani Mandiri, pembibitan padi dan pembuatan pupuk organik oleh P4S Sama Maju, dan lain-lain merupakan salah satu usahatani yang dapat dicontoh dan dilakukan untuk menunjang pendapatan tambahan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, kelembagaan P4S ini penting dikembangkan dalam rangka memberikan peningkatan keterampilan serta pengetahuan yang lebih

(23)

di bidang pertanian/agribisnis di tingkat petani dan masyarakat pedesaan meningkat secara perlahan.

Berdasarkan uraian tersebut, adapun rumusan masalah yang dapat diteliti adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah peranan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) dalam memberdayakan petani di Kabupaten Lampung Tengah? 2. Apa sajakah faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan Pusat

Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) dalam memberdayakan petani di Kabupaten Lampung Tengah?

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengkaji peranan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) dalam memberdayakan petani di Kabupaten Lampung Tengah.

2. Mengkaji faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) dalam memberdayakan petani di Kabupaten Lampung Tengah.

C. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai :

(24)

2. Bahan pertimbangan dan merangsang petani untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilannya dalam bidang pertanian.

(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

A. Tinjauan Pustaka

1. Konsep Peranan

Pengertian peranan berasal dari kata peran yang artinya pemain, perangkat

tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam

masyarakat. Peranan dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah tindakan yang

dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa (Tim Pena, 2000).

Peranan (role) merupakan proses dinamis kedudukan (status). Apabila

seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya

maka seseorang itu telah menjalankan suatu peranan. Perbedaan antara

kedudukan dan peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan dimana

keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan karena yang satu tergantung pada

yang lain begitu juga sebaliknya (Soekanto, 2009).

Lebih lanjut Soekanto (2009) mengatakan bahwa peranan merupakan pola

perilaku yang dikaitkan dengan status/kedudukan sebagai pola perilaku.

Peranan melekat pada diri seseorang sesuai dengan status dan kedudukannya

di masyarakat sebagai pola perilaku, peranan mempunyai beberapa unsur

(26)

1. Peranan ideal sebagaimana dirumuskan/diharapkan oleh masyarakat

terhadap status tertentu. Ideal tersebut merumuskan hak-hak dan

kewajibannya yang terkait pada status tertentu.

2. Peranan yang dianggap oleh diri sendiri. Peranan ini merupakan hal yang

oleh individu harus dilakukan pada situasi tertentu.

3. Peranan yang dilaksanakan/dikerjakan. Ini merupakan peranan yang

sesungguhnya dilaksanakan oleh individu di dalam kenyataannya yang

terwujud dalam pola perikelakuan yang nyata. Peranan ini senantiasa

dipengaruhi oleh kepribadian yang bersangkutan.

Menurut Sayogya (1985), peranan adalah pola kebudayaan yang berhubungan

dengan posisi atau kedudukan tertentu yang mencakup nilai dan perilaku

seseorang yang diharapkan oleh masyarakat pada kedudukan tertentu. Lebih

lanjut, terdapat beberapa konsep peranan, yaitu :

1. Role presciption

Rumusan tertulis harus dilakukan seseorang yang mempunyai kedudukan

tertentu dalam sistem sosialnya.

2. Role perception

Peranan seseorang terhadap peranan yang harus dilakukannya berdasarkan

peranan yang telah dirumuskan.

3. Role performance

Peranan yang dapat diperagakan oleh seseorang sehubungan dengan

kedudukannya yang berdasarkan atas persepsinya terhadap peranannya

(27)

4. Role expection

Peranan seseorang sesuai dengan kedudukannya yang diharapkan oleh

pihak lain, dapat dilakukan untuk kepentingan pihak lain.

2. Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S)

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 3/Permentan/PP.410/1/2010

tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Pelatihan Pertanian Swadaya,

P4S atau Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya merupakan lembaga

pelatihan di bidang pertanian pedesaan yang didirikan, dikelola dan dimiliki

oleh petani secara swadaya, baik perorangan maupun kelompok. Hal ini

menunjukkan perwujudan kemandirian di bidang pelatihan pertanian, yang

didukung oleh sumber daya manusia yang profesional, inovatif, kreatif dan

berwawasan global.

Pusat pelatihan pertanian dan pedesaan swadaya (P4S) yang terbentuk dari,

oleh dan untuk petani lebih menekankan pada kemandirian dan

pemberdayaan serta keswadayaan potensi petani. Proses penumbuhan P4S

merupakan serangkaian kegiatan untuk memotivasi dan mendorong

terbentuknya P4S melalui berbagai kegiatan bimbingan dan pelatihan.

Adapun indikator atau kriteria yang harus dipenuhi oleh P4S untuk dibina

dalam upaya memberdayakan masyarakat tani adalah sebagai berikut:

1. Sarana dan prasarana

Pengembangan sarana dan prasarana ditempuh melalui pemenuhan

(28)

minimal. Sarana dan prasarana tersebut terdiri atas kesekretariatan, proses

belajar-mengajar, dan tempat yang layak untuk melaksanakan pelatihan/

permagangan.

2. Kelembagaan

Pengembangan kelembagaan P4S ditempuh melalui manajemen dan

administrasi yang menunjang kapasitasnya dalam penyelenggaraan dan

atau pelaksanaan pelatihan/permagangan bagi petani dan pengguna jasa

lain.

3. Ketenagaan

Pengembangan kapasitas ketenagaan P4S ditempuh melalui pelatihan bagi

pengelola, pelatih/fasilitator, dan sumberdaya manusia lainnya yang

berkompeten.

4. Penyelenggaraan atau pelaksanaan pelatihan/permagangan

Pengembangan penyelenggaraan atau pelaksanaan pelatihan/permagangan

dilakukan melalui pelatihan, bimbingan, dan konsultasi secara sistematis

dan berkelanjutan.

5. Pengembangan usaha dan jejaring kerja

Pengembangan usaha dilakukan melalui peningkatan skala usaha,

teknologi, dan diversifikasi produk serta pemasaran. Pengembangan

jejaring kerja meliputi jejaring kerja usaha dan jejaring kerja

pelatihan/permagangan. Pengembangan jejaring kerja usaha dapat

dilakukan dengan memanfaatkan peluang kerjasama dengan berbagai

mitra usaha pengelola P4S. Pengembangan jejaring kerja

(29)

kerjasama antar sesama P4S, maupun dengan kelembagaan

pelatihan/permagangan lainnya.

