HUBUNGAN HASIL PEMERIKSAAN JUMLAH TROMBOSIT, HEMATOKRIT, LAMA DEMAM DAN MANIFESTASI PERDARAHAN
TERHADAP ANTIGEN NON STRUKTURAL 1 (NS1) PADA PASIEN SUSPEK INFEKSI DENGUE DI BANDAR LAMPUNG
(Skripsi)
Oleh
OLIVIA PUTRI CHAIRUNNISA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRACT
THE RELATIONSHIP BETWEEN PLATELETS COUNT, HEMATOCRIT, DURATION OF FEVER AND BLEEDING MANIFESTASIONS TO NON STRUCTURAL 1 (NS1) ANTIGEN TEST
RESULT PATIENTS WITH SUSPECT DENGUE INFECTION IN BANDAR LAMPUNG
By
OLIVIA PUTRI CHAIRUNNISA
Background:Early diagnosis is very important to do. Currently there is an examination of nonstructural antigen 1 (NS1) which can detect acute infections earlier even on the first day of onset of fever. The problem is that not all health care facilities have laboratories that provide NS1 examinations. Most health care facilities use platelet examination and clinical manifestations to diagnose dengue infection.
Objective: To determine the relationship between test result of platelets count, hematocrit, duration of fever, bleeding manifestastions to non struktural 1 (ns1) antigen on patients with suspect dengue infection.
Method : This study uses a observational analytic method with cross sectional approach. Research counducted at Dr. A. Dadi Tjokrodipo Hospotal , Bhayangkara Hospital, Way Kandis Health Center, and Kedaton Health Center in September-November 2019. Total sampleof 40 people is determined by
consecutive sampling technique. NS1 antigen test perfomed using
immunochromatography rapid test with SD Bioline kit. Platelet dan hematocrit examination using hemanalizer. Clinical manifestasions obtained from medical records of patient.
Conclusion: There is a significant relationship between platelet counts with antigen NS1, but there is no relationship between duration of fever, bleeding manifestasions and hematocrit with antigen NS1.
ABSTRAK
HUBUNGAN HASIL PEMERIKSAAN JUMLAH TROMBOSIT, HEMATOKRIT, LAMA DEMAM DAN MANIFESTASI PERDARAHAN
TERHADAP ANTIGEN NON STRUKTURAL 1 (NS1) PADA PASIEN SUSPEK INFEKSI DENGUE DI BANDAR LAMPUNG
Oleh
OLIVIA PUTRI CHAIRUNNISA
Latar Belakang: Diagnosis sedini mungkin sangat penting untuk dilakukan.Saat ini telah ada pemeriksaan terhadap antigen nonstruktural 1 (NS1) yang dapat mendeteksi infeksi akut lebih awal bahkan pada hari pertama onset demam. Yang menjadi kendala adalah tidak semua fasilitas layanan kesehatan memiliki laboratorium yang menyediakan pemeriksaan NS1. Sebagian besar fasilitas layanan kesehatan menggunakan pemeriksaan trombosit dan manifestasi klinis untuk mendiagnosis infeksi dengue.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan hasil pemeriksaan jumlah trombosit, hematokrit, lama demam dan manifestasi perdarahan pada pasien suspek infeksi dengue.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Dilakukan di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo, RS Bhayangkara, Puskesmas Way Kandis, dan Puskesmas Kedaton pada bulan September-November 2019. Jumlah sampel 40 orang dengan teknik consecutive sampling. Pemeriksaan kadar NS1 menggunakan metode rapid immunochromatography test dengan kit SD Bioline. Pemeriksaan trombosit dan hematokrit dilakukan dengan menggunakan automatic hematology analyzer. Manifestasi klinis pasien didapatkan dari rekam medis
Hasil Penelitian: Uji fisher’s exactmengenai hubungan antara hasil pemeriksaan lama demam dengan antigen NS1 didapatkan p value sebesar 0,640; hubungan antara hasil pemeriksaan manifestasi perdarahan dengan antigen NS1 didapatkan p value sebesar 0,154; hubungan antara hasil pemeriksaan jumlah trombosit dengan antigen NS1 didapatkan p value sebesar 0,049, dan mengenai hubungan antara hasil pemeriksaan hematokrit dengan antigen NS1 didapatkan p value sebesar 1,00.
pemeriksaan lama demam , manifestasi perdarahan dan hematokrit terhadap antigen NS1
HUBUNGAN HASIL PEMERIKSAAN JUMLAH TROMBOSIT, HEMATOKRIT, LAMA DEMAM DAN MANIFESTASI PERDARAHAN
TERHADAP ANTIGEN NON STRUKTURAL 1 (NS1) PADA PASIEN SUSPEK INFEKSI DENGUE DI BANDAR LAMPUNG
Oleh
OLIVIA PUTRI CHAIRUNNISA
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN
Pada
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Metro, pada tanggal 26 April 1997, sebagai anak pertama
dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Fadli Darwis AMD.AK dan Ibu Merry
AMD.AK
Penulis menempuh pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) di TK Tadika Puri
pada tahun 2003, Sekolah Dasar (SD) di SDK BPK Penabur Metro , Sekolah
Menengah Pertama (SMP) di SMPN 1 Metro pada tahun 2012, dan Sekolah
Menegah Atas (SMA) diselesaikan di SMAN 1 Metro pada tahun 2015.
Tahun 2016, penulis terdaftar sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas
Lampung melalui jalur Ujian Mandiri Universitas Lampung. Selama menjadi
mahasiswi, penulis aktif dalam Lembaga Kemahasiswaan (LK) yang ada di
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Pada tahun 2016-2017 penulis
Sesungguhnya dibalik kesusahan pasti ada
kemudahan
Qs. Asy syarh
Dengan ridho Allah SWT,
SANWACANA
Puji Syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang maha pengasih lagi maha
penyayang atas berkat rahmat dan karunia-Nya skripsi ini dapat diselesaikan.
Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad
SAW dengan mengharap syafaatnya di yaumil akhir kelak.
Skripsi dengan judul “HUBUNGAN HASIL PEMERIKSAAN ANTIGEN NON
STRUKTURAL 1 (NS1) TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT,
HEMATOKRIT DAN MANIFESTASI KLINIS PADA PASIEN SUSPEK
INFEKSI DENGUE DI BANDAR LAMPUNG” adalah salah satu syarat untuk
memperoleh gelar sarjana kedokteran di Universitas Lampung. Dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Karomani, M.Si, selaku Rektor Universitas Lampung;
2. Ibu Dr. Dyah Wulan Sumekar RW, S.K.M., M.Kes, selaku Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung;
3. Dr. dr. Ety Apriliana, S.Ked., M. Biomed, selaku Pembimbing Utama
yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta selalu
memberi semangat dan dukungan untuk tidak pernah putus asa.
Terimakasih atas bimbingan, arahan, saran serta masukan yang sangat
4. Dr. dr. Khairun Nisa, S.Ked., M.Kes., AIFO, selaku Pembimbing Kedua
yang juga telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta
selalu memberi semangat dan dukungan untuk tidak pernah putus asa.
