PERBANDINGAN SKOR SELF-MANAGEMENT PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 BERDASARKAN STATUS AKREDITASI PUSKESMAS
DI PUSKESMAS MADUKORO DAN PUSKESMAS RAWAT INAP KETAPANG KABUPATEN LAMPUNG UTARA
(Skripsi)
Oleh:
Rizky Aprilia Wikayanti
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
PERBANDINGAN SKOR SELF-MANAGEMENT PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 BERDASARKAN STATUS AKREDITASI PUSKESMAS
DI PUSKESMAS MADUKORO DAN PUSKESMAS RAWAT INAP KETAPANG KABUPATEN LAMPUNG UTARA
Oleh
RIZKY APRILIA WIKAYANTI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Wonomarto pada tanggal 14 April 1998, sebagai anak
pertama dari 3 bersaudara dari Bapak Siswoko dan Ibu Meriyanti.
Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri 2 Wonomarto
yang diselesaikan pada tahun 2010, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP
Negeri 6 Kotabumi yang diselesaikan pada tahun 2013, dan Sekolah Menengah
Akhir (SMA) di SMA Negeri 2 Kotabumi yang diselesaikan pada tahun 2016.
Pada tahun 2016, penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung melalui jalur SNMPTN. Selama menjadi mahasiswi,
penulis aktif mengikuti organisasi FSI Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
dan Lampung University Medical Research (LUNAR) Fakultas Kedokteran
vii
SANWACANA
Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Salawat serta
salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW dengan mengharap
syafaatnya di yaumil akhir kelak.
Skripsi dengan judul “Perbandingan Skor Self-Management Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Berdasarkan Status Akreditasi Puskesmas di Puskesmas Madukoro dan Puskesmas Rawat Inap Ketapang Kabupaten Lampung Utara” terselesaikan oleh karena penulis banyak mendapat masukan, kritik dan saran, serta dukungan dari berbagai pihak.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Karomani, M.Si., selaku Rektor Universitas Lampung.
2. Ibu Dr. Dyah Wulan SRW, S.K.M., M.Kes., selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Lampung.
3. Dr. dr. TA Larasati, S.Ked., M.Kes., selaku Pembimbing I yang telah
memberikan kesempatan waktu dan tempatnya untuk memberikan kritik
ix
4. dr. Rodiani, S.Ked., M.Sc., Sp.OG, selaku Pembimbing II yang telah
memberikan masukan serta bimbingan dalam penyelesaian skripsi ini.
5. dr. Diana Mayasari, S.Ked., M.K.K., selaku Pembahas atas kesediaannya
dalam membahas serta memberikan kritik dan saran yang membangun
dalam penyelesaian skripsi ini.
6. dr. Rizki Hanriko, S.Ked., Sp.PA., selaku dosen Pembimbing Akademik
penulis selama penulis menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung yang telah memberikan masukan dan dukungannya
dalam bidang akademik.
7. Kedua orang tua penulis, Siswoko dan Meriyanti, yang telah melahirkan
dan membesarkan penulis serta memberikan dukungan dan ridhonya
kepada penulis.
8. Kepada saudara kandung penulis, Muhammad Reza Sabila dan Raissa
Qanita Putri yang telah memberikan doa dan dukungannya kepada penulis
9. dr. Hj. Siti Hantina Johan, S.Ked. dan dr. Hi. Dian Mauli, S.Ked., M.H,
selaku dokter penanggungjawab di Puskesmas Madukoro dan Puskesmas
Rawat Inap Ketapang, yang telah memberikan waktu, tempat, dan izinnya
sehingga penulis dapat melakukan penelitian di lokasi.
10.Seluruh responden penelitian penderita Diabetes Melitus di Puskesmas
menjadi responden dalam penelitian ini, semoga Allah Swt. selalu
memberikan kesehatan dan lindungan-Nya. Aamiin.
11.Teman-teman seperjuangan, Icha, Bagus, Januar, Ayu Darma, Revina, dan
sobat belajar OSCE (Fakhira, Karin, Nadhila, Andin, Dea, Monic, Arif,
Rheza) dan masih banyak lagi teman-teman TR16EMINUS yang telah
membantu, bekerja sama, dan menemani penulis dari awal perkuliahan
hingga penyelesaian skripsi ini dan seterusnya
12.Teman-teman Asisten Dosen Anatomi 2018, Cika, Jihan, Dhanti, Haqi,
Rendy, Bagus, Bustami, Dwiky, Deo, Daniel, Hasna, Humairoh, Karina
dan Fasya terimakasih atas kerjasama dan dukungan kepada penulis
13.Seluruh staff dosen dan karyawan FK Unila yang telah membantu dalam
pemenuhan berkas dan syarat sehingga skripsi ini terselesaikan.
14.Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah
memberikan dukungan serta menyumbangkan ilmu, ide, dan pemikirannya
dalam pembuatan skripsi ini.
Penulis menyadari dalam penyelesaian skripsi ini masih banyak kekurangan dan
jauh dari kata sempurna, akan tetapi penulis berharap skripsi ini dapat
memberikan manfaat dan ilmu baik kepada pembaca maupun penulis.
Bandarlampung, Januari 2020
Penulis,
xi
ABSTRACT
THE COMPARISON OF TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS SELF-MANAGEMENT’S SCORE BASED ON STATUS OF PRIMARY HEALTH CARE ACCREDITATION IN PUSKESMAS MADUKORO AND
PUSKESMAS RAWAT INAP KETAPANG NORTH LAMPUNG REGENCY
By
RIZKY APRILIA WIKAYANTI
Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease and patients must be able to carry out good self-management to assess the progress of their disease experienced. Puskesmas is a first-level health service facility with quality improvement and the quality of puskesmas is standardized through accreditation. This study aims to determine the comparison of type 2 DM patients self management score based on status of primary health care accreditation ini Puskesmas Madukoro which have utama accreditation status and Puskesmas Rawat Inap Ketapang which madya accreditation status in North Lampung.
Method: This research is a comparative analytic study using cross sectional study. Sampling uses a total sampling method with a questionnaire. Data analysis was performed using an unpaired t test.
Result: The study was conducted on 108 respondents with a category of self-management scores at Puskesmas Madukoro 73.68% in good category and 26.31% in moderate category. Puskesmas Rawat Inap Ketapang has 29.41% self-management in good category, 68.62% in moderate category and 1,9% in low category. The unpaired t test results obtained p=0.001. There is a defference of self-management score of DM type 2 patients based on accreditation status in Puskesmas with Utama accreditation status and Puskesmas with Madya accreditation status in North Lampung.
Conclusion: This study has a defference of self-management score of DM type 2 patients based on accreditation status in Puskesmas with Utama accreditation status and Puskesmas with Madya accreditation status in North Lampung.
ABSTRAK
PERBANDINGAN SKOR SELF-MANAGEMENT PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 BERDASARKAN STATUS AKREDITASI PUSKESMAS
DI PUSKESMAS MADUKORO DAN PUSKESMAS RAWAT INAP KETAPANG KABUPATEN LAMPUNG UTARA
Oleh
RIZKY APRILIA WIKAYANTI
Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis serius dan penderita harus mampu menjalankan self-management yang baik untuk menilai kemajuan terhadap penyakit yang dialaminya. Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dengan mutu dan kualitasnya distandardisasi melalui akreditasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan rerata skor self-management pasien DM tipe 2 terhadap akreditasi Puskesmas Madukoro dengan status akreditasi utama dan Puskesmas Rawat Inap Ketapang dengan status akreditasi madya di Kabupaten Lampung Utara.
Metode Penelitian: Penelitian ini adalah penelitian analitik komparatif dengan menggunakan cross sectional study. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan alat ukur berupa kuesioner. Analisis data dilakukan dengan uji t tidak berpasangan.
Hasil Penelitian: Penelitian dilakukan terhadap 108 responden dengan kategori skor self-management pada Puskesmas Madukoro sebesar 73,68% kategori baik dan 26,31% kategori cukup. Puskesmas Rawat Inap Ketapang memiliki 29,41% self-management dengan kategori baik, 68,62% kategori cukup dan 1,9% kategori buruk. Hasil uji t tidak berpasangan didapatkan nilai p=0,001. Terdapat perbedaan rerata skor self-management pasien DM tipe 2 Berdasarkan Status Akreditasi di Puskesmas Akreditasi Utama dan Puskesmas Akreditasi Madya Kabupaten Lampung Utara.