P4S sebagai kelembagaan pelatihan pertanian berperan aktif dalam

pembangunan pertanian melalui pengembangan sumberdaya manusia

pertanian dalam bentuk pelatihan/permagangan bagi petani dan masyarakat di

wilayah dan lingkungan sekitarnya. P4S memiliki peran yang sangat strategis

dalam mempercepat penyebarluasan dan penerapan teknologi tepat guna di

kalangan petani dan masyarakat pedesaan. P4S juga ikut berperan serta dalam

proses pembangunan pertanian dan pedesaan dengan menjalankan fungsinya

sebagai lembaga pelatihan dan permagangan.

Adapun peranan dari P4S dalam memberdayakan masyarakat tani menurut

Abbas (1997) dalam tulisan berjudul “Peran Pusat Pelatihan Pertanian dan

Perdesaan Swadaya (P4S) dalam Mencerdaskan Petani” adalah sebagai

berikut:

a. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta membentuk sikap

positif petani terhadap perkembangan teknologi yang berorientasi

agribisnis dan berbasis kearifan lokal.

b. Menyebarkan dan menyampaikan informasi teknologi yang berorientasi

agribisnis kepada petani dan pelaku usaha pertanian di pedesaan, serta

membimbing penerapan teknologi kepada petani dengan metode belajar

melalui bekerja, baik kepada petani perorangan maupun petani anggota di

(30)

c. Mengembangkan model pembelajaran melalui percontohan usahatani,

seperti demplot, demfarm, demarea, dan demunit di lahan P4S dan/atau di

lahan sekitarnya.

d. Membantu penyuluh pertanian menyampaikan rekomendasi/anjuran

kepada petani dan menyampaikan umpan balik penerapan teknologi,

permasalahan, dan upaya pemecahan masalahnya kepada lembaga

penelitian atau perguruan tinggi melalui penyuluh pertanian.

e. Meningkatkan dan mengembangkan kepemimpinan dan kemandirian

petani melalui pelatihan kewirausahaan yang berbasis moral etika dan

pelatihan lainnya.

f. Menumbuhkembangkan jejaring kerja dan kerjasama dengan berbagai

sumber-sumber teknologi, pemasaran, dan permodalan dalam rangka

pelayanan informasi, konsultasi, dan fasilitasi pemenuhan kebutuhan

petani di wilayah pedesaan.

P4S yang ada di masyarakat tidak tumbuh dengan sendirinya, untuk itu perlu

strategi penumbuhan dan pengembangan P4S sebagai berikut:

1. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh-kembangnya P4S.

2. Mengembangkan kelembagaan P4S menjadi lembaga penyelengara

pelatihan pertanian yang andal.

3. Meningkatkan kemampuan pengelola P4S sebgai penyelengara pelatihan

pertanian yang professional.

4. Mengembangkan sarana dan prasarana P4S sesuai standar yang berlaku.

5. Meningkatkan jejaring kerja P4S dengan pemangku kepentingan.

(31)

Selain strategi, dalam penumbuhan dan pengembangan P4S yang perlu

perhatikan bahwa P4S yang kita bentuk memilki atau mengandung azas-azas

yang telah ditetapkan dalam pengelolaan P4S. Azas yang harus dipenuhi

dalam penumbuhan dan pengembangan P4S sebagai berikut:

1. Azas keswadayaan

P4S dikembangkan dengan tetap menjaga kemandirian melalui

kemampuan memecahkan sendiri masalah yang diharapkan baik maslah

teknis, sosial maupun ekonomi.

2. Azas demokrasi

Dalam melaksanakan setiap kegiatan, pengelola P4S dan penguna jasa

mengadakan kesepakatan dan keterlibatan bersama secara aktif.

3. Azas kekeluargaan

P4S yang tumbuh dan kembang sebagai suatu kesatuan keluarga yang utuh

menjalin kekerabatan antara pengelola dengan peserta yang mengikuti

pelatihan

4. Azas manfaat

Keberadaan P4S dapat memberikan Manfaat sebagai ma-syarakat

sekitarnya.

5. Azas keterpaduan

Penumbuhan dan pengembangan P4S merupakan bagian integral dari

pembangunan pertanian, sehingga terjadi keselarasan dan keserasian.

Terdapat enam prinsip dalam penumbuhan dan pengembangan P4S yaitu

(32)

1. Pinsip kerakyatan dan keberpihakan

Penumbuhan dan pengembangan P4S, dilakukan dari, oleh dan untuk

petani serta ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan

kekeluarganya dengan memanfaatkan sumber daya mereka miliki secara

optimal.

2. Prinsip kemandirian

Prinsip kemandirian dimaksudkan untuk mendorong tumbuh kembangnya

keswadayaan dibidang agribinis, sehingga tidak tergantung kepada

pemerintah dan pihak lainya.

3. Prinsip kemitraan dan kerjasama

Dalam pengembangan P4S dipandang sebagai tenaga kerja pemerintah

yang sejajar dalam melakukan pembinaan dan bimbingan kepada

petani/masyarakat yang dilaksanakan secara petani/masyarakat yang

dilaksanakan secara transparan dan saling, menguntungkan.

4. Prinsip integrasi dan sinergi

Penumbuhan dan pengembangan P4S merupakan bagian integral dari

pembangunan pertanian dan pembangunan wilayah.

5. Prinsip bertahap dan berkelanjutan

Penumbuhan pengembangan P4S dilaksanakan secara bertahap sesuai

dengan kemampuan dan kondisi setempat yang didasarkan pada suatu

perencanaan berkesenambungan.

6. Prinsip pengembangan usaha

Penumbuhan dan pengembangan P4S berbanding lurus dengan

(33)

Pengembangan P4S ini dilakukan secara bertahap dengan melihat dan

memperhatikan aspek-aspek yang menjadi sasaran dalam pengembangan.

Aspek pengembangan P4S terdiri dari :

1. Pengembangan kelembagaan

Pengembangan kelembagaan P4S ditempuh melalui pengembangan

organisasi, manajeman dan administrasi dalam bentuk pelatihan,

bimbingan dan konsultasi secara berkala, bertahap dan berjenjang.

2. Pengembangan sarana dan prasarana

Pengembangan sarana dan prasarana ditempuh melalui pemenuhan

kelengkapan P4S sesuai standar.

3. Pengembangan ketenagaan

Pengembangan ketenagaan P4S ditempuh melalui pengembangan kualitas

pengetahuan, keterampilan dan sikap sumber daya manusia pengelola,

pelatih/instruktur, dan sumberdata manusia P4S lainnya.

4. Pengembangan penyelenggaraan

Pengembangan penyelenggaraan P4S ditempuh melalui pelatihan,

bimbingan dan konsultasi dalam segi manajemen, metodologi, monitoring

dan evaluasi pelatihan.