Terimakasih atas bimbingan, arahan, saran serta masukan yang sangat
membantu dalam proses penyusunan skripsi ini;
5. dr. Agustyas Tjiptaningrum, S.Ked., Sp. PK, selaku Pembahas Skripsi
penulis yang telah memberikan banyak saran dan nasihat agar penulis
menjadi pribadi yang lebih baik serta bersedia meluangkan waktu untuk
membina dan memberikan masukan yang baik untuk penulis;
6. dr. Hanna Mutiara, S.Ked., M.Kes, selaku Pembimbing Akademik yang
telah membimbing saya selama 7 semester;
7. Seluruh Staf Dosen FK Unila atas ilmu dan pengalaman yang telah
diberikan untuk menambah wawasan yang menjadi landasan untuk
mencapai cita-cita;
8. Seluruh Staf Akademik, TU dan Administrasi FK Unila, serta pegawai
yang turut membantu dalam proses penelitian skripsi;
9. Teristimewa dan terkhusus kepada kedua orang tuaku tercinta Mama Merry AMD.Ak dan Papa Fadli Darwis AMD.Ak yang telah merawat,
membimbing, mendidik, dan menyayangiku dari dalam kandungan sampai
kapanpun, selalu menyebut nama penulis dalam doanya, mendukung,
memberikan yang terbaik dan yang selalu sabar menanti keberhasilan
penulis. Terimakasih karena selalu tidak menyerah dalam membesarkan
menjadi inspirasi dan motivasi terbesar penulis. I’m nothing without your prayer Mah, Pah. I Love You So Much;
10. Kepada yang terkasih Bunda dr.Farida Akbar dan Ayah dr. H.A. Hamid
Hasan, Sp.P. FCCP, terimakasih atas support, doa yang selalu dipanjatkan
serta kasih sayang yang tiada henti kepada penulis. Semoga Allah selalu
memberikan kebahagiaan dunia maupun akhirat kelak untuk Ayah dan
Bunda;
11. Teristimewa untuk Suamiku tercinta dr. Achmad Gozali, Sp.P, terimakasih
atas support, selalu memberi motivasi, doa, dan penuh sabar dalam
menanti penulis menyelesaikan studi dan berusaha dalam mewujudkan
cita-cita. Well, I cant find any other words to describe how thankful I am
to have you;
12. Kepada Adikku Silvia Budiani Arini dan Reyhan Arrisaputra Bachtiary,
terimakasih sudah memberikan support dan semangat selama ini kepada
penulis;
13. Kepada Ibu Sri, Ibu Mastina, Ibu Ita, Ibu Fitria, Mba Nabila, Mba Citra, di
RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo, RS Bhayangkara, Puskesmas Way Kandis,
dan Puskesmas Kedaton yang selalu membantu selama proses penelitian;
14.Teman-teman satu bimbingan dan penelitian Anniza Agustina, Mega
Rusdiyanti, Khoirun Nisa, Diwanti Aulia, Anisa Ramadhanti dan Rima
Novisca atas kekompakan, kebersamaan dan dukungan dalam
15. Sahabat-Sahabatku Riska Putri Soraya, Nadhila Nur Shafitha, Intan Nanda
Rezeki, dan Ellyta Septyarani terimakasih atas kebersamaan dan
bantuannya selama proses belajar.
16. Kepada Haydar, Yoso, Agung, Nte, terimakasih sudah selalu menjadi
partner belajar osce selama 7 semester ini ;
17. Untuk kak Mira Yustika Susilo, terimakasih kak mira sudah membantu
dalam proses skripsi ini;
18.Kepada Dhea Mutiara Karmelita, Anisa Ramadhanti, dan Neema
Prameswari, terimakasih telah meluangkan waktunya untuk mendengar
keluh kesah selama proses skripsi ini, terimakasih juga telah mengajari
aku statistika;
19.Terimakasih juga untuk Andre Parmorangan yang telah berbagi ilmu dan
membantu penulis;
20.Terimakasih juga buat dr. raka dan dr. arli, yang sudah membantu selama
proses dari UTB, cbt kompree.
21. Teman-teman seperjuangan, FK Unila angkatan 2016, TR16EMINUS,
semoga kita kedepan menjadi sejawat yang bahu membahu dalam
menolong keselamatan orang lain;
22. Semua pihak yang telah berjasa membantu yang tidak dapat disebutkan
satu persatu.
Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Akan tetapi, semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna
dan bermanfaat bagi kita semua Aamiin YRA
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI DAFTAR TABEL
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.3.1 Tujuan Umum ... 5
1.3.2 Tujuan Khusus ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TUJUAN PUSTAKA 2.1 Infeksi Dengue ... 7
2.1.1 Epidemiologi ... 7
2.1.2 Etiologi ... 10
2.1.3 Vektor ... 10
2.1.4 Transmisi ... 12
2.1.5 Patogenesis ... 13
2.1.6 Manifestasi Klinis ... 17
2.1.7 Klasifikasi Derajat Keparahan Penyakit ... 19
2.1.8 Diagnosis ... 20
2.1.9 Pemeriksaan Laboratorium ... 21
2.1.10 Terapi ... 23
2.2 Pemeriksaan Antigen NS1 ... 23
2.3 Jumlah trombosit ... 25
2.4 Kadar Hematokrit ... 26
2.5 Kerangka Teori ... 27
2.6 Kerangka Konsep ... 28
2.7 Hipotesis ... 28
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 29
3.2 Lokasi Penelitian ... 29
3.3 Subjek Penelitian ... 29
3.3.1 Populasi ... 29
3.3.2 Sampel ... 29
3.4.1 Kriteria Inklusi ... 31
3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 31
3.5 Identifikasi Variabel ... 31
3.5.1 Variabel Bebas ... 31
3.5.2 Variabel Terikat ... 31
3.6 Definisi Operasional ... 32
3.7 Alat dan Bahan Penelitian ... 34
3.7.1 Alat Penelitian ... 34
3.7.2 Bahan Penelitian ... 34
3.8 Prosedur Penelitian ... 34
3.8.1 Prosedur Pemeriksaan Antigen NS1 ... 34
3.8.2 Prosedur Pemeriksaan Trombosit ... 36
3.8.3 Prosedur Pemeriksaan Hematokrit ... 38
3.9 Alur Penelitian ... 40
3.10 Pengolahan dan Analisis Data ... 41
3.10.1 Pengolahan Data ... 41
3.10.2 Analisis Data ... 41
3.11 Etika Penelitian ... 42
... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 43
4.1.1 Karakteristik Sampel ... 44
4.1.2 Analisis Univariat ... 44
4.1.3 Analisis Bivariat ... 47
4.2 Pembahasan ... 50
... BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 59
5.2 Saran ... 60
DAFTAR TABEL
Tabel
1. Klasifikasi Derajat Keparahan Penyakit Infeksi Dengue ... 19
2. Definisi Operasional ... 32
3. Karakteristik Sampel ... 44
4. Hasil Pemeriksaan Antigen NS1 ... 44
5. Hasil Pemeriksaan Trombosit ... 45
6. Hasil Pemeriksaan Hematokrit ... 45
7. Lama Demam ... 46
8. Manifestasi Perdarahan ... 46
9. Hubungan hasil pemeriksaan lama demam terhadap antigen NS1 ... 47
10. Hubungan hasil pemeriksaan manifestasi perdarahan terhadap antigen NS1 ... 48
11. Hubungan hasil pemeriksaan jumlah trombosit terhadap antigen NS1 ... 49
[image:19.595.118.507.249.428.2]BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas
daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya
mobilitas dan kepadatan penduduk. Di Indonesia, Demam Berdarah Dengue
pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun 1968, sebanyak 58 orang
terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia dengan angka kematian
(AK) : 41,3 %. Sejak saat itu, Demam Berdarah Dengue menyebar luas ke
seluruh provinsi di Indonesia. (Manalu, H. S. P., & Munif, 2016)
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dan ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk
Aedes, terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang ditemukan di daerah
tropis dan sub-tropis di seluruh dunia. Demam Berdarah Dengue merupakan
penyakit endemik yang muncul sepanjang tahun terutama pada musim
penghujan dan paling cepat tersebar penularannya di dunia. (Nurihardiyanti,
2
Data Dinas Kesehatan kota Bandar Lampung menjelaskan pada tahun 2010,
jumlah penderita Demam Berdarah Dengue di Bandar Lampung mencapai 763
orang dan yang meninggal 16 orang. Pada tahun 2011, jumlah penderita
Demam Berdarah Dengue di Bandar Lampung mencapai 413 orang dan yang
meninggal 7 orang. Pada tahun 2012, terjadi peningkatan jumlah penderita
Demam Berdarah Dengue di Bandar Lampung mencapai 1111 orang dan yang
meninggal 11 orang, jumlah tersebut merupakan tertinggi dibanding dengan
kabupaten lain. (Sukohar, 2014)
Perjalanan penyakit dengue dapat berkembang sangat cepat dalam beberapa
hari, bahkan dalam hitungan jam penderita dapat masuk dalam keadaan kritis.
(Megariani et al., 2014). Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa keadaan yaitu
syok hipovolemik yang disebabkan oleh meningkatnya permeabilitas endotel
dinding pembuluh darah. Peningkatan permeabilitas endotel menyebabkan
merembesnya plasma keluar dari pembuluh darah dan seiring dengan hilangnya
plasma dari pembuluh darah maka nilai hematokrit akan meningkat. Selain itu,
beberapa fenomena patofisiologis Demam Berdarah Dengue dapat disebabkan
oleh menurunnya volume plasma, hipotensi, dan trombositopenia.