Kesimpulan: Pada penelitian ini terdapat perbedaan rerata skor self-management pasien DM tipe 2 Berdasarkan Status Akreditasi di Puskesmas Akreditasi Utama dan Puskesmas Akreditasi Madya Kabupaten Lampung Utara.
xiii
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL...i
LEMBAR PENGESAHAN...iii
DAFTAR ISI...xiii
DAFTAR GAMBAR...xvi
DAFTAR TABEL...xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.3.1 Tujuan Umum ... 5
1.3.2 Tujuan Khusus ... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
1.4.1 Bagi Pelayanan Kesehatan ... 6
1.4.2 Bagi Peneliti... 6
1.4.3 Bagi Peneliti Lain ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Diabetes Melitus ... 7
2.1.1 Definisi ... 7
2.1.2 Etiologi dan Klasifikasi ... 8
2.1.3 Patofisiologi ... 10
2.1.4 Diagnosis ... 11
2.1.5 Komplikasi ... 12
2.3 Akreditasi Puskesmas dan Penatalaksanaan Diabetes Melitus ... 15
2.4 Self-Management pada Pasien Diabetes Melitus ... 18
2.5 Chronic Care Model (CCM) ... 23
2.6 Kerangka Teori ... 32
2.7 Kerangka Konsep ... 33
2.8 Hipotesis ... 33
BAB III METODE PENELITIAN ... 34
3.1 Desain Penelitian ... 34
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 34
3.2.1 Waktu Penelitian ... 34
3.2.2 Tempat Penelitian ... 34
3.3 Populasi dan Sampel ... 35
3.3.1 Populasi ... 35
3.3.2 Sampel ... 35
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel ... 36
3.4 Kriteria Penelitian ... 37
3.4.1 Kriteria Inklusi ... 37
3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 37
3.5 Identifikasi Variabel ... 37
3.6 Cara Pengambilan Data ... 38
3.7 Definisi Operasional ... 38
3.8 Instrumen Penelitian ... 39
3.9 Alur Penelitian ... 43
3.10 Pengolahan dan Analisis Data ... 44
3.10.1 Pengolahan Data ... 44
3.10.2 Analisis Data ... 44
3.11 Etika Penelitian ... 45
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 46
4.1 Hasil Penelitian ... 46
xv
4.1.1 Analisis Univariat ... 47
4.1.2 Analisis Bivariat ... 54
4.2 Pembahasan ... 57
4.2.1 Pembahasan Analisis Univariat ... 57
4.2.2 Pembahasan Analisis Bivariat ... 61
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 69
5.1 Simpulan ... 69
5.2 Saran ... 69
DAFTAR PUSTAKA ... 70
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Konsep Chronic Care Model...23
2. Kerangka Teori………..………32
3. Kerangka Konsep………..…………33
xvii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Kadar Tes Laboratorium Darah untuk Diagnosis DM……….12
2. Definisi Operasional……….…….…………...38
3. Karakteristik Responden Puskesmas Akreditasi Utama dan Akreditasi Madya...48 4. Penilaian Skor DSMQ Pada Puskesmas Akreditasi Utama Dan
Akreditasi Madya...50 5. Kategori Skor Self-Management Pasien DM Tipe 2 Di Puskesmas
Akreditasi Utama dan Puskesmas Akrditasi Madya...51 6. Rerata Tiap Subdomain Penilaian DSMQ Di Puskesmas Akreditasi
Utama dan Puskesmas Akreditasi Madya...52 7. Uji Normalitas Data skor Self-Management Pasien DM Tipe 2 di
Puskesmas Akreditasi Utama dan Puskesmas Akreditasi Madya...54 8. Hasil Uji T- Tidak Berpasangan Rerata Skor Self-Management pasien
DM tipe 2...55 9. Hasil Uji T- Tidak Berpasangan Rerata Skor Tiap Subdomain
DAFTAR LAMPIRAN
1. Formulir Isian Subjek 2. Surat Izin Penelitian
3. Surat Kaji Etik Fakultas Kedokteran Universitas Lampung 4. Hasil Uji Statistik
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis serius yang terjadi ketika
pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula
darah) atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang
dihasilkannya sehingga kadar gula darah dapat mengalami peningkatan.
Jumlah kasus dan prevalensi DM terus meningkat selama beberapa dekade
terakhir (WHO, 2016).
Diabetes Melitus dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita sehingga
membutuhkan perawatan medis berkelanjutan. Penderita harus mampu
menjalankan self-management atau manajemen diri yang baik.
Self-management penting untuk dilakukan guna menilai kemajuan yang telah
dicapai seorang penderita DM yang tercermin sebagai kemampuan individu
dalam mengelola kehidupannya setiap hari sehingga dapat mencegah
terjadinya komplikasi baik akut maupun risiko komplikasi jangka panjang
yang berupa keadaan retinopati diabetikum, neuropati bahkan risiko kematian
(ADA, 2018).
Berdasarkan data WHO tahun 2016 Diabetes Melitus (DM) menyebabkan
Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan angka penderita DM berkisar 12
juta penduduk di Indonesia. Kemudian dalam riset tersebut juga melaporkan
bahwa prevalensi penyakit DM di Provinsi Lampung adalah 0,8%. Menurut
data Riset Kesehatan Dasar di tahun 2018 Provinsi Lampung memiliki
peningkatan dalam jumlah kasus DM dari tahun 2013 yaitu dari 0,8%
menjadi 1,8% di tahun 2018. Proporsi periksa rutin DM pada usia >15tahun
di Provinsi Lampung tahun 2018 masih sangat rendah yaitu 0,8%. Prevalensi
kejadian DM berdasarkan gejala dan diagnosa di Lampung Utara berdasarkan
Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 adalah 0,6% dan meningkat menjadi
0,93% di tahun 2018 (Balitbangkes RI, 2013; Balitbangkes RI, 2018).
Perilaku self-management pada pasien DM tercermin dari beberapa hal,
berdasarkan penelitian Sulistria (2013) perilaku yang mencerminkan
self-management pada pasien berupa kemampuannya dalam pengaturan pola
makan, kemudian menurut penelitian Sri Mulyani (2016) menunjukkan bahwa
perilaku self-management pasien juga tercermin dari kemampuannya dalam
pengaturan kadar gula darah. Menurut Annesi dan Gorjala (2010) dalam
Banna (2017) menunjukkan pengaturan diri pada pasien DM juga tercermin
dari kemampuannya untuk mengatur kegiatan jasmani atau aktivitas fisiknya
setiap hari yang akan berdampak pada indeks massa tubuhnya. Perawatan kaki
merupakan kegiatan harian pasien untuk mencegah kemungkinan munculnya
ulkus. Menurut penelitian Chin, Huang & Hsu (2013) perilaku tersebut juga
mecerminkan kemampuan diri pasien DM dalam mengelola penyakitnya.
Berdasarkan Konsensus Pengendalian dan Pencegahan DM tipe 2 di Indonesia
3
pasien DM juga tercermin dari kemampuannya dalam melaksanakan
pengobatan DM yang aman serta teratur.
Perawatan penyakit kronis seperti DM membutuhkan pengetahuan dan
pemahaman oleh keluarga dan pasien. Kepatuhan dari pasien dan keluarga
untuk melakukan kontrol ke layanan kesehatan sangat diperlukan dalam
mendukung upaya pencegahan kejadian DM yang lebih parah, maka
diperlukan konsep pelayanan dari fasilitas kesehatan yang ada termasuk
sumber daya komunitas, dan kualitas pelayanan. Saat ini model integrasi yang
digunakan yaitu Chronic Care Model (CCM) yang didasari oleh beberapa
elemen penting yang dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan bagi
penyedia layanan dalam rangka meningkatkan kualitas layanan kepada pasien
seperti struktur, proses, serta outcome harus ditargetkan secara rinci (Baptista
et al., 2016).