5. Pengembangan jejaring kerja

Pengembangan jejaring kerja ditempuh melalui kegiatan pelatihan,

bimbingan dan konstultasi dalam segi mengindentifikasi, menganalisis,

(34)

3. Pemberdayaan Petani

Menurut Slamet (2001), istilah “berdaya” diartikan sebagai tahu, mengerti,

faham, termotivasi, berkesempatan melihat peluang, berenergi, mampu

bekerjasama, tahu berbagai alternatif, mampu mengambil resiko, mampu

mencari dan menangkap informasi, mampu bertindak sesuai situasi.

Pemberdayaan masyarakat tidak lain adalah memberikan motivasi dan

dorongan kepada masyarakat agar mampu menggali potensi dirinya dan

berani bertindak memperbaiki kualitas hidupnya, melalui cara antara lain

dengan pendidikan untuk penyadaran dan pemampuan diri mereka.

Pemberdayaan masyarakat petani adalah upaya–upaya yang dilakukan dalam

rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga secara

mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usaha secara

berkelanjutan. Dimensi pemberdayaan petani meliputi peningkatan

pengetahuan dan kemampuan petani melalui penyuluhan dan pelatihan,

pengembangan jaringan usaha melalui kerjasama, koordinasi dan komunikasi,

serta peningkatan peran pembinaan melalui motivasi, fasilitasi, dan

bimbingan teknis (Pambudy dan Adhy, 2001).

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 30 Tahun 2010 tentang

Pedoman Pembinaan Pelatihan Pertanian Swadaya, pemberdayaan

masyarakat tani adalah proses perubahan pola pikir, perilaku dan sikap petani

dari subsistem tradisional menjadi petani modern berwawasan agribisnis

(35)

meliputi tiga aspek, yaitu: 1) pemberdayaan sumber daya manusia petani; 2)

pemberdayaan kelembagaan petani; dan 3) pemberdayaan usahatani.

Petani yang berdaya, menurut Susetiawan (2000) adalah petani yang secara

politik dapat mengartikulasikan (menyampaikan perwujudan)

kepentingannnya, secara ekonomi dapat melakukan proses tawar menawar

dengan pihak lain dalam kegiatan ekonomi, secara sosial dapat mengelola

mengatur komunitas dan mengambil keputusan secara mandiri, dan secara

budaya diakui eksistensinya.

4. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Peranan

a. Faktor Internal

1) Tercapainya tujuan

Menurut Gillin dan Gillin dalam karyanya berjudul General Features of

Social Institution dikutif oleh Soekanto (1990), lembaga

kemasyarakatan adalah organisasi pola-pola pemikiran dan pola-pola

perilaku yang terwujud melalui aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan

hasil-hasilnya. Lembaga kemasyarakatan mempunyai satu atau

beberapa tujuan tertentu. Tujuan suatu lembaga adalah tujuan pula bagi

golongan masyarakat tertentu dan golongan masyarakat bersangkutan

akan berpegang teguh padanya. Peranan lembaga akan diketahui jika

tujuan dari lembaga tersebut telah tercapai. Lembaga mempunyai

alat-alat pelengkap yang dipergunakan untuk mencapai tujuan lembaga

(36)

2) Sifat kekosmopolitan

Menurut Rogers dan Shoemaker (1987), sifat kekosmopolitan dapat

menjadikan seseorang lebih terbuka terhadap hal-hal baru dengan sifat

itu seseorang dapat melihat kebutuhan dan masalah-masalah yang ada

pada sistem sosialnya. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan

lingkungan di luar sistem sosialnya akan menambah pengalaman

seseorang.

Sifat kekosmopolitan menurut Mardikanto (1991) adalah tingkat

hubungan seseorang dengan dunia luar di luar sistem sosialnya sendiri.

Kekosmopolitan seseorang dapat dicirikan oleh frekuensi dan jarak

perjalanan yang dilakukan, serta pemanfaatan media massa. Bagi

warga masyarakat yang lebih kosmopolit, adopsi inovasi dapat

berlangsung lebih cepat. Tetapi bagi yang localite (tertutup,

terkungkung di dalam sistem sosialnya sendiri), proses adopsi inovasi

akan berlangsung sangat lambat karena tidak adanya

keinginan-keinginan baru untuk hidup lebih baik seperti yang telah dapat

dinikmati oleh orang-orang lain di luar sistem sosialnya sendiri.

Hubungan sifat kekosmopolitan dengan peranan lembaga pertanian

umumnya memiliki keterkaitan. Anggota lembaga pertanian yang

memiliki sifat kekosmpolitan tinggi cenderung lebih memiliki kapasitas

belajar yang tinggi daripada anggota yang kapasitas belajarnya masih

tertutup (localite). Dengan sifat kekosmpolitan yang tinggi dapat

(37)

yang tentunya berguna bagi perkembangan usahatani. Apabila tingkat

pengetahuan anggota lembaga pertanian tinggi, maka mereka akan

memberikan kontribusi yang baik untuk perkembangan

kelembagaannya. Selanjutnya, peranan mereka terhadap perkembangan

lembaga di lingkungan sosial mereka akan semakin meningkat pula

(Mardikanto, 1991).

3) Motivasi kerja

Setiap individu cenderung melakukan sesuatu karena dilatarbelakangi

oleh tingkat motivasinya. Tingkat motivasi sangat dipengaruhi oleh

motif yang berlandaskan pada sejauhmana kebutuhannya dapat

terpenuhi. Jadi seorang fasilitator/penyuluh pertanian yang mempunyai

motivasi tinggi akan berdampak pada peranan yang tinggi pula dalam

menjalankan tugas-tugas yang dibebankan oleh lembaga atau organisasi

(Slamet, 2001).

Makmum (2003), meyatakan bahwa indikator pengukuran motivasi

dilihat dari delapan indikator yaitu sebagai berikut.

a) Durasi kegiatan adalah lama waktu yang digunakan seorang

penyuluh pada saat melaksanakan satu kegiatan penyuluhan.

b) Frekuensi kegiataan adalah banyaknya kegiatan pertemuan yang

dilakukan penyuluh di luar kegiatan penyuluhan.

c) Persistensi adalah kesesuaian atau ketetapan kegiatan penyuluhan

yang dengan tujuan yang telah dibuat.

d) Devosi (pengabdian) atau pengorbanan adalah pengorbanan seorang

(38)

melaksanakan tugasnya sebagai seorang penyuluh dan pada saat

melakukan kegiatan penyuluhan.

e) Ketabahan, keuletan, dan kemauan adalah usaha penyuluh dalam

menghadapi kesulitan pada saat melaksanakan tugastugasnya.

f) Tingkatan aspirasi adalah rencana dan cita-cita seorang penyuluh

saat melaksanakan tugasnya yang mengacu pada pencapaian tujuan.

g) Tingkat kualifikasi dari prestasi adalah produk atau output yang

dicapai dari kegiatannya.

h) Sikap penyuluh terhadap sasaran adalah arah sikap penyuluh yang

membimbing dan optimis terhadap petani binaannya.