Trombositopenia atau penurunan kadar trombosit di bawah kadar normal dapat
menyebabkan manifestasi perdarahan yang terdiri dari perdarahan kulit atau
ptekie, epsitaksis, gusi berdarah, hematemesis, melena, hingga kelainan yang
lebih kompleks seperti perdarahan masif dan gangguan faktor pembekuan
3
Diagnosis sedini mungkin sangat penting untuk dilakukan dengan
menggunakan uji serologi agar dapat mengurangi tingkat morbiditas dan
mortalitas yang mengarah pada DHF atau DSS. (Butt et al, 2008). Namun
diagnosis penyakit dengue sulit ditegakkan pada beberapa hari awal sakit
karena gejala yang muncul tidak spesifik dan sulit dibedakan dengan penyakit
infeksi lainnya sehingga dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis.
Penegakkan diagnosis penyakit dengue selain dengan menilai gejala klinis juga
diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk membantu diagnosis. Diagnosis
laboratorium infeksi dengue dapat ditegakkan dengan mendeteksi virus
spesifik, sekuens genom, antibodi, dan antigen virus. (Huang, 2004)
Saat ini telah ada pemeriksaan terhadap antigen nonstruktural 1 (NS1) yang
dapat mendeteksi infeksi akut lebih awal dibandingkan pemeriksaan antibody
dengue. Bahkan pada hari pertama onset demam karena protein NS1 memiliki
konsentrasi tinggi dalam darah pasien selama awal fase akut. Antigen Non
Struktural 1 (NS1) adalah glikoprotein yang berlimpah diproduksi oleh virus
saat tahap awal infeksi yang ditemukan dalam sel-sel yang terinfeksi pada
membran sel dan disekresi ke dalam ruang ekstraselular. (Libraty et al., 2002;
Huang, 2004). Hasil pemeriksaan NS1 memiliki tingkat sensitivitas dan
diagnostik yang tinggi dibanding pemeriksaan yang lainnya. Pemeriksaan NS1
memiliki nilai diagnostik dengan sensitivitas yang baik pada fase akut yaitu
sebesar 73,53% dengan spesifisitas 100%, hasil tersebut lebih baik
4
IgM anti dengue (Ahmed and Broor, 2014).
Menurut hasil penelitian Tahte (2013) dari 236 sampel suspek Demam Berdarah
Dengue hanya 93 positif secara serologis. Kemudian, dilakukan uji lanjutan
untuk kadar NS1 dan hanya 34 yang positif. Disamping itu, tromobositopenia
yang positif hanya 76 pasien. (Tathe et al., 2013). Pusat kesehatan merupakan
pusat masyarakat untuk menjelaskan penyakit yang diderita, tidak semua pusat
layanan kesehatan, terutama di daerah perifer, memiliki fasilitas laboratorium
yang memadai untuk pemeriksaan marker spesifik dengue seperti NS1. Hitung
trombosit merupakan satu-satunya pemeriksaan penunjang sederhana yang
dapat dilakukan di daerah perifer dengan penghitungan menggunakan
mikroskop. Hasil pemeriksaan antigen NS1 selain digunakan untuk diagnostik
juga dapat menjadi prediktor derajat keparahan penyakit(Libraty et al., 2002;
Paranavitane et al., 2014). Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa adanya
hubungan yang bermakna antara hasil positif pemeriksaan antigen NS1 dengan
trombositopenia. (Badave et al., 2015).
Berdasarkan latar belakang di atas, pada penelitian ini peneliti bermaksud untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan hasil pemeriksaan NS1 terhadap derajat
keparahan penyakit yang ditandai dengan trombositopenia, hemokonsentrasi,
lama demam dan manifestasi perdarahan pada pasien suspek infeksi dengue di
Bandar Lampung.
1.2 Rumusan Masalah
5
1. Apakah terdapat hubungan antara hasil pemeriksaan jumlah trombosit
terhadap antigen NS1 pada pasien suspek infeksi dengue di Bandar
Lampung?
2. Apakah terdapat hubungan antara hasil pemeriksaan hematokrit terhadap
antigen NS1 pada pasien suspek infeksi dengue di Bandar Lampung?
3. Apakah terdapat hubungan antara hasil pemeriksaan lama demam terhadap
antigen NS1 pada pasien suspek infeksi dengue di Bandar Lampung?
4. Apakah terdapat hubungan antara hasil pemeriksaan manifestasi perdarahan
terhadap antigen NS1 pada pasien suspek infeksi dengue di Bandar
Lampung?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
a. Mengetahui ada tidaknya hubungan hasil pemeriksaan lama demam dan
manifestasi perdarahan terhadap antigen NS1 pada pasien suspek infeksi
dengue yang ditandai dengan trombositopenia.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara hasil pemeriksaan jumlah
trombosit terhadap antigen NS1.
b. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara hasil pemeriksaan hematokrit
terhadap antigen NS1.
c. Mengetahui ada tidaknya hubungan anatara hasil pemeriksaan lama
demam terhadap antigen NS1.
6
perdarahan terhadap antigen NS1
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi ilmu pengetahuan, sebagai bahan referensi mengenai hubungan
hasil pemeriksaan jumlah trombosit, hematokrit, lama demam dan
manifestasi perdarahan terhadap antigen NS1 pada infeksi dengue.
1.4.2 Bagi peneliti, menambah wawasan dalam penulisan karya tulis ilmiah
dan infeksi dengue.
1.4.3 Bagi praktisi, dapat menjadi sumber informasi mengenai hubungan hasil
pemeriksaan pemeriksaan jumlah trombosit, hematokrit, lama demam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Infeksi Dengue
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dan ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk
Aedes, terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang ditemukan di daerah
tropis dan sub-tropis di seluruh dunia (Nurihardiyanti, 2016). Gejala dari
penyakit ini ditandai dengan timbulnya demam, nyeri kepala berat, mialgia,
artalgia, mual, muntah, nyeri retroorbital, dan ruam. Infeksi dengue dapat
berkembang dalam bentuk ringan sampai berat yang berupa manifestasi
perdarahan dan syok, atau demam berdarah dengue dan sindrom syok dengue.
(Singhi et al ., 2007; Jawetz, 2012)
2.1.1 Epidemiologi
Virus dengue tersebar di seluruh dunia di daerah tropis. Sebagian besar tempat
vektor Aedes berada merupakan daerah endemik. Dengue merupakan
penyakit virus yang ditularkan melalui nyamuk yang menyerang manusia.
Terdapat 50 juta atau lebih kasus dengue tiap tahunnya di seluruh dunia,
8
Risiko terjadinya sindrom demam berdarah adalah sebesar 0,2% selama
infeksi dengue pertama, tetapi resiko ini meningkat setidaknya sepuluh kali
lipat pada infeksi dengan serotipe virus dengue kedua. Pada masyarakat
perkotaan, wabah dengue banyak terjadi dan melibatkan sebagian besar
masyarakat. Tetapi, dalam 50 tahun terakhir, kasus Demam Berdarah Dengue
meningkat 30 kali lipat dengan peningkatan perpindahan letak geografis ke
negara-negara baru dan dalam dekade ini, dari kota ke lokasi pedesaan.
Wabah ini sering kali dimulai saat musim hujan ketika suhu dan kelembaban
kondusif bagi perkembangbiakan vektor. (Candra, 2010; Jawetz, 2012)
Virus dengue dilaporkan telah menjangkiti lebih dari 100 negara, terutama di
daerah perkotaan yang padat penduduk dan pemukiman di Brazil dan
Amerika Selatan, Karibia, Asia Tenggara, dan India. Jumlah yang terinfeksi
diperkirakan sekitar 50 sampai 100 juta orang, setengahnya dirawat di rumah
sakit dan mengakibatkan 22.000 kematian setiap tahun. Diperkirakan 2,5
miliar orang atau hampir 40 persen populasi dunia, tinggal di daerah endemis
Demam Berdarah Dengue yang memungkinkan terinfeksi virus dengue
melalui gigitan nyamuk setempat (Candra, 2010).
Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue tidak pernah menurun di beberapa
daerah tropik dan subtropik bahkan cenderung terus meningkat dan banyak
menimbulkan kematian pada anak 90% di antaranya menyerang anak di
bawah 15 tahun (WHO, 2011). Penderita Demam Berdarah Dengue yang
9
tahun (95%) dan mengalami pergerseran pada kelompok umur 15-44 tahun,
sedangkan proporsi penderita Demam Berdarah Dengue pada kelompok
Umur Lebih Dari 45 Tahun Sangat Rendah Seperti Yang Terjadi Di Jawa
Timur berkisar 3,64% (Soegianto, 2006).
World Helath Organization (WHO) mencatat Indonesia sebagai negara
dengan kasus Demam Berdarah Dengue tertinggi di Asia Tenggara.
Indonesia merupakan negara endemis Demam Berdarah Dengue kategori A
dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air (Aru W. Sudoyo et al ., 2009).