Penatalaksanaan DM di Indonesia sudah dilaksanakan mulai dari Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dengan tujuan untuk mencegah dan
menanggulangi kasus tersebut. Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan upaya kesehatan
masyarakat dan perorangan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
71 Tahun 2015 tentang penanggulangan penyakit tidak menular menerangkan
bahwa pengendalian ini mengutamakan aspek promotif dan preventif, tanpa
mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif untuk mencapai derajat kesehatan
Kejadian DM terus meningkat setiap tahunnya di Indonesia dan puskesmas
menjadi awalan untuk meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas akibat
DM. Oleh karena itu, perlunya peningkatan mutu dan kualitas puskesmas yang
distandardisasi melalui akreditasi. Kegiatan akreditasi yang dilaksanakan
dengan berkelanjutan, tepat waktu dan sesuai lama berlaku akan berdampak
baik pada peningkatan kualitas pelayanan puskesmas, sehingga status
terakreditasi dapat dikatakan sebagai upaya untuk menjaga mutu pelayanan
(Kementerian Kesehatan, 2015). Menurut Poerwani dan Sopacua (2006),
pelaksanaan kegiatan akreditasi bertujuan untuk meningkatkan mutu
pelayanan fasilitas pelayanan kesehatan. Penilaian akreditasi memiliki banyak
indikator seperti tenaga medis, tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan
tersedia dengan baik dengan adanya laboratorium yang mencukupi. Selain itu,
adanya perencanaan, monitoring, dan evaluasi layanan klinis untuk pasien
menjadikan puskesmas semakin baik dalam segi kualitas (Poerwani dan
Sopacua, 2006).
Puskesmas Madukoro dan Puskesmas Rawat Inap Ketapang sudah memiliki
status akreditasi dan sudah menjalankan program untuk penanggulangan kasus
DM, namun belum terdapat penelitian terhadap skor self-management pasien
DM di kedua puskesmas tersebut. Hal ini yang menjadikan dasar peneliti
untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana perbandingan rerata skor
self-management pasien Diabetes Melitus tipe 2 berdasarkan status akreditasi
puskesmas di Puskesmas Madukoro dan Puskesmas Rawat Inap Ketapang di
5
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka penulis dapat
merumuskan masalah yaitu bagaimana perbandingan rerata antara skor
self-management pada pasien Diabetes Melitus tipe 2 pada dua puskesmas yang
memiliki status akreditasi berbeda yaitu Puskesmas Madukoro dan
Puskesmas Rawat Inap Ketapang di Kabupaten Lampung Utara.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbandingan rerata
skor self-management pasien Diabates Melitus tipe 2 pada dua puskesmas
yang memiliki status akreditasi berbeda yaitu pada Puskesmas Madukoro
dan Puskesmas Rawat Inap Ketapang di Kabupaten Lampung Utara.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui skor self-management pasien DM tipe 2 di Puskesmas
Madukoro di Kabupaten Lampung Utara.
2. Mengetahui skor self-management pasien DM tipe 2 di Puskesmas
Rawat Inap Ketapang di Kabupaten Lampung Utara.
3. Mengetetahui perbandingan rerata skor self-management pada pasien
DM tipe 2 pada dua puskesmas yang memiliki status akreditasi
berbeda yaitu pada Puskesmas Madukoro dan Puskesmas Rawat Inap
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Pelayanan Kesehatan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan evaluasi
peningkatan mutu puskesmas dalam penanganan kasus DM tipe 2 di
Puskesmas pada Kabupaten Lampung Utara.
1.4.2 Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan memberikan pengalaman dan menambah wawasan
peneliti dalam penerapan ilmu yang telah didapatkan selama perkuliahan.
1.4.3 Bagi Peneliti Lain
Peneitian ini diharapkan menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya yang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Diabetes Melitus 2.1.1 Definisi
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (PERKENI, 2015). Sedangkan
menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Provinsi Lampung tahun 2013,
DM adalah penyakit metabolik yang merupakan suatu kumpulan gejala yang
timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar glukosa darah di
atas nilai normal. Penyakit ini disebabkan oleh adanya gangguan pada
metabolisme glukosa akibat kekurangan insulin. DM memiliki gejala berupa
rasa haus yang berlebihan (polidipsi), sering kencing (poliuri) terutama
malam hari, sering merasa lapar (polifagi), berat badan yang turun dengan
cepat, keluhan lemah, kesemutan pada tangan dan kaki, gatal-gatal,
penglihatan menjadi kabur, impotensi, luka sulit sembuh, keputihan,
penyakit kulit akibat jamur di bawah lipatan kulit, dan pada ibu-ibu sering
2.1.2 Etiologi dan Klasifikasi
Penyakit DM tidak memandang usia, DM dapat menyerang orang tua dan
juga bisa menyerang anak-anak. Penyebab terjadinya DM terdiri dari
banyak hal, contohnya kelebihan berat badan, sehingga olahraga secara
rutin sangat dianjurkan untuk menurunkan berat badan dan menurunkan
resistensi insulin. Selain itu riwayat hidup keluarga atau pengaruh dari
faktor keturunan juga berperan untuk seseorang terkena DM. Kemudian
pada penderita DM juga terjadi kerusakan pada sel pankreas sehingga
hormon insulin yang diproduksi tidak mampu mencukupi kebutuhan
(Kementerian Kesehatan RI, 2015).
Klasifikasi DM menurut Global Report WHO 2016 adalah sebagai
berikut:
a. Diabetes Melitus tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus
Diabetes Melitus tipe 1 dahulu dikenal sebagai tipe juvenile onset.
Kelainan ini dapat muncul di berbagai usia dengan jumlah kasus baru
mencapai 30.000 setiap tahunnya. Terdapat 2 subtipe dari DM tipe 1
yaitu autoimun dan idiopatik. Tipe autoimun terjadi akibat adanya
disfungsi autoimun dengan kerusakan atau kekurangan sel-sel beta
pankreas. Tipe selanjutnya yaitu tipe idiopatik, yang timbul tanpa
adanya bukti autoimun dan tidak diketahui penyebabnya. Subtipe ini
lebih sering ditemui pada etnik keturunan Afrika-Amerika dan Asia
9
b. Diabetes Melitus tipe 2 atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus
DM tipe ini sebelumnya disebut diabetes yang tidak tergantung insulin
atau diabetes onset dewasa yang disebabkan oleh penggunaan insulin
yang tidak efektif di dalam tubuh. Gejalanya mungkin mirip dengan
DM tipe 1, tetapi sering tanpa gejala. Akibatnya, penyakit ini mungkin
tidak terdiagnosis selama beberapa tahun, sampai komplikasi telah
muncul. Selama bertahun-tahun DM tipe 2 hanya terdiagnosa pada
orang dewasa tetapi saat ini sudah mulai terjadi pada anak-anak.
Faktor risiko dari DM tipe 2 ditentukan oleh interaksi faktor genetik
dan metabolisme. Riwayat keluarga diabetes, usia yang lebih tua,
kelebihan berat badan dan obesitas, diet tidak sehat, aktivitas fisik dan
merokok dapat meningkatkan risiko DM (WHO, 2016).
c. Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes Gestasional adalah kondisi sementara yang terjadi pada
kehamilan dan dapat membawa risiko diabetes tipe 2 jangka panjang
serta mempengaruhi 4% dari semua kehamilan. Kondisi ini terjadi
ketika nilai glukosa darah di atas normal tetapi masih di bawah
diagnostik diabetes. Wanita dengan diabetes gestasional berisiko lebih
tinggi mengalami komplikasi selama kehamilan dan persalinan, begitu
pula bayi mereka (WHO, 2016).
d. Diabetes Melitus tipe lain
Tipe khusus lain adalah kelainan dalam sel beta pankreas seperti yang
Diabetes subtipe ini memiliki prevalensi yang tinggi dan
bermanifestasi pada usia <14 tahun. Pasien seringkali obesitas dan
resisten terhadap insulin. Kelainan genetik telah dikenali dengan baik
dalam empat bentuk mutasi dan fenotipe yang berbeda (MODY 1,
MODY 2, MODY 3, MODY 4). Diabetes Melitus tipe lain juga
mencakup kelainan genetik pada kerja insulin yang menyebabkan
sindrom resistensi insulin berat, penyakit endokrin seperti cushing
syndrome dan akromegali, obat-obat yang bersifat toksik terhadap
sel-sel beta, dan adanya infeksi (Price & Wilson, 2006).