4) Tingkat pendidikan

Irianto (1978, dalam Sukarlinawati, 2004) mengemukakan bahwa

tingkat pendidikan memepengaruhi kemampuan berpikir anggota suatu

organisasi/lembaga, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan

semakin mengerti untuk menjalankan tugas dan peran dalam kegiatan

organisasi/lembaga, serta lebih mudah dalam menyampaikan hal-hal

yang bermanfaat saat pembinaan yang akhirnya akan semakin

mempengaruhi peranan anggota tersebut dalam organisasi/lembaga

yang diikutinya.

Menurut Slamet (2001), hakekat pendidikan adalah untuk

meningkatkan kemampuan manusia agar dapat mempertahankan

bahkan memperbaiki mutu keberadaannya agar menjadi semakin baik.

(39)

pengetahuan, sikap dan keterampilan, efisien bekerja dan semakin

banyak tahu cara-cara dan teknis bekerja yang lebih baik dan lebih

menguntungkan. Pendidikan formal yang diikuti seoranganggota dapat

mempengaruhi peranannya dalam suatu lembaga/organisasi, karena

dengan pendidikan formal seorang anggota dapat meningkatkan

peranannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

5) Ketersediaan sarana dan prasarana

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi peranan suatu lembaga/

organisasi pertanian dalam memberikan penyuluhan atau pelatihan

kepada petani adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai.

Slamet (2001) mengatakan bahwa melemahnya kemampuan seorang

penyuluh/fasilitator dapat pula disebabkan oleh kurangnya sarana dan

prasarana untuk menjangkau petani. Upaya perubahan usahatani yang

disampaikan oleh penyuluh/fasilitator kepada petani bergantung pada

ketersediaan sarana dalam bentuk jumlah, mutu, dan waktu yang tepat.

Jika sarana ini tersedia, maka keberhasilan penyuluh/fasilitator akan

tercapai.

Menurut Kartasapoetra (1994), agar kegiatan penyuluhan dan pelatihan

pertanian dapat berjalan dengan lancar, maka diperlukan sarana dan

fasilitas kerja antara lain: a) ketersediaan fasilitas seperti lahan demplot,

listrik, internet, telepon untuk menunjang kegiatan praktik penyuluhan,

pengujian dan percontohan, b) mobilitas menuju lokasi yang berfungsi

(40)

lokasi penyuluhan atau wilayah binaan, c) perlengkapan dalam

melakukan kegiatan penyuluhan dan pelatihan yang berupa leaflet,

brosur dan buku-buku yang berkaitan dengan pertanian, d)

dana/pembiayaan kegiatan penyuluhan dan pelatihan pertanian sebagai

penunjang bagi penyuluh untuk keperluan dan pelaksanaan tugas atau

kegiatan penyuluhan dan pelatihan.

Dalam hasil penelitian Larasati (2015), untuk meningkatkan kapasitas

kelembagaan pelatihan/penyuluhan dan peranan penyuluh/fasilitator,

diperlukan sarana dan prasarana pendampingan yang memadai agar

penyuluhan dan pelatihan dapat diselenggarakan dengan efektif dan

efisien. Ketersediaan sarana dan prasarana yang ada dapat memberikan

kelancaran dalam proses pendampingan bagi kelompok tani.

b. Faktor Eksternal

1) Jumlah petani binaan

Jumlah petani yang dibina juga erat kaitannya dengan peranan suatu

lembaga/organisasi penyuluhan pertanian. Petani adalah orang yang

melakukan kegiatan bercocok tanam hasil bumi atau memelihara ternak

dengan tujuan untuk memperoleh kehidupan dari kegiatannya itu.

Petani binaan merupakan petani-petani yang tergabung dalam

kelompok tani di wilayah kerja dan mendapatkan binaan dari

penyuluh/fasilitator. Banyaknya jumlah petani yang dibina

mempengaruhi peranan fasilitator dalam merencanakan dan

(41)

keterampilan petani itu sendiri (Rodjak, 2006).

2) Sistem penghargaan

Sistem manajemen organisasi yang mendukung karyawan seperti

adanya administrasi yang baik dan rapi, tunjangan finansial yang

mendukung, sistem reward dan punishment yang jelas, promosi jabatan,

sistem penggajian yang adil, serta sistem pendidikan dan latihan yang

terus berkesinambungan akan menimbulkan profesionalisme yang

tinggi bagi seorang karyawan dalam mengoptimalkan peranannya

(Mangkunegara, 2000).

Sistem penghargaan berupa reward dan punishment merupakan salah

satu sistem pengendalian yang dirancang untuk memotivasi karyawan

agar tujuan dapat tercapai. Reward digunakan untuk memotivasi

seorang karyawan agar mencapai tujuan perusahaan/lembaga dengan

perilaku yang sesuai dengan yang diharapkan oleh

perusahan/lembaganya, sedangkan punishment merupakan sesuatu yang

tidak disukai oleh karyawan untuk menghasilkan efek jera sehingga

tidak akan melakukan pelanggaran peraturan atau kode etik perusahaan

atau lembaga (Wibowo, 2007).

Pimpinan yang baik akan selalu menghargai atau selalu memberikan

penghargaan pada karyawan yang telah menunjukkan prestasi

membanggakan sebagai faktor motivasi yang efektif bagi peningkatan

(42)

pertanian yang memperoleh penghargaan akan dapat meningkatkan

peranannya (Sapar, 2012).

B. Kajian Penelitian Terdahulu

Kajian penelitian terdahulu yang meneliti tentang Peranan Terhadap

[image:42.595.118.512.304.755.2]

Pemberdayaan Petani dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Ringkasan Penelitian Terdahulu

No Penulis, Tahun

Judul Kesimpulan

1 Bahua,

2010 Faktor-faktor yang mempengaruhi peranan penyuluh pertanian dan dampaknya pada perilaku petani jagung di Provinsi Gorontalo

Faktor-faktor yang berhubungan nyata terhadap peranan penyuluh pertanian adalah umur, masa kerja (pengalaman), jumlah petani binaan, kemampuan. merencanakan program penyuluhan, pengembangan potensi diri, kebutuhan untuk berafiliasi, kemandirian

intelektual, dan kemandirian sosial

2 Wiyono,

2010 Peranan pengurus dalam keberhasilan Pos Pelayanan Penyuluhan Pertanian (Posyanluhtan) di Desa Pardasuka Kecamatan Katibung Kabupaten Lampung Selatan

Tingkat keberhasilan posyanluhtan di Desa Pardasuka masuk dalam kategori berhasil. Peranan pengurus dalam keberhasilan posyanluhtan masuk dalam kategori sedang. Terdapat hubungan nyata antara tingkat pendidikan formal, lamanya menjadi pengurus posyanluhtan, dan jarak domisili dengan peranan

pengurus dalam keberhasilan

posyanluhtan. Tidak terdapat hubungan nyata antara umur, tingkat

kekosmopolitan dengan peranan pengurus.