Kasus dengue di Indonesia pertama kali dilaporkan di Surabaya pada tahun
1968, sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal
dunia dengan angka kematian (AK) : 41,3 %. Sejak saat itu, Demam Berdarah
Dengue menyebar luas ke seluruh provinsi di Indonesia (Manalu, H. S. P., &
Munif, 2016).
Data dinas kesehatan kota Bandar Lampung menjelaskan pada tahun 2010,
jumlah penderita Demam Berdarah Dengue di Bandar Lampung mencapai
763 orang dan yang meninggal 16 orang. Pada tahun 2011, jumlah penderita
Demam Berdarah Dengue di Bandar Lampung mencapai 413 orang dan yang
meninggal 7 orang. Pada tahun 2012, terjadi peningkatan jumlah penderita
Demam Berdarah Dengue di Bandar Lampung mencapai 1111 orang dan
yang meninggal 11 orang, jumlah tersebut merupakan tertinggi dibanding
10
2.1.2 Etiologi
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dan ditularkan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus
yang terinfeksi. Berikut di bawah ini adalah taksonomi dari virus dengue :
Famili : Flaviviridae
Genus : Flavivirus
Spesies : Dengue virus
Serotipe : DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 (Jawetz, 2012).
Flavivirus mengandung genom untai tunggal RNA dengan struktur yang
relatif sederhana. Open Reading Frame (ORF) tunggal pada RNA
mensintesis langsung sebuah poliprotein panjang, kemudian poliprotein
dipotong oleh virus dan enzim protease sel inang untuk menghasilkan 10
protein virus yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu protein struktural dan
protein non struktural. Protein struktural terdiri dari protein amplop
(Envelope/E), protein membrane (Membrane/M) dan protein kapsid
(Capsid/C). Protein nonstruktural terdiri dari 7 bagian yaitu protein NS1,
NS2a, NS2b, NS3, NS4a, NS4b, dan NS5. Sifat biologis virus terletak pada
protein E. Beberapa protein nonstruktural juga terlibat dalam proses replikasi
virus (Singhi et al ., 2007).
2.1.3 Vektor
Virus dengue ditularkan ke tubuh host melalui gigitan nyamuk. Vektor utama
Demam Berdarah Dengue adalah Aedes aegypti sedangkan Aedes albopictus
11
dibandingkan dengan ukuran nyamuk rumah (Culex quinquefasciatus),
mempunyai warna dasar yang hitam dengan bintik-bintik putih pada
bagian-bagian badannya terutama pada kakinya dan dikenal dari bentuk
morfologinya yang khas sebagai nyamuk yang mempunyai gambaran lira
(lire-form) yang putih pada punggungnya (mesonotum). Nyamuk jantan
umumnya lebih kecil dari betina dan terdapat rambut-rambut tebal pada
antena nyamuk jantan. Nyamuk betina meletakkan telurnya di dinding tempat
perindukannya 1-2 cm di atas permukaan air. Telur Aedes aegypti berbentuk
elips berwarna hitam. Pertumbuhan dari telur hingga menjadi nyamuk
dewasa memerlukan waktu kira-kira 9 hari (Departemen Parasitologi, 2008).
Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari.
Penularan penyakit dilakukan oleh nyamuk betina, karena hanya nyamuk
betina yang menghisap darah. Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh
asupan protein yang diperlukannya untuk memproduksi telur. Pengisapan
darah dilakukan dari pagi sampai petang dengan dua puncak waktu yaitu
setelah matahari terbit (8.00-10.00) dan sebelum matahari terbenam (15.00-
17.00). Aedes aegypti beristirahat di tempat berupa semak-semak,
rerumputan, atau dapat juga di benda-benda yang tergantung dalam rumah,
seperti pakaian. Nyamuk ini dapat hidup selama sepuluh hari di alam bebas.
Aedes aegypti mampu terbang sejauh jarak 2 kilometer, walaupun umumnya
jarak terbangnya cukup pendek yaitu kurang dari 40 meter (Departemen
12
Tempat perindukan Aedes aegypti dapat dibedakan atas tempat perindukan
sementara, permanen, dan alamiah. Tempat perindukan sementara terdiri dari
berbagai macam tempat penampungan air (TPA), termasuk kaleng bekas, ban
mobil bekas, pecahan botol, pecahan gelas, talang air, vas bunga, dan tempat
yang dapat menampung genangan air bersih. Tempat perindukan permanen
adalah TPA untuk keperluan rumah tangga seperti bak penampungan air,
reservoar air, bak mandi, gentong air. Tempat perindukan alamiah berupa
genangan air pada pohon, seperti pohon pisang, pohon kelapa, pohon aren,
potongan pohon bambu, dan lubang pohon (Guzman et al., 2010).
2.1.4 Transmisi
Nyamuk Aedes aegypti terinfeksi melalui pengisapan darah dari orang yang
sakit dan dapat menularkan virus Dengue kepada manusia, baik secara
langsung (setelah menggigit orang yang sedang dalam fase viremia), maupun
secara tidak langsung, setelah melewati masa inkubasi dalam tubuhnya
(extrinsic incubation period). Masa inkubasi dalam tubuh nyamuk (extrinsic
incubation period) antara 7-14 hari. Virus bereplikasi di dalam jaringan
midgut nyamuk, kemudian melalui hemolymph menyebar ke jaringan lain
seperti trakea, lemak tubuh, dan kelenjar ludah. Kemudian virus yang berada
di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation
period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan
13
Transmisi dengue biasa terjadi ketika musim hujan saat suhu dan kelembaban
memiliki tingkat yang baik bagi perkembangbiakan vektor pada habitat
sekunder dan baik bagi kelangsungan hidup nyamuk. Selain mempercepat
siklus hidup Aedes aegypti , suhu lingkungan juga mengakibatkan produksi
nyamuk ukuran kecil, dan mengurangi masa inkubasi ekstrinsik virus.
Nyamuk betina ukuran kecil dipaksa untuk mengambil lebih banyak
makanan (darah) guna mendapatkan protein yang dibutuhkan untuk produksi
telur. Hal tersebut menyebabkan peningkatan jumlah individu yang terinfeksi
Saat musim kemarau, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan
penurunan terjadinya penyebaran dengue di antaranya : strain virus, perilaku,
lingkungan, kepadatan atau jumlah dan kapasitas vektor pada populasi
vektor, kerentanan populasi manusia, dan pemajanan virus terhadap populasi
tertentu. Jenis strain virus yang menginfeksi dapat mempengaruhi besar dan
durasi viremia pada seseorang. Kerentanan populasi manusia dipengaruhi
oleh faktor genetik dan status imun (Bhatt et al., 2013)
2.1.5 Patogenesis
Virus dengue masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes sp.
Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, virus dengue akan menuju organ
sasaran yaitu sel kuffer hepar, endotel pembuluh darah, nodus limpaticus,
sumsum tulang serta paru-paru. Infeksi virus dengue dimulai saat vektor
mengambil darah host dan memasukkan virus ke dalamnya, setelah masuk
terjadilah pelekatan virus dan genomnya kemudian masuk ke dalam sel
komponen-14
komponen. Setelah komponen struktural dirakit, virus dilepaskan didalam sel
(Clyde et al ., 2006). Virus dengue juga dapat menginfeksi leukosit, jantung,
ginjal, lambung, bahkan menembus sawar darah otak (Singhi et al ., 2007).
Patogenesis Demam Berdarah Dengue masih menjadi perdebatan. Terdapat
dua teori yang digunakan untuk menjelaskan perubahan patogenesis pada
Demam Berdarah Dengue yaitu hipotesis infeksi sekunder (teori secondary
heterologous infection) dan hipotesis antibody dependent enhancement
(ADE). Teori infeksi sekunder menyatakan bahwa seseorang yang terinfeksi
kedua kalinya dengan virus dengue yang sama akan terjadi proses kekebalan
terhadap infeksi jenis virus tersebut untuk jangka waktu yang lama, tetapi
jika orang tersebut mendapatkan infeksi sekunder dengan jenis serotipe virus
yang lain, maka terjadi infeksi yang berat. Sedangkan teori ADE menyatakan
bahwa adanya antibodi yang timbul justru bersifat mempercepat replikasi
virus pada monosit atau makrofag (Rena et al ., 2009).
Mekanisme imunopatogenesis infeksi virus dengue melibatkan respon
humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam proses
netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan sitotoksisitas yang
dimediasi antibodi, limfosit T baik T-helper (CD4) dan T cytotoxic (CD8),
monosit dan makrofag, sitokin serta aktivasi komplemen (Clyde et al., 2006).