2.1.3 Patofisiologi
DM tipe 1 timbul ditandai dengan adanya kerusakan sel-sel beta pankreas
akibat dari proses autoimun. Proses autoimun ini dapat menyebabkan
ketidakmampuan sel beta pankreas untuk menghasilkan hormon insulin
sehingga kadar gula darah akan mengalami peningkatan (Price & Wilson,
2006).
Pada DM tipe 2 terdapat beberapa keadaan yang berperan seperti timbulnya
resistensi insulin pada jaringan tubuh dan adanya peningkatan produksi
glukosa berlebih yang akan menimbulkan hiperglikemi. Resistensi insulin
dapat terjadi pada jaringan lemak, otot, dan hati yang menyebabkan respon
reseptor terhadap insulin berkurang sehingga penggunaan glukosa pada
11
2.1.4 Diagnosis
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah.
Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa
dengan bahan plasma darah vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler
dengan glukometer. Diagnosis DM tidak dapat ditegakkan hanya atas
dasar adanya glukosuria. Berbagai keluhan dapat saja ditemukan pada
penyandang DM (PERKENI, 2015).
Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:
1. Keluhan klasik DM: poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (rasa
haus berlebih sehingga sering minum), polifagia (sering lapar) dan
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
2. Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan
disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita.
Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal maupun kriteria
DM digolongkan ke dalam kelompok prediabetes yang meliputi: Glukosa
Darah Puasa Terganggu (GDPT) dan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT)
(PERKENI, 2015).
a. Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT) adalah hasil pemeriksaan
glukosa plasma puasa antara 100-125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO
b. Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) adalah hasil pemeriksaan glukosa
plasma 2 jam setelah TTGO antara 140-199 mg/dl dan glukosa plasma
puasa <100 mg/dl;
c. Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT;
d. Diagnosis prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil
[image:30.595.141.505.346.432.2]pemeriksaan HbA1c yang menunjukkan angka 5,7-6,4%.
Tabel 1. Kadar tes laboratorium darah untuk diagnosis daibetes dan prediabetes (PERKENI, 2015).
HbA1c(%) Glukosa darah
puasa (mg/dL)
Glukosa plasma 2 jam setelah TTGO (mg/dL)
Diabetes >6,5 126 >200
Prediabetes 5,7-6,4 100-125 140-199
Normal <5,7 <100 <140
2.1.5 Komplikasi
Penyakit DM yang tidak terkendali akan menyebabkan komplikasi
metabolik akut maupun komplikasi vaskular kronik. Komplikasi ini dapat
berupa kerusakan saraf. Hal tersebut terjadi karena kadar gula darah yang
tidak terkontrol akan menyebabkan keadaan hiperglikemia terus menerus
dan akan merusak dinding kapiler. Pembuluh kapiler yang rusak tidak akan
bisa menyuplai energi ke jaringan saraf, sehingga saraf tidak dapat
menghantarkan impuls. Selain itu rusaknya dinding kapiler dapat juga
terjadi di mata dan menyebabkan terjadinya retinopati, katarak, dan
13
mengakibatkan penyumbatan pembuluh kapiler yang memperdarahi jantung,
akibatnya suplai darah ke jantung tidak optimal. Hal tersebut bisa
menyebabkan tekanan darah meningkat dan kematian mendadak (Ndraha,
2014).
2.2 Akreditasi Puskesmas
Akreditasi puskesmas merupakan pengakuan yang diberikan oleh lembaga
independen penyelenggara akreditasi yang ditetapkan oleh Menteri setelah
memenuhi standar akreditasi. Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
(FKTP) merupakan upaya peningkatan mutu dan kinerja pelayanan yang
dilakukan melalui membangun sistem manajemen mutu, penyelenggaraan
upaya kesehatan masyarakat, dan sistem pelayanan klinis untuk memenuhi
standar akreditasi yang ditetapkan dan peraturan perundangan serta pedoman
yang berlaku (Kementerian Kesehatan RI, 2014; PMK No.46 Tahun 2015).
Akreditasi bertujuan menilai sistem mutu dan sistem pelayanan di Puskesmas
dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) lainnya, tetapi
juga bertujuan untuk membina fasilitas pelayanan kesehatan tersebut dalam
upaya berkelanjutan untuk memperbaiki sistem pelayanan dan kinerja yang
berfokus pada kebutuhan masyarakat, keselamatan, dan manajemen risiko.
Terdapat 9 Bab Standar Akreditasi puskesmas dengan 772 Elemen Penilaian
(EP), diantaranya:
1. Bab I. Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas (PPP) dengan 59EP.
2. Bab II. Kepemimpinan dan Manajemen Puskesmas (KMP) dengan
3. Bab III. Peningkatan Mutu Puskemsas (PMP) dengan 32EP.
4. Bab IV. Program Puskesmas yang Berorientasi Sasaran (PPBS)
dengan 53EP.
5. Bab V. Kepemimpinan dan Manajemen Program Puskesmas
(KMPP) dengan 102 EP.
6. Bab VI. Sasaran Kinerja dan MDG’s (SKM) dengan 55EP.
7. Bab VII. Layanan Klinis yang Berorientasi Pasien (LKBP) dengan
151EP.
8. Bab VIII. Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK)dengan
172 EP.
9. Bab IX. Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien (PMKP)
dengan 58EP.
Akreditasi puskesmas terbagi dalam beberapa jenis diantaranya:
1. Tidak Terakreditasi: Jika pencapaian nilai Bab I, II, dan III kurang
dari 75% dan Bab IV, V, VI <60%, VII, VIII, IX kurang dari 20%
2. Terakreditasi Dasar: Jika pencapaian nilai Bab I, II, dan III ≥75%,
dan Bab IV, V, VI ≥60% Bab VII, VIII, IX ≥20%
3. Terakreditasi Madya: Jika pencapaian nilai Bab I, II, III, IV, V
≥75%, BabVI, VII ≥60% VIII, IX≥20 %
4. Terakreditasi Utama: Jika pencapaian nilai Bab I, II, III, IV, V, VI,
VII ≥75 Bab VIII, IX ≥60 %
5. Terakreditasi Paripurna: Jika pencapaian nilai semua Bab ≥75%
15
2.3 Akreditasi Puskesmas dan Penatalaksanaan Diabetes Melitus
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.46 Tahun 2015 tentang
Akreditasi Puskesmas bahwa Puskesmas adalah fasilitas kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya perorangan
tingkat pertama, dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk
mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah
kerjanya. Akreditasi Puskesmas memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu
pelayanan dan keselamatan pasien, meningkatkan perlindungan bagi sumber
daya manusia kesehatan, masyarakat dan lingkungannya serta untuk
meningkatkan kinerja puskesmas. Penyelenggaraan Akreditasi Puskesmas
dilaksanakan selama 3 tahun sekali dan dilakukan berdasarkan standar
Akreditasi (PMK No. 46 Tahun 2015).
Untuk penatalaksanaan diabetes melitus sesuai dengan penatalaksanaan
penyakit kronis berdasarkan Chronic Care Model dibutuhkan pelayanan yang
komprehensif atau secara menyeluruh yang disediakan oleh puskesmas
dimana pasien memperoleh pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Berdasarkan penilaian Akreditasi Puskesmas terdapat poin-poin penilaian
yang mencakup pelayanan terhadap pasien dengan penyakit diabetes melitus,
yaitu penilaian sumber daya manusia tenaga kesehatan yang berupa penilaian
kompetensi dan profesionalisme tenaga kesehatan serta jumlah tenaga
kesehatan di puskesmas tersebut. Kajian awal pasien dianalisa oleh petugas
kesehatan yang profesional antar profesi yang akan menyusun keputusan
layanan klinis. Penilaian penunjang layanan klinis juga dilaksanakan berupa
sesuai dengan yang telah ditetapkan. Kemudian petugas memiliki akses
informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tanggung jawab pekerjaan.
Peralatan di puskesmas juga harus dipersiapkan dan dikalibrasi secara rutin
agar terpelihara. Poin yang tak kalah penting juga berupa tenaga klinis
berperan aktif dalam proses peningkatan mutu layanan klinis dan upaya
keselamatan pasien. Sehingga apabila akreditasi puskesmas lebih tinggi maka
penilaian terhadap poin-poin tersebut juga tinggi (PMK No. 46 Tahun 2015).