3 Rahmawati,

2012. Peranan anggota kelompok peternak sapi Brahman Cross dalam program Bantuan Langsung Masyarakat

Hasil analisis yang didapatkan peranan anggota kelompok peternak sapi

(43)

Tabel 3. (Lanjutan)

No Penulis,

Tahun

Judul Kesimpulan

(BLM) di Desa Tanjung Tirto Kecamatan Way Bungur

Kabupaten Lampung Timur

faktor yang berhubungan nyata dengan peranan anggota kelompok peternak dalam program BLM meliputi tingkat pengetahuan anggota kelompok

peternak tentang program BLM, tingkat pengetahuan anggota kelompok

peternak terhadap panca usaha budidaya ternak sapi potong, lama beternak (pengalaman), dan motivasi anggota kelompok peternak dalam mengikuti program BLM.

4 Sapar, 2012 Faktor-faktor

yang Berpengaruh pada Peranan Penyuluh Pertanian dan Dampaknya pada Kompetensi Petani Kakao di Empat Wilayah Sulawesi Selatan.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan peranan penyuluh pertanian adalah karakteristik (umur, pendidikan,

pengalaman), kompetensi (kemampuan perencanaan penyuluhan, kemampuan evaluasi dalam pengembangan

penyuluhan), motivasi, dan

kemandirian (kemandirian ekonomi).

5 Wastika,

2014

Peranan kelompok tani dalam penerapan SRI (System Rice of Intensification) di Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo

Hasil penilitian menunjukan bahwa lebih dari 50% petani menilai peranan kelompok tani dalam kategori tinggi. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata adalah sikap dan peran penyuluh. Pendidikan petani, luas lahan, pengalaman petani, frekuensi

kehadiran, dan peran ketua kelompok tani tidak berpengaruh terhadap peranan kelompok tani dalam

penerapan SRI. Peranan kelompok tani berpengaruh positif terhadap penerapan SRI yang berarti semakin tinggi peran kelompok tani maka semakin tinggi penerapan SRI.

6 Larasati, 2015. Peran Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) dalam Membantu

[image:43.595.116.512.115.750.2]
(44)

Tabel 3. (Lanjutan)

No Penulis,

Tahun

Judul Kesimpulan

Masyarakat Mendapatkan Izin Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Kecamatan Sendang Agung di Kabupaten Lampung Tengah

pendamping yang memiliki hubungan cukup tinggi dengan peran PKSM adalah jumlah tanggungan keluarga, lama bertugas (pengalaman), sifat kekosmpolitan, pengakuan

keberhasilan (penghargaan), dan intensitas supervisi.

7 Fadhilah, 2015

Faktor-faktor yang

berhubungan dengan peranan P3A di wilayah GP3A Sumber Tirta dalam pengelolaan IPAIR (Iuran Pelayanan Irigasi) di Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa peranan petani dalam kegiatan pengelolaan IPAIR berada dalam klasifikasi tinggi dengan nilai rata-rata sebesar 73,52 dan terdapat hubungan yang nyata antara tingkat pendidikan, sifat kekosmopolitan, motivasi, jumlah petani binaan, luas lahan garapan dan status keanggotaan dengan peranan petani dalam kegiatan pengelolaan IPAIR.

8 Geladikarya,

2015 Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi peranan penyuluh pertanian dalam rangka meningkatkan peranan penyuluh pertanian Kabupaten Serdang Bedagai

Peranan penyuluh pertanian dipengaruhi oleh variabel sistem penghargaan, ketersediaan sarana dan prasarana. Sistem penghargaan memiliki pengaruh yang paling dominan terhadap peranan penyuluh pertanian.

C. Kerangka Pemikiran

Sumberdaya manusia pertanian sangat berperan penting dalam pembangunan

pertanian. Kualitas petani yang baik akan berdampak baik pula pada

[image:44.595.116.513.106.611.2]
(45)

kesejahteraan yang dimiliki petani. Oleh sebab itu, pemberdayaan

masyarakat tani penting dilakukan guna meningkatkan kualitas petani itu

sendiri. Petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian perlu

diberdayakan agar mereka mampu menganalisa masalah dan peluang yang

ada serta mencari jalan keluar sesuai sumberdaya yang dimilikinya.

Pemahaman tentang pemberdayaan petani merupakan suatu strategi yang

menitikberatkan pada bagaimana memberikan peran yang proposional agar

petani dapat berperan secara aktif dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Hal

tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya menjadi

tanggung jawab pemerintah, tetapi juga swasta dan masyarakat sendiri.

Selain pentingnya kualitas sumberdaya manusia pertanian, adanya fakta

keberhasilan petani maju dalam usahataninya yang layak dicontoh dan ditiru

oleh petani lainnya, mendorong pemerintah untuk memotivasi petani maju

yang ada untuk memberdayakan masyarakat tani lainnya melalui

penumbuhan dan pengembangan kelembagaan pelatihan/permagangan dari,

oleh dan untuk petani. Sebagaimana diketahui bahwa, metode pelatihan yang

sering digunakan dan telah terbukti efektif adalah metode petani belajar dari

sesama petani dalam kondisi faktual di lapangan (learning by doing atau

belajar sambil bekerja), yang dikenal dengan sebutan magang.

Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) merupakan lembaga

pelatihan di bidang pertanian pedesaan yang didirikan, dikelola dan dimiliki

oleh petani yang ada di wilayah binaan secara swadaya. Hal ini dilakukan

(46)

didukung oleh sumberdaya manusia yang profesional, inovatif, kreatif dan

berwawasan global. Kelembagaan P4S ini sangat berperan dalam

meningkatkan wawasan dan keterampilan petani dalam beragribisnis, serta

mempercepat penyebarluasan dan penerapan teknologi tepat guna di bidang

pertanian yang diperlukan petani dan masyarakat sekitar lainnya.

Kunci keberhasilan pemberdayaan petani sebenarnya terletak pada peranan

P4S dalam melakukan pelatihan/permagangan kepada para petani dan

didukung oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan P4S dalam

pemberdayaan petani itu sendiri. Dalam penelitian ini, akan digunakan dua

variabel, yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan P4S dalam

pemberdayaan petani sebagai variabel bebas (X) dan peranan P4S dalam

pemberdayaan petani sebagai variabel terikat (Y).