Virus akan berkembang di dalam peredaran darah dan akan ditangkap oleh
makrofag. Segera terjadi viremia selama 2 hari sebelum timbul gejala dan
berakhir setelah lima hari gejala panas mulai. Makrofag akan segera bereaksi
15
APC (Antigen Presenting Cell). Antigen yang menempel di makrofag ini
akan mengaktifasi sel T Helper dan menarik makrofag lain untuk memfagosit
lebih banyak virus. T helper akan mengaktifasi sel T sitotoksik yang akan
melisiskan makrofag yang sudah memfagosit virus serta mengaktifkan sel B
yang akan melepas antibody (Clyde et al ., 2006; Vinay Kumar, Abdul
Abbas, 2015).
Proses diatas menyebabkan interferon γ akan mengaktivasi makrofag yang
menyebabkan sekresi mediator-mediator inflamasi seperti TNF α, IL-1, dan
PAF (platelet activating factor), IL-6 dan histamin. Mediator-mediator
inflamasi tersebut yang merangsang terjadinya gejala sistemik seperti
demam, nyeri sendi, nyeri otot, malaise (Rena et al ., 2009). Meningkatnya
sekresi sitokin akan meyebabkan aktivasi sistem komplemen (C3 dan C5)
yang menyebabkan terbentuknya C3a dan C5a. Pelepasan C3a dan C5a
menyebabkan peningkatan permeabilitas plasma dinding pembuluh darah
dan merembesnya plasma dari ruang intravaskuler ke ekstravaskuler (plasma
leakage), suatu keadaan yang berperan dalam terjadinya syok. Pada pasien
dengan syok berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30%
dan berlangsung selama 24-48 jam. Syok yang tidak tertanggulangi secara
adekuat akan menyebabkan asidosis dan anoksia, yang dapat berakibat fatal.
Kenaikan kadar C3a mempunyai korelasi dengan berat ringan penyakit.
Kadar C3a pada Demam Berdarah Dengue dengan syok secara bermakna
16
Infeksi virus dengue juga dapat menyebabkan agregasi trombosit dan
mengaktivasi sistem koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh
darah. Kedua faktor tersebut akan mengakibatkan perdarahan pada Demam
Berdarah Dengue. Agregasi trombosit terjadi akibat dari perlekatan
kompleks antigen-antibodi pada membran trombosit yang mengakibatkan
pengeluaran ADP (adenosine diphospat), sehingga trombosit dihancurkan
oleh RES (reticulo endothelial system) sehingga terjadi trombositopenia.
Agregasi trombosit ini akan menyebabkan pengeluaran platelet faktor III
sehingga mengakibatkan terjadinya koagulopati konsumtif (KID; koagulasi
intravascular deseminata), ditandai dengan peningkatan FDP (fibrinogen
degradation product) sehingga terjadi penurunan faktor pembekuan.
Agregasi trombosit juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit,
sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak tetapi tidak
berfungsi dengan baik. Jadi, perdarahan masif pada Demam Berdarah
Dengue diakibatkan oleh trombositopenia, penurunan faktor pembekuan
(akibat KID), kelainan fungsi trombosit dan kerusakan dinding endotel
kapiler. Akhirnya perdarahan akan memperberat syok yang terjadi (Rena et
al ., 2009). Selain akibat ikatan virus dengan antibodi, antigen NS1 juga
berperan dalam terjadinya kebocoran plasma dan perdarahan pada infeksi
dengue. Antigen NS1 akan berikatan dengan antibodi spesifik
mengakibatkan apoptosis sel endotel vaskular dan aktivasi sistem
komplemen yang berkontibusi dalam terjadinya kebocoran plasma dan
17
2.1.6 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat tidak menunjukkan gejala
(asimtomatik) ataupun simtomatik berupa demam tidak khas (viral
syndrome), demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD), sindrom
syok dengue (SSD), bahkan expanded dengue syndrome yang disertai
organopati. Infeksi dengue dapat asimtomatik atau berhubungan dengan
penyakit nonspefisifik atau dengan dengue klasik setelah masa inkubasi 5-6
hari. Pada infeksi dengue terdapat tiga fase perjalanan penyakit, yaitu fase
demam, fase kritis dan fase penyembuhan (WHO, 2011).
Masa inkubasi pada pasien dengue terjadi 5-6 hari, setelah masa inkubasi
muncul gejala non spesifik yang terdiri dari demam, ruam eritematosa dan
mialgia berat yang melibatkan punggung, kepala, otot dan persendian. Suhu
tinggi pasien biasanya kembali normal setelah 1-2 hari demam dan ruam,
tetapi akan kembali demam 3-4 hari kemudian. Kembalinya demam diikuti
dengan ruam yang melibatkan wajah, badan dan tungkai, telapak tangan.
Antara dua periode demam, pasien mengalami gejala-gejala gastrointestinal
atau gejala pernapasan atau keduanya. Resolusi terjadi pada minggu kedua
(WHO, 2011). Pada umumnya pasien dengue mengalami fase demam selama
2-7 hari, yang diikuti oleh fase kritis selama 2-3 hari. Fase kritis terjadi saat
pasien sudah tidak demam, pada fase tersebut pasien beresiko terjadi renjatan
18
Manifestasi klinis tersebut dapat berlangsung selama beberapa hari sampai
beberapa minggu. Sementara itu, gejala klinis pada Demam Berdarah
Dengue serupa dengan DD akan tetapi terdapat tambahan gejala seperti
perdarahan, trombositopenia, hepatomegali, dan sering kali terdapat
gangguan sirkulasi. Manifestasi hemoragik yang dapat muncul pada Demam
Berdarah Dengue diantaranya adalah uji tourniquet positif, petekie, purpura,
ekimosis, hematemesis dan melena (Guzman et al., 2010). Pada infeksi
dengue fase kritis terjadi saat periode kebocoran plasma yang dimulai selama
masa transisi dari fase febris ke fase afebris. Peningkatan nilai hematokrit
pada fase ini biasanya dapat menjadi indikator keparahan dari kebocoran
plasma serta diikuti dengan penurunan jumlah trombosit secara cepat
menandai terjadinya kebocoran plasma. Derajat dari kebocoran plasma
tersebut bervariasi. Efusi pleura dan asites merupakan tanda adanya
kebocoran plasma yang dapat dideteksi (WHO, 2011).
Kehilangan plasma yang signifikan dapat menyebabkan syok hipovolemik.
Syok ditandai dengan takikardi, tekanan nadi <20mmHg, hipotensi, kulit
dingin dan lembab, dan capillary refill time yang melambat. Terjadinya syok
biasanya didahului dengan adanya tanda bahaya diantaranya nyeri perut yang
berat dan terus menerus, gelisah, letargi, penurunan kesadaran, muntah
persiten, dan penurunan suhu yang mendadak (dari demam menjadi di bawah
normal suhu tubuh) (Guzman et al., 2010). Jika pasien dapat bertahan selama
24-48 jam fase kritisnya, reabsorpsi bertahap cairan ekstravaskuler akan
19
membaik yang ditandai dengan meningkatnya nafsu makan, gejala
gastrointestinal berkurang, status hemodinamik yang stabil dan adanya
diuresis. Selama fase kritis atau fase penyembuhan, terapi cairan yang
berlebihan dapat menyebabkan terjadinya edema pulmonal atau gagal
jantung kongestif (WHO, 2011).
2.1.7 Klasifikasi Derajat Keparahan Penyakit
Pada tahun 2011, WHO mengembangkan suatu sistem klasifikasi derajat
keparahan penyakit infeksi dengue yang digunakan sebagai pedoman
diagnosis dan penentuan tatalaksana infeksi dengue. Derajat keparahan
infeksi dengue diklasifikasikan menjadi 4 derajat seperti yang tertera pada
[image:38.595.136.513.477.765.2]tabel 1.
Tabel 1. Klasifikasi derajat keparahan penyakit infeksi dengue(WHO, 2011).