Tersedia tenaga medis, tenaga kesehatan lain, dan tenaga non kesehatan
sesuai dengan kebutuhan dan jenis pelayanan yang disediakan merupakan
salah satu aspek penilaian akreditasi puskesmas. Tenaga kesehatan dan/atau
tim kesehatan antar profesi yang profesional melakukan kajian awal untuk
menetapkan diagnosis medis dan diagnosis keperawatan. Proses kajian
tersebut dapat dilakukan secara individual atau jika diperlukan oleh tim
kesehatan antar profesi yang terdiri dari dokter, dokter gigi, perawat, bidan,
dan tenaga kesehatan yang lain sesuai dengan kebutuhan pasien. Kajian awal
tersebut memberikan informasi untuk:
a. Memahami pelayanan apa yang dicari pasien
b. Menetapkan diagnosis awal
c. Mengetahui riwayat pasien terhadap pengobatan sebelumnya
d. Memahami respons pasien terhadap pengobatan sebelumnya
e. Memilih jenis pelayanan/tindakan yang terbaik bagi pasien serta
17
Kolaborasi antar tenaga kesehatan yang profesional dibutuhkan untuk
mencapai target pelayanan yang optimal. Komunikasi dalam kolaborasi
merupakan unsur penting untuk kualitas perawatan dan keselamatan pasien.
Kolaborasi antar profesi ini terjadi ketika dua atau lebih profesi bekerja sama
untuk mencapai tujuan bersama dan sering digunakan sebagai sarana untuk
memecahkan berbagai masalah terutama masalah yang kompleks. Manfaat
kolaborasi memungkinkan peserta untuk mencapai suatu hal lebih dari yang
mereka peroleh dengan bekerja secara individu dan mampu melayani
kelompok yang lebih besar (Green & Johnson, 2015).
Rencana pelayanan terpadu disusun secara komprehensif oleh tim kesehatan
antar profesi dengan kejelasan tanggung jawab dari masing-masing
anggotanya. Salah satu cara melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan
tentang pelayanan yang diterimanya adalah dengan cara memberikan
informed consent/informed choice. Untuk menyetujui/memilih tindakan,
pasien harus diberi penjelasan/konseling tentang hal yang berhubungan
dengan pelayanan yang direncanakan, karena diperlukan untuk suatu
keputusan persetujuan (PMK No.46 Tahun 2015).
Informed consent dapat diperoleh pada berbagai titik waktu dalam proses
pelayanan. Misalnya, informed consent diperoleh ketika pasien masuk rawat
inap dan sebelum suatu tindakan atau pengobatan tertentu yang berisiko.
Proses persetujuan ditetapkan dengan jelas oleh Puskesmas dalam kebijakan
dan prosedur, yang mengacu kepada undang-undang dan peraturan yang
pengobatan mana yang memerlukan persetujuan dan bagaimana mereka dapat
memberikan persetujuan (misalnya, diberikan secara lisan, dengan
menandatangani formulir persetujuan, atau dengan cara lain). Pasien dan
keluarga memahami siapa yang dapat memberikan persetujuan selain pasien.
Petugas pelaksana tindakan yang diberi kewenangan telah terlatih untuk
memberikan penjelasan kepada pasien dan mendokumentasikan persetujuan
tersebut (PMK No.46 Tahun 2015).
2.4 Self-Management pada Pasien Diabetes Melitus
Self-management merupakan kemampuan seorang individu untuk
mengelola, mengendalikan, serta mengurangi dampak penyakit yang
dideritanya. Perilaku sehat yang merepresentasikan self-management pada
pasien DM antara lain mengikuti pola makan sehat, meningkatkan kegiatan
jasmani, mengonsumsi obat DM dan obat-obat pada keadaan khusus secara
aman dan teratur, melakukan pemantauan kadar gula darah serta melakukan
perawatan kaki secara berkala (Handayani et al., 2013; PERKENI, 2015).
Selain itu penderita DM juga harus memiliki kemampuan untuk mengenal
dan menghadapi keadaan sakit akut dengan tepat, mempunyai keterampilan
mengatasi masalah yang sederhana, dan mau bergabung dengan kelompok
penyandang DM serta mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan
penyandang DM, kemudian mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan yang ada (PERKENI, 2015).
Terapi nutrisi medis merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DM
19
secara menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan
yang lain serta pasien dan keluarganya). Karbohidrat yang dianjurkan untuk
terapi nutrisi penderita DM sebesar 45-65% total asupan energi, terutama
karbohidrat yang berserat tinggi. Pada penderita DM tipe 2 asupan lemak
dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori, dan tidak diperkenankan
melebihi 30% total asupan energi. Anjuran asupan natrium untuk
penyandang DM sama dengan orang sehat yaitu <2300 mg perhari. Anjuran
konsumsi serat untuk penderita DM adalah 20-35 gram/hari yang berasal
dari berbagai sumber bahan makanan seperti serat dari kacang-kacangan,
buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat. Fruktosa tidak
dianjurkan digunakan pada penyandang DM karena dapat meningkatkan
kadar LDL, namun tidak ada alasan menghindari makanan seperti buah dan
sayuran yang mengandung fruktosa alami (PERKENI, 2015).
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2
apabila tidak disertai adanya nefropati. Kegiatan jasmani sehari-hari dan
latihan jasmani dilakukan secara teratur sebanyak 3-5 kali perminggu selama
sekitar 30-45 menit, dengan total 150 menit perminggu. Pasien DM
dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa darah sebelum latihan
jasmani. Apabila kadar glukosa darah <100 mg/dL pasien harus
mengkonsumsi karbohidrat terlebih dahulu dan bila >250 mg/dL dianjurkan
untuk menunda latihan jasmani. Latihan jasmani selain untuk menjaga
kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas
insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah (PERKENI,
Pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan dengan menggunakan
darah kapiler. Tujuan pemeriksaan glukosa darah pada penderita DM ini
adalah mengetahui apakah sasaran terapi telah tercapai dan dapat juga untuk
melihat penyesuaian dosis obat bila sasaran terapi belum tercapai.
Pemeriksaan glukosa darah meliputi pemeriksaan kadar glukosa darah
puasa, glukosa 2 jam setelah makan, atau glukosa darah pada waktu yang
lain secara berkala sesuai dengan kebutuhan (PERKENI, 2015).
Menurut American Diabetes Association (ADA) (2016) membantu penderita
diabetes untuk belajar dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan
strategi perilaku, pemecahan masalah, dan penanggulangan membutuhkan
keseimbangan dari beberapa faktor. Ada interaksi antara individu dan
konteks di mana dia tinggal, seperti status klinis, budaya, nilai-nilai,
keluarga, dan lingkungan sosial dan komunitas dapat mempengaruhi
self-management pasien DM (ADA, 2016).
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang membutuhkan orang lain
dalam penatalaksanaanya, untuk menerapkan manajemen diri yang baik
pada seorang penderita DM maka haruslah memberikan pengetahuan serta
dukungan yang baik pula. Diabetes Self-Management Education (DSME)
adalah suatu proses yang memberikan pengetahuan, keterampilan, dan
kemampuan yang diperlukan untuk perawatan diri DM. Kemudian pasien
DM juga membutuhkan dukungan dari orang lain untuk proses
pengaturannya. Diabetes Self-Management Support (DSMS) mengacu pada
21
keterampilan dan perilaku yang diperlukan pasien untuk mengelola diri
secara berkelanjutan (Brunisholz et al., 2014).
Tujuan dari edukasi untuk pasien DM adalah untuk mendukung
pengambilan keputusan berdasarkan informasi, perilaku perawatan diri,
pemecahan masalah, dan kolaborasi aktif dengan tim kesehatan dan untuk
meningkatkan status kesehatan, dan kualitas hidup pasien. Kemudian jenis
dukungan yang diberikan dapat berupa perilaku, pendidikan, psikososial,
atau klinis (Brunisholz et al., 2014).
Waktu yang tepat untuk melakukan edukasi dan dukungan terhadap pasien
penderita DM terdiri dari empat saat, yaitu saat pasien pertama kali
terdiagnosis, saat pasien melakukan penilaian rutin, saat munculnya
komplikasi pada pasien, dan saat terjadinya perubahan status kesehatan pada
pasien. Pertama yaitu pada saat pasien pertama kali terdiagnosis DM, respon
emosional terhadap diagnosis dapat menjadi hambatan signifikan untuk
mengedukasi dan mendukung manajemen diri pasien DM (ADA, 2016).