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yang

berhubungan dengan peranan menurut Fadhilah (2015), Bahua (2010),

Larasati (2015) dan Geladikarya (2015), maka hanya lima faktor yang dipilih

sebagai variabel bebas pada penelitian ini yaitu sifat kekosmopolitan,

motivasi kerja, ketersediaan sarana dan prasarana,jumlah petani binaan, dan

sistem penghargaan. Pada penelitian ini, faktor-faktor tersebut akan

dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal yang diduga

berhubungan dengan peranan P4S.

Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam lembaga P4S

dalam memberdayakan petani, yaitu (1) sifat kekosmpolitan yang menunjuk

(47)

baruyang diperlukan dari luar, (2) motivasi kerja yang menujuk pada suatu

dorongan yang timbul dari dalam diri fasilitator P4S untuk melaksanakan

penyuluhan dan pelatihan, (3) ketersediaan sarana prasarana yang memadai

dapat menentukan berlangsungnya kegiatan penyuluhan dan pelatihan dapat

terlaksana secara efektif atau tidak.

Faktor eksternal merupakan faktor yang bersumber dari luar lembaga P4S

dalam memberdayakan petani, yaitu (1) jumlah petani binaan, banyaknya

jumlah petani yang dibina oleh fasilitator P4S dapat menentukan apakah

kegiatan penyuluhan dan pelatihan dapat terlaksana secara efektif atau tidak,

(2) sistem penghargaan, dari kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan

sistem pemberian penghargaan kepada lembaga dan fasilitator berprestasi

atau hukuman bagi yang melakukan pelanggaran kode etik.

Peranan P4S dalam memberdayakan petani (Y) yang digunakan dalam

penelitian ini didasarkan pada pendapat Abbas (1997) mencakup beberapa

indikator antara lain (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani

terhadap perkembangan teknologi, (2) menyebarkan informasi teknologi yang

berorientasi agribisnis dan membimbing penerapan teknologi kepada petani,

(3) mengembangkan model pembelajaran melalui percontohan usahatani, (4)

membantu penyuluh pertanian menyampaikan rekomendasi/anjuran kepada

petani, (5) meningkatkan dan mengembangkan kepemimpinan dan

kemandirian petani melalui pelatihan, serta (6) menumbuhkembangkan

jejaring dan kerjasama dengan berbagai sumber-sumber teknologi,

(48)

Adapun hubungan faktor internal dan eksternal dengan peranan P4S dalam

memberdayakan petani lebih jelasnya dapat digambarkan dalam sebuah

[image:48.595.114.495.188.525.2]

kerangka berpikir, seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka berpikir hubungan faktor internal dan faktor eksternal dengan peranan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) dalam memberdayakan petani di Provinsi Lampung.

D. HIPOTESIS

Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Sifat kekosmpolitan fasilitator berhubungan nyata dengan peranan P4S

dalam pemberdayaan petani.

Peranan P4S dalam pemberdayaaan petani (Y)

1. Meningkatkan pengetahuan dan

keterampilan serta membentuk sikap positif petani terhadap perkembangan teknologi.

2. Menyebarkan informasi teknologi

berbasis agribisnis dan

membimbing penerapan teknologi kepada petani.

3. Mengembangkan model

pembelajaran melalui percontohan usahatani.

4. Membantu penyuluh pertanian

menyampaikan

rekomendasi/anjuran kepada petani dan upaya pemecahan masalah.

5. Meningkatkan dan

mengembangkan jiwa

kepemimpinan dan kemandirian petani.

6. Menumbuhkembangkan jejaring

kerja dan kerjasama. Faktor Internal

Motivasi kerja (X2)

Ketersediaan sarana dan prasarana (X3)

Jumlah petani binaan (X4)

Faktor Eksternal

Sistem penghargaan (X5)

(49)

2. Motivasi kerja fasilitator berhubungan nyata dengan peranan P4S dalam

pemberdayaan petani.

3. Ketersediaan sarana dan prasarana berhubungan nyata dengan peranan P4S

dalam pemberdayaan petani.

4. Jumlah petani binaan berhubungan nyata dengan peranan P4S dalam

pemberdayaan petani.

5. Sistem penghargaan berhubungan nyata dengan peranan P4S dalam

(50)

A. Definisi Operasional Variabel, Pengukuran, dan Klasifikasi

Definisi opersional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai bagaimana variabel- variabel yang digunakan dalam penelitian ini akan diukur dan diidentifikasikan. Dari hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diuraikan beberapa batasan dan klasifikasi dari variabel-variabel sebagaimana uraian di bawah ini.

1. Variabel bebas (X)

Berdasarkan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diuraikan beberapa batasan, dan ukuran dari variabel yang akan diukur. Adapun variabel X yang akan diukur yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan P4S dalam pemberdayaan petani yaitu sebagai berikut.

a. Faktor internal, yang terdiri dari:

1) Sifat kekosmopolitan (X1) adalah sifat keterbukaan fasilitator pada

informasi dari berbagai sumber dan menerima ide baru yang diperlukan melalui interaksi dengan orang lain. Sifat

(51)

menerima ide baru, 2) intensitas kontak hubungan fasilitator dengan pihak luar, 3) frekuensi fasilitator mengakses informasi terbaru, 4) media yang digunakan fasilitator untuk mengakses informasi, dan 5) akses perjalanan yang ditempuh untuk memperoleh informasi. 2) Motivasi kerja (X2) adalah dorongan yang bersumber dari dalam diri

fasilitator yang menggerakkan semangatnya untuk mencapai tujuannya dalam bekerja. Motivasi diukur dengan menggunakan teknik skoring berdasarkan delapan indikator, yaitu 1) durasi kegiatannya, 2) frekuensi kegiatannya, 3) persistensinya, 4) devosi (pengabdian) dan pengorbanan, 5) ketabahan, keuletan dan

ketekunannya, 6) tingkatan aspirasinya, 7) tingkat kualifikasi dari prestasi, produk atau output yang dicapai dari kegiatannya, 8) arah sikapnya terhadap sasaran kegiatannya.