DD/DHF Derajat Tanda dan Gejala Laboratorium
DD Demam disertai 2 atau lebih tanda : Sakit kepala, nyeri retroorbital, myalgia, arthralgia, rash, manifestasi perdarahan, tidak terdapat kebocoran plasma
•Leukopenia (leukosit
£5000sel/𝑚𝑚") •Trombositopenia
(<150.000 sel/𝑚𝑚")tidak
ditemukan bukti kebocoran plasma DBD I Demam, manifestasi perdarahan
(uji torniket positif) dan bukti ada kebocoran plasma
Trombositopenia
<100.000 sel/𝑚𝑚" dan
peningkatan hematokrit
³20% DBD II Gejala seperti derajat I ditambah
perdarahan spontan
Trombositopenia
<100.000 sel/𝑚𝑚" dan
peningkatan hematokrit
³20% DBD III Gejala seperti derajat I atau II
ditambah kegagalan sirkulasi (denyut nadi lemah, tekanan nadi rendah (£20 mmHg),
Trombositopenia
<100.000 sel/𝑚𝑚" dan
20
2.1.8 Diagnosis
Masa inkubasi dalam tubuh manusia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14 hari),
timbul gejala prodromal yang tidak khas seperti : nyeri kepala, nyeri tulang
belakang dan perasaan lelah (Aru W. Sudoyo et al ., 2009).
Diagnosis penyakit dengue dapat ditegakkan dengan melihat gejala klinis dan
hasil pemeriksaan laboratorium. (Pusparini, 2004)
1.Demam Dengue (DD)
Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua
atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut : nyeri kepala, nyeri
retro-orbital, myalgia/atralgia, ruam kulit, manifestasi perdarahan (petekie atau
uji bendung positif), leukopenia dan pemeriksaan serologi dengue positif
atau ditemukan pasien DD/DBD yang sudah dikonfirmasi pada lokasi dan
waktu yang sama (WHO, 2011).
2.Demam Berdarah Dengue (DBD)
Berdasarkan kriteria WHO 2011 diagnosis Demam Berdarah Dengue
ditegakkan bila semua hal di bawah ini dipenuhi : demam atau riwayat
demam akut, antara 2-7 hari, biasanya bifasik, terdapat minimal satu dari
manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif, petekie, ekimosis atau
purpura, perdarahan mukosa (epistaksis atau perdarahan gusi), atau hipotensi, gelisah. ³20%
DBD IV Gejala seperti derajat III ditambah adanya syok dengan tekanan darah dan nadi tidak terukur
Trombositopenia
<100.000 sel/𝑚𝑚" dan
peningkatan hematokrit
21
perdarahan di tempat lain, hematemesis atau melena, trombositopenia
(jumlah trombosit <100.000/ul) dan terdapat minimal satu tanda
kebocoran plasma sebagai berikut (WHO, 2011), peningkatan hematokrit
≥20%, penurunan hematokrit setelah mendapat terapi cairan, dan tanda
kebocoran plasma seperti efusi pleura, asites, atau hipoproteinemia (Aru
W. Sudoyo et al ., 2009).
3.Sindrom Syok Dengue
Seluruh kriteria Demam Berdarah Dengue dengan disertai tanda-tanda
syok berikut ini : takikardi, ekstremitas dingin, capillary refill time
melambat, nadi lemah, gelisah, penurunan kesadaran, tekanan nadi ≤20
mmHg dan hipotensi dibandingkan dengan standar sesuai umur (WHO,
2011).
2.1.9 Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis infeksi dengue sulit ditegakkan pada beberapa hari pertama sakit
karena gejala yang ditimbulkan tidak spesifik dan sulit untuk dibedakan
dengan penyakit infeksi lainnya (Agus Suwandono et al ., 2011). Diagnosis
infeksi dengue tidak dapat dipercaya sepenuhnya, sehingga perlu
dikonfirmasi menggunakan pemeriksaan laboratorium (Huang, 2004).
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk membantu
menegakkan diagnosis infeksi dengue diantaranya adalah: isolasi virus,
deteksi asam nukleat virus, deteksi antigen virus, tes berdasarkan respon
22
(WHO, 2011). Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk menapis pasien
tersangka demam dengue dengan melakukan pemeriksaan kadar
hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit dan hapusan darah tepi untuk
melihat adanya limfositosis relatif disertai gambaran limfosit plasma biru
(Aru W. Sudoyo et al ., 2009).
Pemeriksaan yang akan dilakukan untuk mendiagnosis penyakit dengue
harus sesuai berdasarkan mekanisme patogenesis infeksi dengue. Waktu
pemeriksaan yang dilakukan akan menentukan sensitivitas dan ketepatan
hasil pemeriksaan. Waktu pemeriksaan untuk mendeteksi antigen virus
dilakukan pada 1-3 hari pertama sejak onset demam karena periode viremia
pada DD/DBD cukup singkat (Kassim et al., 2011).
Adapun beberapa parameter laboratoris yang dapat diperiksa antara lain:
Leukosit dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemui
limfositosis relatif (>45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma
biru (LPB) > 15% dari jumlah total leukosit yang pada fase syok akan
meningkat. Terdapat trombositopenia di hari ke 3-8. Adanya kebocoran
plasma yang dibuktikan terjadinya peningkatan hematokrit ≥ 20% dari
hematokrit awal dan dimulai pada hari ke-3 demam. Pemeriksaan hemostasis
seperti PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP pada keadaan yang
dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah. IgM terdeksi
mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke-3, menghilang setelah 60-90
23
IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14, pada infeksi sekunder IgG mulai
terdeteksi hari ke-2. Permeriksaan antigen NS1 dapat dilakukan pada hari
pertama sampai hari ke-8 sejak onset demam (Aru W. Sudoyo et al ., 2009;
WHO, 2011).
2.1.10 Terapi
Dasar penatalaksanaan penderita Demam Berdarah Dengue adalah
penggantian cairan yang hilang sebagai akibat dari kerusakan dinding
kapiler yang menimbulkan peningkatan permeabilitas sehingga
mengakibatkan kebocoran plasma. Pemilihan jenis dan volume cairan yang
diberikan tergantung dari umur dan berat badan pasien serta derajat
kehilangan plasma sesuai dengan derajat hemokonsentrasi yang terjadi
(IDAI, 2012).
Terapi suportif yang adekuat dapat menurunkan kematian hingga kurang
dari 1% (Aru W. Sudoyo, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus
Simadibrata, 2009) Pada pasien infeksi dengue tanda-tanda vital dan tingkat
hemokonsentrasi, dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit harus
dievaluasi segera dan dilakukan secara berkala (Behrman et al., 2000).
2.2 Pemeriksaan Antigen Non Struktural 1 (NS1)
Saat ini telah dikembangkan suatu pemeriksaan baru terhadap antigen non
struktural-1 dengue (NS1) yang dapat mendeteksi infeksi virus dengue dengan
24
Virus dengue merupakan virus RNA rantai tunggal (ssRNA) dan terdapat 4
serotipe yang berbeda yaitu DEN1, DEN2, DEN3, dan DEN4. Virus dengue
memiliki dua macam protein yaitu protein struktural (envelope (E) , matrix (M)
dan capsid (C)) dan protein nonstruktural (NS1, NS2A, NS2B, NS3, NS4A,
NS4B, NS5) (Libraty et al., 2002). Protein E, protein M dan protein NS1
memiliki sifat antigenik (Huang, 2004).
Protein nonstruktural NS1 pada virus dengue adalah suatu glikoprotein
berukuran yang diekspresikan pada sel host yang terinfeksi baik itu membrane
associated (mNS1) maupun secreted (sNS1) dan bukan merupakan bagian dari
komponen struktur virion (Libraty et al., 2002). NS1 diproduksi oleh semua
flavivirus dan berperan penting dalam proses replikasi dan kelangsungan hidup
virus (Guzman et al., 2010).
Antigen Non Struktural 1 (NS1) dengue disekresikan ke dalam sistem darah
pada individu-individu yang terinfeksi dengen virus dengue. Antigen Non
Struktural 1 (NS1) bersirkulasi pada konsentrasi yang tinggi di dalam serum
pasien dengan infeksi primer maupun sekunder selama fase klinik sakit dan
hari-hari pertama fase konvalesen (pemulihan). Deteksi NS1 dapat
mendiagnosis spesifik infeksi dengue (Libraty et al., 2002).
Antigen Non Struktural 1 (NS1) dapat terdeteksi sejak hari pertama demam
sampai hari ke-9. Pada fase tersebut kepekaan pemeriksaan NS1 lebih baik
25
dikembangkan berbagai metode untuk mendeteksi antigen NSI, diantaranya
antigen-capture ELISA, lateral flow antigen detection, dan rapid diagnostic
test menggunakan kit komersial (Aru W. Sudoyo et al ., 2009; Zainah et al.,
2009). Sensitivitas pemeriksaan antigen NS1 berkisar 63%-93,4% dengan
spesifisitas 100% sama tingginya dengan spesifistas gold standard kultur virus.