Tenaga kesehatan harus bekerjasama dengan pasien dan anggota
keluarganya untuk mulai mengatasi diagnosis dan melaksanakan
manajemen diri dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat terdiagnosis, pesan
penting harus dikomunikasikan dengan baik, bahwa semua jenis diabetes
perlu ditangani dengan serius, komplikasi tidak bisa dihindari, dan
munculnya respon emosional merupakan hal yang biasa. Edukasi dan
perawatan, kondisi psikososial, strategi perubahan perilaku, merencanakan
makan, aktivitas fisik dan pemeriksaan glukosa darah (ADA, 2016).
Kedua yaitu saat penilaian rutin terhadap pengetahuan, nutrisi dan
emosional penderita. Petugas kesehatan dan tim akan mengedukasikan
bagaimana mempertahankan kemampuan pasien dalam memanajemen
dirinya. Kunjungan tahunan ini disarankan untuk menilai semua bidang
manajemen diri, meninjau strategi perubahan perilaku, dan keterampilan
memecahkan masalah. Edukasi dan dukungan yang lebih sering mungkin
diperlukan ketika pasien mengalami hipoglikemia atau hiperglikemia, target
pengobatan tidak terpenuhi, dan keadaan klinis memburuk (ADA, 2016).
Kemudian saat komplikasi muncul pada penyakit DM, karena dapat
mempengaruhi kemampuan manajemen diri pasien. Komplikasi yang timbul
memerlukan perhatian segera dan penanganan yang tepat. Selama perawatan
rutin, tenaga kesehatan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
perawatan dan rencana manajemen diri selanjutnya. Dukungan emosional
keluarga mungkin diperlukan untuk mengurangi kecemasan, stres, dan
tekanan terkait DM (Fisher et al., 2013). Kemampuan manajemen diri
pasien dapat menjadi buruk apabila faktor-faktor sosial tak terpenuhi,
berupa kesulitan membayar makanan dan obat-obatan dan tidak mampu
melakukan perawatan medis (Berkowitz et al., 2015).
Terakhir yaitu pada saat terjadinya perubahan status kesehatan pada pasien.
Perubahan usia, status kesehatan, situasi hidup, atau jaminan kesehatan
23
yang dibutuhkan. Manajemen diri yang praktis dan realistis serta rencana
perawatan dapat menjadi modal yang efektif untuk keberhasilan manajemen
diri pada perubahan situasi pasien. Perencanaan perawatan secara tertulis
dipersiapkan untuk bekerja sama dengan tenaga kesehatan, pasien dan
anggota keluarga untuk membantu terlaksanannya perubahan ke arah yang
positif. Rencana tersebut harus memuat target perawatan DM berupa
pengobatan, edukasi, kondisi psikososial, risiko hipoglikemi dan
hiperglikemi, kebutuhan nutrisi dan faktor pendukung lainnya (ADA, 2016).
2.5 Chronic Care Model (CCM)
Chronic Care Model (CCM) merupakan konsep perawatan penyakit kronis
dengan memberikan pertimbangan-pertimbangan bagi penyedia layanan
dalam rangka meningkatkan kualitas layanan kepada pasien seperti struktur,
[image:41.595.190.506.469.708.2]proses, serta outcome yang disusun dengan jelas dan rinci.
Model perawatan penyakit kronis atau CCM menyediakan kerangka kerja
untuk pengorganisasian dan peningkatan perawatan pada pasien dengan
penyakit kronis. CCM mengusulkan interaksi yang produktif dari tim yang
proaktif dengan pasien dan keluarga yang telah diberikan edukasi agar
mengarah pada hasil pengobatan yang lebih baik. CCM memiliki beberapa
komponen, mulai dari organisasi layanan kesehatan sampai dengan sistem
pengiriman layanan dan dapat disesuaikan dengan item-item penilaian
pada Instrumen Akreditasi Puskesmas yang akan diterangkan sebagai
berikut:
1. Komunitas (Community)
Sumber daya masyarakat sering diabaikan dan tidak terintegrasi ke
dalam perawatan untuk pasien DM, seolah dipandang sebagai
bagian eksternal dari sistem. Dalam CCM, sumber daya
masyarakat sangat penting untuk perawatan pasien. Dalam
perawatan DM, dukungan komunitas yang dipimpin oleh rekan
kelompok merupakan pendekatan yang efektif dalam menjangkau
populasi yang membutuhkan dukungan tambahan. Sumber daya di
masyarakat dapat membantu dalam membantu pasien mengisi
waktu luang dalam perawatan dan dukungan medis mereka yang
tidak tersedia atau tidak dapat diakses. Melalui komunitas pasien
dapat meningkatkan pengetahuan, dukungan sosial, dan
mengurangi tekanan emosional serta depresi yang mungkin
25
2. Sistem Kesehatan (Health System)
Perawatan diabetes harus dipromosikan dengan strategi yang
efektif dan dukungan yang optimal khususnya melalui pengaturan
yang efektif untuk menjadi lebih baik. Sistem kesehatan yang
efektif akan menciptakan hasil yang luar biasa. Untuk menerapkan
sistem kesehatan yang berhasil sistem kesehatan harus fokus dan
bertanggung jawab atas kesehatan masyarakatnya (Stuckey et al.,
2011).
a. Organisasi Layanan Kesehatan (Organization of health care services)
Pengaturan pelayanan kesehatan oleh para pemimpin menjadi
bagian penting dari rencana strategis perawatan pasien.
Organisasi pelayanan kesehatan harus fokus pada penciptaan
budaya, perawatan yang aman dan berkualitas tinggi. Untuk
meningkatkan layanan kesehatan, peningkatan organisasi
layanan dengan pengenalan strategi untuk memfasilitasi
perubahan, dan manajemen kesalahan serta kontrol kualitas
juga diperlukan. Komunikasi dan koordinasi layanan kesehatan
yang salah harus dicegah. Perawatan yang efektif pada kondisi
kronis memerlukan sistem informasi untuk memastikan akses
siap ke data utama dari populasi, subpopulasi, dan individu
Berdasarkan Instrumen Akreditasi Puskesmas (IAP) terdapat
beberapa item penilaian yang mencakup penilaian organisasi
layanan kesehatan. Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama yang menyediakan pelayanan
kepada masyarakat. Oleh karena itu, perlu ditetapkan
jenis-jenis pelayanan yang disediakan kepada masyarakat sesuai
dengan kebutuhan dan masalah kesehatan yang ada di wilayah
kerja puskesmas tersebut. Penilaian ini dilakukan berdasarkan
poin analisis kebutuhan masyarakat dan perencanaan
puskesmas yang tertera pada bagian 1.1.1 IAP (Dirjen Bina
Upaya Kesehatan, 2015).
Selanjutnya berdasarkan analisis hasil kebutuhan masyarakat
tersebut, disusunlah perencanaan operasional puskesmas
secara terintegerasi dan berdasarkan visi, misi dan tujuan
puskesmas serta perencanaan strategis Dinas Kesehatan
Kota/Kabupaten setempat yang termuat dalam bagian 1.1.4
IAP. Selain itu, kinerja dan strategi puskesmas dalam
pelayanan dan penyelenggaraan upaya puskesmas dianalisis
juga sebagai bahan evaluasi dan perbaikan yang termuat dalam
bagian 1.3.1 IAP (Dirjen Bina Upaya Kesehatan, 2015).
b. Dukungan perawatan diri (Self-care support)
Pemberdayaan pasien menekankan peran pasien dalam
27
dukungan untuk perawatan diri, penetapan tujuan pengobatan,
rencana persiapan perawatan dan pemantauan. Baik pasien dan
petugas kesehatan harus dapat menentukan masalah,
menetapkan prioritas, mengusulkan tujuan, mengembangkan
rencana perawatan, dan memantau hasil untuk perawatan diri.
Tenaga medis yang profesional harus memprioritaskan
manajemen perawatan kolaboratif sehingga pemberi resep
menjadi mitra dengan pasien melalui sistem perawatan
kesehatan (Baptista et al., 2016).