3) Ketersediaan sarana dan prasarana adalah kelengkapan sarana dan prasarana kerja yang dimiliki oleh lembaga P4S yang digunakan untuk mempermudah dan memperlancar kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Ketersediaan sarana dan prasarana diukur berdasarkan indikator kelengkapan sarana dan prasarana yang ada dimiliki P4S sesuai dengan jumlah, kualitas, dan fungsinya, serta

dana/pembiayaan yang digunakan untuk melakukan penyuluhan dan pelatihan.

b. Faktor eksternal, yang terdiri dari:

1) Jumlah petani binaan (X4) adalah banyaknya petani yang tergabung

(52)

data jumlah petani dari masing-masing lembaga P4S yang diteliti. 2) Sistem penghargaan (X5) adalah imbalan atau ganjaran yang

diberikan pemerintah kepada fasilitator P4S yang bersifat positif (reward) maupun yang bersifat negatif (punishment) dalam bentuk material dan nonmaterial agar dapat bekerja dengan motivasi yang tinggi dan berprestasi dalam mencapai tujuan kegiatan penyuluhan dan pelatihan, diukur dengan teknik skoring. Reward merupakan suatu ganjaran yang diberikan atau dilakukan dalam hasil

[image:52.595.136.503.473.752.2]

penerimaan yang positif berupa pemberian penghargaan seperti hadiah. Punishment merupakan suatu ganjaran yang diberikan dalam hasil penerimaan yang bersifat negatif berupa hukuman. Sistem penghargaan diukur berdasarkan dua indikator, yaitu pelaksanaan pemberian reward dan punishment, serta kesesuaian pemberian reward dan punishment.

Tabel 4. Pengukuran variabel bebas faktor internal

No Variabel Parameter Indikator Pengukuran

1 Sifat kekosmpolitan Keterbukaan fasilitator terhadap hubungan keluar sistem sosial petani

1. Kemauan dan keterbukaan fasilitator dalam menerima ide baru 2. Intensitas kontak hubungan fasilitator dengan pihak luar 3. Frekuensi fasilitator mengakses informasi terbaru 4. Media yang

(53)

Tabel 4. (Lanjutan)

No Variabel X Parameter Indikator Pengukuran

digunakan fasilitator untuk mengakses informasi 5. Akses perjalanan yang ditempuh untuk memperoleh informasi alternatif jawaban yang terlampir dalam kuesioner, lalu diukur dengan tehnik skoring: Skor 3: apabila menjawab≥4 alternatif jawaban Skor 2: apabila menjawab 2-3 alternatif jawaban Skor 1: apabila menjawab 1 alternatif jawaban Skor 3: tidak kesulitan Skor 2: sedikit kesulitan Skor 1: kesulitan 2 Motivasi kerja 1. Durasi

kegiatan 2. Frekuensi kegiatan 3. Presistensi 4. Devosi (pengabdian dan pengorbanan) Lamanya waktu melakukan kegiatan Banyaknya kegiatan dalam waktu 1 tahun

Kesesuaian/ ketetapan kegiatan dengan tujuan Kerelaan mengorbankan waktu, uang, dan tenaga Durasi dalam hitungan menit Frekuensi pertemuan luar kegiatan yang dilakukan setiap tahun Kesesuaian tujuan menggunakan skoring Skor 3: sesuai Skor 2: kurang Sesuai

Skor 1: tidak sesuai Skor 3: rela Skor 2: kurang rela

[image:53.595.132.505.112.761.2]
(54)

Tabel 4. (Lanjutan)

No Variabel Parameter Indikator Pengukuran

5. Ketabahan, keuletan, dan kemauan 6. Tingkat aspirasi 7. Tingkat kualifikasi 8. Sikap Usaha menghadapi kesulitan dalam mencapai tujuan Maksud, rencana, cita-cita yang akan dicapai Hasil output yang dicapai dari kegiatan Sikap terhadap sasaran dalam membimbing saat menghadapi kesulitan rela

Skor 3: gigih Skor 2: kurang gigih

Skor 1: tidak gigih

Skor 3: tercapai Skor 2: kurang tercapai Skor 1: tidak tercapai Skor 3: puas Skor 2: kurang puas

Skor 1: tidak puas

Skor 3: membimbing Skor 2: kurang membimbing Skor 1: tidak membimbing 3 Ketersediaan sarana dan prasarana Kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki P4S dalam bentuk jumlah, kualitas, dan fungsi 1. Jumlah sarana dan prasarana yang tersedia 2. Kualitas sarana dan prasarana 3. Fungsi sarana dan prasarana

4. Dana / pembiayaan kegiatan penyuluhan dan pelatihan Diukur dengan tehnik skoring: Skor 3: banyak Skor 2: sedang Skor 1: sedikit Skor 3: baik Skor 2: kurang baik

Skor 1: tidak baik

Skor 3: sangat berfungsi Skor 2: kadang-kadang

berfungsi Skor 1: tidak berfungsi Skor 3: tidak terkendala Skor 2: sedikit terkendala

[image:54.595.134.506.77.739.2]
(55)
[image:55.595.138.505.111.543.2]

Tabel 5. Pengukuran variabel bebas faktor eksternal

No Variabel Parameter Indikator Pengukuran

1 Jumlah petani binaan Petani yang menjadi binaan P4S Jumlah petani binaan P4S Jumlah petani binaan diukur dari total semua petani binaan P4S dengan satuan orang.

2 Sistem penghargaan

1. Reward yang diberikan kepada fasilitator 2. Punishment yang diberikan kepada fasilitator 1. Pelaksanaan pemberian reward mencakup siapa yang memberi reward dan bentuk reward 2. Kesesuaian pemberian reward 1. Pelaksanaan pemberian punishment mencakup siapa yang memberi punishment dan bentuk punishment 2. Kesesuaian pemberian punishment Sistem penghargaan diukur dengan tehnik skoring dengan menggunakan kuesioner. Skor 1, 2,3 diklasifikasikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi.

2. Variabel terikat (Y)

Peranan adalah seluruh pola kebudayaan yang dihubungkan dengan kedudukan tertentu, mencakup sikap, nilai, perilaku yang ditentukan oleh masyarakat terhadap anggotanya yang berada pada posisi tertentu.

(56)

dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan mengembangkan sikap positif petani baik dari segi kepemimpinan, kemandirian, maupun penerapan teknologi. Peranan P4S terdapat enam indikator menurut Abbas (1997) yaitu sebagai berikut :

1) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani, serta membentuk sikap positif petani terhadap perkembangan teknologi. Pengukuran ini dilakukan terkait dengan bagaimana fasilitator P4S mengajar dan mendidik petani untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka melalui penyuluhan dan pelatihan yang diberikan P4S, serta cara yang digunakan fasilitator P4S dalam menmperkenalkan teknologi yang baik bagi petani untuk dikembangkan yang berorientasi agribisnis dan berbasis kearifan lokal.