Namun, hasil negatif antigen NS1 tidak menyingkirkan adanya infeksi virus
dengue (Aru W. Sudoyo et al ., 2009).
Hasil pemeriksaan antigen NS1 selain digunakan untuk diagnostik juga dapat
menjadi prediktor derajat keparahan penyakit (Libraty et al., 2002;
Paranavitane et al., 2014). Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa adanya
hubungan yang bermakna antara hasil positif pemeriksaan antigen NS1 dengan
trombositopenia (Tathe et al., 2013; Badave et al., 2015).
2.3 Trombosit
Trombosit adalah salah satu elemen selular yang terdapat dalam darah, yang
dihasilkan di sumsum tulang melalui fragmentasi pada megakariosit (salah satu
sel besar di tubuh). Pada Demam Berdarah Dengue trombositopenia terjadi
karena supresi sumsum tulang, destruksi trombosit, dan gangguan fungsi
trombosit. Infeksi virus dengue dapat menyebabkan terjadinya perubahan yang
kompleks pada mekanisme homestasis tubuh. Trombositopenia menjadi salah
satu faktor penyebab perdarahan pada Demam Berdarah Dengue. Tanda klinis
perdarahan terdiri dari ptekie, epistaksis, hipermenorea, dan perdarahan
26
Pada fase awal demam jumlah trombosit cenderung normal. Jumlah trombosit
akan menurun dan dapat diamati setelah fase awal demam. Penurunan
trombosit secara drastis <100.000 terjadi pada akhir fase demam sebelum
timbulnya syok. Jumlah trombosit berhubungan dengan derajat keparahan
infeksi dengue (Fallis, 2016).
2.4 Hematokrit
Hematokrit pada dasarnya mencerminkan presentase eritrosit dalam volume
darah total. Nilai hematokrit biasanya meningkat pada hari ketiga dari
munculnya penyakit dan semakin meningkat sesuai dengan proses perjalanan
infeksi dengue. Peningkatan hematokrit menandakan terjadinya kebocoran
plasma ke ruang ekstravaskular. Akibat kebocoran plasma volume darah
menjadi berkurang sehingga dapat menyebabkan syok hipovolemik dan
kegagalan sirkulasi. Peningkatan nilai hematokrit dapat diobservasi secara
bersamaan dengan penurunan jumlah trombosit. Peningkatan nilai hematokrit
>20% menjadi dasar objektif terjadinya kebocoran plasma (Aru W. Sudoyo et
27
[image:46.595.90.536.123.660.2]2.5 Kerangka Teori
Gambar 1. Kerangka Teori Infeksi Dengue
Viremia
Virus mensekresikan
antigen NS1 Replikasi Virus
Kompleks virus-antibodi Antigen NS1
Kerusakan endotel pembuluh darah
Kebocoran plasma
Trombositopenia, Ht meningkat
= variabel yang diteliti
= variabel yang tidak diteliti Reaksi anamnestik
antibodi
Derajat klinik infeksi dengue
IgM/IgG anti-dengue
Permeabilitas kapiler meningkat
Demam Dengue
Demam Berdarah
Dengue
28
[image:47.595.122.508.135.275.2]2.6 Kerangka Konsep
Gambar 2. Kerangka Konsep
2.7 Hipotesis
1. Terdapat hubungan antara hasil pemeriksaan jumlah trombosit terhadap
antigen NS1 pada pasien suspek infeksi dengue.
2. Terdapat hubungan antara hasil pemeriksaan jumlah hematokrit terhadap
antigen NS1 pada pasien suspek infeksi dengue.
3. Terdapat hubungan antara hasil pemeriksaan lama demam terhadap antigen
NS1 pada pasien suspek infeksi dengue.
4. Terdapat hubungan antara hasil pemeriksaan manifestasi perdarahan
terhadap antigen NS1 pada pasien suspek infeksi dengue. Variabel Bebas
• Jumlah Trombosit • Hematokrit • Lama Demam • Manifestasi
Perdarahan
Variabel Terikat
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan
potong lintang.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-November 2019 di bagian
Laboratorium Puskesmas Way Kandis, Laboratorium RS A. Dadi Tjokrodipo,
Laboratorium RS Bhayangkara.
3.3 Subjek Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah pasien yang dicurigai
terinfeksi dengue melalui gejala dan tanda klinis.
3.3.2 Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah consecutive
30
memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah
subjek yang diperlukan terpenuhi.
𝑛1 = 𝑛2 = (Zα 2𝑃𝑄 + Zβ P1Q1 + P2Q2)1 (𝑃1 − 𝑃2)1
Keterangan :
• Zα : derivat baku kesalahan tipe I (∝) , ∝ yang digunakan adalah 0,05 sehingga
Zα = 1,96
• Zβ ∶ derivat baku kesalahan tipe II (β), β yang digunakan adalah 0,2
sehingga Zβ = 0,84
• P1 : proporsi pada kelompok uji, beresiko, terpajan atau kasus 80% atau 0,80
Q1 : 1-P1 = 0,2
• Q2 : 1-P2 = 0,5
• P1-P2 : selisih proporsi minimal yang dianggap bermakna
• P : proporsi total FGHF11 = (0,80+0,5:2 = 0,65)
• Q : 1-P = 0,35
• 𝑛1 = 𝑛2 =(G,JK 1LM,NMLM,"OHM,NP M,NMQM,1MHM,OMQM,OM)M,NMSM,OMR R
• 𝑛 = 44,4
31
3.4 Kriteria Edukasi
3.4.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Pasien dengan demam kurang dari 7 hari dan suhu tubuh antara
39°C-40°C.
b.Pasien dengan diagnosis infeksi dengue secara klinis dan laboratorium
menurut WHO, 2011.
3.4.2 Kriteria Eksklusi
Kriteria ekslusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut :.
a. Pasien yang memiliki riwayat penyakit kelainan darah, misalnya
Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP).
b.Pasien dengan penyakit demam tifoid.
c. Catatan medik tidak lengkap.
3.5 Identifikasi Variabel
3.5.1 Variabel Bebas
Variabel bebas (independent variabel) pada penelitian ini adalah jumlah
trombosit, hematokrit, lama demam dan manifestasi perdarahan. Manifestasi
perdarahan yang dimaksud pada penelitian ini adalah ptekie, uji tourniquet
positif, epistaksis, hipotensi, hematemesis, melena (WHO, 2011).
3.5.2 Variabel Terikat
32
nonstruktural 1 (NS1).
[image:51.595.115.513.212.754.2]3.6Definisi Operasional Penelitian
Tabel 2. Definisi Operasional
Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil
Ukur
Skala Ukur
Antigen NS1 Antigen NS1
adalah suatu glikoprotein yang diekskresikan pada sel host yang terinfeksi.
Disekresikan dalam 2 bentuk yaitu membrane
associated (mNS1)
dan secreted
formed NS1(sNS1).
Pemeriksaan dengan metode imunochromato graphy menggunakan Rapid
Diagnostic Test di Laboratorium Poliklinik UNILA
Perangkat tes Dengue Dx NS1 Antigen merk SD Bioline
0=Hasil negative (hanya terbentuk garis pada area C) 1=positif (garis pada area T dan C), hasil invalid= tidak terbentuk garis pada area C
Nominal
Manifestasi
Perdarahan •
Ptekie: purpura superfisial yang timbul secara spontan
berukuran miliar atau dengan diameter berkisar 30mm, mula-mula berwarna merah kemudian menjadi
kecoklatan seperti karat besi
•Uji tourniquet: pemeriksaan dengan melakukan pembendungan pada bagian lengan atas
•Epistkasis : perdarahan melalui rongga hidung
•Hematemesis : muntah darah yang dapat berupa darah
•Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter
•Uji tourniquet yaitu dengan mempertahank an manset sphygmomano meter pada tekanan antara sistol dan diastole selama 5 menit,
kemudian dilihat apakah timbul ptekie atau tidak
Ptekie: 1:Ya 2 : Tidak
Epistaksis: 1:Ya 2: Tidak Hematemesis 1:Ya 2: Tidak
1=terdapat manifestas i
perdaraha n
33
Nilai Hematokrit
Persentase jumlah sel darah merah di dalam volume darah
Pemeriksaan hematologi di Laboratorium
Hematology analyzer
0= hematokrit <38% (Anak); hematokrit laki-laki
<50%,hematokrit perempuan <45% (Dewasa) 1= hematokrit ≥38% (Anak); hematokrit laki-laki ≥50%, hematokrit perempuan ≥45% (Dewasa)
Ordinal segar maupun
warna hitam
•Melena : keluarnya feses hitam yang diwarnai oleh darah yang berubah
dalam
diameter 2,8 cm di daerah volar lengan bawah
Melena: 1:Ya 2: Tidak
Lama Demam
Demam adalah suatu keadaan dimana
temperature rektal >38°C. temperature rektal kira-kira lebih tinggi 0,6°C dibandingkan dengan temperature oral dan 1,1°C lebih tinggi dibandingkan dengan temperature aksila •Demam: thermometer •Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter Demam: 1. Febris: 37,5°-38°C 2. Subfebris >38°C 3. Hiperter mi >41°C Demam : 1-3 hari 4-7 hari Nominal Nilai Trombosit
Sel darah merah yang berperan dalam
menghentikan perdarahan
34
3.7 Alat dan Bahan Penelitian
3.7.1 Alat Penelitian
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
perangkat tes Dengue Dx NS1 Antigen, disposable dropper (sekali pakai),
lembar petunjuk penggunaan, tabung reaksi yang tidak mengandung anti
koagulan, alat senrtrifugasi, spuit, torniket, rekam medis pasien suspek
infeksi dengue di Bandar Lampung pada bulan September-November 2019,
alat tulis, dan program komputer statistika.