Berdasarkan Instrumen Akreditasi Puskesmas (IAP) terdapat
beberapa item penilaian yang mencakup penilaian dukungan
perawatan diri pada pasien. Agar puskesmas dapat
memberikan pelayanan yang optimal dan aman bagi pasien
dan masyarakat yang dilayani perlu dilakukan analisis
kebutuhan tenaga dan diupayakan untuk memenuhi
ketersediaan tenaga baik jenis dan jumlah yang memenuhi
peryaratan kompetensi, maka hal ini dinilai dalam IAP pada
bagian 2.2.2. Dalam upaya kesehatan masyarakat penanggung
jawab harus membina komunikasi lintas program agar
mendukung perawatan pasien serta dapat merencanakan
perawatan bagi pasien secara optimal seperti yang terdapat
pada IAP bagian 5.4. Berdasarkan IAP bagian 7.3.1, terdapat
pula poin penilaian Layanan Klinis yang Berorientasi Pasien,
yang profesional melakukan kajian awal untuk menetapkan
diagnosis bagi pasien (Dirjen Bina Upaya Kesehatan, 2015).
c. Dukungan keputusan klinis (Clinical decision support)
Dukungan keputusan klinis mendorong perhatian yang
konsisten dalam perawatan kesehatan melalui pengenalan
pedoman klinis berbasis ilmiah. Untuk meningkatkan
pemahaman pasien, keputusan klinis harus didiskusikan dan
dibuat bersama dengan pasien (Baptista et al., 2016).
Berdasarkan Instrumen Akreditasi Puskesmas (IAP) terdapat
beberapa item penilaian yang mencakup penilaian dukungan
keputusan klinis pasien. Rencana layanan ditetapkan
berdasarkan hasil kajian yang dinyatakan dalam bentuk
diagnosis. Pasien mempunyai hak untuk mengambil keputusan
terhadap layanan yang akan diperolehnya sesuai dengan IAP
bagian 7.4.2. Pasien/keluarga diberi peluang untuk
bekerjasama dalam menuyusun rencana pelayanan klinis yang
akan dilakukan tersebut. Dalam menyusun rencana layanan
perlu dipandu oleh kebijakan prosedur yang jelas sesuai
dengan kebutuhan pasien dan standar pelayanan yang
ditetapkan. Pelayanan tersebut disusun secara komprehensif
oleh tim kesehatan antar profesi dengan kejelasan dari
29
pada bagian 7.4.3 guna peningkatan mutu dan pelayanan
puskesmas (Dirjen Bina Upaya Kesehatan, 2015).
d. Sistem informasi klinis (Clinical information systems)
Sistem informasi klinis bertujuan untuk mengatur data pasien
untuk memfasilitasi sistem perawatan peringatan, pengingat,
dan umpan balik tepat waktu untuk tenaga medis serta layanan
pasien harus digunakan saat mengatur data pasien. Organisasi
data pasien juga harus merangkum informasi klinis untuk
membantu mengidentifikasi kelompok risiko yang
memerlukan pendekatan perawatan kesehatan yang berbeda
dan untuk pemantauan kinerja sistem serta untuk memberikan
kualitas layanan yang lebih baik (Baptista et al., 2016).
Berdasarkan Instrumen Akreditasi Puskesmas (IAP) terdapat
beberapa item penilaian yang mencakup penilaian sistem
informasi klinis. Dalam IAP bagian 7.1.1 memuat penilaian
berupa kebutuhan pasien perlu diperhatikan, diupayakan dan
dipenuhi sesuai dengan misi dan sumber daya yang tersedia di
puskesmas. Keterangan yang didapat tentang kebutuhan pasien
dapat diperoleh pada saat pendaftaran yang mana informasi
tentang pendaftaran pasien harus tersedia dan terdokumentasi.
Jika kebutuhan pasien tidak dapat dipenuhi, maka dapat
dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi
diinformasikan kepada pasien untuk menjamin kesinambungan
pelayanan. Tahapan tersebut dimuat dalam rekam medis pasien
yang mudah diakses oleh petugas bertanggung jawab sesuai
dengan penilaian pada bagian 7.2.2 (Dirjen Bina Upaya
Kesehatan, 2015).
e. Sistem pengiriman layanan (Design of the service delivery system)
Meningkatkan kesehatan pasien dengan kondisi kronis
memerlukan transformasi sistem perawatan kesehatan yang
pada dasarnya reaktif, episodik, fokus pada peristiwa,
integratif, berkelanjutan, dan berfokus pada pasien dan
keluarga yang dikhususkan untuk mempromosikan dan
menjaga kesehatan. Hal ini menjadikan pasien harus menerima
perhatian terstruktur yang direncanakan dan disediakan oleh
tenaga medis multidisiplin. Tujuannya adalah untuk mengatur
jumlah pelayanan yang sudah dijadwalkan sebelumnya dan
untuk memastikan bahwa pelayanan ini tidak dilakukan
melalui permintaan mendadak (Baptista et al., 2016).
Berdasarkan Instrumen Akreditasi Puskesmas (IAP) terdapat
beberapa item penilaian yang mencakup penilaian sistem
pengiriman layanan. Pada IAP bagian 7.5.2 memuat penilaian
berupa pasien/keluarga pasien mempunyai hak untuk
31
rujukan tersebut harus dengan mudah dipahami oleh
pasien/keluarga pasien untuk menjamin kesinambungan
pelayanan. Informasi tersebut meliputi: alasan rujukan,
fasilitas kesehatan yang dituju serta kapan rujukan tersebut
harus dilakukan. Pelaksanaan rujukan tersebut harus atas dasar
kebutuhan dan pilihan pasien (Dirjen Bina Upaya Kesehatan,
2.6 Kerangka Teori
Gambar 2. Modifikasi kerangka teori berdasarkan The Chronic Care Model for type 2 Diabetes (Baptista et al., 2016).
: Diteliti
: Tidak diteliti
dinilai dalam Perawatan Penyakit Kronis:
Diabetes Melitus Tipe 2
Pengelolaan kesehatan pasien: Organisasi layanan
kesehatan
Dukungan perawatan diri Dukungan keputusan
klinis
Sistem informasi klinis Sistem pengiriman
layanan Komunitas
Sumber daya dan Kebijakan
Fungsional:
Kualitas hidup pasien
Klinik:
Morbiditas Mortalitas
Poin penilaian Akreditasi Puskesmas terkait penatalaksanaan penyakit kronis:
Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas (PPP)
Kepemimpinan dan Manajemen Puskesmas (KMP)
Peningkatan Mutu Puskesmas (PMP)
Upaya Kesehatan Masyarakat yang Berorientasi Sasaran (UKMBS)
Kepemimpinan dan Manajemen Upaya Kesehatan Masyarakat (KMUKM)
Sasaran Kinerja Upaya Kesehatan Masyarakat
Layanan Klinis yang Berorientasi Pasien (LKBP
Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK
Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien (PMKP)
Pemberdayaan pasien dan keluarga: Self-management pasien
Tim yang siap dan proaktif. Outcomes Akreditasi Puskesmas: Utama Madya Paripurna
Dasar
33
2.7 Kerangka Konsep
[image:51.595.119.496.93.241.2]Varibel bebas Variabel Terikat
Gambar 3. Kerangka Konsep
2.8 Hipotesis
Berdasarkan kerangka konsep tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
a.
H0: Tidak terdapat perbedaan rerata skor self-management pasien DM tipe2 Berdasarkan Status Akreditasi di Puskesmas Madukoro dan Puskesmas
Rawat Inap Ketapang Kabupaten Lampung Utara.
b.
H1: Terdapat perbedaan rerata skor self-management pasien DM tipe 2Berdasarkan Status Akreditasi di Puskesmas Madukoro dan Puskesmas
Rawat Inap Ketapang Kabupaten Lampung Utara. Status Akreditasi Puskesmas
Madukoro
Self-Management pasien DM tipe 2 Status Akreditasi Puskesmas
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif numerik tak
berpasangan dua kelompok dengan pendekatan cross sectional yaitu peneliti
akan mempelajari perbedaan rerata skor self-management pasien diabates
melitus tipe 2 pada dua puskesmas yang memiliki perbedaan status akreditasi
yaitu di Puskesmas Madukoro dan Puskesmas Rawat Inap Ketapang di
Kabupaten Lampung Utara. Pendekatan cross sectional yaitu dimana
pengambilan data dilakukan hanya sekali pada setiap responden melalui
kuesioner sebagai data penelitian (Notoatmodjo, 2014).