2) Menyebarkan informasi teknologi dan membimbing penerapan teknologi kepada petani, yaitu kemampuan fasilitator P4S dalam menyampaikan informasi yang berorientasi agribisnis kepada petani dan pelaku usaha pertanian di pedesaan, memfasilitasi penggunaan media informasi seperti majalah tani, membentuk jaringan komunikasi antar petani, dan penggunaan internet, serta membimbing penerapan teknologi kepada petani dengan metode belajar melalui bekerja, baik kepada petani binaan, petani mitra, dan peserta pelatihan.

3) Mengembangkan model pembelajaran melalui percontohan usahatani. Dilihat dari kemampuan fasilitator dalam menerapkan model

(57)

lahan sekitarnya, keberhasilan fasilitator P4S membantu petani mengembangkan usahatani yang dicontoh agar bermanfaat dan menguntungkan, dan keberhasilan petani dalam mengadopsi menerapkan informasi usahatani yang dicontohkan.

4) Membantu penyuluh pertanian menyampaikan rekomendasi/anjuran kepada petani, umpan balik penerapan teknologi, permasalahan, dan upaya pemecahan masalahnya. Dilihat dari kemampuan fasilitator P4S dalam memberikan masukan berupa saran dan kritik kepada petani untuk meningkatkan produktivitas usahatani para petani, keterlibatan dan keaktifan fasilitator P4S dalam membantu petani menyelesaikan masalah usahatani mereka.

5) Meningkatkan dan mengembangkan kepemimpinan dan kemandirian petani. Dilihat dari keberhasilan P4S dalam mengembangkan jiwa kepemimpinan petani dalam berorganisasi dan kemandirian petani dalam melakukan usahatani melalui pelatihan kewirausahaan yang berbasis moral etika dan pelatihan lainnya.

6) Menumbuhkembangkan jejaring kerja dan kerjasama, yang dimaksudkan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengembangan usaha dan peluang kerjasama atau kemitraan yang dilakukan P4S dengan berbagai sumber-sumber teknologi, pemasaran, dan permodalan dalam rangka pelayanan informasi, konsultasi, dan fasilitasi pemenuhan kebutuhan petani di wilayah pedesaan.

(58)
[image:58.595.135.490.178.749.2]

melatih petani untuk mengembangkan usahanya dan menjalin kerjasama dengan lembaga lain.

Tabel 6. Pengukuran variabel terikat peranan P4S

No Variabel Parameter Indikator Pengukuran

1 Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta membentuk sikap positif petani terhadap perkembang-an teknologi 1. Frekuensi penyuluhan dan pelatihan pertanian dalam 1 tahun 2. Penyuluhan dan pelatihan tambahan materi khusus yang ditawarkan P4S 3. Menyusun kegiatan penyuluhan dan pelatihan P4S

4. Sikap petani terhadap perkembangan teknologi

Banyaknya kegiatan dalam waktu 1 tahun

Pelaksanaan kegiatan, materi yang diajarkan, dan frekuensi kegiatan Keterlibatan pihak, kesesuaian dengan masalah, dan keberhasilan kegiatan Sikap petani dalam menerima dan menerapkan teknologi yang diajarkan fasilitator P4S Pengukuran akan dilakukan dengan tehnik skoring yang kemudian akan diklasifikasikan menjadi:

Skor 3: tinggi Skor 2 : sedang Skor 1 : rendah

2 Menyebarkan informasi teknologi dan membimbing penerapan teknologi kepada petani 1. Tersebarnya informasi mengenai teknologi budidaya yang menguntung-kan bagi petani Media yang digunakan fasilitator P4S dalam menyebarkan informasi, kegiatan penyuluhan dan pelatihan mengenai teknologi pertanian yang ditawarkan Pengukuran akan dilakukan dengan tehnik skoring yang kemudian akan diklasifikasikan menjadi:

(59)

Tabel 6. (Lanjutan)

No Variabel Parameter Indikator Pengukuran

2. Kegiatan bimbingan dan praktek lapangan mengenai teknologi usahatani 3. Pengamatan langsung setelah memberikan informasi mengenai teknologi 4. Memenuhi kebutuhan dalam bentuk suatu informasi untuk kebutuhan usahatani P4S Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan praktek lapangan Keaktifan fasilitator mendengar,meli hat dan membantu penerapan teknologi kepada petani Upaya fasilitator menjawab informasi yang dibutuhkan petani 3 Mengembang-kan model pembelajaran melalui percontohan usahatani 1. Memperkenal-kan dan mengembang -kan contoh usahatani yang baru 2. Membantu dalam setiap kegiatan usahatani yang sedang dikembangkan petani 3. Memfasilitasi dan memberikan keterampilan-Kegiatan pertemuan, penyuluhan dan pelatihan P4S mengenai contoh usahatani baru Fasilitator P4S membantu petani menerapkan dan mengem-bangkan usahatani yang dicontoh agar menguntung-kan Fasilitator P4S membantu dalam menyediakan Pengukuran akan dilakukan dengan tehnik skoring yang kemudian akan diklasifikasikan menjadi:

Skor 3: tinggi Skor 2 : sedang Skor 1 :

[image:59.595.139.491.106.749.2]

Figure

Tabel 1. P4S yang terdaftar di Provinsi Lampung
Tabel 2. Nama dan Klasifikasi P4S di Kabupaten Lampung Tengah
Tabel 3.  Ringkasan Penelitian Terdahulu
Tabel 3. (Lanjutan)
+7

References

Related documents

at 1547 (adding that injury suffered by other unidentified members of the class to which named plaintiffs belong is not enough to meet Article III standing). Plaintiff’s theory

• Taking a leadership role in the research and teaching of Physiology in the University, and where relevant, developing co-operation with the Faculty of Medical and Human Sciences,

To complete a server design, Intel’s current Xeon processors require a separate system-logic chip and one or more Ethernet chips.. X-Gene, in contrast, inte- grates all of

By using small molecular inhibitor Ly294002 targeting PI3K/AKT pathway, L-744832 targeting RAS, PD98059 targeting ERK/MAPK signaling and AG1296 targeting FLT3, the

Bussolati et al reported the isolation of CD105+ cancer stem cells from renal carcinoma [16] and tumor spheres enriched in CSC were isolated from a kidney cancer cell line

6-TG levels in the skin of WT (white bars) and Mutyh -/- (black bars) mice following Aza or Aza/UVA combined treatment. E) DNA 8-oxoG levels in the skin of WT (white bars) and

Of the 323 Bactec blood culture sets evaluated, the same 55 (17%) blood cultures positive for carbapenem-resistant bacteria by culture were also positive by the validated qPCR

The results presented here show an increase in protein precipitable by anti- bodies against human fibrinogen in homogenates prepared from human liver slices plus medium at the end of