3.7.2 Bahan Penelitian
Bahan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah serum pasien
suspek infeksi dengue.
3.8 Prosedur Penelitian
3.8.1 Prosedur Pemeriksaan Antigen Non Struktural 1 (NS1)
1.Prinsip pemeriksaan
Rapid test Antigen Non Struktural 1 (NS1) adalah suatu tes in vitro dengan
teknik pengujian Immunochromatographic. Setiap tes berisikan satu strip
membran, yang telah dilapisi dengan anti-dengue NS1 antigen capture
pada daerah garis tes. Anti-dengue NS1 antigen-colloid gold conjugate dan
serum sampel bergerak sepanjang membran menuju daerah garis tes (T)
dan membentuk suatu garis yang dapat dilihat sebagai suatu bentuk
kompleks antibodi-antigen-antibody gold particle. Dengue Dx NS1
Antigen Rapid Test memiliki dua garis hasil, garis T (garis tes) dan C (garis
35
Garis C digunakan sebagai kontrol prosedur. Garis ini selalu muncul jika
prosedur tes dilakukan dengan benar dan reagen dalam kondisi baik.
2.Pengambilan dan penyimpanan sampel
Sampel didapat berdasarkan kriteria inklusi yaitu pasien yang dicurigai
menderita infeksi virus dengue di Bandarlampung. Darah vena pasien
dikumpulkan ke dalam tabung reaksi (tidak mengandung antikoagulan
seperti heparin, EDTA dan sodium sitrat), kemudian didiamkan selama 30
menit hingga darah membeku dan selanjutnya dilakukan sentrifugasi
dengan kecepatan 1500-2000 rpm selama 15-20 menit hingga didapatkan
sampel serum. Sampel serum disimpan pada suhu 2-8° C jika sampel tidak
segera digunakan. Sampel diadaptasikan terlebih dahulu pada suhu kamar
saat akan digunakan.
3.Prosedur pengujian Antigen Non Struktural 1 (NS1)
a. Tes dan sampel diadaptasikan terlebih dahulu pada suhu ruang apabila
disimpan di lemari pendingin sebelumnya.
b.Kantong tes dibuka dan dikeluarkan, kemudian diletakkan ditempat
bersih, kering dan datar.
c. Tambahkan 3 tetes sampel kedalam sumur (well) sampel bertanda (S)
dengan menggunakan disposable dropper.
d.Jika tes berjalan dengan baik, akan terlihat pergerakan warna ungu
sepanjang jendela hasil menuju kebagian tengah tes.
e. Hasil diinterpretasikan setelah 15-20 menit.
f. Hasil positif akan tetap setelah 20 menit, tetapi untuk mencegah
36
4.Interpretasi hasil pengujian
a. Hasil negatif : jika hanya terbentuk garis pada area garis C.
b.Hasil positif : jika terbentuk garis pada area garis T dan C.
c. Hasil invalid : jika terbentuk garis pada area garis C. Untuk hasil
invalid dilakukan tes ulang.
5.Kontrol kualitas internal
Garis kontrol (C) digunakan untuk kontrol prosedural. Garis kontrol akan
selalu terbentuk apabila prosedur pengujian dilakukan dengan benar dan
perangkat tes bekerja dengan baik.
6.Pengumpulan data rekam medis
Data rekam medis yang dikumpulkan pada penelitian ini yaitu gejala klinis
dan hasil pemeriksaan jumlah trombosit pada pasien suspek infeksi dengue
di Poliklinik Universitas Lampung pada bulan September-November
2019.
3.8.2 Prosedur Pemeriksaan Trombosit
1.Prinsip pemeriksaan
Pemeriksaan trombosit dilakukan dengan cara langsung (dengan alat
hitung otomatis) menggunakan hematology analyzer. Hematology
analyzer bekerja dengan prinsip flow cytometer. Flow cytometri adalah
metode pengukuran (=metri) jumlah dan sifat-sifat sel (=cyto) yang
dibungkus oleh aliran cairan (=flow) melalui celah sempit. Ribuan sel
dialirkan melalui celah tersebut sedemikian rupa sehingga sel dapat lewat
satu per satu, kemudian dilakukan penghitungan jumlah sel dan
37
2.Pengambilan dan penyimpanan sampel
Sampel darah vena diambil dari vena mediana cubiti sebanyak 3 cc.
Selanjutnya sampel dimasukkan ke dalam tabung dengan antikoagulan
(EDTA 3 cc). Secepat mungkin darah yang telah tercampur antikoagulan
dihomogenkan dengan cara diputar searah angkah 8 selama kurang lebih
1 menit. Sampel dapat stabil selama < 1 jam pada suhu 18-25 C.
3.Pemeriksaan trombosit
a. Kabel power dihubungkan ke stabilitator (stavo).
b.Alat hematology analyzer dihidupkan dengan menekan saklar on/off
yang ada di sisi kanan atas alat.
c. Alat akan secara otomatis melakukan self check kemudian background
check.
d.Alat dipastikan dalam posisi ready.
e. Sampel darah diperiksa kembali dan harus dipastikan sudah homogen
dengan antikoagulan.
f. Tekan tombol serum pada layar.
g.Tekan tombol ID dan masukkan no sampel, tekan tombol ente.
h.Tekan bagian atas dari tempat sampel yang berwarna ungu untuk
membuka dan letakkan sampel dalam adaptor.
i. Tempat sampel ditutup dan tekan tombol “RUN”.
j. Hasil akan muncul pada layar secara otomatis.
38
3.8.3 Prosedur Pemeriksaan Hematokrit
1.Prinsip pemeriksaan
Pemeriksaan trombosit dilakukan dengan cara langsung (dengan alat
hitung otomatis) menggunakan hematology analyzer. Hematology
analyzer bekerja dengan prinsip flow cytometer. Flow cytometri adalah
metode pengukuran (=metri) jumlah dan sifat-sifat sel (=cyto) yang
dibungkus oleh aliran cairan (=flow) melalui celah sempit. Ribuan sel
dialirkan melalui celah tersebut sedemikian rupa sehingga sel dapat lewat
satu per satu, kemudian dilakukan penghitungan jumlah sel dan
ukurannya.
2.Pengambilan dan penyimpanan sampel
Sampel darah vena diambil dari vena mediana cubiti sebanyak 3 cc.
Selanjutnya sampel dimasukkan ke dalam tabung dengan antikoagulan
(EDTA 3cc). Secepat mungkin darah yang telah tercampur antikoagulan
dihomogenkan dengan cara diputar searah angka 8 selama kurang lebih 1
menit. Sampel dapat stabil selama < 1 jam pada suhu 18-25 C.
3.Pemeriksaan hematokrit
a. Kabel power dihubungkan ke stabilitator (stavo).
b.Alat hematology analyzer dihidupkan dengan menekan saklar on/off
yang ada di sisi kanan atas alat.
c. Alat akan secara otomatis melakukan self check kemudian background
check.
d.Alat dipastikan dalam posisi ready.
39
dengan antikoagulan.
f. Tekan tombol serum pada layar.
g.Tekan tombol ID dan masukkan no sampel, tekan tombol ente.
h.Tekan bagian atas dari tempat sampel yang berwarna ungu untuk
membuka dan letakkan sampel dalam adaptor.
i. Tempat sampel ditutup dan tekan tombol “RUN”.
j. Hasil akan muncul pada layar secara otomatis.