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2.1 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan November 2019.
3.2.2 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Lampung Utara pada Pusat Kesehatan
Masyarakat (Puskesmas) Madukoro dan Puskesmas Rawat Inap Ketapang
35
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti. Populasi
penelitian ini adalah penderita DM tipe 2 di Puskesmas Rawat Inap
Ketapang yaitu 51 penderita dan Puskesmas Madukoro 57 penderita terlihat
dari laporan angka kunjungan pasien DM tipe 2 dalam 3 bulan terakhir.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili
seluruh populasi (Dahlan, 2013). Sampel penelitian ini adalah penderita DM
tipe 2 di Puskesmas Madukoro dan Puskesmas Rawat Inap Ketapang pada
Kabupaten Lampung Utara. Pengambilan sampel dilakukan secara total
sampling, yaitu pengambilan sampel dengan jumlah sesuai dengan populasi
yang ada. Metode penelitian ini dilakukan sehingga seluruh anggota
populasi tersebut dapat menjadi subjek yang dipelajari untuk memberikan
sumber informasi (Sugiyono, 2017). Penentuan besar sampel minimal
menggunakan rumus analitik komparatif numerik tidak berpasangan,
sebagai berikut (Dahlan, 2013):
2
2
2
Keterangan:
Zα = deviat baku alpha
Zβ = deviat baku beta
S = simpangan baku gabungan (Sari, 2018).
X1 – X2 = selisih rerata minimal yang dianggap bermakna (Sari, 2018).
Berdasarkan pertimbangan untuk mengurangi kesalahan acak selama penelitian
berupa ukuran sampel yang tidak cukup besar, ketidaktepatan dalam
pengukuran variabel, maka jumlah sampel ditambah 10% untuk mengantisipasi
responden yang lose to follow up or drop out selama penelitian sehingga
minimal sampel menjadi 42,9 atau 43 responden. Total sampel pada tempat
penelitian berjumlah 108 responden, dimana 57 terdapat di Puskesmas
Madukoro dan 51 di Puskesmas Rawat Inap Ketapang.
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Sampel diambil dengan metode total sampling. Total sampling berarti
seluruh populasi yang memiliki karakteristik sesuai dengan penelitian akan
dijadikan subjek penelitian. Sampel pasien DM diambil di Puskesmas
Madukoro dan Puskesmas Rawat Inap Ketapang, Kabupaten Lampung
37
3.4 Kriteria Penelitian 3.4.1 Kriteria Inklusi
a. Pasien yang sedang menjalani pengobatan selama tiga bulan terakhir
di Puskesmas.
b. Bersedia menjadi responden dalam penelitian dengan menandatangani
persetujuan.
3.4.2 Kriteria Eksklusi
a. Pasien mengalami gangguan pendengaran dan gangguan ingatan.
b. Pasien penderita DM yang baru terdiagnosa <8 minggu.
3.5 Identifikasi Variabel
a. Variabel bebas penelitian ini adalah Status Akreditasi Puskesmas.
b. Variabel terikat penelitian ini adalah skor self-management pasien
3.6 Cara Pengambilan Data
Pada penelitian ini data diperoleh langsung dari responden. Data
penelitian ini diperoleh berdasarkan data status akreditasi puskesmas
yang dimiliki Puskesmas Madukoro dan Puskesmas Rawat Inap
Ketapang. Data primer diperoleh dari hasil penilaian skor
self-management pasien DM tipe 2 di Puskesmas tempat penelitian melalui
wawancara yang berpedoman dengan kuesioner The Diabetes
Self-Management Questionnaire (DSMQ).
3.7 Definisi Operasional
[image:56.595.136.504.404.735.2]Definisi operasional pada penelitian ini adalah (Notoatmodjo, 2014)
Tabel 2. Definisi Operasional
Variabel Definisi Alat ukur Cara ukur Hasil ukur Skala
39
3.8 Instrumen Penelitian
Peneliti menggunakan kuesioner sebagai instrumen yang digunakan untuk
mengukur variabel terkait penelitian. Penelitian ini menggunakan beberapa
kuesioner :
1. Informed consent
Informed consent atau lembar persetujuan akan diberikan sebelum
klien mengisi kuesioner. Hal ini bertujuan untuk meminta
persetujuan subjek sebagai responden penelitian. Pada informed
consent terdapat nama subjek yang diganti menjadi inisial, usia
subjek, tanda tangan subjek dan pernyataan dari peneliti terkait
nama peneliti, judul penelitian serta pernyataan persetujuan dari
subjek untuk menjadi responden, peneliti juga menambahkan kode
responden untuk memudahkan peneliti dalam menghitung jumlah
responden.
Saat membagikan lembar Informed consent pada calon responden,
sebelumnya peneliti menjelaskan terlebih dahulu maksud dan
tujuan dari penelitian, manfaat penelitian, jika ada peneliti harus
menjelaskan mengenai risiko-risiko yang dapat ditimbulkan
2. Data demografi
Data demografi dalam penelitian ini meliputi data demografi
pasien DM tipe 2. Data demografi pasien DM tipe 2 meliputi: usia,
jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan dan lama
menderita diabetes.
3. Kuesioner untuk mengukur self-management pasien DM
Manajemen diri pada pasien DM merupakan konsep yang rumit.
Sebelum penilaian manajemen diri pasien itu sendiri dibutuhkan
kuesioner yang valid agar memperoleh data yang baik. Penilaian
kemampuan manajemen diri pasien DM dapat menggunakan
berbagai macam kuesioner. Diabetes Self-Management Instrumen
(DSMI) dikembangkan untuk menilai bagaimana pasien DM tipe 2
dapat merawat dirinya dan mengerti apa yang harus mereka
lakukan untuk dirinya. DSMI memiliki 35 item pertanyaan yang
akan dijawab menggunakan skala likert 1: tidak relevan, 2: cukup
relevan, 3: relevan, 4: sangat relevan. DSMI terdiri dari lima aspek
pertanyaan meliputi integrasi diri, pengaturan diri, interaksi dengan
petugas kesehatan, manajemen kadar gula darah, dan kepatuhan
pengobatan dengan nilai reliabilitas kuesioner adalah 0.94 (Lin et
al., 2008).
Selanjutnya yaitu, SDSCA (The Summary of Diabates Self-Care
Activities) yang terdiri dari 14 pertanyaan mengenai perencanaan
41
teratur, monitoring gula darah mandiri, dan perawatan kaki.
Instrumen ini terdiri dari 8 alternatif jawaban yaitu 0 hari sampai
dengan 7 hari. Untuk pernyataan positif, pada pernyataan 1-4,
7-14, skor yang diberikan yaitu 0 hari (skor=0), 1 hari (skor=1), 2
hari (skor=2), 3 hari (skor=3), 4 hari (skor=4), 5 hari (skor=5), 6
hari (skor=6) dan 7 hari (skor=7). Sedangkan untuk pertanyaan
negatif pada pertanyaan no. 5 dan 6 skor yang diberikan yaitu 0
hari (skor=7), 1 hari (skor=6), 2 hari (skor=5), 3 hari (skor=4), 4
hari (skor=3), 5 hari (skor=2), 6 hari (skor=1), 7 hari (skor=0).
Hasil skor pengukuran ini dinyatakan dalam bentuk interval
dengan menghitung jumlah skor komulatif self care diabetes dibagi
jumlah pertanyaan (Toobert et al., 2000).
Kuesioner yang digunakan untuk mengukur self-management
pasien DM tipe 2 pada penelitian ini adalah kuesioner DSMQ (The
Diabetes Self-Management Questionnaire) yang terdiri dari 16
pernyataan menggunakan skala likert, yaitu selalu dilakukan (3),
kadang-kadang dilakukan (2), jarang dilakukan (1), dan tidak
pernah dilakukan (0). Pada kuesioner ini terdapat 8 item
pernyataan yang favorable (1, 2, 3, 4, 6, 8, 9, 14) dan 8 item
pernyataan nonfavorable (5, 7, 10, 11, 12, 13, 15, 16), dengan
penggunaan skala terbalik pada item nonfavorable. Subdomain
DSMQ terdiri dari glucose management (1, 4, 6, 10, 12), dietary
control (2, 5, 9, 13), physical activity (8, 11, 15), health-care use